0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
396 tayangan18 halaman

Laporan Demam Typhoid

Laporan pendahuluan menjelaskan konsep demam thypoid yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi yang masuk melalui makanan atau air terkontaminasi dan menyebabkan demam berkepanjangan beserta gejala sistemik lainnya. Patofisiologi penyakit ini meliputi infeksi bakteri di usus halus dan darah yang dapat menyebabkan komplikasi organ. Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan darah dan cairan tubuh, sedangkan pengobatan ber

Diunggah oleh

Tiara Azisah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
396 tayangan18 halaman

Laporan Demam Typhoid

Laporan pendahuluan menjelaskan konsep demam thypoid yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi yang masuk melalui makanan atau air terkontaminasi dan menyebabkan demam berkepanjangan beserta gejala sistemik lainnya. Patofisiologi penyakit ini meliputi infeksi bakteri di usus halus dan darah yang dapat menyebabkan komplikasi organ. Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan darah dan cairan tubuh, sedangkan pengobatan ber

Diunggah oleh

Tiara Azisah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

DEMAM THYPOID

OLEH:
TIARA ASISA
BT2001027

CI LAHAN CI INSTITUSI

AKADEMI KEPERAWATAN BATARI TOJA


WATAMPONE
2021
I. KONSEP MEDIS
A. DEFINISI
Demam thypoid atau enteric fever adalah penyakit infeksi
akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala
demam lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan
gangguan keasadaran. Demam thypoid disebabkan oleh infeksi
salmonella typhi. (Lestari Titik, 2016).
Demam thypoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan
oleh Salmonella Typhi, biasanya melalui konsumsi makanan atau
air yang terkontaminasi. Penyakit akut ditandai oleh demam
berkepanjangan, sakit kepala, mual, kehilangan nafsu makan, dan
sembelit atau kadang-kadang diare. Gejala seringkali tidak spesifik
dan secara klinis tidak dapat dibedakan dari penyakit demam
lainnya (WHO, 2018). Dari data WHO di dapatkan perkiraan
jumlah kasus demam thypoid mencapai angka antara 11 dan 21
juta kasus dan 128.000 hingga 161.000 kematian terkait demam
thypoid terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Penyakit serupa tetapi
seringkali kurang parah, demam paratipoid, disebabkan oleh
Salmonella Paratyphi (WHO, 2018).

B. ETIOLOGI
Penyebab utama demam thypoid ini adalah bakteri
samonella typhi. Bakteri salmonella typhi adalah berupa basil gram
negatif, bergerak dengan rambut getar, tidakberspora, dan
mempunyai tiga macam antigen yaitu antigen O (somatik yang
terdiri atas zat kompleks lipopolisakarida), antigen H (flegella),
dan antigen VI. Dalam serum penderita, terdapatzat (aglutinin)
terhadap ketiga macam antigen tersebut. Kuman tumbuh pada
suasana aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15-41 derajat
celsius (optimum 37 derajat celsius) dan pH pertumbuhan 6-8.
Faktor pencetus lainnya adalah lingkungan, sistem imun yang
rendah, feses, urin, makanan/minuman yang terkontaminasi,
formalitas dan lain sebagainya. (Lestari Titik, 2016).

C. PATOFISIOLOGI
Proses perjalanan penyakit kuman masuk ke dalam mulut
melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh salmonella
(biasanya ˃10.000 basil kuman). Sebagian kuman dapat
dimusnahkan oleh asam hcl lambung dan sebagian lagi masuk ke
usus halus. Jika respon imunitas humoral mukosa (igA) usus
kurang baik, maka basil salmonella akan menembus selsel epitel
(sel m) dan selanjutnya menuju lamina propia dan berkembang
biak di jaringan limfoid plak peyeri di ileum distal dan kelenjar
getah bening mesenterika. (Lestari Titik, 2016).
Jaringan limfoid plak peyeri dan kelenjar getah bening
mesenterika mengalami hiperplasia. Basil tersebut masuk ke aliran
darah (bakterimia) melalui duktus thoracicus dan menyebar ke
seluruh organ retikulo endotalial tubuh, terutama hati, sumsum
tulang, dan limfa melalui sirkulasi portal dari usus. (Lestari Titik,
2016).
Hati membesar (hepatomegali) dengan infiltasi limfosit,
zat plasma, dan sel mononuclear. Terdapat juga nekrosis fokal dan
pembesaran limfa (splenomegali). Di organ ini, kuman salmonella
thhypi berkembang biak dan masuk sirkulasi darah lagi, sehingga
mengakibatkan bakterimia ke dua yang disertai tanda dan gejala
infeksi sistemik (demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit
perut, instabilitas vaskuler dan gangguan mental koagulasi).
(Lestari Titik, 2016).
Perdarahan saluran cerna terjadi akibat erosi pembuluh
darah di sekitar plak peyeriyang sedang mengalami nekrosis dan
hiperplasia. Proses patologis ini dapat berlangsung hingga ke
lapisan otot, serosa usus, dan mengakibatkan perforasi. Endotoksin
basil menempel di reseptor sel endotel kapiler dan dapat
mengakibatkan komplikasi, seperti gangguan neuropsikiatrik
kardiovaskuler, pernafasan, dan gangguan organ lainnya. Pada
minggu pertama timbulnya penyakit, terjadi hiperplasia plak
peyeri, di susul kembali, terjadi nekrosis pada minggu ke dua dan
ulserasi plak peyeri pada mingu ke tiga. selanjutnya, dalam minggu
ke empat akan terjadi proses penyembuhan ulkus dengan
meninggalkan sikatriks (jaringan parut).
Sedangkan penularan salmonella thypi dapat di tularkan
melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food
(makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly
(lalat) dan melalui Feses. (Lestari Titik, 2016).

D. TANDA DAN GEJALA


1. Demam yang meningkat secara bertahap tiap hari hongga
mencapai 39oC-40oC dan akan lebih tinggi pada malam
2. Sakit kepala
3. Merasa tidak enak badan
4. Pembesaran ginjal dan hati
5. Kelelahan dan lemas
6. Berkeringat
7. Nyeri otot
8. Batuk kering
9. Penurunan berat badan
10. Sakit perut
11. Kehilangan nafsu makan
12. Anak-anak sering mengalami diare sementara orang dewasa
cenderung mengalami konstipasi
E. PATHWAY

F. KOMPLIKASI
 Komplikasi intestinal : perdarahan usus, perporasi usus dan
ilius paralitik.
 Komplikasi extra intestinal
1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi
(renjatan sepsis), miokarditis, trombosis,
tromboplebitis.
2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia
dan syndroma uremia hemolitik.
3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis,
dan kolesistitis.
5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis
dan perinepritis.
6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis,
spondilitis dan arthritis.
7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meninggiusmus,
meningitis, polineuritis perifer, sindroma guillain bare
dan sindroma katatonia. (Lestari Titik, 2016).

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid
terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi
kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada
kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada
sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan
kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada
komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu, pemeriksaan
jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat
tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
3. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid,
tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan
akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan
darah tergantung dari beberapa faktor :
a. Tehnik pemeriksaan laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan
laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan
tehnik dan media biakan yang digunakan. Waktu
pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam
tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.
b. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit
Biakan darah terhadap salmonella typhi terutama positif
pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu
berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif
kembali.
c. Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat
menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat
menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.
d. Pengobatan dengan obat anti mikroba
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan
obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan
terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.
e. Uji widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan
antibodi. Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella typhi
terdapat dalam serum klien dengan demam typhoid juga
terdapat pada orang pernah divaksinasikan. Antigen yang
digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang
sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji
widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam
serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat
infeksi oleh salmonella typhi, klien membuat antibodi atau
aglutinin yaitu:
1. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan anti-gen O
(berasal dari tubuh kuman).
2. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan anti-gen H
(berasal dari flagel kuman).
3. Aglutinin VI, yang dibuat karena rangsangan anti-gen
VI (berasal dari simpai kuman). Dari ketiga aglutinin
tersebut hanya agglutinin O dan H yang ditentukan
titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin
besar klien menderita typhoid.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Berdasarkan Lestari Titik, 2016, penatalaksanaan pada demam
typhoid
yaitu:
 Perawatan
1. Klien diistirahatkan 7 hari sampai 14 hari untuk
mencegah komplikasi perdarahan usus.
2. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan
pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.
 Diet
1. Diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein.
2. Pada penderita yang akut dapat diberikan bubur saring.
3. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari
lalu nasi tim.
4. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas
dari demam selama 7 hari.
 Obat-obatan
Antibiotika umum digunakan untuk mengatasi penyakit
typhoid. Waktu penyembuhanbisa makan waktu 2 minggu
hingga satu bulan. Antibiotika, seperti ampicilin,
kloramfenikol, trimethoprim sulfamethoxazole dan
ciproloxacin sering digunakan untuk merawat demam
typhoid di negara-negara barat. Obat-obatan antibiotik
adalah:
1. Kloramfenikol diberikan dengan dosis 50
mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali pemberian, oral
atau intravena, selama 14 hari.
2. Bilamana terdapat kontra indikasi pemberian
kloramfenikol, diberikan ampisilin dengan dosis 200
mg/kgBB/hari, terbagi dalam3-kali. Pemberian
intravena saat belum dapat minum obat, selama 21 hari.
3. Amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/ hari, terbagi
dalam3-4 kali. Pemberian oral/intravena selama 21 hari.
4. Kotrimoksasol dengan dosis 8 mg/kgBB/hari terbagi
dalam 2-3 kali pemberian, oral, selama 14 hari.
5. Pada kasus berat, dapat diberi ceftriakson dengan dosis
50 m/kgBB/hari dan diberikan 2 kali sehari atau 80
mg/kgBB/hari, sehari sekali, intravena selama 5-7 hari.
6. Pada kasus yang diduga mengalami MDR, maka pilihan
antibiotika adalah meropenem, azithromisin, dan
fluoroquinolon.
Bila tak terawat, demam typhoid dapat berlangsung
selama tiga minggu sampai sebulan. Kematian terjadi
antara 10% dan 30 % dari kasus yang tidak terawat.
Pengobatan penyulit tergantung macamnya. Untuk
kasus berat dan dengan manifestasi nerologik menonjol,
diberi deksamethason dosis tinggi dengan dosis awal 3
mg/kgBB, intravena perlahan (selama 30 menit).
Kemudian disusul pemberian dengan dosis 1 mg/kg BB
dengan tenggang waktu 6 sampai 7 kali pemberian.
Tatalaksanaan bedah dilakukan pada kasus-kasus
dengan penyulit perforasi usus.
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama di
dalam memberikan asuhan keperawatan. Perawat harus
mengumpulkan data tentang status kesehatan pasien secara
sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan.
Pengumpulan data ini juga harus dapat menggambarkan status
kesehatan klien dan kekuatan masalah-masalah yang dialami oleh
klien.
1. Identitas klien
2. Keluhan utama
Berupa perasaan yang tidak enak badan, lesu, nyeri kapala,
pusing
dan kurang bersemangat, serta nafsu makan kurang (terutama
selama masa inkubasi). Pada kasus yang khas, demam
berlangsung selama 3 minggu, bersifat febris remiten, dan suhu
tubuhnya tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu
tubuh berangsur-angsur baik setiap harinya biasanya menurun
pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari.
Pada minggu kedua, pasien terus berada dalam keadaan
demam. Saat minggu ke tiga, suhu beragsur turun dan normal
kembali pada akhir minggu ke tiga. Umumnya kesadaran
pasien menurun walaupun tidak berada dalam kedaaan yaitu
apatis sampai samnolen. Jarang terjadi stupor, koma, atau
gelisah (kecuali bila penyakitnya berat dan terlambat
mendapatkan pengobatan). Disamping gejala-gejala tersebut
mungkin terdapat gejala lainnya. Kadang-kadang ditemukan
pula bradikardia dan epitaksis pada anak besar.
3. Pemeriksaan fisik
 Kepala
Melihat kebersihan kulit kepala, distribusi rambut merata
dan warna rambut.
 Wajah, melihat ke semetrisan kiri dan kanan.
 Mata, terlihat sklera putih, konjuntiva merah muda, dan
reflek pupil mengecil ketika terkena sinar. 4) Mulut,
terdapat napas yang berbau tidak sedap serta bibir kering,
dan pecah-pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih
kotor, sementara ujung dan tepinya berwarna kemerahan
dan jarang disertai tremor.
 Leher, tidak adanya distensi vena jugularis.
 Abdomen, dapat ditemukan keadaan perut kembung. Bisa
terjadi konstipasi, atau mungkin diare atau normal.
 Hati dan limfe membesar disertai dengan nyeri pada
perabaan.
 Ektermitas, pergerakan baik antara kiri dan kanan.
 Integumen, akral teraba hangat dan terdapat pada punggung
dan anggota gerak dapat ditemukan reseola (bintik-bintik
kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang
dapat ditemukan pada minggu pertama demam).
4. Pemeriksaan laboratorium
a. Pada pemeriksaan darah tepi terdapat gambaran leukopenia,
limfositosis relatif dan aneosinofillia pada permukaan yang
sakit.
b. Darah untuk kultur (biakan darah, empedu) dan widal.
c. Biakan empedu basil salmonella typhosa dapat ditemukan
dalam darah pasien pada minggu pertama sakit. Selanjutnya
lebih sering ditemukan dalam urine dan feses.
d. Pemeriksaan widal
Untuk membuat diagnosis, pemeriksaan yang diperlukan
ialah
titer zat anti terhadap antigen O yang bernilai 1/200 atau
lebih menunjukkan kenaikan yang progresif.

B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisa data
subjektif dan objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian
untuk menegakkan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan
melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang
dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medis, dan pemberi
pelayanan kesehatan yang lain. (Hutahaean Serri, 2010)
Berdasarkan Nanda NIC NOC 2016 diagnosa keperawatan yang
muncul yaitu :
1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit.
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan
mengabsorbsi nutrisi.
4. Konstipasi berhubungan dengan ketidakcukupan asupan cairan.
Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,
lingkungan yang asing, prosedur-prosedur tindakan.
5. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat dan peningkatan suhu tubuh.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan Intervensi


.
1. Hipertermia Setelah dilakukan Manajemen
berhubungan tindakan keperawatan hipertermia
dengan proses dengan waktu yang 1) Monitor suhu
penyakit. telah ditentukan, tubuh minimal
maka hipertermia tiap 2 jam.
membaik dengan 2) Monitor TD, N
kriteria hasil : dan RR.
a. Suhu tubuh dalam 3) Tingkatkan
rentang normal, intake cairan
antara 36,5oC - dan nutrisi.
37,5oC. 4) Beri kompres
b. Nadi dan hangat pada
pernafasan dalam sekitar axilla
rentang normal. dan lipatan
c. Tidak ada paha.
perubahan warna 5) Kolaborasi
kulit dan tidak pemberian oabt
ada pusing. antiperetik.
2. Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen nyeri
berhubungan tindakan 1) Lakukakan
dengan agen keperawatan dengan pengkajian
pencedera waktu yang telah nyeri secara
fisiologis. ditentukan, maka komprehensif
tingkat nyeri termasuk
menurun dengan lokasi,
kriteria hasil : karakteristik,
a. Mampu durasi,
mengontrol nyeri frekuensi,
b. Melaporkan nyeri kualitas dan
berkurang dengan faktor
menggunakan presipitasi.
menegemen nyeri. 2) Observasi
c. Mampu reaksi non
mengenali nyeri. verbal dari
d. Menyatakan rasa ketidaknyaman
nyaman setelah an.
nyeri berkurang. 3) Gunakan
komunikasi
terapeutik
untuk
mengetahui
pengalaman
nyeri pasien.
4) Kontrol
lingkungan
yang dapat
mempengaruhi
nyeri seperti
suhu ruangan,
pencahayaan
dan kebisingan.
5) Ajarkan tehnik
non
farmakologi.
6) Kolaborasi
pemberin obat
analgetik.
3. Defisit nutrisi Setelah dilakukan Manajemen nutrisi
berhubungan tindakan 1) Kaji adanya
dengan keperawatan dengan alergi
ketidakmampua waktu yang telah makanan.
n ditentukan, maka 2) Monitor
mengabsorbsi status nutrisi adanya
nutrisi membaik dengan penurunan
kriteria hasil : berat badan.
a. Adanya 3) Anjurkan
peningkatan makan sedikit
berat badan. tapi sering
b. Mampu 4) Kolaborasi
mengidentifikas dengan ahli
i kebutuhan gizi untuk
nutrisi, tidak menentukan
ada tanda jumlah kalori
malnutrisi. dan nutrisi
c. Tidak terjadi yang
penurunan berat dibutuhkan.
badan berarti.
4. Intoleransi Setelah dilakukan Manajemen
aktivitas tindakan eliminasi fekal
berhubungan keperawatan dengan 1) Identfikasi
dengan waktu yang telah tingkat
kelemahan ditentukan, maka aktivitas.
toleransi aktivitas 2) Identifikasi
meningkat dengan sumber daya
kriteria hasil : untuk aktivitas
a. Kemudahan yang
dalam diinginkan
melakukan 3) Libatkan
aktivitas keluarga dalam
meningkat aktivitas
b. Keluhan Lelah 4) Ajarkan cara
menurun. aktvitas yang
c. Perasaan lemah dipilih
menurun 5) Kolaborasi
dengan terapi
okupasi dalam
merencanakan
dan monitor
Program
aktivitas, jika
sesuai

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi adalah proses membantu pasien untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tahap ini dimulai setelah
rencana tindakan disusun. Perawat mengimplementasi tindakan
yang telah diindentifikasi dalam rencana asuhan keperawtan.
Dimana tujuan implementasi keperawatan adalah meningkatkan
kesehatan klien, mencegah penyakit, pemulihan dan memfasilitasi
koping klien (Hutahaean Serri, 2010).
Dalam implementasi rencana tindakan keperawatan pada
anak demam typhoid adalah mengkaji keadaan klien, melibatkan
keluarga dalam pemberian kompres hangat, menganjurkan klien
memakai pakaian tipis, mengobservasi reaksi non verbal, mengkaji
intake dan output klien, dan membantu keluarga dalam
memberikan asupan kepada klien.

E. EVALUASI
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan dan
merupakan tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa
keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil
dicapai. Perawat mengevaluasi kemajuan pasien terhadap tindakan
keperawtan dalam mencapai tujuan dan merevisi data dasar dan
perencanaan (Hutahaean Serri, 2010). Tujuan evaluasi adalah
untuk melihat kemampuan klien dalam mecapai tujuan. Hal ini bisa
dilaksanakan dengan mengadakajn hubungan dengan klien,
macam-macam evaluasi:
1) Evaluasi formatif
Hasil observasi dan analisa perawat terhadap respon pasien
segera pada saat setelah dilakukan tindakan keperawatan, dan
ditulis pada catatan perawatan.
2) Evaluasi sumatif SOAP
Kesimpulan dari observasi dan analisa status kesehatan sesuai
waktu pada tujuan, ditulis pada catatan perkembangan.
DAFTAR PUSTAKA

Lestari Titik. (2016). Asuhan Keperawatan Anak. Yogjakarta: Nuha Medika.

Nurarif dan Kusuma. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan


Penerapan Diagnosa Nanda Nic Noc Dalam Berbagai Kasus Ed. Revisi Jilid 1.
Yogjakarta: Mediaction.

Hutahaean Serri. (2010). Konsep dan Dokumentasi Proses Keperawatan. Jakarta:


Tim.

Purba, dkk. (2016). Program Pengendalian Demam Tipoid di indonesia:


tantangan dan Peluang. Media Litbangkes, Vol. 26 No. 2.

Anda mungkin juga menyukai