0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan15 halaman

LP Anemia

Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah atau hemoglobin di bawah nilai normal yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kekurangan zat besi, vitamin B12, asam folat, perdarahan kronis, dan penyakit. Gejala anemia antara lain pusing, lemah, dan cepat lelah. Penatalaksanaan meliputi suplemen zat besi, vitamin, dan transfusi darah serta mengobati penyebab utamanya.

Diunggah oleh

Meyla Srirahayu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan15 halaman

LP Anemia

Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah atau hemoglobin di bawah nilai normal yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kekurangan zat besi, vitamin B12, asam folat, perdarahan kronis, dan penyakit. Gejala anemia antara lain pusing, lemah, dan cepat lelah. Penatalaksanaan meliputi suplemen zat besi, vitamin, dan transfusi darah serta mengobati penyebab utamanya.

Diunggah oleh

Meyla Srirahayu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ANEMIA

A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi Anemia
Aniemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau
kadar Hb sampai dibawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat
(Behrman, 2011). Anemia adalah berkurangnya hingga dibawah nilai
normal jumlah SDM, kualitas Hb, dan volume packed red blood cell
(hematokrit) per 100 ml darah (Syilvia dan Price, 2012).
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung se
l darah dan kadar hematokrit dibawah normal. Anemia bukan
merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan
suatu penyakit (gangguan) fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia
terjadi apabila terdapat kekurangan Hb untuk mengangkut oksigen ke
jaringan. Anemia tidak merupakan satu kesatuan tetapi merupakan
akibat dari berbagai proses patologik yang mendasari (Smeltzer, 2011).
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau
kadar Hb sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang
sehat.  Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti
kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau kurang nutrisi
yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan
penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe
anemia dengan beragam penyebabnya. (Marilyn dan Doenges, 2012).

2. Etiologi
Penyebab anemia menurut Sudoyo (2015) sebagai berikut :
a. Anemia karena gangguan pembentukkan eritrosit dalam sumsusm
tulang :
a) Kekurangan bahan esensial pembentukan eritrosit
 Anemia defisiensi besi
Anemia defisiensi besi terjadi karena tubuh kekurangan zat
besi, sehingga jumlah sel darah merah yang sehat berkurang
dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Sel darah merah atau
disebut hemoglobin dibentuk oleh zat besi. Hemoglobin di
dalam sel darah merah dibutuhkan tubuh untuk mengikat
dan membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh organ
tubuh. Hemoglobin juga berperan dalam pembuangan
karbondioksida dari sel-sel tubuh ke paru-paru.
 Anemia defisiensi asam folat
Kondisi tubuh yang kekurangan sel darah merah karena
kadar vitamin B12 dan B9 yang tidak memadai. Kedua
vitamin tersebut dibutuhkan untuk memproduksi sel darah
merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Dalam
kondisi anemia defisiensi vitamin B12 dan folat, sumsum
tulang hanya memproduksi sedikit jumlah sel darah merah.
Tanpa pasokan sel darah merah yang sarat oksigen, maka
fungsi beberapa anggota tubuh tidak bisa bekerja dengan
baik
b) Gangguan penggunaan (utilisasi) besi
 Anemia akibat penyakit kronik
Anemia yang disebabkan oleh berbagai kemungkinan
penyakit sebelumnya, seperti kanker, infeksi, penyakit
autoimun, dan penyakit peradangan, seperti artritis
reumatoid atau penyakit ginjal. Jenis anemia ini adalah
penyebab anemia tersering kedua setelah anemia defisiensi
besi. Biasanya, penyakit ini diderita pada lansia yang
mengidap penyakit kronik, dan memerlukan perawatan
khusus, baik di rumah maupun dirawat di rumah sakit
 Anemia sideroblastik
Anemia dengan cincin sideroblas (ringsideroblastik) dalam
sumsum tulang. Anemia ini relatif jarang dijumpai, tetapi
perlumendapat perhatian karena merupakan salah satu
diagnosis banding anemia hipokromik mikrositik
c) Kerusakan sumsum tulang
 Anemia aplastilk
Anemia aplastik merupakan suatu gangguan yang
mengancam jiwa pada sel induk di sum-sum tulang yang
sel-sel darah diproduksi dalam jumlah yang tidak
mencukupi. Anemia aplastik dapat terjadi secara congenital
maupun idiopatik ( penyebabnya tidak diketahui). Secara
marfologis, sel darah mer4ah terlihat normositik dan
normokronik. Jumlah retikulosit rendah atau tidak ada dan
biop[si sumsum tulang menunjukan keadaan yang disebut “
pungsi kering” dengan hipoplasia nyata dan penggatian
dengan jarinagan lemak
 Anemia mieloplastik
Anemia megaloblastik disebabkan oleh defisiensi vitamin
B12 dan asam volat menunjukan perubahan yang sama
antara sumsum tulang dan drah tepi, karena kedua vitamin
tersebut esensial bagiu sintesis DNA normal. Pada setiap
kasus, terjadi hyperplasia sumsum tulang, precursor eritroit
dan myeloid besara dan aneh dan beberapa mengalami
multinukleasi. Tetapi beberapa sel ini mati dalam sumsum
tulang, sehingga jumlah sel matang yang meninggalkan
sumsum tulang menjadi sedikit dan terjadilah parisitopenia.
Pada keadaan lanjut Hb dapat turun 4-5 gr/dl hitung leukosit
2000-3000/ml3 dan hitung trombosit kurang dari 50000/ml3
 Anemia pada keganasan hematologi
 Anemia diseritopoietik
 Anemia pada sindrom mielodisplastik
d) Anemia akibat hemoragi
 Anemia pasca perdarahan akut
 Anemia akibat pendarahan kronik
e) Anemia hemolitik
 Gangguan membran eritrosit
 Gangguan ensim eritrosit
 Gangguan hemoglobin
f) Anemia dengan penyebab tidak diketahui atau dengan
patogenesis yang komplek.

3. Manifestasi Klinis
Manifestasi yang sering muncul sebagai berikut :
 Pusing
 Berkunang-kunang
 Lesu
 Rasa mengantuk
 Susah konsentrasi
 Cepat lelah
 Pikiran menurun
 Aktivitas kurang

4. Komplikasi
a. Mudah terkena infeksi
b. Gagal jantung
c. Kematian pada ibu hamil dan bayi lahir dengan BBLR

5. Patofisiology dan pathway


Adanya suatu anemia mencerminkan adanya suatu kegagalan
sumsum atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya.
Kegagalan sumsum (misalnya berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi
akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau penyebab
lain yang belum diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui
perdarahan atau hemolisis (destruksi). Lisis sel darah merah (disolusi)
terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system
retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa.  Hasil samping
proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah.  Setiap
kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan
dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl,
kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera). Apabila sel
darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan
hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma
(hemoglobinemia).  Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas
haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk
mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus
ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria).  Kesimpulan  mengenai
apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel
darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi
biasanya dapat diperoleh dengan dasar: Hitung retikulosit dalam
sirkulasi darah, derajat proliferasi sel darah merah muda dalam
sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam
biopsi, dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia
Pathway :

Anemia hemoglobin turun

Aliran darah perifer menurun oksihemoglobin

Penurunan transport O2 ke ajringan


Perfusi jaringan
tidak efektif
Metabolisme aerob turun, anerob naik

Kompensasi jantung
Keletihan
Respirasi

Cardiomegali
Hipoksia berat, pucat
Pola nafas
tidak efektif
Gagal jantung
Intoleransi
aktivitas

Gangguan
pertukaran gas
(Patrick, 2012)
6. Penatalaksanaan
Tindakan umum: Penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari
penyebab dan mengganti darah yang  hilang.
a. Antibiotik diberikan untuk  mencegah infeksi
b. Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah
merah.
c. Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang
membutuhkan oksigen.
d. Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada.
e. Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau.
Pengobatan (untuk pengobatan tergantung dari penyebabnya):
a. Anemia defisiensi besi
Mengatur makanan yang mengandung zat besi, usahakan makanan
yang diberikan  seperti ikan, daging, telur dan sayur. Pemberian
preparat fe, Perrosulfat 3x200mg/hari/per oral sehabis makan
Peroglukonat         3x200mg/hari/oral sehabis  makan.
b. Anemia  pernisiosa:  pemberian vitamin B12
c. Anemia asam folat: asam folat 5 mg/hari/oral
d. Anemia karena perdarahan : mengatasi perdarahan dan syok
dengan pemberian cairan  dan  transfuse darah.
A. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Riwayat
a) Riwayat penyakit sekarang
Gejala awal sakit kepala, pusing, telinga mendenging, mata
berkunang-kunang, kelemahan otot, iritabilitas, perasaan dingin
pada ekstremitas, lesu, cepat lelah, palpitasi, takikardia, sesak
nafas saat beraktivitas.
b) Riwayat penyakit dahulu
Berkaitan dengan penyakit yang diderita sebelumnya penyakit
seperti penyakit infeksi : TBC, malaria, hepatitis.
c) Riwayat penyakit keluarga
Berkaitan erat dengan penyakit keturunan, berhubungan dengan
anemia.
b. Pola gordon
a) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Menggambarkan persepsi klien atas kondisi yang dialami dan
bagaimana klien memelihara dan menanganinya.
b) Pola nutrisi metabolik
Perlu dikaji frekuensi makan dan minum, jenis, porsi dan status
antropometri seperti : makanan dan minuman yang disukai
seperti konsumsi obat-obatan, gejala : penurunan masukan diet,
masukan diet protein hewani rendah atau masukan produk sereal
tinggi.
c) Pola eliminasi
Perlu di kaji baik BAK dan BAB terkait : frekuensi, konsistensi,
bau, warna, dan keluhan seperti : gagal ginjal, riwayat
pielonefritis. Hematemesis, melena, diare, dan konstipasi.
Penurunan urine : tanda distensi abdomen.
d) Pola aktifitas latihan
Perlu dikaji kemampuan kilen dalam melakukan aktifitas, terkait
dengan penyakit anemia seseorang akan merasakan gejala :
keletihan, kelemahan, malaise umum. Tanda : takikaria, dispnea
pada waktu bekerja, kelemahan otot, penurunan kekuatan.
e) Pola istirahat dan tidur
Perlu dikaji tentang jumlah tidur siang, jumlah jam tidur malam,
gangguan tidur dan perasaan waktu bangun.
f) Pola kognitif perseptual
Lemas dan pusing.
g) Pola persepsi konsep diri
Perlu dikaji terkait citra tubuh, harga diri, ideal diri, dan
identitas diri.
h) Pola hubungan peran
Perlu dikaji hubungan klien, perawat, dan lingkungan.
i) Pola seksualitas reproduksi
Menggambarkan kepuasaan atau masalah actual atau dirasakan
dengan seksualitas, dampak sakit terhadap seksualitas riwayat
seksualitas sebelum sakit.
j) Pola mekanisme koping
Kemampuan klien dalam mengatasi masalah terkait dengan
penyakit yang dialaminya.
k) Pola nilai dan keyakinan
Perlu dikaji nilai-nilai spiritual klien.
c. Pemerikasaan fisik
a) Keadaan umum : lemah
b) Kesadaran : GCS (E:V:M)
c) TTV, TB/BB
d) Integumen : pucat dan kering.
e) Kepala
Normal cephali, rambut tipis, pusing.
f) Mata
Sclera ikterik dan konjungtiva anemis.
g) Telinga
Pasien umunya tidak mengeluhkan gangguan pendengaran yang
berkaitan dengan anemia seperti mendengung.
h) Hidung dan sinus
Pada umunya pasien tidak mengeluhkan gangguan.
i) Mulut dan tenggorokan
Pada umunya pasien tidak mengeluhkan gangguan.
j) Leher
Pada umunya pasien tidak mengeluhkan gangguan.
k) Pernafasan
Pada umunya mengeluh sesak.
l) Kardiovaskular
Lesu, cepat lelah, palpitasi, takikardia, angina pectoris.
m) Gastrointestinal
Mual, muntah, feses mengandung sterkobilin.
n) Muskoskeletal
Kelemahan otot, iritabilitas, lesu, perasaan dingin pada
ekstremitas.
d. Pemeriksaan penunjang
a) Tes paying
b) Pemeriksaan darah rutin
c) Pemeriksaan atas indikasi khusus
d) Pemeriksaan laboratorium
2. Diagnosa keperawatan
a. Intoleransi aktivitas (D.0056) berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
b. Keletihan (D.0057) berhubungan dengan kondisi fisiologis (anemia)
c. Perfusi jaringan tidak efektif (D.0009) berhubungan dengan
penurunan konsentrasi hemoglobin
d. Pola tidak efektif (D.0005) berhubungan dengan sindrom
hipoventilasi
e. Gangguan pertukaran gas (D.0003) berhubungan dengan
ketidakseimbangan ventilasi-perfusi

3. Perencanaan keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


Intoleransi Setelah dilakukan tindakan Manajemen energy
aktivitas keperawatan selama ...x24 1) Monitor frekuensi nadi,
(D.0056) jam, intoleransi aktivitas respirasi, dan saturasi
membaik dengan kriteria oksigen
hasil : 2) Posisikan semifowler atau
Toleransi aktivitas setelah duduk
(L.05047) 3) Anjurkan untuk
1) Frekuensi nadi melakukan aktivitas rutin
membaik perhari
2) Saturasi oksigen 4) Kolaborasi terapi aktivitas
membaik
3) Dyspnea menurun
4) Tekanan darah dan
frekuensi nafas
membaik
Keletihan Setelah dilakukan tindakan Edukasi aktivitas/istirahat
(D.0057) keperawatan selama ...x24 (I.12362)
jam, keletihan menurun Manajemen energy (
dengan kriteria hasil : 1) Identifikasi kesiapan dan
Tingkat keletihan kemampuan menerima
(L.05046) informasi
1) Verbalisasi kepulihan 2) Sediakan penkes sudah yuli
energy meningkat sma aku
2) Verbalisasi lelah 3) Jelaskan pentingnya
menurun melakukan kebugaran fisik
3) Lesu menurun 4) Anjurkan cara
mengidentifikasi kebutuha
instirahat
Perfusi Setelah dilakukan tindakan Perawatan sirkulasi
jaringan tidak keperawatan selama ...x24 1) Observasi sirkulasi perifer
efektif jam, perfusi jaringan (sensasi, nadi perifer,
(D.0009) membaik dengan kriteria edeme, CRT, warna dan
hasil : suhu ekstremitas)
Perfusi perifer (L.02011) 2) Monitor tekanan darah
4) Denyut nadi perifer dan denyut nadi perifer
membaik 3) Lakukan ROM
5) Tekanan darah
sistolik membaik
6) Tekanan darah
diastolic membaik
Pola nafas Setelah dilakukan tindakan Manajemen jalan nafas
tidak efektif keperawatan selama ...x24 (I.01011) :
(D.0005) jam, pola nafas pasien 1) Monitor frekuensi pola
membaik dengan kriteria nafas
hasil : 2) Posisikan semi fowler atau
Pola nafas (L.01004) fowler
a. Dispnea menurun 3) Kolaborasi pembeian
b. Penggunaan otot bantu terapi oksigen
nafas menurun Dukungan Ventilasi (I. 01002)
c. Frekuensi dan 1) Identifikasi adanya
kedalaman nafas kelelahan otot bantu nafas
membaik 2) Ajarkan melakukan
relaksasi nafas dalam
Gangguan Setelah dilakukan tindakan Pemantaun respirasi
pertukaran gas keperawatan selama ...x24 Terapi oksigen (I.01026)
(D.0003) jam, pertukaraan gas 1) Monitor status pernafasan
membaik dengan kriteria dan oksigenasi
hasil : sebagaimana
Pertukaran gas (L.01003) 2) Monitor efektifitas terapi
a. Dispnea menurun oksigen dengan tepat
b. Bunyi nafas tambahan 3) Posisikan klien untuk
menurun memaksimalkan ventilasi
c. Takikardia menurun 4) Anjurkan klien untuk
bernafas dalam dan pelan
5) Kolaborasi pemberian
terapi oksigen
4. Evaluasi keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah proses membandingkan efek atau
hasil suatu tindakan keperawatan dengan normal atau kriteria tujuan
yang sudah dibuat merupakan tahap akhir dari proses keperawatan
evaluasi yang terdiri dari :
a. Evaluasi formatif : Hasil observasi dan analisa perawat terhadap
respon segera pada saat dan setelah dilakukan tindakan
keperawatan.
b. Evaluasi sumatif : Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi
dan analisa status kesehatan sesuai waktu pada tujuan ditulis
pada catatan perkembangan.
DAFTAR PUSTAKA

Anna, K., Budi. (2015). Diagnosis Keperawatan NANDA 20125-2017. Cetakan 1.


Jogjakarta : Mediaction.

Afnuhazi, R. (2015). Komunikasi Terapeutik Dalam Keperawatan Jiwa.


Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Marilyn, E., Doenges. (2012). Definisi Anemia. Jakarta: EGC

Patrick and Davey. (2012). Patofisiologi. Keperawatan Medikal bedah. Jakarta:


EGC

Saferi, A. Dan Mariza, Y. (2013). KMB 1 Keperawatan Medikal Bedah


(Keperawatan Dewasa). Yogyakarta : Nuha medika.

Wijayaningsih, S. (2013). Standar Asuhan Keperawatan. Jakarta : CV. Trans Info


Media.

Smeltzer,C. (2011). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Jakarta :EGC

Syilvia, A., Price. (2012). Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Definisi Dan Indicator Diagnostic. Jakarta: DPP PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi Dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia:
Definisi Dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI

Anda mungkin juga menyukai