0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
853 tayangan36 halaman

Panduan Menyusun Program Pelatihan

Buku informasi ini membahas mengenai penyusunan program pelatihan yang meliputi penentuan kualifikasi program pelatihan, persyaratan peserta, penyusunan kurikulum dan silabus pelatihan, penentuan sumber daya pelatihan, serta validasi program pelatihan. Tujuan penyusunan buku ini adalah memfasilitasi peserta latihan dalam menyusun program pelatihan sesuai kebutuhan dengan mengacu pada peraturan yang berlaku.

Diunggah oleh

Tehno Project
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
853 tayangan36 halaman

Panduan Menyusun Program Pelatihan

Buku informasi ini membahas mengenai penyusunan program pelatihan yang meliputi penentuan kualifikasi program pelatihan, persyaratan peserta, penyusunan kurikulum dan silabus pelatihan, penentuan sumber daya pelatihan, serta validasi program pelatihan. Tujuan penyusunan buku ini adalah memfasilitasi peserta latihan dalam menyusun program pelatihan sesuai kebutuhan dengan mengacu pada peraturan yang berlaku.

Diunggah oleh

Tehno Project
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUKU INFORMASI

MENYUSUN PROGRAM PELATIHAN


P.854900.011.01

KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN R.I.


DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS
BALAI BESAR PENGEMBANGAN LATIHAN KERJA
Jl. Jend. Gatot Subroto No. 170 Tlep./Fax.(022) 7312564
Bandung 49275 – Jawa Barat
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI-------------------------------------------------------------------------------------------2
BAB I PENDAHULUAN-----------------------------------------------------------------------------4
A. Tujuan Umum---------------------------------------------------------------------------4
B. Tujuan Khusus---------------------------------------------------------------------------4
BAB II MENENTUKAN KUALIFIKASI PROGRAM PELATIHAN----------------------------------5
A. Pengetahuan yang diperlukan dalam Menentukan Kualifikasi Program
Pelatihan---------------------------------------------------------------------------------5
1. Pengemasan Kompetensi-----------------------------------------------------------5
2. Cara Melakukan Pengemasan Kompetensi---------------------------------------5
3. Cara Menentukan Nama Program Pelatihan------------------------------------10
4. Menetapkan Jenjang Kualifikasi--------------------------------------------------11
5. Cara Menentukan Jenjang Program Pelatihan Berdasarkan Jenjang
Kualifikasi----------------------------------------------------------------------------15
6. Cara Merumuskan Deskripsi Program Pelatihan-------------------------------15
7. Cara Menetapkan Kompetensi Lulusan------------------------------------------16
B. Keterampilan yang diperlukan dalam Menentukan Kualifikasi Program
Pelatihan--------------------------------------------------------------------------------16
C. Sikap Kerja yang diperlukan dalam Menentukan Kualifikasi Program
Pelatihan--------------------------------------------------------------------------------16
BAB III MENENTUKAN PERSYARATAN PESERTA----------------------------------------------17
D. Pengetahuan yang diperlukan dalam Menentukan Persyaratan Peserta------17
1. Menentukan Persyaratan Umum Peserta---------------------------------------17
2. Cara Menentukan Persyaratan Kompetensi-------------------------------------17
E. Keterampilan yang Diperlukan dalam Menentukan Persyaratan Peserta------18
F. Sikap Kerja yang Diperlukan dalam Menentukan Persyaratan Peserta---------18
BAB IV MENYUSUN KURIKULUM PELATIHAN--------------------------------------------------19
A. Pengetahuan yang diperlukan dalam Menyusun Kurikulum Pelatihan--------19
1. Cara Menentukan Unit-unit Kompetensi-----------------------------------------19
2. Cara Mengelompokan Unit Kompetensi Kedalam Kelompok Umum dan Inti
19
3. Cara menentukan kebutuhan On the Job Training (OJT) sesuai dengan
Kompetensi Lulusan----------------------------------------------------------------20
B. Keterampilan yang diperlukan dalam Menyusun Kurikulum Pelatihan---------21
C. Sikap Kerja yang diperlukan dalam Menyusun Kurikulum Pelatihan------------21
BAB V MENYUSUN SILABUS PELATIHAN------------------------------------------------------22
A. Pengetahuan yang diperlukan dalam Menyusun Silabus Pelatihan------------22
1. Langkah-Langkah Mengidentifikasi Elemen Kompetensi----------------------22
2. Cara Mengidentifikasi Kriteria Unjuk Kerja--------------------------------------22
3. Cara Mendeskripsikan Indikator Unjuk Kerja-----------------------------------23
4. Cara Menentukan Pengetahuan--------------------------------------------------24
5. Cara Menentukan Keterampilan--------------------------------------------------24
6. Cara Menentukan Sikap Kerja----------------------------------------------------24
7. Cara Menentukan Jangka Waktu Pelatihan-------------------------------------24
B. Keterampilan yang diperlukan dalam Menyusun Silabus Pelatihan-------------25
C. Sikap Kerja yang diperlukan dalam Menyusun Silabus Pelatihan---------------25
BAB VI MENENTUKAN SUMBER DAYA PELATIHAN--------------------------------------------27
A. Pengetahuan yang diperlukan dalam Menentukan Sumber Daya Pelatihan--27
1. Cara Menentukan Sarana dan Fasilitas Pelatihan------------------------------27
2. Cara Menentukan Bahan Pelatihan----------------------------------------------28
3. Cara Menentukan Kualifikasi Instruktur-----------------------------------------28
B. Keterampilan yang diperlukan dalam Menentukan Sumber Daya Pelatihan---29
C. Sikap Kerja yang diperlukan dalam Menyusun Silabus Pelatihan---------------29
BAB VII MEMVALIDASI PROGRAM PELATIHAN-------------------------------------------------30
A. Pengetahuan yang diperlukan dalam Memvalidasi Program Pelatihan--------30
1. Komponen-Komponen Program Pelatihan yang Harus divalidasi------------30
2. Cara Menentukan Metode Validasi-----------------------------------------------31
3. Cara Memfinalisasi Program------------------------------------------------------31
B. Keterampilan yang diperlukan dalam Memvalidasi Program Pelatihan---------31
C. Sikap Kerja yang diperlukan dalam Memvalidasi Program Pelatihan-----------31
DAFTAR PUSTAKA----------------------------------------------------------------------------------31
A. Dasar Perundang-undangan---------------------------------------------------------32
B. Buku Referensi-------------------------------------------------------------------------32
C. Majalah/Buletin------------------------------------------------------------------------32
D. Referensi Lainnya----------------------------------------------------------------------32
DAFTAR ALAT DAN BAHAN-----------------------------------------------------------------------32
A. Daftar Peralatan/Mesin---------------------------------------------------------------33
B. Daftar Bahan---------------------------------------------------------------------------33
LAMPIRAN-------------------------------------------------------------------------------------------33
DAFTAR NAMA PENYUSUN------------------------------------------------------------------------34
BAB I PENDAHUL
UAN

A. Tujuan Umum
Setelah mempelajari modul ini peserta latih kompeten dalam menyusun program
pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan sesuai dengan peraturan yang
berlaku
B. Tujuan Khusus
Adapun tujuan mempelajari unit kompetensi melalui buku informasi menyusun
Program pelatihan ini guna memfasilitasi peserta latih sehingga pada akhir pelatihan
diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut:

1. Menentukan kualifikasi program pelatihan mengacu pada KBLI 2009 dengan


tepat

2. Menentukan persyaratan peserta pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan


dengan benar

3. Menyusun kurikulum pelatihan mengacu pada hasil analisa kebutuhan pelatihan


dengan benar

4. Menyusun silabus pelatihan mengacu pada pedoman penyusunan program


dengan benar

5. Menentukan sumber daya pelatihan yang akan digunakan dalam proses


pelatihan dengan banar

6. Memvalidasi program pelatihan yang telah disusun dengan banar


BAB II
MENENTUKAN KUALIFIKASI PROGRAM PELATIHAN

A. Pengetahuan yang diperlukan dalam Menentukan Kualifikasi Program


Pelatihan
1. Pengemasan Kompetensi
Pada prinsipnya unit-unit kompetensi yang tersedia/terdapat dalam suatu SKKNI
bersifat netral, tidak terikat dalam suatu klasifikasi atau atribut unit kompetensi
inti dan/atau unit kompetensi pilihan. Bahkan suatu unit kompetensi tidak
memiliki jenjang kualifikasi.
Penetapan klasifikasi terhadap setiap unit kompetensi dilakukan pada saat
pengemasan unit kompetensi dalam suatu kualifikasi. Pengemasan unit
kompetensi tersebut hanya berlaku untuk kualifikasi yang bersangkutan.
Sebagai contoh unit kompetensi pilihan pada suatu kualifikasi dapat bersifat unit
kompetensi inti pada kualifikasi lainnya, atau sebaliknya. Pengemasan unit
kompetensi ke dalam suatu kualifikasi harus dilakukan dengan memadukan unit-
unit kompetensi yang tersedia dalam SKKNI (termasuk menggunakan unit-unit
kompetensi yang berasal dari SKKNI lain) dan merujuk kepada model
pengemasan yang telah ditentukan.
Berdasarkan hal tersebut, pengemasan kualifikasi kedalam suatu kualifikasi harus
dilakukan:
a. Sesuai dengan kondisi riil berdasarkan tuntutan peran kerja yang harus
dilakukan yang mencerminkan kinerja di tempat kerja/area pekerjaan/sub
sektor/ sektor atau lapangan usaha.
b. Oleh industri/perusahaan/ pengguna yang representtif dan terkait.
c. Menggunakan model pengemasan yang telah ditentukan.

2. Cara Melakukan Pengemasan Kompetensi


Sesuai dengan hasil identifikasi kompetensi dan penentuan model pengemasan,
Tim perumus KKNI melakukan pengemasan dengan cara sebagai berikut:
a. Tetapkan Referensi Acuan
Referensi yang digunakan mengacu kepada kondisi aktual dari industri/bidang
atau area pekerjaan. Pada umumnya referensi yang digunakan adalah
tingkatan tanggungjawab pekerjaan dalam suatu industri/perusahaan yang
sejenis. Istilah yang digunakan untuk tingkatan tanggungjawab pekerjaan
pada setiap industri/bidang atau perusahaan berbeda-beda, namun pada
sebagian besar industri tingkatan tanggungjawab pekerjaan berkorelasi
dengan skala penggajian.
Sebagai contoh tingkatan tanggungjawab pekerjaan diindustri/perusahaan
seperti; asisten, operator, supervisor, manager, dan lain-lain. Sedangkan di
instansi pemerintah seperti; staf, kepala seksi, kepala bagian, direktur.
b. Kelompokkan Unit-Unit Kompetensi Berdasarkan Klasifikasinya
1) Kompetensi Inti
Tentukan unit-unit kompetensi yang dikelompokkan sebagai kompetensi
inti. Unit-unit kompetensi inti merupakan unit kompetensi yang wajib
dimiliki oleh setiap orang pada posisi atau tingkat jabatan kerja tertentu.
2) Kompetensi Pilihan
Tentukan unit-unit kompetensi yang dikelompokkan sebagai kompetensi
pilihan. Kompetensi pilihan dipilih agar dalam melaksanakan pekerjaan
memiliki fleksibilitas dan sesuai dengan tuntutan di tempat kerja. Unit-unit
kompetensi pilihan merupakan unit kompetensi yang dipilih untuk
melengkapi suatu posisi/tingkat jabatan dan/atau area pekerjaan. Unit
kompetensi pilihan di tentukan oleh kepentingan/ pengguna, yang terdiri
atas:
a) Pemilik/pengusaha;
Bagi pemilik/pengusaha, unit-unit kompetensi pilihan dapat dipilih yang
sesuai dengan kewajiban yang disyaratkan untuk dilakukan oleh
pekerjanya.
b) Pekerja/pegawai;
Bagi pekerja/pegawai, mereka dapat memilih unit-unit kompetensi yang
sesuai dengan kompetensi yang telah dimiliki atau unit-unit kompetensi
yang berguna untuk penyesuaianjenjang karir.
c) Peserta/siswa pelatihan; dan
Bagi peserta/siswa pelatihan, mereka dapat memilih unit-unit yang
mereka percaya dapat memaksimalkan kapasitas mereka untuk
memperoleh pekerjaan di industri.
d) Lembaga pelatihan kerja.
Bagi lembaga pelatihan, unit-unit kompetensi pilihan dapat dipilih sesuai
dengan fasilitas dan kompetensi dari para pelatih yang dimiliki atau yang
akan memungkinkan bagi lembaga pelatihan agar pelatihan yang
diselenggarakan menjadi menarik bagi peserta/siswa.
Dengan adanya kebutuhan dari setiap pemangku kepentingan/ pengguna
sebagaimana disebutkan diatas, maka kompetensi pilihan dapat dibuat
berdasarkan pengelompokan/grup, termasuk jika akan menggunakan
kompetensi dari bidang/ pekerjaan yang lain.
Tabel 1. Pengemasan kompetensi
7 unit kompetensi pilihan yang terdiri dari :
5 unit kompetensi kelompok A
2 unit kompetensi kelompok B
Kompetensi Inti
Kompetensi pilihan

Kelompok A Kelompok B
....................................
................................. .................................
.
.... ....
....................................
................................. .................................
.
.... ....
....................................
................................. .................................
.
.... ....
dst
dst dst

c. Aturan Pengemasan secara umum


Aturan pengemasan secara umum adalah :
1) Harus SKKNI yang telah ditetapkan
2) Dilakukan oleh dunia usaha/industri
3) Model Pengemasan: Inti dan Pilihan (IP)
4) Penentuan Jumlah Unit Kompetensi
 Secara spesifik tidak ditentukan
 Kompetensi pilihan minimal 30% dari seluruh jumlah unit kompetensi
pada suatu jenjang kualifikasi
5) Penetapan oleh Kementerian/Lembaga Teknis
d. Menentukan Aturan Pengemasan
Berdasarkan hasil pengelompokan unit-unit kompetensi kedalam klasifikasi
kompetensi inti dan pilihan, dapat ditentukan:
1) Jumlah unit kompetensi inti
2) Jumlah unit kompetensi pilihan
3) Jumlah kelompok/grup dalam suatu kompetensi pilihan
4) Jumlah unit kompetensi (jika diperlukan) dari bidang pekerjaan yang lain.
Contoh:
Pada industri perhotelan dengan fokus tempat kerja, menginginkan adanya
fleksibilitas, agar karyawan/pegawai dapat menangani beberapa
pekerjaan/tugas di perhotelan. Setelah dilakukan identifikasi kompetensi dan
pengelempokan unit-unit kompetensi berdasarkan klasifikasi inti dan pilihan,
dihasilkan aturan pengemasan sebagai berikut:
Tabel 2. Aturan Pengemasan kompetensi

atau peraturan pengemasan dapat juga dibuat dengan mengakomodir unit


kompetensi industri lain sebagai unit kompetensi pilihan.
Tabel 3. Aturan Pengemasan kompetensi

e. Rambu-rambu Pemaketan KKNI


Rambu-rambu dalam melakukan pengemasan adalah sebagai berikut:
1) Dilakukan oleh tim perumus yang berasal dari industri;
2) Berdasarkan fungsi bisnis dan/atau jabatan dari suatu lapangan usaha
3) Berdasarkan lingkup pelaksanaan pekerjaan, meliputi :
 Keterampilan dan pengetahuan,
 Kemampuan memproses informasi,
 Tanggung jawab, serta
 Sikap
4) Tidak harus disusun dalam 9 (sembilan) jenjang dan tidak harus dimulai
dari jenjang 1 (satu) dan/atau diakhiri dengan jenjang 9 (sembilan)
5) Disepakati/konsensus oleh industri
6) Verifikasi oleh Kemnaker Pada dasarnya unit-unit kompetensi bersifat
netral
7) Unit kompetensi tidak memiliki jenjang kualifikasi
8) Pemaketan kualifikasi harus dilakuan:
 Sesuai dengan kondisi riil tempat kerja/area pekerjaan/sub
sektor/sektor/ atau lapangan usaha
 Oleh industri/perusahaan/pengguna
9) Menggunakan model pengemasan yang telah ditentukan
Contoh hasil pengemasan mekanik sepeda motor:

Aturan Pengemasan
Kualifikasi ini terdiri dari 16 unit kompetensi yaitu:
• 8 unit kompetensi inti
• 8 unit kompetensi pilihan

Tabel 4. Kompetensi inti dan kompetensi pilihan


NO Kode unit Judul Unit
Kompetensi Inti
1 OTO.SM01.001. Mengikuti Prosedur Keselamatan, Kesehatan
01 Kerja, dan Lingkungan
2 OTO.SM01.002. Membaca dan Memahami Gambar Teknik
01
3 OTO.SM01.003. Menggunakan dan Memelihara Peralatan dan
01 Perlengkapan di Tempat Kerja
4 OTO.SM01.004. Memberikan Kontribusi Komunikasi di Tempat
01 Kerja
5 OTO.SM02.001. Memelihara Engine berikut Komponen-
01 komponennya
6 OTO.SM02.023. Membongkar, Memperbaiki, dan Memasang Ban
01 Dalam dan Ban Luar
7 OTO.SM01.013.
01 Melakukan Prosedur Diagnosis
8 OTO.SM01.003. Menggunakan dan Memelihara Peralatan dan
01 Perlengkapan di Tempat Kerja

Kompetensi Pilihan
1 OTO.SM01.005. Melakukan Operasi Penanganan Manual
NO Kode unit Judul Unit
01
2 OTO.SM02.014. Memelihara Sistem Rem
01
3 OTO.SM02.015. Merakit dan Memasang Sistem Rem berikut
01 Komponen-komponennya
4 OTO.SM02.017. Memeriksa Sistem Kemudi
01
5 OTO.SM02.018. Memperbaiki Sistem Kemudi
01
6 OTO.SM02.019. Memeriksa Sistem Suspensi
01
7 OTO.SM02.020. Memperbaiki Sistem Suspensi
01
8 OTO.SM02.022. Melepas, Memasang, dan Menyetel Roda
01
9 OTO.SM02.024. Memelihara Rantai/chain
01
10 OTO.SM02.025. Mengganti Rantai/chain
01
11 OTO.SM02.027. Melakukan Perbaikan Ringan pada
01 Rangkaian/Sistem Kelistrikan
12 OTO.SM01.008. Memelihara Komponen-komponen Operasi dan
01 Perbaikan

3. Cara Menentukan Nama Program Pelatihan


Nama Pelatihan ditetapkan sesuai dengan acuan yang digunakan dalam
penyusunan program yaitu :
a. Kualifikasi;
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat menjadi
KKNI merupakan jenjang kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan,
menyetarakan dan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja
dalam rangka memberikan pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan
struktur pekerjaan diberbagai sektor. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia no. 8
tahun 2012.
b. Jabatan;
Nama program pelatihan juga dapat diambil dari jabatan suatu bidang
pekerjaan yang ada diindustri maupun ditempat kerja, Sehingga peserta
pelatihan yang telah mengikuti suatu pelatihan dapat menduduki suatu
jabatan yang ada diindustri maupun ditempat kerja.
c. Klaster permintaan dari pengguna/industri (Taylor Made).
Selain kualifikasi dan jabatan nama program pelatihan juga dapat disesuaikan
dengan klaster atau permintaan pengguna/industri, hal ini dimaksudkan agar
pelatihan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien sehingga
kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki saat ini dengan kompetensi
yang dipersaratkan aka terpenuhi.
4. Menetapkan Jenjang Kualifikasi
Ketika industri telah mengelompokkan unit-unit kompetensi sesuai dengan aturan
pengemasan, tahap selanjutnya adalah menetapkan jenjang kualifikasi
berdasarkan deskripsi KKNI.
a. Unsur-Unsur Jenjang KKNI
Setiap jenjang pada KKNI memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1) Lingkungan operasional/pelaksanaan pekerjaan;
2) Pengetahuan dan keterampilan;
3) Kemampuan memproses informasi/pemecahan masalah;
4) Tanggung jawab/akuntabilitas/otonomi.
Keempat karakteristik diatas merupakan faktor-faktor yang digunakan dalam
melakukan evaluasi pekerjaan untuk menentukan nilai suatu pekerjaan (atau
posisi) dibandingkan dengan pekerjaan lainnya di suatu organisasi, bahkan
karekteristik diatas dapat digunakan untuk menetapkan jenjang karir atau
posisi seseorang.
Keempat karakteristik diatas lebih mencerminkan dunia kerja, oleh karena itu
digunakan untuk menentukan jenjang kualifikasi berdasarkan deskripsi pada
KKNI.
b. Menentukan Jenjang Kualifikasi
Untuk menentukan jenjang kualifikasi, dilakukan dengan membandingkan
antara unit-unit kompetensi yang terdapat dalam pengelompokan sesuai
dengan hasil peraturan pengemasan dengan karekteristik pada setiap jenjang
KKNI sebagaimana yang diuraikan pada deskripsi jenjang KKNI. Proses
pembandingan dapat dilakukan sebagai berikut:
1) Analisa pekerjaan/tugas pada unit-unit kompetensi yang telah
ditetapkan dalam aturan pengemasan.
2) Identifikasi pengetahuan dan/atau keterampilan yang terdapat pada
unit-unit kompetensi.
3) Perbandingkan hasil analisis pekerjaan (1) dan hasil identifikasi
pengetahuan/keterampilan (2) terhadap deskripsi jenjang kualifikasi.
4) Tetapkan/tentukan posisi jenjang kualifikasi.
Didalam Peraturan Presiden Republik Indonesia no. 8 tahun 2012 jenjang
kualifikasi KKNI yang dihasilkan melalui pelatihan kerja terdiri atas:
1) Lulusan pelatihan kerja tingkat operator setara dengan jenjang 1, 2, dan
3;
2) Lulusan pelatihan kerja tingkat teknisi/analis setara dengan jenjang 4, 5,
dan 6;
3) Lulusan pelatihan kerja tingkat ahli setara dengan jenjang 7, 8, dan 9;
Adapun deskripsi jenjang kualifikasi diuraika dalam dalam tabel dibawah ini:
Tabel 5. Deskripsi jenjang kualifikasi KKNI
Jenjang
Uraian
kualifikasi

Deskripsiumum 1) Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


2) Memiliki moral, etika dan kepribadian yang baik di dalam
menyelesaikan tugasnya.
3) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah
air serta mendukung perdamaian dunia.
4) Mampu bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial dan
kepedulianyang tinggi terhadap masyarakat dan
lingkungannya
5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan,
kepercayaan, dan agama serta pendapat/temuan orisinil
orang lain.
6) Menjunjung tinggi penegakan hukum serta memiliki
semangat untuk mendahulukan kepentingan bangsa serta
masyarakat luas.
1) Mampu melaksanakan tugas sederhana, terbatas, bersifat
rutin, dengan menggunakan alat, aturan, dan proses yang
telah ditetapkan, serta dibawah bimbingan, pengawasan, dan
I tanggung jawab atasannya
2) Memiliki pengetahuan faktual.
3) Bertanggung jawab atas pekerjaan sendiri dan tidak
bertanggung jawabterhadappekerjaan orang lain.
II 1) Mampu melaksanakan satu tugas spesifik, menggunakan alat,
dan informasi, dan prosedur kerja yang lazim dilakukan,
sertamenunjukkan kinerja dengan mutu yang terukur, di
bawah pengawasan langsung atasannya.
2) Memiliki pengetahuan operasional dasar dan pengetahuan
Jenjang
Uraian
kualifikasi

faktual bidang kerja yang spesifik, sehingga mampu memilih


penyelesaian yang tersedia terhadap masalah yang lazim.
3) Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi
tanggung jawab membimbing orang lain.
1) Mampu melaksanakan serangkaian tugas spesifik, dengan
menerjemahkan informasi dan menggunakan alat,
berdasarkan sejumlah pilihan prosedur kerja, serta mampu
menunjukkan kinerja dengan mutu dan kuantitas yang
terukur, yang sebagian merupakan hasil kerja sendiri dengan
pengawasan tidak langsung.
2) Memiliki pengetahuan operasional yang lengkap, prinsip-
III prinsip serta konsep umum yang terkait dengan fakta bidang
keahlian tertentu, sehingga mampu menyelesaikan berbagai
masalah yang lazim dengan metode yang sesuai.
3) Mampu bekerja sama dan melakukan komunikasi dalam
lingkup kerjanya.
4) Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi
tanggungjawab atas kuantitas dan mutu hasil kerja orang
lain.
1) Mampu menyelesaikan tugas berlingkup luas dan kasus
spesifik dengan menganalisis informasi secara terbatas,
memilih metode yang sesuai dari beberapa pilihan yang baku,
serta mampu menunjukkan kinerja dengan mutu dan
kuantitas yang terukur.
2) Menguasai beberapa prinsip dasar bidang keahlian tertentu
IV dan mampu menyelaraskan dengan permasalahan faktual di
bidang kerjanya.
3) Mampu bekerja sama dan melakukan komunikasi, menyusun
laporan tertulis dalam lingkup terbatas, dan memiliki inisiatif.
4) Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat
diberitanggungjawab atas hasil kerja orang lain.
1) Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas, memilih
metode yang sesuai dari beragam pilihan yang sudah
maupun belum baku dengan menganalisis data, serta mampu
menunjukkan kinerja dengan mutu dan kuantitas yang
terukur.
2) Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu
V secara umum, serta mampu memformulasikan penyelesaian
masalah prosedural.
3) Mampu mengelola kelompok kerja dan menyusun laporan
tertulis secara komprehensif.
4) Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi
tanggung jawab atas pencapaian kerja kelompok.
VI 1) Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan
memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
pada bidangnya dalam penyelesaian masalah serta mampu
beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.
Jenjang
Uraian
kualifikasi

2) Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu


secara umum dan konsep teoritis khusus dalam bidang
pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu
memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.
3) Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan
analisis informasi dan data, dan mampu memberikan
petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara
mandiri dan kelompok.
4) Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi
tanggung jawab atas pencapaian kerja institusi.
1) Mampu merencanakan dan mengelola sumberdaya di bawah
tanggung jawabnya, dan mengevaluasi secara komprehensif
kerjanya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi,
dan/atau seni untuk menghasilkan langkah pengembangan
strategis institusi.
2) Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan,
VII
teknologi, dan/atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui
pendekatan monodisipliner.
3) Mampu melakukan riset dan mengambil keputusan strategis
dengan akuntabilitas dan tanggung jawab penuh atas semua
aspek yang berada di bawah tanggung jawab bidang
keahliannya.
1) Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau
seni di dalam bidang keilmuannya atau praktek
profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya
inovatif dan teruji.
2) Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan,
VIII
teknologi, dan/atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui
pendekatan inter atau multidisipliner.
3) Mampu mengelola riset dan pengembangan yang bermanfaat
bagi masyarakat dan keilmuan, serta mampu mendapat
pengakuan nasional dan internasional.
1) Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau
seni baru di dalam bidang keilmuannya atau praktek
profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya
kreatif, orisinil, dan teruji.
IX 2) Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan/atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui
pendekatan inter, multi, dan transdisipliner.
3) Mampu mengelola, memimpin, dan mengembangkan riset
yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia, serta
mampu mendapat pengakuan nasional dan internasional
Jenjang kualifikasi dapat digambarkan seperti tertera dibawah ini:
Gambar 1. Jenjang kualifikasi KKNI

5. Cara Menentukan Jenjang Program Pelatihan Berdasarkan Jenjang Kualifikasi


Jenjang Program Pelatihan adalah suatu jenjang berdasarkan Kerangka Kualifikasi
Nasional Indonesia (KKNI), baik program pelatihan kerja berjenjang maupun non
jenjang (spesifik dan unit) yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja, diisi
dengan jenjang kualifikasi I sampai dengan jenjang kualifikasi 9, sesuai klaster
yang telah disepakati oleh stakeholder atau sesuai kebutuhan pasar kerja dan
dunia usaha/industri barang dan jasa.
Contoh penulisan jenjang program pelatihan:
a. Penulisan jenjang program pelatihan yang mengacu kepada KKNI Jenjang
program pelatihan : jenjang 1, jenjang 2, jenjang 3, dan sampai jenjang 9
b. Penulisan jenjang program pelatihan yang tidak mengacu pada KKNI diisi
Non-Jenjang.
Cara menentukan jenjang program pelatihan sebenarnya sama dengan
Menentukan Jenjang Kualifikasi.
6. Cara Merumuskan Deskripsi Program Pelatihan
Deskripsi program pelatihan adalah abstraksi yang menggambarkan kemampuan,
kondisi, standar yang harus dicapai peserta pelatihan sampai dengan akhir proses
pelatihan kerja, dengan demikian unsur-unsur yang terkandung dalam tujuan
pelatihan meliputi:
a. subyek belajar (peserta)
b. pernyataan ingin dicapai (kompeten/Belum kompeten)
c. kata kerja aktif seperti: menyusun, mengelola, menggunakan, dan seterusnya
d. obyek yang dipelajari
e. Menguraikan cakupan pelatihan yang menggambarkan kesenjangan
kemampuan (lack of skill)
f. Merupakan kalimat yang menggambarkan keseluruhan tujuan pelatihan
g. Menggambarkan uraian ringkas jabatan/pekerjaan.
7. Cara Menetapkan Kompetensi Lulusan
Kompetensi lulusan dapat dilihat dari unit-unit kompetensi yang tercakup dalam
program pelatihan tersebut caranya adalah dengan menuliskan setiap unit
kompetensi yang akan digunakan dalam program pelatihan tersebut.

B. Keterampilan yang diperlukan dalam Menentukan Kualifikasi Program


Pelatihan
1. Menentukan nama program pelatihan berdasarkan
pemaketan/pengemasan kompetensi
2. Menentukan jenjang program pelatihan berdasarkan jenjang kualifikasi
3. Merumuskan deskripsi program pelatihan mengacu kepada isi program
pelatihan
4. Menetapkan kompetensi lulusan berdasarkan nama dan jenjang program
C. Sikap Kerja yang diperlukan dalam Menentukan Kualifikasi Program
Pelatihan
1. Harus teliti dan cermat dalam menentukan nama program pelatihan berdasarkan
pemaketan/pengemasan kompetensi
2. Harus teliti dan cermat dalam menentukan jenjang program pelatihan
berdasarkan jenjang kualifikasi
3. Harus teliti dan cermat dalam merumuskan deskripsi program pelatihan mengacu
kepada isi program pelatihan
4. Harus teliti dan cermat dalam menetapkan kompetensi lulusan
BAB III
MENENTUKAN PERSYARATAN PESERTA

D. Pengetahuan yang diperlukan dalam Menentukan Persyaratan Peserta


1. Menentukan Persyaratan Umum Peserta
Persyaratan Peserta Pelatihan merupakan batasan-batasan tertentu yang
harus dipenuhi oleh calon peserta pelatihan.
Persyaratan tersebut meliputi :
a. Pendidikan
b. Pelatihan
c. Pengalaman kerja
d. Jenis kelamin
e. Umur
f. Kesehatan
g. Persyaratan Khusus (bila diperlukan)
8. Cara Menentukan Persyaratan Kompetensi
Untuk menentikan persyaratan kompetensi kita dapat melakukannya dengan cara
melihat standar kompetensi. Dalam standar kompetensi baik versi lama maupun
versi baru terdapat panduan penilaian yang didalamnya menjelaskan unit
kompetensi yang harus dikuasai sebelumnya atau persyaratan kompetensi. dari
unit kompetensi yang harus dikuasai sebelumnya atau persyaratan kompetensi
tersebut kita dapat ambil dan kita masukan kedalam kurikulum atau kita masukan
kedalam persyaratan peserta.
Gambar 2. panduan penilaian Standar kompetensi versi lama
Gambar 3. panduan penilaian Standar kompetensi versi baru

E. Keterampilan yang Diperlukan dalam Menentukan Persyaratan Peserta


1. menentukan persyaratan umum peserta berdasarkan kebutuhan program
pelatihan
2. Menentukan Persyaratan kompetensi mengacu pada prasyarat untuk mengikuti
program pelatihan.
F. Sikap Kerja yang Diperlukan dalam Menentukan Persyaratan Peserta
1. Harus teliti dan cermat dalam menentukan persyaratan umum peserta
2. Harus teliti dan cermat dalam menentukan Persyaratan kompetensi
BAB IV
MENYUSUN KURIKULUM PELATIHAN

A. Pengetahuan yang diperlukan dalam Menyusun Kurikulum Pelatihan


1. Cara Menentukan Unit-unit Kompetensi
Unit-uni kompetensi dalam program pelatihan didapat dari uraian jabatan suatu
pekerjaan yang didapat dari analisis kebutuhan pelatihan. Adapun cara
menentukannya antara lain:
a. Tentukan uraian jabatan dari suatu pekerjaan
b. Buka standar kompetensi disesuaikan dengan bidang pekerjaan tersebut.
c. Lihat kesamaan antara satu pekerjaan dengan judul unit kompetensi.
d. Apabila pekerjaan tersebut lingkupnya kecil dapat juga dilihat kesamaan
dengan elemen kompetensi.
e. Tulis kode dan judul unit yang sesuai dengan pekerjaan tersebut pada tabel
kurikulum.
9. Cara Mengelompokan Unit Kompetensi Kedalam Kelompok Umum dan Inti
Unit kompetensi yang sudah ditentukan dapat disusun dan dimasukan kedalam
tabel kurikulum pelatihan dengan memperhatikan urutan baik dari penomoran
maupun kelompok umum, inti dan khusus. Adapun cara mengelompukan unit
kompetensi adalah sebagai berikut:
a. Pilih unit komopetensi yang akan dimasukan kedalam tabel kurikulum
pelatihan.
b. Urutkan dari kelompok kompetensi umum terlebih dahulu dengan melihat
daftar unit kompetensi
c. Urutkan kelompok kompetensi inti dimulai dari nomor terkecil dan/atau
prasarat kompetensi
Tabel 6. Contoh kelompok unit kompetensi Bidang Jasa Industri Pengelasan
Sub Bidang Pengelasan SMAW
NO KODE UNIT JUDUL UNIT KOMPETENSI
.
KELOMPOK KOMPETENSI UMUM
1. JIP.SM01.001.01 Melakukan komunikasi timbal balik
2. JIP.SM01.002.01 Mengidentifikasi prinsip-prinsip keselamatan dan
kesehatan kerja (K3)
3. JIP.SM01.003.01 Melakukan pekerjaan secara tim
4. JIP.SM01.004.01 Menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
serta Lingkungan Hidup (K3L)
5. JIP.SM01.005.01 Menerapkan sistem mutu
6. JIP.SM01.006.01 Merencanakan tugas rutin
KELOMPOK KOMPETENSI INTI
7. JIP.SM02.001.01 Mengukur dengan alat ukur mekanik dasar
8. JIP.SM02.002.01 Membaca sketsa dan/atau gambar kerja
sederhana
9. JIP.SM02.003.01 Menggunakan peralatan tangan dan mesin-
mesin ringan
10. JIP.SM02.004.01 Melaksanakan pemotongan secara mekanik

10.Cara menentukan kebutuhan On the Job Training (OJT) sesuai dengan


Kompetensi Lulusan
On the Job Training (OJT) merupakan bagian dari proses pelatihan secara
keseluruhan yang dilaksanakan di tempat kerja dengan fokus utama peningkatan
dan penguatan nilai-nilai budaya dan etos kerja di perusahaan/tempat kerja. OJT
harus dilaksanakan di bawah bimbingan seorang pendamping/ karyawan yang
berasal dari perusahaan/tempat kerja. Peserta yang mengikuti program OJT di
perusahaan/tempat kerja yaitu yang telah dinyatakan selesai/kompeten dalam
pelatihan off the job training.
Hal-hal yang harus di perhatikan dalam persiapan dan pelaksanaan OJT antara
lain:
a. Indikator capaian kompetensi yang di persyaratkan dalam OJT.
b. Penetapan pendamping yang berasal dari perusahaan/tempat kerja OJT.
c. Penetapan pembimbing dari lembaga pelatihan.
d. Monitoring dan evaluasi peserta selama masa OJT.
Materi pelatihan yang diberikan di perusahaan/tempat kerja selama OJT harus
sesuai atau merupakan penyempurnaan dari kompetensi yang telah diberikan di
lembaga pelatihan. Oleh karena itu, perusahaan/tempat kerja bertanggung jawab
sepenuhnya tehadap peserta pelatihan, baik dalam hal pemberian tugas atau
pekerjaan, pembimbingan, dan penilaian/asesmen, sehingga peserta dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik. Asesmen peserta dalam pelaksanaan OJT
dilakukan oleh pendamping/karyawan di tempat kerja yang diberi tugas, dengan
menilai kompetensi dan kinerja peserta OJT selama mengikuti program tersebut.
Asesmen dilakukan dengan berbagai indikator, sehingga akan diperoleh hasil
pelatihan sesuai dengan tujuan OJT yang telah ditetapkan. Penetapan indikator
dimaksud dilakukan secara bersama-sama oleh pendamping/karyawan dan
tenaga pembimbing atau tenaga pelatih lembaga pelatihan.
Asesmen yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Penilaian perilaku individu atau sikap kerja
b. Penilaian kemampuan teknis
Apabila peserta OJT belum mampu mencapai kompetensi yang dipersyaratkan,
maka peserta pelatihan diberikan kesempatan untuk melakukan pengulangan 1
(satu) kali lagi. Apabila setelah pengulangan tersebut, peserta OJT belum mampu
mencapai kompetensi yang dipersyaratkan, maka peserta yang bersangkutan
dinyatakan belum kompeten dalam OJT.

B. Keterampilan yang diperlukan dalam Menyusun Kurikulum Pelatihan


1. Menentukan unit-unit kompetensi dengan mengacu pada pencapaian kompetensi
lulusan program pelatihan
2. mengelompokan Materi pelatihan kedalam kelompok umum dan inti
3. Menentukan kebutuhan OJT sesuai dengan kompetensi lulusan

G. Sikap Kerja yang diperlukan dalam Menyusun Kurikulum Pelatihan


1. Harus teliti dan cermat dalam menentukan Unit-unit kompetensi
2. Harus teliti dan cermat dalam mengelompokan Materi pelatihan kedalam
kelompok umum dan inti
3. Harus teliti dan cermat dalam menentukan kebutuhan OJT sesuai dengan
kompetensi lulusan
BAB V
MENYUSUN SILABUS PELATIHAN

A. Pengetahuan yang diperlukan dalam Menyusun Silabus Pelatihan


1. Langkah-Langkah Mengidentifikasi Elemen Kompetensi
Elemen kompetensi merupakan bagian dari unit kompetensi yang
mengidentifikasikan aktivitas yang harus dikerjakan untuk mencapai unit
kompetensi tersebut. Elemen kompetensi ditulis dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Bentuk kelompok kata (bukan kalimat) yang diawali dengan kata kerja aktif
transitif (berbentuk awalan medan berobjek).
b. Huruf kapital digunakan pada awal kata kerja.
c. Setiap elemen kompetensi diberi nomor urut.
d. Tidak diakhiri dengan tanda baca titik (.).
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi elemen kompetensi adalah sebagai
berikut:
a. Siapkan standar kompetensi yang akan diidentifikasi.
b. Amati apakah elemen kompetensi memenuhi ketentuan seperti diatas.
c. Beri tanda apabila ada elemen kompetensi yang belum sesuai dengan
ketentuan diatas.
Dibawah ini contoh penulisan elemen kompetensi yang sesuai ketentuan
Tabel 7. contoh elemen kompetensi
11.Cara Mengidentifikasi Kriteria Unjuk Kerja
Kriteria unjuk kerja (KUK) ditulis dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Bentuk kalimat yang menggunakan kata kerja pasif transitif (berbentuk
awalan di- dan berobjek).
b. Objek diletakkan di awal kalimat dan keterangan kalimat ditambahkan untuk
menjelaskan aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang terukur.
c. Huruf kapital digunakan pada awal kalimat dan tanda baca titik (.) pada akhir
kalimat.
d. Setiap rumusan KUK diberi nomor urut (dua angka) dan angka perincian tidak
diakhiri dengan tanda titik (.).
e. Bila terdapat hal-hal yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut, hal-hal
tersebut dituliskan dengan cetak tebal.
Dibawah ini contoh penulisan kriteria unjuk kerja
Tabel 8. kriteria unjuk kerja

Adapun cara menidentifikasi kriteria unjuk kerja adalah sebagai berikut:


a. Siapkan standar kompetensi yang akan diidentifikasi.
b. Amati apakah elemen kompetensi memenuhi ketentuan seperti diatas.
c. Beri tanda apabila ada elemen kompetensi yang belum sesuai dengan
ketentuan diatas.
12.Cara Mendeskripsikan Indikator Unjuk Kerja
Indikator Unjuk Kerja (IUK) merupakan indikasi pencapaian kriteria unjuk kerja
yang mengandung aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja. Penulisan
IUK menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan dapat dibuat
materi materi pelatihan maupun materi penilaiannya. IUK dirumuskan dari setiap
KUK dengan memedomani kata kerja pasifnya dijadikan kata kerja aktif. Rumusan
aspek pengetahuan diawali dengan kata ’dapat’, aspek keterampilan diawali
dengan kata ’mampu’, dan aspek sikap kerja diawali dengan kata ’harus’.
Adapun cara mendeskripsikan adalah sebagai berikut:
a. Siapkan tabel yang berisi Elemen Kompetensi, Kriteria Unjuk Kerja dan
Indikator Unjuk Kerja.
b. Salin Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja dari standar Kompetensi
yang akan dijabarkan.
c. Tulis kalimat dalam kolom Indikator Unjuk Kerja diawali kata “dapat” untuk
aspek pengetahuan, kata “mampu’ untuk aspek pengetahuan serta “harus”
untuk aspek sikap.
d. Jabarkan KUK tersebut menjadi IUK seperti contoh dibawah ini:
Tabel 9. contoh penjabaran KUK menjadi IUK

13.Cara Menentukan Pengetahuan


Cara menentukan pengetahuan yang harus disampaikan dalam pelatihan yaitu
dengan menyalin indikator unjuk kerja aspek pengetahuan dan menempelnya
pada kolom pengetahuan, kata kerja dan awalan “dapat” dapat dihapuskan.
14.Cara Menentukan Keterampilan
Cara menentukan keterampilan yang harus diajarkan dalam pelatihan yaitu
dengan menyalin indikator unjuk kerja aspek keterampilan dan menempelnya
pada kolom keterampilan, kata awalan “mampu ” dapat dihapuskan.
15.Cara Menentukan Sikap Kerja
Cara menentukan sikap kerja yang harus ditanamkan dalam pelatihan yaitu
dengan memilih kata operasional sikap dan menuliskannya pada kolom sikap.
16.Cara Menentukan Jangka Waktu Pelatihan
Perkiraan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses pelatihan.
Penentuan waktu pelatihan tidak bersifat absolut/mutlak harus diikuti oleh setiap
peserta pelatihan.
Perkiraan waktu pelatihan dapat ditentukan dengan cara:
a. Melihat berapa banyak aspek pengetahuan pada silabus yang harus
disampaikan.
b. Melihat berapa banyak aspek keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta
pelatihan.
c. Dari sapek keterampilan yang ada berapa kali rata-rata peserta pelatihan
akan mengulang sampai keterampilan tersebut benar-benar dikuasai.
d. Masukan kedalam kolom perkiraan waktu pelatihan yang ada pada silabus.
e. Jumlahkan dari masing-masing waktu yang dibutuhkan untuk satu unit
kompetensi dan masukan kedalam kolom kurikulum untuk [erkiraan waktu
pelatihan.
f. Jumlahkan dari masing-masing unit kompetensi tersebut. Maka didapat
perkiraan waktu pelatihan untuk satu program pelatihan.
Selain menggunakan cara diatas, menentukan perkiraan waktu pelatihan dapat
dilihat dari sisi peserta pelatihan. Misalmya apabila peserta pelatihan adalah
lulusan SMK yang sesuai dengan bidang keahlian yang akan dipelajari, maka
waktu pelatihan akan menjadi lebih singkat, begitu pula sebaliknya, atau dengan
melakukan tes awal untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan maupun
keterampilan awal yang sudah dimiliki calon peserta pelatihan tersebut.
Disamping itu memperkirakan waktu pelatihan juga dapat menggunakan
pengalaman kita sebelumnya dalam menyampaikan materi pelatihan yang sama.

B. Keterampilan yang diperlukan dalam Menyusun Silabus Pelatihan


1. Mengidentifikasi elemen kompetensi
2. Mengidentifikasi kriteria unjuk kerja
3. Mendeskripsikan indikator unjuk kerja untuk mencapai kriteria unjuk kerja
4. Menentukan pengetahuan
5. Menentukan keterampilan
6. Menentukan sikap kerja
7. Menentukan jangka waktu pelatihan

C. Sikap Kerja yang diperlukan dalam Menyusun Silabus Pelatihan


1. Harus teliti dan cermat dalam mengidentifikasi elemen kompetensi
2. Harus teliti dan cermat dalam mengidentifikasi kriteria unjuk kerja
3. Harus teliti dan cermat dalam mendeskripsikan indikator unjuk kerja
4. Harus teliti dan cermat dalam menentukan pengetahuan, keterampilan, sikap
kerja dan jangka waktu pelatihan
BAB VI
MENENTUKAN SUMBER DAYA PELATIHAN

A. Pengetahuan yang diperlukan dalam Menentukan Sumber Daya Pelatihan


1. Cara Menentukan Sarana dan Fasilitas Pelatihan
Sarana pelatihan adalah segala fasilitas bisa berupa peralatan, bahan dan perabot
yang langsung  dipergunakan dalam proses pelatihan. Untuk itu sarana pelatihan
perlu dipersiapkan sebelum proses pelatihan berlangsung.
Cara menentukan sarana fasilitas pelatihan dapat dilihat dari Standar Kompetensi
Kerja (SKKNI/SKK Khusus/SKK Perusahaan)
a. Dapatkan standar kompetensi kerja terkait dengan unit kompetensi yang
akan dipelajari;
b. Temukan unit kompetensi yang akan dipelajari;
c. Temukan dalam unit kompetensi tersebut judul ”Batasan Variabel” bagian
”Perlengkapan yang dibutuhkan” maka akan diperoleh perlengkapan apa
saja yang diperlukan untuk mempelajari unit kompetensi tersebut;
Berdasarkan kegiatan ini maka akan dapat ditetapkan alat apa saja yang
dibutuhkan.
d. Membuat daftar peralatan yang diperoleh dari mengidentifikasi standar
kompetensi kerja dengan memasukannya kedalam tabel perlatan dan
bahan.
Contoh batasan variabel unit kompetensi
BATASAN VARIABEL
1. Konteks Variabel :
Unit ini berisikan pengetahuan, sikap kerja serta keterampilan
menerapkan dasar-dasar pengelasan pelat dan/ atau pipa baja karbon
posisi di bawah tangan (flat) dan mendatar (horizontal) dengan proses las
busur manual (SMAW) yang relevan dengan Jasa Industri Pengelasan.
2. Perlengkapan untuk mengelas pelat dan/ atau pipa baja karbon
posisi di bawah tangan dan mendatar :
2.1 Buku sumber/ modul/ SOP/ WPS sebagai referensi
2.2 Lembar kerja pengoperasian mesin
2.3 Unit mesin las, minimal kapasitas 300 Amper (duty cycle 100% per
min. 120A)

2.4 Bahan las (consummable material)


2.5 Alat-alat keselamatan dan kesehatan kerja las
2.6 Alat-alat bantu pengelasan.
2.7 Alat-alat pengujian hasil las

2. Cara Menentukan Bahan Pelatihan


Bahan pelatihan yang akan digunakan hendaknya dibuat selengkap dan sedetail
mungkin, hal ini untuk menghindari adanya kekurangan bahan latihan yang
mengakibatkan tidak tercapainya kompetensi yang diharapkan.
Adapun cara menentukan bahan latihan antara lain:
a. Amati aspek keterampilan yang ada dalam tabel silabus.
b. Tentukan nama bahan yang dibutuhkan dari setiap aspek keterampilan.
c. Tentukan dimensi atau spesifikasi bahan yang akan digunakan.
d. Perkirakan berapa kali peserta akan melakukan praktik untuk mencapai satu
unit kompetensi.
e. Perkirakan berapa banyak setiap peserta akan menghabiskan bahan dalam
setiap sesi praktik.
f. Masukan hasil perkiraan bahan tersebut kedalam tabel peralatan dan bahan
yang akan digunakan.
Tabel 10. peralatan dan bahan yang digunakan
1. Nama pelatihan :
2. Kode program pelatihan :
No Unit Kode unit Daftar Daftar Keterangan
kompetensi peralatan bahan
1. Mengelas pelat JIP.SM02.010.0  Modul  Elektroda
posisi mendatar/ 1  WPS E 7016/
horizontal  Petunjuk LB52U
dengan proses Operasional  Elektroda
las busur manual Mesin E 6013
 Mesin las  Batu
kapasitas gerinda
300A tipis 4”
 Mesin gerinda  Batu
tangan gerinda
 Tang penjepit tebal 4”
 Ragum  Pelat baja
 Kikir 300 X 125
 Welding X 10 mm
Gauge  Gas
oksigen
 Gas LPG
 APD/PPE
Las

3. Cara Menentukan Kualifikasi Instruktur


Instruktur/tenaga pelatih merupakan personil yang sangat penting pada proses
pelaksanaan pelatihan, karena keberhasilan suatu program pelatihan salah
satunya adalah ditentukan kompetensi instruktur dalam memfasilitasi dan
membimbing peserta pelatihan dalam mencapai kompetensinya. Dengan
demikian, perlunya persyaratan bagi instruktur pada setiap pelaksanaan program
pelatihan yang harus dipenuhi.
Persyaratan tersebut meliputi :
a. Pendidikan Formal
b. Kompetensi Metodologi Pelatihan dibuktikan dengan minimal Sertifikat
Pelatihan Metodologi Pelatihan yang diterbitkan oleh instansi berwenang.
c. Kompetensi Teknis yang dimiliki sesuai dengan program pelatihan dibuktikan
dengan minimal Sertifikat Pelatihan atau Sertifikat Kompetensi teknis yang
relevan sesuai unit kompetensi yang akan dilatihkan dan diterbitkan oleh
instansi berwenang.
d. Pengalaman kerja (jika diperlukan)
e. Kesehatan (pada hal tertentu)
f. Persyaratan Khusus (bila diperlukan)

D. Keterampilan yang diperlukan dalam Menentukan Sumber Daya Pelatihan


1. Menentukan sarana pelatihan
2. Menentukan fasilitas pelatihan
3. Menentukan bahan pelatihan mengacu kepada pelatihan setiap unit kompetensi
4. Menentukan kualifikasi instruktur

E. Sikap Kerja yang diperlukan dalam Menyusun Silabus Pelatihan


1. Harus teliti dan cermat dalam menentukan Fasilitas dan sarana pelatihan
2. Harus teliti dan cermat dalam menentukan Bahan pelatihan
3. Harus teliti dan cermat dalam menentukan Kualifikasi instruktur

BAB VII
MEMVALIDASI PROGRAM PELATIHAN

A. Pengetahuan yang diperlukan dalam Memvalidasi Program Pelatihan


1. Komponen-Komponen Program Pelatihan yang Harus divalidasi
Dalam penyusunan program pelatihan harus mengikuti aturan-aturan penyusunan
program pelatihan yang dituangkan dalam Keputusan Direktur Jenderal
Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Kep. 185/Lattas/XII/2013 Tentang
Pedoman Penyusunan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi.
Adapun komponen-komponen yang ada dalam program pelatihan yang harus
divalidasi antara lain:
a. Jenis huruf yang dipakai serta ukuran-ukuranya
b. Ukuran kertas yang digunakan
c. Page set up
d. Cover Program Pelatihan
Cover Program Pelatihan terdiri dari :
1) Logo pemilik program pelatihan
2) Tulisan ” PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI”
3) Nama Pelatihan
4) Kode Program Pelatihan
5) Gambar identitas program pelatihan disesuaikan dengan
program
6) yang disusun.
7) Nama dan alamat pemilik program pelatihan
8) Tahun penerbitan
e. Kata Pengantar
f. Nama Pelatihan
g. Penulisan Kode Program Pelatihan
h. Jenjang Program Pelatihan
i. Tujuan Pelatihan
j. Unit Kompetensi yang Ditempuh
k. Perkiraan Waktu Pelatihan
l. Persyaratan Peserta Pelatihan
m. Persyaratan Instruktur
n. Kurikulum Pelatihan
o. Silabus
p. Pelatihan di Tempat Kerja (On the Job Training/OJT)
q. Daftar Peralatan dan Bahan Pelatihan
2. Cara Menentukan Metode Validasi
Pengesahan atau validasi program pelatihan berbasis kompetensi dilakukan
dengan tahapan sebagai berikut:
a. Verifikasi
Verifikasi dilakukan untuk memastikan bahwa program Pelatihan Berbasis
Kompetensi yang disusun telah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangan yang berlaku.
b. Validasi Materi Program Pelatihan Berbasis Kompetensi
Validasi dilakukan melalui konsultasi dengan pemangku kepentingan lainnya
untuk mengetahui pencapaian atau kesesuaian pelatihan dengan standar
kompetensi (unit kompetensi) untuk perbaikan/penyempurnaan.

3. Cara Memfinalisasi Program


Program pelatihan yang sudah diverivikasi dan divalidasi hendaknya segera
difinalisasi yaitu dengan cara melakukan perbaikan-perbaikan sesuai masukan
yang ada, baik dari segi format yang dipakai maupun isi dari program tersebut
meliputi keseuaian kebutuhan dengan standar yang dipakai termasuk penjabaran-
penjabaran dari setiap unit kompetensi yang dituangkan dalam silabus.
B. Keterampilan yang diperlukan dalam Memvalidasi Program Pelatihan
1. Menentukan komponen-komponen program pelatihan yang harus divalidasi
2. Menentukan metode validasi sesuai dengan komponen yang akan divalidasi
3. Memfinalisasi program dengan memperhatikan masukan-masukan yang rasional
dari hasil validasi

C. Sikap Kerja yang diperlukan dalam Memvalidasi Program Pelatihan


1. Harus teliti dan cermat dalam komponen-komponen program pelatihan yang
harus divalidasi
2. Harus teliti dan cermat dalam menentukan Metode validasi sesuai dengan
komponen yang akan divalidasi
3. Harus teliti dan cermat dalam memfinalisasi program
DAFTAR PUSTAKA

A. Dasar Perundang-undangan
1. Peraturan Presiden Republik Indonesia no. 8 tahun 2012 tentang Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia
2. Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas no. KEP.
217/LATTAS/XII/2012 tentang Pedoman Tatacara Pemetaan Kompetensi
3. Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas no. KEP.
185/LATTAS/XII/2013 tentang Pedoman Penyusunan Program Pelatihan Berbasis
Kompetensi
4. Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 57 Tahun 2009 Tentang Klasifikasi
Baku Lapangan Usaha Indonesia
B. Buku Referensi
1. PLK.MP02.011.00 Memvalidasi Rancangan Program Pelatihan
C. Majalah/Buletin
1. -
2. -
D. Referensi Lainnya
1. -
2. -
DAFTAR ALAT DAN BAHAN

A. Daftar Peralatan/Mesin

NO. Nama Peralatan/ Mesin Keterangan


1 Alat pengolah data
2 Standar kompetensi

3 Data dan informasi analisis


kebutuhan pelatihan
4 Papa tulis/Flip Chart

B. Daftar Bahan

NO. Nama Peralatan/ Mesin Keterangan


1. Atk
2 Kertas flip chart
LAMPIRAN
 Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian
Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Kep.
185/Lattas/XII/2013 Tentang Pedoman Penyusunan Program Pelatihan Berbasis
Kompetensi
DAFTAR NAMA PENYUSUN

NO. Nama Profesi


1. Ma’mun Hidayat Instruktur Las BBPLK Bandung
Asessor Kompetensi Las
Instruktur Metodologi Pelathinan

Anda mungkin juga menyukai