Anda di halaman 1dari 20

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 2

Latar Belakang ....................................................................................................................... 2

Tujuan..................................................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 5

Definisi Kesehatan ................................................................................................................. 5

Indikator Sehat ....................................................................................................................... 6

Karateristik dan Perilaku Sehat .............................................................................................. 8

Konsep Kesehatan Komunitas ............................................................................................... 9

Konsep Dasar Keperawatan Komunitas ............................................................................... 11

BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 19

Kesimpulan........................................................................................................................... 19

Saran ..................................................................................................................................... 19

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsep pendekatan dalam upaya penanganan kesehatan penduduk
mengalami banyak perubahan sejalan dengan pemahamana dan
pengetahuan kita bagaimana suatu masyarakat menghayati dan
menghargai bahwa kesehatan itu merupakan “Human Capital” yang
sangat besar nilainya. Konsep sehat – sakit senantiasa berubah sejalan
dengan pemahaman kita tentang nilai, peran, penghargaan dan
pemahaman kita terhadap kesehatan. Dimulai pada zaman keemasan
Yunani bahwa sehat merupakan keadaan standar yang harus dicapai dan
dibanggakan, sedangkan sakit sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat.
Setelah di temukan kuman penyebab penyakit, batasan sehat juga
berubah, seseorang disebut sehat apabila setelah diadakan pemeriksaan
secara seksama tidak ditemukan penyebab penyakit. Tahun lima puluhan
definisi Word Health Organisation (WHO) tentang sehat sebagai keadaan
sehat sejahtera fisik mental social dan bukan hanya bebas dari penyakit
dan kelemahan, dan tahun delapan puluhan kemudian definisi sehat WHO
mengalami perubahan seperti yang tertera dalam Undang- Undang
Kesahatan Republik Indonesia No 23 tahun 1992 telah memasukan unsur
hidup produktif social dan ekonomi.

Bebicara mengenai kesehatan tentunya kita tidak terlepas dari


definisi klasik WHO tentang kesehatan yaitu “ Keadaan sempurna baik
fisik, mental dan social dan tidak sedang menderita sakit atau
kelemahan’’. Mengapa WHO memasukan istilah social? Sosial berarti “
Hidup bersama dalam kelompok dengan situasi yang saling
membutuhkan satu dengan yang lain”.

2
Kesehatan yang optimal bagi individu, keluarga, kelompok dan
masayarakat merupakan tujuan dari keperawatan, khususnya keperawatan
komunitas yang telah menekankan pada upaya peningkatan kesehatan dan
kecegahan terhadap berbagai gangguan kesehatan dan keperawatan,
dengan tidak melupakan upaya-upaya pengobatan .

Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan


dari pembangunan nasional yang diupayakan pemerintah. Dalam indeks
pembangunan manusia (IPM), indikator status kesehatan merupakan
salah satu kompenen utama selain pendidikan dan pendapatan perkapita.
Dengan demikian pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya
utama untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang memiliki
peran penting dalam mendukung percepatan pembangunan nasional untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal maka
diperlukan upaya dari seluruh potensi bangsa baik masyarakat, swasta
maupun pemerintah pusat dan daerah.

Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) ditetapkan subsitem


upaya kesehatan yang terdiri dari dua unsur utama yaitu Upaya Kesehatan
Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).UKM
terutama diselenggarakan Pemerintah dengan peran aktif masyarakat dan
swasta, sedangan UKP dapat diselenggarakan oleh masyarakat, swasta
dan Pemerintah. Penyelenggaraan upaya kesehatan harus bersifat
menyeluruh, terarah, terencana, terpadu, berkelanjutan, terjangkau,
berjenjang, professional dan bermutu.

3
B. Tujuan
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat ;
1. Menjelaskan definisi sehat
2. Menjelaskan definisi keperawatan kesehatan komunitas
3. Menjelaskan sasaran praktik kesehatan komunitas

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Kesehatan
Sehat adalah suatu kondisi dimana segala sesuatu berjalan normal dan bekerja
sesuai dengan fungsinya dan sebagaimana mestinya. Sedangkan kesehatan suatu
keadaan sejahtera sempurna yang lengkap, meliputi: kesejahteraan fisik, mental, dan
sosial bukan semata-mata bebas dari penyakit atau kelemahan, disamping itu juga
mampu produktif.
Menurut WHO (1947), yang dikatakan sehat adalah suatu keadaan yang
lengkap, meliputi: kesejahteraan fisik, mental, dan sosial bukan semata-mata bebas
dari penyakit atau kelemahan. Definisi sehat menurut WHO adalah sehat secara
keseluruhan baik jasmani, rohani, lingkungan serta komponen – komponen yang
berperan di dalamnya.Sehat menurut WHO terdiri dari satu kesatuan penting dari 4
komponen dasar yang membentuk “ positif health” yaitu :
1. Sehat jasmani,
2. Sehat mental,
3. Sehat spiritual,
4. Kesejahteraan social.

Dalam konsep sehat WHO tersebut diharapkan adanya keseimbangan yang serasi
dalam interaksi antara manusia dan makhluk hidup lain dengan lingkungannya.

Menurut UU No.23/ 1992 pengertian sehat adalah keadaan kesejahteraan dari


badan, jiwa dan social yang memungkinkan hidup produktif secara social dan
ekonomi. Artinya seseorang dikatakan sehat jika tubuh, jiwa dan kehidupan sosialnya
berjalan dengan normal dan sebagaimana mestinya. Jika salah satu komponen
terganggu, maka kehidupan akan menjadi tidak sehat.

Keperawatan kesehatan masyarakat (perkesmas) adalah suatu bidang dalam


keperawatan kesehatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan
masyarakat dengan dukungan peranserta aktif masyarakat yang mengutamakan
pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengebaikan
pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu. Pelayanan tersebut
ditujukan pada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat sebagai suatu kesatuan

5
yang utuh, melalui proses keperawatan untuk meningkatkan fungsi kehidupan
manusia secara optimal sehingga dapat mandiri dalam upaya kesehatannya (Depkes,
2006).
Kesehatan masyarakat merupakan kombinasi antara teori (ilmu) dan praktik
(seni) yang bertujuan untuk mencegah penyakit, memperpanjang usia hidup, dan
meningkatkan kesehatan penduduk (masyarakat), melalui upaya-upaya
pengorgnisasian masyarakat (Notoatmodjo, 2007).
Partisipasi masyarakat atau Peran Serta Masyarakat (PSM) di didang
kesehatan sangat penting, agar individu, keluarga maupun masyarakat umum
bertanggung jawab terhadap kesehatan diri, keluarga, ataupun kesehatan masyarakat
lingkungannya.
Keperawatan kesehatan komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional
yang ditujukan kepada masyarakat dengan pendekatan pada kelompok resiko tinggi,
dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit
dan peningkatan kesehatan dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan
yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi pelayanan keperawatan ( Spradley, 1985: Logan dan Dawkin, 1987)

B. Indikator Sehat
Berikut ini adalah indikator yang berhubungan dengan derajat kesehatan masyarakat:
1. 10 Indikator menurut sistem kesehatan nasional atau 12 indikator menurut
H.L.Blum
a. Life span : Yaitu lamanya usia harapan untuk hidup dari
masyarakat, atau dapat juga dipandang sebagai derajat kematian masyarakat
yang bukan karena mati tua.
b. Disease or Infirmity : Yaitu keadaan sakit atau catat secara fisiologis
dan anatomis dari masyarakat .
c. Discomfort or illness : Yaitu keluhan sakit dari masyarakat tentang
keadaan somatik, kejiwaan, maupun sosial dari dirinya.
d. Disability or incapacity : Yaitu ketidakmampuan seseorang dalam
masyarakat untuk melakukan pekerjaan dan menjalankan peranan sosialnya
karena sakit.
e. Participation in healthy care : Yaitu kemampuan dan kemauan masyarakat
untuk berpartisipasi dalam menjaga dirinya untuk selalu dalam keadaan sehat.
f. Healthy behavior : Yaitu perilaku nyata dari anggota masyarakat
secara langsung berkaitan dengan kesehatan.

6
g. Ecologic behavior : Yaitu perilaku masyarakat terhadap
lingkungan, spesies lain, SDA, dan ekosistem
h. Social behavior : Yaitu perilaku anggota masyarakat terhadap
sesamanya, keluarga, komunitas, dan bangsanya.
i. Interpesonal relationshif : Yaitu kualitas komunikasi anggota masyarakat
terhadap sesamanya.
j. Reserver or positive health : Yaitu daya tahan anggota masyarakat terhadap
penyakit atau kapasitas anggota masyarakat dalam menghadapi tekanan-
tekanan somatik, kejiwaan dan sosial.
k. External satisfaction : Yaitu rasa kepuasan anggota masyarakat
terhadap lingkungan sosialnya meliputi :
rumah,sekolah,pekerjaan,rekreasi,transportasi, dan sarana pelayanan kesehatan
yang ada.
l. Internal satisfaction : Yaitu kepuasan anggota masyarakat terhadap
seluruh aspek kehidupan dirinya sendiri.
2. Indikator sehat menurut WHO :
a. Indikator yang berhubungan dengan keadaan status kesehatan masyarakat,
meliputi :
 Indikato komprehensif, angka kematian kasar/CDR (crue date rate)
menurun, rasio angka kematian (mortalitas) proposional menurun, dan
usia harapan hidup meningkat (life expectency rate)
 Indikator spesifik, angkat kematian ibu dan anak menurun, angkat
kematian karena penyakit menular menurun, dan angka kelahiran
menurun.
b. Indikator pelayanan kesehatan
 Rasio antara tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbangan
 Distribusi tenanga kesehatan merata
 Informasi lengkap tentang jumlah tempat tidur dirumah sakit dan fasilitas
kesehatan lain
 Informasi tentang jumlah sarana pelayanan kesehatan, diantaranya : RS,
Puskesmas, rumah bersalin, poli klinik dan pelayanan kesehatan lainnya.
3. Indikator kesehatan menurut Indonesia Sehat 2010 Depkes RI tahun 2003 terdiri
dari 3 indikator, yaitu :
 Indikator Derajat Kesehatan yang merupakan hasil akhir, terdiri atas
indicator angka- angka mortalitas, angka- angka morbiditas, dan indicator
status gizi.
 Indikator Hasil Antara, terdiri atas indikator keadaan lingkungan, indikator
prilaku hidup masyarakat, indikator akses dan mutu pelayanan kesehatan.
 Indikator Proses dan Masukan, terdiri atas indicator pelayanan kesehatan ,
indikator sumber daya kesehatan, dan indicator manajemen kesehatan serta
indicator kontribusi sector-sektor terkait.

7
4. Ada 24 indikator kesehatan yang digunakan dalam IPKM dengan nilai korelasi
UHH yang tertinggi, yaitu :
 Prevalensi balita gizi buruk dan kurang
 Prevalensi balita sangat pendek dan pendek
 Prevalensi balita sangat kurus dan kurus
 Prevalensi balita gemuk
 Prevalensi diare
 Prevalensi pneumoni
 Prevalensi hipertensi
 Prevalensi gangguan mental
 Prevalensi asma
 Prevalensi penyakit gigi dan mulut
 Prevalensi disabilitas
 Prevalensi cidera
 Prevalensi penyakit sendi
 Prevalensi ISPA
 Proporsi prilaku cuci tangan
 Proporsi merokok tiap hari
 Akses air bersih
 Akses sanitasi
 Cakupan persalinan oleh nakes
 Cakupan pemeriksaan neonatal-1
 Cakupan imunisasai lengkap
 Cakupan penimbangan balita
 Ratio Dokter/Puskesmas
 Ratio Bidan/ desa

C. Karateristik dan Perilaku Sehat


Berikut adalah karateristik sehat:
1. Adanya peningkatan kemampuan dari masyarakat untuk hidup sehat.
2. Mampu mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya pengangkatan
kesehatan (Health Promotion), pencegahan penyakit (Health Prevention),
penyembuhan penyakit (Curative Health), dan pemulihan kesehatan ( Rehabilitatif
Health), terutama untuk ibu dan anak.
3. Berupaya untuk meningkatkan kesehatan lingkungan, terutama penyediaan
sanitasi dasar yang dikembangkan dan di manfaatkan oleh masyarakat untuk
meningkatkan mutu lingkungan hidup.

8
4. Selalu meningkatkan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status
sosial ekonomi masyarakat.
5. Berupaya selalu menurunkan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab
dan penyakit.

Menurut Becker prilaku kesehatan diuraikan menjadi tiga domain, yaitu


:pengetahuan kesehatan ( health knowledge), sikap terhadap kesehatan ( health
attitude ), dan praktek kesehatan ( health practice ). Hal ini berguna untuk mengukur
seberapa besar tingkat prilaku kesehatan individu yang menjadi unit analisis
penelitian. Becker mengklasifikasikan prilaku kesehatan menjadi tiga dimensi :
Pengetahuan kesehatan, Sikap terhadap kesehatan, Praktek kesehatan.
Berikut adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan
seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini
mencakup antara lain:
1. Menu seimbang
2. Olahraga teratur
3. Tidak merokok
4. Tidak minum-minuman keras dan narkoba
5. Istirahat yang cukup
6. Mengendalikan stress
7. Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan

D. Konsep Kesehatan Komunitas


Menurut Kamus, Community adalah masyarakat yaitu sekumpulan orang yang
hidup bersama disuatu tempat dengan ikat-ikatan aturan tertentu
(Poerwadarminta,1991). Menurut Effendi N (1997) , unit-unit masyarakat adalah
community, keluarga, kelompok yang mempunyai tujuan dan nilai yang sama
sedangkan menurut Koenjaningrat (1990), komunitas adalah suatu kesatuan hidup
manusia yang menempati suatu wilayah nyata dan berinteraksi menurut suatu sistem
adat istiadat, serta terikat oleh rasa identitas suatu komunitas.
Dalam Kozier dkk (1997) dikatakan bahwa komunitas adalah sekumpulan
orang, tempat mereka dapat berbagi atribut dalam kehidupannya. Menurut Stanhope
dan Landcaster (1996), mendefinisikan perawatan kesehatan komunitas sebagai suatu

9
sintesis dari keperawatan dan praktek kesehatan umum yang diaplikasikan untuk
promosi dan melindungi kesehatan masyarakat.
Lima fungsi komunitas (Kozier, dkk, 1997)
1. Produksi, distribusi, konsumsi dan pelayanan yang baik. Berkaitan dengan
penyediaan kebutuhan ekonomi anggota masyarakat. Fungsi tersebut tidak hanya
terbatas pada makanan dan pakaian saja tetapi juga persediaan air, listrik,
keamanan,proteksi kebakaran dan pembuangan sampah.
2. Sosialisasi merupakan suatu proses yang halus dalam perpindahan/pertukaran
nilai, pengetahuan, budaya dan berbagai keterampilan lain. Komunitasmembuat
lembaga, seperti keluarga, rumah ibadah, media organisasi sosial dan lain-lain
yang sangat erat kaitannya dengan sosialisasi.
3. Kontrol sosial dilaksanakan untuk menjaga kestabilan komunitas. Penerapana
hukum yang ditunjang dengan kekuatan kepolisian , regulasi kesehatan publik
untuk mengimplentasikan perlindungan masyarakat dari penyakit.
4. Interpartisipasi sosial membuat kegiatan masyarakat harus diatur dengan
hubungan kerjasama untuk memenuhi kebutuhannya. Demikian juga yang terjadi
dalam keluarga, rumah ibadah, dan organisasi lainnya.
5. Dukungan mutualistis terlihat pada penanganan bantuan dalam menyiapkan
sumber-sumber pada waktu sakit atau bencana.
Menurut Effendi N (1997) , ada 2 isitilah yang perlu dipahami sebelum
membahas keperawatan kesehatan komunitas yaitu public health nursing (PHN) dan
community helath nursing (CHN). Kedua istilah tersebut jika diterjemahkan kedalam
bahasa indonesi mempunyai arti yang sama yaitu keperawatan kesehatan masyarakat.
Keperawatan kesehatan komunitas adalah sintesis dari praktek keperawatan
dan praktek kesehatan masyarakat, yang sebagian besar tujuannya adalah
menjaga/memelihara kesehatan komunitas dan penduduk dengan fokus pada promosi
kesehatan dan pemeliharaan individu, keluarga dan kelompok dalam komunitas.
Misi dari kesehatan masyarakat adalah keadilan sosial dengan dasar hak
individu terhadap keperluan hidup seperti penghasilan yang adekuat, proteksi
kesehatan, dan meringankan bebannya bila memungkinkan.

10
E. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas
1. Definisi
Menurut WHO (1974), komunitas adalah suatu kelompok sosial yang di
tentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan dan minat yang sama,
serta ada rasa saling mengenal dan interaksi antara anggota masyarakat yang satu
dengan masyarakat lainnya.
Sedengkan, Keperawatan Komunitas mencakup perawatan kesehatan keluarga
juga kesehatan dan kesejahteraan masyrakat luas, membantu masyarakat
mengidentifikasi masalah kesehatannya sendiri, serta memecahkan masalah
kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada pada mereka sebelum
mereka meminta bantuan kepada orang lain.
Berdasarkan pernyatan dari American Nurses Assosiation ( 2004) yang
mendifinisikan keperawatan kesehatan komunitas sebagai tindaan untuk
meningkatkan atau mempertahankan kesehatan dari populasi dengan
mengintegrasikanketrampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan keperawatan
dan kesehatan masyarakat. Praktik yang dilakukan komprehensif dan umum serta
tidak terbatas pada kelompok tertentu, berkelanjutan secara terus menerus.
Menurut Depkes,2006 mendefinisikan keperawatan kesehatan komunitas
adalah suatu bidang dalam keperawatan kesehatan yang merupakan perpaduan
antara keperawatan dan kesehatan masyarakatdengan dukungan peran serta aktif
masyarakat,serta mengutamakan pelayanan yang bersifat promotif,preventif
secara berkesinambungantanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitative
secara menyeluruh dan terpadu ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang utuh, melaliu proses keperawatan
untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimalsehingga mandiri
dalam upaya kesehatannya.
Keperawatan Kesehatan masyarakat ( Perkesmas ) adalah pelayanan
keperawatan professional yang merupakan perpaduan antara konsep kesehatan
masyarakat dan konsep keperawatan yang ditujukan pada selurauh masyarakat
dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi. Dalam upaya pencapaian derajat
kesehatan yang optimal dilakukan melalui upaya peningkatan kesehatan (
promotif ) dan pencegahan ( preventif 0di semua tingkat pencegahan ( levels of
prevention ) dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang

11
dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra kerja dalam perncanaan,
pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan ( Depkes, 2006 ).
2. Tujuan
a. Tujuan umum
Meningkatan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara
menyeluruh memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan
yang optimal secara mandiri.
b. Tujuan Khusus
1) Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat
2) Meningkatkan kemampuan individu, kelompok dan masyarakat untuk
memaksimalkan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi
masalah keparawatan.
3) Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan
dan asuhan keperawatan.
4) Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan
pembinaan dan asuhan keperawatan dirumah , dipanti dan
dimasyarakat.
5) Tertanganjnya kasus- kasus yang memerlukan penanganan tindak
lanjut dan asuhan keperawatan dirumah.
6) Terlayaninya kasus- kasus tertentu termasuk kelompok resiko tinggi
yang memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan dirumah atau
dipuskesmas.
7) Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan social untuk
8) menuju keadaan sehat optimal.

3. Sasaran
a. Individu adalah anggota keluarga sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi,
psikologi, sosial, dan spiritual.
b. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam satu
rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi.
c. Kelompok khusus adalah sekumpulan individu yang mempunyai kesamaan
jenis kelamin, usia, permasalahan.

12
4. Prinsip
a. Kemanfaatan
Intervensi atau pelaksanaan asuhan keperawatan komunitas yang dilakukan
harus memeberikan manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya ada
keseimbangan antara manfaat dan kerugian.
b. Otonomi
Dalam keperawatan komunitas masyarakat diberikan kebebasan untuk
melakukan atau memilih alternatif terbaik yang disediakan.
c. Keadilan
Hal ini menegaskan bahwa upaya atau tindaka yang dilakukan sesuai dengan
kemampuan atau dengan kapasitas komunitas.
5. Konsep Pencegahan dalam Kesehatan
Dalam perawatam medis, fokusnya adalah managemen penyakit dan
penyembuhan. Tetapi kondisi sebaliknya dapat kita temukan dalam public health.
Public health focus pada upaya – upaya promosi kesehatan dan pencegahan. Pada
promosi kesehatan kita focus tentang peningkatan sumber daya yang diarahkan
untuk peningkatan kesehatan -kesejahteraan. Sedangkan health prevention
activites diarahkan untuk melindungi masyarakat dari penyakit dan efek dari
penyakit tersebut. Selanjutnya Leavell and Clark mengidentifikasikan tiga level
pencegahan ( primary, secondary, and tertiary prevention).

13
LEVEL 1
Premary
Prevention
Activities
Pencegahan masalah
Sebelum terjadi
Contoh imunisasi

LEVEL 2
Secondary Prevention Activities
Deteksi dini dan intervensi
Contoh skrining penyakit menular seksual

LEVEL 3
Tertiary Prevention Activities
Koreksi dan pencegahan buruknya penyakit
Contoh pemberian insulin dirumah

Gambar 1 : Tiga level pencegahan menurut leavell and Clark,1958 ( Maure and
Smith, 2012 )
a. Level 1: Aktivitas Pencegahan Primer
Aktivitas pencegahan primer ini ditujukan sebelum masalah kesehatan atau
penyakit terjadi. Artinya, aktivitas ini dilakukan bagi orang- orang yang sehat
untuk mempertahankan kesehatannya atau untuk mencegah masalah
kesehatan atau penyakit terjadi. Misalnya, kegiatan imunisasi, yang
bermanfaat untuk mencegah penyakit tertentu. Imunisasi dapet diberikan
kepada bayi, anak sekolah, termasuk imunisasi untuk orang dewasa.
b. Level 2: Aktivitas Pencegahan Sekunder
Pada level ini pencegahan ditujukan untuk menditeksi secara lebih awal
adanya masalah kesehatan atau penyakit yang dialami oleh seseorang. Jadi
level ini dilakukan pada orang yang sakit tetapi belum diketahui apa
penyakitnya, sehingga perlu dideteksi atau di diagnosis. Selanjtnya apabila di
temukan suatu masalah kesehatan, maka langkah selanjutnya memberikan
tindakan atau terapi untuk mengatasi masalah kesehatan atau penyakit yang
telah teridentifikasi tersebut. Kegiatan ini dikenal dengan early detection and
intervention , misalnya skrining untuk penyakit menular seksual

14
c. Level 3 : Aktivitas Pencegahan Tersier
Pada level ini ditujukan untuk melakukan koreksi dan pencegahan terhadap
memburuknya keadaan penyakit. Jadi pada tahap ini pun dilakukan pada
orang yang sakit dan perlu upaya serius agar penyakit yang diderits tidak
bertambah parah, tetapi sebaliknya bertambah membaik sehingga
semaksimal mungkin dapat pulih kembali. Contohnya, teaching insulin
administration in the home.
Bila melihat ketiga level pencegahan tersebut, maka pilihan yang
paling tepat adalah level 1 yang focus pada tindakan pencegahan penyakit
sebelum penyakit itu di derita atau sebelum maslah kesehatan itu terjadi.
Disinilah pentingnya mengapa public health sangat focus dengan pencegahan
penyakit bukan tindakan pengobatan atau curative action. Cost atau biaya
yang dikeluarkan untuk pencegahan jauh lebih murah dibandingkan dengan
biaya pengobatan, yang sudah pasti membutuhkan banyak biaya , waktu dan
tenaga baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.
Semestinya pemerintah memberikan perhatian besar atau lebih
berpihak pada pencegahan kesehatan. Kondisi saat ini di Indonesia dan
banyak negara lainnya adalah selalu mengatakan pencegahan itu lebih
penting daripada pengobatan, namun dalam praktiknya sangat berbeda jauh.
Petugas kesehatan di Puskesmas yang mestinya banyak melakukan promosi
kesehatan dan pencegahan kesehatan malah lebih sibuk atau banyak
menghabiskan waktunya untuk urusan tindakan pengobatan dengan berbagai
macam alasan.

6. Strategi Keperawatan Komunitas


Dalam melaksanakan program asuhan keperawatan komunitas perlu di
gunakan strategi sebagai berikut:
a. Locality Development: yang menekankan pada peran serta masyarakat dan
masyarakat terlibat langsung dalam proses pengkajian, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.
b. Sosial Planning : dapat berubah dan dibuat oleh para ahli dengan
menggunakan birokrasi.
c. Sosial Action : adanya proses perubahan yang berfokus pada masyarakat
atau program dibuat oleh pemerintah untuk perubahan yang mendasar.

15
Sedangkan dalam melaksanakan program pelayanan keperawatan kesehatan
komunitas perlu juga diberi strategi :
a. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tenaga pengelola perawatan
kesehatan komunitas serta tenaga pelaksana puskesmas melalui kegiatan
penataran.
b. Meningkatkan kerja lintas program dan sector , melalui kegiatan temu
karya dan forum pertemuan di kecamatan dan puskesmas.
c. Membantu masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan
melalui pendidikan kesehatan pada keluarga , memberikan bimbingan
teknis dalam bidang kesehatan khususnya pelayanan keperawatan.
d. Mengadakan buku- buku pedoman pelayanan keperawatan

Menurut Hendrik L Blum derajat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 4


faktor yaitu ;

a. Lingkungan, yaitu segala sesuatu yang berada disekeliling keluarga


dimana ia tumbuh dan berkembang, mencakup lingkungan fisik, social
budaya dan biologi.
b. Prilaku dan keluarga, baik sebagai satu kesatuan terkecil dalam
masyarakat maupun perilaku dari tiap anggota keluarga tersebut.
c. Pelayanan kesehatan terutama pelayanan kesehatan keluarga baik sebagai
upaya professional maupun sebagai upaya pelayanan swadaya masyarakat
dan atau keluarga sendiri.
d. Keturunan, yaitu sifat genetika yang ada dan diturunkan kepada individu
7. Peran Perawat Komunitas
a. Sebagai penyedia pelayanan ( care provider )
Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah keperawatan
yang ada, merencanakan tindakan keperawatan, melaksanakan tidakan
keperawatan dan mengevaluasi pelayanan yang diberikan kepada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.
b. Sebagai pendidik dan konsultan ( Nurse educator and Counselor)
Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu , keluarga, kelompok
dan masyarakat secara terorganisir dalam rangka menanamkan prilaku
sehat, sehinggga terjadi perubahan prilaku sperti yang di harapkan dalam
mencapai derajat kesehatan yang optimal.

16
c. Sebagai panutan ( Role Model )
Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberi contoh yang baik
dalam bidang kesehatan kepada individu, kelurga, kelompok dan
masyarakat tentang bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru oleh
masyarakat.
d. Sebagai pembela ( Client Advocate)
Pembelaan dapat diberikan kepada individu, kelompok dan tingkat
komunitas. Pada tingkat keluarga, perawat dapat menjalankan funsinya
melalui pelayanan social yang ada dalam masyarakat. Pembelaan termasuk
didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan
kebutuhan klien terpenuhi dan melindumgi hak-hak klien (Mubarak,2005)
Tugas perawat sebagai pembela klien adalah bertanggung jawab
membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari
berbagai pemberi pelayanan dan dalam membarikan informasi hal lain
yang diperlukan untuk mengambil persetujuan(informed concent) atas
tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya.
e. Sebagai manager kasus (case manager)
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai
kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan masyarakat sesuai dengan
beban tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
f. Sebagai Kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara bekerja
sama dengan tim kesehatan lain, baik dengan dokter, ahli gizi, ahli
radiologi dan lain-lain dalam kaitannya membantu mempercepat proses
penyembuhan klien.
g. Sebagai perancana tindakan lanjut (Discharge Planner)
Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang telah menjalani
perawatan disuatu instansi kesehatan atau rumah sakit.
h. Sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan (case finder)
Melaksanakan monitoring perubahan-perubahan yang terjadi pada individu
keluarga kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalah-masalah
kesehatan dan keperawatan yang timbul serta berdampak terhadap status
kesehatan melalui kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan, observasi dan
pengumpulan data.

17
i. Koordinator pelayanan kesehatan (coordinator of service)
Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan,
merencanakan dan mengorganisasikan pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada klien. Pelayanan dari semua anggota tim kesehatan,
karena klien menerima pelayanan dari banyak professional (Mubarak,
2005).
j. Pembawa perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change Agent dan
Leader)
Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang berinisiatif
merubah atau membantu orang lain membuat perubahan pada dirinya atau
pada sistim.
k. Pengidentifikasi dan pemberi pelayanan komunitas (Community Care
Provider and Researcher)
Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan pada
masyarakat yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi masalah kesehatan dan pemecahan masalah yang diberikan.

8. Falsafah
Keperawatan komunitas merupakan pelayanan yang memberikan perhatian
terhadap pengaruh lingkungan baik biologis, psikologis, sosial, kultural, dan
spiritual kesehatan komunitas. Selain itu, hal ini juga memberikan prioritas para
strategi pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Falsafah yang melandasi
keperawatan komunitas mengacu pada falsafah atau paradigma keperawatan
secara umum, yaitu: manusia merupakan titik sentral dari segala upaya
pembangunan kesehatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut WHO (1974), komunitas adalah suatu kelompok sosial yang di
tentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan dan minat yang sama, serta
ada rasa saling mengenal dan interaksi antara anggota masyarakat yang satu dengan
masyarakat lainnya.

Keperawatan Kesehatan masyarakat ( Perkesmas ) adalah pelayanan


keperawatan professional yang merupakan perpaduan antara konsep kesehatan
masyarakat dan konsep keperawatan yang ditujukan pada selurauh masyarakat dengan
penekanan pada kelompok resiko tinggi. Dalam upaya pencapaian derajat kesehatan
yang optimal dilakukan melalui upaya peningkatan kesehatan ( promotif ) dan
pencegahan ( preventif 0di semua tingkat pencegahan ( levels of prevention ) dengan
menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien
sebagai mitra kerja dalam perncanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan
( Depkes, 2006 ).

Tujuan pelayanan Perkesmas adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dalam


mengatasi masalah perkesmas secara optimal. Pelayanan kesehatan diberikan secara
langsungkepada seluruh masyarakat dalam rentang sehat- sakit dengan
mempertimbangkan seberapa jauh masalah kesehatan masyaratan dapat
mempengaruhi individu, keluarga dan kelompok.Sasaran kesehatan masyarakat
mencakup seluruh komponen masyarakat terdiri atas individu, keluarga, kelompok
yang berisiko tinggi .

B. Saran
Sebagai pemberi pelayanan kesehatan, diharapakan tim kesehatan bekerjasama
dengan Pemerintah untuk meningkatkan ketrampilan dan kemampuan yang
professional dalam memberikan pelayanan bermutu dan berkwalitas kepada seluruh
komponen baik individi, keluarga, kelompok maupun masyarakat.

19
DAFTAR PUSTAKA

Mubarak, Wahid Iqbal, dkk. 2011. Ilmu Keperatan Komunitas Pengantar dan Teori.Jakarta:
Salemba Medika

Mubarak, Wahid Iqbal, dkk. 2009. Ilmu Kesehatan Komunitas Teori dan Aplikasi.Jakarta:
Salemba Medika

Sumijatun, dkk. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas.Jakarta : EGC

American Nurses association. ( 2004).Scope And Standards for Nurse administrators, edition
Washington, DC : Nurseabooks. Org.

American Public Health Association Public health nursing Section. ( 1996 ). The Association
of community Health nurses Educators : Essentials of master’s Level Nursing
Educationfor advanced community/public health nursing practice. Latham, NY :
Association of Community Health Nurse Eductors.

American Public Health Association Public Health Nursing. 2004. Definition and role of
Public health Nursing. Dalam www. Csuchico.edu ( Diakes tanggal 23 Agustus
2005).

Depkes,2006. Pedoman Penyelenggaraan Upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat Di


Puskesmas. Jakarta : Depkes RI.

goleman, daniel; boyatzis, Richard; Mckee, A. (2019). Journal of Chemical Information and
Modeling, 53(9), 1689–1699. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

20