BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nifas adalah masa sesudah persalinan, masa perubahan, pemulihan,
penyembuhan dan pengambilan alat-alat kandungan. Proses masa nifas berkisar
antara 6 minggu atau 40 hari (Pitriani & Andriyani, 2014). Makanan atau nutrisi
yang sehat pada bayi yang memenuhi kualitas dan kuantitas yang memadai yaitu air
susu ibu (ASI) (Ramaiah, 2009)
Air Susu Ibu (ASI) eksklusif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33
Tahun 2012 adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam
bulan, tanpa menambahkan ddan atau mengganti dengan makanan atau minuman
lain (kecuali obat,vitamin dan mineral) (Kemenkes, 2015).
Idealnya, proses menyusui dapat dilakukan segera setelah bayi dilahirkan. Bayi
yang lahir cukup bulan memiliki naluri untuk menyusu 20-30 menit setelah
dilahirkan. Pada jam-jam pertama, bayi relatif tenang dan memiliki keinginan untuk
menyusu. Namun pada kenyataan dilapangan menunjukkan banyak ibu yang
mengalami ketidakefektifan proses menyusui karena produksi dan ejeksi ASI yang
sedikit dihari-hari pertama sehingga ibu enggan untuk menyusui bayinya
(Widiastuti, 2015). Berdasarkan penelitian Colin dan Scott menjelaskan bahwa 29
persen ibu post partum di Australia berhenti menyusui karena produksi ASI kurang
1
2
(Mardiyaningsih, 2010). Berdasarkan penelitian Sa’roni (2004) bahwa 38% ibu
berhenti memberikan ASI karena kurangnya produksi ASI (Nathania, 2014)
Secara global hanya 43% dari bayi berusia dibawah enam bulan yang
mendapatkan ASI Eksklusif. Bayi yang tidak mendapatkan ASI sama sekali, 14 kali
lebih mungkin meninggal dari pada mereka yang menerapkan ASI Eksklusif.
(UNICEF, 2016)
Cakupan pemberian ASI Indonesia menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun
2014 mengalami kenaikan sebesar 52,3 % dibandingkan tahun 2015 yaitu 55,7% .
Mengacu pada target renstra pada tahun 2015 yang sebesar 39%, maka secara
nasional cakupan pemberian ASI Eksklusif telah mencapai target (Kemenkes,
2015). Namun Indonesia masih berada di peringkat 49 dari 51 negara yang
mendukung pemberian ASI Eksklusif berdasarkan World Breasfeeding Trends
Initiative (WBTI) tahun 2012 (Suryo Nugroho, 2013).
Berdasarkan profil kesehatan Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015,
persentase pemberian ASI Eksklusif pada tahun 2014 sebesar 60,7%, sedikit
mengalami peningkatan pada tahun 2015 yaitu 61,6%. Walaupun terjadi
peningkatan namun masih terdapat daerah yang persentase pemberian ASI
Eksklusif sangat rendah, yaitu pada Kabupaten Semarang dengan persentase
pemberian ASI Eksklusif hanya sebesar 6,72% (Dinkes Provinsi Semarang, 2015).
Data dalam profil kesehatan kabupaten Semarang tahun 2015 menunjukan
bahwa cakupan ASI Eksklusif di Kabupaten Semarang tahun 2014 sebesar 21,3
%.mengalami penurunan yang sangat signifikan pada tahun 2015 yaitu sebesar
3
6,72%. Namun demikian, sosialisasi mengenai ASI Eksklusif selalu diberikan,
selain itu beberapa kegiatan yang mendukung seperti kelas ibu dan penyediaan
sarana prasarana seperti Ruang ASI yang disediakan di beberapa kantor atau
perusahaan, meningkatnya informasi tentang pentingnya ASI Eksklusif, dukungan
regulasi, adanya pemantauan dan pembinaan ke tempat penyelenggaraan kerja
tentang Upaya Kesehatan Kerja serta telah terbitnya Perda Nomor 5 Tahun 2014
tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif (Dinkes Kabupaten
Semarang, 2015).
Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa beberapa ibu produksi ASInya
sedikit atau tidak ada sama sekali pada tiga atau empat hari pertama setelah
melahirkan. Akibatnya ibu memutuskan untuk memberikan makanan prelaktal pada
bayi yaitu makanan atau minuman buatan yang diberikan kepada bayi sebelum ASI
keluar atau bahkan memutuskan untuk memberikan susu formula (Cox, 2006).
Salah satu wilayah kecamatan yang memiliki cakupan ASI cukup rendah
berdasarkan profil kesehatan kabupaten Semarang yaitu Bawen sebesar 30,2 %,
berada dibawah rata-rata cakupan ASI Eksklusif di kabupaten Semarang.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di wilayah Puskesmas Bawen, dari
10 ibu menyusui, 6 ibu tidak memberikan ASI secara Eksklusif. Hasil wawancara
yang dilakukan oleh peneliti ibu tidak memberikan ASI Eksklusif dengan alasan
karena produksi ASI yang kurang sehingga bayi sering menangis karena lapar dan
akan berhenti menangis jika diberikan susu formula, selain itu juga dikarenakan
4
banyaknya ibu yang bekerja dan memiliki jam kerja panjang sehingga ibu hanya
bisa menyusui setelah pulang, selebihnya menggunakan susu formula.
Target pencapaian ASI eksklusif sulit dicapai disebabkan karena salah satunya
yaitu ASI tidak keluar atau produksi ASI sedikit/ kurang. Permasalahan tidak
lancarnya proses keluarnya ASI yang menjadi salah satu penyebab seseorang tidak
dapat menyusui bayinya sehingga proses menyusui terganggu/terhambat karena itu
diperlukan diadakannya pendekatan pada masyarakat untuk dapat mengubah
kebiasan buruk memberikan makanan pendamping ASI sebelum bayi berusia 6
bulan dan pengenalan berbagai metode yang dapat membantu ibu menyusui untuk
memperlancar pengeluaran ASI (Arisman, 2010).
Menurut Tjekyan (2009) alasan ibu berhenti memberikan ASI secara esksklusif
32 % karena mengeluh ASI kurang, 28% karena bekerja, 16 % karena iklan, 16 %
kondisi puting 4% ingin disebut modern, 4% ikut-ikutan. Ibu berfikir bayi mereka
akan mendapatkan cukup ASI, sehingga ibu sering mengambil langkah berhenti
menyusui dan menggantinya dengan susu formula oleh sebab itu bayi akan mudah
terserang penyakit infeksi (Permatasari, 2015).
Penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2004) menunjukkan bahwa pemberian
ASI Ekskluisf dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain tidak segera keluar
setelah melahirkan/ produksi ASI kurang, kesulitan bayi dalam menghisap, keadaan
puting susu ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja dan pengaruh/ promosi pengganti
ASI. Namun ibu bekerja sebenarnya masih bisa memberikan ASI Eksklusif pada
5
bayinya dengan cara memompa atau memerah ASI, lalu kemudian disimpan dan
diberikan pada bayinya nanti (Dahlan, 2013).
Produksi Air Susu Ibu (ASI) dapat meingkat atau menurun tergantung pada
stimulasi kelenjar payudara, adapaun salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
produksi ASI antara lain status gizi ibu (Maryunani, 2012). Produksi ASI
dipengaruhi oleh hormon oksitosin, hormon prolaktin, refleks prolaktin dan let-
down refleks. Pada saat bayi menghisap puting maka akan terjadi reflek prolaktin
yang akan menrangsang hormon prolaktin untuk memproduksi ASI dan let-down
refleks yang akan merangsang pengalirann ASI (Bobak & Lowdermilk, 2005)
Produksi dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh hormon prolaktin yang
berkaitan dengan nutrisi ibu, oleh karena itu makanan ibu menyusui berpedoman
pada Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Tambahan maknanan yang didapatkan selama
menyusui untuk menghindari kemunduran dalam pembuatan dan produksi ASI. Jika
makanan ibu terus menerus tidak memenuhi gizi yang cukup, tentu kelenjar-kelenjar
pembuat air susu dalam payudara ibu tidak akan bekerja dengan sempurna dan pada
akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI (Murtiana, 2011) dan pada
akhirnya ibu akan beralih ke susu formula, hal ini menyebabkan tidak tercapainya
keberhasilan ASI Eksklusif (Desy Putriningtyas & Hidana, 2016)
Upaya yang dilakukan tenaga kesehatan agar ibu mendapatkan pengetahuan
tentang cara yang tepat untuk dapat memperlancar pengeluaran ASI. Yaitu salah
satunya dengan mengkonsumsi sari kacang hijau yang dapat membantu untuk
6
proses pengeluaran ASI dan memberikan pengertian tentang pentingnya ASI
ekslusif untuk bayi (Badriah, 2011).
Kacang hijau (phaseolus radiates) yang juga biasa disebut mungbean
merupakan tanaman yang dapat tumbuh hampir disemua tempat di Indonesia
(Shohib, 2006).
Hasil penelitian KAISI, lembaga penelitian kesehatan tubuh manusia di Korea,
menunjukkan bahwa tiap 100 gram tauge kacang hijau mengandung 4,2 g protein,
3,4 g karbohidrat, 1,0 g lemak 47 g kalori, 9,2 g air, dan 15 g vitamin C. Kacang
hijau (phaseolus radiates) juga merupakan sumber gizi, terutama protein nabati.
Kandungan gizi kacang hijau cukup tinggi dan komposisinya lengkap (Rukmana,
2008)
Berdasarkan jumlahnya, protein merupakan penyusun utama kedua setelah
kabohidrat. Kacang hijau mengandung 20 – 25% protein. Protein pada kacang hijau
mentah memiliki daya cerna sekitar 77%. Daya cerna yang tidak terlalu tinggi
tersebut disebabkan oleh adanya zat antigizi, seperti antitrypsin dan tanin (polifenol)
pada kacang hijau (Astawan, 2009).
Menurut penelitian Soka, et al tahun 2010 Adanya kandungan polifenol dapat
merangsang prolaktin untuk meningkatkan produksi ASI serta merangsang
oksitosin untuk terjadi proses let down (Nathania, 2014)
Berdasarkan data diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Pengaruh Pemberian Sari Kacang Hijau (Phaseolus aureus)
Terhadap Peningkatan Produksi ASI pada ibu menyusui”
7
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka secara terperinci
masalah yang akan diteliti adalah pengaruh pemberian sari kacang hijau (Phaseolus
aureus) terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui.
Dari masalah diatas maka dapat diperoleh rumusan penelitian yaitu
“Bagaimana pengaruh pemberian sari kacang hijau (Phaseolus aureus) terhadap
peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui yang diberikan selama 7 hari ?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian
pemberian sari kacang hijau (Phaseolus aureus) terhadap peningkatan produksi
ASI pada ibu menyusui.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik responden yaitu usia, pendidikan dan paritas
b. Mengidentifikasi produksi ASI pada kelompok intervensi sebelum
pemberian sari kacang hijau
c. Mengidentifikasi produksi ASI pada kelompok intervensi setelah pemberian
sari kacang hijau.
d. Mengidentifikasi produksi ASI pada kelompok kontrol sebelum pemberian
air madu.
8
e. Mengidentifikasi produksi ASI pada kelompok kontrol setelah pemberian
air madu.
f. Menganalisa pengaruh produksi ASI ibu pada kelompok intervensi dan
kelompok kontrol.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Responden
Sari kacang hijau diharapkan dapat membantu ibu dalam meningkatkan
produksi ASI, sehingga ibu dapat menerapkan ASI Eksklusif.
2. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat
mengenai manfaat sari kacang hijau dalam kesehatan khususnya dalam
meningkatkan produksi ASI.
3. Bagi Petugas Kesehatan
Sebagai masukan ilmu kebidanan terhadap pemberian asuhan kebidanan yang
komprehensif kepada ibu menyusui, serta mendorong bidan untuk berpikir kritis
dan berinovasi dalam mengembangkan berbagai sistem pendukung yang dapat
membantu mencapai tujuan kebidanan. Menambah pengetahuan mengenai salah
satu manfaat tanaman dalam upaya meningkatkan produksi ASI.
9
4. Bagi Peneliti
Memberikan kesempatan dan ruang gerak bagi bidan untuk melakukan inovasi
penelitian tentang kebidanan dalam hal gizi pada ibu menyusui, sebagai upaya
untuk meningkatkan produksi ASI
E. Ruang Lingkup Penelitian
1. Lingkup Variabel
a. Variabel Independent
Sari Kacang Hijau
b. Variabel Dependent
Produksi ASI
2. Lingkup Responden
Responden dari penelitian ini adalah ibu menyusui hari ke tiga
3. Lingkup Lokasi
Penelitian dilaksanakan diwilayah Puskesmas Bawen di Kabupaten Semarang
4. Lingkup Waktu
Penelitian dilaksanakan pada Tahun 2017
10
F. Keaslian Penelitian
1. Keaslian Penelitian Sebelumnya
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian Sebelumnya
Judul/Peneliti/Lokasi Variabel
Metodologi Penelitian Hasil
Penelitian Penelitian
Efektivitas teknik Marmet Jenis Penelitian: Quasy V. bebas: Hasil pengolahan
terhadap pengeluaran ASI Eksperiment,Desain: non Teknik data SPSS
pada ibu menyusui 0-6 bulan equivalent control group Marmet didapatkan p value
di wilayah kerja puskesmas design Sample Penelitian: 30 V. terikat: (0,000) < α (0,05)
Arjasa Kabupaten Jember/ responen. Analisa Pengeluaran yang berarti H0
Raden Roro Maria menggunakan uji statistik ASI ditolak, sehingga
Ulfah/2013 Mann Whitney. pemberian teknik
marmet efektif
terhadap pengeluran
ASI pada ibu
menyusui 0-6 bulan
di wilayah kerja
Puskesmas Arjasa
Kabupaten Jember.
Hubungan Pijat Oksitosin Jenis Penelitian: Deskriptif V. bebas: Hasil penelitian
dengan kelancaran Produksi analitik, Sample: 48 Pijat Oksitosin menunjukkan
ASI pada Ibu Post Partum Responden. Analisa V. terikat: terdapat hubungan
Seksio Sesarea/ menggunakan Uji statistik Kelancaran signifikan antara
Meity Albertina/ 2015 Chi Square Produksi ASI pijat oksitosin
dengan kelancaran
produksi ASI (nilai
X2 hitung = 8,765 >
X2 tabel 3,841, p
value = 0,003)
Efektifitas pijat oksitosin Jenis Penelitian: Quasy V. bebas: Hasil menunjukkan
terhadap produksi ASI/ Sri Eksperimental,Desain Pijat Oksitosin usia rata-rata ibu 20-
Mukhodin Faridah penelitian: no randomized V. terikat: 35 tahun 92,5%,
Hanum/2015 post ttest without control Produksi ASI multipara 70%,
group design, Sample: 40 ibu diperoleh nilai t
post partum, Teknik hitung 9,22 > t table
Sampling: purposive 3,84 dengan
sampling, Analisa: Chi demikian H0 ditolak
Square dan H1 diterima.
Simpulan mayoritas
produksi ASI adalah
cukup ada perbedaan
antara produksi ASI
ibu setelah
mendapatklan pijat
oksitosin dan tidak.
11
Lanjutan Tabel 1.1
Judul/Peneliti/Lokasi Variabel
Peneitian Metodologi Penelitian Penelitian Hasil
Pengaruh Sari Kacang Jenis Penelitian: Quasy V. Bebas : Hasil penelitian
Hijau terhadap Produksi Eksperimental,Desain Sari Kacang menunjukkan ada
ASI/ Halida Aditya M/2017 Penelitian: non equivalent Hijau pengaruh sari
control group design, V. Terikat : kacang hijau
Populasi: seluruh ibu post Produksi ASI (phaseolus aureus)
partm hari ke tiga. Analisis terhadap produksi
penelitian menggunakan Uji ASI (p value =
Mann Whitney. 0,001)
2. Perbedaan dengan Keaslian Penelitian Sebelumnya
Perbedaan dengan penelitian sebelumnya yaitu terletak pada tempat penelitian,
variabel, dan sampel penelitian yang digunakan. Dalam penelitian ini variabel
yang digunakan adalah Sari Kacang Hijau, jenis penelitian termasuk dalam
penelitian Quasy experiment dengan rancangan penelitian Non equiivalent
Control Group Design, sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling
dengan kriteria inklusi dan eksklusi.