KASUS LIMBAH INDUSTRI GLENMORE
Industri Gula Glenmore yang terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur adalah sebuah
kebanggaan karena industri ini dikerjakan dari nol oleh putra-putri Indonesia pada tahun
2016. Pabrik gula ini adalah pabrik pertama yang dibangun oleh pihak Kementrian BUMN
setelah 31 tahun tidak pernah membangun pabrik gula. Pabrik gula ini memiliki lahan seluas
29 hektar dengan lahan tebu yang akan memasok pabrik sebesar 11 ribu hektar. Penggilingan
perdana pabrik baru tersebut memiliki kapasitas 6.000 ton tebu per hari. Pabrik ini
merupakan pabrik gula modern karena menggunakan mesin yang meningkatkan efisiensi
hingga 80%. Industri ini menggunakan sistem karbonasi, pengolahannya tidak menggunakan
asam sulfat sehingga menghasilkan gula kristal putih premium (Ant, 2016).
Selain memproduksi gula, industri ini juga memanfaatkan limbah tebu untuk diolah menjadi
energi listrik, pupuk organik, dan pakan ternak. Listrik yang dihasilkan ini mencapai 2x10
megawatt yang diperoleh dari ampas tebu atau bagas. Pada akhir tahun 2016, terdapat kasus
mengenai limbah yang terjadi di industri ini, limbah pabrik gula Glenmore mencemari
sepanjang aliran sungai di Banyuwangi dan menyebabkan banyak ikan yang mati (Kabar
Banyuwangi, 2017). Aktivitas warga seperti mencuci dan mandi juga banyak dilakukan di
sepanjang sungai tersebut sehingga pada saat sungai tersebut tercemar, warga juga merasakan
gatal-gatal pada badannya. Warna air juga berubah, bercampur lendir, dan menjadi bau
(Radar Online, 2016). Limbah yang memiliki jumlah cukup banyak tersebut mengakibatkan
penampungan meluber. Hal ini terjadi di hulu Dam Karangdoro, Dam Bangorejo, Dam
Cluring, sampai ke hilir (Times Indonesia, 2016).
Pengujian pun dilakukan terhadap limbah tersebut di laboratorium. Sampel diambil dari
empat titik di sepanjang sungai Glenmore. Berdasarkan hasil laboratorium, terdapat sejumlah
komponen yang konsentrasinya melebihi baku mutu yang ditetapkan. Kandungan BOD
(Biological Oxygen Demand) mencapai 10,78 miligram (mg) per liter, dimana melebihi baku
mutu yang ditetapkan 6 mg per liter. Biological Oxygen Demand adalah salah satu indikator
yang menunjukkan tingkat pencemaran air yang menujukkan jumlah bahan organik yang
mudah terurai di perairan (polutan organik di dalam perairan (Jihyun Kwak, 2013).
Kandungan klorida bebas dalam limbah tersebut mencapai 0,3 mg per liter sedangkan batas
baku mutu adalah 0,03 mg per liter. Limbah ini masuk ke dalam kategori organik dan tidak
berbahaya bagi lingkungan. Limbah organik hanya menyebabkan ikan kekurangan oksigen
sehingga ikan yang terdapat di sungai kesulitan bernapas (Kompas.com, 2017). Limpahan
yang sebagian masuk ke sungai ini terjadi karena adanya kerusakan IPAL (Instalasi
Pengolahan Air Limbah) sehingga IPAL harus segera diperbaiki. IPAL adalah sebuah cara
untuk mengolah cairan sisa proses sehingga layak untuk dibuang ke lingkungan. Cairan itu
adalah limbah yang dapat berasal dari industri. Apabila limbah tersebut langsung
dibuang maka hasil pembuangan tersebut akan membahayakan manusia dan lingkungan.
Tujuan utama IPAL adalah untuk menyaring dan membersihkan cairan yang tercemar oleh
pencemar organik atau kimia industri. Sebagai antisipasi maka industri gula Glenmore ini
tidak berproduksi mulai dari tanggal 15 Januari 2017 hingga musim giling mendatang sekitar
Juni-Juli 2017 karena industri gula Glenmore ini akan melakukan perbaikan IPAL terlebih
dahulu. Sisa dari limbah pada operasional sebelumnya dibatasi hingga bulan Februari 2017
untuk diolah dan dipastikan aman sebelum dilepas ke lingkungan. Kondisi limbah yaitu pH
dan suhu limbah harus dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan
pengawasan. Kemungkinan kebocoran IPAL dapat terjadi karena masih belum sempurna dan
harus menunggu kering sebelum perbaikan konstruksi. Salah satu penyebabnya karena
industri gula Glenmore ini masih dalam tahapan percobaan sehingga masih banyak
menyebabkan kegagalan (Kompas.com, 2017). Petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Banyuwangi menemukan parit berisi limbah industri gula Glenmore yang seharusnya
pembuangan dilakukan melalui IPAL terlebih dahulu sebelum dibuang tetapi pihak industri
gula Glenmore memnyatakan bahwa parit hanya untuk pembuangan limbah cair karena
tempat IPAL tidak mencukupi (Cilegon Times, 2017). Antisipasi yang dilakukan industri
gula Glenmore adalah pengurangan kapasitas giling dan membuat kolam penampungan untuk
menampung kelebihan air limbah organik yang meluap dan memperbaiki IPAL dengan benar
sebelum beroperasi kembali (Kompas.com, 2017).