LAPORAN KASUS
HIPOGLIKEMIA
PADA DIABETES MELITUS TIPE II
Disusun oleh :
dr. A’af Saputra
Pembimbing :
dr. Risnandar, Sp.PD
Program Internship Dokter Indonesia
RSUD Kota Dumai
2021
DAFTAR ISI
Daftar Isi ............................................................................................................. ii
Daftar Tabel .......................................................................................................iii
BAB I Pendahuluan............................................................................................. 1
BAB II Tinjauan Pustaka .................................................................................... 2
2.1. Diabetes Melitus Tipe II .................................................................... 2
2.1.1 Definisi ............................................................................................. 2
2.1.2 Diagnosis .......................................................................................... 2
2.1.3. Penatalaksanaan ............................................................................... 4
2.2. Hipoglikemia .................................................................................... 10
2.2.1. Definisi .......................................................................................... 10
2.2.2. Etiologi ......................................................................................... 10
2.2.3. Patofisiologi .................................................................................. 12
2.2.4. Manifestasi Klinis .......................................................................... 13
2.2.5. Diagnosis ....................................................................................... 14
2.2.6. Penatalaksanaan ............................................................................ 14
2.2.7. Pencegahan .................................................................................... 15
BAB III Laporan Kasus .................................................................................... 17
BAB IV Pembahasan ........................................................................................ 24
BAB V Kesimpulan .......................................................................................... 26
Daftar Pustaka
ii
DAFTAR TABEL
2.1 Kadar Tes Laboratorium Darah Untuk Diagnosis Diabetes ........................ 3
2.2. Profil Obat Anihipergliemia Oral yang tersedia di Indonesia ...................... 8
2.3. Tanda dan gejala hipoglikemia pada orang dewasa ................................... 13
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Diabetes adalah penyakit metabolik yang kronis yang dapat mengalami
banyak komplikasi. Komplikasi akut Diabetes adalah hipoglikemia. Hipoglikemia
pada diabetes adalah rendahnya kadar glukosa darah akibat penanganan penyakit
tesebut. Kejadian hipoglikemia adalah kegawatdaruratan dalam bidang penyakit
dalam yang dapat menyebabkan kerusaan memori bahkan kematian.
Rata-rata kejadian hipoglikemia meningkat 3.2 per 100 orang per tahun
menjadi 7.7 per 100 orang per tahun pada pennggunaan insulin. Pasien yang
menggunakan insulin atau obat hipoglikemik oral dapat mengalami hipoglikemia
ringan, yang dapat ditangani sendiri, dimana episode hipoglikemiknya terjadi
sekitar dua kali per minggu. Hipoglikemia berat yang membutuhkan bantuan
orang lain untuk mendapatkan kembali kadar gula darah normal, minimal terjadi
sekali per tahun sebesar 27% pada pasien yang diobati regimen insulin intensif.
Hipoglikemia merupakan penyebab kematian pada sekitar 3% dari penderita
diabetes mellitus yang bergantung pada insulin.
Oleh karena itu, gejala hipogikemia penting diketahui dan dapat
dikomunikasikan pada keluarga penderita Diabetes agar dapat dikenali sejak dini
dan dicegah sebelum terjadi.
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Diabtes Melitus Tipe II
2.1.1. Definisi
Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan
sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. (Soelistijo dkk, 2019)
2.1.2. Diagnosis
Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan
konsentrasi glukosa darah. Dalam menentukan diagnosis DM harus
diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan
yang dipakai. Untuk diagnosis pemeriksaan yang dianjurkan adalah
pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan darah
plasma vena. Walaupun demikian sesuai dengan kondisi setempat
dapat juga dipakai bahan darah utuh (whole blood), Vena ataupun
kapiler dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnosis yang
berbeda. untuk pemantauan hasil pengobatan dapat diperiksa
glukosa darah kapiler. (Setiati dkk, 2014)
Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat
keluhan seperti:
a. Keluhan klasik DM: polyuria, polidipsia polifagia dan
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
penyebabnya.
b. keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur
dan disfungsi ereksi pada pria serta pruritus vulvae pada
vagina. (Soelistijo dkk, 2019)
Kriteria diagnosis Diabetes Melitus :
a. Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥126 mg/dL. Puasa
adalah konidisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam.
2
3
b. Pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dL 2 jam setelah
Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban 75
gram.
c. Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dL engan
keluhan klasik.
d. Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode
terstandarisasi oleh National Glychohaemoglobin
Standarization Program (NGSP)
Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau
kriteria DM digolongkan ke dalam diabetes yang meliputi toleransi
glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu
(GDPT)
a. Glukosa darah puasa terganggu (GDPT): hasil
pemeriksaan glukosa plasma puasa antara 100 sampai 125
mg/dL dan pemeriksaan TTGO glukosa plasma 2 jam
<140 mg/dL.
b. Toleransi glukosa terganggu (TGT): hasil pemeriksaan
glukosa plasma 2 jam setelah TTGO antara 140 sampai
199 mg/dL dan glukosa plasma uasa kurang dari 100
mg/dL.
c. Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT
d. diagnosis prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan
hasil pemeriksaan HbA1c yang menunjukkan angka 5,7
sampai 6,4%
Tabel. 2.1. Kadar Tes Laboratorium Darah Untuk Diagnosis
Diabetes dan Prediabetes
HbA1c % Glukosa Darah Glukosa Plasma
Puasa (mg/dL) 2 jam setelah
TTGO (mg/dL)
Diabetes ≥6,5 ≥126 ≥200
Prediabetes 5,7-6,4 100-125 140-199
Normal <5,7 70-99 70-139
4
2.1.3. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan DM dimulai dengan penerapan pola hidup
sehat (terapi nutrisi medis dan aktivitas fisik) bersamaan dengan
intervensi farmakologis dengan obat anti hiperglikemia secara oral
dan atau suntikan. Obat anti hiperglikemia oral dapat diberikan
sebagai terapi tunggal atau kombinasi. Pada keadaan emergency
dengan dekompensasi metabolik berat, misal ketoasidosis, stres
berat, berat, atau adanya ketonuria harus segera dirujuk ke
pelayanan kesehatan sekunder atau tersier. (Soelistijo dkk, 2019)
1. Edukasi
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu
dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan
merupakan bagian yang sangat penting dari pengelolaan SDM
secara holistik. materi edukasi terdiri dari materi edukasi
tingkat awal dan materi edukasi tingkat lanjutan. (Soelistijo
dkk, 2019) :
a. Materi edukasi pada tingkat awal dilakukan laksanakan di
pelayanan kesehatan primer yang meliputi:
Materi tentang perjalanan penyakit DM.
Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM
secara berkelanjutan.
Penyakit dm dan resikonya.
Intervensi farmakologi serta target pengobatan.
Interaksi antara asupan makanan aktivitas fisik dan obat
antihiperglikemia oral atau insulin serta obat-obatan
lain.
Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil
glukosa darah atau urin mandiri.
Mengenal gejala dan penanganan awal hipoglikemia.
Pentingnya latihan jasmani yang teratur.
5
Pentingnya perawatan kaki.
Cara menggunakan fasilitas perawatan kesehatan.
b. Materi edukasi pada tingkat lanjut dilaksanakan di pelayanan
kesehatan sekunder dan atau tersier yang meliputi:
Mengenal dan mencegah penyakit akut DM.
Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM.
Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain.
Rencana untuk kegiatan khusus (contoh : olahraga
prestasi).
Kondisi khusus yang dihadapi (contoh : hamil, puasa,
hari-hari sakit).
Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan
teknologi mutakhir tentang DM.
Pemeliharaan dan perawatan kaki.
2. Terapi Farmakologis
Berdsarkan cara kerjanya obat anti hiperglikemia dibagi
menjadi lima golongan : (Soelistijo dkk, 2019)
a. Pemacu sekresi Insulin
Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama
meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas.
Efek samping utama adalah hipoglikemia dan
meningkatkan berat badan. Hati-hati menggunakan
sulfonilurea pada pasien dengan resiko tinggi
hipoglikemia seperti orang tua gangguan fungsi hati
dan ginjal.
Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya mirip
dengan sulfonylurea, namun berbeda lokasi reseptor,
dengan hasil akhir berupa penekanan pada peningkatan
6
sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari
dua macam yaitu Repaglinide (derivat asam benzoat)
dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini
diarbsorbsi dengan cepat setelah pemberian secara oral
dan diekskresi secara cepat melalui hati. Obat ini dapat
mengatasi hiperglikemia Post prandial. Efek samping
yang mungkin terjadi adalah hipoglikemia. Obat
golongan glinid sudah tidak tersedia di Indonesia.
b. Pingkat sensitivitas Insulin
Metformin
Metformin mempunyai efek utama mengurangi
produksi glukosa hati (glukoneogenesis), dan
memperbaiki ambilan glukosa di jaringan perifer.
Metformin merupakan pilihan pertama pada sebagian
besar kasus DM tipe 2. Dosis Metformin diturunkan
pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (LFG 30-60
mL/menit/1,73m2). Metformin tidak boleh diberikan
pada beberapa keadaan LFG <30 ml/menit/1,73 m2,
adanya gangguan hati berat serta pasien-pasien dengan
kecenderungan hipoksemia (misasalnya penyakit
serebrovaskular, sepsis, renjatan, PPOK, gagal jantung
Nyha fungsional class kelas III sampai IV). Efek
samping yang mungkin terjadi adalah gangguan saluran
pencernaan seperti dispepsia diare dan lain-lain.
Tiazolidinedion
Thiazolidinediones merupakan agonis dari Peroxisome
Proliferator-Activated Receptor Gamma ( PPAR-
gamma), suatu reseptor inti yang terdapat antara lain di
sel otot, lemak dan hati. Golongan ini mempunyai efek
menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan
7
jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga
meningkatkan ambilan glukosa di jaringan perifer.
Tiazolidinedion meningkatkan retensi cairan tubuh
sehingga dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal
jantung (Nyha fungsional class kelas III sampai IV)
karena dapat memperberat udema/retensi cairan. Hati-
hati pada gangguan faal hati dan bila diberikan perlu
pemantauan faal hati secara berkala. Obat yang masuk
dalam golongan ini adalah Pioglitazone.
c. Penghambat Alfa Glukosidase
Obat ini bekerja dnegan menghambat kerja enzim alfa
glukosidase di saluran pencernaan sehingga menghambat
arbsorbsi glukosa dalam usu halus. Penghabt alfa glukosidase
tidak digunakan pada keadaan LFG ≤30 ml/menit/1,73m 2,
gangguan faal hati yang berat, irritable bowel syndrome,.
Efek samping yang mungkin terjadi berupa bloating
(penumpukkan gas dalam usus) sehingga sering
menimbulkan flatys. Guna menguragi efek samping pada
awalnya diberikan dengan dosis kecil. Contoh obat golongan
ini adalah acarbose.
d. Penghmbat enzim Dipeptidyl Peptidase-4
Dipeptidyl Peptidase-4 (DPP-4) adalah suatu serin protase,
yang didisribusikan secara luas dalam tubuh. Enzi mini
memecah dua asam asmino dari peptide N-terminal. Enzim
DPP-4 tereksresikan di berbagai organ tubuh, termasuk di
usus dan membraan brush border ginjal, di hepatosit,
endothelium vaskuler dari kapiler villi dan dalam bentuk larut
dalam plasma. Penghmabt DPP-4 akan menghambat lokasi
peningkatan pada DP-4 sehingga akan menccegah inaktivasi
dari Glukagon-like Peptide (GLP-1). Proses inhibisi ini akan
8
memperlihatkan kadar GLP-1 dan glucose-dependent
insulinotrpic polypeptide (GIP) dalam bentuk aktif di
sirkulasi darah, sehinggga dapat memperbaiki toleransi
glukosa, meningkatkan respon insulin dan mengurangi skresi
glucagon. Penghambat DPP-4 merupakan agen oral dan yang
termasuk dalam golongan ini adalah vildagliptin, linagliptin,
sitagliptin, saxagliptin dan alogliptin.
e. Penghmbat enzim Sodium Glucose co-Transporter 2 (SGLT-
2 Inhibitor)
Obat ini bekerja dengan cara menghambat reabsrobi glukosa
di tubulus proksimal dan meningkatkan ksesi glukosa melalui
urin. Obat golongan ini mempunyai manfaat untuk
menurunkan berat adan dan tekanan darah. Efek samping
yang dapat terjadi akibat pemberian obat ini adalah infeksi
saluran kencing dan genital. Pada penyandang DM dengan
gangguan fungsi ginjal perlu dilakukan eneyseuaian dosis dan
tidak diperkenankan bila LFG kurang dari
45mL/menit/1,73m2. Hati-hati karena dapat mencetuskan
ketoasidosis.
Tabel 2.2. Profil Obat Anihipergliemia Oral yang tersedia
di Indonesia
Golongan Obat Cara kerja Utama Efek samping Penuruun
Utama an HbA1c
Metformin Menurunkan produksi Dispepsia, 1,0-1,3%
glukosa hati dan Diare, Asidosis
meningkatkan senitifitas Laktat
terhadap insulin
Thiazolidinedione Meningkatkan sensitifitas Edema 0,5-1,4%
Insulin
Sulfonilurea Meningkatkan sekresi insulin BB Naik, 0,4-1,2%
Hipoglikemia
Glinid Meningkatkan sekresi insulin BB Naik, 0,5-1,0%
Hipoglikemia
Penghambat Alfa- Menghambat abrsorbsi Flatulen, tinja 0,5-0,8%
Glukosidase glukosa lembek
Penghambat DPP-4 Megikatkan skeresi insulin Sebah, muntah 0,5-0,9%
dan menghambat sekresi
glucagon
9
Penghambat SGLT-2 Menghambat reabsorbsi Infeksi Saluran 0,5-0,9%
glukosa di ubulus distal kemih
10
11
2.2.Hipoglikemia
2.2.1. Definisi
Hipoglikemia secara defisini didasarkan rendahnya kadar
glukosa darah. Ironisnya, kejadian hipogikemia justru sering
berkaitan dengan diabetes mellitus, baik diabtes mellitus tipe 1
maupun tipe 2. (Setiati dkk, 2014)
Hipoglikemia merupakan suatu terminology klinis yang
digunakan untuk keadaan yang disebabkan oleh menurunnya kadar
glukosa dalam darah sampai pada tngkat tertentu sehingga
memberikan keluhan dan gejala. (Setiati dkk, 2014)
Hipoglikemia merupakan suatu kondisi klinik yang dapat
bersifat emergensi dan memerlukan penanganan yang cepat dan
tepat sehingga dampak dari hipoglikemia itu dapat diminimalisir.
Hipoglikemia yang tidak tertangani dengan baik akan
menimbulkan dampak yang tidak diinginkan seperti: penurunan
kualitas hidup, gangguan fungsi kognitif, penurunan kesadaran,
bahakan dapat menjadi pemicu penyakit kardiovaskuler yang dapat
menjadi penyebab kematian. (Mansyur, 2018).
Namun, yang terpenting bagi pasien dan juga perawat atau
tenaga kesehatan adalah kesadaran bahwa hopoglikemia dapat
terjadi dalam berbagai jenis gejala atau tingkatan yang bervariasi,
sehingga deteksi dini sangat penting untuk menentukan langkah
penanganan selanjutnya sehingga dapat mengurangi risiko
morbiditas dan mortalitas. (Andrayani, 2017)
2.2.2. Etiologi
Secara etiologis hipoglikeia disebabkan oleh : (IPD, 2016)
1. Penggunaan obat-obatan diabetes seperti insulin, sulfonylurea
yang berlebihan. Penyebab hipoglikemia umumnya terkait
dengan diabetes.
12
2. Obat-obatan lain meskipun jarang terjadi namun dapat
menyebaban hipoglikemia adalah betablockers, pentamidine,
kombinasi sulfometoksazole dan trimethoprim.
3. Sehabis minum alkohol, terutama bila telah lama berpuasa
dalam keadaan lama.
4. Intake kalori yang sangat kurang.
5. Hipoglikemia reaktif.
6. Infeksi berat, kanker yang lanjut, gagal ginjal, gagal hepar.
7. Insufisiensi adrenal.
8. Kelainan kngenital yang menyebabkan sekresi insulin
berlebihan (pada bayi).
9. Hepatoma, mesothelioma, fibrosarkoma.
10. Insulinoma.
Penyebab terjadinya hipoglikemia adalah multi faktorial,
penyebab utama adalah iatrogenik (pemberian obat-obatan pada
pasien diabetes melitus), penyakit infeksi yang disertai sepsis,
tumor, stres, defisiensi hormon dan penyakit autoimmun.
(Mansyur, 2018)
Penyebab lain yang sering ditemukan adalah asupan makanan
yang tidak adekuat, konsumsi alkohol yang berkepanjangan,
interaksi obat, penyakit kronik pada hati dan ginjal. Hipoglikemia
juga sering ditemukan pada usia lanjut dan usia neonates.
(Mansyur, 2018)
Beberapa hal yang diidentifikasi sebagai faktor resiko adalah
factor risiko terkait obat-obatan dan factor risiko yang dapat
dicegah. Faktor risiko hipoglikemi yang berkaitan dengan obat
adalah kegagalan klirens obat (misal : pada GGK, hipotiroid),
kegagalan kapasitas counterregulatory (Addison disease, defisiensi
growth hormone), penggunaan glukosa berlebihan (mis: latihan
berlebihan), penurunan produksi glukosa endogen (alkoholisme,
13
kegagalan hati), kegagalan absorbsi glukosa (malabsorbsi,
anoreksia), obat-obatan (aspirin, allopurinol, NSAID). (Andrayani,
2017)
Faktor resiko hipoglikemi yang dapat dicegah diantaranya
adalah kesalahan diet, insulin, pola aktivitas dan lifestyle.
(Andrayani, 2017)
2.2.3. Patofisiologi
Tubuh memerlukan kadar gula darah yang normal melalui
regulasi gula darah yang fisiologis untuk memenuhi kebutuhan
energi jaringan. pada kejadian hipoglikemi mekanisme pertahanan
tubuh yang berfungsi akan mengaktivasi beberapa sistem
neuroendokrin, tidak berlangsung secara adekuat atau mengalami
gangguan. gangguan mekanisme tersebut menyebabkan keadaan
hipoglikemia karena tubuh gagal mempertahankan kadar normal
gula darah baik baik oleh penyebab dari luar maupun dalam tubuh
sendiri. kemampuan regulasi glukosa secara normal diatur melalui
rangkaian beberapa proses yang terjadi secara seimbang Dalam
tubuh terjadi keseimbangan antara beberapa proses diantaranya
absorpsi glukosa di dalam saluran cerna glukosa oleh jaringan
glikogenesis glikogenolisis glukoneogenesis yang secara
keseluruhan dipengaruhi oleh seperangkat hormon. (Setiati dkk,
2014)
Hipoglikemia terjadi ketika tubuh gagal mempertahankan kadar
glukosa darah oleh penyebab dari luar dan dalam tubuh. Keadaan
ini akibat ketidakseimbangan yang dipengaruhi oleh hormon yang
penting, daintaranya insulin, glukagon, epinefrin (adrenalin),
kortisol, dan growth hormone. (Setiati dkk, 2014)
14
2.2.4. Manifestasi Klinis
Tabel 2.2. Tanda dan gejala hipoglikemia pada orang
dewasa (Perkeni, 2019)
Tanda Gejala
Rasa lapar, berkeringat, Pucat, takikardia,
Autonomik gelisah, parasthesia, palpitasi, widened pulse
tremulousness pressure
Lemah, lesu, dizziness, Cortical-blindness,
confusion, pusing,, perubahan hipotermi, kejang,
Neuroglikopenik
sikap, gangguan kognitif, koma.
pandangan kabur, diplopia.
Hipoglikemia dapat diklasfikasikan kedalam beberapa bagian
terkait deraajat keparahannya , yaitu : (Soelistijo dkk, 2019)
1. Hipoglikemia ringan : pasien tidak membutuhkan bantuan
orang lain untuk pemberian glukosa oral.
2. Hipoglikemia berat : pasien membutuhkan bantuan orang lain
untuk emberian glukosa intravena, glucagon, atau resusitasi
lainnya.
Gejala klinis iasanya muncul pada kadar glukosa darah <60
mg/dL, meskipun pada orang tertentu sudah dirasakan diatas kadar
tersebut (<70 mg/dL). Tapi pada umumnya pada kadar glukosa
darah <50 mg/dL telah memberikan dampak pada fungsi serebral.
(Setiati dkk, 2014)
Pada tahap lanjut, hipoglikemia berat akan memberikan gejala
defisiensi glukosa pada jaringan serebral (gejala neuroglikopenik)
yakni : (Setiati dkk, 2014)
1. Sulit berpikir
2. Bingung
3. Sakit kepala
4. Kejang-kejang
5. Koma.
15
2.2.5. Diagnosis
Untuk membuat diagnosis hipoglikemia, berdasarkan definisi
diperlukan adanya Trias dari whipple yang terdiri atas: (Setiati dkk,
2014)
1. Adanya gejala klinis hipoglikemia, berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik
2. Kadar glukosa dalam plasma yang rendah pada saat yang
bersamaan berdasarkan pemeriksaan penunjang/laboratorium
3. Keadaan klinis segera membaik setelah kadar glukosa plasma
menjadi normal setelah diberi pengobatan dengan pemberian
glukosa
2.2.6. Penatalaksanaan
Pengobatan pada hipoglikemia ringan : (Soelistijo dkk, 2019)
1. Pemberian konsumsi makanan tinggi glukosa( karbohidrat
sederhana).
2. Glukosa murni merupakan pilihan utama, namun bentuk
karbohidrat lain yang berisi glukosa juga efektif untuk
menaikkan glukosa darah.
3. Makanan yang mengandung lemak dapat memperlambat respon
kenaikan glukosa darah
4. Glukosa 15 sampai 20 G ( dua sampai tiga sendok makan gula
pasir) yang dilarutkan dalam air adalah terapi pilihan pada
pasien dengan hipoglikemia yang masih sadar
5. Pemeriksaan glukosa darah dengan glukometer harus dilakukan
setelah 15 menit pemberian upaya terapi. jika pada monitoring
glukosa darah 15 menit setelah pengobatan hipoglikemia masih
tetap ada pengobatan dapat diulang kembali
6. Jika hasil pemeriksaan glukosa darah kadarnya sudah mencapai
normal pasien diminta untuk makan atau mengkonsumsi snack
untuk mencegah berulangnya hipoglikemia.
16
Pengobatan pada hipoglikemia berat : (Soelistijo dkk, 2019)
1. Hentikan obat obat antidiabetes. jika pasien menggunakan
insulin, maka perlu dilakukan penyesuaian dosis.
2. Jika didapat gejala Neuroglikopenia, terapi parenteral diperlukan
berupa pemberian dextrose 10% sebanyak 150 mL dalam 15
menit atau dextrose 40% sebanyak 25 mL (hati-hati risiko
terjadinya ekstravasasi)
3. Periksa glukosa darah tiap 15-30 menit setelah pemberian
intravena tersebut dengan target > 70 mg/dL. Bila target belum
tercapai maka prosedur tersebut dapat diulang.
4. Jika glukosa darah sudah mencapai target, maka
pemeliharaannya diberikan dextrose 10% dengan kecepatan 100
ml/jam sehingga pasien mampu untuk makan.
5. Pemberian glukagon 1 mg intramuskular dapat diberikan
sebagai alternatif lain terapi hipoglikemia.
6. Lakukan evaluasi terhadap pemicu hipoglikemia.
2.2.7. Pencegahan
Pencegahan terhadap hipoglikemia : (Soelistijo dkk, 2019)
1. Lakukan edukasi tentang tanda dan gejala hipoglikemi,
penanganan sementara, dan hal lain harus dilakukan
2. Anjurkan melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri
(PGDM), khususnya bagi pengguna insulin atau obat oral
golongan insulin sekretagog.
3. Lakukan edukasi tentang obat-obatan atau insulin yang
dikonsumsi, tentang: dosis, waktu megkonsumsi, efek samping
4. Bagi dokter yang menghadapi penyandang DM dengan kejadian
hipoglikemi perlu melalukan:
a. Evaluasi secara menyeluruh tentang status kesehatan pasien
17
b. Evaluasi program pengobatan yang diberikan dan bila
diperlukan melalukan program ulang dengan
memperhatikan berbagai aspek seperti: jadwal makan,
kegiatan oleh raga, atau adanya penyakit
penyerta yang memerlukan obat lain yang mungkin
berpengaruh terhadap glukosa darah
c. Bila diperlukan mengganti obat-obatan yang lebih kecil
kemungkinan menimbulkan hipoglikemi.
Hipoglikemia meningkatkan angka mortalitas pada pasien dalam
kondisi kritis. Pada 22% pasien mengalami episode hipoglikemia
lebih dari 1 kali. Angka mortalitas meningkat sesuai dengan
parahnya derajat hipoglikemia. (Alwi, dkk. 2015) Penting untuk
memberikan pengertian mengenai penyebab kejadian
hipoglikemia, gejala yang ditimbulkannya dan pengetahuan
tentang cara mengatasi keadaan tersebut kepada mereka yang berisi
kode etik edukasi terhadap penderita diabetes mengenai Apa itu
diabetes dan apa efek yang ditimbulkan obat-obatan terhadap kadar
glukosa darah haruslah termasuk dalam bagian dari pengelolaan.
(Setiati dkk, 2014)
.
BAB III
LAPORAN KASUS
3. 1. Identitas Pasien
Nama : Ny. R
No RM : 274549
Umur : 61 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jl. Benteng
Status : Menikah
Masuk RS : 18 Maret 2021
Jam Masuk RS : 16.10 WIB
Tanggal Pemeriksaan : 18 Maret 2021
3. 2. Anamnesis
Keluhan Utama
Penurunan kesadaran 1 jam sebelum masuk Rumah Sakit
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengalami penurunan kesadaran 1 jam SMRS. Saat di rumah,
keluarga pasien mengajak bicara namun pasien menjawab tidak nyambung.
Pasien tampak lemas dan keluar keringat dingin. Sejak 1 minggu SMRS
pasien sering merasakan mual sehingga nafsu makan juga berkurang. Sejak
2 hari ini pasien mengkonsumsi obat DM Tipe 2 kombinasi namun setelah
minum obat pasien tidak makan. Keluhan lain seperti demam, batuk,
muntah, jantung berdebar-debar, dan nyeri ulu hati tidak ada. BAK dan
BAB tidak ada keluhan. Pasien lalu dibawa oleh keluarga ke IGD RSUD
Kota Dumai.
18
19
Riwayat Penyakit Terdahulu
Riwayat Diabetes Melitus Tipe II (+) sejak 3 tahun
Riwayat Hipertensi (+) sejak 3 tahun
Riwayat kolesterol tinggi disangkal
Riwayat Penyakit Jantung tidak ada
Riwayat Pengobatan
Metformin 2 x 500 mg
Glimepirid 1 x 2 mg
Amlodipin 1 x 5 mg
Imidapril 1 x 10 mg
Spironolakton 1 x 25 mg
Ranitidin 2 x 150 mg
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan penyakit yang sama.
Riwayat tekanan darah tinggi dalam keluarga (-)
Riwayat penyakit jantung dalam keluarga (-)
Riwayat kencing manis dalam keluarga (-)
Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi dan Kebiasaan
Pasien seorang ibu rumah tangga
Riwayat merokok (-)
Riwayat alkohol (-)
Pasein jarang berolahraga
20
3. 3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Somnolen (E3V4M5)
Tekanan darah : 140/70 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,4 °C
Tinggi badan : 153 cm
Berat badan : 55 kg
IMT : 23,91 (Overweight)
Pemeriksaan Kepala dan Leher
Mata
Conjungtiva : Conjungtiva anemis (-/-)
Sklera : Sklera ikterik (-/-)
Palpebra : Edema palpebral (-/-)
Leher
JVP : 5-2 cmH2O
KGB : Tidak ada pembesaran KGB
Pemeriksaan Thorax
1. Paru :
Inspeksi : Bentuk dada normochest, gerakan dinding dada simetris kanan
dan kiri
Palpasi : Vocal fremitus sama kanan dan kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler (+/+), Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
2. Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba 1 jari di linea midclavikularis sinistra SIC V
Perkusi : batas jantung kanan : linea sternalis dextra
batas jantung kiri : 1 jari lateral linea midclavikularis sinistra
Auskultasi : S1 dan S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
21
Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : Dinding perut tampak cembung, tidak ada venektasi, scar (-)
Auskultasi : Bising usus (+) 8x/menit
Perkusi : Timpani pada seluruh abdomen, shiffting dullness (-)
Palpasi : Supel, nyeri tekan epigastrium (-), hepatomegali (-),
splenomegali (-)
Pemeriksaan Ekstremitas
Ekstremitas teraba hangat, CRT < 2’, sianosis (-), edema (-), lateralisasi (-)
3. 4. Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 18 Maret 2021
Darah Rutin
Hb : 11,1 g/dl
Ht : 32% %
Leukosit : 9.800 mm3
RBC : 3.650.000 mm3
MCV : 87 fL
MCH : 30 pg
MCHC : 34
Eosinofil : 0%
Basofil : 0%
N. Batang : 1%
N. Segmen : 71%
Limfosit : 17%
Monosit : 11%
Kimia darah
GDR : 34 mg/dl
22
3. 5. Penatalaksaan Awal
Nonfarmakologis :
1. Bed rest
2. Oksigen 2 L/menit
Farmakologis :
1. Bolus D40% 2 fls
2. IVFD D10% / 8 jam (Observasi 30 menit, cek ulang GDR : 141
mg/dl)
Advice dr. Risnandar, Sp.PD
1. Cek GDR/2 jam jika 3 kali berturut-turut GDR >100 mg/dl cek
GDR/4 jam
2. Cek GDR/4 jam jika GDR >100 mg/dl → Stop
3. GDR >200 mg/dl Ganti D10% dengan RL 15 tpm
4. Injeksi Ranitidin 2 x 50 mg
5. Amlodipin 1 x 5 mg
6. Tanapril 1 x 10 mg
7. Spironolakton 1 x 25 mg
8. Glimepirid dan Metformin STOP
3. 6. Follow Up
FOLLOW UP GDR 18 Maret 2021 - 19 Maret 2021
18 Maret 2021 16.30 WIB (IGD) 34 mg/dl
17.00 WIB (IGD) 141 mg/dl Cek/4 jam
21.00 WIB (IRNA) 143 mg/dl
23.00 WIB (IRNA) 49 mg/dl Bolus D40% 2 fls
Cek/2 jam
19 Maret 2021 01.00 WIB 161 mg/dl
03.00 WIB 131 mg/dl
05.00 WIB 90 mg/dl
23
07.00 WIB 73 mg/dl GDR <60 : D40% 2 fls + D10%
12 tpm
GDR 60-80 : D40% 1 fls + D10%
12 tpm
GDR 80-100: Minum air gula +
D10% 12 tpm
GDR >100 : CEK/4 Jam + D10%
12 tpm
GDR >200 : Ganti D10%
dengan RL atau NaCl 0,9 %
09.00 WIB 173 mg/dl Cek GDP dan Hba1C
Jumat, 19 Maret 2021
S : Pasien mengeluhkan badan masih lemas, pusing sesekali
O : Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis Cooperatif
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80 bpm
Temperatur : 36,5 C
Pernapasan : 20x/menit
SpO2 : 98 %
A : Hipoglikemia Induced OAD
DM Tipe II
Hipertensi Grade I
P : Inj. Ranitidin/12 jam
Amlodipin 1 x 5 mg
Imidapril 1 x 10 mg
Spironolakton 1 x 25 mg
24
Sabtu, 20 Maret 2021
S : Pasien merasa badan sudah tidak lemas, pusing tidak ada
O : Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis Cooperatif
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 82 bpm
Temperatur : 36,5 C
Pernapasan : 21x/menit
SpO2 : 98 %
GDP : 133 mg/dl
A : Hipoglikemia Induced OAD
DM Tipe II
Hipertensi Grade I
P : Pasien Boleh Pulang – Rawat Jalan
Metformin 2 x 500 mg
Amlodipin 1 x 5 mg
Imidapril 1 x 10 mg
BAB IV
PEMBAHASAN
Hipoglikemia secara defisini didasarkan rendahnya kadar glukosa darah.
Ironisnya, kejadian hipogikemia justru sering berkaitan dengan diabetes mellitus,
baik diabtes mellitus tipe 1 maupun tipe 2. (IPD,2016) Hipoglikemia yang tidak
tertangani dengan baik akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan seperti:
penurunan kualitas hidup, gangguan fungsi kognitif, penurunan kesadaran,
bahakan dapat menjadi pemicu penyakit kardiovaskuler yang dapat menjadi
penyebab kematian. (Mansyur, 2018). Brdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang dilakukan pada pasien dikasus ini didapatkan
dalam keadaan hipoglikemia yang dipicu oleh obat hiperglikemia oral (OHO)
yang di konsumsinya. Diagnosis ditegakkan sesuai dengan anamnesis yang
didapatkan yaitu pasien datang dengan penurunan kesadaran sejaak 1 jam sebelum
masuk rumah sakit. Saat dirumah pasien tidak nyambung ketika diajak berbicara
oleh keluarga. Pasien tampak lemas dan keluar keringat dingin. Sejak 2 hari ini
pasien mengkonsumsi obat DM Tipe 2 kombinasi namun setelah minum obat
pasien tidak makan.
Pasien memiliki riwayat diabetes mellitus dan hipertensi sejak 3 tahun
terakhir. Pasien adalah penderita diabetes dengan terapi OHO kombinasi
metformin dan glimepiride golongan sulfonylurea. Sulfonilurea adalah golongan
OHO yang bekerja meninkatkan sekresikan insulin dan memiliki efek samping
hipoglikemia.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien dengan kesadaran somnolen,
tekanan darah 140/70 mmHg dengan nadi 82 kali permenit. Dari hasil
pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu pada pasien didapatkan 34 mg/dL. Dan
pasien sadar setelah pemberian glukosa yang disuntikkan perintravena. Kondisi
ini sesuai dengan Trias Whipple, dimana pasien memiliki gejala hipoglikema,
kadar glukosa yang rendah dan gejala membaik jika kadar glukosa meningkat.
25
26
Tatalaksana awal pada pasien ini melipti tirah baring dengan pemberian
Oksigen 2 L/menit, pemberian Dextrose 40% 2 flash serta pemasangan infus
Dextrose 10% dan penghentian sementara OHO yang selama ini dikonsumsi oleh
pasien. Terapi yang diberikan sudah sesuai dengan pedoman Pengelolalan dan
Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 oleh Perkumpulan Endokronologi Indonesia
(PERKENI).
BAB V
KESIMPULAN
1. Hipoglikemia merupakan suatu terminology klinis yang digunakan untuk
keadaan yang disebabkan oleh menurunnya kadar glukosa dalam darah
sampai pada tngkat tertentu sehingga memberikan keluhan dan gejala.
2. Hipoglikemia merupakan suatu kondisi klinik yang dapat bersifat emergensi
dan memerlukan penanganan yang cepat dan tepat sehingga dampak dari
hipoglikemia itu dapat diminimalisir.
3. Etiologi hipoglikemia yang paling sering adalah penggunaan Obat
Hiperglikemia Oral (OHO) seperti Insulin maupun Sulfonilurea.
4. Diagnosis hipoglikemia ditegakkan dengan Trias Whipple yaitu adanya gejala
hipoglikemia, penurunan kadar glukosa dan perbaikan gejala bila kadar
glukosa meningkat.
5. Tatalaksana hipoglikemia adalah pemberian glukosa baik itu dari makanan
dan minuman maupun pemberian cairan glukosa melalui intravena dan
dilakukan pemantauan terhadap kadar glukosa darah.
27
DAFTAR PUSTAKA
Andrayani, Lale Wisnu. 2017. Strategi Pencegahan Komplikasi Akut:
Hipoglikemi Pada Non Independent Diabetes Mellitus. Mataram. Jurnal
Kesehatan Prima.
Idrus A, Simon S, Rudy H, Juferdy K, Dicky L. 2015. Penatalaksanaan di Bidang
Ilmu Penyakit Dalam, Panduan Praktik Klinis. Jakarta. Interna Publishing
Mansyur, Andi Aman Makbul. 2018. Hipoglikemia Dalam Kehidupan Sehari
Hari. Makasar. Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin.
Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Stiyohadi B, Syam AF. 2014. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Edisi VI. Jakarta. Interna Publishing.
Soelistijo SA, Lindarto D, Decroli E, Permana H, Kusnadi Y, Budiman, Ikhsan
MR, Sasiarini L, Sanusi H. 2019. Pedoman Pengelolaan Dan Pencegahan
Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia. Jakarta. PB PERKENI.
28