Anda di halaman 1dari 22

PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA

DISUSUN OLEH :

1. Ridha Erlianti (016)


2. Rika Aprilia (010)
3. Rizky Nova Prasetya (013)

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN TATA BOGA


JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA (PKK)
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2019
P a g e | ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puja dan Puji syukur tercurahkan kepada Allah SWT.,


karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam juga selalu
tercurah untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Sehingga penulis dapat
menyusun dan menyelesaikan makalah mata kuliah Ilmu Kesejahteraan Keluarga
ini tepat pada waktunya.

Pada makalah kali ini, penulis mendapatkan materi Pendidikan


Kesejahteraan Keluarga. Penulis menyadari masih banyak kekurangan, baik dari
segi materi maupun penyajiannya karena memang ada hambatan yang penulis
hadapi dalam penyelesaian makalah ini, tetapi dengan semangat, kegigihan dan
bimbingan dari berbagai pihak serta mendapatkan referensi dari beberapa buku
maupun jurnal yang ada sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas makalah
ini dengan baik. Untuk itu saran dan kritik yang membangun senantiasa penulis
harapkan demi perbaikan penulisan dalam makalah selanjutnya. Kepada semua
pihak yang telah membantu, penulis mengucapkan terima kasih banyak, semoga
Allah SWT memberikan balasan yang setimpal.

Surabaya, 23 Agustus 2019

Tim Penulis
P a g e | iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. ii

DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

RINGKASAN ............................................................................................. iv

BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................................... 5

A. Latar Belakang ................................................................................ 5


B. Tujuan ............................................................................................. 6
C. Manfaat ........................................................................................... 6

BAB 2 KAJIAN TEORI DAN EMPIRIS ................................................... 7

1. Latar Belakang PKK ......................................................................... 8


2. PKK dalam Perspektif ...................................................................... 8
3. Fungsi PKK dalam Bidang Pendidikan ............................................ 18

BAB 3 STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN ......................................... 20

BAB 4 KESIMPULAN ............................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 22


P a g e | iv

RINGKASAN

Pendidikan merupakan salah satu unsur penting yang memiliki peran


dalam membentuk dan mengembangkan kualitas pribadi bangsa. Pendidikan
dapat mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi individu
dengan lingkungannya, baik secara formal, non formal maupun informasi, dalam
rangka mewujudkan dirinya sesuai dengan tahapan tugas perkembangannya
secara optimal, sehingga ia mencapai suatu taraf kedewasaan tertentu.

Pendidikan Kesejahteraan Keluarga adalah ilmu yang mempelajari tentang


kehidupan keluarga, hal-hal yang mempengaruhi kehidupan keluarga, serta cara-
cara memperbaiki kehidupan keluarga, menuju ke arah kesejahteraan keluarga.

Suatu keluarga dalam membina keluarga yang sejahtera tidak terlepas dari
PKK, karena dalam PKK memuat teori-teori menuju keluarga yang sejahtera
misalnya, cara membimbing anak, makanan, kesehatan dan lain-lain . Mengingat
manusia sebagai makhluk sosial, pada hakekatnya pelajaran PKK sangatlah
penting bagi kita, karena menyangkut tat cara hidup bermasyarakat, dan
bernegara.
Page |5

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan kebutuhan bagi manusia. Pendidikan selalu mengalahmi


perubahan, perkembangan dan perbaikan sesuai dengan bidang kehidupan. Upaya perubahan
dan perbaikan tersebut bertujuan membawa kualitas pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.

Kemajuan IPTEK saat ini telah mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat begitu
cepat tak terlepas kehidupan keluarga. Dalam hal ini pendidikan mempunyai peranan yang
sangat penting karena pendidikan berkaitan langsung dengan pembentukan karakter manusia.
Pendidikan mempunyai kewajiban meletakkan dasar-dasar karakteristik dari setiap manusia.
Dengan adanya Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kita dapat mempelajari dan
mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan keluarga mulai dari hubungan inter dan antar
keluarga, cara membimbing dan mengasuh anak, mengatur sandang pangan papan, mengatur
pola hidup sehat, mengatur keuangan, hingga menjaga keharmonisan dalam sebuah keluarga.
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) tidak telepas dari kegiatan pembelajaran yang
meliputi kegiatan melihat, mendengar, membaca, mengamati dan memahami sesuatu yang
dipelajari.

Langkah yang harus dilakukan oleh pelaku pendidikan adalah menyambung kembali
hubungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK)
mempunyai potensi dan peran ke arah itu, namun sementara ini potensi PKK belum
tergali secara optimal, sehingga banyak peluang bidang garapan PKK dimanfaatkan
pihak lain. Upaya untuk menggali potensi PKK, dengan cara mengenal jati dirinya dalam
berbagai perspektif, sehingga akhirnya dapat dipetakan potensi PKK dalam
membangun SDM berkualitas, dan sekaligus dicari solusi pengembangan PKK dalam
menyongsong masa depan.

Pendidikan kesejahteraan keluarga bukanlah jurusan yang populer, bahkan sangat


jauh dengan jurusan favorit. Hal tersebut karena sebagian besar orang beranggapan jurusan
PKK adalah hal yang sama dengan PKK yang seringkali mereka temukan di desa-desa.
Page |6

Padahal pendidikan kesejahteraan keluarga memiliki peranan penting dalam kehidupan


masyarakat. Pernahkah kita berpikir darimana orang sukses berasal? Tentu mereka berasal
dari sebuah keluarga. Lalu bagaimana keluarga tersebut mendidik anak-anaknya hingga
mencapai kesuksesan? inilah yang di pelajari oleh pendidikan kesejahteraan keluarga.

Pendidikan kesejahteraan keluarga berupaya untuk melahirkan generasi-generasi yang


sukses. Memang tidak menjamin untuk sukses secara materi, tetapi minimalnya PKK
berupaya menanamkan sifat-sifat dan karakter orang sukses.

PKK adalah salah satu jurusan yang ada di Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya
yang memiliki enam progam studi yaitu S1 Pendidikan Tata Boga, S1 Pendidikan Tata Rias,
S1 Pendidikan Tata Busana, S1 Gizi, D4 Tata Busana dan D4 Tata Boga. Jurusan PKK sesuai
dengan fungsi dan peranannya selain menghasilkan calon tenaga pendidik juga harus mampu
menghasilkan tenaga ahli dibidangnya sesuai dengan perkembangan IPTEK. Mahasiswa
jurusan PKK disiapkan dalam rangka meningkatkan efektivitas dan produktivitas serta
keprofesionalan dalam bidang tersebut, maka sebagai mahasiswa harus lebih menambah
wawasan dan pengetahuan tentang latar belakang pendidikan kesejahteraan serta fungsi
pendidikan kesejahteraan diberbagai lembaga pendidikan.

B. Tujuan

1. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Ilmu Kesejahteraan Keluarga


2. Mengetahui latar belakang Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
3. Mengetahui Fungsi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga di berbagai lembaga
pendidikan

C. Manfaat

1. Makalah ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan dan dapat menjadi
referensi untuk penelitian-penelitian yang releven di masa yang akan datang
2. Makalah ini diharapkan dapat digunakan untuk sarana acuan atau bacaan dalam
menambah wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan pendidikan
kesejahteraan keluarga
Page |7

3. Makalah ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah referensi sebagai bahan
informasi
4. Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan evaluasi terhadap
pendidikan kesejahteraan rakyat
Page |8

BAB 2
KAJIAN TEORI DAN EMPIRIS

1. Latar Belakang Pendidikan Kesejahteraan Keluarga

Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah proses yang berkaitan dengan


upaya mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup. Proses
pendidikan ini pada akhirnya harus mampu membentuk jati diri peserta didik melalui
klarifikasi nilai-nilai agar mampu membentuk diri mereka sehingga memiliki integritas
dan pendirian yang kuat. Langkah yang harus dilakukan untuk membangun sumberdaya
berkualitas yang mempunyai jati diri adalah menyambung kembali hubungan yang hampir
terputus antara lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga merupakan basis dari
ummah (bangsa), keadaan keluarga sangat menentukan keadaan ummah itu sendiri.
Bangsa terbaik (khyar ummah) yang merupakan ummah wahidah (bangsa yang satu) dan
ummah wasath (bangsa yang moderat). (Ajzumardi Azra, 2000)

PKK mempunyai potensi besar menyambung hubungan antara keluarga, sekolah dan
masyarakat, karena menyangkut pembinaan keluarga, wanita, pria dan anak-anak.
Namun sangat disayangkan sementara ini potensi PKK belum tergali secara optimal,
karena orang-orang PKK sendiri kurang memahami potensi yang dipunyainya.
Akibatnya banyak peluang bidang garapan PKK dimanfaatkan pihak lain. Hal ini
kalau terus dibiarkan PKK sendiri akan kehilangan jati dirinya, karena kalah bersaing
dalam bidangnya sendiri.

2. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dalam Perspektif

Menurut pada beberapa bacaan, pada akhir abad XIX adalah momentum penting
dibukanya kesempatan bagi kaum perempuan, karena pada masa itu bermunculan
sekolah kepandaian puteri, sekolah gadis, sekolah keibuan sebagai wadah pendidikan
perempuan. Dimulai dari daerah Jawa dan Sunda kemudian menyebar ke daerah-daerah
lain. Sekolah-sekolah ini pada dasarnya bertujuan untuk memperluas pandangan
perempuan dengan menekankan tugas yang mulia sebagai ibu dan istri. Hal ini dapat
diketahui dari kurikulum yang diberikan, yaitu:
Page |9

1. Pengetahuan dasar, membaca , menulis dan berhitung.


2. Pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan perannya sebagai istri dan ibu
yatu pekerjaan memasak, mencuci, menyetrika.
3. Tata karma
Pada sekolah lain diberikan kurikulum tambahan yaitu pelajaran bahasa asing, kesenian
dan agama ( Maria Ulfah dan Ihromi dalam Myra Diarsi, 1990).

Lekerker (1914) dalam Maria Ulfah Subandio (1986) mengemukakan tujuan


pendidikan untuk perempuan adalah membuka jalan bagi pendidikan anak,
mengembangkan sifat-sifat hemat, rapih dan teratur dalam rumahtangga dan membantu
mengurangi kelahiran banyak anak, merintangi poligami dan perkawinan satu pihak
yang tak diingini, menambah pengertian tentang kesehatan untuk mengurangi kematian
dan penyakit, menyenangkan suami, membuka jalan bagi kaum perempuan untuk
ikut serta dalam kemasyarakatan dengan menduduki jabatan.

Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (Home Economisc) dalam perspektif yang lebih


mendasar didefinisikan oleh American Home Economics Association (AHEA) sebagai
cabang ilmu pengetahuan dan pelayanan yang menitikberatkan pada kekuatan
kehidupan keluarga. Lulusannya dapat memberi kontribusi pada kehidupan keluarga
untuk meningkatkan kualitas hidupnya dan mempunyai kemampuan
5menggabungkan pendekatan intelektual dan personal untuk membantu anggota
keluarga dalam menghadapi perubahan-perubahan. Aspek kehidupan keluarga yang menjadi
perhatian Home Economic antara lain:
1. Hubungan keluarga dengan perkembangan anak.
2. Konsumsi dan aspek ekonomi dalam kehidupan keluarga.
3. Nutrisi, pemilihan, persiapan, dan penggunaanya.
4. Desain, pemilihan, pembuatan , perawatan pakaian dengan berbagai aspeknya.
5. Kebutuhan rumahtangga, perlengkapan dan perabotnya.
6. Seni sebagai bagian dari kehidupan keluarga.
7. Manajemen dalam menggunakan sumberdaya untuk mencapai tujuan keluarga.
(Frances J Parker, 1980).
P a g e | 10

Home Economic yang selanjutnya diterjemahkan menjadi Pendidikan


Kesejahteraan Keluarga adalah pendidikan yang mengantarkan seseorang kearah
keselamatan dan ketentraman dalam tata kehidupan dan penghidupan keluarga. Karena
itu dalam penerapannya perhatian terhadap ekosistem keluarga, yaitu hubungan timbal
balik antara keluarga dan alam, antara manusia dan lingkungannya, memegang peranan
penting, sehingga berdampak pada pembentukan fungsi internal dan eksternal
keluarga.

PKK sebagai cabang ilmu pengetahuan, menitikberatkan pada kekuatan kehidupan


keluarga. Lulusan PKK mempunyai kontribusi dalam memberi pendidikan tentang
kehidupan keluarga, melakukan penelitian tentang perubahan-perubahan pada keluarga
dan lingkungannya, dan memperkuat pendidikan untuk tenaga professional.
Sesungguhnya PKK telah menggambarkan apa yang ingin dicapainya. Arah pandangan
dasar PKK sejalan dengan arah pendidikan nasional, dimana peran pendidikan tidak
hanya dimaknai dalam konteks mikro yaitu kepentingan anak didik saja, melainkan
juga dalam konteks makro, yaitu kepentingan keluarga, masyarakat, bangsa bahkan
kemanusiaan pada umumnya.

Aspek-aspek yang tertuang dalam nilai dan tujuan PKK, memiliki perspektif yang
unik, karena integrasi aspek tersebut dapat memberi kontribusi bagi kehidupan keluarga
dan kehidupan individu. Berdasarkan landasan tersebut berkembanglah pendidikan
kesejahteraan keluarga dengan kajian 10 segi PKK yaitu :
1. Hubungan inter dan antar keluarga
2. Membimbing anak
3. Makanan
4. Pakaian
5. Kesehatan
6. Perumahan
7. Keuangan
8. Tata Laksana Rumah Tangga
9. Perencanaan Sehat
10. Keamanan lahir dan bathin.
P a g e | 11

* Corak atau bentuk kehidupan keluarga dalam menjalankan aktivitas tergantung dari dua
faktor, ialah :

1. Faktor Kebutuhan (needs) yang dirasakan oleh keluarga tersebut.

2. Faktor sumber (sources) material dan cultural yang dimiliki dan dapat digali untuk
mencapai tujuannya.

* Faktor lingkungan dalam kesejahteraan keluarga ada 2 golongan, yaitu :

1. Faktor lingkungan yang datang dari dalam, dimana faktor-faktor tersebut datang dari
keluarga sendiri. Misalnya sumber keluarga bertambah besar dari gaji,warisan, dan
sebagainya.

2. Faktor lingkungan yang datang dari luar, pengaruhnya faktor ini jelas terutama setelah
Indonesia lepas dari belenggu penjajahan. Misalnya kemajuan teknik di Indonesia (TV, dan
lain-lain.

* Kebutuhan keluarga dibagi menjadi 5 golongan :

1. Kebutuhan Jasmaniah

2. Kebutuhan Kecerdasan

3. Kebutuhan Rasa

4. Kebutuhan Rohaniah

5. Kebutuhan Kemasyarakatan, yang dibagi lagi dalam 3 kebutuhan yang dirasakan oleh 3
manusia :

a. Acceptance ialah keinginan untuk diakui sebagai sesama.

b. Affection ialah keinginan untuk disukai oleh sesama.

c. Achievement ialah keinginan untuk dihargai oleh sesama.


P a g e | 12

* Sumber-sumber dari keluarga dapat dibagi dalam 5 faktor :

1. Waktu

2. Uang dan Barang

3. Tenaga dan Ketangkasan/Pengetahuan

4. Hubungan Pribadi

5. Keluarga itu sendiri (faktor moril/faktor norma kehidupan)

Upaya Pengembangan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga untuk menyongsong


masa depan, Parker (1980) memberi prioritas untuk PKK yaitu :

1. Memikirkan dan merencanakan yang futuristik


2. Pembentukan kebijaksanaan publik
3. kreatif, untuk mengatasi perubahan dan ketidakpastian
4. Mendistribusikan sumberdaya
5. Hubungan/kerjasama.

Berdasarkan prioritas yang dicanangkan sejak beberapa dekade yang lalu, PKK telah
mencanangkan sebuah visi dan misi untuk menghadapi perubahan. Pendidikan akan
tetap relevan apabila mampu menghadapi perubahan.

Imam Barnadib (1986) mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan, teknologi,


industri sekarang ini berkembang dan dipengaruhi oleh kehidupan manusia, maka
pendidikan tidak dapat terhindar dari kenyataan akan adanya perkembangan dan perubahan.
Implementasi pendidikan di masa datang harus mengikuti standar dan tuntutan yang
ada, karena itu menurut Djohar (1999) pendidikan harus mampu menggerakan
kebangkitan intelektual peserta didik membangun kemandirian anak. membangun jati
diri anak dan pendidikan perlu dikembalikan pada hakekat dasarnya yakni untuk
kepentingan peserta didik.
P a g e | 13

Beberapa hal yang perlu dikembangkan agar potensi PKK dapat


dikembangkan yaitu :
1. Jurusan PKK yang sebagian besar menghasilkan guru dan pendidik
tingkat menengah harus senantiasa peka terhadap perubahan. Karena itu selain
menghasilkan SDM yang memiliki pengetahuan kognitif yang tinggi, tetapi perlu
dilengkapi dengan sikap dan perilaku inovatif, sehingga mampu menghasilkan lulusan
yang fleksibel, kreatif dan adaptip
2. PKK harus menjadi pelopor pembaharuan, karena itu aspek kognitif,
afektif, psikomotor dan kreativitas dalam pendidikan tetap mendapat prioritas yang tinggi.
Sumberdaya yang dihasilkan harus mampu memberi kontribusi bagi
pengembangan sumberdaya yang ada di masyarakat.
3. Sebagai pendidikan yang mempunyai perhatian terhadap perkembangan anak,
harus mampu membangun kemandirian anak dan membangun jati diri anak.
Pengembangan nilai-nilai positif yaitu kemauan keras, keinginan untuk maju dan
unggul, kreatif, efisien, arif dalam bermasyarakat, berpikir analistik sintetik, dan
bagaimana menciptakan sikap inovatif .
4.Sebagai pendidikan vocasional yang menjadi sandaran bagi aktivitas ekonomi bagi
pelakunya. PKK harus mempunyai sistem, struktur dan proses pendidikan yang
mendasarkan pada mekanisme pasar. Oleh karena itu, sistem dan struktur pendidikan
harus bersifat terbuka, sebagaimana layaknya kegiatan yang memiliki fungsi ekonomis.
5. PKK harus menjadi kekuatan utama dari perubahan-perubahan yang
terjadi di dalam masyarakat, karena itu harus meningkatkan penelitian-penelitian yang
terpadu dengan perkembangan teknologi.
6. Meningkatkan jalinan kerjasama, sehingga mengarah pada pendidikan
berwawasan global, karena networking menjadi bagian yang penting bagi kemajuan
pendidikan nasional atau internasional
7. Membangun kebijaksanaan publik, yang terkait dengan menciptakan image
yang baik di masyarakat, PKK tidak hanya diartikan dengan kegiatan para wanita yang
kurang pekerjaan.

Model PKK di Perguruan Tinggi sebuah Dinamika dalam Membangun Bangsa


Pendidikan Kesejahteraan keluarga, telah dikembangkan dengan berbagai persepsi sesuai
dengan kebutuhan. Masyarakat kita sedang mengalami perubahan, banyak terjadi proses
P a g e | 14

transformasi dari masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan, dari masyarakat


agraris ke masyarakat industri, dari mahluk sosial menjadi mahluk ekonomi. Keseluruhan
proses itu menyebabkan sebagian masyarakat mengalami disorientasi nilai. Dampaknya
hal ini juga menghinggapi dunia pendidikan kita. Adanya dinamika dalam pengembangan
PKK di Perguruan Tinggi nampaknya karena tantangan yang dihadapi berbeda. Dengan
tantangan yang berbeda diperlukan bentuk organisasi yang berbeda pula. Dengan
perubahan yang terjadi setiap institusi perlu merumuskan dengan tepat arah yang ingin
dituju. Dari berbagai pengembangan PKK saat ini, dapat diamati ada beberapa model atau
konsentrasi keahlian yaitu :
1. Pendidikan Tata Boga, dalam hal ini dikembangkan kompetensi perancangan dan
produk boga, analisis dan pengembangan produk boga dan manajemen jasa boga.
2. Pendidikan Tata Busana, dalam hal ini dikembangkan desain busana, pembuatan
pola busana, pembuatan busana, hiasan dan asesoris, manajemen usaha busana, dan
kewirausahaan.
3. Pendidikan Tata rias, dalam hal ini dikembangkan tata rias kulit, wajah,
rambut, penganin, dan tata rias karakter.
4. Ilmu Keluarga dan Konsumen, model ini dikembangkan oleh IPB dalam
hal ini dikembangkan tentang ilmu keluarga , konsumen dan ekosistem keluarga.

Beragamnya model yang ada saat ini merupakan kekayaan yang dapat saling
melengkapi dan berkompetisi membangun SDM yang berkualitas. Implikasi dari
penerapan berbagai model PKK ini perlu adanya penataan dan pengembangan agar PKK
selalu sesuai dengan jamannya. Hal yang perlu menjadi pertimbangan adalah
model PKK yang mengembangkan Competency Based Profesional Education (boga,
busana, rias) jangan lepas dari filosofinya, dan model PKK yang berkonsentrasi pada
ketahanan keluarga, seyogyanya memikirkan kompetensi lulusannya yang sesuai
dengan tuntutan, baik sebagai pendidik dalam ilmu-ilmu PKK, pekerja/konsultan dalam
PKK, bisnis, dan penelitian dalam ilmu PKK, sehingga peluang yang menjadi garapan PKK
bisa ditangani secara baik.

Selain Membahas tentang PKK, di sini juga dibahas beberapa Indikator


Keluarga Sejahtera pada dasarnya berangkat dari pokok pikiran yang terkandung didalam
undang-undang no. 10 Tahun 1992 disertai asumsi bahwa kesejahteraan merupakan variabel
P a g e | 15

komposit yang terdiri dari berbagai indikator yang spesifik dan operasional. Karena indikator
yang yang dipilih akan digunakan oleh kader di desa, yang pada umumnya tingkat
pendidikannya relatif rendah, untuk mengukur derajat kesejahteraan para anggotanya dan
sekaligus sebagai pegangan untuk melakukan melakukan intervensi, maka indikator tersebut
selain harus memiliki validitas yang tinggi, juga dirancang sedemikian rupa, sehingga cukup
sederhana dan secara operasional dapat di pahami dan dilakukan oleh masyarakat di desa.

Atas dasar pemikiran di atas, maka indikator dan kriteria keluarga sejahtera yang
ditetapkan adalah sebagai berikut :

a. Keluarga Pra Sejahtera

Keluarga pra sejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau
lebih dari 5 kebutuhan dasarnya (basic needs) Sebagai keluarga Sejahtera I, seperti kebutuhan
akan pengajaran agama, pangan, papan, sandang dan kesehatan.

b. Keluarga Sejahtera Tahap I

Keluarga sejahtera tahap I adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi


kebutuhan dasarnya secara minimal yaitu:

1. Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga.

2. Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 (dua) kali sehari atau lebih.

3. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah,


bekerja/sekolah dan bepergian.

4. Bagian yang terluas dari lantai rumah bukan dari tanah

5. Bila anak sakit atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa kesarana/petugas
kesehatan.

c. Keluarga Sejahtera tahap II

Keluarga sejahtera tahap II yaitu keluarga yang disamping telah dapat memenuhi
kriteria keluarga sejahtera I,
P a g e | 16

Harus pula memenuhi syarat sosial psykologis 1 sampai 9 yaitu :

1. Anggota Keluarga melaksanakan ibadah secara teratur

2. Paling kurang, sekali seminggu keluarga menyediakan daging/ikan/telur sebagai


lauk pauk.

3. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru per
tahun.

4. Luas lantai rumah paling kurang delapan meter persegi tiap penghuni rumah.

5. Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam keadaan sehat.

6. Paling kurang 1 (satu) orang anggota keluarga yang berumur 15 tahun keatas
mempunyai penghasilan tetap

7. Seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa membaca tulisan latin.

8. Seluruh anak berusia 5 - 15 tahun bersekolah pada saat ini.

9. Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga yang masih pasangan usia subur memakai
kontrasepsi (kecuali sedang hamil)

d. Keluarga Sejahtera Tahap III

Keluarga sejahtera tahap III yaitu keluarga yang memenuhi syarat 1 sampai 9 dan
dapat pula memenuhi syarat 1 sampai 7, syarat pengembangan keluarga yaitu:

1. Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama.

2. Sebagian dari penghasilan keluarga dapat disisihkan untuk tabungan keluarga untuk
tabungan keluarga.

3. Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan itu
dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.

4. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

5. Mengadakan rekreasi bersama diluar rumah paling kurang 1 kali/6 bulan.

6. Dapat memperoleh berita dari surat kabar/TV/majalah.


P a g e | 17

7. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi yang sesuai dengan


kondisi daerah setempat.

e. Keluarga Sejahtera Tahap III Plus

Keluarga yang dapat memenuhi kriteria diatas dan dapat pula memenuhi kriteria-
kriteria pengembangan keluarganya yaitu :

1. Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan
bagi kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk materiil.

2. Kepala Keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus


perkumpulan/yayasan/institusi masyarakat.

f. Keluarga Miskin.

Keluarga miskin adalah keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan KS - I karena
alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi :

a. Paling kurang sekali seminggu keluarga makan daging/ikan/telor.

b. Setahun terakhir seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel
pakaian baru.

c. Luas lantai rumah paling kurang 8 M2 untuk tiap penghuni.

g. Keluarga miskin sekali.

Keluarga miskin sekali adalah keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan KS - I
karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi :

a. Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 kali sehari atau lebih.

b. Anggota keluarga memiliki pakaian berbeda untuk dirumah, bekerja/sekolah dan


bepergian.

c. Bagian lantai yang terluas bukan dari tanah.


P a g e | 18

3. Fungsi PKK dalam bidang Pendidikan

1. Lembaga Pendidikan Informal

Pendidikan informal ialah pendidikan yang terjadi di lingkungan keluarga, dimana


keluarga merupakan wadah pertama kali seorang anak memperoleh didikan dan bimbingan
langsung oleh anggota keluarganya terutama orang tua. Anak akan lebih sering dan banyak
menerima asupan pendidikan di lingkungan keluarga, sehingga pendidikan informal ini
sangat diutamakan. Pendidikan di lingkungan keluarga inipun tidak mengenal ruang dan
waktu, bisa dilakukan kapan saja dan sampai kapanpun tanpa ada batasan usia. Dalam hal ini,
secara tidak langsung ilmu yang diperoleh dalam pendidikan kesejahteraan sangat berfungsi
untuk pendidikan informal bagi keluarga nantinya, karena dalam pendidikan kesejahteraan
keluarga akan mempelajari tentang kehidupan keluarga, hal-hal yang mempengaruhi
kehidupan keluarga, serta cara-cara memperbaiki kehidupan keluarga, menuju ke arah
kesejahteraan keluarga

2. Lembaga Pendidikan Formal

Pendidikan formal ialah sebuah lembaga pendidikan yang memiliki aturan-aturan,


teratur dan sistematis serta memiliki tingkat jenjang pendidikan yang dimulai dari tingkat SD
sampai dengan Perguruan Tinggi. Pendidikan formal ini memiliki batas usia yang berlaku
dari SD hingga SLTA. Wadah pendidikan ini ialah sekolah dan memiliki banyak perbedaan
dengan pendidikan yang diperoleh di lingkungan keluarga. Tentunya dalam pendidikan
kesejahteraan keluarga memiliki visi misi agar lulusannya bisa bekerja sebagai Guru ataupun
bidang lain yang kaitannya dengan keluarga.

Dalam pendidikan formal ini proses belajarnya diatur, tingkatan kelas yang berbeda-
beda, mengikuti aturan kurikulum, materi pelajaran bersifat intelektual, akademis dan
berkesinambungan serta memiliki anggaran atau biaya pendidikan yang ditentukan sesuai
dengan peraturan yang telah ditetapkan. Lembaga pendidikan yaitu pendidikan di sekolah ini
merupakan lanjutan dari pendidikan di lingkungan keluarga dan merupakan jembatan bagi
anak untuk terjun dalam kehidupan bermasyarakat.
P a g e | 19

3. Lembaga Pendidikan Non Formal

Lembaga non formal ini didapat atau diperoleh dari lingkungan masyarakat. Apa yang
terjadi di masyarakat merupakan pendidikan dan pembelajaran bagi setiap individu. Layanan
pendidikan di lingkungan masyarakat ini dibutuhkan warganya sebagai tambahan, pengganti
atau pelengkap dari pendidikan yang diperoleh di sekolah atau d rumah. Dalam pendidikan
kesejahteraan diharapkan lulusannya mampu terjun dalam kemasyarakatan karena dalam pkk
tidak hanya mempelajari tentang kekeluargaan tetapi juga tentang berhubungan sosial
masyarakat yang baik dan benar.
P a g e | 20

BAB 3

Studi Kasus

Kontribusi Ekonomi Produktif Wanita Nelayan terhadap Pendapatan Keluarga Nelayan

Oleh : Hendra Wawansyah, Iwang Gumilar, Ankiq Taofiqurrohman

Jurnal Perikanan Kelautan 3 (3), 2012

Penelitian dilaksanakan di Desa Juru Seberang, Kecamatan Tanjungpandan,


Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung pada bulan Maret 2012. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis rata-rata kontribusi pendapatan wanita nelayan yang bekerja
pada bidang perikanan terhadap pendapatan keluarga nelayan, rata-rata curahan waktu anita
nelayan pada kegiatan produktif, domestik, dan sosial serta pengambilan keputusan dalam
keluarga. Metode penelitan yang digunakan adalah metode studi kasus dengan unit analisis
wanita nelayan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dari sampel
yang dipilih secara sengaja. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini dianalisis dengan
menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi
pendapatan wanita nelayan berpengaruh cukup besar yaitu sebesar 39,45 persen terhadap
pendapatan keluarga. Curahan waktu tertinggi wanita nelayan adalah pada kegiatan produktif
yaitu selama 5,35 jam dan pengambilan keputusan urusan rumah tangga didominasi oleh
wanita nelayan.
P a g e | 21

BAB 4

KESIMPULAN

Pendidikan Kesejahteraan Keluarga merupakan materi yang mengajarkan tentang


ilmu-ilmu keluarga yang terstruktur dan bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan
masyarakat. Tujuan mempelajari ilmu Kesejahteraan Keluarga yaitu untuk membangun
keluarga yang sejahtera dapat mengembangkan kemampuan sehingga dapat berkarya dan
meningkatkan kualitas pendidikan di dalam keluarga. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
berperan penting guna mengantarkan masyarakat dalam membina keluarga yang sejahtera
lahir dan batin.
P a g e | 22

DAFTAR PUSTAKA

Komariah, Kokom. .Potensi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga pada Pengembangan


Sumber Daya Manusia Berkualitas dalam Kehidupan Masyarakat, Bangsa dan Negara.
Retrieved from
http://staffnew.uny.ac.id/upload/131405892/penelitian/4.++Potensi+PKK+pada+Pengembang
an+SDM.pdf.

Djohar, M.S. 1999. Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia; sebuah
Rekonstruksi Pemikiran Prof. Dr. Djohar, MS. Yogyakarta: IKIP Negeri Yogyakarta.

Kelompok Kerja Pengkajian dan Perumusan Filosofi, Kebijakan dan Srtategi Pendidikan
Nasional. (2000) Filosofi, Kebijakan dan Stategi Pendidikan Nasional. Indonesia :
DEPDIKNAS.

Maria Ulfah Subandio .1986. Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia. Yogyakarta:
GAMA Press

Myra Diarsi. 1990. Ideologi Gender dalam Pendidikan. Jakarta: Pusat Pengembangan
Sumberdaya Wanita.

Parker. J Frances. 1985. Home Economics an Introduction to a Dynamic Profession.New


York : Macmilan Publishing Co., Inc

Sri Wening. (2207) Pembentukan Karakter Remaja Awal Melalui Pendidikan Nilai yang
Terkandung dalam Pendidikan Konsumen. Desertasi . Yogyakarta : UNY

Sugito. 1994. Interaksi dalam Keluarga sebagai Dasar Pengembangan Kepribadian Anak.
Jurnal Cakrawala Pendidikan Yogyakarta: IKIP Yogyakarta

Suyanto. 2006. Dinamika Pendidikan Nasional. Jakarta : Pusat Studi Muhamadiyah