Anda di halaman 1dari 16

Resume UUD 1945

UNDANG-UNDANG DASAR 1945

A. PENGERTIAN UUD 1945

1. Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945

UUD 1945 merupakan hukum dasar tertulis dan berfungsi sebagai sumber hukum tertinggi dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah disahkan pada tanggal 18 Agustus 2011. Miriam
Budiharjo (Ngadilah, 2007: 55), mengatakan bahwa UUD mempunyai kedudukan yang istimewa
karena:

a. UUD dibentuk menurut suatu cara yang berbeda dengan pembentukan UU biasa.

b. UUD dibuat secara istimewa untuk itu dianggap sesuatu yang luhur.

c. UUD merupaka piagam yang menyatakan cita-cita bangsa Indonesia dan merupakan dasar
organisasi kenegaraan suatu bangsa.

d. UUD memuat garis besar tentang dasar dan tujuan negara.

2. Proses Pembentukan dan Penetapan UUD 1945

Menurut UUD 1945, UUD ditetapkan oleh MPR. Pada awal kemerdekaan RI, MPR yang dimaksud
belum terbentuk maka pembentukan UUD atau kemudian yang dikenal dengan UUD 1945
ditetapkan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Rancangan UUD 1945 telah
dipersiapkan bangsa Indonesia di masa pendudukan tentara Jepang oleh BPUPKI. Pembahasan
rancangan hukum dasar ini dilakukan oleh sebuah panitia kecil yang menghasilkan Rancangan UUD
uuntuk dilanjutkan oleh PPKI. Setelah beberapa perubahan, PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945
mengesahkan dan menetapkan rancangan tersebut menjadi Undang-Undang Dasar 1945 (Ngadilah,
2007: 57).

Setelah MPR terbentuk , maka proses pembuatan atau perubahan UUD 1945 dilakukan oleh MPR
tersebut. Pasal 3 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa MPR memiliki tugas dan kewenangan untuk
mengubah dan menetapkan Undang-Undang. Salah satu wewenang MPR menurut Pasal 4
Keputusan MPR RI No. 7/MPR/2004 tentang Peraturan Tata Tertib MPR adalah mengubah dan
menetapkan UUD. Dengan demikian jika MPR akan menggunakan haknya mengubah UUD 1945,
maka ketentuan Pasal 37 UUD 1945 yang harus dipennuhi, yaitu sebagai berikut:

a. Ayat (1): “Usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar dapat diagendakan dalam sidang
Majelis Permusyawaratan Rakyat apabila diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggota
Majelis Permusyawaratan Rakyat”.

b. Ayat (2): “Setiap usulan perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar diajukan secara tertulis
dan ditunjukan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya”.
c. Ayat (3): “Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, sidang Majelis Permusyawaratan
Rakyat dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat”.

d. Ayat (4): “Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakukan dengan
persetujuan sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota
Majelis Permusyawaratan Rakyat”.

e. Ayat (5): “Khusus tentang bentuk Negara Kesaruan Republik Indonesia tidak dapat dilakukan
perubahan”.

B. PEMBUKAAN UUD 1945

1. Arti dan Makna Alinea-alinea Pembukaan UUD 1945

a. Alinea Pertama

Berisi pernyataan hak segala bangsa akan kemerdekaan yang mengandung dua azas pikiran, yaitu
perikemanusiaan dan perikeadilan yang juga dari keduanya dapat menghasilkan dua konsekuensi,
yaitu konsekuensi positif (hak segala bangsa) dan konsekuensi negatif (penjajahan di atas dunia
harus dihapuskan). Kesimpulan yang dapat diambil dari alinea pertama tersebut adalah:

1) Tiap-tiap bangsa sebagai kesatuan golongan manusia yang merupakan diri dan berdiri pribadi,
mempunyai hak kodrat dan hak moril untuk berdiri pribadi atau hidup merdeka.

2) Jika ada bangsa yang tidak merdeka, berarti bertentangan dengan kodrat hakekat manusia.
Karena itu ada wajib kodrat dan ada wajib moril bagi penjajah untuk menjadikan merdeka atau
membiarkan menjadi merdeka kepada yang bersangkutan.

b. Alinea Kedua

Berisi pernyataan tentang berhasilnya perjuangan pergerakan kemerdekaan Rakyat Indonesia, yang
dalam pencapaiannya diperlukan pencapaian dari beberapa sifat, yaitu:

a) Merdeka, yaitu bangsa Indonesia itu bebas atau tidak terikat oleh siapapun dan bebas
melakukan sesuatu.

b) Bersatu, yang mengadung tiga kemungkinan arti, yaitu:

c) Berdaulat, yaitu berkuasa dan kekuasaan negara Indonesia itu nampak baik keluar maupun ke
dalam.

d) Adil, yaitu memberikan sebagai wajibnya segala sesuatu yang menjadi hak orang lain dan hak diri
sendiri, dan juga dapat berarti bahwa setiap orang akan menerima bagian sesuai dengan darma
baktinya masing-masing.

e) Makmur, yaitu suatu keadaan yang di dalamnya seseorang dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya baik jasmaniah maupun kebutuhan rokhaniah, sesuai atau layak bagi kemanusiaan.

Isi alinea kedua Pembukaan UUD 1945 dapat disimpulkan sebagai berikut: bahwa bangsa Indonesia
dari dalam terpaksa berjuang untuk merealisir hak kodrat dan hak morilnya akan kemerdekaan, atas
kekuatan sendiri, berhasil membentuk negara Indonesia yang dicita-citakan, mempunyai sifat-sifat
tertentu sebagai berikut:

1) Negara sungguh bebas baik baik di dalam negeri sendiri maupun terhadap negara-negara lain,
berdiri pribadi dengan menguasai seluruh dirinya sendiri.
2) Negara berdasarkan persatuan, baik dalam bentuknya maupun dalam keutuhan bangsa, yaitu
meliputi seluruh bangsa dalam batas-batas daerah negara, didukung oleh seluruh rakyat dalam
pertalian kekeluargaan atau kerjasama, gotong royong, dengan berdasrkan atas sifat manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial kedua-duanya.

3) Negara berpedoman dan melaksanakan keadilan dalam seluruh lingkungan dan tugas negara
baik dalam negara maupun terhadap dunia luar.

4) Negara menjadi tempat hidup bagi seluruh rakyat, yaitu bahwa tiap-tiap orang dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya, baik yang ketubuhan maupun yang kerokhanian, layak bagi kemanusiaan.

c. Alinea Ketiga

Berisi pernyataan kemerdekan rakyat Indonesia yang di dalamnya terdapat dua azas yang dalam,
yaitu:

1) Azas religius (atas berkat Tuhan Yang Maha Esa).

2) Azas etik (dengan didorongkan oleh suatu keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan
yang bebas).

Isi bagian ketiga ini dapat disimpulkan, bahwa bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan
Indonesia itu atas kekuatan bangsa Indonesia sendiri, didukung oleh seluruh rakyat yang merupakan
tindakan kerokhanian yan saleh dan suci, karena melaksanakan hak kodrat dan hak moril akan
kemerdekaan. Segala sesuatu itu dimungkinkan karena diridhoi/dikarunai oleh Tuhan Yang Maha
Esa.

d. Alinea Keempat

Berisi pokok kaidah negara yang fundamental, yang meliputi tujuan negara, ketentuan akan adanya
UUD, bentuk negara, dan dasar negara Pancasila.

1) Hal tujuan negara, yaitu:

a) Membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia.

b) Memajukan kesejahteraan umum.

c) Mencerdaskan kehidupan bangsa.

d) Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.

2) Hal ketentuan diadakan Undang-Undang Dasar, terdapat dalam kata-kata “maka disusunlah
kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia”.

3) Hal bentuk negara, terdapat dalam kata-kata “yang terbentuk dalam suatu susunan negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat.”

4) Hal dasar kerokhanian (filsafat negara), yang terdapat dalam kata-kata “ Ketuhanan Yang Maha
Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu
keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”.

Jika alinea keempat ini dikemukakan dalam hubungan kesatuan dan tingkat kedudukan dari unsur
yang satu dengan unsur yang lain, maka dapat disimpulkan:
1) Pancasila merupakan azas kerokhanian (filsafat, pendirian dan pandangan hidup bangsa).

2) Pancasila menjadi basis bagi azas kenegaraan (politik) berupa bentuk republik yang
berkedaulatan rakyat.

3) Kedua-duanya menjadi basis bagi penyelenggaraan kemerdekaan kebangsaan Indonesia yang


dicantumkan dalam peraturan pokok hukum positif termuat dalam suatu Undang-Undang Dasar.

4) Adapun Undang-Undang Dasar sebagai basis berdirinya bentuk susunan peerintahan dan seluruh
peraturan hukum posotif, yang mencakup segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dalam kesatuan pertalian hidup bersama, kekeluargaan dan kegotong-royongan.

5) Segala sesuatu itu untuk mencapai tujuan Bangsa Indonesia yaitu kebahagiaan nasional dan
internasional baik rohani maupun jasmani.

Dengan demikian, hubungan kesatuan dan tingkat kedudukan dari unsur yang satu terhadap unsur
yang lain merupakan kesatuan yang bertingkat, dan seluruh kehidupan bangsa dan negara berdiri di
atas dan diliputi azas kerohanian Pancasila berisikan dan terikat pada serta tertuju pada kebahagian
nasional dan internasional. Pembukaan UUD 1945 merupakan dasar, rangka dan suasana kehidupan
bangsa negara dan tertib hukum di Indonesia.

2. Maksud dan Tujuan Pembukaan UUD 1945

Berdasarkan susunan Pembukaan UUD 1945 tersebut, dapat dibedakan adanya empat macam
maksud dan atau tujuan Pembukaan UUD 1945, yaitu:

a. Untuk mempertanggungjawabkan, bahwa pernyataan kemerdekan sudah selayaknya, karena


berdasarkan atas hak mutlak, hak kodrat dan hak moril bangsa Indonesia (terkandung dalam bagian
pertama pembukaan).

b. Untuk menetapkan cita-cita bangsa indonesia yang inin dicapai dengan kemerdekaannya
(terpeliharanya sungguh-sungguh kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan bangsa dan
daerah atas keadilan hukum dan moril, bagi diri sendiri maupun pihak lain serta kemakmuran
bersama dan adil (terletak pada bagian kedua pembukaan).

c. Untuk menegaskan bahwa proklamasi kemerdekaan menjadi permulaan dan dasar hidup
kebangsaan dan hidup seluruh orang Indonesia yang luhur dan suci dalam lingkungan Tuhan dan
hukum Tuhan (terletak pada bagian ketiga).

d. Untuk melaksanakan segala sesuatu itu dalam perwujudan dasar-dasar tertentu sebagai
ketentuan pedoman dan pegangan yang tetap dan praktis.

3. Hubungan Pembukaan UUD 1945 dengan Undang-Undang Dasar (Batang Tubuh)

Di antara empat bagian dari Pembukaan UUD 1945, dapat diadakan garis pemisah mengenai isinya
sebagai berikut:

a. Bagian ke-1, 2, dan 3 merupakan serangkaian pernyataan yang menyatakan tentang keadaan
dan peristiwa yang mendahului terbentuknya Negara Indonesia. Bagian-bagian ini tidak mempunyai
hubungan organis dengan batang tubuh Undang-Undang Dasar.
b. Bagian ke-4 merupakan pernyataan mengenai keadaan setelah negara Indonesia ada, dan
mempunyai hubungan kausal dan organis dengan batang tubuh Undang-Undang Dasar. Hubungan
secara kausal dan organis ini terlihat dari empat segi:

1) Bahwa UUD ditentukan akan ada. Jadi, karena pembukaan inilah maka ada UUD.

2) Bahwa yang akan diatur di dalam UUD adalah tentang pembentukan Pemerintah Negara yang
memenuhi berbagai syarat.

3) Bahwa Negara Indonesia berbentuk Republik yang berkedulatan rakyat.

4) Ditetapkannya dasar Pancasila.

4. Hakikat dan Kedudukan Pembukaan UUD 1945

Hakikat pembukaan UUD 1945 merupakan pokok kaidah negara yang fundamentil atau
Staatsfundamentalnorm, dan berkedudukan dua terhadap tertib hukum Indonesia, yaitu:

a. Sebagai dasar tertib hukum Indonesia

b. Sebagai ketentuan hukum yang tertinggi

Oleh karena itu, mempunyai kedudukan yang tetap, kuat tidak bisa diubah atau diganti oleh
siapapun. Kedudukan yang tetap. Kuat tidak bisa diubah ini bisa ditinjau dari dua segi, yaitu:

1) Segi formal

· Pembukaan UUD 1945 (alinea ke-4) adalah untuk menentukan adanya UUD, sehingga tidak
termasuk di dalamnya, tetapi mempunyai kedudukan sebab terhadap UUD

· Berlakunya Pembukaan UUD 1945, maka berhentilah semua tata tertib hukum yang lama, dan
timbullah tertib hukum yang baru, yaitu tertib hukum Indonesia.

Tertib hukum adalah keseluruhan peraturan-peraturan hukum yang memenuhi empat syarat, yaitu:

a) Ada kesatuan subyek yang mengadakan peraturan-peraturan hukum.

b) Ada kesatuan azas kerohanian yang meliputi keseluruhan peraturan-peraturan hukum.

c) Ada kesatuan waktu, saat peraturan-peraturan hukum itu berlaku.

d) Ada kesatuan daerah, temapt peraturan-peraturan hukum itu berlaku.

2) Segi material

· Pembukaan UUD 1945 telah terlekat pada kelangsungan negara Proklamasi 17 Agustus 1945,
maka mengubahnya berarti pembubaran negara Republik Indonesia, negara Proklamasi 17 Agustus
1945, sehingga tidak dapat dan tidak boleh diubah oleh siapapun dan kapanpun, termasuk oleh MPR
hasil pemilihan umum.

5. Terpisahnya Pembukaan UUD 1945 dengan Batang Tubuh UUD 1945

Pembukaan UUD 1945 terpisah dengan Batang tubuh UUD 1945 dan kedudukannya serta hakikatnya
lebih tinggi derajatnya daripada Batang tubuh UUD 1945, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Dalam rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945, Pembukaan UUD 1945 oleh Ir. Soekarno dikatakan
sebagai UUD dan memiliki kedudukan tetap, sedangkan oleh Prof. Mr. Dr. Soepomo dikatakan
bahwa Pembukaan UUD 1945 adalah susunan negara.

b. Dalam berita negara RI tahun II No.7 (Himpunan Kusnodiprojo) menyebutkan bahwa pembukaan
ditempatkan di atas Undang-Undang Dasar, sedangkan dalam penjelasannya dipisahkan sebagai
“dasar” Undang-Undang Dasar.

c. Dalam ketentuan bagian keempat Pembukaan akan adanya UUD, disebutkan “suatu Undang-
Undang Dasar Negara Indonesia, tidak dengan kata penunjuk yang tertentu, sehingga tidak ada
hubungan dua bagian dalam satu peraturan”.

6. Hubungan Pembukaan UUD 1945 dengan Proklamasi 17 Agustus 1945

Pokok muatan dalam Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah:

1) Pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia.

2) Tindakan-tindakan yang harus segera diambil/diselenggarakan.

Sesuai denga pokok muatan tersebut serta isi dari Pembukaan UUD 1945 khususnya bagian ketiga,
maka dapat ditentukan letak dan sifat hubungan antara Pembukaan dengan Proklamasi, yaitu:

a) Disebutkan kembali pernyataan kemerdekaan dalam bagian ketiga, menunjukkan bahwa antara
Proklamasi denga Pembukaan merupaka suatu serangkaian kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

b) Ditetapkannya Pembukaan pada tanggal 18 Agustus 1945 bersama-sama ditetapkannya UUD,


Presiden dan Wakil Presiden merpakan realisasi bagian kedua Proklamasi.

c) Pembukaan pada hakikatnya merupaka penyataan yang lebih rinci dengan memuat pokok-pokok
pikiran adanya cita-cita luhur yang menjadi semangat pendorong ditegakannya kemerdekaan, dalam
bentuk Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan
Pancasila.

Dengan demkian, letak dan sifat hubungan antara Pembukaan UUD 1945 dengan Proklamasi 17
Agustus 1945 adalah tidak hanya menjelaskan, menegaskan, akan tetapi juga
mempertanggungjawabkan Proklamasi, maka hubunga tersebut adalah bersifat fungsionil, korelatif,
dan monistis-organis yang berarti bahwa antara Proklamasi denga Pembukaan UUD 1945
merupakan kesatuan yang bulat dan apa yang terkandung dalam Pembukaan adalah merupakan
amanat Proklamasi 17 Agustus 1945.

C. DINAMIKA UUD 1945

1. Isi Materi UUD 1945

Naskah Undang-Undang Dasar yang ditetapkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 terdiri dari
tiga bagian:

a. Pembukaan UUD 1945.

b. Batang Tubuh UUD 1945 yang terdiri dari 16 bab berisi 37 pasal, Aturan Peralihan dan Aturan
Tambahan.

c. Penjelasan UUD 1945


Batang tubuh dan Penjelasan sebgai isi materi UUD 1945 dikelompokkan menjadi empat hal, yaitu:

a. Pengaturan tentang Sistem Pemerintahan Negara.

b. Ketentuan fungsi dan kedudukan Lembaga Negara.

c. Hubungan antara negara dengan warga negara.

d. Ketentuan-ketentuan lain sebagai pelengkap.

Setelah reformasi terjadilah perubahan-perubahan besar, termasuk pada UUD 1945. Sejak tahun
1999-2002, UUD 1945 telah mengalami empat kali perubahan pasal-asalnya. Sekarang ini, UUD 1945
hanya terdiri dari Pembukaan dan Pasal-pasal.

2. Pelaksanaan UUD 1945

a. Masa awal kemerdekaan (18 Agustus 1945-27 Desember 1949)

Sistematika UUD 1945 sebelum diamandemen, yaitu:

1. Pembukaan

a) 4 alinea

b) 4 pokok pikiran

2. Batang Tubuh

a) 16 bab

b) 37 pasal

c) 49 ayat

d) 4 pasal aturan peralihan

e) 2 ayat aturan tambahan

3. Penjelasan

UUD 1945 disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 memiliki sifat yang singkat dan supel.
Dibandingkan dengan UUD negara lain, UUD 1945 hanya memuat garis-garis besar saja. Sedangkan
hal-hal yang perlu untuk menyelenggarakan aturan-aturan pokok diatur dengan peraturan lainnya.

Berikut ini adalah ketentuan dasar yang terdapat dalam UUD 1945:

1) Tujuan Negara Republik Indonesia

a) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

b) Memajukan kesejahteraan umum.

c) Mencerdaskan kehidupan bangsa.

d) Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.

2) Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia


Dalam kurun waktu 1945-1949 ketatanegaraan Indonesia dalam praktiknya adalah sebagai berikut:

a) Bentuk Negara

UUD1945 Pasal 1 ayat (1) menyatakan negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk
Republik.

b) Bentuk Pemerintahan

UUD 1945 dalam Pembukaan alinea ke-4, dan Pasal 1 ayat (1) menegaskan tentang bentuk
pemerintahan negara Indonesia adalah Republik.

c) Sistem Pemerintahan

Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik dengan fungsi presiden sebagai kepala
pemerintahan dan sekaligus kepala negara menurut UUD 1945 Pasal 6 ayat (1) (sebelum
amandemen).

Dalam penjelasan UUD 1945, terdapat tujuh kunci pokok sistem pemerintahan (sebelum
amandemen), yaitu:

1. Indonesia adalah negara hukum (rechtsstaat).

2. Sistem konstitusional.

3. Kekuasaan tertinggi ditangan MPR.

4. Presiden ialah penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi menurut UUD.

5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR.

6. Menteri negara adalah pembantu presiden.

7. Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas.

d) Pembagian kekuasaan

Dalam Batang Tubuh UUD 1945 pembagian kekuasaan negara terbagi dalam 3 bab, yaitu Bab III
tentang kekuasaan pemerintahan negara, Bab VII tentang DPR, dan Bab IX tentang kekuasaan
kehakiman.

Berikut adalah praktik pembagian kekuasaan negara:

1. Kekuasaan eksekutif dijalankan oleh presiden dibantu seorang wakil presiden.

2. Kekuasaan legislatif dipegang oleh DPR bekerja sama dengan presiden.

3. Kekuasaan yudikatif dipegang oleh Mahkamah Agung dan lai-lain Badan Kehakiman.

Pada masa ini UUD 1945 belum dapat dilaksanakan dengan sepenuhnya karena terdapat hambatan
dalam pelaksanaannya, diantaranya:

1) Masuknya Sekutu yang diboncengi Belanda untuk menjajah kembali.

2) Adanya pemberontakan PKI Madiun 1948.

3) PRRI Permesta dan DI/TII.

Oleh karena itu, pemerintah dan rakyat Indonesia lebih memusatkan perhatian pada upaya
mempertahankan negara kesatuan RI dan implikasinya sistem pemerintahan berdasarkan UUD 1945
belum dapat dilaksanakan. Upaya pertahanan itu dapat dilihat dari beberapa maklumat yang telah
dikeluarkan sebagai suatu strategi kepada dunia internasional, terutama Sekutu bahwa Indonesia
benar-benar merupakan sebuah negara merdeka yang demokratis sesuai dengan indikator dari
Sekutu, yaitu adanya multi partai dan sistem pemerintahan parlementer, sehingga pada tanggal 14
November 1945 kekuasaan eksekutif dipegang oleh Perdana Menteri dan menteri-menteri yang
bertanggung jawab kepada KNIP, bukan kepada presiden, dan pada tanggal 27 Desember 1949 RI
dipecah menjadi negara-negara bagian (RIS) sehingga UUD 1945 pun diganti menjadi UUD KRIS yang
menjadikan Indonesia menjadi negara federal.

b. Masa Konstitusi RIS 1949 (27 Desember 1949-17 Agustus 1950)

Pada tanggal 27 Desenber 1949 di Indonesia dan di Belanda diadakan penandatanganan akte
penyerahan kedaulatan yang menandai mulai berlakunya Konstitusi RIS 1949.

1. Bentuk Negara

Bentuk negara Indonesia saat konstitusi RIS berlaku di Indonesia adalah federasi atau serikat yang
seperti tercantum dalam alinea ketiga mukadimah Konstitusi RIS, yaitu Pasal 1 ayat (1) Kontitusi RIS:

a) Negara Indonesia Serikat meliptuti:

1. Negara Republik Indonesia, dengan daerah status quo (Renville, 17 Januari 1948).

2. Negara Indonesia Timur.

3. Negara Jawa Timur.

4. Negara Madura.

5. Negara Sumatra Timur.

6. Negara Sumatra Selatan.

b) Satuan-satuan negara yang berdiri sendiri meliputi:

1. Jawa Tengah

2. Bangka

3. Belitung

4. Riau

5. Kalimantan Barat

6. Dayak Besar

7. Daerah Banjar

8. Kalimantan Tenggara

9. Kalimantan Timur

c) Daerah-daerah lain, bukan daerah-daerah bagian.

Ketentuan itu diatur dalam Pasal 2.

Pada waktu pemerintahan RIS, negara Indonesia terbagi dalam 16 negara bagian, yaitu:
1. 1 negara bagian bekas NKRI.

2. 15 negara bagian bekas negara boneka buatan Belanda.

Pasal 44 Konstitusi RIS menjelaskan penggabungan daerah hanya boleh dilakukan menurut aturan-
aturan yang ditetapkan dengan undang-undang federal.

2. Bentuk Pemerintahan

Bentuk pemerintahan pada masa RIS adalah republik sesuai dengan Konstitusi RIS pasal 1 ayat (2)
dan Mukadimah Konstitusi RIS.

3. Sistem Pemerintahan

Konstitusi RIS menerapkan Sistem Kabinet Parlementer dengan ciri:

a) Pengangkatan perdana menteri dilakukan oleh presiden,

b) Kekuasaan perdana menteri masih dicampur tangan oleh presiden,

c) Pembentukkan kabinet dilakukan oleh presiden bukan parlemen.

Pada masa ini, presiden hanya berfungsi sebagai kepala negara yang tidak dapat diganggu gugat.
Presiden dipilih oleh orang-orang yang dikuasakan oleh pemerintah bagian, menteri-menteri
bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah.

Sistematika Konstitusi RIS adalah:

1. Mukadimah.

2. 6 bab yang dibagi menjadi bagian-bagian.

3. 197 pasal.

4. Lampiran.

Dasar negara RIS tercantum dalam alinea mukadimah yang terdiri dari:

1. Pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Peri kemanusiaan.

3. Kebangsaan.

4. Kerakyataan.

5. Keadilan Sosial.

Tujuan Negara Indonesia Serikat tercantum dalam alinea ke-4 Mukadimah Konstitusi RIS adalah
untuk mewujudkan:

1. Kebahagiaan, kesejahteraan, dan perdamaian,

2. Kemerdekaan dalam masyarakat,

3. Negara hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna.

c. Masa UUDS 1950 (17 Agustus 1950-5 Juli 1959)


Pada tanggal 17 Agustus 1950, negara KRIS sudah sepenuhnya menjadi negara RI dengan Undang-
Undang Dasar Sementara yaitu UUDS 1950 dan sistem pemerintahan masih tetap bersifat
parlementer. Untuk memenuhi amanat dari UUDS 1950, maka dibentuk Lembaga Pembentuk
Undang-Undang Dasar yang disebut Konstituante yang pengisian anggota majelisnya dilaksankan
dengan menyelenggarakan Pemilu berdasarkan UU No.7 tahun 1953 pada tanggal 15 Desember
1955.

Konstituante dilantik oleh Presiden RI pada tanggal 10 November 1956, dengan amanat Presiden
yang intinya “Susunlah Konstituante yang benar-benar Res Publica”. Konstituante bersidang di
Bandung dengan catatan bahwa sampai bula Februari 1959 telah menghasilkan butir-butir materi
yang akan disusun menjadi materi Undang-Undang Dasar Negara (Marsono, 2000: 8).

Sistematika UUDS 1950 adalah sebagai berikut:

1. Mukadimah (4 alinea).

2. 6 bab yang dibagi menjadi bagian-bagian, bagian-bagian terbagi dalam pasal-pasal (146 pasal).

Dasar negara yang dipakai tercantum dalam alinea ke-4 Mukadimah UUDS 1950, yaitu:

1. Pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Peri kemanusiaan.

3. Kebangsaan.

4. Kerakyatan.

5. Keadilan Sosial.

Tujuan negara tercantum dalam alinea ke-4 Mukadimah UUDS adalah untuk mewujudkan:

1. Kebahagiaan, kesejahteraan, dan perdamaian,

2. Kemerdekaan dalam masyarakat,

3. Negara hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna.

1. Bentuk Negara

Bentuk negara pada saau UUDS adalah negara kesatuan dengan menghendaki bersistem
desentralisasi (UUDS Pasal 131).

UUDS 1950 Pasal 1 ayat (1) : RI yang merdeka dan berdaulat ialah suatu negara hukum yang
demokratis dan berbentuk Kesatuan.

UUDS 1950 Pasal 1 ayat (2) : Kedaulatan RI adalahdi tangan rakyat dan dilakukan oleh
pemerintah bersama-sama dengan DPR.

UUDS 1950 Pasal 2 : RI meliputi seluruh daerah Indonesia.

2. Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan yang dianut UUDS 1950 adalah Kabinet Parlementer atau pertanggungjawaban
Dewan Menteri kepada parlemen, sedangkan presidenhanya sebagai kepala negara, bukan kepala
pemerintahan 9Pasal 45 UUDS 1950).
Pasal 83 ayat (1) : Presiden dan wakil presiden dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat
diganggu gugat.

Pasal 83 ayat (2) : Yang bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah ialah menteri-
menteri.

3. Bentuk Pemerintahan

Bentuk pemerintahan adalah republik dengan sistem parlementer, dalam UUDS 1950:

Pasal 45 ayat (1) : Presiden ialah kepala negara.

Pasal 45 ayat (2) : Dalam melaksanakan kewajibannya presiden dibantu oleh seorang wakil
presiden.

Karena dalam penyusunan UUD, Badan Konstituante dianggap gagal mencapai kata sepakat, maka
keluarlah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang isinya:

1) Menetapkan pembubaran Konstituante

2) Menetapkan UUD 1945 berlaku kembali mulai saat tanggal dekrit dan menyatakan tidak
berlakunya UUDS 1950

3) Pembentukan MPRS

d. Masa Orde Lama

Sejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959, negara Indonesia memasuki masa Orde Lama yang juga terjadi
banyak penyimpangan-penyimpangan karena sistem pemerintahan tidak berjalan sesuai dengan
UUD 1945, diantaranya:

1) Besarnya pengaruh PKI mengakibatkan idologi NASAKOM dikukuhkan dan disamakan dengan
Pancasila.

2) Pemaksaan doktirn yang seolah-olah negara dalam keadaan revolusi dan presiden sebagai kepala
negara otomatis menjadi Pemimpin Besar Revolusi.

3) Presiden mengeluarkan produk hukum yang setingkat Undang-undang tanpa persetujuan DPR.

4) Presiden membubarkan DPR hasil Pemilu karena tidak menyetujui RAPBN dan kemudian
presiden membentuk DPR Gotong royong.

5) Pemimpin lembaga tertinggi negara dan lembaga tinggi negara dijadikan menteri negara.

Masa ORLA berakhir dengan adanya pemberontakan G 30 S PKI dengan perbaikan-perbaikan dalam
penyelenggaraan negara yang dituntut oleh rakyat Indonesia, sehingga lahirlah Tritura (Tiga
Tuntutan Rakyat) yang isinya:

1) Bubarkan PKI

2) Bersihkan kabinet dari unsur PKI

3) Turunkan harga-harga

Pada tanggal 11 Maret 1966, presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret kepada
Letjen Soeharto yang isinya adalah pembubaran PKI di seluruh wilayah Indonesia yang berlaku sejak
tanggal keluarnya surat tersebut, dan dengan surat perintah tersebut Letjen Soeharto mengeluarkan
surat Keputusan Presiden No. 1/3/1966 Tanggal 12 Maret 1966 yang ditandatanganinya.

e. Masa Orde Baru

Tekad ORBA adalah melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, sehingga
pada 5 Juli 1966 dikeluarkanlah Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 tentang memorandum DPR-GR
mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Perundangan Republik
Indonesia, danketetapan yang lain, seperti:

1) Tap. No. XII/MPRS/1966 yang memerintahkan Soeharto segera membentuk kabinet Ampera.

2) Tap. No. XVII/MPRS/1966 yang menarik kembali pengangkatan Pemimpin Besar Revolusi menjadi
Presiden Seumur Hidup.

3) Tap. No. XXI/MPRS/1966 tentang penyederhanaan kepartaian, keormasan, dan kekaryaan.

4) Tap. No. XXV/MPRS/ 1966 tentang Pembubaran PKI.

Pemerintahan yang dibentuk berdasarkan UUD 1945 ini menghasilakn lembaga-lembaga negara dan
lembaga pemerintahan yang tidak sementara lagi. MPR kemudian menetapka GBHN, memilih
presiden dan wakil presiden dan memberi mandat kepada presiden terpilih untuk melaksanakan
GBHN, sejak saat itu mekanisme lima tahunan berjalan dengan teratur dan stabil, sebab sepertiga
anggota MPR dikontrol dengan pengangkatan (Suwarno, 1996: 164). Sedangkan untuk meredakan
konflik ideologis, maka ORBA membangun konsep baru tentang demokrasi, yaitu Demokrasi
Pancasila yang sebenarnya bersifat otoriter dengan angkatan bersebjata menjadi intinya. ORBA
bersifat anti komunis, anti-Islamis dan mempunyai komitmen terhadap pembangunan (Cribb, 2000:
58).

Pembangunan di segala bidang dengan priorotas pertumbuhan ekonomi ini telah menghasilkan
ketidakmerataan pendapatan, sehingga perbedaan antara orang kaya denga orang miskin sangat
terlihat, sedangkan pemerintah dan penguasa menjalin kerjasama untuk kepentingan pribadi dan
keluarga pejabat. Akhirnya KKN seakan menjadi budaya yang wajar.

Berakhirnya ORLA ditandai dengan adanya krisis moneter 1997 yang merambat pada krisis
kepercayaan dan krisis politik, sehingga banyak terjadi demonstrasi-demonstrasi yang dipelopori
oleh para mahasiswa untuk memberhentikan Soeharto, juga ultimatum MPr dan pengunduran diri
14 menteri-menterinya, maka Soeharto mennyatakan berhenti menjadi presiden pada hari Kamis, 21
Mei 1998.

f. Masa Orde Reformasi

Sebagai tokoh transisi, B.J. Habibie naik menjadi presiden menggantikan Soeharto dan dikatakan
berhasil dengan prakarsa awalnya yaitu reformmasi politik. Rundingan bersama pimpinan MPR dan
DPR menghasilkan Sidang Istimewa MPR pada Desember 1998 yang diantaranya menghasilkan
keputusan memberikan mandat kepada presiden untuk menyelenggarakan Pemilu baru pada tahun
1999 yang oleh banyak kalangan termasuk pengamat luar negeri dikatakan sebagai emilu yang paling
demokratis bila dibandingkan dengan pemilu-pemilu di zaman orde baru.

Pada masa ini mulai tumbuh kesepakatan politik seluruh anggota MPR untuk mengamandemen UUD
1945 agar lebih lengkap, lebih jelas (tidak multi-interpretable) dan sesuai dengan dinamika
masyarakat serta perkembangan zaman. Sedangkan Pembukaan UUD 1945 dan konsep negara
kesatuan sebagaimana termaktu di dalam pasal 1 ayat (1) tidak akan diubah.

Berbagai perubahan UUD 195 tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Membatasi kekuasaan presiden.

2. Memperkuat kedudukan DPR sebagai lembaga legislatif.

3. Wilayah negara dan pembagian pemerintah daerah.

4. Ketentuan-ketentuan yang terperinci tentang HAM.

5. Ketentuan tentang azas-azas landasan bernegara.

6. Kelembagaan Negara dan hubungan antarlembaga Negara.

7. Ketentuan tentang pemilihan umum.

8. Penghapusan Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

9. Ketentan tentang pendidikan dan kebudayaan.

10. Ketentuan tentang perekonomian dan kesejahteraan sosial.

11. Aturan peralihan dan aturan tambahan.

Terjadinya penyimpangan-penyimpangan konstitusi dapat dilakukan oleh lembaga negara sebagai


suprastruktur politik maupun kekuatan politik masyarakat (infrastruktur politik). Penyimpangan ini
dapat terjadi karena adanya pemahaman atau penafsiran yang berbeda-beda, adanya kelompok
yang dengan sengaja membelokkan atau memanfaatkan untuk tujuan tertentu, dan ambisi
kekuasaan. Berbagai penyimpangan konstitusi tersebut, antara lain:

1. Masa awal kemerdekaan (18 Agustus 1945-27 Desember 1949).

Presiden menjalankan kekuasaan eksekutif, menjalankan kekuasaan MPR dan DPR, kekuasaan
presiden yang sangat luas ini tanpa diimbangi dan diawasi oleh lembaga lainnya ð penyimpangan
UUD 1945 Pasal 17 ayat (1) dan (2) yang menyatakan bahwa:

(1) Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara,

(2) Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh presiden.

2. Masa Konstitusi RIS 1949 (27 Desember 1949-17 Agustus 1950).

Konstitusi yang mulai berlaku pada tanggal 27 Desember 1949 bersamaan dengan penandatanganan
pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Penyimpangan dalam Pasal 1 ayat (1) yang
menyatakan Republik Indonesia Serikat yang merdeka dan berdaulat adalah suatu negara hukum
yang berbentuk federasi.

3. Masa UUDS 1950 (17 Agustus 1950-5 Juli 1959).

UUDS ini terbentuk dengan mengubah UUD 1945 ditambah prinsip-prinsip yang baik dari Konstitusi
RIS. Pada Pasal 83 dan84 UUDS terdapat pernyataan bahwa DPR dapat membubarkan kabinet.
Sebagai imbangannya, presiden memiliki kedudukan yang kuat dan dapat membubarkan DPR.

4. Masa Orde Lama.


Pelaksanaan UUD 1945 dianggap tidak murni dan tidak konsekuen karena adanya unsur PKI dalam
pemerintahan yang ingin menggantikan Pancasila dengan idologi komunis.

5. Masa Orde Baru.

Pemerintahan Soeharto dianggap tidak mampu membwa kesejahteraan rakyat karena banyaknya
kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam penyelenggaraan negara.

Penyimpangan yang terjadi setelah kembali ke UUD 1945 sejak Dekrit Presiden sampai sekarang
dapat dirincikan, antara lain sebagai berikut:

a. Sejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959, posisi lembaga kepresidenan sangat sulit untuk dikontrol.

b. Pembubaran DPR oleh presiden karena DPR tidak menyetujui atau menolak RAPBN yang
diajukan pemerintah.

c. Pengangkatan presiden seumur hidup (Tap MPR No. III/MPRS/1963)

d. Manifesto politik, pidato presiden dijadikan sebagai GBHN (Tap MPRS No. V/MPRS/1965)

e. Pelaksanaan politik luar negeri yang condong ke poros RRC.

f. Praktik KKN.

g. Politik uang (Money politik).

h. Pelanggaran hak-hak politik rakyat, termasuk HAM.

i. Sentralisasi kekuasaan, dan lain-lain.

D. AMANDEMEN UUD 1945

Dalam konstitusi, reformasi memberikan tuntutan perubahan UUD Negara RI, yaitu sebagai berikut
(Ngadilah, 2007):

a. Suatu langkah terobosan yang mendasar, karena sebelumnya tidak dikehendaki,

b. Kebutuhan bersama bangsa Indonesia,

c. Perwujudan tuntutan reformasi,

d. Upaya penyempurnaan aturan dasar untuk lebih memantapkan usaha pencapaian cita-cita
proklamasi.

Pada sidang MPR tahun 1999 seluruh anggota dan pimpinan MPR telah sepakat bulat untuk
mengamandemen UUD 1945 dengan catatan (Istianah, 2002):

1. Amandemen tidak merubah negara kesatuan RI.

2. Amandemen tidak merubah Pembukaan UUD 1945.

3. Amandemen tetap mempertahankan sistem presidensial.

4. Amandemen dilakukan secara adindum.

5. Penjelasan UUD 1945 yang bernilai positif ditarik ke dalam Batang Tubuh.
Sejak tahun 1999-2002, MPR RI telah empat kali menetapkan peubahan pasal-pasal dalam UUD
1945, artinya ada pasal-pasal yang diubah dan ada pula yang ditambah, yaitu:

a. Perubahan pertama UUD 1945, hasil Sidang Umum MPR tahun 1999 (14-21 Oktober 1999).

b. Perubahan kedua UUD 1945, hasil Sidang Tahunan MPR tahun 2000 (7-18 Agustus 2000).

c. Perubahan ketiga UUD 1945, hasil Sidang Tahunan MPR tahun 2001 (1-9 November 2001).

d. Perubahan keempat UUD 1945, hasil Sidang Tahunan MPR tahun 2002 (1-10 Agustus 2002).

Semua perubahan itu dilakukan secara bertahap dan sistematis dalam rangka memperjelas,
melengkapi, dan menyempurnakan konstitusi negara RI.

Daftar Pustaka:

Rukiyati, M.Hum., dkk. 2008. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: UNY Press.

Ngadilah. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan 2 SMP/MTs. Jakarta: Sinar Grafika.

Anda mungkin juga menyukai