Anda di halaman 1dari 15

PEMERINTAH PROVINSI BALI

DINAS PENDIDIKAN
SMA NEGERI 1 GIANYAR
Jl. Ratna No 1, Telepon: (0361) 943 034
Website: http://www.sman1-gianyar.sch.id E-mail: sman1gianyar@yahoo.com

YAJNA DALAM MAHABHARATA


(Pengertian Dan Hakekat Yajna)

A. Soal
1. Apakah yang disebut dengan yajña dan jelaskanlah salah satu contoh yajña yang
sudah anda lakukan dalam kehidupan sehari-hari!
2. Sebutkan bagian-bagian dari Panca Yajña dan berikan masing-masing satu contohnya!
3. Coba jelaskan apa yang dimaksud dengan Upakara dan Upacara dalam yajna?
Sebelumnya diskusikanlah dengan orang tua Kamu di rumah.
4. Alam semesta ini diciptakan oleh Brahman dengan kekuatan-Nya sebagai dewa
brahma. Coba jelaskan media persembahan kepada Brahman!
5. Rsi Yajña adalah korban suci yang tulus ikhlas kepada para Rsi. Mengapa Rsi Yajña
ini dilakukan?

B. Jawaban
1. Yajña adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran
untuk melaksanakan persembahan kepada Tuhan. Contoh yajña yang sudah saya
lakukan dalam kehidupan sehari-hari:
Dewa Yajña adalah persembahan suci yang dihaturkan kepada Sang Hyang Widhi
dengan segala manifestasi-Nya, contohnya puja Tri Sandya.
2. Bagian-bagian Panca yajna:
1) Dewa Yajña
Dewa yadnya adalah suatu bentuk persembahan atau korban suci dengan tulus
iklas yang di tujukan kepada sang pencipta (Ida Sang Hyang Widhi Wasa)
beserta dengan manifestasinya dalam bentuk TRI MURTI. Dewa Brahma
sebagai pencipta alam semesta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara isi dari alam
semesta, dan Dewa Siwa sendiri sebagai pelebur atau praline dari alam
semesta.
Contohnya: Puja Tri Sandya, melaksanakan piodalan/puja wali di pura.
2) Rsi Yajña
Rsi Yadnya adalah suatu bentuk persembahan karya suci yang di tujukan
kepada para rsi, orang suci, pinandita, pandita, sulinggih, guru, dan orang suci
yang berhubungan dengan agama hindu. Rsi adalah orang-orang yang
bijaksana dan berjiwa suci. Sulinggih maupun guru juga termasuk orang suci
karena beliau orang bijaksana yang memberikan arahan kepada siswa-siswi
nya.
Contohnya: Upacara Eka Jati (mewinten) dan Upacara Dwi Jati (Mediksa)
3) Pitra Yajña
Pitra Yadnya adalah suatu bentuk persembahan atau korban suci yang di
tujukan kepada roh-roh para leluhur dan bhatara-bhatara karena mereka lah
yang membuat kita ada di dunia hingga kita dewasa. Pitra yadnya ini bertujuan
menyucikan roh-roh para leluhur agar mendapatkan tempat yang layak di
kahyangan.
Contohnya: Melakukan upacara kematian terhadap leluhur (Ngaben) dan
menunjukan prilaku yang luhur dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud
bakti kepada leluhur yang masih hidup.
4) Manusa Yajña
Manusa Yadnya adalah suatu upacara suci yang bertujuan untuk memelihara
hidup, mencapai kesempurnaan dalam kehidupan dan kesejahteraan manusia
selama hidupnya.
Contohnya: Upacara bayi dalam kandungan (pagedong-gedongan), upacara
potong gigi (matatah) dan upacara perkawinan (wiwaha).
5) Bhuta Yajña
Bhuta yadnya adalah suatu upakara/upacara suci yang ditujukan kepada bhuta
kala atau makluk bawah. Bhuta kala adalah kekuatan yang ada di alam yang
bersifat negative yang perlu dilebur agar kembali kesifat positif agar tidak
mengganggu kedamaian hidup umat manusia yang berada di bumi dalam
menjalankan aktifitasnya.
Contohnya: Upacara mecaru, ngaturang segehan, upacara taur, upacara
Panca Wali Krama dan upacara Eda Dasa Rudra.
3. Upakara adalah sarana yang diperlukan sebagai perlengkapan sebuah Yajña. Upakara
yang tertata dalam bentuk tertentu yang difungsikan sebagai sarana memuja
keagungan Tuhan disebut sesajen. Upakara dapat diartikan memberikan pelayanan
yang ramah tamah atau kebaikan hati. Dengan demikian sudah semestinya setiap
upakara yang dipersembahkan hendaknya dilandasi dengan kemantapan, ketulusan,
dan kesucian hati yang diwujudkan dengan sikap dan prilaku ramah tamah bersumber
dari hati yang hening dan suci. Sedangkan Upacara adalah tatacara atau rangkaian
pelaksanaan suatu Yajña. Di dalam pelaksanaan upacara diharapkan terjadinya suatu
upaya untuk mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta prabhawa-
Nya, kepada alam lingkungan-Nya, paa Pitara, para Rsi atau Maha Rsi dan manusia
sebagai sesamanya.
4. Kitab suci Veda mengajarkan umat Hindu dalam menyampaikan rasa syukur dengan
memakai isi alam, yaitu bunga, daun, cahaya, air, dan buah. Isi alam ini dikemas,
ditata dalam aturan tertentu sehingga menjadi sesajen persembahan (Banten). Sesajen
inilah dipakai sebagai media persembahan kepada Brahman.
5. Yajña ini dilaksanakan karena para Rsi sudah berjasa menuntun masyarakan dan
melakukan puja sewana setiap hari. Para Rsi telah mendoakan keselamatan dunia
alam semesta beserta isinya. Oleh karena itu, kita harus melaksanakan Rsi yajña untuk
menghormati para Rsi.

PEMERINTAH PROVINSI BALI


DINAS PENDIDIKAN
SMA NEGERI 1 GIANYAR
Jl. Ratna No 1, Telepon: (0361) 943 034
Website: http://www.sman1-gianyar.sch.id E-mail: sman1gianyar@yahoo.com

YAJNA DALAM MAHABHARATA


(Yajna Dalam Mahabharata Dan Masa Kini)

A. Soal
1. Makna apa yang dapat dipetik dari pelaksanaan Yajña dalam cerita Mahabarata?
2. Coba ceritakan kembali sekilas tentang pelaksanaan Yajña dalam cerita Mahabharata!
3. Rangkumlah cerita di atas dan berikanlah komentar-mu bagaimana
mempersembahkan yajña agar berhasil! Sebelumnya diskusikanlah dengan orang tua
Anda di rumah.
4. Sebutkan dan jelaskan tingkatan yajña dalam agama hindu!
5. Mengapa merendahkan kehormatan wanita dalam Mahabharata berdampak pada
kehancuran negerinya para penghina?

B. Jawaban
1. Makna yang dapat dipetik dari pelaksanaan Yajña dalam cerita Mahabharata adalah,
kalau melaksanakan Yajña harus tulus ikhlas, tidak boleh mencela dan tidak boleh
ragu-ragu. Karena jika kita mencela orang yang kita berikan yajña seperti Drupadi
yang mencela Brahmana utama karena makan terlalu tergesa-gesa maka pahalanya
akan dicela dan dihinakan (berbalik kepada diri kita sendiri).
2. Pada zaman Mahabharata dikisahkan Panca Pandawa melaksanakan Yajña Sarpa yang
sangat besar dan dihadiri oleh seluruh rakyat dan undangan dari raja-raja terhormat
dari negeri tetangga. Bukan itu saja, undangan juga datang dari para pertapa suci yang
berasal dari hutan atau gunung. Menjelang puncak pelaksanaan Yajña, datanglah
seorang Brahmana suci dari hutan ikut memberikan doa-restu dan menjadi saksi atas
pelaksanaan upacara yang besar itu. Setiap tamu yang hadir dihidangkan berbagai
macam makanan yang lezat. Brahmana utama disuguhkan makanan yang lezat-lezat
dengan perjalanan jauh yang ia tempuh ia makan dengan sangat tergesa-gesa, melihat
hal itu Drupadi berkomentar dan mencela brahmana itu dari jarak jauh namun dengan
kesaktiannya barahmana ini mendengar semua yang dikatakan drupadi, pada saat
inilah terjadi penyelewengan pelaksanaan yajña yang seharusnya tulus ikhlas menjadi
mencela tamu.
3. Pada zaman Mahabharata dikisahkan Panca Pandawa melaksanakan Yajña Sarpa yang
sangat besar dan dihadiri oleh seluruh rakyat dan undangan dari raja-raja terhormat
dari negeri tetangga dan juga para petapa suci. Para tamu yang menghadiri upacara
yadnya ini disuguhkan makanan yang sangat lezat. Brahmana utama disuguhkan
makanan yang lezat-lezat dengan perjalanan jauh yang ia tempuh ia makan dengan
sangat tergesa-gesa, melihat hal itu Drupadi berkomentar dan mencela brahmana itu
dari jarak jauh namun dengan kesaktiannya barahmana ini mendengar semua yang
dikatakan drupadi, ini mengakibatkan Drupadi mendapatkan pahala yang buruk.
Dalam kisah berikutnya Drupadi dilucuti oleh Dursasana adik dari Duryadana
disaksikan oleh Maha Raja Drestarata, Rsi Bisma, Begawan Drona, Kripacarya, dan
Perdana Menteri Widura serta disaksikan oleh para menteri lainnya. Namun Dewi
Drupadi tidak bisa ditelanjangi oleh Dursasana, karena dibantu oleh Krisna dengan
memberikan kain secara ajaib yang tidak bisa habis. Drupadi dibantu oleh Krisna
karena karma baik yang dibuatnya sewaktu membalut jarinya Krisna yang terkena
Panah Cakra setelah membunuh Supala.
 Komentar saya tentang mempersembahkan yajña agar berhasil:
Menurut saya pada cerita Mahabharata tersebut yadnya tidak terletak pada
memberikan hidangan makanan yang lezat-lezat kepada para tamu, tetapi yang lebih
penting dalam melakukan yadnya adalah niat berkorban dalam kesucian yang tulus
dan iklas.
4. Tingkat Nista/Kanistama (sederhana). Dimana dalam agama hindu tingkatan ini
sering di sebut dengan tingkatan yang paling rendah atau kecil. Tingkat nista ini
dibagi pula dalam tiga bagian.
 Kanistaning Kanistama yakni Upacāra yang paling kecil dari tingkatan
Upacāra terkecil.
 Madyaning Kanistama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra
yang terkecil.
 Utamaning Kanistama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra
yang tergolong madyaning nista.
Tingkat madya (menengah), tingkata madya yadnya beradasatu tingkat di atas nista
yadnya dan berada di bawah nya utamaning yadnya. Tingkat menengah ini dibagi tiga
bagian.
 Kanistaning madyama yakni Upacāra yang paling kecil dari tingkatan Upacāra
yang menengah.
 Madyaning madyama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra
yang tergolong nistaning madya.
 Utamaning madyama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra
yang tergolong madyaning madya.
Tingkat utama (yang paling besar/utama), utamaning yadnya adalah tingkatan yadnya
yang paling atas dari semua tingkatan yang ada. juga dibagi dalam tiga bagian.
 Kanistaning utama yakni Upacāra yang paling kecil dari tingkatan Upacāra
yang besar/utama.
 Madyaning utama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan upacara yang
besar/utama.
 Utamaning utama yakni Upacāra yang lebih besar diantara Upacāra-Upacāra
Yajña lainnya.
5. Karena pada saat itu kehormatan wanita yang dilecehkan itu bukan lain adalah
Drupadi yang telah dilucuti oleh Dursasana adik dari Duryadana disaksikan oleh
Maha Raja Drestarata, Rsi Bisma, Begawan Drona, Kripacarya, dan Perdana Menteri
Widura serta disaksikan oleh para menteri lainnya. Karena kejadian tersebut para
pandawa sebagai suami drupadi tidak terima dengan perlakuan Dursasana dan mereka
bersumpah akan membinaskan seluruh kurawa, disinilah awal mula terjadinya perang
antara pandawa dan kurawa yang berhasil dimenangkan oleh pandawa. Oleh sebab
itulah merendahkan kehormatan wanita dalam Mahabharata berdampak pada
kehancuran negerinya para penghina
PEMERINTAH PROVINSI BALI
DINAS PENDIDIKAN
SMA NEGERI 1 GIANYAR
Jl. Ratna No 1, Telepon: (0361) 943 034
Website: http://www.sman1-gianyar.sch.id E-mail: sman1gianyar@yahoo.com

YAJNA DALAM MAHABHARATA


(Syarat-Syarat Dan Aturan Dalam Pelaksanaan Yajna)

A. Soal
1. Sebutkan dan jelaskan syarat-syarat yang wajib dipedomani dalam melaksanakan
Yajña! Sebelumnya diskusikanlah dengan orang tua Anda di rumah.
2. Sebutkan tiga kualitas Yajña yang Anda ketahui!
3. Diantara kualitas yajna yang ada yang manakah sudah dilaksanakan oleh masyarakat
lingkungan sekitar Anda? Jelaskanlah!
4. Amatilah lingkungan sekitar Anda, kualitas yajna yang manakah yang paling sering
dilaksanakan? Diskusikanlah dengan orag tua Anda, kemudian buatlah laporannya
masing-masing!
5. Coba jelaskan cara mencari hari baik (dewasa ayu) untuk manusa yajña (Pawiwahan)!

B. Jawaban
1. Syarat-syarat yang wajib dipedomani dalam melaksanakan Yajña:
a. Sastra, Yajña harus berdasarkan Veda:
b. Sraddha, Yajña harus dengan keyakinan:
c. Lascarya, keikhlasan menjadi dasar utama Yajña:
d. Daksina, memberikan dana kepada pandita:
e. Mantra, puja, dan gita, wajib ada pandita atau pinandita:
f. Nasmuta atau tidak untuk pamer, jangan sampai melaksanakan Yajña hanya
untuk menunjukkan kesuksesan dan kekayaan: dan
g. Anna Sevanam, yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan cara
mengundang untuk makan bersama.
2. Tiga kualitas yajña antaralain:
1) Satwika Yajña
Satwika Yajña adalah kebalikan dari Tamasika Yajña dan Rajasana Yajña bila
didasarkan penjelasan Bhagawara Gita tersebut di atas. Satwika Yajña adalah
Yajña yang dilaksanakan sudah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.
Syarat-syarat yang dimaksud, antara lain:

a. Yajña harus berdasarkan sastra.


b. Yajña harus didasarkan keikhlasan.
c. Yajña harus menghadirkan sulinggih.
d. Yajamana harus mengeluarkan daksina.
e. Yajña juga sebaiknya menghadirkan suara genta, gong atau mungkin
Dharmagita.
2) Rajasika Yajña
Yajña yang dilakukan dengan penuh harapan akan hasilnya dan dilakukan
untuk pamer saja. Rajasika Yajña adalah kualitas Yajña yang relatif lebih rendah.
Walaupun semua persyaratan dalam sattwika Yajña sudah terpenuhi, namun
apabila Sang Yajamana atau yang menyelenggarakan Yajña ada niat untuk
memperlihatkan kekayaan dan kesuksesannya, maka nilai Yajña itu menjadi
rendah.

3) Tamasika Yajña
Yajña yang dilakukan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastranya, tanpa
mantra, tanpa ada kidung suci, tanpa ada daksina, tanpa didasari oleh
kepercayaan. Tamasika Yajña adalah Yajña yang dilaksanakan dengan motivasi
agar mendapatkan untung.

3. Diantara kualitas yajna yang ada, yajña yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat
lingkungan sekitar saya adalah Satwika Yajña dan Rajasika Yajna.

- Pada Satwika Yajna, masyarakat di sekitar lingkungan saya melakukan yajna


berdasarkan sastra dan tradisi yang hidup dan berkembang di dalam kehidupannya. Selain
itu, dalam melaksanakan upacara yajna juga mengeluarkan daksina sebagai bentuk dari
Rsi Yajna dalam Panca Yajna. Suara genta, gong juga dihadirkan.

- Pada Rajasika Yajna, dimana yajna di masyarakat di sekitar lingkungan saya


dilakukan dengan pamer. Contohnya dalam hal banten besar yang sebagai persembahan
kepada Ida Sang Hyang Widhi yang mewah dengan modal besar.

4. Yajna yang sering dilakukan yaitu Satwika Yajna. Dimana masyarakat di sekitar
lingkungan saya melakukan yajna berdasarkan sastra dan tradisi yang hidup dan
berkembang. Selain itu dalam upacara yajna juga mengeluarkan daksina sebagai
bentuk dari Rsi yajna dalam upacara yajna. Serta suara genta dan gong juga
dihadirkan.

5. Cara mencari Dewasa Ayu manusa yajña (Pawiwahan):


1) WUKU
Hati-hati dalam memilih wuku karena kesalahan pengambilan keputusan dalam
memilih wuku ini biasannya berakibat jangka menengah dalam menjalani bahtera
rumah tangga.
Wuku yang direkomendasikan:
a. Landep
b. Ukir
c. Kulantir
d. Julungwangi
e. Merakih
f. Matal
g. Uye
h. Uge
2) DINA (Hari)
Dina merupakan bilangan Sapta Wara. Setelah memperhatikan wuku perhatikan
harinya. Dalam wariga disebutkan bahwa Dewasa Ayu Ngewangun Karya
(Pawiwahan) dipilih pada hari:
 Senin (Soma), artinya menemukan kebahagiaan.
 Rabu (Budha), artinya sangat baik.
 Kamis (Wrespati), artinya disayangi orang banyak/masyarakat.
 Jumat (Sukra), artinya berbahagia, mewah.
3) PENANGGAL
Merupakan perhitungan hari setelah tilem. Adapun yang wajib dipakai adalah
penanggal:
 Ping 1, artinya menemukan kebahagiaan.
 Ping 2, artinya berkecukupan.
 Ping 3, artinya banyak keturunan.
 Ping 5, artinya menemukan kebahagiaan, langgeng
 Ping 7, artinya menemukan kerukunan.
 Ping 10, artinya murah rezeki.
 Ping 13, artinya mewah,berlimpah.
4) SASIH (Bulan)
Diupayakan memilih sasih berikut:
 September / katiga, Asuji = Banyak memiliki keturunan.
 Oktober / kapat, Kartika = Murah rezeki.
 November / kalima, Margasirsa = Berlimpah, mewah.
 Januari / kapitu, Magha = Dirgayusa, langgeng.
 April / kadasa, Waisyaka = Sangat baik, berbahagiaa, berwibawa.

5) SUBACARA
Merupakan hari yang paling dicari dalam segala kegiatan. Gama Bali meyakini
setiap hari ada baik buruknya, dan diupayakan untuk menghindari hari buruk untuk
kelangsungan keluarga. Subacara ini bermakna “Nyupat” (ngeruwat) setiap keburukan
yang terkandung dalam wewaran. Subacara ini jatuh pada:
 Senin Penanggal Ping 3.
 Rabu Penanggal Ping 2 dan 3.
 Kamis Penanggal Ping 5.
 Jumat Penanggal Ping 1,2, dan 3.
PEMERINTAH PROVINSI BALI
DINAS PENDIDIKAN
SMA NEGERI 1 GIANYAR
Jl. Ratna No 1, Telepon: (0361) 943 034
Website: http://www.sman1-gianyar.sch.id E-mail: sman1gianyar@yahoo.com

YAJNA DALAM MAHABHARATA


(Mempraktikan Yajna Menurut Kitab Mahabharata Dalam Kehidupan)
A. Soal
1. Bagaimanakah praktik pelaksanaan Yajña menurut kitab Mahabharata bila dikaitkan
dengan kehidupan beragama Hindu di tanah air kita? Jelaskanlah!
2. Apakah yang ketahui tentang “daksina” terkait dengan kehidupan beragama Hindu di
lingkungan sekitar Kamu? Jelaskanlah!
3. Buatlah rangkuman untuk masing-masing pokok bahasan berdasarkan sumber teks
yang terdapat pada Bab II (Yajña dalam Mahabharata) materi pembelajaran ini sesuai
petunjuk khusus dari Bapak/Ibu guru yang mengajar! Sebelumnya diskusikanlah
dengan orang tua Kamu di rumah.
4. Amatilah gambar berikut ini, buatlah deskripsinya!

5. Mengapa pendeta pertapa tidak bersedia untuk memimpin upacara Aswamedha Yajna
saat yang menghadap patih kerajaan?

B. Jawaban
1. Pelaksanaan upacara yajna menurut Kitab Mahabharata bila dikaitkan dengan
kehidupan beragama Hindu di tanah air kita ada kemiripan. Di kisah Mahabharata
upacara Yajna yang disebut Aswamedha mempersembahkan daksina kepada pendeta
agar upacara berjalan lancar. Sama seperti umat Hindu di Bali setiap melakukan yajna
sebagian besar menghaturkan daksina sebagai penghormatan terhadap orang suci.

2. Daksina adalah suatu penghormatan dalam bentuk upacara dan harta benda atau uang
kepada pendeta/pemimpin upacara. Penghormatan ini haruslah dihaturkan secara tulus
ikhlas. Persembahan ini sangat penting dan bahkan merupakan salah satu syarat
mutlak agar yajna yang diselenggarakan berkualitas (satwika yajna).Pada agama
hindu daksina diaturkan pada kepada sulinggih/pemimpin upacara ini sebagai
penghormatan terhadap orang suci/Rsi Yajna. Seperti di pura sebelum melakukan
yajna, sulinggih/pemangku dihaturkan daksina sebagai bentuk penghormatan dalam
upacara.
3. Rangkuman materi pokok bahasan berdasarkan sumber teks yang terdapat pada BAB
II (Yajna dalam Mahabharata)

A. Pengertian dan Hakekat Yajna


Kata Yajña berasal dari bahasa Sansekerta, dari akar kata ”Yuj” berarti memuja,
mempersembahkan, korban. Dalam kamus bahasa Sansekerta, kata Yajña
diartikan: upacara korban, korban, orang yang berkorban yang berhubungan
dengan korban (Yajña). Dalam Kitab Bhagawadgita dijelasakan, Yajña artinya
suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran untuk
melaksanakan persembahan kepada Tuhan. Yajña berarti upacara persembahan
korban suci.
Yajña berarti persembahan, pemujaan, penghormatan, dan korban suci. Yajña
adalah korban suci yang tulus iklhas tanpa pamrih. Berdasarkan sasaran yang akan
diberikan Yajña, maka korban suci ini dibedakan menjadi lima jenis, yaitu:
a. Dewa Yajña
Yajña jenis ini adalah persembahan suci yang dihaturkan kepada Sang Hyang
Widhi dengan segala manisfestasi-Nya. Contoh Dewa Yajña dalam kesehariannya,
melaksanakan puja Tri Sandya, sedangkan contoh Dewa Yajña pada hari-hari
tertentu adalah melaksanakan piodalan/puja wali di pura dan lain sebagainya.
b. Rsi Yajña
Rsi Yajña adalah korban suci yang tulus ikhlas kepada para Rsi karena para
Rsi sudah berjasa menuntun masyarakat dan melakukan puja surya sewana setiap
hari. Contoh pelaksanaannya yaitu Upacara Ekajati dan Upacara Dwijati.
c. Pitra Yajña
Korban suci jenis ini adalah bentuk rasa hormat dan terima kasih kepada para
Pitara atau leluhur karena telah berjasa ketika masih hidup melindungi kita.
Contoh pelaksanaannya yaitu melakukan upacara pengabenan terhadap leluhur
yang telah meninggal.
d. Manusa Yajña
Manusa Yajña adalah pengorbanan untuk manusia, terutama bagi mereka yang
memerlukan bantuan. Contoh pelaksanaannya memberikan sumbangan makanan,
pakaian layak pakai, dan sebagainya, upacara pawiwahan, mepandes, dan lainnya.
e. Bhuta Yajña
Upacara Bhuta Yajña adalah korban suci untuk para bhuta, yaitu roh yang
tidak nampak oleh mata tetapi ada di sekitar kita. Contoh pelaksanaannya yaitu
masegeh, mecaru, tawur agung, dan lain lain.
B. Yajna dalam Mahabharata dan Masa Kini
Pelaksanaan yajna harus dilakukan dengan tulus ikhlas, tidak boleh mencela dan
tidak boleh ragu. Apabila melakukan tindakan mencela pahalanya akan dicela dan
dihinakan, seperti dalam cerita Mahabharata, dikisahkan Panca Pandawa
melaksanakan Yajña Sarpa yang sangat besar. Dewi Drupadi mengadakan yajna
dengan memberikan hidangan makanan kepada para tamu yang datang tetapi dia
mencela salah satu orang yang datang yaitu Brahmana Utama karena Beliau
makan seperti orang yang sangat kelaparan, maka Dewi Drupadi menerima
balasan karena perbuatannya iutu, dia hendak ditelanjangi oleh Duryudana dan
adik-adiknya. Dalam cerits tersebut menunjukkan ketidak ikhlasan dalam
pelaksanaan yajna.
C. Syarat-Syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajna
Agar pelaksanaan Yajña lebih efisien, maka syarat pelaksanaan Yajña perlu
mendapat perhatian, yaitu:
a. Sastra, Yajña harus berdasarkan Veda.
b. Sraddha, Yajña harus dengan keyakinan.
c. Lascarya, keikhlasan menjadi dasar utama Yajña.
d. Daksina, memberikan dana kepada pandita.
e. Mantra, puja, dan gita, wajib ada pandita atau pinandita.
f. Nasmuta atau tidak untuk pamer, jangan sampai melaksanakan Yajña hanya
untuk menunjukkan kesuksesan dan kekayaan.
g. Anna Sevanam, yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan cara
mengundang untuk makan bersama.
Menurut Bhagavadaita XVII. 11, 12, dan 13 menyebutkan ada tiga kualitas Yajña
itu, yakni:
a. Satwika Yajña:
Satwika Yajña adalah Yajña yang dilaksanakan sudah memenuhi syarat-syarat
yang telah ditentukan. Syarat-syarat yang dimaksud, antara lain, Yajña harus
berdasarkan sastra. Yajña harus didasarkan keikhlasan. Yajña harus menghadirkan
Sulinggih yang disesuaikan dengan besar kecilnya Yajña. Dan dalam setiap
upacara Yajña, Sang Yajamana harus mengeluarkan daksina. Yajña juga sebaiknya
menghadirkan suara genta, gong atau mungkin Dharmagita.
b. Rajasika Yajña:
Yajña yang dilakukan dengan penuh harapan akan hasilnya dan dilakukan untuk
pamer saja. Rajasika Yajña adalah kualitas Yajña yang relatif lebih rendah.
Walaupun semua persyaratan dalam sattwika Yajña sudah terpenuhi, namun
apabila Sang Yajamana atau yang menyelenggarakan Yajña ada niat untuk
memperlihatkan kekayaan dan kesuksesannya, maka nilai Yajña itu menjadi
rendah.
c. Tamasika Yajña:
Yajña yang dilakukan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastranya, tanpa
mantra, tanpa ada kidung suci, tanpa ada daksina, tanpa didasari oleh
kepercayaan. Tamasika Yajña adalah Yajña yang dilaksanakan dengan motivasi
agar mendapatkan untung.
D. Mempraktikkan Yajna Menurut Kitab Mahabharata dalam Kehidupan
Beryajna bagi umat Hindu adalah wajib hukumnya walau bagaimana dan
dimanapun mereka berada, sesuatu yang dilaksanakan dengan dilandasi oleh yajna
adalah utama.
Didalam beryajna wajib mempersembahkan daksina. Daksina adalah suatu
penghormatan dalam bentuk upaca dan harta benda atau uang kepada
pendeta/pemimpin upacara. Penghormatan harus dilakukan dengan tulus ikhlas.

4. Dalam gambar tersebut dapat dilihat upacara Dewa Yajna yaitu persembahan suci
yang dihatuekan kepada Sang Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya. Dimana
dalam gambar tersebut melaksanakan piodalan/puja wali. Upacara ini juga dapat
disebut Satwika Yajna karena menghaturkan daksina untuk menghormati orang suci.

5. Krishna menjelaskan, upacara yang dapat dilangsungkan bukanlah atas nama sang
Patih, tetapi atas nama sang Raja. Karena itu tidaklah pantas kalau orang lain yang
memohon kepada pendeta. Setidaknya Permaisuri Raja yang harus datang kepada
Pendeta. Kalau permaisuri yang datang, sangatlah tepat karena dalam pelaksanaan
upacara agama, peranan wanita lebih menonjol dibandingkan laki-laki. Upacara
agama bertujuan untuk membangkitkan prema atau kasih sayang, dalam hal ini yang
paling tepat adalah wanita.
AGAMA HINDU

KUMPULAN SOAL YAJNA DALAM MAHABHARATA

XI MIPA 3

Oleh:

DEWA PUTU KIDANG ARITAMA


07

SMA NEGERI 1 GIANYAR


TAHUN AJARAN
2018/2019