Anda di halaman 1dari 51

1

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena anak

usia sekolah tersebut adalah generasi penerus bangsa.

Pertumbuhan anak usia sekolah yang optimal tergantung

pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang benar,

dalam masa pertumbuhan dan perkembangan fisik erat

hubungannya dengan status gizi anak. Konsumsi makanan

merupakan salah satu faktor utama penentu status gizi

seseorang. Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh

memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien,

sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak,

kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat

seoptimal mungkin. (Sulistyanto, dkk.2010).

Gizi dibutuhkan anak sekolah untuk pertumbuhan dan

perkembangan, energy, berpikir, beraktivitas fisik dan daya

tahan tubuh. Zat gizi yang dibutuhkan terdiri dari zat gizi

makro seperti karbohidrat, protein, lemak . Serta zat gizi mikro

seperti vitamin dan mineral (Muhilal,2012).

Pada anak sekolah, anak harus mendapat cukup energy

dan zat-zat gizi yang memenuhi kebutuhan yang sangat

meningkat. Kurang energy dan protein dapat terjadi karena

aktivitas fisik yang berlebihan. Akan tetapi badan yang kurus


2

dapat terjadi karena terlalu aktif dalam berbagai kegiatan fisik

biasanya bersifat sementara . (Hartriyanti,2007).

Status gizi menjadi penting karena merupakan salah

satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian.

Status gizi yang baik pada seseorang akan berkontribusi

terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam

proses pemulihan (Hartriyanti,2007).

Status gizi dapat dipengaruhi oleh faktor langsung dan

tidak langsung. Salah satu faktor langsung yaitu asupan energy

dan asupan protein (Supariasa, 2002). Status gizi seseorang

sering kali dihubungkan dengan asupan makanan sehari-hari.

Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan

semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh.

Fungsi zat gizi dalam tubuh yaitu memberi energy,

pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh, serta untuk mengatur

proses tubuh (Almatsier, 2004).

Penyebab langsung Kurang Energi Protein yaitu makanan

anak atau asupan makanan dan penyakit infeksi (biologis).

Penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga,

pola pengasuhan anak, pola makan, kebiasaan adat istiadat

serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan

(sanitasi). Pokok masalah yaitu pendidikan, pengetahuan dan

ketrampilan memanfaatkan sumber daya keluarga dan


3

masyarakat. Akar masalah adalah ekonomi, politik dan social

(Soekiman,2000).

Perilaku gizi yang salah pada anak sekolah perlu

mendaptkan perhatian. Misalnya, tidak sarapan pagi, jajanan

yang tidak sehat disekolah, kurang mengkonsumsi sayuran dan

buah, terlalu sering mengkonsumsi jenis makanan fast food

dan junk food, terlalu banyak mengkonsumsi zat makanan

tambahan seperti bahan pengawet, pewarna, dan penambah

cita rasa. (Khonsa,2012).

Status anak dipengaruhi oleh faktor langsung dan faktor

tidak langsung. Faktor langsung meliputi infeksi dan asupan

atau konsumsi makanan, sedangkan faktor tidak langsung

meliputi faktor ekonomi, pengetahuan gizi, dan sanitasi

makanan (penyiapan, penyajian dan penyimpanan) (Khomsan,

2003). Asupan makan dapat berasal dari pangan nabati

ataupun pangan hewani. Pangan nabati merupakan bahan

makanan yang berasal dari tanaman, sedangkan pangan

hewani merupakan bahan makanan yang berasal dari hewan.

Pangan hewani merupakan sumber protein yang baik daripada

protein pangan nabati, karena protein hewani mempunyai

kandungan asam-asam amino esensial yang lengkap

susunannya mendekati apa yang diperlukan oleh tubuh untuk

pertumbuhan ( Astawan, 2008 dan Haryanto,2009).


4

Menurut data RISKESDAS tahun 2013, secara nasional

prevalensi status gizi pada anak umur 5-12 tahun pada

kategori normal 70%. Prevalensi kurus menurut (IMT/U) pada

anak umur 5-12 tahun adalah 11,2%, terdiri dari yaitu 4%

sangat kurus dan 7,2% kurus. Pravalensi status gizi gemuk

pada anak umur 5-12 tahun secara nasional masih tinggi yaitu

18,8% yang terdiri dari gemuk 10,8% dan sangat gemuk

(obesitas) 8,8%.

Berdasarkan penjelasan uraian tersebut peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian mengenai gambaran asupan energy

protein dan status gizi pada anak sekolah di Sekolah Dasar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka

dirumuskan masalah yang akan diteliti “Bagaimana Gambaran

Asupan Energi Protein Dan Status Gizi Anak Sekolah Dasar.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran asupan energy protein dan

status gizi anak Sekolah Dasar

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui asupan energy pada anak sekolah

dasar di Sekolah Dasar


5

b. Untuk mengetahui asupan protein pada anak sekolah di

Sekolah Dasar

c. Untuk mengetahui status gizi pada anak sekolah di

Sekolah Dasar

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Bagi Institusi

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai

bahan bacaan untuk menambah wawasan pengetahuan serta

bahan masukan yang dijadikan sebagai bahan acuan untuk

melakukan penelitian lebih lanjut bagi yang berkepentingan di

Politeknik Kesehatan Kemenkes Maluku.

2. Manfaat Bagi Sekolah ( Sasaran )

Hasil penelitian di harapkan dapat informasi kepada pihak

sekolah tentang asupan dan status gizi anak sekolah dasar.

3. Manfaat Praktis Bagi Peneliti

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis

untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat selama

mengikuti perkuliahan pada Politektik Kesehatan Kemenkes

Maluku dan ini dapat dijadiakan sebagai pengalaman berharga

bagi penulis serta menambah wawasan serta daya pikir dan

pemahaman tentang gambaran asupan energy dan status gizi

anak sekolah.
6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori

1. Status Gizi

a. Pengertian Status Gizi

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan

makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses

digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme

dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk

mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi

normal organ-organ, serta menghasilkan energy.

Nutrition status adalah ekspresi dari keadaan

keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu

(Supariasa,2001)..

Status gizi juga diartikan sebagai keadaan

kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang

ditentukan dengan salah satu atau kombinasi dari

ukuran-ukuran gizi tertentu (Soekirman,2000).

Status gizi kurang atau yang lebih sering disebut

undemutrition merupakan keadaan gizi seseorang

dimana jumlah energy yang masuk lebih sedikit dari

energy yang dikeluarkaj. Hal ini dapat terjadi karena

jumlah energy yang masuk lebih sedikit dari anjuran

kebutuhan individu. Status gizi lebih (ovemutrition)


7

merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah

energy yang masuk ke dalam tubuh lebih besar dari

jumlah energy yang dikeluarkan. Hal ini terjadi karena

jumlah energy yang masuk melebihi kecukupan energy

yang dianjurkan untuk seseorang, akhirnya kelebihan zat

gizi disimpan dalam bentuk lemak yang dapat

mengakibatkan seseorang menjadi gemuk

(Almatsier,2005).

Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh

memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara

efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik,

perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan

secara umum. Status gizi lebih terjadi bila tubuh

memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan,

sedangkan status gizi kurang terjadi bila tubuh

mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi

esensial. Status gizi seseorang dipengaruhi oleh

konsumsi makan yang bergantung pada jumlah dan jenis

pangan yang dibeli, pemasukan, distribusi dalam

keluarga dan kebiasaan makan secara perorangan

(Almatsier,2001).
8

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

Menurut Soekirman (2000). Faktor-faktor yang

mempengaruhi status gizi terdiri dari penyebab langsung

dan tidak langsung.

1. Penyebab Langsung, yaitu:

a) Asupan makanan

Asupan yang berlebihan dapat berdampak

tidak baik, salah satu contohnya obesitas.

Obesitas pada remaja putri lebih umum dijumpai

daripada remaja putra.

Obesitas ini dapat berdampal kurang baik

terhadap perkembangan social dan psikososial.

Remaja yang obesitas lebih banyak menyendiri,

depresi dan rendah gairah hidup. Keadaan yang

lebih parah dapat terjadi pada obesitas yaitu

berisiko tinggi terhapat penyakit degenerative

seperti diabetes mellitus, hipertensi, penyakit

jantung coroner, kanker, dan bahkan kematian.

b) Penyakit infeksi yang diderita

Timbulnya gizi kurang tidak hanya

dikarenakan makanan yang kurang tetapi juga

karena penyakit. Anak yang mendapat makanan

cukup baik tetapi sering diserang diare atau


9

demam akhirnya dapat menderita kurang gizi.

Sebaliknya, anak yang mendapat makanan

makanan tidak cukup baik, daya tahan tubuhnya

dapat melemah. Dalam keadaan demikian mudah

terserang infeksi, kurang napsu makan, dan

akhirnya berakibat kurang gizi.

2. Penyebab tidak langsung, yaitu:

a) Ketahanan pangan keluarga, yaitu kemampuan

keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan

seluruh anggota keluarga dalam jumlah yang

cukup dan baik mutu gizinya. Ketahanan pangan

keluarga mencakup ketersediaan pangan baik dari

hasil produksi sendiri maupun dari sumber lain

atau pasar, harga pangan dan daya beli keluarga

serta pengetahuan tentang gizi dan kesehatan.

b) Pola pengasuh anak, meliputi sikap dan perilaku

ibu atau pengaruh lain dalam kedekatannya

dengan anak, memberikan makan merawat,

menjaga kebersihan , memberi kasih sayang, dan

sebagainya.

c) Pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan,

yaitu akses dan keterjangkauan anak dan

keluarga terhadap air bersih dan pelayanan


10

kesehatan yang baik seperti imunisasi,

pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan,

penimbangan anak, pendidikan kesehatan dan gizi

serta sarana kesehatan yang baik. Semakin baik

ketersediaan air bersih yang cukup untuk

keluarga serta semakin dekat jangkauan keluarga

terhadap pelayanan dan sarana kesehatan,

ditambah peningkatan pemahaman ibu tentang

kesehatan, semakin kecil resiko anak terkena

penyakit dan kekurangan gizi.

c. Cara Penentuan Status Gizi

Penilaian status gizi dibagi menjadi 2 yaitu secara

langsung dan tidak langsung. Penilaian status gizi

secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian

yaitu antopometri, klinis, biokimia, dan biofisik

sedangkan penilaian status gizi tidak langsung dapat

dibagi tiga yaitu : survey konsumsi makanan, statistic

vital dan faktor ekologi. Dalam penelitian ini, untuk

menentukan status gizi digunakan indeks antopometri

( Supariasa,2001)

Penilaian status gizi terdapat dua cara, yaitu

metode langsung dan tidak langsung. Penilaian status

gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat


11

penilaian yaitu, antopometri, klinis, biokimia dan biofisik.

Metode tidak langsung dibagi tiga yaitu dengan survey

konsumsi makanan, statistic vital dan faktor ekologi

yang berdasarkan pada lingkungan, social, ekonomi dan

budaya, serta data-data kesakitan ataupun kematian

(Supariasa,2002).

Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi

berkaitan dengan agens (penyakit), host (penjamu) dan

environment (lingkungan). Status gizi dipengaruhi oleh

asupan makanan, penyakit infeksi, serta faktor ekologi

sebagai interaksi beberapa faktor fisik, biologis, dan

lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia

tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah,

irigasi, dan sebagainya (Supariasa,2002).

Indeks antopometri yang umum digunakan dalam

menilai status gizi adalah yang pertama Indikator BB/U

yaitu Indikator BB/U dapat normal, lebih rendah atau

lebih tinggi setelah dibandingkan dengan standar WHO.

Apabila BB/U normal digolongkan pada status gizi

buruk. BB/U rendah dapat berarti berstatus gizi kurang

atau buruk BBU/U tinggi dapat digolongkan berstatus

gizi lebih. Kelebihannya dapat dengan mudah dan cepat

dimengerti oleh masyarakat umum, sensitive untuk


12

melihat perubahan status gizi dalam jangka waktu

pendek dan dapat mendekteksi kegemukan, sedangkan

kelemahannya interprestasi status gizi dapat keliru

apabila terdapat oedema data umur yang akurat sering

sulit diperoleh kesalahan pada saat pengukuran karena

pakaian anak yang tidak dilepas dan anak bergerak,

dan masalah social budaya setempat yang

mempengaruhi orang tua untuk tidak menimbang

anaknya karena dianggap seperti barang dagangan.

Kedua indicator TB/U, yaitu mereka yang diukur

dengan indicator TB/U dapat dinyatakan TB-nya normal,

kurang dan tinggi menurut standar WHO. Bagi yang

TB/U kurang menurut WHO dikategorikan stunded yang

diterjemahkan “sebagai pendek tak sesuai umurnya”.

Tingkat keparahannya dapat digolongkan menjadi ringan,

sedang dan berat. Hasil pengukuran mengga,barkan

status gizi masa lampau. Seseorang yang tergolong

pendek tak sesuai umur kemungkinan keadaan gizi

masa lalu tidak baik. Berbeda dengan berat badan

rendah yang diukur dengan BB/U yang mungkin dapat

diperbaiki dalam waktu pendek, baik pada anak maupun

dewasa. Indikator TB/U menggabarkan status gizi masa

lampau : Kelebihannya yaitu dapat memberikan


13

gambaran riwayat gizi masa lampau dan dapat dijadikan

indicator keadaan social ekonomi penduduk.

Kelemahannya kesulitan dalam melakukan pengukuran

panjang badan pada kelompok usia balita, tidak dapat

menggambarkan keadaan gizi saat ini, memerlukan data

umur yang akurat yang sering sulit diperoleh di Negara-

negara berkembang, kesalahan sering dijumpai pada

pembacaan skala ukur, terutama bila dilakukan oleh

petugas non professional.

Ketiga indicator BB/TB yaitu pengukuran

antopometri terbaik adalah menggunakan indicator

BB/TB. Ukuran ini dapat menggambarkan status gizi

saat ini dengan lebih sensitive dan spesifik. Artinya

mereka yang BB/TB kurang, dikategorikan sebagai kurus

atau wasted. Indikator BB/TB ini diperkenalkan oleh Jelife

pada tahun 1996 dan merupakan indicator yang baik

untuk menilai status gizi saat ini, terutama bila data

umur yang akurat sulit diperoleh. Oleh karena itu

indicator BB/TB merupakan indicator independent

terhadap umur. Kelebihannya yaitu independent terhadap

umur dan ras, dapat menilai satus”kurus” dan “gemuk”

dan keadaan marasmus atau KEP berat lain.

Kelemahannya yaitu kesalahan pada saat pengukuran


14

karena pakaian anak tidak dilepas atau bergerak terus,

masalah social budaya setempat yang mempengaruhi

orang tua untuk tidak menimbangkan anaknya karena

dianggap seperti barang dagangan, kesulitan dalam

melakukan pengukuran panjang atau tinggi badan anak

pada kelompok balita, kesalahan sering dijumpai pada

pembacaan skala ukur terutama bila dilakukan oleh

petugas non professional, tidak dapat memberikan

gambaran apakah anak tersebut pendek normal atau

panjang (Soekirma, 2002).

d. Penilaian Status Gizi

Penilaian status gzi dapat dinilai dari pengukuran

antopometri. Secara umum arti dari antopometri yaitu

ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi

(Gibson, 2005).

Antoprometri sangat umum digunakan untuk

mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan

antara asupan protein dan energy, biasanya terlihat dari

pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh

seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh ( Gibson,

2005 ).

Pengukuran Antrpometri ada beberapa cara yaitu

dengan indeks massa tubuh (IMT) dan Z-score. Untuk


15

menentukan indeks massa Tubuh (IMT) seseorang

digunakan rumus sebagai berikut :

IMT = Berat Badan (Kg)

Tinggi Badan (M²)

Z- score digunakan untuk mengukur status gizi anak-

anak hingga usia 17 tahun. Z-score dapat dibagi dalam tiga

perhitunngan yaitu BB/U menggambarkan status gizi saat

ini. TB/U menggambarkan status gizi masa lalu dan erat

kaitannya dengan social ekonomi, BB/TB berat badan

berhubungan linier dengan tinggi badan, dapat melihat

status gizi sekarang, dan independen terhadap umur

(Supariasa, 2002)

e. Indeks Masa Tubuh (IMT) Berdasarkan Umur (IMT/U).

Saat ini untuk mengetahui status gizi anak dalam

masa pertumbuhan dapat menggunakan IMT untuk

anak, atau IMT berdasarkan umur. IMT/U merupakan

cara atau alat untuk memantau status gizi anak yang

berusia 2 hingga 20 tahun. Nilai IMT normal untuk

kelompok umur yang berbeda tergantung nilai z-score

IMTnya. Untuk mengetahui nilai IMT/U langkah pertama

yang telah dijelaskan kemudian hasil perhitungannya

disklasifikasi menurut tabel IMT/U menurut Z-score.


16

Keuntungan menggunakan IMT/U yaitu lebih sensitive

untuk remaja yang sedang tumbuh dan dapat

diklasifikasikan sebagai status gizi kurus, normal dan

gemuk.(Dr Andy Hartono,2000)

Menurut WHO (2005), yang tertuang dalam

keputusan Mentari Kesehatan Republik Indonesia Nomor :

1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang standar antopometri

penilaian status gizi anak, kategori dan ambang batas

status gizi anak dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1
Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak

Indeks Kategori Status Gizi Ambang batas (z-


score)
Indeks Massa Sangat Kurus <-3 SD
Tubuh Menurut Kurus -3 SD sampai dengan <-
2 SD
Umur ( IMT/U) Normal -2 SD sampai dengan
1 SD
Anak umur Gemuk > 1 SD sampai dengan
2 SD
5.18ahun Obesitas > 2 SD
Sumber : (WHO, 2005)

2. Asupan Energi
Makanan yang bergizi dapat memberikan untuk
melakukan kegiatan atau aktivitas, makanan bergizi juga
berfungsi untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan
tubuh serta mengatur proses tubuh (Almatsier,2004).
17

Energi diperlukan untuk kelangsungan proses-proses di

dalam tubuh seperti proses peredaran dan sirkulasi darah,

denyut jantung, pemafasan, pencernaan, proses fisiologis

lainnya, untuk bergerak atau melakukan pekerjaan fisik.

Energi dalam tubuh dapat tibul karena adanya pembakaran

karbohidrat, protein dan lemak, karena itu agar energy

tercukupi perlu pemasukan makanan yang cikup dengan

mengkonsumsi makanan yang cukup dan seimbang. Protein

diperlukan oleh tubuh untuk membangun sel-sel yang

rusak, membentuk zat-zat pengatur seperti enzim dan

hormone, membentuk zat anti energy dimana tiap gram

protein menghasilkan sekitar 4,1 kalori (Kartasapoetra &

Marsetyo,2003).

Kekurangan energy terjadi akibat dari asupan energy

yang tidak cukup memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan

oleh tubuh, maka tubuh akan mengambil simpanan

gilkogen dalam tubuh dan diubah menjadi energy. Jika hal

itu terus terjadi maka tubuh akan menjadi kurus, status gizi

pun akan menjadi kurang, bahkan daya tahan tubuh

menjadi lemah. Sedangkan kebutuhan energy akan diubah

menjadi lemak tubuh sehingga berat badan berlebih atau

kegemukan. (Almatsier,2004).
18

Menurut Hardinsyah (2002), kebutuhan gizi antar

individu yang berat badannya relative sama dan berasal

dari kelompok umur yang sama dapat bervariansi.

Namum variasi kebutuhan energy lebih kecil dibanding

dengan variasi kebutuhan protein dan zat gizi lainnya

pada kelompok umur yang sama. Hal ini dikarenakan

energy dapat disimpan di dalam tubuh dalam bentuk

lemak yang dapat diubah kembali menjadi energy dan

digunakan pada kesempatan lainnya bila kekurangan

energy.

Energi merupakan salah satu hasil metabolisme

dari karbohidrat, protein, dan lemak. Energi berfungsi

sebagai zat tenaga untuk metabolisme, pertumbuhan,

pengaturan suhu dan kegiatan fisik. Kelebihan energy

disimpan tubuh sebagai cadangan energy dalam bentuk

lemak sebagai cadangan jangka panjang (Hardinsyah &

Tambunan 2004).

Asupan energy pada seseorang dapat menentukan

tercapainya tingkat kesehatan, apabila tubuh berada

dalam tingkat kesehatan yang optimum dimana jaringan

penuh oleh semua zat gizi, maka tubuh akan

mempunyai daya tahan tubuh yang tinggi terhadap

serangan penyakit. Apabila asupan energy pada


19

seseorang tidak seimbang dengan kecukupan gizi tubuh

maka akan terjadi gizi kurang atau bahkan gizi buruk

(Notoatmodjo,2005).

Kebutuhan energy seorang ditaksir dari kebutuhan

energy untuk komponen-komponen sebagai berikut : 1)

Angka Metabolisme Basal/AMB : 2) Aktifitas fisik : 3)

Pengaruh Dinamik Khusus Makanapn/SDA (dapat

diabaikan). Kebutuhan energy terbesar pada umumnya

diperlukan untuk metabolisme basal. Kebutuhan energy

basal atau AMB pada dasarnya ditentukan oleh ukuran

dan komposisi tubuh serta umur. AMB per kg berat

badan lebih tinggi pada orang pendek dan kurus serta

lebih rendah pada orang tinggi dan gemuk. Penggunaan

energy diluar AMB bagi bayi dan anak selain untuk

pertumbuhan adalah untuk bermain dan sebagainya.

Pada usia remaja (10-18 tahun), terjadi proses

pertumbuhan jasmani yang pesat serta perubahan

bentuk dan susunan jaringan tubuh, juga aktivitas yang

tinggi (Almatsier 2003).

3. Asupan Protein

Didalam tubuh, protein mempunyai peranan yang

sangat penting. Fungsi utamanya sebagai zat pembangun

atau pembentuk struktur sel, misalnya untuk pembentukan


20

otak rambut, kulit, membrane sel, jantung, hati, ginjal, dan

beberapa organ penting lainnya. Kemudian terdapat pula

protein yang mempunyai fungsi khusus, yaitu protein yang

aktif. Beberapa diantaranya adalah enzim yang bekerja

sebagai biokatalisator, hemoglobin sebagai pengangkut

oksigen, hormon sebagai pengatur metabolisme tubuh dan

antibody untuk mempertahankan tubuh dari serangan

penyakit (Sirajuddin,2010).

Protein seperti halnya karbohidrat dan lemak

dibangun oleh unsur Karbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen

(O), tetapi juga protein mengandung unsur Nitrogen (N),

nitrogen yang terkandung dalam protein yaitu sebesar 16%.

Unit pembangun dalam semua jenis protein adalah asam

amino. Berbagai jenis asam amino membangun sel dan

jaringan tubuh yang sangat spesifik, seperti kolagen terletak

dalam jaringan ikat tubuh, myosin dalam jaringan otot,

hemoglobin dalam sel darah merah, sel enzim dan

hormone insulin (Sudiarti,2007).

Menurut Moehji (2003) protein terbentuk dari asam-

asam amino yang dirangkaikan oleh ikatan peptide. Fungsi

protein antara lain membangun jaringan tubuh baru,

memperbaiki jaringan tubuh, menghasilkan senyawa

esensial, mengatur tekanan osmotic, mengatur


21

keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa,

menghasilkan pertahanan tubuh, menghasilkan mekanisme

transportasi, dan menghasilkan energy.

Berdasarkan sumbernya, protein dibedakan sebagai

protein hewani dan protein nabati. Sumber protein hewani

antara lain daging, dan organ-organ dalam seperti hati,

pancreas, ginjal paru-paru, jantung dan jeroan (babat, usus

halus, dan usus besar). Susu dan telur termasuk juga

sumber protein hewani berkualitas tinggi. Selain itu, ikan

kerang dan jenis udang merupakan kelompok sumber

protein yang baik karena mengandung sedikit lemak

(Nilawati 2008). Menurut Almatsier (2003) sumber protein

nabati adalah kacang keledai dan hasilnya seperti, tahu dan

tempe, serta kacang-kacangan. Selain itu, adanya berbagai

responden yang memiliki asupan protein yang cukup, tetapi

malah ada beberapa responden yang memiliki status gizi

yang buruk. Hal ini diduga karena asupan gizi dan

penyakit infeksi. Timbulnya KEP tidak hanya karena

makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit. Anak

yang mendapat makanan yang cukup baik tetapi sering

menderita diare atau deman, akhirnya akan menderita

kurang gizi. Adanya responden yang mengalami defisit

dalam asupan protein kemungkinan dikarenakan faktor


22

ekonomi, kebiasaan makan, ketersediaan bahan makanan,

social budaya, dan lain-lain. Setidaknya ada 4 faktor yang

melatarbelakangi KEP, yaitu : Masalah social, ekonomi,

biologi, dan lingkungan. Salah satu masalah social ekonomi

dan lingkungan yang sangat berpengaruh adalah

kemiskinan yang merupakan akar dari ketiadaan pangan

tempat tinggal yang tidak bersih dan sehat serta

ketidakmampuan menggunakan fasilitas kesehatan.

Komponen biologi yang menjadi latar belakang KEP antara

lain malnutrisi ibu, baik sebelum maupun selama hamil,

penyakit infeksi, serta diet rendah energy protein (Arisman,

2004).

Faktor penyebab KEP dibagi menjadi 2, yakni

penyebab langsung dan penyebab tidak langsung.

Penyebab langsung yaitu makanan anak dan penyakit

infeksi yang mungkin diderita anak. Timbulnya KEP tidak

hanya karena makanan yang kurang, tetapi juga karena

penyakit. Anak yang mendapat makanan yang cukup baik

tetapi sering diserang diare atau demam, akhirnya mudah

terserang KEP. Dalam kenyataan keduanya (makanan dan

penyakit) secara bersama-sama merupakan penyebab KEP.

Selanjutnya adalah penyebab tidak langsung yaitu

ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak,


23

serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan

(Soekirman,2000).

Protein merupakan zat gizi yang paling banyak

terdapat dalam tubuh. Fungsi utama protein adalah

membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.

Fungsi lain dari protein adalah menyediakan asam amino

yang diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan

metabolism, mengatur keseimbangan air, dan

mempertahankan kenetralan asam basa tubuh

(Almatsier,2005).

Protein selain untuk membangun struktur tubuh

(pembentukan berbagai jaringan) juga akan disimpan untuk

digunakan dalam keadaan darurat sehingga pertumbuhan

atau kehidupan dapat terus terjamin dengan wajar.

Kekurangan protein yang terus menerus akan menimbulkan

gejala yaitu pertumbuhan kurang baik, daya tahan tubuh

menurun, rentam terhadap penyakit, daya kreatifitas dan

daya kerja merosot, mental lemah dan lain-lain

(Kartasapoeta & Marsetyo,2003).

Asupan makanan pada anak perempuan lebih

sedikit dari pada anak laki-laki, termasuk asupan protein,

padahal bagi remaja perempuan membutuhkan asupan

protein lebih banyak karena lebih membutuhkan asupan zat


24

besi yang berada di pada protein, karena pada remaja

perempuan mengalami menstruasi (Arisman,2004).

Sumber makanan yang paling banyak mengandung

protein berasal dari bahan makanan hewani, seperti telur,

susu, daging, unggas, ikan dan kerang. Sedangkan sumber

protein nabati berasal dari tempe, tahu, dan kacang-

kacangan. Catatan Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun

1999, menunjukkan secara nasional konsumsi protein sehari

rata-rata penduduk Indonesia adalah 48,7 gram sehari.

Anjuran asupan protein berkisar antara 10-15% dari total

energy (Almatsier,2005).

Pemberian atau penyediaan makanan bergizi

keluarga, dapat dipengaruhi oleh pengetahuan ataupun

pendapatan keluarga, selain itu ada beberapa hal yang

akan berpengaruh yaitu kurangnya pengetahuan akan

bahan makanan yang bergizi, pantangan-pantangan yang

secara tradisional masih berlaku, dan keeganan untuk

mengkonsumsi bahan makanan murah yang walaupun

mereka ketahui banyak mengandung zat gizi (Kartasapoetra

% Marsetyo.2003).

Kemungkinan terjadinya kekurangan gizi pada

seseorang dapat dilakukan dengan melakukan penilaian

konsumsi makanan yang dapat dilakukan dengan


25

menghitung intake zat-zat gizi sehari. Penilaian konsumsi

makanan adalah salah satu metode yang digunakan dalam

penentuan status gizi perorangan atau kelompok, rumah

tangga dan perorangan serta faktor-faktor yang

berpengaruh terhadap konsumsi makanan tersebut

(Supariasa,2001).

Protein dalam tubuh harus tercukupi, karena protein

memiliki peran dalam tubuh manusia. Fungsi dari protein

yaitu :

a. Pertubuhan dan Pemeliharaan

Sebelum sel-sel dapat mensintesis protein baru,

harus tersedia semua asam amino esensial yang

diperlukan dan cukup nitrogen guna pembentukan asam-

asam amino nonesensial yang diperlukan. Pertumbuhan

atau penambahan otot hanya mungkin bila tersedia

cukup campuran asam amino yang sesuai termasuk

untuk pemeliharaan dan perbaikan.

b. Pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh

Hormon-hormon seperti tiroid, insulin dan epinefrin

adalah protein, demikian pula berbagai enzim. Ikatan-

ikatan kimia ini bertindak sebagai katalisator atau

membantu perubahan-perubahan biokimia yang terjadi di

dalam tubuh.
26

c. Mengatur keseimbangan air

Cairan tubuh terdapat di dalam tiga komponen

yaitu intraseluler (di dalam sel), ekstraseluler/interseluler

(di antara sel) dan intravascular (di dalam pembuluh

darah). Distribusi cairan di dalam kompartemen ini harus

dijaga dalam keadaan seimbang atau homeostatis.

Keseimbangan ini diperoleh melalui system kompleks

yang melibatkan elektrolit dan protein.

d. Memelihara netralitas tubuh

Protein tubuh bertindak sebagai buffer, yaitu

bereaksi dengan asam dan basa untuk menjaga Ph

pada taraf konstan.

e. Pembentukan antibody

Kemampuan tubuh untuk melakukan detoksifikasi

terhadap bahan-bahan racun dikontrol oleh enzim-enzim

yang terutama terdapat dalam hati. Dalam keadaan

kekurangan protein kemampuan tubuh untuk

menghalangi pengaruh toksik bahan-bahan racun ini

berkurang.

f. Mengangkut zat-zat gizi

Protein memegang peranan esensial dalam

memgangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui

dinding saluran cerna ke dalam darah, dari darah ke


27

jaringan-jaringan, dan melalui membran sel ke dalam

sel-sel. Sebagian besar yang mengangkut zat-zat gizi ini

adalah protein. (Almatsier,2004).

Jika protein dalam tubuh mengalami kekurangan

maka pertumbuhan akan terhambat. Pada masa anak-

anak protein sangat diperlukan karena untuk mencapai

pertumbuhan yang optimal, sedangkan jika kelebihan

protein dapat menyebabkan obesitas, asidosis, kenaikan

amoniak darah, kenaikan ureum darah dan demam

pada bayi (Almatsier,2004).

1. Kecukupan Asupan Energi dan Protein

Untuk klasifikasi dari tingkat konsumsi kelompok/rumah

tangga atau perorangan, belum ada standar yang pasti.

Berdasarkan buku pedoman petugas gizi puskesmas,

Supariasa (2001), klasifikasi tingkat konsumsi dibagai

menjadi empat dengan cut of points masing-masing adalah

baik jika >- 100% AKG, sedang 80-99%, kurang 70-80%,

dan deficit < 70%

2. Hubungan Asupan Energi Protein dan status Gizi

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi

seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi

bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan

secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik,


28

perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan

secara umum. Status gizi kurang terjadi bila tubuh

mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial.

Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi

dalam jumlah berlebihan. Baik status gizi kurang atau pun

status gizi lebih terjadi gangguan gizi, gangguan gizi

disebabkan oleh faktor primer atau sekunder, faktor primer

adalah bila asupan makanan seseorang salah dalam

kuantitas dan atau kualitasnya. (Almatsier,2004).

Asupan energy pada seseorang dapat menentukan

tercapainya tingkat kesehatan, apabila tubuh berada dalam

tingkat kesehatan yang optimum dimana jaringan penuh

oleh semua zat gizi, maka tubuh akan mempunyai daya

tahan tubuh yang tinggi terhadap serangan penyakit.

Apabila asupan energy pada seseorang tidak seimbang

dengan kecukupan gizi tubuh maka akan terjadi gizi kurang

atau bahkan gzi buruk (Notoatmodjo,2005).

Asupan yang berlebihan dapat berdampak tidak baik,

salah satu contohnya obesitas. Keadaan yang lebih parah

dapat terjadi pada obesitas yaitu berisiko tinggi terhadap

penyakit degenaratif seperti diabetes militus, hipertensi,

penyakit jantung coroner, kanker, dan bahkan kematian

(Soekirman,2006).
29

3. Penilaian Status Gizi Menggunakan Faktor Ekologi

a. Penyakit Infeksi

Penyakit infeksi merupakan penyebab langsung

pada masalah gizi. Hadirnya penyakit infeksi dalam

tubuh anak akan membawa pengaruh terhadap keadaan

gizi anak. Sebagai reaksi pertama akibat adanya infeksi

adalah menurunnya nafsu makan anak yang berarti

bahwa berkurangnya masukan (intake) zat gizi kedalam

tubuh anak. Keadaan merangsur memburuk jika infeksi

diserta muntah yang mengakibatkan hilangnya zat gizi.

Penyakit yang tidak mengurangi cadangan energy

sekalipun, jika berlangsung lama dapat menggangu

pertumbuhan karena hilangnya nafsu makan anak

(Arisman,2002).

Tubuh manusia secara kontinu terpajan pada

berbagai macam organisme mikroba yang berpotensi

patogenetik baik di lingkungannya maupun di dalam

dirinya sendiri, namum sebagian besar orang tidak

mengalami infeksi yang berulang atau terus-menerus.

Hal ini disebabkan oleh adanya seperangkat mekanisme

pertahanan yang kompleks (Mandal,2008).

Sumber penyakit infeksi adalah semua benda,

termasuk orang atau binatang yang dapat menyebabkan


30

penyakit pada seseorang. Sumber penyebab penyakit ini

dapat dikelompokka menjadi :

1) Golongan virus, misalnya influenza, trachoma, cacar,

dan sebagainya.

2) Golongan riketsia, misalnya thypus.

3) Golongan bakteri, misalnya disentri.

4) Golongan protozoa, misalnya malaria, filarial,

schistosoma, dan sebangainya.

5) Golongan jamur, yaitu bermacam-macam panu,

kurap,dan sebagainya

6) Golongan cacing, yaitu bermacam-macam cacing perut

seperti ascaris (cacing gelang) cacing kremi, cacing pita

,cacing tambang dan sebagainya.

Selain itu penyakit-penyakit ini dapat bersumber dari

manusia sendiri campak (measles) cacar air (small pox),thypus

(thypoid), miningtis, gonoirhoea dan shypilis. Manusia sebagai

resevoar dapat menjadi kasus yang aktif dan carrier

(Notoatmodja,2003).

Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunya nafsu

makan atau menibulkan kesulitan menelan dan mencema

makanan. (supariasa,2002)

a. Faktor fisik
31

Anak-anak yang sakit, yang sedang dalm

penyembuhan dan yang lanjut usia, semuanya memerlukan

pangan khusus karena status kesahatan meraka yang

buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk,

adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini

kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat

(supariasa 2002)

Munurut Hatriyanti (2007) pertumbuhan fisik seorang

anak dipergaruhi oleh dua faktor dominan yaitu lingkungan

dan genetis.

Kemampuan genetis dapat muncul secara optimal jika

didukung oleh faktor lingkungan yang kondusif, yang

dimaksud dengan faktor lingkuangan di sini intake

gizi.apabila tejadi tekanan terhadap dua faktor dia atas,

maka muncul growth flltering

b. Faktor biologis

Pengaruh genetikbersifat heredo-konsititusional yang

artinya bahwa bentuk untuk konstitusi seseorang ditentukan

oleh faktor keturunan. Faktor genetic akan berpengaruh

pada kecepatan pertumbuhan, kematangan tulang, gizi, alat

seksual, dan saraf. Faktor internal seperti biologis, termasuk

genetic dan factor factor eksternal seperti status gizi.

Faktor internal (genetic) antara lain termasuk berbagai


32

factor bawaan, jenis kelamin, obstetric dan ras atau

suku bangsa. Apabila potensi genetic ini dapat

berinteraksi dengan lingkungan yang tidak baik maka

akan menghasilkan gangguan pertumbuhan. Gangguan

pertumbuhan di Negara maju lebih sering diakibatkan

oleh factor genetic ini. Di Negara sedang berkembang,

gangguan pertumbuhan selain disebabkan oleh factor

genetic juga dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak

memungkinkan seseorang tumbuh secara optimal

(Supariasa,2002).

c. Faktor Lingkungan Budaya

Bagi manusia, lingkungan adalah segala sesuatu

yang ada di sekitarnya, baik berupa benda hidup,

benda mati, benda nyata ataupun benda abstrak,

termasuk manusia lainnya, serta suasana yang terbentuk

karena terjadinya interaksi diantara elemen-elemen di

alam tersebut. Lingkungan budaya dalam hal ini adalah

masyarakat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan anak dalam memahami atau

pempersepsikan pola hidup sehat (Juli Soemirat,2002).

Anak sekolah sangat mudah terpengaruh oleh

lingkungan. Kesibukan menyebabkan mereka memilih

makan di luar, atau menyantap jajanan. Lebih jauh lagi


33

kebiasaan ini dipengaruhi oleh keluarga, teman, dan

terutama iklan televise. Teman sebaya berpengaruh

besar pada anak sekolah dalam hal ini memilih jenis

makanan. Dan kebiasaan makan keluarga dan susunan

hidangan merupakan salah satu manifestasi kebudayaan

keluarga yang disebut life style (gaya hidup). Faktor-

faktor yang merupakan asupan (input) bagi terbentuknya

suatu life style keluarga ialah : penghasilan, pendidikan,

lingungan kota atau desa, susunan keluarga, pekerjaan,

suku bangsa, kepercayaan, pendapat tentang kesehatan,

pengetahuan gizi, produksi pangan. Tingkat obesitas

(status gizi lebih) sangat erat hubungannya dengan

proses modernisasi (akulturasi) dan meningkatnya

kemakmuran bagi sekelompok masyarakat. Pola hidup

kurang gerak (sedentary lifestyle) dan pola makan yang

mengkonsumsi makanan siap saji (fast food) telah

menjadi secular trend bagi masyarakat kita terutama di

kota-kota besar (Arisma,2004).

Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya

sinar matahari, mempunyai dampak yang negative

terhadap pertumbuhan anak. Kebersihan lingkungan

maupun kebersihan perorangan memegang peranan

penting dalam timbulnya penyakit. Demikian pula dengan


34

populasi udara baik yang berasal dari pabrik, asap

rokok atau asap kendaraan dapat menyebabkan

timbulnya penyakit. Anak sering sakit, maka tumbuh

kembangnya akan terganggu (Juli Soemirat,2002).


35

B. Kerangka Konsep

Berdasarkan pada masalah dan tujuan yang ingin

dicapai dalam penelitian ini, maka digambarkan kerangka

konsep sebagai berikut :

Asupan Energi

Asupan Protein
Status Giz

Anak SD

Penyakit infeksi

Gambar 1 : Kerangka Konsep

Keterangan :

= Variabel yang diteliti

= Variabel yang tidak diteliti


36

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian Studi

Kepustakaan (Library Research). dengan tujuan untuk mengetahui

Gambaran Asupan Energi Protein Dan Status Gizi Anak

Sekolah Di Sekolah Dasar.

B. Sumber Data Penelitian

Sumber data yang menjadi bahan penelitian ini berupa jurnal

penelitian, review jurnal, annual report, buku dan data-data yang

berkaitan dengan Gambaran Asupan Energi Protein Dan Status

Gizi Anak Sekolah Di Sekolah Dasar.

C. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

1. Teknik pengumpulan

Data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, yaitu mencari

data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, buku,

makalah atau artikel, jurnal dan sebagainya. Pencarian literatur

dilakukan dengan menggunakan mesin pencari google di internet

dengan kata kunci Gambaran Asupan Energi Protein Dan

Status Gizi Anak Sekolah Di Sekolah Dasar.

2. Instrumen penelitian

Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah daftar

check-list klasifikasi bahan penelitian, skema/peta penulisan

dan format catatan penelitian


37

D. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode analisis isi (Content Analysis). Analisis ini digunakan untuk

mendapatkan inferensi yang valid dan dapat diteliti ulang berdasarkan

konteksnya (Kripendoff, 1993). Dalam analisis ini akan dilakukan

proses memilih, membandingkan, menggabungkan dan memilah

berbagai pengertian hingga ditemukan yang relevan (Serbaguna,

2005). Untuk menjaga kekelan proses pengkajian dan mencegah

serta mengatasi mis – informasi ( Kesalahan pengertian manusiawi

yang bisa terjadi karena kekurangan penulis pustaka) maka dilakukan

pengecekan antar pustaka dan memperhatikan komentar pembimbing

(Sutanto, 2005).
38

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Dari studi literature didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Asupan Energi Anak Sekolah Dasar

No Penulis, Judul Tujuan Jenis Instrumen Hasil


Tahun Penilitian/ Penilitian
Artikel
1. Baiq Hubungan Antara penelitian ini Penelitian adalah Recall 24 Penelitian
Qamariyah, Asupan Energi, Zat adalah observasional jam menunjukkan
Triska Susila Gizi Makro dan mempelajari analitik dengan bahwa sebagian
Nindya, 2018 Total Energy hubungan rancang studi cross- besar status gizi
Expenditure dengan antara asupan sectional yang siswa normal
Status Gizi Anak energi, zat gizi dilaksanakan di (69,7%).
Sekolah Dasar makro dan total SDN Pacarkembang Terdapat
energy 1 Surabaya pada hubungan
expenditure Juli 2017. Sampel signifikan antara
dengan status Penelitian adalah asupan energi
gizi anak siswa kelas 4 dan 5 (p=0,000), protein
sekolah dasar. sebanyak 66 orang (0,017), lemak
yang diambil (p=0,040),
dengan simple karbohidrat
random sampling. (p=0,001) dan
total energy
expenditure
39

(p=0,000) dengan
status gizi anak
sekolah dasar.
2. riska Hubungan asupan Mengetahui Menggunakan Data Hubungan
kusumaningru energi dan asupan hubungan metode cross Asupan asupan energi
m¹, dewi pertiwi protein dengan asupan energi sectional. Sampel diperoleh dengan status
dyah status gizi anak min dan asupan yang diambil adalah dari Recall gizi diperoleh nilai
kusudaryati², ketitang nogosari protein dengan anak kelas 3, 4, dan 24 jam, p=0,826.
retno dewi boyolali status gizi anak 5 sebanyak 52 data status Hubungan
noviyanti, 2017 MIN Ketitang sampel dengan gizi (IMT/U) asupan protein
Nogosari simpel random diperoleh dengan status
Boyolali sampling. dari gizi diperoleh nilai
pengukuran p=0,167.
BB dan TB Kesimpulan:Tidak
ada hubungan
asupan energi
dan asupan
protein dengan
status gizi anak
MIN Ketitang
Nogosari
Boyolali.
3. Erisa hubungan antara Mengetahui Jenis penelitian ini formulir Rata-rata
permatasari, kecukupan energi hubungan adalah penelitian recall 24 kecukupan energi
2018 dan protein dengan kecukupan observasional jam, status responden
status gizi pada energi dan dengan gizi tergolong sedang
anak di panti protein dengan menggunakan diperoleh yaitu sebesar
asuhan keluarga status gizi pendekatan cross dengan 90,5 %. Rata-rata
40

yatim pada anak di sectional. melakukan kecukupan


muhammadiyah Panti Asuhan pengukuran protein
Surakarta Keluarga Yatim antropometr responden
Muhammadiya i yaitu berat tergolong sedang
h Surakarta. badan dan yaitu 91,2%.
tinggi Responden yang
badan. memiliki status
gizi normal
sebanyak (83%),
kurus (10,6%),
gemuk (4,3%),
obesitas (2,1%).
Kecukupan
energi dengan
status gizi
menurut IMT/U
(p= 0,000 , r=
0,754).
Kecukupan
protein dengan
status gizi
menurut IMT/U
(p= 0,000 , r=
0,763). Simpulan
: Terdapat
hubungan yang
signifikan antara
kecukupan energi
41

dengan status
gizi pada anak.
Terdapat
hubungan antara
kecukupan
protein dengan
status gizi pada
anak. Perlu
adanya
pengaturan
asupan makanan
yang mengacu
pada menu
seimbang untuk
mencapai status
gizi yang
optimal. Hal
tersebut
dimaksudkan
untuk
memberikan
makanan yang
bergizi agar
menurunkan
risiko masalah
gizi.
42

*
4 Reanita J. Hubungan antara Tujuan Penelitian ini Berdasarka Berdasarkan
Markus*, asupan energi penelitian ini bersifat survei n metode hasil uji rank
Nancy S.H. dengan status gizi yaitu untuk analitik dengan food recall spearman nilai p=
Malonda*, pada anak kelas 4 menganalisis pendekatan cross 24 jam 0,000 (<0,05) dan
Maureen I. dan 5 sd negeri hubungan sectional study. didapati nilai r sebesar
Punuh* 2016 matungkas antara asupan Jumlah sampel gambaran 0,856. Hal ini
kecamatan energi dengan sebanyak 86 asupan menunjukkan
dimembe kabupaten status gizi responden dengan energi bahwa terdapat
minahasa utara pada anak menggunakan paling hubungan antara
reanita kelas 4 dan 5 teknik proportional banyak asupan energi
SD Negeri stratified sampling. kategori dengan status
Matungkas cukup yaitu gizi IMT/U pada
Kecamatan 81,4% dan anak kelas 4 dan
Dimembe berdasarka 5 SD Negeri
Kabupaten n IMT/U Matungkas
Minahasa didapati Kecamatan
Utara. paling Dimembe
banyak Kabupaten
dengan Minahasa Utara
kategori dan nilai r
normal yaitu menunjukkan
80,2%. bahwa hubungan
antara asupan
energi dengan
status gizi
43

tergolong sangat
kuat dimana
semakin tinggi
asupan energi,
status gizi pun
meningkat.
Konsumsi
makanan yang
beragam pada
anak diperlukan
untuk
pemenuhan
status gizi pada
anak.

5 Junus Hubungan antara Penelitian ini Penelitian ini penelitian Analisis data
Fenanlambir*, asupan, energi, bertujuan bersifat observasi menggunak menggunakan
Nancy S. H. dengan status gizi mengetahui analitik dengan an analisis univariat
Malonda*, pada anak sekolah hubungan pendekatan cross kuesioner, dan bivariate
Anita Basuk dasar kelas 4 dan 5 asupan energi sectional. Sampel formulir dengan uji
2016 sdn 21 kelurahan dengan status diambil dengan food recall statistik yaitu
bahu kecamatan gizi anak teknik total sampling 24 jam, alat korelasi
malalayang kota sekolah dasar sebanyak 72 anak. tulis Spearman pada
manado di SDN 21 menulis, tingkat
Kelurahan program kemaknaan 95%
Bahu nutrisurvey (α=0,05).
Kecamatan Berdasarkan hasi
Malalayang uji korelasi
44

Kota Manado Spearman terlihat


taraf signifikan
atau nilai P
sebesar 0,000
(<0,05) dan nilai
koefisien korelasi
sebesar 0,844.
Hal ini
menunjukan
bahwa terdapat
hubungan antara
asupan energi
dengan status
gizi IMT/U pada
anak Sekolah
Dasar Negeri 21
Kelurahan Bahu
Kecamatan
Malalayang Kota
Manado. Hal ini
menunjukan
bahwa ada
hubungan antara
asupan energi
dengan status
gizi tergolong
kuat karena
memiliki nilai
45

koefisien korelasi
(r = 0,844),
46

B. Pembahasan

1. status gizi

Berdasarkan penelitian Qamariyah dkk, 2018, mendapatkan

bahwa Asupan energi dan zat gizi makro karbohidrat, protein,

lemak dan total energy berhubungan dengan status gizi anak

sekolah dasar. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa

rata – rata asupan energi pada siswa status gizi obesitas

adalah 1917,64 kkal dan siswa status gizi normal adalah

1600,13 kkal. Hasil analisi uji statistik menunjukkan bahwa

asupan energi berhubungan signifikan dengan status gizi anak

sekolah dasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian

besar status gizi siswa normal (69,7%).

2. Asupan energy

Penelitian yang dilakukan oleh Rahmaniah, dkk (2014)

dengan hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan antara

asupan energi dan protein. Vertikal (2012) Bahwa status gizi

yang tidak baik disebabkan asupan energi maupun protein

tidak baik selain itu disebabkan karena faktor ekonomi keluarga

yang kurang sehingga menyebabkan terbatasnya daya beli

terhadap bahan makanan sehingga mempengaruhi variasi

menu yang disajikan. Selain itu penyakit infeksi turut

mempengaruhi asupan makanan dan status gizi dari anak.

Perbedaan hasil penelitian ini dapat dipengaruhi oleh


47

pendidikan yang berbeda, semakin berpendidikan seseorang

maka pengetahuan akan kesehatan dan status gizi semakin

tinggi (Vertikal, 2012).

3. Asupan protein

Sedangkan untuk asupan protein menunjukkan tidak

terdapat hubungan antara asupan protein dan status gizi yang

berarti menunjukan korelasi positif yang artinya apabila asupan

protein meningkat maka status gizi semakin baik. Penelitian ini

sejalan dengan penelitian Vertikal (2012) tidak ada hubungan

yang bermakna antara asupan protein dan status gizi lebih

anak SD Negri Pondok. Akan tetapi hasil penelitian Mariani

(2002) terdapat hubungan antara konsumsi protein dengan

status gizi anak balita. Meskipun beberapa penelitian

menunjukkan beberapa hubungan asupan protein dengan

status gizi balita, namun mengingat banyaknya faktor yang

mempengaruhi status gizi. Selain itu pada anak usia 6-12 tahun

banyak yang mempengaruhi kebiasaan makan mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh Erisa permatasari, 2018

menunjukan bahwa rata-rata kecukupan energi 90.5±11.83

dengan nilai minimum 63.8 yang tergolong kategori kecukupan

energi kurang dan nilai maksimum 129.9 yang tergolong


48

kategori kecukupan energi lebih jika dibandingkan dengan

Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Penelitian yang dilakukan Angela dkk, 2016 juga

menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara asupan energi

dan protein dengan status gizi pada BB/U pada anak balita.

Dimana dalam penelitian ini terdapat banyak anak yang

semakin baik asupan energi maka semakin baik pula status

gizinya. Menurut Suhardjo dan Kusharto (1988) dalam Prinsip-

Prinsip Ilmu Gizi, seseorang tidak dapat bekerja dengan energi

yang melebihi dari apa yang diperoleh dari makanan kecuali

jika meminjam atau menggunakan cadangan energi dalam

tubuh, namun kebiasaan ini akan dapat mengakibatkan

keadaan yang gawat yaitu kurang gizi (Kartasapoetra dan

Marsetyo, 2010)

Penelitian Markus dkk, 2016 juga mendapatkan Berdasarkan

uji statistik rank spearman didapati hasil p value untuk hubungan

asupan energi dengan status gizi berdasarkan indeks antropometri

IMT/U diperoleh hasil untuk nilai p=0,000 dan r=0,856. Nilai p lebih

kecil dibandingkan dengan nilai α 0,05. Artinya terdapat hubungan

yang signifikan antara asupan energi dengan status gizi pada anak

kelas 4 dan 5 berdasarkan indeks antropometri IMT/U dengan nilai

korelasi koefisien sangat kuat.. Hal ini sejalan dengan penelitian

yang dilakukan oleh Sorongan (2016) yang menyatakan ada


49

hubungan antara asupan energi dengan status gizi berdasarkan

indeks IMT/U. Penelitian ini selaras dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Pahlevi (2012) terdapat hubungan antara asupan

energi dengan status gizi pada anak Sekolah Dasar. Hal ini tidak

sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Regar (2012) tidak

terdapat hubungan antara asupan energi dengan status gizi anak.


50

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Berdasarkan studi literature didapatkan :

1. Asupan energy pada anak sekolah Dasar rata kurang baik

2. Asupan protein pada anak Sekolah Dasar rata-rata kurang baik

3. Status gizi pada anak sekolah di Sekolah Dasar rata-rata baik

4. Terdapat hubungan antara asupan energy dan protein dengan

status gizi anak sekolah dasar.

B. Saran

1. Kepada ibu-ibu agar memperhatikan pola makan anak

dirumah sehingga anak masuk dalam kategori status gizii

normal .

.
51

Anda mungkin juga menyukai