Anda di halaman 1dari 4

Tugas Hukum Dagang

Nama: Sulis Anita

Nim: 1810611067

Kelas: E

Hukum Dagang

Soal

1. Pengertian hukum dagang


a. DR. H. Zainal Asikin, S.H., SU. mendefinisikan hukum dagang adalah
hukum yang mengatur seluruh aktivitas dan segala akibat hukum yang
terkait dengan perdagangan, baik itu yang tertulis maupun yang tidak
tertulis yang hidup ditengah masyarakat.1
b. Achmad Ichsan, mendefinisikan hukum dagang sebagai hukum yang
mengatur masalah perdagangan atau perniagaan, yaitu masalah yang timbul
karena tingkah laku manusia (persoon atau person) dalam perdagangan atau
perniagaan.2
c. C.S.T Kansil, mendefinisikan hukum dagang adalah hukum yang mengatur
tingkah laku manusia yang turut melakukan perdagangan dalam usahanya
memperoleh keuntungan.3
Berdasarkan pengertian diatas maka menurut pendapat penulis hukum
dagang adalah hukum yang mengatur seluruh tingkah laku manusia yang
berhubungan dengan aktivitas perdagangan atau perniagaan.

2. Sejarah hukum dagang


Berdasarkan pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, maka di Indonesia masih
berlaku kitab undang-undang hukum perdata dan kitab undang-undang hukum dagang
yang mulai berlaku pada tanggal 1 Mei 1848. Diumumkan dengan publikasi tanggal 30
April 1847 (S.1847-23).

1
DR. H. Zainal Asikin, S.H., SU, Hukum Dagang, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2018), hlm. 5.
2
Achmad Ichsan, Hukum Dagang, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1987), hlm. 17.
3
C.S.T Kansil, Pokok-Pokok Pengetahuan Hukum Dagang, (Jakarta: Aksara Baru, 1985), hlm. 7.
KUHD Indonesia itu hanya turunan belaka dari “Wetboek van Koophandel”
Belanda, yang dibuat atas dasar asas “konkordasi” ( Pasal 131 I.S Wetboek van
Koophandel Belanda itu berlaku mulai tanggal 1 Oktober 1838 dan 1 Januari 1842
( di Limburg ).
Timbulnya hukum dagang dimulai pada abad ke 9, sebenarnya hukum perdata
pada waktu itu sudah ada, tetapi tidak mengatur tentang hukum dagang. Sejak
tumbuhnya beberapa kota perdagangan, peraturan-peraturan hukum Romawi itu tidak
dapat lagi memenuhi kebutuhan-kebutuhan hukum para pedagang.
Lambat laun mereka mengatur sendiri perihal saling hubungan hukum yang
timbul dalam dunia perdagangan, sehingga timbul peraturan-peraturan mengenai
perdagangan yang didasarkan pada kebiasaan-kebiasaan dalam lingkungan
perdagangan hingga kemudian diadakan kodifikasi.
Dengan demikian hukum dagang maju karena:
1. Majunya hukum dagang itu sediri karena kebutuhan karena kebutuhan
mereka sendiri.
2. Hasil yurisprudensi dari pengadilan yang mereka dirikan sendiri
(peraturan-peraturan itu kemudian menjadi sumber hukum dagang).

Kodifikasi dibidang hukum dagang diusahakan pada abad 17 ketika raja


Lodewijk ke XIV di Perancis, yaitu :

- Ordonnance du commerce (1673)


- Ordonnance de la marine (1681)

Molengraaf menunjuk kedua ordonansi itu sebagai kodifikasi pertama hukum


dagang.

Pada waktu itu timbul peraturan-peraturan hukum dagang secara tertulis,


kemudian Belanda menirunya karena pada saat itu Belanda merupakan jajahan
Perancis, dan akhirnya kodifikasi Belanda itu diambil alih oleh Indonesia karena
Indonesia pada saat itu dijajah Belanda. Dengan demikian KUHD yang berlaku di
Indonesia sekarang ini pada pokoknya berasal dari Ordonnance du Commerce di
Perancis.4

4
Dra. Hj. Sri Gunarsi, SH, MH, Pengantar Hukum Dagang Di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Penerbit K-
Media, 2016), hlm. 6.
3. Ruang lingkup hukum dagang
Secara klasik, hukum dagang mencakup bidang-bidang hukum:
1. Asuransi
2. Surat berharga
3. Letter of credit
4. Pengangkutan
5. Hak kekayaan intelektual
6. Persekutuan perdata
7. Badan usaha
Kemudian dalam beberapa dekade terakhir, mencakup bidang hukum yang
lebih luas lagi atau bidang- bidang hukum baru, seperti:
1. Dewan pekerja (work council)
2. Perbankan
3. Kepailitan
4. Keagenan
5. Anti monopoli5

4. Kedudukan hukum dagang dalam hukum perdata


Hukum perdata adalah ketentuan yang mengatur hak-hak dan kepentingan
antara individu-individu dalam masyarakat, sedangkan hukum dagang ialah aturan-
aturan hukum yang mengatur hubungan orang yang satu dengan yang lainnya,
khusunya dalam perniagaan. Dengan demikian, ada ruang lingkup yang sama antara
hukum perdata dengan hukum dagang. Hanya saja hukum perdata lebih luas dari pada
hukum dagang, karena hanya dalam wilayah perniagaan. Hal ini semakin jelas jika
melihat kesejarah lahirnya hukum dagang, dimana kaidah hukum dagang yang ada
sekarang muncul di kalangan pedagang sekitar abad ke-17, yang merupakan kebiasaan
mereka dalam hubungan hukum di bidang perdagangan. Dengan kata lain, pada
awalnya hukum dagang berinduk pada hukum perdata, namun seiring dengan
berjalannya waktu hukum dagang mengkodifikasi aturan-aturan hukumnya, sehingga
tercipta KUHD yang terpisah dari KUHPerdata.6

5
Fauzi Wibowo, Hukum Dagang Di Indonesia, (Bantul: Legality, 2017), hlm. 3.
6
Nafi’ Mubarok, Buku Diktat Hukum Dagang, hlm. 4.
Hubungan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dengan Kitab Undang-
Undang Hukum dagang yaitu sebagaimana diketahui bahwa dalam Pasal 1 KUHD
ditetapkan bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Perdata berlaku sepanjang tidak
diatur secara khusus dalam Kitab ini.
Dengan merujuk Pasal 1 di atas jelaslah berlaku asas “lex specialis derogate lex
generalis” yang mempunyai arti peraturan yang khusus akan mengesampingkan
peraturan yang umum. KUHD merupakan suatu Lex Specialis kalau dalam KUHD
terdapat ketentuan mengenai hal yang sama diatur juga dalam KUHPerdata maka
ketentuan dalam KUHD itulah yang berlaku.7
Selaras dengan hal tersebut adalah pendapat beberapa ahli hukum, antara lain:8
1. Van Kanyang beranggapan bahwa Hukum Dagang adalah suatu tambahan Hukum
Perdata. KUHPerdata memuat hukum perdata dalam arti sempit, sedangkan KUHD
memuat penambahan yang mengatur halhal khusus hukum perdata dalam arti sempit
itu.
2. Van Apeldoorn yang menganggap bahwa hukum dagang suatu bagian istimewa dari
lapangan Hukum Perikatan yang tidak tercantum dalam Buku III dari KUHPerdata.
3. Sukardono yang menyatakan bahwa dengan adanya Pasal 1 KUHD maka KUHD
tidak secara khusus menyimpang dari KUHPerdata”.
4. Tirtamijaya yang menyatakan bahwa Hukum Dagang adalah suatu Hukum Sipil yang
istimewa.

7
DR. H. Zainal Asikin, S.H., SU, op.cit., hlm.7.
8
Neltje F. Katuuk, Aspek Hukum dalam Bisnis, hlm. 255.