PELABUHAN DERMAGA ABADI
Prolog
Riuh ombak sebagai musik latar, diikuti dengan silaunya
keemasan senja yang menyorot meja kerjaku. Aku terbuai
dalam lamunan yang dalam, mengingat-ngingat betapa aneh
dan lucunya kehidupan yang nestapa ini. Belum sempat
menuntaskan imajinasiku, dering ponsel dengan lancangnya
membuyarkan lamunanku.
“Halo mba. Paket!”
“Oh iya mas”
“Ga di rumah ya mba? Taro di tempat biasa aja ya?”
“Di rumah kok mas, ini saya turun, maaf ya tadi ga kedengeran”
Kuraih paket pengacau lamunanku itu, sambil menerka-nerka
“ini paket yang mana ya”. Rasanya aku mendadak menjadi
implusif akhir-akhir ini. Padahal, ongkos kirim ke pulau antah
berantah ini lumayan merogoh kocek. Aku sebut antah berantah
karna aku belum lama disini dan masih asing dengan udara,
matahari, serta deburan ombak disini. Di titik paling ujung
Aceh, titik koordinat 8237220289 tepatnya. Aku baru saja
bermigrasi ke daerah ini, tuntutan pekerjaan. Hmm entah
tuntutan atau tuntunan aku pun masih mencari jawabannya.
Setelah berkhidmat sebagai dosen honorer selama dua tahun,
akhirnya aku diangkat menjadi dosen tetap, pegawai negri sipil
yang diidam-idamkan ayah ibuku. Meskipun aku tahu
sepertinya mereka menyesal telah memaksaku untuk mengejar
tahta tertinggi menantu idaman ini. Kini kami terpisah oleh
selat dan harus melewati pelabuhan merak kalau sewaktu-
waktu ingin melepas rindu. Meski masih berada di bawah langit
yang sama, ribuan kilometer bukanlah nilai angka yang
sederhana.
Aku sendiri menyukai tempat asing ini, jauh dari orang-orang
yang ku kenal, jauh dari nasib cintaku yang kumal. Ah sial.
Ingatan itu tak kunjung luput dari memori 16gb ku. Tuntutan
pekerjaan dan kejutan dalam hidup membuatku lebih nyaman
dalam kesendirian. Entah aku yang belum beruntung, atau
memang harus menghabiskan jatah duka barulah akhirnya bisa
1
merasakan indahnya cinta. Entahlah? Aku hanya menikmati
ritme cerita ini dengan penuh tanda tanya.
Aku masih menebak isi paket yang baru saja datang, rasanya
aku tidak pernah memesan barang dengan dimensi seperti ini,
seperti… buku yang berjumlah 200 halaman. Setelah ku buka,
benar saja! isinya buku. Tapi ini buku apa? Sampulnya kosong,
ternyata isinya juga kosong.
“Apasih”
Aku masih bertanya-tanya dan sedikit kesal dengan kejutan
remeh temeh ini, maksudku… jahil sekali orang yang mengirim
buku jelek ini!
Setelah aku periksa, ternyata pengirim menyelipkan surat di
antara lembaran kosong itu.
Sekali lagi
“Apasih”
Pelabuhan Merak, 2021
Halo! Bagaimana kabarmu? Kudengar karirmu semakin
bersinar. Selamat ya Dar, aku turut berbahagia.
Mungkin kamu akan tercekat saat menerima surat ini. Aku,
kekasihmu. Mantan kekasihmu maksudku. Aku ingin
menyampaikan kabar gembira. Dara.. tiga tahun lalu aku baru
saja selesai direhab, rasanya seperti terlahir kembali. Ini semua
berkatmu, Dar. Meskipun aku sangat hancur pada saat itu, tapi
entah kenapa aku tidak bisa dan tidak akan pernah
membencimu. Meskipun kamu meninggalkanku disaat duniaku
sedang hancur. Setelah kupikir-pikir, aku memang tidak pantas
2
berada disampingmu. Kamu cantik, baik, berpendidikan,
terlahir dari keluarga yang terpandang, nasibmu diridhai
Tuhan. Sedangkan aku? Pria dewasa yang selalu kekanak-
kanakan, saat itu aku hanyalah pria bodoh yang terlena oleh
gelapnya dunia. Asal kau tau, aku berkali-kali menghakimi diri
sendiri, membunuh apa yang masih tersisa di jiwaku, bahkan
aku mengumpat sang pemilik takdir atas kepergianmu. Aku
mati Dara! Mati. Yang tersisa hanyalah kulit dan tulang
belulang yang saling menyalahkan satu sama lain. Yang tersisa
hanyalah penyesal…
Aku tercekat, benar-benar tercekat hingga jantungku tergesa-
gesa memompa darah amarahku. “Aku pun mati Zen!”
Tanganku mulai berkeringat, bergetar. Dadaku bergejolak. Air
mataku tumpah seketika. Luka yang kukubur dalam-dalam
kembali mencuat. Aku didiagnosis memiliki kecemasan berlebih
dan ODD (orang dengan depresi) yang merupakan gangguan
rotransmiter (zat kimia yang berfungsi sebagai alat komunikasi
antar saraf). Kata dokterku dulu, di tubuhnku terjadi penurunan
kerja neurotransmiter serotonin, dopamin, norepinefrin, dan
brain derivatic neurotrophic factor. Entahlah, istilah-istilah
medis itu masih melekat di kepalaku hingga sekarang.
Hamdalah, sekarang aku sudah sembuh total dari depresi yang
menyakitkan itu. Dan kini.. bisa-bisanya selembar surat itu
mengembalikan semua memori dan luka yang telah aku
nistakan. Tiba-tiba saja otakku memutar kembali tayangan yang
tak menyenangkan itu.
2019
“Kurang ajar! Dibilangin orang tua bukannya nurut malah
ngelawan! Besok pagi aku kawinkan kalian berdua! Awas kau
ya, tengok aja, malam ini kucari laki-laki setan itu sampai
dapat!”
…
“Kalau sudah selesai tesismu, langsung balek kau ya! Percuma
kusekolahkan tinggi-tinggi, otaknya gak dipake. Patutlah betah
kau lama-lama di kota orang, udah gatal kali rupanya sampe
gak kau tengok lagi jantan kekmana yang kau bela-bela itu.
Memang anak ini ya, sengaja kau bikin aku naik darah. Biar
cepat mati aku”
3
Sudah lama aku tidak mendengar celotehan bapak-bapak
Medan lemes yang satu ini. Aku tak menjawab sepatah kata
pun. Sebisa mungkin aku tahan mulutku untuk tidak
mengucapkan sesuatu agar dunia tidak melihatku sebagai anak
durhaka. Aku paham betul kecewa dan amarah yang ayah
rasakan. Ayah hanya ingin melindungi putri kecilnya yang
sedang dimabuk cinta. Tapi bukankah cinta itu buta? Ayah
terlalu egois, dia hanya melihat dari satu sudut pandang saja.
Bagaimana bisa ribuan kebaikan hilang begitu saja hanya karna
satu kesalahan?
“Ayah tau apa tentang dia?!”
Kata-kata itu terucap dengan sendirinya, tanpa aku sadari. Oh
Tuhan, aku sudah memantik api perang dunia ketiga. Benar
saja, ayah kembali meracau mengalahkan bait-bait syair penyair
ternama. Tanpa babibu aku langsung mematikan telepon.
“Astaghfirullah, sabar sabar. Kalo bukan bapak sendiri udah ku
cut off manusia kek gini”. Tanpa sadar akupun ikut mengomel
dengan logat ayahku.
Ayahku memang seperti itu, keras dan tegas menjadi karakter
yang selaras dengan tampilan luarnya. Sosok yang besar tinggi,
botak, dan berkumis tebal. Entah kenapa ibuku yang terkenal
lemah lembut, manis, cantik, terlahir dari keluarga jawa yang
bahkan sehari-harinya terbiasa bertegur sapa menggunakan
bahasa jawa kromo pada akhirnya jatuh cinta kepada lelaki
batak yang bicaranya sangat keras seperti menggunakan toa,
bisa-bisanya. Tampaknya aku memang mewarisi gen ibu dalam
hal percintaan, kami sama-sama menyukai karakter lelaki yang
unik dan otentik.
Aku merebahkan diri di atas kasurku yang penuh dengan buku-
buku perjuangan yang sangat memuakkan. Aku menarik nafas
dalam-dalam lalu kukembalikan udara itu ke alam secara
perlahan. “It’s oke, it’s oke, tenang” ucapku, sembari
memberikan pelukan hangat untuk diriku sendiri. Ya, hanya
butterfly hug yang selalu menemani hari-hariku yang terasa
berat.
4
*suara dering hanpdhone*
Aku begitu menikmati pelukan kehampaan ini hingga tak sadar
ternyata ponselku berdering sedari tadi.
(5 panggilan tak terjawab dari sayangku)
Aku masih terbawa suasana, tiba-tiba saja aku menjadi muak
melihat notifikasi yang biasanya kutunggu-tunggu itu. Rasanya
aku ingin menghilang agar permasalahan ini tidak merepotkan
hari-hariku lagi. Sebetulnya ini bukan kali pertama ayah
bersikeras memintaku untuk meninggalkan laki-laki yang baru
saja menelponku itu.
Pagi hari di tahun 2013
“Dar.. Daraaa, hari ini aku jemput ya”
“Beneran? Jemputnya agak jauhan ya, ntar ayahku liat lagi”
“Ga ah, masa jemput anak gadis ayah ngumpet-ngumpet gitu,
nanti aku sekalian pamit sama ayahmu”
“Yeee mau nyari mati lu, ga ada ya”
“Udah ah bawel”
Zen mematikan telepon. Benar saja.. tak berselang lama ia
sudah muncul tepat di depan pagar rumahku. Jujur saja pagi ini
rasanya aku sangat bersemangat, karna kali ini aku dijemput
motor astrea yang dikendarai laki-laki idamanku sejak dulu.
Hehe, dia crushku yang sekarang sudah menjadi pacarku.
“Ibu, kakak berangkat sekolah dulu ya”
“Loh ini baru jam berapa, ayah masih mandi tuh, buru-buru
amat, emangnya kamu piket pagi ini?”
“Cuma beda sepuluh menit loh bu, lagian hari ini kan upacara
hari guru”
“Oh iya ta, yaudah ibu aja yang anter, nunggu bapak kelamaan”
“Gausah bu, aku udah janjian sama temen, tuh udah
ditungguin”
“Loh udah tau ditungguin malah ngajak ibu ngobrol, yaudah
cepet sana kasian temennya nunggu kelamaan”
“Ibu yang ngajak ngobrol kok, yaudah aku pergi dulu ya bu”
5
Aku bergegas menemui Zen yang sudah menunggu sejak tadi.
“agak aneh sih, tumben ibu ga nanya dijemput sama temen
yang mana” aku kebingungan dan tak sadar mengobrol sendiri.
“Dar”
“Dara”
“Woy, kesambet apa ni anak daritadi ngomong sendiri”
“Eh, Sorry sorry, maaf ya lama.. ayo jalan”
“Pake dulu helmnya, main jalan jalan aja”
“Yaudah sih tinggal dipake”
“Hadeh, ga berubah ya dari dulu emang ngeselin, untung
sayang”
“Nyenyenyenyenye”
“Mana katanya ayahmu serem? Gaada tuh”
“Ayah masih siap-siap, tadinya ibu yang mau nganterin, tapi aku
bilang udah janjian sama temen, ibu iya iya aja ga ditanyain
temen yang mana, yaudah deh kamu selamat hari ini”
“Hahaha Dara.. Dara.. kan aku udah bilang ga akan kenapa-
napa, lagian kan jemput doang Dar”
“Ya siapa tau, kan aku ga pernah dijemput cowo”
“Nyenyenyenye” Zen mengejekku
Jarak rumahku ke sekolah hanya berselang lima menit. Yap.
Kita tinggal di desa yang sama, sekolah di SMA yang sama, di
kelas yang sama pula. Zen memarkir motor astrea
kesayangannya di parkiran sebelah kiri gerbang sekolah.
Apesnya pak Rijon tiba-tiba lewat tak lama setelah kami parkir
disana.
“Loh mbak Dara, kok sama mas Zen? Oh gitu ya.. oh gitu, ya ya
ya.”
“Ga ada apa-apa pak, barengan aja soalnya rumah kita deketan”
jawabku
“Kalo ada apa-apa juga gapapa kok mbak, biasalah anak muda”
ucap pak Rijon, beliau pun bergegas menuju ruang guru.
Pak Rijon memang sudah tau kalau kami bukan sekedar
berteman biasa, meskipun terkenal killer dengan rumus
aljabarnya, hal itu tidak menghalanginya untuk meromantisasi
perjalanan cinta monyet anak-anak muridnya, karena sejatinya
perasaan cinta itu sesuatu yang wajar, hanya saja beliau selalu
menekankan bahwa kewajiban kami ialah belajar, adapun
6
teman dekat anggap saja sebagai motivasi untuk belajar dan
bertumbuh bersama.
“Dar, pagi ini udah dua loh lampu ijonya”
“Apaan sih gajelas” sengaja kujawab dengan ketus, salah satu
coping mechanismku saat salah tingkah.
“Ayo buruan, ntar telat” sambungku.
“Kalo salting mah salting aja kali, pipinya udah merah gitu kok”
“Dih, kepedean” Aku buru-buru meninggalkan Zen dengan hati
yang berbunga-bunga.
Aku dan Zen sudah kenal sejak lama, sepertinya aku mulai
menyukainya sejak kami SD, laki-laki paling tampan diantara
teman-temanku yang lainnya. Laki-laki berkulit putih, hidung
mancung, alis yang tebal, dan tentunya laki-laki dengan
senyuman yang sangat manis. Hingga SMP laki-laki ini masih
menarik perhatianku, hanya saja saat itu Zen sepertinya tidak
tertarik dengan perempuan cengengesan sepertiku. Baru
beberapa bulan ini Zen tiba-tiba penasaran dan tertarik
denganku. Entah karena penampilanku yang semakin feminim
atau alasan lainnya yang tidak kuketahui, yang jelas aku senang
karena akhirnya bisa lebih dekat dengannya.
Hari-hariku terasa sangat bahagia, tak terasa tibalah di tahun
kedua, aku memang terkenal aktif dan ambisius, aku selalu
mengejar nilai tertinggi, predikat juara umum, dan prestasi-
prestasi lainnya. Semakin hari aku semakin fokus belajar hingga
tak terasa hubunganku dengan Zen mulai renggang. Jujur saja
aku tidak mau menyia-nyiakan waktu belajarku untuk kegiatan
yang tidak penting. Seperti anak laki-laki pada umumnya, Zen
bukan tipe siswa yang rajin. Dia tidak terlalu peduli dengan
pelajaran bahkan nilai-nilainya menurun drastis. Kami masih di
kelas yang sama, dan kami masih sering belajar bersama. Zen
hanya rajin ketika sedang belajar bersamaku. Dasar modus.
Setelah memasuki tahun ketiga aku mulai protes kepada Zen
tentang hasil belajarnya.
“Kamu kenapasih Zen?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa apanya? Kamu sadar ga nilai kamu anjlok semua?
Sering ikut-ikutan bolos. Kemaren kamu ikut ngerokok kan
sama anak-anak? Mau kamu apa sih Zen?”
7
“Udahlah Dar, aku ga ngapa-ngapain kok, aku emang ga pinter,
jadi wajar kalo nilaiku jelek, soal ngerokok jujur emang iya,
wajar ga sih Dar? Namanya juga anak cowo”
“Zen yang aku kenal ga kaya gini!”
“Ayolah Dar, kamu ga cape apa marah-marah mulu? Sadar ga
kamu juga udah berubah? Kamu ga pernah ada waktu buat
sekedar ngobrol sama aku Dar. Sekarang tiba-tiba kamu protes
kenapa aku jadi kaya gini”
“Denger ya, aku sibuk belajar bukan sibuk nakal kaya kamu!
Kamu mikir masa depan ga sih? Kita udah mau lulus, sebentar
lagi mau kuliah, kamu mikir ga?”
“Hahaha masa depan? Gaada masa depan Dar, aku aja gatau
nanti arahnya kemana. Kamu enak Dar, orang tua kamu mampu
biayain kuliah kamu setelah lulus nanti. Sedangkan aku? Aku
udah gapunya ayah Dar, ibuku cuma karyawan swasta, ga
mungkin aku bisa kuliah, makanya aku gamau belajar karna
percuma. Mending aku mikir nanti kerja apa, supaya ibuku ga
cape lagi kerja tiap hari buat menuhin kebutuhan aku, aku ga
seburuk yang kamu kira Dar. Aku juga pengen punya masa
depan, tapi takdir kita ga sama Dar. Salah besar kalo kamu
bilang aku ga mikir masa depan. Semuanya aku pikirin Dar,
kami ga tau itu kan?”
…
Aku terdiam. Mata Zen berkaca-kaca, jelas sekali dia sedang
menahan tangis. Aku tatap mata indah itu dalam-dalam,
ternyata aku terlalu jauh menghakimi Zen tanpa tau luka apa
yang selama ini ia rasakan. Aku hanya tau Zen hanyalah anak
baik yang tiba-tiba menjadi nakal, tanpa tau bahwa lukanya lah
yang membuat anak baik itu menjadi tidak terarah.
“Zen, maafin aku”
“Dara.. dengar aku ya Dar, aku sayang sama kamu, aku bakal
berjuang buat hidupku juga hidupmu, tapi pelan-pelan ya Dar,
temenin aku ya Dar, kamu jangan tinggalin aku ya Dar”
…
“Zen, kasih aku waktu ya, please.. jangan ganggu aku dulu ya”
“Take your time Dar, maafin aku ya sayang, kita ngobrol lagi
kalo kamu udah tenang”
“Ya”
Akupun pergi meninggalkan perdebatanku dengannya dengan
hati yang tak karuan. Marah, sedih, kecewa semuanya menjadi
satu.
8
Hari demi hari, kami harus menikmati suasana canggung ketika
sedang belajar di kelas. Pak Rijon yang selalu mengejek kami
dengan panggilan ayah bunda tampaknya mulai menyadari
suasana canggung ini.
“Ayah Zen.. tumben ga deket-deket sama bunda. Lagi marahan
ya?”
Aku hanya tersenyum
“Haduh, gimana sih ayah bunda ini, nanti anak-anaknya broken
home loh”
Sejujurnya aku sangat kesal karena candaan beliau selalu
seperti itu, panggilan ayah bunda, perintah duduk berdua, dan
banyak lagi akal-akalan beliau untuk menjadikan kami bahan
tertawaan anak-anak kelas. Memang niatnya hanya bercanda,
tetapi mengingat hubungan kami sedang tidak baik-baik saja,
candaan kali ini rasanya begitu memuakkan.
Sepulang sekolah aku melihat Zen sedang duduk di atas motor
kesayangannya. Seperti sedang menunggu seseorang, Zen
tampak muram dan tidak bersemangat. Tak berselang lama,
teman-temannya datang menghampiri dan tiba-tiba
menyelipkan beberapa batang rokok di kantong celana Zen.
“Haha, emang ga pantes buat dipertahanin” ucapku lirih. Aku
urungkan niatku untuk menemuinya hari ini, lalu pulang dengan
penuh kekesalan. Sesampainya di rumah aku segera mengganti
pakaian dan duduk di depan meja riasku. Layaknya seorang
aktris, aku mulai bermain peran seolah Zen sedang berada di
depanku.
“Zen.. Zen, kamu kira cerita sedihmu bisa bikin aku luluh?
Nakal mah nakal aja ga usah jual cerita sedih. Aku punya masa
depan dan aku gamau menanggung masa depan orang lain
dengan hal-hal yang ga pasti. Maaf ya Zen, masa depanku lebih
berharga. Kalo kamu masih mau nakal silahkan lakuin sepuas-
puasnya.”
“Hmm, jahat ga sih kalo ngomong kaya gitu. Ulang deh ulang..”
9
*suara dering ponsel*
(Panggilan dari sayangku)
“Halo”
“Ya”
“Dara.. maaf aku tiba-tiba telpon kamu, jangan diemin aku
lama-lama dong Dar”
“Hmm iya”
“Are u okay Dar?”
“Kenapa Zen? To the point aja”
“Gapapa Dar, aku cuma kangen”
“Kayanya aku gabisa Zen”
“Maksudnya Dar? Gabisa kenapa?”
“Hmm”
“Dara? Gabisa kenapa sayang?”
“Aku gabisa lanjutin hubungan ini”
…
Zen terdiam
“Aku ga bisa Zen, kita udah terlalu jauh. Impian kita udah ga
sama”
“Terlalu jauh gimana Dar? Aku bikin salah lagi? Engga kan.. aku
ga ngapa-ngapain loh Dar”
“Ga usah pura-pura gatau Zen, kamu masih ikut anak-anak
ngeroko kan? Maksudku gini loh Zen, aku kan udah bilang, aku
gasuka kalo kamu kaya gitu, aku juga mau punya pasangan
yang sejalan sama aku”
“Yaampun Dar, aku ga kaya gitu sayang, aku cuma..”
“Udah ya Zen, aku mau kita selesai baik-baik, aku ga benci
sama kamu, aku cuma mau sendiri dulu”
“Segabisa itu kah Dar? aku ga main-main loh sama kamu. Aku
masih mau perjuangin kamu Dar, nanti kalo kamu kuliah, aku
bakal kerja dan nabung supaya kita bisa hidup sama-sama Dar”
“Zen denger aku ya, untuk saat ini aku gabisa. Aku percaya
jodoh itu di tangan Tuhan. Kalo kita memang berjodoh nanti
pasti dipertemukan lagi diwaktu yang tepat. Jangan terlalu
dipaksa Zen, sekarang kita fokus ke diri masing-masing dulu”
“Kalo bisa sama-sama kenapa harus masing-masing Dar?”
“Maaf ya”
“Dara?”
…
10
“Yasudah Dar kalo memang itu yang kamu mau, aku terima
semua keputusan kamu. Satu hal yang harus kamu tau, aku ga
akan pernah berubah, aku buktiin bahwa aku ga main-main
sama kamu, Dara. Semoga aku bisa menggenggam tangan
kamu disaat aku udah sukses, doain aku ya Dar. Oh iya makasih
ya Dar, semoga semua impianmu segera tercapai, dan semoga
ada aku di dalam impianmu itu. Maaf kalo aku belum bisa bikin
kamu bahagia Dar. Bahagia selalu ya Daraku”
Zen langsung mematikan telepon.
Tak terasa air mata mulai berselancar dipipiku, perpisahan
memang begitu menyakitkan, meskipun memang itu yang kita
inginkan. Zayn memang tidak pernah berubah, bahkan disaat
seperti ini. Meski dikenal nakal dan sering berulah, Zayn selalu
memperlakukanku dengan baik, selalu. Namun hidup ini bukan
hanya tentang cinta, aku sadar masih terlalu dini untuk
bersedih karena percintaan. Aku harus belajar, aku harus fokus
dengan impian-impianku. Lagipula Zayn bukan lagi sosok
pasangan yang aku impikan.
Hari demi hari aku jalani dengan hati yang dipenuhi rasa
bersalah. aku selalu berdoa agar keputusan yang ku ambil
merupakan keputusan yang tepat. Aku hanya menyibukkan diri
dengan belajar agar aku bisa masuk ke PTN impianku, semoga
segala sesuatunya segera berangsur pulih, termasuk luka yang
dialami Zen. Ya, aku selalu melangitkan doa-doa baik untuknya.
Aku semakin sibuk dengan soal-soal SBMPTN tahun lalu, aku
sudah menentukan Universitas mana yang akan menjadi
tempatku belajar dan bertumbuh menjadi Dara yang ku
impikan, Universitas Indonesia. Bukan hal yang mudah untuk
menentukan pilihan semacam ini, puluhan kali aku mengulangi
istikharahku yang penuh kantuk, barulah hatiku yakin dengan
kampus pilihanku ini.
Tiga bulan berlalu, hari ini adalah hari penentuan. Setelah
gagal di perankingan SNMPTN aku hanya berharap pada tes
tertulis ini, aku harus masuk ke kampus impianku dengan kerja
11
kerasku sendiri. Aku sudah sampai di lokasi ujian, tentunya
diantar oleh ibu dan ayah.
“Bu, doain kakak ya.. Yah, doain kakak juga”
“Iya sayang, ibu selalu doain kakak, jangan lupa berdoa, fokus,
jangan terburu-buru”
Ibuku memang selalu menjadi obat penenang ketika wajahku
tidak lagi dialiri darah alias pucat karena cemas
“Semangat tuan putri, ayah percaya kakak pasti bisa, apalah
cuma ngisi soal gitu aja kok, kakak kan jago”
Hmm ayahku memang selalu positif thinking, entah itu betul-
betul positif atau tidak, yang jelas ayah selalu menjadi sumber
api semangatku
“Okeee, nanti kalo udah selesai kakak telpon ya”
Aku bergegas keluar dari mobil dengan perasaan yang tak
karuan, cemas, takut, dan gugup datang secara bersamaan.
Sambil berdzikir semampuku, aku terus melangkah menuju
gedung ujianku. “Bismillah”
12