DALAM DARAH INI, KEBENCIAN ITU ADA
(ASMAUL)
Ayah, 9 tahun sudah ayah meninggalkan aku, kakak, dan ibu dengan
alasan yang tidak aku pahami. 9 tahun yang berlalu ini, membuatku bosan,
menanti semua yang pernah aku lewati bersama ayah. Dua tangan yang
pernah memelukku itu, kini entah ada dimana. Darah ayah yang mengalir
ditubuhku, telah menciptakan kebencian pada diri ibu dan kakak. Mereka
sering berkata, jika aku keras kepala seperti ayah, dan tak hanya itu,
wajahku juga mirip dengan ayah. Mungkin karena itu, ibu dan kakak
enggan berada di dekatku lagi. Di rumah ini, aku merasa sendiri, benar-
benar sendiri. Andai saja ayah masih di sini, di sampingku, dan mendengar
segala ceritaku, aku tidak akan merasa sesunyi ini. Ibu memang tidak
pernah berkata jika ia membenciku, tapi sikapnya yang selalu
mengutamakan kakak, membuatku iri dan cemburu, hingga aku berasumsi
seperti itu. Dalam hal apapun, kakak selalu istimewa dimata ibu. Ibu selalu
ada buat kakak, bahkan sesibuk apapun dengan pekerjaannya, masih bisa
meluangkan waktu untuk sekedar menonton pertandingan badminton
bersama kakak. Berbeda dengan perlakuannya kepadaku, di waktu
senggangnya,sekedar mendengarkan ceritaku pun, terlihat begitu tidak
bersemangat dianggap radio yang berbunyi sendiri.
“Bu, menurut ibu, aku cocok pakai blazer hitam, atau merah bu?”
“Terserah kamu saja. Ibu ke kamar dulu ya”. Sontak saja aku melempar
kedua blazerku ke arah televisi. Hanya meminta pertimbangan kecil saja,
tidak ada reaksi yang memuaskan. Aku menahan perih ini, meski letih.
Ayah, andai saja ayah masih ada di sisiku, mendekapku, aku rindu
hangatnya cinta ayah. Aku rindu ketika ayah memilihkan sepatu yang cocok
aku gunakan saat berlibur.
Waktu berganti, begitu lambat kurasa, dan mengendapkan
kekecewaan ini. Aku mencoba melupakan bayangan ayah, menepikan
diriku, dalam redup hati tanpa ayah, namun justru rindu yang selalu
kujumpai seperti yang selalu ibu dan kakak katakan tiap aku menangis
sesenggukan merindukan ayah.
“Sudahlah Vera, nggak usah kamu menangisi ayah yang sudah jelas-jelas
meninggalkan kita karena perempuan lain. Jangan kamu buang sia-sia air
matamu. Ayah tidak akan pernah kembali di tengah-tengah kita”.
“Iya Ver, benar apa yang dikatakan kak Ferdi. Ayah tidak sayang sama kita,
mangkanya dia tega meninggalkan kita”. Mendengar ucapan kakak dan
ibu, aku semakin tidak kuat menahan air mataku. Aku tahu, air mata ini
adalah tanda jika aku masih mendambakan sosok ayah.
Pagi itu, seperti hari biasanya sebelum beraktivitas, aku, ibu, dan kak
Ferdi, kami selalu sarapan bersama. Ibu, begitu antusias mengambilkan
kakak nasi, lauk, sayur, sementara aku harus mengambilnya sendiri. Ini
bukan kali pertama, tapi setiap hari. Aku sudah terlalu biasa dengan situasi
seperti ini. Dulu, saat aku masih 10 tahun, dan kak Ferdi 15 tahun, aku
protes dengan keadaan ini.
“Bu, kenapa kak Ferdi saja yang diambilkan makanan banyak. Kenapa Vera
enggak?”
“Karena kak Ferdi sedang dalam masa pertumbuhan, jadi harus banyak
makan. Dia kan laki-laki, aktivitasnya juga jauh lebih banyak”. Itu jawaban
ibu, dan bagiku nggak tepat sama sekali. Jika sudah seperti itu, aku
ngambek nggak jadi sarapan.
Sepulang kuliah, badanku terasa panas, tapi aku juga merasa
kedinginan. Aku segera beristirahat di kamar. Kurasakan badanku semakin
menggigil, tapi napasku terasa begitu panas. Tidak ada yang mau tau
dengan kondisiku. Di ruang keluarga, sesekali aku mendengar ibu dan kak
Ferdi tertawa, berbeda dengan kondisiku di kamar. Ayah, pernahkah ayah
melihatku di sini, menghadapi takdirku sendiri. Seringkali aku merasa
lemah, dan tidak berarti tanpa ayah. Airmata ini menetes lagi, mengenang
ayah. Aku rindu segala perhatian dan kasih sayang ayah kepadaku. Tangis
ini, membuat mataku pedih, tidur adalah solusinya.
Minggu ini aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah tante
Sherly, adik kandung ayah. Bagiku, tante Sherly adalah orang yang tepat
untuk mendengarkan keluh kesahku mengenai ibu dan kak Ferdi.
Mendengar ceritaku, tante Sherly hanya memberiku semangat, dan
menepiskan pikiran-pikiran burukku tentang ibu dan kak Ferdi. Pada tante
Sherly juga, aku mengutarakan niatku untuk pindah kuliah disalah satu
Universitas di kota Yogyakarta.
“Makassar, terlalu banyak kenangan dan airmata yang kuciptakan
disini tante. Selepas aku pergi, semoga ibu dan kak Ferdi tidak akan
terganggu dengan kehadiranku, yang hanya akan mengingatkan mereka
pada ayah. Aku akan menetap di Yogyakarta, selama dua tahun, karena aku
hanya transfer, jadi tidak perlu mengulang semester awal”
“Baiklah kalau itu keputusanmu, tante akan bantu mencarikan kamu
tempat tinggal. Kebetulan, kawan tante banyak yang tinggal disana”.
Dengan bantuan tante Sherly, aku mengurus kepindahanku.Setelah beres,
aku akan memberitahu pada ibu dan kak Ferdi.
Packing sudah selesai, kampus dan tempat tinggal baru sudah
menanti, tiket pesawat juga sudah ditangan. Tante Sherly sudah menunggu
di ruang tamu, aku melihat wajah ibu dan kak Ferdi penuh dengan
pertanyaan.
“Ibu, kakak, Vera mau pindah ke Yogyakarta. Vera akan kuliah dan
tinggal disana. Jadi, kedepannya, tidak akan ada orang yang menangis lagi
di rumah ini, membuka kembali luka lama kalian tentang ayah. Setelah
wisuda, Vera akan segera kembali ke Makassar”. Tiba-tiba ibu berdiri,
mendekatiku, dan memelukku. Tangisnya terdengar jelas di telinga kiriku.
“Vera, ibu sudah dengar semuanya dari tante Sherly. Sungguh ibu
tidak pernah membencimu nak, hanya karena tabiat dan wajahmu mirip
dengan laki-laki itu, tidak nak. Maafkan ibu, jika selama ini tidak bisa
berlaku adil kepada kamu. Tetaplah disini nak, bersama ibu dan kak Ferdi.
Izinkan ibu memperbaiki semuanya”
“Tidak bu, keputusan Vera sudah bulat. Ibu sendiri kan yang sering
bilang, kalau aku keras kepala seperti ayah, dan ini buktinya bu. Sedikitpun,
Vera tidak akan mengubah keputusan Vera. Ini yang terbaik bu, lagipula
untuk memutuskan segala sesuatu sendiri, Vera sudah biasa”
“Seharusnya, kakak bisa menjaga kamu Ver, selalu ada buat kamu.
Tapi kakak terlalu sibuk dengan dunia kakak, hingga lupa untuk mengasihi
adik perempuanku satu-satunya. Kakak mohon, jangan pergi, mari kita isi
waktu kita yang sudah terbuang tanpa arti. Kakak sayang kamu”. Untuk
pertama kalinya, aku melihat kak Ferdi menangis. Dibalik perawakannya
yang tegap, bisa juga menangis. Tapi keputusan, tidak boleh disesali. Aku
akan tetap pergi, setelah kembali, aku berharap, ibu dan kak Ferdi sudah
jauh berubah. Selamat tinggal Makassar, tunggu aku dua tahun lagi.
Selamat tinggal ibu, kak Ferdi, Vera sayang kalian.
-SELESAI-