Anda di halaman 1dari 21

MANAJEMEN RISIKO

“PENGUKURAN RISIKO”

OLEH :
KELOMPOK III

AYU DESKARANI
FIFI SRIGANTI
LIDIA SASMIKA
PUTRI INTAN
RIZKY NAZAR

SEMESTER VI KEUANGAN-A
PROGRAM STUDI : MANAJEMEN

DOSEN PEMBIMBING :
Gita Sari Gustika, SE., M.Si

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDRAGIRI (STIE-I)


RENGAT
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah S.W.T yang telah memberi
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas softskill ini akhirnya bisa
diselesaikan.

Tugas dengan judul “Pengukuran Risiko” ini disesuaikan dengan


tujuannya untuk menunjang perkuliahan dalam mata kuliah Manajemen Risiko
serta memenuhi tugasyang telah diberikan oleh dosen kepada kami.

Penulis menyadari bahwa masih banyak ketidaksempurnaan pada


penulisan tugas sofftskil ini, baik isi maupun redaksinya, oleh karenanya kritik
dan saran yang membangun diharapkan dapat memperbaiki tugas ini untuk
selanjutnya.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara
langsung ataupun tidak terhadap terselesaikannya tugas ini.

Akhir kata, insya Allah tugas softskill ini dapat bermanfaat bagi siapa saja
yang membutuhkannya.

Kota Lama, 28 April 2019

Penulis

i| M a n a j e m e n R i s i k o
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .............................................................................. 1
C. Tujuan ................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................... 3

A. Pengertian dan Prinsip Pengukuran Risiko ........................................ 3


B. Dimensi yang diukur .......................................................................... 5
C. Konsep probabilitas dalam pengukuran kerugian potensial ............... 6
D. Distribusi Probabilitas ........................................................................ 14
E. Pengukuran Frekuensi Kerugian dan Tingkat Keparahan .................. 15

BAB III PENUTUP .................................................................................. 17

A. Kesimpulan ........................................................................................ 17
B. Saran .................................................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 18

ii| M a n a j e m e n R i s i k o
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Risiko merupakan bagian dari kehidupan kerja individual maupun
organisasi. Berbagai macam risiko, seperti risiko kebakaran, tertabrak
kendaraan lain di jalan, risiko terkena banjir di musim hujan dan sebagainya,
dapat menyebabkan kita menanggung kerugian jika risiko-risiko tersebut
tidak kita antisipasi dari awal. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian
atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran
organisasi.
Risiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi karena kurang
atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi.
Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau
merugikan. Dalam beberapa tahun terakhir, manajemen risiko menjadi trend
utama baik dalam perbincangan, praktik, maupun pelatihan kerja. Hal ini
secara konkret menunjukkan pentingnya manajemen risiko dalam bisnis pada
masa kini. Setelah kita mengidentifikasi resiko maka tindakan selanjutnya
adalah mengukur risiko. Dengan mengukur risiko kita bisa mengetahui
seberapa besar risiko itu. Hal ini penting, karena sebelum kita menentukan
sikap untuk mengendalikan risiko terlebih dahulu kita mengetahui kadar
resiko tersebut, hal inilah yang mendorong penulis untuk mengangkat
bagaimana cara mengukur risiko dengan mudah.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa pengertian dan prinsip pengukuran risiko ?
2. Dimensi apa saja yang diukur ?
3. Bagaimana Konsep probabilitas dalam pengukuran kerugian potensial?
4. Bagaimana Distribusi Probabilitas ?
5. Bagaimana Pengukuran Frekuensi Kerugian dan Tingkat Keparahan ?

1|Manajemen Risiko
C. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui apa pengertian dan prinsip pengukuran risiko
2. Untuk mengetahui apa saja dimensi apa saja yang diukur
3. Untuk mengetahui bagaimana konsep probabilitas dalam pengukuran
kerugian potensial
4. Untuk mengetahui bagaimana distribusi probabilitas
5. Untuk mengetahui bagaimana Pengukuran Frekuensi Kerugian dan
Tingkat Keparahan

2|Manajemen Risiko
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Prinsip Pengukuran Risiko


Pengukuran risiko adalah usaha untuk mengetahui besar/kecilnya risiko
yang akan terjadi. Hal ini dilakukan untuk melihat tinggi rendahnya risiko
yang dihadapi perusahaan, kemudian bisa melihat dampak dari risiko
terhadap kinerja perusahaan sekaligus bisa melakukan prioritisasi risiko,
risiko yang mana yang paling relevan.

Pengukuran resiko merupakan tahap lanjutan setelah pengidentifikasian


resiko. Dimana pengidentifikasian risiko pada dasarnya merupakan kegiatan
analisis secara sistematis dan berkesinambungan untuk
menemukan/mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya
kerugian yang potensial yang dihadapi/mengancam perusahaan.
Prinsip-prinsip pengukuran resiko adalah :
1. Transparansi
Prinsip ini mensyaratkan agar seluruh potensi risiko yang ada
pada suatu aktivitas, khususnya transaksi, dibeberkan secara terbuka.
Risiko yang tersembunyi atau disembunyikan akan menjadi sumber
permasalahan terbesar dan, per definisi, tidak akan dapat dikelola dengan
baik.
2. Pengukuran yang Akurat
Prinsip ini mewakili sisi sains dari konsep Manajemen Risiko,
dan mensyaratkan investasi berkesinambungan untuk berbagai teknik dan
alat yang akan digunakan sebagai syarat dari proses Manajemen Risiko
yang kuat.
3. Informasi Berkualitas yang Tepat Waktu
Prinsip ini akan turut menentukan akurasi pengukuran dan
kualitas keputusan yang diambil. Sebaliknya tidak terpenuhinya prinsip
ini bisa membawa manajemen pada suatu keputusan yang berisiko fatal.

3|Manajemen Risiko
4. Diversifikasi
Sistem Manajemen Risiko yang baik menempatkan konsep
diversifikasi sebagai sesuatu yang penting untuk dicermati.Hal ini
menuntut pola pemantauan yang konstan dan konsisten.Asumsinya
adalah bahwa konsentrasi (Risiko) dapat muncul setiap saat seiring
dengan berbagai perubahan yang terjadi di dunia.
5. Independensi
Berdasarkan prinsip independensi, keberadaan suatu kelompok
Manajemen Risiko yang independen makin dianggap sebagai suatu
keharusan. Prinsip ini tidak sekedar berbicara tentang kewenangan dan
level tanggung jawab dari kelompok Manajemen Risiko dan kelompok
atau unit lainnya dalam perusahaan, melainkan juga tentang tentang visi
perusahaan dan kualitas interrelasi antara kelompok Manajemen Risiko
dengan kelompok atau unit lainnya, dan juga antar kelompok aatau unit
yang melaksanakan transaksi dengan mengambil risiko tertentu.
6. Pola Keputusan yang Disiplin
Porsi sains dalam konsep Manajemen Risiko memang telah
memberikan banyak kontribusi bagi kemampuan Manajemen Risiko
dalam melakukan pengukuran risiko namun kualitas keputusan tetap saja
tergantung pada bagaimana manajemen memutuskan cara terbaik untuk
menggunakan alat atau teknik tertentu dan memahami keterbatasan yang
dimiliki oleh alat atau teknik tersebut.
7. Kebijakan
Prinsip ini mensyaratkan bahwa tujuan dan strategi Manajemen
Risiko suatu perusahaan harus dirumuskan dalam sebuah Policy, Manual
& Procedure yang jelas. Policy harus secara jelas menjabarkan dan
mendefiniskan filosofi Manajemen Risiko perusahaan dan menyediakan
keseluruhan pendekatan yang digunakan serta organisasi dari proses
pengambilan Risiko. Tujuan utama dari hal tersebut adalah untuk
memberikan kejelasan mengenai proses Manajemen Risiko, baik untuk

4|Manajemen Risiko
pihak internal maupun untuk pihak eksternal seperti regulator dan para
analis.

Prinsip-prinsip tersebut di atas akan menjadi penentu arah dalam


menyusun suatu kerangka kerja, suatu model Manajemen Risiko yang handal.
Lebih jauh, prinsip-prinsip tersebut juga akan menjadi penentu keberhasilan
dari penerapan model Manajemen Risiko dalam suatu perusahaan. Tanpa
pemahaman mendalam serta konsistensi dalam menggunakan prinsip-prinsip
tersebut, maka penyusunan dan penerapan suatu model Manajemen Risiko
tidak akan memberikan nilai tambah yang seharusnya dapat diperoleh.

B. Dimensi yang diukur


Pengukuran risiko ini dilakukan untuk menentukan relatif pentingnya
resiko, untuk memperoleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan
kombinasi peralatan manajemen risiko yang cocok untuk menanganinya.
Dimensi (bagian) yang harus diukur:
1. Frekuensi atau jumlah kejadian yang akan terjadi
Besarnya kemungkinan kejadian artinya berapa besar kemungkinan
suatu peril (Suatu peristiwa (event) yang kejadiannya menimbulkan
LOSS atau penyebab langsung kerugian) yang dapat menimbulkan
risiko dapat terjadi dalam suatu periode.
2. Keparahan dari kerugian
Besarnya kerugian bila suatu risiko terjadi, artinya berapa besar
kerugian yang diderita bila suatu risiko terjadi. Jadi dalam hal ini
tingkat kegawatan (reverity) atau keparahan dari kerugian-kerugian
tersebut, sampai seberapa besar pengaruhnya terhadap kondisi
perusahaan, terutama kondisi finansialnya.

Dari hasil pengukuran yang mencakup dua dimensi (bagian) tersebut


paling tidak diketahui:
a. Nilai rata-rata dari kerugian selama suatu periode anggaran.

5|Manajemen Risiko
b. Variasi nilai kerugian dari satu periode anggaran ke periode anggaran
yang lain naik-turunnya nilai kerugian dari waktu ke waktu.
3. Dampak keseluruhan dari kerugian-kerugian
Yaitu kerugian yang ditanggung sendiri (diretensi), jadi tidak hanya
nilai rupiahnya saja.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan dimensi


(bagian) pengukuran tersebut, antara lain:
1. Orang umumnya memandang bahwa dimensi kegawatan dari suatu
kerugian potensial lebih penting dari pada frekuensinya atau jumlah
kejadian yang akan terjadi.
2. Dalam menentukan kegawatan dari suatu kerugian potensial seorang
Manajer Risiko harus secara cermat memperhitungkan semua tipe
kerugian yang dapat terjadi, terutama dalam kaitannya dengan
pengaruhnya terhadap situasi finansial perusahaan.
3. Dalam pengukuran kerugian Manajer Risiko juga harus memperhatikan
orang, harta kekayaan atau exposures yang lain, yang tidak terkena
peril(Suatu peristiwa (event) yang kejadiannya menimbulkan LOSS atau
penyebab langsung kerugian).
4. Kadang-kadang akibat akhir dari peril (Suatu peristiwa (event) yang
kejadiannya menimbulkan LOSS atau penyebab langsung kerugian)
terhadap kondisi finansial perusahaan lebih parah dari pada yang
diperhitungkan, antara lain akibat tidak diketahuinya atau tidak
diperhitungkannya kerugian-kerugian tidak langsung.
5. Dalam mengestimasi kegawatan dari suatu kerugian penting pula
diperhatikan jangka waktu dari suatu kerugian, di samping nilai
rupiahnya.
C. Konsep Probabilitas
Pengukuran kerugian baik dari dimensi frekuensi dan kegawatan
berhubungan dengan kemungkinan (probabilitas) dari kerugian potensiil

6|Manajemen Risiko
tersebut. Untuk melakukan analisa terhadap kemungkinan dari suatu kerugian
potensiil perlu memahami prinsip dasar teori probabilitas.

Probabilitas adalah kesempatan atau kemungkinan terjadinya suatu


kejadian/ peristiwa.

1. Konsep “sample space” dan “event”


Sample Space (Set S) merupakan suatu set dari kejadian tertentu
yang diamati. Misalnya: jumlah kecelakaan mobil di wilayah tertentu
selama periode tertentu. Suatu Set S bisa terdiri dari beberapa segmen
(sub set) atau event (Set E). misalnya : jumlah kecelakaan mobil di atas
terdiri dari segmen mobil pribadi & mobil penumpang umum.
Untuk menghitung secara cermat probabilitas dari kecelakaan
mobil tersebut masing-masing Set E perlu diberi bobot. Pembobotan
tersebut biasanya didasarkan pada bukti empiris dari pengalaman masa
lalu. Misalnya : untuk mobil pribadi diberi bobot 2, sedang untuk
mobil penumpang umum diberi bobot 1, maka probabilitas dari
kecelakaan mobil tersebut dapat dihitung dengan rumus:
a) bila tanpa bobot : P (E) = E/S
b) bila dengan bobot : P (E) = W (E) / W (S)

Keterangan : P (E) = probabilitas terjadinya event .

E = sub set atau event

S = sample space atau set

W = bobot dari masing-masing event

Contoh :

Dari catatan polisi diketahui jumlah kecelakaan mobil di


Bandung selama tahun 2000 sebanyak 10.000 kali. Dari jumlah
tersebut, 1000 menimpa mobil pribadi dan 9000 menimpa mobil
penumpang umum.

7|Manajemen Risiko
Dengan demikian probabilitas terjadinya kecelakaan mobil pribadi
adalah :

a) Tanpadibobot P (E) = 1000/10.000 = 0,1 = 10 %


b) Denganbobot P (E) = 1,818 = 18,18 %
2 x 1000 / (2 x 1000 ) (1x9000)
2. Asumsi dalam probabilitas
Jadi perlu diketahui bahwa asumsi dalam probabilitas mencakup :
a) Bahwa kejadian atau event tersebut akan terjadi.
b) Bahwa kejadian-kejadian adalah saling pilah, artinya dua event
tersebut (kecelakaan mobil pribadi dan mobil penumpang umum
tidak akan terjadi secara bersamaan).

Asumsi diatas membawa kita pada “hukum penambahan” yang


menyatakan bahwa total probabilitas dari 2 event atau lebih dari
masing-masing event yang saling pilah tersebut.

c) Bahwa pemberian bobot pada masing-masing event dalam set


adalah positif, sebab besarnya probabilitas akan berkisar antara
event yang pasti terjadi probabilitasnya 1, sedangkan event yang
pasti tidak terjadi probabilitasnya 0.
3. Aksioma defenisi probabilitas
Diasumsikan bahwa teori probabilitas, pemberian bobot kepada
masing – masing event dalam set S adalah positif. Mengingat bahwa
probabilitas di ekspresika sebagai rasio antar kejadian sub set terhadap
kejadian dalam set S, maka dengan jelas dapat dilihat bahwa
probabilitas seluruh kejadian apabila ditambahkan adalah sama dengan
satu, dan apabila sebaliknya, probabilitas dari event yang sudah pasti
tidak akan terjadi adalah 0. Dengan perkataan lain, jika probabilitas
terjadi pada P, maka probabilitas tidak akan terjadi adalah (1 - P).
Ada 3 aksioma probabilitas, yaitu :

8|Manajemen Risiko
a) Probabilitas adalah suatu nilai/ angka yang terletak antara 0 dan 1
yang diberikan masing-masing event.
b) Jumlah hasil penambahan keseluruhan probabilitas dari event-
event (Set E) yang saling pilah dalam Set S adalah 1.
c) Probabilitas suatu event yang terdiri dari sekelompok event yang
saling pilah dalam suatu Set S adalah merupakan hasil
penjumlahan dari masing-masing probabilitas yang terpisah.
4. Sifat probabilitas
Probabilitas adalah merupakan aproksimasi. Sebab sangat
jarang sekali terjadi atau bahkan tidak mungkin kita dapat mengetahui
besarnya probabilitas secara mutlak (pasti sama dengan kenyataan).
Yang kita dapatkan hanyalah suatu perkiraan, yang mungkin benar dan
mungkin juga tidak.
Jadi apa yang kita dapatkan dari suatu penelitian atau
perhitungan berdasarkan definisi probabilitas adalah merupakan
ekspresi, yaitu sebagai prosentase total exposure dalam rangka
mendapatkan estimasi empiris dari probabilitas. Maka dari itu
probabilitas dari sudut empiris dipandang sebagai frekuensi terjadinya
event dalam jangka panjang, yang dinyatakan dalam prosentase.
Misalnya : apabila suatu event telah terjadi x kali dari jumlah n
kasus dari kemungkinan terjadinya event tersebut, maka probabilitas
empirisnya adalah : x/n. Namun probabilitas tersebut adalah
menggambarkan data historis (apa yang telah terjadi). Sedang
kegunaannya untuk meramalkan kejadian/eventyang akan datang
merupakan approksimasi/perkiraan saja; kecuali bilaevent tersebut akan
dengan sendirinya berulang persis seperti masa lalu. Suatu situasi yang
tampaknya sangat mustahil.
Selanjutnya perlu disadari bahwa untuk probabilitas, misalnya
2/5, tidaklah berarti bahwa kejadiannya adalah sama apabila kasus atau
jumlah exposure/percobaannya kecil. Hal itu hanya akan terjadi apabila
n nya sangat besar atau mendekati tak terhingga (hukum bilangan

9|Manajemen Risiko
besar), dimana x/n akan dapat menghasilkan probabilitas empiris yang
hampir tepat.

5. Event yang indefendent dan acak


Suatu konsep yang sangat penting dalam probabilitas dan
penerapannya dalam asuransi adalah berkenaan kejadian/ event yang
sifatnya berdiri sendiri atau independent . Artinya hasil dari suatu event
dalam sekelompok kemungkinan event tidak akan mempengaruhi
penilaian tentang probabilitas dari event yang lain.
Hal itu berlaku pula bagi percobaan, dimana hasil dari sejumlah
percobaannya juga dapat dianggap independent. Dalam kasus ini
sample space nya adalah serangkaian percobaan (Succesive trials) dan
hasilnya merupakan akibat yang dapat terjadi pada masing-masing
percobaan.
Di samping itu event dalam suatu percobaan haruslah terjadi
secara acak, artinya masing-masing event mempunyai kesempatan atau
probabilitas yang sama.
Prinsip keacakan dan ketidak-tergantungan event mempunyai
peranan yang sangat penting dalam asuransi, sebab :

 Underwriter /perusahaan asuransi akan berusaha untuk


mengklasifikasikan unit-unit exposures ke dalam kelompok-
kelompok, dimana kejadian/kerugian dapat dianggap sebagai
event yang independent . Dimana dengan cara ini maka jumlah
pembebanan yang sama kepada masing-masing anggota
kelompok dapat dijustifikasi karena masing-masing kelompok
menyadari bahwa besarnya kemungkinan terjadinya kerugian
adalah sama, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
 Suatu jenis kerugian mungkin dapat diterima dua kali atau lebih
oleh individu yang sama.

10 | M a n a j e m e n R i s i k o
6. Event yang berulang
Apabila kita mengetahui bahwa probabilitas akan terjadinya
sesuatu dalam satu kali percobaan adalah “p” dan probabilitas tidak
terjadinya sesuatu adalah “q”, yang besarnya sama dengan 1-p. (q=1-p).
Berdasarkan prinsip ini maka kita dapat menghitung besarnya
probabilitas terjadinya suatuevent selama r kali dalam n kali percobaan,
dengan menggunakan formula binominal. Dimana formula binominal
menggunakan konsep compound probability dan addative rule. Dengan
menggunakan formula ini kita akan dapat menghitung distribusi
binominal (lihat statistik).
Distribusi binominal adalah merupakan salah satu dari teori
probabilitas yang digunakan dalam asuransi dan merupakan salah satu
cara yang terpenting.

Dalam penggunaan distribusi binominal digunakan 3 asumsi :

a. Ada suatu event atau hasil yang bersifat saling pilah.


b. Probabilitas dari masing-masing event diketahui atau dapat
diestimasi.
c. Karena masing-masing event berdiri sendiri, maka probabilitasnya
tidak akan berubah dari percobaan yang satu ke percobaan yang
lainnya, tetapi tetap konstan, karena probabilitas terjadinya event
sudah diketahui dan hanya terdapat dua event , maka probabilitas
tidak terjadinya event adalah 1 – probabilitas terjadinya event (q =
1 – p).
7. Nilai harapan (expected value)
Expected value dari suatu event dapat ditentukan dengan
membuat tabel (tabel binominal) untuk hasil-hasil yang mungkin
diperoleh dari menilai masing-masing hasil tersebut berdasarkan
probabilitasnya. Dengan menjumlahkan hasil dari masing-masing
event tersebut akan diperoleh expected value nya.

11 | M a n a j e m e n R i s i k o
Contoh: diketahui bahwa dari 100 buah rumah kemungkinan
terbakarnya satu rumah adalah 27% (tabel binominal) dan rata-rata
kerugian untuk setiap kebakaran adalah Rp 100.000.000,-. Maka
expected valuenya adalah Rp 37.000.000,- (37% x Rp 100.000.000,-).

Bila kemungkinan terbakarnya dua rumah adalah 19%, maka


expected lossnya: Rp. 38jt (19%x2xRp100.000.000,-). Sehingga
expected loss untuk satu rumah sebesar Rp 19jt. Kemudian bila
kemungkinan terbakarnya sepuluh rumah adalah sebesar 1% maka
expected lossnya adalah 1% x 10 x Rp 100.000.000,- = Rp 10 jt
Maka expected loss untuk satu rumah sebesar Rp 1.000.000,-
Konsep expected value
Konsep expected value sering ditemui terutama di dunia bisnis.
Misalnya: seorang kontraktor diminta membangun sebuag
gedung dimana jika semuanya berjalan baik ia akan mendapat
keuntungan sebesar Rp 10.000.000.000,
Karena menyadari selalu ada hal-hal yang tidak terduga, maka
probabilitas utk mendapatkan keuntungan diperkirakan hanya 80%,
dimana yang 20% adalah pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga.

Jadi expected value dari pekerjaan tersebut sebesar Rp 6.000.000.000,-


Dengan data itu pihak kontraktor dapat mempertimbangkan
untuk membangun gedung tersebut, dengan tidak lupa
mempetimbangkab kesemptan-kesempatan atau kemungkinan-
kemungkinan lain yang sehubungan dengan perputaran misalnya.
Mungkin pula untuk mengamankan terhadap risiko tersebut kontarktor
mengalihkan risiko tersebut kepada pihak lain yang mau menerima (
perusahaan asuransi ). Yamg perhitungannya dapat digambarkan
sebagai berikut :

12 | M a n a j e m e n R i s i k o
Expected Value of Contract
Probabilitas Hasil Expected Value
80 % + Rp. 10.000.000,- Rp. 8.000.00,-
20% - Rp. 10.000.000,- Rp. 2.000.000,-
100% Rp. 6.000.000,-

Dalam distribusi binomial jumlah keseluruhan expected long


frequency (frekuensi kerugian yang diperkirakan dalam jangka panjang)
dikalikan dengan besarnya nilai kerugian (Rp) untuk setiap kerugian.

8. Penafsiran tentang probabilitas


a. Peristiwa yang saling bebas (mutually exclusive event )
Dua peristiwa atau lebih dikatakan saling lepas apabila
terjadinya peristiwa yang satu menyebabkan tidak terjadinya
peristiwa yang lain. P(A atau B) = P(A) + P(B).

b. Peristiwa yang inklusif


Peristiwa yang inklusif adalad dua peristiwa atau lebih yang
tidak mempunyai hubungan saling bebas dimana kita ingin
mengetahui probabilitas terjadinya paling sedikit satu peristiwa
diantara dua atau lebih peristiwa tersebut P (A atau B) = P(A) +
P(B) – P(A dan B)

c. Compound Events
Compount events adalah terjadinya dua atau lebih peristiwa
terpisah selama jangka yang sama.

 Compound events yang bebas ( independent)


Dua peristiwa atau lebih dikatakan peristiwa bebas jika
terjadinya salah satu tidak ada hubungannya dengan lain. P(A
dan B) = P(A) X P(B)

 Compound events bersyarat (conditionl compount events)

13 | M a n a j e m e n R i s i k o
Dua peristiwa atau lebih dima terjadinya peristiwa yang
satu akan mempengaruhi terjadinya peristiwa yang lain. P(A dan
B) = P(A)X P(B/A)

D. Distribusi Probabilitas
Probabilitas merupakan kesempatan atau kemungkinan terjadinya suatu
kejadian atau kemungkinan jangka panjang terjadinya sesuatu.
Distribusi probabilitas menunjukkan probabilitas kejadian bagi masing-
masing outcome yang mungkin. Karena outcome itu merupakan mutually
exclusive, maka semua probabilitas jika dijumlahkan maka jumlahnya sama
dengan satu.

1. Distribusi Binominal
Distribusi binomial adalah distribusi probabilitas dengan variabel
diskrit, mempunyai ciri-ciri :

1. Banyaknya percobaan adalah tetap


2. Setiap percobaan mempunyai dua hasil yaitu sukses-gagal, ya-tidak
3. Probabilitas sukses sama pada setiap percobaan
4. Hasil percobaan yang satu tidak mempengaruhi hasil percobaab
lainnya
P (X) = nCx . (P)^x . (Q)^n-x

Dimana :

C = kombinasi
P = Probabilitas sukses
Q = Probabilitas gagal (I-p)
n = Banyaknya percobaan
x = Banyaknya keberhasilan dalam pengubah
P(X) = Probabilitas sukses x kali percobaan

2. Distribusi Poisson

14 | M a n a j e m e n R i s i k o
Distribusi poisson merupakan distribudi yang bervariabel
diskrit., yang mempunyai nilai n yang besar dan nilai p yang kecil.
P(X) =[(e^µ) . (µ^x)]/R!
Dimana:
P(X) = Probabilitas x kali
µ = Rata-rata distribusi
e = 2,71828
x = jumlah kejadian sesuai sample
n = jumlah populasi
P = peluang keberhasilan
3. Distribusi Normal
Distribusi normal mempunyai variabel kontinu. Mempunyai
ciri-ciri sbb :
a. Kurva normal berbentuk lonceng atau simetris, sisi kiri dan sisi
kanan tidak mempunyai batas
b. Distribusi normal memiliki dua parameter yaitu rata-rata dan
standar deviasi
c. Nilai tertinggi (puncak)kurve adalah rata-rata
d. Luas total kurve normal adalah 1
E. Pengukuran Frekuensi Kerugian dan Tingkat Keparahan
1. Pengukuran Frekuensi Kerugian
Pengukuran frekuensi kerugian adalah untuk mengetahui berapa
kali suatu jenis peril dapat menimpa suatu jeis objek yang bisa terkena
peril selama suatu jangka waktu terentu, umumnya satu tahun.

Berdasarkan dimensi frekuensi, ada empat kategori kerugian, yaitu :

a) Kerugian yang hampir tidak mungkin terjadi ( almost nill), yaitu


resiko yang menurut pendapat manajer resiko atau kemungkinan
terjadinya sangat kecil sekali (probabilitas terjadinya mendekati nol).

15 | M a n a j e m e n R i s i k o
b) Kerugian yang kemungkinan terjadinya kecil (sligth), yaitu risiko-
risiko yang tidak akan terjadi dalam waktu dekat dan dimasa yang
akan datang kemungkinannya pun kecil.
c) Kerugian yang mungkin (moderate), yaitu kerugian-kerugian yang
mungkin bisa terjadi dalam waktu yang dekat di masa yang akan
datang.
d) Kerugian yang mungkin sekali (definite), yaitu kerugian yang
biasanya terjadi secara teratur, baik dalam waktu dekat maupun
dimasa mendatang.
2. Menentukan Tingkat Keparahan
Dalam menentukan perahan kerugian manajer harus berhati-hati
untuk memasukkan semua kerugian yang mungkin bisa terjadi sebagai
akibat suatu peristiwa tertentu, sebagaimana dampaknya yang terhadap
keuangan perusahaan yang bersangkutan.
Sebagai contoh misalnya, musibah kebakaran yang
menghancurkan bangunan perusahaan beserta isinya, yang menimbulkan
total kerugian sebesar Rp. 300.000.000.- untuk melaksanakan pemulihan
perusahaan perlu tutup selama enam bulan,dan menbah kerugian
penghasilan sebesar Rp. 400.000.000.-
Jumlah kerugian total sebesar Rp. 700.000.000.- jika tidak dapat
di tanggung dalam semua kerugian tersebut makan dalam waktu singkat
perusahaan bisa jatuh bangkrut.
Selain untuk menentukan relatif pentingnya, suatu kerugian
potensial perlu juga di ukur untuk menolong mendaptakan informasi
dalam penetapan cara terbaik untuk menangani risiko tersebut. Sebagai
contoh rata-rta frekuensi kerugian dikalikan rata-rata keparahan kerugian
akan sama dengan total kerugian harpan rata-rata dalam setahun.

16 | M a n a j e m e n R i s i k o
BAB III
PUNUTUP

A. KESIMPULAN
Pengukuran resiko adalah usaha untuk mengetahui besar/kecilnya
resiko yang akan terjadi. Hal ini dilakukan untuk melihat tinggi rendahnya
resiko yang dihadapi perusahaan, kemudian bisa melihat dampak dari resiko
terhadap kinerja perusahaan sekaligus bisa melakukan prioritisasi resiko,
resiko yang mana yang paling relevan.

Dimensi Pengukuran Resiko diantaranya :

1. Frekuensi atau jumlah kejadian yang akan terjadi


2. Keparahan dari kerugian
3. Dampak keseluruhan dari kerugian-kerugian

Konsep Probabilitas diantaranya :

1. Konsep “sample space” dan “event”


2. Asumsi dalam probabilitas
3. Aksioma defenisi probabilitas
4. Sifat probabilitas
5. Event yang berulang
6. Nilai harapan (expected value)
7. Penafsiran tentang probabilitas

B. SARAN
Penulis menyadari dalam makalah ini banyak sekali kekurangan dan
kekeliruan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun, demi kebaikan makalah yang akan datang. Atas saran dan
kritiknya penulis mengucapkan terima kasih.

17 | M a n a j e m e n R i s i k o
DAFTAR PUSTAKA

ririsyuanita.blogspot.com/2017/01/tugas-2-manajemen-resiko.html

http://kalisat-berbagi.blogspot.com/2017/04/manajemen-risiko-pengukuran-
risiko.html

https://gaharuchromeblogspot.wordpress.com/2010/07/19/makalah-manajemen-
resiko/

18 | M a n a j e m e n R i s i k o

Anda mungkin juga menyukai