Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH AKUNTANSI PERPAJAKAN

Modal Sendiri dan Ekuitas

Dosen Pembimbing :
Rahmat Kurniawan, SE, MA, Akt

Oleh :
Imanuel Kristian Alison Sihotang (1710531008)
Rasyid Hamdan (1710531022)
Muhammad Ardio (1710533032)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ANDALAS
TAHUN AJARAN 2019 / 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah
yang berjudul Modal Sendiri dan Ekuitas ini bisa selesai pada waktunya.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah


berkontribusi, terkhusus kepada Bapak Rahmat Kurniawan, SE, MA, Akt selaku
dosen pembimbing pada mata kuliah Akuntansi Perpajakan kami.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para


pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang
bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Padang, 18 November 2019

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................…...
B. Rumusan Masalah................................................................................…...
C. Tujuan Pembahasan..............................................................................…..
BAB II PEMBAHASAN
A. Modal Saham……………………………………………………………...
B. Modal Perusahaan Selain Badan
Hukum………………………………….
C. Saldo Laba dan Distribusi
Laba…………………………………………...
D. Rights, Warrant, dan Opsi atas Saham……………………………………
E. Pembatasan Terhadap Saldo Laba………………………………………...
F. Penyesuaian Modal karena Kuasi
Reorganisasi…………………………...
G. Selisih Penilaian Kembali Aktiva
Tetap…………………………………...
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................
…...
B. Saran...................................................................................................
……..
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
PSAK No. 21 (Ikatan Akuntan Indonesia, 2002) menyatakan bahwa ekuitas
sebagai  bagian hak pemilik dalam perusahaan harus dilaporkan sedemikian rupa
sehingga memberikan informasi mengenai sumbernya secara jelas dan disajikan
sesuai dengan peraturan perundangan dan akta pendirian yang berlaku.
Akuntansi untuk ekuitas dibedakan menjadi dua yaitu akuntansi untuk ekuitas
badan usaha bukan PT dan Akuntansi ekuitas untuk badan usaha berbentuk PT.
Akuntansi untuk ekuitas badan usaha bukan PT harus dilaporkan sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku untuk badan usaha tersebut dan standar
akuntansi keuangan yang berlaku khusus untuk industri yang bersangkutan,
misalnya koperasi.
Akuntansi ekuitas untuk badan usaha berbentuk PT meliputi modal saham
yang meliputi saham preferen, saham biasa, dan akun tambahan modal disetor.
Pos modal lainnya  seperti modal yang berasal dari sumbangan dapat disajikan
sebagai bagian dari tambahan modal disetor. Akun tambahan modal disetor terdiri
dari berbagai macam unsur penambahan modal, seperti : agio saham, tambahan
modal dari perolehan kembali saham dengan harga yang lebih rendah dari pada
jumlah yang diterima pada saat pengeluaran, tambahan modal dari penjualan
saham yang diperoleh kembali dengan harga di atas jumlah yang dibayarkan pada
saat perolehaannya, tambahan modal dari perbedaan kurs modal disetor dan lain
sebagainya. Akun tambahan modal disetor tidak boleh didebit atau dikredit
dengan pos laba/rugi usaha maupun laba/rugi luar biasa.
Analisis penilaian ekuitas menekankan laba dan pengukuran akuntansi lain
untuk menghitung nilai perusahaan. Ekuitas pemegang saham terdiri atas dua
komponen penting yaitu Modal Setoran (Contributed Capital) dan Laba Ditahan
(Retained Earnings). Berdasarkan pada uraian-uraian diatas, maka kami tertarik
untuk membuat makalah dengan judul "Modal Sendiri dan Ekuitas".

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas di materi ini adalah :
1. Apa pengertian Modal Saham dan impilikasinya?
2. Bagaimana Modal Perusahaan selain badan hukum tersebut?
3. Apa pengertian Saldo Laba dan Distribusi Laba dan bagaimana pengaruh
pajak?
4. Bagaimana bentuk rights, warrant, dan opsi atas saham serta pengaruh pajak?
5. Bagaimana pembatasan terhadap saldo laba?
6. Bagaimana penyesuian modal karena kuasi reorganisasi?
7. Bagaimana selisih penilaian kembali aktiva tetap itu?

C. Tujuan Pembahasan
Adapun makalah ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui modal saham
2. Untuk mengetahui modal perusahaan selain badan hukum
3. Untuk mengetahui saldo dan distribusi laba
4. Untuk mengetahui rights, warrant, dan opsi saham
5. Untuk mengetahui pembatasan terhadap saldo laba
6. Untuk mengetahui penyesuaian modal karena kuasi reorganisasi
7. Untuk mengetahui selisih penilaian kembali aktiva tetap.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Modal Saham
Modal Saham merupakan bagian dari ekuitas suatu perseroan terbatas yang
dikontribusikan pemilik. Perseroan terbatas ada yang sahamnya dimiliki oleh
negara atau swasta, terbuka atau tertutup, domestik atau asing.
Ekuitas (equity) merupakan bagian hak dari pemilik perusahaan sebesar
selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada (bukan merupakan ukuran nilai jual
perusahaan) yang terdiri dari setoran pemilik, saldo laba, selisih penilaian kembali
aktiva, sumbangan, dan unsur lainnya.
Pada umumnya, jenis saham yaitu ada saham biasa dan saham preferen.
Berbeda dengan saham biasa, saham preferen memberikan hak preferensi kepada
pemegang saham yang berupa :
a. Pembagian aktiva lebih dulu pada saat likuidasi
b. Pembagian deviden
c. Convertible
d. Dapat ditebus kembali
Penjualan atau penempatan saham dilakukan berdasarkan harga pasar,
dimana nantinya ada selisih antara nilai nominal dan harga pasar. Selisih itu
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Agio dan Disagio. Agio merupakan selisih
lebih antara nilai nominal dan harga pasar, sedangkan Disagio adalah selisih
kurang antara nilai nominal dan harga pasar.
Pengeluaran saham dapat langsung atau melalui pesanan (untuk saham yang
dipasarkan di bursa). pembayaran harga saham dapat dilakukan secara tunai,
angsuran, atau penukaran dengan saham perusahaan lain (share swap) atau harta
yang lain (asset swap).
Treasury Stock merupakan pembelian kembali saham oleh perusahaaan
penerbit saham tersebut, dimana ada dua pencatatan treasury stock:
1. Cost method : sebesar jumlah yang semula diterima apabila saham itu
akan dikeluarkan lagi
2. Par value method : apabila saham dianggap ditarik dari peredaran
Penerimaan dari treasury stock dianggap sebagai dividen apabila :
a. Dalam tahun lampau diperoleh laba.
b. Kelebihan penerimaan diatas harga perolehannya.

Contoh:
PT. Calvin mempunyai 1000 lembar saham prioritas convertible dengan
harga nominal @Rp.10.000.000. Agio saham Rp. 2.500.000. Pada 2 Januari 2019
diumumkan saham itu dapatditukarkan dengan saham biasa dengan nilai nominal
@ 5.000, dengan proporsi 1 lbr saham prioritas mendapat 3 lbr saham biasa.

Pencatatan oleh PT. Calvin


Modal saham prioritas 10.000.000
Agio saham prioritas 2.500.000
Laba ditahan 2.500.000
Saham biasa (3.000 x 5.000) 15.000.000

Untuk tujuan pajak, pada penjelasan pasal 4 ayat 1 (g), UU PPh pembebanan
pada laba ditahan 2.500.000 dianggap sebagai pembagian dividen kepada para
pemegang saham prioritas. Oleh karena itu, PT. Calvin harus memotong PPh
Pasal 23 sebesar 15% kecuali pemegang saham itu sebuah badan pemilik 25%
saham PT. Calvin, dan penerima saham memperhitungkan dividen 2.500.000 serta
mengkreditkan PPh Pasal 23 dimaksud, atau 10% final apabila pemilik saham
adalah orang pribadi.

B. Modal Perusahaan Selain Badan Hukum


Perusahaan wajib pajak dapat berbentuk perusahaan perorangan (Wajib Pajak
Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas),
persekutuan, firma, kongsi, koperasi, perkumpulan, yayasan, organisasi masa,
organisasi sosial politik, dan organisasi sosial lainnya, serta bentuk usaha tetap
(misalnya cabang dan badan luar negeri).
Sama halnya dengan modal saham, setoran modal pemilik usaha, sekutu dan
anggota firma, kongsi, anggota koperasi dan sumbangan harta yang disisihkan
untuk yayasan untuk tujuan pajak dicatat menurut nilai pasarnya dan selisih nilai
pasar diatas nilai buku, menurut Pasal 4 (1) (d) UU PPh dihitung sebagai
keuntungan pengalihan dan menjadi objek pajak.
Berbeda dengan dividen, pembagian laba setelah pajak dari persekutuan,
kongsi dan firma serta perkumpulan menurut pasal 4 (3) (i) UU PPh bukan
merupakan objek pajak. Jika saham dapat diperjualbelikan tanpa membubarkan
badan hukum, penjualan kepemilikan pada persekutuan, firma dan kongsi
menyebabkan bubarnya persekutuan dan lainnya tersebut secara hukum.
Pembayaran kepada sekutu yang mengundurkan diri dapat dilakukan oleh sekutu
lama atau baru.

C. Saldo Laba dan Distribusi Laba


1. Saldo Laba
PSAK no. 21 menyatakan bahwa saldo laba menunjukkan akumulasi hasil
usaha periodik setelah memperhitungkan pembagian dividen dan koreksi laba-rugi
periode lalu. Seluruh jumlah saldo laba pada umumnya dianggap bebas untuk
dibagikan sebagai dividen. Pengecualian berlaku apabila terdapat petunjuk
(eksplisit) pembatasan saldo laba, misalnya dicadangkan untuk perluasan pabrik
atau untuk memenuhi ketentuan undang-undang atau ikatan tertentu.
Dalam dunia perpajakan, jumlah penghasilan suatu tahun dalam konsep saldo
laba dihitung sebesar penghasilan kena pajak dikurangi pajak penghasilan
ditambah dengan penghasilan bukan objek pajak (Pasal 4 ayat (3) UU PPh) dan
dikurangi dengan pengeluaran bukan pengurang penghasilan kena pajak (Pasal 9
ayat (1)) dan penyesuaian yang lain.
Contoh :
PT Darma dalam tahun 2000 memperoleh penghasilan kena pajak Rp.
100.000.000. Penghasilan itu diperoleh setelah eliminasi penghasilan antar badan
Rp. 34.000.000 dan pengeluaran untuk karyawan yang berupa fasilitas dan
kenikmatan (natura). Untuk keperluan perpajakan, penghasilan dan laba 2000 PT
Darma yang dapat ditransfer ke saldo laba dihitung sbb:

Penghasilan kena pajak Rp. 100.000.000

Pajak penghasilan (21.250.000)

78.750.000

Penghasilan bukan objek pajak 34.000.000 +

112.750.000

Pengeluaran bukan pengurang PKP (20.000.000)

Penghasilan dan laba 92.750.000

Konsep earnings and profits ini merupakan pendekatan ekstra-komptabel


untuk menghitung besar saldo laba yang tersedia untuk pembagian dividen.
Karena bersifat penghitungan ekstra-komptabel, hal itu tidak perlu dicatat dalam
pembukuan wajib pajak. Angka yang tersdia untuk dividen yang dihitung
berdasarkan konsep earnings and profits merupakan angka teoritis menurut
perpajakan yang harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

2. Distribusi Laba

Distribusi laba kepada para pemegang saham disebut dividen. Kebanyakan


distribusi dividen menyebabkan berkurangnya saldo laba. Pengecualian terhadap
pengurangan dimaksud berlaku untuk :

a) Dividen saham dalam bentuk pemecahan saham

b) Dividen likuidasi
c) Pembagian lainnya yang bukan merupakan dividen dalam pengertian
akuntansi komersial, tetapi diperlakukan seperti itu dalam ketentuan
perpajakan.

Dalam pembagian dividen terdapat tiga tanggal untuk dipertimbangkan, yaitu


tanggal pengumuman, pendaftaran, dan pembayaran. Dividen resmi terutang olh
badan saat secara resmi dilakukan pengumuman pembagian dividen.

Contoh 1:

Tanggal 20 Desember 2000 PT Darma mengumumkan akan membagi


deviden sejumlah Rp.10.000.000. Pada tanggal 5 Januari 2001 dividen dibayar
tunai

Pencatatan:

a. 20 Desember

Saldo laba 10.000.000

Hutang deviden 8.500.000

Hutang PPh pasal 23 1.500.000

b. 5 Januari

Hutang dividen 8.500.000

Hutang PPh pasal 1.500.000

Kas 10.000.000

Kalau pada contoh diatas dividen tidak dibayar tunai, tetapi dilunasi dengan
penyerahan sekuritas PT Q yang mempunyai nilai nominal Rp. 10.00.000 dengan
kurs 110 (semula diperoleh dengan kurs 105) maka pencatatan berdasarkan nilai
pasar tampak sebagai berikut:

Investasi sekuritas PT Q 500.000


Laba atas investasi sekuritas 500.000
Saldo laba 11.000.000
Hutang deviden 11.000.000
Hutang deviden 11.000.000
Investasi sekuritas PT Q 11.000.000
Dengan alasan likuiditas, perusahaan dapat membagikan dividen dalam
bentuk obligasi, promes, atau surat utang yang lain (scrip dividend).

Contoh 2 :
PT Darma membagikan deviden yang berupa treasury stock dengan harga
pasar Rp. 11.500.000. Harga perolehan saham itu Rp. 10.500.000. Pencatatan
yang dibuat oleh badan (tanpa memperhatikan PPh pasal 23 dan pasal 26) sebagai
berikut:

Saldo laba 11.500.000


Treasury stock 10.500.000
Agio saham transaksi TS 1.000.000
Untuk tujuan pemajakan. Dividen likuidasi yang melebihi setoran dikenaka
pajak penghasilan yang juga harus dipotong oleh perusahaan pembagi dividen
kecuali dividen itu dibagikan kepada perseroan terbatas, koperasi, yayasan, dan
organisasi sejenis.

D. Rights, Warrant, dan Opsi atas Saham


Perusahaan yang berkeinginan melakukan emisi saham dapat memberikan
kesempatan pertama untuk membeli saham itu kepada pemegang saham lama
(dalam bentuk pre-emptive stock rights), pemegang sekuritas yang lain (warrant)
dan opsi kepada pejabat atau karyawan perusahaan.

Penerbitan rights oleh perusahaan cukup dicatat dalam memorial saja.


Penjualan saham dicatat seperti biasa. Bagi investor, pengumuman rights itu
secara komersial diikuti dengan realokasi biaya (harga) perolehan saham.

Sebagai contoh, PT. Budi memiliki 100 lbr saham PT. Andi (dari total 1000
lembar). Saham itu bernilai nominal Rp 10.000,00 dan dibeli dengan harga Rp
18.000,00 per lembar. PT Andi mengumumkan tiap 4 lembar saham lama dapat
membeli 1 lembar saham emisi baru dengan harga Rp. 11.000. Saham lama dijual
di pasar dengan harga sebesar Rp. 14.500 (tanpa right), sedangkan right dapat
dijual dengan harga Rp. Rp. 500. Alokasi harga perolehan yang dilakukan PT
Budi sebagai berikut:

a) Rights = 500/(14500+500) * Rp18.000,00 = Rp600,00 per lembar


b) Saham = Rp18.000,00 - Rp600,00 = Rp17.400,00
Atas alokasi harga perolehan dicatat:
Hak atas saham PT Andi (600 x 100) Rp. 60.000
Investasi saham PT Andi Rp. 60.000

Bila hak atas saham itu dimanfaatkan, dicatat:


Investasi saham PT Andi Rp. 335.000
Kas Rp. 275.000
Hak atas saham PT Andi Rp. 60.000
Nilai saham baru sebanyak 25 lembar yang dibeli sebesar 25 x Rp. 11.000,
ditambah denganharga right Rp. 60.000 dan jumlah totalnya Rp. 335.000

Kalau right dijual semua dengan harga Rp. 875 per lembar, dibuat
catatan sbb:

Kas (100 x 875) Rp. 87.500


Hak beli saham PT Andi Rp. 60.000
Laba penjualan hak beli saham PT Andi Rp. 27.500
Penerbitan saham preferen atau obligasi sering diikuti dengan hak untuk
membeli saham biasa perusahaan (warrant). Berbeda dengan rights, warrant
membutuhkan alokasi harga perolehan dan pencatatan yang lain oleh penerbit.
Misalnya, PT Surya menerbitkan 100 lembar saham preferen dengan nominal Rp.
10.000 dengan harga Rp. 12.000. Pemegang saham preferen itu dapat memesan
saham biasa dengan nominal Rp. 5.000 dengan harga Rp. 6.500. Segera setelah
penerbitan saham preferen warrant terjual dengan harga Rp. 1.000, sedangkan
saham preferen tanpa warrant dijual dengan harga Rp. 11.500

Harga perolehan warrant = 1.00/(11.500 + 1.000) x 12.000 = Rp. 960.000


atau sebesar Rp. 960 per lembar.

Pada saat penjualan 100 lembar saham preferen oleh PT Surya dibuat
catatan sbb:

Kas Rp. 12.000.000


Saham preferen Rp. 10.000.000
Agio saham preferen 1.040.000
Warrant saham biasa 960.000

Bila warrant dipakai semua, dicatat:


Kas Rp. 6.500.000
Warrant atas saham biasa 960.000
Saham biasa Rp. 5.000.000
Agio saham biasa 2.460.000
Bila warrant dibiarkan kadaluarsa, dicatat:
Warrant atas saham biasa 960.0000
Tambahan setoran modal kadaluarsa-warrant 960.000
Pengenalan opsi atas saham yang diperuntukkan karyawan (termasuk
eksekutif) merupakan pemberian hak berpartisipasi dalam kepemilikan
perusahaan. Nilai yang dicatat dalam realisasi program itu sebesar nilai pertukaran
yang terjadi (pembelian oleh karyawan).

E. Pembatasan Terhadap Saldo Laba


Kebanyakan perusahaan kurang sependapat untuk membagi habis semua
jumlah saldo laba. Berbagai argumen dapat disampaikan, misalnya karena
kesulitan likuiditas, keterikatan dengan kontrak, ketentuan hukum, kebijaksanaan
manajemen. Secara komersial, pembatasan laba dilakukan dengan
pemindahbukuan sejumlah tertentu dari saldo laba kepada suatu apropriasi
(penyisihan) untuk tujuan tertentu (misalnya untuk tujuan pelunasan obligasi
dibuat saldo laba-apropriasi pelunasan obligasi). Pada saat tujuan apropriasi
tercapai maka jumlahnya dikembalikan kepada perkiraan semula (saldo laba).
Dari segi perpajakan karena laba masih dalam kelompok akun saldo laba
nampaknya tidak ada konsekuensi fiskalnya.

F. Penyesuaian Modal karena Kuasi Reorganisasi


Adakalanya perusahaan melakukan kuasi reorganisasi yang merupakan
prosedur penataan kembali modal yang dilakukan untu menutup kerugian
struktural atau defisit daam jumlah yang material. Dengan reorganisasi itu,
dimaksudkan agar, tampilan struktur perusahaan menjadi lebih baik.

Sebagai contoh, Neraca PT A per 31 Dsember 2018 tampak sebagai berikut.

Aktiva Lancar 300000 Utang 400000

Peralatan 2000000 Modal Saham 1500000

Akumulasi Tambahan Modal


(600000) 300000
Depresiasi Disetor

Saldo Laba (500000)

1700000 1700000

Untuk menutup jumlah negatif saldo laba, perusahaan melakukan kuasi


reorganisasi. Tindakan kuasi reorganisasi yang dilakukan oleh badan tersebut
sebagai berikut :

1. Peralatan dinilai kembali sebesar harga pasar menjadi Rp920.000,00


(semula Rp1.400.000,00).

2. Dalam aktiva lancar terdapat persediaan yang overstated Rp80.000,00


dan Rp40.000,00 merupakan piutang tertagih.

3. Nilai nominal saham diturunkan menjadi Rp40,00 per lbr (semula


Rp100,00)

Pencatatan yang dilakukan sebagai berikut :


Saldo Laba Rp480.000,00
Akumulasi Depresiasi Rp480.000,00
Saldo Laba Rp120.000,00
Aktiva Rp120.000,00
Modal saham (nominal Rp100,00) Rp1.500.000,00
Modal Saham (nominal Rp 40,00) Rp600.000,00
Tambahan Modal Disetor Rp900.000,00
Tambahan Modal Disetor Rp1.100.000,00
Saldo Laba (500000 + 480000 + 120000) Rp1.100.000,00

Setelah kuasi reorganisasi maka Neraca PT A tampak sebagai berikut.

Aktiva Lancar 180000 Utang 400000

Peralatan 2000000 Modal Saham 600000

Akumulasi Tambahan Modal


(1080000) 100000
Depresiasi Disetor

1100000 1700000

Implikasi pemajakannya adalah sebagai berikut :


1) Pengurangan nilai persediaan dan penghapusan piutang mengandung
ketentuan pajak pada asas material. Secara jelas pengurangan nilai
persediaan tidak diperkenankan, sedangkan penghapusan piutang harus
didukung oleh beberapa fakta

2) Untuk devaluasi peralatan tak mudah diizinkan karena pajak menganut


harga historis.

3) Penghapusan rugi dapat menghilangkan hak kompensasi kerugian


sebagaimana diatur dalam Pasal 6 (3) UU PPh.

G. Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap


SAK menganjurkan perusahaan untuk tidak melakukan penilaian kembali
(revaluasi) aktiva tetap tanpa adanya peraturan pemerintah. Hal itu dapat
disampaikan karena akuntansi komersial menganut harga historis dan harga
pertukaran. Namun, dalam praktik komersial penyimpangan dasar harga historis
dapat diterima apabila terdapat perubahan harga yang cukup material dan secara
relatif bersifat permanen, memperoleh fasilitas perpajakan, untuk penjualan saham
di pasar modal, dan untuk tujuan penggabungan badan usaha.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan materi di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa
banyak jenis modal dan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan atau organisasi.
Modal setoran perlu dibedakan dengan laba ditahan karena modal setoran 
merupakan suatu bentuk kontrak yuridis yang harus dipertahankan keutuhannya
sedangkan laba ditahan  merupakan modal yang tercipta atau terhimpun karena 
pemanfaatan aset. Modal setoran merupakan perubahaan aset dalam rangka
pendanaan (transaksi modal) sedangkan laba ditahan merupakan perubahan aset
dalam rangka produksi (transaksi operasi).Untuk Modal dan ekuitas ini ada juga
aspek pajak, dimana pajak sendiri memiliki banyak jenis dan asas yang digunakan
pun beraneka ragam. Tarif pajak berbeda tergantung dasar yang digunakan.

B. Saran
Setelah mempelajari materi ini hendaklah kita sadar bahwa ada aspek pajak
yang mengatur pada modal sendiri dan ekuitas lain tersebut, dan juga harus
memerhatikannya.
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, S dan Trisnawati, E. (2010). Akuntansi Perpajakan. Jakarta: Salemba


Empat

Gunadi (2009). Akuntansi Pajak. Jakarta: PT. Grasindo

Gunadi (2009). Akuntansi Pajak (Sesuai dengan Undang-Undang Pajak Baru).


Edisi Revisi. Jakarta: PT. Gramedia