0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
241 tayangan78 halaman

Terima Kasih dan Perjalanan Novel Pertama

Dokumen ini berisi ucapan terima kasih pengarang atas bantuan yang diterimanya dalam menyelesaikan novel pertamanya dalam waktu 3 bulan. Ia berterima kasih kepada Allah SWT, guru bahasa Indonesia, orang tua, adik, teman-teman, serta pembaca atas dukungan mereka. Pengarang mengharapkan novel ini menjadi favorit pembaca.

Diunggah oleh

beita.zahara2
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
241 tayangan78 halaman

Terima Kasih dan Perjalanan Novel Pertama

Dokumen ini berisi ucapan terima kasih pengarang atas bantuan yang diterimanya dalam menyelesaikan novel pertamanya dalam waktu 3 bulan. Ia berterima kasih kepada Allah SWT, guru bahasa Indonesia, orang tua, adik, teman-teman, serta pembaca atas dukungan mereka. Pengarang mengharapkan novel ini menjadi favorit pembaca.

Diunggah oleh

beita.zahara2
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ucapan

Terima Kasih
Buku ini berarti bagi saya, karena novel ini diselesaikan
dalam kurun waktu kurang lebih 3 bulan. Saya selaku
pengarang sejujurnya tidak pernah membuat buku
bahkan tidak berpengalaman dalam segi baca dan
membuat cerita.
Maka dari itu izinkan saya berterima kasih kepada:
Allah SWT. Yang terlah mengiring saya dalam
kelancaran membuat novel ini

Dan kepada ibu Siti Sundari, M.Pd yang telah memberi


tugas ini, terima kasih karena berkat ibu selaku guru
mata pelajaran Bahasa Indonesia akhirnya saya mampu
memaksimalkan diri untuk menyelesaikan novel ini.
Kepada kedua orang tua saya yang memberi nafkah
sehingga saat saya membuat cerita ini tidak merasa
kelaparan dan kehausan.
Serta adik saya ARCELIO BAIHAQQI RIZALDI yang
dengan kelucuan mampu memberi saya semangat dalam
menyelesaikan novel ini.
Untuk teman – teman saya yang selalu ada untuk saya
dalam membantu, membimbing, serta mendengarkan
keluh kesah saya. Kepada Anggun Septa, Jihan Atika,
Riri Tri, Ernita, dan Ella Kurnia yang menjadi inspirasi
saya.

i
Terima kasih telah membantu saya dalam kesulitan yang
saya alami.

Mungkin saja buku ini menjadi novel pertama dan


terakhir yang saya buat.
I HOPE THIS BOOK BECOMES YOUR FAVORIT

TERIMA KASIH
HAPPY READING
BEITA ZAHARA

Daftar Isi
Ucapan terima kasih i
Daftar isi ii
Prolog 3
Chapter 1 : Hilang 4
Chapter 2 : Move On 12
Chapter 3 : Tak Terdugong 21
Chapter 4 : Gangguan 27
Chapter 5 : Hadirnya 31
Chapter 6 : Terbukanya Rahasia 42
Chapter 7 : Perkemahan 50
Chapter 8 : Pelindung 59
Chapter 9 : Bentuk Maaf 63
Chapter 10 : Sayang yang Tak kan hilang 67

ii
Prolog
Namaku Alea, orang-orang di sekitarku biasa
memanggil Lea, aku berusia 18 tahun tepatnya kelas 3
SMA. Kehidupan ku dari kecil bisa dibilang cukup
beruntung, aku lahir dari keluarga yang harmonis, kedua
orangtua ku cukup terpandang dan dari kecil aku selalu
dimanjakan dengan kekayaan serta kasih sayang dari
Mama. Aku anak terakhir dari 3 bersaudara, aku
mempunyai satu kakak laki-laki yang bernama Geo yang
berjarak 2 tahun dan satu kakak perempuan bernama
Alexa yang berjarak 4 tahun denganku.
Aku tidak pernah berpacaran karna bagiku pacaran
hanya membuang-buang waktu dan aku merasa cukup
dengan kasih sayang dari keluarga ku. Tetapi, semua
keadaan, kebahagiaan dan kasih sayang seakan-akan
hilang dalam sekejap mata.
Memasuki semester akhir dibangku sekolah,
kehidupan ku sangat berubah drastis dari semua yang
dihiasi kebahagiaan namun sekarang hanya kesuraman
belaka. Semua orang menyibukkan diri sehingga
melupakan aku yang menunggu hadirnya mereka.

iii
Aku benar-benar merasa sangat kesepian apalagi
semenjak kepergian Mama yang meninggal karna sakit
leukemia yang dideritanya sejak satu tahun lalu, Papa
yang sudah jarang berada dirumah karna sibuk dengan
dunia kerjanya dan kedua kakak ku yang seakan
melupakan ku dari hidup mereka

Chapter 1
-Hilang-
Aku itu sedang duduk di balkon rumah dengan
ditemani segelas jus alpukat di atas meja kecil di
sebelah tempat dudukku. Saat sedang membuka galeri
ponsel aku melihat ada banyak sekali foto-foto
kenangan keluarga kami bersama Mama, dan di slide
foto terakhir adalah foto di mana Mama sedang dirawat
di rumah sakit yang ke sekian kalinya.

 Flashback on –
Aku sedang menjaga Mama di rumah sakit, beliau
terpaksa dirawat karna sakit yang dideritanya.
Sementara papa yang terlalu sibuk dengan kegilaan
kerjanya sehingga tidak bisa menyempatkan diri untuk
menjaga Mama.
Aku duduk di dekat ranjang tempat tidur Mama,
memandangi dengan seksama betapa lemahnya kondisi
Mama saat itu. Dada ku rasanya ingin pecah, pikiran
buruk hampir menggerogoti seisi kepalaku.
“Dek... dek...”

iv
Suara lembut yang menjadi ciri khas Mama
menghalau pergi semua hal buruk di kepalaku.
“Nanti kalau Mama udah ngga ada lagi di dunia,
kamu harus janji sama mama, buat jadi anak yang
mandiri dan kamu harus jadi anak yang kuat ya.. Kamu
jangan pernah merasa sendirian, karna Mama akan
selalu ada di sisi kamu”
Aku hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah
kata pun perkataan Mama. Rasa sesak dan semua emosi
mengalahkan diriku hingga hanya air mata yang keluar
seperti beradu paling cepat dengan bibir yang ingin
berucap.

 Flashback off –
Kata-kata yang akan selalu aku ingat walaupun
sekarang aku sangat merasakan kesepian karna semua
orang sibuk dengan dunianya.
“Dek gue pergi ya!”
Mataku langsung tertuju melihat abang yang sudah
berdandan rapi untuk meninggalkan rumah.
“Lo mau kemana bang? Abang semenjak Mama
udah ga ada jarang banget dirumah bang..”
“Ahh berisik lo!” jawabnya dengan nada yang
begitu keras.
“Tapi gue kangen lo bang, gue kangen suasana
rumah yang kaya dulu, gue kangen semuanya bang”
kataku dengan suara yang getar menahan tangis.

v
“Terserah! gue mau pergi” jawabnya dengan
langkah kaki menuju lantai pertama meninggalkan ku
yang mematung karna bentakannya.
Aku hanya terdiam melihat punggungnya yang
terlihat semakin jauh dari pintu rumah. Kaget? Tentu
saja, karna itu pertama kalinya bagi ku orang yang
sangat menyayangi ku membentakku.
Yeah, yeah, yeah
Blackpink in your area!
Yeah, yeah, yeah (Blackpink, Kill This Love)

Dering ponsel memecah kesunyian saat itu. Aku


bergegas melihat ponsel untuk memastikan siapa yang
menelepon ku Tyass, nama yang tertulis di layar ponsel
milikku. Tyas adalah sahabatku sejak kecil, kami sekolah
di tempat yang sama saat SD-SMP tetapi kami terpisah
di SMA karna tujuan kami berbeda. Meskipun begitu,
kami tetap berteman baik hingga sekarang bahkan dia
sudah kuanggap seperti rumah kedua bagiku.
“Halo Yas, kenapa? Tumben lo nelpon?” tanyaku ke
Tyass yang tiba-tiba menelepon ku, kami memang
jarang saling berhubungan jadi wajar saja aku heran
ketika dia menelepon ku.
“Eh Le, gimana lo sehat? Masih hidup kan? Udah
lama kita ga ketemu, gue jadi khawatir sama lo, atau lo
masih galau? Udah si Le welcome to my circle, kan kita
saling melengkapi gue yatim lo piatu Le hehehe” ujar
Tyass yang mungkin berniat untuk menghiburku. Tetapi
kata-katanya yang sedikit blak-blakan membuat tidak
enak didengar.

vi
“Apasih lo, ga jelas banget. Kalo ga ada hal yang
penting-penting banget ngapain nelpon sih” jawabku
dengan ketus karna badmood dengan ucapan Tyass.
“Eh Le? Lo marah? Aduhh sorry-sorry, gue ga
bermaksud nyinggung lo gitu Le” ucap Tyass yang sudah
ketakukan karna takut membuatku marah. Walaupun
Tyass tau kalau aku tidak bisa marah dengannya.
“Ga. To the point, lo mau ngomong apa?” sahutku
dengan singkat.
“Gue mau pergi main sama temen-temen SMP, lo
mau ikut ga? Sekalian healing biar lo ga dirumah terus,
kita juga kan udah lama ga kumpul-kumpul lagi” ucap
Tyass.
“Kayanya ga bisa deh, skip dulu gue”
“Yahh, ikut aja sih Le. Itung-itung buang stres,
apalagi semenjak nyokap lo meninggal, udah hampir
tiga bulan lo ga main lagi Le, lo jadi jarang keluar
rumah kalo ga ada kepentingan, ayo Le ikut aja” ucap
Tyass yang memang ada benarnya, semenjak kepergian
Mama aku jadi sungkan untuk berinteraksi dengan
banyak orang.
“Lo bener yas, tapi sorry banget kali ini gue beneran
ga bisa, gue harus belajar, besok ada UH matematika
wajib”
“Ah ulangan harian doang mah gampang Le, kan
bisa masih bisa nyontek atau ga lo buka buku aja dah”
“Ga bisa woi, gurunya killer abis, bisa bahaya kalo
gue ketauan nyontek apalagi buka buku, lagian kalo
misal gue aman-aman aja buat buka buku tetep
percuma kalo ga ngerti materinya coy”

vii
“Lah, bukannya dulu lo paling suka mapel itung-
itungan? Harusnya gampang kan buat lo?” kata Tyass
yang keheranan dengan perkataan ku.
“Beda Yas beda, dulu sama sekarang beda, vibesnya
aja udah beda SD-SMP mah gampang, kalo sekarang
mumet gue belajar matematika” jawabku yang
menekankan bahwa aku memang tidak bisa keluar saat
itu.
“Hahaha baru sadar lo Le? Ya udah kalo emang lo
mau belajar, tapi emang belajar kan? Bukan buat
nangis kan?” ucap Tyass yang sudah pasrah
membujukku untuk keluar rumah, serta dengan
pertanyaannya yang seolah-olah tau perasaanku
sekarang.
“Iya gue belajar masa bohong sih, ini di sebelah gue
ada buku sama pena buat belajar, lo aja yang tiba-tiba
ganggu” sahutku yang berbohong kepada Tyass,
walaupun sebenarnya aku memang ingin belajar tapi
bukan sekarang.
“ya udah gue tutup telponnya ya, belajar yang
bener lo” kata Tyass untuk mengakhiri percakapan
kami.
“Iyaaaa, cerewet banget lo” ucapku sedikit kesal.
“Emang hahaha” segera koneksi telpon diputus oleh
Tyass tanpa sempat aku membalas lagi ucapannya.


Aku bergegas kemeja dapur untuk sarapan karna
sudah hampir terlambat pergi ke sekolah. Sunyi dan

viii
sepi, hanya terdengar suara langkah kaki dan piring
milikku untuk menyiapkan sarapan. Pemandangan yang
selalu aku lihat tiap pagi. Rumah ini sudah kehilangan
warnanya semenjak tiga bulan lalu, pemandangan pagi
yang biasanya dihiasi keceriaan dan keramaian keluarga
yang harmonis kini hilang setelah kepergian Mama.
“pukul 06.30 masih cukup pagi tapi keadaan rumah
sudah sesunyi ini, bang Geo dan kak Lexa apa masih
tidur? Papa? Ah biasanya sudah berangkat kerja, pasti
takut macet” gumam ku pada diri sendiri.
“Eh adek kakak yang cantik, selamat pagi. Kok
belum berangkat sekolah?”
Sapa kak Alexa kepada ku.
Aku melihat kak Alexa sedikit keheranan, karna tidak
biasanya dia bangun pagi kecuali ada jadwal kuliah,
belum lagi dengan kata sapaan yang dia ucapkan
membuatku semakin heran.
“Pagi. Belum bentar lagi kak, tumben kakak pagi-
pagi udah bangun? Mau kemana? Ada jadwal kuliah
kah?” ucapku kepada kak Alexa dengan beberapa
pertanyaan yang beruntun.
“Eh-eh satu-satu dong pertanyaannya, berasa lagi
diwawancara wartawan aja. Iya nih kakak ada kerjaan
mau ketemu dospem bentar, sekalian mau revisi skripsi
kakak, biar cepat kelar” jawab kak Alexa yang memang
benar sesuai dugaan ku.
“Oh gitu, ya udah aku berangkat dulu ya kak. Bye-
bye!” kataku kepada kak Alexa yang akan berangkat
sekolah.
“Okey hati-hati yaa”

ix
Kaki ku berjalan meninggalkan dapur dengan
sedikit terburu-buru. Aku pergi diantar pak suryo yang
memang sudah lama bekerja dengan Papa. Dulu aku,
kak Alexa, kak Geo dan Mama setiap pagi selalu diantar
pak sopir karna kami masih sekolah di tempat yang
sama, keadaan yang paling aku rindukan apalagi saat
sedang bersama Mama.

(SMA Neo school)


Aku berjalan melewati koridor sekolah, ruang kelas
ku ada pada lantai 2 sehingga harus melewati deretan
kelas 10 untuk menuju ke tangga.
Aduhh malu banget, kok orang-orang pada liatin
gue ya? Padahal kan gue ga telat ucapku dalam hati
sambil berjalan sedikit menunduk karna malu di
perhatikan banyak orang, sambil berharap tangga
menuju lantai 2 sudah berada di depan mata.
“Aleaaaaaaaa!!!”
Aku dibuat kaget oleh orang yang memanggil namaku
dengan suara lengkingan yang memekakkan telinga,
seketika aku langsung menoleh ke belakang untuk
melihat orangnya.

x
“Eh Jesi, ngagetin aja lo! Pagi buta udah mau bikin
orang jantungan, untung gue ga pingsan” ucapku
kepada Jesi yang merupakan teman sekelas sekaligus
teman sebangku.
“Hehehe sorry-sorry, lagian lo udah gue panggil
berkali-kali ga noleh co, gue kira lo di gangguin setan
budeg sekolah” jawab Jesi yang aku sendiri tidak tau
maksud dari dirinya yang bercanda atau serius.
“hmm” balasku dengan singkat karna tidak mau
memperpanjang masalah kecil dengannya.
Kami pun berjalan beriringan menuju ruang kelas,
tidak ada hal yang kami bicarakan lagi setelah pagi tadi,
hanya terdengar suara bising dari banyaknya penduduk
sekolah, aku sibuk dengan pikiranku sendiri yang
memikirkan kan ulangan nanti dan semua hal yang
menurutku tidak jelas.
Sesampainya di ruang kelas, aku mencoba untuk
tidak menanggapi beberapa teman kelas yang
mengajakku berbicara, bukannya sombong tetapi aku
sedang belajar dan mencoba memahami rumus-rumus
yang sulit dimengerti.
Saatnya jam pelajaran pertama dimulai...
Bel pun berbunyi yang menandakan bahwa kami
akan segera menghadapi ulangan, walaupun hanya
ulangan harian biasa tetapi kami sekelas sangat
merasakan panik.
“Wah gila udah bel masuk ajaa!! Gue masih pusing
woi sama pelajaran satu ini. Mana ga bisa nyontek lagi,
dahlah mati gue!” teriak Jesi yang jelas menandakan

xi
bahwa dia benar-benar belum siap menghadapi
ulangan.
“Diem woi diem, ibunya udah jalan ke kelas bentar
lagi sampe” ucap salah satu teman kelas ku yang
membuat suasana menjadi sangat tegang.
Ulangan harian pun dimulai suasana kelas seketika
menjadi hening dan tegang, jelas tak ada satu pun dari
kami yang berani bergerak untuk menyontek. Hanya
terdengar suara pena yang beradu dengan kertas dan
suara ketikan kalkulator dari masing-masing orang yang
sibuk dengan soal ulangannya.
“Baik sekarang waktu pengerjaan soal tinggal 3
menit, selesai tidak selesai semua wajib kumpul” ucap
Bu Mirna yang membuat ku keringat dingin karna rasa
gugup yang seperti menghantui.
“Siap Bu!” jawab kami secara serempak kepada Bu
Mirna.
Waktu terasa sangat cepat saat kami sedang
mengerjakan soal-soal, otak yang beradu dengan waktu
dan tangan-tangan yang cekatan menulis di lembaran
kertas.

xii
Chapter 2
-MOVE ON-
Keesokan harinya aku di panggil ke ruang guru,
perasaan tidak karuan menyelimuti pikiran ku apa
kesalahan ku? Mengapa aku dipanggil? Apa aku
melakukan kesalahan? Semua pertanyaan itu terus-
menerus berbisik seakan terdengar di telinga. Langkah
demi langkah aku lewati sampai kaki ku berhenti tepat
di depan pintu kantor, aku berusaha menepis semua
pikiran dan perasaan takut pada diriku mengumpulkan
semua keberanian ku dan segera memasuki ruangan
itu.
Sesampainya aku di dalam ruangan itu aku
dikagetkan dengan Bu Mirna, ternyata beliau lah yang
memanggil ku kesini. Aku tidak mengetahui maksud dan
tujuan Bu Mirna, aku dipersilahkan duduk di kursi yang
telah disediakan dan duduk berhadapan langsung
dengan guru yang di takuti semua siswa.

xiii
“Alea ibu mau bertanya dengan mu, kamu kenapa
sekarang jadi seperti ini nak? Ibu tau kamu mungkin
masih berduka karna kepergian ibu mu tapi kamu
jangan terus-terusan seperti ini. Kamu masih terlalu
muda untuk kehilangan semangat”.
Aku yang mendengar pertanyaan itu sontak
langsung terdiam, memang benar apa yang di katakan
oleh Bu Mirna, semenjak kejadian itu aku masih belum
bisa mencari semangat baru.
“Mungkin kamu terkejut mendengar pertanyaan ibu,
tetapi percayalah ibu benar-benar mengkhawatirkan
kamu, sekarang belum terlambat untuk kamu
mengubah dirimu” ucap Bu Mirna.
“Baik Bu, Alea usahain buat kembali bersemangat
lagi seperti dulu” jawabku.
“Iya lea, kamu yang semangat ya ibu tau kamu pasti
bisa melewati masa sulitmu” ucap Bu Mirna kepadaku.
Aku sangat tidak menyangka bahwa guru yang aku
kira selama ini adalah guru yang cuek dan disegani
banyak orang ternyata perduli dengan keadaan diriku
sekarang.
Aku segera pergi dari ruangan itu untuk kembali ke
dalam kelas, aku berjalan sendirian sambil memikirkan
perkataan Bu Mirna dan aku rasa tidak ada salahnya
untuk kembali ceria demi diriku sendiri.


Saat aku memasuki ruang kelas, aku menatap satu
persatu wajah-wajah mereka raut wajah yang ceria dan

xiv
bahagia, sedangkan di sini aku seperti tertinggal jauh
dengan mereka.
Aku melangkah menuju bangku tempat dudukku dan
teman-teman yang sadar akan kehadiran ku pun
berjalan beriringan mengikuti ku.
“Eh le cerita dong, lo di marahin ga didalem? Kita di
sini kepikiran loh le” tanya Jesi kepadaku.
“Iya le cerita gehhh, penasaran banget kita tuhh, lo
lama banget di sana” ucap Galih yang sedikit mendesak
ku untuk bercerita.
“Gamau ahh, lagian juga ga penting-penting amat
buat diceritain” jawab ku yang memang tidak mau
menceritakan hal itu.
“Ga asik lo! Padahal kita udah nungguin lo dari tadi”
kata Galih yang sedikit kesal kepadaku.
“Yeee lagian siapa suruh nungguin gue!” kataku
kepada mereka berdua.
“Dih ngeselin banget ni bocah” timpalnya.
“Ya udah laa, dari pada ribut mending kita ke kantin
aja yok?” tawar ku kepada Jesi dan Galih.
“Lo ngajak kita?” ucap Jesi dengan mengangkat alis
kirinya untuk memastikan ucapan ku.
“Ya iya lah, yakali ngajak setan belakang lo!” jawab
ku.
“Hehe biasa aja kali, gue heran aja tumben banget
lo ngajak ke kantin duluan”
“Mang ga boleh? Lagian gue laper kalo ga makan
tar gue pingsyann”

xv
“ Yaudah ayo! Cacing pita di dalem perut gue udah
goyang-goyang mau minta makan” ucap Galih yang
sepertinya sudah sangat kelaparan.
“Cacing pita apa keponakan gue lih?” guyonan Jesi
ke Galih.
“Dua-duanya” jawab Galih sewot ke Jesi.
“Yah kasian dong tar anak lo di makan cacing-cacing
kesayangan di perut lo!” ucap ku ke Galih sambil
tertawa.
“HAHAHA...” kami bertiga pun tertawa sambil
meninggalkan ruang kelas.
Setelah memesan makanan dari kantin mereka pun
segera mencari tempat duduk. Entah apa yang mereka
pikirkan, mereka sama sekali tidak berbicara setalah
candaan yang mereka ucapkan tadi, baik dari Alea, Jesi
maupun Galih. Mereka hanya melamun sambil melihat
siswa sekolah yang lalu lalang di kantin.
“Btw gais, kalian lulus dari ini mau lanjut kemana?”
tanya Jesi yang memecah kesunyian diantara kami.


“Hmm.. kemana yak enaknya? Gatau Jes gue juga
masih bingung mau lanjut mana, rencana gue sih kalo
ga seni teater ya ilkom. Intinya gue gamau ketemu
sama matematika deh, bisa botak kepala gue” ucap
galih sembari meminta pendapat kepada kami.

xvi
“Iya lo ga ketemu matematika tapi tetep aja ketemu
perhitungan yang , ga bakalan bisa deh mau jauh-jauh
dari perhitungan” jawabku menegaskan kepada Galih.
“Hmm iya gue tau, lagian gue Cuma bercanda kelez”
kata Galih kepada ku
“Kalo lo mau lanjut kemana Jes?” ucapku mengalih
perhatian ke Jesi.
“Rencana gue sih maunya lanjut teknik ya, doain aja
semoga gue bisa lulus” jawab Jesi yang sudah
mempunyai plan buat kedepannya.
“Aamiin.. doa terbaik deh buat lo Jes” ucap ku ke Jesi
“Aamiin Jes. Pokoknya kita semua harus bisa gapai
semua mimpi kita” kata Galih yang tiba-tiba mempunyai
semangat membara.
“ehm lo mau lanjut mana le? Kita berdua udah kasih
tau rencana kita masing-masing, sekarang giliran lo”
tanya Jesi kepadaku.
“Gatau ya Jes gue masih bingung, gue masih belum
siap buat tamat” ujarku yang masih belum tahu plan
hidupku.
“Yah lea, kita semua juga belum siap buat cepet-
cepet tamat tapi mau gimana lagi, kalo ga dari
sekarang di siapin mau kapan lagi” ucap Jesi
kepadaku.
“Iya sih, kayanya gue Gap year dulu deh, gue mau ke
Europe buat nenangin diri sekalian bantu bokap
ngurusin perusahaan disana” ucapku kepada mereka
berdua.
“Sayang banget le, tar lo ga ada minatan lagi buat
lanjut kuliah” ucap Galih.

xvii
“Ya gapapa dong” jawabku singkat.
“Nanti lo ga bisa dapetin cowo speak CEO le,
emang lo gamau?” tanya Jesi kepadaku.
“Gampang sih Jes, tar gue minta di jodohin aja sama
bokap” jawabku sambil memainkan hp.
“Dih perempuan gilaaa, hantu berkepala nanana...”
ucap Galih sambil menyanyikan lagu Rayuan Perempuan
Gila milik Nadin Amizah.
Percakapan kami pun terhenti sampai disitu, kami
kembali sibuk dengan urusan masing-masing sambil
menunggu pesanan kami.
“permisi kak ini pesanannya tadi 3 ayam geprek
keju moza sama 2 es jeruk 1 es teh?” tanya seorang
pegawai dari kantin sekolah.
“Iya benar, terimakasih” jawab Jesi sambil
membantu menurunkan pesanan kami dari nampan
pegawai itu.
Kami sibuk dengan makanan kami masing-masing,
tidak ada obrolan dan hanya terdengar suara bising dari
keramaian ini. Aku hanya terdiam sembari memikirkan
apa yang akan ku lakukan setelah ini dan saat ini untuk
memecah kesunyian kami.

Waktu istirahat telah usai kepada peserta didik


mohon masuk ke kelas kembali

Bel pun berbunyi yang menandakan bahwa kami harus


kembali ke kelas. Kami pun bergegas meninggalkan
kantin dan pergi menuju kelas kami yang ada dilantai
atas.

xviii
“Eh bentaran we, gue mau touch up dulu biar
cantikk masa iya primadona kelas ga cetar” ucap Jesi
untuk meminta ditunggu.
“Cielah jamet lo” jawab Galih dengan muka masam
“Yee suka-suka gue dong, lo mau? Sini gue pakein
lipstain” ucap Jesi sambil bercanda.
“Dih ogah” jawab Galih sambil melihat sinis.
Aku hanya tertawa melihat tingkah laku kedua
teman ku itu, seperti mengasuh toddler yang selalu
mempunyai cara untuk membuat kerusuhan.
“Cepetan geh lama bener, tar kita di marahin coy”
ucapku sambil berjalan meninggalkan mereka berdua
yang masih saling melontarkan candaan mereka.
“Ih bentaran we” ucap Jesi sambil mengejar ku
diikuti dengan Galih yang berada di belakang. Kami
bertiga berjalan beriringan ke kelas dan aku sebagai
pemandu jalan Kurasa begitu.


Sepulang sekolah aku pun bergegas merapikan
semua barang-barang ku.
“Eh gais gue pulang duluan ya ada urusan
mendadak” ucapku berpamitan kepada Jesi dan Galih.
“Mau kemana lo Alea Clarisstaaa? Kita ikut yaaa”
ucap Galih dengan muka memelas.
“Ga usah, gue ga mau ditemenin” jawabku.
“Terus lo sama siapa le? Lo dijemput pak suryo?”
tanya Jesi kepadaku.
“Ga, gue udah pesen gojek tadi, gue mau cepet”.

xix
“Le kita temenin aja ya? Lo mau kemana tar kita ga
bakal berisik deh janji” tawarnya untuk tetap
menemaniku.
“Ga usah Jessica Anastasya, gue sendirian bisa kok”
ucapku meyakinkan Jesi.
Aku pergi meninggalkan mereka berdua yang
masih berdiri di dalam kelas, aku berjalan dengan cepat
karna tidak mau jejakku akan diikuti oleh dua orang itu.
Sebenarnya aku hanya ingin pergi ke makam Mama,
tetapi aku tidak mau diganggu oleh orang lain dan
membuat suasana menjadi canggung. Yaa selayaknya
anak bungsu yang selalu ingin dimanja, aku berkunjung
ke makam Mama hanya untuk bercerita mengenai
semua keluh kesahku atau mungkin hanya sekedar
meletakkan bunga di makam Mama.
“Neng Alea ya?” tanya seorang pengendara motor
yang mengenakan jaket berwarna hijau itu kepadaku.
“Iya benar om, tujuan TPU Pondok Rangon ya om?”
tanyaku memastikan mamang ojek yang ku pesan.
“Nggeh neng silahkeun naik”.
“Om nanti bisa mampir ke toko bunga bentar ga?
Ada yang mau saya beli” ucapku
“Ohh bisa neng nanti di mampirin”.
Aku pun naik, motor itu melaju dengan pelan dan
sangat hati-hati, aku tidak tau apa yang dipikirkan mang
ojek itu, tetapi rasanya aku saja yang mengendarai
motor ini. Aku terus menggerutu dalam hati, AH DASAR
ALEAA LO BENER-BENER GA BISA SABARR!!!!

xx

Perjalanan terasa semakin lambat belum lagi
ditambah dengan macetnya kota dan teriknya matahari
yang membuat diri ini semakin kesal mungkin, tetapi
aku mencoba untuk tidak merasakan itu semua karna
sebentar lagi aku akan bertemu dengan orang yang ku
cinta. Kami tiba di toko bunga dan aku segera membeli
seikat kembang sedap malam yang ada di toko itu.

GEDEBUK..!!!

Aku tersandung dengan seorang laki-laki yang


berbadan cukup besar dan membuat ku terjatuh di
depan toko itu, bunga yang tadi aku pegang jatuh
berhamburan AHH BENAR-BENAR KEJADIAN YANG
MEMALUKAN. Aku meraung kesakitan dan segera
berdiri dari dudukku, semua mata memandang ku dan
itu membuatku semakin kesal dengan pria itu.
“Eh mas lihat-lihat dong kalo jalan” tegurku.
“Ga salah? Kan yang numbur lo duluan bukan gue,
harusnya lo kalo jalan pake mata!” sahut pria itu
dengan.
“Buta ya lo!” bentakku kepada orang aneh itu.
Keadaan semakin memanas karna orang itu terus saja
menyolot, karna sudah tidak tahan dengan orang aneh
itu aku segera mengambil kembang sedap malam yang

xxi
akan ku bawa ke makam Mama dan meninggalkan
keramaian disana.
Aku segera menaiki motor milik mang ojek tadi dan
meminta untuk membawa motor dengan cepat, muak
sekali rasanya atas kesialan yang aku dapatkan hari ini.
Untungnya aku sudah sampai ke makam Mama,
seketika semua rasa kesal ku menjadi hilang karna
kerinduan terhadap Mama jauh lebih penting dari pada
yang lain.
Aku meletakkan seikat bunga yang aku bawa ke atas
makam Mama dan duduk di sebelah makam yang indah
itu, aku hanya termengu dan masih tidak percaya
bahwa Tuhan telah mengambil dunia ku.

KRIINGG

Dering ponsel membuyarkan lamunanku dan


ternyata chat dari Jesi.

Jesi : send your pict. Come on honey, gue sama si


Gabon lagi ngafe nih, ayo susul kita.
Alea : Gabon saha Jes? Gebetan lo yaa?.
Jesi : Ih kaga coi, itu si Galih babon hahahahaha.
Alea : Dih parah loo wkwkw, berdua doang lo?
Jesi : Ya iyalah mau sama siapa lagi, makanya ayo susul
kita sini!(・∀・).
Alea : Ga ah panas, mending lo berdua aja sekalian pdkt
hahaha(≧▽≦).

xxii
Aku tidak sengaja melihat jam di ponsel ku dan
ternyata aku sudah lama berada di sini, akhirnya aku
berpamitan ke makam Mama dan memutuskan untuk
pulang.
“Ma, Alea pulang dulu ya. Nanti kalo ada waktu Alea
bakal kesini lagi, bye maa” ujarku kepada batu nisan
itu.
Kali ini aku pulang dan memutuskan untuk
menelepon pak Suryo dan enggan memesan ojek lagi.
Mungkin saja yang terjadi tadi memang hanya
kebetulan tetapi ini benar-benar kebetulan yang
menjengkel kan dan memalukan. Setelah sekitar 15
menit aku menunggu jemputan akhirnya pak Suryo pun
datang dengan mobil BMW berwarna hitam yang
memang biasa dipakai, aku menaiki mobil dan memilih
untuk beristirahat karna seharian ini aku merasa
tenagaku dikuras.

xxiii
Chapter 3
-Tak terdugong-
Aku melangkahkan kaki masuk menuju rumah,
terdengar suara bising dari ruang keluarga. Aneh
rasanya karna aku sudah biasa hening saat pulang ke
rumah. Saat aku menghampiri ruangan itu, terlihat dari
kejauhan ada beberapa orang yang memakai jas
berwarna hitam rapi dan mengenakan sepatu hitam
yang sangat menyilaukan mata.
“Eh anak papa udah pulang? Abis dari mana aja
sayang?” tegur Papa yang sepertinya tau aku habis
pergi ke makam Mama, wajar saja tau karna itu sudah
jadi kebiasaanku.

xxiv
“Habis dari keliling aja ga kemana-mana kok pa, ini
kenapa tumben rame pa? Ada acara apa?” tanya ku
yang keheranan melihat suasana rumah yang ramai.
“Oh ini ada meeting kecil, maaf ya sayang keganggu
ya?”
“soalnya papa bingung mau meeting dimana, kan
ini meeting kecil” sambung papa.
“Engga kok pa, malahan Alea yang ganggu meeting
Papa, ya udah Alea masuk kamar dulu ya pa, om”
ucapku kepada Papa dan kliennya. Aku meninggalkan
ruangan itu menuju kamar untuk istirahat, ketika
sampai di kamar aku pun membersihkan diri dan
bermain hp sebentar, walau hanya untuk sekedar scroll
tiktok, yaa meskipun ga jelas tapi bisa menghiburku saat
kesepian.
“Dek.. dek..”
“Hmmm?”
“ALEA BANGUN UDAH PAGII!!!” pekik kak Alexa
yang sudah kesal karna aku masih belum bangun.
“Apasih kak, bangunin lea bisa pelan-pelan aja ga?”
sahutku dengan suara memelas.
“kakak udah bangunin berkali-kali tapi masih aja ga
bangun, emang dasar harus pake nada tinggi baru
bangun! Coba kamu liat jam sekarang udah pukul
berapa” ucap kak Alexa.
“hmm”
“ASTAGA KAKKKK!!!! LEA KESIANGANN KOK GA DI
BANGUNIN DARI TADI SIHH!!” jerit ku, sontak aku pun
langsung bergegas untuk pergi sekolah karna sudah
pukul 06.25 yang artinya aku hampir telat.

xxv
“Lah malah nyalahin orang”
“Tapi kan kak..”
“Kamu udah kakak panggil dari tadi ga bangun-
bangun” sambungnya.
“Ahh terserah, lea mau pergi sekarang” kataku
sambil bersiap untuk memakai kaos kaki.
“Ga mandi?”
“Ga sempet kalo mau mandi, nanti mandi di sekolah
aja” sahutku.
“ew jorokk!!”
“bodo yang penting sekolah” cetusku sambil
meninggalkan kak Alexa sendirian dikamar.


Suasana sekolah pagi itu sangat hening, bahkan
mungkin hanya aku saja yang ada di dalam sekolah,
hanya terdengar suara ketukan pantofel milikku dan
beberapa suara kicauan yang sangat merdu. Aku begitu
menikmati suasana di sekolah pagi ini meskipun heran
karna hampir di setiap ruangan yang aku lewati tidak
ada satu orang pun.
Awalnya aku tidak berpikir aneh-aneh mungkin saja
semua orang hanya kesiangan bangun, tetapi perasaan
yang begitu tenang seketika hilang, terdengar suara
bising dari luar gerbang sekolah yang aku kira itu
segerombolan siswa tetapi yang kulihat hanya beberapa
tukang yang datang untuk memperbaiki wc sekolah.

xxvi
Dengan semua rasa penasaran akhirnya aku
memutuskan untuk membuka kalender di ponsel
milikku, betapa terkejutnya tenyata.
“ASTAGA ALEAAA!!” jeritku ketika melihat hari di
kalender.
“Wajar aja sekolahan sepiiii, sekarang kan hari
minggu, ahh teledor banget si gue”.
Aku tidak berhenti memarahi diriku sendiri, Serious
gue seteledor itu coy. Aku sangat-sangat malu dengan
diriku sendiri, mungkin saja setan di sekolah ini sedang
menertawakan aku.
Karna sudah terlanjur berada di sekolah, aku memilih
satu ruangan untuk beristirahat dan menenangkan
diriku sebentar sebelum memutuskan pulang.
Aku membuka ponsel untuk mengabari kedua
temanku di grup chat kami.
Alea : gais asli malu banget gue sumpahh!!!
Jesi : malu kenaway le? Lo bikin ulah apaan?
Galih : bukannya lo suka malu-maluin yaa?(≧▽≦)
Jesi : wkwkw lih ga boleh gituuu!!ヾ(*‘O’*)/
Alea : ish bukan gitu jes lih, asli sekarang gue malu
banget coy
Jesi : ya lo malu ngapain leee?
Alea : lo tau sekarangg
Galih : paann???
Alea : gue SEKOLAH COYY MALU BANGETTT, gue ga
liat hari di kalender malu banget!!.·´¯`(>▂<)´¯`·...
Galih : HAHAHA LEA gila ya loo, asli gue ngakak
bangety(≧▽≦)
Alea : please gue malu banget, mau pulangg

xxvii
Jesi : hahahaha ngakak banget le, lo kaya anak kecil.
Yaudah lo pulang ajaaa
Alea : takutt, di luar banyak tukang tar gue ditanyain
Galih : ya lo bilang aja kalo salah hari wkwkw
Alea : malu ih galihhh.

Aku kemudian menutup ponsel dan memikirkan


strategi bagaimana untuk menghindar dari tukang-
tukang yang ada didepan.
Setelah sekian lama berdiam diri di ruang kelas, aku
akhirnya memutuskan untuk menelepon pak Suryo dan
menyelinap keluar dengan memanjat pagar belakang
sekolah, karna jika sampai ada orang yang melihat
kejadian ini aku pasti sangat malu.
Aku pun pulang dengan perasaan kesal sekaligus
malu dengan pak diri sendiri.
“Ahh malu banget dahhh, ngapain si gue sekolah hari
ini, lagian ini salah kak eca ga kasi tau kalo hari ini hari
minggu. Tunggu aja nanti kalo udah sampe rumah”
gerutuku di dalam mobil. Pak suryo yang mungkin
mendengar suaraku tidak berani menegur dan hanya
melihat dari spion kecil yang ada di dalam mobil. Aku
yang sadar seketika tambah malu dan menutup seluruh
muka ku dengan tas yang sudah aku pangku dari tadi.


“Kakk kakakkkk!!” teriakku mencari kak Alexa.

xxviii
“Apasih, ga usah teriak-teriak bisa kan?” ucapnya
sambil berjalan ke arahku.
“Apa? Ngapain pulang lagi?” timpalnya.
“Kakak iih, sekarang tuh hari minggu kak! Alea malu
banget tadi sekolah sendirian” ucapku sambil
merengek.
“HAHAHAHA jadi kamu sendirian di sekolah? Lagian
ngapain ga liat kalender hp sih padahal kan tadi kamu
pegang hp dulu” ujar kak Alexa sambil menertawakan
aku.
“Ga lah, kakak yang salah, bangunin Lea sambil
teriak-teriak jadi kan Alea belum sadar sepenuhnya”
tuduh ku kepada kak Alexa.
“Lah main salah-salahin orang aja”.
“Bodo amat lah pokoknya kakak yang salah!”
protesku sambil sedikit mengeluarkan air mata.
“Cengeng banget sih, ya udah nanti kakak traktir
McD” ujarnya sambil membujukku.
“Ga mau”
“Lah, tumben?”
“McD pro Israel” cetusku.
“Ya udah maunya apa?”
“Duit 10jt”
“Gila lo!” bentak kak Alexa.
Kak Alexa meninggalkan aku yang masih berada di
ruang tamu. Langkahnya tertuju ke bilik kamar miliknya
tanpa menghiraukan aku yang menginginkan uang
darinya.
Aku pun masuk ke dalam kamar yang ada di lantai
atas. Langkah ini terhenti tepat didepan pintu dan

xxix
seperti terkena mantra penghilang mood, aku merasa
sangat sedih dan lelah. Aku berjalan ke arah sofa yang
ada di ujung kaki kasur memerhatikan sekeliling kamar
dan merasakan hawa yang kurang nyaman.

CHAPTER 4
-GANGGUAN-
Ruangan yang biasa aku tempati ini seperti terasa
asing, tetapi aku tidak begitu menghiraukannya,
mungkin saja aku yang terlalu kelelahan jadi
menganggap aneh kamar ku.

Tiktiktiktiktik

Suara bising itu mengganggu tidur lelapku, aku


mencoba menoleh melihat sekelilingku. Betapa
terkejutnya aku ketika melihat ada kak Alexa dikamar
ku.

xxx
“Udah bangun dek?” sapa kak Alexa yang melihatku
sedang celingukan.
“hmphh” jawabku sambil menggeliat kan badan.
“ngapain dikamar Lea?” sambungku.
“Ga ngapa-ngapain tadi kakak waktu mau ke balkon,
lewat depan kamar kamu terus kakak liat kamu tidur.
Jadi karna kasian kakak temenin aja deh” imbuhnya
padaku.
“Ohh”
“kakak keluar ya”
“cepet banget”
“Ada kerjaan bentar”
Aku mengambil ponselku yang tergeletak disebelah
tempatku tidur, hp dengan wallpaper dengan poto
mama dan aku terlihat sangat manis. Jam 17.45
gumamku sambil melihat layar ponsel itu.
“Yakin kak mau keluar? Sekarang udah sore”
tanyaku ke kak eca yang masih membereskan barang-
barangnya yang ada di meja belajar punyaku.
“Kan bentaran aja dek”
“Ohh oke, pulangnya jangan ke maleman ya”
sahutku.
“He’em”
Ia segera meninggalkan kamarku tanpa
meninggalkan apapun. Karna hari semakin sore, segera
aku beranjak dari dudukku untuk mandi.
Air yang keluar dari shower seperti rintik hujan
mengguyur tubuh benar-benar menyegarkan badan ini.
Aku terhanyut dalam kenikmatan air yang mengalir,

xxxi
tetapi ketika aku sedang keramas terdengar suara
seperti barang yang terjatuh yang ada di kamar.
Kamarku memang di design khusus dengan kamar
mandi di dalam ruangan dan balkon sehingga ruangan
ini menjadi pilihan untuk kami berkumpul.
Aku segera membersihkan diri dan keluar dari
kamar mandi untuk memastikan keadaan di luar.
“Loh ga ada apa-apa? Tapi kok tadi kedengaran
kuat banget ya?” dengan perasaan heran aku bertanya
dengan diri sendiri.
“Ah mungkin dari arah balkon?” aku segera berjalan
ke arah balkon kamarku. Saat aku berjalan menuju
balkon, tiba-tiba terdengar suara air mengalir dari arah
kamar mandi.
Aku dengan perasaan kesal mengira bahwa ini
semua karna ulah Bang Geo.
“Bang ga usah jahil deh Lea mau mandi!” teriakku
dari dalam kamar. Tetapi tidak ada respon dari luar, hal
itu benar-benar merusak mood ku.
“Bangggg! Lain kali jangan gangguin orang lah
anjir, males bener” bentakku yang melihat bang Geo
sedang duduk di sofa ruang keluarga.
“Apasi ga jelas, orang gue dari tadi di sini”
cetusnya.
“Terus tadi siapa yang gangguin Lea waktu mandi,
yang buat suara barang jatuh di kamar sama ngidupin
air shower?!”
“Ya mana gue tau lah” jawabnya singkat.
Aku sangat kesal dengan jawaban manusia satu itu,
rasanya ingin ku rauk mukanya dengan kuku-kuku

xxxii
panjang ini. Aku menatap sinis ke arahnya dengan
perasaan yang masih percaya kalau dia yang
mengganggu ketenanganku.
“Apa lo liat-liat? Gue beneran ga ganggu lo ya”
“Oh”
“Dih bngst” cetusnya.
Kakiku berjalan dengan mengentakkan ke lantai
dengan kuat, berjalan menuju kamar Papa untuk
menceritakan kejadian yang aku alami.
“Le! Mau ngadu sama papa lo?” pekik bang Geo, aku
mencoba untuk tidak menghiraukan panggilan dari
orang itu.
“Dih ngaduan banget lo” sambungnya.
Aku yang mendengar perkataan itu seketika merasa
malu dan membelokkan langkahku secara pelan menuju
dapur, seolah tujuanku memang tertuju ke arah dapur.
Aku menghidupkan semua lampu penerang yang ada
di dapur karna aku takut gelap jadi semua aku hidupkan.
Saat aku menyiapkan piring untuk mengambil lauk, tiba-
tiba lampu di dapur mati semuanya. Aku yang terkejut
sontak langsung teriak memanggil orang rumah.
“PAPAAAA!!! KAKAKK!! ABANGG!! Lea takuttt” aku
merengek ketakutan dan semua badan ku ngefreeze.
“HIHIHIHI” suara tertawa yang nyaring itu membuat
bulu kudukku terangkat.
“PAPAAA TOLONGIN LEAAA!!”
“HAHAHAHAHA LEBAY LO” terdengar suara bang Geo
yang berasal dari arah pintu dapur, siapa sangka yang
menjahili ku kali ini adalah abangku sendiri.

xxxiii
Aku yang mengetahui itu menangis sejadi-jadinya,
tangisanku yang begitu kencang sehingga menggema
keseluruh penjuru rumah dan papa segera menghampiri
bak pahlawan kesiangan.
“Ada apa sayang? Kamu kenapaa?” dengan langkah
yang terburu dan suara getarnya bertanya padaku.
“Bang Geo paa, abang jahilin Lea dari tadi, waktu di
kamar abang nakutin lea terus ini Lea mau makan di
jailin lagii” ucapku sambil merengek menangis.
“GEOO!!” ucap papa dengan nada tegas ke bang
Geo
“Apasih pa, orang Geo baru kok gangguin Lea”
“Lo ga usah sok-sokan bilang yang ga gue lakuin ya!”
ucapnya dengan sorot mata tajam melihat ke arah ku,
seolah ada api yang terlihat dari balik matanya.
“GEO UDAHH!!” bentak papa.
“Ini nih kebiasaan anak selalu di manja!” cetus bang
Geo yang masih melihat ke arahku.
“Udah Geo. Papa lagi ngomong sama kamu! Keluar
kamu dari sini!”
“Oke fine. Keluar dari rumah aja Geo sanggup kok!”
“Jangan berani macam-macam kamu!”
Suasana terasa jadi sangat hening, papa menjadi
sangat bingung melihat tingkah laku bang Geo sekarang
yang susah di atur. Sementara aku? Semenjak kejadian
kami bertengkar waktu lalu, ini merupakan obrolan
pertama kami dan sekarang kamu bertengkar lagi.

xxxiv

CHAPTER 5
-HADIRNYA-
Aku dengan perasaan canggung langsung berpamitan
dengan papa untuk kembali ke kamar, nafsu makan ku
seketika hilang. Aku masuk ke dalam kamar dan
perasaanku semakin sedih, aku menangis sambil
sesenggukan air mata turun bak air terjun. Rasa kesal
sedih dan kecewa terhadap diri sendiri karna begitu
lemah dan cengeng, aku menangisi semua itu.

xxxv
“Sudah nduk, jangan menangis” suara itu terdengar
sangat lirih, aku merasa bahwa ada sesosok yang
mengelus lembut kepalaku.
Bukannya diam, aku malah semakin menangis.
Rentetan kejadian yang aku alami sore ini dan suara dari
sosok yang tidak aku ketahui semakin membuat syahdu,
mungkin saja diriku saat ini terlihat sangat
memprihatikan.
Pelan tapi pasti sesosok itu terasa seperti
memelukku, hangat dan nyaman aku terbuai dalam
kesedihan dan tangisan. Tetapi aku tidak tau siapa sosok
itu, di penglihatanku dia hanya bayangan hitam, namun
ia seperti sangat mengenalku dan menyayangiku.


“Cokk!! Gue kesiangan anjyir” aku terkejut saat
melihat hp ku yang menunjukkan pukul 06.15 aku
terbirit-birit menyiapkan untuk ke sekolah.
“Duhh mana hari ini gue piket, shibal” gerutuku
sambil memakai sepatu dan beranjak memasuki mobil.
Kakiku melangkah berjalan keluar dari mobil, aku
berjalan cepat menuju kelas, saat sampai di dekat kelas
tepatnya bagian ujung dekat jendela, aku melihat
ternyata sudah ada guru yang masuk dalam kelas. Aku
mengangkat tangan kiri ku dan melihat jam yang ada di
tangan, terlihat bahwa sekarang sudah pukul 07.20
“Ahh shibal gue udah telat banget ini” aku terkejut
dan memang tidak sadar kalau sudah sesiang ini, karna

xxxvi
saat aku melewati pintu gerbang tidak ada satpam
maupun guru.
“Apa gue bolos aja ya? Gapapa lah ya sesekali. Toh
cuma mapel pertama aja” gumam ku sendiri, aku
melangkah mundur secara perlahan agar tidak ketauan
siapapun. Beruntungnya kelasku berada di ujung dekat
tangga, jadi aku hanya perlu melangkah mundur.
“Masuk ruang olahraga apa pmr ya?” langkahku
ragu saat berada di antara dua ruangan itu.
“Apa ruangan pmr aja ya? Ih tapi katanya serem.
Apa ruangan olahraga aja ya? Tapi gue ga bisa tiduran
dong? Ah ya udah deh ruang pramuka aja” kemudian
langkahku berpaling ke arah ruang pramuka yang
kebetulan memiliki kasur di dalamnya, jadi aku bisa
bersantai sejenak.
Aku berjalan ke arah ruangan itu dan memeriksa tas
untuk mengambil kunci ruangan, untungnya aku
perangkat inti dari ekskul pramuka jadi aku mempunyai
kunci cadangan.
“Misi..” suara denyit pintu terdengar nyaring saat
aku membuka dan menutup pintu. Aku menuju kasur
yang ada di pojok dekat dinding dan meja yang langsung
menghadap pintu, ruangan itu cukup kecil yang apabila
dimasuki orang ruangan itu hanya cukup untuk 10-15
orang.
Aku mengeluarkan hp dari saku rok dan mulai
bermain hp dengan menggunakan wifi sekolah, aku asik
membuka apk Instagram. Saat aku sedang fokus dengan
hp seketika rasa keberanian ku menciut ketika seperti

xxxvii
ada bayangan hitam yang lewat dengan cepat di
hadapanku.
“Eh apa ya? Ah paling cuma halu gue” ucapku
keheranan.
Ketika aku sedang mencerna apa yang terjadi
barusan, aku dibuat kebingungan lagi karna terdengar
suara barang jatuh dari belakang meja yang ada di
hadapanku. Aku mencoba untuk memastikan apa yang
terjatuh di belakang meja.
Aku benar-benar dikejutkan saat aku melihat ke
arah belakang meja.
“Hihihi... nyariin aku ya?” muncul kepala wanita
berambut panjang dengan muka yang hancur dan
berlumuran darah. Kepala itu muncul dari bawah meja
dan tepat menghadap muka ku.
“Ayo sini main temenin akuu.. Hihihi... Huhuhu..
Hahaha..” ucapnya lagi dengan nada suara yang
berubah, semula seperti anak kecil yang tertawa,
menangis lalu kembali tertawa tetapi dengan suara yang
melengking.
Aku terdiam mukaku menjadi pucat pasi dan
kepala itu masih ada di hadapanku dengan tatapan
tajam seperti penuh kebencian.
Pelan namun pasti, air mata ku turun mulutku
seperti terkunci bahkan untung meraung saja tidak bisa.
Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk
membebaskan diri.


xxxviii
“Le.. le.. bangun le” suara itu terdengar pelan dan
seperti ada yang memegang pipiku. Aku membuka mata
dan melihat ternyata kedua sahabatku berada di
sampingku.
“Kalian ngapain disini?” tanyaku kepada mereka
berdua, aku bangun dari tidurku dan memosisikan diri
sejajar dengan mereka.
“Lo yang kenapa le” ucap Galih.
“Hah?”
“Udah-udah nanti kita bicarain lagi kalo Lea udah
mendingan” ucap Jesi ke Galih yang membuatku
semakin kebingungan.
Galih tak menjawab yang berarti mengiyakan
ucapan Jesi, ia beranjak dari duduknya untuk
mengambilkan segelas air putih yang kemudian
disuguhkannya kepadaku.
“Nih lo minum dulu”
Aku mengambil air tersebut dan segera
meminumnya, entah kenapa aku merasa sangat haus
dan nafasku tidak beraturan. Mungkin saja ini efek
bertemu hantu di kolong meja tadi, pikirku.
Kami bertiga hanya terdiam saat itu, aku rasanya
ingin sekali bertanya tetapi melihat ekspresi mereka
berdua aku akhirnya memilih untuk diam.
“Jadi gini Le” ucap Galih yang memulai obrolan.
“Tadi waktu jam pelajaran pertama udah di mulai,
gue sama Jesi ga tenang mikirin lo. Karna kita berdua
tau kalo lo ga mungkin mau bolos sekolah apalagi lo
dianter sopir bapak lo. Waktu berlalu sekitar dua jam
dan lo masih belum dateng, kita pikir lo bakal masuk di

xxxix
pergantian jam berikutnya tapi ternyata ga. Ya udah
dong gue sama Jesi mikirnya lo bener-bener bolos kan,
terus tadi gue kebelet pipis jadi gue izin keluar”.
“Hmm terus apa lihh?” tanyaku penasaran.
“Bentar mau minum” jawabnya, kemudian ia
mengambil air yang berada di genggamanku dan
meminumnya.
“Nahh kalo mau ke wc otomatis ngelewatin
beberapa ruangan kosong yang jadi tempat barang-
barang ekstrakurikuler kan. Waktu gue jalan, gue ga
sengaja ngeliat dari sudut mata gue kalo pintu ruangan
pramuka kebuka, jelas gue heran dong sedangkan hari
ini ga ada kegiatan ekstra. Gue nyoba buat ngeberaniin
diri ngeliat ke dalam ruangan, SERIUS SUMPAH LE gue
bener-bener kaget karna yang gue liat itu lo. Gue
samperin kan tapi lo cuma ngelamun terus waktu gue
ajak ngobrol lu ga respon terus tiba-tiba lo malah
ketawa sendiri Le gue tepuk pundak lo buat nyadarin
lo”.

PRANGG!!

Gelas yang dipakai untuk minum tadi pecah karna


tidak sengaja tertendang Jesi.
“Ahh shitt Jes” mataku menatap kesal ke arah Jesi.
“Sorry gais gue bersihin bentar, kalian lanjut aja”
ucapnya.
Aku berpaling melihat ke arah Galih mengisyaratkan
untuk melanjutkan ceritanya. waktu pun berlalu,
kejadian itu tidak pernah kami ceritakan ke siapapun

xl
dan kami putuskan untuk tetap menjadi rahasia kami
bertiga. Semenjak kejadian satu bulan itu berlalu aku
menjadi lebih sering melamun dan semakin peka
dengan hal yang tidak kasat mata.
Aku berjalan menuju kamar kak Alexa, aku tidak
memiliki tujuan pasti untuk bertemu dengannya hanya
saja kami memang sudah lama tidak bertemu.
“Kak.. lagi ngapain?” suara pintu berdenyit ketika
aku mencoba membuka pintu dan mengintip kak Alexa
yang ada di kamarnya.
“Oh Lea, kakak lagi ada kerjaan dikit. Kenapa?” ia
melihat ke arah ku sebentar kemudian memalingkan
pandangannya ke arah laptop yang ada di depannya.
“Lea boleh masuk ga kak?”
“Yaudah masuk aja pake izin segala”
Aku berjalan masuk dan duduk di atas kasur sambil
memperhatikan kak Alexa yang sibuk dengan
kerjannya.
“Kakak lagi ada masalah di kantor ya?”
“Hah ga kok, ngapain kamu bilang gitu?”
“Gapapa muka kakak asem banget jadi Lea kira kakak
ada masalah” elakku yang sebenarnya tau bahwa dia
sedang mempunyai masalah. Sedikit keuntungan bagiku
semenjak menjadi lebih peka, aku bisa menerka apa
yang sedang orang lain rasakan atau alami.
“Ah kaya dukun aja kamu” jawabnya sebagai
candaan.
“Hmphh Lea balik kamar lagi aja deh, kakak lagi
sibuk” ucapku sambil cemberut.

xli
“Hehe maaf ya lain kali kita keluar cari makan oke”
jawabnya sambil membujukku.
“Oh iya kak Lea mau ngasih tau kalo akhir bulan ini
bakal ada kemah”
“Kemah dimana?”
“Di lingkungan sekolah aja, tapi cuma anak kelas 12
yang kemah”
“Loh kenapa?” tanya kak Alexa kepadaku.
“Mbuh” lalu aku meninggalkan kamar kak Alexa dan
masuk ke kamarku.
“Bu, ibu dimana? Ini Lea” ucapku memanggil wanita
yang pernah memelukku waktu itu.
“Ibu disini sayang, kamu mau ibu sisir?” suara yang
lirih namun lembut terdengar sangat nyaman.
“Boleh, Lea duduk di meja rias aja ya”
“Iya sayang”
Aku sudah lupa kapan pertama kali sosok yang ku
panggil Ibu menunjukkan wujudnya denganku, wanita
ini tampak paruh baya dengan mengenakan pakaian
noni belanda namun masih terlihat sangat cantik. Ia
merupakan wanita blasteran Jawa-Belanda dan tutur
bahasanya sangat lembut kepadaku.
“Bu, mengapa kita tidak bisa bertemu selain di
kamar ku dan ruangan tertutup lainnya?” ucapku sambil
melihat pantulan wajarnya melalu cermin.
“Bukannya Ibu tidak mau sayang, tetapi jika bukan di
tempat tertutup maka kau akan di anggap aneh oleh
orang sekitar mu, sementara hanya kamu yang bisa
melihat ibu” ucapnya sambil membelai lembut
rambutku.

xlii
“Tetapi bu, aku tidak apa-apa jika di anggap gila
oleh orang lain aku tidak masalah selagi bisa bersama
ibu” ucapku yang meyakinkannya.
“kau tidak usah egois sayang ibu akan tetap
bersamamu dan menyayangi mu meski kita hanya bisa
bertemu di kamar”
“Ahh sudahlah” kataku sambil mendesah pasrah
karna kalah debat dengan ibu.
“Sekarang waktunya kamu belajar sayang, kamu
sudah kelas 12 jadi harus banyak-banyak belajar”
Meskipun ia hanya bisa dilihat olehku atau makhluk
tak kasat mata, tetapi aku benar-benar menyayanginya.
Ia mungkin tidak bisa menggantikan posisi Mama
dihatiku, namun setidaknya ibu bisa mengobati rasa
sedihku yang di tinggal mama.
“Iya bu, sebentar lagi sekarang Lea mau mandi
dulu”
“Mau ibu bantu siapkan air hangat?” tawar ibu
kepadaku.
“Tidak perlu bu, biar Lea saja”
Ibu benar-benar perhatian denganku, bahkan
sekalipun hal kecil. Ibu memiliki tempat yang spesial di
hatiku.
Aku kembali menjadi pribadiku yang seperti dulu,
periang nan hangat. Namun aku masih suka menyendiri
dengan alasan belajar padahal untuk bertemu ibu.


xliii
“Lea ke kantin yok?” Galih dan Jesi mengajakku pada
waktu jam istirahat.
“Ga mau ah gue mau ke perpus” tolakku.
“Ngapain?” tanya Galih.
“Belajar lah pe’a” kataku.
“Sok pinter banget luu” ucap Jesi yang sedikit
meledek kepadaku.
“Emang gue pinter, ga kaya kalian berdua bodoh” aku
menjawab dengan ketus.
“Oh ya udah” mereka meninggalkan ku dengan rasa
kecewa, aku mengetahui itu dari tatapannya yang lesu.
Aku pergi berjalan menuju perpustakaan sekolah,
aku melihat ke kanan kiri untuk mencari tempat duduk.
Kemudian aku memilih tempat yang berada disudut dan
tidak ada orang disana, kesempatan yang bagus bagiku
untuk bertemu ibu.
“Kamu rajin sekali nak, memang begitu seharusnya.
Kau tidak perlu menghiraukan temanmu yang tidak
mau belajar sepertimu” suara lembut khas Ibu
terdengar keluar dari balik rak buku.
“Tapi bu, apa perkataan ku tadi tidak kelewatan
kepada mereka?” aku bertanya kepada ibu karna
perkataanku tadi yang cukup kasar.
“Tidak apa sayang, memang sudah sepantasnya
kamu berbicara seperti itu, mereka kan memang
bodoh” ucap ibu yang kemudian memegang pundakku
dari belakang.
“Sungguh tidak apa bu?” aku bertanya lagi sambil
memalingkan badanku menghadap ibu.

xliv
“Iya sayang, cepat kamu belajar lagi biar jadi anak
yang pintar dan membanggakan ibu” kemudian ibu
membalikkan kembali posisiku menghadap meja
belajar.
“Baiklah bu”.
Memang semenjak hadirnya ibu, aku menjadi rajin
belajar dan sering mengurung diri. Namun aku
menyadari bahwa sikapku menjadi berubah, aku
menjadi toxic dan menganggap remeh orang lain.
Sejujurnya aku merasa aneh dengan ibu yang malah
menyuruhku untuk bersikap kasar kepada sekitar, tetapi
karna rasa sayang yang ia curahkan mampu meluluhkan
rasa curiga ku.
Sudah sekitar 30 menit aku berada di dalam perpus
aku memutuskan untuk kembali ke kelas dan
melanjutkan pelajaran.
“Le, lo kenapa? Lo sekarang kok kaya gini sekarang?”
Galih menghampiri bangku tempat dudukku.
“Hmm?” aku menatap ke arah Galih dengan satu alis
di naikkan yang menandakan keheranan.
“Iya lo sekarang jadi toxic banget Le, lo ada apa kalo
ada masalah bilang aja sama kita” ucap Jesi.
“Mana ada, dasar lo berdua aja yang mikir gue aneh”
jawabku.
“Ya udah deh, btw pulang nanti main yok?” tawar
Galih kepadaku.
“Eumm ga bisa deh kayanya, gue mau ke makam
nyokap” ucapku sambil memanyunkan bibir.
“Hmm oke deh, Jes lo mau ikut gue?” Galih beralih
bertanya ke Jesi dengan mata penuh harapan.

xlv
“Duh lih sebenernya si gue pengen banget, tapi ga
bisaa gue mau les”.
“Ahh yaudah deh gue pulang aja”
“Hahahaha” aku tertawa melihat wajah Galih yang
penuh kecewa karna aku dan Jesi menolak tawarannya.

CHAPTER 6
-TERBUKANYA RAHASIA-
Jari jemariku sibuk bak lawn mower, sudah lama aku
tidak menghampiri mama sehingga rumput-rumput di
atas makam ini tumbuh dengan subur.
“Ma maaf ya Lea baru sempet main sama mama, Lea
lagi sibuk belajar ma. Mama tau ga kalo Lea..” aku
menceritakan semua yang aku alami ke mama bahkan
pertemuanku dengan ibu.
Aku sangat antusias bercerita dan tidak terasa air
mataku menetes lagi.
“Ma Lea cengeng banget ya” ucapku sambil
membersihkan air mata dengan tisu.
“Lea pulang dulu ya ma, udah kelamaan takutnya
dicari papa. Bye mama”
Aku berjalan meninggalkan makam mama dan
menuju mobil papa yang sudah aku hubungi tadi.

Tuk.. tuk.. tuk..

Suara ketukan pantofel ini terdengar bak suara kaki


kuda yang berjalan mencari makan. Sama halnya

xlvi
dengan keadaan ku sekarang, tetapi aku hanya
membutuhkan piring untuk mewadahi makananku.
Aku berjalan menuju kamar sambil membawa
sepiring makanan punyaku dan seikat bunga sedap
malam untuk ku letakkan di meja rias kamarku. Saat
membuka pintu, kehadiran ku sudah di sambut oleh ibu
yang berdiri di hadapanku.
“Halo bu, Alea baru pulang” ucapku sambil
menyeringai.
Wanita itu tidak menjawab perkataanku, ia hanya
melihat ke arahku dengan tatapan intimidasi.
“Kamu dari mana? Dari makam mama kamu?”
suaranya terdengar cukup berat namun seperti
menahan tangis.
“Iya tadi Lea mampir ke makam mama sebentar” aku
menjawab dengan singkat sambil menundukkan
pandangan.
“Kenapa Lea? Apakah kasih sayang dari ku masih
kurang untukmu? Apakah aku masih belum bisa
menggantikan posisi dia? Aku selalu ada di sisimu
bahkan sekalipun wujudku seperti ini, aku selalu
bersamamu. Sedangkan dia, dia tidak akan pernah bisa
bersamamu lagi” tergambar jelas bahwa raut wajahnya
yang sedang marah ke padaku. Aku tidak tau mengapa
ia tiba-tiba marah, biasanya saat aku pergi mengunjungi
makam mama ia tidak pernah menjadikan hal itu
masalah.
“Aku tau itu bu, tujuanku ke sana hanya ingin
membersih kan makam dan memberi bunga” ucapku
memberi penjelasan kepada wanita itu.

xlvii
“Bunga? Kau bilang bunga? Pernahkah kau
menyadari semenjak kehadiranku kau sama sekali
belum pernah memberikan ku bunga, jangankan bunga
memelukku saja kau tidak pernah” ia berucap dengan
nada yang kasar dan secara perlahan wujudnya
berubah.
Bukan, bukan menjadi cantik tetapi sekali ini ia
menunjukkan wujud aslinya, pakaian lusuh dengan
penuh noda darah serta muka yang penuh luka dan
leher bekas sayatan.
“Aghhh kau siapaaa!!” mataku terbelalak saat
melihat wujud asli wanita itu yang begitu
menyeramkan, sambil menutup mulut dengan kedua
tanganku aku menahan tangis.
“Hii.. hii.. hii.. Inilah akibatnya jika kau tidak patuh
denganku sayang. Kenapa? Apa kau takut? Bukankah
kau menyayangi ibumu ini?” ia tertawa melengking
yang membuat bulu kudukku terangkat. Ia perlahan
mendekat dengan sedikit melayang dan memutari
badanku sembari memegang bahu dan berbisik ke
arahku.
“Pergi kau! Aku tidak mengenali kau! Dasar kau
setan, aku tidak pernah berteman dengan setan seperti
kau!” teriakku sambil berjalan mundur harap-harap bisa
berlari dari makhluk menyeramkan ini.
“Teman? Tidak kenal? Bukankah kau menyayangiku
nak?” matanya menatap tajam seolah penuh
kebencian.
Aku mencoba membalikkan badan untuk meraih
pintu keluar dan melarikan diri. Sungguh sayang karna

xlviii
aku kalah cepat, pintu itu langsung ditutupnya dengan
kekuatan tak kasat milik setan itu. Ia tertawa, tawanya
benar-benar melengking tetapi satu rumah tidak ada
yang mendengar kebisingan dari kamar ini.
aku terbangun dan melihat sekelilingku, siapa sangka
aku malah pingsan, Sejujurnya itu memang harapanku.
“Aghh” aku mengerang kesakitan badanku masih
tergeletak dilantai tempatku berdiri tadi.
Pandanganku memutar mencari keberadaan sosok
tersebut namun aku tidak melihat siapapun. Dengan
segala sisa kekuatanku, aku berjalan keluar berencana
untuk menceritakan kejadian ini ke papa dan kedua
kakakku harap-harap mendapat solusi.
“Papaa!!! Kakakk!! Abangg!!” aku berlari dari lantai
atas sambil berteriak memanggil orang rumah.
Teriakkan ku menggemparkan seisi rumah, mereka
semua pergi menghampiriku.
“Ada apa sayangg? Kamu kenapa nak” papa
bergegas menghampiri ku dengan raut wajah khawatir.
Belum sempat aku menjawab, air mataku sudah
bercucuran aku tidak sanggup lagi menahan rasa takut
dan tangis.
Kedua kakakku juga ikut khawatir karna ini pertama
kalinya aku menangis tanpa di ganggu oleh siapapun.
Mungkin saja mereka mengira aku habis diputuskan
pacar.
“Lea tadi waktu di kamar....” aku menceritakan
semua kejadianku saat itu juga di depan mereka, aku
menangis sambil bercerita. Aku sangat ketakutan dan

xlix
membutuhkan solusi ini, aku tidak ingin lagi melihat
makhluk menyeramkan itu.
Saat aku menceritakan semua kejadian yang aku
alami selama ini, terlihat jelas melalui sorot mata papa
bahwa ia merasa sangat kecewa dan sedih. Aku tau
papa mungkin kecewa karna selama ini aku memilih
untuk tutup mulut dan merasa nyaman dengan
kehadiran hantu yang sekarang malah ingin
menghabisiku.
Mereka semua memperhatikan dan menatapku
dengan pandangan khawatir. Sejenak papa terdiam
kemudian ia memeriksa kantong sakunya dan
mengeluarkan hp.
Papa berjalan sedikit menjauhi kami bertiga, gerak-
geriknya yang seperti sedang menelpon seseorang. Aku
masih menangis dengan posisi dalam pelukan kak Alexa
dan bang Geo dengan gestur seperti melindungiku.
“Tunggu ya sayang, papa sudah memanggil orang
pintar untuk memberikan rumah ini” ucap papa
menenangkanku.


Tidak lama kami menunggu, orang yang di panggil
papa pun datang. Proses pembersihan ini terjadi sangat
lama karna sosok ibu ini enggan pergi dari tempat
tinggalku.
“Bagaimana pak? Apakah makhluk yang
mengganggu anak saya bisa di usir?” tanya papa
kepada orang pintar itu.

l
“Sejujurnya saya tidak yakin pak, karna orang ini
merasa bahwa dia adalah ibu dari anak bapak. Dia
tidak rela pergi begitu saja” jelas bapak itu.
“Lalu apakah ada solusi lain pak?” aku bertanya
dengan sorot mata penuh harap.
“Hmm bagaimana jika saya tutup saja mata batin
kamu? Setidaknya walaupun makhluk itu kembali lagi,
kamu tidak akan bisa melihat dia” tawar bapak itu karna
merasa ragu dengan pengusiran ibu yang mungkin saja
tidak berhasil.
“Tidak apa-apa pak tutup saja, aku juga sudah tidak
tahan dengan semua ini” jawabku dengan yakin.
“Baiklah kalau begitu kita coba dulu ya” ucapnya.
Ritual penutupan mata batinku ini terjadi cukup
menegang kan, siapa sangka bahwa aku kerasukan
sosok ibu sehingga proses ini terjadi cukup lama.
“Siapa kau? Mengapa kau mengganggu anak ini”
tanya bapak itu kepada makhluk yang merasuki ku.
“Aku adalah ibunya, dia anakku kau tidak berhak
menghalangi ku dengan putriku” ucapnya dengan lirih.
Aku menyadari bahwa diriku sedang dirasuki, tapi
entah kenapa rasanya aku tidak punya tenaga untuk
mengontrol diri ini.
“Tidak, kau adalah setan. Kau jangan naif, pergilah
dari tubuh anak ini dan jangan ganggu dia lagi” ucap
orang pintar itu.
“Dia anakku, aku sangat menyayanginya begitupun
Lea dia juga sangat menyayangiku” suaranya bergetar.
“Jika kau menyayanginya maka pergilah,
kehadiranmu hanya mengganggu dia”

li
“Tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan pergi!”
“Jika tidak mau, bersiap lah kau akan ku paksa” ucap
bapak itu dengan tegas dan mulai membacakan doa-
doa.
Sosok ibu ini sangat kekeh tidak mau keluar karna
alasan kasian denganku. Aku yang sering melamun dan
menangis ini lah sehingga mengundang kehadirannya.
Setelah 1 jam berlalu, makhluk itu berhasil di
keluarkan dari tubuhku dan mata batinku sudah
tertutup.
“Hmphhh” aku menggeliatkan badanku yang ternyata
sudah terbaring di atas kasur.
“Udah bangun dek?” tanya kak Alexa.
“Ehh kak” aku yang melihat keberadaan kedua
kakakku segera memosisikan badan untuk duduk.
“Udah Le ga usah paksain, lo tiduran aja dulu” ucap
bang Geo yang melihatku masih lesu.
“Iya dek ga usah paksain, kamu tiduran aja dulu”
ucap kak Alexa yang membenahi bang Geo
Aku tidak menjawab dan mematuhi ucapan kedua
saudara ku itu, kak Alexa duduk tepat di samping ku
seolah ia tidak mau jauh dariku dan bang Geo duduk di
korsi meja rias sambil memandangiku cemas.
“Gimana sayang kamu masih lihat makhluk itu?”
tanya ayah yang baru masuk ke kamarku dengan
membawa kantung yang berisi makanan.
Mataku reflek melihat kanan dan kiri mencari sosok
itu.
“Ee kayanya udah ga lagi pa, tapi ga tau kalo nanti
semoga aja ga liat lagi” ucapku kepada papa.

lii
“Semoga aja ga lagi. Oh iya ini papa bawa makanan,
kalian bertiga makan aja dulu” ucap papa sambil
menyodorkan makanan yang ia bawa.
“Papa ga makan?” tanya kak Alexa sambil
mengambil makanan itu dari tangan papa.
“Papa udah tadi” jawab papa yang kemudian
berjalan menuju balkon kamar.
Aku, kak Alexa dan bang Geo duduk di atas kasur dan
membuka bungkusan makanan yang bawa papa.
Sejenak aku melupakan semua kejadian yang kami
alami dan hal-hal yang menyeramkan tadi, kami
mengobrol kejadian lucu waktu kami kecil suasana
ruangan ini terasa sangat hangat, kerinduan yang aku
rasakan sejak lama kini terulang lagi walau mungkin
hanya sebentar.


Kehidupanku kembali seperti semula, tidak ada
gangguan dari makhluk halus, tidak ada sosok ibu yang
menungguku saat sendiri dan tidak ada hal-hal negatif
yang mengelilingiku.
Aku menjadi pribadiku yang dulu, ceria dan hangat.
Meskipun di rumah sudah kembali sepi dengan kegiatan
masing-masing tapi aku sudah tidak
mempermasalahkan itu semua.
“Eh gais 10 hari lagi kita kan mau kemah di sekolah,
kalian udah ada persiapan?” tanyaku kepada kedua
temanku saat melewati koridor kelas.

liii
“Aelah Le, masih lama juga santai ae” ucap Galih
dengan gerakan tangan mengayun.
“he’eh bener kata Gabon, emang lo udah ada
persiapan?” ucap Jesi kepadaku.
“Udah kok, gue udah nyiapin beberapa pakaian yang
mau di bawa sekali sama makanan ringan” ucapku
sambil dengan sedikit memanyunkan bibir.
“Ce’ilah rajin bet lu neng” ucap galih dengan sedikit
menggoda.
“EEK” jawabku dengan raut muka cemberut. Aku
tidak suka di goda bahkan hanya sekedar candaan.
Mereka berdua tertawa dengan puas melihat
ekspresiku yang kesal, aku berjalan sedikit mendahului
mereka tetapi masih beriringan.
Sudah dua minggu semenjak penutupan mata batin
ini, aku sepertinya sudah benar-benar tidak bisa
melihatnya lagi. Sejujurnya terselip rasa rindu terhadap
ia, meskipun wajah terakhir yang ia tunjukkan padaku
saat itu sangat menyeramkan tetapi perasaan rindu ini
tetap tidak ter-elakkan.

liv
CHAPTER 7
-PERKEMAHAN-
PENGUMUMAN-PENGUMUMAN, UNTUK SEMUA
SISWA KELAS 12 DIBERITAHUKAN BAHWA JAM 4 SORE
NANTI SEMUA SISWA HARUS BERADA DI LINGKUNGAN
SEKOLAH LAGI KARNA AKAN DIADAKAN ACARA
KEMAH.

Pengumuman itu terdengar dari mikrofon sekolah,


tidak terasa 9 hari telah berlalu dan malam perkemahan
pun tiba.
“Eh gais tar kita barengan aja ya ke sekolahnya”
ucap Galih.
“Mana bisa barengan lah, orang rumah sama arah
rumah kita aja beda” ucap Jesi dengan nada sewot.
“Ya maksud gue kita saling kabaran kalo udah mau
berangkat JESICCA” kata Galih sambil menepuk bahu
Jesi sampai terdengar suara deg.
“Kenapa kita ga saling jemput aja? Tar gue jemput
kalian pake mobil” usulku kepada mereka berdua.
“Tapi kita kan ga boleh bawa kendaraan pribadi, jadi
harus di anter Lee” jawab Galih.

lv
“Ya udah nanti minta anter pak suryo aja, gimana?
Biar kita ga kepisah-pisah lagi”
“Hmm boleh juga tuh mayan ringanin ongkos, gue
nebeng yak” ucap Jesi dengan girang.
“Aman, tar sekitar jam 3 gue berangkat dari rumah
biar ga telat”
Perundingan kami pun berakhir disitu, waktu sudah
menunjukkan pukul 14.00 sekolah memulangkan kami
dengan cepat agar memberi waktu bagi kami
mempersiapkan diri untuk acara nanti malam.
Perkemahan kamu berlangsung dari jum’at sore sampai
Minggu siang.
Saat setelah sampai dirumah aku pun segera
mempersiapkan diri dan mengecek barang-barang ku
barangkali ada yang tertinggal, meskipun hanya
berlangsung 2 hari aku harus mempersiapkan semua
dengan matang.
“Wihh lagi ngapain tuhh sibuk bet kayanya” ucap kak
Alexa dari luar pintu kamar dengan sewot.
“Kan hari ini mau kemah bree” kataku
mengingatkan.
“Bukannya akhir bulan ya?” tanya kak Alexa
kepadaku.
“Yaa kan sekarang udah akhir bulan kakkk” ucapku
yang menjelaskan.
“Ohh iya? Yaudah kamu lanjutin siap-siapnya”
ucapnya yang kemudian langsung pergi entah kemana.
Aku memeriksa satu persatu semua barangku, mulai
dari makanan hingga pakaian. Saat aku sedang sibuk

lvi
dengan urusanku sendiri, terdengar samar-samar suara
dari arah lemari kamarku.
“Mau pergi ya?” suara itu terdengar sangat lirih,
bulu kudukku terangkat. Aku terkejut, apa jangan-
jangan aku bisa ngeliat dia lagi ya? Ahh halu doang
paling. Gumamku dalam hati.
Aku bergegas keluar kamar dan membawa semua
barangku, jam sudah menunjukkan pukul 14.50 aku
harus bergegas karna sudah hampir jam 3.
“Kakkk kakkk Alea berangkat dulu yaa” pekikku yang
mencari keberadaan kak Alexa. Berhubung papa dan
bang Geo sedang tidak ada dirumah, jadi aku hanya
berpamitan dengan kak Alexa.
“Iyaaa hati-hati yaa, jangan ngomong sembarangan
terus jangan bikin rusuh yaa” pekiknya dari arah dapur.
“Okeee” balasku dengan pekik dan segera pergi
menjemput kedua temanku.

“Untuk semua anak-anak silahkan berbaris dengan
barisan kelas masing-masing” ucap wakil kesiswaan
kepada kami. Kami segera memasuki barisan kelas dan
mendengarkan instruksi dari guru.
“Tempat perkemahan ada sedikit perubahan, kita
akan melaksanakan perkemahan di bukit belakang
sekolah. Karna kurang memungkin kan untuk di
langsungkan di sekolah dan dengan catatan semua
siswa harus tertib” setelah pemberitahuan bahwa
tempat pelaksanaan kemah di ubah, kami segera di
giring untuk pergi ke bukit belakang sekolah.

lvii
“Anak-anak segera periksa lagi barang kalian
mungkin saja masih ada yang tertinggal” ucap pak Roni
yang selaku wali kls kami.
“Baik pak” jawab teman-teman kelas ku.
Selama di perjalanan terasa sangat menyenangkan,
kami tertawa bergembira sembari menyanyikan lagu-
lagu perpisahan.
Kami sampai di titik yang telah ditentukan sekolah,
aku dan teman-temanku segera meletakkan barang-
barang yang kami bawa, sementara anak laki-laki
mempersiapkan tenda untuk kami tempati.
“Eh Le temenin gue ke sungai yok? Gue kebelet pipis”
ucap Jesi kepadaku.
“Ya udah ayo gue temenin tapi jangan lama ya” aku
dan Jesi kemudian pergi ke sungai kecil yang lokasinya
tidak jauh dari tenda kami. Setelah sampai, Jesi pun
langsung menunaikan hajatnya, aku yang berjarak
lumayan jauh dari Jesi memerhatikan sekitar. Entah
perasaanku saja atau bagaimana, tapi sungai ini terasa
sangat mencekam.
Aku dan Jesi segera kembali ke tenda kami dan
membantu masak untuk makanan malam nanti, acara
malam ini hanya renungan suci dan besok malam akan
di akhiri dengan api unggun.


Renungan suci pun berlangsung, seluruh siswa
duduk melingkar di tengah lapangan dan memejamkan

lviii
mata. Aku secara perlahan menyipitkan mataku untuk
melihat sekitar, sebenarnya ini perbuatan yang apabila
ketahuan guru maka aku akan dihukum. Saat aku
melihat sekitar dengan posisi mata disipitkan, terlihat
dari sudut mataku ada sesosok putih yang melayang di
atas tenda-tenda kami.
Aku langsung menutup kembali mataku dengan
cepat, badanku berkeringat seolah dari berlarian aku
merasa takut dan heran.
“Bukannya mata batin gue udah ditutup? Tapi
kenapa gue liat lagi ya?” aku bergumam sendiri dalam
hati.
“Kamu kenapa? Kaget ya? Hihihihi.. kamu bisa liat
aku kan?” suara itu terdengar tepat di sebelah kanan
kupingku.
Aku yang mendengar suara itu langsung menoleh ke
sumber suara, tepat disebalah kupingku terdapat
seorang wanita dengan lidah yang menjalar panjang dan
mata yang bercecer darah. Wanita itu menghadap
kedepan mengikuti posisi kepala kami. Aku yang melihat
itu langsung memalingkan kembali wajahku.
“Hihihi kamu ketauan. Kamu bisa liat aku kan?!!”
kepala itu langsung menoleh ke arahku dengan lidahnya
yang seperti ingin menjilat kupingku.
“AHHHH AAAAGHH” aku berteriak sekuat tenaga,
suaraku memecahkan keheningan malam ini. Semua
mata tertuju kepada ku, aku menangis ketakutan. Aku
menutup telinga dan mataku, membungkukkan badan
dan tidak berani mengangkat kepala.

lix
“Lea, Leaa, kamu kenapa le?” ucap Jesi yang duduk
di sebelah ku sambil menepuk pundakku.
“Pergi kamu pergi! Pergi!!!” aku berteriak
ketakutan.
“Lea ini gue le, gue Jesi sahabat lo” Jesi memelukku
dan menenangkan ku.
Aku terdiam saat Jesi memelukku, aku
memerhatikan sekitar dan tidak lagi melihat makhluk
menyeramkan itu.
“Lo kenapa le? Ada apa?” tanya Jesi yang melihatku
sudah tenang.
“Ah gapapa gapapa, ee anu gue tadi halu aja”
jawabku terbata-bata.
“Yakin?”
“He’eh yakin, sek lanjutin lagi acaranya bu” ucapku
sambil melihat ke arah bu guru yang berada di dekatku.
“Gimana mau lanjutin orang mereka semua bubar
karna liat lo tadi” jawab Jesi.
“Eh maaf ya gais gue ngerusak acara malam ini”
ucapku sambil melihat semua temanku yang ada di
dekatku.
“Udah santai aja, yang penting lo gapapa kan?” ucap
Lusi teman kelas ku.
“Ehh iya gapapa si, maaf banget ya” ucapku.
“Yaudah karna semua udah bubar, kalian senua
masuk ke dalam tenda buat istirahat, ingat tenda
cowok sama cewek terpisah jangan sampai tidur
barengan” ucap bu guru kepada kami semua.
“baik bu” jawab kami berbarengan.

lx
Aku dan teman kelasku yang lain pergi menuju tenda
kami, aku yang di gandeng oleh Jesi karna ia takut ada
kejadian aneh lagi yang menimpaku.
“Jes, sejujurnya gue tadi ngeliat hantu jes” ucapku
sambil berbisik ke arah Jesi.
“Hahh dimana le? Tuh kan udah gue tebak soalnya
tingkah lo aneh, masa halu ampe segitunya” ucap Jesi
kepadaku.
“Shutt diem laa jangan berisik, tar di denger orang”
aku menceritakan semua kejadianku tadi ke Jesi sambil
berjalan menuju tenda.
“Ih gila yaa, ya udah gue bakal tutup mulut ke
semua orang”
Aku dan teman kelas ku yang lain segera
membersihkan diri untuk tidur di dalam tenda. Jam
sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari, semua orang
sudah tertidur lelap kecuali aku. Saat aku mencoba
memejamkan mata untuk tertidur, tampak dari luar
tenda ada makhluk yang terbang kesana kemari. Aku
yang melihat hal itu langsung bergegas memejamkan
mataku untuk tidur.
“Hei kamu, pergi dari sini. Kalian semua sudah
merusak rumahku. Pergii!” suara itu terdengar lirih
namun jelas di kupingku, ia sepertinya sangat marah
karna kedatangan kami.


lxi
Aku memaksa mataku untuk tetap tidur meski suara
itu masih terdengar jelas dan berulang-ulang. Dari luar
tenda terdengar seperti suara batu kerikil yang
dilempari ke arah tenda kami, posisi tidurku yang
berada di pinggir tenda itu membuatku semakin tidak
berani membuka mata. Kupaksa mataku untuk tetap
tertutup sampai akhirnya tertidur.
Aku berjalan sendiri menyusuti sungai itu, melihat
betapa jernihnya air sungai yang mengalir bahkan ikan-
ikan pun terlihat jelas dari atas.
“Hmm airnya jernih banget, sayang kalo gue ga
mandi disini” gumamku sendirian.
“Tapi yang lain? Nanti mereka nyariin gue” aku
melihat ke arah tenda yang tertutup oleh pepohonan.
“Ayo sini, main sama aku airnya jernih loh” suara itu
terdengar dari arah seberang sungai. Entah kenapa,
bukannya takut aku justru mengikuti sumber suara
tersebut.
“Kok ga ada orang ya? Padahal tadi suaranya dari
sini” ucapku sambil celingak-celingukan.
“Hmm ya udah deh mumpung sepi gue mau mandi
aja, sayang kalo ga mandi” pemandangan alam ini serta
matahari yang hampir tenggelam membuat suasana
sangat menyenangkan.
Aku berjalan menuju tengah sungai dan seperti ada
yang menarik kakiku semua badanku terseret menuju
ke dalam sungai
“Ahh TOLONGG” aku berteriak dengan sekuat
tenaga tetapi anehnya suaraku tidak terdengar. Aku

lxii
mencoba menyelamatkan diriku dari dalam air, tetapi
semakin aku berusaha badanku justru semakin tertarik
ke dasar air.
“Bhuu ketemu hihihii..” tiba-tiba muncul sesosok
lidah panjang yang aku lihat semalam, ia muncul dalam
permukaan air tepat di depan muka ku.
Aku terkejut tanganku reflek menutup mulut dan
berusaha menggapai permukaan sungai. Badanku
semakin terseret ke dalam sungai aku semakin panik
karna nafasku kehabisan.
“Le, lea bangun le!!!” ucap Jesi sambil menjitak
keningku.
Keringat bercucuran di tubuhku, sambil menetralkan
pernafasan, aku tersadar bahwa aku ternyata hanya
bermimpi. Tetapi keanehan terjadi, jika yang ku alami
memang sekedar mimpi mengapa terdapat bekas lilitan
sama seperti yang aku alami di mimpi. Benar-benar
mimpi buruk yang mengejutkan.
“Ehh maaf gue mimpi buruk tadi” ucapku sambil
cengengesan.
“Lo kalo mau bikin keributan mulu mending pulang
aja le. Ganggu acara kemah aja lo, beban” ketus salah
seorang teman kelas ku.
“Eh lo kalo punya mulut kaya sampah mending
buang aja mulut lo anj” ucap Jesi yang tersulut emosi
menunjuk ke arah Lusi.
“Eh gue ngomong kenyataan ye, dasar aja dia
beban” ucap Lusi.
“EH LO JANGAN MACEM-MACEM YA!” ucap Jesi
sambil berteriak.

lxiii
Keributan terjadi di dalam tenda sehingga
memancing semua untuk datang, Lusi dan Jesi saling
lempar omongan bahkan hampir saling pukul. Asli seru
banget kalo diliat langsung.
“Eh ada apa ini, kalian pagi-pagi udah repot aja”
datang beberapa guru yang memisahkan mereka.
Mereka berdua di panggil untuk menghadap guru
dan disepikan agar masalah tidak semakin meluas dan
tidak ada lagi keributan.

lxiv
CHAPTER 8
-PELINDUNG-
Kami dipisahkan sesuai kelas masing-masing yang
kemudian akan di pisah lagi untuk diberi tugas.
Kebetulan aku satu grup dengan Galih dan Jesi untuk
mencari kayu bakar di sekitar perkemahan. Sementara
yang lain ada yang memasak dan menyiapkan makanan
penutup.
“Eh udah sore, pulang ke tenda yok. Kayanya udah
cukup kayu segini” ucap Galih kepada kami semua
selaku pemimpin jalan.
“Yaudah ayo, gue juga udah cape” ucap Jesi.
Kami semua kembali ke arah tenda dan
membersihkan diri, beberapa dari siswa ada yang
memilih untuk mandi dan ada yang masih sibuk dengan
tugas masing-masing.
Puncak acara pun tiba, api unggun dinyalakan untuk
menghiasi malam ini, saat api mulai dinyalakan dan
upacara api unggun dimulai, semua terasa hening. Tidak
ada yang bersuara dan sangat khusyuk.
Saat pembina upacara sedang melakukan amanat,
terdengar suara teriakan dari kelas lain. Suara teriakan
itu sangat kencang sehingga terjadi kekacauan. Teriakan
itu tidak lain karna ada siswa yang kesurupan, tidak
heran jika ada yang kesurupan karna hutan ini terkenal
cukup angker.

lxv
Awalnya kesurupan ini hanya mengenai satu orang,
tapi lama kelamaan menyambar ke semua siswa, satu
per satu banyak anak yang di rasuki termasuk diriku.
Untungnya ada seorang guru yang mahir dalam hal
seperti ini, ia berusaha sekuat tenaga untuk
menyembuhkan siswa yang kesurupan hingga akhirnya
tersisa dua orang. Semua siswa yang sudah sadar dan
yang tidak kesurupan di giring untuk masuk ke dalam
tenda dan sebagian orang membantu pak guru.
“Mengapa kamu disini?” tanya pak Ali kepada Tasya
yang menjadi orang terakhir kesurupan setelah aku.
“Ini memang wilayah ku, kalian lah yang mengala
disini” suara itu terdengar seperti suara nenek-nenek
yang cetus dan kasar.
“Tapi kami tidak melakukan kesalahan, mengapa kau
mengacaukan acara kami?” tutur pak Ali.
“Kau salah, kalian telah menghancurkan rumahku!”
jawabnya sambil marah.
“Jelaskan padaku apa kesalahan kami? Maaf kan
kami jika telah merusak rumahmu” tutur pak Ali.
“Tidak aku tidak akan memberitahu mu, tapi sebagai
gantinya jiwa anak ini akan menjadi milikku” ucapnya
dengan nada yang cukup kasar.
“Kau tidak bisa bertindak seenak mu, anak itu
mempunyai orang tua kau tidak bisa mengambil dia”
ucap pak ali dengan sedikit bentakan.
“Salah sendiri kalian telah mengambil sesajen
milikku, cepat kembalikan jika tidak mau jiwa anak ini
ku ambil.” Ucapnya yang kemudian pergi dari tubuh

lxvi
Tasya. Kemudian ia pingsan namun masih belum
sadarkan diri.
“Semuanya sekarang berkumpul” ucap bu Dewi
sambil mengenakan microfon.
“kenapa bu? Ada apa?” semua orang bertanya-tanya
dan keluar dari dalam tenda.
“Sekarang bilang sama saya siapa yang telah
sengaja atau tidak sengaja mengambil sesajen yang
ada di sekitar sini” ucap bu Dewi kepada kami.
Semua orang hening, tidak ada yang menjawab
selama kurang lebih 10 menit. Mereka hanya berdiam
sambil berdiri.
“Oke jika tidak ada yang maju atau menghadap
saya, apakah kalian mau situasinya tetap seperti ini?
Jika kalian tidak ada yang mau jujur maka kalian akan
kehilangan nyawa salah satu dari teman kalian” ucap
bu Dewi yang semakin mendesak kami.
“Cepet oy jujur dah, dari pada ribet kaya gini” celetuk
salah seorang dari barisan.
“Iya woi jujur aja, kasian kalo gini”
“Ini menyangkut kepentingan bersama ibu mohon
kalian untuk jujur” ucap bu Dewi yang membuat hati
terenyuh.
“Sa-saya bu” ucap seorang siswi dari barisan
belakang sambil mengangkat tangan.
Semua mata tertuju ke pada siswi itu, siapa sangka
tidak lain tidak bukan bahwa orang itu adalah Lusi. Ia
berjalan maju menuju arah bu Dewi dan menceritakan
semua yang ia alami.

lxvii
“Kamu kenapa? Apa yang kamu lakukan dan apa
yang kamu ambil?” tanya bu Dewi dengan lembut.
“Sa-saya tidak tau bu kalau itu sengaja bu” ucapnya
sambil terbata-bata.
“saya kira makhluk seperti itu tidak ada, bahkan
mungkin jika ada tidak akan memancing kericuhan
seperti ini. Maafkan saya bu” ucap Lusi yang hampir
menangis.
“Ya tuhan, apa yang kamu ambil nak?” tanya bu
Dewi.
“Tadi Lusi ambil lilin yang ada di balik pohon itu”
ucapnya sambil menunjuk salah satu diantara
pepohonan.
“Astaga, yasudah sekarang kita kembaliin barang
yang kamu ambil ya nak, bahaya” tutur bu Dewi.
Mereka pun pergi dengan di temani beberapa orang
siswa. Lusi meletakkan kembali barang yang ia ambil,
lalu mereka kembali ke tempat Tasya yang masih
pingsan.
“Barang milikmu sudah kami kembalikan, sekarang
kamu tolong pergi dari jiwa anak ini” bisik pak Ali ke
telinga Tasya.
“Tidak akan, aku sudah nyaman dengan tubuh anak
ini, tidak akan kubiarkan ia kembali” ucap sosok itu
yang langsung terbangun saat dibisiki.
“Kau harus pergi, jika tidak mau pergi sendiri akan
aku usir kau!” tegas pak Ali.
“Silahkan saja kalau bisa, aku adalah makhluk yang
paling kuat disini hihihi” ucapnya sambil tertawa
cekikikan.

lxviii
Pak Ali pun mengambil tindakan untuk meruqyah
Tasya, karna setan yang merasuki tubuhnya membantah
dan tidak mau pergi. Sementara aku, setan yang
merasuki tubuhku hanya terdiam jadi semua orang
memfokuskan diri ke Tasya terlebih dahulu.
Proses ruqyah terjadi sangat lama karna setannya
bebal dan bengal. Memakan waktu hampir 1 jam hingga
sosok tersebut pergi dari tubuh Tasya.

lxix
CHAPTER 9
-bentuk maaf-
Aku sadar bahwa diriku sedang dirasuki ibu, tapi aku
kehilangan kendali atas diriku. Meskipun setan yang
memasuki diri ini tidak banyak memberontak dan
membuat kericuhan namun tetap harus di keluarkan.

“Kamu siapa? Mengapa kamu memasuki tubuh anak


ini?” tanya pak Ali
“Aku ibunya, aku memasuki raga Lea karna aku ingin
melindungi ia dari makhluk jahat lainnya” ucap ibu
dengan suara lirih.
“Bisakah kau keluar dari tubuhnya?” ucap pak Ali.
“Tidak, jika aku keluar maka Lea akan menjadi
sasaran makhluk jahat lainnya”
“Kau tidak perlu khawatir, kami ada disini untuk
melindungi anakmu”
“Aku tidak mau, kalian tidak akan bisa menjamin ke
selamatan Lea” kekeh ibu yang ada di dalam tubuhku.
“Aku janji, semua keselamatan anak-anak ini dan Lea
akan kami jamin, fajar tiba kami aku segera pergi dari
sini” ucap pak Ali.
“Aku mohon, biarkan aku menjaga Lea. Setelah ini
aku tidak akan mengganggu dia lagi, biarkan aku
menjaganya selayak dia adalah puteriku” ucap ibu
dengan lirih.

lxx
“Baiklah jika itu maumu, tapi berjanjilah padaku
bahwa matahari terbit nanti kau tidak boleh ada atau
menampakkan diri lagi di depan anak ini” kata pak Ali.
“Bahkan jika hanya sesekali?”
“Sekalipun tidak”
“Mengapa? Bukankah dia anakku?”
“Apakah kau menyayanginya?”
“Jelas, karna dia anakku”
“Jika kau menyayanginya maka kau harus
melepaskannya, kehidupan dia akan terganggu jika kau
masih bersamanya”
“Baiklah, tapi izin kan aku untuk menjaganya sampai
fajar tiba” aku pingsan ketika ibu mengatakan itu, aku
merasakan bahwa tidak ada gerak-gerik yang ia lakukan
tetapi sosok itu masih ada dalam tubuhku.


Aku duduk dalam ruangan kosong yang didepanku
hanya ada sebuah cermin, kursi yang aku duduki
nampak seperti kursi kerajaan yang antik.
Samar-samar terlihat dari arah cermin itu ada
seorang wanita yang tidak asing bagiku. Ia berjalan
mendekat terus mendekat tetapi tidak menunjukkan
wajahnya, yang terlihat hanya punggung belakang
wanita itu.
“Mengapa kau merasuki tubuhku? Apa tujuanmu?
Jika kau datang hanya untuk menyakitiku, pergilah!”
ucapku.

lxxi
Aku menggerakkan badanku tapi rasanya sulit sekali,
saat ingin berdiri aku melihat bahwa kaki dan pahaku
terikat dengan kursi itu.
“Lalu mengapa kau mengikat ku seperti ini? Cepat
jawab ucapanku” tanyaku lagi.
“Tidak sayang, ibu tidak berniat untuk menyakitimu”
sosok itu berbalik ke arahku tapi kali ini tidak
menunjukkan wajahnya yang seram itu, kali ini ia sangat
cantik bahkan wangi.

“Apa tujuanmu? Belum puas kah kau menakutiku?”


tanyaku.
“Aku hanya ingin menjagamu sayang, maaf kan aku
tentang kemarin”
“Aku tak perlu maaf mu, keluarkan aku dari sini
sekarang” tegasku.
“Tidak bisa, jika aku keluar dari tubuhmu, maka kau
akan jadi sasaran makhluk lainnya”
“Bohong, kau sama saja dengan makhluk jahat
lainnya” ucapku sambil memberontak.
“Aku mohon sayang, biarkan melindungimu kali ini”
ucapnya sambil membelai rambutku.
“Apa jaminannya jika kau memang ingin
melindungiku?”
“Sampai fajar terbit, aku tidak akan mengganggumu
atau bahkan menemuimu lagi” tuturnya.
“Baiklah jika itu maumu” ucapku yang luluh dengan
ucapannya.

lxxii

Fajar tiba, aku tersadar dari tidurku. Makhluk yang
tadi, ibu yang merasuki tubuhku sudah keluar dan
semua orang pergi melihatku. Semua badanku terasa
pegal dan sakit, aku bangkit dari tidurku untuk
menyetarakan posisi dengan orang-orang yang ada di
dalam tenda.
Mataku melihat kesana kemari seperti mencari
sesuatu, aku mengingat ingat kembali semua yang
terjadi semalam. Mungkin saja semalam adalah
pertemuan terakhir aku dengan ibu.
“Syukurlah, kamu sudah sadar” ucap pak Ali yang
melihatku.
Semua mata tertuju kepadaku, keadaan di dalam
tenda dan di luar sangat sibuk dan riweh. Acara
perkemahan jadi berantakan karna kesurupan masal.
Kami di pulangkan karna semuanya sudah
berantakan, acara yang awalnya diharapkan untuk
kesenangan dan sekaligus acara perpisahan tapi malah
banyak yang kesurupan karna kesalahan seseorang.

“Le, lo udah mendingan?” tanya Galih.


“Sorry ya gue semalem ga ada di deket lo”
sambungnya.
“Aman kok lih, paling sisa-sisa pusing dikit aja”
jawabku.
“Sini gue bantuin barang-barang lo ya” tutur Galih.
“Ah ga usah. Gue bisa kok santai aja” ucapku

lxxiii
Kami berserta guru-guru digiring untuk kembali ke
lingkungan sekolah. Aku dan teman-teman yang lain
berjalan beriringan saling menjaga agar tidak terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan seperti kemarin malam.
Selama di perjalanan aku memikirkan semuanya.
Mungkin saja kemarin adalah pertemuan terakhir ku
dengan ibu, ia yang aku kira jahat kepadaku dan
menakutkan sehingga membuat harus menutup mata
batinku. Namun kembali menampakkan diri untuk
melindungi sebagai bentuk permintaan maafnya
kepadaku.

lxxiv
CHAPTER 10
-SAYANG YANG TAK AKAN
HILANG-
Aku kembali menjalani hidupku seperti biasa, tidak
ada lagi gangguan-gangguan aneh yang menghampiriku.
Bahkan ibu, ia menepati janjinya setelah fajar tiba.
Terselip rindu dan ucapan maaf dalam hati karna aku
sempat meragukannya waktu itu.
Meskipun awalnya aku meragukan ibu karna
sebelumnya ia pernah murka kepadaku.
Kini aku sudah tamat sekolah dan melanjutkan
pendidikanku. Aku memutuskan untuk kuliah di UI dan
pisah rumah dengan papa dan kedua kakakku.
Aku memiliki teman mutualan melalui aplikasi dari hp
ku, kami memutuskan untuk bertemu setelah sekian
lama berbincang dan berkenalan lewat hp.
“Haloo? Lea nanti kita jadikan?” tanya Kenzo yang
merupakan teman mutualanku melalui telpon.
“Eh iya zo jadi kok, ini gue lagi siap-siap bentar lagi
otw” ucapku
“Gue jemput boleh ga?” tawarnya.
“Oh ga usah zo, arah rumah kita kan beda mending lo
langsung aja ke cafe Victoria sekalian pesenin makanan
gue” ucapku

lxxv
“Ya udah gue duluan ya, lo mau pesen apa?” tanya
Kenzo.
“Samain aja kaya lo biar ga ribet” ucapku.
“Ohh oke, ya udah gue tutup telponnya ya, gue udah
mau otw” ucapnya.
Kenzo menutup telpon dan aku segera
mempersiapkan diri untuk pergi ke tempat yang sudah
kami janjikan.
Langkahku berjalan memasuki cafe itu, lelaki dengan
mengenakan baju kotak-kotak dan celana pendek
terlihat sedikit berantakan dibanding diriku yang sudah
effort menyiapkan pakaian untuk bertemu dengannya.
Namun ia tetap terlihat tampan dan menawan hehehe.
“Eh zo sorry ya gue ngaret dari jam yang di janjiin,
tadi di jalan macet” ucapku yang muncul dihadapan
Kenzo.
“Eh Lea, its oke gue juga belum lama kok disini, ayo
duduk” ucapnya.
Aku duduk berhadapan langsung dengannya dan di
batasi meja bundar. Pesanan makanan yang tadi sudah
di pesan oleh Kenzo pun datang, kami berbincang-
bincang mengobrol dan bercerita banyak hal sehingga
membuatku larut dalam serunya obrolan ini.
“Eh btw sorry banget kalo lancang nih Le, gue mau
tanya” ucapnya Kenzo dengan ragu-ragu.
“Ya elah santai aja zo, mau tanya apa?” ucapku.
“Lo punya khodam ya le?”
“Hah khodam? Nggak ah kenapa emang?” jawabku
keheranan.

lxxvi
“Anu gue liat dari tadi di belakang lo kaya ada
bayangan yang selalu stay sama lo, mulai dari awal lo
dateng sampe tadi lo ke wc bentar” tuturnya.
“Duh ga tau gue zo, tapi kalo boleh tau ciri-cirinya
kaya gimana?” tanyaku dengan penasaran.
“Tapi ini sepenglihatan gue aja ya, dia tuh cewe
cantik, pake baju kaya Noni belanda udah gitu aja”
jelasnya.
“Hmm..” aku berdehem sambil melipat dahiku yang
tampak seperti memikirkan sesuatu.
“Eh tapi lo ga usah takut le, soalnya ni sosok kayanya
baik deh sama lo” ucapnya meyakinkan.
“kenapa lo bisa bilang kaya gitu?” tanyaku.
“Feeling aja sih, tapi yakin deh lo sana gue” ia
menjawab dengan kekeh.
“Iya-iya gue yakin, lagian selagi dia ga ada niatan
buruk gue bakal tetep biarin dia buat jagain gue”
ucapku.
Tak terasa kamu berdua mengobrol sudah cukup
lama, aku memutuskan untuk pulang dan memesan go
car. Bukannya Kenzo tidak mau mengantarku, hanya
saja aku yang kurang nyaman jika langsung di antarnya
pulang padahal itu pertemuan pertama kami.
Di sepanjang perjalanan aku memikirkan ucapan
Kenzo tentang sosok yang ada untung menjaga ku.
Pikiranku langsung tertuju kepada ibu, mungkinkah itu
memang ibu? Jika memang iya, aku akan sangat senang
karna ia masih berada di dekatku meski tidak
menampakkan diri. Akan jauh lebih baik jika memang
tidak pernah lagi.

lxxvii
“Bu, maafin lea tapi begini jauh lebih baik dibanding
harus bertemu. Jika ibu memang menyayangiku maka
jagalah aku dengan baik” tutur ku sambil berbisik
sehingga hanya terdengar oleh aku seorang.
Mungkin ini terdengar menyakitkan tapi mau
bagaimana pun, manusia dan makhluk lainnya tidak
akan pernah bisa hidup bersama.
Aku menyayangimu ibu, selayaknya aku menyayangi
papa, mama dan kedua kakakku. Dunia ini di huni oleh
banyak macam makhluk diantaranya adalah manusia
dan makhluk tak kasat mata, meskipun begitu tidak
akan menjadi penghalang bagi kita maupun mereka
untuk saling menyayangi dan melindungi.

❀ ❀ ❀
TAMAT

lxxviii

Anda mungkin juga menyukai