0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
203 tayangan21 halaman

Panduan Ekstraksi Vakum dalam Persalinan

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai partus vakum, yang meliputi definisi, anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita, etiologi dan indikasi penggunaan ekstraksi vakum pada persalinan.

Diunggah oleh

Vita Clara
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
203 tayangan21 halaman

Panduan Ekstraksi Vakum dalam Persalinan

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai partus vakum, yang meliputi definisi, anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita, etiologi dan indikasi penggunaan ekstraksi vakum pada persalinan.

Diunggah oleh

Vita Clara
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PARTUS VAKUM

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Stase Keperawatan Maternitas

Disusun oleh :

Nama : Vita Clara Hursepuny


NIM : 1490121110

PROGRAM PROFESI NERS XXVII


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMMANUEL
BANDUNG
2022
LAPORAN PENDAHULUAN

PARTUS VAKUUM

A. PENGERTIAN

Ekstraksi vakum adalah suatu tindakan bantuan persalinan di mana janin dilahirkan dengan
ekstraksi menggunakan tekanan negatif (daya hampa udara) dengan alat vakum (negative-
preasure vacuum extractor) yang dipasang dikepalanya. Ekstraksi vakum merupakan salah
satu metode penanganan penyulit persalinan yang bisa meningkatkan angka kematian ibu
(AKI) dan angka kematian bayi (AKB) (Depkes, 2005 dalam Qomariah, 2018) . Vakum
memberi tenaga tambahan untuk mengeluarkan bayi, dan biasanya digunakan saat persalinan
sudah berlangsung terlalu lama dan ibu sudah terlalu capek serta tidak kuat meneran lagi.

B. ANATOMI FISIOLOGI

Menurut Syaifudin (2011) anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita dibagi menjadi 2
bagian yaitu: alat reproduksi wanita bagian dalam yang terletak di dalam rongga pelvis, dan
alat reproduksi wanita bagian luar yang terletak di perineum.

1. Alat reproduksi wanita bagian luar

a. Mons veneris / Mons pubis


Disebut juga gunung venus merupakan bagian yang menonjol di bagian depan
simfisis terdiri dari jaringan lemak dan sedikit jaringan ikat setelah dewasa
tertutup oleh rambut yang bentuknya segitiga. Mons pubis mengandung banyak
kelenjar sebasea (minyak) berfungsi sebagai bantal pada waktu melakukan
hubungan seks.
b. Bibir besar (Labia mayora)
Merupakan kelanjutan dari mons veneris berbentuk lonjong, panjang labia mayora
7-8 cm, lebar 2-3 cm dan agak meruncing pada ujung bawah. Kedua bibir ini
dibagian bawah bertemu membentuk perineum, permukaan terdiri dari:
1) Bagian luar Tertutup oleh rambut yang merupakan kelanjutan dari rambut
pada mons veneris.
2) Bagian dalam Tanpa rambut merupakan selaput yang mengandung kelenjar
sebasea (lemak).
c. Bibir kecil (labia minora)
Merupakan lipatan kulit yang panjang, sempit, terletak dibagian dalam bibir besar
(labia mayora) tanpa rambut yang memanjang kea rah bawah klitoris dan menyatu
dengan fourchette, semantara bagian lateral dan anterior labia biasanya
mengandung pigmen, permukaan medial labia minora sama dengan mukosa
vagina yaitu merah muda dan basah.
d. Klitoris
Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil, dan letaknya
dekat ujung superior vulva. Organ ini mengandung banyak pembuluh darah dan
serat saraf sensoris sehingga sangat sensitive analog dengan penis laki-laki.
Fungsi utama klitoris adalah menstimulasi dan meningkatkan ketegangan seksual.
e. Vestibulum
Merupakan alat reproduksi bagian luar yang berbentuk seperti perahu atau
lonjong, terletak di antara labia minora, klitoris dan fourchette. Vestibulum terdiri
dari muara uretra, kelenjar parauretra, vagina dan kelenjar paravagina. Permukaan
vestibulum yang tipis dan agak berlendir mudah teriritasi oleh bahan kimia,
panas, dan friksi.
f. Perinium
Merupakan daerah muskular yang ditutupi kulit antara introitus vagina dan anus.
Perinium membentuk dasar badan perinium.
g. Kelenjar Bartholin
Kelenjar penting di daerah vulva dan vagina yang bersifat rapuh dan mudah
robek. Pada saat hubungan seks pengeluaran lendir meningkat.
h. Himen (Selaput darah)
Merupakan jaringan yang menutupi lubang vagina bersifat rapuh dan mudah
robek, himen ini berlubang sehingga menjadi saluran dari lendir yang di
keluarkan uterus dan darah saat menstruasi.
i. Fourchette
Merupakan lipatan jaringan transversal yang pipih dan tipis, terletak pada
pertemuan ujung bawah labia mayoradan labia minora. Di garis tengah berada di
bawah orifisium vagina. Suatu cekungan kecil dan fosa navikularis terletak di
antara fourchette dan himen.
2. Alat reproduksi wanita bagian dalam

a. Vagina
Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat dan mampu
meregang secara luas karena tonjolan serviks ke bagian atas vagina. Panjang
dinding anterior vagina hanya sekitar 9 cm, sedangkan panjang dinding posterior
11 cm. Vagina terletak di depan rectum dan di belakang kandung kemih. Vagina
merupakan saluran muskulo membraneus yang menghubungkan rahim dengan
vulva. Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter ani
dan muskulus levator ani oleh karena itu dapat dikendalikan.
Pada dinding vagina terdapat lipatan-lipatan melintang disebut rugae dan terutama
di bagian bawah. Pada puncak (ujung) vagina menonjol serviks pada bagian
uterus. Bagian servik yang menonjol ke dalam vagina di sebut portio. Portio uteri
membagi puncak vagina menjadi empat yaitu: fornik anterior, fornik posterior,
fornik dekstra, fornik sinistra.
Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu
dengan PH 4,5. Keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi. Fungsi
utama vagina yaitu sebagai saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah
menstruasi, alat hubungan seks dan jalan lahir pada waktu persalinan.
b. Uterus
Merupakan jaringan otot yang kuat, berdinding tebal, muskular, pipih, cekung dan
tampak seperti bola lampu / buah peer terbalik yang terletak di pelvis minor di
antara kandung kemih dan rectum. Uterus normal memiliki bentuk simetris, nyeri
bila ditekan, licin dan teraba padat. Uterus terdiri dari tiga bagian yaitu: fundus
uteri yaitu bagian corpus uteri yang terletak di atas kedua pangkal tuba fallopi,
corpus uteri merupakan bagian utama yang mengelilingi kavum uteri dan
berbentuk segitiga, dan seviks uteri yang berbentuk silinder. Dinding belakang,
dinding depan dan bagian atas tertutup peritoneum sedangkan bagian bawahnya
berhubungan dengan kandung kemih. Untuk mempertahankan posisinya uterus
disangga beberapa ligamentum, jaringan ikat dan peritoneum. Ukuran uterus
tergantung dari usia wanita, pada anak-anak ukuran uterus sekitar 2-3 cm,
nullipara 6-8 cm, dan multipara 8-9 cm. Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan
yaitu peritoneum, miometrium / lapisan otot, dan endometrium.
c. Tuba Fallopi
Tuba fallopi merupakan saluran ovum yang terentang antara kornu uterine hingga
suatu tempat dekat ovarium dan merupakan jalan ovum mencapai rongga uterus.
terletak di tepi atas ligamentum latum berjalan ke arah lateral mulai dari osteum
tubae internum pada dinding rahimc. Panjang tuba fallopi 12cm diameter 3-8cm.
Dinding tuba terdiri dari tiga lapisan yaitu serosa, muskular, serta mukosa dengan
epitel bersilia
d. Ovarium
Ukuran dan bentuk ovarium tergantung umur dan stadium siklus menstruasi.
Bentuk ovarium sebelum ovulasi adlah ovoid dengan permukaan licin dan
berwarna merah muda keabu-abuan. Setelah berkali-kali mengalami ovulasi,
maka permukaan ovarium tidak rata/licin karena banyaknya jaringan parut
(cicatrix) dan warnanya berubahm menjadi abu-abu. Pada dewasa muda ovarium
berbentuk ovoid pipih dengan panjang kurang lebih 4 cm, lebar kurang lebih 2
cm, tebal kurang lebih 1 cm dan beratnya kurang lebih 7 gram. Posisi ovarium
tergantung pada posisi uterus karena keduanya dihubungkan oleh ligamen-
ligamen.
e. Parametrium
Parametrium adalah jaringan ikat yang terdapat di antara ke dua lembar
ligamentum latum. Batasan parametrium :
1) Bagian atas terdapat tuba fallopi dengan mesosalping
2) Bagian depan mengandung ligamentum teres uteri
3) Bagian kaudal berhubungan dengan mesometrium.
4) Bagian belakang terdapat ligamentum ovarium

C. ETIOLOGI

1. Kelelahan pada ibu : terkurasnya tenaga ibu pada saat melahirkan karena kelelahan fisik
pada ibu (Prawirohardjo, 2005).

2. Partus tak maju : His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan
bahwa rintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persaiinan, tidak dapat
diatasi sehingga persalinan mengalami hambatan atau kematian (Prawirohardjo, 2005).

3. Gawat janin : Denyut Jantung Janin Abnormal ditandai dengan:

a. Denyut Jantung Janin irreguler dalam persalinan sangat bereaksi dan dapat kembali
beberapa waktu. Bila Denyut Jantung Janin tidak kembali normal setelah kontraksi,
hal ini mengakibatkan adanya hipoksia.

b. Bradikardia yang terjadi di luar saat kontraksi atau tidak menghilang setelah
kontraksi.

c. Takhikardi dapat merupakan reaksi terhadap adanya demam pada ibu (Prawirohardjo,
2005).
Indikasi Ekstraksi Vakum

a. Indikasi Ibu

1. Power ibu menurun: frekuensi his semakin menurun, nadi ibu cepat > 100 x/mnt,
nafas cepat > 40x/mnt

2. Decom tingkat I: sesak nafas yang dialami ibu setelah ibu mengejan

3. Tekanan darah naik: ibu pusing, ada kenaikan tekanan sistole dan diastole
(>130/80)

4. Tidak kuat mengejan: penurunan kepala janin statis, saat ibu mengejan dua kali
kepala tidak mengalami penurunan

5. Adanya kenaikan suhu: suhu naik lebih dari normal, > 37,5

b. Indikasi Janin

1. Gawat janin: denyut jantung janin 160x/mnt

2. Indikasi waktu kala II memanjang: pada primi peralinan kala II > 2 jam, pada
multi > 1 jam (Mansjoer Arif, 2009).

D. PATOFISIOLOGI

Ada 4 faktor yang mempengaruhi proses persalinan kelahiran yaitu passenger (penumpang
yaitu janin dan placenta), passagway (jalan lahir), powers (kekuatan) posisi ibu dan
psikologi. Ketika dalam proses persalinan tersebut ibu mengalami tanda-tanda indikasi
seperti Power ibu menurun: frekuensi his semakin menurun, nadi ibu cepat > 100 x/mnt,
nafas cepat > 40x/mnt. Decom tingkat I: sesak nafas yang dialami ibu setelah ibu mengejan.
Tekanan darah naik: ibu pusing, ada kenaikan tekanan sistole dan diastole (> 130/80). Tidak
kuat mengejan: penurunan kepala janin statis, saat ibu mengejan dua kali kepala tidak
mengalami penrunan. Adanya kenaikan suhu: suhu naik lebih dari normal, > 37,5. Maka
harus dilakukan tindakan vakum ekstraksi. Dengan tindakan vakum ekstraksi dapat
menimbulkan komplikasi pada ibu seperti robekan pada servik uteri dan robekan pada
dinding vagina. Robekan servik (trauma jalan lahir) dapat menyebabkan nyeri dan resiko
terjadinya infeksi dan komplikasi pada janin dapat menyebabkan subgaleal hematoma yang
dapat menimbulkan ikterus neonatorum jika fungsi hepar belum matur dan terjadi nekrosis
kulit kepala yang menimbulkan alopenia. Pengeluaran janin pada persalinan menyebabkan
trauma pada uretra dan kandung kemih dan organ sekitarnya. Kapasitas kandung kemih post
partum meningkat sehingga pengeluaran urin pada awal post partum banyak sehingga dapat
mengakibatkan perubahan pola eliminasi urin. Bila terjadi robekan di luar luka episiotomi,
lakukan penjahitan. Nyeri jahitan perineum sebagai manifestasi dari luka bekas jahitan yang
dirasakan klien akibat rupture perineum pada kala pengeluaran, yaitu bagian terdepan dari
anak berada di dasar panggul. Rupture perineum tidak selalu dihindarkan, tetapi dengan
pertolongan yang baik pada waktu lahirnya anak robekan itu dapat dikurangi (Devi Hidayati,
2018).

PATHWAY

Kelelahan pada ibu, partus


tak maju, gawat janin

Tindakan estraksi vakum

Postpartum

Trauma kepala bayi Fisiologi


s

\
Ekstrasiu kepala bayi
Involusi uterus Kontraksi

Cephal Hematoma
Antonia uteri Afterpain
Resiko cidera pada
Perdarahan Gangguan rasa
janin nyaman nyeri

Anemia

Hipovolemia

E. TANDA DAN GEJALA

Menurut Purwaningsih & Fatmawati (2010) manifestasi klinik partus tak maju yaitu:

a. Pada ibu

1. Gelisah, letih, suhu badan meningkat, nadi cepat, pernafasan cepat, meteorismus.

2. Di daerah lokal sering dijumpai edema vulva, edema serviks, cairan ketuban berbau,
terdapat mekonium.

b. Pada janin

1. Denyut jantung janin cepat/tidak teratur, bahkan negatif, air ketuban terdapat
mekonium, kental kehijau-hijauan, berbau.

2. Kaput suksadenum yang membesar.

3. Moulage kepala yang hebat.

4. Kematian janin dalam kandungan

F. PENATALAKSANAAN

Persiapan Tindakan Persiapkan ibu dalam posisi litotomi, kosongkan kandung kemih dan
rektum, bersihkan vulva dan perineum dengan antiseptik, dan beri infus bila diperlukan.
Siapkan alat-alat yang diperlukan.

Tindakan :

1. Instruksikan asisten untuk menyipakan ekstraktor vakum dan pastikan petugas dan
persiapan untuk menolong bayi telah tersedia.
2. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan terpenuhinya persyaratan ekstraksi
vakum. Bila penurunan kepala di atas H IV (0/5), rujuk ke Rumah Sakit.

3. Masukkan tangan ke dalam wadah yang mengandung larutan klorin 0,5%, bersihkan
darah dan cairan tubuh yang melekat pada sarung tangan, lepaskan secara terbalik dan
rendam dalam larutan tersebut.

4. Pakai sarung tangan DTT/Steril yang baru.

Pemasangan Mangkok Vakum

1. Masukkan mangkok vakum melalui introitus, pasangkan pada kepala bayi (perhatikan
agar tepi mangkok tidak terpasang pada bagian yang tidak rata/moulage di daerah ubun-
ubun kecil).

2. Dengan jari tengah dan telunjuk, tahan mangkok pada posisisnya dan dengan jari tengah
dan telunjuk tangan lain, lakukan pemeriksaan di sekeliling tepi mangkok untuk
memastikan tidak ada bagian vagina atau porsio yang terjepit di antara mangkok dan
kepala.

3. Setelah hasil pemeriksaan ternyata baik, keluarkan jari tanan pemeriksaan dan tangan
penahan mangkok tetap pada posisinya.

4. Instruksikan asisten untuk menurunkan tekanan (membuat vakum dalam mangkok) secra
bertahap.

5. Pompa hingga tekanan skala 10 (silastik) atau -2 (Malmstroom) setelah 2 menit, naikkan
hingga skala 60 (silastik) atau -6 (Malmstroom) dan tunggu 2 menit.

Ingat : Jangan gunakan tekanan maksimal pada kepala bayi, lebih dari 8 menit.)

6. Sambil menunggu his, jelaskan pada pasien bahwa pada his puncak (fase acme) pasien
harus mengedan sekuat dan selama mungkin. Tarik lipat lutut dengan lipat siku agar
tekanan abdomen menjadi lebih efektif. F.

Penarikan
1. Pada fase acme (puncak) dari his, minta pasien untuk mengedan, secara simultan lakukan
penarikan dengan perineum yang baku) dilakukan pada saat kepala mendorng perineum
dan tidak masuk kembali.

2. Bila belum berhasil pada tarikan pertama, ulangi lagi pada tarikan kedua. Episiotomi
pada pasien dengan perineum yang kaku) dilakukan pada saat kepala mendorong
perineum dan tidak masuk kembali. Bila tarikan ketiga dilakukan dengan benar dan bayi
belum lahir, sebaiknya pasien dirujuk (ingat : penatalaksanaan rujukan). Apabila pada
penarikan ternyata mangkuk terlepas hingga dua kali, kondisi ini juga mengharuskan
pasien dirujuk.

3. Saat subosiput berada di bawah simfisis, arahkan tarikan ke atas hingga lahirlah berturut-
turut dahi, muka dan dagu.

Melahirkan Bayi

1. Kepala bayi dipegang biparietal, gerakkan ke bawah untuk melahirkan bahu depan,
kemudian gerakkan ke atas untuk melahirkan bahu belakang, kenudian lahirkan seluruh
tubuh bayi.

2. Bersihkan muka (hidung dan mulut) bayi dengan kain bersih, potong tali pusat dan
serahkan bayi pada petugas bagian anak. (Ai, 2020).

G. KEMUNGKINAN DATA FOKUS

a. Wawancara

1. Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, alamat, suku
bangsa, medical record dan lain – lain
2. Riwayat Kesehatan Klien
a. Riwayat Kesehatan Dahulu :
b. Riwayat Kesehatan Sekarang : Distosia (kesulitan persalinan),Ketidakmampuan
mengejan, Keletihan, Kala II yang lama.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga :
d. Riwayat Obstetri :
e. Riwayat Sosial. :
b. Pemeriksaan Fisik
1. Aktivitas/ istirahat
a) Klien melaporkan adanya kelelahan
b) Klien melaporkan tidak mampu melakukan dorongan atau teknik relaksasi
c) Adanya letargi
2. Sirkulasi
a) Tekanan darah meningkat
3. Integritas ego
a) Respon emosional dimana klien mengalami kecemasan akibat persalinan yang
dialami
b) Klien kelihatan gelisah
c) Klien kelihatan putus asa
4. Eliminasi
a) Adanya keinginan berdefekasi pada saat kontraksi sertai tekanan intra abdomen
dan intra uterus
b) Dapat mengalami rabas fekal saat mengedan
c) Distensi kandungan kemih
5. Nyeri/ Ketidaknyamanan
a) Klien kelihatan meringis dan merintih akibat nyeri yang tidak terkontrol
b) Klien mengatakan nyeri tidak mampu dikontrol
6. Pernapasan
Terjadi peningkatan pernapasan
7. Seksualitas
a) Cairan amnion keluar
b) Pembukaan belum penuh
c) Janin tidak maju
H. Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

1 Ds : Kelelahan pada ibu, Hipovolemia


partus tak maju, gawat
1. Merasa lemah
janin
Do :
Tindakan ekstraksi
1. Frekuensi nadi meningkat vakum

2. Nadi teraba lemah Postpartum

3. Membran mukosa kering Fisiologi

Involusi uterus

Tidak adekuat

Antonia uteri

Perdarahan

Hipovolemia
2 Ds : Kelelahan pada ibu, Nyeri Akut
partus tak maju, gawat
1. Mengeluh nyeri
janin
Do :
Tindakan ekstraksi
1. Tampak meringis vakum

2. Frekuensi nadi meningkat Postpartum

3. Gelisah Fisiologi

4. Tekanan darah meningkat Involusi uterus

Kontraksi

Afterpain

Nyeri akut

3 Ds : Kelelahan pada ibu, Ansietas


partus tak maju, gawat
1. Merasa tidak berdaya
janin
Do :
Tindakan ekstraksi
1. Tampak gelisah vakum

2. Frekuensi nadi meningkat Ansietas

3. Frekuensi nafas meningkat

4. Tekanan darah meningkat

4 Ds : Kecemasan pada ibu Resiko cidera


pada janin
1. Merasa cemas Trauma kepala janin

Do : Ekstrasiu kepala janin

1. Tampak gelisah Cephal Hematoma


2. Tampak kelelahan Resiko Cidera Pada Janin
3. Frekuensi nadi meningkat
4. Tekanan darah meningkat

I. Diagnosa Keperawatan

1. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (D.0003)

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisologis (D.0077)

3. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional (D.0080)

4. Resiko cidera pada janin berhubungan dengan penumpukan darah dibawah kulit kepala
(D.0138)
J. Intervensi

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Rasional


Keperawatan

1 Hipovolemia Tujuan Jangka Panjang : Setelah Manajemen hipovolemia (I.03116) 1. Mengetahui tanda dan gejala
berhubungan dilakukan tindakan keperawatan Observasi hipovolemia
dengan kehilangan 1x24 jam diharapkan status cairan 1. Periksa tanda dan gejala 2. Mengetahui kebutuhan cairan
cairan aktif membaik. hipovolemia yang dibutuhkan
(D.0003) 2. Hitung kebutuhan cairan 3. Untuk membantu mengganti
Tujuan Jangka Pendek :
Kolaborasi volume cairan yang hilang
Setelah dilakukan tindakan 3. Kolaborasi pemberian cairan 4. Untuk mencegah terjadinya
keperawatan 1x7 jam diharapkan koloid (mis.albumin, syok
status cairan membaik. plasmanate)
4. Kolaborasi pemberian produk
Kriteria hasil :
darah
1. Frekuensi nadi meningkat
membaik (5)

2. Tekanan nadi membaik (5)

3. Membran mukosa membaik


(5)
2 Nyeri akut Tujuan Jangka Panjang : Setelah Manjemen nyeri (I.08238) Manjemen nyeri (I.08238)
berhubungan dilakukan tindakan keperawatan Observasi : Observasi :
dengan agen 1x24 jam diharapkan tingkat nyeri 1. Identifikasi skala nyeri 1. Untuk mengetahui skala nyeri
pencedera fisologis menurun. 2. Identifikasi respons nyeri non yang dirasakan klien
(D.0077) verbal 2. Untuk mengetahui nyeri yang
Tujuan Jangka Pendek :
Teraupetik tidak dapat diungkapkan klien
Setelah dilakukan tindakan 3. Berikan teknik non Teraupetik
keperawatan 1x7 jam diharapkan farmakologis untuk mengurangi 3. Teknik non farmakologis dapat
tingkat nyeri menurun. nyeri membantu menurunkan nyeri
4. Pertimbangkan jenis dan 4. Membantu pemilihan strategi
Kriteria hasil :
sumber nyeri dalam pemilihan nyeri yang tepat
1. Meringis menurun (5) strategi meredakan nyeri Edukasi :
Edukasi : 5. Agar klien mengetahui
2. Frekuensi nadi membaik (5)
5. Jelaskan penyebab, periode dan penyebab, periode dan pemicu
3. Gelisah menurun (5) pemicu nyeri nyeri

4. Tekanan membaik (5)

3 Ansietas Tujuan Jangka Panjang : Setelah Reduksi ansietas (I.09314) Reduksi ansietas (I.09314)
berhubungan dilakukan tindakan keperawatan Observasi Observasi
dengan krisis 1x24 jam diharapkan tingkat 1. Identifikasi tingkat ansietas 1. Mengetahui saat tingkat
situasional ansietas menurun. berubah ansietas berubah
(D.0080) 2. Monitor tanda-tanda ansietas 2. Untuk mengetahui kondisi
Tujuan Jangka Pendek :
3. Gunakan pendekatan yang pasien
Setelah dilakukan tindakan tenang dan meyakinkan 3. Agar pasien merasa tenang
keperawatan 1x7 jam diharapkan Edukasi Edukasi :
tingkat ansietas menurun. 4. Jelaskan prosedur, termasuk 4. Agar pasien mengetahui
sensasi yang mungkin dialami prosedur dan sensasi yang
Kriteria hasil :
5. Anjurkan keluarga tetap mungkin dialami serta dapat
1. Perilaku gelisah menurun (5) bersama pasien jika perlu menurunkan cemas
2. Frekuensi nadi meningkat 6. Latih teknik relaksasi 5. Keluarga dapat membantu
menurun (5) menurunkan rasa cemas yang
dirasakan
3. Frekuensi pernafasan menurun
6. Relaksasi nafas dalam dapat
(5)
membantu menurunkan tingkat
4. Tekanan darah menurun (5) ansietas

4 Resiko cidera pada Tujuan jangka panjang : Pemantauan denyut jantung janin Pemantauan denyut jantung janin
janin berhubungan (I.02056) (I.02056)
Setelah diberikan Asuhan
dengan Observasi Observasi
keperawatan selama 1x 1 jam
penumpukan darah 1. Identifikasi status obstetrik 1. Mengetahui status obstetrik
diharapkan resiko cidera pada
dibawah kulit 2. Identifikasi riwayat obstetrik 2. Mengetahui riwayat dari
janin tidak terjadi.
kepala (D.0138) 3. Identifikasi adanya penggunaan obstetrik
obat, diet dan merokok 3. Mengetahui apakah pasien
Tujuan jangka pendek : 4. Identifikasi pemeriksaan selama kehamilan mengonsumsi
kehamilan sebelumnya obat-obatan , melakukan diet
Setelah diberikan Asuhan
5. Periksa denyut jantung janin dan merokok
keperawatan selama 1x 30 menit
selama 1 menit 4. Mengetahui pemeriksaan
diharapkan resiko cidera pada
6. Monitor denyut jantung janin kehamilan sebelumnya
janin tidak terjadi.
7. Monitor tanda vital ibu 5. Mengetahui denyut jantung
Kriteria hasil : janin dalam batas normal/tidak
Terapeutik
6. Mengetahui tanda vital ibu
1. Kejadian cidera menurun
1. Atur posisi pasien dalam proses persalinan hingga
(DJJ membaik
2. Lakukan maneuver leopold selesai
120-160x/menit)
untuk menentukan posisi janin
2. Frekuensi gerak janin Terapeutik
membaik Edukasi
1. Memberikan kenyamanan pada
3. Berat badan membaik
1. Jelaskan tujuan dan prosedur pasien
4. Tanda-tanda vital dalam
pemantauan 2. Mengetahui posisi janin
rentang normal
2. Informasikan hasil pemantauan,
Edukasi
jika perlu .
1. Pasien mengetahui tujuan dan
tindakan yang diberikan selama
proses berjalan
2. Pasien mengetahui hasil yang
ditemui selama proses berjalan .
DAFTAR PUSTAKA

Ai Nur Holillah (2020). Laporan Kasus Asuhan Keperawatan Post Partum Pada Ny.C dengan
Vacum ekstraksi di Ruang VK Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati Cirebon.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan. 2020

Devi Hidayati (2018). Asuhan Keperawatan Pada Ny. H dan Ny. Y (Post Tindakan Vakum
Ekstraksi) Dengan Masalah Keperawatan Nyeri Akut Pada Luka Perinium di Ruang
Teratai RSUD dr. Haryoto Lumajang Tahun 2018. Universitas Jember

Prawirohardjo. 2005. Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Edisi
1. Jakarta : Bina Pustaka.

Purwaningsih W dan Fatmawati S. 2010. Asuhan Keperawatan Maternitas : Yogyakarta : Nuha


Medika.

Qomariah, S. (2018). FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERSALINAN EKSTRAKSI VAKUM


DI CAMAR II RSUD ARIFIN AHMAD PEKANBARU. Jurnal Kesehatan Husada
Gemilang, 1(1).

Syaifuddin, (2011). Anatomi Fisiologi : Kurikulum berbasis kompetensi untuk keperawatan dan
kebidanan. Ed. 4. Jakarta : EGC, 2011

Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 1,
Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1,
Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi 1,
Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Anda mungkin juga menyukai