Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Transfusi darah merupakan salah satu bagian penting pelayanankesehatan modern. Bila
digunakan dengan benar, transfusi dapatmenyelamatkan jiwa pasien dan meningkatkan
derajat kesehatan. Indikasitepat transfusi darah dan komponen darah adalah untuk mengatasi
kondisiyang menyebabkan morbiditas dan mortalitas bermakna yang tidak dapatdiatasi
dengan cara lain.
Pelayanan darah yang berkualitas, aman, tersedia tepat waktu, dapat dicapai apabila
pelayanan berjalan dengan sistim tertutup, dimana rumah sakit tidak lagi menyerahkan upaya
memperoleh darah transfusi dari keluarga pasien, tetapi seluruh mekanisme pelayanan
dilaksakan oleh petugas. Hal ini dapat dilaksanakan apabila di rumah sakit sebagai pengguna
darah transfuse, memiliki Bank Darah RS sebagai unit pelaksana pelayanan transfuse darah
yang bekerja sama melalui Ikatan Kerja Sama dengan UTD kab/kota/provinsi terdekat.
Ketersediaan darah aman di RS merupakan salah satu Standart Pelayanan Minimal RS yang
berarti setiap RS harus memiliki stock darah 24 jam di BDRS atau UTDRS serta manajemen
pelayanan transfuse darah. Agar unit BDRS dapat berjalan dengan baik dan berstandart maka
dibutuhkan pedoman pelaksanaan yang dipakai sebagai acuan bagi seluruh RS dalam
melaksanakan pelayanan darah yang berkualitas.
Tujuan umum :
Terlaksananya pelayanna transfuse darah aman di rumah sakit dengan system distribusi
tertutup serta berkualitas, terkoordinasi dan sesuai dengan standart.
Tujuan khusus :
Tersedianya acuan bagi rumah sakit dalam melaksanakan pelayanan transfuse darah yang
berkualitas (aman, tepat waktu, efisien, akses mudah dan rasional) sebagai pendukung
pelayanan prima di Rumah Sakit.

B. RUANG LINGKUP PELAYANAN


1. Administrasi
Adalah biaya pendaftaran pasien dan biaya administrasi lain yang terjadi selama proses
perawatan atau pelayanan kesehatan pasien.
 Biaya penggantian pengolahan darah di BDRS merupakan biaya yang dibebankan
kepada masyarakat atas penyelenggaraan kegiatan pengolahan darah dari UTD dan
biaya penyelenggaraan pelayanan darah di BDRS dan ditetapkan oleh kepala /
Direktur Rumah Sakit.
 Biaya penggantian pengolahan darah paling tinggi 50% dari biaya penggantian
pengolahan darah per kantong dari UTD yang memiliki kemampuan pelayanan
dengan metode konvensional.
2. Melayani permintaan darah
Permintaan darah adalah suatu kegiatan dalam pelayanan transfuse darah yang memeinta
beberapa produk darah untuk indikasi medis atas advis dokter yang merawat
3. Menyimpan persediaan darah
BDRS wajib menyimpan darah yang memenuhi standard dan persyaratan teknis
penyimpanan. Penyimpanan dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Darah yang tidak layak dan tidak memenuhi standar untuk digunakan wajib dimusnahkan
sesuai dengan standar UTD.
4. Uji cocok serasi (Cross Match)
Pemeriksaan kecocokan darah antara darah pasien dengan darah penyumbang darah yang
sesuai golongan ABO dan Rhesusnya, darah yang diberikan pada penderita adalah darah
yang cocok serasi (compatible).
5. Pemeriksaan Serologi Gol. Darah (Blood Typing)
 Pemeriksaan serologi golongan darah antara lain meliputi pemeriksaan golongan
darah dan pemeriksaan pre-transfusi.
 Pemeriksaan golongan darah A, B, AB, O dan D.
 Pemeriksaan pre - transfusi, bertujuan untuk menilai kecocokan darah donor dan
darah resipien dan mendeteksi adanya antibodi dalam darah donor maupun pasien
yang dapat menimbulkan reaksi transfusi pada pasienyang dapat menimbulkan reaksi
transfusi pada pasien.
6. Uji saring (Blood Screening)
 Uji saring adalah salah satu teknik yang dilakukan untuk mencegah penularan
penyakit melalui dara dalam proses transfuse darah.
 Meliputi pencegahan penularan penyakit HIV – AIDS, Hepatitis B, Hepatitis C dan
Sifilis
C. BATASAN OPERASIONAL
1. Pelayanan Transfusi Darah adalah upaya pelayanan kesehatan yang terdiri dari rangkaian
kegiatan mulai dari pengerahan dan pelestarian donor, seleksi donor, proses pengambilan
darah, pencegahan penularan penyakit, penyimpanan darah, pengolahan darah,
pendistribusian darah, pemeriksaan serologi golongan darah dan uji silang serasi, serta
tindakan medis pemberian darah kepada pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan.
2. Pengelolaan darah adalah rangkaian kegiatan mulai dari pengerahan dan pelestarian
donor, seleksi donor, pengambilan darah, pencegahan penularan penyakit, penyimpanan
darah, pengolahan darah, dan pendistribusian darah.
3. Darah Transfusi adalah darah yang diambil dan diolah secara khusus untuk transfusi.
4. Donor Darah adalah orang yang menyumbangkan darah atau komponennya kepada
pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
5. Pasien adalah orang yang menerima darah atau komponennya.
6. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah sarana kesehatan yang digunakan sebagai tempat
untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan baik promotif, preventif, kuratif
maupun rehabilitatif yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat.
7. Unit Transfusi Darah selanjutnya disingkat UTD adalah fasilitas pelayanan kesehatan
yang melaksanakan kegiatan pengelolaan transfusi darah.
8. Bank Darah Rumah Sakit selanjutnya disingkat BDRS adalah suatu unit pelayanan di
rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat penyediaan darah yang diperoleh dari UTD,
untuk kepentingan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.

D. LANDASAN HUKUM
1. Undang – Undang No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
2. Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1980 tentang Transfusi Darah
3. Peraturan Menteri Kesehatan No 478/Menkes/Per/X/1990 tentang Upaya Kesehatan
di bidang Transfusi Darah
4. Peraturan Menteri Kesehatan No 1178/Menkes/Per/X/1990 tentang Upaya Kesehatan
Swasta di Bidang Pelayanan Medik
5. Kepmenkes No 423/Menkes/SK/IV/2007 tentang Kebijakan Peningkatan Kualitas dan
Akses Pelayanan Darah
6. Keputusan Dirjen Pelayanan Medik No 1147/Yanmed/RSKS/1991 tentang Petunjuk
Pelaksaanan Upaya Kesehatan dibidang Transfusi Darah.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Jumlah minimal tenaga DI BDRS
No. Tenaga BDRS Jumlah
1. Penanggung jawab BDRS 1 orang
2. Staf medis 1 orang
3. Pelaksana teknis 5 orang
4. Tenaga administrasi 1 orang
5. Tenaga penunjang lain 1 orang

Organisasi BDRS terdiri dari :


1. Penanggung jawab BDRS
 Memiliki kualifikasi paling rendah pendidikan dokter
 Mengikuti sertifikat pelatihan teknis dan manajemen pelayanan transfusi
darah.
2. Staf medis
 Memiliki kualifikasi paling rendah pendidikan dokter
 Telah mendapatkan pelatihan di bidang transfusi darah
 Mempunyai keterampilan dalam bidang teknis dan manajerial pengelolaan
pelayanan darah di BDRS
3. Pelaksana teknis
 Teknisi transfusi darah; dan/atau tenaga lain dengan latar belakang pendidikan
Diploma Tiga Ahli
 Teknologi Laboratorium Medik
 Mempunyai sertifikat pengetahuan dan keterampilan tentang pengolahan,
penyimpanan, distribusi darah dengan lingkup pekerjaan pada laboratorium uji
saring serologi pratransfusi
4. Tenaga administrasi
 Paling rendah mempunyai keterampilan dalam manajemen data, pencatatan
dan pelaporan.
5. Tenaga penunjang lain antara lain tenaga humas, tenaga teknologi informasi,
sopir, dan/atau pekarya sesuai kebutuhan.
 Tidak ada kualifikasi khusus bagi tenaga penunjang lainnya

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
1. Tugas dan Tanggungjawab Penanggungjawab BDRS :
 Menyusun rencana kerja BDRS;
 Memimpin pelaksanaan kegiatan teknis BDRS;
 Melaksanakan pengawasan, pengendalian, dan evaluasi kegiatan BDRS; dan
 Merencanakan, melaksanakan dan mengawasi kegiatan pemantapan mutu
2. Tugas dan tanggungjawab Staf medis
 Melakukan pencatatan, persediaan dan kondisi peralatan dan bahan penunjang
 Membuat dokumen keluar masuk transfuse darah di BDRS
 Mencatat semua kejadian dan melacak efeksamping dari pemberian transfuse
darah
 Membuat laporan berkala kepada penanggungjawab, direktur RS dan UTD
PMI
 Membuat penerimaan stok darah kepada UTD PMI
3. Tugas dan tanggungjawab Pelaksana Teknis
 Mengambil stok darah di PMI
 Menerima darah yang sudah diuji saring dari UTD PMI terdekat secara akurat
 Menyimpan darah dan mempertahankan stok darah di BDRS
 Melakukan uji silang serasi darah donor dan darah pasien
 Menyerahkan darah yang cocok bagi pasien di Rumah Sakit
 Melaksanakan pemusnahan darah transfuse yang tidak layak pakai sesuai
ketentuan prosedur
 Melaporkan permsalahan pelayanan bank darah kepada penanggungjawab
4. Tugas dan tanggungjawab Tenaga Administrasi
 Melakukan pelayanan administrasi kepada keluarga pasien
 Membuat laporan pengeluaran dan pemasukan biaya
 Sebagai penanggung jawab keuangan
5. Tugas dan tanggungjawab Tenaga Penunjang lainnya
 Membantu operasional dalam mengambil stok darah ke UTD PMI
 Membantu dalam penyelenggaraan segala informasi yang dibutuhkan

C. PENGATURAN JAGA
Pengaturan jaga shift dibagi menjadi 3 shift sesuai dengan ketentuan ketetapan
peraturan Direktur Rumah Sakit Gotong Royong.
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANG
No. Jenis Kelengkapan BDRS
1. Gedung Permanen
2. Ventilasi 1/3 x luas lantai
Suhu 20 – 24°C (Guidelines for Blood Center
WHO 2010)
3. Penerangan (Lampu) 5 watt/m2
4. Air Mengalir, Bersih 50 L/pekerja/hari
5. Daya Listrik 1300 W
Jaminan supply listrik 24 jam dengan alat
Back Up (Generator)
6. Tata Ruang
a. Ruang Adminitrasi
 Loket permintaan
 Loket penerimaan darah
2
 Ruang petugas (Ruang Kepala, Luas Keseluruhan 20 m
Ruang Staff)
b. Ruang Laboratorium
 Laboratorium
 Penyimpanan
7. Fasilitas Pembuangan Limbah Sesuai ketentuan peraturan perundang –
a. Tempat penampungan / pengolahan undangan tentang kesehatan lingkungan di
sederhana limbah cair / padat rumah sakit
b. System pembuangan limbah
B. STANDAR FASILITAS
No. Jenis Peralatan Jumlah Minimal
1. Peralatan utama dan bahan habis pakai
a. Penyimpanan
1. Blood Bank 100 – 280 L (tergantung kebutuhan) 1
2. Medical refrigator 1
3. Platelet Agitator 1
4. Freezer dengan suhu penyimpanan ≤ - 30°C 1

b. Pemeriksaan Serologi
1. Gol.darah ABO dan Rhesus pada resipien dan donor
(metode pemeriksaan cell typing dan serum typing) :
Metode pemeriksaan golongan darah :
 Blood grouping plate atau Sesuai keb.
 Tabung reaksi ukuran 12x75 mm Sesuai keb.
 Reagen anti ABO dan Rhesus (yang sudah Sesuai keb.
direkomendasi oleh instansi yang berwenang)
2. Uji silang serasi
 Metode tabung
Dry incubator 1

Serofuge (dengan 2 macam motor ) tabung kecil 1

ukuran 5 ml
Mikroskop bimokuler 1

 Reagen Bovine Albumin, coombe serum Secukupnya

c. Distribusi
 Cool box dengan fasilitas 2 – 5 kantong 5 – 10
1
 Cool box untuk transportasi dengan fasilitas minimal 20
kantong (untuk kebutuhan diluar pengiriman rutin UTD)
2. Peralatan Penunjang Dan Bahan Habis Pakai
 Rak Tabung 5 buah
 Gunting 2 buah
 Pipet Pasteur Plastik 2 buah
 Object Glass 3 box
 Timer 2 buah
 Labu Semprot 4 buah
 Baskom Stainless Steel 4 buah
 Jas Laboratorium 2 x jumlah petugas
 Masker Sekalai Pakai 1 box
 Wadah Infeksius 1 buah
 Termometer Pengukur Suhu Untuk Kalibrasi Alat Rutin Sesuai keb
 Desinfektan Kulit Secukupnya
 Desinfektan Peralatan Secukupnya
 Sarung Tangan Sekali Pakai Sesuai keb
 NaCl 0,9% secukupnya
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. WAKTU PELAYANAN
Waktu pelayanan BDRS adalah 24 jam selama 7 hari, dibagi menjadi 3 shift jaga yaitu
 Shift pagi : 07.00 – 14.00 WIB
 Shift siang : 14.00 – 21.00 WIB
 Shift malam : 21.00 – 07.00 WIB

B. PENDAFTARAN DAN PENCATATAN


1. Permintaan darah rutin oleh BDRS ke UTD setempat
 Permintaan darah ke UTD sesuai kesepakatan dengan UTD dan tertuang dalam Ikatan
Kerjasama
 Tersedia SPO
 Transportasi distribusi darah dengan menggunakan cool box transportasi darah
2. Permintaan darah dalam keadaan Khusus
 Permintaan dalam keadaan khusus adalah dalam keadaan darurat, jika persediaan
darah di BDRS sudah habis sesuai kesepakatan dengan UTD dan tertuang dalam IKS
 Permintaan darah diluar perencanaan rutin, misalnya permintaan dalam bentuk
komponne darah, Rhesus negative, darah langka dan pada kejadian luar biasa (KLB)
 Formulir permintaan diisi lengkap dan ditandatangani oleh kepala BDRS atau petugas
yang diberi wewenang oleh kepala BDRS
 Tersedia SPO permintaan darah dalam keadaan khusus
3. Penerimaan darah
 Mekanisme penerimaan darah sesuai kesepakatan yang tertuang dalam IKS
 BDRS menerima darah aman dari UTD setempat sesuai permintaan, bila tidak sesuai
permintaan dicatat atau disesuaikan dengan kesepakatan yang tertuang dalam IKS
 Petugas pengantar darah dari UTD maupun petugas penerima darah di BDRS bersama
– sama menilai kondisi darah, dan mampu mengenali tanda – tanda fisik darah aman
dan standar labeling
 Dibuat berita acara
 Tersedia SPO penerimaan darah dari UTD
4. Pendaftaran dan pencatatan oleh petugas administrasi
 dengan memberikan blangko permintaan darah dan cool box sebagai media
transportasi darah

C. PENYIMPANAN DARAH DAN KOMPONEN DARAH


1. Penyimpanan darah dan komponen dilakukan dalam tempat dan suhu optimal, yaitu :
No. Jenis darah Tempat Suhu
1) Whole Blood Blood Refrigerator 2°C – 6°C
2) PRC Blood Refrigerator 2°C – 6°C
3) Washed Red Cells Segera dipakai
4) Trombosit Platelet Refrigerator 20°C – 24°C
5) Cryoprecipitate Freezer ≤ -18°C
6) FFP Freezer ≤ -18°C

2. Penyimpanan dengan system First In First Out (FIFO)


3. Tersedia SPO penyimpanan darah

D. PENYERAHAN DARAH YANG DIMINTA PASIEN


1. Penyerahan darah dilakukan berdasarkan permintaan dokter dengan formulir permintaan
2. Petugas BDRS meneliti formulir permintaan darah / pengeluaran darah dan label kantong
darah

E. KUALITAS DAN KEAMANAN DARAH


Harus berdasarkan indicator diantaranya ialah :
1. Pelaksanaan tes saring disetiap proses pelayanan transfuse darah
2. Pengolahan yang baik dan benar, diantaranya :
 Alat pengolahan komponen darah yang memiliki standar
 Kemampuan teknis SDM di BDRS
 Kantong multiple bag yang aman dan berstandar
 Syarat ruang yang standar
3. Alat penyimpanan yang standar
 Standar blood bank
 Alarm yang aktif
 Indicator Suhu yang selalu dikalibrasi
 Resource sharing
 Audit monitoring mutu simpan
 Darah disimpan di BDRS maksimal 2 minggu
4. Proses transfuse yang aman
 Ada MBOS (Maximum Blood Order Schedule)
 Penggunaan darah yang rasional
5. Adanya pelaporan kasus reaksi transfuse
 Proses transfuse From Vena To Vena harus dicatat dengan lengkap
 Reaksi transfuse harus bias ditelusuri sampai ke donor
 Adanya sosialisasi reaksi transfuse
 Bekerja sesuai dengan SOP
 Pengaktifan komite transfuse di RS
6. Klasifikasi aman dalam pelayanna donor darah
(a) Darah aman bagi pasien
 Pasien tidak tertular penyakit infeksi melalui transfuse darah
 Pasien tidak mendapatkan komplikasi seperti ketidakcocokan gol.darah
(b) Darah aman bagi donor
 Donor tidak tertular infeksi melalui tusukan jarum vena
 Donor tidak mengalami komplikasi setelah menyumbangkan darahnya seperti
kekuranagn darah, mudah sakit / sering sakit

F. CROSS MATCHING DAN TES KECOCOKAN


Cross Match atau reaksi silang adalah suatu jenis pemeriksaan yang dilakukan sebelum
pelaksanaan transfusi darah. Tujuannya adalah untuk melihat apakah darah dari pendonor
cocok dengan penerima (resipien) sehingga dapat mencegah terjadinya reaksi transfusi
hemolitik. Selain itu juga untuk konfirmasi golongan darah.
G. IDENTIFIKASI DONOR DAN PENERIMA
1. Identifikasi Lab Pra transfuse darah
(a) Darah donor
 Penggolongan darah ABO dan RhD
 Penampisan antibody eritrosit
 Pemeriksaan serologi untuk mengidentifikasi sifilis, HbsAg, HCV, HIV
(b) Darah Resipient
 Golongan darah
 Ada tidaknya antibody terhadap sel darah merah
 Identifikasi sample

H. PENGEMBALIAN DARAH YANG TIDAK TERPAKAI


Pengembalian darah ke UTD sesuai kesepakatan dan Tertuang dalam IKS

I. SCREENING DARAH TERHADAP BEBERAPA PENYAKIT TERTENTU


1. Blood screening (pemeriksaan uji saring darah) merupakan salah satu tahap di dalam
pengelolaan darah untuk mendapatkan darah yang aman bagi pengguna darah (pasien).
2. Sesuai dengan keputusan Menkes RI No.622/Menkes/SK/VII/1992 tentang kewajiban
pemeriksaan HIV pada darah yang disumbangkan donor.
3. Saat ini tiap Unit Transfusi Darah Cabang (UTDC) telah melakukan uji saring terhadap 4
penyakit menular berbahaya yaitu syphilis, hepatitis B & C dan HIV/AIDS.
4. Apabila ada donor darah yang dicurigai terinfeksi dengan hasil test yang mendukung,
maka dirujuk ke UTDP untuk dilakukan test ulang darah donor tersebut.
5. Hasilnya dikembalikan ke UTDC yang bersangkutan.

J. PENCATATAN DAN PELAPORAN DARI REAKSI YANG TIMBUL DARI


TRANSFUSI DARAH
Pencatatan dilakukan pada setiap tahap kegiatan secara lengkap, yaitu :
1. Permintaan darah rutin dan khusus ke UTD
2. Penerimaan darah rutin dan khusus dari UTD
3. Berita acara penerimaan darah dari UTD
4. Dokumentasi permintaan darah dari para klinisi lengkap dengan indikasi, jenis, dan
jumlah darah beserta identitas pasien
5. Pemeriksaan gol darah pasien / darah donor, uji cocok serasi dalam lembar kerja
6. Dokumentasi darah titipan dan pemakaian darah
7. Darah yang harus dikembalikan ke UTD
8. Tentang kebutuhan darah yang tidak terpenuhi
9. Hasil monitoring dan evaluasi \
10. Validasi reagen, kalibrasi alat, pencatatan suhu alat simpan darah
11. Reaksi transfuse
Yang dilaporkan : penerimaan, penyimpanan, penyampaian, pemakaian, logistic dan
persediaan darah, dan reaksi transfuse
1. Laporan rutin adalah laporan kegiatana secara rutin yang dibuat secara teratur dan tepat
waktu disampaikan kepada dorektur RS, UTD, dan Dinkes setempat . Laporan rutin
terdiri dari :
 Laporan harian
 Laporan bulanan
 Laporan tahunan
2. Laporan insidentil adalah laporan yang dibuat pada keadaan khusus, misalnya terjadi
reaksi transfuse, disampaikan kepada komite medic RS dan UTD setempat dengan
tembusan ke Dinkes setempat
3. Analisa efisiensi dan ketetapan pemakaian darah / komponen (SPO penggunaan setelah
crossmatch, rata – rata perpasien)

K. PENGADAAN DARAH RUTIN DAN DARURAT


1. Permintaan darah rutin oleh BDRS ke UTD setempat
 Permintaan darah ke UTD sesuai kesepakatan dengan UTD dan tertuang dalam Ikatan
Kerjasama
 Tersedia SPO
 Transportasi distribusi darah dengan menggunakan cool box transportasi darah
2. Permintaan darah dalam keadaan Khusus
 Permintaan dalam keadaan khusus adalah dalam keadaan darurat, jika persediaan
darah di BDRS sudah habis sesuai kesepakatan dengan UTD dan tertuang dalam IKS
 Permintaan darah diluar perencanaan rutin, misalnya permintaan dalam bentuk
komponne darah, Rhesus negative, darah langka dan pada kejadian luar biasa (KLB)
 Formulir permintaan diisi lengkap dan ditandatangani oleh kepala BDRS atau petugas
yang diberi wewenang oleh kepala BDRS
 Tersedia SPO permintaan darah dalam keadaan khusus

L. PENGELOLAAN LIMBAH
Laboratorium kesehatan termasuk laboratorium BDRS dapat menjadi salah satu sumber
penghasil limbah cair, padat dan gas yang berbahaya bila tidak ditangani secara benar.
Penanganan dan penampungan limbah terdiri dari :
1. Menyediakan sarana penampungan untuk limbah yang memadai, diletaakkan pada tempat
yang tepat, aman dan hygienis
2. Pemisahan limbah untuk memudahkan mengenal berbagai jenis limbah yang akan
dibuang dengan cara menggunakan kantong berkode (kode warna)
3. Pengelolaan limbah infektif dengan cara desinfeksi, dekontaminasi, sterilisasi atau
insinerasi.

M. LAPORAN
1. Permintaan rutin dan darurat
 Golongan darah
 Jenis darah (komponen)
 Jumlah (kantong / unit / cc)
Contoh Formulir Laporan Permintaan Darah BDRS
2. Stok darah per bulan / minggu
Contoh Laporan Stok darah per bulan / minggu

3. Pengembalian darah yang tidak terpakai


 Golongan darah
 Jenis darah (komponen)
 Jumlah
 Nomor kantong / unit
4. Jumlah darah rusak / Expired

5. Jumlah pemakaian darah


 Golongan darah
 Jenis darah (komponen)
 Jumlah kantong / unit / cc
6. Jumlah pemeriksaan
 Golongan darah
 Cross match
 Uji saring (Screening)
7. Kejadian reaksi transfuse darah
 Jumlah
 Nomor kantong / unit darah
 Tanggal

8. Response time (penyerahan) permintaan


BAB V
KESELAMATAN PASIEN

A. PENGERTIAN
Adalah suatu prosedur di dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan nyaman
dilakukan secara benar sesuai dengan ketetapan SOP yang berlaku di suatu Instansi Rumah
Sakit khususnya di dalam pelayanan pemberian transfuse darah.

B. TUJUAN
1) Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien;
2) Memimpin dan mendukung staf;
3) Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko;
4) Mengembangkan sistem pelaporan;
5) Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien;
6) Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien dan
7) Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien.

C. TATA LAKSANA KESELAMATAN PASIEN


1) Pastikan identifikasi pasien
Kegagalan yang meluas dan terus menerus untuk mengidentifikasi pasien secara benar
sering mengarah kepada kesalahan pengobatan, transfusi maupun pemeriksaan;
pelaksanaan prosedur yang keliru orang; penyerahan bayi kepada bukan keluarganya, dsb.
Rekomendasi ditekankan pada metode untuk verifikasi terhadap identitas pasien,
termasuk keterlibatan pasien dalam proses ini; standardisasi dalam metode identifikasi di
semua rumah sakit dalam suatu sistem layanan kesehatan; dan partisipasi pasien dalam
konfirmasi ini; serta penggunaan protokol untuk membedakan identifikasi pasien dengan
nama yang sama.
2) Komunikasi Secara Benar saat Serah Terima / Pengoperan Pasien
Kesenjangan dalam komunikasi saat serah terima/ pengoperan pasien antara unit-unit
pelayanan, dan didalam serta antar tim pelayanan, bisa mengakibatkan terputusnya
kesinambungan layanan, pengobatan yang tidak tepat, dan potensial dapat mengakibatkan
cedera terhadap pasien. Rekomendasi ditujukan untuk memperbaiki pola serah terima
pasien termasuk penggunaan protokol untuk mengkomunikasikan informasi yang bersifat
kritis; memberikan kesempatan bagi para praktisi untuk bertanya dan menyampaikan
pertanyaan – pertanyaan pada saat serah terima, dan melibatkan para pasien serta
keluarga dalam proses serah terima.
3) Pastikan Tindakan yang benar pada Sisi Tubuh yang benar
Penyimpangan pada hal ini seharusnya sepenuhnya dapat dicegah. Kasus-kasus dengan
pelaksanaan prosedur yang keliru atau pembedahan sisi tubuh yang salah sebagian besar
adalah akibat dan miskomunikasi dan tidak adanya informasi atau informasinya tidak
benar. Faktor yang paling banyak kontribusinya terhadap kesalahan-kesalahan macam ini
adalah tidak ada atau kurangnya proses pra-bedah yang distandardisasi. Rekomendasinya
adalah untuk mencegah jenis-jenis kekeliruan yang tergantung pada pelaksanaan proses
verifikasi prapembedahan; pemberian tanda pada sisi yang akan dibedah oleh petugas
yang akan melaksanakan prosedur; dan adanya tim yang terlibat dalam prosedur ’Time
out” sesaat sebelum memulai prosedur untuk mengkonfirmasikan identitas pasien,
prosedur dan sisi yang akan dibedah.
4) Kendalikan Cairan Elektrolit Pekat (concentrated)
Sementara semua obat-obatan, biologics, vaksin dan media kontras memiliki profil risiko,
cairan elektrolit pekat yang digunakan untuk injeksi khususnya adalah berbahaya.
Rekomendasinya adalah membuat standardisasi dari dosis, unit ukuran dan istilah; dan
pencegahan atas campur aduk / bingung tentang cairan elektrolit pekat yang spesifik.
5) Pastikan Akurasi Pemberian Obat pada Pengalihan Pelayanan
Kesalahan medikasi terjadi paling sering pada saat transisi / pengalihan. Rekonsiliasi
(penuntasan perbedaan) medikasi adalah suatu proses yang didesain untuk mencegah
salah obat (medication errors) pada titik-titik transisi pasien. Rekomendasinya adalah
menciptakan suatu daftar yang paling lengkap dan akurat dan seluruh medikasi yang
sedang diterima pasien juga disebut sebagai “home medication list”, sebagai
perbandingan dengan daftar saat admisi, penyerahan dan / atau perintah pemulangan
bilamana menuliskan perintah medikasi; dan komunikasikan daftar tsb kepada petugas
layanan yang berikut dimana pasien akan ditransfer atau dilepaskan.
6) Hindari Salah Kateter dan Salah Sambung Slang (Tube)
Slang, kateter, dan spuit (syringe) yang digunakan harus didesain sedemikian rupa agar
mencegah kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan) yang bisa
menyebabkan cedera atas pasien melalui penyambungan spuit dan slang yang salah, serta
memberikan medikasi atau cairan melalui jalur yang keliru. Rekomendasinya adalah
menganjurkan perlunya perhatian atas medikasi secara detail / rinci bila sedang
mengenjakan pemberian medikasi serta pemberian makan (misalnya slang yang benar),
dan bilamana menyambung alat-alat kepada pasien (misalnya menggunakan sambungan
& slang yang benar).
7) Gunakan Alat Injeksi Sekali Pakai
Salah satu keprihatinan global terbesar adalah penyebaran dan HIV, HBV, dan HCV yang
diakibatkan oleh pakai ulang (reuse) dari jarum suntik. Rekomendasinya adalah penlunya
melarang pakai ulang jarum di fasilitas layanan kesehatan; pelatihan periodik para
petugas di lembaga-lembaga layanan kesehatan khususnya tentang prinsip-pninsip
pengendalian infeksi,edukasi terhadap pasien dan keluarga mereka mengenai penularan
infeksi melalui darah;dan praktek jarum sekali pakai yang aman.
8) Tingkatkan Kebersihan Tangan (Hand hygiene) untuk Pencegahan lnfeksi Nosokomial
Diperkirakan bahwa pada setiap saat lebih dari 1,4 juta orang di seluruh dunia menderita
infeksi yang diperoleh di rumah – rumah sakit. Kebersihan Tangan yang efektif adalah
ukuran preventif yang pimer untuk menghindarkan masalah ini. Rekomendasinya adalah
mendorong implementasi penggunaan cairan “alcohol-based hand-rubs” tersedia pada
titik-titik pelayan tersedianya sumber air pada semua kran, pendidikan staf mengenai
teknik kebarsihan taangan yang benar mengingatkan penggunaan tangan bersih ditempat
kerja; dan pengukuran kepatuhan penerapan kebersihan tangan melalui pemantauan /
observasi dan tehnik - tehnik yang lain.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. KEAMANAN KERJA
Keamanan kerja di BDRS tergantung pada :
1) Fisik bangunan
 Lokasi BDRS jauh dari sumber infeksi
 Luas memadai
 Jumlah ruangan memadai
 Kualitas bangunan dan design bangunan / ruangan sesuai persyaratan keamanan
 Pengalokasian ruangan sesuai alur kerja
 Bersih, rapi, nyaman
 Memiliki sumber udara, cahaya, listrik, air, gas yang memadai dan memenuhi syarat
keamanan

2) Ruang kerja
 Penentuan area “bersih” dan “kotor”
 Akses terbatas, naya untuk petugas yang diberi wewenang
 Ruang kerja bersih, rapi, dan nyaman
 Bebas binatang
 Dekontaminasi meja kerja

3) Pedoman keamanan
 Tersedia kebijakan keamanan di semua bagian BDRS
 Protocol keamanan yang didokumentasikan
 Prosedur pengenalan keamanan
 Prosedur pelaporan atas kecelakaan kerja

4) Personil
 Perlu adanya petugas keamanan dan keselamatan kerja yang ditunjuk
 Pelatihan keselamatan kerja yang memadai
 Jumlah pegawai yang memadai
5) Peralatan
 Pemilihan peralatan memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan
 Penempatan peralatan memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan
 Pemeliharaan fungsi peralatan
 Pemeliharaan kebersihan peralatan

6) Bahan Pemeriksaan
 Universal precautions
(a) Perlakukan semua darah donasi, sampel, dan komponen darah sebagai bahan
infeksius
(b) Hindari penggunaan benda tajam sebisa mungkin (gunakan dengan aman, buang
dengan aman)
(c) Perlindungan terhadap diri sendiri
(d) Perlakukan semua peralatan sebagai bahan infeksius
(e) Vaksinasi Hepatitis B
 Praktek higyene
(a) Kenakan baju pelindung kerja (jas lab, sarung tangan, dan sepatu tertutup)
(b) Tutupi luka / lecet goresan tangan
(c) Cuci tangan setelah menangani specimen, komponen darah
(d) Jangan makan, atau minum, atau merokok pada area dimana darah, specimen, dan
komponen darah di tangani
(e) Jagalah kebersihan dan kerapian ruang kerja
 Perencanaan yang baik untuk ruang kerja
Laboratorium ditempeli tanda – tanda “Safety Hazard”
 Dekontaminasi percikan
Perlindungan terhadap infeksi
(a) Dekontaminasi permukaan meja kerja, peralatan
(b) Desinfeksi ruangan, alat, dan tangan
(c) Sterilisasi ruangan, alat
 Pembuangan limbah biologis berbahaya
 Transportasi specimen
B. UPAYA KEAMANAN KERJA
1) Keamanan kerja terhadap :
 Bahan – bahan pemeriksaan
 Tusukan jarum
 Api
 Kecelakaan fisik
2) Keamanan terhadap bahan pemeriksaan
 Penyimpanan yang tepat untuk setiap bahan kimia
 Wadah khusus untuk bahan biologis
 Pembuangan yang tepat
 Kit untuk menangani percikan
 Terdapat prosedur untuk menangani percikan
3) Keamanan terhadap tusukan jarum / benda tajam
 Wadah khusus untuk pembuangan
 Bila kecelakaan terjadi tusukan :
(a) Jenis penyebab kecelakaan
(b) Kemungkinan mikroorganisme yang terkandung
(c) Kuantifikasi kecelakaan kualifikasi kecelakaan
 Penanganan : perkiraan masa inkubasi
 Dokumentasi
4) Keamanan terhadap Api
 Memilih alat pemadam kebakaran
 Pilihan terbaik : pemadam api yang mudah digunakan dan tepat
 Pilihan paling sederhana : ember pasir dan selimut tahan api
 Tanggung jawab ditentukan untuk pengecekan regular dari peralatan pemadam api
5) Keamanan terhadap kecelakaan fisik dan elektrik
 Lantai tidak licin
 Sesedikit mungkin menggunakan alat dari gelas/kaca
 Instalasi yang benar dari peralatan elektrik
 Titik listrik yang memadai
 Hindari penggunaan adaptor listrik, kabel panjang
6) Transportasi yang aman dari bahan biologis yang berbahaya
 Transportasi darah, komponen darah, specimen
 Container dan label yang tepat
 Ditransportasikan oleh kurir yang tepat dan diberi wewenang
 Turunkan resiko utnuk staf laboratorium, kurir dan masyarakat
7) Pembuangan limbah
 Buat kebijakan pembuangan limbah yang menjamin perlindungan petugas,
masyarakat dan lingkungan
 Limbah biologis (cair, padat) dekontaminasi sebelum dibuang
 Gelas yang pecah dekontaminasi jika infeksius, dilabel dengan jelas
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. PENYIMPANAN DARAH DAN KOMPONEN DARAH


Penyimpanan darah dan komponen darah harus dilakukan evaluasi apakah terdapat prosedur
penyimpanan yang sesuai dengan SOP, yaitu sesuai dengan label, tempat dan suhu yang
tepat.

B. PENYERAHAN DARAH YANG DIMINTA PASIEN


Terdapat evaluasi yang tepat dalam melakukan prosedur penyerahan darah yang diminta
pasien, yaitu tepat pasien, tepat obat (jenis darah atau komponne yang diperlukan), tepat dosis
(berapa cc yang dibutuhkan), tepat waktu, tepat dokumentasi (bar code, jenis darah, golongan
darah, rhesus dll).

C. KUALITAS DAN KEAMANAN DARAH


Terdapat evaluasi kualitas dan keamanan darah yaitu Karakterisitik darah yang baik, tidak
terdapat tanda – tanda darah mengalami kerusakan atau sudah tidak layak digunakan, terdapat
expired date yang jelas.

D. CROSS MATCHING DAN TES KECOCOKAN


Terdapat evaluasi cross matching dan tes kecocokan uji silang serasi, dan sesuai dengan
golongan darah dan rhesus yang sesuai.

E. IDENTIFIKASI DONOR DAN PENERIMA (JIKA ADA)


Terdapat evaluasi identifikasi donor dan penerima (jika ada) yaitu Status Tanda Vital
sebelum menjadi pendonor, status Hb, golongan darah, penyakit tertentu, indikasi dan
kontraindikasi.

F. PENGEMBALIAN DARAH YANG TIDAK TERPAKAI


Terdapat evaluasi pengembalian darah yang tidak terpakai kepada pihak UTD yang sudah
melakukan kerja sama baik itu karena sudah melewati expired data tau yang mengalami
kerusakan fisik pada darah dan komponen darah tersebut.
G. SCREENING DARAH TERHADAP BEBERAPA PENYAKIT TERTENTU
Terdapat evaluasi screening darah terhadap beberapa penyakit tertentu, seperti HIV, Sifilis,
atau Hepatitis, dll.

H. PENCATATAN DAN PELAPORAN DARI REAKSI YANG TIMBUL DARI


TRANSFUSI DARAH
terdapat evaluasi terhadap pencatatan dan pelaporan dari rekasi yang timbul setelah transfuse
darah, yaitu reaksi febris, reaksi alergi, dan reaksi hemolitik.

I. PENGADAAN DARAH RUTIN DAN DARURAT


Terdapat evaluasi catatan pelaporan Permintaan darah rutin oleh BDRS ke UTD setempat
 Permintaan darah ke UTD sesuai kesepakatan dengan UTD dan tertuang dalam Ikatan
Kerjasama
 Tersedia SPO
 Transportasi distribusi darah dengan menggunakan cool box transportasi darah
Permintaan darah dalam keadaan Khusus
 Permintaan dalam keadaan khusus adalah dalam keadaan darurat, jika persediaan
darah di BDRS sudah habis sesuai kesepakatan dengan UTD dan tertuang dalam IKS
 Permintaan darah diluar perencanaan rutin, misalnya permintaan dalam bentuk
komponne darah, Rhesus negative, darah langka dan pada kejadian luar biasa (KLB)
 Formulir permintaan diisi lengkap dan ditandatangani oleh kepala BDRS atau petugas
yang diberi wewenang oleh kepala BDRS
 Tersedia SPO permintaan darah dalam keadaan khusus

J. PENANGANAN LIMBAH
Terdapat evaluasi Pembuangan limbah
 Buat kebijakan pembuangan limbah yang menjamin perlindungan petugas,
masyarakat dan lingkungan
 Limbah biologis (cair, padat) dekontaminasi sebelum dibuang
 Gelas yang pecah dekontaminasi jika infeksius, dilabel dengan jelas
BAB IX
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Transfusi Darah ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman dalam
memberikan pelayanan transfuse darah yang aman dan benar bagi pasien dan lingkungan
rumah sakit Gotong Royong.