Anda di halaman 1dari 306

i

BUKU AJAR
MIKROBIOLOGI

ii
PRAKATA
Puji syukur Penulis ucapkan kepada Allah SWT
atas rahmat yang dicurahkan sehingga penulisan Buku
Ajar Mikrobiologi ini dapat diselesaikan. Buku ajar ini
disusun berdasarkan learning outcomes Program Studi
Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan. Penyusunan buku ajar ini ditujukan khusus
untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah
Mikrobiologi, disusun dengan mempertimbangkan
kebaruan informasi sehingga mahasiswa berpeluang
untuk menemukan serta menggali lebih banyak informasi
terkait perkembangan ilmu mikrobiologi itu sendiri.
Hasil-hasil penelitian banyak digunakan untuk
memperkaya muatan informasi dalam buku ajar ini. Di
samping itu, secara khusus mahasiswa juga diberikan
penugasan untuk menemukan artikel penelitian terkait
topic baik nasional maupun internasional sehingga
menjadikan wawasan yang diperoleh lebih komprehensif
dan up to-date.
Akhirnya, Penulis berharap Buku Ajar
Mikrobiologi ini dapat digunakan sebagai bahan acuan

iii
untuk mata kuliah Mikrobiologi khususnya di lingkungan
Program Studi Pendidikan Biologi.

Tanjungpinang, September 2017

Trisna Amelia, S.Pd., M.Pd.

iv
DAFTAR ISI

PRAKATA.............................................................. iii
DAFTAR ISI........................................................... v
DAFTAR GAMBAR.............................................. vi
DAFTAR TABEL….............................................. ix
Bab I Pendahuluan
1.1 Deskripsi Mata Kuliah Mikrobiologi................ 1
1.2 Standar Kompetensi.......................................... 2
1.3 Kompetensi Dasar............................................. 2
1.4 Rencana Pembelajaran Semester...................... 3
Bab II Ruang Lingkup Mikrobiologi....................... 21
Bab III Struktur & Fungsi Sel Mikroorganisme...... 41
Bab IV Nutrisi & Media Kultur Mikroba.............. 73
Bab V Pertumbuhan dan Perkembangan Mikroorg 111
Bab VI Pengendalian Pertumbuhan Mikroba........ 151
Bab VII Genetika Mikroba (Bakteri) .................... 187
Bab VIII Klasifikasi Bakteri.................................. 216
Bab IX Jamur, Alga, Protozoa, dan Virus............. 247
Daftar Pustaka........................................................ 283
Glosarium............................................................... 284
Indeks..................................................................... 294

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Skema Ikatan Komponen Penyusun


Peptidoglikan……………………… 52
Gambar 3.2 Perbedaan Dinding Sel Bakteri
Gram Positif dan Gram
Negatif……………………………... 55
Gambar 3.3 Nukleoid pada Bakteri……………. 57
Gambar 3.4 Membran Sel Bakteri Melipat
Membentuk Mesosom…………….. 58
Gambar 3.5 Flagel Bakteri……………………… 59
Gambar 3.6 Variasi Letak Flagel pada
Bakteri……………………………... 60
Gambar 3.7 Kapsul pada Bakteri………………. 61
Gambar 3.8 Kapsul……………………………… 62
Gambar 3.9 Endospora………………………… 63
Gambar 3.10 Sel Yeast………………………………. 64
Gambar 3.11 Sel Kapang………………………… 65
Gambar 4.1 Ilustrasi Biakan Bakteri pada Media 79
Cair…………………………………
Gambar 4.1 Prosedur Pembuatan Media Kultur.. 102
Gambar 5.1 Proses Pembelahan Biner pada
Bakteri……………………………... 117
Gambar 5.2 Pembelahan Biner………………..... 119
Gambar 5.3 Transformasi Materi Genetik pada
Bakteri………………...................... 120
Gambar 5.4 Konjugasi pada Bakteri……………. 122
Gambar 5.5 Pertunasan pada Sel Ragi………….. 124
Gambar 5.6 Perkembangbiakan pada Kapang….. 127

Gambar 5.7 Fragmentasi pada Spirogyra………... 128

vi
Gambar 5.8 Reproduksi Seksual dan Aseksual
pada Alga Hijau………………......... 129
Gambar 5.9 Proses Adsorbsi………………......... 130
Gambar 5.10 Proses Injeksi………………............ 131
Gambar 5.11 Daur Litik dan Daur Lisogenik……. 132
Gambar 5.12 Kurva Pertumbuhan
Mikroorganisme………………........ 137
Gambar 6.1 Tanur Uap Panas………………...... 163
Gambar 6.2 Prosedur Flamming………………... 163
Gambar 6.3 Autoklaf……………….................... 165
Gambar 6.4 Filter Bakteriologis……………….... 171
Gambar 6.5 Laminar Air Flow………………...... 172
Gambar 7.1 Kromosom Bakteri dalam Superkoil. 188
Gambar 7.2 Peta Genetik pada Kromosom
Bakteri E.coli………………............. 191
Gambar 7.3 Foto elektron mikgrograf sel bakteri
E. coli F+ (kiri) dan F- (kanan)
selama proses konjugasi seksual…... 193
Gambar 7.4 Insertion Sequence……………….... 196
Gambar 7.5 Transposon 198
Gambar 7.6 Pemindahan Faktor F melalui
Konjugasi……………….................. 201
Gambar 7.7 Mekanisme Pertukaran Materi
Genetik pada Bakteri….................... 202
Gambar 8.1 Oscillatoria princeps…..................... 219
Gambar 8.2 Treponema pallidum…..................... 222
Gambar 8.3 Escherichia coli…............................. 225
Gambar 8.4 Vibrio (Vibrio cholerae) …............... 226
Gambar 8.5 Pseudomonas sp…............................ 227
Gambar 8.6 Neisseria meningitidis…................... 228
Gambar 8.7 Bacillus sp….................................... 231
Gambar 8.8 Clostridium perfringens…................ 231

vii
Gambar 8.9 Arkea yang tumbuh di air panas di
Morning Glory Hot Spring di Taman
Nasional
Yellowstone menjadikannya
berwarna terang……………………. 236

Gambar 9.1 Bentuk Umum Ketiga Kelompok


Jamur……………………………… 248
Gambar 9.2 Skema Kenampakan Morfologi
Koloni Kapang…………………….. 250
Gambar 9.3 Koloni Kapang dengan Dua Tekstur
yang Berbeda………………………. 251
Gambar 9.4 Aspergillus sp……………………… 254
Gambar 9.5 Sel Khamir………………………… 255
Gambar 9.6 Sargassum sp.sebagai salah satu
contoh Algae………………………. 262
Gambar 9.7 Beberapa contoh Protozoa………… 266

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Perbandingan Klasifikasi Haeckel,


Wittaker, dan Woese…………………... 26
Tabel 2 Perbedaan Sel Prokaryot dan Eukaryot... 46
Tabel 3 Perbedaan Susunan Dinding Bakteri
Gram Positif dan Gram Negatif……….. 55
Tabel 4 Ragam Sumber Energi Makhluk Hidup.. 77
Tabel 5 Contoh Mikroba Berdasarkan Sumber
Energi…………………………………… 78
Tabel 6 Komposisi Unsur penyusun sel bakteri
E.coli…………………………………….. 85
Tabel 7 Bahan Dasar Media Kultur……………... 91
Tabel 8 Waktu Generasi pada Berbagai Mikroba.. 134
Tabel 9 Perbandingan Persen Air dan Suhu
Koagulasi………………………….......... 156
Tabel 10 Perbandingan Tiga Domain Makhluk
Hidup…………………………………… 217
Kelompok Virus yang Penting………….. 276

ix
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Deskripsi Mata Kuliah Mikrobiologi


Matakuliah ini mencakup ruang lingkup, peranan,
dan perkembangan mikrobiologi bagi kehidupan,
struktur, fungsi sel mikroorganisme, aktivitas
pertumbuhan, pengendalian, genetika dan klasifikasi
mikroorganisme, serta peranan mikroorganisme dalam
berbagai bidang. Penerapan konsep mikrobiologi
dilakukan dengan praktikum. Mahasiswa diarahkan
untuk menganalisis data hasil praktikum serta melakukan
pelaporan.
Pada mata kuliah ini dituntut sikap bertanggung
jawab, memiliki komitmen sebagai pendidik, berpikir
terbuka, kritis, inovatif, dan percaya diri. Dalam proses
perkuliahan dilakukan dengan prinsip Student-Centered
Learning sehingga banyak menggunakan kegiatan-
kegiatan multi model dalam perkuliahan. Penilaian
dilakukan menggunakan prinsip otentik asesmen dengan
memperhatikan berbagai aspek kemampuan mahasiswa.

1
1.2 Standar Kompetensi
Mengaplikasikan konsep, prinsip, dan prosedur
dalam Mikrobiologi dalam pembelajaran di sekolah,
serta menerapkan sikap ilmiah dalam proses
pembelajaran.

1.3 Kompetensi Dasar

1. Menguasai konsep, prinsip dan prosedur dasar


mikrobiologi serta terapannya dalam pembelajaran
biologi di sekolah
2. Mampu dan terampil mengelola laboratorium
sekolah untuk melakukan praktikum terkait konsep
mikrobiologidengan memanfaatkan perkembangan
IPTEK
3. Mampu menganalisis peranan mikroorganisme
dalam kehidupan
4. Mahasiswa mampu mereview artikel ilmiah nasional
dan internasional untuk memperoleh informasi
mengenai konsep mikrobiologi

2
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

1 1. Mengaplikasikan - Kontrak Mengkomunikasikan 120 - Mampu 100


peraturan yang Perkuliahan materi melalui mengaplikasik
ditetapkan pada - Orientasi presentasi, diskusi, an peraturan
kontrak perkuliahan tanya jawab, membaca yang
perkuliahan - Sharing bahan ajar ditetapkan
2. Memahami perkuliahan pada kontrak
orientasi perkuliahan
perkuliahan - Mampu
memahami
orientasi
perkuliahan
2 1. Memahami ruang - Ruang Mengkomunikasikan 120 - Mahasiswa
lingkup Lingkup dan materi melalui mampu
mikrobiologi Sejarah presentasi, diskusi, memahami
2. Menganalisis Mikrobiologi tanya jawab, membaca ruang lingkup
faktor-faktor yang bahan ajar mikrobiologi
mendukung - Mahasiswa
perkembangan ilmu mampu

3
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

mikrobiologi menganalisis
faktor-faktor
yang
mendukung
perkembangan
ilmu
mikrobiologi
3 1. Memahami Struktur dan Mengkomunikasikan 120 - Mahasiswa 100
karakteristik sel Fungsi Sel materi melalui mampu
mikroba Mikroorganism presentasi, diskusi, memahami
2. Membedakan e tanya jawab, membaca karakteristik
karakteristik sel - Perbedaan bahan ajar sel mikroba
mikroba prokaryot Sel - Mahasiswa
dan eukaryot Prokaryotik mampu
3. Menemukan contoh dan membedakan
sel mikroba Eukaryotik karakteristik
prokaryot dan - Bentuk dan sel mikroba
eukaryot Ukuran prokaryot dan

4
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

Mikroorgan eukaryot
isme - Mahasiswa
mampu
menemukan
contoh sel
mikroba
prokaryot dan
eukaryot
4 1. Memahami Nutrisi Mikroba Mengkomunikasikan 120 - Mahasiswa 100
pentingnya nutrisi - Kebutuhan materi melalui mampu
bagi mikroba Energi dan presentasi, diskusi, memahami
2. Memahami jenis- Kemampuan tanya jawab, membaca pentingnya
jenis nutrisi yang Menghasilka bahan ajar nutrisi bagi
penting bagi n Senyawa mikroba
mikroba Organik - Mahasiswa
3. Menjelaskan - Kebutuhan mampu
peranan berbagai Oksigen memahami
nutrisi bagi Mikroba jenis-jenis

5
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

mikroba - Media nutrisi yang


4. Menjelaskan Pertumbuha penting bagi
prinsip-prinsip n Mikroba mikroba
dalam pembuatan - Mahasiswa
media kultur mampu
mikroba menjelaskan
peranan
berbagai
nutrisi bagi
mikroba
- Mahasiswa
mampu
menjelaskan
prinsip-prinsip
dalam
pembuatan
media kultur
mikroba

6
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

5 1. Memahami definisi Pertumbuhan dan Mengkomunikasikan 120 - Mahasiswa 100


konsep Perkembangan materi melalui mampu
pertumbuhan dan Mikroba presentasi, diskusi, memahami
perkembangan pad - Pertumbuha tanya jawab, membaca definisi
mikroorganisme n dan bahan ajar konsep
2. Memahami Kurva pertumbuhan
mekanisme Pertumbuha dan
reproduksi pada n perkembangan
beberapa kelompok - Faktor yang pad
mikroorganisme Mempengar mikroorganis
(bakteri, khamir, uhi me
kapang, alga, dan Pertumbuha - Mahasiswa
virus) n mampu
3. Memahami konsep - Perkemban memahami
laju pertumbuhan gbiakan dan mekanisme
dan waktu generasi Daur Hidup reproduksi
pada pertumbuhan Mikroba pada beberapa
dan perkembangan kelompok

7
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

mikroorganisem mikroorganis
4. Memahami faktor- me (bakteri,
faktor yang khamir,
mempengaruhi kapang, alga,
pertumbuhan dan dan virus)
perkembangan - Mahasiswa
mikroorganisme mampu
memahami
konsep laju
pertumbuhan
dan waktu
generasi pada
pertumbuhan
dan
perkembangan
mikroorganise
m
- Mahasiswa

8
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

mampu
memahami
faktor-faktor
yang
mempengaruh
i pertumbuhan
dan
perkembangan
mikroorganis
me
6 1. Memahami tujuan/ Pengendalian Mengkomunikasikan 120 o Mahasiswa 100
manfaat Pertumbuhan materi melalui mampu
pengendalian Mikroba presentasi, diskusi, memahami
pertumbuhan - Sterilisasi tanya jawab, membaca tujuan/
mikroba dan bahan ajar manfaat
2. Memahami prinsip- Pengendali pengendalian
prinsip an Secara pertumbuhan
pengendalian Fisik mikroba

9
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

pertumbuhan - Pengendali o Mahasiswa


mikroba an dengan mampu
3. Menjelaskan Bahan memahami
teknik-teknik Kimia prinsip-prinsip
pengendalian pengendalian
pertumbuhan pertumbuhan
mikroba mikroba
o Mahasiswa
mampu
menjelaskan
teknik-teknik
pengendalian
pertumbuhan
mikroba

7 1. Memahami Genetika Mengkomunikasikan 120 o Mahasiswa


karakteristik materi Mikroba materi melalui mampu
genetic pada presentasi, diskusi, memahami

10
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

mikroba tanya jawab, membaca tujuan/


bahan ajar manfaat
pengendalian
pertumbuhan
mikroba
o Mahasiswa
mampu
memahami
prinsip-prinsip
pengendalian
pertumbuhan
mikroba
- 3. Mahasiswa
mampu
menjelaskan
teknik-teknik
pengendalian
pertumbuhan

11
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

mikroba
8 UTS 90 Mampu 100
menjawab
minimal 75%
soal dengan tepat
9 1. Mengenal Praktikum 1 Eksperimen, 120 - Mengenal 1
bermacam-macam (Pengenalan alat, pengamatan, diskusi bermacam- 0
alat dan cara sterisasi, macam alat 0
penggunaannya pembuatan dan cara
secara benar pada media, dan penggunaanny
praktikum inokulasi bakteri) a secara benar
mikrobiologi. pada
2. Mengetahui cara praktikum
pembuatan media mikrobiologi.
3. Mengetahui cara - Mengetahui
dan macam-macam cara
sterilisasi pembuatan
4. Mengaplikasikan media

12
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

berbagai prosedur - Mengetahui


sterilisasi cara dan
5. Mengaplikasikan macam-
langkah-langkah macam
pengambilan sterilisasi
sampel - Mengaplikasi
6. Mengaplikasikan kan berbagai
prosedur inokulasi prosedur
mikroba sterilisasi
7. Mempelajari - Mengaplikasi
morfologi koloni kan langkah-
mikroba pada langkah
media agar nutrisi pengambilan
padat sampel
- Mengaplikasi
kan prosedur
inokulasi
mikroba

13
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

- Mempelajari
morfologi
koloni
mikroba pada
media agar
nutrisi padat
10 1. Melatih mahasiswa Praktikum 2 Eksperimen, 120 - Melatih 100
agar mampu (Isolasi bakteri, pengamatan, diskusi mahasiswa
memisahkan Respirasi Sel agar mampu
mikroorganisme Bakteri) memisahkan
dari suatu substrat mikroorganis
ke substrat lain atau me dari suatu
dari suatu biakan substrat ke
campuran hingga substrat lain
diperoleh biakan atau dari suatu
yang murni. biakan
2. Mahasiswa campuran
mengetahui sifat hingga

14
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

respirasi bakteri diperoleh


3. Mahasiswa dapat biakan yang
mengidentifikasi murni.
bakteri berdasarkan - mahasiswa
sifat respirasinya mengetahui
sifat respirasi
bakteri
- mahasiswa
dapat
mengidentifik
asi bakteri
berdasarkan
sifat
respirasinya
11 1. Mengaplikasikan Praktikum 3 Eksperimen, 120 - mahasiswa 100
beberapa teknik (Pewarnaan Sel pengamatan, diskusi dapat
pewarnaan pada sel Bakteri, Uji Daya mengaplikasik
bakteri. Antimikroba) an beberapa

15
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

2. Melakukan teknik
pengujian daya pewarnaan
antimikroba pada sel
terhadap bakteri bakteri.
- mahasiswa
dapat
melakukan
pengujian
daya
antimikroba
terhadap
bakteri
12 1. Memahami Klasifikasi Mengkomunikasikan - Mahasiswa 100
klasifikasi bakteri Bakteri materi melalui mampu
(eubacteria, presentasi, diskusi, memahami
archaebacteria) tanya jawab, membaca klasifikasi
2. Membedakan bahan ajar bakteri
kedua domain (eubacteria,

16
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

prokaryot tersebut archaebacteria


3. Menganalisis )
contoh-contoh - Mahasiswa
kedua domain mampu
prokaryot tersebut membedakan
kedua domain
prokaryot
tersebut
- Mahasiswa
mampu
menganalisis
contoh-contoh
kedua domain
prokaryot
tersebut

13 1. Memahami Fungi, Mengkomunikasikan 120 - Mahasiswa 100


karakteristik jamur, Protozoa, Alga, materi melalui memahami

17
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

alga, protozoa, dan dan Virus presentasi, diskusi, karakteristik


virus sebagai tanya jawab, membaca jamur, alga,
mikroorganisme bahan ajar protozoa, dan
2. Menggali informasi virus sebagai
mengenai contoh- mikroorganis
contoh me
mikroorganisme - Mahasiswa
yang tergolong menggali
jamur, alga, informasi
protozoa, dan virus mengenai
contoh-contoh
mikroorganis
me yang
tergolong
jamur, alga,
protozoa, dan
virus
14 - Menganalisis Peranan Mengkomunikasikan 120 - Mahasiswa 100

18
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

mikroorganisme mikroorganisme materi melalui mampu


yang berperan dalam bidang presentasi, diskusi, menganalisis
dalam bidang pangan dan tanya jawab, membaca mikroorganis
pangan dan industri industri bahan ajar me yang
berperan
dalam bidang
pangan dan
industri
15 - Menganalisis Peranan Mengkomunikasikan 120 - Mahasiswa 100
mikroorganisme mikroorganisme materi melalui mampu
yang berperan dalam bidang presentasi, diskusi, menganalisis
dalam bidang kesehatan dan tanya jawab, membaca mikroorganis
kesehatan dan lingkungan bahan ajar me yang
lingkungan berperan
dalam bidang
kesehatan dan
lingkungan
16 UAS 90 Mampu 100

19
1.4 Rencana Pembelajaran Semester
Pert Kemampuan Akhir Bahan Kajian Bentuk Waktu Kriteria Bob
yang Diharapkan (Materi Pembelajaran Belajar Penilaian ot
Pelajaran) (menit) (indikator) Nilai

menjawab
minimal 75%
soal dengan
tepat

20
BAB II
RUANG LINGKUP & SEJARAH MIKROBIOLOGI

Learning Outcomes:

1. Mahasiswa memahami ruang lingkup


mikrobiologi sebagai cabang ilmu
biologi
2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi
contoh makhluk hidup yang tergolong
dalam kelompok mikroorganisme
3. Mahasiswa mampu menghubungkan
berbagai penemuan ahli dengan proses
berkembangnya ilmu mikrobiologi
4. Mahasiswa mampu memperjelas/
memperkaya informasi tentang materi
menggunakan artikel ilmiah sebagai
sumber belajar

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari


manusia selalu berhubungan dengan mikroba yang tidak
tampak dengan mata biasa. Ada kelompok mikroba yang
mana manusia bergantung pada keberadaannya, ada pula
kelompok mikroba yang justru memberikan kerugian

21
pada manusia. Itu sebabnya pengetahuan tentang peranan
mikroba atau mikroorganisme perlu dipahami.
Selanjutnya telaah mengenai mikroorganisme ini
berkembang menjadi sebuah cabang ilmu biologi yaitu
mikrobiologi.
Mikrobiologi boleh dikatakan sebagai ilmu yang
masih muda. Dunia jasad renik barulah ditemukan
sekitar 300 tahun lalu, dan makna yang sesungguhnya
mengenai mikroorganisme baru dipahami 200 tahun
kemudian. Selama 40 tahun terakhir, mikrobiologi
muncul sebagai bidang biologi yang sangat berarti. Kini
mikroorganisme digunakan sebagai objek dalam
menelaah hampir semua gejala biologis.

2.1 Ruang Lingkup Mikrobiologi


Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari
mikroba. Mikrobiologi adalah salah satu cabang ilmu
dari biologi, dan memerlukan ilmu pendukung kimia,
fisika, dan biokimia. Dalam mikrobiologi diberikan
pengertian dasar tentang sejarah penemuan mikroba,
macam-macam mikroba di alam, struktur sel mikroba
dan fungsinya, metabolisme mikroba secara umum,

22
pertumbuhan mikroba dan faktor lingkungan,
mikrobiologi terapan di bidang lingkungan dan
pertanian.
Mikrobiologi selanjutnya telah berkembang
menjadi bermacam-macam ilmu yaitu virologi,
bakteriologi, mikologi, mikrobiologi pangan,
mikrobiologi tanah, mikrobiologi industri, dan
sebagainya yang mempelajari mikroba spesifik secara
lebih rinci atau menurut kemanfaatannya.

A. Pengertian Mikroorganisme
Jasad hidup yang ukurannya kecil sering disebut
sebagai mikroba atau mikroorganisme atau jasad renik.
Jasad renik disebut sebagai mikroba bukan hanya karena
ukurannya yang kecil, sehingga sukar dilihat dengan
mata biasa, tetapi juga pengaturan kehidupannya
yang lebih sederhana dibandingkan dengan jasad
tingkat tinggi.
Mata biasa tidak dapat melihat jasad yang
ukurannya kurang dari 0,1 mm. Ukuran mikroba
biasanya dinyatakan dalam mikron, 1 mikron adalah
0,001 mm. Sel mikroba umumnya hanya dapat dilihat

23
dengan alat pembesar atau mikroskop, walaupun
demikian ada mikroba yang berukuran besar sehingga
dapat dilihat tanpa alat pembesar.

B. Penggolongan Mikroorganisme
Secara umum, dunia mikroorganisme terdiri dari
5 kelompok organisme; bakteri, protozoa, virus, serta
alga dan cendawan mikroskopis. Secara klasik jasad
hidup digolongkan menjadi dunia tumbuhan (plantae)
dan dunia hewan (animalia).
Jasad hidup yang ukurannya besar dengan mudah
dapat digolongkan ke dalam plantae atau animalia, tetapi
mikroba yang ukurannya sangat kecil ini sulit untuk
digolongkan ke dalam plantae atau animalia. Selain
karena ukurannya, sulitnya penggolongan juga
disebabkan adanya mikroba yang mempunyai sifat
antara plantae dan animalia.
Menurut teori evolusi, setiap jasad akan
berkembang menuju ke sifat plantae atau animalia. Hal
ini digambarkan sebagai pengelompokan jasad berturut-
turut oleh Haeckel, Whittaker, dan Woese. Berdasarkan
perbedaan organisasi selnya, Haeckel membedakan

24
dunia tumbuhan (plantae) dan dunia hewan
(animalia), dengan protista. Protista beranggotakan
jasad yang tidak dapat dimasukkan pada golongan
plantae dan animalia. Protista terdiri dari algae atau
ganggang, protozoa, jamur atau fungi, dan bakteri yang
mempunyai sifat uniseluler, sonositik, atau multiseluler
tanpa diferensiasi jaringan.
Whittaker membagi jasad hidup menjadi tiga
tingkat perkembangan, yaitu: (1) Jasad prokariotik
yaitu bakteri dan ganggang biru (Divisio Monera), (2)
Jasad eukariotik uniseluler yaitu algae sel tunggal,
khamir dan protozoa (Divisio Protista), dan (3) Jasad
eukariotik multiseluler dan multinukleat yaitu Divisio
Fungi, Divisio Plantae, dan Divisio Animalia.
Sedangkan Woese menggolongkan jasad hidup
terutama berdasarkan susunan kimia makromolekul
yang terdapat di dalam sel. Pembagiannya yaitu terdiri
Arkhaebacteria, Eukaryota (Protozoa, Fungi,
Tumbuhan dan Hewan), dan Eubacteria.

25
Tabel 1. Perbandingan Klasifikasi Haeckel, Wittaker,
dan Woese
Ernest Haeckel Robert Wittaket Carl Woese
(1866) (1969) (1977)
Protista Monera Arkhaebacteria
Animalia Protista Eubacteria
Plantae Fungi Protozoa
Plantae Fungi
Animalia Plantae
Animalia

Mikroorganisme masuk dalam:


a. Monera (bacteria dan cyanobacteria)
b. Protista (microalgae dan protozoa)
c. Fungi (yeasts dan mold)

2.2 Sejarah Perkembangan Mikrobiologi


A. Penemuan Animalculus
Awal terungkapnya dunia mikroba adalah dengan
ditemukannya mikroskop oleh Leeuwenhoek (1633-
1723). Mikroskop temuan tersebut masih sangat
sederhana, dilengkapi satu lensa dengan jarak fokus yang
sangat pendek, tetapi dapat menghasilkan bayangan jelas
yang perbesarannya antara 50-300 kali.

26
Leeuwenhoek melakukan pengamatan tentang
struktur mikroskopis biji, jaringan tumbuhan dan
invertebrata kecil, tetapi penemuan yang terbesar adalah
diketahuinya dunia mikroba yang disebut sebagai
“animalculus” atau hewan kecil. Animalculus adalah
jenis-jenis mikroba yang sekarang diketahui sebagai
protozoa, algae, khamir, dan bakteri.

B. Teori Abiogenesis dan Biogenesis


Penemuan animalculus di alam, menimbulkan
rasa ingin tahu mengenai asal usulnya. Menurut teori
abiogenesis, animalculus timbul dengan sendirinya dari
bahan-bahan mati. Doktrin abiogenesis dianut sampai
jaman Renaissance, seiring dengan kemajuan
pengetahuan mengenai mikroba, semakin lama doktrin
tersebut menjadi tidak terbukti. Sebagian ahli menganut
teori biogenesis, dengan pendapat bahwa animalculus
terbentuk dari “benih” animalculus yang selalu berada di
udara. Untuk mempertahankan pendapat tersebut maka
penganut teori ini mencoba membuktikan dengan
berbagai percobaan.

27
Fransisco Redi (1665), memperoleh hasil dari
percobaannya bahwa ulat yang berkembang biak di
dalam daging busuk, tidak akan terjadi apabila daging
tersebut disimpan di dalam suatu tempat tertutup yang
tidak dapat disentuh oleh lalat. Jadi dapat disimpulkan
bahwa ulat tidak secara spontan berkembang dari daging.
Percobaan lain yang dilakukan oleh Lazzaro Spalanzani
memberi bukti yang menguatkan bahwa mikroba tidak
muncul dengan sendirinya, pada percobaan
menggunakan kaldu ternyata pemanasan dapat
menyebabkan animalculus tidak tumbuh. Percobaan ini
juga dapat menunjukkan bahwa perkembangan mikrobia
di dalam suatu bahan, dalam arti terbatas menyebabkan
terjadinya perubahan kimiawi pada bahan tersebut.
Percobaan yang dilakukan oleh Louis Pasteur
juga banyak membuktikan bahwa teori abiogenesis tidak
mungkin, tetapi tetap tidak dapat menjawab asal usul
animalculus. Penemuan Louis Pasteur yang penting
adalah
(1) Udara mengandung mikrobia yang pembagiannya
tidak merata,

28
(2) Cara pembebasan cairan dan bahanbahan dari
mikrobia, yang sekarang dikenal sebagai
pasteurisasi dan sterilisasi.
Pasteurisasi adalah cara untuk mematikan beberapa jenis
mikroba tertentu dengan menggunakan uap air panas,
suhunya kurang lebih 62oC. Sterilisasi adalah cara untuk
mematikan mikroba dengan pemanasan dan tekanan
tinggi, cara ini merupakan penemuan bersama ahli yang
lain.

C. Penemuan Bakteri Berspora


John Tyndall (1820-1893), dalam suatu
percobaannya juga mendukung pendapat Pasteur. Cairan
bahan organik yang sudah dipanaskan dalam air garam
yang mendidih selama 5 menit dan diletakkan di dalam
ruangan bebas debu, ternyata tidak akan membusuk
walaupun disimpan dalam waktu berbulan-bulan, tetapi
apabila tanpa pemanasan maka akan terjadi pembusukan.
Dari percobaan Tyndall ditemukan adanya fase
termolabil (tidak tahan pemanasan, saat bakteri
melakukan pertumbuhan) dan termoresisten pada bakteri
(sangat tahan terhadap panas).

29
Dari penyelidikan ahli botani Jerman yang
bernama Ferdinand Cohn, dapat diketahui secara
mikroskopis bahwa pada fase termoresisten, bakteri
dapat membentuk endospora. Dengan penemuan
tersebut, maka dicari cara untuk sterilisasi bahan yang
mengandung bakteri pembentuk spora, yaitu dengan
pemanasan yang terputus dan diulang beberapa kali atau
dikenal sebagai Tyndallisasi. Pemanasan dilakukan pada
suhu 100oC selama 30 menit, kemudian dibiarkan pada
suhu kamar selama 24 jam, cara ini diulang sebanyak 3
kali. Saat dibiarkan pada suhu kamar, bakteri berspora
yang masih hidup akan berkecambah membentuk fase
pertumbuhan / termolabil, sehingga dapat dimatikan
pada pemanasan berikutnya.
D. Peran Mikroba dalam Transformasi Bahan
Organik
Suatu bahan yang ditumbuhi oleh mikroba akan
mengalami perubahan susunan kimianya. Perubahan
kimia yang terjadi ada yang dikenal sebagai fermentasi
(pengkhamiran) dan pembusukan (putrefaction).
Fermentasi merupakan proses yang menghasilkan
alkohol atau asam organik, misalnya terjadi pada bahan

30
yang mengandung karbohidrat. Pembusukan merupakan
proses peruraian yang menghasilkan bau busuk, seperti
pada peruraian bahan yang mengandung protein.
Pada tahun 1837, C. Latour, Th. Schwanndon,
dan F. Kutzing secara terpisah menemukan bahwa zat
gula yang mengalami fermentasi alkohol selalu dijumpai
adanya khamir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
perubahan gula menjadi alkohol dan CO2 merupakan
fungsi fisiologis dari sel khamir tersebut. Teori biologis
ini ditentang oleh Jj. Berzelius, J. Liebig, dan F. Wahler.
Mereka berpendapat bahwa fermentasi dan pembusukan
merupakan reaksi kimia biasa. Hal ini dapat dibuktikan
pada tahun 1812 telah berhasil disintesa senyawa organik
urea dari senyawa anorganik. Pasteur banyak meneliti
tentang proses fermentasi (1875-1876). Suatu saat
perusahaan pembuat anggur dari gula bit, menghasilkan
anggur yang masam.
Berdasarkan pengamatannya secara mikroskopis,
sebagian dari sel khamir diganti kedudukannya oleh sel
lain yang berbentuk bulat dan batang dengan ukuran sel
lebih kecil. Adanya sel-sel yang lebih kecil ini ternyata
mengakibatkan sebagian besar proses fermentasi alkohol

31
tersebut didesak oleh proses fermentasi lain, yaitu
fermentasi asam laktat.
Dari kenyataan ini, selanjutnya dibuktikan bahwa
setiap proses fermentasi tertentu disebabkan oleh
aktivitas mikroba tertentu pula, yang spesifik untuk
proses fermentasi tersebut. Sebagai contoh fermentasi
alkohol oleh khamir, fermentasi asam laktat oleh bakteri
Lactobacillus, dan fermentasi asam sitrat oleh jamur
Aspergillus.

E. Penemuan Kehidupan Anaerob


Selama meneliti fermentasi asam butirat, Pasteur
menemukan adanya proses kehidupan yang tidak
membutuhkan udara. Pasteur menunjukkan bahwa jika
udara dihembuskan ke dalam bejana fermentasi butirat,
proses fermentasi menjadi terhambat, bahkan dapat
terhenti sama sekali. Dari hal ini kemudian dibuat 2
istilah,
(1) kehidupan anaerob, untuk mikroba yang tidak
memerlukan Oksigen, dan
(2) kehidupan aerob, untuk mikroba yang memerlukan
Oksigen.

32
Secara fisiologis adanya fermentasi dapat
digunakan untuk mengetahui beberapa hal. Oksigen
umumnya diperlukan mikroba sebagai agens untuk
mengoksidasi senyawa organik menjadi CO2. Reaksi
oksidasi tersebut dikenal sebagai “respirasi aerob”, yang
menghasilkan tenaga untuk kehidupan jasad dan
pertumbuhannya. Mikroba lain dapat memperoleh tenaga
dengan jalan memecahkan senyawa organik secara
fermentasi anaerob, tanpa memerlukan oksigen.
Beberapa jenis mikroba bersifat obligat anaerob atau
anaerob sempurna. Jenis lain bersifat fakultatif anaerob,
yaitu mempunyai dua mekanisme untuk mendapatkan
energi. Apabila ada Oksigen, energi diperoleh secara
respirasi aerob, apabila tidak ada Oksigen energi
diperoleh secara fermentasi anaerob. Pasteur
mendapatkan bahwa respirasi aerob adalah proses yang
efisien untuk menghasilkan energi.
F. Penemuan Enzim
Menurut Pasteur, proses fermentasi merupakan
proses vital untuk kehidupan. Pendapat tersebut
ditentang oleh Bernard (1875), bahwa khamir dapat
memecah gula menjadi alkohol dan CO2 karena

33
mengandung katalisator biologis dalam selnya.
Katalisator biologis tersebut dapat diekstrak sebagai
larutan yang tetap dapat menunjukkan kemampuan
fermentasi, sehingga fermentasi dapat dibuat sebagai
proses yang tidak vital lagi (tanpa sel).
Pada tahun 1897, Buchner dapat membuktikan
gagasan Bernard, yaitu pada saat menggerus sel khamir
dengan pasir dan ditambahkan sejumlah besar gula,
terlihat dari campuran tersebut dibebaskan CO2 dan
sedikit alkohol. Penemuan ini membuka jalan ke
perkembangan biokimia modern. Akhirnya dapat
diketahui bahwa pembentukan alkohol dari gula oleh
khamir, merupakan hasil urutan beberapa reaksi kimia,
yang masing-masing dikatalisir oleh biokatalisator yang
spesifik atau dikenal sebagai enzim.
G. Mikroba Penyebab Penyakit
Pasteur menggunakan istilah khusus untuk
mengatakan kerusakan pada minuman anggur oleh
mikrobia, yaitu disebut penyakit Bir. Ia juga mempunyai
dugaan kuat tentang adanya peran mikroba dalam
menyebabkan timbulnya penyakit pada jasad tingkat
tinggi. Bukti-buktinya adalah dengan ditemukannya

34
jamur penyebab penyakit pada tanaman gandum (1813),
tanaman kentang (1845), dan penyakit pada ulat sutera
serta kulit manusia.
Pada tahun 1850 diketahui bahwa dalam darah
hewan yang sakit antraks, terdapat bakteri berbentuk
batang. Davaine (1863-1868) membuktikan bahwa
bakteri tersebut hanya terdapat pada hewan yang sakit,
dan penularan buatan menggunakan darah hewan yang
sakit pada hewan yang sehat dapat menimbulkan
penyakit yang sama.
Pembuktian bahwa antraks disebabkan oleh
bakteri dilakukan oleh Robert Koch (1876), sehingga
ditemukan “postulat Koch” yang merupakan langkah-
langkah untuk membuktikan bahwa suatu mikroba
adalah penyebab penyakit. Postulat Koch dalam bentuk
umum adalah sebagai berikut:
(1) Suatu mikroba yang diduga sebagai penyebab
penyakit harus ada pada setiap tingkatan penyakit.
(2) Mikroba tersebut dapat diisolasi dari jasad sakit dan
ditumbuhkan dalam bentuk biakan murni.

35
(3) Apabila biakan murni tersebut disuntikkan pada
hewan yang sehat dan peka, dapat menimbulkan
penyakit yang sama.
(4) Mikrobia dapat diisolasi kembali dari jasad yang
telah dijadikan sakit tersebut.
H. Penemuan Virus
Iwanowsky menemukan bahwa filtrat bebas
bakteri -(cairan yang telah disaring dengan saringan
bakteri)- dari ekstrak tanaman tembakau yang terkena
penyakit mozaik, ternyata masih tetap dapat
menimbulkan infeksi pada tanaman tembakau yang
sehat. Dari penyataan ini kemudian diketahui adanya
jasad hidup yang mempunyai ukuran jauh lebih kecil
dari bakteri (submikroskopik) karena dapat melalui
saringan bakteri, yaitu dikenal sebagai virus.
Untuk membuktikan penyakit yang disebabkan oleh
virus, dapat digunakan postulat River (1937), yaitu:
(1) Virus harus berada di dalam sel inang.
(2) Filtrat bahan yang terinfeksi tidak mengandung
bakteri atau mikroba lain yang dapat ditumbuhkan di
dalam media buatan.

36
(3) Filtrat dapat menimbulkan penyakit pada jasad yang
peka.
(4) Filtrat yang sama yang berasal dari hospes peka
tersebut harus dapat menimbulkan kembali penyakit
yang sama.

Temukan artikel terkait topic Sejarah dan Ruang


Lingkup Mikrobiologi, kemudian tulis informasi yang
anda dapatkan dari artikel tersebut pada kotak berikut!

37
1. Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari
mikroba/ mikroorganisme
2. Mikroorganisme meliputi jasad hidup yang
ukurannya kecil sehingga sukar dilihat dengan
mata biasa, juga pengaturan kehidupannya yang
lebih sederhana dibandingkan dengan jasad
tingkat tinggi.
3. Mengenai perkembangan mikrobiologi dapatlah
disimpulkan bahwa mikrobiologi maju dengan
pesat karena beberapa hal, yaitu; penemuan serta
menyempurnaan mikroskop, jatuhnya teori
abiogenesis, keyakinan orang bahwa pembusukan
itu disebabkan oleh mikroorganisme, dan bukti
yang menunjukkan bahwa penyakit itu
disebabkan oleh bibit penyakit.

38
Tulis jawaban atas pertanyaan berikut pada kotak yang
disediakan!
1. Jelaskan perbedaan ruang lingkup kajian mikrobiologi
didasarkan sistem klasifikasi 3 kingdom, 5 kingdom,
dan 6 kingdom!

2. Jelaskan peran penting penemuan mikroskop dalam


munculnya ilmu mikrobiologi!

3. Jelaskan keterkaitan runtuhnya teori abiogenesis


dengan berkembangnya ilmu mikrobiologi!

39
4. Louis Pasteur memberikan banyak sumbangan dalam
sejarah perkembangan ilmu mikrobiologi. Jelaskan
setidaknya 3 sumbangan tersebut!

5. Apakah yang dimaksud dengan postulat Koch?


Jelaskan arti pentingnya dalam perkembangan
mikrobiologi!

40
BAB III
STRUKTUR & FUNGSI SEL MIKROORGANISME

Learning Outcomes:

1. Mahasiswa mampu memahami


karakteristik sel mikroba
2. Mahasiswa mampu membedakan
karakteristik sel mikroba prokaryot
dan eukaryot
3. Mahasiswa mampu menemukan
contoh sel mikroba prokaryot dan
eukaryot
4. Mahasiswa mampu memperjelas/
memperkaya informasi tentang
materi menggunakan artikel ilmiah
sebagai sumber belajar

3.1 Karakteristik Sel Mikroba


Banyak mikroba yang terdiri dari satu sel saja
(uniseluler), sehingga semua tugas kehidupannya
dibebankan pada sel itu. Mikroba ada yang mempunyai
banyak sel (multiseluler).

41
Selain yang bersifat seluler, ada mikroba yang
bersifat nonseluler, yaitu virus. Virus adalah jasad
hidup yang bersifat parasit obligat, berukuran super kecil
atau submikroskopik. Virus hanya dapat dilihat dengan
mikroskop elektron.
1. Morfologi
Mikroba pada umumnya sangat kecil : ukurannya
dinyatakan dalam micrometer. 1μ = 0,001 mm. Oleh
karena ukurannya yang kecil diperlukan mikroskop
untuk melihat mikroba. Mikroskop yang digunakan
tergantung pada kecermatan yang diinginkan oleh
peneliti. Banyak mikroba yang terdiri dari satu sel saja
(uniseluler), sehingga semua tugas kehidupannya
dibebankan pada sel itu. Mikroba ada yang mempunyai
banyak sel (multiseluler).
Selain yang bersifat seluler, ada mikroba yang
bersifat nonseluler, yaitu virus. Virus adalah jasad
hidup yang bersifat parasit obligat, berukuran super kecil
atau submikroskopik. Virus hanya dapat dilihat dengan
mikroskop elektron.

42
2. Sifat Kimiawi
Sel terdiri dari berbagai bahan kimia. Bila sel
mikroba diberi perlakuan kimiawi, maka sel ini
memperlihatkan susunan kimiawi yang spesifik. Sebagai
contoh, bakteri Gram negatif memiliki lipopolisakarida
dalam dinding selnya, Sedangkan bakteri Gram positif
tidak. Sebaliknya pada banyak bakteri Gram positif
terdapat asam teikoat. Bahan kimia ini tidak ditemukan
pada gram negatif.
3. Sifat Biakan
Zat hara yang diperlukan oleh setiap
mikroorganisme berbeda ada mikroorganisme yang
hanya dapat hidup dan tumbuh bila diberikan zat hara
yang kompleks (serum, darah). Sebaliknya ada pula yang
hanya memerlukan bahan inorganik saja atau bahan
organik (asam amino, karbohidrat, purin, pirimidin,
vitamin, koenzim) selain itu beberapa mikroorganisme
hanya dapat tumbuh pada sel hidup, berupa inang, telur,
bertunas, biakan jaringan.
4. Sifat Metabolisme
Proses kehidupan dalam sel merupakan suatu
rentetan reaksi kimiawi yang disebut metabolisme.

43
Berbagai macam reaksi yang terjadi dalam metabolisme
dapat digunakan untuk mencirikan mikroorganisme
5. Sifat Antigenik
Bila mikroorganisme masuk kedalam tubuh, akan
terbentu antibodi yang mengikat antigen. Antigen
merupakan bahan kimia tertentu dari sel mikroba.
Antibodi ini bersifat sangat spesifik terhadap antigen
yang menginduksinya. Oleh karena mikroorganisme
memiliki antigen yang berbeda, maka antibodi dapat
digunakan untuk mencirikan (rapid indentification)
terhadap mikroorganisme. Reaksi ini sangat sepesifik
sehingga dapat disebut sebagai lock and key system.
6. Sifat Genetik
DNA kromosomal mikroorganisme memiliki
bagian yang konstan dan spesifik bagi mikroorganisme
tersebut sehingga dapat digunakan untuk pencirian
mikroorganisme.
7. Patogenitas
Mikroba dapat menimbulkan penyakit,
kemampuannya untuk menimbulkan penyakit
merupakan ciri khas mikroorganisme tersebut selain itu
terdapat pula bakteri yang memakan bakteri lainnya

44
(Bdellovibrio) dan virus (bakteriofag) yang menginfesi
dan menghancurkan bakteri.
8. Sifat Ekologi
Habitat merupakan sifat yang mencirikan
mikroorganisme. Mikroorganisme yang hidup di lautan
berbeda dengan air tawar. Mikroorganisme yang terdapat
dalam rongga mulut berbeda dengan saluran pencernaan.
Mikroba di alam secara umum berperanan sebagai
produsen, konsumen, maupun redusen. Jasad
produsen menghasilkan bahan organik dari bahan
anorganik dengan energi sinar matahari.
Mikroba yang berperanan sebagai produsen
adalah algae dan bakteri fotosintetik. Jasad konsumen
menggunakan bahan organik yang dihasilkan oleh
produsen. Contoh mikroba konsumen adalah protozoa.
Jasad redusen menguraikan bahan organik dan sisa-sisa
jasad hidup yang mati menjadi unsur-unsur kimia
(mineralisasi bahan organik), sehingga di alam terjadi
siklus unsur-unsur kimia. Contoh mikroba redusen
adalah bakteri dan jamur (fungi).

45
3.2 Sel Prokaryot dan Eukaryot
Unit fisik terkecil dari organisme hidup adalah
sel. Komposisi material sel pada semua organisme
adalah sama yaitu: DNA, RNA, protein, lemak dan
fosfolipid, yang merupakan komponen dasar semua jenis
sel. Namun demikian pengamatan lebih teliti
menunjukkan adanya perbedaan sangat mendasar antara
sel bakteri dan sianobakteria di satu pihak dengan sel
hewan dan tumbuhan di lain pihak.
Ada dua tipe sel yaitu: sel prokariotik dan sel
eukariotik. Sel prokariotik merupakan tipe sel pada
bakteri dan sianobakteria/ alga biru (disebut jasad
prokariot). Sel eukariotik merupakan tipe sel pada jasad
yang tingkatnya lebih tinggi dari bakteri (disebut jasad
eukariot) yaitu khamir, jamur (fungi), alga selain alga
biru, protozoa dan tanaman serta hewan.
Tabel 2 Perbedaan Sel Prokaryot dan Eukaryot
Aspek Pembeda Prokaryot Eukaryot
Macam mikroba Bakteri dan Algae
Sianobakteria umumnya,
(Algae hijau- Fungi,
biru) Protozoa,

46
Aspek Pembeda Prokaryot Eukaryot
Plantae,
animalia
Ukuran sel Umumnya lebih Umumnya lebih
kecil besar
Dinding sel Mengandung Tidak
peptidoglikan mengandung
peptidoglikan
Tempat respirasi Membran Mitokondria
sitoplasma
Ukuran sel <1-2 x 1-4 > 5 (mikron)
(mikron)
Struktur genetik:
- Membran inti Tidak ada ada
- DNA berbentuk Tersusun di
sirkular dalam
- Mitosis kromosom
- DNA inti tidak ada ada
- DNA organel tidak terikat terikat histon
- % G+C DNA histon ada
tidak ada + 40
28-73

Motilitas/ Dengan flagella Flagela dan sila


pergerakan yang tersusun yang bergerak
oleh komponen bergelombang.
yang sederhana
dan bisa berotasi.
Struktur dalam
sitoplasma:
- Mitokondria Tidak ada Ada
- Kloroplas Tidak ada Ada / tidak ada

47
Aspek Pembeda Prokaryot Eukaryot
- Ribosom plasma 70 S*) 80 S*)
- Ribosom tidak ada ada (70 S*))
organel tidak ada ada
- Retikulum tidak ada ada
endoplasmik tidak ada ada / tidak ada
- Aparat golgi tidak ada ada / tidak ada
- Fagositosis
- Pinositosis
Membran Tidak Mengandung
sitoplasma mengandung sterol
sterol
Keterangan: *) S : konstanta pengendapan Svedberg = 1
x 10-13 detik/dyne/gram
Sumber: Cano dan Colom dalam Fardiaz (tanpa tahun)

A. Sel Prokariotik
Prokaryote adalah bahasa Yunani, pro artinya
kuno dan karyote dari inti. Tipe sel prokariotik
mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan
dengan sel eukariotik. Beberapa sel bakteri
Pseudomonas hanya berukuran 0,4-0,7µm diameternya
dan panjangnya 2-3µm. Sel ini tidak mempunyai
organela seperti mitokondria, khloroplas dan aparat
golgi.

48
Inti sel prokariotik tidak mempunyai membran.
Bahan genetis terdapat di dalam sitoplasma, berupa
untaian ganda (double helix) DNA berbentuk lingkaran
yang tertutup. “Kromosom” bakteri pada umumnya
hanya satu, tetapi juga mempunyai satu atau lebih
molekul DNA yang melingkar (sirkuler) yang disebut
plasmid. Sel prokariotik tidak mengandung organel yang
dikelilingi oleh membran. Ribosom yang dimiliki sel
prokariot lebih kecil yaitu berukuran 70S.
Ukuran genom sel prokariot berbeda dengan sel
eukariot. Jumlah DNA penyusun pada sel prokariot
berkisar antara 0,8-8.106 pasangan basa (pb) DNA.
DNA pada sel eukariot mempunyai pasangan basa lebih
tinggi, sebagai contoh: Neurospora 19.106; Aspergillus
niger 40.106; Jagung 7.109; dan manusia 29.109. Sel
prokariotik tidak seluruhnya membutuhkan oksigen,
misalnya pada bakteri anaerob.

B. Sel Eukariotik
Kata eukariotik berasal dari bahasa Yunani
eukaryote artinya inti yang sejati. Sel eukariotik
mempunyai inti sejati yang diselimuti membran inti. Inti

49
sel mengandung bahan genetis berupa genome/ DNA.
Seluruh bahan genetis tersebut tersusun dalam suatu
kromosom. Di dalam kromosom terdapat DNA yang
berasosiasi dengan suatu protein yang disebut histon.
Kromosom dapat mengalami pembelahan melalui proses
yang dikenal sebagai mitosis.
Sel eukariotik juga mengandung organel-organel
seperti mitokondria dan khloroplas yang mengandung
sedikit DNA. Bentuk DNA dalam ke dua organel
tersebut adalah sirkuler tertutup (seperti DNA prokariot).
Ribosom pada sel eukariotik lebih besardibandingkan
prokariotik, berukuran 80S. Di dalam sel ini juga
dijumpai organel lain yang bermembran, yaitu aparatus
golgi. Pada tanaman organela ini mirip dengan
diktiosom. Kedua organel tersebut berperan dalam
proses sekresi.

3.3 STRUKTUR SEL


A. Sel Prokaryot (Diwakili oleh sel bakteri)
1. Dinding Sel
Dinding sel bakteri adalah struktur yang
kompleks dan agak kaku. Dinding sel bakteri

50
menentukan bentuk bentuk sel. Meskipun tidak
mengandung enzim dan tidak bersifat semipermeabel,
namun dinding sel diperlukan agar sel bakteri dapat
berfungsi secara normal. Dinding sel yang kaku
memungkinkan bakteri dapat mengatasi konsentrasi
osmosis yang berbeda-beda dan sitoplasma tidak
mengembang melampaui batas dinding yang kaku itu.
Sejauh ini diketahui bahwa ketebalan dinding sel bakteri
berkisar 10-35 nm.
Komposisi kimiawi dinding sel bakteri
Komponen dan struktur dinding sel prokariot ini
sangat unik, dan tidak dijumpai pada sel eukariotik.
Yang menyebabkan kakunya dinding sel bakteri adalah
peptidoglikan (PG). Peptidoglikan tersusun oleh:
(1) N-asetilglokosamin (NAG),
(2) Asam N-Asetilmuramat (NAM),
(3) Peptida yang terdiri dari asam amino: alanin,
glutamat, diaminopimelat, atau lisin dan alanin.
NAG dan NAM berselang-seling membentuk
tulang punggung dinding sel, Pada NAM terdapat 4
asam amino dan -asam amino ini membentuk ikatan
silang dengan asam amino NAM lainnya.

51
Gambar 3.1 Skema Ikatan Komponen Penyusun
Peptidoglikan

Peptidoglikan juga disebut mukopeptida,


glikopeptida, muropeptida atau murein peptidoglikan.
Serat-serat peptidoglikan membentuk anyaman yang
kuat namun tidak padat (tidak solid), sehingga tidka
menghalangi masuknya air, zat-zat makanan, seperti
mineral, glukosa, asam amino atau bahkan molekul
organik yang lebih besar.
Penggolongan bakteri menjadi Gram positif
dan Gram negatif adalah berdasarkan perbedaan
komposisi dinding sel. Bakteri Gram positif dinding
selnya terutama terdiri dari PG sehingga terbentuk
dinding sel yang kaku.

52
Pada bagian luar PG terdapat senyawa yang
disebut asam teikhoat. Bakteri Gram negatif
mengandung PG dalam jumlah yang jauh lebih sedikit,
akan tetapi di bagian luar PG terdapat membran luar
(outer membrane) yang tersusun atas lipoprotein dan
fosfolipid. Selain itu bakteri jenis ini mengandung
lipopolisakarida. Oleh karena perbedaan komposisi
dinding sel ini, bakteri Gram positif dan negatif memiliki
ketahanan yang berbeda.
Bakteri Gram positif lebih rentan terhadap
antibiotika penisilin karena antibiotika ini dapat merusak
PG. Sebaliknya karena jumlah PG yang lebih banyak,
bakteri Gram positif biasanya lebih tahan terhadap
kerusakan mekanis.
Tabel 3 Perbedaan Susunan Dinding Bakteri Gram
Positif dan Gram Negatif
No. Gram positif Gram negatif
1 Komponen Terdiri dari 3 lapis:
terbesar adalah 1. Lapisan dalam
peptidoglikan adalah
terdiri 40 lapis peptidooglikansatu
rangka dasar lapis rangka dasar
murein, meliputi murein
30-70 % berat (diaminopemelat,
kering dinding sel dan tidak

53
No. Gram positif Gram negatif
bakteri mengandung lisin),
dan hanya meliputi +
10% dari berat
kering dinding sel
2. Lapisan luar:
lipopolisakarida, dan
lipoprotein
2 Pada beberapa Tidak ada asam teikoat
bakteri terdapat
asam teikoat
3 Peptidoglikan Lisozim melunakkan
mengalami lisis dinding sel, deterjen
oleh lisozim mengadakan disorganisasi
dinding itu dengan merusak
lapisan lipida
4 Dinding sel tebal, Dinding sel tipis, 10-15 nm
25-30 nm
5 Lebih rentan Kurang rentan
terhada Penicilin
6 Menyerap Tidak begitu menyerap
pewarna dasar pewarna dasar, namu dengan
(ex: kristal violet) pewarnaan safranin (merah)
sehingga
berwarna ungu
saat diwarna

Perbedaan tersebut di atas dapat pula dilihat pada


gambar berikut.

54
Gambar 3.2 Perbedaan Dinding Sel Bakteri Gram Positif
dan Gram Negatif

Pengaruh lisozim dan penisilin terhadap dinding sel


bakteri
Lisosim adalah ensim antibakteri yang terdapat
dalam putih telur dan air mata, dan dapat dihasilkan oleh
beberapa bakteri. Lisosim akan merusak ikatan antar N-
asetilglukosamin dan N-asetil asam muramat dalam
murein, sehingga lisosim dapat merombak murein dalam
dinding sel. Dinding sel yangrusak akan menghasilkan
sel tanpa dinding sel yang disebut spheroplas.
Spheroplas sangat rentan terhadap tekanan osmotik.
Penisilin akan bekerja aktif terhadap dinding sel
gram positif yang sedang membelah. Senyawa ini

55
mengakibatkan sel tumbuh tidak beraturan. Dalam hal
ini penisilin menghambat pembentukan dinding sel.
2. Nukleoid  Daerah Suspensi Materi Genetik
Sel-sel prokaryot tidak memiliki nukleus sebagai
tempat tersimpannya materi genetic seperti pada
eukaryotik, yang ada adalah suatu daerah yang disebut
nukleoid yang tidak dilingkungi oleh membran dan tidak
mengadakan mitosis dan meiosis. Strukturnya
merupakan suatu masa amorf (tak berbentuk) yang
lobuler terdiri dari banyak kromatin yang fibriler.
Bagian nukleoid terdiri dari molekul DNA yang
membentuk kromosom. Molekul inilah yang
mengandung informasi genetika dari sel bakteri tersebut.
Selain itu bakteri juga mungkin mengandung DNA yang
membentuk lingkaran kecil yang disebut sebagai
plasmid. Plasmid berisi materi genetika yang tidak
penting bagi pertumbuhan sel dan bisa hilang tanpa
mengakibatkan sel mati.
Fibril-fibril yang tampak pada nukleotid
merupakan DNA yang panjang(sekitar 1400 nm) dan
tipis (3 nm), fleksibel dan sirkuler. Filamen sirkuler

56
DNA semacam ini pada ummnya disebut kromosom
bakteri.

Gambar 3.3 Nukleoid pada Bakteri


Pada bakteri DNA ekstrakromosom yang
berbentuk cincin-cincin kecil, dapat berreplikasi secara
autonom (tidak seirama dengan kromosom) dan dapat
juga bertindak sebagai determinan genetik dinamakan
episom (plasmid).
3. Membran Sel
Permukaan luar lipid bilayers membran sel
bersifat hidrofil, sedangkan permukaan dalamnya

57
bersifat hidrofob. Umumnya membran sitoplasma terdiri
atas 60% protein dan 40% lemak khususnya fosfolipid.
Stabilitas membran sel disebabkan oleh kekuatan
hidrofobik antara residu asam lemak dan kekuatan
elektrostatis antara ujung-ujung hidrofilik. Pada bilayer
terdapat protein yang letaknya tenggelam (di dalam)
bilayer atau terdapat pada permukaannya.
Pada beberapa bakteri, membran mengelilingi
sitoplasma tanpa menunjukkan adanya lipatan. Membran
pada bakteri lain mengalami pelipatan ke dalam yang
disebut mesosom. Pada bakteri fotosintetik, khlorofil
tidak terdapat dalam suatu khloroplas, melainkan
terdapat pada mesosom ini, selanjutnya dalam kondisi ini
mesosom disebut membran tilakoid.

Gambar 3.4 Membran Sel Bakteri Melipat Membentuk


Mesosom

58
4. Flagel dan Pili
Flagella (tunggal = flagellum) adalah filamen
yang memanjang ke arah luar sel. Flagel merupakan
salah satu alat gerak bakteri. Bakteri yang memiliki
flagella bisa bergerak atau motil, artinya dapat bergerak
dengan keinginan sendiri. Flagel mengakibatkan bakteri
dapat bergerak berputar. Penyusun flagel adalah sub unit
protein yang disebut flagelin, yang mempunyai berat
molekul rendah. Ukuran flagel berdiameter 12-18 nm
dan panjangnya lebih dari 20 nm. Mekanisme bagaimana
flagella dapat menggerakkan sel adalah sebagai berikut:
flagella yang agak kaku ini ini berfungsi sebagai poros
yang mendorong sel dengan cara memutar searah atau
berlawanan arah dengan jarum jam.

Gambar 3.5 Flagel Bakteri

59
Gambar 3.6 Variasi Letak Flagel pada Bakteri
Pada beberapa bakteri, permukaan selnya
dikelilingi oleh puluhan sampai ratusan pili, dengan
panjang 12 nm. Pili disebut juga sebagai fimbrae. Pili
berukuran ebih kecil, lebih pendek, dan ebih banyak
daripada fage. Pili dapat ditemukan pada spesies bakteri
motil (bergerak), ataupun nonmotil.
Umumnya bakteri berperan untuk melekatkan sel
bakteri pada permukaan (jaringan sumber nutrisinya),
dalam hal ini pili dikenal sebagai fimbria. Fungsi kedua
adalah untuk transfer materi genetika melalui proses
yang disebut konjugasi dan untuk kepentingan ini
disebut sebagai pili (sex pili). Pada bakteri Escherichia
coli strain K-12 hanya dijumpai 2 buah pili.

60
5. Kapsul atau Lendir
Beberapa bakteri mengakumulasi senyawa-
senyawa yang kaya akan air, sehingga membentuk suatu
lapisan di permukaan luar selnya yang disebut sebagai
kapsul atauselubung berlendir. Kapsul contohnya
terdapat pada bakteri Pneumcoccus sp.
Fungsinya untuk kehidupan bakteri berperan
untuk melindungi bakteri dari lingkungan luar juga
sebagai gudang makanan. Namun kapsul menyebabkan
timbulnya sifat virulen/ infeksi terhadap inangnya. Jika
bakteri kehiangan kapsul, maka ia dapat kehilangan
virulensinya. Dalam pembentukan agregasitanah,
senyawa yang terkandung dalam kapsul atau lendir inilah
yang sangat berperan.

Gambar 3.7 Kapsul pada Bakteri

61
Keberadaan kapsul mudah diketahui dengan
metode pengecatan negatif menggunakan tinta cina atau
nigrosin. Kapsul akan tampak transparan diantara latar
belakang yang gelap. Pada umumnya penyusun utama
kapsul adalah polisakarida yang terdiri atas glukosa, gula
amino, rhamnosa, serta asam organik seperti asam
piruvat dan asam asetat. Ada pula yang mengandung
peptida, seperti kapsul pada bakteri Bacillus sp. Lendir
merupakan kapsul yang lebih encer.

Gambar 3.8 Kapsul (warna putih) pada


6. Selongsong/ Tubul
Beberapa spesies bakteri terutama yang hidup di
air tawar dan laut, terbungkus oleh selongsong.
Selongsong terbuat dari senyawa logam yang larut di

62
lingkungannya, ex: besi, mangan oksida yang
mengendap di sekeliling sel. Selongsong sesungguhnya
bukanlah bagian yang penting bagi sel bakteri.
7. Endospora
Endospora adalah bentuk istirahat dari sel bakteri
yang dibentuk jika kondisi lingkungan buruk. Endospora
adalah sebuah fase dimana bakteri tertentu menebalkan
dinding selnya sebagai bentuk pertahanan diri dari
kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, contoh
pada Bacillus dan Clostridium.
Endospora memiliki dinding yang amat tebal jika
dibandingkan dengan sel vegetatif-nya, sehingga
Endospora sangat sukar diwarnai dengan pewarna biasa,
dan harus menggunakan pewarna spesifik. Pewarna yang
biasa digunakan adalah malachite green.

Gambar 3.9 Endospora

63
Pada tumbuhan seperti ganggang, endospora ini
disebut dengan Akinet. Endospora pada bakteri tidak
mempunyai fungsi sebagai alat reproduksi. Endospora
sangat tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrim seperti
suhu yang tinggi, kekeringan (kadar air minim), senyawa
kimia beracun (disinfektan, antibiotik) dan radiasi sinar
UV. Endospora dapat disebut sebagai fase tidur dari
bakteri. Endospora mampu bertahan sampai kondisi
lingkungan kembali menguntungkan.

B. Sel Eukaryot
Untuk menyederhanakan materi, pembahasan
tentang sel eukariotik hanya merujuk pada sel kapang
dan khamir saja.

Gambar 3.10 Sel Yeast (Madigan et al., 2012).

64
Gambar 3.11 Sel Kapang

1. Dinding Sel
Dinding sel eukariotik lebih sederhana daripada
sel prokariotik. Dinding sel beberapa fungi mengandung
selulosa, tetapi komponen yang utama adalah kitin, yaitu
polimer dari N-acetyl glucosamine. Dinding sel khamir
umumnya mengandung polisakarida glukan dan manan.
Oleh karena tidak mengandung petidoglikan maka sel-
sel eukariotik tahan terhadap antibiotika yang merusak
peptidoglikan.

65
2. Membran Sitoplasma
Pada prinsipnya membran sel eukariotik dan
prokariotik mempunyai fungsi yang sama. Pada sel
eukariotik juga terdapat sterol, lemak kompleks yang
tidak terdapat pada membran bakteri.
3. Sitoplasma
Secara fisik sitoplasma sel eukariotik sama
dengan sitoplasma sel prokariotik. Sitoplasma juga
mengandung granula (inclusion bodies), seperti granula
enzim (zymogen), lemak, vakuola, dan glikogen.
Berbeda dengan sel prokariotik, sitoplasma sel eukariotik
juga mengandung organel (organ-organ kecil) yang tidak
terdapat pada sitoplasma sel prokariotik.
4. Nukleus
Nukleus adalah organel terbesar yang
mengandung materi genetika DNA. Nukleus ini
dipisahkan dari sitoplasma oleh membran dua lapis yang
mirip strukturnya dengan membran sitoplasma.
5. Retikulum Endoplasma (RE)
RE adalah membran paralel yang bersambungan
dengan membrane sitoplasma atau membran nukleus
dalam bentuk yang berbeda-beda. Diduga RE

66
menyediakan permukaan untuk berlangsungnya reaksi-
reaksi kimia, transpor molekul dan tempat penyimpanan
hasil sintesis. Pada bagian luar RE terdapat ribosom
yang juga terdapat bebas di dalam sitoplasma.
6. Kompleks Golgi
Kompleks Golgi terdiri dari 4-8 saluran yang
datar dan bertumpuk satu dengan lainnya. Fungsinya
adalah untuk sekresi (pengeluaran) protein, lemak yang
disintesis pada RE dan juga karbohidrat.
7. Mitokondria
Organel ini berbentuk bulat, oval atau berfilamen
yang tersebar di sitoplasma. Mitokondria terdiri atas
membran dua lapis, seperti pada membran sitoplasma
dan berfungsi dalam metabolisme untuk menghasilkan
energi dalam bentuk ATP (Adenosin tri fosfat).

Temukan 2 artikel terkait dengan struktur dan fungsi


sel mikroorganisme, kemudian tuliskan informasi
yang anda peroleh pada kolom berikut!

67
1.

2.

68
1. Mikroorganisme memiliki kekhasan dalam hal
morfologi, sifat kimiawi, sifat biakan, sifat
metabolism, sifat antigenic, sifat genetic, patogenitas,
dan sifat ekologi. Karakteristik ini berkaitan dengan
struktur dan fungsi sel mikroorganisme.
2. Dalam hal struktur sel, terdapat beberapa perbedaan
antara sel mikroorganisme eukaryotic dan
prokaryotic.
3. Mikroorganisme prokaryotic memiliki struktur sel
yang unik dan khas. Dinding sel mikroorganisme ini
memiliki struktur yang disebut peptidoglikan.
Perbedaan pada dinding sel menjadi salah satu dasar
penggolongan sel prokaryotic menjadi gram positif
dan negatif.

69
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat dengan cara
menyilang pilihan jawaban yang benar!
1) Mikroorganisme yang memiliki satu sel disebut juga
....
A. seluler
B. multiseluler
C. uniseluler
D. aseluler
2) Salah satu aspek dalam karakteristik mikroba adalah
sifat antigenic, maksudnya adalah…
A. karakteristik dalam menyebabkan penyakit
B. karakteristik dalam menstimulus antibody
inangnya
C. karakteristik untuk hidup pada kondisi
lingkungan tertentu
D. karakteristik dalam susunan materi genetiknya
3) Aspek lain dalam karakteristik mikroba adalah sifat
patogenitas, maksudnya adalah…
A. karakteristik dalam menyebabkan penyakit
B. karakteristik dalam menstimulus antibody
inangnya
C. karakteristik untuk hidup pada kondisi
lingkungan tertentu
D. karakteristik dalam susunan materi genetiknya
4) Sel eukariotik artinya ....
A. memiliki inti sejati
B. memiliki kapsul
C. memiliki dinding sel

70
D. memiliki flagela
5) Selongsong pada bakteri tersusun oleh....
A. senyawa lemak
B. senyawa polisakarida
C. senyawa kitin
D. protein pili
6) Struktur bakteri yang digunakan untuk bergerak
disebut ....
A. flagella
B. lipopolisakarida
C. fimbria
D. mitokhondria
7) Persamaan antara sel eukariotik dan prokariotik
terletak pada ....
A. materi genetik
B. jenis ribosom
C. komponen dinding sel
D. komponen membran sitoplasma
8) Struktur bakteri yang digunakan untuk menempel
pada sel usus manusia adalah ....
A. pili
B. ribosom
C. kapsul
D. peptidoglikan
9) Asam teikhoat terdapat pada ....
A. bakteri Gram negatif
B. kapang
C. bakteri Gram positif
D. khamir
10) Membran sitoplasma berfungsi untuk ....
A. barier bagi senyawa yang memasuki sel
B. merupakan bagian terluar suatu sel

71
C. tidak mengandung enzim
D. mengizinkan senyawa apa saja untuk masuk sel
11) Inti sel eukariotik ....
A. mengandung DNA yang tersusun dalam
kromosom
B. mengandung DNA yang tidak membentuk
kromosom
C. terdapat pada bakteri
D. merupakan tempat respirasi
12) Organel pada sel eukariotik yang tidak terdapat pada
sel prokariotik ....
A. pili
B. mitokondria
C. flagella
D. membran sitoplasma
13) Kandungan spesifik dinding sel bakteri adalah
............
A. peptidoglikan
B. selulosa
C. kitin
D. pektin
14) Spora berfungsi sebagai…..
A. Melindungi bakteri terhadap serangan dari luar
B. Mengamankan diri terhadap pengaruh buruk dari
luar
C. Alat penggerak
D. Memberi pewarna pada bakteri

72
BAB IV
NUTRISI & MEDIA KULTUR MIKROBA

Learning Outcomes:

1. Mahasiswa mampu memahami


pentingnya nutrisi bagi mikroba
2. Mahasiswa mampu memahami
jenis-jenis nutrisi yang penting
bagi mikroba
3. Mahasiswa mampu menjelaskan
peranan berbagai nutrisi bagi
mikroba
4. Mahasiswa mampu menjelaskan
prinsip-prinsip dalam pembuatan
media kultur mikroba
5. Mahasiswa mampu memperjelas
informasi tentang materi dengan
menggunakan artikel ilmiah
sebagai sumber belajar

4.1 Nutrisi Mikroba


Nutrisi merupakan aspek yang menyangkut
fisiologi yang disepakati sebagai suplai monomer (bahan
dasar polimer) yang dibutuhkan sel untuk tumbuh.
Substansi yang diperlukan ini disebut NUTRIEN. Beda

73
organisme berbeda pula kebutuhan nutriennya dan
jumlah kebutuhannya.
Nutrisi diperlukan oleh makhluk hidup untuk
kelangsungan hidupnya. Demikian juga mikroba,
membutuhkan nutrisi sehingga metabolisme dapat
berlangsung. Mikroba memerlukan nutrisi untuk
memenuhi kebutuhan energi dan untuk bahan
pembangun sel, untuk sintesa protoplasma dan bagian-
bagian sel lain. Setiap mikroba mempunyai sifat fisiologi
tertentu, sehingga memerlukan nutrisi tertentu pula.
Susunan kimia sel mikroba relatif tetap, baik
unsur kimia maupun senyawa yang terkandung di dalam
sel. Dari hasil analisis kimia diketahui bahwa penyusun
utama sel adalah unsur kimia C, H, O, N, dan P, yang
jumlahnya + 95 % dari berat kering sel, sedangkan
sisanya tersusun dari unsur-unsur lain. Apabila dilihat
susunan senyawanya, maka air merupakan bagian
terbesar dari sel, sebanyak 80-90 %, dan bagian lain
sebanyak 10-20 % terdiri dari protoplasma, dinding sel,
lipida untuk cadangan makanan, polisakarida, polifosfat,
dan senyawa lain.

74
Setiap unsur nutrisi mempunyai peran tersendiri
dalam fisiologi sel. Unsur tersebut diberikan ke dalam
medium sebagai kation garam anorganik yang jumlahnya
berbeda-beda tergantung pada keperluannya. Beberapa
golongan mikroba misalnya diatomae dan alga tertentu
memerlukan silika (Si) yang biasanya diberikan dalam
bentuk silikat untuk menyusun dinding sel.
Fungsi dan kebutuhan natrium (Na) untuk
beberapa organisme belum diketahui jumlahnya.
Natrium dalam kadar yang agak tinggi diperlukan oleh
bakteri tertentu yang hidup di laut, algae hijau biru, dan
bakteri fotosintetik. Natrium tersebut tidak dapat
digantikan oleh kation monovalen yang lain. Organisme
hidup dapat menggunakan makanannya dalam bentuk
padat maupun cair (larutan).
Organisme yang dapat menggunakan makanan
dalam bentuk padat tergolong tipe holozoik, sedangkan
yang menggunakan makanan dalam bentuk cair
tergolong tipe holofitik. Organisme holofitik dapat pula
menggunakan makanan dalam bentuk padat, tetapi
makanan tersebut harus dicernakan lebih dulu di luar sel
dengan pertolongan enzim ekstraseluler.

75
Pencernaan di luar sel ini dikenal sebagai
extracorporeal digestion. Bahan makanan yang
digunakan oleh organisme hidup dapat berfungsi sebagai
sumber energi, bahan pembangun sel, dan sebagai
aseptor atau donor elektron. Dalam garis besarnya bahan
makanan dibagi menjadi tujuh golongan yaitu air,
sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron,
sumber mineral, faktor tumbuh, dan sumber nitrogen.
1. Air
Air merupakan komponen utama sel mikroba dan
medium. Fungsi air adalah sebagai sumber oksigen
untuk bahan organik sel pada respirasi. Selain itu air
berfungsi sebagai pelarut dan alat pengangkut dalam
metabolisme.
2. Sumber energi
Ada beberapa sumber energi untuk mikroba yaitu
senyawa organik atau anorganik yang dapat dioksidasi
dan cahaya terutama cahaya matahari. Berdasarkan atas
sumber energi organisme dibedakan menjadi organisme
autotrof, jika menggunakan energi cahaya; dan
khemotrof, jika menggunakan energi dari reaksi kimia.
Jika didasarkan atas susmber energi dan karbonnya,

76
maka dikenal organisme fotoautotrof, fotoheterotrof,
khemoautotrof dan khemoheterotrof. Perbedaan dari
keempat organisme tersebut sebagai berikut.
Tabel 4. Ragam Sumber Energi Makhluk Hidup
Organisme Sumber karbon Sumber energi
Fotoautotrof Zat anorganik Cahaya matahari
Fotoheterotrof Zat organik Cahaya matahari
Khemotrof Zat anorganik Oksidasi zat
anorganik
Khemoheterotrof Zat organik Oksidasi zat
organik

3. Karbon
Sumber karbon untuk mikroba dapat berbentuk
senyawa organik maupun anorganik. Senyawa organik
meliputi karbohidrat, lemak, protein, asam amino, asam
organik, garam asam organik, polialkohol, dan
sebagainya. Senyawa anorganik misalnya karbonat dan
gas CO2 yang merupakan sumber karbon utama
terutama untuk tumbuhan tingkat tinggi.
Berdasarkan atas kebutuhan karbon organisme
dibedakan menjadi organisme autotrof dan heterotrof.

77
a. Organisme autotrof ialah organisme yang
memerlukan sumber karbon dalam bentuk anorganik,
misalnya CO2 dan senyawa karbonat.
b. Organisme heterotrof ialah organisme yang
memerlukan sumber karbon dalam bentuk senyawa
organik (contoh: glukosa, asam amino).
Organisme heterotrof dibedakan lagi menjadi organisme
saprofit dan parasit. Organisme saprofit ialah
organisme yang dapat menggunakan bahan organik yang
berasal dari sisa organisme hidup atau sisa organisme
yang telah mati. Organisme parasit ialah organisme
yang hidup di dalam organisme hidup lain dan
menggunakan bahan dari organisme inang (hospes)-nya.
Organisme parasit yang dapat menyebabkan penyakit
pada inangnya disebut organisme patogen.
Tabel 5. Contoh Mikroba Berdasarkan Sumber
Energi
Tipe Sumber energi Sumber Contoh genus
karbon
Fotoautotrof Cahaya CO2 Chromatium
Fotoheterotrof Cahaya Senyawa Rhodopseudomonas
organik
Kemoautotrof Oksidasi senyawa CO2 Thiobacillus
organic
Kemoheterotrof Oksidasi senyawa Senyawa Escherichia
organic organik

78
4. Oksigen
Peranan oksigen molekuler sangat penting
terutama dalam mekanisme memperoleh energi pada sel
dan mempunyai hubungan lain terhadap kehidupan sel.
Sumber dan pemakaian oksigen berbeda-beda pada
berbagai spesies.
Berdasarkan akan kebutuhan oksigen, organisme
dapat digolongkan dalam organisme aerob, anaerob,
mikroaerob, anaerob fakultatif. Pertumbuhan mikroba di
dalam media cair dapat menunjukkan sifat berdasarkan
kebutuhan oksigen, seperti dalam gambar sebagai
berikut:

Gambar 4.1 Ilustrasi Biakan Bakteri pada Media Cair


1. Bakteri aerob/ aerob obligat, hanya tumbuh
bila ada oksigen bebas dalam jumlah banyak.

79
2. Bakteri anaerob fakultatif (anaerob
aerotoleran) dapat menggunakan oksigen (hidup
dalam lingkungan yang ada oksigen), namun juga
dapat tumbuh baik walaupun tanpa oksigen
bebas.
3. Bakteri anaerob obligat hanya tumbuh tanpa
oksigen bebas. Jika mengalami kontak dengan
oksigen bakteri kelompok ini akan mati.
4. Bakteri mikroaerofil hanya tumbuh bila ada
oksigen bebas dalam jumlah kecil. Bakteri
kelompok ini mati/ terhambat pertumbuhannya
oleh tegangan oksigen penuh. Pertumbuhan
terbaik organisme ini pada konsentrasi oksigen
terbatas.
5. Mineral
Mineral merupakan bagian dari sel. Unsur
penyusun utama sel ialah C, O, N, H, dan P. Unsur
mineral lainnya yang diperlukan sel ialah K, Ca, Mg, Na,
S, Cl. Unsur mineral yang digunakan dalam jumlah
sangat sedikit ialah Fe, Mn, Co, Cu, Bo, Zn, Mo, Al, Ni,
Va, Sc, Si, Tu, dan sebagainya yang tidak diperlukan
organisme.

80
Beberapa spesies bakteri ada yang memerlukan
unsur logam tertentu, unsur-unsur yang diperlukan dan
berguna untuk mengaktifkan enzim, supaya reaksi
biokimiawi dalam sel berjalan lancar. Unsur logam ini
pemakaiannya sedikit sekali, dan merupakan elemen
mikro. Unsur-unsur logam itu diperoleh dari senyawaan
garamnya, yaitu
Ca  garam CaC12
Mn  garam MnC12
Cu  garam CUS04-5H20
Na  garam NaCl
Mg  garam MgSO4-7x20
Zn  garam ZnSO4.7H20
Co  garam Co(NO3)2.6H20
Fe  garam (NH4)3Fe(C6H,0,)3.
Unsur yang digunakan dalam jumlah besar disebut
unsur makro (makronutrien), dalam jumlah sedang unsur
oligo, dan dalam jumlah sangat sedikit unsur mikro
(mikronutrien).

81
Yang tergolong mikronutrien adalah: mangan,
molibdenium, seng, tembaga, kobalt, nikel, vanadium,
boron, klor, natrium, selenium, dan silika.

82
Unsur mikro sering terdapat sebagai ikutan
(impurities) pada garam unsur makro, dan dapat masuk
ke dalam medium lewat kontaminasi gelas tempatnya
atau lewat partikel debu. Selain berfungsi sebagai
penyusun sel, unsur mineral juga berfungsi untuk
mengatur tekanan osmose, kadar ion H+ (kemasaman,
pH), dan potensial oksidasireduksi (redox potential)
medium.
6. Nitrogen
Mikroba dapat menggunakan nitrogen dalam
bentuk amonium, nitrat, asam amino, protein, dan
sebagainya. Sumber N untuk kebutuhan nutrisi ada 2
yaitu: N berasal dari nitrogen anorganik dan N dari
nitrogen organik. Kebutuhan N dari nitrogen anorganic
biasanya dipakai amomumnitrat (NH4NO3) atau
amonium sulfat (NH4)2SO4, sedangkan N dari nitrogen
organik diperoleh dari protein/pepton atau asam-asam
amino. Jenis senyawa nitrogen yang digunakan
tergantung pada jenis organismenya. Beberapa mikroba
dapat menggunakan nitrogen dalam bentuk gas N2 (zat
lemas) udara. Mikroba ini disebut mikroba penambat
nitrogen.

83
7. Belerang (S)
Sumber S untuk kebutuhan nutrisi ada 2, yaitu S
yang berasal dan senyawa anorganik dan S dari senyawa
organik. Kebutuhan S dari senyawa anorganik biasanya
dipakai amoniumsulfat (NH4)2SO4, sedangkan
kebutuhan S dan senyawa organic diperoleh dalam
molekul protein/pepton atau asam-asam amino.
8. Fosfat
Fosfat dipakai biasanya dalam bentuk garam
seperti kalium dihidrogen fosfat (KH2PO4), dikalium
hidrogenfosfat (K2HP04), natrium dihidrogen fosfat
(NaH2PO4) dan dinatrium hidrogenfosfat (Na2HP04).
9. Faktor tumbuh
Faktor tumbuh ialah senyawa organik yang
sangat diperlukan untuk pertumbuhan (sebagai
prekursor, atau penyusun bahan sel) dan senyawa ini
tidak dapat disintesis dari sumber karbon yang
sederhana. Faktor tumbuh sering juga disebut zat tumbuh
dan hanya diperlukan dalam jumlah sangat sedikit.
Berdasarkan struktur dan fungsinya dalam metabolisme,
faktor tumbuh digolongkan menjadi asam amino,
sebagai penyusun protein; base purin dan pirimidin,

84
sebagai penyusun asam nukleat; dan vitamin sebagai
gugus prostetis atau bagian aktif dari enzim.
Susunan kimia sel mikroba relatif tetap, baik
unsur kimia maupun senyawa yang terkandung di dalam
sel. Dari hasil analisis kimia diketahui bahwa penyusun
utama sel adalah unsur kimia C, H, O, N, dan P, yang
jumlahnya + 95 % dari berat kering sel, sedangkan
sisanya tersusun dari unsur-unsur lain (Lihat Tabel).
Apabila dilihat susunan senyawanya, maka air
merupakan bagian terbesar dari sel, sebanyak 80-90 %,
dan bagian lain sebanyak 10-20 % terdiri dari
protoplasma, dinding sel, lipida untuk cadangan
makanan, polisakarida, polifosfat, dan senyawa lain.
Tabel 6. Komposisi Unsur penyusun sel bakteri E.coli
Unsur kimia Persentase berat kering
Carbon (C) 50
Oksigen (O) 20
Nitrogen (N) 14
Hidrogen (H) 8
Fosfor (P) 3
Belerang (S) 1
Kalium (K) 1
Natrium (Na) 1
Kalsium (Ca) 0.5
Magnesium (Mg) 0.5

85
Unsur kimia Persentase berat kering
Klor(Cl) 0.5
Besi (Fe) 0.2
Lainnya 0.3

Temukan artikel terkait dengan nutrisi mikroba,


kemudian tuliskan informasi yang anda peroleh pada
kolom berikut!

86
4.2 Media Kultur Mikroba
Media/ medium pertumbuhan (disingkat medium/
media) merupakan tempat untuk menumbuhkan
mikroba. Media pertumbuhan mikroorganisme adalah
suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat
makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme
untuk pertumbuhannya.
Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media
berupa molekul-molekul kecil yang dirakituntuk menyusun
komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan
isolate mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga
memanipulasi komposisi media pertumbuhannya. Tipe
nutrisi pada mikroba sangat beragam sehingga untuk
menumbuhkan mikroba di laboratorium perlu
menyediakan berbagai media.
Medium pertumbuhan mikroorganisme, harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Mengandung semua unsur hara yang diperlukan
untuk pertumbuhan dan perkembangan
mikoorganisme
2. Mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan,
dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba.

87
3. Media harus dalam keadaan steril, artinya sebelum
ditanami mikroorganisme yang diinginkan, tidak
ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan.
Dalam menyiapkan media pertumbuhan bakteri,
media tersebut dituangkan ke dalam wadah-wadah yang
sesuai seperti tabung reaksi, cawan petri, atau labu yang
disterilkan sebelumnya. Praktisnya semua media itu
secara komersil dalam bentuk bubuk, dalam
penggunaannya dapat dilarutkan.
A. Bahan-bahan media pertumbuhan mikroba
1. Bahan dasar
a. air (H2O) sebagai pelarut
b. agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk
pemadat media. Agar sulit didegradasi oleh
mikroorganisme pada umumnya dan mencair
pada suhu45oC.
c. gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti
agar. Gelatin adalah polimer asam amino yang
diproduksi dari kolagen. Kekurangannnya
adalah lebih banyak jenis mikroba yang mampu
menguraikannyadibanding agar.

88
d. d.Silica gel, yaitu bahan yang mengandung
natrium silikat. Fungsinya juga sebagai pemadat
media. Silica gel khusus digunakan untuk
memadatkan media bagi mikroorganisme
autotrof obligat.
2. Nutrisi atau zat makanan
Media harus mengandung unsur-unsur yang
diperlukan untuk metabolisme sel yaitu berupa unsur
makro seperti C, H, O, N, P; unsur mikro seperti Fe,
Mg dan unsur trace element (pelacak).
a. Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh
berupa senyawa organic atau anorganik esuai
dengan sifat mikrobanya. Jasad
heterotrof memerlukan sumber karbon organik
antara lain dari karbohidrat, lemak,protein dan
asam organik.
b. Sumber nitrogen mencakup asam amino, protein
atau senyawabernitrogen lain. Sejumlah mikroba
dapat menggunakan sumber Nanorganik seperti
urea.
c. Vitamin-vitamin.
3. Bahan tambahan

89
Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke medium
dengan tujuan tertentu, misalnya phenol red (indikator asam
basa) ditambahkan untuk indikator perubahan pH akibat
produksi asam organik hasil metabolisme. Antibiotik
ditambahkan untuk menghambat pertumbuhan mikroba non-
target/kontaminan.
4. Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan
media
a. Agar, agar dapat diperoleh dalam bentuk
batangan, granula atau bubuk dan terbuat dari
beberapa jenis rumput laut. Kegunaannya
adalahsebagai pemadat (gelling) yang pertama
kali digunakan oleh Fraw &Walther Hesse untuk
membuat media. Jika dicampur dengan air dingin,agar
tidak akan larut. Untuk melarutkannya harus
diasuk dan dipanasi,pencairan dan pemadatan
berkali-kali atau sterilisasi yang terlalu
lamadapat menurunkan kekuatan agar, terutama
pada pH yang asam
b. Peptone, peptone adalah produk hidrolisis
protein hewani atau nabati seperti otot, liver,
darah, susu, casein, lactalbumin, gelatin dan

90
kedelai. Komposisinya tergantung pada bahan
asalnya dan bagaimana cara memperolehnya.
c. Meat extract, Meat extract mengandung basa
organik terbuat dari otak,limpa, plasenta dan
daging sapi.
d. Yeast extract. Yeast extract terbuat dari ragi
pengembang roti atau pembuat alcohol. Yeast
extract mengandung asam amino yang lengkap
&vitamin (B complex).
e. Karbohidrat. Karbohidrat ditambahkan untuk
memperkaya pembentukan asam amino dan gas
dari karbohidrat. Jenis karbohidrat yang
umumnya digunkan dalam amilum, glukosa,
fruktosa, galaktosa, sukrosa, manitol,dll.
Konsentrasi yang ditambahkan untuk analisis
fermentasi adalah 0,5-1%.
Tabel 7. Bahan Dasar Media Kultur
Bahan Ciri Nilai Nutrisi
mentah
Ekstrak Suatu ekstrak cair Mengandung
daging sapi jaringan daging sapi karbohidrat,
yang empuk, senyawa nitrogen
dikonsentrasikan organik, vitamin,
menjadi pasta dan mineral

91
Bahan Ciri Nilai Nutrisi
mentah
Pepton Produk yang Sumber utama
dihasilkan dari nitrogen organik,
bahan-bahan yang dapat pula
mengandung mengandung
protein seperti vitamin dan
daging, kasein, dan kadang-kadang
gelatin karbohidrat,
bergantung pada
jenis bahan
berkandungan
protein yang
dicernakan
Agar Suatu karbohidrat Diguanakan
kompleks yang sebagai bahan
diperoleh dari alga pemadat media,
laut tertentu agar tidak
merupakan
sumber nutrien
bagi bakteri
Ekstrak Suatu ekstrak cair Suatu sumber
khamir sel khamir, tersedia yang amat kaya
secara komersial akan vitamin B,
dalam bentuk juga mengandung
bubuk nitrogen organik
dan senyawa-
senyawa karbon

92
B. Macam-Macam Media Pertumbuhan
1. Medium berdasarkan sifat fisika.
a. Medium padat yaitu media yang mengandung
agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi
padat.
b. Medium setengah padat (semi solid) yaitu media
yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga
menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu
cair.
1) Media semi solid dibuat dengan tujuan
supaya pertumbuhan mikroba dapat
menyebar ke seluruh media tetapi tidak
mengalami percampuran sempurna jika
tergoyang.
2) Misalnya bakteri yang tumbuh pada
media NfB
(Nitrogen freeBromthymol Blue) semisolid
akan membentuk cincin hijau kebiruan di
bawah permukaan media, jika media ini
cair maka cincin inidapat dengan mudah
hancur.

93
3) Semisolid juga bertujuan untuk
mencegah/menekan difusi oksigen,
misalnya pada media Nitrate Broth,
kondisi anaerob atau sedikit oksigen
meningkatkan metabolisme nitrat tetapi
bakteri ini juga diharuskan tumbuh
merata diseluruh media.
c. Medium cair yaitu media yang tidak mengandung
agar, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB
(Lactose Broth).
2. Medium berdasarkan komposisi
1. Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat
kimianya diketahui jenis dan takarannya secara
pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey
Agar.
2. Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian
komposisinya diketahui secara pasti, misanya
PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung
agar, dekstrosa dan ekstrak kentang. Untuk bahan
ekstrak kentang, kita tidak dapat mengetahui
secara detail tentang komposisi senyawa
penyusunnya.

94
3. Medium non sintesis yaitu media yang dibuat
dengan komposisi yang tidak dapat diketahui
secara pasti dan biasanya langsung diekstrak
dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice
Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic Extract.
3. Medium berdasarkan tujuan
1. Media untuk isolasi, Media ini mengandung
semua senyawa esensial untuk pertumbuhan
mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood Agar .
2. Media selektif/penghambat, Media yang selain
mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat
tertentu sehingga media tersebut dapat menekan
pertumbuhan mikroba lain dan merangsang
pertumbuhan mikroba yang diinginkan.
Contohnya adalah Luria Bertani medium yang
ditambah Amphisilin untuk merangsang
E.coli resisten antibotik dan menghambat
kontaminan yang peka, Ampiciline Salt broth
yang ditambah NaCl 4% untuk membunuh
Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap
garam.

95
3. Media diperkaya (enrichment), Media diperkaya
adalah media yang mengandung komponen dasar
untuk pertumbuhan mikroba dan ditambah
komponen kompleks seperti darah,serum, kuning
telur. Media diperkaya juga bersifat selektif
untuk mikroba tertentu. Bakteri yang
ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya
membutuhkan nutrisi sederhana untuk
berkembang biak, tetapi membutuhkan
komponen kompleks, misalnya Blood Tellurite
Agar, Bile Agar, Serum Agar , dll.
4. Media untuk peremajaan kultur, Media umum
atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan
kulture.
5. Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi
spesifik. Media ini digunakan untuk
mendiagnosis atau menganalisis metabolism
suatu mikroba. Contohnya adalah Koser’s Citrate
medium, yangdigunakan untuk menguji
kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai
sumber karbon.

96
6. Media untuk karakterisasi bakteri, Media yang
digunakan untuk mengetahui kemampuan spesifik
suatu mikroba. Kadang-kadang indikator
ditambahkan untuk menunjukkan adanya
perubahan kimia. Contohnya adalah Nitrate
Broth, Lactose Broth, Arginine Agar.
7. Media diferensial, Media ini bertujuan untuk
mengidentifikasi mikroba dari campurannya
berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada
media diferensial,misalnya TSIA (Triple Sugar
Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria
berdasarkan bentuk, warna, ukuran koloni dan
perubahanwarna media di sekeliling koloni.
C. Pembuatan Media Kultur Mikroba
Tahap-tahap pembuatan medium dapat diuraikan
sebagai berikut:
a. Pencampuran bahan-bahan
Medium biasanya dibuat dengan melarutkan semua
bahan dalam akuades, diurutkan dengan resep, dan
dipanaskan sampai semua bahan larut. Apabila
selama melarutkan bahan-bahan tersebut volume
akuadesnya berkurang maka sebelum disterilakan

97
harus ditambahkan akuades sesuai resep. selama
pencampuran dan pemanasan medium dilakukan
pengadukan dan dijaga jangan sampai meluap.
b. Penyaringan medium
Beberapa jenis medium kadang perlu disaring
menggunakan kertas saring atau kain tipis
c. Pengaturan pH
Medium kadangkala memerlukan nilai pH tertentu
sehingga perlu dilakukan pengaturan pH. Pengaturan
pH dapat dilakukan dengan penambahan larutan
NaOH atau HCl. Penambahan HCl dilakukan apabila
nilai pH terlalu tinggi, untuk perbedaan pH besar
digunakan 1 N HCl sedangkan kalau perbedaan pH
kecil digunakan 0,1 N HCl. Prosedur sama dilakukan
apabila pH terlalu rendah hanya saja larutan yang
digunkan adalah NaOH. Pengaturan pH dapat
dilakukan sebelum sterilisasi.
d. Penambahan antibiotic
Antibiotik kadang diperlukan untuk mencegah
pertumbuhan jenis mikroorganisme lain yang tidak
dikehendaki. Misalnya penambahan chloramfenicol
untuk mencegah pertumbuhan bakteri ketika kita

98
ingin menumbuhkan fungi. Penambahan antibiotik
dapat dilakukan sebelum atau sesudah sterilisasi
tergantung jenis antibiotiknya tahan panas atau tidak.
e. Pemasukan medium dalam tempat (wadah) tertentu
Tahap ini perlu dilakukan sebelum sterilisasi. Wadah
yang dapat digunakan misalnya tabung reaksi atau
erlenmeyer. Wadah tersebut harus bersih, bebas
debu, dan tidak terkontaminasi. Tabung reaksi
digunakan misalnya untuk pembuatan agar miring
dan agar tegak, sedangkan erlenmeyer digunakan
untuk medium yang akan dituang dalam petridish.
Medium dimasukkan ke dalam tabung reaksi
sebanyak ± 5-6 ml (agar miring) atau ±7-8 ml (agar
tegak), tergantung tabung reaksi yang digunakan.
Medium yang akan disterilkan dalam Erlenmeyer
tidak boleh lebih dari 2/3 volume erlenmeyer untuk
menghindari menyemburnya media ke tutup. Hal ini
dapat terjadi karena prinsip sterilisasi menggunakan
uap panas bertekanan. Tabung reaksi dan erlenmeyer
selanjutnya disumbat dengan kapas atau penutup
tahan panas lain. Sumbat ini harus dapat menutup
wadah dengan kuat dan rapat tetapi masih dapat

99
dibuka dengan menjepitnya memakai jari kelingking.
Pembuatan medium agar tegak dilakukan dengan
memposisikan tabung secara tegak secepatnya
setelah sterilisasi. Sedangkan pembuatan medium
agar miring dengan meletakkan tabung miring
dengan kemiringan tertentu dan dibiarkan sampai
medium memadat. Kemiringan medium dapat kita
atur sesuai tujuan misalnya untuk penyimpanan
(stock culture) atau pembuatan suspensi. Medium
dalam Erlenmeyer setelah disterilisasi dapat dituang
sebanyak ± 15 ml tiap petridish. Proses penuangan
medium ke dalam petridish dilakukan secara aseptik.
Medium steril dalam erlenmeyer dapat dituang ke
dalam petridish steril apabila suhu medium ± 60 °C
(tidak terlalu panas tetapi masih cair) untuk
menghindari terjadinya penjendalan dan uap air
dalam petridish. Medium apabila telah memadat
maka harus dicairkan kembali dalam penangas air
dan jangan memanaskan langsung di atas api.
f. Sterilisasi medium
Sterilisasi medium dapat dilakukan dengan berbagai
cara tergantung macamnya medium. Salah satu cara

100
yang paling sering digunakan menggunakan otoklaf.
Prinsip kerja otoklaf adalah uap panas bertekanan
(tekanan 1 atm; suhu 121 pasteurisasi untuk medium
yang mengndung bahan tahan panas tinggi.
Pengecekan apakah medium ya terkontaminasi maka
medium didiamkan semalam sebelum digunakan.
Medium yang telah terkontaminasi tidak boleh
disteril 2 x karena akan merusak medium tersebut.
g. Penyimpanan medium
Medium yang sudah dibuat dan sudah steril mungkin
tidak digunakan sehingga sebaiknya disimpan di
refrigerator (lemari es). Medium apabila disimpan
dalam suhu kamar untuk periode lama maka
cenderung kehilangan kelembaban (dehidrasi) dan
lebih mudah terkontaminasi. 121°C selama 15 menit)

101
Gambar 4.1 Prosedur Pembuatan Media Kultur

102
Pembuatan Nutrient Agar
1. Timbang komponen medium dengan
menggunakan timbangan analitis untuk volume
yang diinginkan sesuai dengan komposisi
berikut:
a. Beef extract 3 g*
b. Peptone 5 g
c. Agar 15 g
d. Akuades s.d 1000 ml
2. Akuades sebanyak 1000 ml dibagi menjadi dua
satu bagian untuk melarutkan
Beef extract dan peptone dan sebagian lagi
untuk melarutkan agar. Sebaiknya air untuk
melarutkan agar lebih banyak
3. Larutkan agar pada sebagian air tersebut dengan
mengaduk secara konstan dan diberi panas. Dapat
menggunakan kompor gas atau hot plate
stirrer (jangan sampai overheat, karena akan
terbentuk busa dan memuai sehingga tumpah).
4. Sementara itu sebagian akuades digunakan untuk
melarutkan peptone dan beef extract, cukup dengan
pengadukan.

103
5. Setelah keduanya larut, larutan dituangkan ke
larutan agar dan diaduk sampai homogen.
Kemudian pH media diukur dengan mencelupkan
kertas pH indikator. Jika pH tidak netral maka
dapat ditambahkanHCl/NaOH.
6. Setelah itu media dimasukkan ke dalam labu
Erlenmeyer dan disterilisasi dengan autoklaf.
7. Tuang media steril ke cawan petri steril secara
aseptis. Jika diinginkan media tegak atau miring
pada point ke 5, media langsung dituang
ketabung kemudian disterilisasi.

Pembuatan Nutrient Broth

Komposisi untuk media NB sama dengan NA


tetapi tidak memakai agar sebagai pemadat. Proses
pembuatannya pun lebih sederhana, tinggal melarutkan
peptone dan beef extract kemudian ditampung dalam
labu Erlenmeyer atautabung reaksi dan siap disterilisasi.
Proses pembuatan ini tidak memerlukan panas, peptone
dan beef extract akan mudah larut sempurna pada air
suhu kamar jika diaduk

104
Pembuatan Potato Dextrose Agar (PDA)
a. Timbang komponen media dengan menggunakan
timbangan analitis untukvolume yang diinginkan
sesuai dengan komposisi berikut:
1) Potato/kentang 300 g
2) Peptone 5 g
3) Agar 15 g
4) Akuades s.d 1000 ml(sebelum ditimbang,
sebaiknya kentang dikupas dan diiris
kecil-kecil)
b. Rebus kentang dalam sebagian akuades tadi selama
1-3 jam sampai lunak,kemudian diambil
ekstraknya dengan menyaring dan memerasnya
menggunakankertas saring lalu ditampung di
Beaker glass baru.
c. Agar dilarutkan dengan Hot Plate Stirrer dalam 50
ml akuades lalu setelah larutdapat ditambahkan
dekstrosa dan dihomogenkan lagi.
d. Setelah semua larut, ekstrak kentang dan agar-
dekstrosa dicampur dan dihomogenkan. Atur pH
media menjadi 5-6 dengan meneteskan
HCl/NaOH.5. Media dituang ke dalam Erlenmeyer

105
atau ke tabung reaksi kemudian siap untuk
disterilisasi.

Temukan artikel terkait dengan pembuatan media kultur


mikroba, kemudian tuliskan informasi yang anda peroleh
pada kolom berikut!

106
Tulis jawaban singkat dan tepat untuk setiap pertanyaan
pada kotak yang disediakan!
1. Mengapa nutrisi penting bagi mikroorganisme!

2. Apa saja nutrisi pokok yang menjadi syarat hidup


mikroorganisme!

3. Beri analisa anda jika salah satu komponen nutrisi


tidak ada pada lingkungan mikroba, sebagai contoh
oksigen ?

107
4. Bagaimana syarat-syarat media kultur yang baik bagi
mikroorganisme?

5. Apa perbedaan media Nutrient Agar dan Nutrient


Broth?

108
1. Mikroba membutuhkan nutrisi untuk kelangsungan
metabolismenya. Mikroba memerlukan nutrisi untuk
memenuhi kebutuhan energi dan untuk bahan
pembangun sel, untuk sintesa protoplasma dan
bagian-bagian sel lain.
2. Setiap mikroba mempunyai sifat fisiologi tertentu,
sehingga memerlukan nutrisi tertentu pula.
3. Secara garis besarnya bahan makanan dibagi menjadi
tujuh golongan yaitu air, sumber energi, sumber
karbon, sumber aseptor elektron, sumber mineral,
faktor tumbuh, dan sumber nitrogen.
4. Nutrisi bagi mikroba dapat berada dalam bentuk media
pertumbuhan. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan
isolasi mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga
memanipulasi komposisi media pertumbuhannya.
5. Medium pertumbuhan mikroorganisme, harus
memenuhi persyaratan atara lain:

109
a) mengandung semua unsur hara yang
diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan mikoorganisme
b) mempunyai tekanan osmosa, tegangan
permukaan, dan pH yang sesuai dengan
kebutuhan mikroba.
c) media harus dalam keadaan steril, artinya
sebelum ditanami mikroorganisme yang
diinginkan, tidak ditumbuhi oleh mikroba
lain yang tidak diharapkan.

110
BAB V
PERTUMBUHAN & PERKEMBANGAN
MIKROORGANISME

Learning Outcomes:

1. Mahasiswa mampu memahami


definisi konsep pertumbuhan dan
perkembangan pad mikroorganisme
2. Mahasiswa mampu memahami
mekanisme reproduksi pada beberapa
kelompok mikroorganisme (bakteri,
khamir, kapang, alga, dan virus)
3. Mahasiswa mampu memahami
konsep laju pertumbuhan dan waktu
generasi pada pertumbuhan dan
perkembangan mikroorganisem
4. Mahasiswa mampu memahami
faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan
mikroorganisme
5. Mahasiswa mampu memperjelas
informasi tentang materi dengan
menggunakan artikel ilmiah sebagai
sumber belajar

111
Tumbuh dalam pengertian umum diartikan
sebagai bertambahnya ukuran, sedangkan berkembang
diartikan sebagai bertambahnya kuantitas. Oleh karena
itu pertumbuhan dapat ditunjukkan dengan adanya
pertambahan panjang, luas, volume, berat maupun
kandungan tertentu, sedangkan berkembang ditunjukan
dengan bertambahnya jumlah individu dan terbentuknya
alat reproduksi.
Dengan demikian dari segi ukuran, maka tumbuh
merupakan proses dari pendek menjadi panjang, dari
sempit menjadi luas, darikosong menjadi berisi, dari
ringan menjadi berat, sedangkan berkembang adalah dari
sedikit menjadi banyak. Kuantitas atau ukuran
pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur dari
1) segi pertambahan dimensi satu, misalnya:
panjang, diameter, jari-jari, dan jumlah sel
2) segi pertambahan dimensi dua, misalnya: luas,
dan
3) segi pertambahan dimensi tiga, misalnya:
volume, berat segar, berat kering. Selain tiga segi
tersebut, pertumbuhan juga dapat diukur dari

112
4) segi komponen seluler, misalnya: RNA, DNA,
dan protein dan
5) segi kegiatan metabolisme secara langsung,
misalnya: kebutuhan oksigen, karbon dioksida,
hasilan gas-gas tertentu dan lain-lain.
Pertumbuhan mikroorganisme dapat ditinjau dari
dua sudut, yaitu: pertumbuhan individu dan
pertumbuhan koloni atau pertumbuhan populasi.
Pertumbuhan individu diartikan sebagai bertambahnya
ukuran tubuh, sedangkan pertumbuhan populasi
diartikan sebagai bertambahnya kuantitas individu dalam
suatu populasi atau bertambahnya ukuran koloni. Namun
demikian pertumbuhan mikroorganisme unisel (bersel
tunggal) sulit diukur dari segi pertambahan panjang,
luas, volume, maupun berat, karena pertambahannya
sangat sedikit dan berlangsung sangat cepat (lebih cepat
dari satuan waktu mengukurnya), sehingga untuk
mikroorganisme yang demikian satuan pertumbuhan
sama dengan satuan perkembangan.
Pertumbuhan fungi multisel (jamur benang) dan
mikroorganisme multisel lainnya dapat ditunjukan
dengan cara mengukur panjang garis tengah (diameter)

113
biakan, luas biakan, dan berat kering biakan.
Pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme unisel lainnya
dapat ditunjukan dengan cara menghitung jumlah sel
setiap koloninya maupun mengukur kandungan senyawa
tertentu yang dihasilkan.
5.1 Reproduksi Mikroorganisme
Perkembangbiakan mikroorganisme dapat terjadi
secara seksual dan aseksual. Yang paling banyak terjadi
adalah perkembangbiakan aseksual. Pembelahan
aseksual terjadi dengan:
1. Pembelahan biner (binary fission)
Pembelahan biner adalah pembelahan dari satu
sel induk membelah menjadi dua sel anak. Kemudian
masing-masing sel anak membentuk dua sel anak lagi
dan seterusnya.
2. Pembelahan ganda (multiple fission)
Pembelahan ganda (Multiple fission) adalah
pembelahan satu sel induk menjadi beberapa sel anak.
Contohnya pada Paramecium sp
3. Perkuncupan (budding)

114
A. Reproduksi Pada Bakteri
Reproduksi Bakteri ialah perkembang-biakan
bakteri. Bakteri mengadakan pembiakan dengan dua
cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Pembiakan
secara aseksual dilakukan dengan pembelahan,
sedangkan pembiakan seksual dilakukan dengan cara
transformasi, transduksi , dan konjugasi. Namun, proses
pembiakan cara seksual berbeda dengan eukariota
lainnya. Sebab, dalam proses pembiakan tersebut tidak
ada penyatuan inti sel sebagaimana biasanya pada
eukarion, yang terjadi hanya berupa pertukaran materi
genetika ( rekombinasi genetik ).
Berikut ini beberapa cara pembiakan bakteri.
1. Vegetatif/Aseksual
Bila bakteri diinokulasikan ke dalam suatu
medium yang sesuai dan pada keadaan yang optimum
bagi pertumbuhannya, maka terjadi kenaikan jumlah
yang amat tinggi dalam waktu yang relatif pendek. Pada
beberapa spesies, populasi (panen sel terbanyak yang
dapat diperoleh) tercapai dalam waktu 24 jam, populasi
dapat mencapai 10-15 milyar sel bakteri per mililiter.

115
Perbanyakan seperti ini disebabkan oleh pembelahan sel
secara aseksual.
Pembelahan Biner
Bakteri bermultiplikasi secara aseksual dengan
pembelahan menjadi dua, dua menjadi empat, empat
menjadi delapan, dan seterusnya. Kebanyakan bakteri
bermultiplikasi dengan pembelahan biner melintang.
Pembelahan biner melintang adalah suatu proses
reproduksi aseksual, di mana setelah pembelahan
dinding sel melintang maka suatu sel tunggal membelah
menjadi dua sel, disebut sel anak. Pada bakteri proses ini
mengakibatkan terbentuknya dua organisme baru,
masing-masing dapat mengulangi lagi proses tersebut.
Hasil-hasil penelitian tentang pembelahan sel
menunjukkan bahwa pembelahan sel terjadi dalam
kondisi:
1. Terdapat kenaikan jumlah bahan inti sehingga
menyebabkan sel terpisah menjadi 2 unit
2. Dinding sel dan membran sel tumbuhn kearah
luar dan membran sel tumbuh (meluas) ke arah
sitoplasma pada suatu titik di tengah-tengah

116
sumbu panjang sel, pada perbatasan tersebut
disintesis dua lapisan bahan dinding sel
3. Pembentukan mesosom menjadi lebih luas.
mesosom mempunyai kaitan dengan
pembentukan septa (dinding sel yang membagi)
dan juga memungkinkan perpautan dengan
daerah inti.

Gambar 5.1 Proses Pembelahan Biner pada


Bakteri
Pada perbanyakan sel dengan pembelahan biner,
kecepatan pembelahan sel ditentukan dengan waktu
generasi. Waktu generasi adalah waktu yang dibutuhkan
oleh sel untuk membelah, dimana dalam pembelahannya
bervariasi tergantung dari spesies dan kondisi

117
pertumbuhan. Pembelahan biner yang terjadi pada
bakteri adalah pembelahan biner melintang yaitu suatu
proses reproduksi aseksual, setelah pembentukan dinding
sel melintang, maka satu sel tunggal membelah menjadi
dua sel yang disebut dengan sel anak.
Pembelahan Biner dapat dibagi atas tiga fase,
yaitu sebagai berikut.
6. Fase pertama, sitoplasma terbelah oleh sekat yang
tumbuh tegak lurus.
7. Fase kedua, tumbuhnya sekat akan diikuti oleh
dinding melintang.
8. Fase ketiga, terpisahnya kedua sel anak yang
identik.
Ada bakteri yang segera berpisah dan terlepas
sama sekali. Sebaliknya, ada pula bakteri yang tetap
bergandengan setelah pembelahan, bakteri demikian
merupakan bentuk koloni. Pada keadaan normal bakteri
dapat mengadakan pembelahan setiap 20 menit sekali.
Jika pembelahan berlangsung satu jam, maka akan
dihasilkan delapan anakan sel.

118
Gambar 5.2 Pembelahan Biner
Penjelasan gambar:
1. Replikasi DNA dan elongasi
2. Dinding sel membran plasma membelah
3. Septum terbentuk dan DNA terpisah
4. Sel terpisah menjadi 2 (pemisahan sel menjadi dua)
dan setiap sel mengulangi
Proses Dalam pembelahan sel biner, kecepatan
pembelahan sel ditentukan dengan waktu generasi.
Waktu generasi adalah waktu yang dibutuhkan oleh sel

119
untuk membelah, bervariasi tergantung dari spesies dan
kondisi pertumbuhan.
2. Para Seksual
1. Transformasi
Merupakan pemindahan sebagian materi genetika
dari satu bakteri ke bakteri lain. Pada proses transformasi
tersebut DNA bebas sel bakteri donor akan mengganti
sebagian dari sel bakteri penerima, tetapi tidak terjadi
melalui kontak langsung. Cara transformasi ini hanya
terjadi pada beberapa spesies saja, contohnya:
Streptococcus pnemoniaeu, Haemophillus, Bacillus,
Neisseria, dan Pseudomonas.

Gambar 5.3 Transformasi Materi Genetik pada Bakteri


Diduga transformasi ini merupakan cara bakteri
menularkan sifatnya ke bakteri lain. Misalnya pada
bakteri Pneumococci yang menyebabkan Pneumonia dan

120
pada bakteri patogen yang semula tidak kebal antibiotik
dapat berubah menjadi kebal antibiotik karena
transformasi. Proses ini pertama kali ditemukan oleh
Frederick Grifith tahun 1982.
2. Transduksi
Merupakan pemindahan sebagian materi genetik
dari sel bakteri satu ke bakteri lain dengan perantaraan
virus. Selama transduksi, kepingan ganda DNA
dipisahkan dari sel bakteri donor ke sel bakteri penerima
oleh bakteriofage (virus bakteri). Bila virus-virus baru
sudah terbentuk dan akhirnya menyebabkan lisis pada
bakteri, bakteriofage yang nonvirulen (menimbulkan
respon lisogen) memindahkan DNA dan bersatu dengan
DNA inangnya. Virus dapat menyambungkan materi
genetiknya ke DNA bakteri dan membentuk profag.
Ketika terbentuk virus baru, di dalam DNA virus
sering terbawa sepenggal DNA bakteri yang
diinfeksinya. Virus yang terbentuk memiliki dua macam
DNA yang dikenal dengan partikel transduksi
(transducing particle). Proses inilah yang dinamakan
Transduksi. Cara ini dikemukakan oleh Norton Zinder
dan Jashua Lederberg pada tahun 1952.

121
3. Reproduksi Seksual/generatif
Konjugasi
Merupakan pemindahan sebagian materi genetika
dari satu bakteri ke bakteri lain melalui suatu kontak
langsung. Artinya, terjadi transfer DNA dari sel bakteri
donor ke sel bakteri penerima melalui ujung pilus. Ujung
pilus akan melekat pada sel penerima dan DNA
dipindahkan melalui pilus tersebut. Kemampuan sel
donor memindahkan DNA dikontrol oleh faktor
pemindahan (transfer faktor = faktor F)

Gambar 5.4 Konjugasi pada Bakteri

122
B. Reproduksi pada Khamir
Reproduksi pada khamir, misalnya
Saccharomyces, tipe pembelahan selnya ada yang seperti
bakteri, yakni dengan pembelahan biner, tetapi ada yang
membentuk kuncup, di mana tiap kuncup akan
membesar seperti induknya. Kemudian tumbuh kuncup
baru dan seterusnya, sehingga akhirnya membentuk
semacam mata rantai. Tipe yang ketiga cara
perkembangbiakan khamir adalah dengan pembelahan
tunas, yakni kombinasi antara pertunasan dan
pembelahan. Sedangkan cara keempat dengan sporulasi
atau pembentukan spora, yang dapat dibedakan atas dua
macam yaitu spora seksual dan aseksual.

123
Gambar 5.5 Pertunasan pada Sel Ragi
C. Reproduksi Kapang
Secara umum fungi dikelompokkan menjadi
kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang
berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan
khamir merupakan fungi bersel tunggal dan tak
berfilamen. Reproduksi kapang dilakukan secara seksual
dan aseksual. Secara aseksual dilakukan dengan:
1. Pembelahan (suatu sel membagi diri untuk
membentuk dua sel anak yang serupa)

124
2. Penguncupan (suatu sel anak tumbuh dari
penonjolan kecil pada sel inang)
3. Pembentukan spora
Ada beberapa macam spora aseksual yaitu :
1. Spora yang terjadi karena protoplasma dalam suatu
sel tertentu berkelompok-kelompok kecil, masing-
masing mempunyai membran serta inti sendiri. Sel
tempat terbentuknya spora disebut sporangium, dan
spora tersebut disebut sporangiospora.
2. Spora yang terjadi karena ujung suatu hifa berbelah-
belah seperti tasbih disebut konidiospora. Sporanya
disebut konidia sedangkan tangkai terdapatnya
konidia disebut konidiofor.
3. Pada beberapa bagian-bagian miselium dapat
membesar serta berdinding tebal, bagian ini
merupakan alat perkembangbiakan yang disebut
klamidiospora.
4. Bila bagian miselium tidak menjadi besar seperti
aslinya, maka bagian ini disebut artospora,,
oidiospora atau oidia saja. Secara umum reproduksi
seksual dapat dilakukan dengan peleburan nukleus
dari kedua induknya.

125
Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan
isogamet atau heterogamet. Isogamet (bila perbedaan
morfologi jenis kelamin belum nampak) namun ada
beberapa spesies yang nampak perbedaan gamet
besar dan kecil (mikrogamet untuk sel jantan)
(makrogamet untuk betina). Beberapa macam tipe
spora seksual yaitu:
a. Askospora (spora bersel satu terbentuk didalam
kantung yang disebut askus. Biasanya terdapat 8
askospora didalam setiap askus)
b. Basidiospora (spora bersel satu berbentuk gada
yang dinamakan basidium)
c. Zigospora (spora besar dan berdinding tebal yang
terbentuk apabila ujung-ujung dua hifa secara
seksual serasi dinamakan gametangia)
d. Oospora (spora terbentuk didalam struktur betina
khusus yang disebut oogonium. Pembuahan telur
atau oosfer oleh gamet jantan di anteridium
menghasilkan oospora. Dalam setiap oogonium
terdapat satu atau lebih oosfer)

126
Gambar 5.6 Perkembangbiakan pada Kapang
D. Reproduksi Alga
Alga berkembang biak secara seksual dan
aseksual. Beberapa spesies terbatas pada salah satu
proses tersebut, tetapi banyak yang mempunyai daur
hidup yang rumit yang mencakup kedua macam
reproduksi. Reproduksi aseksual mencakup pembelahan
biner sederhana. Organisme ganggang yang baru dapat
dimulai dari suatu fragmen yang terlepas dari
organisme multiseluler yang tua.

127
Gambar 5.7 Fragmentasi pada Spirogyra
Kebanyakan reproduksi melibatkan spora-spora
uniseluler, di antaranya akinet. Spora aseksual alga
aquatik berflagella dan motil disebut zoospora.
Sedangkan alga yang hidup didarat memiliki spora
nonmotil atau aplanospora. Semua bentuk reproduksi
seksual dijumpai pada semua alga. Dalam proses ini
terjadi konjugasi gamet yang menghasilkan zigot.
Jika gamet-gamet itu morfologinya serupa
dinamakan isogami. Jika gamet-gamet ini berbeda
ukuran dinamakan heterogami. Pada bentuk alga tingkat
tinggi sel-sel seksual menjadi lebih mudah dicirikan
antara yang jantan dan betina. Ovum berukuran besar
dan nonmotil sedangkan sperma kecil dan motil dengan

128
aktif, proses ini dinamakan oogami. Jika gamet jantan
dan betina terdapat pada individu yang sama, maka
spesies itu disebut biseksual. Jika gamet jantan dan
betina dibentuk oleh individu yang berlainan maka
individu tersebut dinamakan uniseksual.

Gambar 5.8 Reproduksi Seksual dan Aseksual pada Alga


Hijau

E. Reproduksi Pada Virus


Karena memiliki substansi genetik, virus dapat
melakukan reproduksi atau replikasi. Virus hanya bisa
bereproduksi di dalam sel/jaringan yang hidup.
Reproduksi virus terjadi dengan cara penggandaan
materi genetik inang yang disebut replikasi. Virus
membutuhkan bahan-bahan dari sel makhluk lain untuk

129
bereplikasi (bereproduksi). Replikasi virus secara umum
terbagi menjadi 2 yaitu siklus litik dan siklus lisogenik.
a. Siklus Litik
Cara reproduksi virus yang utama menyangkut
penghancuran sel inangnya. Siklus litik, secara umum
mempunyai tahap:
1. Adsorbsi
Penempelan virus pada inang.

Gambar 5.9 Proses Adsorbsi


2. Injeksi/Penetrasi
Virus melubangi membran sel inang dengan
enzim lisozim. Setelah berlubang, virus akan
menyuntikkan materi genetiknya kedalam sitoplasma sel
inang.

130
Gambar 5.10 Proses Injeksi
3. Sintesis/Replikasi
Materi genetik dari virus akan menonaktifkan
materi genetik sel inangnya Kemudian mengambil alih
kerja sel inang. DNA dari virus, akan menjadikan sel
inang sebuah tempat pembentukan virus baru.
4. Perakitan
Molekul-molekul protein (DNA) yang telah
terbentuk kemudian diselubungi oleh kapsid, berfungsi
untuk memberi bentuk tubuh virus.

5. Litik/Lisis/Pembebasan
Virus-virus yang telah matang akan berkumpul
pada membran sel dan menyuntikkan enzim lisosom
untuk menghancurkan membran sel. Sel yang
membrannya hancur itu akhirnya akan mati.

131
b. Siklus Lisogenik
Pada siklus ini sel inangnya tidak hancur tetapi
disisipi oleh asam nukleat dari virus. Tahap penyisipan
tersebut kemudian membentuk provirus. Siklus lisogenik
meliputi tahapan:
1. Adsorbsi
2. Injeksi
3. Penggabungan
4. Pembelahan
5. Sintesis

Gambar 5.11 Daur Litik dan Daur Lisogenik

132
Temukan artikel terkait dengan mekanisme reproduksi
mikroba, kemudia tuliskan informasi yang anda peroleh
pada kolom berikut!

133
5.2 Pertumbuhan Mikroorganisme
Waktu yang dibutuhkan dari mulai tumbuh
sampai berkembang dan menghasilkan individu baru
disebut waktu generasi. Contoh : waktu generasi bakteri
E. Coli sekitar 17 menit, artinya dalam 17 menit satu E.
Coli menjadi dua atau lebih E. Coli. Untuk
mikroorganisme yang membelah, misalnya bakteri, maka
waktu generasi diartikan sebagai selang waktu yang
dibutuhkan untuk membelah diri menjadi dua kali lipat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi waktu
generasi yaitu:
(1) tahapan pertumbuhan mikroorganisme, misalnya
satu sel bakteri menjadi 2 sel bakteri memerlukan
rentang waktu yang berbeda,
(2) takson mikroorganisme (jenis, spesies, dll),
misalnya bakteri Escherichia coli dalam saluran
pencernakan manusia maupun binatang umumnya
mempunyai waktu generasi 15-20 menit sedangkan
bakteri lain (misalnya Salmonella typhi) mempunyai
waktu generasi berjam-jam.

134
Tabel 8. Waktu Generasi pada Berbagai Mikroba
Kelompok Mikroba Waktu Generasi
Bakteri heterotrofik
Bacillus megaterium 0.58
coli 0.28
Rhizobium meliloti 1.80
Treponema pallidum 34.0
Bakteri fotosintetik
Chloropseudomonas ethylicum 7.0
Rhodopseudomonas spheroides 2.4
Rhodospirilium rubrum 5.0
Khamir
Sacharomyces cerevisiae 2.0
Protozoa
Paramecium caudatum 10.5
Stentor caureleus 32.0
Tetrahyma geleti 3.0

A. Kurva Pertumbuhan dan Waktu Generasi


Pertumbuhan diartikan sebagai penambahan,
dapat dihubungkan dengan penambahan ukuran, jumlah
bobot, massa dan banyak parameter lain dari suatu
bentuk hidup. Penambahan ukuran atau massa sel
biasanya terjadi pada proses pendewasaan dan perubahan
ini pada umumnya bersifat sementara, kemudian
dilanjutkan dengan proses multiplikasi (perbanyakan) sel
tersebut. Multiplikasi terjadi dengan cara pembelahan
sel.
135
Istilah pertumbuhan yang umum digunakan pada
bakteri atau mikrorganisme lain mengacu pada
perubahan di dalam sel (pertambahan total masa sel) dan
bukan perubahan individu organisme. Selama fase
pertumbuhan seimbang (balance growth) pertambahan
masa sel bakteri berbanding lurus dengan pertambahan
komponen selular yang lain seperti DNA, RNA, dan
protein. Karena itu maka mungkinlah untuk
mengembangkan pengukuran bagi pertumbuhan dengan
berbagai cara.
Sebagaimana dijelaskan, cara reproduksi bakteri
adalah melalui pembelahan biner melintang, satu sel
membelah diri, menghasilkan dua sel. Jadi jika dimulai
dari sel tunggal, maka populasi bertambah secara
geometrik:
1  2  22  23  24  25 .... 2n
Atau
1  2  4  8  16  32  ...
2n menunjukkan jumlah sel yang pada akhirnya dicapai
di dalam populasi. Selang waktu yang dibutuhkan bagi
sel untuk membelah diri atau untuk populasi menjadi dua
kali lipat dikenal sebagai waktu regenerasi.

136
Tidak semua spesies bakteri mempunyai waktu generasi
yang sama.
Andaikan satu bakteri tunggal diinokulisikan
pada suatu medium dan memperbanyak diri dengan laju
dan konstan, maka populasi bakteri bertambah secara
teratur, menjadi dua kali lipat pada interval waktu
tertentu (waktu generasi) selama inkubasi, fase
pertumbuhan ini disebut juga pertumbuhan seimbang. Di
dalam koondisi nyata, bila kita menginokulasi sejumlah
tertentu sel pada suatu medium segar, lalu menentukan
populasi bakteri tersebut pada waktu-waktu tertentu
selama masa inkubasi 24 jam dan memetakan logaritma
jumlah sel terhadap waktu, maka kita memperoleh kurva
sebagai berikut.

Gambar 5.12 Kurva Pertumbuhan Mikroorganisme

137
1. Fase Lag (fase lambat)
Ciri-cirnya: tidak ada pertambahan populasi, sel
mengalami perubahan dalam komposisi kimiawi,
dan bertambah ukuran, substansi intraselulernya
bertambah
2. Fase Log (logaritmik/ exponensial)
Sel membelah denga kecepatan kosntan, massa
menjadi 2 kali lipat dengan laju yang sama,
aktivitas metabolik konstan, keadaan
pertumbuhan seimbang
3. Fase statis (stasionary)
Penumpukan produk beracun, kehabisan nutrien,
beberapa sel mati dan beberapa masih membelah,
jumlah sel hidup menjadi tetap
4. Fase kematian (death)
Sel menjadi mati lebih cepat dari pada
terbentuknya sel baru, laju kematian mengalami
percepatan, semua sel mati dalam beberapa hari
(tergantung jenis mikroba).
Diantara setiap fase ini ada fase peraihan,
ditunjukkan dengan garis lengkung.

138
Waktu generasi suatu bakteri dapat dihitung dengan
rumus:

G = waktu generasi
T = selang waktu antara pengukuran jumllah sel di
dalam populasi pada suatu saat dalam fase log (B) dan
kemudian lagi pada suatu titik waktu kemudian (b)
B = populasi awalb
b = populasi setelah waktu t
log = log 10
3,3 = faktor konversi log
Pada kenyataannya bahwa gambaran kurve
pertumbuhan mikroorganisme tidak linear seperti yang
dijelaskan di atas jika faktor-faktor lingkungan yang
menyertainya tidak memenuhi persyaratan. Beberapa
penyimpangan yang sering terjadi, misalnya : fase lag
yang terlalu lama karena faktor lingkungan kurang
mendukung, tanpa fase lag karena pemindahan ke
lingkungan yang identik, fase eksponensial berulang-

139
ulang karena medium kultur kontinyu, dan lain
sebagainya.
Pertumbuhan mikroorganisme dipengaruhi oleh
banyak faktor, baik faktor biotik maupun faktor abiotik.
Faktor biotik ada yang dari dalam dan ada faktor biotik
dari lingkungan. Faktor biotik dari dalam menyangkut :
bentuk mikroorganisme, sifat mikroorganisme terutama
di dalam kehidupannya apakah mempunyai respon yang
tinggi atau rendah terhadap perubahan lingkungan,
kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi). Faktor
lingkungan biotik berhubungan dengan keberadaan
organisme lain didalam lingkungan hidup
mikroorganisme yang bersangkutan. Faktor abiotik
meliputi susunan dan jumlah senyawa yang dibutuhkan
di dalam medium kultur, lingkungan fisik (suhu,
kelembaban, cahaya), keberadaan senyawa-senyawa lain
yang dapat bersifat toksik, penghambat, atau pemacu,
baik yang berasal dari lingkungaan maupun yang
dihasilkan sendiri.

140
Temukan artikel terkait dengan waktu generasi dan laju
pertumbuhan mikroba, kemudia tuliskan informasi yang
anda peroleh pada kolom berikut!

141
5.3 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Mikroba
Beberapa faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan mikroba adalah sebagai berikut.
1. Suhu
Suhu adalah faktor penting yang mempengaruhi
pertumbuhan mikroba, pembelahan dan
kelangsungan hidup. Suhu yang rendah biasanya
memperlambat kegiatan sel, suhu lebih tinggi
meningkatkan taraf kegiatan sel. Tapi tiap
mikroorganisme memiliki batasan suhu terendah,
tertinggi, batas-batas berhentinya tumbuh, dan suhu
optimum. Batasan suhu ini dinamakan suhu
kardinal.
a. suhu pertumbuhan minimum
 suhu terendah organisme masih dapat hidup dan
tumbuh.
b. Suhu pertumbuhan optimum
 Suhu yang diperlukan untuk multiplikasi dalam
taraf yang tercepat. Untuk kebanyakan
mikroorganisme suhu optimum terjadi pada
jangka suhu (bukan pada suhu yang pasti)

142
c. Suhu perkembangan maksimum
 Suhu tertinggi yang memungkinkan masih ada
pertumbuhan. Seringkali kenaikan sedikit saja
dari suhu optimum mikroorganisme akan mati.
Ada 3 golongan mikroba berdasarkan suhu kardinal.
(1) Golongan mesofil
Mikroba yang dapat hidup dalam rentang suhu
10- 470C dengan suhu optimum 30-450C.
(2) Golongan psikrofil
Mikroba yang dapat hidup pada suhu 00C dengan
suhu optimum 100C-200C.
(3) Golongan termofi l
Mikroba yang dapat hidup pada suhu 450C-500C .
2. Bahan bentuk gas
Jenis dan konsentrasi gas dalam lingkungan
sangat mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Gas
oksigen, karbondiksida, nitrogen dan amoonia
sangat penting bagi mikroba. Gas-gas toksik seperti
formalin dan etilenoksida dapat mematikan mikroba
sehingga digunakan sebagai bahan disinfeksi.
3. Tekanan osmotik

143
Perisitiwa terjadinya plasmolisis dan plasmoptisis
disebabkan karena sel berada dalam lingkungan
dengan tekanan osmotik lebih tinggi atau lebih
rendah dari isi sel. Karena itu, untuk
mempertahankan kehidupan sel harus diciptakan
tekanan osmotik yang seimbang antara lingkungan
dan isi sel, keadaan ini disebut isotonik. Jika cairan
di sekitar sel tekanan osmotiknya lebih rendah
disebut hipotoniik, dan bila lebih tinggi disebut
hipertonik.
4. Pengeringan
Pengeringan dapat menjadikan sel mikroba
nonaktif (dorman), namun dapat segera aktif lagi
ketika kondisi lingkungan menjadi lembab.
Sebaliknya ada jenis mikroba yang dapat bertahan
dalam kondisi kering dengan memproduksi
endospora.
5. Keadaan dingin ekstrem
Banyak mikroba sangat tahan terhadap kondisi
dingin meskipun dalam kondisi vegetatif (tidak
menghasilkan spora).
6. Efek ion

144
Efek ion yang dimaksud adalah keasaman dan
kebasaan lingkungan. pH lingkungan spesifik
terhadap jenis mikroba, biasanya pH 7,0 sesuai
dengan kebanyakan mikroba. Umumnya mikroba
hidup dalam rentang pH 6,5-8.0.
7. Efek radiasi
a. inframerah
panas yang dikeluarkan dari inframerah dapat
menjadi letal (mematikan) bagi mikroorganisme.
Sinar UV dapat juga bersifat letal pada
mikroorganisme.
b. Sinar x
Sinar x dapat bersifat mutagen (menyebabkan
perubahan struktur kimia pada materi genetik)
dan karsinogen. Dengan penyinaran sinar x yang
cukup lama dapat mematikan pada mikroba.
c. Sinar matahari
Sinar matahari dapat mematikan mikroba.

145
Temukan artikel terkait dengan faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan mikroba, kemudia tuliskan
informasi yang anda peroleh pada kolom berikut!

146
1. Pertumbuhan mikroorganisme unisel (bersel tunggal)
sulit diukur dari segi pertambahan panjang, luas,
volume, maupun berat, karena pertambahannya
sangat sedikit dan berlangsung sangat cepat (lebih
cepat dari satuan waktu mengukurnya), sehingga
untuk mikroorganisme yang demikian satuan
pertumbuhan sama dengan satuan perkembangan.
2. Perkembangbiakan mikroorganisme dapat terjadi
secara seksual dan aseksual. Yang paling banyak
terjadi adalah perkembangbiakan aseksual.
Pembelahan aseksual terjadi dengan: pembelahan
biner (binary fission), pembelahan ganda (multiple
fission) dan Perkuncupan (budding)
3. Waktu yang dibutuhkan dari mulai tumbuh sampai
berkembang dan menghasilkan individu baru disebut
waktu generasi
4. Pertumbuhan mikroorganisme dipengaruhi oleh
banyak faktor, baik faktor biotik maupun faktor

147
abiotik. Faktor biotik ada yang dari dalam dan ada
faktor biotik dari lingkungan.
5. Faktor biotik dari dalam menyangkut: bentuk
mikroorganisme, sifat mikroorganisme terutama di
dalam kehidupannya apakah mempunyai respon yang
tinggi atau rendah terhadap perubahan lingkungan,
kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi).
6. Faktor lingkungan biotik berhubungan dengan
keberadaan organisme lain didalam lingkungan hidup
mikroorganisme yang bersangkutan. Faktor abiotik
meliputi susunan dan jumlah senyawa yang
dibutuhkan di dalam medium kultur, lingkungan fisik
(suhu, kelembaban, cahaya), keberadaan senyawa-
senyawa lain yang dapat bersifat toksik, penghambat,
atau pemacu, baik yang berasal dari lingkungaan
maupun yang dihasilkan sendiri.

148
Tulis jawaban singkat dan tepat untuk setiap pertanyaan
pada kotak yang disediakan!

1. Jelaskan konsep pertumbuhan dan perkembangan


pada mikroorganisme, berikan contoh untuk
memperkuat penjelasan anda!

2. Jelaskan mekanisme pembelahan biner pada bakteri


serta jelaskan bagian apa saja pada sel bakteri yang
berperan dalam pembelahan biner!?

149
3. Jelaskan mekanisme perkembangbiakan pada virus!

4. Suatu jenis bakteri memiliki waktu generasi selama


30 menit, jika terdapat 20 sel pada kultur di awal
pertumbuhan, berapa jumlah sel setelah diinkubasi
selama 5 jam?

5. Jelaskanlah mengapa faktor suhu menjadi penting


dalam mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan mikroba!?

150
BAB VI
PENGENDALIAN PERTUMBUHAN MIKROBA

Learning Outcomes:

1. Mahasiswa mampu memahami tujuan/


manfaat pengendalian pertumbuhan
mikroba
2. Mahasiswa mampu memahami
prinsip-prinsip pengendalian
pertumbuhan mikroba
3. Mahasiswa mampu menjelaskan
teknik-teknik pengendalian
pertumbuhan mikroba
4. Mahasiswa mampu memperjelas
informasi tentang materi dengan
menggunakan artikel ilmiah sebagai
sumber belajar

151
Pengetahuan tentang cara mengendalikan
pertumbuhan mikroba sangat penting sehingga kita dapat
mematikan, menyingkirkan dan menghambat
pertumbuhan mikroorganisme. Cara yang digunakan
untuk pengendalian pertumbuhan mikroba berbeda
tergantung pada spesies mikroba yang dihadapi.
Lingkungan hidup mikroba yang berbeda-beda
(misalnya: darah, makanan, air, tanah) juga menjadi
pertimbangan dalam cara pengendalian.
Penggunaan proses penggaraman, pengasapan,
pemanasan dan pengeringan pada makanan merpakan
contoh upaya untuk mengendalikan pertumbuhan
mikroba yang sudah lazim dilakukan.
6.1 Tujuan Utama Pengendalian Pertumbuhan
Mikroba
1. untuk mencegah infeksi pada manusia, hewan
piaraan, dan tumbuhan
2. untuk mencegah makanan dan komuditi lain menjadi
rusak
3. untuk mencegah gangguan kontaminasi terhadap
mikroorganisme yang digunakan dalam industri

152
4. Untuk mencegah kontaminasi bahan-bahan yang
dipakai dalam pengerjaan biakan murni di
laboratorium (diagnosis, penelitian, industri),
sehingga pengamatan tentang pertumbuhan dan
organisme pada medium pembiakan khusus.
6.2 Istilah dan Definisi Dalam Prosedur Pengendalian
Mikroba
1. Sterilisasi
Sterilisasi dalam mikrobiologi berarti membebaskan
tiap benda atau substansi dari semua kehidupan
dalam bentuk apapun. Mikroorganisme dapat
dimatikan melalui proses fisik (panas), kimia
(formaldehid, etilenoksida, dll), proses mekanik
(sentrifugasi kecepatan tinggi atau filtrasi)
2. Disinfeksi
Disinfeksi berarti mematikan atau menyingkirkan
organisme yang dapat menyebabkan infeksi .
Disinfeksi biasanya dilakukan dengan menggunakan
zat-zat kimia seperti fenol, formaldehid, klor,
iodium. Disinfeksi dimaksudkan untuk mematikan
sel-sel vegetatif bukan spora yang tahan panas.
3. Disinfektan

153
Disinfektan adalah bahan yang digunakan untuk
melaksanakan disinfeksi. Dininfeksi biasanya
dilakukan terhadap benda-benda mati.
4. Antiseptik
Antiseptik adalah bahan-bahan yang mematikan
mikrorganisme khususnya yang berkaitan dengan
tubuh tanpa mengakibatkan kerusakan pada jaringan.
5. Bakteriostatika
Bakteriostatika adalah zat yang dapat menghambat
multiplikasi bakteri
6. Bakterisida
Adalah setiap zat yang dapat mematikan bakteri
7. Bakterin
Vaksin yang dibuat dari bakteri yang mati, dan dapat
menimbulkan kekebalan pada tubuh terhadap
penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri jenis itu.
8. Bakteriosilin
Jenis antibodi yang terbentuk dalam darah dan dapat
menghancurkan bakteri.

154
6.3 Sebab-sebab Kerusakan Sel Bakteri
1. Denaturasi dan Koagulasi
Denaturasi dan koagulasi terjadi bila sel bakteri
dipanaskan pada suhu di atas 800C, dan bila
ditambah senyawa asam akan muncul endapan
putih.
2. Kombinasi kimia
Bermacam-macam bahan dapat aktif bergabung
secara kimia dengan semua jenis protein sel,
misalnya klor, iodium, kresol, iodium, kresol,
fenol, dan formaldehid.
Basa kuat dan asam kuat adalah destruktif
terhadap hampir semua bahan-bahan organik
termasuk sel bakteri.
6.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sterilisasi dan
Disinfeksi
1. Hidrasi
Koagulasi dapat berjalan baik jika protein sel
cukup mengandung air. Resistensi endospora bakteri
terhadap panas rupanya sebagainya disebabkan oleh
kadar air kandungannya. Oleh karena spora hampir
selluruhnya berada dalam keadaan dehidrasi.

155
Sehingga bahwa pemanasan dalam keadaan kering
membutuhkan suhu yang lebih tinggi dari pemanasan
dalam keadaan lembab.
Pada pemanasan kering yang menggunakan suhu
1650-1700C selama 1 jam, mikroorganisme itu dimatikan
dengan penghangusan. Pemanasan kering hanya terbatas
pada bahan-bahan kaca, logam, serbuk, dan minyak.
Tabel 9. Perbandingan Persen Air dan Suhu Koagulasi
Persentase air Suhu koagulasi
50 560
25 760
15 960
5 1490
0 1650
Dari table dapat diketahui bahwa pemanasan
basah lebih efektif daripada pemanasan kering.
2. Pengaruh suhu
Aktivitas mematikan bakteri bertolak belakang
antara suhu dengan waktu. Pada umumnya semakin
rendah suhu yang digunakan semakin lama waktu yang
diperlukan untuk membunuh organisme itu .

156
Sifat mikrobisida dari bahan kimia pada umumnya
menjadi makin efektif bila dibuat semakin hangat.
Sebagian hal ini didasarkan karena prinsip reaksi kimia
pada umumnya dipercepat dengan meningkatnya suhu .
3. Konsentrasi
Bila konsentrasi semakin tinggi dalam batas
sempit maka akan lebih mempercepat dan meyakinkan
kerja disinfektan.
4. Disinfektan
Disinfektan yang ideal seharusnya mempunyai
sifat-sifat berikut.
1) Mempunyai efektivitas yang tinggi terhadap
sejumlah besar jenis mikroorganisme dalam
koonsentrasi rendah, sehingga ekonomis dalam
pemakaian.
2) Tidak merusak dan tidak mewarnai bahan-bahan
tidak hilang keaktifannya oleh bahan-bahan dari
luar
3) Stabil dalam penyimpanan
4) Mudah didapam dan tidak mahal
5) Mudah digunakan
6) Efek mikrobisida yang cepat.

157
Ringkasan Prosedur Pengendalian Mikroorganisme

158
6.5 Prosedur Pengendalian Mikroorganisme
A. Secara Fisika
Beberapa cara fisika dapat digunakan untuk
mengendalikan populasi mikroba. Misalnya seperti
temperatur tinggi dan radiasi ionisasi. Metode
Pengendalian Mikroorganisme secara fisika adalah
teknik mematikan mikroorganisme dengan tujuan
menghilangkan semua mikroorganisme yang ada pada
bahan atau alat dengan proses dan sarana fisik. Dengan
cara fisika mikroorganisme dapat dikendalikan, yaitu
dibasmi, dihambat atau ditiadakan dari suatu lingkungan.
1. Pemanasan Suhu Tinggi
Pada suhu-suhu tertentu mikroorganisme dapat
dimatikan. Waktu yang diperlukan untuk membunuh
tergantung pada jumlah organisme, spesies, sifat produk
yang dipanaskan, pH, dan suhu. Autoklaf merupakan
instrumen yang digunakan untuk membunuh semua
mikroorganisme dengan panas, umumnya digunakan
dalam proses pengalengan, pembotolan, dan prosedur
pengemasan steril.
a. Pendidihan

159
Pendidihan 100 o selama 30 menit dengan cara merebus
bahan yang akan disterilkan (memerlukan waktu lebih
banyak di ketinggian). Membunuh semua
mikroorganisme yang patogen maupun non
patogen kecuali beberapa endospora dan dapat
menonaktifkan virus.
Untuk keperluan air minum murni, 100 o selama
lima menit adalah "standar" untuk di pegunungan
"meskipun ada beberapa laporan yang mengatakan
Giardia kista dapat bertahan proses ini namun waktu
pendidihan yang lebih panjang lebih
direkomendasikan. Biasanya dapat dilakukan pada alat-
alat kedokteran gigi, alat suntik, pipet, dll.
b. Pasteurisasi
Pasteurisasi adalah penggunaan panas yang
ringan dengan suhu terkendali untuk mengurangi jumlah
mikroorganisme patogen dengan berdasarkan waktu
kematian termal bagi tipe patogen yang paling resisten
untuk dibasmi dalam produk atau makanan.
Dalam kasus pasteurisasi susu, waktu dan suhu
tergantung tujuan untuk membunuh jenis potensial yang
patogen yang terdapat dalam susu yang diinginkan.

160
Misalnya, staphylococcus, streptococcus, Brucella
abortus dan Mycobacterium tuberculosis . Akan tetapi
setelah pasteurisasi akan banyak terjadi pembusukan
mikroorganisme.
Dalam proses pasteurisasi yang terbunuh
hanyalah bakteri patogen dan bakteri penyebab
kebusukan namun tidak pada bakteri lainnya.
Pasteurisasi biasanya dilakukan untuk susu, rum, anggur
dan makanan asam lainnya.
Susu pasteurisasi dengan pemanasan biasanya
pada suhu 63 ° C selama 30 menit (metode batch) atau
pada 71 ° C selama 15 detik (metode flash), untuk
membunuh bakteri dan menjaga kualitas susu.
Selama proses ultrapasteurisasi, juga dikenal
sebagai ultra high-temperature (UHT) pasteurisasi, susu
dipanaskan sampai suhu 140 ° C. Pada metode langsung,
susu dikonttakkan langsung dengan uap pada suhu 140 °
C selama satu atau dua detik.
Susu dimasukkan melalui sebuah kamar tekanan
uap tinggi, sehingga terjadi pemanasan susu
seketika. Susu lalu didinginkan dengan menggunakan
vakum yang bertujuan ganda menghilangkan kelebihan

161
air dalam susu dari kondensasi uap. Dalam metode tidak
langsung ultrapasteurisasi, susu dipanaskan dalam
sebuah pelat penghantar panas. Butuh beberapa detik
untuk suhu susu mencapai 140 ° C, dan selama waktu itu
susu yang terpapar panas. Jika ultrapasteurisai ini
dibarengi dengan kemasan aseptik, hasilnya adalah
produk yang tahan lama tanpa memerlukan
pendinginan.
c. Tyndalisasi
Pemanasan yang dilakukan biasanya pada
makanan dan minuman kaleng. Tyndalisasi dapat
membunuh sel vegetatif sekaligus spora mikroba tanpa
merusak zat-zat yang terkandung di dalam makanan dan
minuman yang diproses. Suhu pemanasan adalah 65oC
selama 30 menit dalam waktu tiga hari berturut-turut.
d. Tanur uap panas (hot- air oven)
Sebagian besar sterlisasi kering dilakukan dengan
alat ini. biasanya digunakan suhu 160-1650C selama 1
jam. Cara ini baik dilakukan terhadap alat-alat kering
terbuat dari kaca, seperti tabung reaksi, cawan petri,
labu, pipet, pinset, skalpel, gunting.

162
Gambar 6.1 Tanur Uap Panas
e. Jilatan api (flaming)
Sterilisasi dengan cara jilatan api dilakukan
terhadap skalpel, jarum, mulut tabung biakan, kaca
objek, dan kaca penutup. Benda-benda ini dijilatkan
kepada api bunsen tanpa membiarkannya memijar.

Gambar 6.2 Prosedur Flamming

163
2. Tekanan Uap Panas (dengan Autoklaf)
Autoklaf adalah alat sterilisasi yang
mempergunakan uap dan tekanan yang diatur. Autoklaf
merupakan ruang uap berdinding rangkap yang diisi
dengan uap jenuh bebas udara dan dipertahankan pada
suhu serta yang ditentukan selama periode waktu yang
dikehendaki.
Pensterilan dengan uap dalam tekanan dilakukan
dalam autoklaf. Dalam autoklaf ini uap berada dalam
keadaan jenuh, dan peningkatan tekanan mengakibatkan
suhu yang tercapai menjadi lebih tinggi, yaitu di bawah
tekanan 2 atmosfer. Suhu dapat meningkat mencapai
1210C. Bila uap itu dicampur dengan udara yang sama
banyak, pada tekanan yang sama, maka suhu yang
tercapai hanya 1100C. Itu sebabnya udara dalam autoklaf
harus dikeluarkan sampai habis untuk memperoleh suhu
yang diinginkan (1210C). Dalam suhu tersebut semua
mikroorganisme (baik spora maupun sel vegetatif) dapat
dimusnahkan dalam waktu yang tidak lama, yaitu sekitar
15-20 menit.

164
Gambar 6.3 Autoklaf

3. Pendinginan dan pembekuan


Umumnya mikroorganisme hanya tumbuh
sangat sedikit atau tidak sama sekali pada suhu
0 o C. Makanan akan tahan lama jika disimpan di
temperatur rendah untuk memperlambat laju
pertumbuhan dan pembusukan akibat adanya
mikroorganisme (misalnya susu). Tetapi suhu rendah
tidak berarti bebas bakteri.
Kasus psychrotrophs, dari psychrophiles memang
benar merupakan penyebab pembusukan yang biasa pada
makanan pada makanan yang didinginkan. Meskipun
beberapa mikroba masih dapat tumbuh dalam suhu
165
sangat dingin serendah minus 20 o C, unutuk kebanyakan
makanan diawetkan untuk mencegah pertumbuhan
mikroba dalam freezer rumah tangga.
4. Pengeringan (pengangkatan H2O)
Sebagian besar mikroorganisme tidak dapat
tumbuh pada keadaan kekurangan air
(A w <0.90). Pengeringan sering digunakan untuk
mengawetkan makanan (misalnya buah-buahan, biji-
bijian, dll). Metode ini melibatkan penghilangan air dari
produk oleh panas, penguapan, beku-pengeringan, dan
penambahan garam atau gula. Pengeringaan sel mikroba
serta lingkungannya sangat mengurangi atau
menghentikan aktivitas metabolic fiikuti dengan matinya
sejumlah sel.
Pada umumnya lamanya mikroorganisme bertahan
hidup setelah pengeringan bervariasi tergantung dari
faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu:
a. Jenis mikroorgaanissme
b. Bahan pembawa yang akan dipakai untuk
mengeringkan mikroorganisme
c. Kesempurnaan proses pengeringan

166
d. Kondisi fisik (cahaya, suhu, kelembaban yang
dikenakan pada organisme yang dikeringkan.
Pengeringan di udara dapat membunuh sebagian besar
kuman. Namun spora tidak terpengaruh oleh
pengeringan, karena itu merupakan cara yang kurang
memuaskan.
5. Radiasi (UV, x-ray, radiasi gamma)
Banyak mikroorganisme pembusukan dapat
segera dibunuh oleh radiasi. Di beberapa negara bagian
Eropa, buah-buahan dan sayuran yang diradiasi untuk
meningkatkan umur penyimpanan hingga 500
persen. Praktek ini dapat digunakan untuk mensterilkan
jus buah dengan mengalirkan jus di atas sumber cahaya
ultraviolet intensitas cahaya tinggi. Sistem UV untuk
penggunaan air tersedia pribadi, perumahan dan
komersial untuk dapat digunakan dalam pengendalian
bakteri, virus dan kista protozoa.
Macam-macam radiasi yang digunakan :
a. Radiasi Ultraviolet

167
Ultraviolet merupakan unsur bakterisidal utama pada
sinar matahari yang meneyebabkan perubahan-
perubahan di dalam sel berupa :
1. Denaturasi protein
2. Kerusakan DNA
3. Hambatan repikasi DNA
4. Pembetukan H2O2 dan peroksida organik di dalam
pembenihan
5. Merangsang pembentukan kolisin pada kuman
kolisigenik dengan merusak penghambatnya di
dalam sitoplasma
b. Cahaya Ultraviolet
Digunakan untuk:
1. Membunuh mikrooganisme
2. Membuat vaksin kuman dan virus
3. Mencegah infeksi melalui udara pada ruang
bedah, tempat-tempat umum dan laboratorium
bakteriologis.
c. Radiasi sinar-X dan pengion lainnya
Radiasi pengion memiliki kapasitas lebih besar
untuk menginduksikan perubahan-perubahan yang
mematikan pada DNA sel. Cara ini berguna untuk

168
sterilisasi barang-barang sekali pakai misalnya benang
bedah, pembalut luka dan lain-lain.
Menurut hasil penelitian FDA, radiasi tidak
membuat makanan menjadi radioaktif, juga tidak
terlihat perubahan rasa, tekstur, atau
penampilan. Radiasi produk pangan untuk
mengendalikan penyakit yang terbawa makanan pada
manusia umumnya telah disahkan oleh PBB. Dua bakteri
penyebab penyakit penting yang dapat dikendalikan oleh
iradiasi meliputi Escherichia coli dan
spesies Salmonella.

Temukan artikel terkait prosedur fisik pengendalian


mikroba, tuliskan informasi yang Anda peroleh pada
kotak berikut!

169
B. Secara Mekanik
1. Filtrasi
Ada dua filter, yaitu filter bakteriologis dan filter udara:
1) Filter bakteriologis
Filter bakteriologis biasanya digunakan untuk
mensterilkan bahan-bahan yang tidak tahan terhadap
pemanasan, misalnya larutan gula, serum, antibiotika,
antitoksin, dll. Teknik filtrasi prinsipnya menggunakan
penyaringan, di mana yang tersaring hanyalah bakteri
saja. Di dalam sterilisasi filtrasi, menggunakan suatu

170
saringan berpori sangat kecil (0,22 mikron atau0,45
mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan
tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan
yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik.
Di antara jenis filter bakteri yang umum digunakan
adalah: Berkefeld (dari fosil diatomae), Chamberland
(dari porselen), Seitz (dari asbes) dan seluosa.

Gambar 6.4 Filter Bakteriologis


2) Filter udara
Filter udara berefisiensi tinggi untuk menyaring
udara berisikan partikel (High Efficiency Particulate Air
Filter atau HEPA) memungkinkan dialirkannya udara

171
bersih ke dalam ruang tertutup dengan sistem aliran
udara laminar (Laminar Air Flow)

Gambar 6.5 Laminar Air Flow

Temukan artikel terkait prosedur mekanik pengendalian


mikroba, tuliskan informasi yang Anda peroleh pada
kotak berikut!

172
C. Secara Kimia
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
memilih bahan kimia sebagai senyawa antimikroba
adalah sebagai berikut:
1. Memiliki kemampuan untuk mematikan
mikroorganisme dalam konsentrasi rendah pada

173
spectrum luas, sehingga dapat membunuh berbagai
mikroorganisme.
2. Bisa larut dalam air atau pelarut lain sampai taraf
yang diperlukan secara efektif.
3. Memiliki stabilitas tinggi, jika dibiarkan dalam
waktu relatif lama tidak kehilangan sifat
antimikrobanya.
4. Bersifat letal bagi mikroorganisme, tetapi aman
bagi manusia maupun hewan.
5. Bersifat homogen, sehingga komposisi selalu sama
untuk setiap aplikasi dosis takaran.
6. Senyawa tersedia dalam jumlah besar dengan harga
yang pantas.
7. Sifat bahan harus serasi.
8. Dapat menentukan tipe mikroorganisme yang akan
dibasmi.
9. Aman terhadap lingkungan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja antimikroba


adalah sebagai berikut:
a. Konsentrasi bahan, setiap mikroorganisme
memerlukan konsentrasi yang berbeda untuk

174
senyawa antimikroba yang sama dalam
menghambat atau membunuh.
b. Waktu, setiap mikroorganisme memerlukan waktu
yang berbeda-beda ketika dipaparkan terhadap suatu
senyawa antimikroba untuk dapat menghambatatau
mematikan.
c. pH. Konsentrasi ion hydrogen mempengaruhi
peranan bakterisida dengan cara mempengaruhi
organisme dan bahan kimia dalam bakterisida
tersebut.
d. Temperatur. Pembunuhan bakteri oleh bahan kimia
akan meningkat dengan suatu peningkatan
temperature.
e. Sifat/jenis organisme. Kemampuan suatu bahan
tertentu bergantung pada komponen organisme yang
diuji dengan bahan tersebut, sel vegetative lebih
mudah dikendalikan daripada bentuk endospore
f. Usia mikroorganisme. Tingkat kerentanan
mikroorganisme sangat ditentukan oleh umur biakan
mikroorganisme.

175
g. Bahan ekstra. Adanya bahan organic seperti serum,
darah atau nanah mempengaruhi aktivitas beberapa
senyawa antimikroba.
h. Jumlah Mikroba: Makin banyak mikroba, butuh
lebih banyak waktu dalam mengurangi populasinya.
i. Lingkungan: Adanya bahan organic (darah, feces,
ludah) cenderung menghambat daya antimikrobia

Antimikroba
Antimikroba adalah zat kimia yang membunuh
atau menghambat pertumbuhan
mikroorganisme. Antimikroba termasuk bahan pengawet
kimia dan antiseptik, serta obat yang digunakan dalam
pengobatan penyakit menular pada tanaman dan
hewan. Antimikroba didapatkan dari sintetis atau
berasal dari alam, dan mereka memiliki efek atau sidal
statis pada mikroorganisme.

1) Antiseptik
Antiseptik cukup berbahaya jika digunakan pada
kulit dan selaput lendir, dan tidak boleh digunakan

176
secara internal. Contohnya seperti merkuri, perak nitrat,
larutan yodium, dan deterjen.
2) Desinfektan
Desinfektan merupakan bahan yang membunuh
mikroorganisme, tetapi tidak mencakup spora
mikroorganisme, dan tidak aman digunakan untuk
jaringan hidup, desinfektan hanya digunakan pada benda
mati seperti meja, lantai, peralatan, dll. Efeknya terhadap
permukaan benda atau bahan juga berbeda-beda. Ada
yang serasi dan ada yaang bersifat merusak. Oleh karena
itu perlu diketahui perilaku bahan kimia yaang akan
digunakan sebagai desinfektan.
Ciri-ciri desinfektan yang ideal :
a. Aktivitas antimikrobial, persyaratan yaang pertama
ialah kemampuan substansi untuk mematikan
mikroorganisme. Pada konsentrasi rendah, zat
tersebut harus mempunyai aktivitas antimikrobial
dengaan spektrum luas.
b. Kelarutan, yaitu harus dapat larut dalam air atau
pelarut lain.
c. Stabilitas

177
d. Tidak bersifat raacun bagi manusia maupun hewan
dan tumbuhan.
e. Homogenitas, harus mempunyaai komposisi yang
seragam sehingga bahan aktifnya selalu terdapat
dalam setiap aplikasi
f. Mempunyaai aktivitas antimikrobial pada suhu
kamar.
g. Tidak bergabung dengan bahan organik.
h. Tidak menimbulkan karat dan warna.
i. Kemampuan menghilangkan bau yang kurang
sedap.
j. Berkemampuan sebagai deterjen
Contoh-contoh desinfektan seperti Hipoklorit,
senyawa klorin, senyawa alkali, tembaga sulfat, senyawa
amonium kuartener, formalin dan senyawa fenol.
a. Formaldehida
Berguna untuk mensterilkan vaksin kuman dan
untuk menginaktifkan toksin kuman tanpa
mempengaruhi sifat antigenitasnya. Larutan
formaldehida dengan kosentrasi 5 sampai 10
persen di dalam air akan membunuh sebagian
besar kuman. Formaldehida bersifat

178
bakterisidal, sporisidal, dan juga dapat
membunuh virus.
b. Fenol
Dipergunakan untuk mensterilkan alat-alat
bedah dan untuk membunuh kuman yang
tercecer di laboratorium. Larutan yang dipakai
biasanya berkadar 3 persen.
c. Sabun dan deterjen
Bersifat bakterisidal dan bakteristatik terhadap
kuman Gam negatif dan beberapa jenis kuman
tahan asam. Deterjen bekerja dengan cara
berkumpul pada selaput sitoplasma kuman
sehingga mengganggu fungsi normalnya atau
dengan denaturasi protein dan enzim
d. Alkohol
Etil alkohol sangat efektif pada kadar 70 persen
daripada 100 persen. Namun tidak membunuh
spora.
e. Desinfektans dalam bentuk aerosol dan gas
Uap SO2, klor dan formalin dipergunakan
sebagai desinfektan berupa gas, demikian juga

179
propilen glikol yang merupakan desinfektan
yang kuat.
3) Pengawet
Merupakan bahan statis yang digunakan untuk
menghambat pertumbuhan mikroorganisme, dan paling
sering digunakan dalam makanan. Bahan yang dapat
digunakan tidak berbahaya jika masuk ke dalam tubuh
dan tidak beracun. Contohnya adalah kalsium propionat,
natrium benzoat, formaldehid, nitrat dan belerang
dioksida.
4) Antibiotik
Berdasarkan sumber pembuatannya Antibiotik
dibagi 3, yaitu :
a. Antibiotik sintetik
Antibiotik sintetik berguna dalam pengobatan
penyakit dari mikroba maupun virus. Contohnya adalah
sulfonilamid, isoniazid, etambutol, AZT, asam nalidiksat
dan kloramfenikol. Perlu diperhatikan bahwa definisi
mikrobiologi mengenai antibiotik mengharuskan bahwa
antibiotik akan digunakan untuk tujuan membunuh
mikroba dan tidak digunakan untuk terapi terhadap
penyakit yang tidak berasal dari mikroba.

180
b. Antibiotik Alami
Antibiotik alami adalah antibiotik yang
dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat membunuh
atau menghambat mikroorganisme lainnya. Definisi
yang lebih luas antibiotik merupakan bahan kimia
yang berasal dari alam (dari semua jenis sel) yang
memiliki efek untuk membunuh atau menghambat
pertumbuhan sel-sel jenis lain. Sejak klinis antibiotik
sebagian besar dihasilkan oleh mikroorganisme dan
digunakan untuk membunuh atau menghambat Bakteri
menular.
c. Antibiotik semisintetik
Antibiotik semisintetik adalah antibiotik yang
molekulnya diproduksi suatu mikroba kemudian
dimodifikasi oleh ahli kimia organik untuk
meningkatkan sifat antimikroba antibiotik tersebut atau
membuat mereka unik agar dapat dipatenkan secara
farmasi.

181
Temukan artikel terkait prosedur kimia pengendalian
mikroba, tuliskan informasi yang Anda peroleh pada
kotak berikut!

182
1. Tujuan utama pengendalian pertumbuhan mikroba
adalah:
a. Untuk mencegah infeksi pada manusia,
hewan piaraan, dan tumbuhan
b. Untuk mencegah makanan dan komuditi lain
menjadi rusak
c. Untuk mencegah gangguan kontaminasi
terhadap mikroorganisme yang digunakan
dalam industri
d. Untuk mencegah kontaminasi bahan-bahan
yang dipakai dalam pengerjaan biakan murni
di laboratorium (diagnosis, penelitian,
industri), sehingga pengamatan tentang
pertumbuhan dan organisme pada medium
pembiakan khusus.
2. Sebab-sebab kerusakan sel bakteri pada prosedur
pengendalian pertumbuhan mikroba adalah karena
denaturasi dan koagulasi serta kombinasi kimia

183
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi keberhsailan
sterilisasi dan disinfeksi adalah; terjadinya hidrasi
sel, pengaruh suhu, konsentrasi disinfektan.
4. Prosedur pengendalian pertumbuhan mikroba dapat
dilakukan secara fisik, mekanik, dan kimia.

Tulis jawaban singkat dan tepat untuk setiap pertanyaan


pada kotak yang disediakan!
1. Apakah tujuan dilakukannya pengendalian
pertumbuhan mikroba?

2. Jelaskan bahwa proses denaturasi dapat


menyebabkan kerusakan sel!

184
3. Jelaskan perbedaan pengendalian pertumbuhan
mikroba secara fisik, mekanik dan kimia!

4. Apa saja yang harus dipertimbangkan dalam memilih


prosedur pengendalian pertumbuhan mikroba?
Jelaskan!

185
5. Identifikasi masing-masing 2 contoh dalam
kehidupan nyata prosedur-prosedur pengendalian
pertumbuhan mikroba yang bisa dilakukan dalam
skala rumah tangga, baik secara fisik, mekanik,
maupun kimia!

186
BAB VII
GENETIKA MIKROBA (BAKTERI)

Learning Outcomes:

1. Mahasiswa mampu memahami


konsep genom bakteri
2. Mahasiswa mampu memahami
konsep pertukaran materi genetic
pada bakteri
3. Mahasiswa mampu memahami
konsep mutasi genetic pada bakteri
4. Mahasiswa mampu memahami
konsep fenotip dan genotip pada
bakteri
5. Mahasiswa mampu memperjelas
informasi tentang materi dengan
menggunakan artikel ilmiah sebagai
sumber belajar

7.1 Genom Bakteri


A. Kromosom
Kebanyakan gen prokariota terdapat pada
kromosom, yang terletak dalam suatu bagian pusat
sitoplasma, yang dinamakan daerah nuklear atau

187
nukleoid untuk membedakannya dari membran-pengikat
nukleus pada sel eukariotik.
Gen bakteri terdapat dalam molekul DNA
tunggal (haploid). Berbentuk sirkuler, panjangnya ±
1mm, beratnya 2-3% dari berat kering satu sel, disusun
sekitar 4 juta kpb DNA, makromolekul yang sangat
banyak ini dikemas agar tidak berubah dalam bentuk
superkoil (± 70-130 superkoil domain) Jumlah nukleoid
dalam sel bakteri dapat lebih dari satu, tergantung
kecepatan pertumbuhan dan ukuran sel. Nukleoid berisi
gen yang penting untuk pertumbuhan bakteri.
* Superkoil DNA adalah bagian dari molekul double-
helix DNA yang terpelintir pada dirinya sendiri,
membentuk untai yang lebih berliku

.
Gambar 7.1 Kromosom Bakteri dalam Superkoil

188
B. Plasmid
Plasmid merupakan materi genetik di luar
kromosom (ekstra kromosomal). Tersebar luas dalam
populasi bakteri. Terdiri dari beberapa – 100 kpb,
beratnya ± 1-3 % dari kromosom –bakteri. Berada bebas
dalam sitoplasma bakteri. Kadang-kadang dapat bersatu
dengan kromosom bakteri. Dapat berpindah dan
dipindahkan dari satu spesies ke spesies lain. Jumlahnya
dapat mencapai 30 atau dapat bertambah karena mutasi.
Pili F dan I
Transfer plasmid dari sel ke sel diperantarai oleh
pili F dan I. Dua kelompok faga RNA diketahui
menginfeksi sel yang membawa plasmid yang dapat
dipindahkan. Faga ini dapat digunakan untuk melihat
adanya pili F dan I pada sel. Dua macam pili ini dapat
juga dibedakan secara imunologi.
Pili F dilibatkan dalam transfer faktor F dan
beberapa plasmid resisten-antibiotik. Pili I dilibatkan
dalam transfer plasmid resisten-antibiotik, plasmid yang
menentukan-colicin, dan lainnya.

189
Faktor R
Faktor R pertama kali ditemukan di Jepang pada
strain bakteri enterik yang mengalami resistensi
terhadap sejumlah antibiotik (multipel resisten).
Munculnya resistensi bakteri terhadap beberapa
antibiotik, sangat berarti dalam dunia kedokteran, dan
dihubungkan dengan meningkatnya penggunaan
antibiotik untuk pengobatan penyakit infeksi.
Sejumlah perbedaan gen-gen resisten-antibiotik
dapat dibawa oleh faktor R. Plasmid R100 disusun oleh
90 kpb yang membawa gen resisten untuk sulfonamid,
streptomisin/spektinomisin, asam fusidat, kloramfenikol,
tetrasiklin dan pembawa gen resisten terhadap merkuri.
R100 dapat berpindah diantara bakteri enterik
dari genus Escherichia, Klebsiella, Proteus, Salmonella,
dan Shigella, tetapi tidak akan berpindah ke bakteri
nonenterik Pseudomonas. Juga sudah diketahui faktor R
dengan gen resisten terhadap kanamisin, penisilin,
tetrasikliin, dan neomisin.
Beberapa elemen resisten obat pada faktor R
merupakan elemen yang dapat bergerak, dan dapat
digunakan dalam mutagenesis transposon.

190
Gambar 7.2 Peta Genetik pada Kromosom Bakteri E.coli
Peta Genetik sirkuler kromosom bakteri E. coli.
Letak gen terwakili pada lingkaran terdalam. Jarak antar
gen diukur dalam menit, yaitu waktu yang diperlukan
untuk transfer gen selama konjugasi.
Gen-gen untuk sifat yang tidak berhubungan
dengan resistensi antibiotik juga dibawa oleh faktor R.
Yang terpenting di antaranya menghasilkan pili untuk
transfer konjugatif, tetapi faktor R juga membawa gen

191
untuk replikasi dirinya sendiri dan gen untuk mengatur
produksi protein yang mencegah pengenalan plasmid
lain.
Selanjutnya ada kalanya faktor R yang
menghambat pengenalan dari tipe plasmid lain yang
sama, suatu fenomena yang diketahui sebagai
ketidakcocokan. Karena faktor R dapat mengalami
rekombinasi genetik, gen dari dua faktor R dapat
bergabung menjadi satu. Rekombinasi plasmid
merupakan suatu alat yang mungkin pertamakali
ditimbulkan oleh pembiakan organisme resisten-obat.
Plasmid dapat membawa gen yang berhubungan
dengan fungsi-fungsi khusus lain, misalnya pada:
 Rhizobium sp berperan dalam fiksasi nitrogen
 Streptococcus (grup N) berperan dalam
penggunaan laktosa, sistem galaktose
 fosfotransferase, metabolisme sitrat.
 Rhodospirillum rubrum berperan dalam sintesis
pigmen fotosintesis
 Escherichia coli berfungsi dalam pengambilan
dan metabolisme sukrosa, ambilan sitrat

192
 Pseudomonas spp berfungsi dalam degradasi
kamfor, toluena, oktana, asam salisilat Bacillus
stearothermophilus berfungsi menghasilkan
enzim a-amilase
 Alcaligenes eutrophus berperan dalam
penggunaan H2 sebagai energi oksidasi

Gambar 7.3 Foto elektron mikgrograf sel bakteri E. coli


F+ (kiri) dan F- (kanan) selama proses konjugasi seksual
(sumber: Brock & Madigan,1991)

193
Temukan artikel terkait substansi genetic bakteri,
tuliskan informasi yang Anda peroleh pada kotak
berikut!

194
C. Elemen Genetik Bergerak (Transposable)
Konsep bahwa kromosom merupakan struktur
diam/statis, diturunkan tidak berubah dari generasi ke
generasi, sudah ditinggalkan dan diganti dengan suatu
pandangan yang lebih dinamis. Berdasarkan analisis
genetik terhadap organisasi kromosom diungkapkan
bahwa penyusunan kembali DNA dapat membawa
elemen genetik yang bergerak.
Elemen genetik ini dikelompokkan berdasarkan
kemampuannya untuk menyisip sebagai segmen DNA
baru pada lokasi genom secara acak. Kemampuan
elemen ini untuk mengubah urutan, ditemukan sebagai
sebagai sifat alami pada kromosom prokariot, plasmid
dan genom bakteriofaga. Dua kelompok besar elemen
yang berkemampuan mengubah urutan DNA
1. “Insertion sequences “(IS)
adalah elemen urutan sisipan yang merupakan
unsur genetik yang mampu menyisip ke tempat baru
pada replikon yang sama maupun berbeda. IS tidak dapat
mereplikasi dirinya sendiri.

195
Gambar 7.4 Insertion Sequence
Urutan dari kelompok IS sederhana biasanya
hanya mengandung gen tunggal yang mengkode satu
enzim, transposase, yang penting untuk transposisi
elemen IS. Urutan IS yang besar mempunyai persamaan
struktur dan berisi kira-kira 1000 pasangan basa duplex
DNA. Berbagai perbedaan IS ditemukan pada genom
bakteri dan plasmid, beberapa mungkin ditemukan
sebagai cetakan multipel dalam replikon tunggal.
2. Transposon (jumping genes)
adalah unsur genetik yang mengandung beberapa
kpb DNA, termasuk informasi yang diperlukan untuk
migrasi dari satu lokus genetik ke lokus genetik lain,

196
terutama untuk fungsi khusus misalnya resistensi
terhadap antibiotik.
Transposon merupakan sekuens gen yang mampu
menyisipkan dirinya ke bagian DNA lainnya pada sel
yang sama. Kemampuan ini kemudian berperan dalam
mengaktifkan atau menonaktifkan sifat fisik suatu sel
bakteri.
Transposon tidak berisi informasi genetik yang
diperlukan untuk replikasi dirinya sendiri. Seleksi
transposon bergantung pada replikasinya sebagai bagian
dari suatu replikon. Untuk mendeteksi transposon atau
mengutak-atiknya secara genetik dilakukan seleksi
terhadap informasi genetik khusus (biasanya resistensi
terhadap suatu antibiotika) yang dibawanya.

197
Gambar 7.5 Transposon

Temukan artikel terkait elemen genetic yang bergerak


pada bakteri, tuliskan informasi yang Anda peroleh pada
kotak berikut!

198
7.2 Pertukaran Materi Genetik pada Bakteri
A. Transfer Gen
Materi genetik dan plasmid dapat berpindah atau
dipindahkan melalui berbagai mekanisme sebagai
berikut:
a. Transduksi
DNA dari plasmid masuk ke dalam genom
bakteriofaga (virus yang menginfeksi bakteri). Oleh
bakteriofaga plasmid ditransfer ke populasi bakteri lain.

199
Transduksi biasa terjadi pada bakteri Gram positif seperti
Staphylococcus, diketahui pula terjadi pada Salmonella.
b. Transformasi
Fragmen DNA bebas dapat melewati dinding sel
dan kemudian bersatu dalam genom sel tersebut
sehingga mengubah genotipnya. Hal ini biasanya
dikerjakan di laboratorium dalam penelitian rekayasa
genetika, tapi dapat pula terjadi secara spontan meskipun
dalam frekuensi yang kecil.
c. Konyugasi
Transfer unilateral materi genetik antara bakteri
sejenis maupun dengan jenis lain dapat terjadi melalui
proses konyugasi (“mating” = kawin). Hal ini
dimungkinkan karena adanya faktor F yang menentukan
adanya pili seks pada virus bakterial tertentu.
Bakteri yang mempunyai pili seks disebut kuman F+,
dan melalui pilinya materi genetik dari sel donor (F+)
termasuk plasmid DNA-nya dapat berpindah ke dalam
sel resipien.
Jadi gen-gen tertentu yang membawa sifat
resistensi pada obat dapat berpindah dari populasi bakteri
yang resisten ke dalam bakteri yang sensitif. Dengan

200
cara inilah sebagian besar dari sifat resisten obat tersebar
dalam populasi bakteri dan menimbulkan apa yang
disebut multi drug resistance.

Gambar 7.6 Pemindahan Faktor F melalui Konjugasi

201
Gambar 7.7 Mekanisme Pertukaran Materi Genetik pada
Bakteri
a) Transformasi, fragmen DNA lepas dari bakteri donor
yang diterima oleh bakteri penerima
b) Transduksi perpindahan materi genetik melalui
bakteriofage (virus).
c) Konyugasi perpindahan materi genetik dengan kontak
langsung melalui hubungan sitoplasma
d) Transposisi, adalah pemindahan rantai DNA pendek
(hanya beberapa urutan saja) antara satu plasmid ke

202
plasmid lain, atau dari kromosom ke plasmid dalam
sel tersebut.
7.3 Mutasi
Mutasi mengarah pada suatu perubahan senyawa
kimia pada DNA. Mutan merupakan individu yang
mengalami perubahan pada satu atau lebih basa
DNAnya: perubahan ini dapat diwariskan dan
irreversibel (kecuali terjadi mutasi-balik ke urutan awal).
Kerusakan gen tersebut dapat disebabkan oleh:
1) Perubahan pada proses transkripsi
2) Perubahan pada urutan asam amino dari protein
yang merupakan produk gen
Mutasi melibatkan sejumlah gen pada DNA
bakteri: beberapa mutasi tidak pernah dideteksi karena
tergantung pada mutasi mempengaruhi suatu fungsi yang
dapat dikenali (contoh, penyebab resistensi antibiotik).
Dan yang lain dapat mematikan sehingga tidak
terdeteksi.
Mutasi spontan awalnya tidak diketahui, sering
disebut “background mutation”. Kontrol genetik
mutabilitas beberapa gen yang diketahui dapat

203
disebabkan oleh “mutator gen” lain. Mutasi spontan
dapat dibedakan menjadi
1) mutasi spesifik yang pengaruhnya terbatas pada
satu lokus dan
2) mutasi nonspesifik secara simultan
mempengaruhi pada beberapa lokus.
Mutasi terinduksi dipengaruhi oleh keadaan
lingkungan yang tidak normal, misalnya: radiasi
pengion (perubahan valensi senyawa kimia melalui
penembahan elektron yang dihasilkan oleh proton,
neutron, atau oleh sinar X. Radiasi nonpengion
penambahan tingkat energi atom (eksitasi), yang
membuatnya kurang stabil (contoh, radiasi UV, panas),
radiasi UV sering menghasilkan dimer timin, contoh,
ikatan timin di antara dua rantai yang sama. Mutagen
senyawa kimia (senyawa kimia yang meningkatkan
mutabilitas gen) dapat dibedakan menjadi: Salah cetak
mutan meningkat selama replikasi DNA (contoh,
mutagen analog basa dengan sifat kimia yang sama
dengan basa asam nukleat dapat masuk karena
kesalahan, akridin penyebab penambahan mutasi
tunggal atau delesi kemungkinan karena interkalasi di

204
antara dua urutan basa)].; Perubahan gen lansung
[(dihasilkan pada DNA “nonreplicating” (contoh, asam
nitrat oleh deaminasi secara langsung merubah adenin
menjadi hipoksantin dan sitosin menjadi urasil)]

Temukan artikel terkait mutasi pada materi genetic


bakteri, tuliskan informasi yang Anda peroleh pada
kotak berikut!

205
7.4 Genotip dan Fenotip Bakteri
Bakteri banyak bentuk berdasarkan morfologi:
bulat/kokus, batang/basil, spirilla/spiral, spiroket/uliran,
dan bercabang. Karena bakteri cukup kecil, sifat genetic
sel bakteri jarang diteliti secara individual.
Namun, koloni bakteri cukup besar untuk
percobaan secara makroskopik dan sering
memperlihatkan variasi dalam ukuran, bentuk, atau
kebiasaan pertumbuhan, tekstur, warna, dan respon
terhadap nutrien, pewarnaan, obat, antibodi, dan virus
patogen (bakteriofaga/virus pada bakteri). Beberapa
bakteri dapat tumbuh pada medium minimal yang berisi
suatu karbon dan sumber energi (contoh, glukosa),
sejumlah garam anorganik, dan air.

206
Bakteri yang dapat tumbuh pada medium
“unsupplemented” disebut prototrofik. Jika sejumlah
bahan organik ditambahkan pada medium minimal
tersebut untuk mendapatkan pertumbuhan, bakteri
tersebut dinamakan auksotrofik. Suatu medium yang
mengandung semua nutrien organik (asam amino,
nukleotida, dan lain-lain) yang dibutuhkan oleh beberapa
sel auksotrofik disebut medium lengkap. Lima tipe
utama perubahan fenotipik yang dapat dihasilkan melalui
mutasi, yaitu:
1). Suatu perubahan dari prototrofik menjadi
auksotrofik atau sebaliknya, contohnya, kehilangan atau
memperoleh kembali kemampuan untuk menghasilkan
produk dari jalur biosintetik. Sebagai contoh, suatu
mutasi yang menghasilkan kerusakan/cacat pada gen
yang menghasilkan enzim khusus untuk merubah
glutamat menjadi glutamin menyebabkan sel menjadi
tergantung pada lingkungan untuk glutamin.
2). Kehilangan atau memperoleh kembali kemampuan
untuk menggunakan nutrient pengganti. Sebagai
contoh, suatu mutasi pada gen untuk merubah laktosa
menjadi glukosa dan galaktosa membuat sel tidak

207
mampu tumbuh pada medium dimana laktosa merupakan
satu-satunya sumber karbon. Macam mutasi ini yang
dilibatkan dalam reaksi katabolik (degradatif) tidak
tergantung pada prototrofik atau auksotrofik.
3). Suatu perubahan dari sensitifitas obat menjadi
resistensi obat atau sebaliknya. Sebagai contoh,
sebagian besar bakteri sensitif terhadap antibiotik
streptomisin, tetapi strain resisten dapat dihasilkan
melalui mutasi.
4). Suatu perubahan dari sensitifitas faga menjadi
resistensi faga atau sebaliknya. Sebagai contoh, suatu
mutasi pada reseptor bakteri untuk faga akan membuat
sel resisten terhadap infeksi.
5). Kehilangan atau memperoleh kembali komponen
struktural permukaan sel. Sebagai contoh, satu strain
Pneumococcus yang dapat menghasilkan kapsul
polisakarida, sedangkan strain lain tidak memiliki
kapsul.
Simbol yang digunakan untuk mewakili fenotip
dan genotip bakteri menggunakan peraturan sebagai
berikut:

208
1) Simbol fenotipik terdiri dari tiga huruf romawi
(huruf pertama ditulis huruf besar) dengan tanda
yang ditulis di atas “+” atau “-“ untuk
menandai ada atau tidaknya sifat yang
ditunjukan, dan “s” atau “r” untuk sensitifitas
dan resistensi.
2) Simbol genotipik merupakan huruf kecil dengan
semua komponen symbol dimiringkan. Contoh,
jika sel tersebut dapat mensintesis leusin
miliknya, fenotipenya disimbolkan Leu+.
Bahan yang memberi sifat fenotip dalam hal ini
adalah leusin disimbolkan Leu. Genotip untuk
leusin auksotrofik tersebut adalah leu atau
leu-, dan fenotipe dalam hal ini adalah Leu-
(tidak mampu tumbuh tanpa suplementasi
leusin).
Jika lebih dari satu gen yang dibutuhkan untuk
menghasilkan substansi, simbol tiga-huruf dapat
diikuti oleh huruf dimiringkan, seperti leuA,
leuB, dan sebagainya. Genotipe untuk resistensi
terhadap antibiotik obat penisilin adalah penr
atau pen-r; Penr menandakan fenotip. Pada

209
sebagian diploid, 2 rangkai haploid dipisahkan
dengan garis miring leu+/leuA-.
Secara genetik perbedaan pada anggota dari
spesies bakteri yang sama kadang-kadang
dikenal sebagai perbedaan strain jika
perbedaan tersebut kecil, atau sebagai
perbedaan varietas juka perbedaan tersebut
substansial. Contoh, sebagian besar penelitian
mengenai spesies E. coli. Strain ditandai dengan
penambahan suatu huruf besar yang tidak miring
atau nomor sesudah nama spesies, jadi E. coli B,
E. coli S, dan seterusnya.
Tiga besar yang terdapat pada strain E. coli
ialah: E. coli B (inang untuk faga seri T), E. coli
C (inang untuk faga (174 DNA rantai-tunggal),
dan E. coli K12 (mengandung profaga lambda).
Catatan tentang perbedaan dalam suatu strain
ditandai dengan penambahan nomor sesudah
huruf strain.

210
Temukan artikel terkait dengan fenotip dan genotip
bakteri, kemudia tuliskan informasi yang anda peroleh
pada kolom berikut!

211
1. Substansi genetic pada bakteri terdiri dari
kromosom, plasmid dan gen.
2. Kebanyakan gen prokariota terdapat pada
kromosom, yang terletak dalam suatu bagian
pusat sitoplasma, yang dinamakan daerah
nuklear atau nukleoid untuk membedakannya
dari membran-pengikat nukleus pada sel
eukariotik.
3. Gen/ kromosom bakteri terdapat dalam molekul
DNA tunggal (haploid). Berbentuk sirkuler,
panjangnya ± 1mm, beratnya 2-3% dari berat
kering satu sel, disusun sekitar 4 juta kpb DNA,
makromolekul yang sangat banyak ini dikemas
agar tidak berubah dalam bentuk superkoil.
4. Plasmid merupakan materi genetik di luar
kromosom (ekstra kromosomal). Tersebar luas
dalam populasi bakteri. Terdiri dari beberapa –

212
100 kpb, beratnya ± 1-3 % dari kromosom –
bakteri. Berada bebas dalam sitoplasma bakteri.
5. Berdasarkan analisis genetik terhadap organisasi
kromosom diungkapkan bahwa kromosombakteri
memiliki dinamika yang memungkinkan gen
berpindah, yaitu dalam insertion sequence dan
transposon.
6. Pertukaran materi genetic pada bakteri dapat
terjadi melalui transduksi, transformasi,
konyugasi, dan transposisi.

Tulis jawaban singkat dan tepat untuk setiap pertanyaan


pada kotak yang disediakan!
1. Jelaskan konsep supercoiled DNA pada kromosom
bakteri!

213
2. Apa perbedaan plasmid dengan kromosom pada
bakteri?

3. Apa peranan transposable material pada substansi


genetic bakteri?

4. Bagaimanakan mekanisme pertukaran materi genetic


dapat menyebabkan resistensi pada bakteri
nonresisten?

214
5. Prediksi kemungkinan yang dapat terjadi jika terjadi
mutasi genetic pada bakteri!

215
BAB VIII
KLASIFIKASI BAKTERI

Learning Outcomes:

1. Mahasiswa mampu memahami


klasifikasi bakteri (eubacteria,
archaebacteria)
2. Mahasiswa mampu membedakan
kedua domain prokaryot tersebut
3. Mahasiswa mampu menganalisis
contoh-contoh kedua domain prokaryot
tersebut
4. Mahasiswa mampu memperjelas
informasi tentang materi dengan
menggunakan artikel ilmiah sebagai
sumber belajar

Klasifikasi mikroba didasarkan pada sistem klasifikasi 6


kingdom, dengan 3 domain, sebagai berikut.

216
Ketiga domain di atas, dapat dibedakan sebagai berikut.
Tabel 10. Perbandingan Tiga Domain Makhluk Hidup

Dalam mengkaji klasifikasi bakteri, kita akan focus


dengan panduan Bergey’s Manual of Determinative
Bacteriology. Pengklasifikasian pada manual tersebut,
didasarkan pada karakteristik berikut:
1. Reaksi sel bakteri terhadap pewarnaan gram (tipe
dinding sel)

217
2. Morfologi sel  batang, kokus, dll

3. Kebutuhan oksigen  aerob, anaerob obligat,


anaerob fakultatif, dll
4. Pola nutrisi  kemoautotrof, fotoautotrof, dll
8.1 Kingdom Eubacteria/ Bacteria
Terdapat empat kelompok utama dalam kingdom ini:
1. gram negative
2. gram positif
3. Mycoplasma  tidak memiliki dinding sel
1. Bakteri Gram Negatif
A. Filum Cyanobacteria
Cyanobacteria, sering di Indonesiakan
sebagai sianobakteri atau sianobakteria mendapatkan
kebutuhan energinya melalui fotosintesis  menjadi
produsen primer di ekosistem akuatik
Nama "cyanobacteria" berasal dari warna bakteri
ini (bahasa Yunani: (kyanós) = biru). Mereka sering
disebut alga biru-hijau (tetapi beberapa mengklaim
bahwa penamaan itu salah, sianobakteri adalah

218
organisme prokariotik sedangkan alga seharusnya eukari
otik.
Dengan memproduksi gas oksigen sebagai hasil
sampingan fotosintesis, sianobakteri diperkirakan telah
mengubah atmosfer tipis pada awal
pembentukan bumi menjadi atmosfer yang teroksidasi.
Menurut teori endosimbiotik, kloroplas yang ditemukan
pada tumbuhan dan alga eukariotik adalah evolusi dari
leluhur cyanobacteria melalui endosimbiosis. Genus
representative dari filum ini adalah Oscilatoria

Gambar 8.1 Oscillatoria princeps


Kingdom: Bacteria
Phylum: Cyanobacteria
Class: Cyanophyceae
Order: Oscillatoriales

219
Family: Oscillatoriaceae
Genus: Oscillatoria
B. Filum Spirochetes  Gram negative, spiral
Spiroket (spirochete, spirochaeta) adalah bakteri gram-
negatif, motil, berbentuk ramping dan berlekuk-
lekuk. Bakteri ini banyak ditemukan di
dalam lingkungan akuatik dan hewan.
Sel spiroket tersusun atas protoplasma silinder
yang ditutup dengan membran dan dinding
sel. Bagian endoflagela dan protoplasma silinder akan
dibungkus dengan berlapis-lapis membran (multilayer)
yang bersifat fleksibel. Membran ini disebut sebagai
lapisan terluar (bahasa Inggris: outer sheat).
Treponema
 Treponema adalah golongan spirochetes yang
bersifat anaerobik dan merupakan parasit pada
manusia dan hewan (disebut juga bakteri
komensal).
 Contoh spesies Treponema adalah T. pallidum, T.
denticola, T. primita, T. azotonutricium, T.
saccharophilum, dan lainnya.

220
 T. pallidum merupakan penyebab penyakit sifilis.
Spesies ini berdiameter 0.2 µm, bersifat
mikroaerofil, dan memiliki sistem sitokrom.
 T. denticola merupakan salah satu bakteri
komensal pada rongga mulut manusia yang dapat
memfermentasikan asama
amino seperti sistein dan serin untuk
pembentukan asam asetat, CO2, NH3, dan H2S.
 T. saccharophilum dapat hidup pada organ
pencernaan ruminansia berupa rumen yang
bersifat anaerob. Bakteri ini berperan dalam
konversi polisakarida tanaman menjadi asam
lemak volatil sebagai sumber energi
hewan ruminansia.
 T. saccharophilum dapat
memfermentasi pektin, pati, inulin, dan
polisakarida tanaman lainnya.

221
Gambar 8.2 Treponema pallidum
Kingdom: Bacteria
Filum: Spirochaetae
Kelas: Spirochaetae
Ordo: Spirochaetales
Famili: Spirochaetaceae
Genus: Treponema
Spesies: T. pallidum

Borrelia
 Sebagian besar
spesies Borrelia merupakan patogen pada hewan
dan manusia. Salah satunya adalah B.
recurrentis yang menyebabkan demam kambuh
(relapsing fever) pada manusia.

222
 Penyakit ini ditularkan melalui bantuan vektor
berupa serangga seperi kutu di tubuh
manusia. Spesies B. burgdorferi juga diketahui
dapat menyebabkan penyakit Lyme yang
menginfeksi manusia dan hewan melalui
perantaraan kutu.
C. Filum Proteobacteria
Nama "Proteobacteria" diambil dari nama dewa
Yunani, Proteus, yang sanggup berganti-ganti rupa. Hal
ini disebabkan beragamnya bentuk anggota filum ini.
Anggotanya mencakup berbagai
bakteri patogen ternama,seperti Escherichia, Salmonella,
Vibrio, dan Helicobacter
Escherichia coli (jenis enteric  terdapat di
dalam saluran cerna hewan dan manusia)
 atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu
jenis spesies utama bakteri gram negatif.
 Ditemukan oleh Theodor Escherich,
umumny ditemukan dalam usus besar manusia.
 Kebanyakan E. Coli tidak berbahaya, tetapi
beberapa, seperti E. Coli tipe O157:H7, dapat
mengakibatkan keracunan makanan yang serius

223
pada manusia yaitu diare berdarah
karena eksotoksin yang dihasilkan
bernama verotoksin.
 Toksin ini bekerja dengan cara menghilangkan
satu basa adenin dari unit 28S rRNA, sehingga
menghentikan sintesis protein. Sumber bakteri ini
contohnya adalah daging yang belum masak,
seperti daging hamburger yang belum matang.
 E. Coli yang tidak berbahaya dapat
menguntungkan manusia dengan
memproduksi vitamin K2, atau dengan mencegah
bakteri lain di dalam usus.
 E. coli banyak digunakan dalam
teknologi rekayasa genetika. Biasa digunakan
sebagai vektor untuk menyisipkan gen-
gen tertentu yang diinginkan untuk
dikembangkan. E. coli dipilih karena
pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam
penanganannya.

224
Gambar 8.3 Escherichia coli
Domain: Bacteria
Filum: Proteobacteria
Kelas: Gammaproteobacteria
Ordo: Enterobacteriales
Famili: Enterobacteriaceae
Genus: Escherichia
Spesies: E. coli

Vibrio
 adalah salah satu jenis bakteri yang tergolong
dalam kelompok marine bacteria. Baktari ini
umumnya memiliki habitat alami di laut.

225
 Secara umum, bakteri vibrio bersifat aerob, tetapi
ada pula yang bersifat anaerob fakultatif. Selain
itu, vibrio juga bersifat motil karena
pergerakannya dikendalikan oleh flagela polar,
tergolong bakteri gram negatif dan berbentuk
batang yang melengkung (seperti tanda koma).

Gambar 8.4 Vibrio (Vibrio cholerae)


Domain: Bakteri
Kingdom: Bacteria
Filum: Proteobacteria
Kelas: Gamma Proteobacteria
Ordo: Vibrionales
Famili: Vibrionaceae
Genus: Vibrio

Genus lain dari filum proteobacteria:


226
Salmonella – menyebabkan keracunan makanan dan
demam tiphoid
Shigella – menyebabkan disentri
Klebsiella – mikrobiota normal di usus besar,
Serratia – menyebabkan infeksi nosocomial
Yersinia – menyebabkan Plague (Black Death)
Thiobacillus  genus bakteri kemoautotrof, mampu
mengoksidasi sulfur dan besi
Pseudomonas
Pseudomonas sp merupakan bakteri
hidrokarbonoklastik yang mampu mendegradasi
berbagai jenis hidrokarbon. Pseudomonas dimanfaatkan
dalam upaya bioremediasi lingkungan akibat
pencemaran hidrokarbon.

Gambar 8.5 Pseudomonas sp

227
Neisseria meningitidis
Merupakan bakteri gram negatif penyebab penyakit
meningitis dan meningocoocemia. Karakteristik dari N.
meningitidis adalah aerobik dan berbentuk diplokokus.

Gambar 8.6 Neisseria meningitidis


Rhizobium merupakan bakteri gram negative yang
mampu memfiksasi nitrogen bebas di udara.

D. Filum Chlamydias
Spesies yang paling dikenal adalah Chlamydia yang
merupakan penyebab STD (sexually transmitted disease)

228
Temukan artikel terkait klasifikasi bakteri gram negatif,
tuliskan informasi yang Anda peroleh pada kotak
berikut!

229
2. Bakteri Gram Positif
A. Filum Firmicutes
Firmicutes (bahasa Latin: firmus, kuat, dan cutis, kulit,
mengacu pada dinding sel) merupakan filum bakteri,
yang sebagian besar memiliki struktur dinding sel Gram-
positif.
Bacillus
 berbentuk batang (basilus)
 Spesies Bacillus dapat aerob obligat (bergantung
pada oksigen), atau anaerob fakultatif (memiliki
kemampuan untuk menjadi aerobik atau
anaerobik).
 Bacillus meliputi spesies yang hidup bebas
(nonparasitik) dan patogen parasitik. Dalam
kondisi lingkungan stres, bakteri dapat
menghasilkan endospora oval dan tetap dalam
keadaan tidak aktif untuk jangka waktu yang
lama

230
Gambar 8.7 Bacillus sp
Clostridium perfringens
 adalah spesies bakteri gram-positif yang dapat
membentuk spora dan menyebabkan keracunan
makanan.
 Beberapa karakteristik dari bakteri ini adalah
non-motil (tidak bergerak), sebagian besar
memiliki kapsul polisakarida, dan dapat
memproduksi asam dari laktosa.

Gambar 8.8 Clostridium perfringens

231
Mycobacterium
 Bakteri gram positif yang tidak membentuk spora
Mycoplasmas (tak punya dinding sel)
 Mycoplasma adalah genus bakteri yang tidak
memiliki dinding sel.
 Tanpa dinding sel, Mycoplasma tidak
terpengaruh oleh kebanyakan antibiotik biasa
seperti penisilin yang umumnya menyerang
sintesis dinding sel.
 Beberapa spesies dari genus ini
merupakan patogen bagi manusia, termasuk M.
pneumoniae, yang merupakan penyebab
utama pneumonia.
B. Filum Actinobacteria (bakteri dengan tipe
pertumbuhan menyerupai jamur)
Actinobacteria atau Actinomycetes adalah
kelompok bakteri Gram positif dengan nisbah G/C yang
tinggi.
Kelompok bakteri ini awalnya diklasifikasi
sebagai fungi (jamur, Mycota) karena ada anggotanya

232
yang membentuk berkas-berkas mirip hifa serta
menghasilkan antibiotik.
Ketika diketahui memiliki sejumlah ciri bakteri
(ukurannya kecil dan dapat diserang virus bakteriofag),
kelompok ini pernah dianggap bukan fungi maupun
bakteri. Baru setelah pengujian DNA dimungkinkan,
kelompok ini diketahui sebagai bakteri.
Streptomyces
 adalah bakteri gram positif yang
menghasilkan spora yang dapat ditemukan
di tanah.
 Merupakan bakteri ini nonmotil dan
berfilamen.
 Selain ditemukan pada tanah, bakteri ini juga
dapat ditemukan pada tumbuhan yang
membusuk.
 Streptomyces dikenal juga karena
memproduksi senyawa volatile yaitu
geosmin yang memiliki bau yang khas pada
tanah
 Menghasilkan antibiotic streptomycin.

233
Temukan artikel terkait klasifikasi bakteri gram positif,
tuliskan informasi yang Anda peroleh pada kotak
berikut!

234
8.2 Kingdom Archaebacteria (Archaea)
A. Filum Crenarchaeota
Mikroorganisme yang termasuk di
dalam filum ini tersebar di habitat yang sangat panas
atau sangat dingin seperti air mendidih dan air
beku. Semua Crenarchaeota yang berhasil dikultur
hingga saat ini merupakan mikroorganisme
hipertermofil yang tumbuh optimal pada suhu di atas
80 °C dan beberapa diantaranya memiliki suhu optimum
di atas titik didih air.
Sebagian besar Crenarchaeota hipertermofil
diisolasi dari tanah panas geotermal dan air yang
mengandung sulfur dan sulfida. Lingkungan terestrial,
sumber air panas kaya sulfur, lumpur mendidih, dan
tanah dengan suhu mencapai 100°C umumnya bersifat
sangat asam karena adanya oksidasi biologis H2S dan
S0 menghasilkan asam sulfat (H2SO4).
Lingkungan yang panas dan kaya sulfur tersebut
disebut sebagai solfataras, seperti yang terdapat
di Italia, Selandia Baru, dan Yellowstone National
Park, Wyoming, Amerika Serikat.

235
Gambar 8.9 Arkea yang tumbuh di air panas di Morning
Glory Hot Spring di Taman Nasional
Yellowstone menjadikannya berwarna terang

Crenarchaeota yang hidup di habitat dingin (atau


cold-dwelling Crenarchaeota) dapat diidentifikasi dari
sampel lingkungan non-termal. Crenarchaeota di
lingkungan perairan dapat ditemukan pada air dingin dan
laut es seperti yang terdapat di antartika.
Hampir semua spesies Crenarchaeota
hipertermofil merupakan bakteri anaerobik yang
melakukan metabolism secara
kemoorganotrof atau kemolitotrof.Golongan Crenarchae
ota termofil jarang melakukan fermentasi dan
mendapatkan energi dai respirasi anaerob.

236
Sulfolobus
 Spesies Sulfolobus tumbuh di mata air
vulkanik dengan pertumbuhan optimal terjadi
pada pH 2-3 dan suhu 75-80°C, membuat
mereka asidofili dan termofili. Sel-
sel Sulfolobus berbentuk tidak teratur
dan flagelar.
B. Filum Euryarchaeota
Euryarchaeota dapat hidup pada lingkungan
ekstrem. Contoh Euryarchaeota adalah
Archaea halofil ekstrem (haloarchaea), metanogen, dan
beberapa jenis archaea thermofilik dan asidofilik.
Haloarchaea dapat hidup di lingkungan berkadar
garam tinggi. Organisme yang tergolong dalam
kelompok ini membutuhkan setidaknya 9% NaCl untuk
tumbuh.Untuk pertumbuhan optimalnya, membutuhkan
12-23% NaCl, namun dapat tumbuh sampai dengan
kadar NaCl 32%.
Salah satu kelompok Euryarchaeota adalah
bakteri metanogen, yaitu mikroorganisme yang dapat

237
memproduksi metana sebagai bagian integral dari
metabolisme energinya, bersifat anaerob obligat
Berdasarkan keragaman karakter dinding selnya,
metanogen terbagi atas
Methanobacterium, Methanosarcina, Methanocaldococc
us, Methanoplanus,dan Methanospirillum. Bakteri meta
nogen sendiri dapat ditemui pada usus manusia.
Halobacterium salinarum
 merupakan arkaea ekstrem halofilik, yang artinya
dapat hidup pada kadar garam tinggi.
 Selain tahan terhadap kadar garam tinggi, mikrob
ini juga tahan terhadap radiasi kadar tinggi, dan
dapat tinggal dalam kristal garam selama ribuan
dan jutaan tahun.
 Arkaea ini banyak ditemukan pada ikan asin, salt
lake, dan kristal garam kuno.
 Mikrob ini akan berwarna merah atau pink pada
medium agar-agar karena mengandung
pigmen karotenoid
Methanobacterium
 Mampu menghasilkan gas methana

238
C. Filum Korarchaea
Anggota kelompok ini ditemukan di lingkungan
mata air panas, tetapi belum ada strain yang hingga saat
ini dapat diisolasi dalam kultur murni, jadi masih sedikit
yang diketahui tentang sifat-sifat fenotipnya.

Berdasarkan perbedaan fenotipnya, secara


umum, klasifikasi bakteri yang sudah diuraikan
sebelumnya dapat disimpulkan dalam table berikut.

239
240
241
242
Temukan artikel terkait dengan klasifikasi archaebacteri,
kemudian tuliskan informasi yang anda peroleh pada
kolom berikut!

243
1. Pengklasifikasian pada manual tersebut, didasarkan
pada karakteristik, yaitu; reaksi sel bakteri terhadap
pewarnaan gram (tipe dinding sel, morfologi sel,
kebutuhan oksigen, dan pola nutrisi.
2. Dalam sistem klasifikasi, bakteri dikaji dalam 2
kingdom, yaitu kingdom Eubachteria dan
Archaebacteri.
3. Kingdom Eubacteria terdiri dari 6 filum; Filum
Cyanobacteria, Filum Spirochetes, Filum
Proteobacteria, Filum Chlamydias, Filum
Firmicutes, dan Filum Actinobacteria.
4. Kingdom Archaebacteri dikelompokkan dalam 3
filum; Filum Crenarchaeota, Filum Euryarchaeota,
dan Filum Korarchaea

244
Tulis jawaban singkat dan tepat untuk setiap pertanyaan
pada kotak yang disediakan!

1. Jelaskan dasar pengklasifikasian bakteri menurut


Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology!

2. Identifikasi 3 contoh bakteri enteric gram negative


serta perannya!

245
3. Deskripsikan jenis bakteri gram negative yang
berperan dalam bioremediasi limbah hidrokarbon!

4. Jelaskan mengapa filum Actinobakteria memiliki


dualism nama yaitu Actinomycetes!

5. Jelaskan mengapa jenis-jenis bakteri pada kingdom


Archaebacteria dikatakan sebagai bakteri purba!?

246
BAB IX
JAMUR, ALGA, PROTOZOA, DAN VIRUS

Learning Outcomes:

1. Mahasiswa memahami karakteristik


jamur, alga, protozoa, dan virus sebagai
mikroorganisme
2. Mahasiswa menggali informasi
mengenai contoh-contoh
mikroorganisme yang tergolong jamur,
alga, protozoa, dan virus
3. Mahasiswa mampu memperjelas
informasi tentang materi dengan
menggunakan artikel ilmiah sebagai
sumber belajar

247
9.1 Jamur
Mycota (jamur) berasal dari kata mykes (bahasa
Yunani), disebut juga fungi (bahasa Latin). Ada
beberapa istilah yang dikenal untuk menyebut jamur,
(a) mushroom yaitu jamur yang dapat menghasilkan
badan buah besar, termasuk jamur yang dapat
dimakan,
(b) mold/ kapang yaitu jamur yang berbentuk seperti
benang-benang, dan
(c) yeast/ khamir yaitu jamur bersel satu.

Gambar 9.1 Bentuk Umum Ketiga Kelompok Jamur


Jamur merupakan jasad eukariot, yang berbentuk
benang atau sel tunggal, multiseluler atau uniseluler. Sel-
sel jamur tidak berklorofil, dinding sel tersusun dari
khitin, dan belum ada diferensiasi jaringan. Jamur
bersifat khemoorganoheterotrof karena memperoleh
energi dari oksidasi senyawa organik. Jamur

248
memerlukan oksigen untuk hidupnya (bersifat aerobik).
Habitat (tempat hidup) jamur terdapat pada air dan tanah.
Cara hidupnya bebas atau bersimbiosis, tumbuh sebagai
saprofit atau parasit pada tanaman, hewan dan manusia.
1. Karakteristik Kapang (Mold)
Jamur kapang terdiri atas massa benang yang
bercabang-cabang yang disebut miselium. Miselium
tersusun dari hifa (filamen) yang merupakan benang-
benang tunggal. Badan vegetatif jamur yang tersusun
dari filamen-filamen disebut thallus. Berdasarkan
fungsinya dibedakan dua macam hifa, yaitu hifa fertil
dan hifa vegetatif.
Hifa fertil adalah hifa yang dapat membentuk sel-
sel reproduksi atau spora-spora. Apabila hifa tersebut
arah pertumbuhannya keluar dari media disebut hifa
udara. Hifa vegetatif adalah hifa yang berfungsi untuk
menyerap makanan dari substrat. Berdasarkan bentuknya
dibedakan pula menjadi dua macam hifa, yaitu hifa tidak
bersepta dan hifa bersepta.
Hifa yang tidak bersepta merupakan ciri jamur
yang termasuk Phycomycetes (Jamur tingkat rendah).
Hifa ini merupakan sel yang memanjang, bercabang-

249
cabang, terdiri atas sitoplasma dengan banyak inti
(soenositik). Hifa yang bersepta merupakan ciri dari
jamur tingkat tinggi, atau yang termasuk Eumycetes.
Pengamatan makroskopik dan mikroskopik isolat
fungi dapat dilakukan dan perlu diketahui medium yang
digunakan untuk menumbuhkan fungi, umur isolat,
maupun suhu inkubasi. Pengamatan makroskopik koloni
kapang meliputi warna koloni, tekstur koloni, permukaan
koloni, growing zone/zona pertumbuhan ,zonasi, radial
furrow (garis dari pusat koloni ke tepi koloni,. Gambar 2
menunjukkan koloni Aspergillus sp dengan karakter
makroskopik koloni yaitu tekstur bergranula, ada zonasi,
dan growing zone/zona pertumbuhan.

Gambar 9.2 Skema Kenampakan Morfologi Koloni


Kapang

250
Gambar 9.3 Koloni Kapang dengan Dua Tekstur yang
Berbeda

Pengamatan mikroskopik meliputi spora


(bentuk,permukaan,warna,ukuran), vesikel, kolumela,
konidiofor, ataupun sporangiofor. Hasil pengamatan
makroskopik dan mikroskopik kapang dapat digunakan
untuk identifikasi kapang sampai tingkat genus.
Sedangkan penentuan sampai tingkat spesies masih
memerlukan karakter lain misalnya biokimiawi.
Yeast-like fungi (imperfect yeasts) bereproduksi
hanya secara aseksual. Identifikasinya didasarkan pada
kombinasi antara karakterstik morfologi dan biokimia.

251
Karakteristik morfologi dapat digunakan untuk
identifikasi sampai tigkat genus sedangkan karakteristik
biokimia dapat digunakan untuk membedakan berbagai
spesies.
Prosedur identifikasi yeast yang akan dibahas
dalam makalah ini adalah identifikasi konvensional
dengan karakteristik dasar yaitu karakter kultur, struktur
aseksual, struktur seksual, dan fisiologi. Karakteristik
kultur meliputi warna, bentuk, ukuran, dan tekstur
koloni. Struktur aseksual meliputi bentuk dan ukuran sel;
tipe budding (unipolar, bipolar, multipolar); keberadaan
arthroconidia, ballistoconidia, blastoconidia, clamp
connections, endoconidia, germ tubes, hyphae,
pseudohyphae, sporangia dan sporgangiospores.
Struktur seksual meliputi askospora atau
basidiospora (pengaturan, ornamentasi dinding selnya,
jumlah, bentuk dan ukuran). Karakteristik fisiologi
meliputi asimilasi, resistensi terhadap sikloheksamid,
fermentasi, penggunaan nitrogen, hidrolisis urea dan
studi suhu optimal.
Untuk mengidentifikasi kapang lebih diutamakan
pengujian sifat-sifat morfologinya, tetapi perlu juga

252
pengujian sifat-sifat fisiologi. Hal-hal yang perlu
diperhatikan pada pengamatan morfologi jamur benang
adalah:
1. Tipe hifa, bersepta atau tidak, jernih atau keruh, dan
berwarna atau tidak.
2. Tipe spora, seksual (oospora, zygospora, askospora,
atau basidiospora), aseksual (sporangiospora,
konidia, atau oidia)
3. Tipe badan buah, bentuk, ukuran, warna, letak spora
atau konidi. Bentuk sporangiofor / konidiofor,
kolumela / vesikula.
4. Bentukan khusus, misalnya adanya stolon, rhizoid,
sel kaki, apofisa, klamidospora, sklerosia, dan lain-
lain.

253
Gambar 9.4 Aspergillus sp
2. Karakteristik Khamir (Yeast)
Khamir atau disebut yeast, merupakan jamur
bersel satu yang mikroskopik, tidak berflagela. Beberapa
genera membentuk filamen (pseudomiselium). Cara
hidupnya sebagai saprofit dan parasit. Hidup di dalam
tanah atau debu di udara, tanah, daun-daun, nektar
bunga, permukaan buah-buahan, di tubuh serangga, dan
cairan yang mengandung gula seperti sirup, madu dan
lain-lain.
Khamir berbentuk bulat (speroid), elips, batang
atau silindris, seperti buah jeruk, sosis, dan lain-lain.

254
Bentuknya yang tetap dapat digunakan untuk
identifikasi.

Gambar 9.5 Sel Khamir


Perkembang biakan sel khamir dapat terjadi
secara vegetatif maupun secara generatif (seksual).
Secara vegetatif (aseksual),
(b) dengan cara bertunas (Candida sp., dan khamir
pada umumnya),
(c) pembelahan sel (Schizosaccharomyces sp.), dan
(d) membentuk spora aseksual (klas Ascomycetes).
Secara generatif dengan
carakonyugasi (reproduksi seksual).
Konyugasi khamir ada 3 macam, yaitu
(a) konyugasi isogami (Schizosaccharomyces
octosporus),
(b) konyugasi heterogami (Zygosaccharomyces
priorianus), dan

255
(c) konyugasi askospora pada Zygosaccharomyces sp.
dan Schizosaccharomyces sp. (sel vegetatif
haploid), serta pada Saccharomyces sp., dan
Saccharomycodes sp. (sel vegetatif diploid).

3. Karakteristik Anatomi Jamur


Karakter anatomi fungi dapat diketahui dengan
melakukan potongan thallus atau struktur yang lain
sehingga dapat diketahui berbagai informasi misalnya
pengaturan hifa, asci/basidia, struktur hifa, dll. Pada
tahun 1960-an ditemukan mikroskop elektron yang
mendukung pengamatan anatomi fungi antara lain
struktur dinding asci, ornamentasi spora, struktur internal
mitokondria, dll.
4. Karaktersitik biokimia jamur
Prosedur kromatografi, elektroforesis, dll dapat
digunakan untuk menentukan karakter biokimia fungi.
Yeast apabila hanya diketahui ciri morfologinya maka
sangat kurang sehinga perlu dilakukan tes asimilasi gula.
5. Klasifikasi jamur
Ada beberapa klasis jamur, yaitu Acrasiomycetes
(Jamur lendir selular), Myxomycetes (Jamur lendir

256
sejati), Phycomycetes (Jamur tingkat rendah), dan
Eumycetes (Jamur tingkat tinggi).
Eumycetes terdiri atas 3 klasis yaitu Ascomycetes,
Basidiomycetes, dan Deuteromycetes (Fungi imperfecti).

Temukan artikel terkait klasifikasi jamur, tuliskan


informasi yang Anda peroleh pada kotak berikut!

257
9.2 Algae
Di dunia mikrobia, algae termasuk eukariotik,
umumnya bersifat fotosintetik dengan pigmen
fotosintetik hijau (klorofil), coklat (fikosantin), biru
kehijauan (fikobilin), dan merah (fikoeritrin). Morfologi
algae ada yang berbentuk uniseluler, ada pula yang
multiseluler tetapi belum ada pembagian tugas pada sel-
sel komponennya. Algae dibedakan dari tumbuhan hanya
karena hal tersebut.
1. Morfologi algae
Algae uniseluler (mikroskopik) dapat betul-betul
berupa sel tunggal, atau tumbuh dalam bentuk rantaian
atau filamen. Ada beberapa jenis algae yang sel-selnya
membentuk koloni, misalnya pada Volvox, koloni
terbentuk dari 500-60.000 sel. Koloni-koloni inilah yang
dapat dilihat dengan mata biasa.

258
Algae multiseluler (makroskopik) mempunyai
ukuran besar, sehingga dapat dilihat dengan mata biasa.
Pada algae makroskopik biasanya mempunyai berbagai
macam struktur khusus. Beberapa jenis algae
mempunyai struktur yang disebut hold fast, yang mirip
dengan sistem perakaran pada tanaman, yang berfungsi
untuk menempelnya algae pada batuan atau substrat
tertentu, tetapi tidak dapat digunakan untuk menyerap air
atau nutrien.
Algae tidak memerlukan sistem transport nutrien
dan air, karena nutrien dan air dapat dipenuhi dari
seluruh sel algae. Struktur khusus yang lain adalah
bladder atau pengapung, yang berguna untuk
menempatkan algae pada posisi tepat untuk
mendapatkan cahaya maksimum. Tangkai atau batang
pada algae disebut stipe, yang berguna untuk mendukung
blade, yaitu bagian utama algae yang berfungsi
mengabsorbsi nutrien dan cahaya.
2. Habitat Algae
Habitat algae dapat berada di permukaan atau
dalam perairan (aquatik) maupun daratan (terestrial)
yang terkena sinar matahari, tetapi kebanyakan di

259
perairan. Algae terestrial dapat hidup di permukaan
tanah, batang kayu, dan lain-lain. Algae darat dapat
bersimbiose dengan jamur dan membentuk lumut kerak
(Lichenes).
Pada lichenes algae bertindak sebagai fikobion,
sedangkan jamur sebagai mikobion. Algae yang dapat
membentuk Lichenes adalah anggota dari Chlorophyta,
Xanthophyta, dan algae hijau biru (Cyanobacteria) yang
termasuk bakteri.
Fikobion memanfaatkan sinar matahari untuk
fotosintesa, sehingga dihasilkan bahan organik yang
dapat dimanfaatkan oleh mikobion. Mikobion
memberikan perlindungan dan berfungsi untuk menyerap
mineral bagi fikobion. Pada beberapa kasus mikobion
dapat menghasilkan faktor tumbuh yang dapat
dimanfaatkan oleh fikobion.
Lichenes sangat lambat pertumbuhannya, tetapi
dapat hidup pada tempat ekstrem yang tidak bisa
digunakan untuk tempat tumbuh jasad hidup lain.
Sebagai contoh Lichenes dapat tumbuh pada batuan
dengan keadaan yang sangat kering, panas dan miskin
unsur hara atau bahan organik. Lichenes menghasilkan

260
asam-asam organik yang dapat melarutkan mineral
batuan.
Algae laut mempunyai peranan yang sangat
penting di dalam siklus unsur-unsur di bumi, mengingat
jumlah massanya yang sangat banyak yang kemungkinan
lebih besar dari jumlah tumbuhan di daratan. Beberapa
algae laut bersel satu bersimbiosa dengan hewan
invertebrata tertentu yang hidup di laut, misalnya spon,
koral, cacing laut.
Kandungan beberapa pigmen fotosintetik pada
algae memberikan warna yang spesifik. Beberapa divisi
algae dinamakan berdasarkan warna tersebut, misalnya
algae hijau, algae merah dan algae coklat.
3. Pengelompokan algae
Berdasarkan tipe pigmen fotosintetik yang
dihasilkan, bahan cadangan makanan di dalam sel, dan
sifat morfologi sel, maka algae dikelompokkan menjadi
7 divisio utama, yaitu Chlorophyta, Euglenophyta,
Chrysophyta, Pyrrophyta, Rhodophyta, Phaeophyta, dan
Cryptophyta.

261
Gambar 9.6 Sargassum sp.sebagai salah satu contoh
Algae

Temukan artikel terkait klasifikasi alga, tuliskan


informasi yang Anda peroleh pada kotak berikut!

262
9.3 Protozoa
Seperti algae, protozoa merupakan kelompok lain
yang termasuk Protista eukariotik. Walaupun kadang-
kadang antara algae dan protozoa kurang jelas
perbedaannya. Beberapa organisme mempunyai sifat
antara algae dan protozoa.
Sebagai contoh algae hijau Euglenophyta, selnya
berflagela dan merupakan sel tunggal yang berklorofil,
tetapi dapat mengalami kehilangan klorofil dan
kemampuan untuk berfotosintesa. Semua spesies
Euglenophyta yang mampu hidup pada nutrien komplek
tanpa adanya cahaya, beberapa ilmuwan
memasukkannya ke dalam filum protozoa.

263
Misalnya strain mutan algae genus Chlamydomonas
yang tidak berklorofil, dapat dikelaskan sebagai protozoa
genus Polytoma. Hal ini sebagai contoh bagaimana
sulitnya membedakan dengan tegas antara algae dan
protozoa.
Protozoa dibedakan dari prokariot karena
ukurannya yang lebih besar, dan selnya eukariotik.
Protozoa dibedakan dari algae karena tidak berklorofil,
dibedakan dari jamur karena dapat bergerak aktif dan
tidak berdinding sel, serta dibedakan dari jamur lendir
karena tidak dapat membentuk badan buah.
1. Habitat Protozoa
Protozoa umumnya hidup bebas dan terdapat di
lautan, lingkungan air tawar, atau daratan. Beberapa
spesies bersifat parasitik, hidup pada organisme inang.
Inang protozoa yang bersifat parasit dapat berupa
organisme sederhana seperti algae, sampai vertebrata
yang kompleks, termasuk manusia. Beberapa spesies
dapat tumbuh di dalam tanah atau pada permukaan
tumbuh-tumbuhan. Semua protozoa memerlukan
kelembaban yang tinggi pada habitat apapun.

264
Beberapa jenis protozoa laut merupakan bagian
dari zooplankton. Protozoa laut yang lain hidup di dasar
laut. Spesies yang hidup di air tawar dapat berada di
danau, sungai, kolam, atau genangan air. Ada pula
protozoa yang tidak bersifat parasit yang hidup di dalam
usus termit atau di dalam rumen hewan ruminansia.
2. Morfologi Protozoa
Protozoa tidak mempunyai dinding sel, dan tidak
mengandung selulosa atau khitin seperti pada jamur dan
algae. Kebanyakan protozoa mempunyai bentuk spesifik,
yang ditandai dengan fleksibilitas ektoplasma yang ada
dalam membran sel. Beberapa jenis protozoa seperti
Foraminifera mempunyai kerangka luar sangat keras
yang tersusun dari Si dan Ca.
Beberapa protozoa seperti Difflugia, dapat
mengikat partikel mineral untuk membentuk kerangka
luar yang keras. Radiolarian dan Heliozoan dapat
menghasilkan skeleton. Kerangka luar yang keras ini
sering ditemukan dalam bentuk fosil. Kerangka luar
Foraminifera tersusun dari CaO2 sehingga koloninya
dalam waktu jutaan tahun dapat membentuk batuan
kapur.

265
Gambar 9.7 Beberapa contoh Protozoa
Semua protozoa mempunyai vakuola kontraktil.
Vakuola dapat berperan sebagai pompa untuk
mengeluarkan kelebihan air dari sel, atau untuk
mengatur tekanan osmosa. Jumlah dan letak vakuola
kontraktil berbeda pada setiap spesies. Protozoa dapat
berada dalam bentuk vegetatif (trophozoite), atau bentuk
istirahat yang disebut kista. Protozoa pada keadaan yang
tidak menguntungkan dapat membentuk kista untuk
mempertahankan hidupnya. Saat kista berada pada
keadaan yang menguntungkan, maka akan berkecambah
menjadi sel vegetatifnya.
Protozoa merupakan sel tunggal, yang dapat
bergerak secara khas menggunakan pseudopodia (kaki
palsu), flagela atau silia, namun ada yang tidak dapat
bergerak aktif.

266
Berdasarkan alat gerak yang dipunyai dan
mekanisme gerakan inilah protozoa dikelompokkan ke
dalam 4 kelas. Protozoa yang bergerak secara amoeboid
dikelompokkan ke dalam Sarcodina, yang bergerak
dengan flagela dimasukkan ke dalam Mastigophora,
yang bergerak dengan silia dikelompokkan ke dalam
Ciliophora, dan yang tidak dapat bergerak serat
merupakan parasit hewan maupun manusia
dikelompokkan ke dalam Sporozoa.
Mulai tahun 1980, oleh Commitee on
Systematics and Evolution of the Society of
Protozoologist, mengklasifikasikan protozoa menjadi 7
kelas baru, yaitu Sarcomastigophora, Ciliophora,
Acetospora, Apicomplexa, Microspora, Myxospora, dan
Labyrinthomorpha.
Pada klasifikasi yang baru ini, Sarcodina dan
Mastigophora digabung menjadi satu kelompok
Sarcomastigophora, dan Sporozoa karena anggotanya
sangat beragam, maka dipecah menjadi lima kelas.
Contoh protozoa yang termasuk Sarcomastigophora
adalah genera Monosiga, Bodo, Leishmania,
Trypanosoma, Giardia, Opalina, Amoeba, Entamoeba,

267
dan Difflugia. Anggota kelompok Ciliophora antara lain
genera Didinium, Tetrahymena, Paramaecium, dan
Stentor. Contoh protozoa kelompok Acetospora adalah
genera Paramyxa. Apicomplexa beranggotakan genera
Eimeria, Toxoplasma, Babesia, Theileria. Genera
Metchnikovella termasuk kelompok Microspora. Genera
Myxidium dan Kudoa adalah contoh anggota kelompok
Myxospora.

Temukan artikel terkait klasifikasi protozoa, tuliskan


informasi yang Anda peroleh pada kotak berikut!

268
9.4 Virus
Virus ukurannya sangat kecil dan dapat melalui
saringan (filter) bakteri. Ukuran virus umumnya 0,01-0,1
μ. Virus tidak dapat diendapkan dengan sentrifugasi
biasa. Untuk melihat virus diperlukan mikroskop
elektron.
Sifat-sifat virus yang penting antara lain:
1. Virus hanya mempunyai 1 macam asam nuklein
(RNA atau DNA)

269
2. Untuk reproduksinya hanya memerlukan asam
nuklein saja.
3. Virus tidak dapat tumbuh atau membelah diri seperti
mikrobia lainnya
Virus memiliki sifat-sifat khas dan tidak
merupakan jasad yang dapat berdiri sendiri. Virus
memperbanyak diri dalam sel jasad inang (parasit
obligat) dan menyebabkan sel-sel itu mati. Sel inang
adalah sel manusia, hewan, tumbuhan, atau pada jasad
renik yang lain. Sel jasad yang ditumpangi virus dan
mati itu akan mempengaruhi sel-sel sehat yang ada
didekatnya, dan karenanya dapat mengganggu seluruh
kompleks sel (becak-becak daun, becak-becak nekrotik
dan sebagainya.
4. Virus Tumbuhan
Virus tumbuhan pada umumnya masuk ke dalam
sel melalui luka, jadi tidak dapat menerobos secara aktif.
Sebagai tanda penyerangannya ialah adanya bercak-
bercak nekrotik di sekitar luka primer. Dalam alam virus
tumbuhan disebarkan dengan pertolongan hewan
serangga vektor atau dengan cara lain, misalnya tanaman
Cuscuta dengan haustorianya juga memindahkan virus

270
melalui sistem jaringan angkutannya (buluh-buluh
pengangkutan).
Virus tumbuhan yang telah banyak dipelajari adalah
TMV (Tobacco Mozaic Virus = Virus Mozaik
Tembakau). Bahan genetik virus ini ialah RNA.
Diskusikan dan gambarkan skema virus TMV!

5. Virus Hewan
Banyak jenis virus yang memperbanyak diri
terlebih dahulu di dalam tractus digestivus hewan-hewan
vektornya. Setelah masa inkubasi tertentu dapat
menyebabkan infeksi pada tumbuh-tumbuhan lagi. Virus

271
semacam itu dikenal sebagai virus yang persisten. Virus
yang nonpersisten dapat segera ditularkan dengan gigitan
(sengatan) serangga (hewan).
6. Bentuk Virus
Suatu virion terdiri atas bahan genetik (RNA atau
DNA) yang diselubungi oleh selubung protein. Selubung
protein ini disebut kapsid. Asan nuklein yang
diselubungi kapsid disebut nukleokapsid. Nukleokapsid
dapat telanjang misalnya pada TMV (Tobacco Mozaik
Virus yang menyebabkan penyakit becak daun),
Adenovirus dan virus kutil (Warzervirus); atau
diselubungi oleh suatu membran pembungkus misalnya
pada virus influenza, virus herpes. Kapsid terdiri atas
bagian-bagian yang disebut kapsomer (misalnya pada
TMV dapat terdiri atas hanya satu rantaian polipeptida,
juga dapat terdiri atas protein monomer-protein
monomer yang identik yang masing-masing terdiri atas
rantaian polipeptida). Pada dasarnya kapsid terdiri atas
banyak satuan-satuan dasar yang identik. Pada umumnya
kapsid tersusun simetris. Pada TMV (suatu virus yang
berbentuk batang) kapsomernya tersusun dalam bentuk
anak tangga uliran spiral. Bentuk dasar virus adalah yang

272
bulat, silindris, kubus, polihedral, seperti huruf T, dan
lain-lain.
Diskusikan dan gambarkan Skema komponen-komponen
virion (partikel virus yang lengkap)!

7. Bakteriophage (Virus yang Menyerang Bakteri)


Virus pada bakteri coli (T-phage) terdiri atas dua
bagian, yaitu bagian kepala yang berbentuk heksagonal
dan bagian ekornya. Bentuk demikian itu hanya dapat
dilihat pada pengamatan dengan mikroskop elektron.

273
Bagian kepala terdiri atas bagian utama yang bagian
pusatnya terdiri atas DNA; sedang bagian luarnya
merupakan selubung protein yang berfungsi sebagai
pelindung. Bagian ekornya berupa tubus yang
mempunyai sumbat, selain itu dilengkapi pula dengan
serabut ekor. Bakteri yang terserang bakteriofag akan
lisis.
Diskusikan dan gambarkan Skema komponen-komponen
Bacteriophage!

274
Untuk mendapatkan gambaran tentang siklus
hidup bakteriofag, perlu ditinjau tingkatan-tingkatan
yang terjadi pada waktu phage menyerang bakteri:
a. Pada permulaannya phage melekat dengan bagian
ekornya pada bagian tertentu dari sel (fase adsorpsi
phage pada sel) .
b. DNA phage dimasukkan ke dalam sel melalui tubus
ekornya, DNA phage merusak DNA bakteri sehingga
proses di dalam sel dikendalikan oleh DNA phage,
kemudian akan terbentuk protein (selubung) phage
dan DNA phage yang baru (fase perkembangan
phage).
c. Fase yang terakhir ialah keluarnya partikel-partikel
virus (bekteriophage) dari sel. Sel bakteri mengalami
lisis (bakteriolisis/ fase pembebasan phage).

275
Tabel 11. Kelompok Virus yang Penting

Ada beberapa virus yang ukurannya sangat kecil,


dan hanya tersusun dari beberapa asam nukleat saja.
Virus yang sangat sederhana ini disebut viroid. Sekarang
telah ditemukan juga jasad hidup yang susunan kimianya
hanya terdiri dari beberapa molekul protein, jasad ini
disebut prion.

Temukan artikel terkait dengan klasifikasi virus,


kemudian tuliskan informasi yang anda peroleh pada
kolom berikut!

276
277
1. Jamur kapang terdiri atas massa benang yang
bercabang-cabang yang disebut miselium. Miselium
tersusun dari hifa (filamen) yang merupakan benang-
benang tunggal. Badan vegetatif jamur yang tersusun
dari filamen-filamen disebut thallus. Berdasarkan
fungsinya dibedakan dua macam hifa, yaitu hifa fertil
dan hifa vegetatif.

2. Pengamatan mikroskopik pada kapang meliputi


spora (bentuk,permukaan,warna,ukuran), vesikel,
kolumela, konidiofor, ataupun sporangiofor. Hasil
pengamatan makroskopik dan mikroskopik kapang
dapat digunakan untuk identifikasi kapang sampai
tingkat genus. Sedangkan penentuan sampai tingkat
spesies masih memerlukan karakter lain misalnya
biokimiawi.

3. Khamir atau disebut yeast, merupakan jamur bersel


satu yang mikroskopik, tidak berflagela. Beberapa
genera membentuk filamen (pseudomiselium). Cara

278
hidupnya sebagai saprofit dan parasit. Hidup di
dalam tanah atau debu di udara, tanah, daun-daun,
nektar bunga, permukaan buah-buahan, di tubuh
serangga, dan cairan yang mengandung gula seperti
sirup, madu dan lain-lain.

4. Khamir berbentuk bulat (speroid), elips, batang atau


silindris, seperti buah jeruk, sosis, dan lain-lain.
Bentuknya yang tetap dapat digunakan untuk
identifikasi.

5. Algae termasuk eukariotik, umumnya bersifat


fotosintetik dengan pigmen fotosintetik hijau
(klorofil), coklat (fikosantin), biru kehijauan
(fikobilin), dan merah (fikoeritrin). Morfologi algae
ada yang berbentuk uniseluler, ada pula yang
multiseluler tetapi belum ada pembagian tugas pada
sel-sel komponennya.
6. protozoa merupakan kelompok lain yang termasuk
Protista eukariotik.
Protozoa dibedakan dari algae karena tidak
berklorofil, dibedakan dari jamur karena dapat
bergerak aktif dan tidak berdinding sel, serta

279
dibedakan dari jamur lendir karena tidak dapat
membentuk badan buah.
7. Virus ukurannya sangat kecil dan dapat melalui
saringan (filter) bakteri. Ukuran virus umumnya
0,01-0,1 μ. Virus tidak dapat diendapkan dengan
sentrifugasi biasa. Untuk melihat virus diperlukan
mikroskop elektron.

8. Sifat-sifat virus yang penting antara lain:

a. Virus hanya mempunyai 1 macam asam nuklein


(RNA atau DNA)

b. Untuk reproduksinya hanya memerlukan asam


nuklein saja

c. Virus tidak dapat tumbuh atau membelah diri


seperti mikrobia lainnya

Tulis jawaban singkat dan tepat untuk setiap pertanyaan


pada kotak yang disediakan!

280
1. Jelaskan perbedaan karakteristik kapang dan
khamir!

2. Jelaskan perbedaan karakteristik protozoa dan alga!

3. Identifikasi 3 contoh kapang dan khamir yang


tersebar di lingkungan!

281
4. Identifikasi 3 contoh protozoa dan algva yang
tersebar di lingkungan!

5. Jelaskan karakteristik virus sebagai makhluk hidup!

282
DAFTAR PUSTAKA

1. Irianto, Koes. 2007. Dasar-dasar Mikrobiologi


Jilid 1. Bandung. Yrama Widya.
2. Irianto, Koes. 2007. Dasar-dasar Mikrobiologi.
Jilid 2. Bandung. Yrama Widya.
3. Fardiaz. Tanpa Tahun. Mikrobiologi Pangan.-:-.
IPB. Mikrobiologi Pangan. 1989. IPB, Bogor.
4. Pelczar and Chan. 2014. Dasar-dasar
Mikrobiologi Jilid 1.Jakarta: UIP.
5. Pelczar and Chan. 2014. Dasar-dasar
Mikrobiologi Jilid 2. Jakarta: UIP.
6. Sumarsih, Sri. 2003. Diktat Mikrobiologi Dasar.
Yogyakarta
7. Waluyo, Lud. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM,
Malang.
8. Wikipedia Ensiklopedia Bebas. 2017.
https://id.wikipedia.org

283
GLOSARIUM

Actinomycetes: bakteri yang mirip dengan jamur atau


kelompok bakteri Gram positif.
Aerob: perkembangan atau hidup dalam lingkungan
yang mengandung udara bebas; sifat makhlk hidup yang
memerlukan udara untuk pertumbuhannya; lingkungan
yang banyak mengandung oksigen
Agar: derivat polisakarida dari rumput laut digunakan
sebagai bahan pemadat dalam medium bakteriologi.
AIDS: Acquired Immune Deficiency Syndrome (sindrom
defisiensi imunitas); sejenis penyakit yang di sebabkan
oleh virus HIV yang mengakibatkan seseorang
kehilangan kekebalan tubuh terhadap infeksi jamur,
parasit atau virus lainnya.
Anaerob: kemampuan hidup tanpa membutuhkan
oksigen; organisme yang hidup secara normal tanpa
membutuhkn oksigen
Antibiotik: senyawa yang dihasilkan oleh mikroba
untuk membunuh mikroba lain yang ada di sekitarnya
atau bahan kemoterapeutik yang terjadi sebagai produk
sampingan kegiatan metabolisme bakteri atau fungi.
Antisepsis: proses pengurangan jumlah mikroorganisme
pada kulit, selaput lendir atau jaringan tubuh lain
menggunakan anti mikroba.
Antiseptik: bahan kimia yang mencegah pertumbuhan
dengan menghambat pertumbuhan atau memusnahkan
mikroorganisme, digunakan untuk bagian tubuh pada
jaringan hidup terutama kulit.
Archaebakteria: bakteri yang dinding selnya tidak
mengandung peptidoklikan
Aseptis: suatu keadaan yang di dalamnya bebas dari

284
segala macam bentuk kehidupan (mikroorganisme) yang
dapat menginfeksi atau mengkontaminasi.
Asidofili: hidup subur pada lingkungan yang bersifat
asam
Atrik: bakteri yang tidak memiliki flagella
Autotrof: organisme yang dapat memproduksi bahan
organik dari bahan anorganik di alam/ organisme yang
dapat membuat makanan sendiri dengan bantuan energy
seperti energy cahaya matahari dan kimia.
Bakteri anaerob: bakteri yang dapat hidup tanpa
memerlukan oksigen dari udara bebas. Bakteri ini
mendapatkan energy dengan cara reduksi atau
merombak senyawa-senyawa yang telah jadi.
Bakteri fotoautotrof: bakteri yang dapat membuat
makanannya sendiri dengan menggunakan energy yang
berasal dari cahaya matahari atau melalui proses
fotosintesis
Bakteri gram negatif: bakteri yang dinding selnya
menyerap warna merah dan memiliki lapisan
peptioglikan yang tipis
Bakteri gram positif: bakteri yang dinding selnya
menyerap warna violet dan memiliki lapisan
peptidoglikan yang tebal
Bakteri kemoautotrof: bakteri yang dapat membuat
makanannya sendiri dengan menggunakan energi kimia
Bakteri autorof: bakteri yang dapat membuat makanan
sendiri dari senyawa organic
Bakteri/ kuman: mikroba yang dapat menimbulkan
penyakit dengan ukuran yang sangat kecil sehingga
tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Bakteriofag: virus yang hidup dalam sel bakteri/
menyerang bakteri.

285
Bakteriokhlorofil: suatu pigmen menyerupai klorofil
yang dimiliki bakteri fotosintetik.
Basil: kelompok bakteri yang memiliki sel berbentuk
dasar batang
Blade: bagian ganggang yang menyerupai daun
Cawan petri : wadah yang berbentuk bulat terbuat dari
kaca atau plastic yang digunakan untuk kultivasi bakteri
Denaturasi : pengubahan yang di lakukan melalui kerja
fisik atau kimiawi suatu struktur bahan organic yang
bertujuan untuk mengubah beberapa sifat substansi
tersebut
Diplobasil: bakteri berbentuk batang yang
bergandengan dua-dua
Diplokokus: bakteri berbentuk bulat yang bergandengan
dua dua
Disinfeksi: proses pemusnahan mikroorganisme patogen
dengan penggunaan disinfektan.
Disinfektan: bahan kimia yang memusnahkan
organisme penyakit.
Eubakteria: bakteri yang memiliki dinding sel yang
mengandung peptidoklikan
Eukariot: salah satu takson di dalam klasifikasi yang
beranggota organisme yang inti selnya di selubungi oleh
selaput; kelompok organism yang inti selnya memiliki
membran; makhluk yang selnya mengandung nucleus
yang jelas dari sitoplasma yang dipisahkan oleh
membrane
Fakultatif anaerob: organisme yang dapat
menggunakan oksigen bebas/aerob maupun secara
anaerob.
Fermentasi: peragian, proses pemecahan senyawa
organik energi menjadi zat antara oleh mikroba (bantuan

286
jamur) yang berlangsung dalam suasana anaerob dan
menghasilkan energi.
Flagella: bulu seperti cambuk yang merupakan alat
gerak mikroba (bakteri ataupun protozoa)
Fragmentasi: pemutusan sebagian tubuh organisme
Fungi: jamur,cendawan
Halofil: mikroorganisme yang hidup di tempat-tempat
dengan kadar garamnya tinggi (kadar garam 20%,
seperti danau Great, laut mati) dan bersifat anaerobik.
Heterotrof: organisme yang membutuhkan senyawa
organik di mana karbon diekstrak untuk
pertumbuhannya atau organisme tidak dapat membuat
makanan sendiri tapi mendapatkan makanannya dari
luar tubuh (sebagai komsumen)
Hifa: benang halus yang membentuk bagian vegetatif
jamur
Hold fast: ganggang multiseluler yang hidup menempel
pada batu dan akan membentuk struktur menyerupai
akar
Inkubasi: Pembiakan (kultivasi) bakteri dalam kondisi
yang menguntungkan bagi pertumbuhan atau pembiakan
bakteri yang dilakukan di dalam tabung atau cawan
petri.
Inokulasi: Pemindahan sel-sel mikroorganisme dari
biakan ke medium steril dengan jarum atau lingkaran
inokulasi yang steril.
Isolasi: memisahkan satu sel mikroorganisme dari
mikroorganisme lainnya dalam media untuk
menghasilkan satu koloni.
Jarum inokulasi: jarum yang digunakan untuk
memindahkan biakan untuk ditanam atau ditumbuhkan
di media baru.

287
Jarum ose: alat untuk memindahkan biakan bakteri
untuk ditanam atau ditambahkan pada media baru dan
ujung pada jarum berbentuk bulat.
Kapang/ mold: sejenis buluk cendawan bermiselium
halus, tidak memiliki badan buah khusus/ sejenis jamur
yang tumbuh dipermukaan roti.
Kapsul/ lapisan lendir: lapisan yang menyelubungi
dinding sel bakteri seluruhnya, dan merupakan suatu
hasil pertukaran zat. Lendir ini memberikan
perlindungan terhadap kekeringan
Kokobasil: bakteri yang berbentuk antara bulat dan
batang
Kokus: kelompok bakteri yang memiliki sel berbentuk
dasar bulat, bentuk Kokus dapat berupa Monokoki
(bulat tunggal), Diplokoki (berpasangan), Streptokoki
(rantai), Stafilokoki (bergerombol seperti anggur),
Sarsina (seperti kubus dengan 8 sel).
Koloni: suatu kumpulan organisme/mikroorganisme
Konjugasi: pemindahan materi gen dari suatu sel
bakteri ke sel bakteri lain secara langsung melalui
jembatan konjugasi (pili seks)
Kontaminasi: adanya organisme yang tidak
dikehendaki dalam biakan mikroba
Kultur murni: teknik pemeliharaan jaringan atau sel
bagian dari individu secara alami
Kultur/biakan: Pertanaman sel atau jaringan di
laboratorium atau pembudidayaan sel atau jaringan pada
medium buatan, umunya dilakukan pada medium agar
dalam tabung reaksi/ teknik perbanyakan sel atau
jaringan dengan cara mengisolasi eksplan.
Kurva pertumbuhan: representasi perubahan populasi
dalam biakan

288
Lisis (lysis): penghancuran atau pemecahan sel.
Lofotrik: bakteri yang memiliki banyak flagella salah
satu sisi sel
Medium/ media: substansi hara yang digunakan untuk
menumbuhkan mikroorganisme, substansi ini dapat
berupa medium padat maupun cair yang telah ditambahi
agar atau bahan untuk kultur bakteri, sel ataupun
jaringan.
Metanogen: mikroba yang di kenal dengan nama archae
dan hampir serupa dengan bakteri yang hidup pada
lingkungan kaya methane (ex: daerah rawa)
Mikologi: ilmu tentang seluk beluk kehidupan jamur
Mikotoksin: racun yang dihasilkan oleh cendawan
Mikroaerofilik: mikroorganisme yang hidup paling
baik dengan tekanan oksigen yang rendah.
Mikroba: organisme yang memiliki ukuran sangat kecil
sehingga hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop
Mikrobiologi: cabang ilmu biologi yang mempelajari
tentang organism kecil dan lingkungannya yang hidup di
seluruh tempat di permukaan maupun di perut bumi;
ilmu yang mempelajari tentang kehidupan mikroba
secara umum, baik yang memiliki sifat secara parasit
maupun yang berguna bagi kehidupan masyarakat
Mikroorganisma/ Mikroorganisme/ mikrob/
mikroba: organisme yang berukuran sangat kecil
sehingga untuk melihatnya menggunakan mikroskop
Miselium: kumpulan benang-benang hifa yang
menyusun tubuh jamur
Molds: jamur yang berbentuk seperti benang-benang
Monobasil: bakteri berbentuk batang tunggal
Monokokus: bakteri berbentuk bulat tunggal atau tidak
membentuk agregat

289
Monotrik: bakteri yang hanya memiliki satu flagella
Motil: dapat bergerak
Mushrooms: jamur yang dapat menghasilkan badan
buah besar, termasuk jamur yang dapat dimakan
Parasit: organisme yang tumbuh pada inang dan
mengambil makanannya dari inang
Pasteurisasi: cara membunuh mikroba dari makanan/
minuman dengan cara dipanaskan, kurang sedikit dari
100°C atau pada suhu yang cukup relatif rendah.
Patogen: organism yang bersifat menimbulkan
penyakit; sifat makhluk yang dapat menyebabkan
penyakit.
Penguncupan: suatu sel anak tumbuh dari penonjolan
kecil pada sel induknya
Penisilin: senyawa antibiotic yang dihasillkan oleh
Penicillium notatum dan Penicillium chrisogenum
Peptidoglikan: suatu polimer yang terdiri atas gula
yang berikatan dengan polipeptida pendek yang menjadi
komponen khas penyusun dinding sel bakteri
Peritrik: bakteri yang memiliki banyak flagella yang
tersebar di seluruh permukaan dinding sel
Pewarnaan (staining): teknik mewarnai yang bertujuan
untuk memperjelas sel bakteri dengan menempelkan zat
warna ke permukaan sel bakteri.
Pili: bulu getar, berfungsi sebagai alat untuk melekat
pada berbaagai permukaan
Plasmid: cincin DNA kecil dalam sitoplasma yang biasa
terpadat pada bakteri; plasmid sering digunakan dalam
percobaan-percobaan DNA rekombinan
Postulat Koch: empat kriteria yang dirumuskan Robert
Koch pada 1884 mengenai mikroba penyebab penyakit
dan diterbitkan pada tahun 1890.

290
Pour plate method/ metode tuang: prosedur yang
dilakukan untuk mendapatkan koloni terpisah pada
cawan agar hara.
Prokariota: organisme bersel tunggal yang memiliki
struktur sederhana, tidak memiliki sistem
endomembrane sehingga tidak memiliki organel
berselaput (mitokondria, alat golgi serta nucleus)
Pseudopodia: penjuluran sitoplasma yang terbentuk
saat bergerak untuk mendekati sumber makanan
Psikrofili: mikroorganisme yang memiliki kemampuan
tumbuh pada suhu di bawah 0 derajat Celsius dan tidak
dapat tubuh 20 derajat Celsius
Saprofit: hidup dari benda organik mati yang terlarut.
Sarkina: bakteri berbentuk bulat yang berkelompok
membentuk susunan kubus
Spread plate method/ metode sebar: teknik menanam
dengan menyebarkan suspensi bakteri di permukaan
agar supaya diperoleh kultur murni.
Stafilokokus: bakteri berbentuk bulat yang bergerombol
seperti buah anggur
Steril/ suci hama: sesuatu yang bebas dari mikroba
beserta sporanya baik itu barang, lingkungan dsb.
Sterilisasi: mematikan semua bentuk kehidupan dalam
daerah tertentu agar terbebas dari berbagai macam
kuman penyakit.
Stipe: bagian tubuh ganggang yang menyerupai
ganggang
Streak method inocultion/ inokulasi cara gores: biakan
yang digoreskan pada permukaan medium agar dengan
cara yang memisahkan organisme sehingga berkembang
koloni yang terisolasi
Streptobasil: bakteri berbentuk batang yang

291
bergandengan memanjang membentuk rantai
Termofilik: organisme/ mikroorganisme yang suhu
pertumbuhan optimumnya biasanya di atas 55°C atau
65°C.
Thermoacidophile: mikroorganisme yang hidup
ditempat yang suhunya tinggi (700C atau lebih) dan di
tempat yang pHnya rendah (di tempat yang asam) atau
konsentrasi belerang yang tinggi.
Transduksi: rekombinasi gen antara dua sel bakteri
dengan bantuan virus fag
Transformasi: rekombinasi gen yang terjadi melalui
pengambilan langsung sebagian materi gen dari bakteri
lain yang dilakukan oleh suatu sel bakteri
Tyndalisasi: Sterilisasi fraksi, pendekatan terhadap uap
panas selama 30 menit setiap hari selama 3 hari
berturut-turut untuk mematikan sel-sel vegetatif
Vaksin: produk yang mengandung antigen, yang terdiri
atas organisme pathogen yang dimatikan, organisme
hidup yang tidak vorulen (dilemahkan), atau eksotoksin
yang tidak diaktifkan (toksoid)
Vaksinasi: pemberian vaksin pada makhluk untuk
memberikan kekebalan terhadap penyakit
Virology: ilmu yang mempelajari tentang virus dan
penyakit-penyakit yang di sebabkan oleh virus
Virus: mikroorganisme yang dapat menimbulkan
penyakit dan tidak dapat dilihat dengan menggunakan
mikroskop biasa dan hanya dapat dilihat dengan
menggunakan mikroskop electron; mikroorganisme
yang memiliki ciri-ciri tersendiri yang tidak dimiliki
organisme lainnya
Virus bakteri: virus yang menginfeksi bakteri.
Virus DNA: virus yang mengandung DNA sebagai

292
bahan genetikanya.
Yeast/ khamir: ragi, fungi uniseluler yang beberapa
spesiesnya umum digunakan untuk membuat roti dan
fermentasi minuman beralkohol

293
INDEKS

A
Actinomycetes 232,246
Aerob 32,33,79,218
88,90,92,93,94,95,96,97,99,100,102,1
Agar
03,105
AIDS 283
Anaerob 32,33,34,79,80,94,218,220,226
Antibiotik 53,64,90,99,121,180,189
Antiseptik 154,179
AsidofilI 237
Autotrof 76,77
B
Bakteri gram negatif 43,53,71,218,228
Bakteri gram positif 43,52,53,71,200,230
Bakteriofag 121,195,199,202,206
Basil 206,230
Blade 259
C
Cawan petri 104
D
Denaturasi 155,164,179,183,184
Disinfeksi 143,153,154,155,184
Disinfektan 64,153,154,157,184
E
Eukariot 25,46,48,49,66,188,219
F
Fakultatif anaerob 33
Fermentasi 30,31,33,252

294
Flagella 47,59,128
Fragmentasi 128
Fungi 25,26,46,65,99,113,124,233,250
G
-
H
Halofil 237,238
Heterotrof 77,78,89,135
Hifa 125,126,233,249,253
Hold fast 259
I
Inkubasi 137,250,271
Inokulasi 115
Isolasi 35,95,109
J
-
K
Kapang 64,65,124,250,278
Kapsul 61,62,208
Koloni 97,113,114,206,250,258
Konjugasi 60,115,122,191,201
Kultur murni 87,109,239
Kurva pertumbuhan 135,137
L
-
M
Medium 75,83,87,90,93,94,95,99
Metanogen 237,238
Mikroaerofilik 80,221
Miselium 124,125,249,254,278

295
Motil 57,60,128,220,231
Mushroom 248
N
-
O
-
P
Parasit 42,78,230,249,254,264,265
Pasteurisasi 29,101,160,161
Patogen 78,121,160,161,206,222,223
Penguncupan 125
Penisilin 53,55,56,190,209,232
Peptidoglikan 47,51,52,53,65
Pewarnaan 217,244
Pili 59,60,189,200
Plasmid 49,56,57,189,190,200,203
Postulat Koch 35
Pseudopodia 266
Psikrofili 143
Q
-
R
-
S
Saprofit 78,249,254,279
Steril 29,30,81,100,101,104,110
Stipe 259
T
Termofilik 143,236

296
Transduksi 115,121,199,200,202,213
Transformasi 30,115,120,121,200,202,213
Tyndalisasi 162
U
-
V
Vaksin 154,168,178
Virologi 23
W
-
X
-
Y
Yeast 26,64,91,248,251,256,278
Z
-

297