Anda di halaman 1dari 31

STANDAR

PERENCANAAN
KEBUTUHAN OBAT
DI UPT
2018
PEMASYARAKATAN

DIREKTORAT JENDERAL PEMASYARAKATAN


KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM R.I.
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMASYARAKATAN


KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR PAS-01.OT.02.02 TAHUN 2019

TENTANG
STANDAR PERENCANAAN KEBUTUHAN OBAT DI UPT
PEMASYARAKATAN

DIREKTUR JENDERAL PEMASYARAKATAN KEMENTERIAN


HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA

Menimbang : a. bahwa perawatan kesehatan dasar bagi Tahanan dan Warga Binaan
Pemasyarakatan (WBP) adalah bagian dari penyelenggaraan sistem
pemasyarakatan dalam rangka pemenuhan hak Tahanan dan WBP sebagai
warga negara;
b. bahwa perlu acuan perencanaan kebutuhan obat-obatan dan bahan medis
habis dalam penyelenggaraan pelayanan dasar dan perawatan kesehatan di
UPT Pemasyarakatan;
c. bahwa perlu acuan penyusunan perencanaan anggaran obat-obatan dan
bahan medis habis pakai yang lebih baik, terarah dan sesuai dengan
kebutuhan.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 tentang


Pemasyarakatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995
Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3641);
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886);
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
144, (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5256);
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan;
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1999 tentang
Syarat-Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan
Pemasyarakatan;
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1999 tentang
Kerjasama Penyelenggaraan Pembinaan dan Pembimbingan Warga
Binaan Pemasyarakatan;
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1999 tentang
Syarat-Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Wewenang, Tugas dan
Tanggung Jawab Perawatan Tahanan;
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang
Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan;
9. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan Barang /
Jasa;
10. Keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor PAS-32.PK.07.01
Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Dasar Perawatan Kesehatan di
Lapas, Rutan, Bapas, LPKA dan LPAS.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMASYARAKATAN


KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK
INDONESIA TENTANG STANDAR PERENCANAAN KEBUTUHAN
OBAT DI UPT PEMASYARAKATAN
KESATU : Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan dilaksanakan
oleh Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan dalam rangka melakukan
pelayanan kesehatan bagi Tahanan dan WBP sesuai standar yang ditetapkan.
KEDUA : Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan sebagaimana
disebut dalam DIKTUM KESATU disusun dengan sistematika sebagai
berikut:
1. Latar Belakang
2. Norma dan Dasar Hukum
3. Definisi Global dan Detail Standar
4. Maksud dan Tujuan
5. Kebutuhan Sumber Daya Manusia
6. Kebutuhan Sarana dan Prasarana
7. Sistem Mekanisme dan Prosedur
7.1 Sistem Perhitungan Perencanaan Kebutuhan Obat dan Bahan Medis
Habis Pakai di UPT Pemasyarakatan
7.2 Mekanisme dan Prosedur Perhitungan Perencanaan Kebutuhan Obat
dan Bahan Medis Habis Pakai di UPT Pemasyarakatan
8. Jangka Waktu Penyelesaian
9. Kebutuhan Biaya
10. Monitoring dan Evaluasi
10.1 Intrumen Penilaian Kinerja
11. Penutup
Lampiran
KETIGA : Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan sebagaimana
terlampir merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keputusan ini.
KEEMPAT : Keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan dan apabila ada perubahan maka dilakukan perbaikan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 29 Januari 2019

Jabatan Paraf Tanggal


DIREKTUR JENDERAL PEMASYARAKATAN,

Konseptor
Kasubdit
Watkesdaslusi

Dir. Watkesrehab SRI PUGUH BUDI UTAMI


NIP 19620702 198703 2 001
KATA SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAL PEMASYARAKATAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA R.I.

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan izin-Nya,
maka Buku Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan dapat terbit dalam
rangka peningkatan pelayanan kesehatan secara umum.
Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan juga sebagai bentuk
upaya tindak lanjut dari pemenuhan hak Tahanan dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP)
yang diatur dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan
yang menyebutkan bahwa “ Setiap Tahanan dan WBP berhak mendapatkan Pelayanan
Kesehatan dan Makanan yang layak”. Penyelenggaraan kesehatan di UPT Pemasyarakatan
perlu diselenggarakan secara terencana dan terarah sehingga pelayanan kesehatan bagi
Tahanan dan WBP dapat berjalan optimal sesuai dengan kebutuhan.
Standar ini juga diharapkan UPT Pemasyarakatan dapat memenuhi kebutuhan
pelayanan pengobatan bagi Tahanan dan WBP yang sakit sehingga semua kasus-kasus
penyakit ditangani dengan baik. Oleh sebab itu Tahanan dan WBP bisa menjalani masa
penahanan dan pembinaan dalam keadaan sehat.
Dengan terbitnya standar ini, saya atas nama pribadi dan institusi menyampaikan terima
kasih kepada tim penyusun yang telah berusaha tanpa pamrih meluangkan waktu, tenaga dan
pikiran hingga akhirnya lahirlah “Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT
Pemasyarakatan”.
Semoga Allah SWT memberkahi segala usaha kita, aamiin.

Jabatan Paraf Tanggal

Konseptor Ditetapkan di Jakarta


pada tanggal 29 Januari 2019
Kasubdit
Watkesdaslusi
Direktur Jenderal Pemasyarakatan,

Dir. Watkesrehab

Sri Puguh Budi Utami


NIP 196207021987032001

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena atas nikmat dan
rahmatNya, sehingga Buku Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan ini
dapat selesai disusun.
Buku Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan ini disusun
dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan bagi Tahanan dan Warga Binaan
Pemasyarakatan (WBP), dimana diharapkan dapat menjadi acuan dalam perencanaan
kebutuhan obat-obatan dan bahan medis habis pakai. Sehingga hak-hak Tahanan dan WBP
dalam mendapatkan pelayanan dan perawatan kesehatan dapat terpenuhi.
Dalam standar ini dimuat tata cara bagaimana merencanakan kebutuhan obat-obatan
dan bahan medis habis pakai yang perlu disediakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan
(fasyankes) di UPT Pemasyarakatan. Mulai dari perkiraan penyakit dan jumlah kasus hingga
menghitung kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai berikut biayanya. Hal ini dipandang
perlu untuk memandu petugas kesehatan di UPT Pemasyarakatan dalam menyusun
perencanaan pembiayaan terkait kebutuhan obat-obatan dan bahan medis habis pakai.
Diharapkan dengan buku standar ini UPT Pemasyarakatan dapat menyusun
perencanaan kebutuhan obat-obatan dan bahan medis habis pakai yang lebih baik, terarah dan
sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya diharapkan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan
HAM, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan hingga Kementerian Hukum dan HAM Republik
Indonesia bisa mendapat gambaran kebutuhan obat-obatan dan bahan medis habis pakai di
UPT Pemasyarakatan Indonesia guna dapat menyusun perencanaan anggaran kesehatan
sesuai dengan kebutuhan.

Jakarta, 31 Desember 2018


Direktur Perawatan Kesehatan dan Rehabilitasi

A. Yuspahruddin
NIP 19630528 198503 1 001

ii
TIM PENYUSUN
STANDAR PERENCANAAN KEBUTUHAN OBAT DI UPT PEMASYARAKATAN

PENANGGUNG JAWAB
A. Yuspahruddin (Direktur Perawatan Kesehatan dan Rehabilitasi)

TIM PENYUSUN
1. Heri Azhari
2. Heru Prasetyo
3. Tri Winarsih
4. dr. Yusman Akbar Turatea
5. dr. Handoyo Yunian Ariarso
6. dr Astia Murni
7. Tri Puji Rahayu
8. Norma Sultan
9. Surantoro
10. Mutia Sari
11. Tety Hafrida
12. Dian Marharaeni
13. Imelda Puspitasari
14. Junaedi

NARASUMBER/KONTRIBUTOR
1. dr. Erna Oktavia (Kemenkes RI)
2. Martin Sirait (Kemenkes RI)
3. Ahadi Wahyu Hidayat (Kemenkes RI)
4. dr. Nurlan Silitonga (Yayasan Angsamerah)
5. Ali Arianoval (Center for Detention Studies)

EDITOR
1. Mutia Sari
2. Imelda Puspitasari

iii
DAFTAR ISI

Kata Sambutan………………………………………………………………………... i
Kata Pengantar ............................................................................................................... ii
Daftar Tim Penyusun, Narasumber/Kontibutor, Editor ................................................. iii
Daftar Isi......................................................................................................................... 1
1. Latar Belakang .................................................................................................. 2
2. Norma dan Dasar Hukum .................................................................................. 3
3. Definisi Global Dan Detail Standar ................................................................... 3
4. Maksud Dan Tujuan .......................................................................................... 4
5. Kebutuhan Sumber daya Manusia ...................................................................... 5
6. Kebutuhan Sarana dan Prasarana ....................................................................... 6
7. Sistem Mekanisme dan Prosedur ....................................................................... 6
7.1 Sistem Perhitungan Perencanaan Kebutuhan Obat dan Bahan
Medis Habis Pakai di UPT Pemasyarakatan …………………………….. 6
7.2 Mekanisme dan Prosedur Perhitungan Perencanaan Kebutuhan Obat
dan Bahan Medis Habis Pakai di UPT Pemasyarakatan ………………… 7
8. Jangka Waktu Penyelesaian ............................................................................... 13
9. Kebutuhan Biaya ................................................................................................ 14
10. Monitoring dan Evaluasi .................................................................................... 14
10.1 Intrumen Penilaian Kinerja ........................................................................ 15
11. Penutup ............................................................................................................... 18
Lampiran

1
1. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan
yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Oleh karena itu,
pemerintah wajib melakukan upaya kesehatan bagi semua warga negara tanpa
memandang status maupun tempat dimana ia berada seperti Tahanan dan Warga
Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang memiliki kebebasan terbatas. Walaupun
kebebasan mereka terbatas namun hak mereka untuk memperoleh kesehatan tetap
harus diberikan tanpa batasan. Hal ini juga diatur dalam pasal 14 Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yang menyebutkan bahwa “Setiap
Tahanan dan WBP berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang
layak” Untuk itu pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan harus
memperhatikan dan memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada Tahanan
dan WBP .
Seperti yang disebutkan dalam Standard Minimum Rules for Prisoners
(Mandela Rules), Narapidana harus mendapatkan standar pelayanan kesehatan
yang setara dengan yang tersedia di masyarakat, dan memiliki akses ke layanan
perawatan kesehatan yang diperlukan tanpa memandang status mereka. Untuk itu,
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan di dalam Fasilitas
Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) UPT Pemasyarakatan adalah memberikan
pelayanan kesehatan dasar kepada Tahanan dan WBP. Sehubungan dengan
perawatan dan pelayanan kesehatan bagi Tahanan dan WBP, maka dikeluarkan
keputusan bersama antara Direktur Jenderal Pemasyarakatan Departemen
Kehakiman dan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen
Kesehatan pada tahun 1989 tentang Juklak dan Juknis Pembinaan Upaya Kesehatan
Masyarakat. Selanjutnya, pada tanggal 31 Oktober 1991 telah disusun Petunjuk
Teknis Peranan Profesi Kesehatan dalam Perawatan dan Pembinaan Tahanan dan
WBP dalam Rangka Proses Penegakan Hukum. Berdasarkan Juklak dan Juknis
tersebut, maka di UPT Pemasyarakatan mempunyai fasilitas pelayanan kesehatan
dasar sesuai dengan kapasitas UPT Pemasyarakatan itu sendiri. Fasilitas ini
memberikan pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Berkaitan
dengan pelayanan yang diberikan terhadap para Tahanan dan WBP, maka dokter
dan petugas kesehatan yang bertugas di fasilitas tersebut melakukan pemeriksaan
kesehatan, penyuluhan kesehatan, penerbitan surat keterangan kematian,
pembinaan tenaga, monitoring dan evaluasi serta pencatatan dan pelaporan, juga
melakukan rujukan medik ke Rumah Sakit bila diperlukan.
Saat ini Direktorat Jenderal Pemasyarakatan telah memiliki Standar
Pelayanan Dasar Perawatan Kesehatan di Lapas, Rutan, Bapas, LPKA dan LPAS
yang dikeluarkan pada tahun 2015. Dalam buku standar tersebut dijelaskan
kebutuhan yang diperlukan oleh UPT Pemasyarakatan dalam rangka
penyelenggaraan pelayanan dasar dan perawatan kesehatan terkait mulai dari
sarana dan prasarana hingga sumber daya manusia. Namun sehubungan
diperlukannya acuan perencanaan anggaran kebutuhan obat-obatan dalam rangka
penyelenggaraan pelayanan dasar dan perawatan kesehatan di UPT
Pemasyarakatan maka perlu disusun suatu standar perencanaan kebutuhan obat di
UPT pemasyarakatan.
Diharapkan dengan buku standar ini UPT Pemasyarakatan dapat menyusun
perencanaan obat-obatan dan bahan medis habis pakai yang lebih baik, terarah dan
sesuai dengan kebutuhan. Oleh sebab itu diharapkan Kantor Wilayah Kementerian
Hukum dan HAM, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan hingga Kementerian
Hukum dan HAM Republik Indonesia mendapat gambaran kebutuhan obat dan

2
bahan medis habis pakai di UPT Pemasyarakatan sehingga bisa menyusun
perencanaan anggaran kesehatan sesuai dengan kebutuhan.

2. Norma dan Dasar Hukum


Adapun norma dan dasar hukum yang mendasari buku Standar Perawatan
Kesehatan Dasar di UPT Pemasyarakatan ini adalah :
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor
77, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3641);
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886);
c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,
(Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5256);
d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan;
e. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1999 tentang
Syarat-Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan
Pemasyarakatan;
f. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1999 tentang
Kerjasama Penyelenggaraan Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan
Pemasyarakatan;
g. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1999 tentang
Syarat-Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Wewenang, Tugas dan Tanggung
Jawab Perawatan Tahanan;
h. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat
dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan;
i. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan Barang / Jasa;
j. Keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor PAS-32.PK.07.01
Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Dasar Perawatan Kesehatan di Lapas,
Rutan, Bapas, LPKA dan LPAS.

3. Defisini Global dan Detail Standar


1. Standar adalah ketentuan atau karakteristik teknis tentang suatu kegiatan
atau hasil kegiatan yang dirumuskan dan disepakati bersama oleh pihak-pihak
yang berkepentingan sebagai acuan baku bagi kegiatan dan transaksi yang
mereka lakukan1.
2. Perawatan Kesehatan adalah sebuah proses yang berhubungan dengan
pencegahan, perawatan, dan menajemen penyakit dan juga proses stabilisasi
mental, fisik dan rohani melalui pelayanan yang ditawarkan oleh organisasi,
institusi dan unit professional kedokteran2.
3. Layanan Kesehatan Dasar (Primary Health Care) adalah pelayanan tingkat
pertama yang ditujukan untuk pelayanan kesehatan meliputi promotif,

1
Badan Standarisasi Nasional, 2000
2
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Perawatan_kesehatan

3
preventif, kuratif dan rehabilitatif.
4. Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan yang dilakukan secara terpadu,
terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat.
5. Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) adalah suatu alat dan/atau
tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan,
baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilaksanakan oleh
pemerintah, pemda dan/atau masyarakat.
6. Tahanan adalah adalah tersangka atau terdakwa yang ditempatkan di Rumah
Tahanan Negara (Rutan) untuk kepentingan penyidikan, penuntutan dan
pemeriksaan di sidang pengadilan.
7. WBP adalah warga binaan pemasyarakatan yang meliputi narapidana, anak
didik pemasyarakatan dan (dalam hal ini kecuali) klien pemasyarakatan.
8. UPT Pemasyarakatan adalah Unit Pelaksana Teknis pada Pemasyarakatan
(dalam hal ini yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan yaitu Rutan,
Lapas dan LPKA).
9. Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian
kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit,
pengurangan penderitaan akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau
pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal
mungkin.
10. Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi
untuk manusia.
11. Bahan Medis Habis Pakai adalah alat kesehatan yang ditujukan untuk
penggunaan sekali pakai (single use) yang daftar produknya diatur
dalam peraturan perundang-undangan.
12. Metode Konsumsi perhitungan kebutuhan obat berdasarkan analisa data
pemakaian obat tahun sebelumnya3
13. Metode Morbiditas perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit,
perkiraan kenaikan kunjungan, stok pengaman dan waktu tunggu 4

4. Maksud dan Tujuan


4. 1 Maksud
Sebagai Standar bagi UPT Pemasyarakatan khususnya serta pemangku
kepentingan di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dan Kementerian Hukum dan
HAM RI baik pusat ataupun Kantor Wilayah umumnya dalam menyusun
perencanaan kebutuhan obat dan biayanya di UPT Pemasyarakatan.

4.2 Tujuan
1. Adanya standar sebagai acuan dalam perencanaan kebutuhan obat di UPT
pemasyarakatan.
2. Terpenuhinya hak-hak Tahanan dan WBP dalam mendapatkan kebutuhan
obat-obatan dan bahan medis habis pakai.

3
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas &
rafikangker.blogspot.com/2015/10/perhitungan-kebutuhan-obat.html
4
sda

4
5. Kebutuhan Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibutuhkan dalam perencanaan
kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan penjelasan dalam tabel
berikut. Apabila UPT Pemasyarakatan belum memiliki SDM sesuai standar maka
dapat dilakukan kerjasama dengan pihak luar untuk tenaga SDM tersebut.

Tabel 1 Kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM)


Kompetensi Pelaksana
Jumlah Objek
No Kegiatan
Pelaksana Pelaksanaan Pendidikan Pelatihan
1 Pengumpulan 1 - Terkumpul - Diploma III Perencanaan
data penyakit orang data penyakit Keperawatan Kebutuhan
dari rekapitulasi berikut jumlah Obat di UPT
klasifikasi kunjungannya Pemasyaraka
penyakit selama tan
1 tahun
2 Identifikasi 1 - Teridentifikasi - Dokter /
kebutuhan obat orang data obat - Apoteker
dan bahan
medis habis
pakai sesuai
klasifikasi
penyakit
3 Menghitung 1 - Teridentifikasi - Dokter /
jumlah orang kebutuhan - Apoteker
kebutuhan obat obat dan biaya
dan bahan per tahun
medis habis
pakai beserta
biaya per tahun

4 Melaporkan 1 - Laporan
kebutuhan orang kebutuhan
kepada atasan obat dan biaya
langsung diterima oleh
atasan

6. Kebutuhan Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasana yang dibutuhkan adalah peralatan dan perlengkapan
yang menunjang kegiatan dalam perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis
habis pakai. Adapun sarana dan prasarana tersebut dalam tabel berikut:

5
Tabel 2 Kebutuhan Sarana Dan Prasarana
No
Kegiatan Sarana dan prasarana Jumlah Keterangan

1. Pengumpulan data - Buku register - 2 buah per1 Kebutuhan


penyakit dari kunjungan pasien tahun komputer dan
rekapitulasi - Set Komputer ATK sudah
klasifikasi - ATK - 1 set per 3 termasuk
penyakit selama 1 tahun sarana kantor.
tahun Set komputer
2. Identifikasi - Dokumen Permenkes - 1 dokumen hanya 1 unit
kebutuhan obat Nomor 5 Tahun Permenkes saja untuk
dan bahan medis 2014 tentang Nomor 53 seluruh
habis pakai sesuai Panduan Praktis Tahun 2014 aktifitas
klasifikasi Klinis bagi Dokter di / 1 tahun
penyakit Fasilitas Pelayanan
3. Menghitung Kesehatan Primer
jumlah kebutuhan - Stok Opname
obat dan bahan (laporan mutasi obat) - Stok
medis habis pakai - Dokumen Opname
beserta biaya per Kepmenkes Nomor (laporan
tahun 312/MENKES/SK/IX/ mutasi obat)
2013 tentang Daftar per 1 tahun
Obat Esensial
Nasional 2013 - 1 set per 3
- Set Komputer tahun
- ATK
4. Melaporkan - Set Komputer - 1 set per 3
kebutuhan kepada - ATK tahun
atasan langsung

7. Sistem Mekanisme dan Prosedur


7.1 Sistem Perhitungan Perencanaan Kebutuhan Obat dan Bahan Medis
Habis Pakai

Sistem perhitungan perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis


pakai menggunakan 2 metode yakni metode Konsumsi dan Morbiditas5.
Metode morbiditas (pola penyakit) merupakan metode perhitungan
kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit, perkiraan kenaikan kunjungan, stok
pengaman dan waktu tunggu. Langkah-langkahnya adalah:
a) Menentukan jumlah penghuni yang dilayani
b) Menentukan jumlah kunjungan kasus berdasarkan frekuensi penyakit
c) Menyediakan standar/pedoman pengobatan yang digunakan
d) Menghitung perkiraan kebutuhan obat
e) Penyesuaian dengan alokasi dana yang tersedia

5
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas

6
Data yang perlu dipersiapkan untuk perhitungan metode morbiditas
yaitu:
a) Data jumlah penghuni.
b) Data untuk menetapkan pola morbiditas penyakit dengan menghitung
frekuensi kejadian masing-masing penyakit per tahun untuk seluruh
penghuni.
c) Data untuk menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi gunakan pedoman
pengobatan untuk menentukan jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama
pemberian obat untuk setiap penyakit/kasus

Selanjutnya, metode konsumsi adalah menentukan kebutuhan dengan


memperhatikan pola konsumsi dimana perhitungan berdasarkan analisa data
pemakaian obat tahun sebelumnya dengan memperhatikan hal berikut:
a) Pengumpulan dan pengolahan data
b) Analisa data untuk informasi dan evaluasi
c) Perhitungan perkiraan perkiraan kebutuhan obat
d) Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana

Jenis data yang diperlukan untuk metode konsumsi adalah:


a) Alokasi dana
b) Daftar obat
c) Stok awal
d) Penerimaan
e) Pengeluaran
f) Sisa Stok
g) Obat hilang/rusak, kadaluarsa
h) Kekosongan obat
i) Pemakaian rata-rata (pergerakan obat pertahun)
j) Lead time
k) Stok pengamanan/penyangga
l) Perkembangan pola kunjungan

Perhitungan menggunakan metode konsumsi lebih cepat dibandingkan


dengan menggunakan metode morbiditas. Namun perhitungan dengan metode
morbiditas lebih mendekati kepada kebutuhan. Akan lebih baik bila
perhitungan yang dipakai menggunakan keduanya untuk saling melengkapi,
misalnya untuk merencanakan kebutuhan bahan medis habis pakai lebih mudah
memperkirakannya dengan menggunakan metode konsumsi.

7.2 Mekanisme dan Prosedur Penghitungan Perencanaan Kebutuhan Obat


dan Bahan Medis Habis Pakai di UPT Pemasyarakatan

Dalam menghitung perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis


pakai di UPT Pemasyarakatan ada beberapa langkah yang dilakukan, yaitu:
a. Pengumpulan data dari rekapitulasi klasifikasi penyakit selama 1
tahun
Pengumpulan data rekapitulasi klasifikasi penyakit adalah langkah
awal dalam merencanakan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai di
UPT Pemasyarakatan. Dalam hal ini petugas pelaksana mengumpulkan data
penyakit pasien yang dilihat dari rekapitulasi klasifikasi penyakit di buku
register kunjungan yang datang ke fasyankes UPT Pemasyarakatan untuk
berobat selama kurun waktu 1 (satu) tahun. Setelah data dikumpulkan,

7
petugas pelaksana mengidentifikasi jenis penyakit yang ditemukan
termasuk jumlah kunjungan.
Pada saat kita berbicara tentang tren penyakit yang ada di UPT
Pemasyarakatan di Indonesia tentunya masing-masing akan berbeda karena
situasi dan kondisi kesehatan serta epidemi di satu UPT Pemasyarakatan
akan berbeda dengan UPT Pemasyarakatan lainnya. Untuk itu dalam standar
ini akan ditampilkan contoh bagaimana suatu UPT Pemasyarakatan
menentukan klasifikasi penyakit sesuai dengan jumlah kunjungan kasus
berdasarkan frekuensi penyakit hingga bagaimana menentukan obat dan
bahan medis habis pakai yang digunakan serta biaya yang diperlukan.
Berikut contoh data klasifikasi penyakit dengan jumlah kunjungan
kasus berdasarkan frekuensi dalam suatu UPT selama 1 (satu) tahun sesuai
kasus penyakit dan kasus emergensi di UPT Pemasyarakatan.

Tabel 3 Klasifikasi Penyakit dan Jumlah Kunjungan


Jumlah Kunjungan
No Penyakit
Tahun 2018
1. ISPA 1.210
2. Gastritis 360
3. Skabies 900
4. Konjunctivitis 50
5. Hipertensi 40
6. DM 30
7. Gastroenteritis 125
8. Gigi dan Penyakit Mulut 150
9. Artritis 160
10. Otitis 20

Tabel 4 Klasifikasi Kasus Emergensi dan Jumlah Kunjungan


Jumlah Kunjungan
No Kasus Emergensi
Tahun 2018
1 Stroke 10
2 Sesak nafas 30
3 Angina Pektoris 40
4 Luka bakar 2
5 Luka Terbuka (luka tusuk/sayat) 30
6 Kejang 3
7 Colik Abdomen 30
8 Syok 10
9 Hipertensi emergensi dan urgensi 30
10 Gaduh gelisah 3

b. Identifkasi kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai sesuai jenis
penyakit
Dari daftar jenis penyakit dan jumlah kunjungan yang tersusun
selanjutnya ditentukan obat dan bahan medis habis pakai apa saja yang
dibutuhkan dalam perawatan dan pengobatan penyakit tersebut. Sesuaikan

8
penyakit dengan kebutuhan obat, nama obat, jumlah pemakaian dan jumlah
kunjungan dalam 1 tahun, seperti contoh berikut :

Tabel 5 Kebutuhan Obat 1 Tahun


Penyakit Nama obat Jumlah Obat x jumlah pemakaian x jumlah
kunjungan dalam 1 tahun = Kebutuhan
ISPA 3 tablet x 3 hari x 1.210 kunjungan = 10.890
Paracetamol 500 mg
tablet
3 tablet x 3 hari x 1.210 kunjungan = 10.890
Ambroxol tablet 30 mg
tablet
3 tablet x 3 hari x 1.210 kunjungan = 10.890
CTM
tablet
Gastritis Antasida 3 tablet x 3 hari x 360 kunjungan = 3.240 tablet
Ranitidin 150 mg 2 tablet x 3 hari x 360 kunjungan = 2.160 tablet
Skabies Salep – 24 1 tube x 900 kunjungan = 900 tube
CTM 3 tablet x 1 hari x 900 kunjungan = 2.700 tablet
Konjunctivitis Kloramfenikol tetes
1 botol x 50 kunjungan = 50 botol
mata
Hipertensi Captopril 25mg 2 tablet x 30 hari x 40 kunjungan = 2.400 tablet
Amlodipine 5 mg 1 tablet x 30 hari x 40 kunjungan = 1.200 tablet
DM Glibenklamid 5mg 2 tablet x 30 hari x 30 kunjungan = 1.800 tablet
Metformin 500mg 2 tablet x 30 hari x 30 kunjungan = 1.800tablet
Gastroenteritis Loperamid 2mg 3 tablet x 3 hari x 125 kunjungan = 1.125 tablet
Ciprofloksasin 500mg 2 tablet x 5 hari x 125 kunjungan = 1.250 tablet
Metronidazol 500mg 3 tablet x 7 hari x 125 kunjungan = 2.625 tablet
Artritis Na Diklofenak 3 tablet x 3 hari x 160 kunjungan = 1.440 tablet
Ibuprofen 3 tablet x 3 hari x 160 kunjungan = 1.440 tablet
Otitis Kloramfenikol tetes
1 botol x 20 kunjungan = 20 botol
Telinga
Sakit gigi Deksametason 0,5mg 3 tablet x 3 hari x 150 kunjungan = 1.350 tablet

Selain menentukan obat, tentukan juga perkiraan bahan medis pakai yang
dibutuhkan selama 1 tahun. Untuk melihat ini dapat dilihat konsumsi yang
dipakai tahun sebelumnya. Contoh sebagai berikut :

Tabel 6 Kebutuhan Bahan Medis Habis Pakai 1 Tahun


Bahan medis habis Pakai Kebutuhan Keterangan
3
Oksigen 80 m

Nacl 0,9 % 150 kolf

RL 100 kolf

Plain Catgut 3.0 (precut) 30 Pcs

Silk 3.0 (precut) 30 Pcs

Spuit 3 cc 350 Pcs


Infus Set 200 set
Masker 2.000 pcs
Hand Glove 4.000 box
Adrenalin Ampul 10 ampul

9
Lidokain Ampul 90 ampul
Betadine 7 liter
Kassa gulung 3 gulung besar
Plester 20 gulung
Diasepam injeksi 10 ampul
Bahan kedokteran gigi
d) GIC 1 botol
e) Eugenol 1botol
f) Chkm 1botol
g) Resit Komposit 1 botol

c. Menghitung biaya berdasarkan jumlah kebutuhan obat dan bahan


medis habis pakai per tahun
Setelah ditentukan nama dan jumlah kebutuhan obat dan bahan medis
habis pakai berdasarkan langkah diatas, selanjutnya petugas menghitung
biaya yang diperlukan. Jumlahkan total kebutuhan obat dan bahan medis
habis pakai untuk selanjutnya ditentukan biaya kebutuhannya dengan
melihat daftar harga obat sesuai dengan e-Catalog6 atau harga obat sesuai
pasaran setempat.
Dalam menghitung biaya kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai
perlu dilihat sisa stok obat serta jumlah stok penyangga/antisipasi kenaikan
kunjungan yang berkisar antara 5% – 20%. Kemudian, yang perlu
diperhatikan dalam menentukan persentase (%) tersebut adalah sifatnya
apakah termasuk yang sering digunakan (fast moving) atau tidak sering
(slow moving) guna memaksimalkan anggaran yang ada serta
memperhatikan kadaluarsa obat.
Berikut contoh cara menghitung biaya rencana kebutuhan obat dan
bahan medis habis pakai, baik dengan metode morbiditas maupun
konsumsi.

6
Permenkes Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pengadaan Obat Berdasarkan Katalog Elektronik (e-Catalogue)

10
Metode Morbiditas
Tabel 7 Biaya Rencana Kebutuhan Obat
Tahun 2018

NAMA OBAT, HARGA SISA KEBUTUHAN RENCANA RENCANA JUMLAH


NO BENTUK SEDIAAN, SATUAN SATUAN* STOK MORBIDITAS KEBUTUHAN PENGADAAN HARGA
KEKUATAN (RUPIAH)
1 2 3 4 5 6 7=(6-5)+(5%x6) 8 9=(8x4)
1. Paracetamol 500 mg tablet 200 500 10.890 10.934,5 10.940 2.188.000
2. Ambroxol tablet 30 mg tablet 300 200 10.890 11.234,5 11.240 3.372.000
3. CTM tablet 200 600 13.590 13.669,5 13.670 2.734.000
4. Antasida Doen tablet 200 200 3.240 3.202 3.210 642.000
5. Ranitidin 150 mg tablet 300 200 2.160 2.065 2.070 621.000
6. Salep – 24 30 mg pot 3.850 100 900 845 845 3.253.250
7. Kloramfenikol Tetes botol 9.000 5 50 47,5 48 432.000
Mata 7 ml
8. Captopril 25mg tablet 175 200 2.400 2.460 2.460 430.500
9. Amlodipine 5 mg tablet 1.500 100 1.200 1.160 1.160 1.740.000
10. Glibenklamid 5mg tablet 250 200 1.800 1.690 1.690 422.500
11. Metformin 500mg tablet 250 100 1.800 1.790 1.790 447.500
12. Loperamid HCl 2 mg tablet 225 100 1.125 1.081,25 1.090 245.250
13. Ciprofloksasin 500mg tablet 925 200 1.250 1.112,5 1.120 1.036.000
14. Metronidazol 500mg tablet 375 100 2.625 2.656,25 2.660 997.500
15. Na Diklofenak 25 mg tablet 350 100 1.440 1.412 1.420 497.000
16. Ibuprofen 400 mg tablet 650 300 1.440 1.212 1.220 793.000
17. Kloramfenikol Tetes botol 9.000 6 20 15 15 135.000
Telinga
18. Deksametason 0,5mg tablet 300 200 1.350 1.217,5 1.220 366.000
dst.
TOTAL BIAYA 20.352.500
*Keterangan : harga satuan diatas adalah harga perkiraan yang selanjutnya UPT Pemasyarakatan dapat menyesuaikan

11
Metode Konsumsi
Tabel 8 Biaya Rencana Kebutuhan Bahan Medis Habis Pakai
Tahun 2018
NAMA OBAT, HARGA SISA PEMAKAIAN RENCANA RENCANA JUMLAH
NO BENTUK SEDIAAN, SATUAN SATUAN* STOK PERTAHUN KEBUTUHAN PENGADAAN HARGA
KEKUATAN (RUPIAH)
1 2 3 4 5 6 7=(6-5)+(10%x6) 8 9=(8x4)
3
1. Oksigen m 25.000 2 80 82,1 83 2.075.000
2. Nacl 0,9 % 500 ml kolf 15.000 5 150 154,5 155 2.325.000
3. RL kolf 7.150 2 100 103 103 736.450
4. Plain Catgut 3.0 pcs 15.000 5 30 26,5 27 405.000
(precut)
5. Silk 3.0 (precut) pcs 5.000 8 30 23,5 24 120.000
6. Spuit 3 cc pcs 1.700 10 350 357,5 358 608.600
7. Infus Set pcs 10.000 10 200 252,5 253 2.530.000
8. Masker pcs 1.500 50 2.000 2.050 2.050 3.075.000
9. Hand Glove pcs 980 100 4.000 4.100 6.200 4.018.000
10. Adrenalin Ampul ampul 12.000 0 10 10,5 11 132.000
11. Lidokain HCl Ampul ampul 1.400 0 90 94,5 95 133.000
12. Betadine liter 50.000 2 7 5,35 6 300.000
13. Kassa gulung besar gulung 80.000 1 3 2,15 3 240.000
14. Plester rol kain 2.5 cm x pcs 12.000 2 10 8,5 9 108.000
4.5 m
15. Diazepam injeksi ampul 5.000 3 10 7,5 8 40.000
16. GIC Fuji botol 770.000 1 1 0,05 1 770.000
17. Eugenol botol 19.000 0 1 1,05 2 38.000
18. Chkm botol 100.000 0 1 1,05 2 200.000
19. Resit Komposit botol 315.000 1 1 0,05 1 315.000
dst.
TOTAL BIAYA 18.169.050
*Keterangan : harga satuan diatas adalah harga perkiraan yang selanjutnya UPT Pemasyarakatan dapat menyesuaikan

12
d. Melaporkan kebutuhan kepada atasan langsung
Setelah menghitung jumlah kebutuhan obat dan biaya per tahun, petugas pelaksana
harus membuat laporan dengan melampirkan formulir Rencana Kebutuhan Obat dan
Bahan Medis Habis Pakai dalam 1 Tahun dan menyampaikannya kepada atasan langsung
untuk dijadikan rencana pemenuhan kebutuhan obat dan kebutuhan anggaran di tahun
berikutnya.

8. Jangka Waktu Penyelesaian


Jangka waktu penyelesaian yang dimaksud dalam standar ini adalah waktu yang dibutuhkan
dalam melaksanakan kegiatan perhitungan perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis
pakai di UPT Pemasyarakatan. Adapun jangka waktu yang dibutuhkan adalah 5 jam 15 menit
seperti yang diuraikan dalam tabel berikut.

Tabel 9 Jangka Waktu Penyelesaian


NO KEGIATAN OUTPUT WAKTU KET
1 Pengumpulan data penyakit Terkumpulnya data jumlah
dari rekapitulasi klasifikasi kunjungan berdasarkan jenis
1 jam
penyakit selama 1 tahun penyakit

2 Identifikasi kebutuhan obat dan Teridentifikasinya jenis obat


bahan medis habis pakai sesuai sesuai penyakit
2 jam
klasifikasi penyakit

3 Menghitung jumlah kebutuhan Tersedianya data jumlah


obat dan bahan medis habis kebutuhan obat dan biaya obat
2 jam
pakai beserta biaya per tahun per tahun

4 Melaporkan kebutuhan kepada Adanya laporan biaya kebutuhan


atasan langsung obat untuk tahun berikutnya 15 menit

13
9. Kebutuhan Biaya
Kebutuhan biaya adalah biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan kegiatan perhitungan
perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai di UPT Pemasyarakatan. Dalam hal ini
tidak ada dibutuhkan biaya khusus karena semua hal yang menjadi biaya dalam perhitungan ini
sudah termasuk dalam biaya umum di UPT Pemasyarakatan. Berikut uraiannya.

Tabel 10 Kebutuhan Biaya


Biaya Total
No Kegiatan Jumlah Keterangan
Satuan Biaya
1 Pengumpulan data 1 dokumen Rp. - Rp. - Biaya yang
penyakit dari rekapitulasi dikeluarkan
klasifikasi penyakit (ATK, dll)
selama 1 tahun sudah termasuk
dalam anggaran
2 Identifikasi kebutuhan 1 dokumen Rp. - Rp. - Umum UPT
obat dan bahan medis Pemasyarakatan
habis pakai sesuai
klasifikasi penyakit

3 Menghitung jumlah 1 dokumen Rp. - Rp. -


kebutuhan obat dan bahan
medis habis pakai beserta
biaya per tahun

4 Melaporkan kebutuhan 1 laporan Rp. - Rp. -


kepada atasan langsung

10. Monitoring Dan Evaluasi


Monitoring dilakukan dengan cara menggali untuk mendapatkan informasi secara regular
berdasarkan indikator tertentu, dengan maksud mengetahui apakah kegiatan yang sedang
berlangsung sesuai dengan perencanaan dan prosedur yang telah disepakati. Indikator monitoring
mencakup esensi aktivitas dan target yang ditetapkan pada perencanaan kegiatan. Apabila
monitoring dilakukan dengan baik akan bermanfaat dalam memastikan pelaksanaan kegiatan tetap
pada jalurnya (sesuai standar dan perencanaan). Juga memberikan informasi kepada pengelola
kegiatan apabila terjadi hambatan dan penyimpangan, serta sebagai masukan dalam melakukan
evaluasi.
Dalam standar ini monitoring dan evaluasi dilakukan terkait bagaimana petugas pelaksana
melakukan kegiatan perhitungan perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai
sehingga obat-obatan dan bahan medis pakai tersebut dapat dipersiapkan sesuai dengan
kebutuhan.

14
10.1 Intrumen Penilaian Kinerja
Untuk melaksanakan pengukuran kegiatan berjalan sesuai dengan perencanaan maka
diperlukan instrumen penilaian kinerja (IPK) yang didalamnya memuat indikator-indikator
pengukuran penilaian kegiatan sesuai dengan standar. Berikut Intrumen Penilaian Kinerja
Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan).

Intrumen Penilaian Kinerja


Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan

INSTANSI :______________________________
TAHUN :______________________________

PERNYATAAN JAWABAN DATA DUKUNG KET

A. INPUT

I. SUMBER DAYA MANUSIA

1. KUANTITAS

a. Dokter minimal 1 orang, pendidikan minimal a. Ada SK


S1 Kedokteran Umum dan harus sudah b. Tidak
diangkat sumpah sebagai dokter

b. Dokter gigi minimal 1 orang, pendidikan a. Ada SK


minimal S1 Kedokteran Gigi dan harus sudah b. Tidak
diangkat sumpah sebagai dokter

c. Apoteker minimal 1 orang, pendidikan minimal a. Ada SK


S1 Farmasi dan harus sudah mengambil profesi b. Tidak
apoteker

d. Perawat umum/perawat gigi minimal 2 orang, a. Ada SK


pendidikan minimal D-III Keperawatan b. Tidak

2. KUALITAS

a. Perawat memahami cara mengklasifikasikan a. Iya Formulir Biaya


jenis penyakit dan menghitung jumlah b. Tidak Rencana Kebutuhan
kunjungan Obat dan Bahan
Medis Habis Pakai
b. Dokter / Apoteker memahami cara menentukan a. Iya dalam 1 tahun
jenis obat untuk suatu penyakit b. Tidak

c. Dokter / Apoteker memahami cara menghitung a. Iya


kebutuhan obat dan biaya b. Tidak

II. SARANA DAN PRASARANA

15
1 KUANTITAS

a. Tersedia buku register kunjungan pasien a. Ada Foto Buku Register


b. Tidak Kunjungan Pasien

b. Tersedia set komputer a. Ada


b. Tidak
c. Ada laporan stok opname (laporan mutasi obat) a. Ada
b. Tidak

d. Ada dokumen Permenkes Nomor 5 Tahun 2014 a. Ada


tentang Panduan Praktis Klinis bagi Dokter di b. Tidak
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer

2 KUALITAS

a. Buku register kunjungan pasien dicatat setiap a. Ada


kunjungan pasien b. Tidak

b. Set Komputer beroperasi dengan baik a. Iya


b. Tidak
c. Laporan stok opname (laporan mutasi obat) a. Iya
dipakai dalam menghitung stok obat b. Tidak

d. Dokumen Permenkes Nomor 5 Tahun 2014 a. Iya


tentang Panduan Praktis Klinis bagi Dokter di b. Tidak
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer dalam
menentukan jenis obat

e. Dokumen Kepmenkes Nomor a. Iya


312/MENKES/SK/IX/2013 tentang Daftar Obat b. Tidak
Esensial Nasional 2013

f. Dokumen permenkes Nomor 63 Tahun 2014 a. Iya


tentang Pengadaan Obat berdasarkan Katalog b. Tidak
Elektronik (E-Catalogue) dipakai dalam
menghitung biaya kebutuhan obat

III ANGGARAN

1. PEMENUHAN

a. Adanya alokasi anggaran untuk pembelian a. Iya


obat-obatan b. Tidak

b. Anggaran yang ada sesuai dengan kebutuhan a. Iya


b. Tidak

16
2. PENYERAPAN

a. Anggaran dapat diserap secara optimal a. Iya


b. Tidak
B PROSES

I. PERSIAPAN

1. Petugas kesehatan menyiapkan Buku register a. Iya


kunjungan pasien, Laporan Stok Opname, b. Tidak
Permenkes Nomor 5 Tahun 2014, dan permenkes
Nomor 63 Tahun 2014, Komputer.

2. Petugas kesehatan berkoordinasi dengan atasan a. Iya


langsung dalam perencanaan pemenuhan b. Tidak
kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai.

II. PELAKSANAAN

1. Perawat mengklasifikasikan data penyakit berikut a. Iya


jumlah kunjungan selama 1 tahun b. Tidak

2. Dokter / apoteker mengidentifikasi kebutuhan a. Iya


obat dan bahan medis habis pakai sesuai b. Tidak
klasifikasi penyakit

3. Dokter / apoteker menghitung jumlah kebutuhan a. Iya


obat dan bahan medis habis pakai berikut biaya b. Tidak
per tahun
4. Petugas kesehatan menyerahkan perhitungan a. iya
rencana kebutuhan obat kepada atasan langsung. b. Tidak

III. PELAPORAN

1. Petugas kesehatan mencatat dan melaporkan data a. Iya Formulir


jenis penyakit dan jumlah kunjungan tiap bulan. b. Tidak Laporan data
jenis penyakit
dan jumlah
kunjungan

2. Petugas kesehatan melaporkan perhitungan a. Iya Formulir


kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai tiap b. Tidak Kebutuhan Biaya
tahun Obat-obatan dan
Bahan Medis
Habis Pakai
dalam 1 Tahun

17
11. Penutup
Buku Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan disusun sebagai acuan
bagi UPT Pemasyarakatan dalam membuat rencana kebutuhan obat (RKO) secara terarah dan
sesuai dengan kebutuhan, sehingga penyelenggaraan pelayanan kesehatan Tahanan dan WBP
lebih baik dari segi administrasi dan operasional.
Dalam perencanaan kebutuhan obat ini diperlukan kerjasama semua pihak baik di tingkat UPT
Pemasyarakatan, Kanwil Kementerian hukum dan HAM propinsi hingga maupun tingkat pusat
untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pelayanan kesehatan Tahanan dan WBP khususnya
pelayanan kuratif.

18
Lampiran
Formulir Data Jenis Penyakit dan Jumlah Kunjungan

Jumlah Kunjungan
No Penyakit
Tahun ….
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
dst.
Jumlah total kunjungan
Formulir Data Emergensi dan Jumlah Kasus

Jumlah Kunjungan
No Kasus Emergensi
Tahun ….
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
dst.
Jumlah total kunjungan
Formulir Perencanaan Kebutuhan Obat-obatan dan Bahan Medis Habis Pakai
Tahun …

Nama UPT : ………………………………

NAMA OBAT, HARGA SISA KEBUTUHAN RENCANA RENCANA JUMLAH


NO BENTUK SEDIAAN, SATUAN SATUAN STOK KEBUTUHAN PENGADAAN HARGA
KEKUATAN (RUPIAH)
1 2 3 4 5 6 7=(6-5)+(5%x6) 8 9=(8x4)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
TOTAL BIAYA

Ket :
1: Nomor urut
2: Nama obat/bahan medis habis pakai berikut jumlah sediaan dan kekuatannya
3: Bentuk satuan obat/bahan medis habis pakai
4: Harga per satuan (berdasarkan e-catalog atau sesuai harga di wilayah masing-masing)
5: Sisa stok yang tercatat pada stok opname (laporan mutasi obat masuk dan keluar) bulan terakhir perhitungan
6: Jumlah kebutuhan sesuai pada perhitungan obat / bahan medis habis pakai 1 tahun
7: Jumlah kebutuhan ril berdasarkan jumlah kebutuhan (poin 6) dikurang sisa stok ditambah persentase stok penyangga antara 5%-20% dari jumlah
kebutuhan (poin6). Besaran persentase disesuaikan dengan sifat obat sering digunakan atau tidak.
8: Jumlah rencana pengadaan menyesuaikan kemasan obat / bahan medis habis pakai
9: Biaya yang dibutuhkan berdasarkan rencana pengadaaan dikali harga satuan
Standar Operasional Prosedur (SOP)
Standar Perencanaan Kebutuhan Obat di UPT Pemasyarakatan

SDM MUTU BAKU

NO KEGIATAN Perawat Dokter / Kasi / Kasubsi KET


Apoteker Pembinaan / KELENGKAPAN WAKTU OUTPUT
Pelayanan Tahanan

Membuat data  Buku register kunjungan pasien Data penyakit


penyakit dari  Set Komputer 1 dan jumlah
1 rekapitulasi klasifikasi  ATK kunjungannya
Jam
penyakit selama 1
tahun

2 Mengidentifikasi  Dokumen Permenkes Nomor 5 Tahun 2 Data kebutuhan


kebutuhan obat dan 2014 tentang Panduan Praktis Klinis Jam obat 1 tahun
bahan medis habis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
pakai sesuai Kesehatan Primer
klasifikasi penyakit  Stok Opname (laporan mutasi obat)
 Dokumen Kepmenkes Nomor
Menghitung jumlah 312/MENKES/SK/IX/2013 tentang Data kebutuhan
kebutuhan obat dan Daftar Obat Esensial Nasional 2013 2 obat dan biaya
3 bahan medis habis 1 tahun
 Set Komputer Jam
pakai beserta biaya
 ATKs
per tahun

Melaporkan  ATK Laporan Biaya


kebutuhan kepada  Set Komputer 15 menit Rencana
4 atasan langsung Kebutuhan Obat
dan Bahan Medis
Habis Pakai 1
tahun
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan
Jalan Veteran Nomor 11, Jakarta Pusat