KELOMPOK
1. Ferra Rezkiana.Devy (1925904)
2. Lia Maulani (1925905)
3. Rosita Fisiantantri Agustin (1925907)
4. Fika Ayu Rita Putri (1925908)
5. Khory Aula Fahzia (1925909)
6. Rifqi Miftakhul Ma’ruf (1925912)
Kapita Selekta
UAV
(Unmanned Aerial Vehicle)
UAV
UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau biasa disebut dengan
drone adalah sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan
kendali jarak jauh. Sekarang ini pemanfaatan UAV sangat luas
salah satunya di bidang pemetaan.
Secara garis besar, pelaksanaan akuisisi data UAV
dibagi menjadi dua bagian, yaitu pengambilan data
(image acquisition) dan pengolahan data (image
processing).
Proses image acquisition adalah kesatuan proses
yang meliputi seluruh data wilayah survey.
Proses image processing adalah kesatuan proses
post-processing yang dilakukan untuk
mendapatkan sajian informasi keruangan dari
analisis keruangan yang dibutuhkan.
PROSES AKUISISI DATA UAV
Flight planning UAV Installation Transferring Plan
Recovering Flight UAV Launching
(Landing) Monitoring (Take-off)
Diagram alir proses akuisisi data UAV
INPUT DATA UAV
• Data yang dihasilkan UAV adalah foto yang • GCP (Ground Control Point), yaitu titik-
saling bertampalan. titik yang letaknya pada suatu posisi
piksel suatu citra yang koordinat petanya
(referensinya) diketahui.
PROSES PENGOLAHAN DATA UAV
Pengolahan data UAV dapat dilakukan dengan bantuan beberapa software, salah satunya software
Agisoft. Tahapan sebagai berikut :
1. Import foto dan 2. Align foto.
rekonstruksi jalur terbang
3. Pembangunan titik tinggi 4. Pembangunan model 3D
(Dense Point Clouds) (Mesh)
5. Pembangunan model
6. Pembangunan DEM
texture
7. Pembangunan orthofoto
Output
1. ORTOFOTO
Orthophoto adalah foto udara yang telah
dilakukan rektifikasi (orthorektifikasi)
sehingga menghasilkan gambar dengan
objek yang tegak
Ortofoto
Output
2. Digital Elevation Model (DEM)
DEM adalah model digital yang
merepresentasikan tiga dimensi dari permukaan
bumi yang sangat berguna dalam memberikan
gambaran topografi yang lebih baik dan data
spasial yang lebih akurat.
Digital Elevation Model (DEM)
Kapita Selekta
DRONE
Drone
Secara umum, drone merupakan sebuah kendaraan udara tanpa awak.
Bentuk drone menyerupai pesawat terbang atau juga helikopter dalam
ukuran kecil yang dapat di operasikan tanpa dikendarai oleh awak atau
pilot. Drone dioperasikan menggunakan remote control untuk
mengontrol drone saat terbang di udara.
PROSES PEMETAAN MENGGUNAKAN DRONE
INPUT DATA DRONE
• Foto yang telah dipotret dengan pertampalan • GCP (Ground Control Point), yaitu titik-
(Overlap dan Sidelap) antar foto titik yang letaknya pada suatu posisi
piksel suatu citra yang koordinat petanya
(referensinya) diketahui.
PROSES PENGOLAHAN DATA DRONE
Pengolahan data Drone dapat dilakukan dengan bantuan beberapa software, salah satunya
software Agisoft.
Import foto dan rekonstruksi Align foto.
jalur terbang
Pembangunan model 3D Pembangunan titik tinggi
(Mesh) (Dense Point Clouds)
Pembangunan model texture Pembangunan DEM
Pembangunan orthofoto
Output
Peta Orthophoto Mosaic (mapping foto)
Orthophoto atau orthoimage adalah satu
kesatuan foto udara yang dibuat dari mosaik
foto-foto udara yang telah terkoreksi
geomterinya. Memiliki skala yang seragam
sama di semua areanya dan nilai distorsi yang
tetap.
Kapita Selekta
LIDAR
(LIght Detection And Ranging)
LIDAR
Secara sederahana cara kerja LiDAR adalah menembakan gelombang
aktif dari pesawat ke permukaan bumi, gelombang tersebut akan
kembali setelah mengenai objek-objek di permukaan bumi. Setiap
objek-objek yang memantulkan gelombang tersebut akan diperoleh
koordinat x,y dan z
Teknologi pemetaan Airborne LiDAR memadukan antara
gelombang laser inframerah, kamera foto udara, GPS untuk
penentuan posisi, dan IMU (Inertial Measurement Unit)
untuk mengetahui attitude pesawat. Alat LiDAR dan kamera
foto udara ditempatkan di pesawat yang sebelumnya telah
dilubangi bagian bawah badannya. Alat LiDAR Pantulan laser yang mengenai tanah/ground menggambarkan profil
menembakkan laser infra merah ke permukaan bumi dan permukaan tanah (naik turunnya tanah). Pantulan yang mengenai kanopi
merekam kembali gelombang pantulannya. Laser yang tumbuhan menggambarkan struktur tanaman dan layer tanaman.
ditembakkan sebanyak 500.000 tembakan setiap detik.
Pantulan laser terdiri dari pantulan semua obyek di atas
permukaan tanah seperti kanopi dan struktur tumbuhan,
bangunan, power lines, rumput, tanah, dll. Nilai pantulan
gelombang selanjutnya diterjemahkan menjadi titik-titik
bernilai koordinat 3D. Titik-titik berkoordinat 3D yang
disebut dengan istilah point cloud.
PROSES AKUISISI DATA LIDAR
Sistem LIDAR
Kalibrasi Jarak (dengan
menggunakan data on
Jarak Laser the ground)
Posisi kaca scan
Kekuatan sinar
IMU
Pitch
Roll Data jarak Pengolahan data secara
Yaw Post-processing
Heading
GPS di permukaan tanah
Jalur pesawat X, Y, Z
GPS di pesawat
Diagram alir proses akuisisi data LIDAR
INPUT DATA LIDAR
• Data mentah LIDAR terdiri dari data yang diperoleh dari GPS,
IMU, dan jarak laser. Ketiga data tersebut diolah secara post
processing.
• Post processing terdiri dari dua kegiatan
- Menggabungkan ketiga data menggunakan algoritma tertentu
menjadi koordinat X,Y,Z.
- Membuang data yang tidak relevan selama pengambilan data
dengan cara menghitung anomali yang disebabkan oleh
kesalahan sistem waktu, kondisi atmosfer, bias GPS, dan
kesalahan lainnya yang disebabkan oleh kondisi topografi
permukaan bumi.
PROSES PENGOLAHAN DATA
LIDAR
Pengolahan data LIDAR dapat dilakukan dengan bantuan beberapa software, salah satunya
software ArcGIS. Tahapan sebagai berikut :
2. Melakukan konversi ke dalam data raster.
1. Input Data
Jika ingin diubah ke dalam bentuk DEM maka
filter pada las dataset toolbar dipilih non ground
dan jika ingin mengubah dalam bentuk DTM
maka filter pada las dataset toolbar dipilih
ground.
3. Melakukan analisis terhadap DEM,
DSM, DTM dengan menggunakan perintah-
perintah yang ada di ARCGIS seperti :
Spatial analisis, dan 3D analisis
Output
1. Digital Surface Model (DSM)
DSM atau Model Permukaan Digital adalah model
permukaan bumi dengan menggambarkan seluruh
objek permukaan bumi yang terlihat. Kenampakan
DSM akan menggambarkan bentuk permukaan
bumi seperti keadaan nyata yang terlihat dari foto.
DSM berguna dalam pemodelan 3D untuk
Digital Surface Model (DSM) telekomunikasi, perencanaan kota dan
penerbangan
Output
2. Digital Elevation Model (DEM)
DEM atau Model Elevasi Digital adalah grid raster yang
mereferensikan titik awal dari permukaan bumi.
Pemodelan ini memungkinkan untuk mengeliminasi
objek di permukaan tanah seperti tanaman dan
perumahan, model yang dihasilkan berupa model 3D
dengan permukaan yang halus. Bangunan (jaringan
listrik, gedung dan menara) dan fitur alam (pohon dan
jenis vegetasi lainnya) tidak termasuk dalam DEM.
Digital Elevation Model (DEM)
Output
3. Digital Terrain Model (DTM)
DTM sebenarnya identik dengan DEM,
bahkan disamakan posisinya. DTM hanya
berupa permukaan elevasi yang mewakili
bumi kosong yang direferensikan ke datum
vertikal. DTM biasanya dibuat melalui
fotogrametri stereo. Titik-titik DTM secara
terpisah secara teratur mengikuti bentuk
Digital Terrain Model (DTM) permukaan bumi. Dari garis-garis ruang dan
kontur yang teratur ini, dapat diinterpolasi
DTM menjadi DEM
Kapita Selekta
GPS
(Global Positioning System)
INPUT DATA GPS
• Data gps teridiri dari data yang diperoleh dari hasil
perekaman gps berupa raw data, kemudian diolah
menggunakan software menjadi data Rinex.
• Data rinex itu sendiri adalah Rinex berasal dari singkatan
Receiver Independent Exchange Format, yaitu format
standar yang kini diadopsi untuk pertukaran data survei
GPS dan navigasi presisi Data RINEX berbentuk kode –
kode yang sulit dipahami.
• Beberapa karakteristik dari format RINEX :
1. Data fase diberikan dalam unit panjang gelombang dan
data pseudorange dalam unit meter.
2. Semua kalibrasi tergantung receiver, tanda waktu adalah
waktu pengamatan dalam kerangka waktu jam receiver
• Data RINEX terdiri dari3 jenis file, yaitu :
1. Observation data file : GPS Measurements
2. GPS Navigation Message File : Ephemeris (Orbit
Information)
3. Meteorologi Data File : Pressure, Temperature, Relative,
Humidity, etc
PROSES PENGOLAHAN DATA GPS
Pengolahan data GPS dapat dilakukan dengan bantuan beberapa software, salah satunya software
Geogenius. Tahapan sebagai berikut :
1. Input Data
2. Mengganti nama titik sesuai dengan
tempat betdirinya alat dan sesi yang
dilakukan.
3. Menentukan titik FIX
4. Melakukan proses scan data
5. Melakukan pemilihan data untuk
dilakukan proses Adjustment
6. Memproses data dari hasil proses scan
data
7. Melakukan proses adjust free
8. Melakukan proses adjust Biased
9. Kemudian akan muncul report proses
hasil pengolahan data.
Output
1. 2 Dimensi
Output GPS 2D berupa Koordinat X,Y. Untuk
menjadikan koordinat tersebut menjadi sebuah objek,
maka koordinat tersebut harus diplotting menggunakan
software.
Korordinat X,Y
Output
2. 3 Dimensi
Output GPS 3D berupa Koordinat X,Y,Z. Untuk
menjadikan koordinat tersebut menjadi sebuah
objek, maka koordinat tersebut harus diplotting
menggunakan software.
Koordinat X,Y,Z
Kapita Selekta
CSRT
(Citra Satelit Resolusi Tinggi)
CSRT
1. Definisi
Citra Satelit Resolusi Tinggi atau CSRT
merupakan citra satelit yang mempunyai
resolusi spasial nya ≤ 4 meter. Secara
umum dapat dikatakan bahwa semakin
tinggi resolusi spasialnya maka wahana
tersebut akan merekam obyek di bumi
secara lebih rinci atau lebih detil, dan
sebaliknya. Kerincian obyek tersebut akan
tergambarkan pada peta sebagai hasil akhir
Citra Satelit Resolusi Tinggi Quickbird dari analisis / interpretasi citra satelit.
INPUT DATA CSRT
Citra SPOT 6 Primary Data (Raw) dan
Ground Control Point (GCP) pansharpened
Titik kontrol yang berada pada sistem referensi
tertentu yang akan digunakan sebagai titik ikat
dalam proses koreksi geometri orthorektifikasi.
Citra SPOT 5 Level 1A (Raw) dan
Data DEM (Digital Elevation Model) pansharpened
DEM adalah data yang merepresentasikan
bentuk permukaan bumi. DEM tersebut
berfungsi untuk mengkoreksi distorsi
akibat perbedaan topografi (relief
displacement), terutama pada wilayah
yang bergunung atau berbukit.
PROSES PENGOLAHAN DATA CSRT
Untuk memperoleh data citra satelit resolusi tinggi ini dilakukan proses koreksi geometrik
(Orthorektifikasi) dengan bantuan software. Tahapannya sebagai berikut:
Proses
Orthorektifikasi
PROSES PENGOLAHAN DATA CSRT
Proses orthorektifikasi citra satelit pada yang membutuhkan data DEM, tie points serta
control points dalam proses Bundle Adjustment. Citra satelit tegak resolusi tinggi yang
dihasilkan dari proses orthorektifikasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Ketelitian dengan CE90 : 2,503875 m
RMSE : < 1,65 m
Nilai RMSE (Root Mean Square Error) tersebut dibuktikan dengan uji citra
terorthorektifikasi terhadap titik uji/ICP (Independent Control Point)
OUTPUT 3 DIMENSI
CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI
Citra Quickbird di sebagian wilayah Samarinda,
Kalimantan Timur.
Gambar di atas memperlihatkan data original Citra Satelit QuickBird hasil olahan yang awalnya
merupakan data raster dalam format 2D, diubah tampilannya menjadi 3D dengan input nilai ketinggiannya
menggunakan data DEM SRTM.
OUTPUT 3 DIMENSI
CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI
Dengan tampilan 3D, dapat terlihat topografi area
yang ada pada citra satelit.
View 1
Tampilan 3D dari data citra satelit akan semakin
bagus dan presisi jika kualitas dan akurasi DEM yang
digunakan semakin bagus
View 2
Kapita Selekta
BALON UDARA / GAS
BALON UDARA / BALON GAS
Seiring dengan perkembangan penerbangan antariksa dan
penggunaan satelit, penginderaan jauh tumbuh berkembang
semakin cepat. Sebelumnya, penginderaan jauh lebih banyak
menggunakan pesawat udara dan balon udara dalam
perekaman data permukaan bumi,
Foto udara diambil dengan menggunakan wahana balon
udara yang dikendalikan dari jarak jauh mengindikasikan
adanya perbedaan spesifikasi terkait kualitas hasil bila
dibandingkan dengan foto udara standar.
Foto udara pertama di dunia dihasilkan oleh
Gaspar Felix Tournachon (Felix Nadar) pada tahun
1858. Felix Nadar mengambil gambar daerah
Bievre dari ketinggian 80 meter dengan bantuan
balon udara.
Hasil pemotretan ini ternyata dapat digunakan
oleh ahli tata ruang kota untuk membuat peta
penggunaan lahan dan peta morfologi daerah
Bierve. Namun, foto yang dihasilkan dari
eksperimen ini lenyap.
James Wallace Black (1860) menjajal
eksperimen serupa dengan menerbangkan balon
udara dengan ketinggian 365 meter di atas kota
Boston.
Foto yang diambil dari balon udara oleh James
Wallace Black (Sumber: Boston Public Library). Hasil foto inilah yang mencetak rekor sebagai
foto udara tertua yang berhasil diselamatkan.
PROSES PEMETAAN MENGGUNAKAN BALON UDARA/GAS
Perecanaan Wahana
Perencanaan
dan Perekaman
Pemotretan
Sistem Pemotretan
Pemrosesan dan
Foto udara
Analisis
Input Output
Data hasil pemetaan dengan balon Output dari sistem fotografi udara
udara, foto yang saling bertampalan. konvensional ini berupa peta orthophoto,
yakni mozaik foto udara yang telah
GCP (Ground Control Point), titik-titik
dilakukan rektifikasi (orthorektifikasi).
referensi peta atau titik-titik sekutu
yang sudah diketahui koordinatnya di
bumi.
PROSES PENGOLAHAN DATA
Pengolahan data dapat dilakukan dengan bantuan beberapa software, salah satunya
software Agisoft.
Import foto dan
rekonstruksi jalur Align Foto Dense Point Clouds
terbang
Model 3D (Mesh)
Orthofoto DEM Model texture
Thank you!
Any questions?