Anda di halaman 1dari 26

DETASEMENKESEHATAN WILAYAH 02.03.

04
RUMAH SAKIT TINGKAT IV 02.07.04

PANDUAN PENANGGULAN BENCANA

Bandar Lampung, 10 Juli 2019


DETASEMEN KESEHATAN WILAYAH 02.04.03
RUMAH SAKIT TK IV 02.07.04

SURAT KEPUTUSAN
SK / 024 / VI /2019

Tentang
PANDUAN PENANGGULANGAN BENCANA
RUMAH SAKIT Tk IV 02.07.04

Menimbang : Bahwa dalam rangka upaya kegiatan pelaksanaan Kesehatan dan


keselamatan kerja (K3) di lingkungan Rumkit TK IV 02.07.04,
perlu segera menetapkan Panduan Penanggulangan Bencana.

Mengingat : 1. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 949/Menkes/SK/VIII/2004


tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini
Kejadian Luar Biasa (KLB).
2. PP Nomor 21 Tahun 2008 tentang penyelenggaraan
penanggulangan bencana.
3. Buku Saku Tanggap, Tangkas, Tangguh menghadapi bencana
yang diterbitkan oleh Badan Nasional Penanggulangan
Bencana Edisi 2017.
4. Surat keputusan Rumah Sakit Tk IV 02.07.04
Nomor SK/ 003 / V /2019 tentang Kebijakan Manajemen
Fasilitas dan Keselamatan Rumah Sakit Tk IV 02.07.04
MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

Kesatu : Berlakunya panduan penanggulangan bencana (disaster plan)


Rumah Sakit Tk IV 02.07.04 untuk menghadapi kemungkinan
terjadinya bencana yang menimpa Rumah Sakit Tk IV 02.07.04.

Kedua : Keputusan mulai berlaku sejak tanggal ditetapkannya dan


apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam
penetapan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya

Ditetapkan di Bandar Lampung


Tanggal 10 Juli 2019
Kepala Rumah Sakit Tk. IV 02.07.04

dr. Teguh Ismanto , Sp.An


Mayor CKM NRP 11020000391071
BAB III
TATA LAKSANA

1. Kategori Bencana (disaster)


Kategori bencana internal dan eksternal disaster di Rumah Sakit Tk IV 02.07.04
a. Internal
Bencana yang berasal dari intern al rumah sakit dan menimpa rumah sakit
dengan segala obyek vitalnya yaitu pasien pegawai material dan dokumen.
Potensi jenis bencana yang mungkin terjadi di rumah sakit Tk IV 02.07.04 adalah
sebagai berikut :
1) Kebakaran
Sumber kebakaran bias berasal dari dalam gedung bias juga terjadi diluar
gedung
2) Gedung/bangunan runtuh
Dampak terjadinya gempa ini dapat merupakan bencana external namun bila
dampak gempa pada areal bangunan di rumah sakit maka hal ini merupakan
situasi bencana yang terjadi di Rumah Sakit yang dapat menimbulkan
keeruntuhan paada gedung.
3) Ledakan tabung Gas
Ledakan dapat dihasilkan dari kebocoran gas maupun karena ledakan bahan
berbahaya yang ada di rumah sakit
b. Eksternal
1) Gempa bumi
Lokasi kepulauan di Indonesia berada pada area lempengan bumi dibawah
laut yang sewaktu-waktu dapat bergerak dan menghasilkan gempa dan
kepulauan di Indonesia memiliki banyak gunung yang sangat memungkinkan
terjadinya gempa bumi.
2) Kecelakaan missal
Bencana bersumber berasal dari luar rumah sakit yang dalam waktu singkat
mendatangkan korban bencana dalam jumlah melebihi rata-rata keeadaan
biasa sehingga memerlukan penanganan khusus dan mobilisasi tenaga
pendukung lainnya.
2. Struktur Komando dan Uraian Tugas
a. Kedudukan Tim Penanggulangan Bencana
1) Tim penanggulangan bencana adalah wadah non struktural dibawah kepala
rumah sakit.
2) Tim penanggulangan bencana dipimpin oleh kepala rumah sakit sebagai
pemegang komando (Incident Commander).
3) Keanggotaan tim penanggulangan bencana terdiri dari 5 koordinator yaitu:
a) Koordinator humas
b) Koordinator petugas lapangan
c) Koordinator logistik
d) Koordinator transportasi dan akomodasi
e) Koordinator dana

b. Struktur Komando

Komando Tim
Penanggulangan
Bencana

Koordinator Koordinator Koordinator Koordinator Koordinator


Humas petugas logistik transportasi dana
lapangan dan
akomodasi

c. Uraian tugas dan jabatan struktur komando sewaktu terjadi bencana


No Nama Jabatan Tugas dan tanggung jawab
1 Komando tim penanggulangan 1. Penentu kebijakan
bencana penanggulangan keadaan
darurat bencana.
2. Pimpinan tertinggi dalam
penanggulangan bencana.
3. Mengkoordinir para koordinator
dibawahnya.
4. Melakukan koordinasi dengan
pihak internal maupun eksternal
bila diperlukan.
5. Bertanggung jawab untuk
menjaga keselamatan personil
penanggulangan insiden,
masyarakat dan penyelesaian
tugas-tugas operasi
penanggulangan insiden.
2 koordinator humas 1. Meliputi secara kronologis
(public relation section) kejadian dan usaha
penanggulangan keadaan
darurat.
2. Membuat dokumentasi.
3. Member informasi kepada
instansi berwenang mengenai
kejadian serta mengatur atau
melayani pejabat, pers, massa
media yang dating untuk
meminta informasi yang
dibutuhkan yang berkaitan
dengan kejadian, bila
diperlukan.
3 Koordinasi perencanaan & 1. Membuat perencanaan kegiatan
operasional (incident action plan)
(planning & operations section) 2. Bertanggung jawab untuk
menerima dan melaksanakan
incident action plan
3. Untuk insiden yang skalanya
kecil, IAP dapat dibuat tanpa
harus tertulis.
4. Untuk insiden yang lebih besar
skalanya atau lebih komplek,
IAP dibuat dalam bentuk
dokumen tertulis dan dibawah
arahan dari Incident Cmmander.
5. Mengumpulkan, mengevaluasi,
menyebarkan dan
menggunakan informasi tentang
perkembangan insiden dan
status dari sumberdaya.
6. Melaporkan kepada Incident
Commander.
7. Menentukan jumlah sumber
daya dan organisasi yang
diperlukan.
4 Koordinator Logistik 1. Menyediakan fasilitas
pelayanan (alat komunikasi, alat
medis, food supply), material
dan personil untuk
mengoperasikan peralatan
medis.
2. Memegang pernan penting
dalam mendukung operasi
untuk jangka panjang.
5 Koordinasi transportasi dan 1. Melaksanakan koordinasi
akomodasi kelancaran transportasi di
lingkungan terjadinya bencana
guna menunjang kelancaran
penanggulangan keadaan
darurat
2. Mengatur persiapan
transportasi.
3. Mempersiapkan akomodasi
semua anggota tim
6 koordinator dana 1. Mempersiapkan kebutuhan
dana untuk keperluan semua
operasional semua anggota tim.
2. Menelusuri biaya
penanggulangan insiden dan
penggantian biaya
3. Membukukan semua biaya
untuk operasi penanggulanagn
bencana

3. Penanganan Umum
Pada situasi bencana aspek koordinasi dan kolaborasi diperlukan untuk
mengatur proses pelayanan terhadap korban dan mengatur unsure penunjang yang
mendukung proses pelayanan sehingga dapat berjalan sebagaimana mestinya.
a. Penanganan Korban
Proses penanganan yang diberikan kepada korban dilakukan
secepatnya untuk mencegah resiko kecacatan dan atau kematian, dimulai
sejak dilokasi kejaidan, proses evakuasi dan proses transportasi ke IGD atau
area berkumpul. Kegiatan dimulai sejak korban tiba di IGD.
Penanggung jawab : Ketua tim medical support IGD
Tempat : Triage-IGD/area berkumpul
Prosedur :
1) Di lapangan :
a) Lakukan triage sesuai engan berat ringanya kasus (Hijau, Kuning,
Merah, Hitam).
b) Menentukan priroritas penanganan.
c) Evakuasi korban ketempat yang lebih aman.
d) Lakukan stabilisasi sesuai kasus yang di alami.
e) Transportasi korban ke IGD.
2) Di Rumah Sakit
a) Lakukan triage oleh tim medic.
b) Penempatan korban sesuai hasil triage.
c) Lakukan stabilisasi korban.
d) Berikan tindakan definitive sesuai dengan kegawatan dan situasi yang
ada (Merah, Kuning, Hijau, Hitam)
e) Perawatan lanjutan sesuai dengan jenis kasus (ruang perawatan dan
OK)
f) Lakukan rujukan bila diperlukan baik karena pertimbangan medis
maupun tempat perawatan.
b. Pengelolaan baran milik korban
Barang milik korban hidup baik berupa pakaian, perhiasan, dokumen,
ditempatkan secara khusus untuk mencegah barang tersebut hilang maupun
tertukar. Sedangkan barang milik korban meninggal, setelah di dokumentasi
oleh coordinator tim forensic, selanjutnya diserahkan ke pihak kepolisian yang
bertugas di forensic.
Tempat : Ruang Triage-IGD
Penanggungjawab : Kepala Ruangan Triage IGD
Prosedur :
1) Catat barang yang dilepaskan dari korban atau dibawa oleh korban.
2) Bila ada keluarga maka barang tersebut diserahkan kepada keluarga
korban dengan menandatangani form catatan.
3) Tempatkan barang milik korban pada kantong plastic dan disimpan di
lemari/locker terkunci.
4) Bila sudah 1 minggu barang milik korban belum diambil baik oleh pasien
sendiri maupun keluarganya, maka barang-barang tersebut diserahkan
kepada sub bagian humas dengan menandatangani dokumen serah terima,
selanjutnya kepala sub bagian humas menghubungi pasien maupun
keluarganya. Apabila dalam waktu 1 bulan barang belum diambil, maka
barang tersebut diserahkan oleh kepala bagian hukum dan humas ke
polsek setempat.
c. Pengosongan Ruangan dan Pemindahan Pasien
Pada situasi bencana maka ruangan perawatan tertentu harus
dikosongkan untuk menampung sejumlah korban dan pasien-pasien diruangan
tersebut harus dipindahkan keruangan yang sudah ditentukan.
Penanggung jawab : Kepala Komite Keperawatan
Prosedur :
1) Kepala komite keperawatan menginstrusikan kepala ruangan yang
dimaksud untuk mengosongkan ruangan.
2) Kepala ruangan berkoordinasi ke kepala ruangan lain untuk memindahkan
pasienya.
3) Kepala ruangan dan wakil serta perawat primer menjelaskan pada pasien
dan keluarganya alas an pengosongan ruangan.
4) Kepala ruangan mencatat ruangan-ruangan tempat tujuan pasien pindah
dan mengistruksikan petugas billing untuk melakukan mutasi pada system
billing.
5) Kepala ruangan melaporkan proses pengosongan ruangan kepada kepala
komite keperawatan.
d. Pengelolaan Makanan Korban dan Petugas
Makanan untuk pasien dan petugas, persiapan dan distribusinya
dikoordinir oleh Intsalasi Gizi sesuai dengan permintaan tertulis yang
disampaikan oleh kepala ruangan maupun penanggung jawab pos. makanan
yang dipersiaqpkan dengan memperhitungkan sejumlah makanan cadangan
untuk antisipasi kedatangan korban baru maupun petugas baru.
Tempat : Instalasi Gizi dan posko donasi makanan
Penanggung jawab : Kepala Instalasi Gizi
Prosedur :
1) Instalasi gizi mengkoordinasikan jumlah korban dan petugas yang ada
keruangan/posko sebelum mempersiapkan makanan pada setiap waktu
makan.
2) Instalasi gizi mengumpulkan semua permintaan makanan dari
ruangan/posko.
3) Instalasi mengkoordinir persiapan makanan dan berkolaborasi dengan
posko donasi makanan untuk mengetahaui jumlah donasi makanan yang
akan di distribusikan.

e. Pengelolaan Tenaga Rumah Sakit


Pengaturan jumlah dan kualifikasi tenaga yang diperlukan saat
penanganan bencana. Tenaga yang dimaksud adalah SDM rumah sakit yang
harus disiagakan serta pengelolaanya saat situasi bencana.
Tempat : Bagian SDM
Penanggung jawab : Kepala Rumah Sakit
Prosedur :
1) Kepala rumah sakit menginstruksikan kepala ruangan/ kepala instalasi yang
terkait untuk kesiapan tenaga.
2) Koordinasi dengan pihak lain bila diperlukan tenaga tambahan/volunteer
dari luar rumah sakit.
3) Dokumentasikan semua staf yang bertugas untuk setiap shift.

f. Pengendalian Korban Bencana Dan Pengunjung


Pada situasi bencana internal maka pengunjung yang saat itu berada di
rumah sakit ditertibkan dan diarahkan pada tempat berkumpul yang ditentukan.
Demikian pula korban diarahkan untuk dikumpulkan pada ruangan/ area
tempat berkumpul yang ditentukan.
Tempat : Lapangan apel Rumah Sakit Tk IV 02.07.04
Penanggung jawab : Ketua K3RS
Prosedur :
1) Umumkan kejadian dan lokasi bencana melalui speaker dan informasikan
agar korban di[indahkan dan diarahkan ke area yang ditentukan.
2) Perintahkan kepala ruangan terkait untuk memindahkan korban.
3) Koordinir proses pemindahan dan alur pengunjung ke area dimaksud

g. Koordniasi Dengan Instalasi Lain


Diperlukannya bantuan dari instalasi lain untuk menanggulangi bencana
maupun efek dari bencana yang ada. Bantuan ini diperlukan sesuai dengan
jenis bencana yang terjadi. Instansi terkait yang dimaksud adalah dinas
kesehatan provinsi, Kepolisian, Dinas pemadam kebakaran, PLN, PMI, dan
Rumah Sakit, Instansi Pendidikan Kesehatan.
Tempat : Pos Komando
Penanggung jawab : Komandan Rumah Sakit
Prosedur :
1) Koordinir persiapan rapat koordinasi dan komunikasikan kejadian yang
sedang dialami serta bantuan yang diperlukan.
2) Hubungi instansi terkait untuk meminta bantuan sesuai kebutuhan.
3) Bantuan instansi terkait dapat diminta kepada pemerintah Provinsi,
Kabupaten Kota dan pusat, termasuk lembaga/instansi/militer/polisi dan
atau organisasi profesi.
h. Pengelolaan Obat dan Bahan/ Alat Habis Pakai
Penyediaan obat dan bahan/ alat habis pakai dalam situasi bencana
merupakan salah satu unsure penunjang yang sangat penting dalam
pelayanan kesehatan, oleh karena itu diperlukan adanya persediaan obat dan
bahan/ alat habis pakai sebagai penunjang pelayanan korban.
Tempat : Instalasi Farmasi
Penanggung jawab : Kepala Instalasi Farmasi
Prosedur :
1) Menyiapkan persediaan obat & bahan/ alat habis pakai untuk keperluan
penanganan korban bencana.
2) Distribusikan jumlah dan jenis obat & bahan/ alat habis pakai untuk
keperluan penanganan korban bencana.
3) Membuat permintaan bantuan apabila perkiraan jumlah dan jenis obat &
bahan/ Alat habis pakai tidak mencukupi kepada Dinas Kesehatan Provinsi
dan atau Departemen Kesehatan RI.
4) Bantuan obat & bahan/ alat habis pakai kepada LSM / Lembaga donor
adalah pilihan terakhir, namun apabila ada yang berminat tanpa ada
permintaan, buatkan criteria dan persyaratanya.
5) Siapkan tempat penyimpanan yang memadai dan memenuhi persyaratan
penyimpanan obat & bahan/alat habis pakai.
6) Buatkan pencatatan dan pelaporan harian.
7) Lakukan pemusnahan/koordinasikan ke pihak terkait apabila telah
kadaluwarsa dan atau tidak diperlukan sesuai dengan persyaratan.

i. Pengelolaan Kesehatan Lingkungan


Kesehatan lingkungan tetap dijaga pada situasi apapun termasuk
situasi bencana untuk mencegah terjadinya pencemaran maupun dampak dari
bencana mencegah terjadinya pencemaran maupun dampak dari bencana.
Tempat : Lingkungan Rumah Sakit
Penanggung jawab : Kepala Sanitasi
Prosedur :
1) Pastikan sistem pembuangan dan pemusnahan sampah dan limbah medis
dan Non medis sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2) Catat dan laporkan pemakaian bahan bakar dan jumlah sampah medis
yang dibakar serta kualitas hasilnya
3) Control seluruh pipa dan alat yang dipakai untuk pengolahan sampah dan
limbah agar tidak terjadi pencemaran lingkungan.
4) Koordinasikan kebersihan ruangan dan pemisahan sampah medis dan
sampah umum dengan petugas ruangan.
j. Pengelolaan Donasi
Pada keadaan bencana rumah sakit membutuhkan bantuan tambahan
baik berupa obat, bahan/alat habis pakai, makanan, alat medis/non medis,
makanan, maupun financial.
Tempat : Pos Donasi
Penanggung jawab : Paur Tuud
Prosedur :
1) Catat semua asal, jumlah dan jenis donasi yang masuk baik berupa obat,
makanan, barang dan uang maupun jasa.
2) Catat tanggal kadaluarsa.
3) Distribusikan donasi yang ada kepada pos-pos yang bertanggung jawab :
a) Obat dan bahan/alat habis pakai ke kepala Instalasi Farmasi.
b) Makanan/minuman ke kepala Instalasi Gizi
c) Barang medis/non medis ke kepala IPSRS
d) Uang ke kepala bagian mobilisasi dana.
4) Laporkan rekapitulasi jumlah dan jenis donasi (yang masuk, yang
didistribusikan dan sisanya) kepada Pos Komando.
5) Sumbangan yang ditujukan langsung kepada korban akan difasilitasi oleh
kepala ruangan atas sepengetahuan ketua manajemen support.

k. Pengelolaan Listrik, Telepon dan Air


Meningkatnya kebutuhan power listrik, instalasi air dan tambahan
sambungan telepon saat disaster membuthkan kkesiap siagaan dari tenaga
yang melaksanakannya. Persiapan pengadaan maupun sambungannya mulai
dilaksanakan saat aktifasi situasi bencana dirumah sakit.
Penanggung jawab : Kepala K3RS
Prosedur :
1) Pastikan system berfungsi dengan baik dan aman.
2) Siapkan penambahan dan jaga stabilitas listrik agar layak pakai dan aman.
3) Siapkan penambahan line telpon maupun sambungan keluar lainnya.
4) Jaga kualitas air sesuai dengan syarat kualitas maupun kuantitas air bersih
dan hindari kontaminasi sehingga tetap aman untuk digunakan.
5) Lakukan koordniasi dengan instansi terkait untuk menambah daya,
menambah line dan tetap menjaga ketersediaan listrik dan telpon.
6) Distribusikan kebutuhan listrik, telpon dan air ke area yang memnbutuhkan.
7) Berkoordinasi dengan pengguna/ruangan dan penanggung jawab area.
8) Lakukan monitoring secara rutin.

l. Penanganan Keamanan
Kemanan diupayakan semaksimal mungkin pada area-area transportasi
korban dari lokasi ke IGD, pengamanan sekitar Triage dan IGD pada umumnya
serta pengamanan pada unit perawatan dan pos-pos yang didirikan.
Tempat : Alur masuk ambulance ke IGD, seluruh uni
pelayanan
Penanggung jawab : Kepala K3RS
Prosedur :
1) Atur petugas sesuai dengan wilayah pengamanan.
2) Lakukan koordinasi dengan petugas keamanan.
3) Atur dan arahkan pengunjung ke lokasi yang ditentukan pada saat bencana
internal.
4) Lakukan control rutin dan teratur.
5) Damping petugas bila ada keluarga yang mengamuk.

m. Pengelolaan Informasi
Informasi baik berupa data maupun laporan dibuat sesuai dengan form
yang ditentukan sehingga tidak terjadi kesimpang siuran mengenai jumlah
korban baik korban hidup, korban meninggal, asal, tempat perawatan korban
dan status evakuasi ke luar rumah sakit. Informasi ini meliputi identitas korban,
SDM dan fasilitas yang diperlukan untuk penanganan korban.
Tempat : Pos Infromasi
Penanggung jawab : IT
Prosedur :
1) Lengkapi semua data korban yang mencakup nama pasien, umur, dan
alamat/asal Negara, dari korban rawat jalan, rawat inap dan meninggal
serta evakuasi dan lengkapi dengan data tindakan yang telah dilakukan.
2) Informasi di update setiap 12 jam untuk 2 hari pertama (jam 08.00 dan jam
20.00) dan 24 jam untuk hari-hari berikutnya (jam 08.00).
3) Infromasi ditulis pada papan informasi yang dipasang di pos infromasi.
4) Setiap lembar infromasi yang keluar ditandatangani oleh komandan
bencana dan diserahkan kepada pihak yang membutuhkan oleh
penanggung jawab pos informasi.

n. Pengelolaan Media
Wartawan dari media cetak dan elektronik akan berada hamper 24 jam
disekitar rumah sakit untuk meliput proses pelayanan dan kunjungan tamu ke
unit pelayanan perlu dikelola dengan baik.
Tempat : Ruangan IT
Penanggung jawab : Kepala IT
Prosedur :
1) Registrasi dan berikan kartu identitas semua media serta wartawan yang
datang.
2) Sampaikan bahwa semua informasi dapat diperoleh dari pos informasi.
3) Koordinasikan dengan petugas pengamanan rumah sakit untuk
pengaturannya.
4) Peliputan media hanya diijinkan kepada yang sudah memperoleh kartu
identitas.
5) Peliputan langsung pada korban bencana atas seijin yang bersangkutan.

o. Pengelolaan Rekam Medis


Semua korban bencana yang memerlukan perawatan dibuatkan rekam
medis sesuai dengan prosedur yang berlaku di Rumah Sakit. Pada rekam
medis diberikan taanda khusus untuk mengidentifikasi data korban dengan
segera.
Tempat : Ruang Triage IGD
Penanggung jawab : Ketua Rekam Medik
Prosedur :
1) Siapkan sejumlah form rekam medis korban bencana untuk persiapan
kedatangan korban.
2) Control dan pastikan semua korban sudah dibuatkan sekam medic
3) Registrasi semua korban pada system billing setelah dilakukan
penanganan emergency.

p. Identifikasi Korban
Semua korban bencana yang dirawat menggunakan label. Label yang
dipasangkan pada pasien berisi identitas dan hasil triage. Setelah dilakukan
tindakan lifesaving, label akan dilepas dan disimpan pada rekam medic yang
bersangkutan.
Tempat : Ruang Triage IGD, Kamar Jenazah
Penanggung jawab : Ketua Rekam Medik
Prosedur :
1) Pasangkan label pada semua lengan atas kanan korban hidup saat masukl
ruangan triage atau korban meninggal pada saat masuk kamar jenazah,
serta dibuatkan rekam mediknya.
2) Control semua korban bencana dan pastikan sudah menggunakan label.

q. Pengelolaan Jenazah
Untuk kejadian bencana, jenazah akan langsung dikirim ke ruang
jenazah, pengelolaan jenazah seperti identifkasi, menentukan sebab kematian
dan menentukan jenis musibah yang terjadi, penyimpanan dan pengeluaran
jenazah dilakukan di kamar jenazah.
Tempat : Kamar Jenazah
Penanggung jawab : Ketua unit jenazah
Prosedur :
1) Registrasi semua jenazah korban bencana yang masuk ke Rumah Sakit
melalui kamar jenazah.
2) Bila diperlukan, dilakukan identifikasi pada korban untuk menentukan sebab
kematian.
3) Siapkan surat-surat yang diperlukan untuk identifikasi, penyerahan
kekeluarga, pengeluaran jenazah dan evakuasi dari Rumah Sakit serta
sertifikat kematian.
4) Buat laporan jumlah dan status jenazah kepada ketua medical support dan
pos pengolahan data.

r. Evakuasi Korban Ke Luar Rumah Sakit


Atas indikasi medis, social, politik dan hokum, maupun permintaan
yang bersangkutan atau atas permintaan keluarga seringkali pasien/korban
pindah ataupun keluar dari Rumah Sakit untuk dilakukan perawatan di Rumah
Sakit tertentu. Perpindahan/evakuasi korban ini dilakukan atas persetujuan tim
medis dan keluarga maupun Negara yang bersangkutan bila korban adalah
warga Negara asing. Kelengkapan dokumen medic serta persetujuan keluarga/
Negara yang bersangkutan diperlukan untuk pelaksanaan proses evakuasi.
Tempat : IGD, Komite Keperawatan
Penanggung jawab : Ketua Komite Keperawatan
Prosedur :
1) Pastikan adanya persetujuan medis, maupun persetujuan keluarga/Negara
yang bersangkutan sebelum proses evakuasi dilakukan.
2) Koordinasikan rencana evakuasi korban kepada pihak/rumah sakit
penerima.
3) Pastikan pasien dalam keadaan stabil dan siap untuk di evakuasi.
4) Siapkan ambulance sesuai standar untuk evakuasi pasien.
5) Bila diperlukan hubungi pihak penerbangan untuk kesiapan transportasi
pasien.
6) Pastikan adanya tim medis yang mendampingi selama proses evakuasi.
4. Penanganan Bencana Dari Luar Rumah Sakit
a. Metodologi
Bencana dari luar rumah sakit akan mendatangkan korban yang bersifat
missal karenanya berdasarkan jumlah korban yang dating bencana dengan
korban missal dibagi menjadi 3 tingkat yaitu :
Siaga 3 : jumlah korban yang datang 3-4 orang
Siaga 2 : jumlah korban yang datang 5-10 orang
Siaga 1 : jumlah korban yang datang lebih dari 10 orang
Keadaan siaga ini ditentukan oleh :
1) Dokter IGD yang berdinas pada saat itu yang selanjutnya dilaporkan
kepada pimpinan disaster.
2) Triage dipimpin oleh dokter IGD bersama perawat IGD
3) Penanggulangan awal penderita dilakukan oleh dokter IGD dan perawat
IGD serta tenaga perawat dari ruangan lain yang dimobilisasikan korban
dikelompokkan dalam kelompok korban dan diberi label sebagai berikut :
a) Label merah : penderita yang memerlukan tindakan cepat,
lifesaving sehingga terhindar dari kecacatan atau kematian.
b) Label biru : penderita yang trauma kepala berat
danpendarahan dalam rongga perut.
c) Label kuning : penderita dengan trauma ringan atau hanya
memerlukan tindakan bedah minor yang selanjutnya korban
diperbolehkan pulang.
d) Label hijau : penderita yang tidak mengalami luka dan bila
dibiarkan tidak berbahaya.
e) Label hitam : penderita yang sudah meninggal dunia.

b. Organisasi
Dalam keadaan bencana (disaster plant) seperti ini maka secara
otomatis pengorganisasian penanggulangan bencana yang telah ditetapkan
menjadi aktif.

c. Perencanaan SDM
Perencanaan sumber daya manusia untuk menghadapi
penanggulangan bencana ditentukan berdasarkan jumlah korban yang ada
pada saat itu dan jumlah tenaga. Ketentuan perencanaan SDM adalah
sebagai berikut :
1) Siaga 3 : jumlah korban yang datang 3-4 orang
Dokter IGD dan perawat IGD yang berdinas dibantu oleh beberapa
perawat poliklinik/ruang rawat yang sedang berdinas agar dapat
memenuhi kebutuhan tenaga.
2) Siaga 2: jumlah korban yang datang 5-10 orang
Diperlukan tambahan tenaga perawat dari perawatan sesuai kebutuhan.
3) Siaga 1 : jumlah korban lebihg dari 10 orang
Diperlukan tambahan tenaga dari unit pelayanan keperawatan yang
sedang tidak berdinas.
d. Perencanaan Komunikasi
Komunikasi dalam penanggulangan bencana di rumah sakit
merupakan hal yang sangat penting. Untuk itu ada hal-hal yang harus
dipenuhi dalam berkomunikasi yaitu :
1) Komunikasi dilakukan dengan singkat jelas dan benar.
2) Bagi pengirim berita sebutkan identitas, nama instansi dan alamat serta isi
berita yang menyebutkan jenis kejadian, lokasi kejadian, jumlah korban
dan tindakan yang telah dilakukan.
3) Penerima harus mencatat identitas pelapor, jam menerima berita, isi
berita dan mencari kebenaran berita tersebut melaporkan ke atasan.
Alat-alat komunikasi yang dapat diapakai antara lain :
a) Telepon
b) Faximilie
c) Pesawat HT
d) Handphone

e. Perencanaan Logistik
Perbekalan logistik umum dan obat-obat serta alat umum maupun alat
medis sangat diperlukan saat penanggulangan bencana. Hal menjadi
peranan penting bagi tim medis pendukung logistic untuk merencanakan
pelaksanaan sesuai dengan kondisi pada saat itu.

f. Perencanaan Transportasi
Perencanaan transportasi juga tidak kalah pentingnya untuk
pengangkutan korban, oleh karena itu pimpinan disaster dapat menggunakan
alat transportasi ambulan untuk merujuk korban kerumah sakit rujukan dan
bilamana perlu dapat berkoordinasi dengan ambulan gawat darurat.

g. Pelaporan
1) Informasi cepat tentang jumlah beratnya korban. Korban harus segera di
laporkan dalam 2 sampai dengan 4 jam.
2) Dilakukan evaluasi secara cepat dan tepat oleh pimpinan disaster dan tim
disaster dibuatkan laporannya untuk disampaikan kepada direktur rumah
sakit.

5. Penanganan Bencana Dari Dalam Rumah Sakit


a. Kebakaran
1) Metodeologi
Bencana dari dalam rumah sakit yang banyak menyebabkan
kerugian dan korban adalah bencana kebakaran. Oleh karenanya
metodeologi ini dititik beratkan pada penanggulangan kebakaran selanjutnya
bencana lain tinggal mengikutinnya.
Kebakaran di rumah sakit dapat digolongkan menjadi yaitu :
a) Kebakaran ringan : kebakaran yang melibatkan area yang sempit
dengan api yang kecil.
b) Kebakaran sedang : kebakaran yang melibatkan area lebih luas
bersifat local dengan besarnya api sedang.
c) Kebakarn berat : kebakaran yang melibatkan area yang luas
dengan api yang besar.

2) Organisasi
Secara otomatis organisasi penanggulangan bencana menjadi aktif
sesuai ketentuan yang berlaku.

3) Perencanaan SDM
Perencanaan sumber daya manusia untuk menghadapi
penanggulangan bencana ditentukan berdasarkan golongan kebakaran dan
jumlah korban yang ada pada saat itu. Dengan demikian dapat dibuatkan
perencanaan sumber daya manusia sebagai berikut :
Golongan kebakaran
a) Kebakaran ringan : untuk nmemadamkan api diperlukan 1-2 orang
dari pegawai yang dinas atau yang berada disekitar kejadian saja
dengan menggunakan 2 APAR.
b) Kebakaran sedang : untuk memadamkan api diperlukan 3-5 orang
dari pegawai yang dinas dengan APAR yng jumlahnya lebih banyak,
2-3 orang untuk evakuasi pasien, dokumenn ataupun barang
berharga lainnya yang ada diruangan / lokasi kejadian.
c) Kebakaran berat : untuk memadamkan api diperlukan bantuan dari
dinas kebakaran, dengan mengerahkan seluruh pegawai yang
berdinas saat itu untuk melakukan evakuasi.
d) Jumlah korban yang ada
Berdasarkan jumlah korban pada saat itu mnaka untuk
memobilisasi perencanaan sumber daya manusia dapat digunakan
ketentuan pada penanggulangan bencana missal.

4) Perencanaan Komunikasi
` Komunikasi dalam penanggulangan bencana di rumah sakit merupakan
hal yang sangat penting. Untuk itu ada hal-hal yang harus dipenuhi dalam
berkomunikasi yaitu :
a) Komunikasi dilakukan dengan singkat jelas dan benar.
b) Bagi pengirim berita sebutkan identitas, nama instansi dan alamat serta
isi berita yang menyebutkan jenis kejadian, lokasi kejadian,m jumlah
korban dan tindakan yang telah dilakukan.
c) Penerima harus mencatat identitas pelapor, jam menerima berita, isi
berita dan mencari kebenaran berita tersebut melaporkan ke atasan.

5) perencanaan Logistik
Perencanaan logistic umum dan obat-obatan dan alat umum maupun
alat medis sangat diperlukan saat penanggulangan bencana menjadi
peraanan penting bagi tim pendukung logistic untuk merencanakan
pelaksanaan sesuai dengan kondisi saat itu.

6) Perencanaan Transportasi
Peranan transportasi juga tidak kalah pentingnya untuk pengangkutan
korban, oleh karena itu pimpinan disaster dapat menggunakan alat
transportasi ambulan untuk merujuk korban kerumah sakit rujukan bilamana
perlu dapat berkoordinasi dengan ambulan 118.
7) Pelaporan
a) Informasi tentang jumlah beratnya korban harus segera di dapat dalam
waktu 2 sampai dengan 4 jam.
b) Dilakukan evaluasi secara cepat dan tepat oleh pimpinan disaster dan tim
disaster.
c) Dibuatkan laporannya untuk disampaikan kepada kepala rumah sakit.

b. Gempa Bumi
Dampak terjadinya gempa ini dapat merupakan bencana external namun
bila dampak gempa pada areal rumah sakit maka hal ini merupakan situasi
bencana yang terjadi di rumah sakit.
1) Metodeologi
a) Siapapun dan dimanapun lokasi, tetap tenang, jangan panik, jangan
berlari, ikuti petunjuk arah jalur evakuasi.
b) Segera berlindung dibawah meja/tempat tidru dan hindari bahan yang
mudah jatuh.
c) Tunggu perintah evakuasi dari tim penyelamat, jangan segera keluar
ruangan saat gempa terjadi.
d) Padamkan aliran listrik serta jauhi jaringan listrik.
e) Setelah kejadian gempa selesai, seluruh personil harus segera
berkumpul ditempat terbuka yang telah ditentukan untuk mendapatkan
instruksi lebih lanjut

2) Organisasi
Secara otomatis organisasi penanggulangan bencana menjadi aktif
sesuai ketentuan yang berlaku.

3) Perencanaan SDM
Perencanaan sumber daya manusia untuk menghadapi
penanggulangan bencana akibat gempa bumi ditentukan berdasarkan
jumlah korban yang ada pada saat itu.
4) Perencanaan Komunikasi
Komunikasi dalam penanggulangan bencana di rumah sakit
merupakan hal yang sangat penting. Untuk itu ada hal-hal yang harus
dipenuhi dalam berkomunikasi yaitu :
a) Komunikasi dilakukan dengan singkat jelas dan benar.
b) Bagi pengirim berita sebutkan identitas, nama instansi dan alamat serta
isi berita yang menyebutkan jenis kejadian, lokasi kejadian,m jumlah
korban dan tindakan yang telah dilakukan.
c) Penerima harus mencatat identitas pelapor, jam menerima berita, isi
berita dan mencari kebenaran berita tersebut melaporkan ke atasan.

5) perencanaan Logistik
Perencanaan logistic umum dan obat-obatan dan alat umum maupun
alat medis sangat diperlukan saat penanggulangan bencana menjadi
peraanan penting bagi tim pendukung logistic untuk merencanakan
pelaksanaan sesuai dengan kondisi saat itu.

6) Perencanaan Transportasi
Peranan transportasi juga tidak kalah pentingnya untuk pengangkutan
korban, oleh karena itu pimpinan disaster dapat menggunakan alat
transportasi ambulan untuk merujuk korban kerumah sakit rujukan bilamana
perlu dapat berkoordinasi dengan ambulan 118.

7) Pelaporan
a) Informasi tentang jumlah beratnya korban harus segera di dapat dalam
waktu 2 sampai dengan 4 jam.
b) Dilakukan evaluasi secara cepat dan tepat oleh pimpinan disaster dan tim
disaster.
c) Dibuatkan laporannya untuk disampaikan kepada kepala rumah sakit.

6. Pengakhiran Rencana dan Evakuasi


a. Pernyataan pengakhiran dan rencana evakuasi dilakukan oleh ketua komite
medic dengan kriteria :
1) Tidak ada pengiriman korban lagi dari luar dan/atau seluruh korban sudah
mendapatkan perawatan di Rumah Sakit atau semua pasien rumah sakit
yang terancam bahaya sudah di evakuasi dan diamankan serta dirawat
dengan baik (khusus bencana internal)
2) Ruangan cadangan (surge capacity) sudah tidak diperlukan bagi dan
jumlah korban yang dirawat berkurang mencapai jumlah kapasitas normal
rumah sakit.
3) Khusus bencana internal maka kerusakan yang terjadi di ruamhsakit
sudah dapat diatasi dengan baik dan atau bahaya sudah dapat
diamankan atau dihilangkan.

b. Setelah diakhiri, kegiatan rumah sakit kembali ke keadaan normal :


1) Tenaga tambahan/on call dipulangkan kembali.
2) Sarana/prasarana tambahan yang terpakai dikembalikan ke gudang
logistic/tempat penyimpanan semula.
3) Penghentian rencana kedaruratan diumumkan melalui pengeras suara.

c. Direktur medis mengadakan pertemuan dengan seluruh jajaran dibawahnya


untuk mengadakan evaluasi guna perbaikan dengan mereview fasilitas,
sumber daya manusia, pendataan korban, manajemen biaya.
d. Hasil evaluasi dilaporkan ke kepala rumah sakit dan pihak berwenang yang
berkaitan seperti dinas kesehatan, polres, dan korem.

7. Program Pelatihan
Rumah sakit membuat program pelatihan bagi seluruh karyawan dalam usaha
peningkatan kapasitas khususnya di bidang kegawatan dan manajemen
bencana yang terintegrasi.
Pelaksanaannya meliputi :
a. Pelatihan dan simulasi bencana gempa bumi.
b. inhouse training dan pengenalan manajemen bencana bagi seluruh karyawan
rumah sakit.
c. Workshop untuk mereview dan merevisi (bila diperlukan) rencana
kedaruratan rumah sakit minimal setahun sekali.
d. Simulasi dan drill bencana dilakukan secara teratur sesuai kebutuhan rumah
sakit.
BAB IV

DOKUMENTASI

Proses dan seluruh kegiatan yang dilakukan harus selalu didokumentasikan


dalam bentuk foto dan laporan jika terjadi bencana dilaporkan melalui laporan tahunan
serta dievaluasi secara berkala.

Kepala Rumah Sakit Tk. IV 02.07.04

dr. Teguh Ismanto , Sp.An


Mayor CKM NRP 11020000391071