Anda di halaman 1dari 31

I.

DEFINISI

Tinea Cruris adalah dermatofitosis pada sela paha, perineum dan sekitar
anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat
merupakan penyakit yang berlangsun seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas
pada daerahgenito-krural saja atau bahkan meluas ke daerah sekitar anus,
daerah gluteus dan perut bagian bawah atau bagian tubuh yang lain. Tinea
cruris mempunyai nama lain eczema marginatum, jockey itch, ringworm of
the groin, dhobie itch (Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005)

II.ETIOLOGI

Penyebab utama dari tinea cruris Trichopyhton rubrum (90%) dan


Epidermophython fluccosum Trichophyton mentagrophytes (4%),
Trichopyhton tonsurans (6%) (Boel, Trelia.Drg. M.Kes.2003)

III EPIDEMIOLOGI

Tinea cruris dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak di daerah
tropis. Angka kejadian lebih sering pada orang dewasa, terutama laki-laki
dibandingkan perempuan. Tidak ada kematian yang berhubungan dengan
tinea cruris.Jamur ini sering terjadi pada orang yang kurang memperhatikan
kebersihan diri atau lingkungan sekitar yang kotor dan lembab (Wiederkehr,
Michael. 2008)

III.PATOFISIOLOGI

Cara penularan jamur dapat secara angsung maupun tidak langsung.


Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung
jamur baik dari manusia, binatang, atau tanah. Penularan tidak langsung
dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen
penyebabjuga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk
atau sprei penderita atau autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan
tinea manum. Jamur ini menghasilkan keratinase yang mencerna keratin,
sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum korneum. Infeksi dimulai
dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang
mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan
epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhannya dengan
pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan
batas yang jelas dan meninggi (ringworm). Reaksi kulit semula berbentuk
papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit


adalah:

a.Faktor virulensi dari dermatofita

Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik,


zoofilik, geofilik. Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda pula
satu dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun
bagian-bagian dari tubuh misalnya: Trichopyhton rubrum jarang
menyerang rambut, Epidermophython fluccosum paling sering
menyerang liapt paha bagian dalam.

b.Faktor trauma

Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.

c.Faktor suhu dan kelembapan


Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak
pada lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat
paha, sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur.

d.Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan

Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat
insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih
rendah sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik

e.Faktor umur dan jenis kelamin (Boel, Trelia.Drg. M.Kes.2003)

IV.MANIFESTASI KLINIS

1. Anamnesis

Keluhan penderita adalah rasa gatal dan kemerahan di regio inguinalis


dan dapat meluas ke sekitar anus, intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula
meluas ke supra pubis dan abdomen bagian bawah. Rasa gatal akan semakin
meningkat jika banyak berkeringat. Riwayat pasien sebelumnya adalah
pernah memiliki keluhan yang sama. Pasien berada pada tempat yang
beriklim agak lembab, memakai pakaian ketat, bertukar pakaian dengan
orang lain, aktif berolahraga, menderita diabetes mellitus. Penyakit ini dapat
menyerang pada tahanan penjara, tentara, atlit olahraga dan individu yang
beresiko terkena dermatophytosis.

2. Pemeriksaan Fisik

Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan


sekunder. Makula eritematosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif terdiri
dari papula atau pustula. Jika kronis atau menahun maka efloresensi yang
tampak hanya makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai
likenifikasi. Garukan kronis dapat menimbulkan gambaran likenifikasi.

Manifestasi tinea cruris :

1.Makula eritematus dengan central healing di lipatan inguinal, distal lipat


paha, dan proksimal dari abdomen bawah dan pubis

2.Daerah bersisik

3.Pada infeksi akut, bercak-bercak mungkin basah dan eksudatif

4.Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya


dan disertai likenifikasi

5.Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas papula eritematus


yang tersebar dan sedikit skuama

6.Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena

7.Perubahan sekunder dari ekskoriasi, likenifikasi, dan impetiginasi


mungkin muncul karena garukan

8.Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid topikal


sehingga tampak kulit eritematus, sedikit berskuama, dan mungkin
terdapat pustula folikuler

9.Hampir setengah penderita tinea cruris berhubungan dengan tinea pedis


(Wiederkehr, Michael. 2008).
V.PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakan diagnosis terdiri


atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan
mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis berupa
kerokan kulit yang sebelumnya dibersihkan dengan alkohol 70%.

a.Pemeriksaan dengan sediaan basah

Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% → kerok skuama dari bagian


tepi lesi dengan memakai scalpel atau pinggir gelas → taruh di obyek
glass → tetesi KOH 10-15 % 1-2 tetes → tunggu 10-15 menit untuk
melarutkan jaringan → lihat di mikroskop dengan pembesaran 10-45
kali, akan didapatkan hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat,
dan bercabang, maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit
yang lama atau sudah diobati, dan miselium

b. Pemeriksaan kultur dengan Sabouraud agar

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada


medium saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol dan
cyclohexamide (mycobyotic-mycosel) untuk menghindarkan
kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. Identifikasi jamur
biasanya antara 3-6 minggu (Wiederkehr, Michael. 2008)
c.Punch biopsi

Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun


sensitifitasnya dan spesifisitasnya rendah. Pengecatan dengan Peridoc
Acid–Schiff, jamur akan tampak merah muda atau menggunakan
pengecatan methenamin silver, jamur akan tampak coklat atau hitam
(Wiederkehr, Michael. 2008).

d. Penggunaan lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan adanya


eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata(Wiederkehr,
Michael. 2008).

VI.DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik


dengan melihat gambaran klinis dan lokasi terjadinya lesi serta pemeriksaan
penunjang seperti yang telah disebutkan dengan menggunakan mikroskop
pada sediaan yang ditetesi KOH 10-20%, sediaan biakan pada medium
Saboraud, punch biopsi, atau penggunaan lampu wood.

VII.DIAGNOSIS BANDING

Candidosis intertriginosa

Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies


Candida biasanya oleh Candida albicans yang bersifat akut atau subakut
dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki.Penyakit ini
terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki-laki
maupun perempuan.
Patogenesisnya dapat terjadi apabila ada predisposisi baik endogen
maupun eksogen. Faktor endogen misalkan kehamilan karena
perubahan pH dalam vagina, kegemukan karena banyak keringat,
debilitas, iatrogenik, endokrinopati, penyakit kronis orang tua dan bayi,
imunologik (penyakit genetik). Faktor eksogen berupa iklim panas dan
kelembapan, kebersihan kulit kurang, kebiasaan berendam kaki dalam
air yang lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya
jamur, kontak dengan penderita.

Dapat mengenai daerah lipatan kulit, terutama ketiak, bagian


bawah payudara, bagian pusat, lipat bokong, selangkangan, dan sela
antar jari; dapat juga mengenai daerah belakang telinga, lipatan kulit
perut, dan glans penis (balanopostitis). Pada sela jari tangan biasanya
antara jari ketiga dan keempat, pada sela jari kaki antara jari keempat
dan kelima, keluhan gatal yang hebat, kadang-kadang disertai rasa
panas seperti terbakar.

Lesi pada penyakit yang akut mula-mula kecil berupa bercak


yang berbatas tegas, bersisik, basah, dan kemerahan. Kemudian meluas,
berupa lenting-lenting yang dapat berisi nanah berdinding tipis, ukuran
2-4 mm, bercak kemerahan, batas tegas, Pada bagian tepi kadang-
kadang tampak papul dan skuama. Lesi tersebut dikelilingi oleh lenting-
lenting atau papul di sekitarnya berisi nanah yang bila pecah
meninggalkan daerah yang luka, dengan pinggir yang kasar dan
berkembang seperti lesi utama. Kulit sela jari tampak merah atau
terkelupas, dan terjadi lecet. Pada bentuk yang kronik, kulit sela jari
menebal dan berwarna putih.
Erytrasma

Erytrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang


disebabkan oleh Corynebacterium minitussismum, ditandai lesi berupa
eritema dan skuama halus terutama di daerah ketiak dan lipat paha. Gejala
klinis lesi berukuran sebesar milier sampai plakat. Lesi eritroskuamosa,
berskuama halus kadang terlihat merah kecoklatan. Variasi ini rupanya
bergantung pada area lesi dan warna kulit penderita. Tempat predileksi
kadang di daerah intertriginosa lain terutama pada penderita gemuk.
Perluasan lesi terlihat pada pinggir yang eritematosa dan serpiginose. Lesi
tidak menimbul dan tidak terlihat vesikulasi. Efloresensi yang sama berupa
eritema dan skuama pada seluruh lesi merupakan tanda khas dari eritrasma.
Skuama kering yang halus menutupi lesi dan pada perabaan terasa berlemak.
Pada pemeriksaan dengan lampu wood lesi terlihat berfluoresensi merah
membara (coral red) (Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005)

Psoriasis

Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat


kronik dan residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema
berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan,
disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Tempat predileksi
pada skalp, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas
ekstensor terutama siku serta lutut dan daerah lumbosakral. Kelainan
kulit terdiri atas bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama
diatasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada stadium
penyembuhan sering bagian di tengah menghilang dan hanya terdapat
di pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti
mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi dapat lentikular,
numular atau plakat, dapat berkonfluensi.

Dermatitis Seboroik

Dermatitis Seboroik merupakan penyakit inflamasi konis yang


mengenai daerah kepala dan badan. Prevalensi Dermatitis Seboroik
sebanyak 1-5% populasi.Lebih sering terjadi pada laki-laki daripada
wanita. Penyakit ni dapat mengenai bayi sampa orang dewasa.
Umumnya pda bayi terjadi pada usia 3 bulan sedang pada dewasa
pada usia 30-60 tahun. Kelainan kulit berupa eritema dan skuama
yang berminyak dan agak kekuningan dengan batas kurang tegas.
Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercak-bercak berskuama
dan berminyak disertai eksudat dan krusta tebal.

VIII.PENATALAKSANAAN

Pada infeksi tinea cruris tanpa komplikasi biasanya dapat dipakai anti
jamur topikal saja dari golongan imidazole dan allynamin yang tersedia
dalam beberapa formulasi. Semuanya memberikan keberhasilan terapi yang
tinggi 70-100% dan jarang ditemukan efek samping. Obat ini digunakan
pagi dan sore hari kira-kira 2-4 minggu. Terapi dioleskan sampai 3 cm diluar
batas lesi, dan diteruskan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah lesi
menyembuh. Terapi sistemik dapat diberikan jika terdapat kegagalan dengan
terapi topikal, intoleransi dengan terapi topikal. Sebelum memilih obat
sistemik hendaknya cek terlebih dahulu interaksi obat-obatan tersebut.
Diperlukan juga monitoring terhadap fungsi hepar apabila terapi sistemik
diberikan lebih dari 4 mingggu.

Pengobatan anti jamur untuk Tinea cruris dapat digolongkan dalam


emapat golongan yaitu: golongan azol, golongan alonamin, benzilamin dan
golongan lainnya seperti siklopiros,tolnaftan, haloprogin. Golongan azole ini
akan menghambat enzim lanosterol 14 alpha demetylase (sebuah enzim yang
berfungsi mengubah lanosterol ke ergosterol), dimana truktur tersebut
merupakankomponen penting dalam dinding sel jamur. Goongan Alynamin
menghambat keja dari squalen epokside yang merupakan enzim yang
mengubah squalene ke ergosterol yang berakibat akumulasi toksik squalene
didalam sel dan menyebabkan kematian sel. Dengan penghambatan enzim-
enzim tersebut mengakibatkan kerusakan membran sel sehingga ergosterol
tidak terbentuk. Golongan benzilamin mekanisme kerjanya diperkirakan
sama dengan golongan alynamin sedangkan golongan lainnya sama dengan
golongan azole. Pengobatan tinea cruris tersedia dalam bentuk pemberian
topikal dan sistemik:

Obat secara topikal yang digunakan dalam tinea cruris adalah:

1.Golongan Azol

a.Clotrimazole (Lotrimin, Mycelec)

Merupakan obat pilihan pertama yang digunakan dalam pengobatan


tinea cruris karena bersifat broad spektrum antijamur yang
mekanismenya menghambat pertumbuhan ragi dengan mengubah
permeabilitas membran sel sehingga sel-sel jamur mati. Pengobatan
dengan clotrimazole ini bisa dievaluasi setelah 4 minggu jika tanpa
ada perbaikan klinis. Penggunaan pada anak-anak sama seperti
dewasa. Obat ini tersedia dalam bentuk kream 1%, solution, lotion.
Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. Tidakada kontraindikasi
obat ini, namun tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukan
hipersensitivitas, peradangan infeksi yang luas dan hinari kontak
mata.

b.Mikonazole (icatin, Monistat-derm)

Mekanisme kerjanya dengan selaput dinding sel jamur yang rusak


akanmenghambat biosintesis dari ergosterol sehingga permeabilitas
membran sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Tersedia
dalam bentuk cream 2%, solution, lotio, bedak. Diberikan 2 kali sehari
selama 4 minggu. Penggunaan pada anak sama dengan dewasa. Tidak
dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari
kontak dengan mata.

c.Econazole (Spectazole)

Mekanisme kerjanya efektif terhadap infeksi yang berhubungan


dengan kulit yaitu menghambat RNA dan sintesis, metabolisme
protein sehingga mengganggu permeabilitas dinding sel jamur dan
menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ecnazole dapat
dilakukan dalam 2-4 minggu dengan cara dioleskan sebanyak 2kali
atau 4 kali dalam sediaan cream 1%.. Tidak dianjurkan pada pasien
yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata.
d.Ketokonazole (Nizoral)

Mekanisme kerja ketokonazole sebagai turunan imidazole yang


bersifat broad spektrum akan menghambat sintesis ergosterol
sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur
mati. Pengobatan dengan ketokonazole dapat dilakukan selama 2-4
minggu. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan
hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata.

e.Oxiconazole (Oxistat)

Mekanisme oxiconazole kerja yang bersifat broad spektrum akan


menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur
meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan
oxiconazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tersedia dalam
bentk cream 1% atau bedak kocok. Penggunaan pada anak-anak 12
tahun penggunaan sama dengan orang dewasa. Tidak dianjurkan pada
pasien yang menunjukkan hipersensitivitas dan hanya digunakan
untuk pemakaian luar.

f.Sulkonazole (Exeldetm)

Sulkonazole merupakan obat jamur yang memiliki spektrum luas.


Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan
menyebabkan kebocoran komponen sel, sehingga menyebabkan
kematian sel jamur. Tersedia dalam bentuk cream 1% dan solutio.
Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan orang
dewasa (dioleskan pada daerah yang terkena selama 2-4 minggu
sebanyak 4 kali sehari).
2.Golongan alinamin

a.Naftifine (Naftin)

Bersifat broad spektrum anti jamur dan merupakan derivat sintetik


dari alinamin yang mekanisme kerjanya mengurangi sintesis dari
ergosterol sehingga menyebabkan pertumbuhan sel amur terhambat.
Pengobatan dengan naftitine dievaluasi setelah 4 minggu jika tidak
ada perbaikan klinis. Tersedia dalam bentuk 1% cream dan lotion. .
Penggunaan pada anak sama dengan dewasa ( dioleskan 4 kali sehari
selama 2-4minggu).

b. Terbinafin (Lamisil)

Merupakan derifat sintetik dari alinamin yang bekerja menghambat


skualen epoxide yang merupakan enzim kunci dari biositesis sterol
jamur yang menghasilkan kekurangan ergosterol yang menyebabkan
kematian sel jamur. Secara luas pada penelitian melaporkan
keefektifan penggunaan terbinafin. Terbenafine dapat ditoleransi
penggunaanya pada anak-anak. Digunakan selama 1-4 minggu

3.Golongan Benzilamin

a. Butenafine (mentax)

Anti jamur yang poten yang berhuungan dengan alinamin. Kerusakan


membran sel jamur menyebabkan sel jamur terhambat
pertumbuhannya. Digunakan dalam bentuk cream 1%, diberikan
selama 2-4 minggu. Pada anak tidak dianjurkan. Untuk dewasa
dioleskan sebanyak 4kali sehari.
4.Golongan lainnya

a. Siklopiroks (Loprox)

Memiliki sifat broad spektrum anti fungal. Kerjanya berhubunan


dengan sintesi DNA

b.Haloprogin (halotex)

Tersedia dalam bentuk solution atau spray, 1% cream. Digunakan


selama 2-4minggu dan dioleskan sebanyak 3kali sehari.

c.Tolnaftate

Tersedia dalam cream 1%,bedak,solution. Dioleskan 2kali sehari


selama 2-4 minggu(Wiederkehr, Michael. 2008).

Pengobatan secara sistemik dapat digunakan untuk untuk lesi yang


luas atau gagal dengan pengobatan topikal, berikut adalah obat sistemik
yang digunakan dalam pengobatan tinea cruris:

a. Ketokonazole

Sebagai turunan imidazole, ketokonazole merupakan obat jamur oral


yangberspektrum luas. Kerja obat ini fungistatik. Pemberian 200mg/hari
selama 2-4 minggu.

b. Itrakonazole

Sebagai turunan triazole, itrakonazole merupakan obat anti jamur oral


yang berspektrum luas yang menghambat pertumbuhan sel jamur dengan
menghambat sitokrom P-450 dependent sintetis dari ergosterol yang
merupakan komponen penting pada selaput sel jamur.Pada penelitian
disebutkan bahwa itrakonazole lebih baik daripada griseofulvin dengan
hasil terbaik 2-3 minggu setelah perawatan. Dosis dewasa 200mg po
selam 1 minggu dan dosis dapat dinaikkan 100mg jika tidak ada perbaikan
tetpi tidak boleh melebihi 400mg/hari.Untuk anak-anak 5mg/hari PO
selama 1 minggu. Obat ini dikontraindikasikan pada penderita yang
hipersensitivitas, dan jangan diberikan bersama dengan cisapride karena
berhubunngan dengan aritmia jantung.

c.Griseofulfin

Termasuk obat fungistatik, bekerja dengan menghambat mitosis sel jamur


dengan mengikat mikrotubuler dalam sel. Obat ini lebih sedikit tingkat
keefektifannya dibanding itrakonazole. Pemberian dosis pada dewasa
500mg microsize (330-375 mg ultramicrosize) PO selama 2-4minggu,
untuk anak 10-25 mg/kg/hari Po atau 20 mg microsize /kg/hari

c.Terbinafine

Pemberian secara oral pada dewasa 250g/hari selama 2 minggu). Pada


anak pemberian secara oral disesuaikan dengan berat badan:

12-20kg :62,5mg/hari selama 2 minggu

20-40kg :125mg/ hari selama 2 minggu

>40kg:250mg/ hari selama 2 minggu


Edukasi kepada pasien di rumah :

1.Anjurkan agar menjaga daerah lesi tetap kering

2.Bila gatal, jangan digaruk karena garukan dapat menyebabkan infeksi.

3.Jaga kebersihan kulit dan kaki bila berkeringat keringkan dengan handuk
dan mengganti pakaian yang lembab

4.Gunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat
seperti katun, tidak ketat dan ganti setiap hari.

5.Untuk menghindari penularan penyakit, pakaian dan handuk yang


digunakan penderita harus segera dicuci dan direndam air panas.

IX.KOMPLIKASI

Tinea cruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang
lain. Pada infeksi jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan
hiperpigmentasi kulit.

X.PROGNOSIS

Prognosis penyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang tepat
asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga.
Pendahuluan
Dinegara yang beriklim tropis dengan kelembaban udara relatif tinggi , akan
menyebabkan mudah berpeluh, memicu terjadinya penyakit jamur.Pada
infeksi kulit karena jamur selain gatal gejalanya berupa bercak putih bersisik
halus atau bintil merah . Tanda awal kulit terkena infeksi jamur adalah rasa
gatal yang hebat saat kulit berkeringat .Gejala penyakit jamur pada kulit juga
bergantung pada bagian kulit yang terkena serta jenis jamur penyebabnya .
Pada dasarnya jamur paling sering menyerang lokasi yang lembab dan orang
yang kurang menjaga kebersihannya Tinea adalah penyakit pada jaringan
yang mengandung zat tanduk, misalnya lapisan teratas pada kulit pada
epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita
(jamur yang menyerang kulit). Tinea kruris sendiri merupakan penyakit kulit
yang disebabkan oleh jamur pada daerah genitokrural (selangkangan),
sekitar anus, dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah

1. Etiologi

Jamur atau kulat dermatofita yang sering ditemukan pada kes tinea
kruris adalah, E.Floccosum, T. Rubrum, dan T. Mentagrophytes.
Lelaki lebih sering terkena daripada wanita. Maserasi dan oklusi kulit lipat
paha menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan
memudahkan infeksi. Tinea kruris biasanya timbul akibat penjalaran infeksi
dari bagian tubuh lain. Jangkitan juga dapat terjadi melalui sentuhan
langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda
yang mengandung jamur, misalnya tuala, seluar, tempat tidur hotel dan lain-
lain.

2. Patofisiologi

Penyebab tersering tinea kruris termasuklah Trichophyton rubrum dan


Epidermophyton floccosum; kadang dijumpai juga Trichophyton
mentagrophytes and Trichophyton verrucosum . Tinea kruris adalah
penyakit infeksi berjangkit yang dapat ditularkan melalui pakaian atau bahan
yang dipakai yang terkontaminasi, seperti tuala,bantal, atau oleh
autoinokulasi dari reservoir dari tangan atau kaki (tinea manuum, tinea
pedis, tinea unguium). Agen penyebab ini menghasilkan keratinases enzim
yang bersifat toksin, yang membenarkan invasi ke dalam lapisan sel tanduk
pada epidermis. Respon imun badan akan menghalang invasi lebih dalam.
Menyebabkan mangsa merasa gatal atau sedikit panas di tempat tersebut
akibat timbulnya peradangan dan iritasi. .Faktor risiko infeksi awal atau
kekambuhan adalah memakai pakaian ketat atau basah. Peluh yang
berlebihan di kawasan tertentu.

3. Pemeriksaan

3.a) Anamnesis

Selalunya mangsa tinea kruris datang ke doktor dengan keluhan bercak


di lipatan paha, di regio inguinal, kulit terasa gatal dan panas. Waktu
berpeluh lebih gatal dan tidak selesa. Bercak dapat sampai ke sekitar tepi
paha,naik ke perut, ke sekitar anus atau ke testis.

3.b) Fizik

Bercak pada kulit akibat peradangan dan iretasi yang bewarna merah
atau hitam. Berbatas tegas dengan warna lebih gelap, simetris dan dapat
meyebar ke paha, perut, bgian anus dan testis.lLlaki dewasa lebih sering
terkena berbandinag wanita. Selalunya terasa gatal dan panas.

3.c) Penunjang

Wood's Light Examination

Kebanyakan dermatofitosis tidak fluorensen termasuklah penyebab


tinea kruris. Pemeriksaan cahaya Wood dapat membantu membezakan
erithrasma yang disebabkan oleh bakteria Corynebacterium minutissimum,
yang fluoresen merah , dan tinea cruris, yang tidak fluoresen
Apabila positif, uji Wood ini dapat membantu menentukan lamanya infeksi,
respon dan rawatan yang harus diberi.

Mikroskop
Pemeriksaan mikroskop adalah tunjang kepada diagnosis infeksi tinea. Pada
tinea kruris, bahan untuk pemeriksaan jamur sebaiknya diambil dengan
mengikis tepi lesi yang meninggi atau aktif. Khusus untuk lesi yang
berbentuk lenting-lenting, seluruh atapnya harus diambil untuk bahan
pemeriksaan. Pemeriksaan mikroskopik dengan menggunakan mikroskop)
secara langsung menunjukkan artrospora (hifa yang bercabang) yang khas
pada infeksi dermatofita.

Kultur
Kultur jarang di lakukan karena selalunya mahal dan memakan masa yang
lama.namun,kultur dilakukan apabila pesakit dengan riwayat terapi obat
yang lama tetapi diagnosis masih diragui. Identifikasi spesifik zoofilik
spesies sebagai sumber infeksi dapat membantu mencegah infeksi kembali
ia juga penting untuk menentukan spesifik jamur penyebab karena aktiviti
anti jamur bervariasi.

4. Diagnosis Kerja

Tinea kruris sering menyebaban kegatalan dan panas di daerah groin


atau selangkangan, sekitar paha atau anus. Ia mungkin melibatkan bagian
dalam tepi paha dan genital dan perut. Tempat terkena akan menjadi merah
atau gelap dengan kulit yang merekah,tipis dan mengelupas.
Infeksi akut bermula dengan kulit di kedua lipat paha kemudian menyebar
dan batasnya lebih tegas dan gelap. Jika infeksi makin lama, kawasan infeksi
akan merebak ke bagian tepi sebelah dalam paha dan bertambah merah dan
gatal. Perbezaan kulit normal dan area infeksi kelihatan jelas pada waktu ini.

Batas kawasan infeksi menjadi lebih merah, kadang wujud nodul atau
pustule di batas batasnya. Infeksi minimum pada testis dan penis. Awalnya
pesakit akan mengeluh kegatalan yang sangat kemudian lesi bertambah gatal
jika maserasi dan superinfesi berlaku.

Cara terbaik untuk diagnosa tinea kruris adalah dengan melihat hifanya
di bawah mikroskop, uji KOH. Kulit yang terkena infeksi di kerok sedikit
dan di letakkan di slide kaca. Tetes sedikit kalium hidroksida KOH dan slide
dipanaskan sekejap. KOH akan menjadikan bahan pada kulit sel terlepas
bersamam hifa tanpa menganggu bentuk dan bahannya. Stain khas seperti
Chlorazol Fungal Stain, Swartz Lamkins Fungal Stain, atau Parker's blue ink
boleh digunakan untuk membantu melihat hifa dengan lebih baik.

5. diagnosis banding

1. Psoriasis Vulgaris

Psoriasis vulgaris berbeza dengan Tinea Cruris karena terdapat kulit


mengelupas atau skuama yang tebal, kasar, dan berlapis-lapis, disertai tanda
titisan lilin, Kobner dan Auspitz. Tempat predileksinya juga berbeza,
psoriasis sering terdapat di ekstremitas bagian ekstensor terutama siku, lutut,
kuku dan daerah lumbosakral. Perbezaannya ialah skuamanya lebih tebal
dan putih, seperti kaca. Selain itu, pada pemeriksan histopatologis terdapat
papilomatosis.

2. Pitiriasis Rosea

Pitiriasis rosea ialah penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya,


dimulai dengan lesi awal berbentuk eritema dan skuama halus. Lesi awal
berupa herald patch, umumnya di badan, soliter, bentuk oval dan terdiri atas
eritema serta skuama halus dan tidak berminyak di pinggir. Lesi berikutnya
lebih khas yang dapat dibedakan dengan Tinea Cruris, yaitu lesi yang
menyerupai pohon cemara terbalik. Tempat predileksinya juga berbeda,
lebih sering pada badan, lengan atas bagian proksimal dan paha atas, jarang
pada kulit kepala.

3. Kandidiasis

Kandidiasis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies


Candida, biasanya oleh Candida albicans.
Kandidosis kadang sulit dibezakan dengan Tinea Cruris jika mengenai
lipatan paha dan perianal. Lesi dapat berupa bercak yang berbatas tegas,
bersisik, basah dan berkrusta. Perbedaannya ialah pada kandidiasis terdapat
eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelit-satelit di
sekitarnya. Biasanya kandidiasis dilipat paha mempunyai konfigurasi hen
and chicken. Predileksinya juga bukan pada daerah-daerah yang berminyak,
tetapi lebih sering pada daerah yang lembab. Selain itu, pada pemeriksaan
dengan larutan KOH 10 %, terlihat sel ragi, blastospora atau hifa semu. Pada
wanita, ada tidaknya flour albus biasanya dapat membantu diagnosis.
Pada penderita diabetes mellitus, kandidiasis merupakan penyakit yang
sering dijumpai.

4 . Eritrasma

Eritrasma merupakan penyakit yang sering berlokalisasi di sela paha.


Efloresensi yang sama, yaitu eritema dan skuama, pada seluruh lesi
merupakan tanda-tanda khas penyakit ini. Pemeriksaan biasanya dilakukan
dengan lampu Wood dapat menolong dengan adanya fluoresensi merah ( red
coral ).

6.a) Non-medika mentosa

Non medika mentosa termasuklah langkah pencegahan tinea kruris.


Antaranya dengan memberi pendidikan berkaitan kepentingan menjaga
kebersihan badan, cara hidup yang sihat. Bahaya penyakit kulit terutama
infeksi jamur. Cara hidup yang sihat dengan tidak berkongsi bantal, tuala
dan lain- lain. Mengurangkan peluh di lipat paha, jika berpeluh mengelakkan
lembap dan memakai pakaian yang ketat.

6.b)Medika mentosa

Untuk mendapatkan hasil yang bagus pesakit dinasihatkan mengambil


terapi topical dan sistemik. Agen antifungi 2 kelas antifungi yang sering
digunakan untuk pasien tinea kruris adalah azoles dan allylamines. Azoles
menghambat enzim lanosterol 14-alpha-demethylase, enzim yang
menukarkan lanosterol kepada ergosterol, merupakan komponen penting
pada dinding sel kulat.kerosakan membran menyebabkan masalah
permeabilitas dan jamur tidak dapat untuk terus memproduksi. Allylamins
menghambat squalene epoxidase, yaitu enzim yang menukarkan squalene
kepada ergosterol,menyebabkan akumulasi tahap toksin squalene dalam sel
dan mengakibatkan sel kulat itu mati.

Terbinafine (Lamisil)

Derivat sintetik allylamine yang menghambat enzim squalene


epoxidase,enzim penting dalam biosintesis sterol jamur, menyebabkan sel
jamur mati. Dosis oral 50mg/d

Klotrimazole (Lotrimin, Mycelex)

Sering digunakan sebagai obat tinea kruris. Obat spectrum luas anti
jamur yang menghambat pertumbuhan yeast dengan mengubah
permeabilitas membrane sel jamur menyebabkan jamur mati. Diagnosis
diteliti apabila tiada perubahan selepas 4 mingu diguna. Hanya terdapat
dalam bentuk 1% krem,spray dan losion saja.

Butenafine (Mentax)

Anti jamur yang poten derivat allylamine. Memusnahkan membrane sel


jamur dan menghambat pertumbuhan jamur. Merupakan obat topikal.
Mikonazole
Mekanisme kerjanya sama seperti obat yang lain dengan menghambat
biosintesis ergosterol dan menyebabkan jamur mati

Ketoconazole (Nizoral)

Econazole (Spectazole)Efektif pada infeksi kutaneous.merusakkan


dinding sel .

Naftifine (Naftin)

Anti jamur spektrum luas merupakan derivate allylamin.

Oxiconazole (Oxistat)
1. Definisi
Tinea corporis adalah infeksi dermatofita superfisial yang ditandai oleh baik
lesi inflamasi maupun noninflamasi pada glabrous skin (kulit tubuh yang
tidak berambut) seperti: bagian muka, leher, badan, lengan, tungkai dan
gluteal.. Sinonim untuk penyakit ini adalah tinea sirsinata, tinea glabrosa,
Scherende Fiechte, kurap, herpes sircine trichophytique.1,2,3,4,5
Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan
sekitar anus. Sinonim untuk penyakit ini adalah eczema marginatum, dhobie
itch, jockey itch, dan ringworm of the groin.

2. Epidemiologi
Tinea corporis adalah infeksi umum yang sering terlihat pada daerah dengan
iklim yang panas dan lembab. Seperti infeksi jamur yang lain, kondisi yang
hangat dan lembab membantu penyebaran infeksi ini. Oleh karena itu,
daerah tropis dan subtropis memiliki insien yang tinggi terhadap tinea
corporis. Tinea corporis dapat terjadi pada semua usia. Bisa didapatkan pada
orang yang bekerja yang berhubungan dengan hewan-hewan.5,6 Maserasi
dan oklusi kulit lipat paha menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban
kulit yang akan memudahkan infeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui
kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui
benda yang mengandung jamur, misalnya handuk, lantai kamar mandi,
tempat tidur hotel dan lain-lain.7
Pada tinea cruris, onsetnya biasanya pada orang dewasa, laki-laki lebih
sering terjangkiti daripada wanita. Faktor predisposisinya antara lain
lingkungan yang hangat dan lembab, pakaian yang ketat, kegemukan dan
penggunaan obat glukokortikoid.

3. Etiologi
Dermatofita adalah golongan jamur yang menyebabkan dermatofitosis.
Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin. Dermatofita
termasuk kelas Fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3 genus, yaitu
Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Walaupun semua
dermatofita bisa menyebabkan tinea corporis, penyebab yang paling umum
adalah T. rubrum, T. mentagrophytes, T. canis dan T. tonsurans.1,2,3,5
Pada tinea cruris penyebabnya hampir sama dengan tinea corporis. Penyebab
tinea cruris yang tersering yaitu: T. rubrum, T. mentagrophytes, atau E.
Floccosum.

4. Patofisiologi
Infeksi dermatofita melibatkan tiga langkah utama: perlekatan ke keratinosit,
penetrasi melalui dan diantara sel, dan perkembangan respon host.
1. Perlekatan. Jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan untuk
bisa melekat pada jaringan keratin diantaranya sinar UV, suhu, kelembaban,
kompetisi dengan flora normal dan sphingosin yang diproduksi oleh
keratinosit. Asam lemak yang diproduksi oleh glandula sebasea juga bersifat
fungistatik
2. Penetrasi. Setelah terjadi perlekatan, spora harus berkembang dan
menembus stratum korneum pada kecepatan yang lebih cepat daripada
proses desquamasi. Penetrasi juga dibantu oleh sekresi proteinase, lipase dan
enzim mucinolitik, yang juga menyediakan nutrisi untuk jamur. Trauma dan
maserasi juga membantu penetrasi jamur kejaringan. Fungal mannan
didalam dinding sel dermatofita juga bisa menurunkan kecepatan proliferasi
keratinosit. Pertahanan baru muncul ketika begitu jamur mencapai lapisan
terdalam dari epidermis.
3. Perkembangan respons host. Derajat inflamasi dipengaruhi oleh status
imun pasien dan organisme yang terlibat. Reaksi hipersensitivitas tipe IV,
atau Delayed Type Hipersensitivity (DHT) memainkan peran yang sangat
penting dalam melawan dermatofita. Pada pasien yang belum pernah
terinfeksi dermatofita sebelumnya, infeksi primer menyebabkan inflamasi
minimal dan trichopitin tes hasilnya negative.infeksi menghasilkan sedikit
eritema dan skuama yang dihasilkan oleh peningkatan pergantian keratinosit.
Dihipotesakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh sel langerhans
epidermis dan dipresentasikan dalam limfosit T di nodus limfe. Limfosit T
melakukan proliferasi dan bermigrasi ketempat yang terinfeksi untuk
menyerang jamur. Pada saat ini, lesi tiba-tiba menjadi inflamasi, dan barier
epidermal menjadi permeable terhadap transferin dan sel-sel yang
bermigrasi. Segera jamur hilang dan lesi secara spontan menjadi
sembuh.2,3,4
5. Gejala Klinis
Penderita merasa gatal, dan kelainan berbatas tegas, terdiri atas macam-
macam efloresensi kulit (polimorfi). Bagian tepi lesi lebih aktif (lebih jelas
tanda-tanda peradangan) daripada bagian tengah. wujud lesi yang beraneka
ragam ini dapat berupa sedikit hiperpigmentasi dan skuamasi, menahun.1,2
Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong,
berbatas tegas, terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel
dan papul ditepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang, sementara yang
di tepi lebih aktif (tanda peradangan lebih jelas) yang sering disebut dengan
sentral healing1,2
Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Kelainan kulit juga
dapat terlihat secara polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu.
Lesi dapat meluas dan memberi gambaran yang tidak khas terutama pada
pasien imunodefisiensi.Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang
mendadak biasanya tidak terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap
bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan pada sela paha. Dalam hal
ini disebut tinea corporis et cruris atau sebaliknya tinea cruris et corporis.1,2
Pada tinea cruris kelainannya dapat bersifat akut dan menahun, bahkan
seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas tegas pada daerah genito-krural, atau
meluas ke sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah, atau bagian
tubuh lain. Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi
berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada didaerah
tengahnya. Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer
dan sekunder (polimorfi). Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa
bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya
akibat garukan. Tinea cruris merupakan salah satu bentuk klinis yang sering
dilihat di Indonesia.5

6. Diagnosis1,5,8
Diagnosis bisa ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan ruam yang
diderita pasien. Dari gambaran klinis didapatkan lesi di leher, lengan,
tungkai, dada, perut atau punggung. Infeksi dapat terjadi setelah kontak
dengan orang yang terinfeksi atau hewan atau objek yang baru terinfeksi.
Pasien mungkin mengalami gatal-gatal, nyeri atau pasien dapat merasa
sensasi terbakar.1,5
Kadang-kadang diperlukan pemeriksaan dengan lampu Wood, yang
mengeluarkan sinar ultraviolet dengan gelombang 3650 Ao, yang jika
didekatkan pada lesi akan timbul warna kehijauan. Pemeriksaan sediaan
langsung dengan KOH 10-20% bila positif memperlihatkan elemen jamur
berupa hifa panjang dan artrospora. Sediaan basah dibuat dengan
meletakkan bahan diatas bahan alas (objek glass), kemudian ditambah 1-2
tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan rambut adalah
10% dan untuk kulit dan kuku 20%. Setelah sediaan dicampur dengan
larutan KOH, ditunggu 15-20 menit hal ini diperlukan untuk melarutkan
jaringan. Untuk mempercepat proses pelarutan dapat dilakukan pemnasan
sediaan basah diatas api kecil. Pada saat mulai keluar uap dari sediaan
tersebut, pemanasan dihentikan. Bila terjadi penguapan, maka akan
terbentuk kristal KOH, sehingga tujuan yang diinginkan tidak tercapai.
Untuk melihat elemen jamur lebih nyata dapat ditambahkan zat warna pada
sediaan KOH, misalnya tinta Parker superchroom blue black.1
Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan
langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan
ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan. Yang
dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium agar dekstrosa
Sabouraud. Biakan memberikan hasil lebih cukup lengkap, akan tetapi lebih
sulit dikerjakan, lebih mahal biayanya, hasil diperoleh dalam waktu lebih
lama dan sensitivitasnya kurang (± 60%) bila dibandingkan dengan cara
pemeriksaan sediaan langsung.8

7. Diagnosa Banding
Tidaklah begitu sukar untuk menentukan diagnosis tinea korporis pada
umumnya, namun ada beberapa penyakit kulit yang dapat mericuhkan
diagnosis itu, misalnya dermatitis seboroika, psoriasis, dan pitiriasis
rosea.1,5
Kelainan kulit pada dermatitis seboroika selain dapat menyerupai tinea
korporis, biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya di
kulit kepala (scalp), lipatan-lipatan kulit, misalnya belakang telinga, daerah
nasolabial, dan sebagainya.. Kulit kepala berambut juga sering terkena
penyakit ini. Gambaran klinis yang khas dari dermatitis seboroika adalah
skuamanya yang berminyak dan kekuningan. 1
Psoriasis pada stadium penyembuhan menunjukkan gambaran eritema pada
bagian pinggir sehingga menyerupai tinea. Perbedaannya ialah pada
psoriasis terdapat tanda-tanda khas yakni skuama kasar, transparan serta
berlapis-lapis, fenomena tetes lilin, dan fenomena auspitz. Psoriasis dapat
dikenal dari kelainan kulit pada tempat predileksi, yaitu daerah ekstensor,
misalnya lutut, siku, dan punggung. 1
Pitiriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas pada
tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea
korporis tanpa herald patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan
tinea korporis. Perbedaannya pada pitiriasis rosea gatalnya tidak begitu berat
seperti pada tinea korporis, skuamanya halus sedangkan pada tinea korporis
kasar. Pemeriksaan laboratoriumlah yang dapat memastikan diagnosisnya.
1,5

8. Penatalaksanaan
Terapi yang dapat diberikan pada pasien bervariasi tergantung derajat lesi
yang ada. Prinsip pengobatan pada tinea kruris lebih kurang sama dengan
prinsip pengobatan tinea korporis

8.1 Terapi topikal


Terapi ini direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit biasanya
hidup pada jaringan. Pada masa kini selain obat-obat topical konvensional,
misalnya asam salisil 2-4%, asam benzoate 6-12%, sulphur 4-6%, vioform
3%, asam undesilenat 2-5% dan zat warna (hijau brilian dalam cat
Castellani) dikenal banyak obat topical baru. Obat-obat baru ini diantaranya
tolnaftat 2%; tolsiklat, haloprogin, berbagai macam preparat imidazol dan
alilamin tersedia dalam berbagai formulasi. Dan semua obat-obat baru ini
memberikan keberhasilan terapi (70-100%). Terapi topikal digunakan 1-2
kali sehari selama 2 minggu tergantung agen yang digunakan. Topikal azol
dan allilamin menunjukkan angka perbaikan perbaikan klinik yang
tinggi.Berikut obat yang sering digunakan :
1. Topical azol terdiri atas: Econazol 1 %, Ketoconazol 2 %, Clotrimazol
1%, Miconazol 2% dll. Derivat imidazol bekerja dengan cara menghambat
enzim 14-alfa-dimetilase pada pembentukan ergosterol membran sel jamur.
2. Allilamin bekerja menghambat allosterik dan enzim jamur skualen 2,3
epoksidase sehingga skualen menumpuk pada proses pembentukan
ergosterol membran sel jamur, yaitu naftifine 1%, butenafin 1%. Terbinafin
1% (fungisidal bersifat anti inflamasi ) yang mampu bertahan hingga 7 hari
sesudah pemakaian selama 7 hari berturut-turut.
3. Sikloklopirosolamin 2% (cat kuku, krim dan losio) bekerja menghambat
masuknya bahan esensial selular dan pada konsentrasi tinggi merubah
permeabilitas sel jamur merupakan agen topikal yang bersifat fungisidal dan
fungistatik, antiinflamasi dan anti bakteri serta berspektrum luas. 1.2,4,9,10

8.2 Terapi sistemik


Pedoman yang dikeluarkan oleh American Academy of Dermatology
menyatakan bahwa obat anti jamur (OAJ) sistemik dapat digunakan pada
kasus hiperkeratosis terutama pada telapak tangan dan kaki, lesi yang luas,
infeksi kronis, pasien imunokompromais, atau pasien tidak responsif
maupun intoleran terhadap OAJ topikal.
1. Griseofulvin. Griseofulvin 500 mg sehari untuk dewasa, sedangkan anak-
anak 10-25 mg/kgBB sehari. Lama pemberian griseofulvin pada tinea
korporis adalah 3-4 minggu, diberikan bila lesi luas atau bila dengan
pengobatan topikal tidak ada perbaikan.
2. Ketokonazol. Merupakan OAJ sistemik pertama yang berspektrum luas,
fungistatik, termasuk golongan imidazol. Dosisnya 200 mg per hari selama
10 hari – 2 minggu pada pagi hari setelah makan
3. Flukonazol. Mempunyai mekanisme kerja sama dengan golongan
imidazol, namun absorbsi tidak dipengaruhi oleh makanan atau kadar asam
lambung.
4. Itrakonazol. Merupakan OAJ golongan triazol, sangat lipofilik, spektrum
luas, bersifat fungistatik dan efektif untuk dermatofita, ragi, jamur dismorfik
maupun jamur dematiacea. Absorbsi maksimum dicapai bila obat diminum
bersama dengan makanan.
5. Amfoterisin B. Merupakan anti jamur golongan polyen yang diproduksi
oleh Streptomyces nodosus. Bersifat fungistatik, pada konsentrasi rendah
akan menghambat pertumbuhan jamur, protozoa dan alga. Digunakan
sebagai obat pilihan pada pasien dengan infeksi jamur yang membahayakan
jiwa dan tidak sembuh dengan preparat azol. 1.2,4,9,10