Anda di halaman 1dari 126

ANALISIS SOSIALISASI PEMDA DALAM MENINGKATKAN

KEPATUHAN MASYARAKAT TERHADAP RETRIBUSI


IMB DI DAERAH CIKARANG SELATAN

SKRIPSI

Disusun Oleh:

MOKHAMMAD FAIYZAL KHOIYRUDIN


NPM: F201310438
Program Studi: Ilmu Administrasi Publik

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI PROGRAM STUDI


ILMU ADMINISTRASI PUBLIK INSTITUT ILMU
SOSIAL DAN MANAJEMEN STIAMI JAKARTA
2017
ANALISIS SOSIALISASI PEMDA DALAM MENINGKATKAN
KEPATUHAN MASYARAKAT TERHADAP RETRIBUSI
IMB DI DAERAH CIKARANG SELATAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan guna Memperoleh

Gelar Sarjana Administrasi Publik (S.A.P) Program Studi Strata

Satu Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI

Disusun Oleh:

MOKHAMMAD FAIYZAL KHOIYRUDIN

NPM: F201310438

Program Studi: Ilmu Administrasi Publik

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI PROGRAM STUDI


ILMU ADMINISTRASI PUBLIK INSTITUT ILMU
SOSIAL DAN MANAJEMEN STIAMI JAKARTA
2017
ANALISIS SOSIALISASI PEMDA DALAM MENINGKATKAN
KEPATUHAN MASYARAKAT TERHADAP RETRIBUSI
IMB DI DAERAH CIKARANG SELATAN

MOKHAMMAD FAIYZAL KHOIYRUDIN


NPM: F201310438
Program studi: Ilmu Administrasi Publik

SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Administrasi Publik
(S.A.P) Program Studi Strata Satu telah disetujui oleh pembimbing dan Ketua Program studi
pada tanggal seperti tertera dibawah ini
Jakarta,... ..… 2017

Menyetujui,

Dr.Yulianto, M.M. Drs.Dadang Abdul Mu’ti, M.M.


Pembimbing 1 Pembimbing 2

Menyetujui,

Dwi Agustina, S.IP.,M.PA.


Ketua Program Studi Administrasi Publik
ANALISIS SOSIALISASI PEMDA DALAM MENINGKATKAN
KEPATUHAN MASYARAKAT TERHADAP RETRIBUSI
IMB DI DAERAH CIKARANG SELATAN
MOHKAMMAD FAIYZAL KHOIYRUDIN
NPM: F201310438
Program Studi: Ilmu Administrasi Publik
SKRIPSI
Diajukan guna memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana
Administrasi Publik (S.A.P) Program Studi Strata satu telah disetujui Tim
Penguji dan disahkan Rektor Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI
pada tanggal seperti tertera dibawah ini
Jakarta, .. … 2017
1. Dr. Bambang Irawan, M.Si, MM ……………
Ketua Tim Penguji
2. Haryono Wibowo, SE. Ak, MA ……………
Penguji Ahli
3. Dr. Yulianto, SE, MM …………….
Dosen Pembimbing 1
4. Drs. Dadang Abdul Mu’ti, MM ……………..
Dosen Pembimbing 2
Mengesahkan,
Rektor Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI

Dr. Ir. Panji Hendrarso, MM


NIK : 199714563
PERYATAAN

Dengan ini saya menyatakan:

1. Karya tulis saya, skripsi ini, adalah asli dan belum pernah diajukan untuk

mendapatkan gelar sarjana di perguruan tinggi lain.

2. Karya tulis ini adalah murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri,

tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan dari Dosen Pembimbing dan

masukan dari Tim Penguji.

3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis

atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas

dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan pengarang

dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

4. Peryataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian

hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini,

maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar

yang telah diperoleh, serta sanksi lainya sesuai dengan norma yang

berlaku diperguruan tinggi.

Jakarta,1 Juni 2017


Yang membuat pernyataan

Mokhammad Faiyzal Khoiyrudin


NPM: F201310438
MOTTO

SAYA ADALAH ORANG YANG BERJALAN PELAN-PELAN


TETAPI SAYA TIDAK MUNDUR.

JANGAN MENUNJUKAN PUNGGUNG DIDEPAN


KESULITAN.

KALAU SUKSES BANYAK MENERIMA, KALAU GAGAL


BANYAK BELAJAR, TETAPI TIDAK ADA TANTANGAN
AKAN SIA-SIA.

Mokhammad Faiyzal Khoiyrudin


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas

segala rahmatnya memberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga saya

bisa mengerjakan skripsi ini dengan lancar. Penulisan skripsi ini disusun

sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar kesarjanaan Sarjana

Administrasi Publik pada jurusan Ilmu Administrasi Publik di institut STIAMI.

Dan merupakan wujud tanggung jawab sebagai bagian integral dari

masyarakat ilmiah untuk ikut serta dalam memberikan sumbang kasih

penelitian bagi perkembangan ilmu pengetahuan Administrasi Publik pada

khususnya.

Adapun maksud penulis memilih judul, “Analisis Sosialisasi PEMDA

dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap retribusi

IMB di daerah Cikarang selatan” karena saya sendiri selaku penulis

memandang bahwa masih banyaknya Peraturan Pemerintah yang belum

dipatuhi masyarakat seperti banyaknya bangunan-bangunan yang berdiri

namun belum memiliki surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dan bagaimana

pemerintah dalam sosialisasinya kepada masyarakat agar masyarakat lebih

paham tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

vii
Penulis menyadari betul sepenuhnya keterbatasan penulis, sehingga

selesainya penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, dan

jauh dari kata sempurna oleh karena itu penulis selalu mengharapkan kritik

dan saran usulan demi perbaikan di masa yang akan datang.

Besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang

memerlukan, khususnya bagi peneliti yang bermaksud untuk melakukan

penelitian lanjutan. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat

kesalahan keta-kata yang kurang berkenan. Karena saya sadar sebagai

manusia biasa pasti banyak kehilafan dan kekeliruan.

Terima kasih.

Jakarta,1 Juni 2017

Mokhammad Faiyzal khoiyrudin

viii
Ucapan Terima Kasih

Dalam penyelesaian skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dan

perhatian yang tidak terhingga dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan

ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr.Ir.Panji Hendrarso, M.M selaku Rektor institut Ilmu Sosial dan

Manajemen STIAMI.

2. Bapak Drs.Bambang Irawan, M.Si.,M.M selaku Dekan Fakultas Ilmu

Administrasi Publik.

3. Ibu Dwi Agustina, S.IP.,M.PA selaku Ketua Program Studi Ilmu

Administrasi Publik.

4. Bapak Dr. Yulianto, M.M selaku pembimbing 1 skripsi ini.

5. Bapak Drs. Dadang Abdul Mu’ti, M.M selaku pembimbing 2 skripsi ini.

6. Seluruh dosen yang telah sabar mengajarkan ilmu untuk mahasiswa/I di

Kampus Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI.

7. Seluruh pihak dari kantor Kecamatan Cikarang Selatan Bapak Enop Can

dan bapak Daryono yang telah mengijinkan penulis melakukan observasi

dalam penyusunan skripsi ini.

8. Orang tua tercinta Bapak Sehono, Ibu Suparni, dan mbah putri untuk doa

dan dukungannya yang tak pernah berhenti.

ix
9. Adik-adiku tersayang Fina Ambarwati dan Fitria Noviyani yang selalu

mendukung memeberikan semangat hingga menyelesaikan skripsi ini.

10. Teman-teman seperjuangan Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI

Cikarang untuk semangat, motivasi, dan doanya.

11. Dan juga semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Terima kasih atas bantuanya dan bimbingan semua pihak yang sungguh amat

tidak ternilai harganya, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membalasnya

dengan yang lebih baik, amin. Terima kasih.

Jakarta, 1 Juni 2017

Mokhammad Faiyzal Khoiyrudin

x
ABSTRAK

Analisis sosialisasi PEMDA dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat


terhadap retribusi IMB di Kecamatan Cikarang Selatan. Mokhammad Faiyzal
Khoiyrudin F201310438

Kata Kunci: Sosialisasi PEMDA Dalam Meningkatkan Kepatuhan Masyarakat


Terhadap Retribusi IMB.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana Sosialisasi


Pemerintah Daerah dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap
retribusi IMB sesuai Peraturan Daerah Bekasi Nomor 15 tahun 2012, terhadap
retribusi IMB dari tahun 2014-2016. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dari penelitian
ini yaitu dengan dokumentasi, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian
menunjukan sosialisasi PEMDA dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat
terhadap retribusi IMB, justru semakin menurun tiap tahunnya dari 2014-2015,
tahun 2014 menerbitkan 391 surat IMB, tahun 2015 menerbitkan 300 surat
IMB, dan tahun 2016 hanya menerbitkan 248 surat IMB, sedangkan
pembangunan tiap tahunnya meningkat. Penurunan ini terjadi karena
ketidaktahuan masyarakat sedangkan sosialisasi yang diberikan dari
Pemerintah Kecamatan Cikarang Selatan mengenai pembayaran retribusi IMB
masih sangat kurang hanya mengandalkan rapat minggon.

xi
ABSTRACT

Analysis of local government’s socialization in improving the society


compliance with building permit retribution in South Cikarang sub-district.
Mokhammad Faiyzal Khoiyrudin F201310438

Keyword: Socialization of local government in improving the community’s


compliance with building permit levy.

This research was conducted to find out how the local government
socialization in improving the compliance of the society to the retribution of
building permit according to Bekasi Regulation No. 15 year 2012, to IMB levy
from year 2014-2016. This research uses descriptive qualitative research
method. The data collected from this research is by documentation, interview
and observation. The result of research shows the sosialization of local
government in increasing the compliance of the society to the building permit
density, it decreases every year from 2014-2015, 2014 issued 391 building
permit letter, 2015 issued 300 building permit letter, and in 2016 only issued
248 building permit letter, while annual development increased. This decline
occurred because of ignorance of the society while the gifting provided from
the Government of South Cikarang district building permits levy payment is still
very less only rely on weekly meeting.

xii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................ vii

UCAPAN TERIMAKASIH..................................................................... ix

ABSTRAK ............................................................................................ xi

ABSTRACT.......................................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian................................................................ 1

B. Ruang Lingkup Penelitian................................................................ 3

C. Pertanyaan Penelitian ..................................................................... 4

D. Tujuan Penelitian............................................................................. 4

E. Manfaat Penelitian ........................................................................... 4

BAB II KAJIAN LITERATUR

A. Penelitian Terdahulu........................................................................ 6

B. Kajian Pustaka................................................................................. 8

1. Administrasi Publik ...................................................................... 8

2. Administrasi Pajak ....................................................................... 11

3. Pengertian Retribusi .................................................................... 12

4. Perbedaan Pajak dan Retribusi ................................................... 24

5. Sosialisasi Retribusi IMB ............................................................. 27

C. Kerangka Pemikiran ........................................................................ 40

D. Model Penelitian .............................................................................. 43

xiii
BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian .................................................... 44

B. Fokus Penelitian .............................................................................. 47

C. Teknik Pengumpulan Data .............................................................. 47

D. Penentuan Informan ........................................................................ 50

E. Teknik Analisis Data ........................................................................ 51

F. Lokasi dan Jadwal Penelitian........................................................... 52

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran umum Objek Penelitian.................................................. 54

B. Hasil Penelitian ................................................................................ 59

C. Pembahasan ................................................................................... 72

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan...................................................................................... 80

B. Saran ............................................................................................... 82

Daftar Pustaka

Lampiran

Daftar Riwayat Hidup

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel III.1 Gantt chart penelitian .......................................................... ….53

Tabel IV.1 Daftar pegawai berdasarkan jabatan56

Tabel IV.2 Disrtibusi pegawai berdasarkan PNS dn non PNS……….......57

Tabel IV.3 Data jumlah penduduk tahun 2016……………………………..59

Kecamatan Cikarang Selatan

Tabel IV.4 jumlah surat IMB yang dibuat dari tahun 2014-2016…………67

Tabel IV.5 jumlah bangunan yang memiliki Surat IMB……………...........67

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1 Model Penelitian....................................................................43

Gambar IV.1 Struktur Organisasi Kecamatan Cikarang Selatan………....58

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran pedoman wawancara informan 1

Lampiran pedoman wawancara informan 2

Lampiran pedoman wawancara informan 3

Lampiran pedoman wawancara informan 4

Lampiran pedoman wawancara informan 5

Lampiran pedoman wawancara informan 6

Lampiran Tanda Tangan peserta hadir rapat

Lampiran Notulen rapat minggon

xv
Lampiran Surat undangan rapat minggon

Daftar riwayat hidup

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Dewasa ini di era globalisasi semakin banyaknya pertumbuhan

pemukiman penduduk, bangunan juga semakin padat, rumah tempat tinggal

maupun tempat usaha dalam berbagai sektor kehidupan pembangunan

terjadi menyeluruh di berbagai tempat hingga ke pelosok-pelosok daerah.

Kegiatan pembangunan diharapkan dapat menunjang perekonomian Negara

sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan umum. Dalam hal ini pemerintah

yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mengusahakan

kesejahteraan bagi warga negaranya dalam hal menjalankan tugas dan

tanggung jawabnya itu, banyak keterlibatannya

Negara dalam kehidupan warga negaranya, tidak sebatas berinteraksi,

tetapi sekaligus masuk dalam kehidupan warganya. Sementara disisi lain

warga juga mempengaruhi pemerintah dalam menjalankan fungsi dan

tugasnya. Seperti halnya mendirikan bangunan, pada dasarnya mendirikan

bangunan adalah sebuah perbuatan yang berbahaya, hal ini karena

bangunan rumah merupakan tempat bagi manusia beraktifitas sehari-hari.

1
2

Kriteria bahaya tersebut muncul ketika bangunan tersebut memiliki syarat

tertentu agar tidak roboh dan mencelakai orang didalamnya atau

disekitarnya.

Fenomena pada penelitian ini, penulis memandang menurut dugaan

saat ini masih banyak masyarakat pemilik bangunan yang tidak memiliki

surat IMB. Menurut berita yang penulis baca diinternet beritacikarang.com

pada 24 oktober 2017 menyatakan bahwa:

Anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Bekasi, Anden,


menyebutkan pada APBD murni tahun anggaran 2017 target retribusi IMB
sebesar Rp. 167.000.000.000 dan pada APBD perubahan tahun anggaran
2017 target retribusi IMB hanya sebesar Rp. 142.000.000.000 sehingga
mengalami penurunan sebesar Rp. 25.000.000.000. Padahal jika melihat
potensi retribusi IMB di Kabupaten Bekasi cukup besar.

Dari berita tersebut dapat dipastikan masyarakat masih banyak yang

belum membayar retribusi IMB. Hal itu berarti bangunan dapat dikatakan

illegal. Izin Mendirikan Bangunan itu sendiri diatur dalam Pasal 5 ayat 1

perda 7 tahun 2009

“IMB akan melegalkan suatu bangunan yang direncanakan sesuai dengan


Tata Ruang yang telah ditentukan. Selain itu, adanya IMB menunjukan
bahwa rencana konstruksi bangunan tersebut juga dapat
dipertanggungjawabkan dengan maksud untuk kepentingan bersama.”

Kenyataan yang terjadi saat ini di lapangan banyak bangunan yang tidak

layak atau tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam IMB.

Sinyalemen itu antara lain, bangunan tidak sesuai dengan Garis

Sempadan Jalan, menjorok ke tepi jalan kadang-kadang menggunakan

lahan untuk trotoar, tidak adanya saluran pembuangan air ataupun

menggangu serapan air hujan ke pembuangan selokan sehingga


3

menyebabkan banjir. Hal tersebut tentu sangat membahayakan

lingkungan. Apalagi pada saat ada pelebaran jalan tanah dan bangunan

terkena gusur pemilik bangunan protes karena tidak mendapatkan ganti

rugi yang sesuai, padahal di sini karena pemilik bangunan tidak terdaftar

IMB. Surat IMB berwujud untuk mengesyahkan bangunan agar sesuai

dengan ketentuan. Disamping itu IMB berarti masyarakat berpartisipasi

menyokong pembangunan daerah dengan membayar Retribusi

Penertiban yang dilakukan oleh pemerintah terhadap bangunan yang

tidak memiliki IMB, belum terlaksana dengan baik. Sehingga telah banyak

masyarakat yang tidak mengikuti aturan yang telah ditentukan untuk

dipatuhi. Masalah ini masih belum teratasi oleh pihak pemerintahan

Daerah cikarang selatan, Kabupaten Bekasi. Dari uraian di atas penulis

memandang perlu untuk mengkaji lebih dalam lagi mengenai sosialisasi

program pemerintah dalam meningkatkan kepatuhan masyrakat terhadap

surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) daerah cikarang selatan. Atas hal

masalah tersebut, maka peneliti mengambil dengan judul “Analisis

Sosialisasi PEMDA Dalam Meningkatkan Kepatuhan Masyarakat terhadap

retribusi IMB di Daerah Cikarang Selatan.”

B. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk membatasi ruang lingkup masalah agar tidak terlampau luas

maka dari itu, penulis hanya membahas tentang Analisis Sosialisasi


4

PEMDA dalam meningkatkan Kepatuhan Masyarakat terhadap Retribusi

IMB di Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana Sosialisasi PEMDA dalam meningkatkan retribusi IMB?

2. Bagaimana Kepatuhan masyarakat terhadap surat IMB?

3. Bagaimana Kendala-kendala yang mempengaruhi kepatuhan

masyarakat terhadap retribusi IMB?

D.Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui sosialisasi PEMDA dalam retribusi IMB.

2. Untuk mengetahui kepatuhan masyarakat terhadap surat IMB.

3. Untuk mengetahui Kendala-kendala yang mempengaruhi kepatuhan

masyarakat terhadap retribusi IMB.

E. Manfaat penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Aspek akademik, diharapkan penelitian ini mampu bermanfaat bagi

penambahan data ataupun referensi yang berkaitan dengan

pemerintahan dalam masalah perizinan surat IMB.


5

2. Aspek praktis, penelitian ini diharapkan mampu menambah

pengetahuan retribusi IMB dan wawasan penulis yang diperoleh

selama dibangku perkuliahan.

3. Aspek sosialisasi, bagi pemerintah daerah dalam melakukan

wewenang pemungutan retribusi daerah bisa maksimal, dengan

adanya penelitian penulis ini diharapkan mampu menjadi pembelajaran

kepada masyarakat dalam mematuhi Perda Bekasi.


BAB II KAJIAN

LITERATUR

A. Penelitian terdahulu

Sebagai bahan pertimbangan dasar atau acuan skripsi ini, penulis

mencantumkan 3 (tiga) penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh

peneliti sebelumnya yaitu mengenai sosialisasi PEMDA dalam

meningkatkan retribusi IMB, diantaranya sebagai berikut :

1. Pada penelitian yang dilakukan oleh Agung Dwi Prabowo pada tahun

2015 jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas

Sam Ratulangi, Manado dengan judul Efektifitas sosialisasi Perpajakan

terhadap Kepatuhan Pelaporan SPT tahunan Wajib Pajak Orang

Pribadi pada kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi

Perpajakan (KP2KP). Hasil penelitian diperoleh kegiatan sosialisasi

yang btelah dilakukan oleh KP2KP Tondano berupa penyuluhan, dialog

interaktif/talkshow dan reklame pada Wajib Pajak Orang Pribadi

Kabupaten Minahasa belum efektif dalam meningkatkan kepatuhan

wajib Pajak. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif.

Persamaan penelitian adalah tentang sosislisasi terhadap

kepatuhan wajib pajak, dan metode penelitian kualitatif deskriptif.

Perbedaanya adalah penelitian diatas membahas tentang sosialisasi

6
7

perpajakan sedangkan penulis membahas Analisis sosialisasi PEMDA

dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB.

(Jurnal EMBA vol.3 No.1 Maret 2015, hal. 1063-1070)

2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Mochammad Rizza Faizin,

Kertahadi, dan Ika Ruhana, pada tahun 2016, jurusan Administrasi

Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya Malang

dengan Judul Pengaruh Sosialisasi, Pemahaman dan Kesadaran

prosedur perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak. Dengan hasil

penelitian Sosialisasi, Pemahaman, dan Kesadaran bersama sama

berpengaruh secara positif signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

Persamaan penelitian adalah tentang sosialisasi dalam

meningkatkan kepatuhan dan analisis deskriptif. Perbedaanya adalah

penelitian diatas membahas tentang pengaruh sosialisasi

meningkatkan kepatuhan wajib pajak di desa mojonaru dan sedangakn

penulis membahas analisis sosialisasi PEMDA dadalm meningkatkan

retribusi IMB di Kecamatan Cikarang Selatan.

(jurnal perpajakan JEJAK Vol. 9 No. 1 2016)

3. Penelitian yang dilakukan oleh Donny Binambuni, pada tahun 2013,

jurusan akuntansi, Fakultas ekonomi dan bisnis, Universitas Sam

Ratulangi Manado dengan Judul Sosialisasi PBB Pengaruhnya

Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak di Desa Karatung Kecamatan

Nanusa Kabupaten Talaud. Dengan hasil penelitian menunjukan

terdapat pengaruh pjak Bumi dan Bangunan terhadap kepatuhan Wajib


8

pajak. Untuk meningkatkan hasil penerimaan dari PBB dapat ditempuh

dengan jalan intensifikasi, ekstensifikasi, dan mengevaluasi hasil

penerimaan pajak Bumi dan Bangunan. Sosialisasi PBB berpengaruh

terhadap kepatuhan wajib pajak. Diketahui bahwa terdapat hubungan

yang erat antara sosialisasi pajak Bumi dengan kepatuhan wajib pajak

yang berada di Kecamatan Nanusa.

Persamaan penelitian diatas dengan penulis adalah sosialisasi

terhadap Kepatuhan, dan jenis penelitian deskriptif.

Perbedaanya adalah penelitian diatas kuantitatif dengan judul

sosialisasi PBB sedangkan penulis penelitian kualitatif dengan judul

analisis sosialisasi tentang meningkatkan retribusi IMB.

(Jurnal EMBA Vol. 1 No. 4 desember 2013, hal 2078-2087)

B. Kajian Pustaka

1. Administrasi Publik.

Administrasi Publik (Public Administration) atau Administrasi Negara

adalah suatu bahasan ilmu sosial yang mempelajari tiga elemen penting

kehidupan bernegara yang meliputi lembaga legislatif, yudikatif, dan

eksekutif serta hal-hal yang berkaitan dengan publik yang meliputi

kebijakan publik, manajemen publik, administrasi pembangunan, tujuan

negara, dan etika yang mengatur penyelenggara negara.


9

Secara sederhana, administrasi publik adalah ilmu yang mempelajari

tentang bagaimana pengelolaan suatu organisasi publik. Kajian ini

termasuk mengenai birokrasi penyusunan, pengimplementasian, dan

pengevaluasian kebijakan publik administrasi pembangunan

kepemerintahan daerah dan good governance. Oleh karena itu kebijakan

pada dasarnya merupakan ketentuan yang dijadikan pedoman atau

petunjuk bagi setiap usaha untuk mencapai tujuan sehingga setiap

kegiatan memiliki kejelasan dalam bergerak. Menurut Rahayu Kusuma

Dewi (2016:16) “Kebijakan adalah ketetapan yang memuat berbagai

prinsip untuk mengarahkan cara-cara bertindak yang dibuat secara

terencana dan konsisten dalam mencapai tujuan tertentu.” Administrasi

publik sangat perhatian terhadap terwujudnya tata kepemerintahan yang

baik dan amanah.

Menurut Harbani Pasolong (2007:8) mengartikan bahwa “Administrasi

publik ialah bentuk kerjasama yang dilakukan oleh sekelompok orang atau

lembaga dalam melaksanakan tugas-tugas Pemerintahan dalam

memenuhi kebutuhan publik secara efisien dan efektif.”

Menurut Erwin Zubair dan Yosef P (2012:3), “Administrasi Publik adalah

proses dimana daya dan personel publik diorganisir dan dikoordinasikan

untuk memformulasikan, mengimplementasikan, dan mengelola (manage)

keputusan-keputusan dalam kebijakan publik.” Dalam berbagai sistem

politik, kebijakan publik diimplementasikan oleh badan-badan pemerintah.

Badan-badan tersebut melaksanakan pekerjaan-pekerjaan pemerintah


10

dari hari ke hari yang membawa dampak pada warganya. Administrasi

publik berarti melakukan kebijakan publik yakni menetapkan dan

melaksanakan kebijakan yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat

umum. Dari segi formal atau bentuk, administrasi publik adalah

pengambilan keputusan-keputusan yang mengikat orang banyak.

Sedangkan dari segi sosiologis, administrasi tepatnya serangkaian proses

tindakan sosial yang berlangsung dan dibakukan dalam priode tertentu.

Berbeda halnya dengan pendapat Sondang P. Siagian (2004: 2),

“Administrasi sebagai keseluruhan proses kerjasama antara dua orang

atau lebih yang didasarkan atas rasionalisme tertentu untuk mencapai

tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.”

Dengan demikian,dalam praktek administrasi negara merupakan

rangkaian pengambilan kebijakan yang menghasilkan norma-norma

formal, aturan-aturan, serta keharusan-keharusan bagi tindakan sosial.

Proses itu tentunya akan menunjang tertib sosial hanya apabila ia merujuk

kepada rasa kebenaran dan keadilan dari warga masyarakatnya. Dengan

demikian setiap aktivitas administrasi publik akan selalu punya

konsekuensi nilai. Sebagai kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa

proses administrasi publik senantiasa menuntut tanggung jawab etis.

Menurut penulis disimpulkan bahwa administrasi publik adalah proses

kerjasama didalam ruang lingkup pemerintahan untuk menjalankan aturan

pemerintahan sesuai kebutuhan publik.


11

2. Administrasi Pajak

Menurut Liberti Pandiangan (2014:43) “ Administrasi Perpajakan

adalah kegiatan penatausahaan dan pelayanan yang dilakukan oleh

setiap orang yang ada dalam organisasi demi melaksanakan hak serta

kewajiban dibidang perpajakan.” Kegiatan Administrasi Perpajakan pada

dasarnya tidak hanya dilakukan oleh pegawai yang khusus mengelola

pajak (misalnya, oleh Tax Manager, Tax Supervisor, Tax Staff, dan

lainnya) saja, melainkan juga oleh seluruh orang yang ada dalam

organisasi sesuai tugas serta fungsinya sepanjang ada kaitannya dengan

pajak. Kegiatan penatausahaan dilakukan terhadap semua tugas, fungsi,

dan tanggung jawab yang berkaitan dengan pajak, mulai dari pencatatan,

penggolongan, penyediaan informasi pendistribusian, pengambilan

keputusan atau kebijakan, pengarahan penyimpanan, dan lainnya.

Sedangkan kegiatan pelayanan menyangkut berjalannya fungsi koordinasi

dan kerjasama antara yang ada serta orang yang ada didalam organisasi

sesuai dengan tugas dan fungsinya demi terlaksananya hak serta

kewajiban perpajakan yang baik.

Sebagai unsur pelaksana direktorat Jendral Pajak di Kanwil Dirjen

Pajak terdapat Kantor Pelayanan Pajak (KPP), Kantor Pelayanan Pajak

Bumi dan

Bangunan, Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak, Kantor

Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan.


12

Menurut Abdul Rahman (2010: 183)

“Administrasi pajak adalah penata usahaan dan pelayanan terhadap

kewajiban-kewajiban dan hak-hak wajib pajak, baik penata usahaan dan

pelayanan tersebut dilakukan di kantor fiskus maupun di kantor Wajib

pajak.”

Dan menurut Sahya Anggara (2016:23)

“Administrasi pajak adalah instrument yang efektif untuk merealisasikan

keputusan-keputusan pemerintah. Administrasi perpajakan bertanggung

jawab untuk mengelola dan melaksanakan undang-undang perpajakan.”

Berbeda juga menurut pendapat Sophar Lumbantoruan (2005:19)

“Administrasi perpajakan adalah cara-cara atau prosedur pengenaan dan

pemungutan perpajakan.”

Dari pengertian kutipan diatas dapat penulis simpulkan administrasi

perpajakan adalah sangat penting guna penata usahaan dan pelayanan

kepada wajib pajak, guna mengelola dan melaksanakan udang-undang

perpajakan sesuai keputusan pemerintah.

3. Pengertian Retribusi

Retribusi menurut UU no. 28 tahun 2009 adalah pungutan daerah

sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus

disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan

pribadi atau
13

badan. Berbeda dengan pajak pusat seperti Pajak Penghasilan dan Pajak

Pertambahan Nilai yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak, retribusi

yang dapat disebut sebagai Pajak Daerah dikelola oleh Dinas Pendapatan

Daerah (Dispenda). Istilah retribusi oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia

didefinisikan sebagai pungutan uang oleh pemerintah (kota praja dsb)

sebagai balas jasa. Retribusi pada umumnya berhubungan dengan kontra

prestasi langsung, dalam arti bahwa pembayar retribusi akan menerima

imbalan secara langsung dari retribusi yang dibayarnya (Brotodihardjo,

1993:7). Menurut Darwin (2010:165) “Retribusi adalah pungutan sebagai

pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus

disediakan atau diberikan oleh pemerintah untuk kepentingan orang

pribadi atau badan.” Menurut Dwikora Harjo (2012:6)

“Retribusi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan


dan pemungutan Bea Masuk atas lalu lintas barang yang masuk atau
keluar daerah pabean, dan juga Retribusi adalah pungutan yang dilakukan
secara langsung oleh Negara sehubungan dengan penggunaan dengan
jasa yang disediakan oleh Negara, baik berupa Jasa Umum, jasa usaha
maupun perizinan tertentu mendapat kontra prestasi dari Negara.”

Sementara itu dalam Undang-undang No. 34 tahun 2000 tentang

Perubahan Undang-undang Republik Indonesia No. l8 Tahun 1997

tentang

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Disebutkan bahwa Pengertian

Retribusi daerah adalah: "Pungutan daerah sebagai pembayaran atas

jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan diberikan

oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Pada
14

prinsipnya retribusi sama dengan pajak. Unsur-unsur pengertian pajak

sama dengan retribusi. Yang membedakannya adalah bahwa imbalan

atau kontra-prestasi dalam retribusi langsung dapat dirasakan oleh

pembayar. Unsur-unsur yang melekat dalam retribusi antara lain :

1. Pungutan retribusi harus berdasarkan undang-undang.

2. Pungutannya dapat dipaksakan.

3. Pemungutannya dilakukan oleh Negara.

4. Digunakan sebagai pengeluaran masyarakat umum

Imbalan atau prestasi dapat dirasakan secara langsung oleh pembayar

retribusi. Marihot Pahala Siahaan (2013: 638) mengemukakan bahwa:

Besarnya retribusi yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang

menggunakan jasa atau perizinan tertentu dihitung dengan cara

mengalikan tingkat penggunaan jasa dengan tarif retribusi. Dengan

demikian, besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan tarif

retribusi dan tingkat penggunaan jasa.

Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 155 ditetapkan

bahwa tarif retribusi ditinjau kembali paling lama tiga tahun sekali.

Peninjauan tarif retribusi ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.

Dalam hal besarnya tarif retribusi yang telah ditetapkan dalam peraturan

daerah perlu disesuaikan karena biaya penyediaan layanan cukup besar

dan atau besarnya tarif tidak efektif lagi untuk mengendalikan permintaan

layanan tersebut, kepala daerah dapat menyesuaikan tarif retribusi.


15

1. Obyek Retribusi Daerah

Sedangkan obyek retribusi adalah berbagai jenis jasa tertentu yang

disediakan oleh Pemerintah Daerah. Tidak semua yang diberikan oleh

Pemerintah Daerah dapat dipungut retribusinya, tetapi hanya jenis-jenis

jasa tertentu yang menurut pertimbangan sosial ekonomi layak dijadikan

sebagai obyek retribusi. Jasa tertentu tersebut dikelompokkan ke dalam 3

golongan, yaitu Jasa umum, Jasa usaha, dan Perizinan tertentu.

a. Retribusi Jasa Umum

Obyek retribusi jasa umum adalah pelayanan yang disediakan oleh

Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum

serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.

Jenis-jenis retribusi jasa umum adalah:

1). Retribusi Pelayanan Kesehatan, Pelayanan kesehatan adalah

pelayanan kesehatan di Puskesmas, Balai Pengobatan, dan

Rumah Sakit Umum Daerah. Dalam retribusi pelayanan

kesehatan ini tidak termasuk pelayanan pendaftaran.

2). Retribusi Pelayanan Persampahan atau kebersihan,

Pelayanan Persampahan atau kebersihan meliputi

pengambilan, pengangkutan, dan pembuangan serta

penyediaan lokasi pembuangan atau pemusnahan sampah

rumah tangga, dan perdagangan, tidak termasuk pelayanan

kebersihan jalan umum dan taman.


16

3). Retribusi Penggantian Biaya cetak Kartu penduduk dan Akte

catatan Sipil. Akte catatan sipil meliputi akte kelahiran, akte

perkawinan, akte perceraian, akte pengesahan dan

pengakuan anak, akte ganti nama bagi warga negara asing,

dan akte kematian.

4). Retribusi Pelayanan Pemakaman dan pengabuan Mayat,

Pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat meliputi

pelayanan penguburan atau pemakaman termasuk

penggalian dan pengurugan, pembakaran atau pengabuan

mayat, dan sewa tempat pemakaman atau pembakaran atau

pengabuan mayat yang dimiliki atau dikelola Pemerintah

Daerah.

5). Retribusi Pelayanan Parkir Tepi Jalan Umum, Pelayanan

parkir di tepi jalan umum adalah penyediaan pelayanan parkir

ditepi jalan umum yang ditentukan oleh pemerintah Daerah.

6). Retribusi Pelayanan Pasar, pelayanan pasar adalah fasilitas

pasar tradisional atau sederhana berupa pelataran, los yang

dikelola Pemerintah Daerah, dan khusus disediakan untuk

pedagang, tidak termasuk yang dikelola oleh Badan Usaha

Milik Negara Badan Usaha Milik Daerah dan pihak swasta.

7). Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor, Pelayanan

pengujian kendaraan bermotor adalah pelayanan pengujian

kendaraan bermotor sesuai dengan peraturan perundang-


17

undangan yang berlaku, yang diselenggarakan oleh

pemerintah Daerah.

8). Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran; Pelayanan

pemeriksaan alat pemadam kebakaran adalah pelayanan

pemeriksaan dan pengizinan oleh Pemerintah Daerah

terhadap alat-alat pemadam kebakaran yang dimiliki dan

dipergunakan oleh masyarakat.

9). Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta; Peta adalah peta

yang dibuat oleh Pemerintah Daerah, seperti peta dasar

(garis), peta foto, peta digital, peta tematik, dan peta teknis

(struktur).

10). Retribusi Pengujian Kapal Perikanan, Pelayanan pengujian

kapal perikanan adalah pengujian terhadap kapal penangkap

ikan yang menjadi kewenangan daerah.

b. Retribusi Jasa Usaha

Obyek retribusi jasa usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh

Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial. Pelayanan yang

disediakan oleh Pemerintah Daerah menganut prinsip komersial meliputi

Pelayanan dengan menggunakan atau memanfaatkan kekayaandaerah

yang belum dimanfaatkan secara optimal, Pelayanan

oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum memadai disediakan

oleh pihak swasta.


18

Jenis-jenis Retribusi Jasa Usaha adalah:

1). Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah, Pelayanan

pemakaian kekayaan daerah antara lain pemakaian tanah dan

bangunan, pemakaian ruangan untuk pesta pemakaian

kendaraan atau alat-alat berat atau alat-alat besar rnilik

daerah. Sedangkan yang tidak termasuk dalam pengertian

pelayanan pemakaian kekayaan daerah adalah penggunanan

tanah yang tidak mengubah fungsi dari tanah tersebut,seperti

pemancangan tiang telepon atau listrik maupun penanaman

atau pembentangan kabel listrik atau telepon di tepi jalan

umum.

2).` Retribusi Pasar Grosir dan Pertokoan, Pasar grosir dan

pertokoan adalah pasar grosir berbagai jenis barang, dan

fasilitas pasar pertokoan yang dikontrakkan yang disediakan

oleh Pemerintah Daerah, tidak termasuk yang disediakan oleh

Badan Usaha Milik Daerah dan pihak swasta.

3). Retribusi Tempat Pelelangan, tempat pelelangan adalah

tempat yang secara khusus disediakan oleh pemerintah

daerah untuk melakukan pelelangan ikan, ternak, hasil bumi,

dan hasil hutan termasuk jasa pelelangan serta fasilitas

lainnya yang disediakan di tempat pelelangan. Termasuk

dalam pengertian tempat pelelangan adalah tempat yang


19

dikontrak oleh Pemerintah Daerah dari pihak lain untuk

dijadikan sebagai tempat pelelangan.

4). Retribusi Terminal; Pelayanan terminal adalah tempat

Pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan

penumpang bis umum,ntempat kegiatan usaha, dan fasilitas

lainnya dilingkungan terminal yang dimiliki dan dikelola oleh

Pemerintah Daerah. Dengan ketentuan ini, pelayanan peron

tidak dipungut retribusi.

5). Retribusi Tempat Khusus Parkir; Pelayanan tempat khusus

parker adalah pelayanan penyediaan tempat parkir yang

disediakan, dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah Daerah, tidak

termasuk yang disediakan dan dikelola oleh Badan usaha

Milik Daerah dan pihak swasta.

6). Retribusi Tempat Penginapan atau Pesanggrahan atau Villa;

Pelayanan tempat Penginapan, pesanggrahan, villa milik

daerah adalah penyediaan tempat penginapan,

pesanggrahan, villa yang dimiliki dan/atau dikelola oleh

Pemerintah Daerah, tidak termasuk yang dikelola oleh Badan

Usaha Milik Daerah atau pihak swasta.

7). Retribusi Penyediaan Kakus. Pelayanan penyediaan kakus

adalah pelayanan penyedotan kakus/jamban yang dilakukan

oleh Pemerintah Daerah, tidak temasuk yang dikelola oleh

Badan Usaha Milik Daerah atau pihak swasta.


20

8). Retribusi Rumah Potong Hewan, Pelayanan rumah potong

hewan adalah pelayanan penyediaan fasilitas rumah

pemotongan hewan ternak termasuk pelayanan pemeriksaan

kesehatan hewan sebelum dan sesudah dipotong yang dimiliki

atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.

9). Retribusi Pelayanan Pelabuhan Kapal, Pelayanan pelabuhan

kapal adalah pelayanan pada pelabuhan kapal perikanan atau

bukan kapal perikanan, termasuk fasilitas lainnya di

lingkungan pelabuhan kapal yang dimiliki atau dikelola

Pemerintah Daerah, tidak termasuk yang dikelola oleh Badan

usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah maupun oleh

pihak swasta.

10). Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga, Pelayanan tempat

rekreasi dan olah raga adalah tempat rekreasi, pariwisata dan

olah raga yang dimiliki dan dikelola Pemerintah Daerah.

11). Retribusi Penyeberangan di Atas Air; Pelayanan

penyeberangan di atas air adalah pelayanan penyeberangan

barang atau barang dengan menggunakan kendaraan di atas

air yang dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah Daerah, tidak

termasuk yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara,

Badan Usaha Milik Daerah dan pihak swasta.

12). Retribusi Pengolahan Limbah Cair; Pelayanan pengolahan

limbah cair adalah pelayanan pengolahan limbah cair rumah


21

tangga, perkantoran, dan industri yang dikelola dan/atau

dimiliki Pemerintah Daerah, tidak termasuk yang dikelola oleh

Badan Usaha Milik Daerah, dan pihak swasta.

13). Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah; Penjualan

produksi usaha daerah adalah penjualan hasil produksi usaha

Pemerintah Daerah, antara lain, bibit benih tanaman, bibit

ternak, dan bibit atau benih ikan, tidak termasuk penjualan

produksi usaha Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha

Milik Daerah dan pihak swasta. Jenis-jenis retribusi jasa

usaha untuk daerah Propinsi dan daerah Kabupaten atau Kota

ditetapkan sesuai dengan jasa atau pelayanan yang diberikan

oleh masing-masing daerah.

c. Retribusi Perizinan Tertentu.

Obyeknya retribusi perizinan tertentu adalah kegiatan tertentu

Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang

pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan,

pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan

pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang

prasarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan

umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Jenis retribusi

perizinan tertentu untuk daerah Propinsi dan daerah Kabupaten


22

atau Kota ditetapkan sesuai dengan kewenangan masing-masing

daerah.Jenis-jenis retribusi perizinan tertentu adalah:

1). Retribusi Izin Mendirikan Bangunan. Izin mendirikan bangunan

adalah pemberian izin untuk mendirikan suatu bangunan,

termasuk dalam pemberian izin ini adalah kegiatan peninjauan

desain dan pemantapan pelaksanaan pembangunannya agar

tetap sesuai dengan rencana teknis bangunan dan rencana tata

ruang yang berlaku dengan tetap memperhatikan Koefisien

Luas Bangunan (KLB), Koefisien Ketinggian Banguan (KKB),

dan pengawasan penggunaan bangunan yang meliputi

pemeriksaan dalam rangka memenuhi syarat-syarat

keselamatan bagi yang menempati bangunan tersebut.

2). Retribusi lzin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol Izin

tempat penjualan minuman beralkohol adalah pemberian izin

untuk melakukan penjualan minuman beralkohol di suatu

tempat tertentu.

3). Retribusi lzin Gangguan; Izin gangguan adalah pemberian izin

tempat Usaha atau kegiatan kepada orang pribadi atau badan

di lokasi tertentu yang dapat menimbulkan bahaya, kerugian

atau gangguan, tidak termasuk tempat usaha atau kegiatan

yang telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah

Daerah.
23

4). Retribusi Izin Trayek, Izin trayek adalah pemberian izin kepada

orang pribadi atau badan usaha untuk menyediakan pelayanan

angkutan penumpang umum pada suatu atau beberapa trayek

tertentu. Pemberian izin oleh Pemerintah Daerah dilaksanakan

sesuai dengan kewenangan masing-masing daerah.

2. Subyek Retribusi Daerah

a. Subyek retribusi jasa umum adalah orang pribadi atau badan

yang menggunakan atau menikmati pelayanan jasa umum

yang bersangkutan. Subyek retribusi jasa umum ini dapat

merupakan wajib retribusi jasa umum.

b. Subyek retribusi jasa usaha adalah orang pribadi atau badan

yang menggunakan atau menikmati pelayanan jasa usaha yang

bersangkutan. Subyek ini dapat merupakan wajib retribusi jasa

usaha.

c. Subyek retribusi perizinan tertentu adalah orang pribadi atau

badan yang memperoleh izin tertentu dari Pemerintah Daerah.

Subyek ini dapat merupakan wajib retribusi jasa perizinan

tertentu.

Dampak dari pemungutan retribusi, menurut Suparmo (2002:94) dikutip

oleh Darwin (2010:183) “retribusi dapat dipungut dengan sistem yang

sifatnya progresif atau regresif berdasarkan potensi kemampuan

membayar retribusi.”
24

Dalam hal progresifitas retribusi tidk dapat dilihat dari segi kemampuan

atau tingkat pendapatan pembayar retribusi melainkan hanya didasarkan

pada jenis pelayanan yang dikehendaki oleh pembayar retribusi dalam

mengkonsumsi barang atau jasa yang telah disediakan oleh Pemerintah.

Mengenai kemungkinananya retribusi ini digeserkan kepada pihak lain

adalah kecil sekali, terutama karena pungutan retribusi kurang berarti bila

dibandingkan dengan nilai pelayanan atau barang yang dikonsumsi oleh

pembayar retribusi.

Jadi Retribusi adalah iuran masyarakat kepada pemerintah dengan

mendapatkan balas jasa maupun perizinan secara langsung dari Negara

sesuai dengan undang-undang yang telah ditetapkan.

4. Perbedaan Pajak dan Retribusi.

Pajak adalah iuran wajib yang dibayar oleh wajib pajak berdasarkan

norma-norma hukum untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran kolektif

guna meningkatkan kesejahteraan umum yang balas jasanya tidak

diterima secara langsung.

Retribusi adalah pungutan yang dikenakan kepada masyarakat yang

menggunakan fasilitas yang disediakan oleh negara. Di sini terlihat bahwa

bagi mereka yang membayar retribusi akan menerima balas jasanya

secara langsung berupa fasilitas negara yang digunakannya. Untuk

mengetahui lebih jauh mengenai pengertian pajak, kita perlu menengok

sebentar
25

Undang-Undang Nomor 16 tahun 2000 mengenai perpajakan. Undang-

undang ini berisi ketentuan umum mengenai segala hal yang

berhubungan dengan perpajakan di Indonesia. Di dalam undang-undang

tersebut, pajak yang dimaksud adalah kontribusi yang wajib dibayarkan

pada negara yang terutang tidak hanya oleh orang pribadi melainkan juga

oleh badan yang bersifat memaksa menurut undang-undang.

Menurut Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000 yang sudah diganti

dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2009

mengenai Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, pajak daerah dan retribusi

daerah merupakan satu dari beberapa sumber pendapatan daerah yang

mempunyai peran penting untuk membiayai segala rencana pelaksanaan

pemerintah daerah. Menurut undang-undang tersebut, retribusi

merupakan pungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai

bentuk pembayaran jasa maupun izin tertentu yang diberikan atau

disediakan oleh pemerintah demi kepentingan pribadi atau badan.

Persamaan Pajak dan Retribusi:

1. Pajak dan retribusi sama-sama berbentuk pungutan.

2. Keduanya memiliki sifat dapat dipaksakan.

3. Tujuan pajak dan retribusi sama yaitu demi kesejahteraan

masyarakat dan Negara.


26

Perbedaan Pajak dan Retribusi:

1. Pajak berasal dari dasar hukum undang-undang sedangkan

retribusi berasal dari peraturan pemerintah, peraturan menteri

atau pejabat Negara yang lebih rendah.

2. Balas jasa pada pajak bersifat tidak langsung sedangkan pada

retribusi bersifat langsung dan nyata kepada individu tersebut.

3. Pungutan pajak berlaku untuk umum seperti penghasilan,

kekayaan, laba perusahaan dan kendaraan, sedangkan

pungutan retribusi hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu

yang menggunakan jasa pemerintah.

4. Pajak bersifat dapat dipaksakan (menurut Undang-Undang).

Jadi, wajib dibayar. Jika tidak, maka akan mendapatkan sanksi,

sedangkan retribusi dapat dipaksakan juga, akan tetapi

paksaannya bersifat ekonomis yang hanya berlaku kepada

orang-orang yang menggunakan jasa pemerintah.

5. Lembaga pemungut pajak adalah pemerintah pusat maupun

daerah (negara), sedangkan lembaga pemungut retribusi hanya

pemerintah daerah.

6. Pajak bertujuan untuk kesejahteraan umum, sedangkan

retribusi bertujuan untuk kesejahteraan individu tersebut yang

menggunakan jasa pemerintah.

Pemanfaatan retribusi dari penerimaan masing-masing jenis Retribusi

diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan langsung dengan


27

penyelenggaraan pelayanan yang bersangkutan. Ketentuan mengenai

alokasi pemanfaatan penerimaan Retribusi ditetapkan dengan Peraturan

Daerah.

5. Sosialisasi Retribusi IMB

Kegiatan penyuluhan retribusi memiliki andil besar dalam

mensukseskan sosialisasi retribusi keseluruh masyarakat. Berbagai media

diharapkan mampu menggugah kesadaran masyarakat untuk patuh

terhadap retribusi IMB dan membawa pesan moral terhadap pentingnya

membayar retribusi IMB. Sosialisasi menurut Mustafa (2005:10) adalah

“satu konsep umum yang dimaknakan sebagai proses dimana kita belajar
melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara berfikir, merasakan dan
bertindak dimana kesemuannya itu merupakan hal-hal yang sangat
penting dalam menghasilkan partisipasi sosial dan efektif.”

Sedangkan Basamalah (2004:196) “sosialisasi adalah sebagai suatu


proses dimana orang-orang mempelajari sistem nilai, norma dan pola
perilaku yang diharapkan oleh kelompok sebagai bentuk transformasi dari
orang tersebut sebagai orang luar menjadi organisasi yang efektif.”

Menurut Samudera (2004:6) bahwa dalam melakukan sosialisasi perlu

adanya strategi dan metode yang tepat dalam diaplikasikannya dengan

baik yaitu : publikasi, kegiatan, pemberitahuan, keterlibatan komunitas,

pencantuman identitas, dan pendekatan pribadi.

a. Publikasi

Adalah aktifitas publikasi yang dilakukan melalui media

komunikasi, baik media cetak melaui surat kabar, majalah

maupun media audiovisual seperti radio ataupun televisi.


28

b. Kegiatan

Institusi PEMDA dapat melibatkan diri pada penyelenggaraan

aktifitas-aktifitas tertentu yang dihubungkan dengan program

peningkatan kesadaran masyarakat akan retribusi pada momen-

momen tertentu misalnya kegiatan olahraga, hari-hari libur

nasional dan lain sebagainnya.

c. Pemberitahuan

Pemberitahuan dalam hal ini mempunyai pengertian khusus

yaitu menjadi bahan berita dalam arti positif, sehingga menjadi

sarana promosi yang efektif. retribusi dapat disosialisasikan

dalam bentuk berita kepada masyarakat, sehingga masyarakat

dapat lebih cepat menerima informasi tentang retribusi.

d. Keterlibatan komunitas

Melibatkan komunitas pada dasarnya adalah cara untuk

mendekatkan institusi retribusi IMB dengan masyarakat, dimana

iklim budaya Indonesia masih mengehendaki adat ketimuran

untuk bersilahturahmi dengan tokoh-tokoh setempat sebelum

institusi retribusi IMB dibuka.

e. Pencantuman identitas

Berkaitan dengan pencantuman logo otoritas retribusi IMB pada

berbagai media yang ditujukan sebagai saran promosi.

f. Pendekatan pribadi
29

Pendekatan pribadi yang dilakukan secara informal untuk

mencapai tujuan tertentu.

Dari pengertian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa sosialisasi

retribusi IMB merupakan suatu upaya Pemerintah Daerah untuk

memberikan pengertian, informasi, dan pembinaan kepada masyarakat

pada umumnya dan masyarakat pada khususnya mengenai segala

sesuatu yang berhubungan dengan retribusi dan undang-undang..

Keberadaan retribusi daerah tidak terlepas dari diterapkannya otonomi

daerah dan desentralisasi. Desentralisasi merupakan sebuah alat untuk

mencapai salah satu tujuan bernegara, khususnya dalam rangka

memberikan pelayanan umum yang lebih baik dan menciptakan proses

pengembalian keputusan publik yang lebih demokratis.

Dalam otonomi, hubungan kewenangan antara Pusat dan Daerah, antara

lain bertalian dengan cara pembagian urusan penyelenggaraan

pemerintahan atau cara menentukan urusan rumah tangga daerah.

Oleh Bagir Manan (2002:44) otonomi terbatas digolongkan kedalam

beberapa kelompok, diantaranya: pertama, urusan-urusan rumah tangga

daerah ditentukan secara kategoris dan pengembangannya diatur dengan

cara-cara tertentu pula. Kedua, apabila sistem supervisi dan pengawasan

dilakukan sedemikian rupa, sehingga daerah otonom kehilangan

kemandirian untuk menentukan secara bebas cara-cara mengatur dan

mengurus rumah tangga daerahnya. Ketiga, sistem hubungan keuangan

antara pusat dan daerah yang menimbulkan hal-hal seperti keterbatasan


30

kemampuan keuangan asli daerah yang akan membatasi ruang gerak

otonomi daerah. Dalam negara modern urusan pemerintahan tidak dapat

dikenali jumlahnya, terlebih bagi penganut negara kesejahteraan (welfare

state).

Salah satu komponen desentralisasi adalah desentralisasi fiskal. Apabila

Pemerintah Daerah melaksanakan fungsinya secara efektif dan mendapat

kebebasan dalam pengambilan keputusan pengeluaran di sektor publik,

maka Pemerintah Daerah harus mendapat dukungan sumber-sumber

pendanaan baik yang bersumber dari PAD, bagi hasil pajak dan bukan

pajak, pinjaman, maupun subsidi. Menurut Machfud Sidik, pelaksanaan

desentralisasi fiskal akan berjalan dengan baik kalau didukung oleh faktor-

faktor berikut:

1. Pemerintah Pusat yang mampu melaksanakan pengawasan dan

enforcement.

2. SDM yang kuat pada Pemerintah Daerah guna menggantikan

peran Pemerintah Pusat.

3. Keseimbangan dan kejelasan dalam pembagian tanggungjawab.

4. Kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi

daerah

UU No. 32 Tahun 2004 menyebutkan bahwa salah satu sumber

pendapatan daerah adalah retribusi daerah. Retribusi daerah oleh UU No.

32 Tahun 2004 digolongkan dalam PAD. Dengan konsekwensi semua

pendapatan (100 persen) hasil retribusi dialokasikan untuk daerah.


31

Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut retribusi, adalah pungutan

daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang

khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk

kepentingan orang pribadi atau badan. Tujuan pungutan retribusi daerah

sebagaimana ditegaskan oleh konsideran UU No. 28 Tahun 2009 untuk

membiayaai pelaksanaan otonomi daerah. Tujuan retribusi menurut UU

No. 18 Tahun 1997 memang memiliki sedikit perbedaan dengan tujuan

retribusi menurut UU No. 28 Tahun 2009, hal ini disebabkan pada tahun

1997 sistem pemerintahaan masih tersentralisasi, walaupun ketika itu

sudah dikenal sebutan otonomi daerah, tapi belum ter-desentralisasi

seperti saat ini.

Salah satu kriteria penting untuk mengetahui secara nyata kemampuan

Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya adalah

kemampuan self supporting dalam bidang keuangan. Sehubungan

dengan pentingnya posisi keuangan ini, Pamudji (2005:138) menegaskan

“Pemerintah Daerah tidak akan dapat melaksanakan fungsinya dengan

efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan

dan pembangunan.”

Dan keuangan inilah yang merupakan salah satu dasar kriteria untuk

mengetahui secara nyata kemampuan Daerah dalam mengurus rumah

tangganya sendiri.

Untuk dapat memiliki pendanaan yang memadai, daerah membutuhkan

sumber pendanaan yang cukup. Daerah dalam hal ini dapat


32

memperolehnya melalui beberapa cara, yakni: pertama, mengumpulkan

dana dari pajak daerah yang telah disetujui oleh Pemerintah Pusat.

Kedua, melakukan pinjaman dari pihak ketiga, pasar uang atau bank atau

melalui Pemerintah Pusat. Ketiga, mengambil bagian dalam pendapatan

pajak pusat yang dipungut daerah. Keempat, menambahkan tarif pajak

pusat tertentu, misalnya pajak kekayaan atau pajak pendapatan. Kelima,

bantuan atau subsidi dari pemerintah pusat.

Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,

menyebutkan beberapa sumber-sumber keuangan daerah, diataranya:

Pendapatan asli Daerah (PAD) Daerah sendiri, yang terdiri dari:

1. Pajak Daerah.

2. Retribusi Daerah.

3. Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan.

4. Sumber PAD lainnya yang sah.

5. Dana perimbangan, yang terdiri dari.

6. Dana bagi hasil yang bersumber dari pajak dan sumber daya

Alam.

7. Dana alokasi umum, yang dialokasikan berdasarkan persentase

tertentu dari pendapatan dalam negeri neto.

8. Dana alokasi khusus yang dialokasikan dari APBN.

9. Lain-lain pendapatan Daerah yang sah, misalnya hibah dan dana

darurat.
33

Dari ketentuan tersebut di atas maka pendapatan Daerah dapat

dibedakan kedalam dua jenis yaitu: pendapatan asli Daerah dan

pendapatan non-asli Daerah. Sebagaimana telah dikemukakan

sebelumnya, bahwa retribusi daerah merupakan salah satu sumber

pendapatan penting bagi daerah. Retribusi secara umum diartikan

sebagai pembayaran-pembayaran kepada Negara yang dilakukan oleh

mereka yang menggunakan jasa-jasa negara. Berdasarkan hal tersebut,

dapat dicirikan retribusi daerah sebagai berikut:

1. Retribusi dipungut oleh Negara.

2. Dalam pemungutan terdapat paksaan secara ekonomis.

3. Adanya kontra prestasi yang secara langsung dapat ditunjuk.

4. Retribusi dikenakan pada setiap orang atau badan yang

Menggunakan jasa-jasa yang disiapkan negara.

Di samping itu, pungutan retribusi juga dikaitkan dengan adanya

imbalan atau kontraprestasi langsung yang diberikan oleh pemerintah

daerah. Sederhananya, ketika seseorang membayarkan retribusi ada

kontraprestasi langsung yang ia dapatkan, contohnya ketika membayar

retribusi suatu objek

wisata, maka orang tersebut akan langsung menikmati objek wisata

tersebut. Beda halnya dengan pajak, sebagai iuran yang dapat

dipaksakan tanpa harus ada kontraprestasi langsung.

Berdasarkan analisis pajak dan retribusi daerah, ternyata rasio kenaikan

penerimanaan daerah dari retribusi daerah sejak otonomi daerah lebih


34

tinggi dibanding rasio kenaikan penerimaan daerah dari pajak daerah,

terutama di kabupaten kota.

Menurut Diaz Priantara (2012:555) retribusi dipungut dengan Surat

ketetapan Retribusi Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan berupa

karcis, kupon, dan kartu langganan adalah hal wajib Retribusi tertentu

tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang bayar, dikenakan

sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan

dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih

dengan menggunakan Surat Tagihan Reribusi Daerah. Penagihan

Retribusi terutang yang tidak atau belum dibayar harus didahului dengan

Surat Teguran. Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa

Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas. Keberatan harus

diajukan dalam jangka paling lama 2 (dua) bulan bukan 3 (tiga) bulan

sejak sejak tanggal Surat Ketetapan Retribusi daerah diterbitkan, kecuali

apabila wajib retribusi tertentu dapat, menunjukan bahwa jangka waktu itu

tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaanya.

Diaz priantara (2012:554) Kepala daerah dalam jangka waktu paling lama

6 (enam) bulan bukan 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Surat keberatan

diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.

Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima

seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya retribusi

yang terutang. Apabila jangka waktu 6 (enam) bulan telah lewat dan
35

kepala daerah tidak meberi surat keputusan, keberatan yang diajukan

tersebut dianggap dikabulkan.

Izin Mendirikan Bangunan atau biasa dikenal dengan IMB adalah

perizinan yang diberikan oleh kepala daerah kepada pemilik bangunan

untuk membangun baru, mengubah memperluas atau mengurangi dan

merawat bangunan sesuai dengan persyaratan administratif dan

persyaratan teknis yang berlaku Jadi izin mendirikan bangunan adalah izin

yang diberikan oleh pemerintah daerah kepada orang pribadi atau badan

hukum untuk mendirikan bangunan yang dimaksudkan agar

pembangunan yang dilaksanakan sesuai dengan tata ruang yang berlaku

dan sesuai dengan syarat-syarat keselamatan bagi yang menempati

bagunan tersebut.

Mengenai pengaturan dari izin mendirikan bangunan diatur oleh Perda

setempat dimana bangunan itu akan didirikan. IMB merupakan produk

hukum untuk mewujudkan tatanan tertentu sehingga tercipta ketertiban,

keamanan, keselamatan dan kenyamanan sekaligus kepastian hukum.

Menurut Prins, verguining adalah keputusan administrasi negara berupa

aturan, tidak umumnya melarang suatu perbuatan tapi masih juga

memperkenakannya asal saja diadakan secara yang ditentukan untuk

masing-masing hal yang kongkrit maka perbuatan Administrasi Negara

yamg diperkenakan tersebut bersifat suatu Izin. Pemasukan dari retribusi

Izin Mendirikan Bangunan (IMB).


36

Namun pada dasarnya tidak terlepas dari ketentuan atau undang-

undang yang secara garis besar atau umum dan menjadi dasar

pembentukan peraturan di Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar 1945

dimana dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945, dari bunyi Pasal 18

tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah Indonesia di bagi dalam daerah

provinsi. Provinsi dibagi lagi dalam daerah yang lebih kecil, dan setiap

daerah tersebut diberi kebebasan untuk mengurus dan

menyelenggarakan pemerintahan di daerahnya baik berupa Daerah

Otonomi maupun Administratif tujuan dan fungsi Izin Mendirikan

Bangunan

Secara umum tujuan dan fungsi dari perizinan adalah untuk pengendalian

dari pada aktifitas pemerintah dalam hal-hal tertentu dimana ketentuannya

berisi pedoman-pedoman yang harus dilaksanakan oleh baik yang

berkepentingan ataupun oleh penjabat yang berwenang. Selain itu tujuan

dari perizinan itu dapat dilihat dari dua sisi yaitu :

1. Dari sisi pemerintah

Dari Sisi Pemerintah tujuan pemberian izin itu adalah :

a. Untuk melaksanakan peraturan apakah ketentuan-ketentuan

yang termuat dalam peraturan tersebut sesuai dengan

kenyataan dalam prakteknya atau tidak dan sekaligus untuk

mengatur ketertiban.

b. Sebagai sumber pendapatan daerah dengan adanya

permintaan permohonan izin maka secara langsung


37

pendapatan pemerintah akan bertambah karena setiap izin

yang dikeluarkan pemohon harus membayar retribusi terlebih

dahulu. Semakin banyak pula pendapatan dibidang retribusi

tujuan akhirnya yaitu untuk membiayai pembangunan.

2. Dari Sisi Masyarakat

Dari sisi masyarakat tujuan pemberian izin itu adalah:

a. Untuk adanya kepastian hukum.

b. Untuk adanya kepastian hak

c. Untuk memudahkan mendapatkan fasilitas.

Bila bangunan yang didirikan telah mempunyai izin akan lebih mudah

mendapat fasilitas. Ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh

pemerintah mempunyai fungsi masing-masing. Begitu pula halnya dengan

ketentuan tentang perizinan mempunyai fungsi yaitu :

a. Sebagai fungsi penertib

Fungsi penertib dimaksudkan agar izin atau setiap izin atau tempat-tempat

usaha, bangunan dan bentuk kegiatan masyarakat lainnya tidak

bertentangan satu sama lain, sehingga ketertiban dalam setiap segi

kehidupan masyarakat dapat terwujud.

b. sebagai fungsi pengatur

Fungsi mengatur dimaksudkan agar perizinan yang ada dapat

dilaksanakan sesuai dengan peruntukannya, sehingga terdapat

penyalahgunaan izin yang telah diberikan, dengan kata lain, fungsi


38

pengaturan ini dapat disebut juga sebagai fungsi yang dimiliki oleh

pemerintah.

Tujuan izin mendirikan bangunan adalah untuk melindungi kepentingan

baik kepentingan pemerintah maupun kepentingan masyarakat yang

dutujukan atas kepentingan hak atas tanah. Sedangkan fungsi dari izin

bangunan ini dapat dilihat dalam beberapa hal

1. Segi Teknis Perkotaan

Pemberian izin mendirikan banguan sangat penting artinya bagi

pemerintah daerah guna mengatur, menetapkan dan

merencanakan pembangunan perumahan diwilayahnya sesuai

dengan potensial dan prioritas kota yang dituangkan dalam Master

Plan Kota. Untuk mendapatkan pola pembangunan kota yang

terencana dan terkontrol tersebut, maka untuk pelaksanaan sutau

pembangunan diatas wilayah suatu kota diwajibkan memiliki izin

mendirikan bengunan dan penggunaannya sesuai dengan yang

disetujui oleh Dinas Perizinan dan Pengawasan Pembangunan

Kota (DP3K).

Dengan adanya pengaturan pembangunan perumahan melalui izin

ini, maka pemerintah didarah dapat merencanakan pelaksanaan

pembangunan berbagai sarana serta unsur kota dengan berbagai

instansi yang berkepentingan. Hal ini penting artinya agar wajah

perkotaan dapat ditata denga rapi serta menjamin keterpaduan

pelaksanaan pekerjaan pembengunan perkotaan. Penyesuaian


39

pemberian izin mendirikan bengunan dengan Master Plan Kota

akan memungkinkan adanya koordinasi antara berbagai

departemen teknis dalam melaksanakan pembangunan kota.

2. Segi Kepastian Hukum

izin mendirikan bangunan penting artinya sebagai pengawasan dan

pengendalian bagi pemerintah dalam hal pembangunan

perumahan. Mendirikan bangunan dapat menjadi acuan atau titik

tolak dalam pengaturan perumahan selanjutnya. Bagi masyarakat

pentingnya izin mendirikan bangunan ini adalah untuk

mendapatkan kepastian hukum terhadap hak bangunan yang

dilakukan sehingga tidak adanya gangguan atau hal-hal yang

merugikan pihak lain dan akan memungkinkan untuk mendapatkan

keamanan dan ketentraman dalam pelaksanaan usaha atau

pekerjaan.

Selain itu Izin Mendirikan Bangunan tersebut bagi pemilknya dapat

berfungsi sebagai :

a. Bukti milik bangunan yang syah

b. Kekuatan hukum terhadap tuntutan ganti rugi dalam hal :

1) Terjadinya hak milik untuk keperluan pembangunan

yang bersifat untuk kepentingan hukum.

2) Bentuk-bentuk kerugian yang diderita pemilik

bangunan lainya yang berasal dari kebijaksanaan

dan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah.


40

3. Segi Pendapatan Daerah.

Dalam hal ini pendapatan daerah, maka izin mendirikan bangunan

merupakan salah satu sektor pemasukan yang tidak dapat

diabaikan begitu saja. Melalui pemberian izin ini dapat dipungut

retribusi izin mendirikan bangunan. Retribusi atas izin mendirikan

bangunan itu ditetapkan berdasarkan persentase dari taksiran

biaya bangunan yang dibedakan menurut fungsi bangunan

tersebut. Retribusi izin mendirikan bangunan dibebankan kepada

setiap orang atau badan hukum yang namanya tecantum dalam

surat izin yang dikeluarkan itu. Terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi tingkat kepatuhan masyarakat terhadap pembuatan

surat IMB adalah kesadaran hukum yang rendah, motif ekonomi,

kurangnya rasa takut akan peraturan, kejelasan informasi,

kejelasan sanksi, dan pengetahuan.

C. Kerangka Pemikiran

Telah diuraikan sebelumnya bahwa di Daerah Kecamatan Cikarang,

Kabupaten Bekasi akhir-akhir ini Semakin banyaknya pertumbuhan

penduduk sehingga bangunan dari rumah tinggal tunggal hingga gedung-

gedung perusahaan di kawasan industri semakin padat. Dari banyaknya

bangunan rumah tinggal tunggal tersebut kemungkinan masih ada yang

belum memiliki surat IMB, hal itu dapat dikatakan bangunan tersebut
41

masih illegal. Namun kenyataanya tidak memiliki surat IMB seakan bagi

masyarakat umum itu hal yang wajar, karena mungkin kurangnya

pemahaman masyarakat terhadap pembuatan surat IMB . Oleh karena itu

bisa dikatakan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB masih

belum sepenuhnya maksimal. Sehingga Pemerintah Daerah Cikarang

Selatan perlunya saat ini melakukan upaya-upaya dalam meningkatkan

kepatuhan masyarakat terhadap Perda retribusi IMB, untuk

disosialisasikan agar masyarakat mengetahui dalam membuat surat IMB

dan meningkatkan kepatuhannya terhadap retribusi IMB Dengan

masyarakat mengetahui kewajibanya dan keuntungan yang didapat ketika

memiliki surat IMB kemungkinan masyarakat sedikit bisa mematuhi Perda

retribusi IMB, dan penerimaan retribusi IMB bisa meningkat secara

bertahap. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori Samudera

(2004:6) bahwa dalam melakukan sosialisasi perlu adanya strategi dan

metode yang tepat dalam diaplikasikannya dengan baik yaitu: publikasi,

kegiatan, pemberitahuan, keterlibatan komunitas, pencantuman identitas,

dan pendekatan pribadi. Alasan penulis menggunakan teori tersebut

karena sesuai dengan permasalahan yang ada yaitu bagaimana

pemerintah di daerah Kecamatan Cikarang Selatan dalam sosialisasi

kepada masyarakat tentang retribusi IMB. Dan dapat diuraikan penulis

sebagai berikut:

a. Publikasi tentunya dengan Adanya aktifitas publikasi yang dilakukan

melalui media komunikasi baik media cetak melaui surat kabar,


42

majalah maupun media audiovisual seperti radio ataupun televise

bisa meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang retribusi IMB.

b. Kegiatan, sebaiknya Institusi PEMDA dapat melibatkan diri pada

penyelenggaraan aktifitas-aktifitas tertentu, sehingga dengan

kegiatan masyarakat bisa mudah mengetahui tentang retribusi IMB.

c. Pemberitahuan kepada masyakat dalam berita positif sehingga

menjadi sarana promosi yang efektif dalam meningkatkan kepatuhan

masyarakat.

d. Keterlibatan Komunitas Melibatkan komunitas pada dasarnya adalah

cara untuk mendekatkan institusi retribusi IMB dengan masyarakat

tentang pentingnya membayar retribusi IMB.

e. Pencantuman Identitas berkaitan dengan seperti pencantuman logo

otoritas Retribusi IMB pada berbagai media yang ditujukan sebagai

saran promosi. Dengan adanya sosialisasi menggunakan logo

otoritas retribusi IMB sehingga masyarakat tahu tentang retribusi

IMB, dan tidak asing lagi dimata masyarakat.

f. Pendekatan Pribadi yang dilakukan secara informal untuk mencapai

tujuan tertentu. Seperti menyampaikannya informasi melalui kerabat

terdekat pegawai PEMDA tentang pentingnya membayar retribusi

IMB.

Dengan dikembangkan teori diatas maka dalam memberikan sosialisasi

PEMDA kepada masyarakat dengan publikasi, kegiatan, pemberitahuan,

keterlibatan komunitas, pencantuman identitas, dan pendekatan pribadi


43

sehingga dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat membayar retribusi

IMB di Daerah Kecamatan Cikarang Selatan bisa meningkat secara

bertahap. Untuk lebih memperjelas gambaran kerangka pemikiran penulis

maka lebih lanjut dituangkan dalam bentuk bagan sebagai berikut :

D. Model Penelitian

Pemberitahu Keterlibatan
an Komunitas

Kegiatan Pencantuman
identitas

Sosialisasi
Publikasi PEMDA Pendekata
n Pribadi

Kepatuhan
Masyaraka

Gambar II.1 Model Penelitian


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

1. Pendekatan

Ditinjau dari jenis datanya pendekatan yang digunakan pada

penelitian ini mengunakan penelitian kualitatif. Metode kualitatif

digunnakan untuk meneliti dimana masalahnya belum jelas, dilakukan

pada situasi sosial yang tidak luas, sehingga hasil peneliti lebih mendalam

dan bermakna. Metode ini disebut juga sebagai metode artistik, karena

peneliti lebih bersifat seni (kurang berpola). Metode penelitian kualitatif

berkembang disebabkan oleh terjadinya perubahan terhadap paradigma

terhadap suatu realitas atau fenomena dimana sebelumnya paradigma

positivisme (yang mengembangkan metode kuantitatif) memandang

realitas sosial sebagai tunggal, statis, dan konkret. Menurut Sugiyono

(2005:9)

“Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk


meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah
eksperimen) dimana peneliti adalah instrument kunci, teknik pengumpulan
data dilakukan secara triagulasi (gabungan), analisisn datra bersifat
induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada
generalisasi.”

44
45

Informan dalam metode kualitatif berkembang terus (snowball) secara

bertujuan (purposive) sampai data yang dikumpulkan dianggap memuaskan

atau jenuh (redundancy).

2. Jenis penelitian

Jenis penelitian atau disebut juga sebagai dimensi penelitian sangat

berhubungan dengan desain penelitian. Dengan menentukan jenis penelitian

maka dapat disusun desain penelitian. Menurut Harbani pasolong (2012:164)

“jenis penelitian ada 4 (empat) antara lain berdasarkan tujuan, tempat

pelaksanaan, waktu, dan karakteristik masalah. Berikut penjelasan penulis

mengenai jenis penelitian.

a. Penelitian berdasarkan tujuannya

Penelitian ini bersifat deskriptif bertujuan untuk menggambarkan dan

mengembangkan secara terperinci mengenai keadaan tertentu, adapun

tujuan dari penulisan dari skripsi ini adalah untuk mengetahui sosialisasi apa

saja yang efektif untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap

Retribusi IMB, Untuk mengetahui masalah apa yang mempengaruhi

masyarakat kurang mematuhi IMB.

b. Penelitian berdasarkan tempat penelitiannya

1. Penelitian lapangan (field Research)

Penelitian lapangan adalah penelitian yang secara langsung

mengadakan pengamatan untuk memperoleh informasi yang


46

diperlukan dalam penelitian. Lokasi penelitian di kantor Kecamatan

Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi.

2. Penelitian Perpustakaan (Library Research)

Penelitian perpustakaan bertujuan untuk mengumpulkan data dan

informasi dengan bantuan macam-macam material yang terdapat

diruang perpustakaan.

c. Penelitian berdasarkan dimensi waktu

Dalam penelitian ini penulis menerapkan cross-sectional, yaitu penelitian

yangdilakukan dalam satu waktu tertentu, penelitian ini hanya digunakan

dalam waktu yang tertentu dan tidak akan dilakukan dalam waktu yang

tertentu dan tidak akan dilakukan penelitian lain di waktu yang berbeda untuk

diperbandingkan, karena lebih sederhana dan lebih murah. Dalam penelitian

cross-sectoinal, peneliti hanya mengobservasi fenomena pada satu titik

waktu tertentu. Pada penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif, ataupun

ekspalantif, cross-sectional mampu menjelaskan.

d. Penelitian berdasarkan karakteristik masalah

Penelitian ini bersifat deskriptif menggambarkan dan menjelaskan secara

terperinci mengenai fenomena yang ada melalui wawancara mendalam dan

dapat menggunakan kuisioner sebagai instrumen pendukung


47

B. Fokus penelitian

Fokus penelitian adalah uraian detail penulis terhadap konsep yang akan

diteliti yang berisikan ukuran atau parameter dari konsep yang menjadi dasar

dalam pedoman wawancara, observasi, dan dokumen yang digunakan.

Untuk mempermudah penulis untuk menganalisis hasil penelitian, maka

dalam skripsi ini penulis menfokuskan penelitian pada

1. Sosialisasi IMB kepada masyarakat melalui informasi meliputi sepanduk,

selebaran, iklan melalui pesawat radio atau televisi, dan penyuluhan

langsung dari pemerintah setempat di daerah Kecamatan Cikarang

Selatan.

2. Untuk mengetahui kepatuhan masyarakat, alasan yang menyebabkan

masyarakat mematuhi retribusi IMB.

3. Untuk mengatahui sosialisasi Pemerintah dalam meningkatkan retribusi

IMB.

C. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, data yang akan digunakan oleh peneliti sebagai

penunjang untuk pembahasan yang akan dilakukan bersifat kualitatif. Untuk

memeperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan


48

penelitian. Untuk memperoleh data adapun sumber data dari penelitian ini

adalah:

a. Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap

muka dan tanya jawab langsung antara peneliti dan narasumber agar

mendapatkan informasi secara faktra dari sumbernya untuk mengetahui

kepatuhan masyarakat terhadap IMB. Seiring perkembangan teknologi,

metode wawancara dapat pula dilakukan melalui media-media tertentu,

misalnya telepon, email, atau skype.

Wawancara terbagi atas dua kategori, yakni wawancara terstruktur dan tidak

terstruktur.

1. Wawancara terstruktur

Dalam wawancara terstruktur, peneliti telah mengetahui dengan pasti

informasi apa yang hendak digali dari narasumber. Pada kondisi ini,

peneliti biasanya sudah membuat daftar pertanyaan secara sistematis.

Peneliti juga bisa menggunakan berbagai instrumen penelitian seperti

alat bantu recorder, kamera untuk foto, serta instrumen-instrumen lain.

2. Wawancara tidak terstruktur

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas. Peneliti tidak

menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-

pertanyaan spesifik, namun hanya memuat poin-poin penting dari

masalah yang ingin digali dari responden.


49

b. Observasi adalah metode pengumpulan data yang kompleks karena

melibatkan berbagai faktor dalam pelaksanaannya. Metode pengumpulan

data observasi tidak hanya mengukur sikap dari responden, namun juga

dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi. Teknik

pengumpulan data observasi cocok digunakan untuk penelitian yang

bertujuan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, dan gejala-

gejala alam. Metode ini juga tepat dilakukan pada responden yang

kuantitasnya tidak terlalu besar. Metode pengumpulan data observasi terbagi

menjadi dua kategori, yakni:

1. Participant observation

Dalam participant observation, peneliti terlibat secara langsung dalam

kegiatan sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber

data.

2. Non participant observation

Berlawanan dengan participant observation, non participant

observation merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut secara

langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati.

c. Dokumen adalah metode pengumpulan data yang tidak ditujukan

langsung kepada subjek penelitian. Studi dokumen adalah jenis

pengumpulan data yang meneliti berbagai macam dokumen yang berguna

untuk bahan analisis. Dokumen yang dapat digunakan dalam pengumpulan

data dibedakan menjadi dua, yakni:


50

1. Data primer

Data primer adalah dokumen yang ditulis oleh orang yang langsung

mengalami suatu peristiwa, misalnya: autobiografi

2. Data sekunder

Data sekunder adalah dokumen yang ditulis berdasarkan oleh laporan

atau cerita orang lain, misalnya: biografi.

D. Penentuan Informan

Informan dalam penelitian ini dilakukan dengan pejabat pemerintahan

yang berkaitan dengan pemungutan retribusi IMB, dan juga staf-stafnya yang

melaksanakan menjalankan program dari pemerintah tersebut dalam

meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap Retribusi Izin Mendirikan

Bangunan, sangat dibutuhkan penentuan informan yang tepat dalam

pelaksanaaanya penelitian.informan yang dipilih harus mengerti dengan baik

keadaan daerahnya dan menyaksikan terlibat secara langsung dengan

masalah kejadian di daerah tersebut. Narasumber hendaknya merupakan

informan yang mau bersedia untuk meluangkan waktunya dengan peneliti

mengingat penelitian di lapangan memerlukan intensitas yang tinggi. Selain

itu informan yang peneliti pilih mengetahui seluruh masalah kejadian yang

terjadi di daearah tersebut. Teknik pengambilan informasi yang digunakan

adalah purposive sampling yaitu dengan di lakukan memilih subyek


51

berdasarkan kriteria spesifik yang ditetapkan peneliti sendiri. Kriteria yang

menjadi sampel dalam penelitian ini adalah :

1. Pemerintah daerah selaku pemimpin daerah (satu orang) sebagai

informan pertama, yang membuat kebijakan sosialisasi untuk

meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam Retribusi IMB wilayah

Cikarang Selatan.

2. Jajaran staf Pemerintahan bagian ekonomi dan pembangunan (satu orang)

sebagai informan kedua, yang bertugas menyampaikan sosialisasi dari

pimpinan pemerintahan. Kepada masyarakat.

3. Akademis,bapak Hendriawan,S.H., M.M yang memahami ilmu perpajakan

dan retribusi, sebagai informan ketiga. Diharapkan dapat memberikan

pendapat terkait masalah Retribusi IMB.

4. Masyarakat sebagai informan keempat dan seterusnya,yang sudah atau

belum memiliki surat IMB dan sedang merenovasi atau membangun

rumahnya, (tiga orang) atau lebih untuk mengetahui apa sudah patuh

terhadap Retribusi IMB.

E. Teknik analisis data

Analisis Data adalah proses mencari dan menyususun secara sistematis

data yang akan diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan

dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori


52

menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola,

memilih mana yang penting dan tidak penting yang akan dipelajari, dan

memebuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh peneliti sendiri

maupun orang lain yang membacanya.

Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya

kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola memilih mana

yang penting untuk dipelajari membuat kesimpulan yang dapat diceritakan

kepada orang lain. Hasil penelitian akan dianalisa secara kualitatif dengan

penguraian secara deskriptif dan perspektif agar penelitian ini tidak hanya

tentang menggambarkan data semata, tetapi juga mengungkapkan realitas.

Analisis data yang dilakukan oleh peneliti dengan cara mengumpulkan data

kemudian melakukan analisis berdasarkan data yang diperoleh melalui

wawancara mendalam serta studi kepustakaan mengenai pelaksanaan

sosialisasi program pemerintah dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat

dalam Retribusi IMB daerah Kecamatan Cikarang Selatan.

F. Lokasi dan jadwal penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kantor Kecamatan Cikarang Selatan Jalan

Cikarang, Sukadami, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat

17530. Adapun penelitian dilakukan dilokasi tersebut karena peneliti

mempunyai kepentingan dengan masalah ini dalam rangka penyusunan


53

skripsi untuk meraih gelar Sarjana Administrasi Publik di Institut STIAMI.

Jadwal atau waktu penelitian ini berlangsung mungkin selama kurang lebih 5

bulan atau lebih tergantung situasi dan kondisi, keadaan dari luar maupun

dari pribadi peneliti.

Tabel III.1

GANTT CHART PENELITIAN

Tahun 2017
No Kegiatan penelitian April mei juli Juli Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penyusunan proposal
2 Studi pendahuluan
3 Pengumpulan referensi
4 Penulisan bab I-III
5 Pengumpulan Data
6 Analisis Data
7 Penulisan bab IV-V
8 Penyusunan skipsi
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

Objek penelitian merupakan tempat dimana penelitian dilakukan agar hasil

dari penelitian dapat dianalisis dengan baik dan benar sesuai dengan

kenyataan di lapangan.

1. Tentang kantor dan Kecamatan Cikarang Selatan

Kantor kecamatan Cikarang Selatan berada di desa sukadami, cikarang

Selatan, Bekasi. Kecamatan atau sebutan lain adalah wilayah kerja camat

sebagai perangkat daerah kabupaten atau kota (pp. 19 tahun 2008).

Kedudukan kecamatan merupakan perangkat daerah kabupaten atau kota

sebagai pelaksana teknis kewilayahan yang mempunyai wilayah kerja

tertentu dan dipimpin oleh camat dengan dibantu oleh perangkat kecamatan.

Kecamatan Cikarang Selatan mempunyai luas 49,06 km² dengan jumlah

kepadatan penduduk sekitar 178.380 jiwa dan terdiri dari 7 (tujuh) Desa atau

kelurahan diantaranya:

a). Kelurahan/Desa Ciantra

54
55

b). Kelurahan/desa Cibatu

c). Kelurahan/Desa Pasir Sari

d). kelurahan/Desa Serang

e). kelurahan/Desa Sukadami

f). Kelurahan/Desa Sukaresmi

g). kelurahan/Desa Sukasejati.

Pemerintah Kecamatan dipimpin oleh Camat dengan dibantu oleh perangkat

Kecamatan. Camat merupakan pegawai negeri sipil dan bertanggung jawab

kepada Bupati atau walikota karena Kecamatan adalah bawahan Kabupaten

atau kota. Perangkat kecamatan bersetatus pegawai negeri sipil dan

bertanggung jawab pada camat. Perangkat Kecamatan itu antara lain:

Sekretaris Kecamatan, seksi-seksi kecamatan yang terdiri atas seksi

pemerintahan, seksi pembangunan, seksi perekonomian, seksi

kemasyarakatan, seksi ketentraman dan ketertiban. Sebagaimana

sebuahInstansi harus memiliki visi dan misi, kantor kecamatan Cikarang

Selatan mempunyai visi dan misi yaitu:

Visi kecamatan Cikarang Selatan secara Ekplisit sangat menunjang visi

Kabupaten Bekasi “ Mewujudkan Kecamatan yang unggul dalam pelayanan

melalui peyelenggaraan administrasi pemerintahan yang akuntibel.” Makna

dari visi tersebut adalah Kecamatan Cikarang Selatan mampu menjadi

institusi atau lembaga yang handal didukung oleh aparatur yang berkualitas

sehingga dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal


56

sebagaimana tertuang dalam tugas pokok kecamatan yaitu membantu bupati

dalam penyelengaraan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan

kehidupan kemasyarakatan dalam wilayah kecamatan.

Misi kecamatan Cikarang Selatan adalah:

a. Meningkatkan penyelenggaraan administrasi pemerintahan

Misi ini dititikberatkan agar setiap seksi di lingkungan Kecamatan

Cikarang Seatan dpat meningkatkan penyelenggaraan administrasi

pemerintahan sesuai tugas pokok dan fungsinya

b. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat

Misi ini dititiberatkan agara setiap seksi di lingkungan Kecamatan

Cikarang Selatan dapat meningkatkan kapasitas pelayanan kepada

masyarakat sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

Aspek kepegawaian yang mendukung operasional kantor kecamatan

Cikarang Selatan dapat digambarkan sebagai berikut:

1). Distribusi susunan pegawai berdasarkan jabatan di kantor Kecamatan

Cikarang selatan dapat dilihat,

Tabel IV.1 Daftar pegawai berdasarkan jabatan

Jabatan Jumlah

Camat 1

Sekretaris 1

Sub bag Perencanaan 3


57

Sub Bag Keuangan 3

Sub Bag umum dan kepegawaian 5

Seksi tata Pemerintahan 3

Seksi Ketentraman dan ketertiban 5

Seksi ekonomi dan pembangunan 4

Seksi Pemberdayaan masyarakat 2

dan desa

Seksi kependudukan 5

Jumlah 32

Sumber : Seksi ekonomi dan pembangunan kantor kecamatan cikarang


selatan tahun 2017

2). Distribusi pegawai berdasarkan PNS dan non PNS di kantor Kecamatan

Cikarang Selatan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel IV.2 Disrtibusi pegawai berdasarkan PNS dn non PNS

Pegawai Jumlah

PNS 22

Non PNS 16

Jumlah 38
Sumber: Seksi ekonomi dan pembangunan kantor kecamatan Cikarang
Selatan

a. Struktur Organisasi kecamatan Cikarang Selatan


58

Selanjutnya susunan dan fungsi masing-masing bagian tersebut dapat dilihat

pada bagan gambar IV.1 sebagai berikut:

Camat
Enop Can, S.H.,M.si

Sekretaris
Asrori, S.H

SUBAG Perencanaan SUBAG Keuangan SUBAG Umum &


Risna Ayu Pratiwi, Ir. Wiwik Widyanti kepegawaian
S.T Udung Budiawan, S.E

Aravina Tutik
Agus Bahtiar Widayanti, S.AP
Sari Krisna Murti, A.Md
Aria Wirasmara Wiwin Tarwini, A.Md Mulyani
Widianti,S.E

Sutrisna

Jupri

Seksi tata Seksi Seksi ekonomi dan Seksi Seksi


Pemerintahan ketentraman & pembangunan pemberdayaan Kependudukn
ketertiban Daryono, S.E masyarakat & desa Dr. Taufikul Akbar
Rasdama, S.M. Hk
Toto Sugianto, Drs,H. Hasan Basri

S.Pd.,M.si

Dwi Adi Setyowati,


Asep Sanjaya Mohamad Yusuf,
S.E Dewi Sumarlina, Emin Aminah
B.A
S.Kom
Wahyu Irawan, S.E Irwan Brawijaya,
M. Ucok Suryana Erik Wiliam A. Atlan
S.E

Puja Sukma Parman, S.Fil Muhamad Reza


Ramdani

Sani Lestari
Sobari
59

b. Data demografi kecamatan Cikarang Selatan

Tabel IV.3 Data jumlah penduduk tahun 2016 Kecamatan Cikarang Selatan

berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Jenis Kelamin Jumlah


Laki-laki Perempuan Presentase
Tidak diketahui 1.860 2.136 2.863 1,4%
SD-SLTP-SLTA 94.377 88.908 183.285 91,7%
Perguruan Tinggi 7.806 6.129 14.068 6,9 %
Jumlah 104.043 97.173 201.216 100%
Sumber: Seksi ekonomi dan pembangunan kantor kecamatan Cikarang
Selatan

Berdasarkan tabel IV.3 menunjukan bahwa dari total penduduk Cikarang

Selatan di tahun 2016 adalah 201.216 sekitar 91,7% masih lulusan dibawah

perguruan tinggi. Sisanya 6,9% lulusan Perguruan Tinggi dan 1,4% tidak

diketahui.

B. Hasil Penelitian

Hasil penelitian berupa wawancara kemudian dilakukan interpretasi, dicari

makna dan kesimpulan. Penulis melakukan wawancara terbuka terhadap

para informan yang telah ditentukan sebelumnya. Penulis

menginterpretasikan jawaban yang diberikan oleh informan, sehingga penulis

dapat menarik kesimpulan mengenai analisis sosialisasi PEMDA dalam

meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB di daerah

Cikarang Selatan.
60

Kantor Kecamatan Cikarang Selatan dalam upaya memberikan pelayanan

kepada masyarakat terhadap retribusi IMB, sesuai dengan Peraturan Daerah

Kabupaten Bekasi Nomor 15 tahun 2012 tentang retribusi Izin Mendirikan

Bangunan di Kabupaten Bekasi dan juga disertai dengan misi mewujudkan

Kecamatan yang unggul dalam pelayanan melalui peyelenggaraan

administrasi pemerintahan yang akuntabel, tentunya dengan pelayan yang

unggul bisa meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam membuat surat IMB.

1. Sosialisasi PEMDA Dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat

terhadap retribusi IMB di Daerah Kecamatan Cikarang Selatan.

Berikut ini adalah hasil dari penelitian penulis terkait dengan analisis

sosialisasi PEMDA dalam meningkatkan retribusi IMB di daerah Cikarang

Selatan.

Peraturan pemerintah Nomor 15 tahun 2012 tentang retribusi Izin

Mendirikan Bangunan di Kabupaten Bekasi, Bahwa dengan semakin

pesatnya pembangunan fisik mengharuskan Pemerintah Daerah untuk

menata pengembangan wilayah secara terarah dan terpadu yang

disesuaikan dengan kenyamanan serta keamanan lingkungan. Dalah

berhasilnya sosialisasi disini penulis menganalisis dengan teori Samudera

bahwa dalam melakukan sosialisasi perlu adanya strategi dan metode yang

tepat dalam diaplikasikannya dengan baik yaitu: publikasi, kegiatan,

pemberitahuan, keterlibatan komunitas, pencantuman identitas, dan


61

pendekatan pribadi. Berikut hasil wawancara antara penulis dengan

informan 1 (satu) dari selaku Camat di Kantor Kecamatan Cikarang Selatan

a. Publikasi

Jawaban dari pertanyaan untuk Informan 1 (satu) bapak Enop Can selaku

camat “Bagaimana sosialisasi Bapak dalam upaya-upaya meningkatkan

retribusi IMB?

“ya yang kita lakukan dalam rangka meningkatkan tentu retribusi


IMB pertama kita, dasar kita itu kan pelimpahan kewenangan
yang diberikan Bupati kepada Camat yaitu mengenai rumah
tinggal tunggal adapun langkah-langkah yang kita lakukan kita
melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk timbul
kesadaran agar rumah-rumah untuk dibuatkan Izin Mendirikan
Bangunan atau IMB, jadi seperti itu yang kita lakukan.”

Tentunya Pemerintah dalam melakuakan sosialisasi kepada masyarakat

tentang retribusi IMB harus tepat dan mudah dipahami oleh masyarakat,

seperti yang disampaikan oleh informan 1 dengan pertanyaan “Bagaimana

sosialisasi Pemerintah agar masyarakat mengetahui akan wajib dalam

pembuatan surat IMB?

Enop Can: “sosialisasi kepada masyarakat baik formal maupun non formal,
ya formalnya mungkin dalam rapat minggon misalnyakan
ditingkat desa dan tingkat kecamatan, kalo non formalnya bisa
saja ketika kita lagi silahturahmi kepada warga masyarakat kita
ngobrol-ngobrol ya kita masukan bahwa IMB itu sangat
dibutuhkan selain meningkatkan PAD dan juga untuk mendata
bahwa rumah tersebut sudah mempunyai Izin Mendirikan
Bangunanya.”
62

Informan 2 juga dengan pertanyaan “Bagaimana sosialisasi yang dilakukan

dalam rangka meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB di

Cikarang Selatan?

Daryono: “Selama ini kita selalu memberikan pemahaman kepada


masyarakat bahwasanya untuk mendirikan suatu bangunan itu
harus ada izin, kebetulan Kecamatan diberikan kewenangan
untuk penerbitan rumah tinggal tunggal. Selama ini kami
mensosialisasikan baik itu melalui rapat-rapat formal maupun non
formal. Seperti misalnya kalo rapat itu kan di desa itu kan ada
rapat minggon, rapat minggon kita sampaikan disana ketika rapat
non formalnya ketika kegiatan dimasyarakat dan mengundang
kita pun sampaikan, kemudian juga selain itu kita memberikan
semacam pemberitahuan kepada pengembang-pengembang
yang ada di Cikarang Selatan agar memberitahukan
masyarakatnya yang melakukan renovasi atau perubahan rumah
tinggal tunggalnya.”

Didalam publikasi komunikasi sangat penting dalam memberikan informasi

kepada masyarakat luas disni penulis bertanya kepada informan 2, Apakah

dalam melakukan sosialisasi IMB kepada masyarakat sudah melalui media

cetak dan elektronik?

Daryono: “belum, baru hanya melalui rapat-rapat”

b. Kegiatan.

Kegiatan Institusi PEMDA dapat melibatkan diri pada penyelenggaraan

kegiatan aktifitas-aktifitas juga sangat berperan penting didalam sosialisasi

retribusi IMB kepada masyarakat, seperti kegiatan olahraga, dan hari-hari

libur nasional. Disini penulis bertanya kepada informan 2


63

Apakah selama ini ada kegiatan atau acara olahraga atau libur nasional yang

dihubungkan dengan program peningkatan kesadaran masyarakat akan

retribusi IMB?

Daryono: “Paling ya kegiatan pengajian atau syukuran, kadang acara pentas


budaya di instansi pemerintahan tapi jarang dihubungkan dengan
program peningkatan retribusi IMB.”

c. Pemberitahuan

Pemberitahuan dalam hal ini mempunyai pengertian khusus yaitu

menjadi bahan berita dalam arti positif, sehingga menjadi sarana promosi

yang efektif dapat disosialisasikan dalam bentuk berita kepada masyarakat

sehingga bisa Meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap Retribusi IMB

di daerah Cikarang Selatan. Penulis bertanya kepada informan 2, Apakah

ada informasi pemberitahuan langsung ke masyarakat dalam komunikasi

ataupun bentuk surat?

Daryono: “komunikasi langsung ke masyarakat belum paling hanya baru di


rapat-rapat internal pemerintahan hanya perwakilan dari lurah, kasi
kependudukan dan Kapolsek Cikarang Selatan, dalam bentuk
suratpun belum yang langsung dibagikan kepada masyarakat per
rumah.”

Hal ini juga dipertegas dengan jawaban informan 4 selaku pemilik bangunan

disini penulis bertanya Apakah selama ini ada sosialisasi dari pihak DInas

pemerintahan tentang reribusi IMB?

Mira: “engak sih disini enggak ada, dari RT nya juga enggak ada.”

Juga pertanyaan yang sama dengan informan 6


64

Aceng: “belum pernah ada, belum ada.kalo ke saya belum ada gak tahu ke

yang lain.”

d. Keterlibatan Komunitas

Melibatkan komunitas pada dasarnya adalah cara untuk mendekatkan

institusi pemerintahan tentang retribusi IMB dengan masyarakat, seperti

silahturahmi ke tokoh-tokoh setempat. Penulis bertanya kepada informan 1

Apakah selama ini ada komunikasi dengan komunitas-komunitas tentang

retribusi IMB di Cikarang Selatan?

Enop Can: “komunikasi pasti ada, kadang pada saat kita bertemu
silahturahmi di komunitas karang taruna atau majelis kita
sampaikan disitu tentang retribusi IMB dan cara
pembayarannya.”

e. Pencantuman Identitas

Dalam sosialisasi pencantuman identitas logo IMB sangat penting agar

masyarakat tahu tentang IMB, disini penulis bertanya kepada informan 2,”

Apakah ada pencantuman identitas dari retribusi IMB sendiri seperti stiker

logo retribusi IMB?

Daryono :” bagi masyarakat yang telah mengurus IMB nanti akan dikasih plat
nomor yang bisa dipasang di rumahnya. Namun yang belum
mengurus belum dapat plat nomor.”

Ternyata hanya pemasangan plat nomor saja bukan logo IMB, Dalam

sosialisasi ini penulis juga menanyakan kepada informan 3 selaku akademisi

dengan pertanyaan, bagaimana sosialisasi retribusi IMB yang selama ini

dilakukan pemerintah Daerah?


65

Hedriawan: “Pemerintah daerah khususnya di Kabupaten Bekasi


sepengetahuan saya dalam upaya optimalisasi penerimaan
retribusi perizinan tertentu khususnya dari izin mendirikan
bangunan sudah melakukan upaya-upaya adalah dengan
melakukan sosialisasi pada masyarakat bahwa pentingnya
masyarakat sadar akan izin mendirikan bangunan, intinya
kesadaran masyarakat. Yang kedua Upaya itensifikasi dan
ekstensifikasi dari pemungut pengelola IMB itu sendiri dalam
hal ini pemerintah daerah. Melakukan upaya-upaya
pendataan, upaya-upaya pengendalian, pengawasan dan juga
upaya-upaya sanksi bagi bangunan-bangunan yang yang tidak
ada IMB karena dengan sanksi itu kan berarti ada efek jera.
Sanksi dengan berupa penempelan stiker dan bisa
penyegelan juga tidak menutup kemungkinan bangunan tidak
ada IMB nya bisa pembongkaran. Karena kalo masyarakat
sudah bayar otomatis penerimaan IMB kusus kabupaten
bekasi pendapatanya akan meningkat dan menyumbangkan
penerimaan yang signifikan bagi pendapatan asli daerah
Kabupaten Bekasi.

f. Pendekatan Pribadi

Pendekatan pribadi yang dilakukan pemerintah secara informal kepada

kerabat atau sodara untuk mencapai sosialisasi dalam meningkatkan

kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB, penulis bertanya kepada

informan 1, Apakah bapak sering memberi tahu kepada saudara atau kerabat

tentang retribusi IMB?

Enop Can: “ pernah kadang saya bilang kepada saudara dan kerabat bahwa
membuat surat IMB dengan membayar retribunya itu penting.”

Dan juga kepada informan 2 dengan pertanyaan yang sama

Daryono: “Ya pernah pas lagi ingat saya bilang ke saudara dan tetangga
tentang pembuatan surat IMB.”

Tanggapan dalam hal ini informan 1 dan 2 terkait Pemerintah daerah

dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB sudah


66

berjalan dengan baik dengan sosialisasi yang ada, namun masyarakat yaitu

infoman 4, 5, dan 6 merasa kurang adanya sosialisasi dari pihak pemerintah

daerah Cikarang Selatan.

2. Kepatuhan masyarakat terhadap surat IMB

Upaya yang dilakukan Pemerintah Daerah Cikarang Selatan dalam

meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB yaitu dengan

sosialisasi yang diterapkan oleh pemerintah daerah sesuai Peraturan Daerah

Kabupaten Bekasi Nomor 15 tahun 2012, apakah sudah ada peningkatkan

kepatuhan masyarakatnya dalam memahami untuk membuat surat IMB.

Dari data demografi yang penulis dapat bahwa mengenai jumlah

penduduk dari segi tingkat pendidikan masyarakat Kecamatan Cikarang

Selatan untuk lulusan SD-SLTP-SLTA 91,7% dari seluruh lapisan

masyarakat untuk lulusan Perguruan Tinggi hanya 6,9%. Dan ternyata

91,7% tidak mengenyam Perguruan Tinggi itu membuat minat juga

kesadaran masyarakat untuk memperoleh sertifikat IMB masih sangat kecil.

Dan itu yang mengakibatkan tidak berhasilnya sosialisasi, komunikasi dari

aparat Pemerintahan kepada seluruh penduduk di kecamatan Cikarang

Selatan.
67

Selain data demografi penulis juga menyajikan tabel data surat IMB yang

diterbitkan oleh Kantor Kecamatan Cikarang Selatan setiap tahunnya sebagai

berikut.

a. Data mengenai jumlah surat IMB yang dibuat pertahun oleh kantor

Kecamatan Cikarang Selatan

Tabel IV.4 jumlah surat IMB yang dibuat dari tahun 2014-2016

Tahun Jumlah surat IMB Retribusi

2014 391 Rp. 662.539.959,00

2015 300 Rp. 510.057.842,00

2016 248 Rp. 414.208.504,00

Total 939 Rp. 1.586.806.305,00

Sumber: Seksi ekonomi dan pembangunan kantor Kecamatan


Cikarang Selatan.

b. Data jumlah bangunan di Kecamatan Cikarang Selatan.

Tabel IV.5 jumlah bangunan yang memiliki Surat IMB.

Jumlah banguan IMB diterbitkan Presentase


RumahTinggal Tunggal
62.466 939 1,50%

Sumber: Seksi ekonomi dan pembangunan kantor Kecamatan


Cikarang Selatan.

Berdasarkan tabel IV.4 menunjukan bahwa masyarakat yang membuat

surat IMB tiap tahunnya dari 2014 sampai 2016 selalu menurun, hanya

sekitar 1.50% bangunan yang memiliki surat IMB dari total bangunan 62.466
68

pada tabel IV.5. Hal ini tidak sesuai dengan tanggapan informan 1 dengan

pertanyaan “Apakah selama ini sudah berjalan dengan lancar ada

peningkatan dari masyarakat dalam membuat surat IMB?

Enop Can : “ya untuk di Cikarang Selatan ya Alhamdulillah ketika saya


melaksanakan tugas sebagai Camat di Cikarang Selatan dari
tahun ke tahun itu selalu meningkat itu IMB nya.”

Hal ini kemungkinan masih banyaknya masyarakat yang belum membuat

surat IMB seperti yang diungkapkan oleh masyarakat pemilik bangunan

rumah tinggal tunggal, sebagai informan 6 dengan pertanyaan “ Apakah

dalam pembangunan rumah ini bapak mengajukan permohonan IMB?

Aceng: “enggak,di kampung tidak ada IMB.

Dan juga pertanyaan yang sama kepada informan 4 dengan jawaban

Mira: “enggak sih ini, enggak tahu ini dari mertua

Untuk tariff retribusi IMB sendiri disini perhitunganya sangat mudah hanya,

Luas bangunan (meter) x Rp. 20.000,00 = untuk bangunan bertingkat

Luas bangunan (meter) x Rp. 15.000,00 = untuk bangunan satu lantai/biasa

tidak bertingkat. Dalam hal menurunnya kontribusi masyarakat dalam

membuat surat IMB tentunya pasti banyak faktor-faktor yang

mempengaruhinya seperti yang dijelaskan oleh informan 3 selaku akademis

dengan pertanyaan “Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penerimaan

dalam meningkatkan retribusi IMB?

Hendriawan: “Pertama adalah upaya intensifikasi dan ektensifikasi yang


kedua juga meningkatkan kompetensi daripada pengelola IMB
itu sendiri jadi dalam hal ini penyelengara Pemerintah petugas-
69

petugasnya dilatih supaya dia bisa piawai dalam memberikan


penjelasan kepada masyarakat baik dengan cara strategi
komunikasi dan juga pemahaman peraturan-peraturan dan
regulasi. Kadang kala ada petugas atau pengelola IMB yang
tidak begitu paham secara utuh tentang regulasi peraturan
yang mengatur tentang IMB. Jadi kompetensi, komunikasi, dan
keahlian.”

Selain diatas juga yang mempengaruhi kepatuhan masyarakat dalam

membuat surat IMB diantaranya bentuk sosialisai dari pemerintah teryata

masih kurang yang dijawab oleh informan 4 pemilik rumah tinggal tunggal

dengan pertanyaan “Apakah selama ini ada sosialisasi dari pihak DInas

pemerintahan tentang reribusi IMB?

Mira: “engak sih disini enggak ada, dari RT nya juga enggak ada.

Salah satu sebab menurunya kepatuhan masyarakat dalam membuat

surat IMB adalah karena kurangnya sosialisasi dari pihak pemerintahan.

Dalam hal meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB

tentunya harus ada upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah,

disini penulis melakukan wawancara terhadap pihak akademis dengan

pertanyaan “ Upaya-upaya apa saja yang sebaiknya dilakukan pemerintah

dalam rangka meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB?

Hedriawan: “Upaya Pemerintah dalam mendorong masyarakat sadar untuk


membayar retribusi IMB yang pertama melakukan pendekatan
secara personal face to face dengan mengunakan strategi
komunikasi yang baik pendekatan secara manusiawi bijak dan
sopan. Berikutnya juga dengan sosialisasi bisa dengan media-
media tempel seperti spanduk, bisa dengan media elektonik
radio atau televisi atau pengumuman-pengumuman lainya bisa
dengan selebaran dan bisa juga oleh petugas-petugas dari
pelayanan terpadu satu pintu itu sendiri. Disamping itu
70

pemerintah juga melakukan upaya intensifikasi dan


ekstensifikasi retribusi Izin Mendirirkan Bangunan.

3. Kendala-kendala yang mempengaruhi kepatuhan masyarakat

terhadap retribusi IMB.

Dalam menerapkan dan menjalankan sosialisasi Peraturan Daerah

Kabupaten Bekasi Nomor 15 tahun 2012 tentang retribusi Izin Mendirikan

Bangunan tentunya pasti banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh

Pemerintah dalam meningkatkan retribusi IMB, disini penulis mendapatkan

jawaban dari hasil wawancara kepada pihak selaku informan 1 dengan

pertanyaan “Kendala-kendala apa saja yang dihadapi Pemerintah dalam

meningkatkan retribusi IMB?

Enop can : “ya kendalanya ya jelas bahwa masyarakat itu ya belum begitu
sadar untuk membuat IMB, itu kendala kita. Kesadarannya
masih kurang itu.

Kepada informan 2 penulis juga bertanya, Mengapa pemilik bangunan

terkadang enggan membuat surat IMB?

Daryono: “mungkin satu duga karena kewajiban ini belum masyarakat belum
memahaminya gitu kan, kewajiban tentang bangunan harus ber
IMB itu ya, artinya mungkin masih kurangnya sosialisasi dari kita
mungkin itu salah satu diantaranya artinya masih belum
sepenuhnya masyarakat itu sadar ya, yang kedua itu ya mungkin
masyarakat menganggap fungsi dari IMB itu mungkin kalo menurut
saya masyarakat mengangapnya belum terlalu penting banget lah.
Mungkin maksudnya beda sama seperti KTP segala
macam.karena anggapan ditemen-temen itu kan dibawah
71

biasanya pada saat-saat tertentu aja IMB dibutuhkan kita mau


pinjam di BANK contohnya seperti itu.”

Jawaban dari informan 1 dan 2 juga diakui oleh informan 5 selaku

masyarakat yang membuat surat IMB dengan pertanyaan “Apakah selama ini

ada sosialisasi dari pihak DInas pemerintahan tentang reribusi IMB?

Trim: “gak ada sih, itu mah paling kesadaran sendiri.

Tentunya kendala-kendala dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat

dalam membuat surat IMB yang banyak timbul dari pihak pengawasan

Pemerintah daerah sendiri disini penulis bertanya kepada informan 2 bagian

seksi ekonomi dan pembangunan dengan pertanyaan “Untuk mengatasi

kendala-kendala dari pihak internal atau eksternal dari pemerintah dalam

mengawasi bangunan tak ber IMB?

Daryono: “Kita terbantu dengan perumahan dari pengembang menengah


keatas mereka ikut dalam pengawasan pengurusan surat-surat
bangunan. Untuk rumah tinggal tunggal belum ada karena
keterbatasan personil dari pemerintah karena hanya ada tiga
orang saya sendiri dan dua orang staf saya.

Melalui informan 4 selaku masyarakat pemilik rumah tinggal tunggal yang

tinggal di daerah Kecamatan Cikarang Selatan menjelaskan mengenai

pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kecamatan Cikarang

Selatan tidak adanya sosialisasi yang berkelanjutan yang dilakukan oleh

pihak Instansi Pemerintah Kecamatan Cikarang selatan. Hal tersebut

merupakan jawaban dari wawancara penulis dengan pertanyaan “Apakah


72

selama ini ada petugas dari dinas pemerintah yang datang melakukan

sosialisasi dan pengecekan bangunan?

Trim: “gak sih, dulu doang pas mau izin mbangun rumah.

Di sisi lain dari pihak akademis memberikan penjelasan masalah kendala-

kendala yang dihadapi pemerintah daerah dari penulis dengan pertanyaan

“Kendala-kendala apa saja yang dihadapi pemerintah dalam meningkatkan

retribusi IMB?

Hedriawan: “Satu keterbatasan daripada petugas yang tidak sebanding lurus


prosentasinya dengan jumlah objek yang ada di Kabupaten
Bekasi, jadi Pemerintah dalam hal ini lebih cenderung selain
menambah petugas untuk mengelola IMB juga lebih
mengoptimalkan media-media seperti mengoptimalkan sarana-
sarana penunjang media televisi, Koran, spanduk pengumuman
itu bisa mengoptimalkan.

C.Pembahasan

Hasil penelitian mengenai Analisis sosialisasi PEMDA dalam

meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB, subbab

sebelumnya akan peneliti analisis berdasarkan teknis analisis data kualitatif.

Fokus penelitian yang telah diuraikan pada bab III akan dianalisis untuk

mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian bab I


73

1. Sosialisasi PEMDA dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat

terhadap retribusi IMB?

Peraturan Pemerintah Daerah Bekasi Nomor 15 tahun 2012 tentang

retribusi Izin Mendirikan Bangunan di Kabupaten Bekasi, masyarakat yang

membangun atau mengubah bentuk bangunan rumah wajib membuat surat

IMB. Berkaitan dengan teori Samudera, bahwa dalam melakukan sosialisasi

perlu adanya strategi dan metode yang tepat dalam diaplikasikannya dengan

baik yaitu :.

a). Publikasi

Sosialisasi kebijakan pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan

kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB di Kecamatan Cikarang

Selatan sesuai Perda No. 15 tahun 2012 itu sendiri bahwa semakin pesatnya

pembangunan fisik, memberikan akibat Pemerintah Daerah untuk menata

pengembangan wilayah secara terarah dan terpadu yang disesuaikan

dengan kenyamanan serta keamanan lingkungan. Tentunya dengan publikasi

yang baik dari pihak instansi kantor Kecamatan Cikarang Selatan dalam

menjalankan tugasnya sesuai dengan fungsinya sangat menentukan

keberhasilan sosialisasi yang akan berdampak pada tujuan kebijakan

peraturan itu sendiri.

Sosialisasasi bidang publikasi belum berhasil dengan baik, sebab ada

perbedaan pendapat menurut pernyataan informan 1 ada sosialisasi tentang


74

retribusi IMB melalui rapat minggon, sementara menurut informan 4, 5, dn 6

tidak ada sosialisasi. Dari pernyataan informan 1 dalam sosialisasi hanya

melaui rapat minggon belum melalui media cetak dan elektronik informasi

yang didapat penulis dari informan 2 dan data notulen dan daftar hadir yang

mengikuti rapat minggon hanya dihadiri Kades, kapolsek dan perangkat desa

saja, sehingga apa yang dijelaskan Camat dalam rapat minggon tentang

retribusi IMB tidak sampe ke seluruh masyarakat Cikarang Selatan

kemungkinan dari perwakilan yang hadir tidak menyampaikan lagi

masyarakat yang tidak hadir dalam rapat minggon, disini bisa dilihat dari

pernyataan informan 4,5, dan 6 tidak adanya sosialisasi dari pihak

pemerintah daerah Cikarang Selatan, dari melalui rapat minggon ini masih

kurang efektif agar masyarakat tahu tentang retribusi IMB. Disisi lain dari

pemerintahan Kecamatan Cikarang Selatan juga tidak adanya SOP

(Standard Operating Procedure) di dalam kantor Kecamatan Cikarang

Selatan, juga kurangnya sosialisasi komunikasi melalui media cetak antara

lain, tidak ada spanduk, baliho, banner yang menjelaskan masalah retribusi

IMB di Kantor Kecamatan Cikarang Selatan, selebaran ke desa-desa, selain

itu juga melalui media elektronik pun belum ada seperti iklan di tv lokal,

melalui radio, di media sosial pun penulis lihat untuk akun facebook

Kecamatan Cikarang selatan belum pernah membuat postingan informasi

tentang membuat IMB, melalui sms kepada warga juga tidak ada.
75

Sosialisasi dalam menjelaskan tentang retribusi IMB yang telah dilakukan

oleh Pemerintah Kecamatan Cikarang Selatan yaitu hanya sosialisasi melalui

rapat mingguan. Publikasi yang dilakukan kantor Kecamatan Cikarang

Selatan masih dikatakan kurang karena hanya dilakukan sesekali dan pada

saat silahturahmi ke warga saja, pernyataan dari informan 1, sehingga

ditemukan masih banyak masyarakat yang belum tahu dan tidak membuat

surat IMB, kewajiban dalam membayar retribusi di Daerah Cikarang Selatan.

b). Kegiatan

Faktor lain dalam upaya menunjang keberhasilan sosialisasi yaitu adanya

kegiatan aktifitas-aktifitas tertentu yang dihubungkan dengan program

peningkatan kesadaran masyarakat dari Kantor Kecamatan Cikarang

Selatan dalam menunjang tercapainya Peraturan Daerah Bekasi Nomor 15

Tahun 2012, Pemerintah Daerah meningkatkan kepatuhan masyarakat

terhadap retribusi IMB. Seperti kegiatan olahraga tidak ada, hanya sosialisasi

kepada masyarakat baik formal maupun non formal, menurut informan 1 ya

formalnya mungkin dalam rapat minggon misalnyakan ditingkat desa dan

tingkat kecamatan, kalo non formalnya bisa saja ketika kita lagi silahturahmi

kepada warga masyarakat. Seharusnya Pemerintahan Kecamatan Cikarang

Selatan lebih memperbanyak sosialisasi melalui kegiatan seperti lomba gerak

jalan acara pentas seni budaya disitu institusi Pemerintah Daerah bisa

menyampaikan tentang pentingnya membuat surat IMB, sehingga bisa sedikit

meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam membuat surat IMB.


76

c). Pemberitahuan

Pemberitahuan dalam hal ini mempunyai pengertian khusus yaitu menjadi

bahan berita dalam arti positif, sehingga menjadi sarana promosi yang efektif.

Retribusi dapat disosialisasikan dalam bentuk berita kepada masyarakat,

sehingga masyarakat dapat lebih cepat menerima informasi tentang retribusi

Kantor Kecamatan Cikarang Selatan dalam menjalankan tugasnya di

pemberitaan masih kurang, Pemberitaan hanya dilakukan sesekali pada saat

institusi pemerintahan silahturahmi ke masyarakat. Seharusnya Pemerintah

Kecamatan Cikarang Selatan lebih banyak pemberitaan dengan bentuk surat

kabar kepada tiap rumah, sehingga masyarakat lebih jelas dan paham

tentang membuat surat IMB.

d). Keterlibatan Komunitas

Melibatkan komunitas pada dasarnya adalah cara untuk mendekatkan

institusi retribusi IMB dengan masyarakat, dimana iklim budaya Indonesia

masih mengehendaki adat ketimuran untuk bersilahturahmi dengan tokoh-

tokoh setempat sebelum institusi retribusi IMB dibuka, Hal ini akan membantu

dalam sosialisasi Peraturan Daerah Bekasi Nomor 15 Tahun 2012.

Terkait retribusi IMB masih banyak masyarakat yang belum mengetahui

kewajiban akan hal ini. Disini penulis berpendapat sebaiknya pemerintah

daerah Kecamatan Cikarang Selatan lebih dengan komunitas majelis ta’lim,

ibu-ibu PKK, komunitas paguyuban lebih sering itu akan lebih mudah dalam

sosialisasi tentang pengetahuan masyarakat pentingnya membuat surat IMB.


77

e). Pencantuman Identitas

Berkaitan dengan pencantuman logo otoritas retribusi IMB pada berbagai

media yang ditujukan sebagai saran promosi. Di sini pemerintah daerah

cikarang selatan hanya memberikan plat nomor bagi masyarakat yang sudah

mengurus IMB, harusnya pemerintah memasang setiap rumah dengan

gambar logo IMB Dengan adanya sosialisasi menggunakan logo otoritas

retribusi IMB sehingga masyarakat tahu tentang retribusi IMB, dan tidak asing

lagi dimata masyarakat dalam membuat surat IMB. Misalnya dengan

membagikan stiker untuk dipasang setiap rumah di kaca atau tembok.

f). Pendekatan pribadi

Pendekatan pribadi yang dilakukan secara informal untuk mencapai tujuan

tertentu. Seperti menyampaikannya informasi melalui kerabat terdekat

tentang pentingnya membayar retribusi IMB.

Menurut hasil wawancara dan observasi yang penulis lakukan maka

penulis berpendapat bahwa secara umum sosialisasi pemerintah daerah

terkait Peraturan Daerah Bekasi No. 15 Tahun 2012 dalam meningkatkan

retribusi IMB di Kecamatan Cikarang Selatan belum baik, masih kurangnya

sosialisasi kepada masyarakat dan juga skill kompetensi para pegawai dalam

memberikan informasi tentang retribusi IMB ke masyarakat Kecamatan

Cikarang Selatan. Hanya mengandalkan rapat minggon, kemungkinan dalam

rapat minggon tidak hanya membahas tentang retribusi IMB saja, kurangnya

pegawai kecamatan dalam memanfaatkan media sosial di internet untuk


78

memberikan informasi tentang wajibnya membayar retribusi IMB. Juga tidak

adanya Standard Operating Procedure (SOP) di Kantor Kecamatan Cikarang

Selatan sehingga ketika ada masyarakat yang datang di Kantor Kecamatan

harusnya bisa tahu tentang cara membayar retribusi IMB, karena tidak ada

jadi masyarakat juga.

2. Kepatuhan masyarakat terhadap surat IMB?

Dalam hal kepatuhan masyarakat masih banyak yang masih belum

mematuhi aturan dalam membuat surat IMB, tentunya bukan tanpa alasan,

tertentu diantaranya karena ketidaktahuan masyarakat akan hal retribusi IMB,

yang kedua kurangnya sosialisasi dari pihak Pemerintahan kepada

masyarakat melakukan penyuluhan tentang pentingnya retribusi IMB, yang

ketiga informasi-informasi tentang retribusi IMB yang kurang melaluli media

cetak ataupun elektonik. Sehingga dengan adanya informasi-informasi

tersebut lama-lama masyarakat akan sadar akan pentingnya dalam membuat

surat IMB sesuai peraturan Perundang-Undangan, dan retribusi IMB bisa

meningkat secara bertahap

3. Kendala-kendala yang mempengaruhi kepatuhan masyarakat

terhadap retribusi IMB?

Tentunya banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh pemerintah dalam

menjalankan sosialisasi salah satunya retribusi IMB, karena masih banyak


79

masyarakat awam belum tahu tentang membayar retribusi IMB. Skill dan

kompetensi petugas dalam memanfaatkan media sosial, elektronik, media

cetak untuk memberi informasi kepada masyarakat yang ada di Kecamatan

Cikarang Selatan. Jadi Pemerintah dalam hal ini meningkatkan kompetensi

petugas untuk mengelola IMB lebih mengoptimalkan media-media seperti

mengoptimalkan sarana-sarana penunjang media televisi, Koran, spanduk

pengumuman. jadi dalam hal ini penyelengara Pemerintah petugas-

petugasnya dilatih supaya bisa piawai dalam memberikan penjelasan kepada

masyarakat baik dengan cara strategi komunikasi dan juga pemahaman

peraturan-peraturan dan regulasi. Sehingga dengan sosialisasi dari pegawai

yang menguasai skill dan kompenetsi dalam memberikan informasi yang

jelas dan sanksi yang tegas secara bertahap masyarakat akan sadar untuk

membayar retribusi IMB.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab IV maka dalam

penelitian ini penulis dapat simpulkan sebagai berikut:

1. Sosialisasi Pemerintah Daerah Cikarang Selatan dalam meningkatkan

kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB. Belum terjadinya

peningkatan retribusi IMB bisa dilihat dari data retribusi IMB tiap tahunnya

dari tahun 2014-2016 menurun. Publikasi yang kurang memadai. Para

petugas masih kurang piawai dalam memberikan sosialisasi kepada

masyarakat tentang retribusi IMB di Kecamatan Cikarang Selatan, tidak

memanfaatkan media cetak, media sosial, dan media eletronik yang ada

untuk sesering mungkin memberikan informasi tentang retribusi IMB.

Juga blm adanya logo otoritas IMB bentuk setiker di temple di rumah

warga atau spanduk pasang di dekat pinggir jalan yang mudah dibaca

orang lewat.

Dalam memberikan informasi tentang retribusi IMB hanya mengandalkan

komunikasi dari rapat minggon saja, sedangkan di rapat minggon yang

hadir tidak seluruh masyarakat di Kecamatan Cikarang Selatan,

80
81

pesertanya hanya perwakilan dari instansi pemerintahan saja, dari

perwakilan banyak yang tidak menyampaikan lagi ke masyarakat, terbukti

dari jawaban informan yang penulis dapat, tidak adanya sosialisasi dari

pihak pemerintahan. Sehingga banyak masyarakat yang tidak membayar

retribusi IMB, mengakibatkan pemasukan retribusi IMB tiap tahunnya

menurun.

2. Kepatuhan masyarakat terhadap surat IMB masih kurang. Berdasarkan

tingkat pendidikan masih banyak masyarakat tidak mengenyam

pendidikan Perguruan Tinggi 91,7%, sehingga kesadaran masyarakat

dan pengetahuan tentang pentingnya membuat surat IMB masih kurang,

itu yang membuat tidak berhasilnya sosialisasi, komunikasi dari aparat

kepada seluruh penduduk masyarakat Cikarang Selatan masih belum

seperti yang diharapkan. Dan juga hukum yang kurang tegas sanksi bagi

pemilik bangunan yang tidak memeiliki surat IMB, sehingga dapat

menimbulkan efek jera bagi pemilik bangunan itu sendiri dan pastinya

akan segera membuat surat IMB.

3. Kendala-kendala yang mempengaruhi kepatuhan masyarakat terhadap

retribusi IMB yaitu, skill dan kompetensi daripada petugas dalam

melakukan sosialisasi kurang di lapangan hanya mengandalkan rapat

minggon, yang tidak memanfaatkan media sosial, elektronik, media cetak

untuk memberikan informasi kepada masyarakat yang ada di Kecamatan

Cikarang Selatan tentang tata cara dalam membayar retribusi IMB.


82

B. saran

Secara keseluruhan sosialisasi Pemerintah daerah kecamatan Cikarang

Selatan dalam meningkatkan Kepatuhan masyarakat terhadap retribusi IMB

sudah sesuai dengan peraturan yang ada, namun di tahun 2015 dan 2016,

masyarakat yang membuat surat IMB mengalami penurunan, saran dari

penulis dalam Penelitian ini adalah:

1. Pemerintah di Kantor Kecamatan Cikarang Selatan untuk meningkatkan

skill dan kompetensi petugasnya pada bagian ekonomi dan

pembangunan supaya bisa lebih intensif dalam memberikan publikasi

penjelasan kepada masyarakat baik dengan cara strategi komunikasi

dan juga pemahaman peraturan-peraturan dan regulasi. Untuk lebih

banyak memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya

membayar retribusi IMB, Pemerintah juga tidak hanya mengandalkan

sosialisasi lewat rapat formal atau non formal, aparat dapat memasang

iklan melalui TV, radio, media cetak Koran, spanduk, atau mungkin

poster dan baliho juga media sosial. Dan juga logo otoritas IMB dalam

bentuk stiker di temple di setiap rumah agar masyarakat tahu tentang

retribusi IMB.
83

2. Mulai diberlakukannya sanksi yang tegas kepada masyarakat yang

belum membuat surat IMB misalnya dengan stiker penyegelan, atau

mungkin bisa bongkar untuk bangunan yang tidak masuk terhitung

dalam surat IMB.


DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-Buku

Anggara, sahya. 2014. Kebijakan Publik. Bandung : Pustaka setia

Dwi, Yuni. 2008. Panduan praktis mengurus IMB Rumah tinggal. Yogyakarta:

Pustaka grhatama

Dewi, Rahayu kusuma, 2016. Studi Analisis Kebijakan, Bandung:

CV Pustaka Setia.

Darwin. 2010. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Jakarta: Mitra Wacana

Media

Gobel, zubair Erwin, 2016. Pengelolaan danau limboto dalam perspektif

kebijakan publik, Yogyakarta: Deepublish (CV Budi Utama)

Lumbantoruan, Sophar. 2005. Akuntansi Pajak. Jakarta: PT. Grasindo

Manan, Bagir.2005. Menyongsong fajar otonomi daerah, Yogyakarta: Pusat

studi hukum

Mardiasmo. MBA., Ak. 2006. Perpajakan (Edisi Revisi 2006). Yogyakarta:

C.V Andi Offset.


Pandiangan, Liberti. 2014. Administrasi Perpajakan. Ciracas, Jakarta:

erlangga.

Pasolong, Harbani. 2007. Administrasi Publik, Bandung: Alfabeta

Priantara, Diaz. 2012. Perpajakan Indonesia, Edisi 2. Jakarta: Mitra Wacana

Media

Siagian, Sondang P. 2004. Filsafat Administrasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Siahaan, Marihot P. 2013. Pajak Daerah & Retribusi Daerah. Jakarta:

Rajagrafindo Persada.

Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Tim Penyusun. 2016. Pedoman Penulisan Skripsi. Jakarta: Institut Imu

Sosial Dan Manajemen STIAMI.

Waluyo. 2011. Perpajakan Indonesia. Buku 2. Jakarta: Salemba.

Winardi (Pen.). 1986. Asas-Asas Manajemen. Bandung: Alumni.

Winarno, Budi. 2012. Kebijakan Publik Teori, Proses dan Studi Kasus.

Yogyakarta: Media Pressindo

Yosef p,2016. Pengelolaan danau limboto dalam perspektif kebijakan publik,

Yogyakarta: Deepublish (CV Budi Utama)


B. Undang-Undang

Undang-undang Republik IndonesiaNomor 28 tahun 2009 tentang pajak

daerah dan retribusi daerah

Undang-undang nomor 34 tahun 2000 perubahan atas undang-undang

Republik Indonesia nomor 18 tahun 1997 tentang pajak Daerah dan

retribusi Daerah

C. Karya akademis

Agung Dwi Prabowo pada tahun 2015 jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi

dan Bisnis, Universitas Sam Ratulangi, Manado. (Jurnal EMBA vol.3 No.1

Maret 2015, hal. 1063-1070)

Mochammad Rizza Faizin, Kertahadi, dan Ika Ruhana, pada tahun 2016,

jurusan Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas

Brawijaya Malang. (jurnal perpajakan JEJAK Vol. 9 No. 1 2016)

Donny Binambuni, pada tahun 2013, jurusan akuntansi, Fakultas ekonomi

dan bisnis, Universitas Sam Ratulangi Manado. (Jurnal EMBA Vol. 1 No. 4

desember 2013, hal 2078-2087)

D. Lain-lain

https://beritacikarang.com/target-retribusi-imb-di-kabupaten-bekasi-anjlok-rp-

25-milyar/
PEDOMAN WAWANCARA

No. Informan: 01

A. Jadwal Wawancara

Hari/Tanggal : Senin, 12 juni 2017

Waktu : 08:10 WIB

B. Indentitas Informan

Narasumber : Enop Can

Jabatan : Camat Cikarang Selatan

C. Pertanyaan penelitian

1. Bagaimana sosialisasi Bapak dalam upaya-upaya

meningkatkan retribusi IMB?

Jawab: ya yang kita lakukan dalam rangka meningkatkan tentu

retribusi IMB pertama kita, dasar kita itu kan pelimpahan

kewenangan yang diberikan Bupati kepada Camat yaitu mengenai

rumah tinggal tunggal adapun langkah-lanngkah yang kita lakukan

kita Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk timbul


kesadaran agar rumah-rumah untuk dibuatkan Izin Mendirikan

Bangunan atau IMB, jadi seperti itu yang kita lakukan.

2. Apa saja program yang bapak buat untuk disosialisasikan agar

masyarakat mengetahui akan wajib dalam pembuatan surat

IMB?

Jawab: Program yang diterapkan tentu tadi sosialisasi kepada

masyarakat baik formal maupun non formal, ya formalnya mungkin

dalam rapat minggon misalnyakan ditingkat desa dan tingkat

kecamatan, kalo non formalnya bisa saja ketika kita lagi

silahturahmi kepada warga masyarakat kita ngobrol-ngobrol ya kita

masukan bahwa IMB itu sangat dibutuhkan selain meningkatkan

PAD dan juga untuk mendata bahwa rumah tersebut sudah

mempunyai Izin Mendirikan Bangunanya.

3. Apakah selama ini sudah berjalan dengan lancar ada

peningkatan dari masyarakat dalam membuat surat IMB?

Jawab: ya untuk di Cikarang Selatan ya Alhamdulillah ketika saya

melaksanakan tugas sebagai Camat di Cikarang Selatan dari tahun

ke tahun itu selalu meningkat itu IMB nya.

4. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi Pemerintah dalam

meningkatkan retribusi IMB?


Jawab: ya kendalanya ya jelas bahwa masyarakat itu ya belum

begitu sadar untuk membuat IMB, itu kendala kita. Kesadarnya

masih kurang itu.

5. Apakah ada sumber informasi mengenai yang terjadi apabila

masyarakat tidak membuat IMB?

Jawab: ya ada saja kan informasinya, ada dari masyarakat, ada dari

petugas kita yang ke lapangan.

6. Apakah selama ini ada komunikasi dengan komunitas-

komunitas tentang retribusi IMB di Cikarang Selatan?

Jawab: komunikasi pasti ada, kadang pada saat kita bertemu

silahturahmi di komunitas karang taruna atau majelis kita sampaikan

disitu tentang retribusi IMB dan cara pembayarannya.

7. Apakah bapak sering memberi tahu kepada saudara atau

kerabat tentang retribusi IMB?

Jawab: pernah kadang saya bilang kepada saudara dan kerabat

bahwa membuat surat IMB dengan membayar retribunya itu penting


PEDOMAN WAWANCARA

No. Informan: 02

A. Jadwal Wawancara

Hari/Tanggal : Senin, 12 juni 2017

Waktu : 09:05 WIB

B. Indentitas Informan

Narasumber : Daryono

Jabatan : Kepala seksi Ekonomi dan Pembangunan

C. Pertanyaan penelitian

1. Bagaimana sosialisasi yang dilakukan dalam rangka

meningkatkan kepatuhan retribusi IMB di Cikarang Selatan?

Jawab: Selama ini kita selalu memberikan pemahaman kepada

masyarakat bahwasanya untuk mendirikan suatu bangunan itu

harus ada izin, kebetulan Kecamatan diberikan kewenangan untuk

penerbitan rumah tinggal tunggal. Selama ini kami

mensosialisasikan baik itu melalui rapat-rapat formal maupun non

formal. Seperti misalnya kalo rapat itu kan di desa itu kan ada rapat

minggon, rapat minggon kita sampaikan disana ketika rapat non

formalnya ketika kegiatan dimasyarakat dan mengundang kita pun

sampaikan, kemudian juga selain itu kita memberikan semacam

pemberitahuan kepada pengembang-pengembang yang ada di


Cikarang Selatan agar memberitahukan masyarakatnya yang

melakukan renovasi atau perubahan rumah tinggal tunggalnya.

2. Untuk mengatasi kendala-kendala dari pihak internal atau

eksternal dari pemerintah dalam mengawasi bangunan tak ber

IMB?

Jawab: Kita terbantu dengan perumahan dari pengembang

menengah keatas mereka ikut dalam pengurusan surat-surat

bangunan. Untuk rumah tinggal tunggal belum ada karena

keterbatasan personil dari pemerintah karena hanya ada tiga orang

saya sendiri dan dua orang staf saya.

3. Apakah dalam melakukan sosialisasi IMB kepada masyarakat

sudah melalui media cetak dan elektronik?

Jawab: belum, baru hanya melalui rapat-rapat.

4. Apakah ada pencantuman identitas dari retribusi IMB sendiri

seperti stiker logo retribusi IMB?

Jawab: bagi masyarakat yang telah mengurus IMB nanti akan

dikasih plat nomor yang bisa dipasang di rumahnya. Namun yang

belum mengurus belum dapat plat nomor

5. Bagaimana proses pengajuan pembuatan surat IMB di Daerah

Cikarang Selatan?

Jawab: Tentunya kita mengacu pada ketentuan yang ada yang

pertama persyaratan itu kan harus dipenuhi adalah foto copy KTP
yang bersangkutan, bukti kepemilikan tanah bisa berbentuk

sertifikat atau AJB (Akta Jual Beli) atau PPJB, terus yang ketiga

pembayaran lunas PBB, pemohon langsung datang ke kecamatan,

yang ke empat gambar (tampak atas samping, dan depan).

Pemohon datang ke kecamatan mengisi surat pemohon IMB rumah

tinggal tunggal dilampiri debgan persyaratan-peryaratan. Paling

lama 1 (satu) minggu.

6. Mengapa pemilik bangunan terkadang enggan membuat surat

IMB?

Jawab: mungkin satu duga karena kewajiban ini belum masyarakat

belum memahaminya gitu kan, kewajiban tentang bangunan harus

ber IMB itu ya, artinya mungkin masih kurangnya sosialisasi dari kita

mungkin itu salah satu diantaranya artinya masih belum

sepenuhnya masyarakat itu sadar ya, yang kedua itu ya mungkin

masyarakat menganggap fungsi dari IMB itu mungkin kalo menurut

saya masyarakat mengangapnya belum terlalu penting banget lah.

Mungkin maksudnya beda sama seperti KTP segala macam.karena

anggapan ditemen-temen itu kan dibawah biasanya pada saat-saat

tertentu aja IMB dibutuhkan kita mau pinjam di BANK contohnya

seperti itu

7. Bagaimana cara untuk mengatasi masalah tersebut?


Jawab: sementara ini kalau kita lakukan ya itu kang setiap rapat

formal maupun non formal, sosialisasi kepada masyarakat,

kemudian juga komunikasi dengan pengembang yang ada di

Cikarang Selatan.

8. Dalam satu tahun ada berapa masyarakat yang membuat surat

IMB?

Jawab: untuk tahun 2014 total 381 IMB, tahun 2015 total 300 IMB,

dan tahun 2016 total 240 IMB, menurun.

9. Berapa retribusi dalam membuat Surat IMB di Daerah Cikarang

Selatan untuk Rumah tinggal tunggal?

Jawab: luas bangunan x Rp. 20.000,00 (dua puluh ribu) untuk

bangunan bertingkat dan luas bangunan x Rp. 15.000,00 (lima

belas ribu) untuk bangunan biasa atau tidak tingkat.

10. Apakah selama ini ada kegiatan atau acara olahraga atau libur

nasional yang dihubungkan dengan program peningkatan

kesadaran masyarakat akan retribusi IMB?

Jawab: Paling ya kegiatan pengajian atau syukuran, kadang acara

pentas budaya di instansi pemerintahan tapi jarang dihubungkan

dengan program peningkatan retribusi IMB.

11. Apakah ada informasi pemberitahuan langsung ke masyarakat

dalam komunikasi ataupun bentuk surat?


Jawab: komunikasi langsung ke masyarakat belum paling hanya

baru di rapat-rapat internal pemerintahan hanya perwakilan dari

lurah, kasi kependudukan dan Kapolsek Cikarang Selatan, dalam

bentuk suratpun belum langsung di bagikan kepada masyarakat per

rumah.

12. Apakah bapak sering memberi tahu kepada saudara atau

kerabat tentang retribusi IMB?

Jawab: Ya pernah pas lagi ingat saya bilang ke saudara dan

tetangga tentang pembuatan surat IMB.


PEDOMAN WAWANCARA

No. Informan: 03

A. Jadwal Wawancara

Hari/Tanggal :

Waktu :

B. Indentitas Informan

Narasumber : Hedriawan, SH, MM

Jabatan : Akademisi

C. Pertanyaan penelitian

1. Apa yang bapak ketahui tentang retribusi IMB?

Jawab: Ijin Mendirikan Bangunan adalah suatu pendapatan asli

daerah yang diatur oleh undang-undang dalam hal ini adalah

undang-undang 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi

daerah. Jadi retribusi IMB bisa dipungut kalo sudah ada peraturan

daerahnya. Prinsipnya IMB adalah merupakan bagian dari pada

jenis dan objek jenis retribusi masuk kedalam kategori retribusi

perizinan tertentu.

2. Bagaimana sosialisasi retribusi IMB yang selama ini dilakukan

pemerintah Daerah?

Jawab: Pemerintah daerah khususnya di Kabupaten Bekasi

sepengetahuan saya dalam upaya optimalisasi penerimaan


retribusi perizinan tertentu khususnya dari izin mendirikan

bangunan sudah melakukan upaya-upaya adalah dengan

melakukan sosialisasi pada masyarakat bahwa pentingnya

masyarakat sadar akan izin mendirikan bangunan, intinya

kesadaran masyarakat. Yang kedua Upaya itensifikasi dan

ekstensifikasi dari pemungut pengelola IMB itu sendiri dalam hal ini

pemerintah daerah. Melakukan upaya-upaya pendataan, upaya-

upaya pengendalian, pengawasan dan juga upaya-upaya sanksi

bagi bangunan-bangunan yang yang tidak ada IMB karena dengan

sanksi itu kan berarti ada efek jera. Sanksi dengan berupa

penempelan stiker dan bisa penyegelan juga tidak menutup

kemungkinan bangunan tidak ada IMB nya bisa pembongkaran.

Karena kalo masyarakat sudah bayar otomatis penerimaan IMB

kusus kabupaten bekasi pendapatanya akan meningkat dan

menyumbangkan peberimaan yang signifikan bagi pendapatan asli

daerah Kabupaten Bekasi.

3. Apakah pelaksanaan sosialisasi pemerintah daerah dalam

meningkatkan pemungutan retribusi IMB selama ini sesuai

dengan prosedur yang berlaku?

Jawab: Sudah sesuai prosedur yang berlaku khususnya di

Kabupaten Bekasi karena pemungutan sudah berlandasan dan

sudah ada legal standing yang jelas yang pertama adalah


pemungutan retribusi IMB harus berdasarkan perundangan

perpajakan yang berlaku dalah hal ini adalah undang-undang 28

tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah, yang kedua

diturunkan peraturan daerah tentang pemungutan retribusi

kabupaten bekasi, yang ketiga adalah peraturan bupati yang

mengatur dengan sisi dan tata cara pemungutan dan pembayaran

retribusi IMB. Jadi IMB di kabupaten bekasi sudah sesuai dengan

mekanisme peraturan perpajakan yang berlaku karena dilandasi

oleh peraturan perundang-undangan. Jadi intinya sepanjang suatu

pungutan dilandasi oleh aturan berarti pungutan itu adalah legal

4. Upaya-upaya apa saja yang sebaiknya dilakukan pemerintah

dalam rangka meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap

retribusi IMB?

Jawab: Upaya Pemerintah dalam mendorong masyarakat sadar

untuk membayar retribusi IMB yang pertama malakukan

pendekatan secara personal face to face dengan mengunakan

strategi komunikasi yang baik pendekatan secara manusiawi bijak

dan sopan. Berikutnya juga dengan sosialisasi bisa dengan media-

media tempel seperti spanduk, bisa dengan media elektonik radio

atau televisi atau pengumuman-pengumuman lainya bisa dengan

selebaran dan bisa juga oleh petugas-petugas dari pelayanan

terpadu satu pintu itu sendiri. Disamping bitu pemerintah juga


melakukan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi retribusi Izin

Mendirirkan Bangunan.

5. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penerimaan dalam

meningkatkan retribusi IMB?

Jawab: Pertama adalah upaya intensifikasi dan ektensifikasi yang

kedua juga meningkatkan kompetensi daripada pengelola IMB itu

sendiri jadi dalam hal ini penyelengara Pemerintah petugas-

petugasnya dilatih supaya dia bisa piawai dalam memberikan

penjelasan kepada masyarakat baik dengan cara strategi

komunikasi dan juga pemahaman peraturan-peraturan dan regulasi.

Kadang kala ada petugas atau pengelola IMB yang tidak begitu

paham secara utuh tentang regulasi peraturan yang mengatur

tentang IMB. Jadi kompetensi, komunikasi, dan keahlian.

6. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi pemerintah dalam

meningkatkan retribusi IMB?

Jawab: Satu keterbatasan daripada petugas yang tidak sebanding

lurus prosentasinya dengan jumlah objek yang ada di Kabupaten

Bekasi, jadi Pemerintah dalam hal ini lebih cenderung selain

menambah petugas untuk mengelola IMB juga lebih

mengoptimalkan media-media seperti mengoptimalkan sarana-

sarana penunjang media televisi, Koran, spanduk pengumuman itu

bisa mengoptimalkan.
PEDOMAN WAWANCARA

No. Informan: 04

A. Jadwal Wawancara

Hari/Tanggal : Minggu, 9 juli 2017

Waktu : 13.30 WIB

Tempat : Desa Serang, kecamatan Cikarang Selatan

B. Indentitas Informan

Narasumber : Mira (pemilik bangunan rumah tinggal tunggal)

C. Pertanyaan penelitian

1. Sudah berapa lama ibu tinggal di Kecamatan Cikarang Selatan?

Jawab: saya di sini baru 4 tahun

2. Apakah dalam pembangunan rumah ini ibu mengajukan

permohonan IMB?

Jawab: enggak sih ini, enggak tahu ini dari mertua.

3. Kenapa ibu tidak mengurus IMB?

Jawab: saya kurang ngerti kalo masalah itu, tahunya saya dibikinin

rumah aja. Kurang tahu masalah IMB.

4. Apakah ibu sudah tahu jika pemilik bangunan wajib membuat

surat IMB yang sudah tercantum dalam undang-undang PDRD

RI No.28 TAHUN 2009?

Jawab: belum, saya ngerti aja enggak masalah itu.


5. Apakah selama ini ada sosialisasi dari pihak DInas

pemerintahan tentang reribusi IMB?

Jawab: engak sih disini enggak ada, dari RT nya juga enggak ada.

6. Apakah selama ini ada pegawai dinas pemerintah yang datang

melakukan sosialisasi pengecekan bangunan?

Jawab: enggak RT nya aja cuek, gak ngurus sendiri gak bakal.

7. Apakah Ibu siap jika sewaktu-waktu bangunan rumah

dibongkar ataupun kena pelebaran jalan tidak dapat ganti rugi

yang sesuai karena tidak memiliki surat MB?

Jawab: ya gak mau lah, Rugi dong saya.


PEDOMAN WAWANCARA

No. Informan: 05

A. Jadwal Wawancara

Hari/Tanggal : Minggu, 9 juli 2017

Waktu : 14.45 WIB

Tempat : Desa Sukaresmi, kecamatan Cikarang Selatan

B. Indentitas Informan

Narasumber : Trim (pemilik bangunan rumah tinggal tunggal)

C. Pertanyaan penelitian

1. Sudah berapa lama ibu tinggal di Kecamatan Cikarang Selatan?

Jawab: dari tahun 2008, jadi udah 9 tahun.

2. Apakah dalam pembangunan rumah ini ibu mengajukan

permohonan IMB?

Jawab: iya sih, mengajukan IMB.

3. Berapa lama dalam proses mengurus IMB?

Jawab: suami saya sih yang ngurusinya, kira-kira nyampe 1

bulanan.

4. Apakah ibu sudah tahu jika pemilik bangunan wajib membuat

surat IMB yang sudah tercantum dalam undang-undang PDRD

RI No.28 TAHUN 2009?


Jawab: udah pernah denger sih kalo mau mbangun kan harus ada

IMB nya,

5. Apakah selama ini ada sosialisasi dari pihak DInas

pemerintahan tentang reribusi IMB?

Jawab: gak ada sih, itu mah paling kesadaran sendiri.

6. Apakah selama ini ada pegawai dari dinas pemerintah yang

datang melakukan sosialisasi dan pengecekan bangunan?

Jawab: gak sih, dulu doang pas mau izin mbangun rumah.
PEDOMAN WAWANCARA

No. Informan: 06

A. Jadwal Wawancara

Hari/Tanggal : Minggu, 9 juli 2017

Waktu : 15.05 WIB

Tempat : Desa Sukaresmi, kecamatan Cikarang Selatan

B. Indentitas Informan

Narasumber : Aceng (pemilik bangunan rumah tinggal tunggal)

C. Pertanyaan penelitian

1. Sudah berapa lama bapak tinggal di Kecamatan Cikarang

Selatan?

Jawab: disini udah 53 tahun

2. Apakah dalam pembangunan rumah ini bapak mengajukan

permohonan IMB?

Jawab: enggak,di kampung tidak ada IMB.

3. Kenapa bapak tidak mengurus IMB?

Jawab: saya tidak mengurus IMB berbelit-belit kadang

persyaratanya, rumah kampung 99% gak ada yang pakai IMB

lagian gak perlu itu gak masalah kalau di kampung, mungkin kalau

di perumahan iya.rumah kampung gak pernah bikin.


4. Apakah bapak sudah tahu jika pemilik bangunan wajib

membuat surat IMB yang sudah tercantum dalam undang-

undang PDRD RI No.28 TAHUN 2009?

Jawab: enggak tahu, karena gak ada penyuluhan.

5. Apakah selama ini ada sosialisasi dari pihak DInas

pemerintahan tentang reribusi IMB?

Jawab: belum pernah ada, belum ada.kalo ke saya belum ada gak

tahu ke yang lain.

6. Apakah selama ini ada pegawai dari dinas pemerintah yang

datang melakukan sosialisasi dan pengecekan bangunan?

Jawab: gak ada, bukan gak ada saya belum pernah nemu. gak ada

yang nyuruh.

7. Apakah Bapak siap jika sewaktu-waktu bangunan rumah

dibongkar ataupun kena pelebaran jalan tidak dapat ganti rugi

yang sesuai karena tidak memiliki surat MB?

Jawab: marah tanah saya, bukan mas, marah marah kalo gak di

ganti uang kalo diganti uang gak marah. Gak mau walau di ganti

tapi tidak sesuai permintaan saya.


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Mokhammad Faiyzal Khoiyrudin nama penulis dalam

skripsi ini. Lahir pada tanggal 4 februari 1991 di Kota

Purbalingga, Jawa Tengah. Anak pertama dari tiga

bersaudara, dari pasangan Bapak Sehono dan Ibu

Suparni, yang beralamat di Desa Toyareka Rt 01 Rw 01, Kecamatan

Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Penulis menempuh pendidikan dimulai

dari SD negeri 1 Toyareka lulus tahun 2004, melanjutkan ke Sekolah

Menengah Pertama di SMP Negeri 4 Purbalingga lulus tahun 2007,

melanjutkan lagi di Sekolah Menengah Kejuruan SMK (Yayasan Pendidikan

Tekhnologi) YPT 2 Purbalingga lulus tahun 2010, Kemudian melanjutkan lagi

Pendidikan di Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI di Cikarang

Kabupaten Bekasi Program Sarjana (S1) Ilmu Administrasi Publik

konsentrasi Perpajakan pada tahun 2013. Dengan modal niat, doa,

ketekunan dan motivasi yang tinggi terus belajar dan berusaha menyususun

Skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana dan lulus,

penulis telah berhasil menyelesaikan skripsi ini. Semoga bisa memberikan

konstribusi positif bagi dunia pendidikan, masyarakat, serta dinas yang

bersangkutan. Semoga harapan dan cita-cita penulis dapat tercapai. Aminn


Akhir kata penulis mengucapkan rasa syukur yang sebesar-besarnya

kepada allah swt, atas terselesaikanya skripsi ini dengan judul “ANALISIS

SOSIALISASI PEMDA DALAM MENINGKATKAN KEPATUHAN

MASYARAKAT TERHADAP RETRIBUSI IMB DI DAERAH CIKARANG

SELATAN”