Anda di halaman 1dari 26

PENGENDALIAN INTERNAL

A. PENGERTIAN PENGENDALIAN INTERNAL


Menurut COSO Pengendalian Internal adalah suatu proses yang dipengaruhi
oleh entitas dewan direksi, manajemen dan personil lainnya, yang dirancang untuk
memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan dalam hal:
a. Efektivitas dan efisiensi operasi
b. Keandalan pelaporan keuangan
c. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

B. KOMPONEN PENGENDALIAN INTERNAL


1. Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Dasar dari setiap struktur pengendalian internal adalah lingkungan
pengendalian internal. COSO menekankan bahwa lingkungan pengendalian
internal ini memiliki pengaruh luas tentang bagaimana semua kegiatan yang
terstruktur

dan

risiko

yang

telah

dinilai.

Lingkungan

pengendalian

mencerminkan keseluruhan sikap, kesadaran, dan tindakan oleh dewan direksi,


manajemen, dan lain-lain mengenai pentingnya pengendalian internal dalam
perusahaan.
Komponen Lingkungan Pengendalian :
a. Integritas dan Nilai Etika

Integritas kolektif dan nilai-nilai etika suatu perusahaan merupakan


elemen penting lingkungan pengendalian. Nilai-nilai ini sering didefinisikan
sebagai pesan yang dikomunikasikan oleh manajemen senior. Integritas dan
nilai etika merupakan produk dari standar etika dan sikap sebuah entitas,
sebagaimana dengan seberapa baik hal itu dikomunikasikan dan diterapkan
dalam praktiknya. Kode etik merupakan komponen penting dari tata kelola
organisasi. Semua pemangku kepentingan, dan tentunya auditor internal,
harus memiliki pemahaman yang baik tentang kode etik perusahaan dan
bagaimana hal itu diterapkan.
b. Komitmen Terhadap Kompetensi

Kompetensi lingkungan pengendalian suatu perusahaan dapat


terkisis dengan serius jika sejumlah besar posisi dipenuhi dengan orangorang yang kurang memiliki keterampilan kerja yang dibutuhkan. Auditor
internal, khususnya, akan menghadapi situasi ini dari waktu ke waktu dalam
tinjauan mereka. Suatu perusahaan perlu untuk menentukan tingkat
kompetensi yang diperlukan untuk berbagai tugas dalam pekerjaannya dan
menerjemahkan kebutuhan tersebut kedalam tingkat pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan.
c. Partisipasi Dewan Direksi dan Komisaris atau Komite Audit

Lingkungan pengendalian sangat banyak dipengaruhi oleh tindakan dewan


direksi perusahaan dan komite audit. Sebelum terbit SOx, dewan direksi dan
komite audit mereka sering didominasi oleh manajemen senior, dengan
representasi terbatas dari luar, anggota dewan minoritas. Hal ini
menciptakan situasi di mana dewan tidak benar-benar independen dari
manajemen. Setelah terbitnya Sox, komite audit harus benar-benar
independen. Sebuah dewan yang aktif dan mandiri adalah komponen
penting dari lingkungan pengendalian COSO.
d. Filosofi Manajemen dan Gaya Operasi

Filosofi dan gaya operasi manajemen senior memiliki pengaruh


besar atas lingkungan pengendalian suatu perusahaan. Auditor internal yang
bertanggung jawab untuk menilai pengendalian internal harus memahami
faktor-faktor ini dan menjadikannya pertimbangan ketika mengevaluasi
efektivitas pengendalian internal. Tidak ada yang mengatur gaya dan
filosofi yang terbaik untuk semua perusahaan, tetapi faktor-faktor ini
penting ketika mempertimbangkan komponen pengendalian internal yang
lain dalam suatu perusahaan .
e. Struktur Organisasi

Komponen pengendalian internal ini memberikan kerangka kerja


untuk perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan kegiatan untuk
membantu pemantauan mencapai tujuan secara keseluruhan. Beberapa
perusahaan sangat terpusat, yang lainnya terdesentralisasi dengan produk,
geografi, atau faktor-faktor lain . Yang lain disusun secara matriks dengan

tidak ada satu garis pelaporan langsung. Struktur organisasi merupakan


aspek penting dari lingkungan pengendalian perusahaan, tetapi tidak ada
satu strukturpun memberikan pengendalian internal lebih baik dari yang
lain.
f.

Kebijakan dan Praktik Sumber Daya Manusia


Aspek pengendalian internal yang paling penting adalah personel.
Jika karyawan kompeten dan dapat dipercaya, pengendalian lainnya dapat
ditiadakan. Orang yang tidak kompeten dan tidak jujur dapat membuat
sistem menjadi kacau, meskipun terdapat berbagai pengendalian yang
diterapkan. Orang-orang yang jujur dan efisien mampu bekerja dengan
kinerja yang sangat baik meskipun hanya terdapat sedikit pengendalian
yang mendukung mereka. Namun demikian, orang-orang kompeten dan
dapat dipercaya tetap memiliki beberapa kelemahan.
Karena pentingnya personel yang kompeten dan dapat dipercaya
dalam memberikan pengendalian yang efektif, metode yang digunakan
dalam merekrut, mengevaluasi, melatih, mempromosikan dan memberikan
kompensasi merupakan bagian yang penting dalam pengendalian internal.

2. Penilaian Risiko (Risk Assessment)


Kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuannya memiliki risiko
baik dari faktor internal maupun eksternal. Pemahaman dan pengelolaan
lingkungan risiko adalah unsur dasar pengendalian internal, dan perusahaan
harus memiliki proses mengevaluasi potensi risiko yang dapat mempengaruhi
pencapaian tujuannya. Komponen penilaian risiko ini berfokus pada
pengendalian internal dalam suatu perusahaan. Pengendalian internal COSO
menyatakan penilaian risiko harus menjadi proses ke depan yang dilakukan di
semua tingkat dan hampir untuk semua kegiatan dalam perusahaan.
Kerangka pengendalian internal COSO menunjukkan bahwa risiko
harus dipertimbangkan dari tiga perspektif:
a.

Risiko Perusahaan Karena Faktor Eksternal .


Dalam hal ini termasuk resiko perkembangan teknologi yang dapat
mempengaruhi sifat dan waktu penelitian dan pembanguna produk baru

atau menyebabkan perubahan dalam proses pengadaan. Risiko faktor


eksternal lainnya termasuk perubahan kebutuhan atau harapan pelanggan,
harga, garansi, atau kegiatan pelayanan. Undang-undang atau peraturan
baru dapat memaksa perubahan dalam operasi kebijakan atau strategi.
b.

Risiko Perusahaan karena Faktor Internal


Sebagai auditor internal yang sering mengamati perusahaan secara terusmenerus, akan mengetahui ada banyak jenis risiko dalam perusahaan.
Misalnya, gangguan pada IT Server atau manajemen penyimpanan
fasilitas pengolahan dapat mempengaruhi operasi secara keseluruhan.
Selain itu, kualitas personil yang dipekerjakan, serta pelatihan atau
motivasi

mereka,

dapat

mempengaruhi

tingkat

dari

kesadaran

pengendalian dalam entitas. Selain itu, akses karyawan ke aset dapat


berkontribusi untuk penyalahgunaan sumber daya. Meskipun sekarang
lebih baik diatasi dengan SOx, pengendalian internal COSO juga
menyebutkan risiko ini terjadi karena dewan direksi atau komite audit
tidak tegas atau tidak efektif yang dapat memberikan peluang bagi
kecerobohannya.
c.

Risiko karena Kegiatan Spesifik


Selain dilihat dari luasnya perusahaan, risiko juga harus dipertimbangkan
untuk setiap unit bisnis yang signifikan dan aktivitas kunci, seperti unit
pemasaran, IT, dan keuangan. Kekhawatiran kegiatan ditingkat ini
memberikan kontribusi dengan luasnya risiko perusahaan

dan harus

diidentifikasi secara terus-menerus, dianggap dalam berbagai proses


perencanaan di seluruh perusahaan.

3. Kegiatan Pengendalian (Control Activities)


Kegiatan Pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu
memastikan bahwa tindakan yang diidentifikasi untuk mengatasi risiko
dilakukan, beserta sub proses kegiatan pengendalian. Kegiatan pengendalian
ada pada semua tingkatan dalam suatu perusahaan dan, dalam banyak kasus,
mungkin tumpang tindih satu sama lain. Konsep kegiatan pengendalian
merupakan bagian penting dari membangun pengendalian internal yang efektif

dalam

suatu

perusahaan.

Kerangka

pengendalian

internal

COSO

mengidentifikasi serangkaian kegiatan ini menurut jenis proses. Dari perspektif


audit internal, mereka harus bersama-sama membantu dalam membangun
pengendalian internal yang efektif secara keseluruhan.
a. Jenis Kegiatan Pengendalian
Pengendalian internal umumnya diklasifikasikan sebagai manual, IT, atau
pengendalian manajemen, dan kegiatan pengendalian juga dijelaskan dalam
hal apakah mereka preventif, korektif, atau kegiatan pengendalian detektif.
Beberapa kegiatan pengendalian internal yang direkomendasikan COSO
untuk perusahaan adalah:
1) Ulasan Top-level
2) Fungsional langsung atau kegiatan manajemen
3) Pengolahan Informasi
4) Pengendalian Fisik
5) Indikator Kinerja
6) Tugas harus dipisahkan antara orang yang berbeda untuk mengurangi
risiko kesalahan atau tindakan yang tidak pantas.
b. Integrasi Aktivitas Pengendalian dengan Penilaian Resiko
Pengendalian

internal

adalah

suatu

proses,

dan

kegiatan

pengendalian yang tepat harus dibuat untuk mengatasi risiko yang


diidentifikasi.
c. Pengendalian atas Sistem Informasi
Kerangka pengendalian internal menyoroti serangkaian wilayah
pengendalian TI untuk mengevaluasi kecukupan keseluruhan pengendalian
internal. Perubahan yang cepat dari teknologi baru, apa yang baru hari ini
akan segera digantikan oleh sesuatu yang lain.

4. Komunikasi dan Informasi (Communication and Information)


Informasi yang tepat, didukung oleh sistem TI, harus dikomunikasikan
dari atas dan ke bawah dalam perusahaan dengan cara dan waktu yang
memungkinkan orang untuk melaksanakan tanggung jawab mereka. Selain
sistem komunikasi formal dan informal, perusahaan harus memiliki prosedur

yang efektif untuk berkomunikasi dengan pihak internal dan eksternal.


Informasi dan arus komunikasi dalam perusahaan harus dipahami untuk setiap
evaluasi pengendalian intern, misalnya evaluasi SOx Section 404 .

5. Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan telah lama menjadi peran internal auditor, yang melakukan
tinjauan untuk menilai kepatuhan dengan prosedur yang ditetapkan;
Namun, COSO sekarang mengambil pandangan yang lebih luas terhadap
pemantauan. Pengendalian internal COSO yang mengakui bahwa prosedur
pengendalian dan sistem lain berubah dari waktu ke waktu. Apa yang
tampaknya menjadi efektif ketika pertama kali diinstal mungkin tidak efektif
dalam masa depan.
Sebuah proses pemantauan harus ada untuk menilai efektivitas didirikan
komponen pengendalian internal dan untuk mengambil tindakan korektif jika
diperlukan. Proses pemantauan ini menunjuk pada peran penting dari audit
internal, komponen pengendalian internal tidak dapat ditujukan hanya untuk
internal auditor ketika manajemen tetap menyadari masalah pengendalian
lainnya yang potensial. Suatu perusahaan perlu membangun berbagai kegiatan
pemantauan untuk mengukur efektivitas pengendalian internal. Hal ini dapat
dilakukan melalui evaluasi terpisah serta dengan kegiatan terus menerus untuk
memantau kinerja dan mengambil tindakan korektif bila diperlukan .

C. PENGENDALIAN PREVENTIF, DETEKTIF, DAN KOREKTIF


Pengendalian preventif adalah Pengendalian yang digunakan untuk
mencegah hasil- hasil yang tidak diharapkan sebelum terjadi. Pengendalian ini lebih
efektif dari segi biaya dibandingkan Pengendalian detektif. Ketika diterapkan ke
dalam sebuah sistem, pengendalian preventif dapat mencegah kekeliruan dan oleh
karena itu dapat mencegah biaya perbaikan. Contoh dari kontrol preventif ini
adalah :
a.

Adanya karyawan yang kompeten dan dapat dipercaya

b.

Pemisahan tugas untuk mencegah pelanggaran yang di sengaja

c.

Otorisasi yang layak untuk mencegah penggunaan sumber daya organisasi


dengan tidak semestinya

d.

Perbaikan menggunakan komputer untuk mendeteksi dan mencegah transaksi


yang tidak semestinya

e.

Dokumentasi dan catatan yang memadai serta prosedur pencatatan yang layak
untuk mencegah transaksi yang tidak semestinya

f.

Pengendalian fisik atas aktiva untuk mencegah penyalahgunaan atau pencurian


Pengendalian

detektif

adalah

pengendalian

yang

dirancang

untuk

menemukan hasil- hasil yang tidak diharapkan pada saat terjadinya. Pengendalian
ini biasanya lebih mahal dibandingkan pengendalian preventif, tetapi pengendalian
ini tetap saja diperlukan, karena pengendalian detektif ini dapat mengukur
efektivitas pengendalian preventif, selanjutnya dengan adanya pengendalian
detektif ini beberapa kekeliruan tidak bisa secara efektif dikendalikan oleh sistem
pencegahan, dimana kekeliruan tersebut harus dideteksi saat terjadi. Contoh
pengendalian detektif antara lain :
a.

pemeriksaan dan perbandingan, seperti : catatan kinerja dan pemeriksaan


independen atas kinerja, adanya rekonsiliasi bank, konfirmasi saldo bank,
perhitungan kas, rekonsiliasi rincian piutang usaha ke akun pengendali piutang
usaha,

b.

pemeriksaan fisik persediaan dan analisis varians

c.

konfirmasi dengan pemasok uatang usaha

d.

penggunaan teknik- teknik komputer seperti limit transaksi, kata kunci,


pengeditan, dan sistem pemeriksaaan
Pengendalian korektif dilakukan bila terjadi hal-hal yang tidak semestinya

dan telah dideteksi. Semua pengendalian detektif tidak ada gunanya bila kelemahan
yang telah diidentifikasi tidak diperbaiki atau masalahnya terulang kembali. Oleh
karena itu, manajemen harus mengembangkan sistem yang tetap menyoroti kondisikondisi yang tidak diinginkan sampai diperbaiki, dan jika layak, harus menetapkan
prosedur- prosedur untuk mencegah terulangnya kondisi tersebut. Sehingga
pengendalian korektif menutup lingkaran yang dimulai dari pencegahan kemudian
deteksi hingga koreksi.

Pengendalian yang baik tidak hanya melindungi organisasi, tetapi juga


karyawan. Managemen bertanggung jawab secara moral bahwa tidak ada celah
untuk melakukan kecurangan. Manfaat kontrol juga muncul pada teori keagenan,
dimana manager sebagai agen, bertanggung jawab kepada pemilik, dengan adanya
laporan dan verifikasi yang objektif dari auditor, pemilik bisa yakin bahwa
tanggung jawab yang dibebankan kepada manager telah dilaksanakan dengan baik.
Dengan adanya internal control yang tepat, manager sebagai agen dapat
memberikan keyakinan yang memadai mengenai pengelolaan perusahaan yang
telah dijalankan.

D. KARAKTERISTIK-KARAKTERISTIK PENGENDALIAN
Auditor

internal

dapat

mengevaluasi

sistem

pengendalian

dengan

menentukan kesesuaiannya dengan kriteria yang ditetapkan. Sebuah sistem yang


dapat diterima memiliki ciri- ciri sebagai berikut :
1.

Tepat waktu
Pengendalian seharusnya mendeteksi penyimpangan aktual atau potensial sejak
awal

untuk

menghindari

tindakan

perbaikan

yang memakan

biaya.

Pengendalian harus tepat waktu, meskipun efektivitas biaya juga harus


dipertimbangkan. Bila terjadi masalah masalah yang tidak diharapkan maka
harus diidentifikasi dan ditindaklanjuti tepat waktu.
2.

Ekonomis
Pengendalian harus memberikan keyakinan yang wajar dalam mencapai hasil
yang diinginkan dengan biaya minimum dan dengan efek samping yang paling
rendah.

3.

Akuntabilitas
Pengendalian harus membantu karyawan mempertanggungjawabkan tugas
yang diberikan.

4.

Penerapan
Pengendalian harus diterapkan pada saat yang paling efektif, yaitu :
a.

Sebelum bagian yang mahal dari suatu proyek dikerjakan

b.

Sebelum waktu yang perusahaan tidak bisa (sulit) untuk kembali

c.

Saat satu tahap operasi berakhir dan tahap yang lain dimulai

5.

d.

Saat pengukuran paling nyaman untuk dilakukan

e.

Saat tindakan korektif paling mudah untuk dilakukan

f.

Bila tersedia waktu untuk tindakan perbaikan

g.

Setelah penyelesaian tugas yang mengandung kesalahan

h.

Jika akuntabilitas untuk sumber daya berubah

Fleksibilitas
Keadaan bisa berubah sewaktu-waktu. Rencana dan prosedur hampir pasti
berubah seiring berjalannya waktu. Kontrol yang akan mengakomodasi
perubahan seperti ini tanpa harus berubah lebih disukai untuk menghindari
kebutuhan akan adanya perubahan.

6.

Menentukan penyebab
Tindakan korektif yang diambil segera bisa dilakukan bila pengendalian tidak
hanya mengidentifikasi masalah tetapi juga penyebabnya.

7.

Kelayakan
Pengendalian yang paling efisien dan bermanfaat adalah kontrol berbasis
pengecualian, yaitu hanya merespons penyimpangan- penyimpangan yang
signifikan.

8.

Masalah- masalah dengan pengendalian


Pengendalian yang berlebihan dapat menyebabkan kebingungan dan frustasi.
Begitu pengendalian mencapai titik tertentu, maka efektivitasnya sebenarnya
bisa menurun sehingga biaya yang harus ditanggungmenjadi lebih besar
dibandingkan manfaat yang semula diinginkan.

E. SARANA UNTUK MENCAPAI PENGENDALIAN


Beberapa sarana operasional yang dapat digunakan manajer untuk mengendalikan
fungsi di dalam perusahaan adalah :
1.

Organisasi
Sebagai sarana pengendalian, merupakan struktur peran yang disetujui untuk
orang-orang di dalam perusahaan sehingga perusahaan dapat mencapai
tujuananya secara efisien dan ekonomis, meliputi :
a.

Tanggung jawab harus dipisahkan sehingga tidak ada satu orang yang
mengendalikan semua tahap transaksi

b.

Manager harus memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan yang


diperlukan dalam pelaksanaan tanggung jawabnya

c.

Tanggung jawab seseoarang harus didefinisikan dengan jelas sehingga


tidak kekurangan atau kelebihan

d.

Pegawai yang menyerahkan tanggung jawab dan mendelegasikan


wewenang ke bawahan harus memiliki sistem tindak lanjut yang efektif
untuk memastikan bahwa tugas telah dilaksanakan dengan baik

e.

Orang yang mendelegasikan tugas harus disyaratkan untuk melaksanakan


kewenangan tersebut dengan pengawasan ketat

f.

Karyawan harus mempertanggungjawabkan tugasnya ke atasan

g.

Struktur organisasi haruslah sesederhana mungkin

h.

Bagan dan system manual harus disiapkan untuk membantu perubahan


rencana dan pengendalian dalam, juga memberikan pemahaman yang lebih
baik tentang organisasi, rantai wewenang dan pemberian tanggungjawab.

2.

Kebijakan
adalah pernyataan prinsip yang membutuhkan, menjadi pedoman, atau
membatasi tindakan. Kebijakan harus membatasi prinsip prinsip tertentu :
a.

Kebijakan harus dinyatakan dengan jelas secara tertulis, disusun secara


sistematis dalam bentuk buku pegangan, manual, dan disetujui dengan
semestinya

b.

Kebijakan haruslah dikomunikasikan secara sistematis ke semua pegawai


dan pegawai yang berwenang di organisasi

c.

Kebijakan haruslah sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku dan
harus konsisten dengan tujuan dan kebijakan umum yang ditetapkan di
tingkat yang lebih tinggi

d.

Kebijakan harus dirancang untuk meningkatkan pelaksanaan aktivitas


secara efektif, efisien, dan ekonomis dan memberikan tingkat keyakinan
yang memuaskan bahwa sumber daya perusahaan telah dijaga dengan
semestinya

e.

Kebijakan harus ditelaah secara periodik, dan harus direvisi jika kondisi
berubah

10

3.

Prosedur
adalah sarana yang digunakan untuk melaksanakan aktivitas sesuai dengan
kebijakan yang telah ditetapkan. Prinsip yang diterapkan pada kebijakan juga
bisa diterapkan untuk prosedur, tambahannya :
a.

Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecurangan dan kesalahan,


prosedur harus dikoordinasikan sedemikian rupa sehingga pekerjaan
seorang karyawan secara otomatis diperiksa oleh karyawan lain yang
melaksanakan tugas lain secara terpisah dan independen

b.

Untuk

meningkatkan

efisiensi

dan

keekonomian

sampai

tingkat

maksimum, prosedur yang ditetapkan haruslah sesederhana dan semurah


mungkin
c.

Prosedur- prosedur yang ada tidak boleh tumpang tindih, bertentangan satu
sama lain, atau bersifat duplikatif

d.
4.

Prosedur harus ditelaah secara periodik dan ditingkatkan bila diperlukan

Personalia
Orang-orang yang dipekerjakan atau ditugaskan harus memiliki kualifikasi
untuk melaksanakan tugas yang diberikan. Bentuk kontrol terbaik disamping
kinerja masing- masing individu adalah supervisi. Praktik- praktik berikut ini
bisa membantu meningkatkan kontrol :
a.

Karyawan baru harus dilihat kejujuran dan keandalannya dalam


melakukan pekerjaan

b.

Karyawan harus diberi pelatihan dan kursus- kursus yang memberikan


kesempatan meningkatkan kemampuan diri dan membuat mereka tetap
mengetahui kebijakan dan prosedur yang baru

c.

Karyawan harus diberi informasi tentang tugas dan tanggung jawab


mengenai segmen lain dari organisasi sehingga mereka bisa lebih
memahami kesesuaian pekerjaan mereka dengan organisasi secara
keseluruhan

d.

Kinerja semua karyawan harus ditelaah secara periodik untuk melihat


apakah hal-hal penting dari tugas mereka telah ditunaikan

11

5.

Akuntansi
merupakan sarana yang sangat penting untuk kontrol keuangan pada aktivitas
dan sumber daya. Akuntansi membentuk kerangka kerja yang bisa disesuaikan
dengan pemberian tanggung jawab. Berikut ini beberapa prinsip- prinsip dasar
untuk sistem akuntansi :
a.

Akuntansi harus sesuai dengan kebutuhan manajer guna pengambilan


keputusan yang rasional

b.

Akuntansi harus didasarkan pada lini tanggung jawab

c.

Laporan keuangan dari hasil- hasil operasi harus sejajar dengan unit
organisasi yang bertanggung jawab dalam operasional organisasi

d.
6.

Akuntansi harus bisa menentukan biaya- biaya yang bisa dikendalikan

Penganggaran (budget)
adalah sebuah pernyataan hasil- hasil yang diharapkan, yang dinyatakan dalam
bentuk numerik. Sebagai sebuah kontrol, anggaran menetapkan standar
masukan sumber daya dan hal- hal yang harus dicapai sebagai keluaran dan
hasil. Berikut pengendalian dalam penganggaran :
a.

Orang- orang yang bertanggung jawab untuk memenuhi target anggaran


haruslah berpartisipasi dalam penyiapannya

b.

Orang- orang yang bertanggung jawab untuk memenuhi target anggaran


harus dilengkapi dengan informasi yang memadai yang membandingkan
anggaran dengan kejadian- kejadian aktual dan memberikan alasan- alasan
untuk penyimpangan yang signifikan

c.

Semua anggaran khusus harus cocok dengan keseluruhan anggaran


organisasi

d.
7.

Anggaran harus menetapkan tujuan yang dapat diukur

Pelaporan
Laporan haruslah tepat waktu, akurat, bermakna, dan ekonomis. Berikut ini
prinsip untuk menetapkan sistem pelaporan internal yang memuaskan :
a.

Laporan harus dibuat sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan

b.

Individu- individu atau unit- unit harus diminta melaporkan hal- hal yang
menjadi tanggung jawabnya

12

c.

Biaya mengakumulasi data dan menyiapkan laporan harus dibandingkan


dengan manfaat yang akan didapat

d.

Laporan harus sesederhana mungkin, dan konsisten dengan sifat subjek


yang menjadi masalah

e.

Sebaiknya laporan kinerja memperlihatkan perbandingan dengan standar


biaya, kualitas, dan kuantitas yang ditetapkan

f.

Laporan harus tepat waktu, agar bermanfaat maksimal

F. SISTEM PENGENDALIAN
Sarana pengendalian meliputi orang, peraturan, anggaran, jadwal, dan
analisis komponen- komponen lainnya. Bila digabungkan, elemen- elemen ini
membentuk sistem pengendalian. Sistem- sistem tersebut bisa memiliki subsistemsubsistem, dan bisa menjadi sistem yang lebih besar. Merancang sistem
pengendalian untuk memastikan bahwa tugas diselesaikan dan tujuan dicapai
merupakan tanggung jawab managemen. Manager bertanggung jawab untuk
menetapkan pengendalian, mempertahankannya, memodifikasi apa yang harus
diubah, dan memerhatikan informasi yang diberikan oleh sistem pengendalian.
Standar- standar operasi bisa jadi merupakan elemen- elemen kunci dalam proses
pengendalian, Standar menentukan jenis kinerja yang diharapkan. Standar berperan
dalam 2 hal :
1. Menentukan tujuan yang akan dicapai
2. Menjadi dasar pengukuran
Selain standar operasi yang merupakan bagian dari sistem pengendalian,
terdapat kerangka standar yang harus diikuti sistem pengendalian itu sendiri, antara
lain :
1. Standar- Standar Umum
a. Keyakinan yang wajar
b. Perilaku yang mendukung
c. Integritas dan Kompetensi
d. Tujuan Kontrol
e. Pengawasan kontrol
2. Standar- Standar Rinci

13

a. Dokumentasi
b. Pencatatan transaksi
c. Otorisasi dan pelaksanaan transaksi dan kejadian
d. Pembagian tugas
e. Pengawasan
f. Akses dan akuntabilitas ke sumber daya

G. ASPEK AUDIT RISIKO PENGENDALIAN


Risiko pengendalian ( control risk ) merupakan elemen yang substantial dari
daerah risiko yang luas. Risiko pengendalian adalah kemungkinan bahwa
pengendalian yang telah ditetapkan tidak bisa mendeteksi adanya penyimpangan.
Risiko pengendalian haruslah sebuah pertimbangan dalam rancangan metodologi
pengendalian. Dan risiko pengendalian ini merupakan hasil kompromi antara
penelaah aktual atas semua kejadian dan transaksi serta penelaahan dari sample
sample yang representatif. Dan ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan
auditor internal pada saat menelaah operasi pengendalian.

H. AUDIT PENGENDALIAN
Tujuan audit kontrol adalah untuk menentukan bahwa;
1.

Pengendalian memang diterapkan;

2.

Pengendalian secara struktural memang wajar;

3.

Pengendalian dirancang untuk mencapai tujuan manajemen khusus atau untuk


mencapai ketaatan dengan persyaratan yang ditentukan, atau untuk memastikan
akurasi dan kelayakan transaksi;

4.

Pengendalian memang digunakan;

5.

Pengendalian secara efisien melayani tujuan tersebut;

6.

Pengendalian bersifat efektif; dan

7.

Manajemen menggunakan keluaran yang dihasilkan sisem kontrol.

Secara lebih rinci auditor harus :


a.

Menelaah elemen risiko pengendalian

b.

Menentukan tujuan sistem pengendalian

14

c.

Menelaah tujuan untuk menentukan kesesuaiannya dengan kebijakan


organisasi atau dirancang untuk memastikan ketaatan dengan persyaratan
internal atau eksternal

d.

Memeriksa dan menganalisis sistem pengendalian

e.

Menentukan apakah hasil dari pengendalian dirancang untuk mencapai tujuan


yang diinginkan

f.

Menelaah operasi sistem pengendalian

g.

Menentukan apakah hasil pengendalian mencapai tujuan manajemen ketika


membuat kontrol tersebut

h.

Menentukan apakah sistem pengendalian memiliki karakteristik karakteristik


fleksibilitas, ketepatan waktu, akuntabilitas, pengidentifikasian penyebab,
kelayakan, penempatan.

I.

KETERBATASAN BAWAAN PENGENDALIAN INTERNAL


Terlepas dari bagaimana bagusnya desain dan operasinya, pengendalian
internal hanya dapat memberikan keyakinan memadai bagi manajemen dan dewan
komisaris berkaitan dengan pencapaian tujuan pengendalian intern entitas.
Kemungkinan pencapaian tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan bawaan yang
melekat dalam pengendalian internal. Hal ini mencakup kenyataan bahwa
pertimbangan manusia dalam pengambilan keputusan dapat salah dan bahwa
pengendalian internal dapat rusak karena kegagalan yang bersifat manusiawi
tersebut, seperti kekeliruan atau kesalahan yang sifatnya sederhana. Disamping itu
pengendalian dapat tidak efektif karena adanya kolusi di antara dua orang atau lebih
atau manajemen mengesampingkan pengendalian intern. Faktor lain yang
membatasi pengendalian internal adalah biaya pengendalian internal entitas tidak
boleh melebihi manfaat yang diharapkan dari pengendalian tersebut. Meskipun
hubungan manfaat-biaya merupakan kriteria utama yang harus dipertimbangkan
dalam pendesainan pengendalian internal, pengukuran secara tepat biaya dan
manfaat umumnya tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu, manajemen
melakukan estimasi kualitatif dan kuantitatif serta pertimbangan dalam menilai
hubungan biaya manfaat tersebut.

15

Berikut ini adalah keterbatasan bawaan yang melekat dalam setiap


pengendalian internal :
1.

Kesalahan dalam pertimbangan


Kadangkadang,

manajemen

dan

personel

lainnya

dapat

melakukan

pertimbangan yang buruk dalam membuat keputusan bisnis atau dalam


melaksanakan tugas rutin karena informasi yang tidak mencukupi, keterbatasan
waktu, atau prosedur lainnya.
2.

Gangguan
Kemacetan dalam melaksanakan pengendalian dapat terjadi karena adanya
gangguan ketika personel salah memahami instruksi atau membuta kekeliruan
akibat kecerobohan, kebingungan, atau kelelahan. Perubahan sementara atau
permanen dalam personel atau dalam sistem atau prosedur juga dapat
berkontribusi pada teradinya kemacetan.

3.

Kolusi
Individu yang bertindak bersama, seperti karyawan yang melaksanakan suatu
pengendalian penting bertindak bersama dengan karyawan lain, konsumen atau
pemasok, dapat melakukan sekaligus menutupi kecurangan sehingga tidak
dapat dideteksi oleh pengendalian internal

4.

Pengabaian dalam manajemen


Manajemen dapat mengesampingkan kebijakan atau prosedur tertulis untuk
tujuan tidak sah seperti keuntungan pribadi atau presentasi mengenai kondisi
keuangan suatu entitas yang dinaikkan (misal, menaikkan laba yang dilaporkan
untuk menaikkan pembayaran bonus atau nilai pasar dari saham entitas).
Praktik pengabaian termasuk membuat penyajian yang salah dengan sengaja
kepada auditor dan lainnya seperti menerbitkan dokumen palsu untuk
mendukung pencatatan transaksi penjualan fiktif

5.

Biaya lawan manfaat


Biaya pengendalian internal suatu entitas seharusnya tidak melebihi manfaat
yang diharapkan untuk diperoleh. Karena pengukuran yang tepat baik dari
biaya dan manfaat biasanya tidak memungkinkan, manajemen harus membuat
baik estimasi kuantitatif maupun kualitatif dalam mengevaluasi hubungan
antara biaya dan manfaat

16

J.

PERAN AUDITOR INTERNAL


Auditor internal bisa sangat membantu manajemen dengan mengevaluasi
sistem kontrol dan menunjukkan kelemahan kelemahan dalam pengendalian
internal. Tetapi harus diingat bahwa auditor internal membantu manajemen; bukan
berperan sebagai manajer itu sendiri.
Jika sistem pengendalian didokumentasikan dengan baik, suatu organisasi
dapat lebih siap mematuhi peraturan peraturan yang relevan. Dokumentasi yang
layak adalah ibarat persediaan audit internal dalam berdagang. Oleh karena itu,
manajemen

akan

lebih

cenderung

meminta

auditor

internal

untuk,

mendokumentasikan sistem pengendalian akuntansi internal kita sehingga kita


dapat membuktikan ke pemerintah bahwa kita telah mematuhi hukum.
Pada dasarnya fungsi auditor internal dalam perusahaan adalah untuk
mengawasi pelaksanaan sistem pengendalian internal dan memberikan saran
perbaikan kepada manajemen bila ditemukan kelemahan dan penyimpangan baik
yang terdapat pada sistem tersebut maupun dalam pelaksanaannya dalam
perusahaan.
Auditor internal dalam menjalankan fungsinya dipengaruhi oleh kedudukan
atau posisi Audit

Internal dalam struktur organisasi perusahaan, yaitu

mempengaruhi luasnya aktivitas fungsi yang dapat dijalankan dan mempengaruhi


independensi dalam melaksanakan fungsinya. Semakin tinggi kedudukan audit
internal dalam struktur organisasi perusahaan semakin luasnya aktivitas fungsi yang
dapat dijalankan dan semakin indenpenden dalam melaksanakan fungsinya.
Manahan (2003) menjelaskan secara garis besar ada tiga alternatif posisi atau
kedudukan dari Internal Auditor dalam struktur organisasi perusahaan yaitu:
1.

Berada dibawah Dewan Komisaris.


Dalam hal ini internal auditor bertanggung jawab pada Dewan Komisaris. lni
disebabkan karena bentuk perusahaan membutuhkan pertanggung jawaban
yang lebih besar, termasuk direktur utama dapat diteliti oleh internal auditor.
Dalam cara ini, bagian pemeriksa intern sebenarnya merupakan alat pengendali
terhadap performance manajemen yang dimonitor oleh komisiaris perusahaan.
Dengan demikian bagian pemeriksa intern mempunyai kedudukan yang kuat
dalam organisasi.

17

2.

Berada dibawah Direktur Utama.


Menurut sistem ini auditor internal bertanggung jawab pada direktur utama.
Dimana auditor internal ini diangkat dan diberhentikan oleh direktur utama
berdasarkan persetujuan dewan komisaris.

3.

Berada dibawah Kepala Bagian Keuangan.


Menurut sistem ini kedudukan internal auditor dalam struktur organisasi
perusahaan berada dibawah koordinasi kepala bagian keuangan. Bagian
Internal auditor bertanggung jawab sepenuhnya kepada kepala keuangan atau
ada yang menyebutnya sebagai Controller. Tapi perlu juga diketahui bahwa
biasanya kepala bagian keuangan tersebut bertanggung jawab juga pada
persoalan keuangan dan akuntansi.
Apabila posisi atau kedudukan internal auditor itu perlu digambarkan dalam

skema maka letak kedudukannya dalam struktur organisasi perusahaan adalah


sebagai berikut:

18

Keterangan :
Dalam gambar di atas dapat dilihat mengenai posisi atau kedudukan intern auditing.
1. Internal Auditing berada di bawah Dewan Komisaris
2. Internal Auditing berada di bawah Direktur Utama
3. Internal Auditing berada di bawah Kepala Bagian Keuangan
Apabila salah satu sistem tersebut dipakai maka bentuk yang lain tidak ada.
Menurut Valery G. Kumaat (2011), sebagai sebuah tim yang independen jelas
internal audit tidak tepat bila ditempatkan dalam jalur struktural (sejajar atau
dibawah posisi head of division/department, seperti sejajar atau digabungkan
dengan accounting department).
Dalam praktek, biasanya internal audit ditempatkan di bawah CEO/BOD
sebuah Business Unit. Sejalan dengan pertumbuhan korporasi, selanjutnya Internal
Audit dimasukkan ke dalam bagian dari Holding Company (langsung dibawah
CEO atau sebagai bagian dari struktur, bila Holding Co. tidak termasuk objek
pengawasan).

Bila

mengikuti

pertumbuhan

business

unit

terutama

mempertimbangkan semakin banyaknya cabang (Representative Office) yang


dibuka, Internal Audit dikembangkan kebawah hingga ke Regional Office. Sangat
jarang tim Internal Audit diposisikan langsung dibawah Board of Commissioner
(Business Owner), kecuali dengan pertimbangan bahwa seluruh unit bisnis
dipegang sepenuhnya oleh para professional, dimana pemegang saham mayoritas
membatasi diri hanya selaku investor dan tidak terlibat dalam operasi bisnis.
Penguatan posisi internal audit merupakan aktivitas strategis dalam rangka
memformulasikan kontribusi peran internal audit terhadap penyelenggaraan bisnis
Perusahaan. Aktivitas ini dilakukan melalui perumusan ulang organisasi internal
audit sejalan dengan peran internal audit dalam rangka pengawalan terhadap bisnis
perusahaan, sesuai dengan fungsi utama internal audit sebagai pemberi jaminan
(assurance) dan layanan konsultansi internal (internal consulting services).

19

Diagram posisi Internal audit didalam perusahaan:


BUSINESS OWNER
(Board of Commissioner)
INTERNAL AUDIT
HOLDING COMPANY
(Board of Director)
INTERNAL AUDIT
HOLDING CO.
(Departement)

BUSINESS UNIT,
HEAD OFFICE (CEO)
INTERNAL AUDIT
BUSINESS UNIT
(Departements)

BUSINESS UNIT,
REGION OFFICE (Head of REGION)
INTERNAL AUDIT
REGION OFFICE
(Departements)

20

Struktur Dan Kedudukan Internal Audit Di PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk

21

Direksi Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk membuat laporan


keuangan dan mengatur proses pelaporannya. Disamping itu, Direksi juga
bertanggung jawab dalam merancang sistem audit internal terhadap proses pelaporan
internal yang mencakup mekanisme menyeluruh dari prosedur operasi standar, jalur
pelaporan dan struktur akuntabilitas. Sejak tahun 2004, Perusahaan telah memiliki
Unit Audit Internal yang berada langsung di bawah Direktur Utama.
Pedoman Unit Audit Internal yang direvisi pada tahun 2009 telah sesuai
ketentuan dalam Peraturan Bapepam dan LK No. IX.I.7 tentang Pembentukan dan
Pedoman Penyusunan Piagam Unit Audit Internal (Surat Keputusan Ketua Bapepam
dan LK No. Kep-496/BL/2008 tertanggal 28 Nopember 2008). Pedoman Unit Audit
Internal Adira Finance telah disahkan oleh Direksi Perusahaan dan disetujui oleh
Dewan Komisaris Perusahaan pada tanggal 24 Nopember 2009.
Di dalam Pedoman Unit Audit Internal Perusahaan diatur antara lain:
1. Misi Unit Audit Internal yaitu memberikan keyakinan yang independen dan
obyektif serta memberikan jasa konsultasi untuk menambah nilai dan
meningkatkan kinerja operasional Perusahaan, melalui pendekatan yang sistematis
dalam mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas dari proses manajemen risiko,
pengendalian dan proses tata kelola perusahaan.

22

2. Tujuan diadakannya Unit Audit Internal yaitu untuk dapat:


a. Mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan serta memberikan
kontribusi terhadap pengelolaan risiko dan sistem pengendalian internal;
b. Memelihara pengendalian internal yang efektif;
c. Menilai dan memberikan rekomendasi yang sesuai untuk meningkatkan proses
tata kelola perusahaan;
d. Membantu meningkatkan dan memperkuat lingkungan pengendalian di
Perusahaan untuk mencegah terjadinya kecurangan, melalui pengujian
kecukupan dan keefektifan sistem pengendalian internal;
e. Memberikan pandangan yang independen kepada Manajemen dan Dewan
Komisaris Perusahaan terhadap kecukupan pengendalian internal dan
kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur; dan
f. Menyediakan jasa konsultasi yang memberikan nilai tambah dan meningkatkan
kinerja operasional Perusahaan.
3. Independensi Unit Audit Internal, yang mana Unit Audit Internal dianggap
independen apabila dapat melaksanakan tugasnya secara bebas dan obyektif.
4. Pertanggungjawaban Unit Audit Internal, yang mana Unit Audit Internal
mempertanggungjawabkan seluruh kegiatannya kepada Direktur Utama dan
Dewan Komisaris melalui Komite Audit.
5. Ruang Lingkup Unit Audit Internal, yang mana meliputi seluruh entitas audit
(cabang, gudang, wilayah dan seluruh fungsional di kantor pusat).
6. Kewenangan Unit Audit Internal, yang mana Unit Audit Internal diberi akses yang
tidak terbatas terhadap seluruh fungsi, pencatatan, kekayaan dan karyawan
Perusahaan.
Penanggung jawab utama dari Audit Internal Perusahaan adalah Direktur
Utama yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh Unit Audit Internal. Dalam
melaksanakan tugasnya, Divisi Audit Internal melaksanakan berbagai kegiatan antara
lain audit operasional cabang, gudang, custodian, wilayah / area dan fungsional
lainnya. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memastikan bahwa praktik
manajemen risiko telah dilakukan sesuai dengan kebijakan dan prosedur tertulis
Perusahaan serta peraturan eksternal. Divisi Audit Internal juga membantu

23

menyempurnakan dan memperkuat pengendalian dan menyediakan jasa konsultasi


untuk memberikan nilai tambah dan memperbaiki operasional organisasi.
Laporan hasil audit disampaikan kepada Diretur Utama, dan kepada Komite Audit
Perusahaan.

24

KESIMPULAN

1.

Pengendalian Internal merupakan jawaban manajemen untuk mengatasi risiko yang


diketahui. Pengendalian internal digunakan untuk memastikan tujuan operasional
organisasi tercapai.

2.

Pengendalian Internal memberikan keyakinan pada auditor internal apakah sistem


operasi organisasi telah dilaksanakan secara efektif dan efisien.

3.

Terlepas dari bagaimana bagusnya desain dan operasinya, pengendalian internal


hanya dapat memberikan keyakinan memadai bagi manajemen dan dewan
komisaris berkaitan dengan pencapaian tujuan pengendalian internal entitas.
Karena pencapaian tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan bawaan yang melekat
dalam pengendalian internal.

25

DAFTAR PUSTAKA

Elder, Randal J, dkk. 2011. Jasa Audit dan Assurance. Pendekatan Terpadu
(Adaptasi Indonesia). Jakarta. Salemba Empat.
Kumaat, Valery G, Ir, 2011, Internal Audit, Penerbit Erlangga, PT. Gelora Aksara
Pratama, Jakarta.
Lawrence B. Sawyer, dkk. 2005. Audit Internal Sawyer, Edisi 5, Jakarta. Salemba
Empat.
Moeller, Robert R. 2009. Brinks Modern Internal Auditing. John Wiley & Sons, Inc,
Hoboken, New Jersey.
Nasution, Manahan, Drs, Ak, 2003. Sekilas tentang internal auditor, Fak. Ekonomi
Jurusan Akuntansi Universitas Sumatera Utara
Pedoman Tata Kelola Adira Finance, 2012. http://www.adira.co.id/pagesfile/PraktikTata-Kelola-Perusahaan.pdf
Tuanakotta, Theodorus M. 2012. Audit Berbasis ISA. Jakarta. Salemba Empat.
http://pratamafahri.blogspot.com/2013/11/pengendalian-internal-audit.html

26