Anda di halaman 1dari 13

NAMA : NI PUTU AYU CINDY PARAMITHA

NIM : 118211039
JURUSAN : SI AKUNTANSI (Sore)

TEORI AKUNTANSI
BIAYA

A. Pengertian
Pengertian biaya tidak dapat dipisahkan dengan pengertian kos dan asset dan juga
rugi(loss). Pembahasan tersebut hanya menyebutkan bahwa bila kos tidak memenuhi
difinisi asset ( dapat ditangguhkan pembebanannya terhadap pendapatan), kos tersebut
dapat masuk sebagai biaya atau rugi.
Kalau kewajiban merupakan bayangan cermin asset, definisi biaya oleh FASB di atas
merupakan lawan atau kebalikan dari definisi pendapatan. Pendapatan arahnya masuk
sedangakan biaya arahnya keluar kesatuan usaha
APB selanjutnya menjelaskan bahwa seperti pendapatan, biaya timbul hanya dalam
kaitannya dengan kegiatan penciptaan laba yang mengakibatkan perubahan ekuitas.
Dari berbagai sumber di atas dan sebagai lawan dari pendapatan, terdapat dua karakteristik
penting yang melekat pada makna biaya yaitu:
1) Aliran keluar atau penurunan asset (outflow of assets, gross decrases in assets, decreases
in economic benefitd, using up of assets, consumption of assets, use of economic services,
expired costs, applicable costs to current period).
2) Akibat kegiatan yang membentuk operasi utama yang menerus (ongoing major operations,
profit-directed activities, for the purpose of generating revenues, creation of revenues,
earning activities).
Selain dua karakteristik utama di atas, terdapat karakteristik lain yang bersifat sebagai
konsekuensi, pendukung, atau penjelas. Karakteristik utama dan pendukung dibahas
berikut ini:
 Penurunan Aset
Untuk dapat mengatakan bahwa biaya timbul, harus terjadi transaksi atau kejadian yang
menurun asset atau menimbulkan aliran keluar asset atau sumber ekonomik. Asset dalam
hal ini harus diartikan sebagai semua asset perusahaan sebagai satu kesatuan (bukan hanya
asset tertentu misalnya sediaan bahan baku).

1
 Operasi Utama yang Menerus
Tidak semua penurunan atau konsumsi asset membentuk biaya. Agar menjadi biaya
konsumsi tersebut harus berkaitan dengan kegiatan utama atau sentral kesatuan usaha.
Yang dimaksud dengan kegiatan utama adalah kegiatan penciptaan pendapatan (laba)
yang direpresentasi dalam kegiatan memproduksi / mengirim barang atau menyerahkan/
melaksanakan jasa. Karena dianggap bahwa perusahaan ingin mendapatkan dan mengukur
laba dengan tepat, harus ada kaitan yang logis antara biaya dan pendapatan.
 Kenaikan Kewajiban
Semua badan autoritatif mendefinisi biaya tidak hanya dari sudut penurunan asset
tetapi juga dari kenaikan kewajiban. Alasannya adalah agar makna biaya cukup luas untuk
mencakupi pula pos-pos yang timbulkan dalam penyesuaian akhir tahun.
 Penurunan Ekuitas
Definisi APB dan IAI secara eksplisit menyebutkan bahwa penurunan asset akhirnya
akan mengubah ekuitas (can change owners’equity) atau menurunkan ekuitas (result in
decrases in equity). Pendefinisian ini sebenarnya menegaskan bahwa akuntansi menganut
konsep kesatuan usaha sehingga ekuitas secara konseptual adalah utang perusahaan
kepada pemilik. Bila ekuitas akhirnya tidak terpengaruh, jelas turunnya asset bukan
merupakan biaya.
 Aliran Fisis atau Moneter
Tampaknya FASB memisahkan antara pengertian biaya dan pengukuran biaya. Bahwa
biaya timbul dari penyerahan atau produksi barang (from delivering or producing
goods) atau dari pelaksanaan jasa (rendering servise) memberi isyarat bahwa FASB
memaknai biaya (penurunan asset) sebagai kejadian fisis (physical event). Bila asset
diganti dengan barang dan jasa ( seperti disarankan Kam), aliran tersebut jelas
menunjukkan aliran fisis.
 Rugi
Seperti halnya untung, argument yang diajukan untuk menjawab perlu atau tidaknya
biaya dibedakan dengan rugi. FASB memfokuskan pengertian biaya hanya untuk
penurunan asset yang berkaitan dengan operasi utama atau sentral. Sebagai lawan makna
untung, kata-kata kunci yang melekat pada pengertian rugi adalah:
1) Penurunan ekuitas (asset bersih).
2) Transaksi peripheral atau incidental.
3) Selain apa yang didefinisikan sebagai biaya atau selain distribusi ke pemilik.

2
Empat sumber rugi yang diidentifikasi FASB adalah (SFAC No. 6, prg. 85):
a. Periferal dan incidental: misalnya penjualan investasi dalam surat-surat berharga,
penjualan asset tetap, pelunasan utang obligasi sebelum jatug tempo.
b. Transfer nontimbal-balik (nonreciprocal transfers) dengan pihak lain: misalnya pencurian
dan pembayaran ganti rugidari kekalahan dalam tuntutan perkara hokum.
c. Penahanan aset (holding assets); misalnya penurunan harga sekuritas inevstasi, penurunan
nilai – tukar valuta asing, dan penurunan harga karena penahan sediaan (holding losses).
d. Factor lingkungan: misalnya ganti rugi asuransi musibah alam yang lebih rendah dari kos
asset yang rusak. Contoh lain adalah lenyapnya manfaat asset yang tidak diasuransi akibat
kebakaran.

B. PENGAKUAN BIAYA
Pengakuan biaya tidak dibedakan dengan pengakuan rugi. Pengakuan menyakut
masalah kriteria pengakuan (recognition criteria) yaitu apa yang harus dipenuhi agar
penurunan nilai asset yang memenuhi definisi biaya atau rugi dapat diakui dan masalah
saat pengakuan (recognition rules atau timing) yaitu peristiwa atau kejadian apa yang
menandai bahwa kriteria pengakuan telah dipenuhi. Tidak seperti pendapatan atau untung,
biaya dan rugi tidak mengalami masalah pembentukan dan realisasi.
 Kriteria Pengakuan
Biaya atau rugi pada umumnya diakui bilamana salah satu dari dua kriteria berikut
dipenuhi (SFAC No. 5, prg. 85):
a. Konsumsi manfaat (consumption of benefits) Biaya atau rugi diakui bilamana manfaat
ekonomik yang dikuasai suatu entitas telah dimanfaatkan atau dikonsumsi dalam
pengiriman atau pembuatan barang, penyerahan atau pelaksanaan jasa, atau kegiatan lain
yang merepresentasi operasi utama atau sentral entitas tersebut.
b. Lenyapnya atau berkurangnya manfaat masa datang (loss or lack of future benefits). Biaya
atau rugi diakui bilamana asset yang telah diakui sebelumnya diperkirakan telah berkurang
manfaat ekonomiknyan atau tidak lagi mempunyai manfaat ekonomik.
 Kaidah atau Saat Pengakuan
Sebagai pedoman bagi penyusun standar atau manajemen (kebijakan akuntansi
perusahaan), perlu dirumuskan pedoman umum saat pengakuan di tingkat rerangka
konseptual.

3
 Konsumsi Manfaat
Konsumsi manfaat ekonomik selama suatu perioda dapat diakui langsung pada saat
terjadinya atau diakui bersamaan dengan pengakuan pendapatan yang berkaitan.
 Lenyapnya atau berkurangnya manfaat masa datang
Biaya atau rugi diakui bila telah menjadi nyata atau jelas bahwa manfaat ekonomik
masa datang suatu asset yang diakui sebelumnya telah berkurang atau lenyap atau bahwa
kewajiban timbul atau bertambah tanpa adanya manfaat.
 Kaidah Pengakuan APB
Kaidah pengakuan di atas sebenarnya dilandasi oleh basis asosiasi yang oleh APB
disebut sebagai prinsip pengakuan biaya pervasive atau luas (pervasive expense
recognition principles).
 Hubungan Kos dan Biaya
Beberapa sumber mendefinisi biaya dalam kaitannya dengan pengertian kos karena
memang biaya tidak dapat dipisahkan dengan kos. Akan tetapi, kos tidak selalu dapat
disebut biaya karena kos dapat juga merepresentasi asset.
Dengan kos sebagai pengukur, kriteria konsumsi manfaat dan kelenyapan manfaat
dapat dinyatakan dalam bentuk keterbatasan kos (cost expiration). Kriteria konsumsi lebih
berkaitan dengan pengakuan biaya sehingga kriteria ini oleh paton dan Littlen (1970)
disebut kehabisan kos penciptaan pendapatan (revenue producing cost
expiration) sedangkan kriteria kelenyapan lebih berkaiatan dengan rugi sehingga krtiteria
ini dapat disebut keterhabisan kos non penciptaan pendapatan (not revenue produsing cost
expiration).
 Proses dan Konsep Penandingan
Untuk menentukan laba yang bermakna (meaningful), perlu dipahami dua pengertian
penting yaitu proses penandingan (matching process) dan konsep atau prinsip
penandingan (matching concept or principle). Proses penandingan adalah proses
penentuan laba dengan mengukur atau menakar dahulu pendapatan untuk suatu perioda
dan barulah kemudian menentukan biaya yang berkaitan dengan pendapatan tersebut.
Konsep atau prinsip penandingan adalah dasar pemikiran untuk menghubungkan
pendapatan dan biaya sehingga laba yang dihasilkan lebih bermakna.
 Kelayakan Ekonomik
Penandingan yang tepat harus didasarkan pada kelayakan ekonomik dan bukan
fisis. Memang penandingan menuntut identifikasi konsumsi manfaat asset atau jasa secara
fisis tetapi nilai asset atau jasa yang dikonsumsi juga harus ditentukan secara tepat dengan

4
memperhatikan kondisi yang melingkupinya. Oleh karena itu, dasar penandingan yang
paling utama adalah kelayakan ekonomik (economic reasonanbleness) bukannya dasar
aliran fisis semata-mata.
 Menandingkan Bukan Mengkompensasi
Ada kalanya biaya komisi penjualan, biaya angkut pengiriman barang (ekspedisi),
dan biaya-biaya lain yang bersangkutan dengan transaksi penjualan dikurangkan langsung
terhadap hasil penjualan dan hanya jumlah rupiah netonya dicatat dalam akun penjualan
dan penjualan dilaporkan sebesar jumlah netonya. Perlakuan semacam ini secara teoritis
tidak layak.

C. Basis Asosiasi
Dalam rangka menghubungkan biaya dan biaya, perlu dipertimbangkan basis
asosiasi yang menggambarkan penandingan yang secara ekonomik layak. Berbagai basis
asosiasi dibahas berikut ini.
 Asosiasi Sebab dan Akibat
Konsep upaya dan capaian menyatakan bahwa biaya merupakan upaya dalam
rangka mendapatkan capaian berupa pendapatan. Ini berarti ada hubungan sebab akibat
antara biaya dan pendapatan. Oleh karena itu, basis penandingan yang paling masuk akal
adalah sebab akibat. Walaupun basis ini lebih merupakan asumsi daripada kenyataan
karena dalam banyak hal sulit untuk dibuktikan secara menyakinkan bahwa biaya
menyebabkan pendapatan.
Walaupun demikian, hubungan sebab akibat mempunyai validitas karena pengamatan
terhadap operasi perusahaan pada umumnya menunjukkan bahwa pendapatan tidak akan
terjadi tanpa penyerahan barang atau jasa.
 Identifikasi Kos Produk
Karena produk terjual merupakan takaran penandingan, Kos produk akan dipecah
menjadi dua komponen yaitu Kos produk yang telah terjual dan Kos produk yang belum
terjual dan masih menjadi aset perusahaan. Kos yang melekat pada produk terjual akan
langsung dibebankan sebagai biaya. Kos sdiaan baru dibebankan sebagai biaya kalau
produk telah terjual.
 Produk Usang Atau Musiman
Masalah lain yang berkaitan dengan penandingan atas dasar sebab-akibat adalah
adanya produk musiman yang tidak laku dijual. Persoalanya adalah apakah Kos produk
musiman yan tidak terjual merupakan sebab ( sebagai biaya ) atau bukan (sebagai rugi ).

5
Dalam keadaan yang khusus sebagai Kos sediaan barang yang tidak terjual dalam suatu
periode secara logis dapat dijadikan komponen Kos barang terjual.
 Barang Rusak
Kelayakan ekonomik menuntut pertimbangan dengan memperhatikan kodisi yang
melingkupi suatu masalah. Bila kerusakan produk merupakan hal yang normal atau
bahkan merupakan prasyarat. Untuk menghasilkan barang dengan kualitas baik, Kos
barang yang rusak dapat di anggap sebagai upaya menghasilkan pendapatan.
 Identifikasi Kos Nonproduk
Kalau penandingan atas dasar sebab-akibat akan dipertahankan maka secara logis
tidak seluruh Kos nonproduksi akan dibebankan sebagai biaya. Oleh karena itu, perlu
diadakan alokasi agar dapat dicapai penandingan yang tepat antara biaya dan pendapatan
yang dihasilkan.
 Biaya Antisipasian
Biaya Antisipasian ( anticipated expenses ) adalah biaya yang dianggap
menyebabkan timbulnya pendapatan tetapi baru terjadi setelah pendapatan diakui.
 Alokasi Sistematik dan Rasional
Alokasi sistematik dan rasional merupakan penandingan dengan periode sebagai
penakar pendapatan dan biaya. Proses ini sering disebut penandingan periode (period
matching). Dalam pengkuan biaya, diasumsi bahwa yang menerima manfaat dari potensi
jasa adalah periode bukanya produk. Dasar penandingan ini sebenarnya merupakan
alternatif dasar sebab-akibat karena tidak selalu mudah mengidentifikasi hubungan sebab-
akibat antara pendapatan dan biaya.
 Kriteria Penangguhan
Kriteria penangguhan. Kriteria penguji umum yang dapat dijadikan dasar untuk
menentukan apakah suatu jenis Kos jasa yang terjadi pada suatu periode akan dibebankan
langsung atau akan ditunda.
 Alokasi Kos Bergabung atau Bersama.
Alokasi merupakan proses yang tidak dapat dihindari untuk mencapai penandingan
sebab-akibat. Karena karakteristik operasi perusahaan pada umumny, penentuan kos
produk secara tepat membutuhkan alokasi untuk kos bergabung (joint cost) atau kos
bersama (common cost) betapa pun dasar alokasi tersebut agak bersifat arbitrer.
 Alokasi Bukan Sarana Pemerataan Laba.
Dalam akuntansi manajerial dikenal metoda yang disebut pengkosan normal
(normal costing). Dengan metoda ini, kos overhead dibebankan ke produk atas dasar tarif

6
taksiran untuk suatu perioda. Tujuannya adalah agar kos produksi untuk perioda interim
(bukanan) menggambarkan kos yang tepat dibanding kos aktual perioda tersebut.
 Pendekatan Nonalokasi
Alokasi hanya dapat dipertahankan bila tiga karakteristik berikut dipenuhi :
1. Ketertambahan (additivity). Keseluruhan harus sama dengan hasil penggunggungan
bagian-bagian.
2. Ketakraguan (unambiguity). Metode alokasi harus unik dan jelas untuk tiap tujuan.
3. Ketepertahankanan (defensibibiy). Untuk metoda alokaso yang dipilih, penentu kebijakan
harus dapat mempertahankan argumen yang meyakinkan.
 Pembebanan Arbitrer.
Suatu kos biasanya akan langsung dibebankan dalam perioda
terjadinya (immediate recognition). Ini berarti bahwa kos ditandingkan dengan pendapatan
secara arbitrer. Konsep yang melandasi pembebanan semacam ini semata-mata adalah
kepraktisan(expediency). Memang pada umumnya pengakuan segera kos sebagai biaya
atau rugi dilakukan karena manfaat masa datang tidak terukur atau tidak cukup pasti.
 Penandingan dan Penyajian Pos-Pos Biaya
Penakar yang ideal udalah unit produk karena pendapatan diciptakan dengan
menyerahkan produk (direpresentasi oleh kos produk). Oleh karena itu, idealnya tiap
unit menyerap semua jenis kos operasi (produksi, penjualan, administrasi, dan
pengumpulan piutang).

D. Sediaan
Secara umum masalah teoretis sediaan berkaitan dengan pengukuran kos barang
terjual dalam rangka penandingan dengan pendapatan dan masalah penilaian. Proses
pengukuran dan penilian pada umumnya dilakukan pada akhir periode. Dengan demikian
masalah pengukuran dan penilaian sediaan pada akhirnya periode dapat dinyatakan
sebagai berikut:
1. Penentuan besarnya kos barang terjual untuk ditandingkan dengan penjualan sehingga
dapat ditentukan besarnya laba perusahaan. Penentuan ini melibatkan berbagai metoda
asosiasi sebagai dasar pemecahan kos produksi menjadi kos yang melekat pada sediaan
dan ang melekat pada barang terjual.
2. Penentuan nilai sediaan sebagai unsur aset lancar perusahaan. Penentuan nilai sediaan
sangat penting untuk menilai likuiditas operasi perusahaan.

7
 Metoda Asosiasi
Metoda asosiasi menjadi basis untuk menentukan unit fisik terjual dan kos yang melekat
dengan jumlah rupiah penjualan. Dengan demikian metoda asosiasi dapat pula diartikan
sebagai asumsi aliran kos dalam mengikuti aliran fisis barang. Metoda asosiasi atau
asumsi aliran kos yang telah dikenal adalah :
1. Identifikasi khusus (specific identification)
2. Masuk pertama keluar pertama/MPKP (first-in, first-out/FIFO).
3. Rata-rata berbobot (weighted average).
4. Sediaan normal/minimal (normal stock).
5. Masuk terakhir keluar pertama/MTKP (last-in, first-out/LIFO).
 Identifikasi Khusus
Metoda ini adalah yang paling ideal. Bila sistem akuntansi memungkinkan, metoda
ini sangat dianjurkan penerapannya.
 Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)
Metoda ini berasumsi bahwa faktor kos mengalir melalui perusahaan secara
berurutan seperti antrean; tidak ada saling mendahului.
 Rata-rata Berbobot
Metoda ini menganggap bahwa dalam proses produksi terjadi peleburan faktor
produksi yang sama selama satu perioda menjadi satu massa yang homogenus. artinya,
bahan baku tertentu yang dibeli berkali-kali atau produk yang dihasilkan dari beberapa
angkatan produk dalam suatu perioda dianggap sebagai satu kesatuan (massa). Barulah
kemudian massa tersebut dipecah menjadi dua bagian yaitu sediaan barang dan barang
terjual.
 Sediaan Normal
Metoda ini sering disebut dengan metoda sediaan permanen (iron-stock method).
Dengan metoda ini dianggap perusahaan melakukan investasi permanen dalam sediaan.
Tujuannya adalah penandingan pendapatan sekarang dengan kos sekarang sekaligus
meniadakan kebutuhan pelaporan untung atau rugi menahan sediaan atau fluktuasi harga.
 Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP)
Metoda ini berasumsi bahwa sediaan merupakan aset tetap yang tidak berkaitan
dengan aliran kos. Dengan demikian, begitu sejumlah sediaan tertentu telah tertimbun
maka aliran faktor kos berikutnya dianggap hanya melewati timbunan tersebut dan
langsung melekat pada penjualan (sebagai kos barang terjual).

8
 Implikasi Motoda Asosiasi Terhadap Laba
Dalam bidang-bidang usaha tertentu yang volume penjualan dan harga bahan
bakunya berfluktuasi cukup besar antarperioda, metoda MTKP mendapat dukungan yang
kuat sebagai salah satu cara untuk menstabilkan laba periodik sampai tingkat tertentu.
 Fasilitas Fisis
Dalam hal fasilitas fisik, kos yang terjadi pada saat pemerolehan pada umumnya
diakui sebagai aset dan baru kemudian kos tersebut diakui sebagai biaya sesuai dengan
pola penyerapan manfaat yang direpresentasi dengan kos.
 Karakteristik dan Tujuan Pelaporan
Semua aset mempunyai karakteristik umum yaitu merupakan potensi jasa yang
dapat dimanfaatkan oleh perusahaan dalam kegiatan operasinya,
 Istilah
Istilah yang digunakan untuk menunjuk aset yang mempunyai karakteristik di atas
tentunya harus cukup deskriptif untuk memudahkan klasifikasi. Banyak istilah yang
digunakan untuk mendeskripsi aset tersebut yaitu : aset tetap (fixed assets), aset tetap
berwujud (fixed tangible assets), aset terwujud (tangible assets), aset operasi (operating
assets), aset jangka panjang (long-lived/long-term assets), tanah, pabrik/bangunan, dan
perlengkapan (property, plant and equipments), dan fasilitas fisis (plant assets).
 Basis Pembebanan
Fasilitas fisis memberi kontribusi jasa ke operasi berupa kapasitas atau daya
(misalnya dalam bentuk daya giling untuk mesin giling). Oleh karena itu, kos daya atau
kapasitas fasilitas fisis tersebut jelas harus diserap menjadi bagian kos produksi dan
akhirnya menjadi beban pendapatan.
 Makna Depresiasi
Dari segi akuntansi, depresiasi merupakan suatu proses alokasi kos secara
sistematika dan rasional dan jumlah rupiahnya diukur atas dasar bagian kos potensi jasa
yang dianggap telah dimanfaatkan dalam menciptakan pendapatan.
 Depresiasi Sebagai Proses Akumulasi Dana
Pengertian ini didasari oleh gagasan bahwa untuk dapat mempertahankan
kelangsungan hidup, perusahaan harus dapat mengganti fasilitas fisik yang habis umurnya.
Akibatnya, perusahaan harus menyisihkan dana dari pendapatan yang diperoleh. Dengan
mengurangi pendapatan, laba akan berkurang sebesar depresiasi yang dibebankan. Ini
berarti bahwa laba sejumlah depresiasi tidak dapat dibagi kepada pemegang saham.

9
 Depresiasi Sebagai Pemulihan Investasi
Konsep pemulihan investasi (investment cost recovery) ini secara konseptual sama
dengan pandangan di atas tetapi dianggap bahwa fasilitas fisis didanai dengan utang. Agar
perusahaan mampu membayar kembali investasinya maka harus dilakukan penyisihan
dana dengan cara mengurangi pendapatan perusahaan sebesar depresiasi. Pandangan ini
dapat disanggah dengan argument yang sama dengan yang dijelaskan di atas.
 Depresiasi Sebagai Proses Penilaian
Pendefinisian depresiasi sebagai bagian kos yang dibebankan secara sistematik dan
rasional merupakan pemaknaan depresiasi secara sintaktik. Artinya, depresiasi didefinisi
sebagai penerapan prosedur. Kelemahan pendefinisian ini adalah bahwa alokasi sistematik
dalam banyak hal tidak merepresentasi fenomena atau kegiatan operasi yang
sesungguhnya.
 Nilai Setara Tunai (current cash equivalents).
Dengan basis ini, penurunan nilai fasilitas fisis ditentukan dengan cara menghitung
selisih nilai setara tunai pada awal dan akhir perioda. Nilai ini adalah harga pasar aset
yang sama dalam kondisi yang sama sebagai barang bekas. Di sini dianggap bahwa daya
beli uang stabil.
 Kontribusi Pendapatan Neto Diskunan (discounted netrevenue contributin).
Dengan penilaian ini, depresiasi ditentukan dengan cara menghitung selisih nilai
diskunan aliran kontribusi pendatan neto pada awal dan akhir perioda. Kontribusi
pendapatan neto adalah tambahan aliran kas masuk (pendapatan) karena adanya investasi
fasilitas fisis bersangkutan.
 Depresiasi Sebagai Sarana Penandingan
Kos dengan Kontribusi Pendapatan Neto
Pemaknaan depresiasi ini sebenarnya sama dengan pemaknaan depresiasi secara
konvensional yaitu alokasi kos atas dasar pola penyerapan. Perbedaannya adalah pola
penyerapan tidak langsung didasarkan atas penyerapan jasa tetapi atas dasar pendapatan
neto yang dihasilkan oleh fasilitas fisik bersangkutan.
 Hubungan Depresiasi dan Laba
Telah dibahas sebelum ini bahwa mengaitkan depresiasi dengan kontribusi
pendapatan neto sama saja dengan melakukan imputasi pendapatan. Ini berarti besarnya
biaya depresiasi bergantung pada besarnya pendapatan dalam perioda tertentu.

10
 Koreksi Terhadap Kesalahan Taksiran
Mengingat kesulitan dalam meramalkan saat pemberhentian unit fasilitas fisis,
program depresiasi tidak memberikan hasil yang sama persis dengan kenyataannya setelah
berjalannya waktu.

E. Tanah
Apakah tanah perlu didepresiasi atau tidak bergantung pada karakteristik atau
fungsi tanah dalam operasi perusahaan. Sebagai tempat usaha, fungsi untuk ditempati
tidak akan pernah habis. Oleh karenanya, dapat dianggap bahwa kos tanah tidak perlu
didepresiasi atau diamortisasi menjadi biaya operasi. Dengan kata lain, fungsi tanah untuk
menyediakan jasa ditempati tanpa batas waktu (selamanya) cukup menjadi alasan
kebijakan untuk memperlakukan kos tanah sebagai investasi permanen dalam fasilitas
produksi. Perlakuan semacam ini makin didukung untuk tanah hak milik permanen.
Karena karakteristik kos tanah sebagai investasi permanen, tanah tersebut perlu dipisahkan
dari fasilitas fisis lain yang dapat didepresiasi dalam pelaporannya.
 Tanah Bukan Hak Milik Permanen
Kos tanah sewaguna (leasehold), tanah hak guna bangunan (HGB), atau bentuk
investasi non permanen lainnya dalam bentuk tanah harus secara sistematik dibebankan ke
produksi selama umur ekonomik atau selama jangka kontrak.
Dalam kondisi tertentu, tanah pertanian tidak dapat diperlakukan sebagai investasi
permanen. Kesuburan tanah jelas akan dipengaruhi oleh frekuensi panen dan lapisan atas
tanah (topsoil) yang subur mungkin habis akibat erosi sehingga suatu saat tanah tersebut
secara ekonomik tidak dapat ditanami lagi. Dalam keadaan seperti ini, akuntansi yang
sehat menghendaki pemisahan kos tanah menjadi bagian yang dimasukkan sebagai kos
sisa tanah (kalau ada) dan bagian yang menunjukkan kos elemen tanah yang dapat habis
jasanya (potensi jasa tanah untuk ditanami), kemudian ditentukan alokasi kos sistematik
yang tepat untuk bagian kedua tersebut. Jadi, dengan akuntansi seperti di atas,
pengeluaran-pengeluaran untuk mengembalikan kesuburan tanah akan menjadi bagian kos
tanah yang pada akhirnya harus didepresiasi.
 Sumber Alam
Sumber alam (natural resources) yang akan habis melalui proses penambangan
(extraction) dan tidak dapat diperbarui atau diganti (renewable) sering disebut dengan
“aset habis pakai” (wasting assets). Tambang mineral (termasuk minyak mentah dan gas)
adalah contoh utama aset habis pakai. Hutan kayu yang biasanya tidak diremajakan lagi

11
oleh perusahaan pengekstraksi dapat dikategori sebagai aset habis pakai. Kos sumber alam
tersebut (tidak termasuk nilai sisa tanah) harus diserap secara sistematik ke produksi atas
dasar pengambilan atau konsumsi. Kos yang diserap ini disebut deplesi. Seperti juga pada
depresiasi, deplesi sebagai kos atau upaya untuk menghasilkan pendapatan harus
ditentukan secara objektif dan rasional tanpa memperhatikan pengaruhnya terhadap laba
bersih.

F. Aset Tak Berwujud


digolongkan sebagai aset tak berwujud (intangibles) meliputi pos seperti hak cipta,
paten, merek dagang, goodwill, dan kos organisasi. Sama seperti fasilitas fisis, kos aset tak
berwujud harus secara sistematik dibebankan ke operasi dan akhirnya terhadap pendapatan
selama umur yuridisnya. Karena banyak masalah teoritis yang timbul, dua jenis aset tak
berwujud yaitu goodwill dan kos organisasi dibahas di bawah ini.
 Goodwill
Goodwill timbul apabila suatu perusahaan membeli perusahaan lain yang sudah berjalan
secara keseluruhan. Goodwill adalah selisih lebih jumlah rupiah tunai atau setaranya yang
dibayarkan oleh perusahaan pembeli di atas nilai pasar wajar atau nilai buku kekayaan
fisis perusahaan yang dibeli. Goodwill dapat diinterpretasi sebagai kemampuan lebih
dalam menghasilkan laba dibanding kemampuan normal perusahaan yang kondisi
kekayaan fisisnya sama. Kemampuan lebih tersebut tidak dapat diperoleh secara terpisah
dengan jalan membeli hak monopoli atau cara lainnya. Secara akuntansi, goodwill tidak
dapat ditimbulkan sendiri oleh perusahaan tetapi harus melalui pembelian suatu
perusahaan yang sedang berjalan. Kos kampanye produk baru, misalnya, tidak dapat
disebut sebagai goodwill.
 Kos Organisasi
Pengeluaran-pengeluaran yang terjadi sebelum perusahaan mulai beroperasi
biasanya ditampung dalam satu akun menjadi kos pendirian atau kos organisasi
(organization cost). Pengeluaran tersebut meliputi kos pencetakan saham, tarif akte
notaris, pengeluaran untuk ijin perusahaan, dan kos kegiatan selama proses pendirian. Kos
organisasi diperlakukan sebagai aset tak berwujud karena kos tersebut tidak dapat
dikaitkan dengan aset tetap berwujud yang ada dalam perusahaan. Seperti telah diuraikan
dalam pembahasan tanah, kos organisasi menunjukkan suatu aset permanen (tidak perlu
diamortisasi) sepanjang perusahaan dapat mempertahankan diri sebagai perusahaan yang
beroperasi secara penuh dan yang bertumbuh sebagaimana ditunjukkan oleh kemampuan

12
untuk menghasilkan laba dan posisi keuangannya. Akan tetapi, kos pendirian tersebut
harus mulai diserap atau dihapuskan bila terjadi penurunan laba dan pengerutan
(contraction) kekayaan yang terus menerus akibat kegagalan usaha atau proses likuidasi.

G. Penyajian Biaya
Penyajian biaya tidak dapat dilepaskan dari penyajian pendapatan dan sarana untuk
itu adalah statemen laba-rugi. Penyajian elemen pendapatan, untung, biaya, dan rugi
bergantung pada konsep tentang apa saja yang membentuk laba.

Pertanyaan :
1. Mengapa kas bergabung dank as bersama perlu dialokasi ?
2. Apakah perbedaan karakteristik proses pengakuan kas sebagai asset dan proses
pembebanan kas sebagai biaya?

13