nightingale care
Sabtu, 27 Mei 2017
ASUHAN KEPERAWATAN HIPOGLIKEMIA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, penulis dapat menyelesaikan
tugas makalah Asuhan Keperawatan dengan Hipoglikemia. Penulis mengucapkan terima kasih kepada
teman-teman dan keluarga yang membantu memberikan semangat dan dorongan demi terwujudnya
karya ini, yaitu makalah Asuhan Keperawatan dengan Hipoglikemia ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Teknologi Keparawatan yaitu Ns.
Duma Lumban Tobig, M.Kep, Sp.Kep. J atas bimbingan yang telah diberikan, penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada pihak-pihak yang juga membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa teknik penyusunan dan materi yang penulis sajikan masih kurang sempurna.
Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dengan tujuan untuk
menyempurnakan makalah ini.
Dan penulis berharap, semoga makalah ini dapat di manfaatkan sebaik mungkin, baik itu bagi diri sendiri
maupun yang membaca makalah ini.
Jakarta, 27 Mei 2017
Rahmawati Kaulika F
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit tidak menular merupakan kelompok terbesar penyakit penyebab kematian di indonesia. Salah
satu penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian tinggi di Indonesia adalah diabetes mellitus.
Diabetes melitus utamanya diakibatkan karena pola hidup yang tidak sehat (Eko, 2012).
Hipoglikemia merupakan komplikasi yang paling sering muncul pada penderita diabetes mellitus.
Hipoglikemia adalah menurunnya kadar glukosa darah yang menyebabkan kebutuhan metabolik yang
diperlukan oleh sistem saraf tidak cukup, sehingga menimbulkan berbagai keluhan dan gejala klinik.
Hipoglikemia berdampak serius pada morbiditas, mortalitas dan kualitas hidup.
Hipoglikemia merupakan penyakit kegawatdaruratan yang membutuhkan petolongan segera. Karena
hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen hingga koma
sampai kematian.
Maka dari itu, penulis tertarik untuk mengambil topik pembahasan mengenai teoritis dan asuhan
keperawatan pada penderita hipoglikemia. Ada baiknya kita selalu menjaga kesehatan kita dengan
mencegahnya. Bagaimana pun mencegah memang lebih baik dari mengobati.
1.2 Tujuan Umum
Penulis dapat mengetahuai tentang gambaran teori mengenai hipoglikemia dan juga Asuhan
Keperawatan pada penderita hipoglikemia
1.3 Tujuan Khusus
Setelah melakukan pembelajaran dan penelitian tentang Hipoglikemia, maka pembaca
(mahasiswa/mahasiswi) mampu:
1. Mengetahui pengertian dari Hipoglikemia
2. Mengetahui tanda gejala dari Hipoglikemia
3. Mengetahui faktor risiko dari Hipoglikemia
4. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien Hipoglikemia
5. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien Hipoglikemia
BAB II
Tinjauan Teoritis
2.1 Pengertian Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar glukosa dalam darah dibawah normal (<70 mg/DL).
(ADA. 2016)
Hipoglikemia merupakan penyakit kegawatdaruratan yang membutuhkan pertolongan segera, karena
hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen, hipoglikemia
juga dapat menyebabkan koma sampai dengan kematian (Kedia, 2011)
Hipoglikemia adalah suatu keadaan abnormal, dimana kadar glukosa dalam darah <50/60 mg/dl
(Standards of Medical Care in Diabetes, 2009; Cryer, 2005; Smeltzer& Bare,2003)
Menurut McNaughton (2011), Hipoglikemia merupakan suatu kegagalan dalam mencapai batas normal
kadar glukosa darah dibawah normal yaitu <60 mg/dl.
Jadi kesimpulannya, Hipoglikemia didefinisikan sebagai keadaan di mana kadar glukosa plasma lebih
rendah dari 45 mg/dl– 50 mg/dl.
Pasien diabetes yang tidak terkontrol dapat mengalami gejala hipoglikemia pada kadar gula darah yang
lebih tinggi dibandingkan dengan orang normal, sedangkan pada pasien diabetes dengan pengendalian
gula darah yang ketat (sering mengalami hipoglikemia) dapat mentoleransi kadar gula darah yang rendah
tanpa mengalami gejala hipoglikemia.
Menurut Cryer (2005) & Soemadji (2006), pendekatan diagnosis kejadian hipoglikemia juga dilakukan
dengan bantuan Whipple’s Triad yang meliputi:
· Keluhan yang berhubungan dengan hipoglikemia
· Kadar glukosa plasma yang rendah (<50mg/dl
· Perbaikan kondisi setelah perbaikan kadar gula darah (paska koreksi)
2.2 Prevalensi Hipoglikemia
Hipoglikemia lebih sering terjadi pada DM tipe 1 dengan angka kejadian 10-30% psien per tahun dengan
angka kematian 3-4% (Goldman and Shcafer 2012). Sedangkan DM tipe 2 angka kejadiannya 1,2% pasien
per tahun. (Berber et al 2013).
Rata-rata kejadian hipoglikemia meningkat dari 3,2 per 100 orang pertahun menjadi 7,7 per 100 orang
pertahun pada penggunaan insulin (Cutll et al 2001). Sebagai penyakit akut pada DM tipe 2,
Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh penggunaan insulin Dan sulfonilurea (PERKENI 2011).
2.3 Etiologi Hipoglikemia
Dosis pemberian insulin yang kurang tepat, kurangnya asupan karbohidrat karena menunda atau
melewatkan makan, konsumsi alkohol, peningkatan pemanfaatan karbohidrat karena latihan atau
penurunan berat badan (Kedia, 2011).
Menurut Sabatine (2006),Hipoglikemia dapat terjadi pada penderita Diabetes dan Non Diabetes
dengan etiologi sebagai berikut :
1. Pada Diabetes
· Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada penderita diabetes untuk
menurunkan kadar gula darahnya (Overdose insulin)
· Asupan makan yang lebih dari kurang (tertunda atau lupa, terlalu sedikit, output yang berlebihan
seperti adanya gejala muntah dan diare, serta diet yang berlebih).
· Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal (mis. Hipotiroid)
· Aktivitas berlebih
· Gagal ginjal
2. Pada Non Diabetes
· Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa di hati
· Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pankreas
· Paska aktivitas
· Konsumsi makanan yang sedikit kalori
· Konsumsi alcohol
· Paska melahirkan
· Post gastrectomy
· Penggunaan obat dalam jumlah yang berlebih (mis. Salisilat, sulfonamide)
2.4 Faktor Resiko Hipoglikemia
Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko hipoglikemia pada penderita diabetes (kedia
2011), yaitu
Gangguan kesadaran hipoglikemi, merupakan faktor resiko utama, ketidaksadarantersebut berarti ada
ketidakmampuan untuk mendeteksi terjadinya hipoglikemia dan akibatnya, indivdu cenderung kurang
untuk memulai tindakan korektif cepat dan lebih cenderung menderita episode parah.
Usia muda, karena kesadaran tentang tanda-tanda dan gejala yang lebih rendah
Faktor predisposisi terjadinya hipoglikemia pada pasien yang mendapat pengobatan insulin atau
sulfonylure (Mansjoer A, 1999), yaitu :
a. Pengurangan/keterlambatan makan
b. Kesalalahan dosis obat
c. Latihan jasmani yang berlebihan
d. Penurunan kebutuhan insulin
e. Penyembuhan dari penyakit
f. Nefropati diabetic
g. Hipotiroidisme
h. Penyakit Addison
i. Hipopituitarisme
j. Hari-hari pertama persalinan
k. Penyakit hati berat
2.5 Klasifikasi Hipoglikemia
Hipoglikemia menurut Setyohadi (2012) dan Thompson (2011) diklasifikasikan sebagai berikut :
Ringan (glukosa darah 50-60 mg/Terjadi jika kadar glukosa darah menurun dan sistem saraf simpatik
akan terangsang, pelimpahan adrenalin ke darah menyebabkan gejala : tumor, kegelisahan, rasa lapar,
dll.
2. Sedang (glukosa darah <50 mg/dL
Penurunan kadar glukosa dapat menyebakan sel2 otak tidak memperoleh bahan bakar untuk bekerja
dengan baik. Tanda-tanda gangguan fungsi sistem saraf pusat mencakup ketidakmampuan
berkonsentrasi, penurunan daya ingat, penglihatan ganda, peasaan ingin pingsan.
3. Berat (glukosa darah < 35 mg/dL)
Terjadi gangguan pada sistem saraf pusat, sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk
mengatasi hipoglikemia. Gejalanya : serangan kejang, sulit dibangunkan bahkan kehilangan kesadaran.
Hipoglikemia spontan pada orang dewasa dibedakan atas dua tipe, yaitu :
1. Hipoglikemia puasa
Hipoglikemia puasa biasanya timbul menyertai penyakit endokrin tertentu, seperti hipopituitarisme,
penyakit Addison, atau mixedema; terkait dengan malfungsi hepar, seperti alkoholisme akut dan gagal
hati; pada orang dengan penyakit ginjal, terutama pada pasien yang memerlukan dialisis. Pada keadaan
ini hipoglikemia nyata tampilan sekunder. Jika hipoglikemia puasa ini merupakan manifestasi primer,
maka penyebabnya mungkin a) hiperinsulinemia akibat tumor sel b pankreas atau karena pemberian
insulin atau pobat sulfonilurea dosis berlebihan; b) akibat sekresi insulin tumor ekstra-pankreatik.
2. Hipoglikemia pasca-sarapan (postprandial)
Hipoglikemia reaktif dapat dibagi menjadi awal (2-3 jam sesudah makan) dan lambat (35 jam pasca-
sarapan). Hipoglikemia awal (alimentary) timbul jika ada pengeluaran KH yang cepat dari lambung
kedalam usus halus, diikuti dengan peninggian absorpsi glukosa dan hiperinsulinemia. Hal ini terlihat
pada pasien pasca-gastrektomi (sindroma dumping). Ada pula yang bersifat fungsional sebagai tanda
adanya overaktivitas saraf parasimpatik yang dimediasi saraf vagus. Pada beberapa keadaan yang jarang
dijumpai adanya defek pada hormon kontra-regulasi, seperti pada defisiensi growth hormone, glukagon,
kortisol, atau respon autonomik.
2.6 Manifestasi Klinis Hipoglikemia
Gejala dan tanda dari hipoglikemia merupakan akibat dari aktivasi sistem saraf otonom dan
neuroglikopenia. Pada pasien dengan usia lajut dan pasien yang mengalami hipoglikemia berulang,
respon sistem saraf otonom dapat berkurang sehingga pasien yang mengalami hipoglikemia tidak
menyadari kalau kadar gula darahnya rendah (hypoglycemia unawareness). Kejadian ini dapat
memperberat akibat dari hipoglikemia karena penderita terlambat untuk mengkonsumsi glukosa untuk
meningkatkan kadar gula darahnya.
Gejala umum penderita Hipoglikemia :
1. Keringat dingin
2. Letih
3. Sakit kepala
4. Lapar
5. Iritabilitas
6. Tidak enak badan
7. Denyut nadi cepat
8. Menggigil
9. Mual-muntah
10. Hipotensi
11. Pucat dan kulit dingin
12. Pandangan kabur
13. Keluar banyak keringat
14. Tremor
2.7 Patofisiologi Hipoglikemia
Dalam diabetes, hipoglikemia terjadi akibat kelebihan insulin relative ataupun absolute dan juga
gangguan pertahanan fisiologis yaitu penurunan plasma glukosa. Mekanisme pertahanan fisiologis dapat
menjaga keseimbangan kadar glukosa darah, baik pada penderita diabetes tipe I ataupun pada penderita
diabetes tipe II. Glukosa sendiri merupakan bahan bakar metabolisme yang harus ada untuk otak. Efek
hipoglikemia terutama berkaitan dengan sistem saraf pusat, sistem pencernaan dan sistem peredaran
darah (Kedia, 2011).
Glukosa merupakan bahan bakar metabolisme yang utama untuk otak. Selain itu otak tidak dapat
mensintesis glukosa dan hanyamenyimpan cadangan glukosa (dalam bentuk glikogen) dalam jumlah
yang sangat sedikit. Oleh karena itu, fungsi otak yang normal sangat tergantung pada konsentrasi asupan
glukosa dan sirkulasi. Gangguan pasokan glukosa dapat menimbulkan disfungsi sistem saraf pusat
sehingga terjadi penurunan suplai glukosa ke otak. Karena terjadi penurunan suplay glukosa ke otak
dapat menyebabkan terjadinya penurunan suplay oksigen ke otak sehingga akan menyebabkan
pusing,bingung, lemah (Kedia, 2011).
Konsentrasi glukosa darah normal, sekitar 70 – 110 mg/dL. Penurunan kosentrasi glukosa darah akan
memicu respon tubuh, yaitu penurunan kosentrasi insulin secara fisiologis seiring dengan turunnya
kosentrasi glukosa darah, peningkatan kosentrasi glucagon dan epineprin sebagai respon neuroendokrin
pada kosentrasi glukosa darah di bawah batas normal, dan timbulnya gejala gejala neurologic (autonom)
dan penurunan kesadaran pada kosentrasi glukosa darah di bawah batas normal (Setyohadi, 2012).
Penurunan kesadaran akan mengakibatkan depresan pusat pernapasan sehingga akan mengakibatkan
pola nafas tidak efektif (Carpenito, 2007)
Kosentrasi glukosa darah, peningkatan kosentrasi glucagon dan epineprin sebagai respon neuroendokrin
pada kosentrasi glukosa darah di bawah batas normal, dan timbulnya gejala gejala neurologic (autonom)
dan penurunan kesadaran pada kosentrasi glukosa darah di bawah batas normal(Setyohadi, 2012).
Penurunan kesadaran akan mengakibatkan depresan pusat pernapasan sehingga akan mengakibatkan
pola nafas tidak efektif (Carpenito, 2007). Batas kosentrasi glukosa darah berkaitan erat dengan system
hormonal, persyarafan dan pengaturan produksi glukosa endogen serta penggunaan glukosa oleh organ
perifer. Insulin memegang peranan utama dalam pengaturan kosentrasi glukosa darah. Apabila
konsentrasi glukosa darah menurun melewati batas bawah konsentrasi normal, hormon-hormon
konstraregulasi akan melepaskan. Dalam hal ini, glucagon yang diproduksi oleh sel α pankreas berperan
penting sebagai pertahanan utama terhadap hipoglikemia. Selanjutnya epinefrin, kortisol dan hormon
pertumbuhan jugaberperan meningkatkan produksi dan mengurangi penggunaan glukosa.Glukagon dan
epinefrin merupakan dua hormon yang disekresi pada kejadian hipoglikemia akut. Glukagon hanya
bekerja dalam hati. Glukagon mula-mula meningkatkan glikogenolisis dan kemudian glukoneogenesis,
sehingga terjadi penurunan energi akan menyebabkan ketidakstabilan kadar glukosa darah (Herdman,
2010),
Penurunan kadar glukosa darah juga menyebabkan terjadi penurunan perfusi jaringan perifer, sehingga
epineprin juga merangsang lipolisis di jaringan lemak serta proteolisis di otot yang biasanya ditandai
dengan berkeringat, gemetaran, akral dingin, klien pingsan dan lemah (Setyohadi, 2012).
Pelepasan epinefrin, yang cenderung menyebabkan rasa lapar karena rendahnya kadar glukosa darah
akan menyebabkan suplai glukosa ke jaringan menurun sehingga masalah keperawatan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh dapat muncul (Carpenito, 2007).
2.8 Pemeriksaan Penunjang Hipoglikemia
1. Gula darah puasa
Diperiksa untuk mengetahui kadar gula darah puasa (sebelum diberi glukosa 75 gram oral) dan nilai
normalnya antara 70- 110 mg/dl.
2. Gula darah 2 jam post pradial
Diperiksa 2 jam setelah diberi glukosa dengan nilai normal < 140 mg/dl/2 jam
3. Pemeriksaan HBA1c
Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah untuk memperoleh kadar gula darah yang
sesungguhnya karena pasien tidak dapat mengontrol hasil tes dalam waktu 2- 3 bulan. HBA1c
menunjukkan kadar hemoglobin terglikosilasi yang pada orang normal antara 4- 6%. Semakin tinggi maka
akan menunjukkan bahwa orang tersebut menderita DM dan beresiko terjadinya komplikasi.
4. Pemeriksaan elektrolit, Terjadi peningkatan creatinin jika fungsi ginjalnya telah terganggu
1. Pemeriksaan Leukosit, terjadi peningkatan jika sampai terjadi infeksi
1.8 Penatalaksanaan Hipoglikemia
Tujuan dilakukan tatalaksana Hipoglikemia yaitu :
1. Memenuhi kadar gula darah dalam otak agar tidak ter
jadi kerusakan irreversibel.
2. Tidak mengganggu regulasi DM.
Pedoman tatalaksana Hipoglikemia menurut PERKENI (2006) pedoman sebagai berikut :
1. Glukosa diarahkan pada kadar glukosa puasa yaitu 120 mg/dl.
2. Bila diperlukan pemberian glukosa cepat (IV) → satu flakon (25 cc) Dex 40% (10 gr Dex) dapat
menaikkan kadar glukosa kurang lebih 25-30 mg/dl.
Manajemen Hipoglikemi menurut Soemadji (2006); Rush & Louise (2004) ; Smeltzer & Bare (2003)
sebagai berikut:
· Tergantung derajat hipoglikemi:
Ø Hipoglikemi ringan:
i. Diberikan 150-200 ml teh manis atau jus buah atau 6 -10 butir
permen atau 2-3 sendok teh sirup atau madu.
ii. Bila gejala tidak berkurang dalam 15 menitulangi pemberiannya
iii. Tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori
coklat, kue, donat, ice cream, cake
Ø Hipoglikemi berat:
i. Tergantung pada tingkat kesadaran pasien.
ii. Bila klien dalam keadaan tidak sadar, Jangan memberikan
makanan atau minuman
Pada hipoglikemia berat, membutuhkan bantuan eksternal (obat) :
1. Dekstrosa
Untuk pasien yang tidak mampu menelan glukosaoral karena pingsan, kejang, atau perubahan status
mental. Pada keadaan darurat dapat pemberian dekstorsa dalam air pada konsentrasi 50% adalah dosis
biasanya diberikan kepada orang dewasa, sedangkan konsentrasi 25% biasanya diberikan kepada anak –
anak.
2. Glukagon
Sebagai hormon kontra – regulasi utama terhadap insulin, glukagon adalah pengobatan pertama yang
dapat dilakukan untuk hipoglikemia berat. Tidak seperti dekstrosa, yang harus diberikan secara IV
dengan perawatan kesehatan yang berkualitas profesional, glukagon dapat diberikan oleh subcutan atau
intramuskular.
2.10 Komplikasi Hipoglikemia
Komplikasi dari hipoglikemia pada gangguan tingkat kesadaran yang berubah selalu dapat menyebabkan
gangguan pernafasan. Selain itu hipoglikemia juga dapat mengakibatkan kerusakan otak akut.
Hipoglikemia berkepanjangan parah bahkan dapat menyebabkan gangguan neuropsikologis sedang
sampai dengan gangguan neuropsikologis berat karena efek hipoglikemia berkaitan dengan system saraf
pusat yang biasanya ditandai oleh perilaku dan pola bicara yang abnormal (Jevon, 2010) . Menurut Kedia
(2011), hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen,
hipoglikemia juga dapat menyebabkan koma sampai kematian.
BAB III
TINJAUAN KASUS DAN ASKEP
3.1 Gambaran kasus
Seorang klien dirawat diruang perawatan umum rumah sakit swasta, klien dirawat dengan keluhan
tubuhnya lemas nyaris pingsan. Akhir – akhir ini klien sering mengeluh haus, sering BAK , sering merasa
lapar , berat badan turun 4 kg dalam satu bulan ini dan BB klien sekarang 68 kg. Keluhan yang
dirasakannya klien adalah mudah lelah, suka terasa kesemutan pada jari-jari tangan atau kaki, serta
merasa nyeri saat beraktivitas dan terasa senat senut pada kepala bagian tengah dengan skala nyeri yang
diperoleh yaitu 6. Keluarga mengatakan bahwa Tn.T memiliki riwayat penyakit DM 4 tahun yang lalu.
Akral klien dingin, klien tampak pucat, mukosa klien tampak kering, dank klien tampak tremor. Hasil
pemeriksaan Gula darah 41mg/dl. Sebelumnya klien diberikan insulin dan metformin. Diagnosa medis
klien : Hipoglikemia, perawat dan dokter serta paramedic lainnya yang terkait melakukan perawatan
secara integrasi untuk menghindari /mengurangi resiko komplikasi lebih lanjut.
3.2 Askep Hipoglikemia
1. DATA FOKUS
Data Subjektif
Klien mengatakan tubuhnya lemas
Klien mengatakan merasa letih
Klien merasa tidak enak badan
Klien mengatakan pusing
Klien mengatakan nyeri kepala
P: Saat beraktivitas
Q: Terasa senat senut
R: Nyeri di Kepala bagian tengah (ubun-ubun)
S : Skala 6
T : <20 menit
Klien mengatakan sering merasa lapar
Klien mengatakan BB turun 4 kg dalam satu bulan ini
Klien mengatakan mudah lelah
Klien mengatakan suka terasa kesemutan pada jari-jari tangan atau kaki
Klien mengatakan memiliki riwayat DM 4 tahun lalu
Data Objektif
Hasil pemeriksaan GDS : 41 mg/dl
Sebelumnya klien meminum metformin dalam dosis yang berlebih
TTV :
TD : 140/80 mmHg
N : 102x/menit
RR : 20x/menit
S : 35°S
Akral dingin
Klien tampak pucat
Klien terbaring lemas
Mukosa klien kering
Klien tampak tremor
BB klien sekarang : 68 kg
BB sebelum : 72 kg
Diagnosa medis : Hipoglikemia
2. ANALISA DATA
NO.
DATA FOKUS
PROBLEM
ETIOLOGI
DATA SUBJEKTIF:
Klien mengatakan sering merasa lapar
Klien mengatakan BB turun 4 kg dalam satu bulan ini
DATA OBJEKTIF :
Hasil pemeriksaan GDS : 41 mg/dl
Sebelumnya klien meminum metformin dalam dosis yang berlebih dari anjuran dokter
BB klien sekarang : 68 kg
BB sebelum : 72 kg
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Ketidakmampuan mengabsorpsi nutrien
DATA SUBJEKTIF:
Klien mengatakan pusing
Klien mengatakan nyeri kepala
P: Saat beraktivitas
Q: Terasa senat senut
R: Nyeri di Kepala
S : Skala 6
T : <20 menit
DATA OBJEKTIF :
Klien tampak pucat
Nyeri akut
Agens cedera biologis
DATA SUBJEKTIF:
Klien mengatakan suka terasa kesemutan pada jari-jari tangan atau kaki
Klien mengatakan memiliki riwayat DM 4 tahun lalu
DATA OBJEKTIF:
TTV klien :
S :35°C
Akral klien dingin
Klien tampak tremor
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
Diabetes Militus
DATA SUBJEKTIF :
Klien mengatakan tubuhnya lemas
Klien mengatakan merasa letih
Klien merasa tidak enak badan
Klien mengatakan mudah lelah
DATA OBJEKTIF :
Klien terbaring lemas
Keletihan
Kelesuan fisiologis : Hipoglikemia
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mengabsorpsi nutrien
Nyeri akut b.d agens cedera biologis
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d Diabetes militus
Keletihan b.d kelesuan fisiologis : hipoglikemia
4. INTERVENSI
DIAGNOSA
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
INTERVENSI
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mengabsorpsi nutrien
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, diharapkan masalah ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan pada klien dapat teratasi, dengan kriteria hasil :
BB klien normal kembali
Hasil GDS normal : <200 mg/dl
Klien tidak mengonsumsi obat anti diabetes dalam dosis berlebih
Mandiri :
Monitor asupan makanan kalori harian
Monitor berat badan klien secara rutin
Kaji GDS klien sebelum dan sesudah 1 jam pemberian makan
Timbang pasien pada jam yang sama setiap hari
Kaji makanan kesukaan pasien, baik itu kesukaan pribadi atau yang dianjurkan budaya dan agamanya
Bantu pasien untuk makan atau suapi pasien
Ciptakan lingkungan yang menyenangkan dan menenangkan
Sajikan makanan dengan menarik
Beri penjelasan kepada klien/keluarga klien dalam mengonsumsi obat anti diabetes sesuai dosis yang
dianjurkan
Kolaborasi :
Kolaborasi dengan tim dokter dalam menentukan dosis obat antidiabetes pada klien
Kolaborasi dengan ahli gizi dalam menentukan asupan kalori harian yang diperlukan untuk
mempertahankan berat badan yang sudah ditentukan
Nyeri akut b.d agens cedera biologis
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, diharapkan masalah nyeri akut pada klien
dapat teratasi, dengan kriteria hasil :
Klien tidak merasakan nyeri di kepala saat beraktivitas
Klien tidak merasa pusing
Klien tidak merasa sakit kepala
Skala nyeri klien 0
Mandiri :
1. Kaji skala nyeri klien
2. Berikan lingkungan yang tenang
3. Atur posisi tidur klien : fowler
4. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
5. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi : P,Q,R,S dan T
Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat analgesic
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d Diabetes militus
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, diharapakan masalah ketidakefektifan perfusi
jaringan perifer klien dapat teratasi, dengan kriteria hasil :
TTV dalam batas normal :
TD:120/80 mmHg
N:60-100 x/menit
S: 36,5-37,5°C
RR:16-24x/menit
Akral klien tidak teraba dingin
Klien tidak merasakan kesemutan lagi
Klien tidak tremor
Mandiri:
Kaji tingkat kesadaran klien (GCS)
Kaji TTV klien
Kaji kadar GDS sebelum dan 1 jam sesudah pemberian terapi
Pertahankan keefektifan jalan nafas klien
Berikan posisi supinasi
Pada klien
Berikan informasi pada keluarga klien tentang penyakit dan penanganannya
Ajarkan klien senam diabetes
Kolaborasi:
Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat vitamin neurotropik
Keletihan b.d kelesuan fisiologis (Hipoglikemia)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan masalah keletihan pada klien
dapat teratasi, dengan kriteri hasil :
1. Klien tidak merasa lemas
2. Klien tidak merasa letih
3. Klien merasa enak badan
Mandiri :
Kaji status fisiologis pasien yang menyebabkan kelelahan sesuai dengan konteks usia dan perkembangan
Kaji TTV klien
Batasi aktivitas secara adekuat
Anjurkan klien untuk beraktivitas ringan terlebih dahulu
Beri edukasi kepada klien/keluarga klien dengan menjelaskan hubungan antara keletihan dan
proses/kondisi penyakit
Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian asupan makanan yang berenergi ti
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Hipoglikemia didefinisikan sebagai keadaan di mana kadar glukosa plasma lebih rendah dari 45 mg/dl –
50 mg/dl. Dosis pemberian insulin yang kurang tepat, kurangnya asupan karbohidrat karena menunda
atau melewatkan makan, konsumsi alkohol, peningkatan pemanfaatan karbohidrat karena latihan atau
penurunan berat badan merupakan penyebab terjadinya hipoglikemia (Kedia, 2011). Beberapa faktor
resiko penyebab hipoglikemia seperti Pengurangan/keterlambatan makan, Kesalalahan dosis obat,
Latihan jasmani yang berlebihan, Penurunan kebutuhan insulin, dsb. Klasifikasi hipoglikemia dibagi
dalam tingkatan ringan, sedang, dan berat. Manisfestasi klinis yang sering kita jumpai pada penderita
hipoglikemia ini yaitu sering lemas, lesuh, letih, tidak fokus terhadap sesuatu, dan mengalami penurunan
berat badan. Pemeriksaan penunjang yang utama yatiu pemeriksaan gula darah yang apabila didapatkan
hasil kurang dari normal yaitu <50 mg/dl. Tujuan dilakukan tatalaksana Hipoglikemia yaitu untuk
memenuhi kadar gula darah dalam otak agar tidak terjadi kerusakan irreversibel, serta tidak mengganggu
regulasi DM dan mengarahkan agar kadar glukosa plasma berada dalam batas normal orang puasa yaitu
120mg/dl. Komplikasi yang dapat terjadi yakni kerusakan pada otak, kematian , koma, dsb. Pemberian
asuhan keperawatan pada pasien dengan hipoglikemia yang tertera, sudah sesuai dengan tinjauan teori,
begitu juga dengan pelaksanaannya tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus.
4.2 SARAN
Saran yang dapat disampaikan dari isi makalah ini yakni diharapkan dapat meningkatkankinerja perawat
dandapat memberikan asuhankeperawatan kegawatdaruratan khususnya pada pasien hipoglikemia
secara cepat dan tepat. Dan diharapkan bagi mahasiswa untukdapat menggunakan kesempatan ini
sebaik mungkin untuk serius mencari pengetahuan dalam perawatan penderita hipoglikemia
DAFTAR PUSTAKA
Hadiatma, Mega. 2012. NURSING CARE IN HYPOGLYCEMIA IN PATIENTS
WITH DIABETES MELLITUS IN THE INSTALLATION EMERGENCY HOSPITAL. Naskah publikasi UMS.pdf
PERKENI 2011
Jurnal UNDIP
Jurnal UNAIR
Unknown di 02.34
Berbagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Beranda
Lihat versi web
Diberdayakan oleh Blogger.