0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
183 tayangan56 halaman

Kenyamanan Visual Ruang Baca UI

Tinjauan pustaka menganalisis 3 penelitian sebelumnya tentang pencahayaan alami, termasuk pengaruh desain fasade terhadap pencahayaan laboratorium, evaluasi kenyamanan visual melalui pencahayaan alami di kantor dekanat, dan rekayasa tata cahaya alami di perpustakaan nasional. Penelitian ini akan menilai pengaruh bukaan jendela terhadap kenyamanan visual di perpustakaan universitas melalui pencahayaan alami

Diunggah oleh

belinda
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
183 tayangan56 halaman

Kenyamanan Visual Ruang Baca UI

Tinjauan pustaka menganalisis 3 penelitian sebelumnya tentang pencahayaan alami, termasuk pengaruh desain fasade terhadap pencahayaan laboratorium, evaluasi kenyamanan visual melalui pencahayaan alami di kantor dekanat, dan rekayasa tata cahaya alami di perpustakaan nasional. Penelitian ini akan menilai pengaruh bukaan jendela terhadap kenyamanan visual di perpustakaan universitas melalui pencahayaan alami

Diunggah oleh

belinda
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Penelitian

Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan


visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

Sebagai dasar acuan penulis dalam melakukan penelitian, maka


peneliti menyimpulkan beberapa evaluasi dari jurnal sebelumnya mengenai
Pencahayaan pada suatu ruang yang dapat menjadi suatu dasar pedoman
dalam melakukan penelitian ini sehingga dapat menambah pengetahuan
dalam teori yang nantinya akan digunakan penelitian yang akan dilakukan.

1. Pertama, Penelitian dengan judul “Pengaruh Fasade Bangunan terhadap


Pencahayaan Alami pada Laboratorium Politeknik Negeri Malang”.
Penelitian ini disusun oleh Adila Bebhi Sushanti, Jusuf Thojib, dan
Damayanti Asikin pada tahun 2015 yang berasal dari Universitas
Brawijaya. Pemanasan global dan keterbatasan sumber energi merupakan
permasalahan yang telah dihadapi selama 20 tahun terakhir.
Penghematan energi dapat dilakukan dengan memanfaatkan
pencahayaan alami untuk mengurangi penggunaan energi. Desain fasade
(dinding, jendela, dan atap), orientasi dan luas jendela dapat
mempengaruhi besar cahaya yang masuk. Indonesia merupakan daerah
beriklim tropis yang memiliki ketersediaan cahaya yang melimpah, begitu
pula di Kota Malang. Politeknik Negeri Malang menyelenggarakan
pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus yang
mahasiswanya diarahkan untuk melakukan praktek di laboratorium dan
bengkel yang telah tersedia. Permasalahan pada laboratorium di Politeknik
Negeri Malang yaitu pada beberapa laboratorium menggunakan
pencahayaan buatan dan alami, karena cahaya dalam ruangan kurang
memenuhi standar dan tidak merata. Tingkat pencahayaan 500lux
menurut Kepmenkes nomor 1405 tahun 2002 dengan jenis kegiatan dalam
ruang yaitu pekerjaan agak halus - pekerjaan dengan mesin. Dengan
menggunakan 3(tiga) tahap untuk memperoleh hasil pengukuran
didapatkan bahwa tingkat pencahayaan pada masing-masing ruangan
kurang memenuhi standar minimal. Untuk memenuhi tingkat pencahayaan
dalam ruangan laboratorium sesuai dengan standar, maka dapat
diperhatikan lokasi, letak dan orientasi bangunan, bentuk, ukuran dan

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

orientasi jendela.

Pencahayaan dalam bengkel dan laboratorium dapat dikategorikan


sebagai pekerjaan dengan menggunakan mesin, dengan standar tingkat
pencahayaan 500 lux. Ukuran dan dimensi lubang cahaya, posisi dan
orientasi lubang cahaya, bentuk lubang cahaya, dan penghalang cahaya
dapat mempengaruhi cahaya yang masuk dalam ruang. untuk mengetahui
pengaruh desain fasade bangunan terhadap pencahayaan alami dapat
menghasilkan rekomendasi desain fasade bangunan sebagai berikut:
1. Dengan mengubah posisi lubang cahaya menjadi lebih tinggi di
atas meja kerja maka cahaya dapat tersebar lebih merata didalam
ruangan dan tidak menimbulkan silau pada bagian yang berada di
area sekitar dekat jendela;
2. Penambahan jendela yang diletakkan pada bagian atap berupa
clerestory maupun skylight pyramid sehingga cahaya dapat masuk
melalui koridor; dan
3. Penggunaan jendela pada 2(dua) sisi dapat menyebarkan cahaya
yang jauh lebih baik dan dapat mengurangi silau dengan
menggunakan pencahayaan bilateral.

2. Kedua, Penelitian dengan judul “Kenyamanan Visual melalui


Pencahayaan Alami pada Kantor Gedung Dekanat Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya”. Penelitian ini berasal dari Universitas Brawijaya,
yang disusun oleh Jusuf Thojib dan Muhammad Satya Adhitama pada
tahun 2013. Kantor sebagai area kerja membutuhkan tingkat kenyamanan
yang memadai agar pengguna di dalamnya dapat melakukan aktivitas
dengan lancar dan memiliki produktivitas kerja yang baik. Kenyamanan
tidak hanya bergantung pada temperatur dalam ruang, radiasi matahari
yang masuk, kualitas udara, dan penghawaan,namun juga ditentukan oleh
kualitas pencahayaan. Indonesia dengan kondisi kaya sinar matahari
sepanjang tahun selayaknya menempatkan pencahayaan alami sebagai
prioritas dalam rancangan. pemanfaatannya juga dapat menghemat
konsumsi energi bangunan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi
kenyamanan visual dari penerapan pencahayaan alami pada kantor
dengan studi kasus Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Brawijaya (FT UB) Malang. Metode penelitian deskriptif dan korelasional,


berupaya memadukan hasil pengamatan (pengamatan yang dilakukan
berupa pengukuran iluminasi dengan luxmeter, simulasi kontur
pencahayaan alami, identifikasi elemen-elemen yang mempengaruhi
pencahayaan alami) dengan persepsi pengguna untuk mendapatkan
gambaran kenyamanan visual serta karakteristik rancangan pencahayaan
alami pada gedung Dekanat FT UB sehingga pada tahap selanjutnya dapat
diberikan rekomendasi untuk pencapaian kenyamanan visual yang lebih
baik.

Pencahayaan alami pada Gedung Dekanat FT UB dicapai dengan


menggunakan tipe side-lighting dengan jendela pada sisi dinding utara,
timur, atau barat ruangan. Ruang-ruang di Gedung Dekanat FT UB
mayoritas kurang nyaman secara visual, hanya beberapa saja yang sudah
cukup nyaman secara visual. Tidak ada ruang yang terkategorikan sangat
nyaman secara visual.

Hasil pengukuran dan pengamatan lapangan menunjukkan kondisi


terang alami beragam antara kurang – cukup, disebabkan standar
iluminasi yang tidak sesuai standar iluminasi yang dipersyaratkan SNI 03-
2000 tentang Konservasi Energi Sistem Pencahayaan pada Bangunan
Gedung maupun karena adanya berkas sinar matahari langsung yang
mausk ke dalam ruang. Respon pengguna terhadap kualitas kenyamanan
visual ruang beragam dari positif – negatif dengan mayoritas pengguna
memberikan respon sedang (cukup sesuai dengan kenyamanan
pengguna).
Rekomendasi untuk mendukung kenyamanan visual dapat dicapai
dengan modifikasi pada ruang, dapat berupa modifikasi interior maupun
eksterior. Modifikasi interior dapat berupa penataan kembali layout ruang
dan pola tata perabot, penambahan reflektor cahaya dalam ruang, atau
dengan menggunakan bantuan pencahayaan buatan. Modifikasi eksterior
dapat dengan menambahkan shading device (elemen pembayangan),
memperbesar luasan jendela, atau menambahkan skylight.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

3. Ketiga, Penelitian dengan judul “Rekayasa Tata Cahaya Alami pada


Ruang Baca Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di
Jakarta”. Penelitian ini disusun oleh Rachel Felicia, Jusuf Thojib, dan
Wasiska Iyati pada tahun 2016 yang berasal dari Universitas Brawijaya.

Gedung perpustakaan merupakan gedung yang membutuhkan


kenyamanan visual untuk mewadahi aktivitas utamanya. Pencahayaan
alami dalam gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dapat
dimanfaatkan dengan keberadaan bukaan pencahayaaan alami , namun
hal tersebut dapat menimbulkan silau apabila tidak didukung dengan
pembayangan matahari yang didesain sesuai dengan arah orientasi
bukaan . Disisi lain, kenyamanan visual di Gedung Perpustakaan Nasional
Republik Indonesia masih memanfaatkan pencahayaan buatan
sepenuhnya, keadaan pembayang matahari belum maksimal untuk
menghalangi sinar matahari langsung. Sedangkan variable terikat yang
dialami adalah tingkat pencahayaan alami, faktor pencahayaan alami, dan
distribusi cahaya alami. Analisis kuantitatif, dimana hubungan antar
variable diketahui dengan cara melakukan simulasi perubahan kondisi
pembayang matahari menggunakan sebuah perangkat lunak, Yaitu
DIALux 4.12.

Pencahayaan alami sebagai sumber pencahayaan utama pada


Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebenarnya dapat
dimanfaatkan secara lebih maksimal. Berdasarkan hasil reyakayasa
pencahayaan alami didapatkan bahwa memungkinkan untuk
memanfaatkan pencahayaan alami pada ruang baca gedung
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan cara menurunkan
intensitas lux pada ruang. Ketika intensitas cahaya diturunkan, terlihat
bahwa intensitas cahaya dapat mendekati standar nyaman gedung
perpustakaan yakni 300 lux tanpa menggunakan vertical blind untuk
mengurangi silau. Namun memang untuk beberapa ruang baca dengan
luasan lebih dari 100 m2 masih membutuhkan pencahayaan buatan pada
area berjarak 10m -19,5m disesuaikan dengan standar yang ada ataupun
yang berlaku dinegara tersebut, karena terkait memaksimalkan
pencahayaan alami aspek letak geografis, iklim,fungi bangunan, pengguna
bangunan merupakan aspek penting yang harus diperhatikan.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Rekayasa tata cahaya alami pada ruang baca gedung Perpustakaan


Nasional Republik Indonesia banya membahas bukaan pencahayaan
alami dan pembayang matahari mengenai tata letak, orientasi dan
dimensinya dalam upaya mengoptimalkan pencahayaan alami pada ruang
baca gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Desain pembayang matahari paling baik untuk Perpustakaan Nasional


Republik Indonesia adalah pembayang matahari dengan sudut sirip
sebesar 30o, jumlah sirip sebanyak 2 sirip pada sisi Barat Laut dan 3 sirip
pada sisi Tenggara, dan panjang serta lebar sirip berturut-turut adalah
sebesar 0,6 m dan 0,4m. desain pembayang matahari tersebut
menghasilkan tingkat pencahayaan alami sebesar 325 lux dan faktor
pencahayaan sekitar 3,2%.

2.2. Kajian Teoritis

2.2.1. Pencahayaan Alami

Sumber pencahayaan alami kadang dirasa kurang efektif dibanding


dengan penggunaan pencahayaan buatan, selain karena intensitas cahaya
yang tidak tetap, sumber alami menghasilkan panas terutama saat siang
hari. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar penggunaan sinar alami
mendapat keuntungan, yaitu:
1. Variasi Intensitas Cahaya Matahari;
2. Distribusi dari Terangnya Cahaya;
3. Efek dari lokasi, pemantulan cahaya, jarak antar bangunan; dan
4. Letak Geografis serta kegunaan bangunan gedung

Pencahayaan alami sendiri memiliki beberapa faktor keuntungan dan


kelemahan. Faktor keuntungan yang dimiliki oleh pencahayaan alami yaitu
hemat akan sistem listrik, dapat membunuh kuman penyakit, serta variasi
intensitas cahaya matahari dapat membuat suasana ruangan memiliki efek
yang berbeda-beda, seperti pada hari mendung, suasana di dalam ruangan
akan memiliki efek sejuk, dan hari cerah menyebabkan suasana

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

bersemangat. Sedangkan faktor kelemahan yang dimiliki oleh pencahayaan


alami yaitu distribusi cahaya yang dihasilkan tidak merata, tidak dapat
mengatur intensitas terang cahaya matahari sehingga jika cuaca terik akan
menimbulkan kesilauan, dan sumber pencahayaan alami yaitu matahari
dapat menghasilkan panas.

2.2.1.1. Kriteria Perancangan Pencahayaan Alami


Untuk mendapatkan bukaan- bukaan pada bangunan yang
efektif dan mendapatkan pencahayaan alami yang optimal, kiranya perlu
diperhitungkan. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan (DPMB),
memilki standar perhitungan penerangan alami. Selain DPMB adapula
dengan Luxmeter dan ruang Langit Buatan. Berikut ini adalah lima
strategi dalam merancang untuk pencahayaan matahari efektif:

a. Naungan (shade)
Naungan bukan pada bangunan untuk mencegah silai (glare)
dan panas yang berlebihan karena terkena cahaya langsung;

b. Pengalihan (redirect)
Alihkan serta arahkan cahaya matahari ketempat yang
diperlukan. Pembagian cahaya yang cukup dan sesuai dengan
kebutuhan adalah inti dari pencahayaan yang baik;

c. Pengendalian (control)
Kendalikan jumlah cahaya yang masuk ke dalam ruang
sesuai dengan kebutuhan dan pada waktu yang diinginkan;

d. Efisiensi
Gunakan cahaya secara efisien, dengan membentuk
ruangdalam sedemikian rupa sehingga terintegrasi dengan
pencahayaan dan menggunakan material yang dapat disalurkan
dengan lebih baik dan dapat mengurangi jumlah cahaya masuk yang
diperlukan.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.1.2. Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan

Secara umum, cahaya alami didistribusikan ke dalam


ruangan melalui bukaan di saping (side lighting), bukaan di atas (top
lighting), atau kombinasi keduanya. Tipe bangunan, ketinggian, rasio
bangunan dan tata massa, dan keberadaan bangunan lain di sekitar
merupakan pertimbangan-pertimbangan pemilihan strategi
pencahayaan (Kroelinger, 2005)

Sistem pencahayaan samping (side lighting ) yang paling


banyak digunakan pada bangunan. Selain memasukkan cahaya, juga
memberikan keleluasaan view, orientasi, konektivitas luar & dalam, dan
ventilasi udara. Posisi jendela pada dinding dapat dibedakan menjadi 3:
tinggi, sedang, rendah, yang penerapannya bedasarkan kebutuhan
distribusi cahaya dan sistem dinding. Strategi desain pencahayaan
samping yang umum digunakan antara lain:

a. Single side lighting, bukaan disatu sisi dengan intensitas cahaya


searah yang kuat, semakin jauh jarak dari jendela intensitasnya
semakin melemah;
b. Bilateral lighting, bukaan di kedua sisi bangunan sehingga
meningkatkan pemerataan distribusi cahaya, bergantung pada
lebar dan tinggi ruang, serta letak bukaan pencahayaan;
c. Multilateral lighting, bukaan dibeberapa lebih dari dua sisi bangunan
dapat mengurangi silau dan kontras, meningkatkan pemerataan
distribusi cahaya pada perumakaan horizontal dan vertical serta
memberikan lebih dari satu zona utama pencahayaan alami;
d. Clerestories, jendela atas dengan ketinggian 210 cm diatas lantai,
merupakan strategi yang baik untuk mengoptimalkan pencahayaan
setempat pada permukaan horizontal atau vertical. Perletakan
bukaan cahaya tinggi di dinding dapat memberikan penetrasi
cahaya yang lebih dalam ke ruangan;
e. Light Shelves, memberikan pembayangan untuk posisi jendela
sedang, memisahkan kaca untuk pandangan dan kaca untuk
pencahayaan. Bisa berupa elemen eksternal, internal, atau

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

kombinasi keduanya;
f. Borrowed Light, konsep pencahayaan bersama antar dua ruangan
yang bersebelahan misalnya pencahayaan koridor yang didapatkan
dari partisi transparan ruang disebelahnya.

2.2.1.3. Ketentuan Dasar Pencahayaan Alami

Dalam penerimaan pencahayaan memiliki beberapa


ketentuan dasar, Pencahayaan alami siang hari dapat dikatakan baik
apabila :
a. Pada siang hari antara jam 08.00 sampai dengan jam 16.00 waktu
setempat, terdapat cukup banyak cahaya yang masuk ke dalam
ruangan.
b. Distribusi cahaya di dalam ruangan cukup merata dan atau tidak
menimbulkan kontras yang mengganggu.
c. Tingkat Pencahayaan Alami dalam Ruang Tingkat pencahayaan
alami di dalam ruangan ditentukan oleh tingkat pencahayaan langit
pada bidang datar di lapangan terbuka pada waktu yang sama.

Perbandingan tingkat pencahayaan alami di dalam ruangan dan


pencahayaan alami pada bidang datar di lapangan terbuka ditentukan
oleh :
a. Hubungan geometris antara titik ukur dan lubang cahaya;
b. Ukuran dan posisi lubang cahaya;
c. Distribusi terang langit;
d. Bagian langit yang dapat dilihat dari titik ukur.

Faktor pencahayaan alami siang hari adalah perbandingan tingkat


pencahayaan pada suatu titik dari suatu bidang tertentu di dalam suatu
ruangan terhadap tingkat pencahayaan bidang datar di lapangan terbuka
yang merupakan ukuran kinerja lubang cahaya ruangan tersebut. Faktor
pencahayaan alami siang hari terdiri dari 3 komponen yaitu meliputi :

1. Komponen langit (faktor langit-fl) yakni komponen pencahayaan


langsung dari cahaya langit;

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2. Komponen refleksi luar (faktor refleksi luar - frl) yakni komponen


pencahayaan yang berasal dari refleksi benda-benda yang berada di
sekitar bangunan yang bersangkutan;

3. Komponen refleksi dalam (faktor refleksi dalam frd) yakni komponen


pencahayaan yang berasal dari refleksi permukaanpermukaan
dalam ruangan,dari cahaya yang masuk ke dalam ruangan akibat
refleksi benda-benda di luar ruangan maupun dari cahaya langit.

Berdasarkan cara direktorat penyelidikan masalah bangunan


terdapat beberapa istilah dan ketentuan dasar yang perlu diperhatikan
seperti berikut:

Dalam ketentuan ini sebagai terang langit diambil kekuatan


terangnya langit yang dinyatakan dalam lux. Karena keadaan langit
menunjukkan variabilitas yang besar, maka syarat-syarat yang harus
dipenuhi oleh keadaan langit untuk dipilih dan ditetapkan sebagai Langit
Perancangan adalah :
a. Bahwa langit yang demikian sering dijumpai.
b. Memberikan tingkat pencahayaan pada bidang datar di lapangan

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

terbuka, dengan nilai dekat minimum, sedemikian rendahnya hingga


frekuensi kegagalan untuk mencapai nilai tingkat pencahayaan ini
cukup rendah.

Langit Perancangan memberikan tingkat pencahayaan pada titik-titik


di bidang datar di lapangan terbuka sebesar 10.000 lux. Untuk
perhitungan diambil ketentuan bahwa tingkat pencahayaan ini asalnya
dari langit yang keadaannya merata terangnya , Sehingga ditetapkan:
1. Langit biru tanpa awan atau
2. Langit yang seluruhnya tertutup awan abu-abu putih.

A Faktor Langit
Faktor langit (fl) suatu titik pada suatu bidang di dalam suatu ruangan
adalah angka perbandingan tingkat pencahayaan langsung dari langit di
titik tersebut dengan tingkat pencahayaan oleh Terang Langit pada
bidang datar di lapangan terbuka. Pengukuran kedua tingkat
pencahayaan tersebut dilakukan dalam keadaan sebagai berikut :
a. Dilakukan pada saat yang sama;
b. Keadaan langit adalah keadaan Langit Perancangan dengan
distribusi terang yang merata di mana-mana;
c. Semua jendela atau lubang cahaya diperhitungkan seolah-olah tidak
ditutup dengankaca.

Suatu titik pada suatu bidang tidak hanya menerima cahaya


langsung dari langit tetapi juga cahaya langit yang direfleksikan oleh
permukaan di luar dan di dalam ruangan.

B. Titik Ukur
1. Titik ukur diambil pada
suatu bidang datar yang
letaknya pada tinggi 0,75
meter di atas lantai. Bidang
datar tersebut disebut
bidang kerja;

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2. Untuk menjamin tercapainya suatu keadaan pencahayaan yang


cukup memuaskan, maka Faktor Langit (fl) titik ukur tersebut harus
memenuhi suatu nilai minimum tertentu yang ditetapkan menurut
fungsi dan ukuran ruangannya;
3. Dalam perhitungan digunakan dua jenis titik ukur :
a. titik ukur utama (TUU), diambil pada tengah-tengah antar kedua
dinding samping, yang berada pada jarak ⅓ d dari bidang lubang
cahaya efektif;
b. titik ukur samping (TUS), diambil pada jarak 0,50 meter dari
dinding samping, yang juga berada pada jarak ⅓ d dari bidang
lubang cahaya efektif, dengan d adalah ukuran kedalaman
ruangan, diukur dari mulai bidang lubang cahaya efektif hingga
pada dinding seberangnya, atau hingga pada “bidang” batas
dalam ruangan yang hendak dihitung pencahayaannya itu;

c. Jarak “d” pada dinding tidak sejajar Apabila kedua dinding yang
berhadapan tidak sejajar, maka untuk d diambil jarak ditengah
antara kedua dinding samping tadi, atau diambil jarak rata-
ratanya;
d. Ketentuan jarak “⅓.d” minimum Untuk ruang dengan ukuran d
sama dengan atau kurang daripada 6 meter, maka ketentuan
jarak 1/3.d diganti dengan jarak minimum 2 meter.

C. Lubang Cahaya Efektif


Bila suatu ruangan mendapatkan pencahayaan dari langit melalui
lubang-lubang cahaya dibeberapa dinding, maka masing-masing dinding
ini mempunyai bidang lubang cahaya efektifnya sendiri-sendiri.
Umumnya lubang cahaya efektif dapat berbentuk dan berukuran lain
daripada lubang cahaya itu sendiri. Hal ini, antara lain dapat disebabkan

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

oleh :

a. Penghalangan cahaya oleh bangunan lain dan atau oleh pohon;


b. Bagian-bagian dari bangunan itu sendiri yang karena menonjol
menyempitkan pandangan ke luar, seperti balkon, konstruksi
“sunbreakers” dan sebagainya;
c. Pembatasan-pembatasan oleh letak bidang kerja terhadap bidang
lubang cahaya;
d. Bagian dari jendela yang dibuat dari bahan yang tidak tembus
cahaya.

2.2.1.4. Perhitungan Dasar Pencahayaan Alami

Untuk menentukan perhitungan pencahayaan alami . Faktor


pencahayaan alami siang hari ditentukan oleh persamaan persamaan
berikut ini:

1. Komponen langit (faktor langit-fl)


Yakni komponen pencahayaan langsung dari cahaya langit;

2. Komponen refleksi luar (faktor refleksi luar - frl)


Yakni komponen pencahayaan yang berasal dari refleksi bendabenda
yang berada di sekitar bangunan yang bersangkutan;

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

3. Komponen refleksi dalam (faktor refleksi dalam frd)


Yakni komponen pencahayaan yang berasal dari refleksi permukaan-
permukaan dalam ruangan, dari cahaya yang masuk ke dalam ruangan
akibat refleksi benda-benda di luar ruangan maupun dari cahaya langit.

2.2.1.5. Penentuan Titik Pengukuran

Menurut sni 16-7062-2004 ada beberapa penentua titik


pengukuran yaitu :

a. Penerangan setempat: obyek kerja, berupa meja kerja maupun


peralatan. Bila merupakan meja kerja, pengukuran dapat dilakukan
diatas meja yang ada denah pengukuran intensitas penerangan
setempat seperti pada lampiran A;

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

b. Penerangan umum: titik potong garis horizontal panjang dan lebar


ruangan pada setiap jarak tertentuk setinggi satu meter dari lantai.

Jarak tertentu tersebut dibedakan berdasarkan luas ruangan sebagai


berikut:
1) Luas ruangan kurang dari 10 meter persegi: titik potong garis
horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak 1 meter.

Contoh denah pengukuran intensitas penerangan umum untuk luas


ruangan kurang dari 10 meter persegi seperti gambar 1.

2) luas ruangan antara 10 meter persegi sampai 100 meter persegi: titik
potong garis horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak
setiap 3 meter. Contoh denah pengukuran intensitas penerangan umum
untuk luas ruangan antara 10 meter sampai 100 meter persegi seperti
gambar 2.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

3) luas ruangan lebih dari 100 meter persegi: titik potong horizontal
panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak 6 meter. Contoh denah
pengukuran intensitas penerangan umum untuk luas ruangan lebih dari
100 meter persegi

2.2.1.6. Persyaratan Faktor Langit dalam Ruangan

Nilai faktor langit (fl) dari suatu titik ukur dalam ruangan harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. sekurang-kurangnya memenuhi nilai-nilai faktor langit minimum


(flmin) yang tertera pada Tabel 1, 2 dan 3, dan dipilih menurut
klasifikasi kualitas pencahayaan yang dikehendaki dan dirancang
untuk bangunan tersebut;
b. nilai flmin dalam prosen untuk ruangan-ruangan dalam bangunan
umum untuk TUUnya, adalah seperti tertera pada tabel 1 dimana d
adalah jarak antara bidang lubang cahaya efektif ke dinding di
seberangnya, Perhitungan Kuat Pencahayaan Alami dinyatakan
dalam meter. Faktor langit minimum untuk TUS nilainya diambil 40%
dari flmin untuk TUU dan tidak boleh kurang dari 0,10 d.

1. Penetapan Faktor Langit


Dasar penetapan nilai faktor langit. Penetapan nilai faktor langit,
didasarkan atas keadaan langit yang terangnya merata atau kriteria
Langit Perancangan untuk Indonesia yang memberikan kekuatan
pencahayaan pada titik dibidang datar di lapangan terbuka sebesar
10.000 lux.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2. Perhitungan faktor langit.


Perhitungan besarnya faktor langit untuk titik ukur pada bidang kerja
di dalam ruangan dilakukan dengan menggunakan metoda analitis di
mana nilai fl dinyatakan sebagai fungsi dari H/D dan L/D Posisi titik ukur
U, yang jauhnya D dari lubang cahaya efektif berbentuk persegi panjang
OPQR (tinggi H dan lebar L) sebagaimana dilukiskan di bawah ini:
Ukuran H dihitung dari 0 ke atas, Ukuran L dihitung dari 0 ke kanan, atau
dari P ke kiri sama saja.
a. H adalah tinggi lubang cahaya efektif
b. L adalah lebar lubang cahaya efektif
c. D adalah jarak titik ukur ke bidang lubang cahaya efektif.

2.2.2. Jendela

Jendela adalah salah satu bentuk pelubangan dinding yang lazim


dipasang /dilengkapi tritisan atau merupakan bagian elemen (unsur rumah/
bangunan) yangdapat memasukkan cahaya alami atau sirkulasi udara dari
dalam dan dari luar bangunan (Bebhi, 2014: h. 4). Menurut Daryanto (2012),
jendela merupakan salah satu komponen bangunan yang berhubungan
langsung dengan aspek pencahayaan dan penghawaan.

Menurut Dahniar dan Andi Asmulyani (2013), jendela merupakan


ukuran pada sebuah dinding di sebuah bangunan yang memasukkan
cahaya dan udara ke dalam ruang dalam (interior). Ukuran jendela
merupakan elemen yang dapat memodifikasi iklim luar ke dalam interior.
Oleh karena itu, jendela sangat diperlukan dalam suatu ruang sehingga
ruangan tersebut mendapatkan penerangan alami dari cahaya matahari
yang menghemat biaya listrik.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Gambar: jendela
Sumber : https://www.google.com/search

Matahari merupakan satu-satunya sumber cahaya alami yang


menghasilkan cahaya alami (daylight) dengan disertai energi cahaya dan
energi panas. Energi cahaya yang dihasilkan oleh sinar matahari akan
berpengaruh pada kenyamanan visual di dalam bangunan. Dengan
mengetahui secara pasti tentang gerakan atau bidang dari matahari, maka
dapat digambarkan secara utuh mengenai kedudukan matahari apabila ia
berada tepat diatas Khatulistiwa pada bulan Maret dan September, di Utara
Khatulistiwa pada bulan Juni ataupun di Selatan Khatulistiwa pada bulan
Desember.

Cahaya yang dipancarkan matahari ke permukaan bumi


menghasilkan iluminasi yang sangat besar, yaitu lebih dari 100.000 lux pada
kondisi langit cerah dan 10.000 lux pada saat langit berawan. Pemanfaatan
cahaya matahari tergantung pada letak ruangan atau gedung terhadap
rotasi bumi pada matahari. Rotasi bumi yang bergerak dari arah Barat
menuju ke Timur berpengaruh sangat baik terhadap ruangan yang
mempunyai system pencahayaan matahari menghadap ke Timur atauBarat
(Juddah, 2013: h. 4).

2.2.2.1. Fungsi Jendela

Salah satu fungsi jendela ini adalah untuk mendapatkan penerangan


alami (Prianto, 2013). Menurut dahniar dan andi asmulyani (2013) Jendela
berkembang seiring zaman dan di semua daerah, tetapi tujuan utamanya
untuk memasukkan sinar matahari menjadi aturan yang utama.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Desain jendela dipengaruhi faktor lokasi, penempatan, dimensi dan


tipe atau model jendela yang dipilih. Jendela yang berfungsi sebagai inlet
(memasukkan udara) sebaiknya diletakkan pada ketinggian manusia yaitu
60 cm sampai 150 cm (aktivitas berdiri), agar udara dapat mengalir di sekitar
manusia tersebut untuk memperoleh rasa nyaman yang diharapkan.
Sedangkan jendela yang berfungsi sebagai outlet (mengeluarkan udara)
diletakkan lebih tinggi, agar udara panas dalam ruang dapat dengan mudah
dikeluarkan (Ade, 2013: h. 151).
Dengan memperhatikan orientasi jendela, acuan akan dibuat
berdasarkan orientasi georafi karena garis edar matahari akan berpengaruh
pada pencahayaan alami. Berdasarkan pandangan ini, arah timur-barat
secara umum akan memberikan dampak yang sama, walaupun terjadi
dalam waktu yang berbeda pada hari yang sama. Jendela dapat
dikelompokkan ke dalam:

c. Jendela Menghadap Selatan


Tingkat penerangan tinggi dan sedikit variabel cahaya; memiliki
energi tinggi pada musim dingin dan sedang dimusim panas;

d. Jendela Menghadap Timur – Barat


Keduanya menyediakan tingkat penerangan yang sedang, namun
menghasilkan cahaya yang sangat baik, orientasi ke timur menghasilkan
cahaya yang dengan intensitas tinggi pada pagi hari, sedangkan orientasi
ke barat menghasilkan intensitas yang tinggi pada siang hari. Memiliki energi
yang tinggi pada musim panas dan rendah pada musim dingin;

e. Jendela Menghadap Utara


Tingkat penerangan rendah, namun menghasilkan tingkat cahaya
yang stabil sepanjang hari, energi yang dihasilkan sangat rendah
(Manurung, 2012: h. 71- 72).

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.2.2. Bentuk Jendela

Menurut esa dora (2011) memperbesar dimensi bukaan (jendela dan


pintu) secara otomatis akan memperbesar area masuknya cahaya dan
pertukaran udara. Umumnya luas bukaan jendela adalah 1/6 - 1/8 luas lantai
ditambah bovenlist sedikitnya 1/3 kali luas bidang jendela. Secara
keseluruhan bukaan ideal mencapai 40 – 80% luas keseluruhan dinding atau
10 – 20% luas keseluruhan lantai. Pada bukaan berupa jendela, intensitas
pencahayaan alami yang masuk ditentukan oleh jenis kaca yang dipakai.

Faktor yang mempengaruhi penyebaran dan kedalaman penetrasi


cahaya siang hari selain kondisi langit adalah orientasi jendela, lokasi
jendela dalam dinding dan dalam kaitannya dengan sisa ruangan, ketinggian
efektif jendela (dari ambang batas atas jendela) dan lebar (safruddin, 2013
).

Menurut Ade (2013) tipe jendela untuk inlet menentukan volume dan
distribusi udara dalam ruangan jendela harus cenderung mengarahkan
aliran angin untuk tetap berada pada arah horizontal atau menaikkannya ke
atas. Jendela jenis double–hung, single-hung dan jendela geser tidak
mengarahkan angin ke atas tetapi memasukkan angin pada jalur horizontal,
untuk itu sebaiknya tipe ini diletakkan pada ketinggian di mana aliran angin
dibutuhkan.

Gambar : macam macam jendela


Sumber : https://www.google.com/aluminiumkaca.com

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Jenis casement, folding, dan ayun dapat membelokkan angin ke


kanan ke kiri,tidak untuk ke atas atau ke bawah, sebaiknya tipe ini juga
diletakkan pada ketinggian di mana aliran angin dibutuhkan.

Gambar : Jendela Casement dan Jendela Pivot


Sumber : https://www.google.com/search

Jenis jendela katup, jendela ayun, pivot, dan jalousie mengarahkan


angin ke atas atau ke bawah kecuali jendela dibuka penuh 90 derajat,
sebaiknya diletakkan di atas atau di bawah permukaan di mana dibutuhkan
angin. Perlu diperhatikan bahwa jendela berperilaku berbeda pada
bangunan bertingkat tinggi karena arah angina cenderung naik pada kulit
bangunan sebelum memasuki ruangan.

Gambar : Jendela katup dan Jendela Ayun


Sumber : https://www.google.com/search

1. Bentuk-bentuk jendela sangat beragam. Hal pertama yang dapat


dilakukan mendefinisikan perbedaan antara tinggi dan lebar. Jendela
dapat diklasifikasikan berdasarkan:
a. Jendela horizontal : koefisien bentuk ½
b. Jendela vertical : koefisien bentuk 2
c. Jendela menengah : koefisien bentuk ½ - 2

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2. Posisi jendela dapat digambarkan berdasarkan posisi vertikal


danhorizontalnya pada dinding. Mengacu pada posisinya terhadap
tinggi dinding, jendeladapat diklasifikasikan berdasarkan :
a. Jendela tinggi
b. Jendela menengah
c. Jendela rendah

Jendela yang lebih tinggi lebih baik dalam memasukkan cahaya


alami,menghasilkan distribusi cahaya yang baik ke dalam ruangan.
Jendela yang tinggidapat mendorong keluarnya udara panas dan dapat
menjadi batasan dalammenentukan pandangan ke luar.

Mengacu pada posisinya terhadap lebar bangunan,jendela dapat


diklasifikasikan berdasarkan:
a. Jendela tengah (menghasilkan distribusi cahaya yang lebih baik).
b. Jendela samping
c. Jendela sudut (menghasilkan silau yang lebih kecil).

Untuk mengelompokkan jendela berdasarkan tipenya,


beberapa kriteria darisifat berikut dapat digunakan lima sifat utama
jendela adalah: jendela untukpencahayaan alami, jendela untuk
penghawaan alami, jendela untuk pencahayaanalami dan
pandangan keluar, jendela untuk pencahayaan dan penghawaan
alami dan jendela untuk pencahayaan, pandangan keluar dan
penghawaan alami (Manurung,2012: h. 69- 71).

2.2.2.3. Ukuran Jendela

Menurut Ashita (2014) bukaan yang ada di bagian samping ruangan,


yang paling umum dijumpai adalah jendela. Perencanaan jendela harus
dilakukan dengan hati-hati, karena perencanaan yang tidak tepat dapat
menimbulkan silau dan suhu ruangan yang cenderung panas.

a. Penempatan jendela sebaiknya berada tinggi dari lantai dan tersebar


merata (tidak hanya berada pada satu sisi dinding saja) agar dapat
mendistribusikan cahaya dengan merata;

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

b. Jendela yang terlalu luas sering kali tidak tepat digunakan pada negara
yang beriklim tropis, arena panas dan radiasi silau terlalu banyak masuk
ke dalam ruang;

c. Perlindungan terhadap cahaya matahari dapat dilakukan dengan dua


cara, yaitu pembayangan cahaya matahari dan penyaringan cahaya
matahari. Menurut dahniar dan andi asmulyani (2013) ada banyak tipe
dan ukuran jendela, pilihan mempengaruhi tidak hanya penampilan fisik
bangunan, tetapi juga pencahayaan alami, ventilasi, potensi
pemandangan dari ruang interior bangunan. Beberapa kriteria yang perlu
diperhatikan dalam merancang jendela antara lain: luas bidang bukaan
(jendela kaca), posisi atau letaknya pada fasad, perlunya bidang
pelindung/tritisan, flexibilitas bukaan untuk memberikan aliran udara
dapat diatur sesuai kebutuhan, serta material kerangka kosen (Daryanto,
2012: h. 6).

1) Persyaratan Ukuran-Ukuran bukaan dinding untuk jendela harus


sesuai dengan koordinasi modular, seperti : (2400,2100, 2000, 1800,
1500, 1200, 900, 600, 400) x (600, 900, 1200, 1500, 1800, 2100,
2400 ) dalam mm;

2) Dasar perhitungan ukuran daun pintu dan jendela

a. Ukuran lebar daun pintu dan jendela ditentukan dengan :


Ldp = Lkp + 2S dimana, Ldp/Ldj = lebar pintu atau Jendela, Lkp =
tinggi kusen bag. Dalam, dan S = sponing = 10 mm -15 mm;
b. Ukuran tinggi daun jendela ditentukan dengan :
Dimana, Tdj = tinggi daun jendela, Tkj = tinggi kusen jendela, dan S
= sponing. (2000,2100,2400) x (800,900, 1200).

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Menurut Manurung (2012) ada perbedaan antara permukaan mutlak


(absolute surface) dengan fenetrasi (fenestration) jumlah jendela yang
berhubungan dengan ruang yang diterangi melalui cahaya yang masuk
dari jendela, digambarkan dengan persentase. Permukaan mutlak
jendela hanya akan mempengaruhi penghawaan dan pandangan keluar,
sedangkan fenestrasi akan mempengaruhi jumlah dan distribusi cahaya.
Permukaan mutlak (m2) jendela dikelompokkan berdasarkan ukuran,
ditentukan berdasarkan skala manusia (human scale) :

a. Kecil : permukaan kurang dari 0,5 m2;


b. Sedang : permukaan antara 0,5 - 2 m2;
c. Besar : permukaan lebih besar dari 2 m2.

Secara umum, jendela yang kecil memberikan pandangan keluar


yang terbatas dan lebih spesifik, serta memperkuat kesan terisolasi dari
ruang luar. Tipe jendela juga dapat menimbulkan silau (glare). Jika
terdapat lebih dari satu jendela dalam sebuah ruang yang sama, jumlah
permukaan seluruh jendela harus dipertimbangan berdasarkan titik
cahaya dalam hubungannya dengan luas ruangan. Tergantung pada
hubungan antara permukaan jendela dan ruang dalam, beberapa
klasifikasi berikut dapat dibuat:

a. Fenetrasi sangat rendah: kurang dari 1%


b. Fenetrasi rendah: 1-4 %;
c. Fenetrasi sedang: 4-10 %;
d. Fenetrasi tinggi: 10-25 %;
e. Fenetrasi sangat tinggi: lebih dari 25 %.

Secara umum, fenetrasi yang tinggi dan sangat tinggi akan


menimbulkan masalah termal dan kesilauan.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.2.4. Langkah perancangan pencahayaan alami siang hari


Berikut bagan dalam melaksanakan Perancangan Pencahayaan Alami siang hari.

2.2.2.5. Bukaan Bangunan

Bukaan pada bangunan adalah cara untuk memasukkan pencahayaan


alami ke dalam bangunan. Berdasarkan posisinya bukaan dibagi menjadi 2 yaitu
side lighting dan top lighting (Egan, 1983). Top lighting memiliki kelemahan yaitu
tidak bisa digunakan untuk bangunan berlantai banyak dan tidak memenuhi
kebutuhan view keluar sedangkan side lighting dapat mendistribusikan cahaya
lebih merata dan memberikan view keluar. Side lighting yang dapat digunakan
pada bangunan berlantai banyak terbagi menjadi 2 jenis yaitu jendela, dan
shading device. Shading device terbagi menjadi 3 jenis utama yaitu Horizontal,
Vertical, dan Egg-crate.

Shading device horizontal efektif diterapkan pada bangunan yang memiliki


elevasi utara dan selatan. Shading device vertikal efektif diterapkan pada
bangunan yang memiliki elevasi timur dan barat. Shading device egg-crate atau
peti telur menggabungkan karakteristik vertikal dan horizontal untuk meningkatkan
cakupan shading (Olgyay, 1973). Jendela adalah bagian rumah tinggal atau
bangunan yang berfungsi sebagai penghantar cahaya dan udara masuk ke dalam
bangunan (Amin, 2010)

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.2.5.1. Strategi Penerapan Bukaan pada Bangunan

Orientasi bangunan yang menghadap arah mata angin selatan dan utara
merupakan yang terbaik dalam pencahayaan alami karena cahayanya yang
konstan. Orientasi terburuk adalah timur dan barat karena orientasi ini menerima
sinar matahari hanya setengah setiap harinya dan sinar matahari berada pada titik
maksimum pada musim panas. Masalah terburuk lainnya adalah matahari timur
dan barat berada sampai di posisi terendah langit sehingga dapat menimbulkan
silau dan bayangan.

Perbedaan bentuk dan dimensi ruang dalam menentukan distribusi cahaya


yang terbentuk di dalamnya. Dimensi ruang akan menentukan persentase antara
pusat dengan perimeter yang kemudian berrdampak pada ada atau tidaknya zona
gelap. Bentuk denah persegi menimbulkan potensi zona yang tidak menerima
kontribusi cahaya alami, namun hal tersebut dapat diatasi dengan solusi membuat
atrium. Penerimaan distribusi cahaya pada denah persegi panjang lebih merata
karena tidak memiliki pusat.

Gambar 2-1. Pengaruh bentuk denah terhadap


distribusi cahaya alami Sumber: Lechner (2015)

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Orientasi, posisi, jumlah, bentuk, dan dimensi bukaan memberikan dampak


besar pada pola penyebaran cahaya dan kuat penerangan dalam ruang. Lechner
(2015) dan Badan Standarisasi Nasional (2001) menguraikan beberapa
pertimbangan berkaitan dengan keefektifan bukaan mencakup:
1. Semakin jauh sebuah titik dari jendela, kuat pencahayaannya juga
semakin rendah;
2. Bentuk lubang cahaya yang melebar mendistribusikan cahaya lebih
meraya ke arah lebar bangunan, sedangkan lubang cahaya yang ukuran
tingginya lebih besar dari lebarnya memberikan penetrasi ke dalam lebih
baik;
3. Bukaan jendela lebih dari 1 bidang dinding (bilateral) akan
mengoptimalkan distribusi cahaya dalam ruang (merata) dan
meminimalisir silau;
4. Berdasarkan lokasi masuknya, bukaan dapat dibedakan menjadi
pencahayaan atas (skylight) dan pencahayaan samping (sidelight).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam desain meliputi:
a. Pencahayaan atas dapat menyebabkan silau sehingga perlu dibuat
distribusi cahaya tidak langsung / penyebar cahaya;
b. Pencahayaan samping sering tidak optimal karena keterbatasan
jangkauan, peninggian posisi jendela dengan posisi miring dapat
meningkatkan jangkauan tersebut; dan
c. Pencahayaan bertingkat dapat menguntungkan karena bagian jendela
menjadi lebih tinggi dan jangkauan semakin dalam. Pencahayaan
bertingkat yang terlalu dekat dengan dinding belakang ruangan dapat
menimbulkan silau.
5. Perletakan bukaan pada pencahayaan samping dibagi tiga, yaitu posisi
bukaan rendah, tengah, dan tinggi. Beberapa pertimbangan desain
berdasarkan perletakan bukaan meliputi:
a. Bukaan rendah mampu meminimalisir potensi silau dan panas
berlebihan akibat sinar matahari langsung dan memungkinkan
pemantulan cahaya tidak langsung dari permukaan tapak, namun kuat
pencahayaan yang masuk lemah;
b. Bukaan tengah dapat menghasilkan potensi view yang paling baik; dan
c. Bukaan tinggi menghasilkan level pencahayaan yang paling terang
dan penetrasi ke dalam ruang lebih besar, namun berpotensi
menimbulkan silau. Perlu diberi reflektor / diffuser agar sinar matahari

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

tidak langsung masuk (indirect/difus).

Gambar 2-2. Perbandingan penetrasi dan distribusi cahaya dari bukaan tengah dan bukaan tinggi
Sumber: Lechner (2015)

Gambar 2-3. Berbagai tipe bukaan / pencahayaan atas Sumber: Lechner


(2015)

Gambar 2-4. Perbandingan penetrasi dan distribusi cahaya dari jumlah dan dimensi bukaan
Sumber: Boubekri (2008)

Parameter yang mempengaruhi perhitungan cahaya pada bukaan meliputi


posisi dan arah hadap bukaan, ukuran/dimensi bukaan, material dan tekstur
bukaan. Komponen penghalang/ obstruction berupa pepohonan, teritis, maupun
dinding atau bangunan sekitar juga dapat mengurangi kontribusi cahaya alami
yang masuk ke dalam bangunan. Selain itu, pemberian olahan pada tepi jendela
(bentuk lengkung atau miring) dapat mengurangi kontras yang berlebihan antara
jendela dengan dinding.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.2.6. Pemasangan Bukaan Jendela

Iluminasi terbesar pada bangunan tedapat pada jendela sehingga


diperlukan strategi untuk mengatasi silau dan intensitas terang pada
jendela sebagai berikut (Lechner, 2007).
a. Jendela pada bangunan harus tinggi, tersebar merata, dan berada
pada area optimal;
b. Peletakkan jendela pada dua sisi dinding menggunakan pencahayaan
bilateral;
c. Peletakan jendela yang berdekatan dengan dinding interior sebagai
pemantul cahaya;
d. Untuk mengurangi kotras antara jendela dan dinding, perbesar ratio
area dinding;
e. Sinar matahari dapat disaring dan diperlembut melalui pemanfaatan
vegetasi ; dan
f. Shading device dengan warna cat terang untuk menghalangi sinar
matahari langsung namun masih memantulkan penyebaran cahaya
yang merata ke dalam bangunan.

Secara umum, cahaya dapat dimasukkan ke dalam ruangan melalui


dua bagian bangunan, yaitu:
1. Memasukkan Cahaya dari Samping Memasukkan cahaya dari samping
menjadi lebih mudah karena terkoordinasi dengan kulit bangunan, dan
kerap dipertimbangkan sebagai akses visual bagi pemandangan yang
ada di luar bangunan. Cahaya dapat dimasukan melalui bukaan
ataupun bidang transparan pada bagian kulit atau pelingkup bangunan.
Pemasangan bidang transparan dengan menempatkan kaca sebagai
elem vertikal atau pelingkup bangunan, cahaya yang masuk ke dalam
ruang sangat besar, namun masalah silau dan kenyamanan termal juga
akan muncul. Jika pendekatan ini dilakukan tanpa mempertimbangkan
kenyamanan termal juga akan membuat udara panas terjebak didalam
bangunan. Sekali pun menggunakan bantuan penghawaan buatan,
energi yang dibutuhkan untuk mendinginkan ruangan akan menjadi
sangat besar. Pendekatan lain yang sering dilakukan untuk

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

memasukkan cahaya dari samping adalah dengan meletakkan jendela


pada elemen vertikal atau dinding. Jendela, selain untuk memasukkan
cahaya dan menciptakan akses visual dari dan ke dalam bangunan,
juga kerap difungsikan untuk sirkulasi udara, bagi terciptanya
pergerakan dan pergantian udara di dalam ruang.

Kehadiran jendela juga akan memberikan pengaruh besar terhadap


tampilan bangunan secara keseluruhan, baik melalui bentuk, orientasi,
ukuran, bahkan sampai finishing yang digunakan.

Jendela dibagi menjadi tiga bagian area yaitu rendah, tengah dan tinggi.
Orientasi sudut pemantulan cahaya dan bentuk langit-langit diasumsikan
sama dengan kasus ini.

a. Jendela Rendah Bentuk jendela rendah menghasilkan bentuk


pencahayaan yang merata dapat mendistribusikan pantulan cahaya
kedalam bangunan. Dengan menggunakan jendela rendah
memungkinkan dinding bagian atas dan langitlangit akan terkesan
gelap. Hal tersebut dapat diatasi dengan meminimalisir daerah depan
dengan memiringkan langit-langit kebawah menuju kepala jendela dan
meletakan jendela rendah berdekatan dengan dinding tegak lurus.
Jendela rendah dapat memiliki view tergantung besarnya jendela
tersebut, terlihat pada contoh gambar diatas. Gambar kedua dengan
skala jendela rendah yang kecil ruangan tersebut tidak memiliki view
yang memuaskan. Dengan demikian unsur privasi merupakan masalah

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

untuk penggunaan jendela rendah, sulit mengkombinasikan unsur


privasi dengan beberapa view dan cahaya dibangunan rendah dengan
jendela rendah.

b. Jendela Tinggi Keuntungan dari jendela tinggi adalah menghasilkan


penyebarancahaya terbaik saat langit mendung, selain itu jendela tinggi
dapat menghasilkan cahaya dengan tingkat privasi dan keamanan yang
lebih baik dari jendela lain.

Kerugian utama dari jendela tinggi adalah pendistribusian cahayanya


kurang menguntungkan untuk langit-langit dari pantulan cahaya bawah
tanah. Jendela tinggi memaksimalkan potensial silau dari langit dan
matahari dan pasti membingungkan atau tidak pasti. Dari segi view
jendela atas juga kurang memuaskan.

c. Jendela Tengah Jendela tengah tidak sebaik dengan jendela rendah


dalam hal pendistribusian cahaya dari pantulan tanah dan tidak sebaik
jendela tinggi dalam pendistribusian cahaya dari langit mendung. Akan
tetapi, jendela tengah menghasilkan pencahayaan yang cukup untuk

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

kegunaan ruangannya ini merupakan pilihan yang cukup disukai karena


jendela ini menghasilkan view terbaik. Cahaya yang silau dengan
cahaya yang maksimal dari jendela tengah dapat diatasi dengan
memiringkan jendela tengah menjadi di bawah tanah pandangan mata
dari posisi pekerjaan yang paling penting, tetapi belum memungkinkan
mereka terlihat oleh langit-langit

2. Memasukkan Cahaya dari Atas Memasukkan cahaya dari atas sangat


berbeda dengan memasukkan cahaya dari samping. Cahaya yang
dimasukkan melalui bagian atas umumnya memiliki kuantitas cahaya
yang lebih tinggi dan lebih stabil disbanding cahaya yang dimasukkan
dari bagian samping. Cahaya dari samping sangat bergantung pada
posisi matahari dan pantulan dari permukaan atau perkerasan pada
bidang horisontal. Sebagian besar cahaya alami yang masuk dari sisi
samping bukannya merupakan cahaya matahari langsung (sunlight),
melainkan cahaya pantulan langit (skylight). Cahaya yang masuk
melalui bagian atas merupakan kombinasi cahaya matahari dan
cahaya pantulan langit. Cara memasukkan cahaya alami dari bagian
atas yang sangat
sering dilakukan
adalah dengan
menggunakan
skylight. Dalam
konteks
memasukkan
cahaya alami dari
bagian atas,

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

skylight merupakan jalan cahaya yang disediakan melalui bagian atas


bangunan dengan menggunakan bidang transparan, baik berupa kaca,
plastik, polikarbonat, maupun bidan transparan lainnya.

Bentuk skylightsendiri sangat variatif. Ada yang hanya bidang datar,


mengikuti bidang atap, berbentuk segitiga, kubah, setengah
lingkarang, seperempat lingkaran, serta kombinasi di antaranya.
Beberapa juga dilakukan pengulangan, seperti atap gerjaji, untuk
mendapatkan kuantitas cahaya yang optimal, serta menciptakan irama
pada desain bangunan. Dari sisi pencahayaan sendiri, pertimbangan
arah datangnya cahaya sangatlah penting sehingga cahaya yang
masuk dengan sudut yang tepat dan arah yang tepat ke dalam ruang,
sesuai kebutuhan pencahayaan ruang dalam.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.3. Kenyamanan Visual

Kenyamanan visual berkaitan dengan ketentuan standar pencahyaan


dan standar silau yang diijinkan. Faktor yang mempengaruhi kegiatan
visual misalnya pencahayaan berpengaruh dalam kegiatan pencahayaan
dalam kegiatan belajar-mengajar dalam ruang kelas (Lechner, 2007).
Standar kenyamanan visual pada ruang diatur pada SNI 03-6197-2000
dengan tingkat kenyamanan visual disesuaikan terhadap kebutuhan dan
aktivitas bangunannya. Standar tingkat pencahayaan untuk perpustakaan
adalah sebesar 300 lux.

2.2.3.1. Faktor Kenyamanan Visual

Faktor pembentuk kenyamanan visual (Darmasetiawan, 1991) yaitu:

1. Kuantitas cahaya atau tingkat kuat terang cahaya (lighting level).


Tingkat kuat penerangan yang ditentukan dengan kuat cahaya yang
jatuh pada suatu luas bidang atau permukaan dan dinyatakan sebagai
iluminasi. Iluminasi rata-rata adalah tingkat kuat penerangan rata-rata
yang diukur secara horizontal dan vertikal untuk suatu ruangan /
bidang kerja, biasanya diukur 75 cm dari atas lantai. Iluminasi rata-
rata dalam lux adalah arus cahaya yang dipancarkan dalam lumen
dibagi dengan luas bidang dalam m2 . Arus cahaya adalah kuantitas
cahaya total yang dipancarkan setiap detik oleh sumber cahaya dalam
satuan lumen. Tingkat cahaya yang diperlukan bergantung dari
kegiatan yang dilakukan;

2. Distribusi kepadatan atau luminasi cahaya (luminance


distribution). Luminasi merupakan ukuran kepadatan radiasi cahaya
yang jatuh pada suatu bidang. Semakin tinggi tingkat kepadatan suatu
permukaan semakin terang pula permukaan itu. Pencahayaan
dikatakan harmonis jika perbandingan refleksi kepadatan cahaya

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

antara langit-langit, dinding mebel, dan lantai pada bidang penglihatan


tidak lebih dari 3:1 dan tidak lebih kecil dari 1:3;

3. Batasan silau cahaya (limitation of glare). Silau pada umumnya


disebabkan oleh distribusi cahaya yang tidak merata. Misalnya,
semua lampu yang berada pada sudut pandang 45° akan
menimbulkan kesilauan;

4. Arah bentuk bayangan dan penyebaran cahaya (shadows and


light directionality). Arah pencahayaan mempengaruhi
pembentukan bayangan. Bayangan dapat memperjelas atau
menimbulkan kesan nyata atau sebaliknya. Di dalam ruangan, bagian
yang terang dapat dijadikan tempat bekerja dan bagian yang tertutup
oleh bayangan dapat dijadikan tempat untuk relaksasi. Ruangan
memerlukan bayangan yang cukup dengan batasan yang lunak.
Bayangan yang terlalu lunak/tanpa bayangan sama sekali dapat
menimbulkan kesan monoton dan membosankan, selain juga
mempersulit penglihatan;

5. Warna cahaya dan refleksi warna (light colour and colour


rendering). Cahaya matahari mempunyai temperatur warna 6000°
Kelvin. Pada suhu ini, spektrum warna mempunyai keseimbangan
yang sempurna. Warna cahaya dari suatu sumber cahaya
berdasarkan DIN 5035 untuk pencahayaan dalam ruang dibagi
menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu: (1) Putih siang hari (day light white):
± 6000°Kelvin; (2) Putih netral: ± 4000° Kelvin; (3) Putih hangat: ±
3000° Kelvin. Untuk pencahayaan.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.3.2. Faktor Penghambat Kenyamanan Visual

Beberapa faktor yang perlu dihindari untuk mendapatkan kenyamanan


visual pada bidang kerja dalam IESNA (2000, p.127):
(1) Silau (Glare) Terdapat dua buah silau disability glare dan discomfort
glare. Disability Glare adalah silau yang menyebabkan mata tidak
mampu melihat apapun akibat dari pancaran sinar yang besar ke arah
mata seperti ditunjukkan Gambar 2.2, salah satu contoh saat melihat ke
arah sinar matahari langsung. Untuk menghindari masalah ini, letak
luminer tidak berada langsung pada area penglihatan atau luminer
diberi pengarah agar cahaya yang dikeluarkan menjadi lebih lembut.

Discomfort Glare adalah silau yang ditimbulkan akibat pantulan sinar


terhadap bidang kerja atau unsur-unsur di sekitarnya yang menuju
mata. Umumnya masalah potensi silau (discomfort glare) berasal dari
unsur-unsur yang berada pada bidang kerja (lihat Gambar 2.3 bagian
a). Tetapi juga dapat disebabkan oleh unsur-unsur di sekitar bidang
kerja seperti material pembatas ruang (dinding, plafond dan lantai);

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

(2) Bayangan (Shadow) Gambar 2.3 bagian b menunjukkan pembayangan


terjadi karena pancaran sinar cahaya ke bidang kerja tertutupi oleh
suatu obyek (tangan). Hal ini terjadi juga karena pancaran sinar terlalu
kuat sementara tidak terdapat sumber cahaya dari arah lain yang dapat
mengurangi efek pembayangan tersebut. Cara yang termudah adalah
meletakkan sumber cahaya dari arah yang tidak tertutupi oleh obyek
baik dari obyek tetap atau bergerak;

(3) Cahaya Kejut (Flicker) Flicker adalah ketidakstabilan suplai cahaya


yang dihasilkan sumber cahaya yang menyebabkan perubahan
intensitas cahaya dengan cepat. Akibat dari perubahan yang cepat,
mata harus beradaptasi dengan cepat pula sehingga terjadi
ketidaknyamanan. Beberapa sumber cahaya mempunyai kekurangan
ini dan juga dapat disebabkan suplai tegangan listrik yang kurang stabil.
Flicker dapat diminimalisasi dengan memilih sumber cahaya yang
mempunyai resiko kecil terjadi flicker. Lampu CFL termasuk sumber
cahaya yang kecil terjadi flicker.

2.2.3.3. Indek Kesilauan

Silau terjadi diakibatkan oleh masuknya cahaya matahari langsung atau


adanya pantulan dari benda-benda reflektif. Faktor-faktor yang
mempengaruhi silau adalah luminansi sumber cahaya, posisi sumber
cahaya terhadap penglihatan pengamat dan adanya kontras pada
permukaan bidang kerja.

Nilai Indeks Kesilauan maksimum yang direkomendasikan untuk


berbagai tugas visual dibolehkan pada tabel 7. Nilai Indeks Kesilauan dapat
dihitung dengan rumus-rumus yang ada pada CIBSE Publication TM 10.
(CIBSE = Chartered Institution of Building Serv;ces Engineering)

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.3.4. Faktor Pendukung Kenyaman Visual

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk kenyamanan visual pada bidang


kerja adalah:

1. Kontras Warna (Color Contrast) Pada kontras warna yang baik, mata mampu
dengan mudah membaca obyek terhadap latar. Dalam penjelasan Arditi
(2009) tentang guidelines for making effective color choices that work for
nearly everyone, memberi penjelasan pentingnya paduan warna, tingkat
terang dan ketajaman warna dalam membantu kejelasan penglihatan
manusia.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Dalam Gambar 2.4, paduan warna berada pada saturasi yang tidak
berdekatan akan mempunyai kontras yang baik apalagi jika berada
pada tingkat terang (lightness) yang jauh.

2. Ukuran Detail (Detail Size) Menurut standar IESNA (2000, p.112)


kemampuan penglihatan pada bidang kerja dipengaruhi oleh jarak
objek, besar dan kerumitan bentuk dari suatu motif. Jarak yang
konsisten dapat membantu penglihatan karena tidak dibutuhkan waktu
penyesuaian dari lensa mata. Besar obyek akan mempengaruhi
ketajaman mata manusia, pada gambar yang cukup besar tingkat
ketajaman lensa mata tidak perlu maksimum sehingga kelelahan mata
dapat berkurang. Semakin kecil dan rumit gambar akan berdampak
pada kelelahan mata yang cepat;
3. Kecepatan Kerja (Work Speed) Kecepatan pekerjaan menentukan
tingkat iluminasi cahaya karena kemampuan mata dalam mengikuti
kecepatan obyek mempunyai keterbatasan. IESNA (2000, p.143)
menyatakan semakin cepat pergerakan obyek membutuhkan iluminasi
yang lebih terang;

4. Renderasi & Temperatur warna (Color Rendering & Color Temperature)


Renderasi warna (Color rendering) didefinisikan dalam IESNA (2000,
p.112) sebagai kejelasan warna pada obyek hasil dari pancaran sumber
cahaya yang dapat diperbandingkan antara beberapa sumber cahaya.
Renderasi warna ini sangat berpengaruh kepada performa obyek dan
tidak semua sumber cahaya memiliki renderasi warna yang baik seperti
ditunjukkan Tabel 2.1. Nilai renderasi yang baik atau CRI (Color
Rendering Index) adalah lebih besar dari 85.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Sedangkan yang dimaksud temperatur warna (Color temperature)


adalah tingkat warna cahaya tampak yang cenderung ke arah warna
tertentu, yaitu kemerahan atau kebiruan. Temperatur warna cahaya
putih matahari bernilai 6000°Kelvin. Nilai yang kurang dari 6000°Kelvin
, menghasilkan warna kemerahan dan bila nilai lebih dari itu
menghasilkan warna kebiruan. Temperatur warna dipilih berdasarkan
pilihan konsumen yang dipengaruhi persepsinya akan pengalaman
sebelumnya.

2.2.3.5. Standar Tingkat Pencahayaan di Lingkungan Kerja

Berdasarkan persyaratan melalui sumber KEPMENKES RI. No.


1405/MENKES/SK/XI/02

Tingkat Pencahayaan Minimum yang Direkomendasikan. Tingkat


pencahayaan minimum dan renderasi warna yang direkomendasikan untuk
berbagai fungsi ruangan ditunjukkan.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Pedoman


Efisiensi Energi untuk Industri di Asia mengklasifikasikan kebutuhan tingkat
pencahayaan ruang tergantung area kegiatannya, seperti berikut:

Sumber http://www.energyefficiencyasia.org/

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.4. Perpustakaan Perguruan Tinggi

Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang berada


pada lingkungan perguruan tinggi, sekolah tinggi, akademi atau sekolah
tinggi lainnya yang pada hakikatnya merupakan bagian integral dari suatu
perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi memilih, mengolah,
mengoleksi, merawat, dan melayankan koleksi yang dimilikinya kepada
para warga lembaga induknya pada khususnya dan masyarakat akademis
pada umumnya.

Proses pendidikan diperguruan tinggi tidak terlepas dari kegiatan


penelitian dan pengembangan, inovasi, serta rekayasa ilmu pengetahuan.
Sehingga perpustakaan perguruan tinggi sering dikatakan “jantungnya”
Universitas. Khusus perpustakaan perguruan tinggi ini berkembang istilah
lain yaitu, college library, kurang lebih disertakan dengan perpustakaan
akademi. Sebagai bagian dari institusi perguruan tinggi, perpustakaan
diselenggarakan dengan tujuan untuk menunjang pelaksanaan program
perguruan tinggi sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu
pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada
masyarakat.

Menurut Undang-undang No 2 Tahun 1989 tentang Sistem


Pendidikan Nasional pada pasal 55 menyebutkan bahwa salah satu syarat
untuk menyelenggarakan Perguruan Tinggi harus memiliki Perpustakaan.
Dalam Undang-undang No. 43 Tahun 2007 tentang Pepustakaan dalam
pasal 1, disebutkan bahwa Perpustakaan sebagai institusi pengelola
koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional
dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan,
penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Sedangkan perpustakaan perguruan tinggi (PPT) merupakan unit


pelaksana teknis (UPT) yang bersama-sama dengan unit lain
melaksanakan Tri Dharma PT (Perguruan Tinggi) melalui menghimpun,
memilih, mengolah, merawat serta melayankan sumber informasi kepada

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

lembaga induk khususnya dan masyarakat akademis pada


umumnya.(Pedoman PPT, Jakarta: Dirjen DIKTI, 1994, hal. 3). Adapun
yang termasuk dalam PT meliputi universitas, institut, sekolah tinggi,
akademi, politeknik dan atau PT lain yang sederajat.

Dalam rangka melaksanakan pengelolaan perpustakaan diperlukan


pedoman sebagai panduan dan karena itu diperlukan pengetahuan tentang
Standar Nasional Indonesia Perpustakaan Perguruan Tinggi (SNI
7330.2009) dalam upaya pencapaian pengelolaan PPT.

2.2.4.1. Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi

Sesuai dengan standard Nasional Indonesia , fungsi PPT


adalah:
a. Lembaga pengelola sumber-sumber informasi;
b. Lembaga pelayanan dan pendayagunaan informasi;
c. Wahana rekreasi berbasis ilmu pengetahuan;
d. Lembaga pendukung pendidikan (pencerdas bangsa);
e. Lembaga pelestari khasanah budaya bangsa. Dalam Surat
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0103/o/1981
menyatakan PPT berfungsi sebagai pusat kegiatan belajar-
mengajar, pusat penelitian dan pusat informasi bagi pelaksanaan
tri dharma perguruan tinggi.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,


komunikasi dan budaya serta peningkatan kebutuhan pemustaka
maka fungsi PPT dikembangkan lebih rinci sebagai berikut :

a. Studying Center, artinya bahwa perpustakaan merupakan pusat


belajar maksudnya dapat dipakai untuk menunjang belajar
(mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan dalam jenjang
pendidikan);

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

b. Learning Center, artinya berfungsi sebagai pusat pembelajaran


(tidak hanya belajar) maksudnya bahwa keberadaan
perpustakaan di fungsikan sebagai tempat untuk mendukung
proses belajar dan mengajar. (Undang-undang No 2 Tahun 1989
Ps. 35: Perpustakaan harus ada di setiap satuan pendidikan yang
merupakan sumber belajar);

c. Research Center, hal ini dimaksudkan bahwa perpustakaan


dapat dipergunakan sebagai pusat informasi untuk mendapatkan
bahan atau data atau nformasi untuk menunjang dalam
melakukan penelitian;

d. Information Resources Center, maksudnya bahwa melalui


perpustakaan segala macam dan jenis informasi dapat diperoleh
karena fungsinya sebagai pusat sumber informasi;

e. Preservation of Knowledge center, bahwa fungsi perpustakaan


juga sebagai pusat pelestari ilmu pengetahuan sebagai hasil
karya dan tulisan bangsa yang disimpan baik sebagai koleksi
deposit, local content atau grey literature;

f. Dissemination of Information Center, bahwa fungsi


perpustakaan tidak hanya mengumpulkan, pengolah,
melayankan atau melestarikan namun juga berfungsi dalam
menyebarluaskan atau mempromosikan informasi; dan

g. Dissemination of Knowledge Center, bahwa disamping


menyebarluaskan informasi perpustakaan juga berfungsi untuk
menyebarluaskan pengetahuan (terutama untuk pengetahuan
baru).

2.2.4.2. Sumber Daya Manusia

Di perpustakaan jenis apapun sumber daya manusia

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

merupakan unsur yang sangat penting karena merupakan ujung


tombak dan ujung kekuatan proses pemberian dan penerimaan
informasi dari sumber informasi dalam hal ini pengelola perpustakaan
dan pemanfaat informasi atau pengguna, sekarang pemustaka.

a. Pemustaka atau Pengguna


Perpustakaan tidak akan ada artinya apabila tidak ada
pengunjung yang memanfaatkan atau menggunakan bahan
pustaka/koleksinya yaitu user / pemustaka. Pemustaka adalah
pengguna perpustakaan yaitu perseorangan, kelompok orang,
masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan
perpustakaan ( UU No 43 Tahun 2007 Pasal 1 ayat 9).

b. Tenaga Pengelola Perpustakaan atau Pustakawan


Berdasarkan SNI maka terdapat tiga kategori pengelola
perpustakaan yaitu :

1. Tenaga administrasi, pegawai yang bekerja di unit


perpustakaan tetapi tidak perpendidikan di bidang
perpustakaan;

2. Tenaga teknis perpustakaan, pegawai yang berpendidikan


serendah-rendahnya diploma dua di bidang ilmu
perpustakaan dan informasi atau yang disetarakan, dan diberi
tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh
oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan
kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan;

3. Pustakawan perguruan tinggi, pegawai yang berpendidikan


serendah-rendahnya sarjana di bidang ilmu perpustakaan dan
informasi atau yang disetarakan, dan diberi tugas, tanggung
jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang
berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada
unit-unit perpustakaan.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Jumlah sumber daya manusia yang diperlukan dihitung


berdasarkan perbandingan satu pustakawan, dua tenaga teknis
perpustakaan dan satu tenaga administrasi.

2.2.4.3. Tata Ruang Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi dan pengetahuan


memiliki tugas dan fungsi yang strategis yaitu menyediakan fasilitas
ruang baca yang nyaman dana man bagi pemustakanya.
Berdasarkan SNI, perpustakaan harus menyediakan ruang
sekurang-kurangnya 0,5 m2. Sebagaimana pada Bab IX pasal 38 UU
No. 43 tahun 2007 menyebutkan bahwa : (1) Setiap penyelenggara
perpustakaan menyediakan sarana dan prasarana sesuai dengan
standar nasional perpustakaan; (2) Sarana dan prasarana
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimanfaatkan dan
dikembangkan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi.
Pembagian ruang gedung perpustakaan terdiri dari :
a. Ruang koleksi Areal koleksi seluas 30% yang terdiri dari ruang
koleksi buku, ruang multimedia (koleksi digital dan audio visual),
ruang koleksi reference, ruang koleksi majalah ilmiah, ruang
koleksi karya ilmiah;
b. Ruang pemustaka Ruang pemustaka seluas 45% yang terdiri dari
ruang baca dengan meja baca, meja baca berpenyekat, ruang
baca khusus, ruang diskusi, lemari katalog/komputer, meja
sirkulasi, tempat penitipan tas dan toilet;
c. Ruang staf Ruang staf perpustakaan seluas 25% terdiri dari ruang
pimpinan, ruang tamu, ruang akuisisi, ruang pengolahan, ruang
pelestarian bahan pustaka, ruang komputer, ruang pertemuan,
ruang penyimpanan buku yang baru diterima, dapur dan toilet.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

Dalam pengaturan ruang baca perpustakaan agar nyaman dan


aman maka diperlukan adanya ilmu tata ruang. Ilmu tata ruang baca
di perpustakaan sangat dibutuhkan karena merupakan salah satu
aspek pembinaan perpustakaan yang memiliki pengaruh dan
peranan yang sangat besar dalam memperlancar layanan maupun
pelaksanaan fungsi perpustakaan.

Sulistiyo-Basuki (1992) mengatakan ada dua hal yang harus


dipertimbangkan dalam menata ruang baca perpustakaan, yaitu:

1. Pertimbangan umum, meliputi sumber daya keuangan,


letak/lokasi, luas ruang, jumlah staf, tujuan dan fungsi organisasi,
pemakai, kebutuhan pemakai, perilaku pemakai, infrastruktur,
dan fasilitas teknologi informasi yang diperlukan untuk
melengkapi kenyamanan ruang baca perpustakaan;

2. Pertimbangan teknis, terkait dengan kegiatan telaah awal untuk


menentukan kondisi optimal bagi pemanfaatan ruang dan
perlengkapan, pengawetan dokumen, kenyamanan pemakai,
serta mempertimbangkan faktor cuaca (suhu), penerangan
(cahaya), akustik (kebisingan), masalah khusus (koleksi mikro),
dan keamanan (tahan api) saat di dalam ruang perpustakaan. Di
samping itu, perencanaan ruang perpustakaan harus mangacu
pada hubungan antar ruang yang bersifat interaktif agar dapat
dipandang secara mudah dan nyaman, baik dari segi efisiensi dan
alur kerja, mutu pelayanan, maupun pengawasan. Keberadaan
fasilitas dan ruang baca perpustakaan harus menyatu dengan
kondisi dan bentuk bangunannya agar sesuai dengan standar
kenyamanan dan keamanan ruang perpustakaan.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.4.4. Jenis Ruang Perpustakaan

Gedung perpustakaan memiliki tempat yang terdiri dari


sejumlah ruangan yang tiap-tiap ruangan tersebut mempunyai fungsi
yang berbeda-beda. Ruang perpustakaan merupakan tempat yang
disediakan untuk perpustakaan harus terpisah dari aktivitas lain.
Selain itu pembagian ruangan harus disesuaikan juga dengan sifat
kegiatan, sistem kegiatan, jumlah pengguna, jumlah staf dan
keamanan tata kerja, sehingga kelancaran kegiatan dalam
perpustakaan tersebut berjalan efektif (Pedoman Penyelenggaraan
Perpustakaan, 2000).

Adapun ruangan yang minimal harus dimiliki sebuah


perpustakaan adalah sebagai berikut:
1. Ruang koleksi, adalah tempat penyimpanan koleksi
perpustakaan. Luas ruangan ini tergantung pada jenis dan jumlah
bahan pustaka yang dimilki serta besar kecilnya luas bangunan
perpustakaan.
2. Ruang baca, adalah ruang yang dipergunakan untuk membaca
bahan pustaka. Luas ruangan ini tergantung pada jumlah pembaca,
pemakai jasa perpustakaan.
3. Ruang pelayanan, adalah tempat penyimpanan dan
pengembalian buku, meminta keterangan pada petugas, menitipkan
barang atau tas, dan mencari informasi dan buku yang diperlukan
melalui katalog.
4. Ruang kerja/teknis administrasi, adalah ruangan yang
dipergunakan untuk melakukan kegiatan pemerosesan bahan
pustaka, tata usaha untuk kepala perpustakaan dan stafnya,
perbaikan dan pemeliharaan bahan pustaka, diskusi, dan pertemuan
(Perpustakaan Nasional, 1992).

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.4.5. Sistem Perancangan Ruang Perpustakaan

Perancangan gedung dan ruang perpustakaan yang baik akan


menghasilkan tempat kerja yang efisien, nyaman, dan
menyenangkan bagi staf perpustakaan dan pemustaka. Siregar
(2008), mengatakan bahwa untuk menghasilkan gedung
perpustakaan yang dapat menjadi tempat kerja yang efisien, nyaman
dan menyenangkan bagi staf perpustakaan dan pengunjung, maka
gedung atau ruangan perpustakaan haruslah direncanakan secara
baik agar dapat menampung segala kegiatan dalam pelaksanaan
fungsi perpustakaan sesuai dengan jenis layanannya, terbuka (open
access) atau tertutup (closed access). Apabila perpustakaan
menganut sistem tertutup, maka alokasinya adalah 45% untuk
koleksi, 25% untuk pengguna, 20% untuk staf, dan 10% untuk
keperluan lain. Apabila sistem terbuka, maka alokasinya diatur
dengan pembagian 70% untuk koleksi dan pengguna, 20% untuk
staf, dan 10% untuk keperluan lain (Depdikbud, 1994).

Selain itu, dalam merancang ruang perpustakaan perlu


diperhatikan dalam penataan ruang baca, ruang koleksi, dan ruang
sirkulasi yang dapat dipilih dengan sistem tata sekat, tata parak, dan
tata baur (Lasa, 2005).
1. Sistem tata sekat yaitu cara pengaturan ruangan
perpustakaan yang menempatkan koleksi terpisah dari ruang
baca pengunjung. Sistem ini, tidak memperkanan pengunjung
untuk masuk ke ruang koleksi dan petugaslah yang akan
melayaninya;
2. Sistem tata parak yaitu sistem pengaturan ruangan yang
menempatkan koleksi terpisah dari ruang baca. Sistem ini,
memungkinkan pengunjung untuk mengambil koleksi sendiri,
kemudian dicatat dan dibaca di ruang lain;
3. Sistem tata baur yaitu suatu cara penempatan koleksi yang
dicampur dengan ruang baca agar pembaca lebih mudah
mengambil dan mengembalikan koleksi sendiri.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.2.4.6. Desain Pembangunan Ruang Baca dan Belajar

Ruang baca dan belajar ruangan yang di pergunakan untuk


memanfaatkan bahan pustaka dalam rangka memen. Luas ruangan
ini tergantung pada jumlah pembaca, pemakai jasa perpustakaan.
Dengan demikian, ruang baca perpustakaan adalah ruangan layanan
baca bahan pustaka yang dapat menunjang kegiatan belajar
mengajar, pusat penelitian dan pusat informasi. Kegiatan ruang baca
perpustakaan juga menyangkut layanan buku-buku rujukan karena
umumnya buku-buku rujukan tidak dipinjamkan ke luar
perpustakaan.

Menurut International Federation of Library Associations (2006:


10) yang menyatakan bahwa hal–hal yang harus diperhatikan dalam
tata ruang demi maksimalnya pelayanan ruang baca adalah sebagai
berikut :
a. Lokasi terpusat atau sentral, bilamana mungkin di lantai dasar;
b. Akses dan kedekatan, dekat dengan kawasan pengajaran;
c. Faktor kebisingan, paling sedikit di perpustakaan tersedia
beberapa bagian yang bebas dari kebisingan dari luar;
d. Pencahayaan yang baik dan cukup, baik lewat jendela maupun
penerangan, (e) Suhu ruangan yang tepat;
e. Desain yang sesuai guna memenuhi penderita cacat fisik;
f. Ukuran ruang yang cukup untuk penempatan koleksi buku, fiksi
dan non fiksi;
g. Fleksibilitas untuk memungkinkan keberagaman kegiatan serta
perubahan kurikulum dan teknologi pada masa mendatang.

Ruang baca pada umumnya berdekatan dengan ruang koleksi,


dan ruang baca digabungkan dalam satu ruangan jika layanan yang
diterapkan adalah Open Acess. Menurut Bafadal (2009:150)
penataan ruang dan perlengkapan yang tersedia harus ditata dan

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

dirawat dengan baik sehingga benar-benar menunjang


penyelenggaraan perpustakaan sekolah secara efektif dan efisien.

2.2.4.7. Pencahayaan Alami pada Ruang Baca Perpustakaan

Pencahayaan Alami pada Ruang Baca Perpustakaan Menurut


Indriati (2012:1), pencahayaan alami adalah pencahayaan yang
sumber cahayanya berasal dari sinar matahari. Keuntungan
memanfaatkan sumber pencahayaan alami adalah menghemat
energi dan dapat membunuh kuman. Menurut Lechner (1968:329),
terdapat beberapa langkah desain yang paling sering digunakan
untuk memasukkan cahaya ke dalam ruangan, yaitu dengan
membuat bukaan atas dan bukaan samping.

a. Top Lighting (Bukaan Atas) Top lighting merupakan langkah


yang paling efisien untuk memasukkan cahaya ke dalam
ruangan karena pendistribusian cahaya lebih merata ke
seluruh ruangan dan penggunaan kaca dapat diminimalisir;
dan
b. Side Lighting (Bukaan Samping) Cahaya yang masuk melalui
bukaan samping dapat digunakan sebagai cahaya alami yang
efektif dalam menghemat energi sepanjang hari. Bukaan
samping yang berupa jendela berperan sebagai pemenuh
kebutuhan dasar bagi suatu bangunan, yaitu estetika
bangunan, pandangan sekeliling, media masuknya cahaya,
ventilasi, peredam suara, dan pintu darurat. Aplikasi side
lighting pada dinding dapat berupa:
1. Clerestory window yaitu jendela yang terletak di antara
dua atap miring atau bertumpuk yang berfungsi
memasukkan cahaya matahari ke ruangan berplafon
tinggi;
2. Ribbon window yaitu jendela yang susunannya
memanjang seperti pita, bisa dibuat bersegmen mau

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

pun menerus. Neufert (1996:160) mengemukakan


bahwa luas keseluruhan semua jendela harus minimal
1/10 luas keseluruhan semua dinding ruangan,
mengingat jendela merupakan alat yang sangat penting
untuk menerangi ruangan dengan memanfaatkan
cahaya di siang hari.

SNI-03-6576-2001 tentang Tingkat Pencahayaan Minimum


dan Renderasi Warna yang Direkomendasikan menyebutkan bahwa
tingkat pencahayaan untuk perpustakaan adalah sebesar 300 lux.

2.2.4.8. Elemen Desain Ruang

Lasa (2005) menyatakan yang termasuk fisik dari tata ruang


perpustakaan adalah ruang, sirkulasi udara, pencahayaan,
pewarnaan, tata suara akustik. Terdapat beberapa elemen yang
perlu di perhatikan dalam mendesain suatu ruangan yaitu ruang,
pewarnaan, penerangan, sirkulasi udara, dan penataan suara.

a. Ruang, Dalam merencanakan suatu ruang baik dari segi interior


maupun eksterior perlu memperhatikan setiap fungsi ruang,
unsur-unsur keharmonisan dan keindahan. Lasa (2005)
menyatakan dalam perencanaan perpustakaan perlu
memperhatikan luas lantai, pembagian ruangan menurut fungsi,
rambu-rambu, azas jarak agar memudahkan proses
penyelesaian pekerjaan dengan menempuh jarak yang paling
pendek, pemberian jarak yang sesuai antar perabot agar
membuat orang leluasa bergerak.

b. Pewarnaan, Menentukan warna suatu ruangan harus


disesuaikan dengan kondisi perpustakaan atau melalui
kebutuhan pemustaka yang memerlukan suasana tenang dan
terang. Menurut Lasa (2005) warna dapat mempenagruhi orang

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

yang bekerja dan membaca. Warna juga dapat menambah


konsntrasi dan dapat mempengaruhi jiwa seseorang. Pemilihan
warna yang sesuai untuk ruangan akan memberikan suatu kesan
psikologis sehingga terbentuknya suasana yang menyenangkan
dan menarik, secara tidak langsung dapat meningkatkan
semangat bekerja atau membaca dan mengurangi kelelahan.

c. Pencahayaan, Pencahayaan adalah penerimaan sinar dari


sumber cahaya yang dapat memberikan penerangan bagi
penglihatan. Ching, (1996) mengatakan bahwa pencahayaan
terdiri dari dua jenis bila ditinjau dari sumbernya, yaitu
pencahayaan alami dan pencahyaan buatan. Pencahayaan alami
merupakan pencahayaan yang bersumber langsung dari alam
seperti matahari, bulan, bintang. Sedangkan pencahayaan
buatan merupakan pencahayaan yang berasal dari lampu, lilin
dan sebagainya.

d. Sirkulasi udara, Menurut Lasa (2005) dalam perencanaan


perpustakaan, perlu diperhatikan kondisi udara dalam ruangan
karena akan mempengaruhi kemampuan manusia dalam
melaksanakan pekerjaan fisik dan mental. Sirkulasi udara dapat
dicapai dengan dua cara yaitu penghawaan alami dan buatan.
Penghawaan alami dapat dilakukan dengan adanya ventilasi
udara atau jendela yang cukup agar sirkulasi udara dapat berjalan
dengan baik. Sirkulasi udaara buatan dapat dilakukan dengan
alat-alat tertentu antara lain dengan menggunakan AC, kipas
angin, dan lainnya.

e. Tata suara, Suatu ruang di perpustakaan terkenal dengan


ketenangannya, akan tetapi didalam ruang perpustakaan juga
sering terjadi kebisingan karena percakapan pemustaka, atau
adanya suara dari luar gedung yang terlalu keras. Penataan suara
dalam perpustakaan perlu untuk dilakukan agar menciptakan

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

rasa kenyaman dan ketetenang agar pemustaka maupun


pustakawan dapat lebih berkonsentrasi dalam pekerjaannya.

2.2.4.9. Layanan Ruang Baca Perputakaan

Menurut Elang dalam Kurniawati, sesuai dengan jenis dan


kondisinya layanan ruang baca dapat dibagi menjadi 7 yaitu :
a. Layanan ruang baca buku rujukan
Buku rujukan adalah bahan perpustakaan yang sangat
penting karena dari buku-buku ini berbagai pertanyaan dapat
dijawab contohnya globe, peta, kamus (seperti webster
international dictionary). Dalam ruangan ini, biasanya ada
petugas atau pustakawan rujukan yang siap sedia memberikan
bantuan. Jawaban pertanyaan rujukan tidak semuanya diperoleh
dari buku, tetapi dapat juga dari pengalaman petugas
perpustakaan.

b. Layanan ruang baca berupa meja baca perorangan


Layanan ini sebenarnya sekedar perluasan dari fasilitas
ruang baca. maksudnya, untuk memberikan kenyamanan bagi
mereka yang menghendaki ketenangan khusus. Dengan fasilitas
ini seolah pembaca memiliki ruang khusus di perpustakaan yang
tidak boleh diganggu orang lain. Ia juga merasa bahwa dirinya
tidak mau mengganggu orang lain.

c. Layanan ruang baca berupa meja baca kelompok


Ruang baca jenis ini terdapat di berbagai perpustakaan,
kelemahan dan keunggulan meja baca seperti ini ialah saling
mengganggu di antara para pembaca. Keunggulannya,
menghemat ruang dan fasilitas perpustakaan, karena adanya
ruang baru itu, kedua karena melihat teman sebangkunya
membaca, ia sendiri mungkin akan berbuat demikian dan
diantara pembaca dapat saling komunikasi.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

d. Fasilitas untuk ruang baca yang baik


Ruang baca hendaknya dilengkapi berbagai fasilitas
untuk menunjang kenyamanan. Pemasangan AC atau jendela
yang luas, dapat memperlancar sirkulasi udara. Penerangan
harus memadai. Sinar yang baik adalah sinar alami. Dianjurkan,
perpustakaan memiliki pengontrol sinar pada setiap jendela,
misalnya dengan krey (blind fold).

e. Perluasan dan ruang baca berupa ruang untuk diskusi


Ruang ini dapat digunakan oleh sekelompok pembaca
yang sama untuk membahas sesuatu, buku-buku dibawa dari
perpustakaan kemudian dibicarakan bersama di sana. Biasanya
ini membutuhkan jadwal dan pengumuman yang tepat dari
perpustakaan.

f. Ruang baca yang berupa ruang kerja bagi pembaca


Ruang ini dapat digunakan untuk pembaca remaja dan
anak-anak agar mereka dapat berkarya. Meskipun perpustakaan
menyediakan fasilitas dan mengeluarkan biaya, tetapi nilai
kegiatan ini sangat tinggi.

g. Ruang santai
Ruang ini dapat digunakan oleh pembaca yang telah
lelah membaca agar segar kembali. Sambil beristirahat ia dapat
membaca dan menonton televisi.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.6 Kerangka Teori

Berdasarkan uraian pada Bab II, maka dimunculkan dalam bentuk


sederhana berupa ringkasan kerangka teori seperti gambar dibawah ini:

Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan visual melalui pencahayaan alami pada
ruang baca perpustakaan UI

Perpustakaan
Pencahayaan Kenyamanan
Perguruan Jendela
Alami Visual
Tinggi

Kriteria Perancangan Faktor Kenyamanan


Fungsi Jendela
Pencahayaan Alami Visual

Sistem Pencahayaan Faktor Penghambat


Bentuk Jendela
Alami pada Bangunan Kenyamanan Visual

Ketentuan Dasar
Indeks Kesilauan Ukuran Jendela
Pencahayaan Alami

Perhitungan Dasar Faktor Pendukung Langkah Perancangan


Pencahayaan Alami Kenyamanan Visual Pencahayaan Alami Siang Hari

Penentuan Titik Standar Tingkat Pencahayaan


di Lingkungan Kerja Bukaan Bangunan
Pengukuran

Persyaratan Faktor
Langit dalam Ruangan Fungsi Perpustakaan Strategi Penerapan
Perguruan Tinggi Bukaan pada Bangunan

Sumber Daya Manusia


Pemasangan Bukaan
Jendela

Tata Ruang
Perpustakaan
Layanan Ruang Baca
Perpustakaan

Jenis Ruang Sistem Perancangan Desain Pembangunan Pencahayaan Alami


Elemen Desain Ruang
Perpustakaan Ruang Perpustakaan Ruang baca & belajar pada Ruang Baca

(Sumber: Data Pribadi)

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008
Laporan Penelitian
Evaluasi bukaan jendela terhadap kenyamanan
visual melalui pencahayaan alami pada ruang
baca Perpustakaan Universitas Indonesia

2.7 Kesimpulan

Berdasarkan United Nations Environment Programme(UNEP) dalam Pedoman


Efisiensi Energi untuk Industri di Asiamengklasifikasikan kebutuhan tingkat
pencahayaan ruang tergantung area kegiatannya, seperti berikut:

Keperluan Pencahay Contoh area kegiatan


aan (LUX)
Pencahayaan umum 20 Layanan penerangan yang
untuk ruangan dan minimum dalam area sirkulasi luar
area yang jaarang ruangan, pertokoan , halaman
digunakan dan tugas tempat penyimpanan
visual sederhana 50 Tempat pejalan kaki & panggung
70 Ruang boiler
150 Area sirkulasi di industry,
pertokoan dan ruang
penyimpanan

Pencahayaan untuk 200 Layanan penerangan minimum


interior dalam tugas
300 Proses umum dalam industry
kimia dan makanan , kegiatan
membaca dan membuat arsip
Perakitan mesin presisi,
1500 pengukuran dan pemeriksaan
bagian kompenen kecil yang rumit
Pencahayaan 300 Pekerjaan presisi dan rinci sekali,
tamabahan setempat contoh pembuatan jam tangan
untuk tugas visual
yang tepat

Hasil dari pembahasan dari beberapa penelitian kajian teori pustaka dapat
disimpulkan bahwa kenyamanan visual sebuah bangunan melalui pencahayaan
alami melalui bukaan jendela pada bangunan perpustakaan diruang baca
Universitas Indonesia sangat penting dalam melakukan kegiatan dalam proses
membaca sebab tingkat lux yang memenuhi standar adalah 300 lux, sangat
berpengaruh terhadap aktivitas visual disuatu ruangan tersebut.

Program Studi Arsitektur – Universitas Mercu Buana


Rifqi Fadhlurrahman - 41216210008

Anda mungkin juga menyukai