Anda di halaman 1dari 98

bara dendam candi kalasan

pengarang: bastian tito

1
ITS = INDAH TANPA SENSOR

Di pinggir jalan Kolonel Sugiyono, di depan Wisma tempat para


pelajar SMU Nusantara III menginap. Andi, Firman juga Rio
masih berdiri memperhatikan minibus
yang membawa Ronny, Vino, Sulastri, Wike, dan Laila meluncur
menuju Kantor Polisi.
Firman, sambil menggosok-gosokkan dua telapak tangan
berpaling ke timur jalan. Mobil angkutan umum yang ditumpangi
Boma tak kelihatan lagi.
“Gila, sial apa kita-kita ini!” ucap si ceking Firman.
Dwita belum lama selamat, sekarang Ibu Renata diculik orang.
Lalu anak gendeng itu pergi sendirian ke Candi Sewu.”
“Mustinya tadi kita ikut sama-sama boma. Kalau kejadian apa-
apa sama si Bonek itu, urusan bisa tambah ruwet.” Andi
menyambung kata-kata Firman.
“Yang aku heran,” Kata Rio pula. “Semua kejadian ini serba
aneh,”
“Yang nyulik Ibu Renata, jangan-jangan kerjaan orang jahat yang
sebelumnya nyekep Dwita di dalam stupa,” ucap Rio.
“Mungkin saja,” sahut Andi. “Gagal nyelakain Dwita, kini Ibu
Renata yang jadi sasaran.”
“Dua-duanya orang yang seneng sama Boma,” menimpali Rio.
“Kalau Trini masih disini, jangan-jangan ‘tu anak yang bakal
diculik,”kata Andi. “Soalnya Trini juga naksir berat sama Boma.”
“Jelas si penculik punya dendam jahat sama sohib kita itu, Andi
kembali bicara.
“Kalau semua ini bukan Cuma kebetulan, berarti ucapan
Bokapnya Dwita, juga ucapannya Pak Sanyoto ada benernya.“
Firman yang kini bicara.
“Maksud lu, Man?” tanya Rio.
“Anak gendeng itu ada kaitannya sama semua kejadian ini.”
Jawab Firman.
“Maksud lu, Boma?” tanya Rio lagi.
“Siapa lagi,” sahut Firman. “Tapi ini dugaan gue doang.” Firman
menambahkan.
“Biar cuma dugaan, kamu ngomongnya jangan kayak gitu Man.
Boma Cuma ketiban apes, tau!” Andi membela Boma. “Sekarang
‘tu anak pergi sendirian. Nggak tau
jalan, nggak punya duit. Baiknya kita nyusul.”
“Kita juga pada nggak tau jalan. Tungguin aja dulu teman-teman
yang melapor ke Kantor Polisi.” Rio memberi saran.
Sebuah becak ditumpangi dua wanita kulit putih bergaun mini
meluncur melewati ke tiga anak lelaki itu. Salah seorang dari
perempuan bule ini duduk seenaknya.
“Ajie busyet ‘tu paha. Putih banget,” Ucap Andi, menatap dengan
mata tak berkedip.
“Pake celana apa nggak ‘tu bule,” kata Rio.
“Hallo Miss.” Firman menegur sambil lambaikan tangan.
Salah seorang yang dihallo balas melambaikan tangan seraya
berucap “Hallo jiuuga.”
Andi dan Rio tertawa geli. Firman masih memperhatikan ke arah
becak yang melaju menjauh.
“Kamu masih ngeliatin aja Man. Kayaknya lu seneng banget ama
bule yang dadanya gembrot. Udah lu gantiin aja tukang
becaknya.”
Firman Cuma menyengir mendengar ucapan Rio itu. Andi yang
menyelutuk, “Anak ceking begini lu suruh ngenjot becak. Baru
tiga meter jalan udah kendor dia!”
Andi dan Rio tertawa cekikan. Si ceking Firman Cuma
menyengir.
Sesaat ke tiga anak ini seolah lupa akan masalah yang tengah
mereka hadapi. Namun begitu becak berlalu di kejauhan Andi
kembali keluarkan ucapan, “ Sekarang
kita-kita ini mau ngapain? Masuk ke kamar rasanya nggak plong.
Berdiri di sini lama-lama bisa disamber kendaraan.”
“Kita duduk aja di teras sana. Nungguin Ronny sama yang lain-
lain balik dari Kantor Polisi,” usul Rio lalu mendahului
melangkah ke teras penginapan.
Sesaat setelah duduk diteras Andi berkata, “Terus terang aku
nggak suka sama sikapnya Trini. Masa’ sih pulang begitu aja.
Sekalipun dipaksa sama Bokapnya
die musti setia kawan dong sama kita-kita. Pergi sama-sama,
pulang juga sama-sama.”
Firman menepuk nyamuk yang hinggap dilengan kirinya.
“Gue ude ceking begini masih aja lu mau ngisep darah gue!
Mampus lu!” Plaak! Nyamuk di lengan mati dalam tepukan
Firman. Sambil membersihkan darah di tangannya
Firman berkata. “Aku liat, waktu ngomong sama Boma sebelum
pergi, matanya Trini berkaca-kaca.”
“Ala…” tukas Rio. “Kalau dia beneran suka sama Boma,
mustinya dia nggak pergi begitu aja. Padahal Dwita saingannya
nggak ada lagi. Dia ‘kan punya kesempatan
besar. Gua rasa ‘tu cewek kurang menyimak situasi. Bener ‘kan
teman-teman?”
“Menurut kamu gimana Di?” Rio bertanya pada Andi.
“Tauk! Emangnya gue pikirin” jawab Andi cuwek seenaknya.
“Kalau cewek gua model begitu, pasti gue PHK,” Rio tak peduli
ceweknya Andi.
“Sok lu!” Kini Firman ceking yang menukas.
“Jangan salah paham sobat,” jawab Rio masih tak mau kalah.
“PHK yang gua maksud bukannya Pemutusan Hubungan Kerja,
tapi Pencet Habis Kutangnya.”
“Kalau pakai kutang, kalau nggak?” celetuk Firman.
“Berarti ITS” sahut Rio.
“Apaan tuh? Apa hubungannya onderdil cewek sama Institut
Teknologi Surabaya?” Firman penasaran.
Rio tertawa geli. “Kuper lu! ITS yang gue maksud bukan Institut
Teknologi Surabaya tapi Indah Tanpa Sensor.”
“Sialan lu!” maki Firman.
Rio senyum-senyum sambil mengucapkan berulang-ulang kata-
kata.
“Pokoknya Sekwilda.. Pokoknya Sekwilda.”
“Nah, apaan lagi ‘tuh?” tanya Firman tambah penasaran.
“Sekitar Wilayah Dada,” jawab Rio lalu tertawa membahak.
Firman Cuma bisa nyengir.
“Lu berdua ngomongnya pada ngacok aja!” gerutu Andi.
Tidak Perduli gerutu temannya Rio lalu melantunkan nyanyian
anak-anak yang sedang ngetop, tapi dengan kata-kata diplesetkan.
“Diobok-obok anunya diobok-obok.
Diobok-obok si anu jadi mabok.”
Tiga pelajar SMU Nusantara III itu kemudian sama-sama tertawa
cekikan.
Sebuah taksi meluncur masuk ke halaman penginapan, berhenti
di depan teras. Pintu kiri belakang terbuka.
Dari ke tiga anak yang memperhatikan, Firman yang pertama kali
memberi reaksi. “Eh, lu liat! Siapa yang turun.”
“Nah lu! Kok balik?” Rio heran.
“Gua kira ‘tu anak udah molor di Jakarta.” Celetuk Andi. “Liat,
tampangnya pucet lu.”
***
2
TRINI MEMBELOT
TRINI menutup pintu taksi. Sambil menenteng sebuah kantong
plastik dia melangkah ke arah tiga anak laki-laki itu. Muka pucat
membayangkan keletihan.
“Rin, kok kamu balik? Sendirian?” tanya Firman.
“Jangan tanya dulu. Duit gue kurang. Tolong pinjemin aku
seceng.”
Rio keluarkan sehelai ribuan lusuh dari saku celana blujinsnya.
“Tolong sekalian kasi-in sama sopir taksi,” kata Trini.
“Brengsek lu. Udah minjem, nyuruh lagi!” Rio mengomel tapi
anak ini mau juga menyerahkan uang seribu perak itu pada sopir
taksi yang menunggu.
Empat pelajar SMU Nusantara III itu kemudian duduk di teras
Wisma.
“Aku balik, kalian heran ‘kan?” ucap Trini dengan senyum kecil
menghias bibirnya yang kelihatan kering.
“Jelas heran dong.” Jawab Andi.
“Mau tau ‘kan?”
“Jelas mau tau..gimana ceritanya,” ucap Firman
“Tapi ogut lagi capek tau, mau ngelonjor dulu. Meremin mata
sebentar. Rasanya gue mau pilek deh. Kalian silahkan makan
dulu ini. Habisin aja.”
“Trini melemparkan kantong plastik yang dibawanya. Kantong
ditangkap oleh Andi sambil bertanya. “Apaan nih?”
“Donat, aku beli di airport. Makan aja.” Jawab Trini.
“Makan gampang. Yang penting kamu cerita dulu. Kok kamu
balik ke sini?” Ucap Andi.
“Pesawatnya dikansel ya? Lalu bokap kamu mana? Dwita mana?
Juga bokapnya Dwita si diplomat combro itu.” Bertanya Rio.
Trini Damayanti tidak menjawab. Seperti dikatakannya tadi,
kedua kakinya dilonjorkan di lantai teras. Punggung disandarkan
ke kursi dan sepasang mata
dipejamkan.
“Aneh, muncul-muncul kok kelakuannya jadi begini?” ucap Andi
sambil memandang ke arah Rio dan Firman.
“Jangan-jangan kesambet setan airport,” kata Firman.
Andi membuka kantong plastik yang tadi dilemparkan Trini.
Begitu melihat isinya langsung mengomel monyong dan
membantingkan kantong itu ke ubin.
“Cewek brengsek! Lagian tisu wese! Bilangnya donat! Sialan,
ane dibokisin!” (dibokisin=dibohongi).
Trini cekikikan. Perlahan-lahan anak perempuan ini buka
matanya yang dipejamkan. Wajah diusap beberapa kali. Rambut
dirapikan dengan jari-jari tangan.
Dua kaki ditarik.
“Sorry teman-teman. Ogut capek. Bener-bener capek,” kata Trini
pula.
“Rin, kamu belum nerangin. Kok kamu balik sih?” tanya Rio.
“Aku terpaksa membelot tau.”
“Keren amat istilah lu,” ucap Firman.
“Ceritain Rin, gimana kejadiannya.” Rio tidak sabar ingin tahu.
“Aku nggak mungkin pergi begitu aja. Ninggalin kalian semua
disini.”
“Tapi waktu bokap lu ngajak berangkat ke airport kok nggak
nolak?” tanya Firman.
“Waktu itu gua nggak bisa apa-apa. Ikut aja. Pasrah aja lagi. Tapi
otak ogut jalan, tau. Nyari akal, tau” jawab Trini.
“Terus?” tanya Rio.
“Waktu di airport. Sebelum pesawat berangkat aku bilang sama
bokap, mau ke toilet dulu. Tapi aku nggak ke toilet. Aku ngumpet
di kios orang jual majalah.
Aku liat bokapku mondar-mandir. Dia ke toilet, tanya sama
petugas di sana. Tapi aku nggak ada di sana. Bingung dia. Aku
liat dia nelpon pakai handphone.
Mungkin nelpon ke Wisma ini, mungkin juga ke Kantor Polisi
ngubungin temennya. Lalu aku dengar panggilan lewat pengeras
suara. Supaya aku segera menemui
bokap di pintu chenk in. Aku kasihan juga sih ngeliat bokap.
Waktu ada pengumuman penumpang jurusan Jakarta
dipersilahkan naik ke pesawat, aku liat bokap
nemuin Satpam airport. Bokapku nulis sesuatu di sepotong kertas.
Mungkin nulis namaku, atau nomor telpon. Lalu dia pergi.
Kayaknya dia punya dugaan kira-kira
aku kemana ‘gitu.”
“Kalau aku nggak salah pesawat berangkat jam dua. Kok kamu
baru gini hari sampai disini.” Bertanya Rio.
“Aku nggak bego la yauw. Aku punya firasat bisa aja bokapku
batal berangkat. Nyatanya bener. Aku liat dia masuk kantor
penerbangan. Waktu pesawat udah
berangkat dia masih mondar-mandir di airport. Pasti saat itu dia
masih nyari-in aku. Pasti dia juga udah ngebatalin keberangkatan
yang jam dua, ganti pesawat
lain. Ogut bener-bener sport jantung. Kalau aku masih ngumpet
di kiosnya tukang majalah, satu saat mungkin aja bokap
nyelonong ke situ. Waktu dia masuk
lagi ke toilet aku buru-buru keluar dari kios majalah. Cari taksi
tapi nggak langsung kesini.”
“Kenapa?” tanya Andi.
“Gue ngeri kalo-kalo bokap datang nyatronin kemari.”
“Nggak, dia enggak muncul disini, ‘tuh,” menerangkan Firman.
“Lalu kamu kemana aja selama beberapa jam?” tanya Rio.
“Sampai magrib aku muter-muter dulu di Malioboro. Ngabisin
waktu.”
“Beli donat, eh tissu wese!” sambung Andi yang tadi
dipermainkan Trini.
Trini tertawa geli.
“Boleh juga kamu Rin,” kata Firman. “Bokap kamu ‘kan polisi.
Letkol bagian Reserse lagi. Tapi kamu masih bisa ngelece-in dia.
Lebih piter kamu dari Pak
Polisi!”
“Tapi, dia pasti marah besar Rin,” kata Rio. “Begitu sampai
dirumah, siap-siap aja terima dampratan.”
“So pasti, bo,” jawab Trini.
Seorang karyawan Wisma datang ke teras.
Memberi tahu kalau tadi sore ada telpon dua kali dari jakarta,
menanyakan Trini. Karena terlalu sibuk dia lupa dan baru bisa
memberi tahu saat itu.
“Yang nelpon lelaki apa perempuan Mas?” tanya Andi.
“Dua-duanya perempuan. Yang pertama bilang ibunya Trini.
Satunya saya lupa namanya. Tapi suaranya bukan suara orang
tua.”
“Mungkin Dwita,” kata Firman. “Terima kasih, Mas.”
Rio menatap wajah Trini lalu berkata.
“Rin, bokapmu pasti marah besar. Buat ngeredam, juga agar
orang tua kamu tidak pada bingung, bagusnya kamu nelpon aja
ke rumah sekarang.
Syukur-syukur sang bokap belom sampe. Ngomong sama nyokap
kamu. Ceritain semua yang kejadian. Jujur aja. Kenapa kamu
kabur. Minta maaf sama mereka. Bilang
kamu masih di Jogya.”
“Gua rasa yang dibilang Rio bener juga. Di seberang sono ada
Wartel.” Kata Andi sambil menunjuk ke arah jalan raya.
“Gue pikir memang musti begitu,” sahut Trini sambil
memandang ke arah Wartel di seberang jalan. “Tapi barang
cepeng aku udah nggak punya doku,”
Firman dan Andi berpaling pada Rio. Anak lelaki ini pencongkan
mulut. “Gue lagi yang kena,” katanya sambil mengeruk kantong
blujinsnya.
Ketika hendak turun dari teras Wisma, sesaat Trini hentikan
langkah, bertanya. “Ngomong-ngomong yang lain pada
kemana?”
“Allan sama Gita ke Malioboro. Tadinya aku sama Firman mau
ikut. Tapi batal. Ceritanya mau barengan sama Boma. Allan sama
Gita pergi duluan.”
Menerangkan Andi.
“Lalu Bomanya kemana? Juga Ronny, Vino? Si Centil Lastri…?”
tanya Trini lagi.
“Boma, ini yang jadi urusan,” kata Firman.
“Ronny, Vino sama Lastri, Wike dan Laila ke Kantor Polisi,”
menyambung Rio.
“Boma? Memangnya kenapa Boma?” Tanya Trini.
“Lalu Ronny sama yang lain-lain, ngapain ke Kantor Polisi?”
“Ada kejadian besar Rin. Pokoknya bener-bener heboh!” jawab
Andi
“Kejadian apa?”
“Ibu Renata diculik. Boma nguber si penculik. Sendirian. Temen-
temen udah ngelarang. Tapi dia nekad naik angkutan umum.
Ronny dan yang lain-lainnya ngelapor
ke Kantor Polisi.”
“Apa? Ibu Renata diculik? Boma nekad?” Air muka Trini
berubah. Sepasang matanya membesar. “Ini bercanda apa
guyon?” tanya Trini tidak percaya.
“Nggak ada yang bercanda, nggak ada yang guyon.” Jawab Rio.
Lalu anak ini menerangkan apa yang terjadi.
Untuk beberapa saat lamanya Trini terdiam mendengar cerita
Rio.
“Kasihan amat Ibu Renata…” Ucap Trini perlahan. Bibirnya
digigit. Matanya sesaat menatap ke arah jalan. Lalu mulutnya
berucap bertanya. “Si Umar kemana?”
“Pergi dari siang,” jawab Rio.
“Jangan-jangan dia yang jadi biang kerok nyulik Ibu Renata.” Si
Umar adalah nama plesetan Pak Sanyoto yang kepalanya mulai
botak, Guru Olah Raga di SMU
Nusantara III. (Umar= Untung masih ada rambut).
“Gila lu Rin! Pak Sanyoto memang sih naksir berat sama Ibu
Renata. Tapi kalau sampai nyulik gua rasa otaknya udah di
dengkul! Sinting kali!”
Firman menyambungi ucapan Rio. “Nggak mungkin Si Umar.
Lastri nyaksi-in penculikan itu. Yang nyulik nggak kaya Si
Umar.”
“Bisa aja para penculik suruhannya Si Umar. Dendam karena
cintanya ditoIak.” Trini tetap mempertahankan dugaannya.
“Kita ke Wartel aja dulu. Mudah-mudahan temen-temen yang
lapor ke PoIisi cepet balik.” kata Andi pula.
Di WarteI hanya Trini dan Rio yang masuk. Andi dan Firman
menunggu di luar.
“Ada yang gua pikirin Man.” kata Andi.
“Jangan keliwat banyak mikir. Nanti ABS lu kayak Pak
Sanyoto.” sahut Firman (ABS = Agak Botak Sedikit) Tapi dia
ingin tahu juga apa yang dipikirkan temannya
itu. “Memangnya kamu mikirin apa sih?”
“Omongannya si Trini,”
“Omongannya yang mana?”tanya Firman.
“Waktu dia bilang balik ke sini karena nggak mau ninggaIin kita-
kita begitu aja. Dulunya ‘tu anak ‘kan nggak gitu deket sama kita-
kita.”
“Bagus dong ada perubahan. Berarti sekarang dia memang sohib
betulan.”
“Bisa jadi begitu. Tapi gua punya dugaan lain.” Kata Andi pula.
“Pasti dugaan kotor!” tuduh Firman.
“Enak aja lu. Dugaan gua begini. Si Trini balik bukan karena
kita-kita. Tapi lantaran inget Boma. Dwita balik ke Jakarta. Kalau
dia balik berarti nggak
punva rival dia. Ada kesempatan berduaan terus sama Boma.”
Andi diam, sejenak memperhatikan wajah Firman baru
meneruskan. “Itu dugaan pertama. Dugaan
kedua mungkin juga si Trini cemburu sama Ibu Renata. Bisa
dong? Inget nggak gosip Boma macarin Ibu Renata di rumahnya
waktu guru bahasa Inggris itu lagi
sakit?” (Baca Episode “
Muridku Machoku
”)
Firman mengangguk.
“Kalau dia balik ke Jakarta berarti ngebiarian Boma digandeng
Ibu Renata. Nah, apa nggak stres ‘tu anak mikirin Boma sama Ibu
Renata.”
“Ajie gile,” ucap Firman. “Dugaan lu boleh juga. Tapi baiknya lu
tanya-in langsung aja sama si Trini.”
“Nanti gua tanya-in. Pasti!” jawab Andi.
Ketika Trini dan Rio keluar dari wartel, andi mendekati Trini.
Bukan untuk menanyakan bagaimana pembicaraan telpon dengan
orang tua anak perempuan itu.
Seperti yang dikatakannya tadi dia menanyakan alasan Trini
kembali ke Wisma.
“Rin, aku mau tanya nih. Kamu jawab jujur-jujur aja ya.”
“Jangan tanya-tanya dulu deh. Aku barusan dimaki nyokap di
telpon. Masih nyesek rasanya.” Jawab Trini Damayanti. “Untung
bokap gue belum pulang. Kalau
nggak bonyok gue dimaki kiri kanan.”
“Pertanyaan gue cuman gecel aja Rin. Aku sama Firman mau tau,
kamu ini nggak pulang ke Jakarta bener lantaran solider sama
kita-kita?”
“Habisnya gua mau solider sama siapa?” Balik bertanya Trini.
“Apa enak ninggalin kamu-kamu. Pasti ada yang bilang gue
enak-enakan pulang ke Jakarta. Nggak
setia temen.”
“Kalau memang begitu bagus deh.” Kata si ceking Firman tapi
sambil senyum-senyum tidak percaya.
Trini jadi sengit. “Emangnya ada apa sih?!” Trini lalu remas
pinggang Andi hingga anak lelaki ini melintir kesakitan. “Ayo,
bilang nggak?!”
“Gila! Sakit Rin. Lepasin!” teriak Andi.
“Nggak, gue mau tau dulu apa yang ada di otak lu!” Trini tidak
melepaskan cekalannya di pinggang anak lelaki itu.
Tak tahan sakit Andi terpaksa menjawab. “Aku punya dugaan
kamu kembali ke sini karena Boma. Kamu jelous, kamu cemburu
sama Ibu Renata….”
“Edan! Ngapain gue cemburu segala.”
“Swear?” Firman menantang Trini bersumpah.
“Uh, yang begituan aja pakai sumpah segala. Enggak model la
yauw. Kampungan!” Sekarang Firman yang dicubit Trini bagian
perutnya. Hingga anak lelaki kurus
kering ini menjerit kesakitan. Firman tarik ke atas baju kaosnya,
memperhatikan perutnya yg barusan dicubit. “Gila lu Rin. Liat
perut gue ampe bentol!”
Trini Cuma menyengir, menarik lengan Rio mengajak anak itu
menyebrang jalan meninggalkan Andi dan Firman yang masih
meringis kesakitan.
***

3
BOMA JADI SETAN
DI ATAS kendaraan umum Boma Tri Sumitro duduk geIisah.
Dia coba menata jalan pikiran, mengingat apa yang telah terjadi
dan apa yang sekarang dihadapinya.
Trini pulang ke Jakarta. Dia tidak kecewa, cuma kesal.
Seharusnya Trini tetap di Jogya bersama teman-teman. Tapi anak
perempuan itu pasrah saja ikut kemauan
ayahnya. Dwita juga begitu.
“Diplomat bego!” maki Boma dalam hati bila ingat bagaimana
dia dimaki oleh Erlan Sujatmiko -ayah Dwita- di depan teman-
teman, dituduh mencelakai Dwita.
Lalu Ronny Celepuk juga dimaki malah hendak dipukul. Dwita
sudah selamat dan kini pasti telah berada di rumahnya di Jakarta.
Saat-saat diselamatkannya
Dwita dari dalam stupa di Candi Borobudur merupakan satu
peristiwa luar biasa aneh yang tidak bakal dilupakan Boma
sampai kapanpun. Dan sebagian besar
dari kejadian aneh itu hanya dia sendiri yang mampu
menyaksikan sementara teman-temannya tidak melihat apa-apa.
Semua itu telah berlalu. Kini ada kejadian
yang tak kalah gawat dengan peristiwa disekapnya Dwita dalam
stupa. Ibu Renata diculik!
Boma menowel hidung beberapa kali lalu mengusap dada dengan
tangan kiri. Tangan ini kemudian diletakkan di atas bahu kanan,
tak sengaja tepat di atas Batu
Penyusup Batin, batu sakti yang disusupkan Sinto Gendeng (baca
serial/episode sebelumnya berjudul “
Muridku Machoku
”) ke bahu kanan Boma dekat tulang belikat.
Dibawah redup lampu kecil yang menerangi bagian dalam
kendaraan Boma perhatikan penumpang lain di sekitarnya. Di
bangku di seberangnya duduk seorang lelaki
berdampingan mesra dengan seorang perempuan muda, agaknya
sepasang suami istri. Mungkin belum lama kawin. Di sebelah
mereka terkantuk-kantuk duduk seorang
kakek berkaca mata tebal, mengenakan blangkon batik yang
sudah pudar. Tangan kanan si kakek merangkul bahu cucunya,
seorang bocah lelaki berwajah lucu
bermata belok.
Boma melirik ke kiri. Di situ duduk seorang mbakyu, bertubuh
gemuk dengan wajah selalu keringatan. Di pangkuannya ada
kotak kardus entah berisi apa. Di
sebelah ujung, di samping si mbakyu ada seorang gadis remaja
berjilbab. Boma berpaling ke depan. Di samping pengemudi
duduk seorang penumpang memakai topi
pet merah. Tubuhnya menebar bau wangi menusuk aneh. Boma
rasa-rasa pernah mencium bau wangi ini sebelumnya.
Dari keterangan Sulastri yang menyaksikan penculikan atas diri
Ibu Renata, salah satu dari dua penculik ciri-cirinya sama dengan
orang bermantel yang menyekap
Dwita di dalam stupa.
“Pangeran Matahari”, pasti Pangeran Matahari.” Batin Boma
berucap. Tangan kirinya kembali mengusap bahu kanan. Tepat di
bagian yang disusupi Batu Penyusup
Batin. “Heran, apa salah Ibu Renata, kok diculik? Jangan-jangan,
dia marah, dendam nggak bisa mencelakai Dwita, lalu Ibu Renata
yang jadi sasaran. Tapi
kenapa Ibu Renata? Bukan Sulastri, atau Gita atau cewek
Iainnya? Atau aku?”
Pasangan suami istri muda yang duduk di depan Boma mendadak
sama-sama merasa dingin tengkuk masing-masing. Tadi
keduanya menyaksikan sosok Boma yang duduk
di depan mereka terlihat jelas tapi tiba-tiba saja berubah menjadi
memudar samar. Mereka seolah melihat bayangan hidup. Lalu
sosok yang samar ini mendadak
lenyap entah kemana! Siapa yang tidak kaget? Siapa yang tidak
jadi takut?
“Mas...” Lidah sang istri seperti kelu ketika berucap. Dia pegang
lengan Suaminya erat-erat. Tangan dan lengan sama-sama dingin.

“Mas, situ liat nggak?”


Yang ditanya rnengangguk kaku.
“Setan Mas. Barusan aku nyium bau wangi angker...!”
“Aku juga,” jawab sang suami.
Tidak menunggu Iebih Jama Ielaki ini berseru pada supir agar
menghentikan kendaraan. Cepat-cepat dia menyodorkan ongkos
tumpangan, lalu menarik lengan
istrinya. Tergopoh-gopoh kedua orang itu turun dari kendaraan
umum dengan muka pucat. Di tepi jalan, setelah kendaraan
angkutan umum itu meluncur pergi
sang istri berkata pada suaminya.
“Mas, situ inget nggak peristiwa beberapa bulan lalu? Seorang
anak lelaki mati ditabrak bus. Di jalan raya sini. Jangan-jangan
yang tadi itu setannya.
Gentayangan....”
Sang suami tidak menyahuti ucapan istrinya. Dia hanya berdiri
tegang sambil memegang lengan perempuan itu erat-erat. Mata
memandang takut ke arah angkutan
umum yang tadi ditumpangi.
Baru saja mini bus itu bergerak meneruskan, ganti sekarang
kakek berkacamata tebal berseru memberi tahu mau turun juga.
Wajahnya yang keriputan kelihatan
pucat.
"Lho, Eyang kok medhu neng kene?" Bocah lelaki cucu orang tua
itu bertanya heran ketika dia digendong dan dibawa turun dari
kendaraan padahal masih belum
sampai tujuan.
Si kakek tidak menjawab. Setelah memberikan ongkos
tumpangan dia cepat-cepat menggendong cucunya ke tepi jalan.
Walau merasa heran tapi supir kendaraan umum diam saja.
Ketika kendaraan mulai berjalan mbakyu gemuk keluarkan
ucapan.
"Heran ada apa sama orang-orang tadi? Kok kayak kaget, takut?"
Sambil mengusap wajahnya yang keringatan dia berpaling ke
kiri, pada gadis berjilbab.
"Aku juga heran mbakyu," jawab anak perempuan berjibab.
"Kayak ngeliat hantu saja."
Mbakyu gemuk goleng-goleng kepala. Menoleh ke kanan ke arah
Boma. Hendak membuka mulut tapi langsung bungkam. Mata
mendelik, menyusul kening mengerenyit.
Anak lelaki yang tadi duduk di sebelah kanannya kini tidak
kelihatan lagi, lenyap entah kemana. Jelas anak lelaki itu tadi
tidak ikutan turun. Tidak percaya
pada pandangan matanya perempuan gemuk ini gerakkan tangan
kanan ke samping.
"Mosok sih, ada orang bisa ngilang?" pikirnya.
Dia membuat gerakan meraba.
"Heh! Ooallah!" Si Mbakyu tersentak kaget.
Gemetaran tangannya cepat ditarik. Barusan dia memegang
bagian tubuh orang. Mungkin bagian paha. Tapi sosoknya tidak
kelihatan!
"Maaaass! Mas supir! Stop Mas. Aku medhu neng kene ae!"
(Aku turun di sini saja!)
Dari balik stagennya si mbakyu keluarkan selembar uang kertas
pecahan lima ratus. Uang itu langsung dilemparkan ke arah
pengemudi angkutan umum. Lalu tubuh
gemuknya bergegas keluar dari dalam kendaraan sambil
membawa kotak kardus.
Di tepi jalan perempuan gemuk ini melangkah terbirit-birit ke
balik sebuah pohon besar. Kotak kardus dijatuhkan begitu saja.
Isinya berceceran di tanah.
Ternyata kutang dan celana dalam perempuan. Tidak heran
karena mbakyu ini adalah pedagang kredit yang mengkhususkan
diri pada onderdil dalam kaum hawa!
Di balik pohon si mbakyu singsingkan ke atas kain panjangnya
tinggi-tinggi. Lalu cepat-cepat jongkok sambil mulutnya
termonyong-monyong berulang kali mengucap.
"Numpang-numpang aku nunut nguyoh. Numpang-numpang aku
nunut nguyoh...." (Numpang-numpang aku mau kencing) Lalu
seerrrr! Kencinglah si mbakyu dalam gelapnya
malam.
Di atas kendaraan umum Boma perhatikan tangan kirinya yang
saat itu masih berada di atas bahu. Selintas pikiran muncul dalam
benaknya.
"Ajie gile! Jangan-jangan ini gara-gara Batu Penyusup Batin.
Aku tak sengaja mengusap..."
Boma sadar lalu cepat usap Batu Penyusup Batin yang ada di
bahu kanannya. Ini adalah usapan yang ke tiga . Seperti diketahui
jika batu sakti di bahunya
diusap satu kali, sosoknya akan terlihat samar. Diusap dua kali
tubuhnya lenyap tak kelihatan. Kalau diusap sekali lagi maka
tubuhnya akan terlihat kembali
seperti semula.
Gadis berjilbab yang tadi memperhatikan mbakyu gemuk, alihkan
pandangannya ke samping.
"Lho, 'tak kira tadi situ ikut-ikutan turun."
Dia memandang ke jalan, lalu kembali memperhatikan ke arah
Boma. Ada rasa heran.
Boma tersenyum. Menowel hidung.
"Pasti tadi dia juga nggak ngeliat gua." Ucap anak lelaki ini
dalam hati.
"Ada apa ya? Orang-orang tadi kok kaget-kagetan turun? Kayak
ngeliat setan... " Boma keluarkan ucapan.
"Iyya, aku juga nggak ngerti," kata gadis berjilbab.
Matanya masih mengawasi Boma.
Boma tersenyum.
Selang beberapa menit gadis berjilbab turun. Sebelum berlalu,
sesaat Dia masih berdiri di depan pintu kendaraan. Mata tak
berkesip, memandangi Boma.
Boma menowel hidung, berharap kendaraan yang ditumpanginya
segera jalan. Tapi sampai anak perempuan berjilbab pergi,
kendaraan itu tidak juga bergerak.
Boma menoleh ke arah pengemudi. Saat itulah si pengemudi
berpaling ke arah Boma dan bertanya.
"Mas, sampeyan mau kemana? Mobilku mau balik ke kota."
Boma memandang ke arah penumpang yang duduk di samping
supir. Kalau mobil memang mau balik ke Jogya, kenapa
penumpang bertopi pet tidak turun?
"Kita dimana?" Boma bertanya. Anak ini mulai bingung. Dia
memandang keluar kendaraan. Gelap dan sepi.
"Ini Jalan Raya Jogja-Solo. Dekat kawasan Prambanan. Mosok
nggak 'tau? Situ tujuannya kemana?" Tanya supir.
"Saya bukan orang sini Mas. Saya dari Jakarta. Mau ke Candi
Sewu," jawab Boma.
"Ya turun di sini. Nanti ganti kendaraan atau naik ojeg. Maaf
Mas, tolong ongkosnya."
Boma tambah bingung. Dia mengeruk saku blujins sebelah
kanan. Kosong. Lalu sebelah kiri. Juga kosong. Semakin bingung
anak ini. Dirabanya dua kantong sebelah
belakang. Hanya ada sehelai sapu tangan.
Melihat gelagat Boma, Supir angkutan umum jadi kesal.
"Punya duit apa nggak Mas?"
Boma semakin tambah bingung.
"Gila, masa 'sih aku nggak bawa duit barang cepeng," Boma
memaki diri sendiri.
"Mas, duit saya ketinggalan di Wisma...."
"Sudah, nggak usah neko-neko. Kalau nggak punya duit turun
saja!"
(neko-neko = macam-macam).
"Maaf Mas..."
"Maaf-maaf! Sudah turun sana cepetan!"
Tiba-tiba dalam kendaraan itu menyeruak tawa mengekeh.
"Anak muda dari Jakarta, malam-malam begini ada keperluan apa
sampeyan ke Candi Sewu?"
Boma berpaling ke arah penumpang yang duduk di sebelah depan
di samping supir. Dia yang barusan tertawa dan mengeluarkan
ucapan. Orang ini menoleh ke arah
Boma. Topi pet merah di atas kepala dibuka. Kelihatan rambut
putih dikuncir ke atas. Boma Tri Sumitro mendelik. Dia Ingat bau
harum yang menusuk itu. Dia
pernah mencium sebelumnya. Dia juga ingat wajah tua itu. Orang
aneh yang muncul di Wisma. Yang Memaksa minta Batu
Penyusup Batin. Pak Broto! Di tempatnya
duduk kembali orang tua itu mengumbar tawa mengekeh.
Membuat bulu tengkuk Boma merinding.
***

4
DIKEJAR SI MUKA BANGKAI
SAMBIL terus tertawa, orang tua itu kenakan topi petnya
kembali. Lalu dia keluarkan selembar uang kertas. Uang ini
dimasukkannya ke dalam kantong kemeja
supir angkutan umum.
"Mas supir, sampeyan nggak usah jengkel. Biar aku yang bayar
ongkos anak itu. Ini lima ribu perak. Cukup 'kan untuk berdua?"
Supir yang tadi sempat jengkel kini tertawa gembira. Lima ribu
rupiah ongkos tumpangan tentu saja sangat besar dan berlebihan.
Orang tua itu membuka pintu mobil lalu turun. Dia melangkah ke
samping mobil dan berdiri di hadapan pintu. Memandang
menyeringai pada Boma lalu berkata.
"Ayo, turun. Ngapain kamu masih duduk di situ?"
Dalam bingung Boma akhirnya bergerak turun.
"Anak muda, kita bertemu Iagi Kau punya hutang padaku.
Ingat?"
"Nanti saya ganti. Uang saya ketinggalan di Wisma," jawab
Boma.
Orang tua di hadapan Boma tertawa mengekeh lalu batuk-batuk.
Ada lelehan darah di sudut bibimya. Dia keluarkan sehelai sapu
tangan lembab penuh noda cairan
merah. Setelah menyeka lelehan darah di sudut bibir orang tua ini
bertanya.
"Namamu Boma, benar?"
Boma mengangguk. Hatinya merasa tidak enak. Dia harus segera
meninggalkan tempat itu walau tidak tahu mau pergi ke arah
mana. Tapi seperti tahu gelagat,
si orang tua ulurkan tangan kiri, memegang bahunya.
Boma kembali merasa tengkuknya merinding. Tangan yang
memegang bahunya dingin sekali. Pegangan tangan si orang tua
di bahunya membuat dia tidak kuasa menggerakkan
tubuh ataupun menggeser kaki.
"Dengar, aku tidak minta uang ongkos tadi. Aku minta sesuatu
yang lain..."
"Minta apa?" tanya Boma.
Dalam hati anak ini sudah bisa menduga apa yang diingini kakek
aneh dan menakutkan di hadapannya.
"Bocah, kau telah berani menipuku. Sekarang ayo ikut aku."
Mula-mula Boma hanya menurut saja ketika tangannya ditarik.
Setengah jalan dia bertanya.
"Pak Broto, kita mau kemana?"
Orang tua berbaju lecak yang tubuh serta pakaiannya menebar
wangi menusuk itu menyeringai.
"Bagus, kau masih ingat namaku. Pak Broto! Ha... Ha... Ha! Kau
tahu, itu cuma nama palsu. Namaku sebenarnya adalah Si Muka
Bangkai alias Si Muka Mayat!"
Boma hentikan langkah. Tapi ketika lengannya ditarik, kakinya
terseret.
"Aku guru Pangeran Matahari. Aku murid Kunti Api. Tapi hari
ini aku bersumpah tidak menyukai bangsat perempuan itu Iagi.
Lihat apa yang telah dilakukannya
terhadapku"
Si orang tua batuk keras berulang kali. Lalu Dia keluarkan suara
seperti muntah. Dari dalam mulutnya menghambur darah segar.
Boma jijik dan tambah ngeri.
Tiba-tiba orang tua itu hentikan langkah dan berbalik. Wajahnya
yang pucat kelihatan tambah menyeramkan. Dua mata menatap
menakutkan pada anak lelaki yang
dicekalnya.
"Semua ini gara-gara kamu! Kalau tidak karena kamu aku tidak
akan sengsara seperti ini! Aku tidak perlu meninggalkan alamku!
Hanya untuk mendapatkan celaka
sial dangkalan seperti ini! Kamu! Semua gara-gara kamu!"
"Pak Broto, memangnya saya berbuat apa sama Bapak? Saya
salah apa?" tanya Boma.
Dalam hati anak ini berkata.
"Barusan dia bilang kalau dia meninggalkan alamnya. Lalu
makhluk apa orang tua ini sebenarnya? Manusia atau hantu?"
"Salahmu? Kau tanya apa salahmu?!" Pak Broto membentak.
"Dadaku ditendang! Mukaku diludahi!"
"Siapa yang menendang? Siapa yang meludahi?" tanya Boma.
"Bukan saya!"
"Tai kucing!" Pak Broto memaki, menyebut tai kucing segala.
Rahang menggembung. Wajah seramnya menyeringai. Lalu
orang ini tertawa mengekeh. Dia balikkan
badan, tarik tangan kanan Boma. Di satu tempat sepi dimana
terdapat banyak tebaran batu-batu besar berbentuk empat persegi
orang tua ini dorongkan tangannya
hingga Boma terjajar ke belakang dan jatuh terduduk di salah satu
batu.
Di kejauhan sana Candi Prambanan menjulang tinggi, menghitam
dalam kegelapan malam. Sayup-sayup terdengar suara raungan
anjing. Boma mengusap tengkuknya
yang terasa dingin lalu menowel hidung.
"Bocah jahil! Kau pandai berpura-pura. Kau tidak mengaku
menipuku hah?!"
"Memangnya, memangnya saya menipu apa sama Pak Broto?"
Dari dalam saku celananya Pak Broto keluarkan sebuah kantong
kecil terbuat dari kain berwarna kuning. Boma ingat kantong
kuning itu adalah kantong yang
disusupkan nenek sakti ke saku belakang celana blujinsnya.
Nenek sakti bau pesing yang pertama kali ditemui dan
menolongnya waktu malapetaka menimpa dirinya
dan anak-anak SMU Nusantara III di Gunung Gede. (Baca
episode/serial pertama Boma Gendenk Berjudul “
Suka Suka Cinta
”).
Pak Broto tarik tali pengikat kantong kuning isi kantong
dikeluarkan dan diletakkan di telapak tangan kanan. Di atas
telapak tangan itu kini ada sebuah
benda. Hampir sebesar telur burung dara, memancarkan cahaya
biru.
"Batu ini! Ingat waktu aku datang ke penginapan? Aku minta kau
menyerahkan Batu Penyusup Batin! Kau menyerahkan batu ini!
Ternyata ini Batu palsu Bukan
batu Penyusup Batin! Kau menyembunyikan yang asli!"
Boma kaget. Terdiam sesaat. Lalu pura-pura senyum untuk
menutupi keterkejutannya. Hampir dia ketelepasan bicara, hendak
mengatakan bahwa kantong kain kuning
berisi batu biru itu ada yang memasukkan ke dalam saku celana
blujinsnya. Diwaktu bersamaan ada suara bisikan dari orang yang
tidak kelihatan agar dia
menyerahkan batu tersebut pada si orang tua bernama Pak Broto.
"Ayo bicara! Apa dalihmu!"
"Saya, saya mana tahu kalau batu itu palsu.... "
"Kau pandai berpura-pura! Masih bau kencur sudah berani
menipuku! Coba kau rasakan dulu ini!"
Habis berkata begitu Pak Broto gerakkan tangan kirinya.
"Plaakk!"
Satu, tamparan mendarat di pipi kanan Boma. Begitu kerasnya
tamparan itu hingga membuat Boma terpekik dan terpelanting
dari atas batu yang didudukinya
lalu terkapar di tanah. Kepala terasa seperti pecah. Pipi kanan
berdenyut sakit bukan kepalang.
Dia merasa ada cairan hangat dan asin. Pasti ada luka di bibir
atau bagian dalam mulutnya. Ketika anak ini hendak mencoba
bangkit, Pak Broto letakkan kaki
kanannya di atas dada Boma.
"Sekali aku menggerakkan kaki, tulang dadamu pasti jebol!
Jantungmu pecah! Kau bakalan mampus! Kau hanya bisa selamat
kalau mau menyerahkan Batu Penyusup
Batin padaku!".
Terus-terusan dalam ketakutan, ketika dilanda kesakitan Boma
jadi nekad. Dia ingat pada kekuatan tersembunyi yang ada di
tangan kirinya. Dia bisa pergunakan
tangan itu untuk menghantam mematahkan kaki kanan Pak Broto.
Namun di saat yang sama suara hatinya berkata.
"Sabar Boma, sabar. Jangan hadapi kekerasan dengan kekerasan.
Kau bisa celaka. Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa. Bukan
manusia bukan juga setan.
Makhluk jahat ini bisa membunuhmu! Pergunakan akal. Pakai
siasat!"
"Saya tidak tahu, saya tidak memiliki batu itu." Teriak Boma.
Wajahnya mengerenyit sakit. Kaki kanan Pak Broto yang ada di
atas dadanya seperti himpitan batu besar yang beratnya puluhan
kilo. Dia sulit bernafas. Tulang
dadanya serasa remuk, tulang-tulang iga seperti mau patah.
"Jangan berani menipu! Jangan mengira aku tidak tahu apa yang
terjadi di atas kendaraan umum tadi. Tubuhmu lenyap! Kau bisa
menghilang! Berarti batu sakti
itu ada padamu! Ayo lekas serahkan padaku! Atau amblas
dadamu!"
"Aduh! Tunggu!" Jerit Boma.
"Ayo! Apa yang mau kau katakan?!"
"Angkat dulu kakinya Pak. Saya tidak bisa bernafas.. Nggak bis...
Bisa bicara."
Pak Broto tidak mengangkat kakinya dari atas dada Boma. Tapi
kini anak lelaki itu merasa tekanan berat pada dadanya mendadak
lenyap.
"Sekarang kau bisa bicara! Ayo katakan dimana batu sakti itu!"
Boma megap-megap. Dia menekankan kedua sikunya ke tanah.
Berusaha berdiri.
"Aku tahu batu itu dalam salah satu bagian tubuhmu! Mungkin
dalam batok kepalamu! Kalau begitu biar aku hancurkan saja
kepalamu!"
Pak Broto membungkuk. Tangan kanan dikepalkan lalu
dihantamkan ke kepala
Boma.
"Ampun! Jangan!" Boma tutupi kepalanya dengan kedua tangan.
"Bukk!"
***

5
TIPUAN BOMA TAK BERHASIL
TANAH di samping kiri kepala Boma terbongkar. Satu lobang
besar terlihat di tempat itu. Boma turunkan ke dua tangannya.
Menoleh ke samping dan gemetar
lemas sekujur tubuhnya melihat lobang di samping kepala. Dapat
dibayangkan apa yang terjadi kalau tadi orang tua itu benar-benar
memukul kepalanya. Keringat
dingin membasahi sekujur tubuh Boma.
Pak Broto alias si Muka Bangkai tertawa mengekeh.
"Bocah, kau rupanya takut mati juga! Ayo lekas bicara! Aku
sudah tidak sabaran"
"Biar saya berdiri dulu. Saya akan bicara. Saya akan beri tahu."
Pak Broto cekal leher baju kaos Boma. Sekali disentakkan anak
lelaki itu telah berdiri di hadapannya.
"Kau sudah berdiri! Ayo mana batu itu!"
"Kita kembali ke Wisma. Batu itu saya tinggalkan di sana. Di
dalam tas"
Pak Broto menyeringai dan geleng-gelengkan kepala. Dalam hati
dia berkata.
"Saat ini aku bisa saja membunuh bocah menyebalkan ini.
Secepat aku membalikkan telapak tangan. Tapi aku ingin
membiarkan dia hidup. Persetan dengan tugas
Kunti Api keparat itu. Persetan bahwa anak ini bakal menjadi
Pendekar tahun dua ribu! Yang akan menyusahkan orang-orang
rimba persilatan golongan hitam!
Aku bisa balas dendam pada Kunti Api melalui anak ini!"
"Jangan menipu! Jangan membuat aku benar-benar hilang sabar!"
Sekali tangan kirinya bergerak. Jari-jari Pak Broto sudah
mencengkram mencekik leher Boma hingga lidah anak ini
terjulur dan mata mendelik, nafas megap-megap,
tenggorokan turun naik.
"Kau mau mati sekarang atau mau bicara?!"
Boma angguk-anggukkan kepala.
"Heh! Sampeyan mau mati betulan?!" bentak Si Muka Bangkai
melihat anggukan Boma.
"Ti... Tidak..." Boma cepat geleng-gelengkan kepala.
"Bat... Batu sakti itu saya simpan di sini..." ucap Boma seraya
menunjuk dengan tangan kiri ke arah bawah perutnya.
Kening Pak Broto mengerenyit. Sepasang matanya bergerak
berputar lalu mengarah ke bagian bawah perut Boma.
"Bocah, aku merasa kau mau menipuku kembali."
"Tidak Pak, saya tidak bohong... " kata Boma.
Pak Broto melirik lagi ke bagian bawah perut anak lelaki itu. Lalu
anggukkan kepala.
"Itu memang tempat yang paling aman," kata Pak Broto sambil
menyeringai.
"Kalau begitu buka celanamu. Ambil batu itu. Serahkan padaku.
Tapi awas! Kalau kau dusta, biji kemaluanmu yang akan aku
ambil sebagai gantinya!"
Pak Broto lepaskan cekikan di leher Boma.
Boma menelan ludah dan usap lehernya. Lalu tangannya bergerak
membuka ikat pinggang celana blujins. Ketika dia hendak
membuka kancing besi celana itu dia
memandang pada Pak Broto.
"Ada apa? Ayo terus buka celanamu!"
"Malu Pak" jawab Boma sambil senyum-senyum.
"Batunya saya sembunyikan di samping anu... Dalam celana..."
"Malu, malu! Tai kucing! Memangnya aku perempuan?! Kita
sama laki-laki. Apa yang kau malukan? Anumu jelek? Burik
barangkali?!"
Boma menggigit bibir, menyengir menahan tawa.
"Tolong Pak. Berbalik dulu. Kalau batunya sudah saya pegang
dan siap saya serahkan, akan saya beritahu. Baru nanti Pak Broto
berbalik"
"Rasa-rasanya kau mau menipuku!" Pak Broto tidak percaya
"Kau saja yang berbalik."
"Itu pantangannya Pak. Saya nggak boleh berbalik" jawab Boma.
"Jangan macam-macam!"
"Nggak Pak, saya nggak nipu. Saya cuma malu aja" jawab Boma
dengan wajah serius.
"Tipu, anak ini mau menipuku. Tapi biar saja. Aku mau lihat"
membatin Si Muka Bangkai. Lalu dia berkata.
"Baik, tapi ingat! Awas!" Pak Broto mengancam. Lalu memutar
tubuh membelakangi Boma.
Boma membuat gerakan seperti hendak segera membuka kancing
besi celana blujins. Lalu melorotkan resleting. Tapi begitu Pak
Broto membalikkan badan secepat
kilat dia mengusap Batu Penyusup Batin yang ada di bahunya.
Detik itu juga tubuhnya lenyap. Dalam keadaan tubuh tidak
terlihat Boma lari sekencang yang
bisa dilakukannya ke arah jalan raya.
Pak Broto menunggu.
"Sudah?" tanyanya.
Tak ada jawaban hatinya sudah Syak wasangka. Dia menoleh ke
belakang.
"Kurang ajar!"
Makian keluar dari mulut guru Pangeran Matahari ini. Sepasang
matanya berputar liar. Boma tak ada lagi di tempat itu.
"Bocah tolol! Tai kucing! Kau kira bisa lari jauh!"
Walau ujud atau sosok Boma tidak kelihatan akibat kesaktian
Batu Penyusup Batin, lalu ditambah pula dengan gelapnya
malam, namun Si Muka Bangkai punya
kemampuan sendiri untuk mendeteksi kemana dan dimana
beradanya anak itu.
Dari suara beradunya telapak kaki dengan tanah, dari suara
tarikan nafas ketika Boma berlari serta ranting-ranting yang
bergerak tersenggol tubuh Boma,
Si Muka Bangkai tahu ke arah mana anak lelaki itu melarikan
diri.
Dia berhasil mencekal pinggang celana Boma sebelah belakang
sebelum anak ini mencapai jalan raya.
"Anak gendeng! Kau hanya punya satu pilihan! Perlihatkan
dirimu kembali atau kubunuh kau saat ini juga!"
Boma memang tak punya pilihan lain dan tentu saja tetap ingin
hidup. Dengan tubuh keluarkan keringat dingin dan tangan
gemetar dia usap Batu Penyusup Batin
di bahu kanan. Detik itu juga ujud tubuhnya kembali terlihat
nyata.
"Pak Broto..." kata Boma dengan nafas panjang pendek.
"Kalau kau bunuh diri saya, sampai bongkok kau tak bakal
mendapatkan batu sakti itu."
"Persetan, aku memang sudah bongkok! Aku tidak perduli
nyawamu. Kau terus-terusan mempermainkan diriku!"
"Ampun Pak. Saya nggak mau bohong lagi. Kapok! Tapi gimana
kalau kita buat perjanjian."
Pak Broto meludah ke tanah. Ludahnya masih merah bercampur
darah.
"Kita buat perjanjian Pak. Waktu di Wisma Pak Broto bilang
orang yang diculik dibawa ke Candi Sewu. Antarkan saya ke
candi itu. Tolong saya mencari lbu
Renata. Kalau guru saya itu bisa diselamatkan jangankan batu,
nyawa juga saya serahkan pada Pak Broto!"
Si Muka Bangkai keluarkan suara bersiul lalu tertawa mengekeh.
"Lagakmu! Memangnya kau punya nyawa berapa? Ha... Ha... Ha!
Mungkin saja kau mau menipuku lagi. Tapi aku lihat satu hal
baik dalam dirimu. Kau ingin menyelamatkan
seseorang. Aku tak perlu bertanya. Gurumu itu pasti cantik
wajahnya. Ha... Ha... Ha...!"
Sambil terus rnengumbar tawa diam-diam si muka bangkai
selusuri bagian depan tubuh Boma dengan pandangan matanya.
Orang tua ini kemudian melangkah ke belakang. Kini dia
memperhatikan bagian belakang tubuh anak lelaki itu.
Walau yakin batu sakti yang dicarinya ada di tubuh Boma, namun
dia tidak punya kemampuan untuk tembus pandang, untuk
mengetahui di bagian tubuh mana batu
tersebut berada.
Tiba-tiba Si Muka Bangkai bungkukkan tubuhnya. Di lain kejap
Boma sudah berada di panggulan bahu kanan orang tua itu lalu
secepat tiupan angin dia dibawa
lari ke arah utara.
***
SUPIR angkutan umum yang tadi ditumpangi Boma memutar
kendaraannya di jalan raya, kembali ke arah Jogjakarta. Malam
itu entah mengapa tubuhnya terasa capai.
Dia memutuskan kembali pulang saja. Apa lagi barusan ada
penumpang yang begitu berbaik hati, membayar ongkos lima ribu
rupiah.
Mendekati Hotel Ambarukmo dia meraba kantong kiri baju lalu
mengambil uang yang tadi dimasukkan orang tua bertopi pet.
Ketika tangan dikeluarkan dari kantong dan dia memperhatikan,
mata supir ini jadi melotot besar, kaki kanannya langsung
menginjak rem. Tidak percaya dia.
Mobil berhenti mendadak.
Di sebelah belakang seorang pengemudi sedan tersentak kaget.
Untung dia masih cekatan dan cepat menginjak rem hingga
mobilnya berhenti dengan empat ban
mengeluarkan suara berdenyit. Dua garis hitam bekas gesekan
ban terlihat nyata di aspal. Pengemudi sedan turunkan kaca
jendela lalu berteriak memaki habis-habisan.
Supir angkutan umum itu seperti tidak mendengar suara denyitan
rem mobil di belakangnya. Juga dia seolah tidak mendengar suara
orang yang memaki.
Dibelakang kemudi wajahnya tampak memucat. Mata mendelik
tak berkedip memperhatikan benda di tangan kiri. Yang
dipegangnya bukan lembaran uang kertas,
tapi sehelai daun! Tengkuknya langsung dingin.
"Setan.... Orang tua itu pasti setan" Sang supir berucap gemetar.
Dia ingat tampang orang tua itu. Pucat seperti tidak berdarah.
Terngiang kembali tawa mengekehnya. Juga seolah tercium
kembali di dalam mobil itu bau minyak
wanginya yang aneh menusuk.
Supir ini baru tersentak sadar ketika di belakangnya pengemudi
sedan membunyikan klakson panjang-panjang dan menyalakan
lampu dim berulang kali.
Cepat-cepat supir angkutan umum ini menekan pedal gas. Mini
bus itu meluncur kencang seperti dikejar setan.
***

6
MENGANTAR NYAWA KE CANDI SEWU
MALAM membentang gelap. Rembulan di langit tak mampu
menerangi bumi karena tertutup awan tebal. Sesekali angin
bertiup kencang. Udara terasa dingin. Mungkin
tak selang berapa lama akan turun hujan.
Dipanggul dan dibawa lari luar biasa cepatnya membuat Boma
merasa ngeri. Pohon-pohon yang dilewati seolah hendak
menghantam dirinya. Kalau sudah begitu
anak ini pejamkan mata dan tekap kepala.
Selain itu, sengitnya aroma minyak wangi yang menempel di
tubuh dan pakaian Pak Broto membuat rongga hidung Boma
laksana tersekat, susah bernafas dan ada
rasa mau muntah.
"Pak Broto. Bapak mau bawa saya kemana?" Boma bertanya.
"Anak geblek! Tolol amat pertanyaanmu! Kau yang membuat
perjanjian! Kau yang minta diantar ke Candi Sewu!"
Boma diam saja. Hatinya merasa was-was. Lari Pak Broto
semakin cepat. Sambaran angin membuat telinga Boma mengiang
dingin. Anak ini kembali pejamkan mata.
Ketika dia merasa si orang tua memperlambat lari, perlahan-lahan
Boma buka kedua matanya. Pandangannya langsung tertumbuk
pada satu tembok batu.
Di belakang tembok ini terdapat puluhan candi kecil yang
sebagian besar dalam keadaan rusak. Di belakang deretan candi
kecil ada satu candi besar. Seluruh
bangunan candi menghitam angker dalam kegelapan.
"Kita sudah sampai," ucap Pak Broto lalu hentikan lari dan
turunkan Boma dari panggulan bahu kanan.
Untuk beberapa lama Boma berdiri agak sempoyongan.
Kepalanya terasa pusing. Dia bingung melihat tembok yang
runtuh, puluhan candi rusak serta beberapa
candi besar dan tinggi di bagian tengah yang juga tidak dalam
keadaan utuh.
"Yang mana Candi Sewu?" tanya Boma bingung.
Siapa yang tidak bingung. Candi Sewu terdiri dari sebuah candi
induk dikelilingi puluhan Candi kecil, ada yang masih utuh,
banyak yang sudah rusak. Candi-candi
kecil itu disebut candi perwara.
Hamparan candi dikelilingi tembok batu. Ada tiga jalan masuk ke
dalam kawasan candi tersebut. Sebelah barat, utara dan timur.
Pada setiap pintu masuk terdapat
dua patung raksasa bersenjata gada.
"Ikuti aku!" Pak Broto berkata sambil tangannya memberi isyarat.
Dengan gerakan cepat orang tua ini memasuki kawasan candi
melalui pintu sebelah timur. Beberapa belas langkah menjelang
candi induk Pak Broto berhenti.
Kepala mendongak ke langit gelap. Sepasang telinga dipentang
sedang mata dipejamkan.
"Anak geblek. Kau mendengar sesuatu?" Tiba-tiba Pak Broto
bertanya. Suaranya perlahan, hampir berbisik.
Boma jadi kecut. Sambil mengusap hidung dia memandang
berkeliling. Dia tidak melihat apa-apa, kecuali puluhan bangunan
candi dan stupa. Semua menghitam
dalam gelapnya malam.
"Saya nggak mendengar apa-apa. Saya tidak melihat apa-apa."
jawab Boma.
Pak Broto menyeringai.
"Aku mendengar suara tarikan nafas...."
"Mungkin itu suara tarikan nafas Ibu Renata," bisik Boma.
Pak Broto menggeleng. Kepalanya yang mendongak diturunkan.
Mata yang tadi terpejam kini dibuka dan memandang tajam ke
arah candi induk.
"Bukan tarikan nafas perempuan...." ucap Pak Broto.
"Ada dua orang mendekam di tempat ini. Keduanya laki-laki.
Sulit aku menduga di sebelah mana mereka berada."
Sesaat Pak Broto alias Si Muka Bangkai merenung. Hatinya
membatin.
"Aku kini baru bisa menduga, semua ini cuma siasat tipu daya..."
"Siasat? Tipu daya?" Boma tidak mengerti.
Dan Pak Broto tidak menjawab. Orang tua ini kembali membuka
mulut, seolah bicara pada diri sendiri.
"Jangan-jangan memang mereka. Mendekam, menunggu di
tempat ini. Tololnya diriku! Mengapa aku tidak bisa menduga
jauh-jauh sebelumnya. Kasip... Kasip! Aku
harus berlaku waspada. Siapa yang mereka incar? Aku atau anak
itu? Hemmmm..."
Si orang tua berpaling, menatap wajah anak Ielaki di hadapannya.
"Boma, mereka mau menghabisimu. Mereka tidak ingin kau jadi
calon Pendekar Tahun Dua Ribu."
"Saya nggak ngerti Pak. Siapa mau membunuh saya? Saya calon
Pendekar Tahun Dua Ribu...?"
Ucapan Pak Broto membuat Boma jadi merinding. Tambah kecut
anak ini. Dan Pak Broto tidak mau menjawab pertanyaannya tadi.
"Dengar," Pak Broto letakkan tangan kanannya di bahu Boma.
Dinginnya tangan orang tua aneh ini membuat Boma hampir
tersentak.
"Sesuai perjanjian aku hanya mengantarmu ke Candi Sewu ini.
Selanjutnya jika kau ingin mencari dan menyelamatkan gurumu,
silahkan lakukan sendiri!"
Boma menowel hidung berulang kali. Di Iapangan luas dengan
candi yang puluhan banyaknya ini, di malam gelap kemana dia
akan mencari Ibu Renata. Rasa takut,
bingung serta cemas bercampur jadi satu.
Boma memandang pada Pak Broto. Si orang tua yang maklum
arti pandangan anak itu menyeringai lalu berkata.
"Kamu takut?" tanya Pak Broto lalu menyeringai.
"Takut sih memang ada," jawab Boma polos.
"Tapi gimanapun Ibu Renata harus saya temukan? Musti saya
selamatkan?".
"Bocah nekad..."
Boma tersenyum dan menowel hidung.
"Lho, sampeyan kok masih bisa-bisanya senyum."
"Saya ingat ucapan teman-teman. Seperti yang Pak Broto barusan
bilang. Katanya saya ini Bonek alias Bocah Nekad."
Pak Broto hampir semburkan tawa mengekeh tapi sadar dan cepat
tutup mulutnya. Lalu berkata.
"Boma, perjanjian kita, aku hanya mengantar. Tidak lebih dari
itu. Seharusnya saat ini aku sudah boleh menagih batu sakti itu.
Tapi aku beri kesempatan
sampai kau berhasil menemui Ibu Gurumu dan menolongnya."
Boma menowel hidung dua kali. Mendadak dia dapat akal.
Mulutnya dibuka lebar-lebar, siap berteriak memanggil Ibu
Renata.
Tapi Pak Broto bertindak cepat, menekap mulut Boma hingga
suara teriakan tak sampai membersit keluar.
"Jangan berlaku tolol! Jangan berteriak! Pergi sendiri! Cari
sendiri! Kelilingi kawasan ini. Masuki semua candi, periksa satu
persatu. Kalau kau temukan
gurumu lekas kembali ke sini!"
"Pak, kalau itu yang saya lakukan, sampai pagi tidak bakalan
selesai. Ada puluhan candi di tempat ini. Mungkin ratusan...."
"Apa artinya jumlah dan waktu dibanding dengan keselamatan
gurumu!"
Boma terdiam. Memandang berkeliling.
"Kalau nekad jangan tanggung-tanggung!" Kata Pak Broto.
"Biar aku beri saran. Masuki bangunan candi induk. Di situ ada
empat ruangan batu. Mungkin Ibu Gurumu ada dalam salah satu
ruangan itu. Tapi jujur saja
aku kurang yakin. Aku tidak merasakan tarikan nafas perempuan
di tempat ini."
"Kalau begitu percuma saya masuk ke dalam candi induk," kata
Boma pula sambil memandang ke arah candi paling besar di
sebelah tengah hamparan puluhan candi.
Bangunan candi paling besar ini tampak angker dikelilingi
beberapa candi yang telah rusak.
"Terserah sampeyan!" kata Pak Broto pula.
"Jika kau tak mau menyelidik, berarti tugasku selesai sampai di
sini. Serahkan Batu Penyusup Batin padaku! Cepat!"
Boma tarik nafas dalam dan pandangi tampang pucat si orang tua
sesaat, lalu menatap ke arah candi induk. Menowel hidung dua
kali. Akhirnya anak ini bergerak
melangkah. Tengkuk merinding dingin. Kaki terasa berat dan
dada berdebar keras.
Tiba-tiba dia mendengar suara hembusan angin di belakangnya.
Seperti ada satu makhluk besar berkelebat ke udara.
Boma berpaling. Pak Broto tak ada lagi di tempatnya!
"Tak mungkin dia kabur. Dia inginkan batu sakti itu," kata Boma
dalam hati.
Boma mencari-cari. Akhirnya dilihatnya orang tua itu berdiri
bersidekap dada di atas reruntuhan salah satu candi perwara.
Hanya saja keadaannya tidak lagi
seperti tadi.
Topi pet hitam yang tadi ada di kepalanya kini tidak kelihatan
lagi. Rambut putih yang sebelumnya dikuncir ke atas kini
dibiarkan lepas riap-riapan sampai
ke bahu. Boma jadi bergidik. Sikap si orang tua jelas tegang tapi
penuh waspada. Dia tengah menghadapi bahaya besar!
Dalam keadaan seperti itu Boma berusaha menabahkan diri
menguatkan hati. Peristiwa penculikan Ibu Renata bisa saja lebih
dahsyat dari kejadian penyekapan
atas diri Dwita dalam stupa Candi Borobudur.
Satu demi satu Boma menaiki tangga candi induk sebelah timur
hingga akhirnya dia sampai di pintu kamar atau ruangan batu
candi sebelah timur.
Dia mencium bau tidak enak. Udara di tempat itu terasa pengap.
Boma tidak dapat melihat apapun di dalam ruangan itu. Sekalipun
ada orang atau benda lain
di tempat itu dia tak akan mampu melihat saking gelapnya.
"Ibu.... Ibu Renata." Boma memanggil nama gurunya.
Anak ini kaget sendiri oleh gaung suaranya yang masuk ke dalam
ruangan lalu dipantulkan kembali oleh empat dinding batu.
Kakinya tersurut dua langkah.
Belum habis kejut Boma tiba-tiba menggelegar suara tawa
bergelak. Ada dua orang yang tertawa. Begitu tawa berhenti salah
seorang dari yang tertawa tadi
membentak.
"Boma Tri Sumitro! kau datang mengantar nyawa! Malam ini
tamat riwayatmu. Kau tak akan pernah menjadi Pendekar Tahun
Dua Ribu! Kami orang-orang golongan
hitam tetap akan menguasai rimba persilatan! Ha...ha...ha!"
Gelegar suara tawa lenyap. Lalu kembali terdengar bentakan
keras. Kali ini memerintah garang.
"Pangeran! Bunuh anak itu!"
***

6
MENGANTAR NYAWA KE CANDI SEWU
MALAM membentang gelap. Rembulan di langit tak mampu
menerangi bumi karena tertutup awan tebal. Sesekali angin
bertiup kencang. Udara terasa dingin. Mungkin
tak selang berapa lama akan turun hujan.
Dipanggul dan dibawa lari luar biasa cepatnya membuat Boma
merasa ngeri. Pohon-pohon yang dilewati seolah hendak
menghantam dirinya. Kalau sudah begitu
anak ini pejamkan mata dan tekap kepala.
Selain itu, sengitnya aroma minyak wangi yang menempel di
tubuh dan pakaian Pak Broto membuat rongga hidung Boma
laksana tersekat, susah bernafas dan ada
rasa mau muntah.
"Pak Broto. Bapak mau bawa saya kemana?" Boma bertanya.
"Anak geblek! Tolol amat pertanyaanmu! Kau yang membuat
perjanjian! Kau yang minta diantar ke Candi Sewu!"
Boma diam saja. Hatinya merasa was-was. Lari Pak Broto
semakin cepat. Sambaran angin membuat telinga Boma mengiang
dingin. Anak ini kembali pejamkan mata.
Ketika dia merasa si orang tua memperlambat lari, perlahan-lahan
Boma buka kedua matanya. Pandangannya langsung tertumbuk
pada satu tembok batu.
Di belakang tembok ini terdapat puluhan candi kecil yang
sebagian besar dalam keadaan rusak. Di belakang deretan candi
kecil ada satu candi besar. Seluruh
bangunan candi menghitam angker dalam kegelapan.
"Kita sudah sampai," ucap Pak Broto lalu hentikan lari dan
turunkan Boma dari panggulan bahu kanan.
Untuk beberapa lama Boma berdiri agak sempoyongan.
Kepalanya terasa pusing. Dia bingung melihat tembok yang
runtuh, puluhan candi rusak serta beberapa
candi besar dan tinggi di bagian tengah yang juga tidak dalam
keadaan utuh.
"Yang mana Candi Sewu?" tanya Boma bingung.
Siapa yang tidak bingung. Candi Sewu terdiri dari sebuah candi
induk dikelilingi puluhan Candi kecil, ada yang masih utuh,
banyak yang sudah rusak. Candi-candi
kecil itu disebut candi perwara.
Hamparan candi dikelilingi tembok batu. Ada tiga jalan masuk ke
dalam kawasan candi tersebut. Sebelah barat, utara dan timur.
Pada setiap pintu masuk terdapat
dua patung raksasa bersenjata gada.
"Ikuti aku!" Pak Broto berkata sambil tangannya memberi isyarat.
Dengan gerakan cepat orang tua ini memasuki kawasan candi
melalui pintu sebelah timur. Beberapa belas langkah menjelang
candi induk Pak Broto berhenti.
Kepala mendongak ke langit gelap. Sepasang telinga dipentang
sedang mata dipejamkan.
"Anak geblek. Kau mendengar sesuatu?" Tiba-tiba Pak Broto
bertanya. Suaranya perlahan, hampir berbisik.
Boma jadi kecut. Sambil mengusap hidung dia memandang
berkeliling. Dia tidak melihat apa-apa, kecuali puluhan bangunan
candi dan stupa. Semua menghitam
dalam gelapnya malam.
"Saya nggak mendengar apa-apa. Saya tidak melihat apa-apa."
jawab Boma.
Pak Broto menyeringai.
"Aku mendengar suara tarikan nafas...."
"Mungkin itu suara tarikan nafas Ibu Renata," bisik Boma.
Pak Broto menggeleng. Kepalanya yang mendongak diturunkan.
Mata yang tadi terpejam kini dibuka dan memandang tajam ke
arah candi induk.
"Bukan tarikan nafas perempuan...." ucap Pak Broto.
"Ada dua orang mendekam di tempat ini. Keduanya laki-laki.
Sulit aku menduga di sebelah mana mereka berada."
Sesaat Pak Broto alias Si Muka Bangkai merenung. Hatinya
membatin.
"Aku kini baru bisa menduga, semua ini cuma siasat tipu daya..."
"Siasat? Tipu daya?" Boma tidak mengerti.
Dan Pak Broto tidak menjawab. Orang tua ini kembali membuka
mulut, seolah bicara pada diri sendiri.
"Jangan-jangan memang mereka. Mendekam, menunggu di
tempat ini. Tololnya diriku! Mengapa aku tidak bisa menduga
jauh-jauh sebelumnya. Kasip... Kasip! Aku
harus berlaku waspada. Siapa yang mereka incar? Aku atau anak
itu? Hemmmm..."
Si orang tua berpaling, menatap wajah anak Ielaki di hadapannya.
"Boma, mereka mau menghabisimu. Mereka tidak ingin kau jadi
calon Pendekar Tahun Dua Ribu."
"Saya nggak ngerti Pak. Siapa mau membunuh saya? Saya calon
Pendekar Tahun Dua Ribu...?"
Ucapan Pak Broto membuat Boma jadi merinding. Tambah kecut
anak ini. Dan Pak Broto tidak mau menjawab pertanyaannya tadi.
"Dengar," Pak Broto letakkan tangan kanannya di bahu Boma.
Dinginnya tangan orang tua aneh ini membuat Boma hampir
tersentak.
"Sesuai perjanjian aku hanya mengantarmu ke Candi Sewu ini.
Selanjutnya jika kau ingin mencari dan menyelamatkan gurumu,
silahkan lakukan sendiri!"
Boma menowel hidung berulang kali. Di Iapangan luas dengan
candi yang puluhan banyaknya ini, di malam gelap kemana dia
akan mencari Ibu Renata. Rasa takut,
bingung serta cemas bercampur jadi satu.
Boma memandang pada Pak Broto. Si orang tua yang maklum
arti pandangan anak itu menyeringai lalu berkata.
"Kamu takut?" tanya Pak Broto lalu menyeringai.
"Takut sih memang ada," jawab Boma polos.
"Tapi gimanapun Ibu Renata harus saya temukan? Musti saya
selamatkan?".
"Bocah nekad..."
Boma tersenyum dan menowel hidung.
"Lho, sampeyan kok masih bisa-bisanya senyum."
"Saya ingat ucapan teman-teman. Seperti yang Pak Broto barusan
bilang. Katanya saya ini Bonek alias Bocah Nekad."
Pak Broto hampir semburkan tawa mengekeh tapi sadar dan cepat
tutup mulutnya. Lalu berkata.
"Boma, perjanjian kita, aku hanya mengantar. Tidak lebih dari
itu. Seharusnya saat ini aku sudah boleh menagih batu sakti itu.
Tapi aku beri kesempatan
sampai kau berhasil menemui Ibu Gurumu dan menolongnya."
Boma menowel hidung dua kali. Mendadak dia dapat akal.
Mulutnya dibuka lebar-lebar, siap berteriak memanggil Ibu
Renata.
Tapi Pak Broto bertindak cepat, menekap mulut Boma hingga
suara teriakan tak sampai membersit keluar.
"Jangan berlaku tolol! Jangan berteriak! Pergi sendiri! Cari
sendiri! Kelilingi kawasan ini. Masuki semua candi, periksa satu
persatu. Kalau kau temukan
gurumu lekas kembali ke sini!"
"Pak, kalau itu yang saya lakukan, sampai pagi tidak bakalan
selesai. Ada puluhan candi di tempat ini. Mungkin ratusan...."
"Apa artinya jumlah dan waktu dibanding dengan keselamatan
gurumu!"
Boma terdiam. Memandang berkeliling.
"Kalau nekad jangan tanggung-tanggung!" Kata Pak Broto.
"Biar aku beri saran. Masuki bangunan candi induk. Di situ ada
empat ruangan batu. Mungkin Ibu Gurumu ada dalam salah satu
ruangan itu. Tapi jujur saja
aku kurang yakin. Aku tidak merasakan tarikan nafas perempuan
di tempat ini."
"Kalau begitu percuma saya masuk ke dalam candi induk," kata
Boma pula sambil memandang ke arah candi paling besar di
sebelah tengah hamparan puluhan candi.
Bangunan candi paling besar ini tampak angker dikelilingi
beberapa candi yang telah rusak.
"Terserah sampeyan!" kata Pak Broto pula.
"Jika kau tak mau menyelidik, berarti tugasku selesai sampai di
sini. Serahkan Batu Penyusup Batin padaku! Cepat!"
Boma tarik nafas dalam dan pandangi tampang pucat si orang tua
sesaat, lalu menatap ke arah candi induk. Menowel hidung dua
kali. Akhirnya anak ini bergerak
melangkah. Tengkuk merinding dingin. Kaki terasa berat dan
dada berdebar keras.
Tiba-tiba dia mendengar suara hembusan angin di belakangnya.
Seperti ada satu makhluk besar berkelebat ke udara.
Boma berpaling. Pak Broto tak ada lagi di tempatnya!
"Tak mungkin dia kabur. Dia inginkan batu sakti itu," kata Boma
dalam hati.
Boma mencari-cari. Akhirnya dilihatnya orang tua itu berdiri
bersidekap dada di atas reruntuhan salah satu candi perwara.
Hanya saja keadaannya tidak lagi
seperti tadi.
Topi pet hitam yang tadi ada di kepalanya kini tidak kelihatan
lagi. Rambut putih yang sebelumnya dikuncir ke atas kini
dibiarkan lepas riap-riapan sampai
ke bahu. Boma jadi bergidik. Sikap si orang tua jelas tegang tapi
penuh waspada. Dia tengah menghadapi bahaya besar!
Dalam keadaan seperti itu Boma berusaha menabahkan diri
menguatkan hati. Peristiwa penculikan Ibu Renata bisa saja lebih
dahsyat dari kejadian penyekapan
atas diri Dwita dalam stupa Candi Borobudur.
Satu demi satu Boma menaiki tangga candi induk sebelah timur
hingga akhirnya dia sampai di pintu kamar atau ruangan batu
candi sebelah timur.
Dia mencium bau tidak enak. Udara di tempat itu terasa pengap.
Boma tidak dapat melihat apapun di dalam ruangan itu. Sekalipun
ada orang atau benda lain
di tempat itu dia tak akan mampu melihat saking gelapnya.
"Ibu.... Ibu Renata." Boma memanggil nama gurunya.
Anak ini kaget sendiri oleh gaung suaranya yang masuk ke dalam
ruangan lalu dipantulkan kembali oleh empat dinding batu.
Kakinya tersurut dua langkah.
Belum habis kejut Boma tiba-tiba menggelegar suara tawa
bergelak. Ada dua orang yang tertawa. Begitu tawa berhenti salah
seorang dari yang tertawa tadi
membentak.
"Boma Tri Sumitro! kau datang mengantar nyawa! Malam ini
tamat riwayatmu. Kau tak akan pernah menjadi Pendekar Tahun
Dua Ribu! Kami orang-orang golongan
hitam tetap akan menguasai rimba persilatan! Ha...ha...ha!"
Gelegar suara tawa lenyap. Lalu kembali terdengar bentakan
keras. Kali ini memerintah garang.
"Pangeran! Bunuh anak itu!"
***

7
IBU RENATA TIDAK ADA DI CANDI SEWU
BOMA terkesiap kaget. Benar ucapan Pak Broto. Ada orang
hendak membunuhnya. Mata memandang liar berputar. Hidung
diusap. Lalu anak ini mendengar suara
kesiuran angin beberapa kali. Dua diantaranya mengarah ke
tempat dia berada. Boma cepat merunduk sambil palangkan dua
tangan di depan kepala, berjaga-jaga.
Saat itu ada tiga sosok mendekam dalam kegelapan di kawasan
percandian. Tiba-tiba, muncul satu sosok lagi. Hampir serentak
tiga sosok terdahulu bergerak
cepat laksana setan berkelebat.
Sosok pertama yang melesat di dalam gelap adalah sosok orang
bermantel hitam. Orang ini berkelebat dari reruntuhan salah satu
atap candi perwara, tepat
di samping kiri candi induk, melesat ke arah Boma Tri Sumitro
yang berada di depan pintu timur Candi Sewu. Sementara
tubuhnya melayang di udara orang ini
hantamkan tangah kanan kearah Boma. Boma keluarkan seruan
tertahan. Terkejut ketika melihat dari tangan orang bermantel
menyambar keluar tiga larik cahaya
mengerikan.
Boma ingat orang bermantel itu adalah orang yang sama dengan
orang yang hendak membunuh Dwita sewaktu masih terkurung di
dalam stupa Candi Borobudur. Pukulan
sakti yang dilancarkannya juga sama. Boma tidak pernah
melupakan tampang manusia satu ini. Orang ini juga yang dulu
pernah muncul di SMU Nusantara III
hendak membunuhnya! Kini dia muncul kembali dengan maksud
sama. Membunuh dirinya! Pangeran Matahari! (baca Episode
sebelumnya berjudul “
Topan Di Borobudur
”)
Tiga cahaya maut menyambar ke arah Boma Tri Sumitro.
Kuning, merah dan hitam! Sebelum tiga larik sinar sampai,
hamparan hawa luar biasa panas menyambar
lebih dulu. Boma menjerit keras. Tangan kiri dihantamkan ke
depan. Di tangan itu tersimpan satu kekuatan hebat isian nenek
sakti Sinto Gendeng dari Gunung
Gede. Namun menghadapi pukulan sakti Pangeran Matahari,
Boma tidak berdaya. Tubuhnya terasa seperti leleh. Anak ini
menjerit sekali lagi! Lalu roboh ke
lantai candi. Bersamaan dengan itu tiga cahaya maut datang
menyapu!
Di saat tiga cahaya maut dengan kekuatan hawa panas ratusan
derajat siap memanggang tubuh Boma Tri Sumitro, dari balik
salah satu candi perwara tiba-tiba
berkelebat satu bayangan tinggi hitam. Mulut berteriak nyaring.
"Oo ladalah! Kalau tadi aku tidak beser, tidak kencing dulu
dibalik candi sana pasti tidak akan terlambat! Seharusnya aku
kencing sambil lari! Kencing
sialan! Terlambat! Terlambat! Anak Gendeng itu tak mungkin
kutolong! Gusti Allah! Cuma kau yang bisa menyelamatkannya!"
Hampir bersamaan dengan menyambarnya tiga larik cahaya
kuning, sekonyong-konyong dari arah belakang Boma, dari
reruntuhan atap sebuah candi perwara melesat
turun satu sosok berambut putih. Inilah sosok Pak Broto alias Si
Muka Bangkai, murid Kunti api, guru Pangeran Matahari.
Begitu melihat Pangeran Matahari menggerakkan tangan, Si
Muka Bangkai segera maklum kalau muridnya itu hendak
membunuh Boma dengan pukulan Gerhana Matahari.
Di rimba persilatan tanah Jawa, di alam asalnya sulit dicari tokoh
persilatan yang sanggup menghadapi atau selamatkan diri dari
pukulan maut itu. Apalagi
hanya seorang anak lelaki seperti Boma!
"Pangeran Matahari dan Kunti Api benar-benar ingin
menyingkirkan bocah itu! Aku masih punya kepentingan!" Si
Muka Bangkai kertakkan rahang. Tangan kanan
diputar seperti orang mengayun bola. Ketika tangan itu
didorongkan ke depan, terdengar suara mendesis. Bersamaan
dengan itu satu gelombang angin luar biasa
derasnya dan juga mengandung hawa panas menyambar ke arah
candi induk. Itulah Pukulan Telapak Matahari. Biasanya pukulan
tersebut dilancarkan sekaligus
dengan tangan kiri kanan. Namun disaat yang sangat kepepet itu
Si Muka Bangkai hanya mampu pergunakan satu tangan. Walau
demikian dia yakin, dengan tingkat
kesaktian dan tenaga dalam yang dimilikinya dia sanggup
menangkis serangan Pukulan Gerhana Matahari yang dilepaskan
muridnya. Rupanya Si Muka Bangkai tidak
mengetahui kalau tingkat kepandaian Pangeran Matahari saat itu
sudah jauh maju. Kakek bermuka mayat ini baru tersentak kaget
ketika dia merasakan ada getaran
di tangan kanan. Lalu tubuhnya yang masih melayang di udara
seolah tertahan oleh satu tembok yang tidak kelihatan. Dada
terasa panas. Darah kental menyembur
dari mulutnya.
"Celaka! Apa yang terjadi! Aku tidak mampu menyelamatkan
anak itu!" teriak Si Muka Bangkai.
Matanya melotot. Dia kembali berteriak. "Aku memilih mati!"
Kakek ini lipat gandakan tenaga dalam, lalu kali ini dorongkan
dua tangan sekaligus!
"Wusss! Wusss!"
Di depan sana Pangeran Matahari keluarkan jeritan keras. Sesaat
tubuhnya kelihatan terhuyung. Dia kerahkan tenaga coba
bertahan tapi tubuhnya malah terpental.
"Jahanam Muka Bangkai! Belum mati kau rupanya! Apa yang
kau Iakukan?!" Ada yang berteriak. Lalu orang ini cepat
merangkul tubuh Pangeran Matahari yang
terpental.
"Nenek Guru...." Pangeran Matahari keluarkan ucapan.
"Aku masih bisa melaksanakan perintahmu. Aku akan bunuh
anak itu!"
"Diam! Apa kau tidak melihat perubahan di tempat ini?! Ada dua
orang barusan muncul!" bentak Kunti api, orang yang barusan
merangkul Pangeran Matahari.
"Siapa, Eyang?" Pangeran Matahari bertanya.
Kunti Api tidak menjawab. Setengah dilemparkan Pangeran
Matahari diturunkan di tangga candi perwara di samping candi
induk. Ketika nenek berambut kusut
riap-riapan ini memandang ke depan, kagetlah dia. Sosok Boma
Tri Sumitro tak ada lagi di lantai candi induk! Melirik ke
samping, sudut mata kanan Kunti
Api melihat satu bayangan berkelebat.
"Kurang ajar! Dia melarikan anak itu!" Kunti Api bercarut marah.
"Muka Bangkai Murid celaka! Malam ini biar aku benar-benar
membunuhmu!" Dua tangan diangkat
ke atas. Sepuluh jari dipentang. Pada tangan kanan hanya dua jari
yang mencuat yakni ibu jari dan jari manis. Tiga jari lain yaitu
jari tengah, telunjuk
dan jari kelingking tak ada lagi. Ketiga jari itu putus dibabat
serangan Sepasang Sinar Inti Roh yang dilancarkan Sinto
Gendeng ketika terjadi perkelahian
hebat di Candi Borobudur. (baca Episode sebelumnya berjudul “
Bonek Candi Sewu
”)
Warna hitam pada tujuh kuku jari cepat sekali berubah menjadi
tujuh pancaran sinar merah. Kunti Api siap melancarkan serangan
ilmu Kuku Api. Namun sebelum
sempat dilakukan nenek ini tersentak kaget, nafas tertahan, kaki
surut satu langkah. Dia berpaling ke kiri. Dari arah itu mendadak
menghambur lengkingan
suara tawa cekikikan.
"Bangsat itu! Memang dia! Pasti! Aku sudah melihat
bayangannya tadi! Aku mencium bau pesing!" membatin Kunti
Api dalam keterkejutannya.
"Kunti Api, pelacur muka dempul! Jari, tinggal tujuh, masih
belum mau bertobat! Mantel apek hangus selengan, masih belum
mampu mengganti! Heran, mengapa
masih jahil hendak mencelakai orang lain?! Apa pelajaran yang
aku berikan di Borobudur masih kurang?! Atau kau mau aku
telanjangi lagi sampai bugil seperti
tempo hari?! Hik... Hik... Hik!"
Sepasang mata Kunti Api seperti mau melompat dari rongganya.
Nenek bermantel biru ini gembungkan rahang, menuding dengan
telunjuk kiri ke arah nenek kurus
hitam, cengengesan sambil memutar-mutar susur di dalam
mulutnya yang perot. Tegak bungkuk menopang tubuh dengan
sebatang tongkat kayu butut di tangan kiri
sambil pantatnya disonggengkan.
"Nenek sundal tidak pernah laku laki-laki!" Kunti Api
semprotkan makian pada orang di depannya yang bukan lain
adalah si nenek sakti Sinto Gendeng dari
Gunung Gede. "Kau selalu muncul menggerecoki urusan orang!"
Sinto Gendeng ketuk-ketukkan tongkat kayunya ke tanah lalu
tertawa mengekeh.
"Untung cuma urusanmu yang aku gerecoki. Kalau sampai
perutmu yang kugerecoki, semua isi perutmu pasti sudah
berhamburan! Hik... Hik... Hik!"
Kunti Api memaki panjang pendek. Namun saat itu dia memang
tidak punya keberanian menghadapi Sinto Gendeng. Serangan
Sepasang Sinar Inti Roh yang telah
mencelakainya membuat nyalinya putus menghadapi lawan satu
ini.
"Bau pesing tubuh dan pakaianmu membuat aku mau muntah!
Maaf saja kalau aku tidak bisa lama-lama berada di tempat ini!
Aku sarankan agar kau mandi di tujuh
sumur, pakai kembang dan wewangian, lalu mandi lulur! Terus
bersolek. Siapa tahu ada kakek-kakek dogol mau melamarmul
Hik... Hik... hik!"
Marahnya Sinto Gendeng mendengar ejekan itu bukan alang
kepalang.
"Kurobek mulutmu!" teriak guru Pendekar 212 Wiro Sableng ini.
Tongkat kayu di tangan Sinto Gendeng melesat ke arah mulut
Kunti Api. Yang diserang cepat melompat mundur lalu kebutkan
lengan jubah sebelah kiri.
"Wuutt! Desss!"
Sebuah benda berbentuk bola hitam sebesar buah jamblang
melesat keluar dari balik lengan jubah. Begitu menyentuh udara
benda ini meletus dan asap hitam
tebal serta merta memekati tempat itu.
"Pengecut tengik! Apa kau kira bisa kabur seenaknya?!" Sinto
Gendeng melompat ke arah kepulan asap. Tubuhnya sesaat
lenyap. Ketika keluar dari kepekatan
asap hitam nenek ini memaki habis-habisan. Kunti Api maupun
Pangeran Matahari tak ada lagi di tempat itu!
"Kurang ajar! Kemanapun kalian lari akan kukejar! Jangan kira
aku tidak tahu kalian menuju kemana!" Sinto Gendeng berteriak
marah. Lalu diam sebentar,
memutar otak. Susur dalam mulut dikeluarkan. Ludah merah
disemburkan. Susur dimasukkan kembali ke dalam mulut.
Tampangnya yang nyaris menyerupai tengkorak
karena tinggal kulit pembalut tulang tampak luar biasa angker.
Sesaat sebelum melakukan pengejaran Sinto Gendeng
memperhatikan seputaran kawasan candi. Ketika yang dicarinya
tidak ditemui si nenek berkata sendiri.
"Orang satu itu. Kemana perginya...?" Sinto Gendeng geleng-
geleng kepala. "Juga aneh. Mengapa Si Muka Bangkai mau-
mauan menyelamatkan anak gendeng itu?
Pasti ada maunya! Eh, dia bawa kemana bocah itu?" Si nenek
pencong-pencongkan mulutnya.
"Jangan-jangan anak itu mau dihombre.
Hik... Hik... Hik." Sinto Gendeng tertawa sendiri. Tahu pula dia
bahasa prokem rupanya (dihombre = disodomi) Sambil
melintangkan tongkat kayu di depan
dada nenek sakti dari Gunung Gede ini berkata.
"Muka Bangkai, kalau sampai anak itu kau bikin celaka akan
kutabas batang lehermu! Kukuliti batok kepalamu!".
***

8
PETAKA DI CANDI KALASAN
WALAU tidak parah, tapi bentrokan pukulan sakti dengan Si
Muka Bangkai membuat Pangeran Matahari merasa ada yang
tidak beres dengan tubuhnya sebelah dalam.
Buktinya kecepatan larinya saat itu jauh menurun. Dia hanya
mampu berlari mengikuti Kunti Api di sebelah belakang terpaut
tiga sampai lima meter.
Malam gelap, di langit rembulan masih tertutup awan tebal.
"Pangeran, percepat larimu! Jangan bikin aku tambah jengkel!"
Berteriak Kunti Api.
"Nenek Guru, rasanya aku menderita luka dalam. Maaf kalau aku
tidak bisa berlari cepat."
Dengan kesal terpaksa Kunti Api perlambat larinya.
Begitu berada di samping Kunti Api, Pangeran Matahari berkata.
"Nenek Guru. Waktu di Candi Sewu saya melepas Pukulan
Gerhana Matahari dengan tenaga dalam
penuh untuk menghabisi anak itu. Mendadak, tidak terduga sama
sekali, guru saya Si Muka Bangkai yang ada di situ, menangkis
serangan maut saya dengan Pukulan
Telapak Matahari. Jelas sekali tindakannya itu adalah untuk
menyelamatkan anak bernama Boma yang saat itu sudah terkapar
di lantai candi, dalam keadaan
tak berdaya. Siap menerima kematian, dipanggang pukulan sakti
yang saya lancarkan. Apa yang dilakukan guru Si Muka Bangkai
bagi saya adalah satu keanehan.
Keanehan pertama. Mengapa dia menolong, melindungi dan
kemudian menyelamatkan anak itu? Padahal jelas, sebelumnya
Nenek Guru sudah memberi tugas bahwa
kita harus membunuh anak itu! Lalu ada keanehan kedua. Saya
maklum Nenek Guru juga tahu kalau tingkat tenaga dalam saya
saat ini sedikit lebih tinggi dari
guru Si Muka Bangkai. Namun.... "
Nafas Pangeran Matahari tersedak, sesaat dia tak bisa
meneruskan kata-katanya.
Kunti Api lalu menjawab. "Bagiku tidak ada yang aneh.
Bukankah setelah terjadi saling hantam antara kau dan gurumu di
Candi Sewu aku memberi tahu bahwa
ada dua orang muncul di tempat itu secara tak terduga?"
"Saya melihat Sinto Gendeng," kata Pangeran Matahari sambil
mengusap dada. "Tapi saya tahu betul, nenek keparat itu sama
sekali belum sempat turun tangan
melakukan sesuatu."
"Kemunculannya memang membuat urusan kita jadi kapiran!
Tapi bukan dia yang punya pekerjaan. Ada orang lain, maksudku
makhluk lain yang hadir di tempat
itu, Dialah yang melancarkan tangkisan hebat hingga kau
terpental dan menderita luka dalam."
Terkejutlah Pangeran Matahari mendengar ucapan Gurunya itu.
Dia kerahkan seluruh tenaga untuk dapat menyusul karena saat
itu kembali dia tertinggal beberapa
meter di belakang. Begitu berada di samping Kunti Api, Pangeran
Matahari membuka mulut bertanya.
"Nenek Guru, siapa orang yang kau maksudkan itu? Makhluk
katamu? Makhluk apa? Saya tidak melihat siapa-siapa."
"Akupun tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku hanya
mencium bau harum samar-samar. Lalu aku melihat sosok
seorang perempuan cantik tinggi semampai. Sangat
samar-samar seolah dirinya terbuat dari asap. Yang aku masih
ingat di kepalanya ada sebentuk mahkota..."
"Makhluk berupa perempuan cantik itu yang menyelamatkan
Boma dari serangan maut saya?"
"Dugaanku memang begitu. Karena Sinto Gendeng tidak
membuat gerakan apa-apa. Gurumu Si Muka Bangkai memang
melancarkan serangan Pukulan Telapak Matahari
dengan dua tangan sekaligus. Tapi bukan pukulan itu yang
mencelakaimu. Aku melihat makhluk berbentuk asap melenggok
seperti menari, lalu menggerakkan tangannya
sedikit. Tidak ada angin yang bersiur, tidak ada cahaya yang
berkiblat. Tahu-tahu kau mental..."
Pangeran Matahari terengah. Diam sesaat lalu bertanya. "Nenek
Guru, kau mungkin tahu siapa atau apa makhluk itu adanya?"
"Sulit kuduga. Namun ada satu kepastian.
Makhluk yang aku katakan itu, dia bukan berasal dari alam kita,
bukan pula dari alam sekarang."
Pangeran Matahari jadi heran namun tak berani bertanya.
"Yang juga jadi tanda tanya besar dalam benakku," Kunti Api
melanjutkan. "Apa hubungan si makhluk dengan bocah itu hingga
mau turun tangan menyelamatkannya?"
"Nenek Guru, harap maafkan diriku. Aku lagi-lagi gagal. Tidak
dapat membunuh anak itu."
"Sekarang tugasmu tambah berat," ucap Kunti Api.
"Kau telah melihat sendiri tindakan Si Muka Bangkai. Bukan saja
dia melalaikan tugas, tapi malah mengkhianati kita. Menolong
anak yang seharusnya kita
habisi. Berarti musuh kita bertambah satu orang. Yaitu gurumu
sendiri. Dengan kata lain, selain membunuh anak bernama Boma,
kau juga harus menyingkirkan
Si Muka Bangkai!"
"Ah...!" Pangeran Matahari keluarkan suara terganggu karena
tidak menyangka akan mendengar ucapan itu dari mulut Kunti
Api. Nenek sakti berwajah setan
yang dandanan tebalnya morat marit ini menginginkan kematian
muridnya! Dan dia yang diperintahkan untuk membunuh sang
murid. Yang merupakan gurunya sendiri!
"Nenek Guru, saya rasa saya akan cukup tegar untuk
melaksanakan perintah Nenek Guru. Terus terang saja sudah
sejak lama saya menaruh bara dendam terhadap
guru saya Si Muka Bangkai itu...."
Tampang Kunti Api sesaat tampak berkerut. "Hemmm.... " si
nenek bergumam. "Bagaimana ceritanya sampai kau mengindap
bara dendam dalam dirimu terhadapnya."
"Nenek Guru ingat pertemuan dan pembicaraan kita di satu Kedai
Tuak di Jakarta beberapa waktu lalu? Waktu itu guru saya Si
Muka Bangkai tidak hentinya
mencaci maki saya. Saya dimaki sebagai manusia tolol, bodoh.
Saya masih bersabar diri. Tapi ketika saya keluar dari kedai tuak,
saya sempat menguping Si
Muka Bangkai berkata bahwa kelak dia akan membuat saya
sengsara seumur-umur. Bagi saya kata-kata itu sama saja dengan
dia ingin membunuh saya secara perlahan-lahan.
Sikap dan ucapannya menimbulkan dendam dalam diri saya.
Sebelum itu terjadi atas diri saya! Saya punya hak untuk membela
diri. Membunuhnya terlebih dulu!"
Kunti Api menyeringai tapi tidak berkata apa-apa. Belakangan ini
dia sendiri memang merasa tidak begitu suka Iagi terhadap
muridnya Si Muka Bangkai alias
Si Muka Mayat alias Setan Muka Pucat itu.
"Guru, mengapa diam saja. Katakan sesuatu...." ucap Pangeran
Matahari.
"Hemmm.... Aku tidak mau ikut campur urusan kalian guru dan
murid."
Si nenek coba membebaskan diri dan cuci tangan. "Tapi kita
harus menyusun kekuatan. Kau, aku dan gurumu di satu pihak.
Wiro Sableng, Sinto Gendeng di lain
pihak. Kalau sampai Si Muka Bangkai menyeberang ke pihak
Sinto Gendeng berarti kekuatan kita berkurang. Apalagi kalau
makhluk aneh berupa perempuan cantik
itu muncul secara tidak terduga menolong si bocah bernama
Boma. Bisa celaka kita semua!"
"Yang saya tidak habis pikir, mengapa guruku Si Muka Bangkai
menyelamatkan anak yang seharusnya dibunuhnya!"
"Aku menduga. Hanya ada satu jawaban. Anak itu memiliki Batu
Penyusup Batin kepunyaanku. Si Muka Bangkai ingin
mengambilnya. Tapi tidak tahu bagaimana
caranya atau belum tahu dimana si anak menyembunyikan."
"Saya ingat," kata Pangeran Matahari pula.
"Sewaktu saya berniat, membunuh anak itu di sekolah, tubuhnya
lenyap begitu saja. Dugaan Nenek Guru saya rasa ada benarnya.
Anak itu memiliki Batu Penyusup
Batin. Pasti Sinto Gendeng yang memberikan padanya setelah
berhasil mencuri dari guru Si Muka Bangkai."
Apa kejadian yang diceritakan Pangeran Matahari itulah
merupakan sebagian hal yang membuat Kunti Api merasa tidak
suka dan hilang rasa percaya terhadap
muridnya Si Muka Bangkai. Sang murid telah berlaku sembrono
hingga batu sakti dicuri orang. Membuat urusan jadi ruwet tidak
karuan. Lalu Si Muka Bangkai
juga tidak berhasil membunuh Sinto Gendeng. Lalu kini dia
malah menolong anak yang harus disingkirkannya.
"Nenek Guru, bagaimana kalau kita merubah siasat?" Pangeran
Matahari ajukan usul.
"Siasat apa, yang mana? Apa maksudmu?!" balik bertanya Kunti
Api.
"Saya punya dua usul. Pertama bagaimana kalau sesampainya di
Candi Kalasan, perempuan muda yang kita culik langsung saja
saya rusak kehormatannya. Setelah
kubunuh mayatnya kita letakkan di halaman Wisma tempat anak-
anak sekolah itu menginap. Kepalang tanggung, biar dibuat
heboh sekalian! Anak lelaki bernama
Boma bisa-bisa jadi gila melihat mayat guru yang disayanginya.
Saat itulah kita baru membunuhnya. Kalaupun nanti masih ada
orang atau makhluk yang menolong
anak itu, paling tidak pikirannya sudah kita buat rusak dan dia
akan sengsara seumur-umur."
Kunti Api menyeringai "Apa usulmu yang kedua?" Si nenek
kemudian bertanya.
"Kita culik anak lelaki itu. Membawanya ke Candi Kalasan. Biar
dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana saya
menghancurkan guru yang disayanginya.
Kalau dia masih hidup, anak itu akan gila sepanjang umurnya."
"Dua-dua usulmu luar biasa! Kau memang pantas disebut sebagai
Pangeran segala cerdik, segala akal, segala ilmu, segala licik,
segala congkak. Dan kini
aku tambahkan satu lagi Pangeran segala mesum! Hik...hik...hik."
Kunti Api usap mukanya yang ditutupi dandanan celemongan
lalu berkata. "Tapi aku lebih
suka kau melakukan hal yang pertama. Lebih aman dan bisa lebih
cepat dilaksanakan. Menculik anak itu dan membawanya ke sini
bisa mudah, bisa juga salah
kaprah. Aku kawatir makhluk aneh berbentuk perempuan cantik
bermahkota itu masih berada di sekitarnya."
"Kalau begitu kemauan Nenek Guru, saya akan lakukan. Saya
akan merusak kehormatan guru itu, lalu membunuhnya"
Kunti Api kembali menyeringai lalu tertawa mengekeh. Sambil
merapikan rambutnya yang acak-acakan si nenek berkata. "Aku
mendadak saja merasa merinding.
Sudah lama aku tidak merasakan sentuhan Ielaki. Hik...hik...hik"
Ketika melewati sederetan pohon besar tiba-tiba Kunti Api
hentikan larinya. Dia memandang ke arah ujung jalan yang
barusan dilewati, lalu putar kepala
memperhatikan keadaan sekeliling.
"Nenek Guru, ada apakah?" tanya Pangeran Matahari.
"Aku mendengar suara sesuatu. Suara seperti orang berlari
menguntit kita."
Pangeran Matahari ikuti pandangan si nenek. "Saya tidak melihat
apa-apa. Mungkin hanya suara tiupan atau desau dedaunan."
Si nenek angkat bahu lalu berbalik dan lanjutkan larinya ke arah
barat menuju Candi Kalasan.
***
BANGUNAN Candi Kalasan yang juga disebut Candi
Kalibening keadaannya telah banyak rusak dimakan zaman.
Dibawah naungan malam tanpa bintang dan rembulan
masih terus ditutupi awan tebal kelabu, candi ini tampak
menghitam dalam kesunyian malam.
Pintu timur Candi Kalasan dimana terdapat dua patung raksasa
duduk memegang gada dan membawa ular berhubungan dengan
sebuah ruang batu paling besar di
dalam candi. Dalam ruangan yang gelap ini satu sosok tubuh
perempuan tergeletak di Iantai candi yang dingin. Sesekali sosok
ini bergerak, lalu ada desah
tarikan nafas dan degup jantung memburu. Sejak tadi dia
berusaha untuk berdiri, tapi tidak mampu. Dua kakinya seperti
kaku, tak dapat digerakkan. Tubuh
bagian atas terasa berat. Dua tangan memang bisa digerakkan
namun hanya sekedar untuk menggapai dinding atau mengusap
lantai candi. Setiap kali dia berusaha
mengeluarkan suara, ingin berteriak, suaranya tersekat di
tenggorokan. Nafasnya menyesak dan dia terpaksa menggeletak
kembali dengan sekujur tubuh terasa
lemas. Disaat-saat seperti itu, hanya sepasang bola matanya saja
yang masih bisa bergerak, berputar kian kemari. Sesekali mata itu
menatap ke arah pintu.
Walau di luar sana agak terang dibanding di dalam ruangan
dimana dia tergeletak, namun dia tidak bisa melihat apa-apa,
selain ujung-ujung rerantingan sebatang
pohon. Perempuan malang ini bukan lain adalah guru Bahasa
Inggris SMU Nusantara III Ibu Renata, yang diculik Pangeran
Matahari dan Kunti Api di tengah
jalan lalu disembunyikan di Candi tersebut.
Di dalam kamar hanya dinding gelap yang bisa dilihat. Temaram
udara di luar candi sedikit sekali merambas masuk ke dalam
candi, itupun hanya berupa bayangan
samar di salah satu bagian lantai. Rasa takut amat sangat
menyelimuti diri Ibu Renata. Dia ingat betul kejadian sore itu,
ketika dia diculik, ditarik dari
atas beca lalu dimasukkan ke dalam mobil. Namun belum sempat
berpikir jauh tiba-tiba di ambang pintu candi sebelah timur
berkelebat muncul dua sosok tubuh.
Meski tidak melihat wajah namun dari bentuk rambut, tubuh serta
pakaian dia segera mengenali. Dua sosok yang muncul adalah
dua orang aneh yang menculik
dirinya sore menjelang Magrib tadi. Dua orang ini berdiri di
bawah pintu candi yang ada lekuk dan disebut Lekuk Kala
Makara.
"Mereka datang.... Ya Tuhan, tolong saya. Jangan sampai saya
mereka apa-apakan..." Ibu Renata mengucap, tubuh menggigil
takut. Dia merasa dingin tapi sekujur
tubuhnya nyaris basah oleh keringat.
Salah seorang yang muncul di ambang pintu candi, yaitu yang
mengenakan mantel hitam melangkah masuk. Langsung
mendekati dan berjongkok di samping Ibu Renata.
"Ibu Guru Renata, harap maafkan kalau kami terlalu lama
meninggalkan dirimu sendirian di tempat sunyi, gelap dan dingin
ini. Namun percayalah sebentar
lagi tempat ini akan ceria oleh desah nafasmu dan nafasku.
Suasana gelap akan berubah menjadi terang oleh rasa sukacita.
Ruangan yang dingin akan menjadi
hangat oleh aliran darah kita berdua yang akan sama-sama
memanas."
Habis berkata seperti orang menguntai syair orang yang
berjongkok, yang bukan lain adalah Pangeran Matahari adanya
lalu gerakan dua tangan ke leher dan
kaki Ibu Renata, perempuan yang sejak tadi tergeletak tak mampu
bergerak dan tak bisa bersuara. Saat itu juga Ibu Renata
merasakan dua kaki menjadi ringan,
dan jalan pernafasan menjadi lega. Sekali bergerak dia mampu
bangkit dan duduk serta mengeluarkan ucapan.
"Demi Allah, jangan apa-apakan saya. Tolong, jangan sentuh
saya..."
Pangeran Matahari tertawa lebar.
"Ketahuilah, perempuan itu dilahirkan untuk mendambakan
sentuhan belaian tangan laki-laki. Perjalanan nasib
mempertemukan kita berdua. Malam ini kau ditakdirkan
untuk melayani diriku." Ucap Pangeran Matahari keluarkan
ucapan seperti bersajak. Lalu dia ulurkan tangan membelai
rambut Ibu Renata.
"Jangan! Tolong.... Demi Allah jangan sentuh saya. Jangan sakiti
saya..." Ratap Ibu Renata.
Pangeran Matahari menyeringai dan ulurkan tangan meraba pipi
Ibu Renata. "Ibu Guru, aku dengar kau menyayangi anak lelaki
bernama Boma itu. Ini adalah
satu kesalahan besar pertama. Dan bocah keparat itu kabarnya
juga menyayangi dirimu. Ini kesalahan besar kedua. Malam ini
kasih sayang kalian akan menjadi
bencana. Di tanganku! " Tangan Pangeran Matahari turun ke
bahu.
"Jangan...."
Ibu Renata menjerit keras ketika tangan Pangeran Matahari yang
ada di bahu meluncur ke bawah. Namun Pangeran Matahari cepat
menekap mulutnya hingga jeritan
itu berubah menjadi suara gumaman.
"Pangeran Matahari, jangan berlaku bodoh! Lekas tutup jalan
suaranya. Suara jeritan bisa mengundang orang datang ke sini."
"Jangan kawatir. Saya akan lakukan perintahmu, Nenek Guru,"
Jawab Pangeran Matahari. Yang dilakukannya bukan menutup
atau menotok jalan suara Ibu Renata
melainkan dia rundukkan kepala dan cepat sekali mulutnya
ditutupkan ke mulut Ibu Renata, dua tangan merangkul kencang.
Ketika Ibu Renata meronta memberi perlawanan bahkan berusaha
memukuli Pangeran Matahari, sang Pangeran malah seperti
disurup rangsangan. Dua tangannya
bergerak kian kemari berusaha menanggalkan kemeja dan celana
panjang yang melekat di tubuh Ibu Renata. Di pintu candi, Kunti
Api berdiri sambil senyum-senyum
menyaksikan apa yang dilakukan Pangeran Matahari. Tiba-tiba
nenek ini mendengar sesuatu. Dia delikkan mata karena seperti
ada bayangan berkelebat.
"Pangeran! Lekas selesaikan pekerjaanmu! Aku merasa ada orang
lain di sekitar candi ini."
Kunti Api berkata lalu pentang sepasang mata lebar-lebar, kepala
setengah mendongak mendengar setiap suara dan diam-diam
tenaga dalam dialirkan ke tangan
kiri kanan.
Ibu Renata menjerit, berusaha menerjang, memukul, menggigit,
melakukan apa saja untuk bisa menyelamatkan diri dan
kehormatannya. Namun sosok tinggi besar
dan kuat yang digarang nafsu keji disertai aliran darah dendam
Pangeran Matahari bukanlah tandingannya. Ketika satu tamparan
didaratkan Pangeran Matahari
ke wajahnya, didahului jeritan keras Ibu Renata terguling ke
lantai candi. Dia tidak pingsan, masih setengah sadar ketika
Pangeran Matahari berusaha melucuti
pakaiannya. Ibu Renata menggigil keras sewaktu Pangeran
Matahari bergerak meneduhi tubuhnya. Tampangnya
menyeringai, nafas memburu keras. Untuk kesekian
kalinya guru yang malang ini menjerit keras.
Agaknya ini adalah jeritannya yang terakhir sebelum kekejian
menghancurkan diri dan kehormatannya.
Namun Tuhan maha menentukan. Ketika kemesuman itu siap
terjadi hanya dalam bilangan beberapa detik saja, tiba-tiba ada
suara-suara aneh di luar Candi Kalasan.
Kunti Api tercekat. "Pangeran!" ucap si nenek sambil dua kaki
digeser.
Pangeran Matahari yang juga sudah mendengar suara-suara itu
ikut terkesiap, tarik badan ke belakang dan setengah berjongkok
di lantai. Memasang telinga.
Sementara di luar sana suara-suara aneh terdengar makin jelas.
"Seperti suara seruling... Juga suara kerincingan...." kata Kunti
Api perlahan.
"Juga ada suara gendang..." menyambungi Pangeran Matahari.
"Dengar," kata Kunti Api. "Aku punya firasat tidak enak. Aku
akan menyelidik keluar. Kau bersiap-siap di dalam sini. Kalau
terjadi apa-apa lekas larikan
perempuan itu. Bawa ke Candi Prambanan. Tunggu di sana
sampai aku datang."
Pangeran Matahari mengangguk. Kunti Api secepat kilat melesat
ke pintu candi. Mendekam dibawah lekuk pintu Lekuk Kala
Makara. Sepasang mata mendelik besar,
dan daun telinga dipentang lebar.
***

9
DI KAMAR SUMI PRIMBON
BOMA tidak tahu berapa lama dia pingsan. Ketika sadar, dalam
keadaan mata masih terpejam dia merasa sekujur tubuhnya mulai
dari kaki sampai kepala mendenyut
sakit. Malam gelap, bangunan candi yang menghitam, terbayang
di pelupuk mata Boma. Ada lagi larik cahaya menyambar
kearahnya. Ada hawa panas luar biasa.
Dia menjerit keras lalu terkapar di lantai batu, di depan pintu
ruangan gelap.
Tangan Boma meraba. Dia tidak merasakan kerasnya batu candi.
Ada hamparan empuk, lapisan lain. Lalu telinganya mendengar
suara tarikan nafas. Boma maklum,
dia tidak sendirian di tempat itu.
Perlahan-lahan anak ini buka kedua matanya. Pertama sekali
dilihatnya adalah langit-langit ruangan, eternit Putih. Kepalanya
dimiringkan ke kanan. Dinding.
Suara orang menarik nafas kembali terdengar. Di arah kakinya.
Boma bersitahan dengan dua siku lalu angkat kepala. Untuk
membuat gerakan ini sekujur tubuhnya
seperti mau bertanggalan walau hawa panas mulai berkurang.
Memandang berkeliling anak ini dapatkan dirinya berada di atas
sebuah tempat tidur, masih memakai
sepatu kets. Dalam sebuah kamar apik diterangi lampu neon
bulat.
Di ujung kakinya, di tepi tempat tidur duduk orang tua itu.
Punggung dan kepala tersandar ke dinding. Lengan kemeja
tangan panjang gombrong biru belang-belang
yang dikenakannya kelihatan hitam hangus. Beberapa bagian
lengan kemeja ini tampak robek-robek. Dua tangan si orang tua
terkulai lemas di atas pangkuan.
Di atas pangkuan itu pula terletak sehelai sapu tangan basah
penuh noda darah. Sesekali kelihatan orang tua ini menarik nafas
dalam dan Panjang. Setiap
menarik nafas tampangnya yang pucat mengerenyit seperti
menahan sakit. Tubuhnya terasa panas. Dua tangannya bergerak.
Brett Breeet! Kemeja dirobek lalu ditanggalkan hingga kini si
orang tua terduduk setengah telanjang. Dadanya yang tipis
dengan tulang-tulang iga menyembul
bergerak turun naik. Boma memperhatikan tangan kiri orang tua
itu. Mulai dari siku ke bawah kulit lengannya berwarna lain
dibanding dengan bagian tangan
di atas siku. Lalu bentuk tangan kiri itu sedikit lebih besar jika
dibanding dengan tangan kanan.
"Pak Broto, kita dimana? Ini rumah siapa?" tanya Boma.
Yang ditanya tidak bergerak, tapi mulutnya berucap.
"Pak...."
"Diam, jangan bicara! Aku tengah mengatur hawa sakti, jalan
pernafasan, aliran darah, tenaga dalam. Sekujur tubuhku sakit,
panas!"
"Sama, saya juga..." Boma masih menyahuti lalu diam. Boma lalu
beringsut, duduk di ujung tempat tidur, mata terus
memperhatikan ke arah si orang tua. Di
luar terdengar suara tiang listrik dipukul orang.
"Tiang listrik dipukul dua kali. Pukul dua malam... " Pikir Boma.
Hatinya tergerak hendak keluar dari kamar. Dia beringsut ke tepi
tempat tidur. Belum
sempat kedua sepatunya menyentuh Iantai kamar, dari ujung
tempat tidur Pak Broto alias Si Muka Bangkai keluarkan suara.
"Jangan berani turun dari tempat tidur. Jangan berani keluar
kamar. Apa lagi sampai meninggalkan rumah ini."
"Pak Broto kita ini dimana? Ini rumah siapa?" tanya Boma.
Yang ditanya tak menjawab. Pak Broto membuat beberapa kali
tarikan nafas, batuk-batuk Ialu menyeka lelehan darah di
mulutnya dengan sapu tangan. Sesaat
kemudian orang tua ini memperbaiki duduknya. Mata yang sejak
tadi dipejamkan perlahan-lahan dibuka.
"Pak Broto, sudah selesai mengatur hawa sakti dan aliran darah?"
Yang ditanya masih belum menjawab. Hanya sepasang matanya
yang angker dingin menatap ke arah Boma. Sesaat kemudian baru
dia berucap.
"Rasa tubuhku agak mendingan sekarang." Pak Broto lalu
ulurkan tangan kanan, memegang bahu Boma. Anak ini merasa
ada satu hawa aneh memasuki tubuhnya.
Lalu sakit dan panas yang sejak tadi dirasakannya kini jauh
berkurang.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Lumayan, rasa sakit, juga panas, mulai hilang." Jawab Boma.
Dia maklum kalau Pak Broto barusan melakukan cara pengobatan
aneh atas dirinya.
"Pak Broto, sebelumnya kita di candi. Sekarang kok tau-tau ada
di sini...."
“Aku yang membawamu ke sini. Kau pingsan di tengah jalan…”
“Lalu kita sekarang ini dimana? Ini rumah siapa?”
Untuk kesekian kalinya Boma kembali bertanya.
"Ini rumah Sumi Primbon."
"Sumi Primbon? Siapa itu? Saudara Pak Broto?" Pak Broto
menyeringai. Lalu menggeleng.
"Teman?"
"Lebih dari teman. Cemcemanku." (cemceman = kekasih gelap)
Boma terbelalak. Pak Broto menyengir. Boma usap hidungnya
lalu menutup mulut menahan tawa. "Pak Broto, kok tau segala
cemceman sih?"
"Aku dengar-dengar orang bilang begitu, ya aku sebut saja. Yang
jelas aku senang punya cemceman seperti Sumi Primbon. Gemuk,
putih. Dan gocekannya itu
lho!"
"Gocekan? Gocekan apa?" tanya Boma.
"Ala, kamu masih kecil, masih ijo. Mana ngerti!" ujar Pak Broto
sambil tertawa dan lambaikan tangannya.
"Jadi Pak Broto sama Sumi Primbon itu kumpul kebo?"
"Gila kamu! Sumi Primbon itu manusia, Perempuan , kok di
bilang kebo!" Pak Broto pelototi Boma.
Boma tersenyum dan diam saja. Percuma menjelaskan kalau yang
dijelaskan memang tidak bisa mengerti arti ungkapan kumpul
kebo.
"Pak Broto, kalau ini rumahnya Sumi Primbon, lalu orangnya
mana?"
"Nanti juga datang." Jawab Pak Broto.
"Nggak ada di sini?"
"Lagi kerja," menerangkan Pak Broto.
"Kerja malem? Kerja apa?" tanya Boma. Lalu anak ini menjawab
sendiri. "Jadi hostess?"
"Apa itu hostes? Ora ngerti aku."
"Hostes sama dengan pramuria."
"Podo wae. Tetap nggak ngerti." Jawab Pak Broto yang rupanya
mulai tahu sedikit-sedikit bahasa Jawa.
"Hostess itu artinya wanita penghibur," menerangkan Boma.
Pak Broto tertawa hampir tanpa suara.
"Terserah kau mau bilang apa. Dia memang pandai menghiburku.
Dan orangnya begini." Pak Broto lalu acungkan sekaligus jempol
tangan kiri dan tangan kanan.
"Oke punya?" ujar Boma.
"Oke punya. Betul!" Orang tua itu kembali tertawa.
"Sumi Primbon, cemcemanku itu dia jual makanan lesehan di
Malioboro. Ini rumahnya. Untuk sementara kita aman di tempat
ini."
Dalam hati Boma berkata. "Aman buat dia dan aku, tapi
bagaimana dengan Ibu Renata?"
"Pak, saya ingat kejadian di Candi Sewu. Orang bernama
Pangeran Matahari itu, dia hendak bunuh saya seperti waktu di
Candi Borobudur. Nyatanya saya berada
di sini. Dalam keadaan selamat. Saya berterima kasih Pak Broto
sudah menolong saya..."
"Aku menolongmu tidak cuma-cuma. Antara kita ada perjanjian.
Aku membawamu ke Candi Sewu, kau menyerahkan batu
Penyusup Batin. Jangan lupakan hal itu!"
Boma hendak mengusap bahu kanannya pada letak Batu
Penyusup Batin. Tapi karena si orang tua menatap ke arahnya hal
itu dibatalkan dan dia pura-pura mengusap
hidung.
"Kalau saya tidak dapat menyerahkan batu itu pada Bapak, Pak
Broto mau membunuh saya?" "Bisa saja. Tapi terus-terang ada
satu hal yang tidak kau ketahui."
"Hal apa Pak?" tanya Boma pula.
"Sebenarnya, waktu di Candi Sewu bukan aku yang
menyelamatkan nyawamu. Ada orang lain yang menolong. Aku
hanya tolong memboyongmu ke tempat ini."
***

10
SIAPA SEBENARNYA YANG MENOLONG BOMA?
BOMA tercengang mendengar kata-kata Pak Broto itu.
"Aneh..." ucap Boma.
"Memang semua serba aneh. Waktu Pangeran Matahari
menghantammu aku coba menangkis. Tapi aku kalah tenaga. Saat
pukulan muridku itu hampir memanggangmu,
tiba-tiba aku merasa ada satu gelombang kekuatan luar biasa.
Dibilang angin tidak ada suara. Dikatakan pukulan sakti tidak
mengeluarkan warna. Namun aku
sempat melihat satu bayangan. Sangat samar-samar, tidak jelas."
"Bayangan bagaimana Pak Broto?"
"Sosok tinggi semampai seorang perempuan berkulit putih.
Cantik luar biasa. Dia pakai selendang kalau tak salah warna
ungu. Di kepalanya ada satu mahkota.
Aku ingat, di saat yang sama aku mencium bau harum sekali..."
"Mungkin itu bau minyak wangi yang melekat di tubuh dan
pakaian Bapak sendiri..." ucap Boma pula.
"Aroma minyak wangi orang yang aku cium di candi itu baunya
lain. Sangat lembut tapi semerbak luar biasa. Yang aku pakai
minyak wangi peletan. Biar Sumi
Primbon lengket sama aku..." Jawab Pak Broto sambil senyum-
senyum.
Untuk beberapa ketika Boma hanya bisa diam, mengusap
tengkuk lalu menowel hidung.
"Aku sering melihat kamu menowel hidung. Aneh..."
"Kebiasaan aja, Pak."
"Jangan-jangan batu sakti itu ada dalam hidungmu." Tangan kiri
Pak Broto bergerak, menyambar ke arah hidung Boma lalu
memencet. Boma sampai keluar air
mata menahan sakit. Masih untung tidak sampai berteriak. Begitu
pencetan dilepas anak ini bersin sampai tiga kali. Pak Broto
tertawa dan gelengkan kepala.
"Tidak, batu sakti itu tidak ada di hidungmu... " katanya.
"Kenapa sih Bapak menginginkan batu itu?"
"Itu bukan batu sembarangan. Asal muasalnya batu itu adalah
milik guruku, Eyang Kunti Api. Batu diberikan padaku, dipesan
agar disampaikan pada Pangeran
Matahari. Selanjutnya Pangeran Matahari harus membunuhmu.
Tapi muridku itu berlaku tolol. Dia kecolongan. Batu dicuri
seorang pengamen di Jakarta. Untungnya
aku berlaku waspada. Batu yang kuberikan pada Pangeran
Matahari bukan batu asli , tapi batu kawinan...."
"Batu kawinan? Memangnya batu bisa kawin?" tanya Boma.
"Tai kucing! Geblek! Maksudku batu yang kuberikan adalah batu
yang diusap batu asli. Hingga batu palsu itu punya kekuatan yang
sama, tapi hanya untuk beberapa
hari." Menerangkan Pak Broto. "Aku menemui muridku. Dengan
Batu Penyusup Batin yang asli tubuhnya aku usapi agar bisa lebih
sakti, bisa melenyapkan diri.
Tapi celakanya saat itu muncul Sinto Gendeng. Batu sakti asli
dirampasnya."
"Sinto Gendeng, siapa itu Pak?"
"Tai kucing! Jangan pura-pura!" bentak Pak Broto.
"Aku mendengar kabar, dia yang menolongmu waktu terjadi
bencana di Gunung Gede. Dia yang memberikan ilmu pukulan
sakti. Dimasukkan ke tangan kirimu. Coba
lihat tangan kirimu. Buka telapakannya. Ayo!"
Pak Broto tarik tangan kiri Boma. Anak ini terpaksa kembangkan
telapak tangan. Pak Broto alias Si Muka Bangkai perhatikan
telapak tangan kiri yang memang
ada tanda kalinya itu. "Di alamku, ilmu pukulan yang kau miliki
di tangan kiri itu tak ada artinya. Tapi di alammu, kau bisa
membunuh orang, sanggup memecahkan
kepala kerbau, memukul jebol tembok."
Boma terkesiap. Dia memang pernah dipesan oleh si nenek
misterius untuk tidak boleh mempergunakan tangan kirinya
secara sembarangan. Tapi kalau dia katakan
sanggup memukul jebol tembok, anak ini jadi terheran-heran
sendiri.
"Kamu tidak percaya kehebatan tangan kirimu?" Boma tak
menjawab.
"Muridku Pangeran Matahari pernah kau pukul sampai patah
tulang iganya waktu dia hendak membunuhmu di sekolah.
Ingat?" ( Baca episode berjudul "
Topan Di Borobudur"
)
Boma hanya terdiam menggigit bibir lalu mengangguk. Dia
memang ngeri jika ingat peristiwa itu. Namun ingatannya hanya
sebagian saja tertuju pada kejadian
tersebut. Dia kini lebih banyak memikirkan si nenek misterius.
"Pak Broto, jadi nenek di puncak Gunung Gede itu namanya
Sinto Gendeng?"
"Kau benaran tidak tahu?"
Boma menggeleng.
"Saya pernah tanya, dia tidak pernah bilang."
"Nenek satu itu memang paling aneh. Menurutku dia sudah
menganggapmu sebagai murid. Malah ada satu rencana besar
untuk menjadikanmu Pendekar Tahun Dua
Ribu...."
"Pendekar Tahun Dua Ribu, " ulang Boma. "Nenek itu memang
pernah bilang sama saya. Waktu dia datang ke kamar saya. Di
rumah. Malam-malam. Tapi saya nggak
ngerti...."
"Kalau saja aku berhasil membunuhnya waktu menyerbu ke
puncak Gunung Gede, urusan tidak berkepanjangan seperti ini."
"Pak Broto, silang sengketa apa sebenarnya antara Bapak dengan
Sinto Gendeng sampai mau saling berbunuhan?"
Pak Broto monyongkan mulut peotnya. "Kamu pemah baca buku
cerita silat?"
"Nggak hobby." Jawab Boma.
"Apa itu hobi?"
"Maksudnya nggak suka. Nggak 'gitu suka."
"Tapi tahu kalau dalam dunia persilatan itu ada golongan hitam
dan golongan putih yang saling bermusuhan seumur-umur?"
Boma mengangguk.
"Aku, muridku dan guruku adalah orang-orang dari golongan
hitam. Sinto Gendeng dan teman-temannya dari golongan putih.
Kami bermusuhan. Musuh bebuyutan.
Satu kali ada rahasia besar rencananya bocor ke tangan kami.
Sinto Gendeng tengah mencari dan hendak menjadikan seorang
anak laki-laki sebagai Pendekar
Tahun Dua Ribu. Kalau hal itu sampai kejadian, kami orang-
orang golongan hitam pasti bakal menghadapi bencana besar.
Rencana itu harus digagalkan. Sinto
Gendeng harus dibunuh lebih dulu. Soal si anak bisa diurus
kemudian."
"Pak Broto menyerbu ke puncak Gunung Gede..."
"Benar, tapi di alamku sana namaku bukan Pak Broto. Aku
dikenal dengan julukan Si Muka Mayat alias Si Muka Bangkai.
Serbuanku gagal. Malah tangan kiriku
dibikin buntung sebatas siku oleh Sinto Gendeng. Dia punya ilmu
kesaktian berupa dua larik sinar yang keluar dari sepasang
matanya. Kata orang itu adalah
ilmu yang disebut Sepasang Sinar Inti Roh. Aku tak sanggup
menghadapinya. Jangankan aku, guruku si Kunti Api juga bisa
kelabakan. Tidak heran. Sinto Gendeng
dedengkot dari para tokoh rimba persilatan golongan putih.
Tangan kiriku dibikin buntung sebatas siku. Guruku Eyang Kunti
Api kemudian membawa aku ke seorang
ahli di Jakarta. Katanya dokter. Aku tidak tahu apa artinya dokter
itu. Tapi dia punya kepandaian menyambung-nyambung aurat
manusia, menjebol dan menjahit
tubuh orang. Oleh guruku dokter itu dipaksa menyambung
tanganku dengan tangan orang lain. Kau lihat sendiri. Tangan
kiriku sebelah bawah tidak sama dengan
yang di atas siku. Apa lagi kalau kau bandingkan dengan tangan
kanan. Sebabnya tangan yang jadi sambungan ini adalah tangan
gelandangan. Tanganku sendiri
terbang entah kemana." Si Muka Bangkai lalu mengekeh.
Boma melongo. Setengah tak percaya.
"Yang namanya dokter itu memang pandai sekali. Tapi kalau
tidak dibantu guruku, mana mungkin tangan ini bisa bersambung
sempurna dalam waktu hanya satu
setengah hari..." ( Baca Episode Boma Gendenk berjudul "
Muridku Machoku"
)
"Untung tangan Bapak yang buntung. Kalau bagian tubuh yang
lain..."
"Maksudmu kalau leherku yang buntung? Tewas sudah! So pasti!
Ha...ha...ha!" Si Muka Bangkai bicara keren. Seperti anak remaja
saja pakai so pasti segala.
Boma ikut tertawa mendengar kata-kata Pak Broto yang terakhir.
Tapi dia masih ingin mempermainkan orang tua ini.
"Bukan, maksud saya bukan leher Pak Broto tapi yang
seandainya yang putus itu... " Boma memandang ke arah bawah
perut si orang tua lalu goyangkan kepalanya.
Pak Broto terdiam sesaat. Menatap Boma lalu memandang ke
bawah perutnya sendiri. Lalu meledaklah tawa orang tua muka
pucat ini.
"Tai kucing!" maki Pak Broto. "Anak gendeng!" Tapi orang tua
aneh ini tidak marah malah tertawa.
"Kalau anuku yang buntung, lalu disambung dengan apa? Siapa
yang mau memberikan anunya walau dibayar mahal!"
"Mungkin anu kuda, Pak, " ucap Boma pula.
Pak Broto mendelik.
"Tai kucing!" kata Boma mendahului sebelum Si Muka Bangkai
ucapkan makian itu.
Si Muka Bangkai tertawa gelak-gelak.
"Anak kurang ajar!" semprotnya.
"Pak Broto, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih.
Gimanapun juga Pak Broto telah menyelamatkan saya. Semua itu
membuat saya heran. Pak Broto seharusnya
sudah membunuh saya sesuai perintah guru Pak Broto. Mungkin
masih tertunda karena batu sakti itu belum jatuh ke tangan Pak
Broto?"
Si Muka Bangkai tidak menjawab.
"Pak Broto..."
"Hemmm...?"
"Saya boleh tanya satu hal?"
"Apa?"
"Pak Broto, Pangeran Matahari, Kunti Api dan nenek bernama
Sinto Gendeng itu sebenarnya makhluk apa sih? Menurut Bapak,
Bapak datang dari alam lain. Tapi
ujudnya seperti manusia biasa. Lalu apa Bapak ini, juga yang
lain-lain itu bangsa setan, hantu atau jin...."
Si orang tua usap mukanya yang pucat seolah darah tak pernah
mengalir ke wajah itu.
Mata memandang lurus menerawang. Seperti ada bayangan rasa
sedih di wajah yang pucat itu. Lalu terdengar mulutnya berucap.
Suaranya perlahan.
"Aku tidak mampu menjawab pertanyaanmu itu. Kau tanya soal
lain saja."
Boma pandangi wajah tua berambut putih awut-awutan itu. Entah
mengapa ada rasa kasihan dan juga rasa suka dalam diri anak
lelaki itu pada orang tua itu.
Padahal jelas orang punya niat jahat, malah sewaktu-waktu siap
membunuhnya.
Si Muka Bangkai palingkan kepala. Pandangannya saling
bertatapan dengan Boma. Lalu meluncur pertanyaan dari mulut
orang tua ini.
"Waktu kau aku tampar, bagaimana rasanya? Sakit?"
"Lumayan, mana ada sih orang ditampar tidak sakit. Pipi saya
sebelah dalam berdarah..."
Si Muka Bangkai tersenyum mendengar jawaban Boma itu.
Namun dibalik senyuman itu Boma sendiri merasa ada bayangan
penyesalan dalam diri orang tua berwajah
seram ini. Menyesal karena telah menamparnya.
Boma alihkan pembicaraan.
"Pak Broto, saya ingat. Waktu di Wisma Bapak bilang Ibu Renata
diculik dan dibawa ke Candi Sewu. Ternyata guru saya tidak ada
di sana."
"Aku diperdaya. Kena dijebak!"
"Siapa yang menjebak?"
"Siapa lagi?! Murid dan guruku sendiri! Pangeran Matahari dan
Eyang Kunti Api," menerangkan Pak Broto alias Si Muka
Bangkai. "Kunti Api pura-pura bicara
pada Pangeran Matahari. Memberi tahu bahwa gurumu diculik
dan dibawa ke Candi Sewu. Karena tahu pasti aku mendengar.
Salahnya aku lalu memberi tahu kamu.
Tapi itu lantaran aku inginkan batu sakti. Kita lalu ke Candi
Sewu. Sebenarnya dirimu yang mereka incar. Jelas!"
"Lalu.... Kalau begitu dimana Ibu Renata sekarang?"
"Hanya setan malam yang tahu dimana gurumu itu disekap Kunti
Api dan Pangeran Matahari..."
"Pak Broto..." Boma mengencangkan tali sepatunya lalu turun
dari tempat tidur. "Saya harus mencari Ibu Renata. Saya harus
menolongnya sebelum dia diapa-apakan
orang-orang jahat itu."
Pak Broto mengangkat tangan kanannya. Memberi isyarat. Lalu
mendahului Boma turun dari tempat tidur, melangkah ke pintu
kamar. Di luar sana, di tepi jalan
ada suara mobil berhenti di depan rumah.
"Sumi Primbon kalau pulang selalu naik becak. Tidak pernah
naik mobil. Hatiku tidak enak. Ada firasat tidak baik..."
"Kita berdua membuat kesalahan. Masuk ke rumah orang tanpa
memberi tau, tanpa izin pemilik rumah. Malah enak-enakan tidur
di kamarnya..."
Pak Broto melintangkan jari tangan kanan di depan mulut.
Memberi isyarat agar Boma berhenti bicara. Di luar sana
terdengar pintu depan dibuka. Lalu ada
langkah kaki masuk. Pak Broto tahu persis itu adalah langkah-
langkah kaki Sumi Primbon. Namun di belakang langkah-langkah
itu ada langkah-langkah lain
mengikuti.
"Sumi pulang," bisik Pak Broto pada Boma. Raut wajahnya yang
pucat angker tidak menunjukkan rasa gembira, malah sebaliknya
orang tua ini tampak khawatir.
Telinga dipasang, mulut berucap perlahan. "Ada beberapa orang
bersamanya. Pakai sepatu berat. Mereka di ruang tamu."
Di luar sana terdengar suara perempuan bicara. Diam sesaat lalu
terdengar lagi langkah-langkah kaki menuju pintu kamar.Lalu di
pintu ada suara anak kunci
dimasukkan ke lobang kunci. Tidak menunggu lama, pintu kamar
terbuka dan satu sosok perempuan gemuk siap melangkah masuk
ke dalam kamar tapi tertahan ketika
melihat dua orang yang berdiri di hadapannya.
***

Bagian 11

13
JANGAN BERAK, JANGAN BEOL
DI PAGI buta itu, Pos Polisi yang terletak di sebelah utara
Malioboro hanya ditunggui dua orang anggota Polisi. Yang satu
mendengkur di kursi ruang depan,
temannya duduk dekat pintu masuk sambil merokok. Seharusnya
Sumi Primbon dan empat orang polisi itu akan lebih dulu sampai
di Pos Polisi dari pada Boma.
Tapi karena untuk satu keperluan Sumi minta diantar dulu ke
tempat dagangannya di Malioboro, maka Boma yang Iebih dulu
sampai di situ.
Boma menyeberangi jalan, melangkah menuju Pos Polisi. Mula-
mula agak ragu. Tapi sampai dia berdiri sejarak satu meter dari
hadapan polisi yang merokok,
polisi ini tenang saja, terus menikmati rokoknya seolah tidak
melihat kehadiran anak lelaki itu di depannya.
Boma mendekat. Dia lambai-lambaikan tangan kirinya di depan
muka polisi yang merokok. Tetap saja polisi ini duduk tenang-
tenang, menyedot dan menghembuskan
asap rokok.
Boma tersenyum. "Berkat Batu Penyusup Batin." katanya dalam
hati. Dia tinggalkan polisi yang merokok, masuk ke dalam Pos
Polisi. Di ruang depan sejenak
anak itu perhatikan polisi bertubuh gemuk yang duduk tidur
mengeluarkan suara mendengkur.
Bangunan Pos Polisi itu hanya terdiri dari ruangan depan dan
sebuah Kamar. Di ruang depan ada sebuah meja dan kursi butut.
Boma melangkah ke arah pintu
kamar yang tertutup. Handel pintu ditekan ke bawah lalu pintu
didorong. Tapi daun pintu tidak bergerak.
"Brengsek, dikunci!"
Boma memandang berkeliling, mencari-cari. Di atas meja butut
tidak ada apa-apa selain satu botol plastik berisi air putih yang
tinggal setengah. Di dinding
ada beberapa paku. Salah satu paku dicanteli topi pet polisi.
"Kalau kunci sampai nggak ketemu, gagal semua urusan!" kata
Boma cemas. Apa boleh buat. Boma harus memeriksa saku
pakaian polisi yang tidur.
Mungkin kunci kamar ada dalam salah satu kantongnya. Tapi
kalau tidak ketemu berarti polisi yang diluar itu yang memegang.
Boma mendekati polisi yang tidur.
Dia meraba saku kemeja kiri kanan. Kosong, tidak ada apa-apa.
Pindah ke kantong celana. Di salah satu kantong dia hanya
menemukan sebuah bolpen.
"Jangan-jangan di kantong celana belakang. Wah susah, gimana
ngerogonya?"
Hati-hati Boma putar ke kanan tubuh gemuk yang tidur dalam
keadaan duduk itu. Dengkuran sang polisi mendadak berhenti.
Boma yang siap memasukkan tangannya
ke kantong celana untuk menarik dompet cepat-cepat
membatalkan niat. Polisi itu menggeliat lalu tidur lagi. Boma
tukar siasat. Badan si polisi tidak diputar,
tapi kini kursi yang diduduki polisi itu yang didorong. Tidak
gampang mendorong kursi yang dibebani tubuh gemuk berbobot
sekitar 90 Kg itu. Celakanya ketika
berhasil digeser empat kaki kursi keluarkan suara cukup keras.
Polisi yang di luar berdiri, masuk ke dalam. Diperhatikannya
temannya yang tidur di kursi yang saat itu kembali mulai
mendengkur.
"Heran, suara apa tadi?" Polisi ini berucap sendiri lalu ambil
botol plastik di atas meja dan meneguk air di dalamnya. Setelah
itu dia kembali duduk di
dekat pintu Pos.
Walau kursi hanya bergeser sedikit, tapi Boma kini bisa
menyusup di belakang kursi. Hati-hati, perlahan-lahan dia tarik
dompet yang ada di dalam kantong
kiri belakang. Berhasil. Dompet diperiksa. Kunci yang dicarinya
tidak ada. Dompet itu hanya berisi beberapa kartu nama dan
kertas yang dilipat-lipat.
"Nggak ada duitnya, Miskin amat. Sama dengan ogut." Boma
masukkan dompet kembali ke dalam saku kiri belakang. Kini
tinggal kantong celana kanan belakang
yang belum diperiksa. Boma luruskan lima jari tangan kanan lalu
disusupkan ke dalam kantong itu. Dalam tidurnya si polisi sempat
merasa kegelian hingga
tubuhnya tersentak-sentak beberapa kali. Di kantong ini Boma
juga tidak menemukan kunci yang dicarinya.
"Apes! Jangan-jangan dibawa pulang sama komandan Pos. Atau
Polisi yang satu itu yang nyimpan. Gimana aku memeriksanya.
Kalau Pak Broto ada bisa saja dibuat
kaku pakai ilmu totokannya," Boma melangkah mundar-mandir.
Dia ingat Sumi Primbon yang berangkat duluan, tapi tidak ada di
Pos Polisi itu.
Boma memandang ke dinding, memperhatikan paku-paku yang
menancap di situ. Lalu dia perhatikan topi pet polisi yang
tergantung di dinding kanan. Langkahnya
mundar-mandir dihentikan. Anak ini menghampiri topi pet yang
tergantung di paku lalu menariknya.
"Nah!"
Sepasang bola mata Boma berbinar.
Pada paku yang dipakai untuk menggantung topi pet itu
tergantung pula sebuah kunci. Boma cepat mengambilnya lalu
menyorongkan ke lobang kunci. Kunci diputar.
"Klik!"
Kunci pintu terbuka. Boma menekan handel pintu ke bawah lalu
mendorong. Daun pintu bergerak. sesaat kemudian Boma sudah
ada di dalam kamar. Sebuah meja
terletak di sudut kanan, mepet ke dinding. Di atas meja ada mesin
tik tua, kertas-kertas dan sebuah cangkir porselen bekas berisi
kopi. Di sebelah kiri
ada seperangkat sofa butut tanpa meja.
Sasaran Boma adalah meja kerja yang ada di tempat itu. Dia ingat
keterangan Sumi Primbon. Dua gelang emas di simpan di dalam
laci meja. Ternyata meja itu
punya dua laci.
Perlahan-lahan Boma menarik laci sebelah kanan. Matanya
melotot melihat benda yang ada di dalam laci itu. Tangannya
gemetar mengangkat benda itu yang ternyata
adalah sepucuk pistol. Jenis Colt 38.
"Ajie gile. Ini yang namanya beceng. Baru sekali ini ogut bisa
megang," kata Boma. (beceng = pistol) Hati-hati senjata itu
dimasukkan kembali ke dalam
laci.
Boma beralih ke laci meja sebelah kiri. Di dalam laci ini hanya
ada satu bungkusan kertas. Tak ada gelang emas. Kening Boma
berkerut. Bungkusan kertas
diambil. Lalu dibuka. Dua gelang emas yang masih baru
berkilauan dibawah cahaya lampu. Cepat-cepat, perhiasan ini
dibungkus kembali. Saking girangnya,
ketika hendak keluar tak sengaja pinggul Boma menyentuh kursi
yang ada di belakang meja. Kursi ini tersandar ke dinding
mengeluarkan suara keras. Boma
cepat betulkan letak kursi. Polisi gemuk di dalam Pos masih terus
mendengkur. Tapi kawannya yang diluar sudah bangkit dari
kursinya dan masuk ke dalam.
Otak Boma langsung jalan. Gelang emas yang dibungkus kertas
cepat-cepat dimasukkan kembali ke dalam laci kiri meja. Lalu
anak ini tegak mendekam di sudut
kamar.
Polisi yang masuk merasa heran ketika dia mendapatkan pintu
kamar tidak dikunci. Masuk ke dalam kamar dia segera
memeriksa dua buah laci. Hatinya lega
ketika mendapatkan pistol dan dua gelang emas masih ada di
tempat itu.
Setelah polisi tadi duduk kembali di depan Pos, Boma ambil lagi
dua gelang emas dari dalam laci lalu keluar dari kamar. Kunci
pintu digantungkannya di
paku semula, ditutup dengan topi pet dan kamar dibiarkan tetap
tidak terkunci.
***
DI DEPAN Hotel Garuda, tempat janji bertemu, Boma tidak
menunggu lama. Pak Broto muncul membawa sebuah kantong
plastik mengeluarkan suara berkerincing.
Tapi si orang tua tampak bingung, menoleh kian kemari,
memandang ke halaman dalam hotel.
"Mendadak buta 'kali orang ini," membatin Boma.
"Pak Broto, saya di sini!"
Pak Broto palingkan kepala ke arah datangnya suara. Tapi masih
mencari-cari. Boma ingat. "Astaga, sampai lupa!" Cepat tangan
kirinya diusapkan satu kali
ke bahu kanan tempat terletaknya Batu Penyusup Batin. Detik itu
juga sosoknya nyata terlihat kembali.
"Anak gendeng, kau mempermainkan aku!" Pak Broto mendekat
bersungut-sungut. Dia maklum kalau barusan Boma telah
mempergunakan kesaktian Batu Penyusup Batin
untuk menghilang dan memunculkan diri.
"Dapat koinnya?" tanya Boma.
Pak Broto ulurkan kantong plastik yang dipegang. Boma
memeriksa.
"Busyet! Banyak banget. Ini sih bisa bikin gelang sebaskom!"
Pak Broto tertawa lebar. "Gelangnya dapat?" tanyanya.
"Ada di dalam kantong," jawab Boma.
"Sekarang apa yang kita lakukan?"
"Kita cari tempat yang aman. Kita, maksud saya Pak Broto harus
mampu membuat tiruan dua gelang emas dengan uang Iogam
ini..."
"Gila, mana mungkin! Kamu kira aku ini pandai emas apa!"
"Ssst... Pasti bisa. Di Jakarta banyak orang bikin cincin dengan
koin lima ratusan...."
"Mereka punya alat."
"Pak Broto juga punya alat." Jawab Boma.
"Gila! Aku punya alat apa? Aku cuma punya pentungan pendek!
Hik... Hik... Hik. Itupun tidak bisa dipakai kalau nggak nenggak
Majun Arab Iebih dulu."
Boma tertawa geli.
Di satu tempat sepi di tepi kali, Boma berhenti. Setelah menoleh
berkeliling untuk memastikan tempat itu aman dan tidak ada
orang lain, dari saku celana
Boma keluarkan dua gelang emas dalam bungkusan kertas.
"Ah..." Pak Broto keluarkan suara pendek tertahan. "Pak Broto,
Bapak punya kesaktian, Bapak sanggup mengalirkan hawa panas.
Ambil empat uang logam lima
ratusan. Bikin leleh dengan kesaktian Bapak. Bikin tiruan gelang
emas itu. Pak Broto pasti bisa"
Si Muka Bangkai terkesiap kaget.
"Gila, jangan bicara ngacok! Aku tidak pernah melakukan yang
beginian! Mana mungkin!"
"Pak Broto bisa. Ayo Pak, waktu kita singkat sekali!" Si Muka
Bangkai pandangi wajah Boma sesaat. Sambil geleng-geleng
kepala orang tua ini keluarkan empat
uang logam lima ratusan. Boma ambil bungkusan plastik hitam
dari tangan kiri Pak Broto sementara Pak Broto mulai
menggenggam empat uang logam ditangan
kanannya. Sesaat dia merasa bimbang memandang ke arah Boma.
"Bisa Pak, Pak Broto pasti bisa!" Boma meyakinkan. "Demi
Sumi Primbon Pak. Demi cemceman Bapak! Ayo!"
Mendengar disebutnya nama Sumi Primbon, seperti dapat
semangat Si Muka Bangkai dongakkan kepala ke langit. Mata
dipejam. Tubuh dan lengan kanannya bergetar
ketika dia mulai mengalirkan tenaga dalam mengandung hawa
panas sakti ke dalam genggaman tangan kanan. Boma
memperhatikan dengan tidak berkedip, sesaat
kemudian dari genggaman tangan itu mengepul asap berwarna
kekuningan. Untuk pertama kalinya Boma melihat wajah pucat
putih Pak Broto berubah kemerahan
dan diperciki keringat pertanda dia tengah mengerahkan satu
kekuatan tenaga dalam mengandung hawa panas luar biasa.
Ketika lima jari yang menggenggam dibuka,
Boma melihat empat uang logam lima ratusan lenyap. Berubah
menjadi cairan leleh berwarna kuning. Luar biasa!
"Sudah leleh Pak. Sekarang cairan logam itu harus dipulung-
pulung. Dibentuk menyerupai gelang ini." Boma tunjukkan satu
dari dua gelang emas dan meletakkannya
di telapak tangan agar bisa dilihat jelas oleh Pak Broto. Orang tua
ini melakukan apa yang dikatakan Boma. Cairan uang logam
yang panas, seolah tanah liat
mulai dipulung-pulung membentuk gelang emas.
"Jadi!" Si Muka Bangkai berseru dan memperlihatkan hasil
pekerjaannya pada Boma.
Boma memperhatikan "Kok lain, Pak?"
“Apanya yang lain?”
"Ukurannya hampir sama. Tapi bentuknya berbeda. Yang asli
lebih apik..."
"Lalu, musti bagaimana? Aku robah lagi mumpung masih
lembek?"
"Jangan yang itu. Yang asli yang dirobah. Pasti lebih mudah dan
bisa lebih menyamai yang palsu."
"Anak gendeng! Otakmu encer juga! Itu yang justru aku mau
lakukan!" Si Muka Bangkai ambil gelang emas asli yang ada di
atas telapak tangan Boma. Dengan
ujung jarinya gelang ini diusap-usap. Gelang Mengepulkan asap
kuning. Sesaat kemudian gelang yang asli itu bentuknya telah
berubah menjadi lebih sederhana,
menyerupai gelang yang dibuat dari uang logam lima ratusan.
"Nah, bagaimana menurutmu?" tanya Pak Broto.
"Sudah bagus. Tapi ada yang masih kurang. Gelang emas kok
warnanya butek amat. Bisa dibuat mengkilap nggak? Warnanya
dibikin lebih kuning."
"Wah, pecah otakku! Gimana caranya?"
"Dikawinin Pak. Ingat Bapak pernah cerita mengusap Batu
Penyusup Batin palsu dengan yang asli?"
Si Muka Bangkai terbelalak lalu tertawa mengekeh.
"Anak Gendeng! Otakmu luar biasa!" Gelang palsu dipegang di
tangan kiri. Yang asli di tangan kanan. Lalu orang tua sakti ini
kerahkan tenaga dalam dan
mulai menggosok-gosokkan dua gelang itu satu sama lain. Untuk
kesekian kalinya muncul kepulan asap kuning.
"Sudah! Lihat!"
Si Muka Bangkai angsurkan dua telapak tangan yang
dikembangkan ke arah Boma.
"Hebat, yang asli dan yang palsu hampir nggak keliatan
bedanya." Ucap Boma. "Sekarang tinggal bikin satu lagi Pak."
"Tunggu dulu," ucap Si Muka Bangkai.
"Ada apa?"
"Aku kebanyakan mengerahkan tenaga dalam. Nafasku sesak.
Perutku jadi mulas. Aku mau buang air dulu ke kali sana."
"Ala Mak...! Tahan Pak. Tolong ditahan. Waktu kita singkat.
Bikin satu gelang lagi. Yang palsu saya bawa ke Pos Polisi, yang
asli Bapak ambil, serahkan
pada Sumi Primbon"
"Kalau aku kebanyakan ngeden lalu berak di celana, aku nggak
jamin!"
"Jamin Pak, jamin Bapak pasti nggak berak. Ayo Pak. Cepatan.
Nanti keburu siang, Gelang palsu harus sudah ada di laci meja
Pos Polisi sebelum polisi datang."
"Aku jamin mereka tidak akan datang lebih cepat dari kita,"
jawab Si Muka Bangkai sambil menyeringai.
"Kok Pak Broto tau?"
"Wong aku papasan sama mobil mereka di tengah jalan. Bannya
aku gembosi. Hik... Hik... Hik..." Habis tertawa Si Muka Bangkai
ambil empat buah uang logam
lima ratusan dari dalam kantong plastik hitam. Lalu dongakkan
kepala, pejamkan mata dan kepalkan jari-jari tangan kanan. Siap-
siap membuat gelang emas
tiruan yang kedua.
Boma memperhatikan. Dalam hatinya anak ini berucap terus
menerus. "Jamin... Jamin. Jangan berak, jangan beol, Jangan
berak, jangan beol!"
***
BASTIAN TITO
BARA DENDAM CANDI KALASAN
14
SUMI PRIMBON TERTOLONG
JAM delapan kurang lima keesokan paginya, Sukardi pemilik
Toko Mas Sinar Terang di Pasar Beringharjo sampai di Pos
Polisi, langsung masuk ke kamar kerja
Komandan Pos. Di situ sudah ada Sumi Primbon yang datang
sejak menjelang pagi. Wajah perempuan gemuk ini tampak pucat
dan keletihan. Konde besar di atas
kepala sudah miring ke kiri dan bibir yang selalu merah kini
kelihatan kering tidak ada sentuhan lipstick. Selain Komandan
Pos Serka Dulrohim Partowiluyo
yang duduk di belakang meja kerja, di kamar itu juga ada dua
orang anggota Serse yang malam tadi menemui Sumi Primbon di
Malioboro.
Komandan Pos Polisi memberi tahu pada pemilik toko mas
bahwa pemanggilannya adalah untuk dimintai keterangan.
Sekaligus sebagai saksi dalam peristiwa raibnya
dua gelang emas miliknya.
"Walau Pak Sukardi memang tidak melapor pada Kepolisian,
kami mengetahui perkara kehilangan dua gelang emas itu melalui
berita di surat kabar. Kasus sekarang
menjadi bukan perkara yang bersifat delik aduan. Jadi kami harus
berlaku tanggap dan memanggil Pak Sukardi. Saya harap Pak
Sukardi tidak keberatan untuk
menjawab beberapa pertanyaan."
"Tidak, saya tidak keberatan," jawab Sukardi.
"Tadi malam anggota kami secara tidak sengaja menemui dua
gelang emas, dipakai oleh Ibu ini. Ibu Sumi Primbon pedagang
lesehan di Malioboro. Kehadirannya
di sini adalah untuk memberi keterangan. Tapi jika keterangan
dan kesaksian Pak Kardi nanti memberatkan dirinya, maka Ibu
Sumi Primbon bisa-bisa jadi tersangka
dan mulai hari ini kami tahan..."
Mendengar kata-kata Serka Dulrohim itu Sumi Primbon langsung
menggerung. Diantara sesenggukannya dia berkata. "Jangan,
jangan saya ditahan, Pak. Saya tidak
punya salah apa-apa. Saya tidak mencuri gelang emas itu. Saya
dikasih. Dihadiahi seorang kenalan. Saya nggak tau dimana dia
sekarang. Waktu memberikan
gelang ada selembar kertas. Surat pembelian. Tapi surat itu hilang
. Nggak tau keselip dimana. Saya sudah mencari di rumah, nggak
ketemu. Bapak-bapak ini
tau Semua..." Sumi Primbon menunjuk dengan ibu jarinya ke
arah dua orang anggota Serse yang menjemputnya di Malioboro
tadi malam.
"Ibu Sumi, tenang saja. Tenang. Kalau Ibu tidak bersalah tidak
usah takut..."
"Saya tidak mau ditahan. Saya memang tidak salah."
Serka Dulrohim anggukkan kepala. Lalu membuka laci meja
sebelah kiri, mengeluarkan bungkusan kertas berisi dua gelang
emas. Perhiasan itu diperhatikannya
sejenak. Agak lama. Ada sesuatu yang tidak dimengertinya tapi
tak tahu apa. Dua gelang emas itu akhirnya diletakkan di atas
meja, diangsurkan ke arah Sukardi.
"Coba Pak Kardi perhatikan baik-baik, apa benar ini dua gelang
emas milik Pak Sukardi yang tempo hari katanya hilang secara
aneh?"
Pemilik Toko Mas Sinar Terang itu mengeluarkan kaca mata,
memakainya lalu memperhatikan dua gelang emas dengan sangat
teliti. Perhiasan itu diusap-usap
berulang kali. Hatinya meragu. Dia melirik ke arah Sumi
Primbon. Perempuan gemuk ini juga tengah memperhatikan dua
gelang emas itu sementara di dalam hati
dia berkata. "Heran, kayaknya bukan itu gelang yang diberikan
Mas Broto. Yang tadi malam diambil Polisi."
"Bagaimana Pak Kardi?" tanya Serka Dulrohim.
"Sebentar," jawab pemilik toko emas. Dari dalam saku celananya
dia keluarkan sebuah benda berbentuk batu asahan kecil. Salah
satu gelang emas digosokkannya
ke batu asahan itu. Bekas gosokan diperhatikan dengan sangat
teliti. Sukardi geleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana Pak Kardi?" tanya Serka Dulrohim kembali.
"Sebentar Pak. Saya ingin lebih memastikan. Ijinkan saya
memotong salah satu dari gelang ini. Nggak usah kawatir, nanti
tukang saya bisa sambung kembali."
Dari dalam kantong kemejanya Sukardi mengeluarkan sebuah
benda berbentuk tang kecil.
"Kreekk!"
Salah satu dari dua gelang diputus Sukardi dengan tang itu.
Ketika melihat bagian dalam kutungan gelap, Sukardi menarik
nafas dalam.
"Palsu Pak," katanya. "Gelang ini palsu. Bukan emas. Bahannya
logam dengan kadar kuningan tinggi campur sedikit suasa. Saya
pasti ini bukan gelang jualan
saya yang hilang. Bentuk dan buatannya kasar. Saya punya jauh
halus, jauh bagus dari ini. Ini buatan kampungan."
Serka Dulrohim terdiam. Sumi Primbon tercengang. Serse
berambut gondrong mengambil gelang yang baru diputus lalu
dicium-cium. "Memang bau tembaga," katanya.
"Bagaimana gelang satunya?" tanya Serse berambut cepak.
"Nggak usah saya periksa. Melihat saja sudah tau gelang itu juga
palsu," jawab Sukardi.
"Bu Sumi," tiba-tiba Serka Dulrohim menyapa perempuan gemuk
pedagang lesehan di Malioboro itu. "Apa benar ini gelang yang
dihadiahi kenalan Ibu?"
Sumi tak segera menjawab karena masih diselimuti rasa heran.
Jelas-jelas itu bukan dua gelang yang pernah diberikan Mas Broto
padanya. Walau dua gelang
itu terbuat dari emas asli, tapi mengapa kini bentuknya jadi begitu
buruk.
"Anu Pak, gelang itu. Tadi malam..."
Hampir terlepas ucapan Sumi Primbon bahwa dua gelang emas
itu tidak sama dengan yang pernah diberikan Mas Broto, dan
yang disita Polisi tadi malam. Tiba-tiba
di telinga kiri Sumi Primbon ada suara orang berbisik.
"Bu Sumi, bilang aja itu memang gelang yang diberikan Pak
Broto. Jangan sampai salah bicara."
"Anu bagaimana Bu Sumi?" tanya Serka Dulrohim.
"Maksud saya benar sekali. Dua gelang itu perhiasan yang
dihadiahi kenalan saya. Tadi malam orang Bapak mengambilnya
dari saya."
"Siapa nama kenalan Ibu Sumi itu?"
"Mas Broto."
"Orangnya kerja dimana?"
"Saya kurang tau Pak."
"Mosok sih dihadiahi gelang kerjanya Bu Sumi nggak tau."
"Bilang saja kerja di kapal." Kembali ada bisikan di telinga Sumi
Primbon.
"Nganu Pak. Kalau nggak salah Mas Broto kerja di kapal."
"Hmmm, begitu? Alamatnya tau?" tanya Serka Dulrohim lagi.
"Di Jakarta, bilang di Jakarta. Tapi jelasnya nggak tau." Lagi-lagi
ada bisikan menuntun Sumi Primbon.
"Di Jakarta Pak. Tapi jelasnya saya nggak paham."
Serka Dulrohim ambil dua gelang emas lalu dibungkus kembali
dengan kertas putih yang sudah Iusuh.
"Baiklah Pak Sukardi. Dari pertemuan ini jelas dua gelang emas
ini selain palsu, juga bukan sebagai milik jualan Pak Sukardi
yang lenyap. Jadi akan saya
kembalikan ke Ibu Sumi Primbon. Saya mengucapkan terima
kasih atas kedatangan Pak Kardi. Seandainya ada perkembangan
baru mungkin kami akan memanggil Pak
Kardi kembali."
"Saya selalu siap Pak," jawab si pedagang emas lalu menyalami
Kepala Pos Polisi itu dan anak buahnya. Sebelum meninggalkan
ruang dia berkata pada Sumi
Primbon kalau gelang yang tadi dipotong mau disambung
kembali silahkan datang ke tokonya. Sumi Primbon mengangguk
dan ucapkan terimakasih.
Setelah Sukardi pergi Serka Dulrohim menyerahkan bungkusan
dua gelang pada Sumi Primbon.
"Bu Sumi, gelang saya serahkan kembali. Rupanya kenalan Ibu
itu mendustai Ibu. Memberi gelang emas nyatanya palsu. Dari
tembaga yang dipoles."
"Sebelumnya saya nggak tau Iho Pak kalau itu emas palsu. Kalau
cuma tembaga buat apa saya ambil."
"Bu Sumi, gelang itu harus diambil. Jangan ditinggal." Terdengar
lagi bisikan di telinga Sumi Primbon.
"Jadi gelang palsu ini mau ditinggal?" Serka Dulrohim bertanya.
"Begini Pak, walau gelang-gelang itu palsu, hanya tembaga, tapi
karena hadiah orang biar saya ambil lagi. Anggap saja kenang-
kenangan pahit. Yang jelas
saya nggak bakal lagi mau kenal dan mau ketemu dengan Mas
Broto penipu itu."
"Kalau begitu silahkan diambil..."
Sumi Primbon mengambil kedua gelang lalu melingkarkan di
lengan kanannya. "Saya boleh pergi sekarang? Saya nggak
ditahan?"
"Tidak, Ibu Sumi tidak ditahan. Ibu Sumi tidak punya salah apa-
apa. Malah telah jadi korban penipuan orang."
"Saya mohon diri,"
Sumi Primbon bangkit berdiri, membungkuk dalam hingga
dadanya yang besar putih membuyut seperti mau melompat. Mata
Serka Dulrohim yang kurang tidur tadi
malam serta merta terpentang lebar.
"Saya mohon diri. Terima kasih Pak, semuanya..."
"Kapan-kapan kami boleh mampir di Malioboro?" tanya Serse
yang kepalanya cepak.
"Ditunggu Pak. Makan sepuasnya gratis."
"Yang lainnya ada yang gratis nggak?" tanya Serse berambut
gondrong jahil.
"Tinggal nyebutkan apa maunya, pasti gratis," jawab Sumi
Primbon sambil merapikan konde besarnya lalu tertawa genit.
***
SEWAKTU Sumi Primbon kembali ke rumahnya, Pak Broto
lagi-lagi sudah berada di dalam kamar. Langsung perempuan
gemuk ini menyemprot.
"Udah jelek, nipu lagi!"
"Eh, siapa yang kamu maksud jelek dan nipu?" tanya Pak Broto.
"Siapa lagi? Pura-pura! Kamu! Gelang emas yang kamu kasih itu
dua-duanya palsu. Bukan emas tapi tembaga!"
"Tunggu, jangan salah sangka Sum. Semua ini memang sudah
diatur agar rahasia tidak terbuka."
"Rahasia? Memangnya ada rahasia apa? Sudah, aku nggak suka
kamu lama-lama di sini. Pergi, jangan berani balik. Jangan berani
datang ke Malioboro! Hampir
aku jadi narapidana! Masuk bui! Gara-gara kamu! Tua bangka
jelek! Bau!"
"Owallah Sum.... Sumi. Dengar dulu, aku mau kasih keterangan.
Tapi aku mau tanya, anak itu mana? Tidak sama-sama kamu?"
"Anak yang mana?! Siapa?!"
"Anak yang malam tadi datang ke sini bersamaku. Boma..."
"Aku nggak tau!"
"Pak Broto, saya ada di sini," satu suara terdengar lalu sosok
Boma muncul di dalam kamar. Tangan kirinya menenteng
kantong plastik hitam berisi uang logam
lima ratusan.
"Oo dia?" ucap Sumi Primbon sambil pencongkan mulut.
"Sekarang sudah ketemu. Ayo pergi sana. Dua-duanya!"
"Sum, anak ini yang nolong kamu. Kalau tidak kamu sudah
jeblos masuk bui!"
"Nggak percaya aku! Nggak ada yang nolongi aku. Kau sendiri
enak-enakan di sini!"
"Bu Sumi, Pak Broto nggak bohong. Kami berdua mengatur
siasat. Pak Broto kerja lain, saya nemani Ibu. Saya yang ngebisiki
Ibu waktu di Pos Polisi."
"Apa?!" Sumi Primbon kaget. Dia ingat bisikan yang beberapa
kali masuk ke telinganya waktu ditanyai Serka Dulrohim.
"Nggak ngerti aku. Kau bilang ngebisiki, tapi aku nggak ngeliat
kamu di kantor Polisi di sana."
"Boma, ceritakan saja sama dia. Mulai dari kau mengambil dua
gelang emas dari laci meja di Pos Polisi. Aku mencari uang
logam, lalu kita membuat gelang
tiruan.."
"Ah, baiknya biar Pak Broto saja yang cerita. Saya mau pergi.
Saya musti mencari Ibu Renata."
"Kau mau mencari kemana?"
Boma menggeleng. "Saya memang nggak tau. Tapi kalau cuma
diam saja, mana mungkin bisa."
Boma letakkan kantong plastik berisi uang logam di tepi tempat
tidur. Lalu dari dalam saku celananya dia keluarkan dua gelang
emas asli milik Sumi Primbon
yang bentuknya sudah berubah. Gelang itu diletakkannya di
samping kantong plastik.
"Ini gelang milik Ibu. Benar-benar emas. Cuma bentuknya sudah
dirobah, disamakan dengan yang palsu. Kalau ibu pakai lagi,
tidak ada yang curiga..."
"Bocah edan! Jadi itu maksudmu menyuruh aku agar merubah
gelang asli lalu menyamakan gelang palsu dengan yang asli itu!
Otakmu cerdik sekali."
Boma tersenyum. "Pak Broto, Ibu Sumi, saya mohon diri..."
"Tunggu dulu, aku mau tahu cerita jelasnya," ucap Sumi
Primbon. Tapi Boma sudah keluar dari kamar.
"Anak gendeng! Jangan pergi sendirian! Orang mengincar
nyawamu! Biar kutemani!"
Pak Broto alias Si Muka Bangkai mengejar keluar. Tapi Boma
tak kelihatan lagi.
"Anak itu, pasti dia menggunakan kesaktian batu itu. Ah, kemana
aku harus mencarinya."
"Mas Broto," suara Sumi Primbon terdengar di samping.
"Mungkin tadi aku kesusu marah. Aku beneran nggak tau kalau
Mas Broto sama anak itu telah menolongku.
Aku... Mas, biar seger apa nggak mandi dulu?"
Si Muka Bangkai tersenyum.
"Maunya sih begitu. Mandi basah mandi kering. Hik... Hik! Tapi
aku sudah janji sama anak itu. Malah sumpah! Kalau dia
menolongmu dari tangan Polisi aku
akan menolong menyelamatkan ibu gurunya yang diculik! Aku
harus pergi Sum. Nanti aku balik...."
"Aku kangen lho Mas," ucap Sumi Primbon perlahan dan lirih.
Hati Mas Broto tergetar juga. Tapi dia tidak mau mengingkari
janji dan sumpah. "Nanti malam aku datang. Aku harus nyari
Majun Arab dulu. Nggak dapat Majun
Arab aku nggak kembali. Percuma...." Sumi Primbon masih
berusaha menahan tapi sang Mas Broto sudah keburu pergi.
***
KETIKA Allan dan Gita sampai ke Wisma di Jalan Kolonel
Sugiyono pada jam 12.05 malam, Wisma berada dalam keadaan
sepi. Tidak seorangpun teman-teman mereka
ada di situ. Seorang karyawan Wisma yang kemudian ditemui
memberi tahu berita yang sangat mengejutkan kedua pelajar
SMU Nusantara III. Ibu Renata diculik,
sekarang entah berada di mana. Boma pergi tidak tahu kemana,
mungkin mengejar ke Candi Sewu.
"Tuh, Lan. Betul nggak?" kata Gita sambil memegang lengan
Allan. Tubuhnya mendadak terasa lemas. "Aku bilang apa waktu
di Malioboro. Perasaanku nggak enak.
Pantes si Andi sama si Firman ditungguin nggak muncul-
muncul!"
"Anak-anak yang lain?" tanya Allan.
"Tadi ada anak-anak diantar sama mobil Wisma ke Kantor Polisi
untuk melapor. Mereka kembali setengah jam lalu. Langsung
berangkat ke Candi Sewu, diantar
empat orang petugas Kepolisian." Menerangkan karyawan
Wisma. Lalu menambahkan. "Tak lama setelah anak-anak dan
Polisi berangkat ke Candi Sewu, Pak Sanyoto
datang. Saya beri tau apa yang terjadi. Pak Sanyoto langsung
pergi lagi. Katanya juga mau ke Candi Sewu."
"Ah. Kalau si Umar itu sih gak gue pikirin," kata Gita lalu anak
perempuan ini tekapkan dua tangan ke wajahnya yang gemuk
berminyak beberapa saat. Tanpa
menurunkan tangan dia berucap suaranya seperti mau menangis.
"Kok musibah enggak habis-habisnya sih? Lan, kita... Kita mau
ngapain sekarang?"
"Maunya sih nyusul ke Candi Sewu. Tapi aku nggak tau jalan."
Gita turunkan tangannya, memandang pada karyawan Wisma.
Lelaki ini maklum arti pandangan Gita, "Maaf mbak. Saya nggak
bisa nolong. Saya tugas sendirian
malam ini."
"Gini aja Git," kata Allan. "Kita cari kendaraan apa aja. Taksi
kek, omprengan kek. Yang penting kita musti nyusul ke Candi
Sewu. Aku kasihan sekali sama
Ibu Renata..."
Ketika kedua anak itu hendak beranjak pergi, karyawan Wisma
cepat berkata. "Candi Sewu jauh dari sini. Saya sarankan
sebaiknya tunggu di Wisma. Jauh malam
begini sulit cari kendaraan ke sana."
Allan dan Gita dalam bingungnya tidak bisa menjawab. Tidak
tahu mau berbuat apa lagi. Tapi cuma sesaat. Ketika Gita menarik
tangan Allan, anak ini ikut
melangkah ke luar Wisma. Di halaman Wisma di depan teras
Allan melihat sebuah sepeda motor Honda Astrea diparkir.
Kelihatannya masih baru.
"Itu motor siapa?" tanya Allan pada karyawan Wisma.
Mula-mula karyawan ini tak mau menjawab. Tapi akhirnya
memberi tahu kalau motor itu miliknya.
"Saya pinjam."
"Bensinnya nggak ada," menerangkan si karyawan. Mungkin dia
hanya bohong karena tak mau memberi pinjam.
"Saya beliin!" jawab Allan. Mukanya yang jerawatan kini
kelihatan sangar.
"Katanya nggak tau jalan."
"Nanya-nanya pasti ketemu. Segimana sih besarnya Jogja ini!"
sahut Allan yang jadi kesal karena orang yang dimintai tolong
selalu mencari dalih.
Segan-seganan akhirnya karyawan Wisma mengeluarkan kunci
motor dari saku celananya. Waktu menyerahkan kunci orang ini
berkata. "Hati-hati. Kreditnya belum
lunas."
Duduk di belakang Allan, sebelum motor meluncur keluar dari
pintu depan Wisma, Gita sempat bertanya. "Lan, seinget aku
kamu nggak punya SIM."
"Ada, SIM delman," jawab Allan sambil nyengir lalu membedal
gas Honda Astrea.
Hujan rintik-rintik mulai turun ketika Allan dan Gita keluar dari
pintu gerbang Wisma di Jalan Kolonel Sugiyono itu.
***
BASTIAN TITO
BARA DENDAM CANDI KALASAN
15
DUA MAKHLUK MEMBEKAL BARA DENDAM
MULUT termonyong-monyong meniup harmonika. Tangan kiri
menggoyang rebana yang ada kerincingan, ditimpal tangan kanan
sesekali menepuk gendang kecil yang
digantung di bawah perut, kakek berambut pirang kaku
melangkah meliuk-liuk sambil pantat diogel-ogel. Di sebelah
depan perutnya, sebuah anting menyantel
di pusarnya yang bodong. Di belakang punggung tergantung
sebuah payung kertas. Kalau hal ini terjadi siang hari dan di
tempat ramai pasti banyak orang
akan mengikuti langkah si kakek.
Saat itu malam hari, sunyi dan dingin. Langit pekat menghitam.
Kegelapan menyelimut dimana-mana. Si kakek aneh terus saja
berjalan meliuk-Iiuk sambil meniup
harmonika, menggoyang rebana, menabuh gendang.
Di satu kelokan jalan, dekat kerimbunan semak belukar si kakek
hentikan langkah lalu duduk menjelepok di tanah.
"Capek ah... istirahat dulu ah...." ucapnya.
Dia meraba saku jaket blujins sebelah kanan. Dari dalam saku
jaket itu dikeluarkannya sebuah pisang rebus yang sudah medel.
Kulit pisang dikupas lalu makanlah
si kakek dengan mulut mengeluarkan suara berciplak keras.
Habis pisang dimakan, kakek ini julurkan kaki, usap perut
beberapa kali. "Lumayan, buat ganjalan sampai menjelang pagi.
Mudah-mudahan saja besok pagi ada
rejeki makanan besar menanti." Lalu dia menguap lebar-lebar,
menggeliat dan pejamkan mata seperti orang mau tidur namun di
lain saat mulutnya kembali
keluarkan suara.
"Perjalanan masih cukup jauh. Makhluk yang menguntit diriku
sejak tadi, apakah kamu mau unjukkan diri atau mau terus saja
sembunyi?"
Si kakek bicara sambil matanya memandang berkeliling.
Setelah menunggu beberapa ketika tak ada jawaban si kakek
kembali berkata. "Ah, tak ada jawaban. Tidak apa. Mungkin malu
unjukkan diri karena tampangnya
jelek. Bopeng barang kali! Hik... Hik... Hik! Mungkin juga yang
menguntit bukan manusia tapi setan yang tidak punya wajah!
Hik... Hik... Hik!"
Tiba-tiba sesiur angin bertiup. Bau harum semerbak menebar di
tempat itu hingga si kakek kembang-kempis cuping hidungnya
menghirup-hirup.
"Bau harum. Tapi bukan harumnya menyan. Berarti bukan setan
kuburan yang lagi gentayangan," kata si kakek perlahan. Lalu
dengan suara lebih keras dia berkata.
"Mustahil ada malaikat atau bidadari turun ke bumi malam-
malam begini, di tempat seperti ini. Jangan-jangan gendoruwo
yang kesasar kebelet kencing, sembunyi
di balik belukar. Tapi mengapa tidak ada bunyi suara besernya?
Awas, kalau sampai aku sempat mengintip baru tahu rasa! Tapi!
Ah tidak, jangan! Nanti mataku
bisa bintitan! Hik... Hik... Hik!"
Si kakek tiup harmonikanya satu kali, goyang rebana dan pukul
gendang lalu bangkit berdiri. "Kalau tidak mau unjukkan diri ya
sudah. Tapi jangan harap
bakal bisa menguntit diriku lagi!"
Dua kaki si kakek bergeser di tanah. Dalam gelap tampak debu
tanah beterbangan. Agaknya kakek aneh ini tengah keluarkan
satu ilmu yang bisa membuat dirinya
serta merta lenyap dari tempat itu dan tak mungkin dikuntit lagi.
Namun sebelum dia benar-benar berkelebat pergi, tiba-tiba
terdengar satu suara.
"Aku sejak tadi ada di sini. Apa matamu buta tidak melihat?"
"Glek!"
Si kakek telan ludah terkejut. Cepat berpaling ke kiri. Astaga!
Di sisi kiri si kakek saat itu berdiri seorang gadis berwajah luar
biasa cantik. Rambut pirang sepinggang, pakaian biru tipis dan
tubuh menebar bau harum
mewangi. Si kakek terperangah, tersurut mundur beberapa
langkah lalu blukk! Jatuh duduk di tanah.
"Mulutku tadi mungkin terlalu lancang. Namun apakah saat ini
jangan-jangan aku tengah berhadapan dengan makhluk yang
namanya bidadari." Si kakek keluarkan
ucapan sambil dua telapak tangan dirapatkan satu sama lain.
Gadis yang berdiri, di hadapan si kakek cuma tersenyum.
Senyuman ini membuat dua lesung pipit muncul di pipi kiri
kanan, menambah kecantikan wajahnya.
"Ah... " si kakek tambah blingsatan dan oleng-goleng kepala. Dia
tiup harmonikanya keras-keras, goyangkan rebana lalu pukul
gendang. "Tuhan Maha Besar.
Saat ini aku diberikan kenikmatan luar biasa. Dipertemukan
dengan seorang bidadari."
"Orang tua, aku bukan bidadari. Aku manusia biasa sama seperti
dirimu."
"Aih, suaramu merdu sekali!" si kakek geleng-geleng kepala.
"Aku tua bangka keriput, rada-rada bau apek. Kau gadis muda
belia cantik luar biasa bertubuh
harum. Mana mungkin kau bilang kita sama? Hik... Hik... Hik."
"Kek, terus terang aku ini lagi kesasar. Tidak tahu jalan. Mungkin
kau bisa menolong..."
"Ah, begitu...? Tapi kau mengikuti diriku..."
"Betul, aku mengikuti sejak kau meninggalkan Candi Mendut.
Aku tak tahu mau kemana. Waktu aku lihat dirimu di tengah jalan
langsung saja aku mengikuti..."
"Kenapa mengikuti diriku. Kenapa tidak tanya orang lain? Kau
bilang kesasar. Kemana tujuanmu. Lalu siapa dirimu sebenarnya?
Apa kau punya nama?" Si gadis
tersenyum. "Pertanyaanmu banyak amat. Aku belum mau
menjawab kalau kau tidak memberi tahu siapa dirimu lebih dulu,
juga kemana tujuanmu."
"Kemana tujuanku itu adalah satu rahasia besar. Tapi kalau mau
tahu siapa diriku, aku bersedia mengatakan. Namaku Labodong.
Orang-orang menjulukiku Si
Pelawak Sinting. Pekerjaanku mengamen. Nah, ceritakan siapa
dirimu."
"Maaf, siapa diriku aku tidak akan mengatakan apa-apa. Aku
datang dari alam lain...."
"Heh!" si kakek bersurut satu langkah.
"Maksudmu... Maksudmu kau ini setan, sebangsa jin, hantu
pelayangan atau...."
"Terserah kau mau menganggap diriku ini apa. Ujudku begini.
Inilah aku adanya."
"Rambutmu pirang, rambutku juga pirang. Sama..." kata si kakek
pula.
"Rambutku pirang asli. Rambutmu dicat, kaku. Pasti susah
disisir."
Si kakek tertawa mengekeh. Saat mulutnya terbuka lebar
kelihatan barisan giginya berwarna putih perak karena dilapisi
kertas timah pembungkus rokok.
"Kek, aku juga tahu, kau adalah makhluk dari alam lain. Malah
terpaut ribuan tahun dari alamku...."
Si kakek terkejut. Gagap dia bertanya.
"Ba... Bagaimana kau bisa tahu?"
"Ada tanda yang mungkin kau sendiri tidak menyadari."
"Tanda? Tanda apa...?"
"Raba bagian belakang telinga kananmu. Disitu ada satu benjolan
kecil berwarna merah...."
Labodong alias Si Pelawak Sinting pengamen dari Candi Mendut
lakukan apa yang dikatakan si gadis. Dan jadi terkejut!
"Eh, kau benar! Aku sendiri tidak tahu kalau ada tanda seperti ini.
Gadis cantik, aku minta, katakan siapa dirimu sebenarnya."
Si gadis menggeleng. "Aku cuma bisa memberi tahu.
Kehadiranku jauh sampai ke sini adalah mencari seseorang."
"Mencari seseorang?"
Si gadis mengangguk.
"Lelaki atau perempuan?" tanya kakek Pelawak Sinting.
"Lelaki."
"Hemmm...." Pelawak Sinting bergumam sambil matanya
memandang lekat-lekat ke wajah sang dara.
"Hai! Tunggu!" Kata si kakek setengah berteriak.
"Ada apa?"
"Jangan-jangan kau adalah nenek sakti Sinto Gendeng yang
sengaja menyamar mencariku!"
Disebutnya nama Sinto Gendeng membuat si gadis terkejut.
Wajahnya yang cantik berubah.
"Bagaimana kau tahu nama itu. Kau kenal dengan Sinto
Gendeng?"
"Kenal belum, bertemupun belum. Tapi aku ditakdirkan berjodoh
dengan dirinya. Aku akan kawin dengan nenek itu!"
Si gadis terdiam, lagi-lagi kaget. Lalu tertawa lebar.
"Aku bukan Sinto Gendeng. Aku tidak dalam penyamaran. Ujud
asliku adalah seperti yang kau saksikan saat ini."
"Kalau kau tidak ada hati terhadapku lalu mengapa kau menguntit
diriku sejak dari Candi Mendut? Gadis cantik, dengar. Aku
bersedia memutuskan rencana perkawinanku
dengan Sinto Gendeng asal kau mau menjadi penggantinya."
Sang dara tertawa panjang lalu berkata. "Kau adalah orang
pertama dari alam lain yang aku ketahui
keberadaannya, Seperti kataku tadi, aku muncul di alam ini
karena mencari seseorang."
"Katamu orang itu laki-laki. Dia itu, musuh atau seorang
sahabat?"
"Dia musuh besarku."
"Berarti kemunculanmu membawa dendam luar biasa besar?"
Si gadis anggukkan kepala.
"Katakan siapa orang yang kau cari itu."
"Dia dikenal dengan julukan Pangeran Matahari."
"Astaga naga!"
"Kau kaget. Berarti kau tahu orang itu. Katakan Kek, dimana
dia?!"
"Beberapa waktu lalu dia nyaris mau membunuh diriku."
Menerangkan Labodong alias Si Pelawak Sinting.
"Berarti kita berada di pihak yang sama."
"Aku juga punya bara dendam kesumat terhadap bangsat satu
itu."
"Apa yang dilakukannya terhadapmu?" tanya si gadis.
"Dia, membunuh adik kandungku," jawab Labodong. (Baca
Episode pertama berjudul “
Topan Di Borobudur
”). "Saat ini aku dalam perjalanan...." Pelawak Sinting buru-buru
hentikan ucapannya. Hampir saja dia ketelepasan bicara.
"Kau sepertinya tidak percaya pada diriku...."
Si gadis tampak agak kecewa.
"Gadis cantik, walau katamu kita berada di pihak yang sama,
sama-sama membekal dendam terhadap Pangeran Matahari, tapi
nyawa bangsat itu adalah milikku.
Dia harus mampus di tanganku!"
"Soal membunuh Pangeran Matahari, aku atau kau, kepastiannya
adalah siapa yang lebih cepat di antara kita."
"Kalau begitu aku tidak akan sudi memberi tahu keberadaan
bangsat itu padamu. Aku tidak mau kedahuluan olehmu."
"Terserah saja. Itu hakmu," jawab si gadis.
Si Pelawak Sinting diam sesaat lalu berkata.
"Sebelum kita berpisah, apa kau mau menjelaskan, dendam
kesumat apa yang ada antaramu dengan Pangeran Matahari?"
"Pangeran bejat itu membunuh Pandan Arum, saudara
kembarku." (Baca serial Wiro Sableng berjudul “
Wasiat Iblis
” terdiri dari 8 Episode)
"Oallah...." ucap Si Pelawak Sinting. "Ternyata dendammu tidak
kalah hebatnya dengan dendamku."
"Karena itulah aku minta bantuanmu. Kalau kita bisa sama-sama
mencari Pangeran Matahari dan membalaskan bara dendam
kesumat sakit hati kita..." Pelawak
Sinting gelengkan kepala. "Soal nyawa Pangeran Matahari tetap
adalah urusanku sendiri. Kau jangan ikut campur. Kita berpisah
di sini."
Pelawak Sinting hendak putar tubuh tapi batal karena sang dara
berseru.
"Tunggu!"
"Ada apa?" tanya si kakek.
"Kalau Pangeran Matahari mampu membunuh adikmu, kurasa
tak terlalu susah baginya untuk menghabisi dirimu. Kecuali kau
memiliki ilmu kesaktian jauh diatas
adikmu itu."
Pelawak Sinting terdiam sesaat. Akhirnya kakek ini berkata.
"Jangan kau menakut-nakuti diriku dengan ucapan itu!"
"Kek, jika kau tidak mau bersahabat denganku dan membagi
keterangan, aku terpaksa akan menguntit dirimu kemanapun kau
pergi."
"Aku tidak takut ancamanmu. Silahkan saja kalau kau mampu!"
Habis berkata begitu Si Pelawak Sinting tiup harmonika, pukul
gendang dan kencringkan rebana. Dua kaki digeser. Debu tanah
beterbangan ke udara. Saat itu
juga tubuhnya lenyap dari pemandangan. Setelah lari cukup lama
dan cukup jauh si kakek berpaling ke belakang. Dia tidak melihat
bayangan si gadis. Merasa
telah meninggalkan sang penguntit kakek ini perlambat larinya.
Namun ketika dia palingkan kepala kembali ke depan, kagetnya
bukan alang kepalang. Gadis
cantik jelita berambut pirang berpakaian biru tipis itu tampak
tegak berdiri sekitar sepuluh langkah di depan sana, bertolak
pinggang sambil tersenyum.
"Ooladalah. Ilmu kesaktian apa yang dimiliki gadis ini.
Bagaimana dia tahu-tahu bisa berada di depanku?" Si Pelawak
Sinting hentikan lari.
Si gadis bergerak mendekati. Sampai di hadapan si kakek dia
keluarkan ucapan. "Bagaimana? Apakah kita bisa bersahabat dan
membagi beban bara dendam kesumat
sakit hati kita?"
"Dengan satu syarat."
"Apa?"
"Katakan siapa namamu."
"Namaku Pandan Wangi."
"Aku tahu, orang berkepandaian tinggi sepertimu, di alammu
selalu punya gelar atau julukan. Kau punya?"
"Mereka memanggilku dengan julukan Bidadari Angin Timur.
Kurasa itu terlalu berlebihan..."
"Tidak...." jawab si kakek sambil leletkan lidah. "Mereka tidak
berlebihan. Wajahmu secantik bidadari. Kecepatanmu melebihi
tiupan angin. Bidadari Angin
Timur. Itu julukan yang sangat pantas bagimu."
"Kalau begitu kita bersahabat?" tanya sang dara pula sambil
tersenyum.
"Mulai saat ini!" jawab si kakek lalu angkat telapak tangannya.
Pandan Wangi alias Bidadari Angin Timur juga angkat
tangannya. Dua telapak tangan yang saling dikembangkan lalu
diadu satu sama lain. Tos!
Setelah saling beradu telapak tangan si kakek letakkan telapak
tangan kanannya ke hidung.
"Hemmm... Harum..." katanya sambil bola mata dibolak-balik.
Si gadis tersenyum dan berkata.
"Kakek sahabatku, aku punya satu permintaan. Kau boleh
mengatakan siapa namaku pada siapa saja. Tapi jangan sekali-
kali memberi tahu nama julukanku. Apakah
aku bisa mempercayaimu?"
"Beres!" jawab Si Pelawak Sinting.
"Kita pergi sekarang."
"Kemana?"
"Candi Kalasan. Musuh besar kita, Pangeran Matahari ada di
tempat itu!" jawab Pelawak Sinting. Lalu melesat.
"Candi Kalasan" mengulang Bidadari Angin Timur.
Sekali dia berkelebat, saat itu juga dia sudah berada di samping si
kakek yang sebelumnya telah mendahului di sebelah depan
sejauh enam meter.
"Luar biasa!" kata Si Pelawak Sinting dalam hati sambil melirik
ke samping. "Aku berdoa, mudah-mudahan dia memang Sinto
Gendeng calon istriku yang sedang menyamar!"
***
Terselamatkankah Ibu Renata dari perbuatan keji dan mesum
Pangeran Matahari?
Dapatkah Boma mempertahankan Batu Penyusup Batin yang
diinginkan Si Muka Bangkai? Atau anak ini harus menerima
kematian di tangan Kunti Api dan Pangeran Matahari?
Siapa sebenarnya perempuan cantik bermahkota bersosok samar
yang menolong Boma?
Kemunculan Bidadari Angin Timur apakah akan merupakan
pertolongan bagi Ibu Renata dan Boma ataukah menambah
kacaunya keadaan?
Semua akan anda dapat jawabannya dalam Episode berikut yang
segera terbit :
"PURNAMA DI PRAMBANAN