2.
1 MANAJEMEN RISIKO
2.1.1 PRINSIP DASAR MANAJEMEN RISIKO (RISK MANAGEMENT)
Konsep manajemen risiko mulai diperkenalkan di bidang keselamatan dan kesehatan
kerja pada era tahun 1980-an setelah berkembangnya teori accident model dari ILCI dan juga
semakin maraknya isu lingkungan dan kesehatan.
Tujuan dari manajemen risiko adalah minimisasi kerugian dan meningkatkan
kesempatan ataupun peluang. Bila dilihat terjadinya kerugian dengan teori accident model
dari ILCI, maka manajemen risiko dapat memotong mata rantai kejadian kerugian tersebut,
sehingga efek dominonya tidak akan terjadi. Pada dasarnya manajemen risiko bersifat
pencegahan terhadap terjadinya kerugian maupun ‘accident’.
Manajemen Risiko K3 adalah suatu upaya mengelola risiko untuk mencegah
terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan secara komprehensif, terencana dan terstruktur
dalam suatu kesisteman yang baik.
Sehingga memungkinkan manajemen untuk meningkatkan hasil dengan cara
mengidentifikasi dan menganalisis risiko yang ada. Pendekatan manajemen risiko
yang terstruktur dapat meningkatkan perbaikan berkelanjutan. Manfaat dalam menerapkan
manajemen risiko antara lain :
a. Menjamin kelangsungan usaha dengan mengurangi risiko dari setiap kegiatan yang
mengandung bahaya
b. Menekan biaya untuk penanggulangan kejadian yang tidak diinginkan
c. Menimbulkan rasa aman dikalangan pemegang saham mengenai kelangsungan dan
keamanan investasinya
d. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai risiko operasi bagi setiap unsur
dalam organisasi/ perusahaan
e. Memenuhi persyaratan perundangan yang berlaku
Dalam menerapkan Manajemen Risiko K3, ada beberapa tahapan/langkah yang perlu
dilakukan. Hal ini bertujuan agar proses manajemen risiko k3 dapat berjalan dengan tepat dan
sesuai. Tahapan yang perlu dilakukan dalam menerapkan manajemen risiko k3 adalah :
1. Menentukan Konteks
2. Melakukan Identifikasi Risiko
3. Penilaian Risiko
4. Pengendalian Risiko
5. Komunikasi dan Konsultasi
6. Pemantauan dan Tinjauan Ulang
Proses manajemen risiko merupakan kegiatan kritikal dalam manajemen risiko, karena
merupakan penerapan daripada prinsip dan kerangka kerja yang telah dibangun. Proses
manajemen risiko terdiri dari tiga proses besar, yaitu:
(1) Penetapan konteks (establishing the context)
Penetapan konteks bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan sasaran
organisasi, lingkungan dimana sasaran hendak dicapai, stakeholders yang berkepentingan,
dan keberagaman kriteria risiko, dimana hal-hal ini akan membantu mengungkapkan dan
menilai sifat dan kompleksitas dari risiko. Terdapat empat konteks yang perlu ditentukan
dalam penetapan konteks, yaitu konteks internal, konteks eksternal, konteks manajemen
risiko, dan kriteria risiko.
(i) Konteks internal memperhatikan sisi internal organisasi yaitu struktur organisasi, kultur
dalam organisasi, dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi pencapaian sasaran organisasi.
(ii) Konteks eksternal mendefinisikan sisi eksternal organisasi yaitu pesaing, otoritas,
perkembangan teknologi, dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi pencapaian sasaran
organisasi.
(iii) Konteks manajemen risiko memperhatikan bagaimana manajemen risiko diberlakukan
dan bagaimana hal tersebut akan diterapkan di masa yang akan datang.
(iv) Terakhir, dalam pembentukan manajemen risiko organisasi perlu mendefinisikan
parameter yang disepakati bersama untuk digunakan sebagai kriteria risiko.
(2) Penilaian risiko (risk assessment)
Penilaian risiko terdiri dari:
(i) Identifikasi risiko: mengidentifikasi risiko apa saja yang dapat mempengaruhi pencapaian
sasaran organisasi.
(ii) Analisis risiko: menganalisis kemungkinan dan dampak dari risiko yang telah
diidentifikasi.
(iii) Evaluasi risiko: membandingkan hasil analisis risiko dengan kriteria risiko untuk
menentukan bagaimana penanganan risiko yang akan diterapkan.
(3) Penanganan risiko (risk treatment)
Dalam menghadapi risiko terdapat empant penanganan yang dapat dilakukan oleh organisasi:
(i) Menghindari risiko (risk avoidance);
(ii) Mitigasi risiko (risk reduction), dapat dilakukan dengan mengurangi kemungkinan atau
dampak;
(iii) Transfer risiko kepada pihak ketiga (risk sharing);
(iv) Menerima risiko (risk acceptance).
Ketiga proses besar tersebut didampingi oleh dua proses yaitu:
(1) Komunikasi dan konsultasi
Komunikasi dan konsultasi merupakan hal yang penting mengingat prinsip manajemen
risiko yang kesembilan menuntut manajemen risiko yang transparan dan inklusif, dimana
manajemen risiko harus dilakukan oleh seluruh bagian organisasi dan memperhitungkan
kepentingan dari seluruh stakeholders organisasi. Adanya komunikasi dan konsultasi
diharapkan dapat menciptakan dukungan yang memadai pada kegiatan manajemen risiko dan
membuat kegiatan manajemen risiko menjadi tepat sasaran.
(2) Monitoring dan review
Hal ini diperlukan untuk memastikan bahwa implementasi manajemen risiko telah
berjalan sesuai dengan perencanaan yang dilakukan. Hasil monitoring dan review juga dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan perbaikan terhadap proses
manajemen risiko.
Manajemen risiko dapat diterapkan di setiap level di organisasi. Manajemen risiko
dapat diterapkan di level strategis dan level operasional. Manajemen risiko juga dapat
diterapkan pada proyek yang spesifik, untuk membantu proses pengambilan keputusan
ataupun untuk pengelolaan daerah dengan risiko yang spesifik.
Gambar 1. Proses Manajemen Risiko AS/NZS 4360:2004
2.2 EVALUASI RISIKO
2.2.1 PENGERTIAN EVALUASI RISIKO
Setelah setiap tahapan kerja diidentifikasi dan dianalisa tingkat risikonya, langkah
selanjutnya adalah melakukan evaluasi risiko. Evaluasi risiko dilakukan untuk menentukan
apakah risiko dari setiap tahapan kerja dapat diterima atau tidak. Membandingkan tingkat
risiko yang ada dengan kriteria standar. Setelah itu tingkatan risiko yang ada untuk beberapa
hazards dibuat tingkatan prioritas manajemennya. Jika tingkat risiko ditetapkan rendah, maka
risiko tersebut masuk ke dalam kategori yang dapat diterima dan mungkin hanya memerlukan
pemantauan saja tanpa harus melakukan pengendalian.
Evaluasi risiko dilakukan sebagai tindak lanjut dari proses analisis risiko untuk
memutuskan tindakan selanjutnya (Pengendalian Risiko). Tindak lanjut dapat berupa:
1. Apakah risiko yang ada memerlukan pengendalian.
2. Tindakan apa saja yang harus dilakukan.
3. Prioritas risiko yang akan dikendalikan.
4. Nilai risiko yang diperoleh dari hasil analisis dibandingkan dengan kriteria yang
ditetapkan tentang batasan risiko yang bias ditolerir dan tidak.
2.2.2 Tujuan Evaluasi Bahaya dan Risiko
• Untuk mengetahui level dan prioritas bahaya dan risiko di tempat kerja
• Mengetahui tindakan pengendalian/program K3 yang diperlukan
• The purpose of risk evaluation is to make decisions, based on the outcomes of risk
analysis, about which risks need treatment and treatment priorities.
Dalam melakukan evaluasi terhadap bahaya dan risiko diperlukan kriteria untuk
menentukan prioritas tingkat risiko yang bisa di terima (tolerable risk) merupakan salah satu
kriteria yang umum digunakan dalam mengevaluasi bahaya dan risiko.
2.2.3 Metode Evaluasi Bahaya dan Risiko
Cara melakukan evaluasi risiko adalah :
1) Perusahaan/organisasi membuat kriteria risiko yang dapat diterima (tingkat risiko low),
tidak dapat diterima (tingkat risiko high dan very high) dan dapat ditolerir (tingkat
risiko medium).
2) Setiap tahapan kerja yang telah dianalisa dan diketahui tingkat risikonya, maka lakukan
evaluasi apakah tingkatan risiko tersebut dapat diterima, tidak dapat diterima atau dapat
ditolerir.
3) Jika tingkatan risiko yang ada tidak dapat diterima, maka perlu dilakukan tindakan
pengendalian risiko guna menurunkan tingkatan risiko tersebut sampai tingkatan rendah
atau dapat ditolerir.
Hasil Evaluasi risiko diantaranya adalah:
a. Gambaran tentang seberapa penting risiko yang ada.
b. Gambaran tentang prioritas risiko yang perlu ditanggulangi.
c. Gambaran tentang kerugian yang mungkin terjadi baik dalam parameter biaya ataupun
parameter lainnya.
d. Masukan informasi untuk pertimbangan tahapan pengendalian.
2.2.4 Penilaian Hasil Evaluasi Bahaya Kerja
Penilaian hasil evauasi bahaya kerja merupakan hasil rangkuman peninjauan semua
factor yang mengakibatkan bahaya kerja pada manusia.penilaian ini akan memberikan fakta
dan kemungkinan ayang relevan sehingga, memudahakan penetapan langkah berikutnya
dalam pengendalian risiko bahaya kerja.
Dengan mempertimbangan criteria risiko masing-masing bahaya kerja, dapat ditetapkan
prioritas risiko bahya kerja sebagai berikut:
1. Risiko ringan: kemungkinannya kecil untuk terjadi serta akibat yang ditimbulkannya
ringan maka bahaya kerja ini dapat diabaikan.
2. Risiko sedang: kemungkinannya kecil untuk terjadi akan tetapi akibat yang ditimbulkannya
cukp berat, atau sebaliknya, maka perlu pelaksanaan manajemen risiko khusus.
3. Risiko berat: sangat mungkin terjadi dan akan berakibat sangat buruk, maka harus
dilaksanakan penganggulangan sesegara mungkin.
Secara umum berdasarkan kecenderungan peluang terjadinya risiko (likehood) dan
konsekuensi yang diakibatkan (consequences), risiko dapat diklasifikasikan sebagai
beikut:
1. Unacceptable, adalah risiko yang tidak dapat diterima dan harus dihilangkan atau bila
mungkin ditransfer kepada pihak lain
2. Undesirable, adalah risiko yang memerlukan penanganan/ mitigasi risiko sampai pada
tingkat yang dapat diterima.
3. Acceptable, adalah risiko yang dapat diterima karena tidak mempunyai dampak yang
besar dan masih dalam batas yang dapat diterima.
4. Negligible, adalah risiko yang dampaknya sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
Risiko-risiko yang termasuk unacceptable dan undesirable merupakan jenis risiko
dengan kategori utama (major risk) yang memerlukan perhatian dan penanganan yang khusus
karena mempunyai dampak besar bila tidak dikurangi atau bila perlu dihindari, sedangkan
risiko yang termasuk dalam acceptable dan negligible merupakan risiko dengan kategori
minor (minor risk) yang tidak mempunyai dampak berarti sehingga dapat diterima bahkan
dapat diabaikan.
2.2.5 Pengembangan Kriteria Dalam Melakukan Evaluasi Risiko
Tentukan kriteria yang diduga akan menghambat evaluasi risiko yang akan dilakukan.
Hal tersebut ditentukan oleh kesesuaian dan perlakuan risiko yang didasari kegiatan
operasional, teknis, dana, hukum, sosial, kemanusiaan atau kriteria lainnya. Biasanya hal
tersebut tergantung dari kebijakan internal, tujuan, objektifitas, dan kebijakan organisasi
perusahaan.
Kriteria dipengaruhi oleh persepsi internal dan eksternal, serta ketentuan hukum.
Sangat penting untuk menyesuaikan kriteria tersebut dengan lingkungan yang ada. Kriteria
risiko harus dibuat sesuai dengan jenis risiko yang ada dan level risikonya. Kriteria risiko
didapat dari kombinasi kriteria tingkat kemungkinan dan keparahan. Dalam menentukan
tingkatan tersebut dapat digambarkan pada beberapa tabel berikut :
Tabel 1. Nilai Tingkat Kemungkinan
Likelihood/Probability Rating Deskripsi
Frequent 5 Selalu terjadi
Probable 4 Sering terjadi
Occasional 3 Kadang-kadang dapat terjadi
Unlikely 2 Mungkin dapat terjadi
Improbable 1 Sangat jarang terjadi
Untuk menentukan nilai tingkat keparahan, dapat digunakan tabel tersebut. Sehingga
setiap kegiatan dapat dinilai tingkatan kemungkinannya dalam menimbulkan incident atau
kerugian.
Tabel 2. Nilai Tingkat Keparahan
Severity Rating Deskripsi
Meninggal dunia, cacat permanen/ serius,
Catastrophic 5
kerusakan lingkungan yang parah, kebocoran
B3, kerugian finansial yang sangat besar,
biaya pengobatan > 50 juta.
Hilang hari kerja, cacat permanen/ sebagian,
kerusakan lingkungan yang sedang, kerugian
Major 4
finansial yang besar, biaya pengobatan < 50
juta.
Membutuhkan perawatan medis,
Moderate/ terganggunya pekerjaan, kerugian finansial
3
Serious cukup besar, perlu bantuan pihak luar, biaya
pengobatan < 10 juta.
Penanganan P3K, tidak terlalu memerlukan
Minor 2 bantuan dari luar, biaya finansial sedang,
biaya pengobatan < 1 juta
Tidak mengganggu proses pekerjaan, tidak
Negligible 1 ada cidera/ luka, kerugian financial kecil,
biaya pengobatan < 100 ribu.
Untuk menentukan tingkatan nilai keparahan yang terjadi dari kegiatan yang dilakukan, dapat
menggunakan tabel 2.
Kemudian kriteria risiko dapat digambarkan seperti pada tabel berikut :
Tabel 3. Skala Tingkatan Risiko
Risk Rank Deskripsi
17 – 25 Extreme High Risk – Risiko Sangat Tinggi
10 – 16 High Risk – Risiko Tinggi
5–9 Medium Risk – Risiko Sedang
1–4 Low Risk – Risiko Rendah
Konteks manajemen risiko ini akan dijalankan dalam organisasi atau perusahaan untuk acuan
langkah manajemen risiko k3 yang selanjutnya.
Tabel 4. Matriks Risiko
Tentukan tingkatan risiko pada setiap tahapan kerjanya berdasarkan nilai risiko yang
telah didapat dari perhitungan. Ukuran tingkat risiko dinilai berdasarkan acuan konteks yang
telah dibuat pada table.
Penilaian Tingkat Penerimaan Risiko (Assessment of Risk Acceptability)
Consequences Catastropic Critical Serious Marginal Negligible
(5) (4) (3) (2) (1)
Likelihood
Frequent (5) Unacceptable Unacceptable Unacceptable Undesirable Undesirable
(25) (20) (15) (10) (5)
Probable (4) Unacceptable Unacceptable Undesirable Undesirable Acceptable
(20) (16) (12) (8) (4)
Occasional (3) Unacceptable Undesirable Undesirable Undesirable Acceptable
(15) (12) (9) (6) (3)
Remote (2) Undesirable Undesirable Undesirable Acceptable Negligible
(10) (8) (6) (4) (2)
Improbable (1) Undesirable Acceptable Acceptable Negligible Negligible
(5) (4) (3) (2) (1)
Penerimaan risiko Skala penerimaan
Unacceptable (tidak dapat diterima) X ≥ 15
Undesirable (tidak diharapkan) 5 ≤ X < 15
Acceptable (dapat diterima) 3≤X <5
Negligible (dapat diabaikan) X<3
CONTOH TABEL KRITERIA (RISK ACCEPTABLE)
Level Kriteria untuk Manajemen Risiko Yang Bertanggung
risiko Jawab
1–3 Dapat diterima Dengan pengendalian yang Manajer operasi
cukup
4–6 Dipantau Dengan pengendalian yang Manajer operasi
cukup
6–9 Diperlukan Dengan pengendalian yang Manajer operasi
Pengendalian cukup
Manajemen
10 – 14 Harus menjadi Dapat diterima hanya CEO
perhatian denganpengendalian yang
manajemen (urgen) sangat baik (excellent)
15 -25 Tak dapat diterima Dapat diterima hanya dengan Komisaris
(unacceptable) pengendalian yang sangat
baik (excellent)
2.2.6 Penanganan Risiko
Menurut Husen (2009), penanganan risiko dimaksudkan agar jenis risiko yang telah
diketahui dapat dikelola atau ditangani sehingga solusi serta penanggung jawab
risikonya dapat ditentukan. Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi risiko yang muncul
tersebut disebut tindakan mitigasi/ penanganan risiko (risk mitigation). Risiko yang muncul
kadang-kadang tidak dapat dihilangkan sama sekali tetapi hanya dapat dikurangi
sehingga akan timbul residual risk (sisa risiko).
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menangani risiko, yaitu (Flanagan dan Norman,
1993) :
1. Menahan Risiko (Risk Retention)
Sikap untuk menahan risiko sangat erat kaitannya dengan keuntungan (gain) yang
terdapat dalam suatu risiko. Tindakan untuk menerima/ menahan risiko ini karena dampak
dari suatu kejadian yang merugikan masih dapat diterima(acceptable).
2. Mengurangi Risiko (Risk Reduction)
Mengurangi risiko dilakukan dengan mempelajari secara mendalam risiko itu sendiri,
dan melakukan usaha-usaha pencegahan pada sumber risiko atau mengkombinasikan usaha
agar risiko yang diterima tidak terjadi secara simultan. Dengan melakukan tindakan ini
kadang-kadang masih ada risiko sisa (residual risk) yang perlu dilakukan penilaian
(assessment).
3. Memindahkan Risiko (Risk Transfer).
Sikap pemindahan risiko dilakukan dengan cara mengasuransikan risiko yang
dilakukan dengan memberikan sebagian atau seluruhnya kepada pihak lain. Usaha atau
pekerjaan yang risikonya tinggi dipindahkan kepada pihak yang mempunyai kemampuan
menangani dan mengendalikannya.
4. Menghindari Risiko (Risk Avoidance)
Biasanya dipilih untuk tipe risiko yang akan memberikan dampak yang sangat besar.
Sikap menghindari risiko adalah cara menghindari kerugian dengan menghindari aktivitas
yang tingkat kerugiannya tinggi. Menghindari risiko dapat dilakukan dengan melakukan
penolakan. Salah satu contoh penghindaran risiko pada proyek konstruksi, adalah dengan
memutuskan hubungan kontrak (breach of contract).
2.2.7 Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko merupakan langkah penting dan menentukan dalam keseluruhan
manajemen risiko.Pengendalian risiko berperan dalam meminimalisir/ mengurangi tingkat
risiko yang ada sampai tingkat terendah atau sampai tingkatan yang dapat ditolerir.
Cara pengendalian risiko dilakukan melalui :
a. Eliminasi, pengendalian ini dilakukan dengan cara menghilangkan sumber bahaya
(hazard).
b. Substitusi, mengurangi risiko dari bahaya dengan cara mengganti proses, mengganti
input dengan yang lebih rendah risikonya.
c. Engineering, mengurangi risiko dari bahaya dengan metode rekayasa teknik pada alat,
mesin, Infrastruktur, lingkungan, dan atau bangunan.
d. Administratif, mengurangi risiko bahaya dengan cera melakukan pembuatan prosedur,
aturan, pemasangan rambu (safety sign), tanda peringatan, training dan seleksi
terhadap kontraktor, material serta mesin, cara pengatasan, penyimpanan dan
pelabelan.
e. APD, mengurangi risiko bahaya dengan cara menggunakan alat perlindungan
diri misalnya safety helmet, masker, sepatu safety, coverall, kacamata
keselamatan,dan alat pelindung diri lainnya yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang
dilakukan.
Penentuan konteks
Konteks strategi
Konteks organisasi
Konteks manajemen resiko
Pengembangan kriteria
Struktur kebijakan
Identifikasi risiko
Apa yang bisa terjadi
Bagaimana itu bisa terjadi
Analisa resiko
Penentuan Alternatif-Alternatif Kontrol
Pemantauan dan review
Menentukan Menentukan
Komunikasi dan konsultasi
Kemungkinan Konsekuensi
Perkiraan tingkat resiko
Evaluasi Resiko
Membandingkan kembali dengan kriteria standar
Penetapan prioritas resiko
Ya
Resiko diterima
Penilaian risiko Tidak
Penanggulangan resiko
Identifikasi penanggulangan resiko
Evaluasi pilihan penanggulangan
Memilih penanggulangan
Menyiapkan rencana penanggulangan
Implementasi penanggulangan
Peringkat dan evaluasi Resiko
Resiko yang Ya
Diterima
diterima
Tdk
Identifikasi
Mengurangi Mengurangi Transfer secara
alternatif Mencegah
probabilitas konsekuensi penuh/sebagian
pengendalia
Konsultasi
Monitor dan Review
Pertimbangan biaya dan keuntungan yang ada
Menilai
alternatif Merekomendasikan strategi pengendalian
pengendalia
dan
Pemilihan strategi pengendalian
Komunikasi
Persiapan
alternatif Persiapan rencana pengendalian
pengendalia
n
Pelaksanaan
Mengurangi Mengurangi Transfer secara
pengendalia Pencegahan
probabilitas konsekuensi penuh/sebagian
n terpilih
Bagian yang Bagian
dikembalikan Pengiriman
Risiko yang Ya
diterima Kembali
Tdk
Gambar. Proses Pengendalian Risiko
Daftar pustaka
Ramli, Soehatman.“Pedoman Praktis Manajemen Risiko Dalam Perspektif K3 OHS
Risk Management - hal 103”. Jakarta : PT.Dian Rakyat. 2010)
International Standard for Organization. (2009). Risk Management – Principles and
Guidelines.
Susilo, L.J, & Kaho, V.R. Manajemen Risiko Berbasis ISO 31000 untuk Industri
Nonperbankan (edisi revisi). Indonesia: Ppm manajemen.
Christina, D. (2012). Asesmen Risiko Berbasis ISO31000:2009. Diunduh dari
http://dianechristina.wordpress.com/2012/10/22/asesmen-manajemen-risiko-berbasis-iso-
310002009/
Broadleaf Capital International. (2014). Strategic, enterprise, and risk management.
Diunduh dari http://www.broadleaf.co.nz/erm/index.html. Disusun oleh: Charvin Kusuma –
Associate Researcher CRMS Indonesia