LAPORAN PENDAHULUAN
OLIGOHIDRAMNION
OLEH
YUSTINA PRIMA MATUR
21203005
PPROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA SANTU PAULUS RUTENG
2021/2022
1
A. Konsep Teori Oligohidramnion
1. Anatomi dan fisiologi Oligohidramnion
Amnion adalah selaput tipis fetus yang mulai dibentuk pada hari ke-8 setelah
konsepsi sebagai kantong kecil yang membungkus permukaan dorsal dari
embryonic disc. Secara gradual amnion akan mengelilingi embryo dan
kemudian cairan amnion akan mengisi rongga amnion
Selaput amnion merupakan jaringan vaskular yang lentur tetapi kuat. Bagian
dalam selaput yang berhubungan dengan cairan merupakan jaringan sel
kuboid yang asalnya dari ektoderm.Jaringan ini berhubungan dengan lapisan
interstisial yang mengandung kolagen I, III, dan IV. Bagian terluar dari
selaput adalah jaringan mesenkim yang berasal dari mesoderm yang
2
berhubungan dengan korion leave.
Cairan amnion mempunyai pH 7,2 dan massa jenis 1,0085.3 Cairan
amnion biasanya mengandung sedikit partikel padat yang berasal dari kulit
fetus (rambut lanugo, sel epitel, sebasea) dan epitel amnion. Warnanya bisa
berubah menjadi hijau atau coklat jika terkena mekonium. Volume cairan
amnion pada kehamilan aterm rata-rata sekitar 800 mL, dengan kisaran dari
400-1500 mL pada kasus normal. Pada usia kehamilan 10 minggu volume
rata-rata ialah 30 mL, 20 minggu sekitar 300 mL, dan pada 30 minggu sekitar
600 mL. Dengan demikian peningkatannya per minggu yakni sekitar 30 mL,
tetapi ini akan menurun ketika mendekati aterm. Adapun kandungan penting
yang terdapat pada cairan amnion ketika mendekati aterm : natrium
130mmol/l, urea 3-4 mmol/l, protein 3g/l, lesitin 30-100mg/l, alpha-
fetoprotein 0,5-5mg/l, dan hormon serta enzim yang bersifat bakteriostatik.5
Cairan amnion berasal dari maternal dan fetus. Pada awal kehamilan sekresi
utama cairan amnion berasal dari amnion yang kemudian terjadi difusi di
3
kulit fetus. Pada kehamilan 20 minggu, kulit fetus kehilangan
permeabilitasnya dan sejak saat ini cairan amnion dihasilkan dari ginjal fetus.
Pada kasus agenesis ginjal terjadilah oligohidramnion. Cairan amnion
memiliki fungsi penting untuk meringankan dampak trauma eksternal pada
fetus, melindungi tali pusat dari kompresi, memudahkan pergerakan fetus
sehingga membantu perkembangan sistem muskuloskeletal fetus, untuk
perkembangan paru-paru, lubrikasi kulit fetus, mencegah maternal
korioamnionitis dan infeksi fetus dengan adanya bakteriostatik, dan
mengontrol suhu fetus.
2. Definisi Oligohidramnion
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal,
yaitu kurang dari 500 cc. Definisi lainnya menyebutkan sebagai AFI yang
kurang dari 5 cm. Karena VAK tergantung pada usia kehamilan maka definisi
yang lebih tepat adalah AFI yang kurang dari presentil 5 ( lebih kurang AFI
yang <6.8 cm saat hamil cukup bulan).
3. Etiologi Oligohidramnion
Penyebab oligohydramnion tidak dapat dipahami sepenuhnya. Mayoritas
wanita hamil yang mengalami tidak tau pasti apa penyebabnya. Penyebab
oligohydramnion yang telah terdeteksi adalah cacat bawaan janin dan bocornya
4
kantung/ membran cairan ketuban yang mengelilingi janin dalam rahim.
Sekitar 7% bayi dari wanita yang mengalami oligohydramnion mengalami
cacat bawaan, seperti gangguan ginjal dan saluran kemih karena jumlah urin
yang diproduksi janin berkurang.
Masalah kesehatan lain yang juga telah dihubungkan dengan
oligohidramnion adalah tekanan darah tinggi, diabetes, SLE, dan masalah pada
plasenta. Serangkaian pengobatan yang dilakukan untuk menangani tekanan
darah tinggi, yang dikenal dengan namaangiotensin-converting enxyme
inhibitor (mis captopril), dapat merusak ginjal janin dan menyebabkan
oligohydramnion parah dan kematian janin. Wanita yang memiliki penyakit
tekanan darah tinggi yang kronis seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu
dengan ahli kesehatan sebelum merencanakan kehamilan untuk memastikan
bahwa tekanan darah mereka tetap terawasi baik dan pengobatan yang mereka
lalui adalah aman selama kehamilan mereka.
4. Patofisiologi Oligohidramnion
Mekanisme atau patofisiologi terjadinya oligohidramnion dapat dikaitkan
dengan adanya sindroma potter dan fenotip pottern. Dimana, Sindroma Potter
dan Fenotip Potter adalah suatu keadaan kompleks yang berhubungan dengan
gagal ginjal bawaan dan berhubungan dengan oligohidramnion (cairan ketuban
yang sedikit).
Fenotip Potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi baru
lahir, dimana cairan ketubannya sangat sedikit atau tidak ada. Oligohidramnion
menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap dinding rahim. Tekanan
dari dinding rahim menyebabkan gambaran wajah yang khas (wajah Potter).
Selain itu, karena ruang di dalam rahim sempit, maka anggota gerak tubuh
menjadi abnormal atau mengalami kontraktur dan terpaku pada posisi
abnormal.
Oligohidramnion juga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-
paru (paru-paru hipoplastik), sehingga pada saat lahir, paru-paru tidak
5
berfungsi. Pada sindroma Potter, kelainan yang utama adalah gagal ginjal
bawaan, baik karena kegagalan pembentukan ginjal (agenesis ginjal bilateral)
maupun karena penyakit lain pada ginjal yang menyebabkan ginjal gagal
berfungsi. Dalam keadaan normal, ginjal membentuk cairan ketuban (sebagai
air kemih) dan tidak adanya cairan ketuban menyebabkan gambaran yang khas
dari sindroma Potter.
Patway
Oligohidramnion
Sindroma Potter dan Fenotip Potter
Air ketuban < 500 cc
Air ketuban yang
Bayi bergerak dengan Air ketuban yang sedikit
terlalu sedikit indikasi
susah
Resiko cedera
Ginjal membentuk
Perubahan bentuk cairan
Tekanan dari dinding Resiko wajah
kematian janin
ketuban sebagai air kemih
Nyeri akut Rahim
dan tidak
Terhenti adanya cairan
nya Perkembangan
ketuban
paru-paru (paru-paru
Tindakan Sc
hipoplastik)
Sindrome Potter
Kurang Pengetahuan
Cemas
6
5. Epidemiologi Oligohidramnion
Sekitar 8% wanita hamil memiliki cairan ketuban terlalu sedikit.
Olygohydramnion dapat terjadi kapan saja selama masa kehamilan, walau pada
umumnya sering terjadi di masa kehamilan trimester terakhir. Sekitar 12%
wanita yang masa kehamilannya melampaui batas waktu perkiraan lahir (usia
kehamilan 42 minggu) juga mengalami olygohydrasmnion, karena jumlah
cairan ketuban yang berkurang hamper setengah dari jumlah normal pada masa
kehamilan 42 minggu
6. Faktor Resiko Oligohidramnion
Wanita dengan kondisi berikut memiliki insiden oligohidramnion yang tinggi :
1. Anomali kongenital ( misalnya : agenosis ginjal,sindrom patter ).
2. Retardasi pertumbuhan intra uterin.
3. Ketuban pecah dini ( 24-26 minggu ).
4. Sindrom pasca maturitas.
7. Manifestasi Klinis Oligohidramnion
1. Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen.
2. Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan anak
7
3. Sering berakhir dengan partus prematurus.
4. Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih
jelas.
5. Persalinan lebih lama dari biasanya.
6. Sewaktu his akan sakit sekali.
7. Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar.
8. Diagnosis dan Pemeriksaan Oligohidramnion
Pemeriksaan dengan USG dapat mendiagnosa apakah cairan ketuban terlalu
sedikit atau terlalu banyak. Umumnya para doketer akan mengukur ketinggian
cairan dalam 4 kuadran di dalam rahim dan menjumlahkannya. Metode ini
dikenal dengan nama Amniotic Fluid Index (AFI). Jika ketinggian amniotic
fluid (cairan ketuban) yang di ukur kurang dari 5 cm, calon ibu tersebut
didiagnosa mengalami oligohydramnion. Jika jumlah cairan tersebut lebih dari
25 cm, ia di diagnosa mengalami poluhydramnion.
9. Penatalaksanaan Oligohidramnion
Sebenarnya air ketuban tidak akan habis selama kehamilan masih normal
dan janin masih hidup. Bahkan air ketuban akan tetap diproduksi, meskipun
sudah pecah berhari-hari. Walau sebagian berasal dari kencing janin, air
ketuban berbeda dari air seni biasa, baunya sangat khas. Ini yang menjadi
petunjuk bagi ibu hamil untuk membedakan apakah yang keluar itu air ketuban
atau air seni.
Supaya volume cairan ketuban kembali normal, dokter umumnya
menganjurkan ibu hamil untuk menjalani pola hidup sehat, terutama makan
dengan asupan gizi berimbang. Pendapat bahwa satu-satunya cara untuk
memperbanyak cairan ketuban adalah dengan memperbanyak porsi dan
frekuensi minum adalah ”salah kaprah”. Tidak benar bahwa kurangnya air
ketuban membuat janin tidak bisa lahir normal sehingga mesti dioperasi sesar.
8
Bagaimanapun, melahirkan dengan cara operasi sesar merupakan pilihan
terakhir pada kasus kekurangan air ketuban. Meskipun ketuban pecah sebelum
waktunya, tetap harus diusahakan persalinan pervaginam dengan cara induksi
yang baik dan benar.
Studi baru-baru ini menyarankan bahwa para wanita dengan kehamilan
normal tetapi mengalami oligohydramnion dimasa-masa terakhir kehamilannya
kemungkinan tidak perlu menjalani treatment khusus, dan bayi mereka
cenderung lahir denga sehat. Akan tetapi wanita tersebut harus mengalami
pemantauan terus-menerus. Dokter mungkin akan merekomendasikan untuk
menjalani pemeriksaan USG setiap minggu bahkan lebih sering untuk
mengamati apakah jumlah cairan ketuban terus berkurang. Jika indikasi
berkurangnya cairan ketuban tersebut terus berlangsung, dokter mungkin akan
merekomendasikan persalinan lebih awal dengan bantuan induksi untuk
mencegah komplikasi selama persalinan dan kelahiran. Sekitar 40-50% kasus
oligohydramnion berlangsung hingga persalinan tanpa treatment sama sekali.
Selain pemeriksaan USG, dokter mungkin akan merekomendasikan tes
terhadap kondisi janin, seperti tes rekam kontraksi untuk mengganti kondisi
stress tidaknya janin, dengan cara merekam denyut jantung janin. Tes ini dapat
memberi informasi penting untuk dokter jika janin dalam rahim mengalami
kesulitan. Dalam kasus demikian, dokter cenderung untuk merekomendasikan
persalinan lebih awal untuk mencegah timbulnya masalah lebih serius. Janin
yang tidak berkembang sempurna dalam rahim ibu yang mengalami
oligohydramnion beresiko tinggi untuk mengalami komplikasi selama
persalinan, seperti asphyxia (kekurangan oksigen), baik sebelum atau sesudah
kelahiran. Ibu dengan kondisi janin seperti ini akan dimonitor ketat bahkan
kadang-kadang harus tinggal di rumah sakit.
Jika wanita mengalami oligohydramnion di saat-saat hampir bersalin,
dokter mungkin akan melakukan tindakan untuk memasukan laruran salin
melalui leher rahim kedalam rahim. Cara ini mungkin mengurangi komplikasi
selama persalinan dan kelahiran juga menghindari persalinan lewat operasi
9
caesar. Studi menunjukan bahwa pendekatan ini sangat berarti pada saat
dilakukan monitor terhadap denyut jantung janin yang menunjukan adanya
kesulitan. Beberapa studi juga menganjurkan para wanita dengan
oligohydramnion dapatmembantu meningkatkan jumlah cairan ketubannya
dengan minum banyak air. Juga banyak dokter menganjurkan untuk
mengurangi aktivitas fisik bahkan melakukan bedres.
9. Komplikasi Oligohidramnion
Kurangnya cairan ketuban tentu aja akan mengganggu kehidupan janin,
bahkan dapat mengakibatkan kondisi gawat janin. Seolah-olah janin tumbuh
dalam ”kamar sempit” yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Malah
pada kasus extrem dimana suah terbentuk amniotic band (benang atau serat
amnion) bukan tidak mustahil terjadi kecacatan karena anggota tubuh janin
”terjepit” atau ”terpotong” oleh amniotic band tersebut. Efek lainnya janin
berkemungkinan memiliki cacat bawaan pada saluran kemih, pertumbuhannya
terhambat, bahkan meninggal sebelum dilahirkan. Sesaat setelah dilahirkan
pun, sangat mungkin bayi beresiko tak segera bernafas secara spontan dan
teratur.
Bahaya lainnya akan terjadi bila ketuban lalu sobek dan airnya merembes
sebelum tiba waktu bersalin. Kondisi ini amat beresiko menyebabkan
terjadinya infeksi oleh kuman yang berasal daribawah.Pada kehamilan lewat
bulan, kekurangan air ketuban juga sering terjadi karena ukuran tubuh janin
semakin besar. Masalah-masalah yang dihubungkan dengan terlalu sedikitnya
cairan ketuban berbeda-beda tergantung dari usia kehamilan. Oligohydramnion
dapat terjadi di masa kehamilan trimester pertama atau pertengahan usia
kehamilan cenderung berakibat serius dibandingkan jika terjadi di masa
kehamilan trimester terakhir. Terlalu sedikitnya cairan ketuban dimasa awal
kehamilan dapat menekan organ-organ janin dan menyebabkan kecacatan,
seperti kerusakan paru-paru, tungkai dan lengan.
10
Olygohydramnion yang terjadi dipertengahan masa kehamilan juga
meningkatka resiko keguguran, kelahiran prematur dan kematian bayi dalam
kandungan. Jika ologohydramnion terjadi di masa kehamilan trimester terakhir,
hal ini mungkin berhubungan dengan pertumbuhan janin yang kurang baik.
Disaat-saat akhir kehamialn, oligohydramnion dapat meningkatkan resiko
komplikasi persalinan dan kelahiran, termasuk kerusakan pada ari-ari
memutuskan saluran oksigen kepada janin dan menyebabkan kematian janin.
Wanita yang mengalami oligohydramnion lebih cenderung harus mengalami
operasi caesar disaat persalinannya.
10. Tindakan Konservatif
1. Tirah baring.
2. Hidrasi.
3. Perbaikan nutrisi.
4. Pemantauan kesejahteraan janin (hitung pergerakan janin, NST, Bpp).
5. Pemeriksaan USG yang umum dari volume cairan amnion.
6. Amnion infusion.
7. Induksi dan kelahir
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian meliputi tahap anamnesa pemeriksaan fisik dan penunjang dimana
biasanya pada tahap anamnesa didapatkan riwayat kehamilan seperti, ketuban
pecah dini, preeklamisa, SLE dan kelainan saat kehamilan.
B. Pengkajian Fisik
a. Aktifitas / istirahat
Kemampuan untuk mengikuti aktivitas hidup yang diperlukan/diinginkan
(kerja dan kesenangan) dan untuk dapat tidur/istirahat.
b. Sirkulasi
11
Kemampuan untuk mentranspor oksigen dan nutrien yang perlu untuk
memenuhi kebutuhan seluler.
c. Integritas Ego
Kemampuan untuk mengembangkan dan menggunakan keterampilan dan
perilaku untuk mengintegrasikan dan mengatur pengalaman hidup.
d. EliminasiKemampuan untuk mengeluarkan produk sisa.
e. Makanan/Cairan
Kemampuan untuk mempertahankan masukan dan penggunakan nutrien dan
cairan untuk memenuhi kebutuhan fisiologi.
f. Hygiene
Kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.
g. Neurosensori
Kemampuan untuk menerima, menggabungkan, dan berespon terhadap
isyarat internal dan eksternal.
h. Nyeri/Ketidaknyamanan
i. Kemampuan untuk mengontrol lingkungan internal/eksternal untuk
mempertahankan kenyamanan.
j. Pernapasan
Kemampuan untuk memberikan dan menggunakan oksigen untuk memenuhi
kebutuhan fisiologi.
k. Keamanan
Kemampuan untuk memberikan lingkungan yang meningkatkan pertumbuhan,
aman.
l.Seksualitas
Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan/karakteristik peran pria atau peran
wanita.
m. Interaksi Sosial
Kemampuan untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan.
n. Belajar/Mengajar
Kemampuan untuk menghubungkan dan menggunakan informasi untuk
mencapai gaya hidup yang sehat/kesejahtraan optimal.
12
C. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan pergerakan bayi
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal informasi
3. Resiko cedera terhadap janin berhubungan dengan berkurangnya cairan
amnion
4. Ansietas berhubungan dengan resiko kelahiran posterm
13
Intervensi
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
1 Nyeri berhubungan dengan Setelah dilakukan perawatan selama 2 x 24 jam diharapkan 1. Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri,
pergerakan bayi 1. mengatakan nyeri berkurang atau hilang lokasi dan penyebaran
2. klien mampu mengontrol nyeri 2. Beri posisi yang menyenangka
3. Ajarkan teknik relaksasi napas dalam
4. Ukur tanda-tanda vital
5. Penatalaksanaan pemberian analgetik
6. Siapkan untuk prosedur bedah bila diindasikan
2 Resiko cedera terhadap janin Setelah dilakukan perawatan selama 2 x 24 jam diharapkan 1. Lakukan tes nitrazin
berhubungan dengan Mempertahankan kehamilan sampai kelangsungan hidup 2. Kaji kondisi ibu yang dapat dikontraindikasikan
berkurangnya cairan janin tercapai. pada terapi steroid.
Amnion 3. Kaji DJJ; catat adanya aktifitas uterus atau dilatasi
serviks.
4. Tinjau ulang pro dan kontra terapi steroid pada
pasangan.
5. Berikan betametason 12,5 mg (2 ml) IM 18.00,
ulangi pada 16.00.
14
6. Tekankan perlunya perawatan tindak lanjut bila
pulang tanpa kelahiran.
3 Ansietas berhubungan dengan Setelah dilakukan perawatan selama 2 x 24 jam diharapkan 1. Perhatikan tingkat ansietas dan derajat pengaruh
resiko kelahiran 1. Mengungkapkan rasa takut dan masalah yang berhubungan terhadap
dengan komplikasi dan atau kehamilan 2. kemampuan untuk berfungsi atau mengambil
2. Mengidentifikasi cara-cara sehat untuk menghadapi keputusan
ansietas 3. Berikan kehangatan secara emosional dan situasi
3. Menggunakan sumber-sumber system pendukung secara mendukung ; terima klien/pasangan seperti
efektif adanya mereka
4. Lakukan sikap tidak terburu-buru kapanpun dalam
menghadapi keluarga
5. Berikan akses 24 jam pada tim perawatan kesehatan
6. Tinjau ulang kemungkinan sumber-sumber ansietas
7. Kaji tingkat stress klien berkenaan dengan
komplikasi medis, hubungan pasangan, hubungan
klien dengan anggota keluarga, dan ketersediaan
jaringan kerja pendukungn
8. Anjurkan klien mengekspresikan perasaan prustasi
yang berkenaan dengan aturan terapi dan atau
15
perubahan gaya hidup. Jelaskan pada klien bahwa
pengungkapan dapat diterima dan penting.
9. Observasi tanda-tanda perubahan emosional,
ketidakseimbangan, atau komplik dengan keluarga
atau orang terdekat.
10. Kaji respon fisiologis terhadap ansietas
(misalnya tekanan darah, nadi).
11. Berikan informasi yang tepat secara individu
mengenai intervensi atau tindakan dan dampak
potensial kondisi klien dan janin.
12. Kuatkan aspek-aspek positif dari kondisi janin,
bila ada, seperti pertumbuhan dan aktivitas janin.
4 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan perawatan selama 2 x 24 jam diharapkan 1. Buat hubungan perawat-klien yang mendukung dan
berhubungan dengan 1. Memulai perilaku yang meningkatkan kesehatan diri terus menerus.
kondisi yang dialami pasien sendiri dan janin. 2. Evaluasi pengetahuan dan keyakinan budaya saat
ini berkenan dengan perubahan fisiologi/psikologi
yang normal pada kehamilan, serta keyakinan
tentang aktivitas, perawatan diri dan sebagainya.
3. Klarifikasi kesalahpahaman.
16
4. Tentukan derajat motivasi untuk belajar.
5. Identifikasi siapa yang memberikan
dukungan/intruksi dalam kebudayaan klien
(mis.,nenek/anggota keluarga lain, cuerandero,
penyembuh lain). Kerja dengan orang yang
medukung bila mungkin, menggunakan pengalih
bahasa sesuai kebutuhan.
6. Pertahankan sikap terbuka terhadap keyakinan
klien/pasangan.
7. Tentukan sikap klien terhadap asuhan yang
diberikan oleh pria, versus bidan atau pra
ktisi wanita.
8. Jelaskan rutinitas kunjungan kantor dan rasional
dari intervensi (mis., tes urin, pemantuan TD, berat
badan). Kuatkan pentingnya mempertahankan
perjanjian teratur.
9. Berikanan bimbingan antisipasi, meliputi diskusi
tentang nutrisi, latihan yang nyaman, istirahat,
pekerjaan, perawatan payudara, aktivitas seksual,
17
dan kebiasaan/gaya hidup sehat
10. Tinjauan ulang kebutuhan vitamin, besi sulfat,
dan asam folat prenatal.
11. Diskusikan perkembangan janin dengan
menggunakan gambar.
12. Jawab pertanyaan tentang perawatan dan
memberikan makan bayi.
13. Identifikasi tanda bahaya kehamilan, seperti
pendarahan, kram, nyeri abdomen akut, sakit
punggung, edema, gangguan penglihatan, sakit
kepala, dan tekanan pelvis.
18
DAFTAR PUSTAKA
Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstorm
KD. Williams obstetric. 22nd ed. New York. McGraw-Hill Companies, Inc;
2005.
Hamilton, Persis Mary. 1995. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas/E.6.Jakarta:
EGC.
Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obsetri, Jilid I, Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono, 2005, Ilmu Kebidanan, Jakarta; Tridasa Printer Rustam,
mochtar.1998. Sinopsis Obstetri; obstetri fisiologi, obstetri patologi edisi ke 2.
Jakarta: EGC.
Sulistyawati, Ari. (2009). Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta :
Salemba Medika.
Wikojosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan Edisi Ke2 Cetakan Ke4. Jakarta:
YBB- SP.
19
20