Anda di halaman 1dari 17

BIOGRAFI SINGKAT

TOKOH-TOKOH MUHAMMADIYAH

OLEH :
LAZISMU JAKARTA TIMUR

LAZISMU JAKARTA TIMUR menerima dan menyalurkan Zakat, Infaq dan


Shodaqoh anda melalui rekening 3060009552 Bank Muamalat
KH AHMAD DAHLAN
SANG PENDIRI MUHAMMADIYAH

Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak
keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan,
kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik
Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran
agama Islam di Jawa. Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana
Ishaq,Maulana 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana
Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung
Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar,
dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).

Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada
periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu
dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah.
Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad
Dahlan.

Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada
masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri
NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung
Kauman, Yogyakarta.

Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai
Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang
Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah,
KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti
Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah. Disamping itu KH. Ahmad Dahlan
pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai
Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari
perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama
Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.

Dengan maksud mengajar agama, pada tahun 1909 Kiai Dahlan masuk Boedi Oetomo -
organisasi yang melahirkan banyak tokoh-tokoh nasionalis. Di sana beliau memberikan
pelajaran-pelajaran untuk memenuhi keperluan anggota. Pelajaran yang diberikannya
terasa sangat berguna bagi anggota Boedi Oetomo sehingga para anggota Boedi
Oetomo ini menyarankan agar Kiai Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur
dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen. Hal tersebut
dimaksudkan untuk menghindari nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa
tutup bila kiai pemimpinnya meninggal dunia.
Saran itu kemudian ditindaklanjuti Kiai Dahlan dengan mendirikan sebuah organisasi
yang diberi nama Muhammadiyah pada 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330).
Organisasi ini bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui organisasi
inilah beliau berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.
Bagi Kiai Dahlan, Islam hendak didekati serta dikaji melalui kacamata modern sesuai
dengan panggilan dan tuntutan zaman, bukan secara tradisional. Beliau mengajarkan
kitab suci Al Qur'an dengan terjemahan dan tafsir agar masyarakat tidak hanya pandai
membaca ataupun melagukan Qur'an semata, melainkan dapat memahami makna
yang ada di dalamnya. Dengan demikian diharapkan akan membuahkan amal
perbuatan sesuai dengan yang diharapkan Qur’an itu sendiri. Menurut
pengamatannya, keadaan masyarakat sebelumnya hanya mempelajari Islam dari
kulitnya tanpa mendalami dan memahami isinya. Sehingga Islam hanya merupakan
suatu dogma yang mati.

Di bidang pendidikan, Kiai Dahlan lantas mereformasi sistem pendidikan pesantren


zaman itu, yang menurutnya tidak jelas jenjangnya dan tidak efektif metodenya
lantaran mengutamakan menghafal dan tidak merespon ilmu pengetahuan umum.
Maka Kiai Dahlan mendirikan sekolah-sekolah agama dengan memberikan pelajaran
pengetahuan umum serta bahasa Belanda. Bahkan ada juga Sekolah Muhammadiyah
seperti H.I.S. met de Qur'an. Sebaliknya, beliau pun memasukkan pelajaran agama
pada sekolah-sekolah umum. Kiai Dahlan terus mengembangkan dan membangun
sekolah-sekolah. Sehingga semasa hidupnya, beliau telah banyak mendirikan sekolah,
masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu.
Kegiatan dakwah pun tidak ketinggalan. Beliau semakin meningkatkan dakwah dengan
ajaran pembaruannya. Di antara ajaran utamanya yang terkenal, beliau mengajarkan
bahwa semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad
SAW. Beliau juga mengajarkan larangan ziarah kubur, penyembahan dan perlakuan
yang berlebihan terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan
tombak. Di samping itu, beliau juga memurnikan agama Islam dari percampuran
ajaran agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme, dan kejawen.

Di bidang organisasi, pada tahun 1918, beliau membentuk organisasi Aisyiyah yang
khusus untuk kaum wanita. Pembentukan organisasi Aisyiyah, yang juga merupakan
bagian dari Muhammadiyah ini, karena menyadari pentingnya peranan kaum wanita
dalam hidup dan perjuangannya sebagai pendamping dan partner kaum pria.
Sementara untuk pemuda, Kiai Dahlan membentuk Padvinder atau Pandu - sekarang
dikenal dengan nama Pramuka - dengan nama Hizbul Wathan disingkat H.W. Di sana
para pemuda diajari baris-berbaris dengan genderang, memakai celana pendek,
berdasi, dan bertopi. Hizbul Wathan ini juga mengenakan uniform atau pakaian
seragam, mirip Pramuka sekarang.

Pembentukan Hizbul Wathan ini dimaksudkan sebagai tempat pendidikan para pemuda
yang merupakan bunga harapan agama dan bangsa. Sebagai tempat persemaian
kader-kader terpercaya, sekaligus menunjukkan bahwa Agama Islam itu tidaklah kolot
melainkan progressif. Tidak ketinggalan zaman, namun sejalan dengan tuntutan
keadaan dan kemajuan zaman.
Karena semua pembaruan yang diajarkan Kyai Dahlan ini agak menyimpang dari tradisi
yang ada saat itu, maka segala gerak dan langkah yang dilakukannya dipandang aneh.
Sang Kiai sering diteror seperti diancam bunuh, rumahnya dilempari batu dan kotoran
binatang.

Ketika mengadakan dakwah di Banyuwangi, beliau diancam akan dibunuh dan dituduh
sebagai kiai palsu. Walaupun begitu, beliau tidak mundur. Beliau menyadari bahwa
melakukan suatu pembaruan ajaran agama (mushlih) pastilah menimbulkan gejolak
dan mempunyai risiko. Dengan penuh kesabaran, masyarakat perlahan-lahan
menerima perubaban yang diajarkannya.
Tujuan mulia terkandung dalam pembaruan yang diajarkannya. Segala tindak
perbuatan, langkah dan usaha yang ditempuh Kiai ini dimaksudkan untuk
membuktikan bahwa Islam itu adalah Agama kemajuan. Dapat mengangkat derajat
umat dan bangsa ke taraf yang lebih tinggi. Usahanya ini ternyata membawa dampak
positif bagi bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Banyak golongan
intelektual dan pemuda yang tertarik dengan metoda yang dipraktekkan Kiai Dahlan
ini sehingga mereka banyak yang menjadi anggota Muhammadiyah. Dalam
perkembangannya, Muhammadiyah kemudian menjadi salah satu organisasi massa
Islam terbesar di Indonesia.

Melihat metoda pembaruan KH Ahmad Dahlan ini, beliaulah ulama Islam pertama atau
mungkin satu-satunya ulama Islam di Indonesia yang melakukan pendidikan dan
perbaikan kehidupan um’mat, tidak dengan pesantren dan tidak dengan kitab
karangan, melainkan dengan organisasi. Sebab selama hidup, beliau diketahui tidak
pernah mendirikan pondok pesantren seperti halnya ulama-ulama yang lain. Dan
sepanjang pengetahuan, beliau juga konon belum pernah mengarang sesuatu kitab
atau buku agama.

Muhammadiyah sebagai organisasi tempat beramal dan melaksanakan ide-ide


pembaruan Kiai Dahlan ini sangat menarik perhatian para pengamat perkembangan
Islam dunia ketika itu. Para sarjana dan pengarang dari Timur maupun Barat sangat
memfokuskan perhatian pada Muhammadiyah. Nama Kiai Haji Akhmad Dahlan pun
semakin tersohor di dunia.
Dalam kancah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, peranan dan sumbangan
beliau sangatlah besar. Kiai Dahlan dengan segala ide-ide pembaruan yang
diajarkannya merupakan saham yang sangat besar bagi Kebangkitan Nasional di awal
abad ke-20.
Kiai Dahlan menimba berbagai bidang ilmu dari banyak kiai yakni KH. Muhammad
Shaleh di bidang ilmu fikih; dari KH. Muhsin di bidang ilmu Nahwu-Sharaf (tata
bahasa); dari KH. Raden Dahlan di bidang ilmu falak (astronomi); dari Kiai Mahfud dan
Syekh KH. Ayyat di bidang ilmu hadis; dari Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock di
bidang ilmu Al-Quran, serta dari Syekh Hasan di bidang ilmu pengobatan dan racun
binatang.

Pada usia 66 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923, Kiai Haji Akhmad Dahlan
wafat di Yogyakarta. Beliau kemudian dimakamkan di Karang Kuncen, Yogyakarta.
Atas jasa-jasa Kiai Haji Akhmad Dahlan maka negara menganugerahkan kepada beliau
gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan
tersebut dituangkan dalam SK Presiden RI No.657 Tahun 1961, tgl 27 Desember 1961.
KASMAN SINGODIMEDJO

MEMIMPIN ITU JALAN MENDERITA


HIDUP ITU BERJUANG

Prof Dr Mr. Raden Kasman Singodimedjo. Pernah menjabat Jaksa Agung, Kepala Kehakiman
Militer, Menteri Muda Kehakiman, Ketua BPUPKI (Persiapan Kemerdekaan Indonesia) Ketua
KNIP (DPR RI Pertama) Beliau seorang yang pemberani dan penegak
kebenaran.

Prof Dr Mr Raden Kasman Singodimejo, tokoh Muhammadiyah kelahiran Kalirejo Purworejo


Jawa Tengah 25 Februari 1908 dikenal sederhana, terus terang dan pemberani. “Namanya
memang Singodimejo, kenyataannya dia singa di mana-mana,” kata Mohamad.Roem, kawan
dekat beliau sejak muda.Suatu hari setelah ceramah di Ternate, Kasman harus menyeberang
ke Bitung (Sulawesi Utara) memenuhi undangan di sana. Ketika sampai di tepi laut, tiba-tiba
cuaca berubah. Angin besar, ombak laut makin tinggi. Pemilik perahu biasanya tidak berani
berlayar, menunggu cuaca baik kembali. Namun tidak tahu kapan cuaca akan baik kembali.
Dalam ketidakpastian, Kasman keluar singanya.“Apakah ada nakhoda Muslim yang percaya
bahwa hidup dan mati di tangan Allah? Siapa yang bersedia mengantarkan saya dalam keadaan
ini ke Bitung?” teriak Kasman. Teriakan itu menularkan keberanian ke hati pemilik kapal.
Beberapa orang mengacungkan tangan. Namun karena hanya perlu satu perahu, maka ia
memilih salah satu dan terima kasih kepada yang lain. “Kalian juga sudah mendapat
pahala.”Dalam buku biografinya: “Hidup Itu Berjuang”, diceritakan ketika dalam tahanan
Orde Lama, dia diminta mengakui mengadakan rapat gelap untuk gerakan makar. Kasman
menolak karena memang tidak melakukannya. Lalu dikonfrontir dengan Nasuhi, tahanan lain.
“Tidakkah Letkol malam itu menjemput Pak Kasman lalu membawanya ke Tengerang?” kata
pemeriksa. Nasuhi diam. Pertanyaan itu diulang dan diulang lagi. Tapi Nasuhi tetap diam.
“Awas! Letkol diproses verbaal telah mengakuinya,” penyidik mulai menggertak. Nasuhi tetap
diam. Suasana senyap.Kasman minta ijin bicara: “Bismillahir rahmanir rahim. Nasuhi kamu
kan percaya kepada Allahu Akbar. Jawablah secara jantan. Kamu kan laki-laki. Allah sebagai
saksi. Jawab yang lantang supaya kedengaran,” kata Kasman.Nasuhi menjawab: “Saya
terpaksa menandatangani proses verbaal. Sebetulnya tidak begitu.” Lalu Kasman
menyambung: “Nah, itulah tuan-tuan keadaan yang sebenarnya. Saya sebagai bekas Jaksa
Agung, bekas kepala Kehakiman Militer, bekas Menteri Muda Kehakiman, tahu persis semua ini
tidak syah.” Kasman lalu berdiri. Dibuangnya kursinya jauh ke belakang, tangannya diangkat
lalu berteriak sangat keras dan melotot. “Percuma pemeriksaan semacam ini! Silakan tuan-
tuan cabut pistol. Tembak saya! Tembak! Tambak!” Jaksa itu gagal memaksa Kasman.
Singanya keluar pada saat yang tepat.Di luar soal “singa”, ada dua pesan Kasman yang patut
direnungkan. Pertama: “Hidup itu berjuang”. Kedua: “Jalan pemimpin itu bukan jalan yang
mudah. Memimpin itu jalan menderita”. Berjuang dan menderita memang sering menyatu.
Kasman tidak hanya bicara tetapi telah menjalaninya berkali-kali.Sejak muda ia terlibat aktif
mendirikan republik ini, kemudian melalui Masyumi dan Muhammadiyah berjuang mengisi
negeri ini sesuai cita-cita dan prinsip hidupnya. Untuk itu dia rela empat kali masuk penjara.
Sekali pada zaman Belanda, tiga kali masa rezim Orde Lama. Tapi dia tetap bahagia. “Bahagia
dalam keluarga, bahagia karena hidup punya cita-cita,” kata Pak Roem. Karena “hidup itu
berjuang”, maka bagi mereka yang tidak berjuang atau meninggalkan gelanggang perjuangan,
sesungguhnya dia telah kehilangan makna hidupnya.

Jika hidup kehilangan makna, maka hidup itu sia-sia. Kata Imam Syafi’i: “Ucapkan takbir
untuknya empat kali tanda kematiannya.”Pesan lainnya, pemimpin itu harus siap jika harus
melalui jalan derita. Ini penting karena kini banyak orang mengira jalan pemimpin itu jalan di
atas karpet merah, mobil mewah, rumah megah dan kursi empuk. Maka ketika negeri ini
terpuruk dan rakyat dijerat kemiskinan akibat kenaikan BBM, yang terdengar adalah seruan
rakyat mengencangkan ikat pinggang. Bukan pernyataan para pemipin, mulai presiden,
wapres, anggota dewan dan seterusnya akan memotong sebagaian penghasilannya,
membatalkan kunjungan kerja yang selama ini tidak berfaedah dan hal lain sejenis itu.Dalam
Muhammadiyah, mereka yang ingin terjun ke persyarikatan dengan tujuan agar memperoleh
fasilitas hidup, maka dia akan kecewa. Dia akan meninggalkan jejak buruk yang tak gampang
terhapus dari ingatan. Tak dilarang kita menggunakan fasilitas, apalagi demi kelancaran
tugas. Tetapi sungguh menyedihkan jika pimpinan persyarikatan, majelis, lembaga, ortom,
amal usaha berebut fasilitas dan lupa menunjukkan kerja nyata. Baru bekerja kalau sudah
tersedia fasilitas. Muhammadiyah adalah organisasi kerja. Bukan organsiasi papan nama,
apalagi sekadar tempat numpang gaya dan numpang fasilitas.

Pesan Pak yang diucapkan ketika beliau masih mahasiswa bahwa jalan pemimpin itu jalan
menderita, masih relevan sampai sekarang. Al-Quran juga mengingatkan: “Apakah kamu
mengira kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana
orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereke ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta
digoncangkan dengan berbagai cobaan, sehingga Rasul berkata: “Bilakah datangnya
pertolongan Allah?”. Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu sudah amat dekat.” (QS 2:
214)

Ketua KNIP

29 AGUSTUS 1945 s.d. PEBRUARI 1950 sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia, yang kita kenal sebagai Undang-undang Dasar 1945. Maka mulai saat ini,
penyelenggara negara didasarkan pada ketentuan-ketentuan menurut Undang-undang Dasar
1945.Sesuai dengan ketentuan dalam Aturan Peralihan, tanggal 29 Agustus 1945, dibentuk
Komite Nasional Indonesia Pusat atau KNIP beranggotakan 137 orang. Komite Nasional Pusat
ini diakui sebagai cikal bakal badan Legislatif di Indonesia, dan tanggal pembentukan KNIP
yaitu 29 Agustus 1945 diresmikan sebagai hari jadi DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK
INDONESIA.
Pimpinan KNIP :

· Mr.Kasman Singodimedjo - Ketua


· M. Sutardjo Kartohadikusumo - Wakil Ketua I
· Mr. J. Latuharhary - Wakil Ketua II
· Adam Malik - Wakil Ketua III

Tanggal 10 Nopember 1945 terjadi pertempuran di Surabaya yang menimbulkan banyak


korban di pihak bangsa Indonesia. Sehubungan dengan itu KNIP dalam Sidang Pleno ke-3
tanggal 27 Nopember 1945 mengeluarkan resolusi yang menyatakan protes yang sekeras-
kerasnya kepada Pucuk Pimpinan Tentara Inggris di Indonesia atas penyerangan Angkatan
Laut, Darat dan Udara atas rakyat dan daerah-daerah Indonesia.KNIP telah mengadakan
sidang di Kota Solo pada tahun 1946, di Malang pada tahun 1947, dan Yogyakarta tahun
1949.Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dilaksanakan serentak di medan-perang dan
di meja perundingan. Dinamika revolusi ini juga dicerminkan dalam sidang-sidang KNIP,
antara pendukung pemerintah dan golongan keras yang menentang perundingan.Republik
Indonesia dan Kerajaan Belanda telah dua kali menandatangani perjanjian, yaitu Linggarjati
dan Renville. Tetapi semua persetujuan itu dilanggar oleh Belanda, dengan melancarkan
agresi militer ke daerah Republik.

Tidak banyak yang mengetahui Kasman Singodimedjo merupakan salah satu tokoh besar
pergerakan nasional. Di dalam buku sejarah pun, tak ada yang menyebut nama tokoh muda
dari kalangan Islam Nasionalis tersebut.

DIUSULKAN RAIH GELAR PAHLAWAN NASIONAL

Tidak banyak yang mengetahui Kasman Singodimedjo merupakan salah satu tokoh besar
pergerakan nasional. Di dalam buku sejarah pun, tak ada yang menyebut nama tokoh muda
dari kalangan Islam Nasionalis tersebut.
"Sungguh ironis, padahal Kasman Singodimedjo merupakan tokoh besar yang mewarnai hukum
dan ketatanegaraan Indonesia," ujar Sejarawan Anhar Gonggong, dalam Seminar Nasional
"Prof Dr Kasman Singodimejo Pejuang Kemerdekaan yang Terlupakan" di Kampus Unissula
Kaligawe.
Seminar yang dimoderatori Rektor Unissula Prof Dr Laode M Kamaluddin MSc MEng juga
dihadiri pembicara lainnya Dr Hamdan Zoela MH (Hakim Mahkamah Konstitusi). Menurut
Anhar, sosok Kasman bukanlah jenis tokoh yang berpolitik untuk mencapai tujuan dan
kepentingan pribadi, apalagi sekadar untuk memperkaya diri. Aktivis Muhammadiyah
kelahiran Purworejo itu, lanjutnya, selalu tampil sebagai perintis di saat-saat kritis.

Hamdam Zoelva menilai, pemikiran politik dan kenegaraan Kasman Singodimedjo atau yang
lebih dikenal dengan Mr Kasman tidak dapat dilepaskan dari keyakinan dan pendidikan Islam
yang diperoleh sejak kecil dari ayahnya maupun dari tokoh-tokoh Islam seperti KH Ahmad
Dahlan dan KH Abdul Aziz.

Beliau wafat di Jakarta, 25 Oktober 1982 pada umur 78 tahun.

Sumber : wongleces.blogspot.com, suara merdeka.com


K.H. AR. FACHRUDDIN

Kiai Haji Abdur Rozzaq Fachruddin adalah pemegang rekor paling lama memimpin
Muhammadiyah, yaitu selama 22 tahun (1968-1990). Ia lahir tanggal 14 Februari 1916 di
Cilangkap, Purwanggan, Pakualaman, Yogyakarta.

Ayahnya ialah KH. Fachruddin (seorang Lurah Naib atau Penghulu dari Puro Pakualaman yang
diangkat oleh Kakek Sri Paduka Paku Alam VIII) yang berasal dari Bleberan, Brosot, Galur,
Kulonprogo.
Sementara ibunya ialah Maimunah binti KH. Idris Pakualaman. Pada tahun 1923, untuk
pertama kalinya Abdur Rozak bersekolah formal di Standaad School Muhammadiyah Bausasran
Yogyakarta.

Pada tahun 1934, ia dikirim oleh Muhammadiyah untuk misi dakwah sebagai guru di sepuluh
sekolah dan sebagai mubaligh di Talangbalai (sekarang Ogan Komering Ilir) selama sepuluh
tahun. Dan ketika Jepang datang, ia pindah ke Muara Meranjat, Palembang sampai tahun
1944. Selama tahun 1944, Fachruddin mengajar di sekolah Muhammadiyah serta memimpin
dan melatih Hizbul Wathan, dan barulah ia pulang ke kampung halaman.
KARIR

Pengabdiannya bukan saja di lingkungan Muhammadiyah, tapi juga di pemerintahan dan


perguruan tinggi. Pak AR misalnya, pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama,
Wates (1947). Tidak lama di jabatannya itu, dia ikut bergerilya melawan Belanda. Pada 1950-
1959, ia menjadi pegawai di kantor Jawatan Agama wilayah Yogyakarta, lalu pindah ke
Semarang, sambil merangkap dosen luar biasa bidang studi Islamologi di Unissula, FKIP Undip,
dan STO.

Sedangkan di Muhammadiyah, dimulai sebagai pimpinan Pemuda Muhammadiyah (1938-1941).


Ia menjadi pimpinan mulai di tingkat ranting, cabang, wilayah, hingga sebagai Pimpinan Pusat
Muhammadiyah. Jabatan sebagai ketua PP Muhammadiyah dipegangnya pada 1968 setelah di
fait accompli menggantikan KH Faqih Usman, yang meninggal.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-38 di Ujungpandang, Pak AR terpilih sebagai ketua. Hampir
seperempat abad ia menjadi orang paling atas di Muhammadiyah, sebelum digantikan oleh
almarhum KH Azhar Basyir (setelah tidak lagi bersedia dicalonkan dalam Muktamar
Muhammadiyah 1990). Setelah dirawat di RS Islam Jakarta, Pak AR wafat pada 17 Maret 1995,
meninggalkan 7 putra dan putri.

Sesuatu yang nampak menonjol dari pribadi Pak AR adalah kesederhanaan, kejujuran, dan
keikhlasan. Tiga sifat itulah, menurut Dr Amien Rais, warisan utama Pak AR yang perlu terus
dihidupkan tidak hanya oleh kalangan Muhammadiyah. Selaku pemimpin umat, Pak AR sangat
sepi dari limpahan harta benda. Beliau sangat mungkin untuk memiliki mobil mengkilap, atau
rumah mewah. Tetapi Pak AR memilih untuk tidak punya apa-apa, kata Amien.

Kesejukannya sebagai pemimpin umat Islam juga bisa dirasakan oleh umat agama lain. Ketika
menyambut kunjungan pemimpin umat Kristiani sedunia, Paus Yohannes Paulus II, di
Yogyakarta dalam sebuah kunjungan resmi ke Indonesia, Pak AR menyampaikan 'uneg-uneg'
dan kritik kepada Paus.

Pak AR mengeluhkan, bahwa tak sedikit umat Islam yang lemah dan tak berkecukupan
seringkali dirayu umat Kristen untuk masuk agama mereka. Kesempatan itu juga digunakan
Pak AR menjelaskan pada Paus, bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara-cara yang
perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada oleh umat lain karena disampaikan
dengan lembut dan sejuk, serta dijiwai dengan semangat toleransi tinggi.

Tak hanya kesejukan, Pak AR juga dikenal sangat merakyat. Meski ia menduduki jabatan
puncak di organisasi Muhammadiyah, namun dia tidak pernah jauh dari umat yang
dipimpinnya. Ia memberikan seluruh diri dan hidupnya kepada Muhammadiyah. Suatu ketika
di tahun 1975, becak yang dinaikinya dicegat seorang pedagang kaki lima. Pedagang itu
ternyata hanya ingin bertanya tentang hukum pinjam-meminjam. Lebih setengah jam, Pak AR
memberi penjelasan kepada pedagang tersebut. Setelah si penanya puas, Pak AR kembali
melanjutkan perjalanan.

Pak AR yang memang selalu ingin dekat dengan rakyat kecil itu, paling senang jika diundang
berceramah di kalangan rakyat bawah di lembah Kali Code dan kampung-kampung pinggiran
di Yogyakarta. Suatu kali, dalam sebuah kultum (kuliah tujuh menit), Pak AR menjelaskan
mengapa dirinya senang ceramah di kalangan rakyat kecil dan miskin. "Karena itulah sunnah
Nabi SAW," jawabnya.

Para pengikut Islam, pertama-tama, jelas Pak AR, adalah rakyat miskin dan budak belian.
"Karena itu, sebagai dai jangan berharap pada orang-orang besar dan kaya. Bukankah Nabi
pernah mendapat teguran dari Allah karena menyepelekan orang kecil demi berdakwah untuk
orang besar?" jelasnya.

Sikapnya yang merakyat inilah yang membuat periode kepemimpinannya dinilai sangat
berhasil. Totalitas Pak AR dalam ber-Muhammadiyah, itu juga ditunjukkan dalam bentuk
penolakannya ketika pemerintah Orde Baru berkali-kali menawarinya menjadi anggota DPR
dan jabatan lainnya. Di sisi lain, Pak AR juga tetap menjaga hubungan baik dengan
pemerintah, dan bekerja sama secara wajar. Sikap dan kebijakannya ini membuat warga
Muhammadiyah merasa teduh, aman dan memberikan kepercayaan yang besar kepadanya.

Bagaimana Pak AR di mata keluarganya? "Bapak tidak pernah marah. Kepada kami, juga
kepada orang lain. Kalaupun menasihati kami, dilakukannya secara halus kadang diselingi
dengan humor," ujar Siti Zahanah, anak ketiga Pak AR, sebagaimana dituturkannya dalam
buku Pak AR, Profil Kiai Merakyat.
Meski sebagai teladan dan sangat dihormati di keluarga, bukan berarti urusan keluarga
menjadi prioritas. Baginya, keluarga adalah nomor dua, sementara Muhammadiyah dan umat
adalah urusan pertama dalam hidupnya. Namun, dukungan keluarga sangat penting bagi Pak
AR untuk menjalankan aktivitas dan amanat organisasi.

Setiap akan meninggalkan rumah lebih dari sehari semalam, Pak AR mempunyai kebiasaan
berpesan kepada sang istri, Siti Qomariyah, dan anak-anaknya. "Aku arep lungo nang kene
semene dino. Kowe kabeh tak pasrahke Gusti Allah (Aku akan pergi ke kota ini sekian hari.
Kamu sekalian saya titipkan kepada Allah)," tutur Qomariyah, menirukan pesan Pak AR. Pak
AR memang berharap istrinya benar-benar berperan sebagai ibu rumah tangga secara penuh.
Menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga yang istiqomah, yang mampu membimbing dan
memberi motifasi kepada anak-anak. Pak AR sadar betul, tugasnya yang berat sebagai ketua
Muhammadiyah, membuatnya tak cukup waktu untuk keluarga. Karena itulah, sang istri yang
mengambil alih tugas-tugas keseharian di rumah ketika Pak AR tugas keluar.

Toh demikian, sudah menjadi rahasia umum, jika keluarga Pak AR yang tergolong keluarga
besar (9 orang) ini tidak mempunyai rumah pribadi. Padahal, sebagai orang penting, bila ia
mau, bisa saja hal itu terpenuhi dalam hitungan hari. Tapi tidak demikian dengan Pak AR.

Rumah cukup besar yang ditempatinya sejak 1971 adalah milik persyarikatan Muhammadiyah.
Sebelumnya, Pak AR sekeluarga menghuni rumah sewa sederhana di Kauman nomor 260,
Yogyakarta. Tapi, bukan berarti Pak AR tidak ingin memiliki rumah pribadi. Hal itu pun sudah
ia usahakan saat menjabat sebagai kepala Kantor Agama Jawa Tengah di Semarang tahun
1959-1964, dengan cara membeli rumah secara angsuran yang diusahakan pihak swasta.

Karena memang sifatnya yang tidak pernah berburuk sangka, angsuran rumah yang tanpa
disertai surat jaminan itu pun tak berumur panjang. Pak AR tertipu oleh pengembang yang
membawa lari uangnya. "Wis ora usah dirembug maneh. Sesuk bakal diijoli omah sing luwih
apik neng suwargo (Sudah, tidak usah dibicarakan lagi. Nanti akan mendapat ganti rumah
yang lebih baik di surga)," tutur Qomariyah, ketika menanyakan kelanjutan dan status rumah
yang diangsur itu. Kalau nyebut pak AR, benak saya langsung mengarah kepada pak AR
Fachruddin (alm), ketua PP Muhammadiyah. Saya sangat mengagumi gaya pak AR (alm) kalau
ceramah: Santun, lembut, sejuk.
Di samping dikenal sebagai seorang mubaligh yang sejuk, ia juga dikenal sebagai penulis yang
produktif. Karya tulisnya banyak dibukukan untuk dijadikan pedoman dalam beragama. Di
antara karya-karyanya ialah Naskah Kesyukuran; Naskah Entheng, Serat Kawruh Islam
Kawedar; Upaya Mewujudkan Muhammadiyah Sebagai Gerakan Amal; Pemikiran Dan Dakwah
Islam; Syahadatain Kawedar; Tanya Jawab Entheng-Enthengan; Muhammadiyah adalah
Organisasi Dakwah Islamiyah; Al-Islam Bagian Pertama; Menuju Muhammadiyah; Sekaten dan
Tuntunan Sholat Basa Jawi; Kembali kepada Al-Qur`an dan Hadist; Chutbah Nikah dan
Terjemahannya; Pilihlah Pimpinan Muhammadiyah yang Tepat; Soal-Jawab Entheng-
enthengan; Sarono Entheng-enthengan Pancasila; Ruh Muhammadiyah; dan lain-lain.
Ulama kharismatik ini tidak bersedia dipilih kembali menjadi Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta, walaupun masih banyak
yang mengharapkannya. Ia berharap ada alih generasi yang sehat dalam Muhammadiyah. Ia
wafat pada 17 Maret 1995 di Rumah Sakit Islam Jakarta pada usia 79 tahun.

Sumber : wikipedia

LAZISMU JAKARTA TIMUR menerima dan menyalurkan Zakat, Infaq dan


Shodaqoh anda melalui rekening 3060009552 Bank Muamalat

Mari berbagi ...

Anda mungkin juga menyukai