Anda di halaman 1dari 5

RESUME

MANAJEMEN RISIKO/ RISK MANAGEMENT (RM) di ANESTESI

NAUFAL MUAFI
P07120216028

PRODI ST KEPERAWATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN YOGYAKARTA
TAHUN 2019
MANAGEMEN RISIKO DI ANESTESI

Abstrak

Anestesi dianggap sebagai disiplin ilmu terkemuka di bidang keselamatan pasien


tetapi komplikasi masih terjadi dan dapat mengancam keselamatan pasien. Sebagian besar
komplikasi dari anestesi dapat dicegah dengan mendeteksi dan menghilangkan faktor-faktor
risiko tersebut yang biasa dikenal dengan managemen risiko. Managemen risiko berfungsi
untuk meminimalkan morbiditas dan mortalitas pasien anestesi. Terdapat empat tindakan
yang diperlukan untuk mencegah insiden kritis dalam anestesi: 1) deteksi masalah, 2)
perencanaan terkait masalah, 3) implementasi dan solusi, 4) verifikasi efektifitas dari
implementasi yang diberikan.

Managemen Risiko

Managemen risiko adalah pendekatan terstruktur mengenai ketidakpastian yang


berkaitan dengan ancaman. Termasuk penilaian risiko, pengembangan strategi untuk
mengelola risiko, dan mitigasi risiko menggunakan sumber daya managerial.

Managemen risiko dalam perawatan kesehatan merupakan aspek penting dari


peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Mengidentifikasikan bahwa pelayanan kesehatan
tersebut dipantau dan dianalisa untuk memeriksa apakah ada sesuatu di dalam pelayanan
kesehatan tersebut. Hal ini memungkinkan untuk mendesain ulang proses dan pengembangan
strategi perbaikan untuk mengurangi potensi ancaraman risiko di masa depan. Kesalahan
biasa terjadi di dalam sistem, dan pengembangan kebijakan managemen risiko dapat
digunakan untuk mengurangi risiko dalam sistem tersebut. Kualitas managemen risiko paling
penting mengurangi eksposur kewajiban, kerugian emosional, dan hal keuangan terkait
dengan komplikasi.

Efek Samping yang Berhubungan dengan Anestesi

Anestesi sudah lebih aman daripada tahun-tahun sebelumnya. Tidak selalu mudah
untuk menentukan kematian akibat anestesi atau faktor lain. Penelitian yang lebih baru
melaporkan tingkat mortalitas berhubungan dengan anestesia di kisaran 1 : 100.000 sampai
1 : 500.000. Tingkat kematian sebagian terkait anestesia adalah 1 : 7.000 sampai 1 : 70.000
Sangat sedikit penelitian yang telah mengevaluasi insiden cedera otak parah, database
Jepang melaporkan kejadian 1: 170.000. Efek samping utama lainnya meliputi kerusakan
kesadaran (kisaran 0,1-0,4%), Kerusakan saraf tepi yang berkaitan dengan pasien penempatan
posisinya (1: 10.000), kerusakan ringan (1: 100) atau kerusakan parah (1: 5.000) karena blok
saraf perifer, akar saraf tulang belakang / kerusakan saraf (0,15%) dan anafilaksis (0,01%).
Sementara efek samping jarang terjadi, kecelakaan kritis tanpa konsekuensi tetapi dengan
potensi cedera pasien yang cukup kompleks, dengan kejadian 1-7%. Sebagian studi kecelakaan
ini dapat memberikan kita kesempatan untuk mendeteksi kegagalan laten.

Analisis insiden terdiri dari empat langkah :

 Identifikasi masalah - Deteksi masalah dapat mengikuti insiden atau selama


pengumpulan data dengan melakukan analisis proaktif proses yang ada, mendeteksi
faktor risiko. Insiden umum dan lebih serius harus ditangani pertama.
 Penilaian masalah dan mengidentifikasi penyebab (terutama yang dicegah dan
paling umum
 Mengidentifikasi “pelakunya” yang bukan bagian dari RM dan penerapan solusi
inisiatif medis-hukum harus jelas dipisahkan
 Periksa efektivitas perubahan/evaluasi.

Ancaman terhadap manajemen risiko

Kegiatan RM umumnya menghadapi beberapa ancaman. pemotongan biaya dalam


perawatan medis mungkin musuh utama keselamatan. Sebuah aspek yang sangat berbahaya
adalah “tekanan produksi” pada anestesi dari ahli bedah, staf ruang operasi, administrator, dan
kadang-kadang pasien. Persiapan pasien tidak memadai untuk operasi kemungkinan
konsekuensi yang paling sering. Bahkan ketika terjadi komplikasi pada pasien bukan tidak
mungkin risiko menjadi hal yang biasa dengan rendahnya tingkat perawatan dan keselamatan
yang ada. Kurangnya pengetahuan tentang standar perawatan yang baik dan konsekuensi dari
kepentingan harian manusia yang saling bertentangan akan menghasilkan dan menambah
tindakan ceroboh yang dilakukan oleh tenaga kesehatan

Proses

Proses/prosedur harus didokumentasikan dengan lengkap dan sesuai dengan standart


operasional prosedur. Prosedur membuat pelaksana layanan untuk fokus pada layanan,
menghadapi masalah dan membuat prosedur lebih mudah dan efektif. Hal-hal yang
memerlukan prosedur dalam anestesi antara lain evaluasi anestesi, pra induksi anestesi,
evaluasi ulang, monitoring selama periode anestesi, dokumentasi anestesi, kriteria pasien
pindah, tata managemen peralatan, pengecekan peralatan anestesi, tata cara mengelola kejadian
tak terduga (cardiac arrest, anaphilaxis, hipertermia ganas, dll) harus dirumuskan. Bukan hanya
dari praktik anestesi namun dari semua penyelenggara asuhan termasuk ahli bedah, perawat
dan staf ruang operasi lainnya harus consisten dalam menerapkan protokol yang telah
disepakati demi keselamatan pasien.

Peralatan

Standar internasional, hukum nasional atau rekomendasi secara ilmiah dalam


masyarakat menentukan persyaratan bagi ruang operasi dan peralatan-peralatan anestesi.
Protokol untuk check pra-anestesi dan peralatan-peralatan harus terjadwal rutin dan teratur
untuk diperbarui.

Personil

Faktor manusia dianggap sebagai penyebab utama efek samping terjadi, dengan tingkat
70% sampai 80%. Frekuensi tingginya insiden kematian sewaktu pasien kritis. Peran faktor
manusia dalam anesthesia sangat penting dan harus didekati dari dua aspek. Aspek pertama
adalah untuk realistis mengevaluasi kinerja manusia dan batas-batasnya. Kedua, pelatihan
anestesi harus ditingkatkan. Ini termasuk perhatian khusus untuk topik keselamatan pasien dan
kinerja manusia.

Arah masa depan

Meskipun pencegahan komplikasi anestesi dengan RM modern telah diperdebatkan sejak akhir
abad ke 19, RM modern masih disiplin muda. Topik-topik berikut harus menjadi bagian dari
evolusi di masa depan:

- Banyak dokter merasa enggan untuk segera menyusun statistik, mengisi formulir atau
membaca prosedur. RM harus menghindari beban yang tidak perlu dan fokus pada
solusi untuk masalah yang relevan
- Budaya keselamatan belum menjadi konsep bersama antara petugas kesehatan. Semua
pihak yang bersangkutan harus lebih baik terlibat dalam aspek RM.
- Untuk meminimalkan hasil negatif, perbaikan yang harus dilakukan mencakup apa
yang mendahului, saat berlangsung, dan saat setelah operasi khususnya terkait dan
kesiapan operasi dari segi alat dan kondisi pasien.
- Sebuah pendidikan pasien yang lebih baik bisa menjadi bagian yang dapat
memudahkan RM. Hal ini bisa meminimalkan risiko terkait anesthesia.
- Beberapa daerah yang hampir sepenuhnya tidak terjangkau seperti anestesi luar
ruangan operasi dan rawat jalan.
- Sampai saat ini, beberapa peneliti telah mempelajari poin dalam RM seperti, kerja ahli
anestesi dan perubahan sistem organisasi. Solusi kreatif dan inovatif diperlukan untuk
formulatif dan diuji dalam mengatasi masalah.

Kesimpulan

Efek samping terkait anestesi masih terjadi, sering menyebabkan penderitaan yang relevan
seperti biaya yang tinggi bagi pasien dan rekam jejak ahli anestesi tersebut. Jika diterapkan
dengan benar dan tidak terbatas pada statistik kompilasi, RM bisa sangat bermanfaat sebagai
dasar untuk melakukan tindakan. Bahkan, kita harus menyambut RM modern karena dapat
dijadikan kebiasaan dan patokan kedepannya.