Anda di halaman 1dari 7

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………...….… 0
Daftar Isi……………………………..……………………………………....... 2
BAB I PENDAHULUAN………………………………………...................... 3
A. Latar Belakang……………..………................…………………….. 3
B. Rumusan Masalah……..……………...…….…………..……........... 4
C. Tujuan…………...…………………………......…………….……... 4
BAB II PEMBAHASAN……………..……...……………………...………... 5
A. Pengertian Midwifery Led-Care…………………..…….………….. 5
B. Tujuan Midwifery Led-Care…...………………………..….………. 5
C. Pentingnya Midwifery Led-Care……………………………...……. 6
BAB III PENUTUP……….....………….……………………………………. 7
A. Kesimpulan…………………..……………………….……...……….... 7
Daftar Pustaka………………………………………………………................ 8

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebidanan (midwifery) merupakan ilmu yang terbentuk dari sintesa berbagai


disiplin ilmu (multi disiplin) yang terkait dengan pelayanan kebidanan meliputi ilmu
kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu perilaku, ilmu sosial budaya, ilmu kesehatan
masyarakat dan ilmu manajemen untuk dapat memberikan pelayanan kepada ibu
dalam masa pra konsepsi, hamil, bersalin, post partum, bayi baru lahir (Lestari,
2014:34). Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan salah satu masalah
kesehatan yang menyita perhatian dunia. Hal ini disebabkan karena Angka Kematian
Ibu (AKI) maupun Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator
yang digunakan untuk melihat derajat kesehatan dunia. Terdapat berbagai komponen
yang berpengaruh terhadap proses kematian ibu. Yang paling dekat dengan kematian
dan kesakitan ibu adalah kehamilan, persalinan, atau komplikasinya, dan masa nifas.
Karena seorang wanita harus hamil atau bersalin terlebih dahulu sebelum dapat
digolongkan dalam kematian ibu (Saifudin, 2009:284). Pelayanan kebidanan meliputi
pelayanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, neonatus dan KB. Seorang wanita yang
telah melahirkan harus mendapatkan pelayanan kontrasepsi untuk
menunda/merencakan dan mengakhiri kehamilan dikarenakan sebagai berikut: jarak
yang aman untuk persalinan adalah 2-4 tahun, kesuburan seorang wanita akan terus
berlangsung sampai mati haid, umur yang terbaik untuk hamil adalah 20-35 tahun dan
persalinan pertama dan kedua paling rendah resikonya (Saifuddin, 2006:147).
Model asuhan kebidanan adalah suatu bentuk pedoman atau acuan yang
merupakan kerangka kerja seorang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan
dipengaruhi oleh filosofi yang dianut bidan meliputi unsure-unsur yang tedapat
ddalam paradigmaa kesehatan (manusia, prilaku, lingkungan dan pelayanan
kesehatan). Secara umum teori dan konsep adalah hal yang berkaitan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam pelayanan kebidanan, teori-teori yang
digunakan dalam praktik kebidanan berasal dari konseptual moadel kebidanan.
Model atau teori adalah gambaran tentang objek dari suatu kejadian atau objek
yang digunakan oleh peneliti untuk menggabarkan fenomena social yang menarik
perhatian. Konseptual model merupakan gambaran abstrak suatu ide yang menjadi

3
dasar suatu disiplin ilmu. Konseptual model dapat memberikan gambaran abstrak atau
ide yang mendasari disiplin ilmu dan kemudian diterapkan sesuai bidang masing-
masing.
Perempuan adalah makhluk bio-Psiko-sosial-cultural dan spiritual yang utuh
dan unik, mempunyai kebutuhan dasar yang bermacam-macam sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Setiap perempuan merupakan pribadi yang mempunyai hak,
kebutuhan serta harapan.
Perempuan mengambil tanggung jawab terhadap kesehatannya dan
keluarganya melalui pendidikan dan konseling dalam membuat keputusan.
Perempuan mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan tentang siapa yang
memberi asuhan dan dimana tempat pemberian asuhan. Sehingga perempuan perlu
pemberdayaan dan pelayanan untuk memperoleh pendidikan dan informasi dalam
menjalankan tugasnya.
Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan
kepada masyarakat khususnya perempuan. Bidan diakui sebagai tenaga professional
yang bertanggung jawab dan akuntable, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk
memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan
masa nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan
asuhan kepada bayi baru lahir dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan,
promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan
medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan gawat darurat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan midwifery led-care?
2. Bagaimana tujuan midwifery led-care?
3. Bagaimana pentingnya midwifery led-care?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian midwifery led-care.
2. Untuk mengetahui tujuan midwifery led-care.
3. Untuk mengetahui pentingnya midwifery led-care.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Midwifery Led-Care


Midwifery led-care merupakan model praktik atau pelayanan atau asuhan
yang di mana bidan berperan sebagai pemimpin atau pusat asuhan. Sebagai seorang
pemimpin dan pusat asuhan, bidan memiliki tugas yang semakin luas dan
berwawasan. Dengan melaksanakan model praktik midwifery led-care, banyak sekali
manfaat yang didapat salah satunya adalah tercapainya segala prinsip-prinsip dalam
kebidanan itu sendiri. Pelayanan kebidanan adalah seluruh tugas yang menjadi
tanggung jawab praktik profesi bidan dalam sistem pelayanan kesehatan yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan kaum perempuan khususnya ibu dan anak.
B. Tujuan Midwifery Led-Care
Berikut merupakan tujuan dilaksanakannya Midwifery Led-Care.
1. Menciptakan komunikasi yang baik antara bidan dan pasien.
Dengan dilaksanakannya midwifery led-care, tentunya bertujuan untuk
terjalinnya komunikasi yang baik antara bidan dan pasien. Komunikasi yang baik
ini dimaksudkan agar tidak ada kesalah pahaman atas segala proses yang telah
dilakukan dalam asuhan atau praktik.
2. Mengetahui dan menambah wawasan bidan sebagai seorang pemimpin.
Sesuai dengan definisi midwifery led-care itu sendiri, sudah pasti salah satu
tujuannya adalah untuk mengetahui dan menambah wawasan bidan sebagai
seorang pemimpin. Bidan sebagai pemimpin atau pusat asuhan biasanya menjadi
kepala ruangan bersalin dan kepala ruangan nifas di Rumah Sakit, pemilik klinik
bersalin Praktik Bidan Mandiri (PBM), kepala ruangan di Puskesmas, dan
instansi-instansi kesehatan lainnya.
3. Memberikan pelayanan yang maksimal dan berkualitas.
Sebagai seorang bidan tentunya dituntut untuk memberikan pelayanan yang
maksimal dan berkualitas kepada pasien. Dengan melaksanakan midwifery led-
care ini, diharapkan kualitas pelayanan praktik dan asuhan semakin maksimal dan
berkualitas.

5
4. Memberdayakan pasien dan kesejahteraan keluarga.
Selain menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, seorang bidan juga
harus mampu menjaga kesejahteraan keluarga pasien untuk menghindari
miskomunikasi antara keluarga pasien.
5. Memberikan informasi yang akurat tentang resiko dan manfaat dalam segala
prosedur.
Dengan dilaksanakannya midwifery led-care juga diharapkan seorang bidan
yang merupakan ahli dan pemimpin dapat memberikan informasi yang akurat
tentang segala resiko atau pun manfaat dalam segala prosedur praktik dan asuhan.
6. Melindungi proses kehamilan dan persalinan normal.
Midwifery led-care sangat mengedepankan persalinan normal karena
kehamilan dan persalinan merupakan proses alami yang akan dialami setiap
wanita. Maka dari itu, model praktik ini bertujuan untuk melindungi proses
kehamilan dan persalinan normal.
C. Pentingnya Midwifery Led-Care
Dengan dilaksanakannya midwifery led-care, berikut beberapa manfaat dan
pentingnya pelaksanaan midwifery led-care.
1. Terwujudnya praktik atau asuhan yang efisien.
2. Terciptanya ruang lingkup bidan yang luas.
3. Terciptanya komunikasi yang baik antara bidan dan pasien.
4. Tercapainya segala prinsip-prinsip kebidanan.
5. Terwujudnya peningkatan angka kelahiran normal dalam persalinan.

6
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Midwifery led-care merupakan model praktik atau pelayanan atau asuhan
yang di mana bidan berperan sebagai pemimpin atau pusat asuhan. Sebagai seorang
pemimpin dan pusat asuhan, bidan memiliki tugas yang semakin luas dan
berwawasan.
Midwifery led-care memiliki beberapa tujuan diantaranya adalah menciptakan
komunikasi yang baik antara bidan dan pasien, mengetahui dan menambah wawasan
bidan sebagai seorang pemimpin, memberikan pelayanan yang maksimal dan
berkualitas, memberdayakan pasien dan kesejahteraan keluarga, memberikan
informasi yang akurat tentang resiko dan manfaat dalam segala prosedur, serta
melindungi proses kehamilan dan persalinan normal.

7
DAFTAR PUSTAKA

Trisnawati, Frisca. 2016. Pengantar Ilmu Kebidanan. Jakarta: Prestasi Pustakaraya

Purwandari, Atik. (dkk),. 2014. Kebidanan Teori dan Asuhan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Suciati, Siti. (dkk),. 2015. Jurnal Teori Konsep Kebidanan. Tulungagung: Prodi D3
Kebidanan Universitas Tulungagung

Tajmiati, Atit. (dkk),. 2016. Modul Konsep Kebidanan dan Etikolegal dalam Praktik
Kebidanan. Surakarta: Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surakarta