Anda di halaman 1dari 7

Nama : Yustia Imroatin Habibah

NIM / Kelas : 17020074007 / PA 2017

Mata Kuliah : Sastra Lisan

MITOS GUNUNG LAWU

1. Gunung Lawu merupakan sebuah dataran tinggi yang terletak di


perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini sangat kental dengan mitos.
Gunung ini memiliki ketinggian lebih kurang 3200 meter diatas
permukaan laut yang diketahui merupakan gunung tertinggi ke-76 di
dunia.
2. Gunung Lawu adalah gunung paling angker di Indonesia, gunung ini
seolah-olah hidup dan bernyawa, dan juga banyak kejadian-kejadian aneh
yang muncul. Hal ini yang membuat penasaran bagi pendaki gunung.
3. Kisah ini berawal ketika masa Kerajaan Majapahit berakhir sekitar tahun
1400 M, kala itu rajanya bernama Prabu Bhrawijaya V yang merupakan
raja terakhir dari Kerajaan Majapahit. Prabu Bhrawijaya V diketahui
memiliki 2 istri yaitu Ratu Petak Putri yang melahirkan seorang anak yang
bernama Raden Fatah dan Ratu Jingga yang melahirkan seorang anak yang
bernama Pangeran Katong. Singkat cerita, Raden Fatah memeluk agama
Islam dan menentang agama yang dianut ayahnya yaitu Budha. Bersamaan
dengan melemahnya Kerajaan Majapahit, Raden Fatah mendirikan
Kerajaan Demak. Hal ini menyebabkan Prabu Bhrawijaya merasa gundah
dan gelisah.
4. Pada suatu malam, Prabu Bhrawijaya V bersemedi dan dalam semedinya
beliau mendapat petunjuk bahwa kerajaannya akan runtuh dan akan
digantikan oleh kerajaan anaknya Raden Fatah yaitu Kerajaan Demak.
Kemudian Prabu Bhrawijaya meninggalkan kerajaan Majapahit dan
hendak bersemedi di Gunung Lawu untuk menyendiri.
5. Ketika sampai di Hargo Dalem yang merupakan puncak tertinggi Gunung
Lawu, Prabu Bhrawijaya mengatakan kepada para pengikut setianya
bahwa sudah saatnya ia menghilang, meninggalkan kehidupan di dunia ini.
Kemudian beliau mengangkat Dipa Menggala menjadi penguasa Gunung
Lawu yang diberi gelar Sunan Gunung Lawu dan Wangsa Menggala
diangkat sebagai patih Dipa Menggala yang diberi gelar Kyai Jalak.
Setelah beliau mengucapkan itu, Prabu Bhrawijaya V menghilang dan
hingga kini jasad beliau tidak pernah ditemukan oleh siapa pun. Setelah
itu, tersisalah 2 orang pengikut setia Prabu Bhrawijaya, mereka pun
menjalankan amanat menjaga Gunung Lawu.
6. Dengan kesempurnaan ilmu yang mereka punya, Sunan Gunung Lawu
menjelma menjadi makhluk gaib sedangkan Kyai Jalak menjelma menjadi
seekor burung Jalak berwarna gading. Kisah burung jalak ini masih
berlanjut hingga saat ini, banyak orang yang percaya bahwa burung jalak
ini sering muncul dan memberi petunjuk jalan menuju puncak Gunung
Lawu kepada para pendaki yang berniat baik. Sedangkan, apabila pendaki
memiliki niatan buruk, Kyai Jalak tidak akan merestui mereka dan
akibatnya para pendaki yang mempunyai niatan buruk tersebut akan
menerima nasib yang buruk juga.
7. Terdapat juga salah satu misteri Gunung Lawu yang ditakuti oleh para
pendaki adalah kemunculan Macan Lawu yaitu sosok berupa harimau
yang dipercaya sebagai sosok gaib penunggu Gunung Lawu. Biasanya,
kehadiran macan ini merupakan sebuah pertanda buruk, tapi terkadang
juga dianggap sebagai pertanda baik bagi orang-orang yang mencari
“ilmu” di gunung ini.
8. Kehadiran Macan Lawu biasanya akan diiringi dengan peristiwa yang
mengerikan, seperti penemuan mayat yang mungkin sudah hilang berhari-
hari di Gunung Lawu tersebut. Setiap malam satu suro, banyak orang yang
berbondong-bondong menuju ke Gunung Lawu untuk bertapa atau
melakukan ritual. Permintaan dari orang-orang tersebut macam-macam,
seperti minta kesaktian, kekayaan, sampai dengan minta agar segera
dipertemukan jodohnya. Permintaan tersebut dikabulkan ditandai dengan
penampakan sosok manusia berbulu loreng yang mirip dengan macan.
9. Misteri selanjutnya yaitu kehadiran pasar setan di Gunung Lawu yang
tentunya sudah tidak asing lagi di telinga para pendaki, sebuah pasar tak
terlihat oleh mata ini berada di jalur Candi Cetho, yaitu lereng Gunung
Lawu yang banyak ditumbuhi ilalang. Sebenarnya jalur ini merupakan
jalur yang paling pendek dan cepat menuju puncak Gunung Lawu, akan
tetapi jalur ini merupakan jalur yang paling berbahaya.
10. Hal ini disebabkan karena tanjakan-tanjakan di jalur ini sangat terjal,
jurang-jurang menganga di pinggiran track, kabut tebal sering turun yang
membuat jarak pandang begitu pendek dan memperbesar resiko tersesat.
Serta kepercayaan yang mengatakan bahwa jalur ini adalah perlintasan
alam ghaib dan kehadiran pasar setan.
11. Oleh karena itu, jalur ini sangat berbahaya dan tidak begitu favorit bagi
para pendaki. Para pendaki lebih senang memilih dua jalur lainnya yaitu
Jalur Cemoro Kandang dan jalur Cemoro Sewu. Keberadaan pasar setan
ini memang paling terkenal. Ada sebuah lahan tanah di lereng Gunung
Lawu ketika melintasi jalur Candi Cetho.
12. Apabila pada malam hari melintasi lahan ini dan mendengar suara-suara
keramaian seperti pasar, padahal tidak ada siapa pun disana dan hanya
anda dan rombongan. Suara keramaian itu adalah aktivitas makhluk ghaib
di pasar setan. Bagi orang yang dikaruniai indera keenam atau indigo,
mereka dapat melihat sebuah keramaian seperti pasar, dimana banyak
orang yang bertransaksi jual beli di pasar setan itu. Tentu saja orang-orang
tersebut merupakan makhluk ghaib.
13. Konon, ketika melewati kawasan pasar setan ini dan mendengar ada yang
berkata “Mau beli apa?” maka harus membuang uang berapa pun
nominalnya atau salah satu barang yang dimiliki. Mitos ini dilakukan
sebagai barter, layaknya jual beli dipasar agar tidak ada makhluk halus
yang mengikuti.
14. Sebuah mitos juga mengatakan, apabila seorang pendaki bertemu dengan
kupu-kupu hitam yang memiliki bulatan biru di sayapnya, artinya pendaki
tersebut diterima baik di Gunung Lawu. Apabila pendaki tersebut tidak
mau tertimpa nasib buruk dan ingin mendapat berkah, sebaiknya tidak
menangkap, mengganggu, menyakiti, apalagi membunuh kupu-kupu
tersebut.
15. Gunung Lawu juga memiliki nyawa, saat mendaki gunung tersebut
sebaiknya tidak banyak mengeluh. Sebab, Gunung Lawu itu akan
mendengar apa yang kamu keluhkan dan mewujudkannya. Bila kamu
mengeluh lapar, kamu akan merasakan kelaparan yang luar biasa. Bila
kamu mengeluh lelah, kamu akan merasakan kelelahan yang tiada tara.
Begitu juga apabila kamu mengeluh dingin, kamu akan merasakan
kedinginan yang hebat, padahal rekan anda yang lain tidak kedinginan.
16. Dipercaya juga bahwa saat mendaki Gunung Lawu tidak boleh memakai
pakaian berwarna hijau, hal ini disebabkan karena baju warna hijau adalah
pakaian yang digunakan oleh Nyi Loro Kidul, Ratu Pantai Selatan yang
tidak boleh digunakan oleh sembarangan di Jawa dan juga kepercayaan
mengatakan bahwa barang siapa yang mendaki Gunung Lawu dengan
rombongan berjumlah ganjil, maka rombongan tersebut akan dilanda nasib
sial.
17. Dari cerita diatas dapat disimpulkan bahwa kita diajarkan untuk selalu
berfikiran dan bertindak positif dengan mengikuti segala peraturan yang
ada, selalu berhati-hati dalam berucap dan waspada ketika berada di
tempat asing.

Setelah membaca Mitos Gunung Lawu di atas, kita dapat menemukan


beberapa episode mengandung ceritheme-ceritheme yang memperlihatkan pada
kita berbagai relasi antar tokoh yang ada pada ceritera tersebut.

Episode I (Alinea 1 dan 17) yang kita dapati tentang Mitos Gunung Lawu
yaitu gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur yang
memiliki banyak mitos. Gunung Lawu memiliki legenda dengan unsur magis
yang kuat dipercaya sejak zaman Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, ketika
mendaki sebuah gunung harus selalu waspada, berucap dan bertindak positif, dan
mengikuti segala peraturan yang berlaku.
Episode II (Alinea 2 dan 15-16) menceriterakan tentang Gunung Lawu
yang seolah-olah hidup dan bernyawa, dan juga banyak kejadian-kejadian aneh
yang muncul. saat mendaki gunung tersebut sebaiknya tidak banyak mengeluh.
Sebab, Gunung Lawu itu akan mendengar apa yang kamu keluhkan dan
mewujudkannya. Bila kamu mengeluh lapar, kamu akan merasakan kelaparan
yang luar biasa. Bila kamu mengeluh lelah, kamu akan merasakan kelelahan yang
tiada tara. Begitu juga apabila kamu mengeluh dingin, kamu akan merasakan
kedinginan yang hebat, padahal rekan anda yang lain tidak kedinginan. Jadi jika
mendaki Gunung Lawu harus bertahi-hati dalam berucap. Kemudian saat mendaki
Gunung Lawu tidak boleh memakai pakaian berwarna hijau, karena baju warna
hijau adalah pakaian yang digunakan oleh Nyi Loro Kidul, Ratu Pantai Selatan
yang tidak boleh digunakan oleh sembarangan di Jawa dan juga kepercayaan
mengatakan bahwa barang siapa yang mendaki Gunung Lawu dengan rombongan
berjumlah ganjil, maka rombongan tersebut akan dilanda nasib sial.

Episode III (Alinea 3) menceritakan tentang awal mula mitos di Gunung


Lawu. Berawal dari masa Kerajaan Majapahit berakhir sekitar tahun 1400 M,
rajanya bernama Prabu Bhrawijaya V yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan
Majapahit. Prabu Bhrawijaya V diketahui memiliki 2 istri yaitu Ratu Petak Putri
(RPP) yang melahirkan seorang anak yang bernama Raden Fatah (RF) dan Ratu
Jingga (RJ) yang melahirkan seorang anak yang bernama Pangeran Katong (PK).
Singkat cerita, Raden Fatah memeluk agama Islam dan menentang agama yang
dianut ayahnya yaitu Budha. Bersamaan dengan melemahnya Kerajaan Majapahit,
Raden Fatah mendirikan Kerajaan Demak. Dari sini kita dapat melihat bahwa
Raja Prabu Bhrawijaya V mempunyai istri 2 dan masing-masing mempunyai
anak. Dengan demikian dalam episode III ini kita temukan oposisi biner sebagai
berikut:

RF: Anak dari Prabu Bhrawijaya V dan Ratu Petak Putri (RPP) yang
menjadi Raja Demak

PK: Anak dari Prabu Bhrawijaya V dan Ratu Jingga (RJ) yang tidak
menjadi apa-apa.

Berdasarkan oposisi tersebut, Raden Fatah menjadi Raja Demak setelah


Kerajaan Majapahit mulai runtuh. Beliau masuk Islam dan menentang agama
yang dianut ayahnya yaitu Budha.

Episode IV (Alinea 4-6) menguraikan tentang Prabu Bhrawijaya V yang


semedi dan mendapat wangsit bahwa kerajaannya akan runtuh dan akan
digantikan oleh kerajaan anaknya Raden Fatah yaitu Kerajaan Demak. Setelah
sampai di Hargo Dalem yang merupakan puncak tertinggi Gunung Lawu, Prabu
Bhrawijaya V menghilang. Kemudian beliau mengangkat Dipa Menggala (DM)
menjadi penguasa Gunung Lawu yang diberi gelar Sunan Gunung Lawu
menjelma menjadi makhluk gaib dan Wangsa Menggala (WM) diangkat sebagai
patih Dipa Menggala yang diberi gelar Kyai Jalak yang menjelma menjadi seekor
burung Jalak berwarna gading.

DM: Pengikut setia Prabu Bhrawijaya V diangkat sebagai penguasa


Gunung Lawu yang diberi gelar Sunan Gunung Lawu menjelma menjadi makhluk
gaib

WM: Pengikut setia Prabu Bhrawijaya V diangkat sebagai Kyai Jalak


menjelma menjadi seekor burung Jalak berwarna gading

Banyak orang yang percaya bahwa burung jalak ini sering muncul dan
memberi petunjuk jalan menuju puncak Gunung Lawu kepada para pendaki yang
berniat baik. Sedangkan, apabila pendaki memiliki niatan buruk, Kyai Jalak tidak
akan merestui mereka dan akibatnya para pendaki yang mempunyai niatan buruk
tersebut akan menerima nasib yang buruk juga.

Episode V (Alinea 7-8 dan 14) menceritakan bahwa misteri Gunung Lawu
yang lainnya adalah kemunculan Macan Lawu (ML) yaitu sosok berupa harimau
yang dipercaya sebagai sosok gaib penunggu Gunung Lawu. Biasanya, kehadiran
macan ini merupakan sebuah pertanda buruk. Kehadiran Macan Lawu biasanya
akan diiringi dengan peristiwa yang mengerikan, seperti penemuan mayat yang
mungkin sudah hilang berhari-hari di Gunung Lawu tersebut. Setiap malam satu
suro, banyak orang yang berbondong-bondong menuju ke Gunung Lawu untuk
bertapa atau melakukan ritual. Permintaan dari orang-orang tersebut macam-
macam, seperti minta kesaktian, kekayaan, sampai dengan minta agar segera
dipertemukan jodohnya. Permintaan tersebut dikabulkan ditandai dengan
penampakan sosok manusia berbulu loreng yang mirip dengan macan. Kemudian
apabila seorang pendaki bertemu dengan kupu-kupu hitam (KH) yang memiliki
bulatan biru di sayapnya, artinya pendaki tersebut diterima baik di Gunung Lawu.
Apabila pendaki tersebut tidak mau tertimpa nasib buruk dan ingin mendapat
berkah, sebaiknya tidak menangkap, mengganggu, menyakiti, apalagi membunuh
kupu-kupu tersebut. Dengan demikian dalam episode III ini kita temukan oposisi
biner sebagai berikut:

ML: Sosok berupa harimau yang dipercaya sebagai sosok gaib penunggu
Gunung Lawu sebagai pertanda buruk

KH: Kupu-kupu hitam yang memiliki bulatan biru di sayapnya yang


artinya sebagai pertanda baik bagi para pendaki Gunung Lawu

Dalam episode ini “sosok jelmaan hewan” antara harimau dan kupu-kupu
hitam yang memiliki perannya masing-masing. Sosok harimau sebagai pertanda
buruk, sedangkan kupu-kupu hitam sebagai pertanda baik.
Episode VI (Alinea 9-13) mengisahkan tentang misteri selanjutnya yaitu
kehadiran pasar setan di Gunung Lawu yaitu sebuah pasar tak terlihat oleh mata
ini berada di jalur Candi Cetho (CC), yaitu lereng Gunung Lawu yang banyak
ditumbuhi ilalang. Sebenarnya jalur ini merupakan jalur yang paling pendek dan
cepat menuju puncak Gunung Lawu, akan tetapi jalur ini merupakan jalur yang
paling berbahaya. Hal ini disebabkan karena tanjakan-tanjakan di jalur ini sangat
terjal, jurang-jurang menganga di pinggiran track, kabut tebal sering turun yang
membuat jarak pandang begitu pendek dan memperbesar resiko tersesat. Serta
kepercayaan yang mengatakan bahwa jalur ini adalah perlintasan alam ghaib dan
kehadiran pasar setan. Oleh karena itu, jalur ini sangat berbahaya dan tidak begitu
favorit bagi para pendaki. Para pendaki lebih senang memilih dua jalur lainnya
yaitu Jalur Cemoro Kandang (CK) dan jalur Cemoro Sewu (CS).

CC: Jalur Gunung Lawu yang paling pendek, tetapi paling berbahaya.
Dipercaya sebagai perlintasan alam ghaib dan pasar setan

CK & CS: Jalur Gunung Lawu yang sedikit agak jauh tetapi aman dan
favorit bagi pendaki

Keberadaan pasar setan ini memang paling terkenal. Ada sebuah lahan
tanah di lereng Gunung Lawu ketika melintasi jalur Candi Cetho. Apabila pada
malam hari melintasi lahan ini dan mendengar suara-suara keramaian seperti
pasar, padahal tidak ada siapa pun disana dan hanya anda dan rombongan. Suara
keramaian itu adalah aktivitas makhluk ghaib di pasar setan dimana banyak orang
yang bertransaksi jual beli di pasar setan itu. Konon, ketika melewati kawasan
pasar setan ini dan mendengar ada yang berkata “Mau beli apa?” maka harus
membuang uang berapa pun nominalnya atau salah satu barang yang dimiliki.
Mitos ini dilakukan sebagai barter, layaknya jual beli dipasar agar tidak ada
makhluk halus yang mengikuti.

Wujud Konflik Batin Sosial

Raden Fatah memeluk agama Islam dan menentang agama yang dianut
ayahnya yaitu Budha. Kemudian Prabu Bhrawijaya V yang semedi dan mendapat
wangsit bahwa kerajaannya akan runtuh dan akan digantikan oleh kerajaan
anaknya Raden Fatah yaitu Kerajaan Demak.

Penegasan Nilai Utama Gunung Lawu

Ceritera Mitos Gunung Lawu di atas dapat ditafsirkan bahwa dalam


mendaki sebaiknya harus menaati peraturan yang ada, karena itu sangat penting
untuk diperhatikan demi menjaga keselamatan bersama. Nilai yang mucul dalam
ceritera ini adalah tentang “Naik Gunung” bukan tentang proses hancurnya
Kerajaan Majapahit yang digantikan oleh Kerajaan Demak. Mitos tidak hanya di
Gunung Lawu saja, akan tetapi banyak sekali gunung-gunung yang ada di
Indonesia yang memiliki cerita mitos masing-masing. Dengan demikian, dari
ceritera mitos Gunung Lawu ini diharapkan kepada pembaca untuk selalu berhati-
hati di mana dan kapan saja, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi
selanjutnya.