Laporan Kasus Ikterus di RSUD Hillers
Laporan Kasus Ikterus di RSUD Hillers
IKTERUS (Jaundice)
Disusun Oleh:
Hermariasi br Panjaitan, S.Ked
(1408010001)
Pembimbing:
dr. Asep Purnama, Sp. PD
LAPORAN KASUS
2.5. Diagnosis
1. Jaundice ec Cholangitis dd Cholecystitis
2. Murmur ec Anemic Heart Disease
3. Dispepsia ec Susp PUD
2.6. Planning
a. Diagnostik :
Bilirubin direk dan total
HbsAg, Anti HCU
USG Abdomen
b. Terapi
IVFD NaCl 0.9 % 20 tpm
Diet lunak rendah lemak
Injeksi omeprazole 2x40mg IV
Sucralfat syr 3x IC PO
SF 3x200mg PO
Transfusi PRC 6 bag target HB ≥9gr/dL, 1 bag/hari
c. Monitoring
Obs. TTV
Obs KU
d. KIE
2.7. Follow UP
Tangga SOA P
l
25//9/19 S: lemah, mual, nyeri perut kanan atas, sudah P. diagnosa : USG
Hari ke masuk darah 1 bag Abdomen
3 Feses lengkap
O: P. Terapi :
KU: TSS, CM TD: 100/70 IVFD NaCl 0.9 % 1000
HR: 84x/menit RR: 20x/menit cc/24 jam
Suhu: 36,0C SPO2: 96% Cefotaxime 3 x 1 gr(H-1)
Mata: CA (+/+), SI (+/+) Transfusi PRC 1 Bag/hari,
Thorax : Ves +/+, Rh -/-, Wh -/- target 9gr/dL
Abdomen: Bu (+), Nyeri tekan(+), supel, Inj omeprazole 2x40mg IV
hepatosplenomegai (+) P. Monitoring:
Ekstremitas: Akral dingin, edema (-), CRT >2 Ku dan TTV
detik
A:
1. Anemia gravis normo normo ec melena
2. Dyspepsia ec PUD
3. Hiperbilirubinemia ec cholecystitis
26//9/19 S: lemah, nyeri perut kanan atas, mual (+), Pdx :
Hari ke BAK pekat seperti teh Feses lengkap
4 O: P. Terapi :
KU: TSS, CM TD: 110/70 IVFD NaCl 0.9 % 1000
HR: 68x/menit RR: 20x/menit cc/24 jam
Suhu: 36,0C SPO2: 96% Cefotaxime 3 x 1 gr(H-2)
Mata: CA (+/+), SI (+/+) Transfusi PRC 1 Bag/hari,
Thorax : Ves +/+, Rh -/-, Wh -/- target 9gr/dL
Abdomen: Bu (+), Nyeri tekan(+), supel, Dexametason 3x1am p IV
murphy sign (+),hepatosplenomegai (+) Inj omeprazole 2x40mg IV
Ekstremitas: Akral dingin, edema (-), CRT >2 Sucralfat syr 3xIC
detik SF 2 X200mg PO
A: Cholecystitis akut P. Monitoring:
Anemia gravis normo normo ec melena Ku dan TTV
Dyspepsia ec PUD
27/9/19 S: lemah berkurang, nyeri perut berkurang, Pdx :
Hari ke mual berkurang, darah sudah masuk 3 bag Feses lengkap
4 O: P. Terapi :
KU: TSS, CM TD: 130/90 IVFD NaCl 0.9 % 1000 cc/24
HR: 78x/menit RR: 22x/menit jam
Suhu: 36,40C SPO2: 96% Cefotaxime 3 x 1 gr(H-3)
Mata: CA (+/+), SI (+/+) Transfusi PRC 1 Bag/hari,
Thorax : Ves +/+, Rh minimal, Wh -/- target 9gr/dL
Abdomen: Bu (+), Nyeri tekan(-), supel, Inj Ketorolac 3x30mg IV
hepatosplenomegai (+), murphy sign (+) Inj omeprazole 2x40mg IV
Ekstremitas : Akral Hangat, edema (-), Sucralfat syr 3xIC
CRT < 2 detik SF 2 X200mg PO
A: Cholecystitis akut P. Monitoring:
Anemia gravis ec melena Ku dan TTV
Dyspepsia ec PUD
28/9/19 S: lemah berkurang, nyeri perut berkurang, Pdx :
Hari ke mual (-), BAK pekat -
5 O P. Terapi :
KU: TSR, CM TD: 120/70 IVFD NaCl 0.9 % 1000 cc/24
HR: 73x/menit RR: 20x/menit jam
Suhu: 36,70C SPO2: 96% Cefotaxime 3 x 1 gr(H-4)
Mata: CA (+/+), SI (+/+) Transfusi PRC 1 Bag/hari,
Thorax : Ves +/+, Rh minimal, Wh -/- target 9gr/dL
Abdomen: Bu (+), Nyeri tekan(-), supel Tramadol 2x50mg PO
hepatosplenomegai (+), murphy sign (+) omeprazole 2x20mg PO
Ekstremitas : Akral Hangat, edema (-), Sucralfat syr 3xIC
CRT < 2 detik P. Monitoring:
A: Cholecystitis akut Ku dan TTV
Anemia gravis ec melena
1. Dyspepsia ec PU
30/9/19 S: lemah berkurang, nyeri perut berkurang, Pdx :
Hari ke mual (-), BAK pekat -
6 O P. Terapi :
KU: TSR, CM TD: 120/70 Cefixim 2x200mg
HR: 73x/menit RR: 20x/menit Tramadol 2x50mg PO
Suhu: 36,70C SPO2: 96% omeprazole 2x20mg PO
Mata: CA (-/-), SI (+/+) Sucralfat syr 3xIC
Thorax : Ves +/+, Rh minimal, Wh -/- SF 3X200mgPO
Abdomen: Bu (+), Nyeri tekan(-), supel, P. Monitoring:
hepatosplenomegai (+), murphy sign (+) Ku dan TTV
Ekstremitas : Akral Hangat, edema (-),
CRT < 2 detik Kie: KRS
A: Cholecystitis akut
Anemia gravis ec melena
Dyspepsia ec PU
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi
Ikterus (jaundice) berasal dari bahasa Greek, yang berarti kuning.
Ikterus adalah gambaran klinis berupa perubahan warna pada kulit dan
mukosa yang menjadi kuning karena adanya peningkatan konsentrasi bilirubin
dalam plasma, yang mencapai lebih dari 2 mg/dl. Terdapat 3 jenis ikterus
berdasarkan lokasi penyebabnya, yaitu ikterus prahepatik (hemolitik), ikterus
intrahepatik (parenkimatosa), dan ikterus ekstrahepatik (obstruktif). Ikterus
obstruktif merupakan ikterus yang disebabkan oleh adanya obstruksi pada
sekresi bilirubin pada jalur post hepatik, yang dalam keadaan normal
seharusnya dialirkan ke traktus gastrointestinal.1
3.2 Epidemiologi
Kasus ikterus obstruksi post-hepatik terbanyak mengenai usia 50 – 59
tahun 29,3%. Kasus ikterus obstruksi post-hepatik dapat mengenai jenis
kelamin laki-laki dan perempuan dimana jenis kelamin laki-laki sebanyak
65,9%.2 Hatfield et al, melaporkan bahwa kasus ikterus obstruktif terbanyak
adalah 70% karena karsinoma kaput pankreas, 8% pada batu common bile
duct, dan 2% adalah karsinoma kandung empedu.
3.3 Anatomi sistem hepatobilier3
3.3.1 Hepar
Hepar merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh dan mempunyai
banyak fungsi. Tiga fungsi dasar hepar, yaitu: (1) membentuk dan
mensekresikan empedu ke dalam traktus intestinalis; (2) berperan pada
metabolism yang berhubungan dengan karbohidrat, lemak, dan protein; (3)
menyaring darah untuk membuang bakteri dan benda asing lain yang masuk
ke dalam darah dari lumen intestinum.
Hepar bertekstur lunak, lentur, dan terletak dibagian atas cavitas
abdominalis tepat dibawah diafragma. Hepar terbagi menjadi lobus hepatis
dekstra dan lobus hepatis sinistra. Lobus hepatis dekstra terbagi lagi menjadi
lobus caudatus dan lovus quadratus.
Porta hepatis, atau hilus hepatis, terdapat pada fasies visceralis dan
terletak diantara lobus caudatus dan quadratus, bagian atas ujung bebas
omentum minus melekat pada pinggir-pinggir porta hepatis. Pada tempat ini
terdapat duktus hepatikus dekstra dan sinistra, ramus dekstra dan sinistra
arteri hepatica, vena porta hepatica, serta serabut-serabut saraf simpatis dan
parasimpatis. Hepar tersusun atas lobuli hepatis. Vena sentralis dari masing-
masing lobulus bermuara ke vena hepatica. Di dalam ruangan diantara
lobulus-lobulus terdapat kanalis hepatis yang berisi cabang-cabang arteria
hepatica, vena porta hepatis, dan sebuah cabang duktus koledokus (trias
hepatis). Darah arteria dam vena berjalan diantara sel-sel hepar melalui
sinusoid dan dialirkan ke vena sentralis.
3.3.2 Vesika biliaris
Vesika biliaris merupakan sebuah kantong berbentuk buah pir yang
terletak pada permukaan bawah (fasies visceralis) hepar. Vesika biliaris
mempunyai kemampuan menampung empedu sebanyak 30-50 ml dan
menyimpannya serta memekatkan empedu dengan cara mengabsorbsi air.
Vesika biliaris dibagi menjadi fundus, corpus, dan collum. Fundus vesika
biliaris berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah inferior hepar,
penonjolan ini merupakan tempat fundus bersentuhan dengan dinding anterior
abdomen setinggi ujung cartilage costalis IX dekstra. Corpus vesika biliaris
terletak dan berhubungan dengan fasies visceralis hepar dan arahnya keatas,
belakang, dan kiri. Collum vesika biliaris melanjutkan diri sebagai duktus
cystikus yang berbelok kea rah dalam omentum minus dan bergabung dengan
sisi kanan duktus hepatikus komunis untuk membentuk duktus koledokus.
3.4 Histologi sistem hepatobilier4
3.4.1 Hepar
Hepar terdiri atas unit-unit heksagonal, yaitu lobulus hepatikus. Di
bagian tengah setiap lobulus terdapat sebuah vena sentralis, yang dikelilingi
secara radial oleh lempeng sel hepar, yaitu hepatosit, dan sinusoid kearah
perifer. Sinusoid hati dipisahkan dari hepatosit dibawahnya oleh spatium
perisinusoideum subendotelial.
Hepatosit mengeluarkan empedu ke dalam saluran yang halus disebut
kanalikulus biliaris yang terletak diantara hepatosit. Kanalikulus menyatu di
tepi lobulus hati di daerah porta sebagai duktus biliaris. Duktus biliaris
kemudian mengalir ke dalam duktus hepatikus yang lebih besar yang
membawa empedu keluar dari hati. Di dalam lobulus hati, empedu mengalir
di dalam kanalikulus biliaris ke duktus biliaris ke daerah porta, sementara
darah dalam sinusoid mengalir ke dalam vena sentralis. Akibatnya, empedu
dan darah tidak bercampur.
3.4.2 Vesika biliaris
Vesika biliaris merupakan organ kecil berongga yang melekat pada
permukaan bawah hepar. Empedu diproduksi oleh hepatosit dan kemudian
mengalir dan disimpan di dalam kandung empedu (vesika biliaris). Empedu
keluar dari kandung empedu memalui duktus sistikus dan masuk ke
duodenum melalui duktus biliaris komunis menembus papilla duodeni mayor.
Empedu dicurahkan ke dalam saluran pencernaan akibat rangsangan kuat
hormon kolesistokinin dan secara kurang kuat oleh serabut-serabut saraf yang
menyekresikan asetilkolin dari system saraf vagus dan enterik usus, yang
meningkatkan motilitas dan sekresi empedu.
Biliverdine reductase
Unconjugated
Endoplasmic Liver
Reticulum
bilirubine (UCB)
UCB Conjugated
bilirubin (CB) Hepatocyte
Bind with
Circulate and Albumin in blood
Glucuronosyl reach
transferase
UCB Albumin
Small intestines
Urobilinogen and
urobilin that go out
Direct excretion Urobilinogen Enterohepatic with urine
circulation
Converted to
stercobilinogen and
stercobilin that go
Liver
out with stool
Reexcreted to bile
3.6 Etiologi
Penyebab ikterus obstruktif secara garis besar terbagi menjadi 2 bagian, yaitu
ikterus obstruksi intrahepatik dan ikterus obstruktif ekstrahepatik. Ikterus
obstruktif intrahepatik pada umumnya terjadi pada tingkat hepatosit atau
membran kanalikuli bilier sedangkan ikterus obstruktif ekstrahepatik,
terjadinya ikterus disebabkan oleh karena adanya sumbatan pada saluran atau
organ diluar hepar. Adapun penyakit yang menyebabkan terjadinya ikterus
obstruktif adalah sebagai berikut:
1) Ikterus obstruktif intrahepatik :
Penyebab tersering ikterus obstruktif intrahepatik adalah hepatitis,
penyakit hati karena alkohol, serta sirosis hepatis.7 Peradangan
intrahepatik mengganggu ekskresi bilirubin terkonjugasi dan
menyebabkan ikterus.
2) Ikterus obstruktif ekstrahepatik :
a. Kolelitiasis dan koledokolitiasis
Batu saluran empedu mengakibatkan retensi pengaliran bilirubin
terkonjugasi ke dalam saluran pencernaan sehingga mengakibatkan
aliran balik bilirubin ke dalam plasma menyebabkan tingginya kadar
bilirubin direk dalam plasma.8
b. Tumor ganas saluran empedu
Insidens tumor ganas primer saluran empedu pada penderita dengan
kolelitiasis dan tanpa kolelitiasis, pada penderita laki-laki dan
perempuan tidak berbeda. Umur kejadian rata-rata 60 tahun, tetapi
tidak jarang didapatkan pada usia muda. Jenis tumor kebanyakan
adenokarsinoma pada duktus hepatikus atau duktus koledokus.8
c. Atresia bilier
Terjadi karena proses inflamasi berkepanjangan yang menyebabkan
kerusakan progresif pada duktus bilier ekstrahepatik sehingga
menyebabkan hambatan aliran empedu, sehingga terjadi peningkatan
kadar bilirubin direk. Atresia bilier merupakan penyebab kolestatis
ekstrahepatik neonatal yang terbanyak. Terdapat dua jenis atresia
biliaris, yaitu ekstrahepatik dan intrahepatik. Bentuk intrahepatik lebih
jarang dibandingkan dengan ekstrahepatik.8
d. Tumor kaput pankreas
Tumor eksokrin pankreas pada umumnya berasal dari sel duktus dan
sel asiner. Sekitar 90% merupakan tumor ganas jenis adenokarsinoma
duktus pankreas, dan sebagian besar kasus (70%) lokasi kanker adalah
pada kaput pankreas. Pada stadium lanjut, kanker kaput pankreas
sering bermetastasis ke duodenum, lambung, peritoneum, hati, dan
kandung empedu.8
3.7 Patofisiologi
Ikterus secara umum terbagi menjadi 3, yaitu ikterus prehepatik, ikterus
hepatik, dan ikterus posthepatik atau yang disebut ikterus obstruktif. Ikterus
obstruktif disebut juga ikterus posthepatik karena penyebab terjadinya ikterus
ini adalah pada daerah posthepatik, yaitu setelah bilirubin dialirkan keluar dari
hepar.
Pada ikterus obstruktif, terjadi obstruksi dari pasase bilirubin direk sehingga
bilirubin tidak dapat diekskresikan ke dalam usus halus dan akibatnya terjadi
aliran balik ke dalam pembuluh darah. Akibatnya kadar bilirubin direk
meningkat dalam aliran darah dan penderita menjadi ikterik. Ikterik paling
pertama terlihat adalah pada jaringan ikat longgar seperti sublingual dan
sklera. Karena kadar bilirubin direk dalam darah meningkat, maka sekresi
bilirubin dari ginjal akan meningkat sehingga urine akan menjadi gelap
dengan bilirubin urin positif. Sedangkan karena bilirubin yang diekskresikan
ke feses berkurang, maka pewarnaan feses menjadi berkurang dan feses akan
menjadi berwarna pucat seperti dempul (acholis).8
3.8 Manifestasi klinis dan pemeriksaan fisik
Manifestasi klinis yang dikeluhkan oleh pasien dengan ikterus obstruktif,
bergantung pada jenis penyakit yang menyebabkan obstruksi sehingga
menyebabkan terjadinya ikterus. Berikut ini merupakan manifestasi klinis
yang secara umum dikeluhkan oleh pasien yang mengalami ikerus, yaitu
berupa:8
1) Warna kuning pada sklera mata, sublingual, dan jaringan lainnya
Hal ini diakibatkan karena adanya peningkatan kadar bilirubin dalam plasma
yang terdeposit pada jaringan ikat longgar, salah satu diantaranya adalah
sklera dan sublingual.
2) Warna urin gelap seperti teh
Adanya peningkatan kadar bilirubin direk yang larut dalam air, menyebabkan
tingginya kadar bilirubin dalam plasma, sehingga kadar bilirubin yang
berlebih dalam plasma tersebut akan diekskresikan melalui urin dan
menyebabkan warna urin menjadi lebih gelap seperti teh.
3) Warna feses seperti dempul
Perubahan warna feses menjadi dempul disebabkan karena berkurangnya
ekskresi bilirubin ke dalam saluran pencernaan.
2) Batu Empedu,8,9,10,11
Pada penyakit batu empedu, umumnya sebagian besar pasien tidak
menunjukan gejala klinis (asimptomatik) yang dalam perjalanan penyakitnya
dapat tetap asimptomatik selama bertahun-tahun dan sebagian kecil dapat
berkembang menjadi simptomatik. Kurang dari 50% penderita batu empedu
mempunyai gejala klinis.
Manifestasi klinis yang sering terjadi diantaranya adalah mengeluhkan adanya
kolik biliaris dan nyeri hebat pada epigastrium dan kuadran kanan atas
abdomen yang menjalar hingga ke punggung atau bahu kanan, terutama
setelah makan.
Serangan kolik bilier ini disebabkan oleh kontraksi kandung empedu yang
tidak dapat mengalirkan empedu keluar akibat tersumbatnya saluran oleh
empedu, menyebabkan tekanan di duktus biliaris meningkat dan terjadi
peningkatan kontraksi di tempat penyumbatan yang mengakibatkan timbulnya
nyeri visera pada daerah epigastrium dan kuadran kanan atas abdomen.
Nyeri pada kuadran kanan atas abdomen dikarenakan implikasi pada saraf
yang mempersarafi vesika felea, yaitu plexus coeliacus. Nyeri yang akan
diterima oleh saraf aferen mengikuti saraf simpatis. Nyeri ini akan berjalan
melui plexus coeliacus dan nervus sphlangnicus mayor menuju ke medulla
spinalis. Proses peradangan dapat menyebabkan plexus coeliacus terjepit,
sehingga nyeri dapat menyebar dan mengenai peritoneum parietal dinding
anterior abdomen atau diafragma bagian perifer. Hal ini menyebabkan nyeri
somatik dirasakan dikuadran kanan atas dan berjalan ke punggung bawah
angulus inferior skapula, serta radang yang mengenai peritoneum parietal
bagian sentral yang dipersarafi oleh nervus frenikus (C3, C4, C5) akan
menyebabkan nyeri di daerah bahu sebab kulit di daerah bahu mendapat
persarafan dari nervus supraklavikularis (C3, C4).
Nyeri hebat ini sering disertai dengan rasa mual dan muntah. Perangsangan
mual dapat diakibatkan oleh karena adanya obstruksi saluran empedu
sehingga mengakibatkan aliran balik cairan empedu ke hepar menyebabkan
terjadinya proses peradangan pada sekitar hepatobilier yang bersifat iritatif di
saluran cerna sehingga merangsang nervus vagal dan menekan rangsangan
sistem saraf parasimpatis sehingga terjadi penurunan pergerakan peristaltik
sistem pencernaan di usus dan lambung, menyebabkan makanan tertahan di
lambung dan peningkatan rasa mual yang mengaktifkan pusat muntah di
medulla oblongata.
Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan adanya nyeri tekan epigastrium dan
daerah kuadran kanan atas abdomen. Tanda Murphy positif positif apabila
nyeri trkan bertambah sewaktu pasien menarik napas panjang karena kandung
empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien
berhenti menarik napas.
Koledokolitiasis dapat terjadi apabila batu berpindah tempat dari kandung
empedu dan menyumbat duktus koledokus. Sumbatan ini dapat menyebabkan
kolangitis atau pankreatitis akut. Pasien dengan koledokolitiasis sering
menunjukan gejala jaundice dan demam, selain nyeri. Pasien juga dapat
mengeluhkan adanya feses yang berwarna dempul akibat retensi aliran
bilirubin ke dalam saluran cerna akibat adanya obstruksi, serta keluhan berupa
urin berwarna cokelat gelap seperti teh karena meningkatnya kadar ekskresi
bilirubin ke dalam urin.
b. Cholestatic pattern
Istilah kolestasis lebih disukai untuk pengertian icterus obstruktif sebab
obstruksi yang bersifat mekanis tidak perlu selalua ada. Aliran empedu
dapat terganggu pada tingkat mana saja dari mulai sel hati
(kanalikulus), sampai ampula vater. Secara klinis, membedakan
kolestasis intrahepatik dan ekstrahepatik sangat penting. Penyebab
paling sering kolestasis intrahepatic adalah hepatitis, keracunan obat,
penyakit hati akibat alcohol, dan penyakt hati autoimun. Penyebab yang
kurang sering adalah sirosis hati bilier primer, kolestasis pada
kehamilan, karsinoma metastatik, dan penyakit-penyakit lain yang
jarang (Sulaiman, 2014).
Virus hepatitis, keracunan obat (drug induced), alcohol, dan kelainan
autoimun merupakan penyebab yang tersering. Peradangan intrahepatik
mengganggu transport bilirubin konjugasi dan menyebabkan ikterus.
Hepatitis A merupakan penyakit self limited dan dimanifestasikan
dengan icterus yang timbul secara akut. Hepatitis B dan C akut sering
tidak menimbulkan ikterus pada tahap awal (akut), tetapi bisa berjalan
kronik dan menahun, mengakibatkan gejala hepatitis menahun atau
bahkan sampai sirosis hati. Tidak jarang penyakit hati menahun juga
disertai gejala kuning, sehingga kadang-kadang didiagnosis salah
sebagai hepatitis akut (Roche & Kobos, 2004).
3.11 Tatalaksana8
Tatalaksana ikterus sangat tergantung pada penyakit dasar penyebabnya. Jika
penyebabnya adalah penyakit hepatoseluler, biasa ikterus akan menghilang
sejalan dengan perbaikan penyakitnya. Jika penyebabnya adalah sumbatan
bilier ekstra-hepatik biasanya membutuhkan tindakan pembedahan.
a. Tatalaksana kolelitiasis
Pada pasien dengan kolelitiasis dapat dilakukan tindakan operatif
kolesistektomi, yaitu dengan mengangkat batu dan kandung empedu.
Kolesistektomi dapat berupa kolesistektomi elektif konvensional
(laparatomi) atau dengan menggunakan laparaskopi.
Indikasi kolesistektomi elektif konvensional maupun laparaskopik adalah
adalah kolelitiasis asimptomatik pada penderita diabetes mellitus karena
serangan kolesistitis akut dapat menimbulkan komplikasi berat. Indikasi
lain adalah kandung empedu yang tidak terlihat pada kolesistografi oral,
yang menandakan stadium lanjut, atau kandung empedu dengan batu
besar, berdiameter lebih dari 2 cm karena batu yang besar lebih sering
menyebabkan kolesistitis akut dibandingkan dengan batu yang lebih kecil.
Indikasi lain adalah kalsifikasi kandung empedu karena dihubungkan
dengan kejadian karsinoma.
b. Tatalaksana tumor ganas saluran empedu
Tatalaksana terbaik adalah dengan pembedahan. Adenokarsinoma saluran
empedu yang baik untuk direseksi adalah yang terdapat pada duktus
koledokus bagian distal atau papilla Vater. Pembedahan dilakukan dengan
cara Whipple, yaitu pankreatiko-duodenektomi.
c. Tatalaksana atresia bilier
Tatalaksana atresia bilier ekstrahepatik adalah dengan pembedahan.
Atresia bilier intrahepatik pada umumnya tidak memerlukan pembedahan
karena obstruksinya relatif bersifat ringan. Jenis pembedahan atresia bilier
ekstrahepatik adalah portoenterostomi teknik Kasai dan bedah
transplantasi hepar.
Bedah dekompresi portoenterostomi. Langkah pertama bedah
portoenterostomi adalah membuka ligamentum hepatoduodenale untuk
mencari sisa saluran empedu ekstrahepatik yang berupa jaringan fibrotik.
Jaringan fibrotik ini diikuti terus kearah hilus hati untuk menemukan
ujung saluran empedu yang terbuka di permukaan hati. Rekonstruksi
hubungan saluran empedu di dalam hati dengan saluran cerna dilakukan
dengan menjahitkan yeyunum ke permukaan hilus hati. Apabila atresia
hanya terbatas pada duktus hepatikus komunis, sedangkan kandung
empedu dan duktus sitikus serta duktus koledokus paten, maka cukup
kandung empedu saja yang disambung dengan permukaan hati di daerah
hilus. Pada bayi dengan atresia saluran empedu yang dapat dikoreksi
langsung, harus dilakukan anastomosis mukosa dengan mukosa antara sisa
saluran empedu dan duodenum atau yeyunum.
Komplikasi pascabedah adalah kolangitis berulang yang timbul pada 30-
60% penderita yang dapat hidup lama. Kolangitis umumnya mulai timbul
6-9 bulan setelah dibuat anastomosis. Pengobatan kolangitis adalah
dengan pemberian antibiotik selama dua minggu.
Jika dilakukan transplantasi hati, keberhasilan transplantasi hati setelah
satu tahun berkisar antara 65-80%. Indikasi transplantasi hati adalah
atresia bilier intrahepatik yang disertai gagal hati.
d. Tatalaksana tumor kaput pankreas
Sebelum terapi bedah dilakukan, keadaan umum pasien harus diperbaiki
dengan memperbaiki nutrisi, anemia, dan dehidrasi. Pada ikterus ibstruksi
total, dilakukan penyaliran empedu transhepatik sekitar 1 minggu
prabedah. Tindakan ini bermanfaat untuk memperbaiki fungsi hati.
Bedah kuratif yang mungkin berhasil adalah pankreatiko-dudenektomi
(operasi Whipple). Operasi Whipple ini dilakukan untuk tumor yang masih
terlokalisasi, yaitu pada karsinoma sekitar ampula Vateri, duodenum, dan
duktus koledokus distal. Tumor dikeluarkan secara radikal en bloc, yaitu
terdiri dari kaput pankreas, korpus pancreas, duodenum, pylorus, bagian
distal lambung, bagian distal duktus koledokus yang merupakan tempat
asal tumor, dan kelenjar limf regional
BAB 4
PEMBAHASAN
Terdapat 3 jenis ikterus berdasarkan lokasi penyebabnya, yaitu ikterus prahepatik
(hemolitik), ikterus intrahepatik (parenkimatosa), dan ikterus ekstrahepatik
(obstruktif). Pada ikterus obstruktif, kemampuan produksi bilirubin adalah normal,
namun bilirubin yang dibentuk tidak dapat dialirkan ke dalam usus melalui sirkulasi
darah oleh karena adanya suatu sumbatan (obstruksi).
Berdasarkan anamnesis didapatkan laki-laki 54 tahun sesuai dengan teori kasus
ikterus obstruksi post-hepatik terbanyak mengenai usia 50 – 59 tahun 29,3%. Kasus
ikterus obstruksi post-hepatik dapat mengenai jenis kelamin laki-laki dan perempuan
dimana jenis kelamin laki-laki sebanyak 65,9%.2
Pasien datang dengan keluhan lemah, badan berwarna kuning, nyeri perut kanan atas,
sesak nafas, rasa berdebar debar, demam, BAK berwarna kunig teh, BAB berwarna
pucat. Warna urin gelap seperti teh dikarenakan adanya peningkatan kadar bilirubin
direk yang larut dalam air, menyebabkan tingginya kadar bilirubin dalam plasma,
sehingga kadar bilirubin yang berlebih dalam plasma tersebut akan diekskresikan
melalui urin dan menyebabkan warna urin menjadi lebih gelap seperti teh. Warna
feses seperti dempul Perubahan warna feses menjadi dempul disebabkan karena
berkurangnya ekskresi bilirubin ke dalam saluran pencernaan. Trias charcot untuk
menentukan klinis batu kantung empedu seperti; demam, nyeri perut kanan atas,
jaundice.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan ;kulit :ikterik,mata: CA+/+; SI+/+; Mulut:
sublingual ikterik +; abdomen: murphy sign (+) hepatopslenomegali; ext: akral
dingin, crt> 2”; Warna kuning pada sklera mata, sublingual, dan jaringan lainnyaHal
ini diakibatkan karena adanya peningkatan kadar bilirubin dalam plasma yang
terdeposit pada jaringan ikat longgar, salah satu diantaranya adalah sklera dan
sublingual. Nyeri pada kuadran kanan atas abdomen dikarenakan implikasi pada saraf
yang mempersarafi vesika felea, yaitu plexus coeliacus. Nyeri hebat ini sering disertai
dengan rasa mual dan muntah.
Pada pemeriksaan bilirubun didapatkan peningkatan bilirubun direk 2,38mg/dL.
Peningkatan kadar bilirubin indirek lebih sering terjadi akibat adanya penyakit
hepatoseluler, sedangkan apabila terjadi peningkatan bilirubin direk biasanya terjadi
karena adanya obstruksi pada aliran ekskresi empedu.
Pada pemeriksaan USG Cholecystitis akut, tak tampak tanda obstruksi bilier
intra/ekstra hepatal saat ini, Hepatomegali suspek ec hepatitis akut, Ascites minimal
Splenomegali, Pada teori hal yang perlu kita perhatikan pada pemeriksaan USG
adalah Besar, bentuk, dan ketebalan dinding kandung empedu, Saluran empedu yang
normal mempunyai diameter 3 mm, Ada atau tidaknya massa padat di dalam lumen
yang mempunyai densitas tinggi disertai bayangan akustik (acoustic shadow), dan
ikut bergerak pada perubahan posisi, hal ini menunjukan adanya batu
empedu,Apabila terdapat kecurigaan penyebab ikterus obstruktif adalah karena
karsinoma pankreas, dapat terlihat adanya pembesaran pankreas lokal maupun
menyeluruh, perubahan kontur pankreas, penurunan ekhogenitas, serta dapat
ditemukan adanya pelebaran duktus pankreatikus.
Tatalaksana pada pasien ini diberikan IVFD NaCl 0.9 % 20 tpm; Diet lunak rendah
lemak; Injeksi omeprazole 2x40mg IV; Sucralfat syr 3x IC PO; SF 3x200mg PO
Transfusi PRC 6 bag target HB ≥9gr/dL, 1 bag/hari. Berdasarkan teori tatalaksana
ikterus sangat tergantung pada penyakit dasar penyebabnya. Jika penyebabnya adalah
penyakit hepatoseluler, biasa ikterus akan menghilang sejalan dengan perbaikan
penyakitnya. Jika penyebabnya adalah sumbatan bilier ekstra-hepatik biasanya
membutuhkan tindakan pembedahan.
BAB 5
PENUTUP
Telah dilaporkan pasien laki-laki berusia 54 tahun dengan jaundice ec cholesistisis
akut, anemia gravis dan dispepsia. Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (pemeriksaan laboratorium dan, USG
abdomen). Pasien telah dirawat di ruangan rawat inap flamboyan selama 7 hari
dipulangkan dengan keluhan minimal yaitu anemia dan badan kuning dan nyeri perut
kanan atas.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sulaiman, Ali. Pendekatan klinis pada pasien ikterus. In: Aru W Sudoyo, et al.
Buku ajar ilmu penyakit dalam Jilid 1. 5th Ed. Jakarta: Penerbitan FKUI;
2007.p.420-3.
2. Pratt & Kaplan. 2012. Jaundice. Dalam Longo, Fauci, Kasper, Jameson,
Loscalzo (Ed.). Harrison’s Principle of Internal Medicine 18th Ed (volume I),
324-29. United States of America: The McGraw-Hill Companies.
3. Snell, Richard S. Anatomi klinik. 6th Ed. Jakarta: Penerbitan buku kedokteran
EGC; 2006.p.240-7, 288-91.
4. Eroschenko, Victor P. Dygestive system: liver, gallbladder, and pancreas. In:
Difiore’s atlas of histology with functional correlations. 11th Ed. USA:
Lippincott Williams & Wilkins; 2007.
5. Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, et al. The liver bilirubinemias. In:
Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17th ed. United States of America:
Mc Graw Hill; 2007.p.297-8.
6. Murray RK, Granner DK. Biokimia Harper. 27th ed. Jakarta: EGC;
2005.p.285-300.
7. Aditya PM, Suryadarma IGA. Laporan kasus: sirosis hepatis. Bali: Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana; 2012.
8. Sjamsuhidajat, R. Buku ajar ilmu bedah. 3th Ed. Jakarta: Penerbitan buku
kedokteran EGC; 2010.p254-7,663-7,672-82,717-82.
9. Silbernagl S, Lang F. Teks & atlas berwarna patofisiologi. Jakarta: Penerbitan
buku kedokteran EGC; 2006.p.140,166.
10. Widiastuty AS. Patogenesis batu empedu. Palembang: Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah; 2010.
11. Schwartz Si. Manifestations of gastrointestinal disease. In: Principles of
surgery. 5th Ed. Singapore: McGraw-Hill; 1989.p.1091-1099.
12. Purnomo B, Hegar B. Biliary atresia in infants with cholestasis. Jakarta:
Fakultas kedokteran universitas Indonesia; 2008
13. Pedoman interpretasi data klinik. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia; 2011.p15-26, 56-62.