Anda di halaman 1dari 17

Pemerataan Sumber Daya Proyek

Konsep Proposal Penelitian

Oleh
Denny Alexander Immanuel Paat
19202109006

PASCA SARJANA TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan pertolongannya yang telah
memberikan saya kekuatan dan kemampuan sehingga dalam penyusunan konsep proposan ini
dapat selesai dengan begitu baik.
Penulisan tugas ini bertujuan sebagai prasyarat untuk menyelesaikan mata kuliah Metode
Penelitian dan Statistika Lanjut Semester I di Teknik Sipil Program Pasca Sarjana Universitas
Sam Ratulangi Manado, dengan judul “Pemerataan Sumber Daya Proyek“ .
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan di dalam penulisan yang
disebabkan karena terbatasnya kemampuan penulis, untuk itu masukan berupa saran dan
perbaikan sangat penulis harapkan untuk lebih baiknya tulisan ini dan semoga tulisan ini akan
bermanfaat bagi kita sekalian.

Manado, November 2019

Denny A.I. Paat


19202109006

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ....................................................................... 2
1.3 Pembatasan masalah ...................................................................... 3
1.4 Tujuan Penulisan ........................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Teori Dasar .................................................................................... 4
2.2 Sumber Daya ................................................................................. 4
2.3 Pemerataan Sumber Daya .............................................................. 8
2.4 Elemen-elemen Penting Dalam Pemerataan Sumber Daya ........... 8
2.5 Contoh ............................................................................................ 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam Metode Optimalisasi Peningkatan kualitas perencanaan dan pengendalian proyek
selain metode CPM, PDM, dan PERT ada salah satu Metode yang sangat berkaitan erat dengan
efisiensi penggunaan sumber daya pekerja proyek yang disebut “Resource Leveling” atau
Perataan Tenaga Kerja.
Dengan persaingan dalam bidang konstruksi yang sangat ketat dan kompetitif seperti
saat ini, peningkatan kualitas dan efisiensi biaya merupakan langkah-langkah yang harus selalu
diupayakan.Perencanaan dan pengalokasian sumber daya yang optimal dalam hal ini
merupakan salah satu pilihan yang menjanjikan. Dalam suatu proyek, tiap-tiap aktifitas
membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang seringkali tidak sama, sehingga pada proyek dengan
jumlah aktifitasnya yang banyak, kebutuhan tenaga kerja yang tidak sama dari hari ke hari akan
menimbulkan fluktuasi kebutuhan tenaga kerja dengan dampak yang bisa menyulitkan
perencana proyek.
Dalam suatu proyek konstruksi yang kompleks, perlu diperhatikan dalam hubungan
antara jadwal dan sumber daya adalah usaha pemakaian secara efisien. Disini yang akan ditinjau
adalah sumber daya yang berbentuk tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan salah satu sumber
daya yang penting, seringkali penyediaan terbatas, baik karena faKtor kualitas ataupun hal – hal
lain. Merekrut, menyeleksi, dan melatih tenaga kerja memerlukan biaya mahal dan
membutuhkan waktu lama sebelum mereka siap pakai. Setelah mereka bergabung dengan
proyek, tidak mudah untuk melepas dan memanggil kembali untuk bekerja sesuai fluktuasi
pekerjaan yang tersedia. Sedangkan menahan mereka untuk stand – by akan menelan biaya yang
dipandang tidak efisien. Oleh karena itu, diusahakan jangan sampai terjadi fluktuasi keperluan
secara tajam. Metode CPM dapat membantu mengatasi masalah tersebut, yang dikenal sebagai
pemerataan sumber daya atau resource leveling.

1
PERENCANAAN PENGORGANISA
MANAJEME
PLANNING SIAN
KEGIATAN

PROYEK
FUNGSI

ORGANIZING
N

PELAKSANAAN PENGENDALIAN
ACTUATING CONTROLLING

MANAJEMEN MANAJEMEN
AREA MANAJEMEN

BIAYA SUMBER
DAYA
MANAJEMEN MANAJEMEN
PROYEK

MUTU LINGKUNGAN
MANAJEMEN MANAJEMEN
WAKTU RISIKO
MANAJEMEN MANAJEMEN
K3 SISTIM
INFORMASI
KINERJA PROYEK
EFEKTIVITAS FUNGSI/K3
EFISIENSI BIAYA
KETEPATAN
WAKTU/FUNGSI
JAMINAN MUTU

Gambar 1.1. Proses Manajemen Proyek dan Pencapaian Kinerjanya

Sehingga manajemen dapat diartikan sebagai ilmu dan seni tentang upaya untuk
memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan secara efektif dan
efisien. Menurut Schwalbe (2000,p4), proyek ialah usaha temporer yang dilakukan untuk
menyelesaikan suatu tujuan yang unik.

1.2 Perumusan Masalah

2
Dapat mengendalikan dan merencanakan komposisi tenaga kerja untuk setiap jenis
pekerjaan dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan selama proyek berlangsung.
1.3 Pembatasan Masalah
Dalam penulisan ini akan dibahas Manajemen Pemerataan Sumber Daya dalam suatu
proyek

1.4 Tujuan penulisan


 Dapat menentukan ukuran dan jumlah tenaga kerja
 Dapat mengendalikan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan selama proyek
berlangsung
 Dapat merencanakan scheduling dan pengawasan kegiatan tenaga kerja dalam suatu
proyek

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Dasar


Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi didalam manajemen proyek tergantung pada dua
faktor utama yaitu sumber daya dan fungsi manajemen. Sumber daya terdiri dari manusia, uang,
peralatan dan material. Sedangkan fungsi manajemen dimaksudkan sebagai kegiatan-kegiatan
yang dapat mengarahkan atau mengendalikan sekelompok orang yang tergabung dalam suatu
kerja sama untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Dalam penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi, kegiatan yang dilakukan oleh sumber daya manusia, ditunjang dengan
uang, material dan peralatan, perlu ditata melalui fungsi-fungsi manajemen dalam batas waktu
yang disediakan sehingga memenuhi prinsip efisiensi dan efektifitas.

2.2 Sumber Daya


2.2.1 Manusia
Manusia sebagai sumber daya utama diartikan sebagai tenaga kerja baik yang
terlibat langsung maupun tidak terlibat langsung dengan pekerjaan konstruksi. Tenaga
yang terlibat langsung adalah tenaga kerja yang berada pada kelompok pemberi pekerjaan
(pengguna jasa), kelompok kontraktor (penyedia jasa), dan kelompok konsultan
(penyedia jasa). Berdasarkan kualifikasinya para tenaga kerja tersebut dapat
dikelompokan ke dalam ”tenaga ahli” dan ”tenaga terampil”.

2.2.2 Uang
Uang merupakan sumber daya sangat penting dalam manajemen proyek.
Ketidakcukupan uang, sulit untuk mengharapkan penyelenggaraan manajemen proyek
sesuai dengan ikatan kontrak yang disepakati antara para pihak yang menandatangani
perjanjian kontrak. Seluruh kegiatan penyelenggaraan pekerjaan konstruksi pada seluruh
kelompok yang terlibat, memerlukan biaya yang besarnya telah disepakati di dalam surat
perjanjian kontrak. Jika terjadi ketidaksepakatan (dispute) dalam pelaksanaan pekerjaan,

4
biasanya berdampak pada “nilai uang” yang harus disepakati, dokumen kontrak telah
mengatur tata cara penyelesaian hukum yang harus ditempuh.
Uang sangat penting karena seluruh kegiatan pekerjaan konstruksi memerlukan
pembiayaan, menyangkut : rekruitmen manusia (tenaga kerja); penggunaan jasa tenaga
kerja (tenaga ahli, tenaga terampil, tenaga non skill); penggunaan peralatan (alat-alat berat
maupun alat-alat laboratorium); pembelian bahan dan material, pengolahan bahan dan
material, baik bagi kelompok pengguna jasa maupun penyedia jasa. Jadi pengertian
“uang” di dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi (civil works) bukan semata-mata
untuk pembiayaan pelaksanaan konstruksi oleh kontraktor, tetapi juga termasuk biaya
yang harus dikeluarkan untuk konsultan perencana, konsultan pengawas dan untuk
pengguna jasa dalam suatu kurun waktu yang telah disepakati.

2.2.3 Peralatan
Peralatan dalam pekerjaan konstruksi diartikan sebagai alat lapangan (alat berat),
peralatan laboratorium, peralatan kantor (misalnya computer), dan peralatan lainnya.
Dengan menggunakan peralatan yang sesuai sasaran pekerjaan dapat dicapai dengan
ketepatan waktu yang lebih akurat, serta memenuhi spesifikasi teknis yang telah
dipersyaratkan.

2.2.3.1. Alat-alat berat


Jenis peralatan dengan variasi kapasitas dan kegunaannya dapat
digunakan untuk pekerjaan konstruksi jalan jembatan sesuai fungsinya.
Berdasarkan jenis peralatan dan fungsinya, dikaitkan dengan jenis pelaksanaan
pekerjaannya dapat dikelompokan sebagaimana tertulis pada Tabel 2.1.
Pemilihan dan pemanfaatan peralatan harus sesuai dengan kebutuhan
ditinjau dari jenis, jumlah, kapasitas maupun waktu yang tersedia. Demikian pula
cara penggunaannya, harus mengikuti prosedur pengoperasian dan
perawatannya, sesuai dengan fungsi masing-masing peralatan.

5
Tabel 2.1. Jenis peralatan dan penggunaannya

2.2.3.2. Peralatan laboratorium


Peralatan laboratorium diperlukan dalam rangka melakukan pengawasan
dan pengendalian mutu atas pekerjaan konstruksi yang dilaksanakan oleh
kontraktor. Jenis peralatan laboratorium dapat dilihat pada Tabel 2.2. Jenis,
jumlah dan waktu diperlukannya peralatan-peralatan laboratorium tersebut
tergantung pada ruang lingkup kegiatan pengawasan atas pekerjaan konstruksi.
Selain peralatan tersebut ada beberapa peralatan yang spesifik seperti untuk
pengujian pondasi soil cement dan bahan-bahan struktur (beton, pasangan batu
dan lain-lain).

6
Tabel 2.2. Jenis Pengujian dan Alat yang digunakan

2.2.3 Bahan
Bahan diartikan sebagai bahan baku natural maupun melalui pengolahan, dan
setelah diproses ditetapkan menjadi item pekerjaan sebagaimana dituangkan di dalam
dokumen kontrak. Bahan baku (tanah, batu, aspal, semen, pasir, besi beton, dll.) dan bahan
olahan (agregat, adukan beton, pofil baja dll.) merupakan sumber daya yang harus
diperhitungkan secara cermat, karena pengaruhnya di dalam perhitungan biaya pekerjaan
konstruksi sangat besar. Oleh karena itu lokasi bahan baku perlu secara cermat ditetapkan
berdasar jarak dan volume yang tersedia, memenuhi syarat menjadi bahan olahan. Survai
untuk mendapatkan informasi lokasi bahan baku perlu dilakukan, guna mendapatkan data

7
akurat sebagai masukan bagi kontraktor dalam menyiapkan penawaran, maupun pada
tahap pelaksanaan pekerjaan.

2.3 Pemerataan Sumber Daya (Resource Leveling)


Aspek yang perlu diperhatikan di dalam penyusunan jadwal proyek adalah usaha
pemakaian sumber daya secara efisien. Pemakaian sumber daya yang berfluktuatif akan
berdampak pada pengaturan keuangan proyek yang disebabkan oleh biaya lembur dan biaya
mobilisasi peralatan dan penggunaan kapasitas peralatan dibawah kapasitasnya. Cara paling
sederhana untuk tujuan pemerataan sumber daya adalah dengan mengatur kembali kegiatan non
kritis dengan cara mendistribusikan durasi kegiatan pada beberapa waktu-waktu yang mungkin
berbeda sebatas float atau waktu senggang yang tersedia. Pendistribusian durasi aktifitas pada
beberapa slot waktu ini tidak terlalu sulit untuk dikerjakan secara manual apabila proyek
merupakan kumpulan dari kegiatan dengan jumlah aktifitas yang sedikit dan sederhana. Namun,
untuk proyek dengan kegiatan yang berjumlah banyak dengan interdependensi yang kompleks,
cara manual tidak mungkin lagi dilakukan.

2.4 Elemen-elemen Penting Dalam Pemerataan Sumber Daya (Resource Leveling)


2.4.1. Proyek Dan Hubungannya Terhadap Sumber Daya
Proyek adalah suatu rangkaian kegiatan (aktifitas) yang menggunakan sumber-
sumber untuk mencapai tujuan yang spesifik yang ditandai dengan adanya suatu titik tolak
dan suatu titik akhir. Suatu proyek dapat dideskripsikan dalam beberapa elemen tertentu
yang dibutuhkan, termasuk di dalamnya adalah aktifitas, kejadian, urutan yang
menggambarkan hubungan yang mendahului (precedence relationship,) dan sumberdaya,
yang didefinisikan sebagai berikut:
1. Aktifitas adalah kegiatan pekerjaan yang membutuhkan sumber daya dan waktu.
2. Event adalah tanda dimana aktifitas akan dimulai dan diakhiri. Keadaan dimana tidak
memerlukan waktu maupun sumber daya tetapi dapat menggambarkan suatu titik
dimana satu atau lebih tugas telah dilaksanakan
3. Hubungan yang mendahului (precedence relationship) yang menggambarkan
aktifitas dalam jaringan tidak dapat dimulai sampai aktifitas sebelumnya benar-benar
selesai.

8
2.4.2 Metode Critical Path Method (CPM) atau Lintasan Kritis
Pada metode Critical Path Method (CPM) dikenal adanya jalur kritis, yaitu jalur
yang memiliki rangkaian komponen-komponen kegiatan dengan total jumlah waktu
terlama dan menunjukkan kurun waktu penyelesaian terpendek. Jalur kritis ini terdiri dari
rangkaian kegiatan kritis dimulai dari kegiatan pertama sampai pada kegiatan terakhir
proyek. Dengan Penggunaan CPM maka kita akan mendapatkan dimana jalur-jalur
kegiatan nonkritis yang mempuyai float sebagai jangkauan resource leveling.

2.4.3 Float
Float didefinisikan sebagai sejumlah waktu yang tersedia dalam suatu kegiatan
sehingga memungkinkan kegiatan tersebut dapat ditunda atau diperlambat secara sengaja
atau tidak disengaja. Tetapi, penundaan tersebut tidak menyebabkan proyek menjadi
terlambat. Float dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
- Total float : sejumlah waktu yang tersedia untuk terlambat atau diperlambatnya
pelaksanaan kegiatan tanpa mempengaruhi selesainya proyek secara
keseluruhan.
- Free Float : sejumlah waktu yang tersedia untuk terlambat atau diperlambatnya
pelaksanaan kegiatan tanpa mempengaruhi dimulainya kegiatan yang
langsung mengikutinya.
Dalam metode Resource Leveling sangat dipengaruhi oleh ketersediaan float
dalam suatu kegiatan dimana waktu Float dapat diisi suatu kegiatan setelah dipindahkan
waktu pelaksanaanya.

2.5. Contoh
2.5.1. Penyajian grafis.
Pemerataan sumber daya dengan CPM dapat dikerjakan dengan cara grafis.
Pertama – tama membuat koordinat y dan x, pada y dicantumkan sumber daya, misalnya

9
tenaga kerja, sedangkan sumbu x menunjukan kurun waktu. Dicari jalur kritis dan float
jaringan kerja dan proyek yang diteliti, kemudian komponen – komponen kegiatan proyek
digambarkan pada koordinat yang telah disiapkan. Komponen kegiatan non kritis diatur
dengan menggeser – geser ( sebatas float yang tersedia ) dan mengusahakan untuk tidak
terjadi fluktuasi yang tajam.

2.5.1 Ilustrasi penyelesaian secara manual.


Suatu proyek terdiri dari tujuh pekerjaan yang tersusun menjadi jaringan kerja
seperti pada gambar 2.1. Setiap komponen pekerjaan memerlukan sumber daya yang
berbentuk tenaga kerja sebagai berikut :
- Kegiatan a sebanyak 20 orang selama 6 hari.
- Kegiatan b sebanyak 15 orang selama 3 hari
- Kegiatan c sebanyak 15 orang selama 3 hari.
- Kegiatan d sebanyak 10 orang selama 3 hari.
- Kegiatan e sebanyak 15 orang selama 3 hari.
- Kegiatan f sebanyak 35 orang selama 3 hari.
- Kegiatan g sebanyak 5 orang selama 3 hari.

f=3h
2 5
a=6h (35) g=3h
(5)
(20)
b=3h e=3h
1 4 6
(15) (15)
c=3h
d=3h
(15)
(10)
3

Keterangan:
: garis kritis
: garis non kritis (tersedia float)

10
Gambar 2.1. Proyek terdiri dari 7 pekerjaan dalam diagram CPM

Jaringan kerja ini digambarkan dengan skala waktu dan memakai ES ( Early
Start ) Untuk tiap kegiatan, sehingga akan diperoleh seperti gambar 2.2.

1 a 2 f 5 g
(20) (35) (5)

1 b 4 e 6
(15) (float) (15) (float)

1 c 3 d
(15) (10) (float)

0 2 4 6 8 10 12
Skala waktu (hari)

Gambar 2.2. Jaringan kerja berskala waktu untuk proyek gbr. 2.1

Selanjutnya, disusun koordinat x, y, dengan x menunjukkan waktu dan y


menunjukkan jumlah tenaga kerja. Bila komponen pekerjaan dipaparkan pada koordinat
tersebut akan terlihat seperti gambar 2.3. Agar diingat hendaknya pekerjaan kritis ( a, f,
g ) dipaparkan terlebih dahulu (diletakan dibagian bawah) pada diagram agar kita lebih
mudah dalam melevelingkan tenaga kerja pada pekerjaan yang mempunyai float.

11
70
60
Batas Jumlah tenaga kerja
50
b e
40
30 c
d
20 f
10 a
g
0

0 2 4 6 8 10 12
Skala waktu (hari)
Gambar 2.3. Susunan Pekerjaan sebelum dilakukan Resource Leveling

Hasil pemaparan pertama menunjukan terjadinya keadaan naik turun yang tajam
( setelah hari ke – 3 terjadi penurunan sejumlah 20 dari total perencanaan 50 tenaga kerja
atau 40 persen yang berlangsung 3 hari kemudian, naik lagi sebesar 40 persen ). Hal ini
diperbaiki dengan menggeser kegiatan – kegiatan b, d, dan e yang dimungkinkan karena
memiliki float – float sebesar didaftar tersebut seperti pada gambar 2.4. Dengan demikian,
keperluan tenaga kerja lebih merata dan tidak terjadi fluktuasi secara tajam juga kita dapat
mengurangi tenaga kerja yang dibutuhkan sampai 35 pekerja dari total 50 pekerja yang
direncanakan sehingga dapat mengurangi biaya pengeluaran pada kegiatan proyek.

70
60
Jumlah tenaga kerja sebelum leveling
50
-(15)
40 Jumlah tenaga kerja sesudah leveling
30 c b
e
20 f
10 a d
g
0

0 2 4 6 8 10 12
Skala waktu (hari)
Gambar 2.4. Susunan Pekerjaan Setelah dilakukan Resource Leveling.

12
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

1. Dari hasil Resource Leveling yang dilakukan pada Contoh aplikasi melalui ilustrasi
grafis, Kita mendapatkan hasil yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya
pekerja, selain jadwal alokasinya lebih merata, juga kita dapat menghemat biaya
tenaga kerja, dimana yang awalnya jumlah total pekerja 50 orang dapat dikurangi
menjadi 30 orang.
2. Dalam Penyusunan jadwal proyek, pemakaian sumber daya secara efisien
menjadi faktor yang wajib. Dimana dengan mengatur ulang Pemakaian sumber
daya yang terlalu berfluktuatif menjadi merata akan berdampak pada optimalisasi
keuangan proyek sehingga menyebabkan penghematan biaya lembur, biaya
mobilisasi peralatan dan efisiensi penggunaan kapasitas peralatan. Yaitu dengan
langkah-langkah metode Resource Leveling.
3. Metode Resource Leveling atau pemerataan sumber daya adalah dengan cara
mengatur kembali kegiatan non kritis pada kegiatan dengan cara mendistribusikan
durasi kegiatan pada beberapa waktu-waktu yang mungkin berbeda sebatas float
atau waktu senggang yang tersedia.
4. Resource Leveling selain dapat lebih meratakan penggunaan tenaga kerja pada
jadwal kegiatan proyek, dapat juga mencari nilai paling efektif dalam penggunaan
sumber daya serta mencegah adanya Overlocated atau kelebihan sumber daya
dari standard sumber daya yang tersedia.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Imam Suharto, MANAJEMEN PROYEK DARI KONSEPTUAL SAMPAI OPERASIONAL,


Erlangga, 1995.
2. Wulfram Evrianto, TEORI APLIKASI MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI, Andi, 2004.
3. Zainal Abidin, STUDY ALOKASI SUMBER DAYA MANUSIA, BIAYADAN JADUAL
PELAKSANAAN PADA PROYEK PENGEMBANGAN RUMAH SAKIT ISLAM SITI
HAJAR DI SIDOARJO – JATIM, Undergraduate Theses from JIPTUMM, ITB
Central Library,2002.

14