100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
267 tayangan8 halaman

Praktikum Vi (Tor)

Praktikum ini bertujuan menentukan karakteristik waktu tripping thermal overload relay. Thermal overload relay bekerja berdasarkan pemanasan yang dihasilkan arus lebih besar dari nominal. Semakin besar arus, semakin cepat waktu trippingnya karena pemanasan semakin tinggi dan mempengaruhi pembengkokan bimetal. Hasilnya menunjukkan waktu tripping berbanding terbalik dengan besar arus dan grafik karakteristiknya bukan garis linier

Diunggah oleh

wanda
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
267 tayangan8 halaman

Praktikum Vi (Tor)

Praktikum ini bertujuan menentukan karakteristik waktu tripping thermal overload relay. Thermal overload relay bekerja berdasarkan pemanasan yang dihasilkan arus lebih besar dari nominal. Semakin besar arus, semakin cepat waktu trippingnya karena pemanasan semakin tinggi dan mempengaruhi pembengkokan bimetal. Hasilnya menunjukkan waktu tripping berbanding terbalik dengan besar arus dan grafik karakteristiknya bukan garis linier

Diunggah oleh

wanda
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRAKTIKUM I

THERMAL OVERLOAD RELAY

1.1 Tujuan Percobaan


Setelah melaksanakan praktikum mahasiswa diharapkan dapat:
Menentukan karakteristik waktu tripping (lepas) thermal overload relay
(TOR).

1.2 Teori Dasar


Thermal overload relay (TOR) adalah suatu alat pengaman peralatan listrik
terhadap arus beban lebih dimaksudkan untuk melindungi motor dan
perlengkapan kendali motor, terhadap pemanasan berlebihan sebagai akibat beban
lebih atau sebagai akibat motor tak dapat diasut. Thermal overload relay banyak
digunakan sebagai pelindung motor-motor listrik, karena Thermal overload relay
memiliki tingkat proteksi yang lebih tinggi dibanding dengan alat serupa. Selain
itu thermal overload relay juga lebih ekonomis dibandingkan pengaman yang
lainnya.
Beberapa penyebab terjadinya beban lebih antara lain:
1) Arus start yang tertalu besar atau motor listrik berhenti secara mendadak
2) Terjadinya hubung singkat
3) Terbukanya salah satu fasa dari motor listrik 3 fasa.

1.2.1 Prinsip Kerja Thermal Overload Relay (TOR)


Pengaman TOR bekerja berdasarkan prinsip panas yang ditimbulkan
oleh adanya arus listrik yang melebihi batas harga nominalnya. Energy panas
kemudian diubah menjadi energy mekanik oleh logam bimetal untuk melepas
kontak-kontaknya, dengan terlepasnya kontak-kontak akibat arus yang
mengalir melebihi harga nominalnya, maka suatu rangkaian listrik akan
terbuka (terputus), sehingga peralatan listrik yang ada akan terlindungi dari
kerusakan akibat adanya arus lebih.
Gambar 1.1 Kurva Karakteristik TOR

Thermal overload yang bekerja dengan pemutus bimetal akan bekerja


sesuai dengan arus yang mengalir, arus yang mengalir akan menyebabkan
panas , semakin besar perubahan arus maka akan semakin tinggi kenaikan
temperatur yang mnyebabkan terjadinya pembengkokan, dan akan terjadi
pemutusan arus, sehingga rangkaian akan terputus. Jenis pemutus bimetal ada
jenis satu fasa dan ada jenis tiga fasa terdiri atas bimetal yang terpisah tetapi
saling terhubung, berguna untuk memutuskan semua fasa apabila terjadi
kelebihan beban. Pemutusan bimetal satu fasa digunakan untuk pengaman
beban lebih pada rangkaian daya kecil.

1.3 Alat dan Bahan


1. Power supply AC 220 Volt 1 buah
2. Power supply DC 10 A 1 buah
3. Thermal overload relay (220 V, 1-1,6 A) 1 buah
4. Ampermeter 1 buah
5. Stop watch 1 buah
6. Kontaktor 220 Volt 1 buah
7. Voltmeter 1 buah
8. Kabel penghubung secukupnya
1.4 Aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) akan bahaya listrik di laboratorium
pada dasarnya menyangkut semua unsur yang terkait dengan fasilitas
kerja/praktek di laboratorium, baik subyek yang melakukan aktifitas kerja/praktek
yaitu dosen dan mahasiswa, obyek (material) praktek maupun lingkungannya.
Tujuan dari keselamatan kerja listrik adalah untuk melindungi orang dalam
melaksanakan praktikan atau adanya tegangan listrik disekitar, baik dalam bentuk
instalasi maupun jaringan. Adapun beberapa faktor yang dapat menyebabkan
potensi bahaya, yaitu :
1. Faktor Manusia
2. Faktor Lingkungan
3. Faktor Peralatan

1.4.1 Potensi Bahaya


Sebelum melakukan kegiatan praktikum, sebaiknya praktikan harus
mengenali kemungkinan-kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya
terhadap kesehatan dan keselamatan kerja, adapun potensi bahaya yang dapat
muncul di laboratorium, antara lain :
1. Kecerobohan praktikan dalam merangkai rangkaian.
2. Tidak menaati tata tertib dalam praktikum laboratorium.
3. Kalau pengaturan arus terlalu jauh dari arus nominal pada Power supply
DC yang berperan sebagai beban, maka TOR tidak akan maksimal
mengamankan beban tersebut.
4. Kalau pengaturan besar tegangan diatas 220 Volt untuk Power supply
DC yang berperan sebagai beban, maka lampu yang berfungsi sebagai
indicator akan meledak atau rusak.
5. Tidak berhati-hatinya praktikan dalam menggunakan peralatan listrik.
6. Kabel atau hantaran pada instalasi listrik terbuka dan apabila tersentuh
akan menimbulkan bahaya kejut.
7. Jaringan dengan hantaran telanjang.
8. Peralatan listrik yang rusak.
9. Kebocoran listrik pada peralatan listrik dengan rangka dari logam,
apabila terjadi kebocoran arus dapat menimbulkan tegangan pada rangka
atau body.
10. Peralatan atau hubungan listrik yang dibiarkan terbuka.
11. Penggantian kawat sekring yang tidak sesuai dengan kapasitasnya
sehingga dapat menimbulkan bahaya kebakaran.
12. Penyambungan peralatan listrik pada kotak kontak dengan kontak tusuk
lebih dari satu tumpukan.

1.4.2 Antisipasi
Adapun tindakan-tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi suatu
keadaan yang darurat/bahaya, antara lain :
1. Sebelum mengetes rangkaian, pastikan periksa terlebih dahulu sumber
tegangan dan juga perlihatkan terlebih dahulu kepembimbing.
2. Taati peraturan yang ada, seperti menggunakan Safety Shoes dan baju
Lab.
3. Pengaturan arus terhadap Power supply DC yang berperan sebagai beban
sebaiknya tidak memiliki jarak yang jauh terhadap arus nominalnya.
4. Pengaturan besar tegangan tidak melewati 220 Volt untuk Power supply
DC yang berperan sebagai beban.
5. Peralatan yang rusak harus segera diganti atau diperbaiki.
6. Bagian yang bertegangan harus ditutup dan tidak boleh disentuh.
7. Memperhatikan isolator setiap perkakas alat listrik
8. Memperhatikan rangkaian kontrol jangan sampai ada kabel terbuka yang
mengakibatkan arus bocor.
1.5 Rangkaian Percobaan
ACC 220 V

A1
1 3 5
K
A2
2 4 6

P.S. DC

95 97

96 98

Gambar 1.2 Diagram Rangkaian


Keterangan :

= Simbol kontaktor

= P.S. DC Variable

= Lampu indikator
A = Alat pengukur arus (Amperemeter)

1.6 Prosedur Percobaan


1. Rangkailah sesuai diagram rangkaian seperti Gambar 1.2. reset over
current relay diatur pada kedudukan minimal 1 A.
2. “On” kan power supply AC, perhatikan bagaimana kontaktor bekerja.
3. “On” kan power supply DC, atur tegangan DC sehingga diperoleh arus
sesuai Tabel 1.1. catat waktu tripping dan berikan keterangan jika
diperlukan.
Catatan: Langkah 3 merupakan percobaan untuk menguji karakteristik
dingin, sehingga thermal overload relay harus didinginkan terlebih dahulu
sebelum dicoba pada harga arus berikutnya.
1.7 Tabel Hasil Pengukuran
1.7.1 Dokumentasi

Gambar 1.3 Dokumentasi

1.7.2 Hasil Percobaan Karakteristik TOR


Tabel 1.1 Data hasil percobaan karakteristik TOR (Iset : 1,2 A)
No. IL (A) TL (s) V (Volt)
1. 1,5 06.20 125,8
2. 1,6 03.38 145,6
3. 1,75 01.51 163,8
4. 1,8 01.32 173
5. 2 01.05 208

7
6
5
4
3 TL (s)
2
1
0
1.5 1.6 1.75 1.8 2

Gambar 1.4 Grafik Karakteristik waktu tripping TOR


1.8 Analisis
Adapun analisa yang didapatkan setelah melakukan praktikum Thermal
Overload Relay, bahwa :
1. Besarnya arus yang mengalir mempengaruhi waktu pemutusan dari
pengaman Thermal Overload Relay, yang dapat dikatakan bahwa arus yang
mengalir berbanding terbalik dengan waktu pemutusan dari Thermal
Overload Relay. Yaitu, semakin besar arus yang mengalir atau pengaturan
arus yang terlalu jauh dari arus nominalnya, maka semakin cepat waktu yang
dibutuhkan TOR untuk trip, karena semakin besar arus maka semakin tinggi
kenaikan temperaturenya. Begitupun sebaliknya, semakin kecil arus yang
mengalir maka trip/pemutusan semakin lama. Kenaikan temperature tersebut
diakibatkan oleh arus listrik sesuai dengan persamaan panas = I2. R.t.
sehingga, menyebabkan semakin cepatnya pembengkokan bimetal, yang
menyebabkan pemutusan arus yang semakin cepat juga
2. Berdasarkan data hasil percobaan pada tabel 1.1. terdapat perbandingan, yaitu
pada percobaan 1 dan 2 memiliki jarak waktu kurang lebih 4 menit dan pada
percobaan 2 dan 3 memiliki jarak waktu kurang lebih 2 menit, dan pada
percobaan 3 – 5 hanya memiliki jarak waktu dalam hitungan detik.
Berdasarkan dari data hasil percobaan pada tabel 1.1, maka didapatkan grafik
karakteristik yang dapat dilihat pada gambar 1.4. Dari gambar tersebut dapat
dilihat dimana grafik karakteristik TOR merupakan garis lengkung dan bukan
garis linier, hal tersebut disebabkan karena setiap perubahan arus tada TOR,
akan mempengaruhi cepat atau lambatnya pemutusan, karena perubahan arus
terhadap lamanya pemutusan yang tidak konstan perubahannya

1.9 Kesimpulan
Setelah melaksanakan praktikum Thermal Overload Relay , maka dapat
disimpulkan bahwa :
3. Thermal Overload Relay bekerja berdasarkan panas yang ditimbulkan akibat
adanya arus listrik yang melebihi batas harga nominalnya. semakin besar
perubahan arus maka akan semakin tinggi kenaikan temperatur yang
menyebabkan terjadinya pembengkokan bimetal, dan semakin cepat
terjadinya pemutusan arus (trip) yang sesuai dengan grafik karakteristik
thermal overload relay merupakan garis lengkung dan bukan garis linier yang
terjadi karena perubahan arus terhadap lamanya pemutusan yang tidak
konstan perubahannya

Anda mungkin juga menyukai