Anda di halaman 1dari 45

JARINGAN PENGUKURAN HUJAN,

HUJAN KAWASAN, PERBAIKAN


DATA HUJAN
JARINGAN PENGUKURAN HUJAN
Perencanaan jaringan stasiun pengukuran hujan adalah sangat penting
di dalam hidrologi karena jaringan tersebut akan memberikan
besarnya (takaran/jumlah) hujan yang jatuh di DAS. Data hujan yang
diperoleh dapat digunakan untuk analisis banjir, penentuan banjir
rencana, analisis ketersediaan air di sungai, dsb. Untuk maksud
tersebut diperlukan jaringan stasiun pencatat hujan di dalam suatu
DAS. Untuk mendapatkan hasil yang dapat dipercaya, stasiun pencatat
hujan harus terdistribusi secara merata. Selain itu jumlah stasiun hujan
yang dipasang di dalam DAS jangan terlalu banyak yang berakibat
mahalnya biaya, ataupun terlalu sedikit yang menyebabkan hasil
pencatatan hujan tidak dapat dipercaya.
Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organisation,
WMO) memberikan pedoman kerapatan jaringan minimum di
beberapa daerah seperti ditunjukkan dalam Tabel 2.3 (Shaw, 1988).
Kerapatan jaringan adalah jumlah stasiun tiap satuan luas di dalam
DAS. Namun pedoman tersebut hanya merupakan ancar-ancar.
Semakin besar variasi hujan semakin banyak jumlah stasiun yang
diperlukan, seperti misalnya di daerah pegunungan.
Penentuan jumlah optimum dari stasiun hujan yang perlu dipasang
dalam suatu DAS dapat dilakukan secara statistik. Dasar dari analisis
statistik tersebut adalah bahwa sejumlah tertentu dari stasiun hujan
yang diperlukan untuk memberikan hujan rerata dengan persentasi
kesalahan tertentu. Apabila kesalahan yang diijinkan lebih besar, maka
diperlukan jumlah stasiun hujan yang lebih kecil; demikian pula
sebaliknya. Berdasarkan prinsip statistik tersebut, jumlah optimum
stasiun hujan dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan
berikut (Garg SK, 1982):
Contoh 1
Di dalam suatu DAS terdapat tiga buah stasiun hujan. Hujan rerata
tahunan di ketiga stasiun tersebut berturut-turut adalah 1800, 2200
dan 1300 mm. Tentukan jumlah optimum stasiun hujan di DAS
tersebut, jika kesalahan yang diijinkan adalah 10%.
Penyelesaian
HUJAN KAWASAN
Stasiun penakar hujan hanya memberikan kedalaman hujan di titik di
mana stasiun tersebut berada; sehingga hujan pada suatu luasan
harus diperkirakan dari titik pengukuran tersebut. Apabila pada suatu
daerah terdapat lebih dari satu stasiun pengukuran yang ditempatkan
secara terpencar, hujan yang tercatat di masing-masing stasiun dapat
tidak sama. Dalam analisis hidrologi sering diperlukan untuk
menentukan hujan rerata pada daerah tersebut, yang dapat dilakukan
dengan tiga metode berikut yaitu metode rerata aritmatik, metode
poligon Thiessen, dan metode isohiet.
LEMBAR KERJA (DI FOTOCOPY MAHASISWA, 1 MAHASISWA 3 LEMBAR)
1. Metode rerata aritmatik (aljabar)
Metode ini adalah yang paling sederhana untuk menghitung hujan
rerata pada suatu daerah. Pengukuran yang dilakukan di beberapa
stasiun dalam waktu yang bersamaan dijumlahkan dan kemudian
dibagi dengan jumlah stasiun. Stasiun hujan yang digunakan dalam
hitungan biasanya adalah yang berada di dalam DAS; tetapi stasiun di
luar DAS yang masih berdekatan juga bisa diperhitungkan.
Metode rerata aljabar memberikan hasil yang baik apabila:
a. stasiun hujan tersebar secara merata di DAS,
b. distribusi hujan relatif merata pada seluruh DAS.
Hujan rerata pada seluruh DAS diberikan oleh bentuk berikut:
Contoh 2
Diketahui suatu DAS seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.8. mem-
punyai empat stasiun hujan. Dalam gambar tersebut tiga stasiun hujan
berada di dalam DAS sedang satu stasiun berada tidak jauh di luar
DAS. Kedalaman hujan di stasiun A, B, C, dan D berturut-turut adalah
50 mm, 40 mm, 20 mm, dan 30 mm. Hitung hujan rerata.
Penyelesaian
Karena Stasiun A berada tidak jauh dari DAS, maka dapat diperhi-
tungkan untuk menentukan hujan rerata. Dengan menggunakan
Persamaan (2.1) diperoleh:

Kedua hasil memberikah perbedaan yang cukup besar, hal ini


mengingat variasi hujan di masing-masing stasiun cukup besar;
sementara metode tersebut cocok apabila variasi hujan terhadap
jarak tidak besar.
2. Metode Thiessen
Metode ini memperhitungkan bobot dari masing-masing stasiun yang
mewakili luasan di sekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS
dianggap bahwa hujan adalah sama dengan yang terjadi pada stasiun
yang terdekat, sehingga hujan yang tercatat pada suatu stasiun
mewakili luasan tersebut. Metode ini digunakan apabila penyebaran
stasiun hujan di daerah yang ditinjau tidak merata. Hitungan curah
hujan rerata dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh
dari tiap stasiun.
Pembentukan poligon Thiessen adalah sebagai berikut ini.
a. Stasiun pencatat hujan digambarkan pada peta DAS yang ditinjau,
termasuk stasiun hujan di luar DAS yang berdekatan, seperti ditun-
jukkan dalam Gambar 2.9.
b. Stasiun-stasiun tersebut dihubungkan dengan garis lurus (garis
terputus) sehingga membentuk segitiga-segitiga, yang sebaiknya
mempu-nyai sisi dengan panjang yang kira-kira sama.
c. Dibuat garis berat pada sisi-sisi segitiga seperti ditunjukkan
dengan garis penuh pada Gambar 2.9.
d. Garis-garis berat tersebut membentuk poligon yang mengelilingi
tiap stasiun. Tiap stasiun mewakili luasan yang dibentuk oleh
poligon. Untuk stasiun yang berada di dekat batas DAS, garis batas
DAS membentuk batas tertutup dari poligon.
e. Luas tiap poligon diukur dan kemudian dikalikan dengan
kedalaman hujan di stasiun yang berada di dalam poligon.
f. Jumlah dari hitungan pada butir e untuk semua stasiun dibagi
dengan luas daerah yang ditinjau menghasilkan hujan rerata
daerah tersebut, yang dalam bentuk matematik mempunyai
bentuk berikut ini.
Metode poligon Thiessen banyak digunakan untuk menghitung hujan
rerata kawasan. Poligon Thiessen adalah tetap untuk suatu jaringan
stasiun hujan tertentu. Apabila terdapat perubahan jaringan stasiun
hujan, seperti pemindahan atau penambahan stasiun, maka harus
dibuat lagi poligon yang baru.
Contoh 3
Diketahui DAS dan stasiun hujan seperti dalam Contoh 2. Luas DAS
adalah 500 km2. Hitung hujan rerata dengan menggunakan metode
Thiessen.
Penyelesaian
Dengan menggunakan prosedur yang telah dijelaskan di atas dibuat
poligon Thiessen seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.9. Dari gambar
tersebut dihitung luasan daerah yang diwakili oleh masing-masing
stasiun. Hujan rerata dihitung dengan menggunakan Tabel 2.4.
3. Metode Isohiet
Isohiet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan
kedalaman hujan yang sama. Pada metode isohiet, dianggap bahwa
hujan pada suatu daerah di antara dua garis isohiet adalah merata
dan sama dengan nilai rerata dari kedua garis isohiet tersebut.
Pembuatan garis isohiet dilakukan dengan prosedur berikut ini
(Gambar 2.10)
a. Lokasi stasiun hujan dan kedalaman hujan digambarkan pada peta
daerah yang ditinjau.
b. Dari nilai kedalaman hujan di stasiun yang berdampingan dibuat
interpolasi dengan pertambahan nilai yang ditetapkan.
c. Dibuat kurva yang menghubungkan titik-titik interpolasi yang
mem-punyai kedalaman hujan yang sama. Ketelitian tergantung
pada pem-buatan garis isohiet dan intervalnya.
d. Diukur luas daerah antara dua isohiet yang berurutan dan
kemudian dikalikan dengan nilai rerata dari nilai kedua garis
isohiet.
e. Jumlah dari hitungan pada butir d untuk seluruh garis isohiet
dibagi dengan luas daerah yang ditinjau menghasilkan kedalaman
hujan rerata daerah tersebut. Secara matematis hujan rerata
tersebut dapat ditulis:
Metode isohiet merupakan cara paling teliti untuk menghitung
kedalaman hujan rerata di suatu daerah, tetapi cara ini membutuhkan
pekerjaan dan perhatian yang lebih banyak dibanding dua metode
sebelumnya.
Contoh 4
Soal seperti dalam Contoh 3. Hitung hujan rerata dengan
menggunakan metode isohiet.
Penyelesaiaan
Dibuat garis-gariS isohiet seperti dalam Gambar 2.10. Selanjutnya
dihitung luasan daerah di antara dua garis isohiet. Hitungan dengan
menggunakan Tabel 2.5.
CONTOH PETA ISOHIET
KEMENTRIAN PU, DIRJEN SDA
CONTOH ANALISA HUJAN MAKSIMUM BOLEH JADI (PROBABLE MAXIMUM FLOOD / PMP)
DARI PETA ISOHIET PU PADA SUATU DAS
Tabel. Perhitungan PMP dengan Peta Isohiet DPS Walimpong
2
Section An (km ) d n (mm) d n+1 (mm) d rerata (mm) d*A
1 853,85 300 350 325 277.502,11
2 479,48 350 400 375 179.805,89
3 631,70 400 400 400 252.680,46
1965,04 709.988,46

Hujan Rerata DPS 361,311 mm


Luas DPS 1965,04 km2
Faktor Reduksi Luas 0,306

Hujan PMP DPS Walimpong = 110,55 mm


Cara Memilih Metode
Lepas dari kelebihan dan kelemahan ketiga metode yang tersebut di
atas, pemilihan metode mana yang cocok dipakai pada suatu DAS dapat
ditentukan dengan mempertimbangkan tiga faktorberikut: 1) Jaring-
jaring pos penakar hujan dalam DAS, 2) LuasDAS, 3) Topografi DAS.
1) Jaring-jaring pos penakar hujan

2) Luas DAS

3) Topografi DAS
PERBAIKAN DATA
Di dalam pengukuran hujan sering dialami dua masalah. Permasaiah-
an pertama adalah tidak tercatatnya data hujan karena rusaknya alat
atau pengamat tidak mencatat data. Data yang hilang ini dapat diisi
dengan nilai perkiraan. Masalah kedua adalah karena adanya
perubahan kondisi di lokasi pencatatan selama suatu periode
pencatatan, seperti pemindahan atau perbaikan stasiun, perubahan
prosedur pengukuran atau karena pe-nyebab lain. Kedua masalah
tersebut perlu diselesaikan dengan melakukan koreksi berdasarkan
data dari beberapa stasiun di sekitamya.
1.Pengisian data hilang
Data hujan yang hilang di suatu stasiun dapat diisi dengan nilai
perkiraan berdasar data dari tiga atau lebih stasiun terdekat di
sekitamya. Gambar 2.12. adalah stasiun x dan beberapa stasiun di
sekelilingnya. Ber-ikut ini diberikan dua cara untuk melakukan koreksi
data.
Gambar 2.12. Stasiun hujan untuk koreksi data

a. Metode perbandingan normal (normal ratio method)


Data yang hilang diperkirakan dengan rumus sebagai berikut:
b. Reciprocal method
Cara ini lebih baik karena memperhitungkan jarak antar stasiun (Li),
seperti diberikan oleh bentuk berikut:
2. Pemeriksaan konsistensi data
Perubahan lokasi stasiun hujan atau perubahan prosedur pengukuran
dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jumlah hujan
yang terukur, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kesalahan.
Konsistensi dari pencatatan hujan diperiksa dengan metode kurva massa
ganda (double mass curve). Metode ini membandingkan hujan tahunan
kumula-tif di stasiun y terhadap stasiun referensi x. Stasiun referensi
biasanya adalah nilai rerata dari beberapa stasiun di dekatnya. Nilai
kumulatif ter-sebut digambarkan pada sistem koordinat kartesian x-y,
dan kurva yang terbentuk diperiksa untuk melihat perubahan
kemiringan (trend).
Apabila garis yang terbentuk lurus berarti pencatatan di stasiun y
adalah konsis-ten. Apabila kemiringan kurva patah/berubah, berarti
pencatatan di stasiun y tak konsisten dan perlu dikoreksi. Koreksi
dilakukan dengan me-ngalikan data setelah kurva berubah dengan
perbandingan kemiringan se-telah dan sebelum kurva patah. Gambar
2.13. adalah contoh metode kurva massa ganda.
Contoh 5
Data hujan harian di stasiun X pada tanggal 1 Januari 2000 hilang/ru-
sak. Data hujan pada hari yang sama di tiga stasiun di sekitarnya yaitu
A, B dan C adalah 35, 25 dan 40 mm. Hujan tahunan di stasiun X, A, B
dan C adalah 1900, 2100, 2000 dan 2200 mm. Jarak dari stasiun A, B
dan C ke X berturut-turut adalah 15 km, 10 km dan 25 km. Perkirakan
hujan yang tidak terukur di stasiun X dengan menggunakan metode
perbandingan normal dan reciprocal method.
Penyelesaian
Untuk metode perbandingan normal, data hujan yang hilang dapat di-
perkirakan dengan menggunakan Persamaan (2.5):
Contoh 6
Tabel berikut memberikan pencatatan hujan di lima stasiun. Selidiki
konsistensi data hujan di stasiun A. Jika pencatatan tersebut tidak
konsisten, koreksi data di stasiun A.
Penyelesaian
Hitungan dilakukan menggunakan Tabel 2.6. dan prosedur berikut
ini:
1. Hitung hujan rerata dari stasiun B, C, D dan E (kolom 7).
2. Hitung nilai kumulatif stasiun A (kolom 8) dan rerata dari B, C, D, E
(kolom 9).
3. Gambar grafik hubungan kolom 8 dan 9 (Gambar 2.14).
4. Perbandingan kemiringan baru dan lama = 1,06/0,78=1,36
5. Data sebelum grafik patah (1989) dikoreksi dengan faktor 1,36
Tabel 2.6. Hujan tahunan untuk analisis kurva massa ganda
Sebelum Koreksi
Hujan tahunan (mm)
Tahun Rerata Sta B,C,D,E Kumul A Kumul rerata B,C,D,E
A B C D E
1985 1.314 1495 1.228 1828 1.590 1535,25 25.232 25.998
1986 1.123 1235 1.640 1541 1.583 1499,75 23.918 24.463
1987 1.341 1680 1.618 1931 1.681 1727,50 22.795 22.963
1988 1.183 1597 1.300 1386 1.656 1484,75 21.454 21.236
1989 950 1453 1.469 1805 1.262 1497,25 20.271 19.751
1990 2.336 1465 2.494 2.131 2.222 2078,00 19.321 18.254
1991 1.850 1545 1.914 1603 1.925 1746,75 16.985 16.176
1992 1.214 1076 1310 1183 1.594 1290,75 15.135 14.429
1993 1.871 1298 1445 1667 1.816 1556,50 13.921 13.138
1994 1.523 1663 1229 1925 1.796 1653,25 12.050 11.582
1995 1.713 1253 1416 1579 1.306 1388,50 10.527 9.928
1996 1.517 1.766 1567 1765 1.835 1733,25 8.814 8.540
1997 2.027 2.025 1731 1558 1.842 1789,00 7.297 6.807
1998 1.874 1.644 1994 1663 1.991 1823,00 5.270 5.018
1999 2.021 1.561 1915 1987 1.891 1838,50 3.396 3.195
2000 1.375 1.378 1286 1277 1.483 1356,00 1.375 1.356
Sesudah Koreksi
Hujan tahunan (mm)
Tahun Rerata Sta B,C,D,E Kumul A Kumul rerata B,C,D,E
A B C D E
1985 2102 1495 1.228 1828 1.590 1535,25 27.675 25.998
1986 1527 1235 1.640 1541 1.583 1499,75 25.573 24.463
1987 1824 1680 1.618 1931 1.681 1727,50 24.046 22.963
1988 1609 1597 1.300 1386 1.656 1484,75 22.222 21.236
1989 1292 1453 1.469 1805 1.262 1497,25 20.613 19.751
1990 2336 1465 2.494 2.131 2.222 2078,00 19.321 18.254
1991 1.850 1545 1.914 1603 1.925 1746,75 16.985 16.176
1992 1.214 1076 1310 1183 1.594 1290,75 15.135 14.429
1993 1.871 1298 1445 1667 1.816 1556,50 13.921 13.138
1994 1.523 1663 1229 1925 1.796 1653,25 12.050 11.582
1995 1.713 1253 1416 1579 1.306 1388,50 10.527 9.928
1996 1.517 1.766 1567 1765 1.835 1733,25 8.814 8.540
1997 2.027 2.025 1731 1558 1.842 1789,00 7.297 6.807
1998 1.874 1.644 1994 1663 1.991 1823,00 5.270 5.018
1999 2.021 1.561 1915 1987 1.891 1838,50 3.396 3.195
2000 1.375 1.378 1286 1277 1.483 1356,00 1.375 1.356
30.000

Sebelum Koreksi Titik patah


25.000 1989
Sesudah Koreksi 0,78
1,0
20.000
Kumulatif St.A (mm)

15.000

10.000

1,06
5.000
1,0

0
0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000
Kumulatif B,C,D,E (mm)

Gambar 2.14. Gambar Kurva Massa Ganda


HUJAN MAKSIMUM WILAYAH
Sebagai contoh cara perhitungan Curah Hujan Harian Maximum Rata -
rata dipillh Daerah Aliran Cisanggarung - Losari. Pos Hujan yang dipilih
un tuk mewakili adalah :
1. Pos hujan no. 68a - Kuningan
2. Pos hujan no. 84 - Cikeusik
3. Pos hujan no. 85 - Ciwaru
Masing-masing pos hujan mempunyai koefisien Thiessen : 0,37 ; 0,24
dan 0,39. Koefisien Thiessen adalah perbandingan luas daerah yang
dipengaruhi salah satu pos hujan dengan luas seluruh daerah aliran.
Cara untuk mendapatkan maksimum basin rainfall dapat dilakukan
langkah langkah sebagai berikut :
1. Tentukan disalah satu pos hujan saat terjadi curah hujan harian
maksimum.
2. Dicari besamya curah hujan pada tanggal yang sama untuk
setasiun yang lain.
3. Dengan metoda Thiessen hitung rata-rata curah hujan tersebut.
4. Tentukan curah hujan maksimum harian (seperti langkah No. 1)
pada tahun yang sama untuk pos yang lain,
5. Ulangi langkah no. 2 sampai no 3 untuk setiap tahun.
6. Dari hasil rata-rata Thiessen pilih salah satu yang tertinggi pada
setiap tahun.
7. Data curah hujan yang terpilih setiap tahun itu merupakan
maksimum basin rainfall.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.2.4. dan Gambar 3.2.1.
Tabel-tabel berikutnya adalah daftar curah hujan maksimum terpilih
dan urutan curah hujan maksimum terpilih dari yang terbesar (ranking
no.1) sampai yang terkecil (ranking terbesar).
TUGAS KE 1
1. Hitung hujan rerata DAS dengan menggunakan metode rerata
aljabar, poligon Thiessen, apabila DAS diketahui berupa bujur
sangkar dan segitiga sama sisi (lihat Gambar 2.15) dengan sisi-
sisinya adalah 4 km, sedang lokasi alat ukur hujan dan kedalaman
hujannya ditunjukkan dalam gambar. Buat pula peta isohiet.
2. Alat ukur hujan di suatu DAS seperti ditunjukkan dalam gambar.
Hujan tercatat pada suatu hari diberikan dalam tabel. Buatlah
poligon Thiessen untuk jaringan stasiun hujan di DAS tersebut.
Apabila luas poligon Thiessen yang diwakili masing-masing stasiun
seperti diberikan dalam tabel, hitung hujan rerata DAS. Buat pula
peta isohiet.
3. Suatu DAS dengan luas 100 km2 dilengkapi dengan 13 alat
pengukur hujan sepeiti ditunjukkan dalam gambar di bawah.
Setelah kejadian hujan, jumlah hujan yang terakumulasi dalam
masing-masing alat penakar hujan diberikan dalam gambar. Hitung
hujan rerata pada DAS dengan a. metode rerata aljabar, b. poligon
Thiessen, c. metode isohiet
4. Stasiun hujan X tidak beroperasi beberapa waktu. Hujan kumulatif
pada suatu bulan di tiga stasiun di sekitarnya yaitu A, B dan C
adalah 107, 89 dan 122 mm. Hujan tahunan di stasiun X, A, B dan
C adalah 978, 1120, 935 dan 1200 mm. Perkirakan hujan yang
tidak terukur di stasiun X pada bulan yang bersangkutan.
5. Alat pengukur hujan di stasiun Y tidak beroperasi selama
beberapa hari dalam bulan Februari. Pada periode yang sama,
kedalaman hujan yang terukur di empat stasiun yang berada pada
jarak seperti diberi-kan dalam tabel berikut. Perkirakan data hujan
yang hilang di stasiun Y.
6. Hujan tahunan di stasiun Z dan hujan tahunan rerata di 10 stasiun
terdekat adalah sebagai berikut. Gunakan metode massa ganda
untuk mengkoreksi data yang tidak konsisten di stasiun Z.
TERIMAKASIH