Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ANEMIA
DI RUANG AIRLANGGA RSUD KANJURUHAN KEPANJEN

Oleh:
ISMAIL RASMIN
NIM. 201510461011038

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016

LAPORAN PENDAHULUAN
ANEMIA

A. PENGERTIAN
Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin
(Hb) atau sel darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas
sel darah merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011).
Anemia adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar
hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan
normal. Jika kadar hemoglobin kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41%
pada pria, maka pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita,
wanita yang memiliki kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang
dari 37%, maka wanita itu dikatakan anemia. Anemia bukan merupakan penyakit,
melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan
fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah
hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb
sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat. Anemia adalah
gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen
tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah,
yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada
banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya (Marilyn E, Doenges, Jakarta,
2002).
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi
hemoglobin turun dibawah normal (Wong, 2003).

B. ETIOLOGI

Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu:


1. Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12,
asam folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk
pembentukan sel darah merah.
2. Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi rawan
terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya
banyak dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
3. Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin
menyerap zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.
4. Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan terus-menerus
di saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu dapat
menyebabkan anemia.
5. Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan
lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat menyebabkan
masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB,
antiarthritis, dll).
6. Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi). Ini
dapat menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan
vitamin B12.
7. Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit ginjal,
masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit lainnya
dapat menyebabkan anemia karena mempengaruhi proses pembentukan
sel darah merah.
8. Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing tambang,
malaria, atau disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.

C. KLASIFIKASI ANEMIA

Terdapat beragam jenis pengklasifikasian anemia, pada klasifikasi anemia


menurut morfologi, mikro dan makro menunjukkan ukuran pada sel darah merah
sedangkan kromik menunjukkan warnanya. Secara morfologi, pengklasifikasian
anemia terdiri atas:
1. Anemia normositik normokrom
Patofisiologi anemia ini terjadi karena pengeluaran darah atau destruksi darah
yang berlebih sehingga menyebabkan Sumsum tulang harus bekerja lebih
keras lagi dalam eritropoiesis. Sehingga banyak eritrosit muda (retikulosit)
yang terlihat pada gambaran darah tepi. Pada kelas ini, ukuran dan bentuk selsel darah merah normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang
normal tetapi individu menderita anemia. Anemia ini dapat terjadi karena
hemolitik, pasca pendarahan akut, anemia aplastik, sindrom mielodisplasia,
alkoholism, dan anemia pada penyakit hati kronik.
2. Anemia makrositik normokrom
Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal tetapi
normokrom karena konsentrasi hemoglobinnya normal. Hal ini diakibatkan
oleh gangguan atau terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti yang
ditemukan pada defisiensi B12 dan atau asam folat. Ini dapat juga terjadi pada
kemoterapi kanker, sebab terjadi gangguan pada metabolisme sel
3. Anemia mikrositik hipokrom
Mikrositik berarti kecil, hipokrom berarti mengandung hemoglobin dalam
jumlah yang kurang dari normal. Hal ini umumnya menggambarkan
insufisiensi sintesis hem (besi), seperti pada anemia defisiensi besi, keadaan
sideroblastik dan kehilangan darah kronik, atau gangguan sintesis globin,
seperti pada talasemia (penyakit hemoglobin abnormal kongenital).
Kekurangan vitamin penting seperti vitamin B12, asam folat, vitamin C
dan besi dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif sehingga
menimbulkan anemia. Untuk menegakkan diagnosis anemia harus digabungkan
pertimbangan morfologis dan etiologi. Berikut adalah pengklasifikasian anemia
menurut etiologinya:

1. Anemia aplastik
Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk di
sumsum tulang yang dapat menimbulkan kematian, pada keadaan ini jumlah
sel-sel darah yang dihasilkan tidak memadai. Penderita mengalami
pansitopenia yaitu kekurangan sel darah merah, sel darah putih dan
trombosit. Secara morfologis sel-sel darah merah terlihat normositik dan
normokrom, hitung retikulosit rendah atau hilang dan biopsi sumsum tulang
menunjukkan suatu keadaan yang disebut pungsi kering dengan hipoplasia
yang nyata dan terjadi pergantian dengan jaringan lemak. Langkah-langkah
pengobatan terdiri dari mengidentifikasi dan menghilangkan agen penyebab.
Namun pada beberapa keadaan tidak dapat ditemukan agen penyebabnya
dan keadaan ini disebut idiopatik. Beberapa keadaan seperti ini diduga
merupakan keadaan imunologis.
2. Anemia defisiensi besi
Anemia defisiensi besi secara morfologis diklasifikasikan sebagai
anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintetis
hemoglobin. Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia di dunia.
Khususnya terjadi pada wanita usia subur, sekunder karena kehilangan darah
sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama hamil.

D. MANIFETASI KLINIS
1. Lemah, letih, lesu dan lelah
2. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
3. Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan
menjadi pucat. Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb,
vasokontriksi
4. Takikardi dan bising jantung (peningkatan kecepatan aliran darah) Angina
(sakit dada)
5. Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas (pengiriman O2 berkurang)

6. Sakit kepala, kelemahan, tinitus (telinga berdengung) menggambarkan


berkurangnya oksigenasi pada SSP
7. Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia, nausea, konstipasi atau diare)
E. PATOFISIOLOGI
Adanya suatu anemia mencerminkan adanya suatu kegagalan sumsum
atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum
(misalnya berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi,
pajanan toksik, invasi tumor atau penyebab lain yang belum diketahui. Sel darah
merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi).
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau
dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping
proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan
destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan
bilirubin plasma (konsentrasi normal 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl
mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada
kelainan

hemplitik)

(hemoglobinemia).

maka

hemoglobin

akan

muncul

Apabila

konsentrasi

plasmanya

dalam

melebihi

plasma
kapasitas

haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat


semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin
(hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh
penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak
mencukupi biasanya dapat diperoleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam
sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang
dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya
hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Kadar Hb, hematokrit, indek sel darah merah, penelitian sel darah putih, kadar
Fe, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin B12, hitung
trombosit, waktu perdarahan, waktu protrombin, dan waktu tromboplastin
parsial.
b. Aspirasi dan biopsy sumsum tulang. Unsaturated iron-binding capacity serum
c. Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis
serta sumber kehilangan darah kronis.
G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah
yang hilang :
1. Anemia aplastik:
o Transplantasi sumsum tulang
o Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit(ATG)
2. Anemia pada penyakit ginjal
o Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian besi dan asam folat
o Ketersediaan eritropoetin rekombinan
3. Anemia pada penyakit kronis
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan
penanganan untuk aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan
yang mendasarinya, besi sumsum tulang dipergunakan untuk membuat
darah, sehingga Hb meningkat.
4. Anemia pada defisiensi besi
o Dicari penyebab defisiensi besi
o Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat ferosus dan
fumarat ferosus.
5. Anemia megaloblastik
Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila
difisiensi disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor
intrinsik dapat diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM. Untuk mencegah
kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan selama hidup
pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat
dikoreksi. Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan

penambahan asam folat 1 mg/hari, secara IM pada pasien dengan gangguan


absorbsi.
H. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Lakukan pengkajian fisik
2. Dapatkan riwayat kesehatan, termasuk riwayat diet
3. Observasi adanya manifestasi anemia
a. Manifestasi umum
o Kelemahan otot
o Mudah lelahKulit pucat
b. Manifestasi system saraf pusat
o Sakit kepala
o Pusing
o Kunang-kunang
o Peka rangsang
o Proses berpikir lambat
o Penurunan lapang pandang
o Apatis
o Depresi
c. Syok (anemia kehilangan darah)
o Perfusi perifer buruh
o Kulit lembab dan dingin
o Tekanan darah rendah dan tekanan darah setral
o Peningkatan frekwensi jatung
Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dan intervensi :
NO
1

DIANGOSA
KEPERAWATAN DAN
KOLABORASI
Perfusi jaringan tidak
efektif b/d penurunan
konsentrasi Hb dan darah,
suplai oksigen berkurang

TUJUAN DAN KRITERIA


HASIL
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama jam
perfusi jaringan klien adekuat
dengan kriteria :
- Membran mukosa merah
- Konjungtiva tidak anemis
- Akral hangat
- Tanda-tanda
vital
dalam
rentang normal

INTERVENSI
Manajemen sensasi perifer
- Monitor
adanya
daerah
tertentu yang hanya peka
terhadap
panas/dingin/tajam/tumpul
- Monitor adanya paretese
- Instruksikan keluarga untuk
mengobservasi kulit jika ada
lesi atau laserasi
- Gunakan sarun tangan untuk

proteksi
- Batasi gerakan pada kepala,
leher dan punggung
- Monitor kemampuan BAB
- Kolaborasi
pemberian
analgetik
- Monitor adanya tromboplebitis
- Diskusikan
menganai
penyebab perubahan sensasi

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh b/d intake yang
kurang, anoreksia

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama .
status nutrisi klien adekuat
dengan kriteria
- Adanya peningkatan berat
badan sesuai dengan tujuan
- Beratbadan ideal sesuai dengan
tinggi badan
- Mampumengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
- Tidk ada tanda tanda malnutrisi
- Menunjukkan
peningkatan
fungsi
pengecapan
dari
menelan
- Tidak terjadi penurunan berat
badan yang berarti
- Pemasukan yang adekuat
- Tanda-tanda malnutri si
- Membran konjungtiva dan
mukos tidk pucat
- Nilai Lab.:
Protein total: 6-8 gr%
Albumin: 3.5-5,3 gr %
Globulin 1,8-3,6 gr %
HB tidak kurang dari 10 gr %

Nutrition Management
- Kaji adanya alergi makanan
- Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
- Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan intake Fe
- Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan protein dan
vitamin C
- Berikan substansi gula
- Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
- Berikan makanan yang terpilih
(sudah dikonsultasikan dengan
ahli gizi)
- Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan
harian.
- Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
- Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
- Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan
Nutrition Monitoring
- BB pasien dalam batas normal
- Monitor adanya penurunan
berat badan
- Monitor tipe dan jumlah

Defisit perawatan diri b/d


kelemahan fisik

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama . jam
kebutuhan
mandiri
klien
terpenuhi dengan kriteria
- Klien terbebas dari bau badan
- Menyatakan
kenyamanan
terhadap kemampuan untuk
melakukan ADLs
- Dapat
melakukan
ADLS
dengan bantuan

aktivitas yang biasa dilakukan


Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
Monitor lingkungan selama
makan
Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam
makan
Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan
jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan intake
nuntrisi
Catat
adanya
edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

Self Care assistane : ADLs


- Monitor kemempuan klien
untuk perawatan diri yang
mandiri.
- Monitor kebutuhan klien untuk
alat-alat
bantu
untuk
kebersihan diri, berpakaian,
berhias, toileting dan makan.
- Sediakan bantuan sampai klien
mampu secara utuh untuk
melakukan self-care.
- Dorong klien untuk melakukan
aktivitas sehari-hari yang
normal sesuai kemampuan
yang dimiliki.

- Dorong untuk melakukan


secara mandiri, tapi beri
bantuan ketika klien tidak
mampu melakukannya.
- Ajarkan klien/ keluarga untuk
mendorong
kemandirian,
untuk memberikan bantuan
hanya jika pasien tidak mampu
untuk melakukannya.
- Berikan aktivitas rutin seharihari sesuai kemampuan.
- Pertimbangkan usia klien jika
mendorong
pelaksanaan
aktivitas sehari-hari.
4

Resiko infeksi

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama . jam
status imun klien meningkat
dengan kriteria
- Klien bebas dari tanda dan
gejala infeksi
- Menunjukkan
kemampuan
untuk mencegah timbulnya
infeksi
- Jumlah leukosit dalam batas
normal
- Menunjukkan perilaku hidup
sehat

Kontrol infeksi
- Bersihkan lingkungan setelah
dipakai pasien lain
- Pertahankan teknik isolasi
- Batasi pengunjung bila perlu
- Instruksikan pada pengunjung
untuk mencuci tangan saat
berkunjung
dan
setelah
berkunjung
meninggalkan
pasien
- Gunakan sabun antimikrobia
untuk cuci tangan
- Cuci tangan setiap sebelum
dan
sesudah
tindakan
kperawtan
- Gunakan baju, sarung tangan
sebagai alat pelindung
- Pertahankan
lingkungan
aseptik selama pemasangan
alat
- Ganti letak IV perifer dan line
central dan dressing sesuai
dengan petunjuk umum
- Gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
- Tingktkan intake nutrisi
- Berikan terapi antibiotik bila
perlu

- Proteksi terhadap infeksi


- Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
- Monitor hitung granulosit,
WBC
- Monitor kerentanan terhadap
infeksi
- Batasi pengunjung
- Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
- Partahankan teknik aspesis
pada pasien yang beresiko
- Pertahankan teknik isolasi k/p
- Berikan perawatan kuliat pada
area epidema
- Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
- Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah
- Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai resep
- Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
- Ajarkan cara menghindari
infeksi
- Laporkan kecurigaan infeksi
- Laporkan kultur positif
5

Intoleransi aktifitas b.d


ketidakseimbangan suplai
dan kebutuhan oksigen

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama .. klien
dapat beraktivitas dengan kriteria
- Berpartisipasi dalam aktivitas
fisik dgn TD, HR, RR yang
sesuai
- Menyatakan
gejala
memburuknya efek dari OR &
menyatakan onsetnya segera
- Warna kulit normal, hangat &
kering
- Memverbalissikan pentingnya

Toleransi aktivitasi
- Menentukan
penyebab
intoleransi
aktivitas&menentukan apakah
penyebab
dari
fisik,
psikis/motivasi
- Observasi adanya pembatasan
klien dalam beraktifitas.
- Kaji
kesesuaian
aktivitas&istirahat
klien
sehari-hari
- aktivitas secara bertahap,

aktivitas secara bertahap


- Mengekspresikan
pengertian
pentingnya
keseimbangan
latihan&istirahat
- Peningkatan toleransi aktivitas

Gangguan pertukaran gas


b.d ventilasi-perfusi

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama .. status
respirasi
:
pertukaran
gas
membaik dengan kriteria :
- Mendemonstrasikan
peningkatan
ventilasi
dan
oksigenasi yang adekuat
- Memelihara kebersihan paru
paru dan bebas dari tanda tanda
distress pernafasan
- Mendemonstrasikan
batuk
efektif dan suara nafas yang
bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu
(mampu
mengeluarkan sputum, mampu
bernafas dengan mudah, tidak
ada pursed lips)
- Tanda tanda vital dalam
rentang normal

biarkan klien berpartisipasi


dapat
perubahan
posisi,
berpindah & perawatan diri
- Pastikan
klien
mengubah
posisi secara bertahap. Monitor
gejala intoleransi aktivitas
- Ketika membantu klien berdiri,
observasi gejala intoleransi spt
mual, pucat, pusing, gangguan
kesadaran&tanda vital
- Lakukan latihan ROM jika
klien tidak dapat menoleransi
aktivitas
- Bantu klien memilih aktifitas
yang mampu untuk dilakukan
Terapi Oksigen
- Bersihkan mulut, hidung dan
secret trakea
- Pertahankan jalan nafas yang
paten
- Atur peralatan oksigenasi
- Monitor aliran oksigen
- Pertahankan posisi pasien
- Onservasi adanya tanda tanda
hipoventilasi
- Monitor adanya kecemasan
pasien terhadap oksigenasi
Vital sign Monitoring
Monitor TD, nadi, suhu,
dan RR
Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
-

Monitor VS saat pasien


berbaring, duduk, atau berdiri

Auskultasi TD pada
kedua lengan dan bandingkan

Monitor TD, nadi, RR,


sebelum, selama, dan setelah
aktivitas

Monitor

kualitas

dari

nadi
-

Monitor frekuensi dan


irama pernapasan

Monitor suara paru

Monitor
pernapasan abnormal

Monitor suhu, warna,


dan kelembaban kulit

Ketidakefektifan pola
nafas b.d

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama .
status respirasi klien membaik
dengan kriteria
- Mendemonstrasikan
batuk
efektif dan suara nafas yang
bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu
(mampu
mengeluarkan sputum, mampu
bernafas dengan mudah, tidak
ada pursed lips)
- Menunjukkan jalan nafas yang
paten (klien tidak merasa
tercekik, irama nafas, frekuensi
pernafasan
dalam
rentang
normal, tidak ada suara nafas
abnormal)
- Tanda Tanda vital dalam
rentang normal (tekanan darah,
nadi, pernafasan)

pola

Monitor sianosis perifer


Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar,
bradikardi,
peningkatan sistolik)

Identifikasi
penyebab
dari perubahan vital sign
Airway Management
- Buka jalan nafas, guanakan
teknik chin lift atau jaw thrust
bila perlu
- Posisikan
pasien
untuk
memaksimalkan ventilasi
- Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas
buatan
- Pasang mayo bila perlu
- Lakukan fisioterapi dada jika
perlu
- Keluarkan sekret dengan batuk
atau suction
- Auskultasi suara nafas, catat
adanya suara tambahan
- Lakukan suction pada mayo
- Berikan bronkodilator bila
perlu
- Berikan pelembab udara Kassa
basah NaCl Lembab
- Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.

Keletihan b.d anemia

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama
..
.keletihan klien teratasi dengan
kriteria :
- Kemampuan aktivitas adekuat
- Mempertahankan
nutrisi
adekuat
- Keseimbangan aktivitas dan
istirahat
- Menggunakan teknik energi
konservasi
- Mempertahankan
interaksi
sosial
- Mengidentifikasi faktor-faktor
fisik dan psikologis yang
menyebabkan kelelahan
- Mempertahankan kemampuan
untuk konsentrasi

Energi manajemen
- Monitor respon klien terhadap
aktivitas takikardi, disritmia,
dispneu, pucat, dan jumlah
respirasi
- Monitor dan catat jumlah tidur
klien
- Monitor
ketidaknyamanan
atauu nyeri selama bergerak
dan aktivitas
- Monitor intake nutrisi
- Instruksikan
klien
untuk
mencatat tanda-tanda dan
gejala kelelahan
- Jelakan kepada klien hubungan
kelelahan
dengan
proses
penyakit
- Catat aktivitas yang dapat
meningkatkan kelelahan
- Anjurkan klien melakukan
yang meningkatkan relaksasi
- Tingkatkan
pembatasan
bedrest dan aktivitas

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3.
Jakarta: EGC
Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6.
Jakarta: EGC
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition.
New Jersey: Upper Saddle River
Marlyn E. Doenges, 2002. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Patrick Davay, 2002, At A Glance Medicine, Jakarta, EMS
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta:
Prima Medika
Smeltzer & Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta: EGC
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC :
Jakarta.