Panduan Ekstraksi Vakum dalam Persalinan
Panduan Ekstraksi Vakum dalam Persalinan
PARTUS VAKUM
Disusun oleh :
PARTUS VAKUUM
A. PENGERTIAN
Ekstraksi vakum adalah suatu tindakan bantuan persalinan di mana janin dilahirkan dengan
ekstraksi menggunakan tekanan negatif (daya hampa udara) dengan alat vakum (negative-
preasure vacuum extractor) yang dipasang dikepalanya. Ekstraksi vakum merupakan salah
satu metode penanganan penyulit persalinan yang bisa meningkatkan angka kematian ibu
(AKI) dan angka kematian bayi (AKB) (Depkes, 2005 dalam Qomariah, 2018) . Vakum
memberi tenaga tambahan untuk mengeluarkan bayi, dan biasanya digunakan saat persalinan
sudah berlangsung terlalu lama dan ibu sudah terlalu capek serta tidak kuat meneran lagi.
B. ANATOMI FISIOLOGI
Menurut Syaifudin (2011) anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita dibagi menjadi 2
bagian yaitu: alat reproduksi wanita bagian dalam yang terletak di dalam rongga pelvis, dan
alat reproduksi wanita bagian luar yang terletak di perineum.
a. Vagina
Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat dan mampu
meregang secara luas karena tonjolan serviks ke bagian atas vagina. Panjang
dinding anterior vagina hanya sekitar 9 cm, sedangkan panjang dinding posterior
11 cm. Vagina terletak di depan rectum dan di belakang kandung kemih. Vagina
merupakan saluran muskulo membraneus yang menghubungkan rahim dengan
vulva. Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter ani
dan muskulus levator ani oleh karena itu dapat dikendalikan.
Pada dinding vagina terdapat lipatan-lipatan melintang disebut rugae dan terutama
di bagian bawah. Pada puncak (ujung) vagina menonjol serviks pada bagian
uterus. Bagian servik yang menonjol ke dalam vagina di sebut portio. Portio uteri
membagi puncak vagina menjadi empat yaitu: fornik anterior, fornik posterior,
fornik dekstra, fornik sinistra.
Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu
dengan PH 4,5. Keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi. Fungsi
utama vagina yaitu sebagai saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah
menstruasi, alat hubungan seks dan jalan lahir pada waktu persalinan.
b. Uterus
Merupakan jaringan otot yang kuat, berdinding tebal, muskular, pipih, cekung dan
tampak seperti bola lampu / buah peer terbalik yang terletak di pelvis minor di
antara kandung kemih dan rectum. Uterus normal memiliki bentuk simetris, nyeri
bila ditekan, licin dan teraba padat. Uterus terdiri dari tiga bagian yaitu: fundus
uteri yaitu bagian corpus uteri yang terletak di atas kedua pangkal tuba fallopi,
corpus uteri merupakan bagian utama yang mengelilingi kavum uteri dan
berbentuk segitiga, dan seviks uteri yang berbentuk silinder. Dinding belakang,
dinding depan dan bagian atas tertutup peritoneum sedangkan bagian bawahnya
berhubungan dengan kandung kemih. Untuk mempertahankan posisinya uterus
disangga beberapa ligamentum, jaringan ikat dan peritoneum. Ukuran uterus
tergantung dari usia wanita, pada anak-anak ukuran uterus sekitar 2-3 cm,
nullipara 6-8 cm, dan multipara 8-9 cm. Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan
yaitu peritoneum, miometrium / lapisan otot, dan endometrium.
c. Tuba Fallopi
Tuba fallopi merupakan saluran ovum yang terentang antara kornu uterine hingga
suatu tempat dekat ovarium dan merupakan jalan ovum mencapai rongga uterus.
terletak di tepi atas ligamentum latum berjalan ke arah lateral mulai dari osteum
tubae internum pada dinding rahimc. Panjang tuba fallopi 12cm diameter 3-8cm.
Dinding tuba terdiri dari tiga lapisan yaitu serosa, muskular, serta mukosa dengan
epitel bersilia
d. Ovarium
Ukuran dan bentuk ovarium tergantung umur dan stadium siklus menstruasi.
Bentuk ovarium sebelum ovulasi adlah ovoid dengan permukaan licin dan
berwarna merah muda keabu-abuan. Setelah berkali-kali mengalami ovulasi,
maka permukaan ovarium tidak rata/licin karena banyaknya jaringan parut
(cicatrix) dan warnanya berubahm menjadi abu-abu. Pada dewasa muda ovarium
berbentuk ovoid pipih dengan panjang kurang lebih 4 cm, lebar kurang lebih 2
cm, tebal kurang lebih 1 cm dan beratnya kurang lebih 7 gram. Posisi ovarium
tergantung pada posisi uterus karena keduanya dihubungkan oleh ligamen-
ligamen.
e. Parametrium
Parametrium adalah jaringan ikat yang terdapat di antara ke dua lembar
ligamentum latum. Batasan parametrium :
1) Bagian atas terdapat tuba fallopi dengan mesosalping
2) Bagian depan mengandung ligamentum teres uteri
3) Bagian kaudal berhubungan dengan mesometrium.
4) Bagian belakang terdapat ligamentum ovarium
C. ETIOLOGI
1. Kelelahan pada ibu : terkurasnya tenaga ibu pada saat melahirkan karena kelelahan fisik
pada ibu (Prawirohardjo, 2005).
2. Partus tak maju : His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan
bahwa rintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persaiinan, tidak dapat
diatasi sehingga persalinan mengalami hambatan atau kematian (Prawirohardjo, 2005).
a. Denyut Jantung Janin irreguler dalam persalinan sangat bereaksi dan dapat kembali
beberapa waktu. Bila Denyut Jantung Janin tidak kembali normal setelah kontraksi,
hal ini mengakibatkan adanya hipoksia.
b. Bradikardia yang terjadi di luar saat kontraksi atau tidak menghilang setelah
kontraksi.
c. Takhikardi dapat merupakan reaksi terhadap adanya demam pada ibu (Prawirohardjo,
2005).
Indikasi Ekstraksi Vakum
a. Indikasi Ibu
1. Power ibu menurun: frekuensi his semakin menurun, nadi ibu cepat > 100 x/mnt,
nafas cepat > 40x/mnt
2. Decom tingkat I: sesak nafas yang dialami ibu setelah ibu mengejan
3. Tekanan darah naik: ibu pusing, ada kenaikan tekanan sistole dan diastole
(>130/80)
4. Tidak kuat mengejan: penurunan kepala janin statis, saat ibu mengejan dua kali
kepala tidak mengalami penurunan
5. Adanya kenaikan suhu: suhu naik lebih dari normal, > 37,5
b. Indikasi Janin
2. Indikasi waktu kala II memanjang: pada primi peralinan kala II > 2 jam, pada
multi > 1 jam (Mansjoer Arif, 2009).
D. PATOFISIOLOGI
Ada 4 faktor yang mempengaruhi proses persalinan kelahiran yaitu passenger (penumpang
yaitu janin dan placenta), passagway (jalan lahir), powers (kekuatan) posisi ibu dan
psikologi. Ketika dalam proses persalinan tersebut ibu mengalami tanda-tanda indikasi
seperti Power ibu menurun: frekuensi his semakin menurun, nadi ibu cepat > 100 x/mnt,
nafas cepat > 40x/mnt. Decom tingkat I: sesak nafas yang dialami ibu setelah ibu mengejan.
Tekanan darah naik: ibu pusing, ada kenaikan tekanan sistole dan diastole (> 130/80). Tidak
kuat mengejan: penurunan kepala janin statis, saat ibu mengejan dua kali kepala tidak
mengalami penrunan. Adanya kenaikan suhu: suhu naik lebih dari normal, > 37,5. Maka
harus dilakukan tindakan vakum ekstraksi. Dengan tindakan vakum ekstraksi dapat
menimbulkan komplikasi pada ibu seperti robekan pada servik uteri dan robekan pada
dinding vagina. Robekan servik (trauma jalan lahir) dapat menyebabkan nyeri dan resiko
terjadinya infeksi dan komplikasi pada janin dapat menyebabkan subgaleal hematoma yang
dapat menimbulkan ikterus neonatorum jika fungsi hepar belum matur dan terjadi nekrosis
kulit kepala yang menimbulkan alopenia. Pengeluaran janin pada persalinan menyebabkan
trauma pada uretra dan kandung kemih dan organ sekitarnya. Kapasitas kandung kemih post
partum meningkat sehingga pengeluaran urin pada awal post partum banyak sehingga dapat
mengakibatkan perubahan pola eliminasi urin. Bila terjadi robekan di luar luka episiotomi,
lakukan penjahitan. Nyeri jahitan perineum sebagai manifestasi dari luka bekas jahitan yang
dirasakan klien akibat rupture perineum pada kala pengeluaran, yaitu bagian terdepan dari
anak berada di dasar panggul. Rupture perineum tidak selalu dihindarkan, tetapi dengan
pertolongan yang baik pada waktu lahirnya anak robekan itu dapat dikurangi (Devi Hidayati,
2018).
PATHWAY
Postpartum
\
Ekstrasiu kepala bayi
Involusi uterus Kontraksi
Cephal Hematoma
Antonia uteri Afterpain
Resiko cidera pada
Perdarahan Gangguan rasa
janin nyaman nyeri
Anemia
Hipovolemia
Menurut Purwaningsih & Fatmawati (2010) manifestasi klinik partus tak maju yaitu:
a. Pada ibu
1. Gelisah, letih, suhu badan meningkat, nadi cepat, pernafasan cepat, meteorismus.
2. Di daerah lokal sering dijumpai edema vulva, edema serviks, cairan ketuban berbau,
terdapat mekonium.
b. Pada janin
1. Denyut jantung janin cepat/tidak teratur, bahkan negatif, air ketuban terdapat
mekonium, kental kehijau-hijauan, berbau.
F. PENATALAKSANAAN
Persiapan Tindakan Persiapkan ibu dalam posisi litotomi, kosongkan kandung kemih dan
rektum, bersihkan vulva dan perineum dengan antiseptik, dan beri infus bila diperlukan.
Siapkan alat-alat yang diperlukan.
Tindakan :
1. Instruksikan asisten untuk menyipakan ekstraktor vakum dan pastikan petugas dan
persiapan untuk menolong bayi telah tersedia.
2. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan terpenuhinya persyaratan ekstraksi
vakum. Bila penurunan kepala di atas H IV (0/5), rujuk ke Rumah Sakit.
3. Masukkan tangan ke dalam wadah yang mengandung larutan klorin 0,5%, bersihkan
darah dan cairan tubuh yang melekat pada sarung tangan, lepaskan secara terbalik dan
rendam dalam larutan tersebut.
1. Masukkan mangkok vakum melalui introitus, pasangkan pada kepala bayi (perhatikan
agar tepi mangkok tidak terpasang pada bagian yang tidak rata/moulage di daerah ubun-
ubun kecil).
2. Dengan jari tengah dan telunjuk, tahan mangkok pada posisisnya dan dengan jari tengah
dan telunjuk tangan lain, lakukan pemeriksaan di sekeliling tepi mangkok untuk
memastikan tidak ada bagian vagina atau porsio yang terjepit di antara mangkok dan
kepala.
3. Setelah hasil pemeriksaan ternyata baik, keluarkan jari tanan pemeriksaan dan tangan
penahan mangkok tetap pada posisinya.
4. Instruksikan asisten untuk menurunkan tekanan (membuat vakum dalam mangkok) secra
bertahap.
5. Pompa hingga tekanan skala 10 (silastik) atau -2 (Malmstroom) setelah 2 menit, naikkan
hingga skala 60 (silastik) atau -6 (Malmstroom) dan tunggu 2 menit.
Ingat : Jangan gunakan tekanan maksimal pada kepala bayi, lebih dari 8 menit.)
6. Sambil menunggu his, jelaskan pada pasien bahwa pada his puncak (fase acme) pasien
harus mengedan sekuat dan selama mungkin. Tarik lipat lutut dengan lipat siku agar
tekanan abdomen menjadi lebih efektif. F.
Penarikan
1. Pada fase acme (puncak) dari his, minta pasien untuk mengedan, secara simultan lakukan
penarikan dengan perineum yang baku) dilakukan pada saat kepala mendorng perineum
dan tidak masuk kembali.
2. Bila belum berhasil pada tarikan pertama, ulangi lagi pada tarikan kedua. Episiotomi
pada pasien dengan perineum yang kaku) dilakukan pada saat kepala mendorong
perineum dan tidak masuk kembali. Bila tarikan ketiga dilakukan dengan benar dan bayi
belum lahir, sebaiknya pasien dirujuk (ingat : penatalaksanaan rujukan). Apabila pada
penarikan ternyata mangkuk terlepas hingga dua kali, kondisi ini juga mengharuskan
pasien dirujuk.
3. Saat subosiput berada di bawah simfisis, arahkan tarikan ke atas hingga lahirlah berturut-
turut dahi, muka dan dagu.
Melahirkan Bayi
1. Kepala bayi dipegang biparietal, gerakkan ke bawah untuk melahirkan bahu depan,
kemudian gerakkan ke atas untuk melahirkan bahu belakang, kenudian lahirkan seluruh
tubuh bayi.
2. Bersihkan muka (hidung dan mulut) bayi dengan kain bersih, potong tali pusat dan
serahkan bayi pada petugas bagian anak. (Ai, 2020).
a. Wawancara
1. Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, alamat, suku
bangsa, medical record dan lain – lain
2. Riwayat Kesehatan Klien
a. Riwayat Kesehatan Dahulu :
b. Riwayat Kesehatan Sekarang : Distosia (kesulitan persalinan),Ketidakmampuan
mengejan, Keletihan, Kala II yang lama.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga :
d. Riwayat Obstetri :
e. Riwayat Sosial. :
b. Pemeriksaan Fisik
1. Aktivitas/ istirahat
a) Klien melaporkan adanya kelelahan
b) Klien melaporkan tidak mampu melakukan dorongan atau teknik relaksasi
c) Adanya letargi
2. Sirkulasi
a) Tekanan darah meningkat
3. Integritas ego
a) Respon emosional dimana klien mengalami kecemasan akibat persalinan yang
dialami
b) Klien kelihatan gelisah
c) Klien kelihatan putus asa
4. Eliminasi
a) Adanya keinginan berdefekasi pada saat kontraksi sertai tekanan intra abdomen
dan intra uterus
b) Dapat mengalami rabas fekal saat mengedan
c) Distensi kandungan kemih
5. Nyeri/ Ketidaknyamanan
a) Klien kelihatan meringis dan merintih akibat nyeri yang tidak terkontrol
b) Klien mengatakan nyeri tidak mampu dikontrol
6. Pernapasan
Terjadi peningkatan pernapasan
7. Seksualitas
a) Cairan amnion keluar
b) Pembukaan belum penuh
c) Janin tidak maju
H. Analisa Data
Involusi uterus
Tidak adekuat
Antonia uteri
Perdarahan
Hipovolemia
2 Ds : Kelelahan pada ibu, Nyeri Akut
partus tak maju, gawat
1. Mengeluh nyeri
janin
Do :
Tindakan ekstraksi
1. Tampak meringis vakum
3. Gelisah Fisiologi
Kontraksi
Afterpain
Nyeri akut
I. Diagnosa Keperawatan
4. Resiko cidera pada janin berhubungan dengan penumpukan darah dibawah kulit kepala
(D.0138)
J. Intervensi
1 Hipovolemia Tujuan Jangka Panjang : Setelah Manajemen hipovolemia (I.03116) 1. Mengetahui tanda dan gejala
berhubungan dilakukan tindakan keperawatan Observasi hipovolemia
dengan kehilangan 1x24 jam diharapkan status cairan 1. Periksa tanda dan gejala 2. Mengetahui kebutuhan cairan
cairan aktif membaik. hipovolemia yang dibutuhkan
(D.0003) 2. Hitung kebutuhan cairan 3. Untuk membantu mengganti
Tujuan Jangka Pendek :
Kolaborasi volume cairan yang hilang
Setelah dilakukan tindakan 3. Kolaborasi pemberian cairan 4. Untuk mencegah terjadinya
keperawatan 1x7 jam diharapkan koloid (mis.albumin, syok
status cairan membaik. plasmanate)
4. Kolaborasi pemberian produk
Kriteria hasil :
darah
1. Frekuensi nadi meningkat
membaik (5)
3 Ansietas Tujuan Jangka Panjang : Setelah Reduksi ansietas (I.09314) Reduksi ansietas (I.09314)
berhubungan dilakukan tindakan keperawatan Observasi Observasi
dengan krisis 1x24 jam diharapkan tingkat 1. Identifikasi tingkat ansietas 1. Mengetahui saat tingkat
situasional ansietas menurun. berubah ansietas berubah
(D.0080) 2. Monitor tanda-tanda ansietas 2. Untuk mengetahui kondisi
Tujuan Jangka Pendek :
3. Gunakan pendekatan yang pasien
Setelah dilakukan tindakan tenang dan meyakinkan 3. Agar pasien merasa tenang
keperawatan 1x7 jam diharapkan Edukasi Edukasi :
tingkat ansietas menurun. 4. Jelaskan prosedur, termasuk 4. Agar pasien mengetahui
sensasi yang mungkin dialami prosedur dan sensasi yang
Kriteria hasil :
5. Anjurkan keluarga tetap mungkin dialami serta dapat
1. Perilaku gelisah menurun (5) bersama pasien jika perlu menurunkan cemas
2. Frekuensi nadi meningkat 6. Latih teknik relaksasi 5. Keluarga dapat membantu
menurun (5) menurunkan rasa cemas yang
dirasakan
3. Frekuensi pernafasan menurun
6. Relaksasi nafas dalam dapat
(5)
membantu menurunkan tingkat
4. Tekanan darah menurun (5) ansietas
4 Resiko cidera pada Tujuan jangka panjang : Pemantauan denyut jantung janin Pemantauan denyut jantung janin
janin berhubungan (I.02056) (I.02056)
Setelah diberikan Asuhan
dengan Observasi Observasi
keperawatan selama 1x 1 jam
penumpukan darah 1. Identifikasi status obstetrik 1. Mengetahui status obstetrik
diharapkan resiko cidera pada
dibawah kulit 2. Identifikasi riwayat obstetrik 2. Mengetahui riwayat dari
janin tidak terjadi.
kepala (D.0138) 3. Identifikasi adanya penggunaan obstetrik
obat, diet dan merokok 3. Mengetahui apakah pasien
Tujuan jangka pendek : 4. Identifikasi pemeriksaan selama kehamilan mengonsumsi
kehamilan sebelumnya obat-obatan , melakukan diet
Setelah diberikan Asuhan
5. Periksa denyut jantung janin dan merokok
keperawatan selama 1x 30 menit
selama 1 menit 4. Mengetahui pemeriksaan
diharapkan resiko cidera pada
6. Monitor denyut jantung janin kehamilan sebelumnya
janin tidak terjadi.
7. Monitor tanda vital ibu 5. Mengetahui denyut jantung
Kriteria hasil : janin dalam batas normal/tidak
Terapeutik
6. Mengetahui tanda vital ibu
1. Kejadian cidera menurun
1. Atur posisi pasien dalam proses persalinan hingga
(DJJ membaik
2. Lakukan maneuver leopold selesai
120-160x/menit)
untuk menentukan posisi janin
2. Frekuensi gerak janin Terapeutik
membaik Edukasi
1. Memberikan kenyamanan pada
3. Berat badan membaik
1. Jelaskan tujuan dan prosedur pasien
4. Tanda-tanda vital dalam
pemantauan 2. Mengetahui posisi janin
rentang normal
2. Informasikan hasil pemantauan,
Edukasi
jika perlu .
1. Pasien mengetahui tujuan dan
tindakan yang diberikan selama
proses berjalan
2. Pasien mengetahui hasil yang
ditemui selama proses berjalan .
DAFTAR PUSTAKA
Ai Nur Holillah (2020). Laporan Kasus Asuhan Keperawatan Post Partum Pada Ny.C dengan
Vacum ekstraksi di Ruang VK Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati Cirebon.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan. 2020
Devi Hidayati (2018). Asuhan Keperawatan Pada Ny. H dan Ny. Y (Post Tindakan Vakum
Ekstraksi) Dengan Masalah Keperawatan Nyeri Akut Pada Luka Perinium di Ruang
Teratai RSUD dr. Haryoto Lumajang Tahun 2018. Universitas Jember
Prawirohardjo. 2005. Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Edisi
1. Jakarta : Bina Pustaka.
Syaifuddin, (2011). Anatomi Fisiologi : Kurikulum berbasis kompetensi untuk keperawatan dan
kebidanan. Ed. 4. Jakarta : EGC, 2011
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 1,
Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1,
Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi 1,
Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia