Cerpen Karangan: Angelina Targent
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Nama gue Andra. Gue kelas VII atau kelas 1 SMP. Gue punya sahabat, namanya Ezha. Gue ngerasa
nyaman banget kalo sama dia. Tapi gue bukan banci atau cowok gay. Gue itu cowok populer yang
katanya cool, supel, ganteng, sempurna gitu. Tapi gue gak ngerasa begitu banget. Gue kan gak
sempurna.
Gue gak tertarik sama pelajaran Sejarah. Gurunya galak banget, disiplin, sadis. Gue gak betah lama-lama
di sini. Pusing, tangan pegel berasa kayak mau patah gara-gara catetan yang bisa sampe sebuku penuh.
Apalagi, kalo gak ngerti dihukum lagi.
Sampe akhirnya, pelajaran Sejarah selesai. Gue sama Ezha ke kantin karena emang ini waktu istirahan.
Gue pengen cerita ke Ezha. Ezha itu gak pernah ngebocorin rahasia. Sebenernya, lama-lama Ezha lupa
rahasianya.
“Zha, lu mau apa? Gue mah mau pesen siomay aja sama es teh manis. Kenyang gue kalo makan nasgor.”
“Emh …, gue pesen sop sayur, deh. Sama jus alpuket.”
Gue memesen ke mbak pelayan yang mondar-mandir ngasih pesenan. “Btw, ngapa lo jadi vegetarian,
gitu?”
“Emh, soalnya … Biar sehat aja. Kalo salah makan nanti malah nimbulin penyakit.”
“Oh, gitu. Eh, lu liat cewek itu, gak? Itu, yang duduk di situ.” gue menunjuk dengan isyarat mata. “Oh, itu
namanya Shita Zhara. Lu udah tau belum? Lu naksir Zhara, ya?” tebak Ezha. “Iyalah, masa’ gue naksir dia
tapi kagak tau namanya.” gue sebenernya sedikit malu.
Si mbak yang tadi datang. Menaruh pesenan ke meja. Gue dan Ezha patungan bayar makanan. Lalu gue
dan Ezha makan. Habis makan, gue dan Ezha ngobrol lagi sampe bel masuk bunyi lagi.
Besoknya, gue nyari Ezha gak ketemu. Sampe pelajaran mulai. Gue pikir, Ezha lagi ada urusan keluarga
kali. Gue ke kantin sama Ali dan Zovi. Gue gak ngerasa ada cewek-cewek centil yang ngejar-ngejar gue.
Katanya, kumpulan cewek centil itu bikin geng yang namanya Dravers. Sumpah, sebenernya gue ngerasa
dipermaluin.
Gue pulang dengan wajah lesu ke rumah. Gue mencium punggung tangan bunda begitu sampe di
rumah. “Ndra, kenapa? Kok, lesu amat?” tanya bunda. “Gak pa-pa.” gue segera menuju ke kamar.
Sebenernya, gue malu sama cewek centil itu. Mendingan jadi cupu, dah.
Gue nge-WA Ezha. Tapi, infonya dia gak online dari tadi. Mungkin kuotanya abis kali. “Eh, Ndra!” seru
Karolina. Gue ampe kaget gara-gara Karolina make masker gitu. “Napa sih lo?” tanya Karol. “Tu, liat,
noh! Muka lo masih pake maskee begitu. Gue kira hantu!” “Oh, sori. Eh, gue pengen pinjem majalah
ilmiah, dong.” Karol ngoprek-ngoprek rak buku gue. Karol itu kakak gue. Dia udah kelas 3 SMA.
HP gue bergeter. WA dari Ezha. Ezha: Andra, ini bunda Ezha. Gue: iyah, tante. Ezhanya di mana? Habis
itu gak ada balesannya lagi. Gue gak mikirin lagi. Mungkin dia lagi pergi terus HP-nya ketinggalan.
Gue nguap sambil nutup mulut. Gue langsung tidur.
Besoknya, Ezha gak masuk lagi. Sepulang sekolah, gue ke rumah Ezha. “Assalamu ‘alaikum, Zha!” seru
gue. Klek, pintu dibuka. “Eh, Andra. Masuk dulu yuk.” kata bundanya.
“Tante, maaf, Ezhanya ada?” tanya gue sopan. “Emh …, ini dari dulu tante mau ceritain.” bunda Ezha
serius. “Oh, ada apa, Tan?” tanya gue bingung. “Sebenernya …, Ezha itu sakit kanker stadium 4, stadium
akhir. Penyakitnya baru diketahui waktu Ezha tiba-tiba hampir jatuh dari tangga. Katanya lemes,
matanya sakit, kepalanya sakit, pusing, terus waktu mau dibawa ke rumah sakit dia mimisan terus
sampai pingsan di mobil karena susah napas. Akhir-akhir ini, Ezha hanya makan gandum, susu, sayur,
buah. Itu yang dianjurin dokter.” jelas bunda Ezha hampir nangis. “Tan, RS-nya di mana?” “Di RS Islam.
Dia ada di ruang ICU.”
Gue segera pesen taksi online dan langsung ke RSI. Setelah sampe, gue ngebayar dan langsung lari-larian
ke ruang ICU. Gue nyerbu masuk dan ngeliat Ezha lagi dijagain kakaknya, Kak Sarah yang juga sahabat
Karol.
“Kak, gimana Ezha?” tanya gue. Kak Sarah masih nangis. “Ka-tanya gak ada harapan lagi.” mendengar
itu, kaki gue lemes.
Ezha yang selalu nemenin gue. Dengerin cerita gue. Ngebelain gue. Ngejauhin cewek centil dari gue. Zha,
gue mohon lu jangan tinggalin gue! Teriak gue dalem hati. Gue nangis. Tiba-tiba, Ezha membuka mata
sebentar. Dia melirik Kak Sarah dan gue sambil tersenyum. Ezha bilang, “Selamat tinggal.” Kak Sarah
membisikkan dua kalimat syahadat di telinga Ezha. Ezha mengikutinya. Dengan perlahan, mata Ezha
tertutup. Senyumannya masih terukir di wajahnya yang sangat pucet.
Gue tersenyum. Met tinggal, Zha. Gue tau lu gak mau gue nangis. Gue menghapus air mata.
“Met tinggal, Zha.” ucapku sambil mengenang kejadian seru bersamanya. Gue yakin lu mau gue cari
pengganti lu yang lebih baik.
Cerpen Karangan: Litania Lintang
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Hari ini aku bangun pagi pagi sekali karena hari ini ayahku berulang tahun yang ke 34, aku adalah anak
tunggal, aku mengetuk pintu kamar ibuku dengan sangat pelan takut nanti ayah terbangun, ibu segera
membukakan pintu kamar lalu kami membagi tugas ibu memompa semua balon dan aku menghias meja
dapur menjadi lebih bagus aku juga menambahkan gliter warna warni dan kami menempelkan balon
balon di sudut dinding, setelah semua beres, aku langsung berpura pura haus dam minta minum kepada
ayah sedangkan ibu ngumpet di kolong meja.
“Ayah aku haus tolong ambilkan minum”, kataku sambil menggoyangkan tubuh ayahku, “eehm iya”,
kata ayahku, lalu kami langsung menuju dapur, aku berjalan lebih cepat dan langsung bersembunyi juga
tanpa disadari ayahku, “salsaaa katanya mau diambilin minum, kamu di manaa”, teriak ayahku dan kami
langsung teriak suprieseee selamat ulang tahun ayah, aku langsung mengecup kening ayah lalu kami
menikmati kue bersama
1 minggu sudah berlalu, sepulang sekolah aku langsung menuju kamar ibu aku mengecup keningnya,
ayah masih kerja paling pulang malam kataku dalam hati, tetapi sampai malam belum juga pulang aku
jadi penasaran, ke mana ayah? tanyaku dalam hati, triingg.. telepon rumah berbunyi ibu segera
mengangkatnya, “apa, tidak, tidak mungkin”, ibu menangis dan langsung mengajaku ke rumah sakit
terdekat, lalu ibu mengajaku ke kamar catlia 6B.
Aku melihat wajah seorang lelaki, wajahnya tidak asing bagiku, itu adalah “ayaah”, aku langsung
berteriak, aku melihat ayah sudah terbujur kaku, aku menagis sekencang kencangnya, “sabar nak ini
adalah cobaan”, kata ibuku menenangkanku, ternyata ayah terkena musibah kecelakaan mobil, aku
mencoba tabah.
Sudah tiga minggu aku hidup tanpa ayah, dubraak, aku terkaget, aku langsung ke dapur ternyata ibu
pingsan, aku segera membawanya ke rumah sakit dengan tetangga tetangga, ternyata nyawa ibu tidak
bisa diselamatkan, ibu punya penyakit jantung, aku memeluk ibuku, baru tiga minggu kita bahagia
kenapa ibu dan ayah meninggalkanku sekarang aku tinggal di panti asuhan tanpa ayah dan ibu.
Cerpen Karangan: Zahra Rizqy Charissa H
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Perkenalkan namaku Xica (panggil: sica). aku mempunyai seorang kakak. Ia bernama Xico (panggil: sico.
Papa dan mamaku sedang ada di luar negeri. Jadi, aku di rumah hanya bersama kakakku dan bibi Briella.
Pada suatu hari…
“Kak, ayo main dong sama dek Xica!” pintaku.
“Iih siapa yang sudi mau main sama kamu. Dan tolong jangan manggil aku kakak. aku gak sudi punya
adik kayak kamu!” bentak kan Xico.
“Kak, apa salahku sama kakak? Apa kak, apa?” tanyaku.
“Salahmu banyak sekali padaku. Kau telah merebut kasih sayang mama dan papa dariku!” bentak kak
Xico lagi.
aku pun yang mendengar itu pun langsung masuk kamar.
Di kamar, aku menangis tersedu sedu.
“Ya tuhan, kenapa harus aku ya tuhan!” gumamku di dalam isakanku.
Jika kakak tak menginginkanku, aku harus pergi dari sini. Untuk apa aku di sini kalau kedatanganku
merusak kebahagian kakak. Pikirku.
Aku pun segera mengemasi barang barang dan menulis surat untuk yang ada di sini. aku pun segera
kabur lewat jendela.
“Non Xica, ayo makan non..” ajak bi Briella.
Tak ada jawaban.
“Non… non!” panggil bi Briella.
Tak ada jawaban.
Bi Briella pun segera mencari kunci duplikat kamarku.
Setelah di buka, hanya ada sebuah surat bi Briella pun membaca.
“Bi Briella, tolong ucapin ke kak Xico, bahwa aku nggak ada di rumah. Jadi, kak Xico bisa dapat kasih
sayang dari mama dan papa. Dan tolong jangan bilangin sama mama dan papa bahwa Xica kabur. Dan
tolong, bi Briella merhatiin kak Xico. Karena Xica kan udah gak ada. Sekali lagi tolong bilangin ke mama
papa Xica berterima kasih sama mereka dan bibi, makasih udah merhatiin aku. Maksih semua.
Xica.”
Bi Briella pun menangis membacanya. Dan langsung kasih suratnya pada Xico.
“Bi, ini surat apa?” tanyanya.
“Tolong baca aja den!” jawabnya.
Setelah membaca, Xico menyesali perbuatannya. Ternyata adiknya sangat sayang padanya. Ia pun tak
bisa berbuat apa apa kecuali penyesalan.
Balik ke Xica.
Di jalan, aku kehujanan dan berteduh di halte bus. aku pun berpikir kenapa harus aku yang mengalami.
Setelah menangis, aku pun tertidur selamanya karena aliran darahku membeku.
Cerpen Karangan: Zahra Rizqy Charissa H
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Hi! Namaku Karin. Lebih tepatnya Titania Katarina Ananda. aku anak tunggal. Dan aku mempunyai
sahabat. Ia bernama Vonny. Dan lebih tepatnya Vonny Aprilia Bianca. Kami bersekolah di SD Pelita
Harapan. Dan kami kelas 6.
Keesokan harinya, aku bangun dan melakukan kewajiban umat muslim. Setelah itu, aku segera mandi
dan berdandan. Usai berdandan, aku bergegas turun untuk sarapan. aku makan dengan terburu buru.
“Nak, kalau makan pelan pelan ya” kata bunda
“Gak sempet bun! udah jam 7 nih!” jawabku.
Bunda hanya geleng geleng melihat anak semata wayangnya. Dan aku segera pamit pada ayah dan
bunda.
Di perjalanan, aku menggoes sepedaku dengan kencang sekali. 3 menit aku sampai ke sekolah.
“Untung nggak telat!” gumamku.
“Hi Karin!” sapa Vonny.
“Hi juga Von!” jawabku.
“Tumben Rin! Loe telat. Biasanya gwe yang telat!” ledek Vonny.
“Emang kenapa? Nggak boleh?” jawabku sambil pura pura ngambek.
“Jangan ngambek dong Karin! I minta maaf!” kata Vonny.
“Hahaha..” tawaku pun meledak.
“Rin, malu tu dilihatin semua!” bisik Vonny.
Aku pun tersenyum malu. Lalu kami pun masuk kelas.
Entah mengapa waktu pulang, aku merasa lemas dan mataku berkunang kunang.
“Rin! Kamu kenapa?” tanya Vonny cemas.
“Gak papa kok Von!” jawabku dengan suara lirih.
“Beneran nih Rin?” tanyanya mencoba meyakinkan.
“I..iya gak papa kok Von..” kata kataku terputus dan tiba tiba semua gelap.
Saat sadar, aku sudah berada di rumah sakit.
“Bun..” lirihku.
“I..iya nak. Bunda di sini.” jawab bunda.
“Bun, sebenernya Karin sakit apa sih?” tanyaku.
“Nak, kamu yang sabar ya, kamu terkena leukimia dan udah stadium 2” kata bunda sambil menangis.
“Ap..apa bun?” kataku.
Sudah Berbulan bulan aku dirawat di rumah sakit. Tetapi, kondisiku semakin hari semakin lemah. Dan
pada akhirnya, aku memasuki stadium 4. Suatu hari, Vonny menjengukku yang terakhir kalinya, aku dan
Vonny berbincang bincang banyak sekali. Tetapi, setelah Vonny pulang, tiba tiba aku terasa sesak dan
menutup mata selamanya.
“Dok. dokter” panggil bunda.
Dokter pun segera datang dan memeriksa aku.
“Bu, maaf anak anda tidak tertolong dan kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dan ini ada surat
dari nak Karin untuk Vonny” kata dokter sambil menyerahkan surat.
Keesokan harinya, aku dimakamkan di TPU.
Di kelas, tiba tiba pak kepsek datang.
“Anak anak harap tenang ada berita!” kata pak kepsek.
Seketika ruangan senyap.
“Inalilahi telah berpulang nya teman kita, Titania Katarina Ananda ke pangkuan yang maha kuasa
kemarin, pukul 7 malam” kata pak kepsek.
“Apa pak? Ini gak mungkin kan pak?” pekik Vonny sambil menangis.
“Ini beneran Vonny. Dan ada satu surat untuk Vonny dari Karin dan saya akan membacakannya: Hi
Vonny, mungkin ketika kau membaca surat ini, aku telah tiada. Maafkan aku juga karena tidak
memberitahumu tentang penyakitku. Sebenernya aku punya penyakit leukimia. Dan malam itulah kita
terakhir kali bertemu. Vonny, terimakasih telah mengisi lembaran hidupku, mewarnai hariku, mungkin
ku TAKKAN BISA MEMENUHI JANJIKU UNTUK SELALU DI SAMPINGMU, TETAPI, aku AKAN SELALU ADA DI
HATIMU. Dan kini, aku telah tenang. Kumohon jangan menangis ya, pasti ada pengganti diriku.
Salam Karin” kata pak kepsek.
Semua menangis mengingat kebaikan Karin. Dan ada yang mengatakan
“Love you Karin.” Bisik Vonny.
Aku Lin ji. Hal yang terindah bagiku adalah hari pertama di sekolah baru. Penyebab kepindahanku ke
desa ini karena suatu pekerjaan orangtuaku.
Aku duduk di sebuah halte yang tampak tua. Aku menunggu bus itulah kebiasaanku ketika di kotaku
sebelumnya. Aku selalu pergi ke sekolah dengan transportasi bus. Bagiku itu terasa menyenangkan.
Walaupun orang-orang menganggapnya itu adalah hal yang paling biasa. Bahkan ada yang merasa
bosan. Tetapi aku tidak.
Aku belum tahu apa-apa tentang Desa ini. Dan bahkan aku belum mempunyai teman seorang pun.
“Kuharap aku mendapatkannya nanti!”, batinku dalam hati.
Aku melihat arlojiku sekilas. “Kenapa Desa ini begitu hening ya?” aku bertanya kepada diriku sendiri. Aku
mendesah pelan.
Di kejauhan, aku melihat asap mengepul. Asap itu terlihat dari asap kendaraan. Apakah itu bus? Aku
menerka-nerka warna bus yang tampak dimataku. Yap! Rupanya bus berwarna hijau. Aku lekas-lekas
bangkit dari kursiku, dan mendanti-dantinya. Bus pun datang. Lin ji tersenyum cerah melihat bus yang ia
terka-terka.
Buru-buru aku menaikinya. Di dalam bus, terlihat kursi-kursi kosong. Tanpa satupun penumpang yang
didapati oleh matanya. Tanpa pikir panjang, aku pun memilih kursi, dan sempat ketika mobil hendak
berjalan. Dan itu membuatku berhasil sedikit terhuyung dibuatnya.
Sempat terpikir olehku, bus ini kelihatan berbeda dengan bus-bus pada umumnya. Sudah kosong,
berkarat, lapuk, per kursinya sudah mencuat, kain kursinya robek-robek, baunya menyengat hidung lagi!
Apa ada bangkai tikus ya di belakang? Mungkin karena ini ya, semua penumpang pada tidak mau
menaiki bus lagi..
Di tengah lamunanku, aku mendapati seorang gadis yang kelihatannya sebaya denganku. Begitupula
dengan seragam sekolahnya. Jelas sekali dia juga berada di sekolah yang sama denganku. Seraya
mengatur posisi dudukku. Aku bangkit dan memilih duduk di sebelah gadis itu.
Aku mendapati gadis itu yang tengah menatap keluar jendela. Sontak gadis itu terkejut. Ia menatap
mataku. Lalu aku mengedarkan senyuman hangatku kepadanya. Ia malah lebih terkejut dan wajahnya
seakan tidak percaya bahwa aku ada di sini.
“Hai, namaku Park Lin Ji, aku anak baru dari kelas 5-3. Senang bertemu denganmu!” ucap Lin ji, seraya
mengulurkan tangannya kepada gadis itu untuk bersalaman. Dengan ragu, Gadis itu membalas uluran
tangank. Aku menggerak-gerakkan tanganku ke atas dan ke bawah. Aku merasakan tangannya begitu
dingin. Ia pun tersenyum kepadaku dan aku membalasnya dengan senyuman pula.
“Itu kelasku..” jawabnya pelan. “yah, kelas 5-3!”
Sontak mataku membelalak, aku benar-benar terkejut bercampur gembira.
“wah, syukurlah kalau begitu! Tadinya kuharap begitu, dab ternyata benar..” teriakku antusias. “Oh ya,
bangku di sebelahmu kosong apa tidak?”
“Kosong? Kursikulah yang kosong,” gumamnya pelan. Hampir-hampir tidak bisa kucerna kata-katanya.
“Heh?” tanyaku bingung.
“Apa kau tahu?” tanya gadis itu.
“Tahu apa?” tanyaku lagi.
“Desa ini.”
“Desa?” aku bertanya sekali lagi. Aku mengangkat alis.
“Ah! Lupakan saja!” serunya sambil tersenyum memperhatikan rok kotak-kotaknya. Aku pun tersenyum
bingung.
Bus pun mulai melambat gerakan jalannya, dan berhenti di halte dekat sekolah. Pertanda saatnya turun
bagi kami berdua. Aku pun buru-buru turun dan memasuki gerbang sekolah. Tanpa sadar gadis tadi
sedari tadi tidak ada di sampingku. Apa aku meninggalkannya?
Teng.. teng.. teng..
Lonceng sekolah berbunyi, aku buru-buru masuk ke ruang guru dan menemui Wali kelasku. Di sana aku
diajak masuk ke kelas 5-3. Aku mengekori Wali kelasku dari belakang, layaknya anak baru biasanya.
Sesampai di kelas 5-3, Bu guru atau bisa juga disebut Wali kelasku, menyuruhku untuk masuk dan
memperkenalkan diri.
Aku pun memperkenalkan diri, walau sedikit canggung. Dan usai itu aku pun dipersilahkan duduk oleh
wali kelasku di tempat kursi yang kosong, tepatnya di sebelah Ha jin. Tak lama kemudian, suara riuh di
kelas pun terdengar. Sapa menyapa menghujan Lin ji.
Sepulang sekolah, aku selalu pulang lebih awal. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku di sekolah
setelah jam pelajaran sekolah berakhir. Seperti biasa aku selalu menunggu bus dan menaiki bus.
Orangtuaku sibuk dan tidak bisa mengantarkan dan menjemputku sepulang sekolah, layaknya orangtua
para murid biasanya.
Bus pun datang. Seperti biasanya kosong, dan hanya ada aku. Bahkan tidak ada gadis itu.
Keesokan harinya, seperti biasa aku menunggu bus di halte yang tampak lebih tua dari biasanya.
Tanaman rambat menjalar ke tiang halte. Aku mendengus pelan. Lagi-lagi halte kali ini kosong, sunyi dan
sepi. Jalanan basah habis hujan semalam menambah keheningan dan dingin.
“Apakah desa memang seperti ini? Sangat begitu sepi dan hening? Aku serasa di kota mati tanpa
kegiatan orang-orang,” gumamku risau. Aku termenung cukup lama. Sampai-sampai bus sudah sampai
di hadapanku. Aku pun naik setelah di klaksonkan oleh pak sopir.
Seperti biasa, aku menemukan gadis itu dan berbincang-bincang akur.
“Apa aku meninggalkanmu kemarin? Sehabis turun dari bus?” tanyaku khawatir.
“Ah, tidak! Kau tidak meninggalkanku kok! Tenang saja,” ucapnya menenangkan.
“Lalu, Kenapa aku tidak menemukanmu di sekolah kemarin, dan juga aku tidak menemuimu di kelas!”
ucapku bingung. Dan dipikir-pikir juga mengherankan.
“Tenang, aku gak bolos kok!” tangkasnya cepat. Takut aku mengira yang tidak-tidak.
Bus pun berhenti dan menurunkan kami. Juga, bahkan aku tidak mendapati gadis itu lagi. Dia
menghilang lagi.
Akhirnya waktu pulang sekolah pun datang. Itulah dimana seisi kelas mengatakan surga bagi mereka.
Hari ini aku mengantarkan jurnal kelasku dulu kepada wali kelasku. Akibatnya agak telat pulang dari
yang lain.
“Boleh kutemani?” tawar Ha jin teman sebangkuku.
“Tentu!” ucapku dengan senang hati. Kami pun bejalan beriringan menuju ruang guru.
“Sehabis ini kita pulang bersama ya? Soalnya jauh selalu pulang duluan sih, kita kan searah!” kata Ha jin
sedikit memohon.
“Boleh! Kita naik bus ya!” kata Lin ji.
“Naik bus?” tanya Ha jin sedikit gemetar.
“Yah, tentu saja!” ucap Lin ji sedikit ragu-ragu. “Memang kenapa?”
“Kau perlu tahu, bahwa desa ini, punya tragedi beberapa bulan yang lalu.” ucap Ha jin lirih.
“Hah? Yang benar saja!” ucapku tidak percaya. “Terus? Bagaimana?”
“Nantilah, kuceritakan! Kita serahkan ini dulu ke wali kelas!” timpal Ha jin.
Jurnal pun sudah diberikan kepada wali kelas kami.
“Begini, sebenarnya terjadi kecelakaan 3 bulan yang lalu. Kecelakaan itu mengakibatkan salah satu dari
murid kelas kita yang meninggal dunia. Dan katanya, arwahnya masih bergentayangan di dalam bus itu.
Juga, pembawa sopir yang sebenarnya ayah dari anak yang meninggal dunia itu. Kau tahu, semua bus
tidak lagi diberlakukan si desa ini. Hanya saja ayahnya masih tidak rela akan kematian anaknya. Begitu
ceritanya.”
“Omong-omong nama anak itu siapa ya?” tanya Lin ji.
“Bentar, aku lupa. Besok akan kukabari namanya. Rasanya ada di catatan harianku” kata Ha jin.
Akhirnya mereka pulang bersama dengan jalan kaki. Mereka pun sempat membeli es krim di
persimpangan jalan.
Keesokan harinya, Li jin sedikit terlambat dan harus buru-buru secepat mungkin agar tidak terlambat ke
sekolah. Pada awalnya ia tidak berminat untuk naik bus lagi karena cerita Ha jin kemarin.
Karena tak punya waktu lagi, Li jin pun nenaiki bus itu kembali. Tanpa sadar gadis itu kembali berada di
dalam bus dan kursi yang sama. Dengan was-was, aku pun menberanikan diri untuk bertanya siapa
nama gadis itu sebenarnya. Dan tanpa disadari sedari awal ia tidak pernah mengetahui siapa nama gadis
itu sebenarnya.
“Hmm, oh ya nama kamu siapa ya?” tanyaku berusaha untuk setenang-tenang mungkin.
Tiba-tiba ponselku berdering dari dalam sakuku. Aku merogohnya dan mendapati yang meneleponku
adalah Ha jin!
“Ha jin!! Aku sudah tahu nama gadis itu, namanya Min ra!” teriak Ha jin dari seberang telepon.
“Namaku MIN RA!!” kata gadis bus itu.
Sekelebat pikiranku kacau, aku benar-benar terjejut dan tidak bisa menguasai hatiku yang kinu sudah
ingin meloncat. Aku serasa berada di film horor. Aku sudah terlanjur tegang sedari tadi. Dan kakiku
sudah kelu untuk membebaskan diri. Aku mendobrak-dobrak pintu bus dan nihil. Pintu tidak terbuka.
Tiba-tiba aku merasa pundakku dipegang oleh tangan yang dingin.
“Jadi sekarang kau tahu siapa aku?” ucap suara itu.
“AAAAAAA!!!!!”