LAPORAN PENDAHULUAN
OLIGOHIDRAMNION
I. Definisi Oligohidramnion
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal, yaitu
kurang dari 500 cc.
Definisi lainnya menyebutkan sebagai AFI yang kurang dari 5 cm. Karena VAK tergantung
pada usia kehamilan maka definisi yang lebih tepat adalah AFI yang kurang dari presentil 5 (
lebih kurang AFI yang <6.8 cm saat hamil cukup bulan).
II. Etiologi Oligohidramnion
Penyebab oligohydramnion tidak dapat dipahami sepenuhnya. Mayoritas wanita hamil
yang mengalami tidak tau pasti apa penyebabnya. Penyebab oligohydramnion yang telah
terdeteksi adalah cacat bawaan janin dan bocornya kantung/ membran cairan ketuban yang
mengelilingi janin dalam rahim. Sekitar 7% bayi dari wanita yang mengalami
oligohydramnion mengalami cacat bawaan, seperti gangguan ginjal dan saluran kemih karena
jumlah urin yang diproduksi janin berkurang.
Masalah kesehatan lain yang juga telah dihubungkan dengan oligohidramnion adalah
tekanan darah tinggi, diabetes, SLE, dan masalah pada plasenta. Serangkaian pengobatan yang
dilakukan untuk menangani tekanan darah tinggi, yang dikenal dengan namaangiotensin-
converting enxyme inhibitor (mis captopril), dapat merusak ginjal janin dan menyebabkan
oligohydramnion parah dan kematian janin. Wanita yang memiliki penyakit tekanan darah
tinggi yang kronis seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli kesehatan sebelum
merencanakan kehamilan untuk memastikan bahwa tekanan darah mereka tetap terawasi baik
dan pengobatan yang mereka lalui adalah aman selama kehamilan mereka.
III. Patofisiologi
Terlalu sedikitnya cairan ketuban dimasa awal kehamilan dapat menekanorgan-organ
janin dan menyebabkan kecacatan, seperti kerusakan paru-paru,tungkai dan lengan.
Olygohydramnion yang terjadi dipertengahan masa kehamilan juga meningkatkan resiko
keguguran, kelahiran prematur dan kematian bayi dalam kandungan. Jika ologohydramnion
terjadi di masa kehamilan trimester terakhir, hal ini mungkin berhubungan dengan
pertumbuhan janin yang kurang baik. Disaat-saat akhir kehamialn, oligohydramnion dapat
meningkatkan resiko komplikasi persalinan dan kelahiran, termasuk kerusakan pada ari-ari
memutuskan saluran oksigen kepada janin dan menyebabkan kematian janin.
Sindroma Potter dan Fenotip Potter adalah suatu keadaan kompleks yang berhubungan
dengan gagal ginjal bawaan dan berhubungan dengan oligohidramnion (cairan ketuban yang
sedikit).
Fenotip Potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi baru lahir, dimana cairan
ketubannya sangat sedikit atau tidak ada. Oligohidramnion menyebabkan bayi tidak memiliki
bantalan terhadap dinding rahim. Tekanan dari dinding rahim menyebabkan gambaran wajah
yang khas (wajah Potter). Selain itu, karena ruang di dalam rahim sempit, maka anggota gerak
tubuh menjadi abnormal atau mengalami kontraktur dan terpaku pada posisi abnormal.
Oligohidramnion juga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-paru ( paru-paru
hipoplastik ), sehingga pada saat lahir, paru-paru tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Pada sindroma Potter, kelainan yang utama adalah gagal ginjal bawaan, baik karena
kegagalan pembentukan ginjal (agenesis ginjal bilateral) maupun karena penyakit lain pada
ginjal yang menyebabkan ginjal gagal berfungsi.
Dalam keadaan normal, ginjal membentuk cairan ketuban (sebagai air kemih) dan tidak
adanya cairan ketuban menyebabkan gambaran yang khas dari sindroma Potter.
Gejala Sindroma Potter berupa :
- Wajah Potter (kedua mata terpisah jauh, terdapat lipatan epikantus, pangkal hidung
yang lebar, telinga yang rendah dan dagu yang tertarik ke belakang).
- Tidak terbentuk air kemih
- Gawat pernafasan,
Pada kehamilan sangat muda, air ketuban merupakan ultrafiltrasi dari plasma maternal
dan dibentuk oleh sel amnionnya. Pada trimester II kehamilan, air ketuban dibetuk oleh difusi
ekstraselular melalui kulit janin sehingga komposisinya mirip dengan plasma janin.
Selanjutnya setelah trimester II, terjadi pembentukan zat tanduk kulit janin dan menghalangi
disfusi plasma janin sehingga sebagian besar air ketubannya dibentuk oleh sel amnionnya dan
air kencingnya.
Ginjal janin mengeluarkan urin sejak usia 12 minggu dan setelah mencapai usia 18
minggu sudah dapat mengeluarkan urin sebanyak 7-14 cc/hari. Janin aterm mengeluarkan urin
27 cc/jam atau 250 cc dalam sehari.
Sirkulasi air ketuban sangat penting, sehingga jumlahnya dapat dipertahankan dengan
tetap. Pengaturannya dilakukan oleh tiga komponen penting berikut:
a. Produksi yang dihasilkan oleh sel amnion.
b. Jumlah produksi air kencing.
c. Jumlah air ketuban yang ditelan janin.
Setelah trimester II sirkulasinya makin meningkat sesuai dengan tuanya kehamilan
sehingga mendekati aterm mencapai 500 cc/hari.
Produksinya akan berkurang jika terjadi insufisiensi plasenta, kehamilan post term,
gangguan organ perkemihan, janin terlalu banyak minum, sehingga dapat menimbulkan
makin berkurangnya jumlah air ketuban intrauteri “ologohidramnion” dengan kriteria:
a. Jumlah kurang dari 200 cc
b. Kental.
c. Bercampur mekonium.
Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor atau minor.
Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam pada
kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang perhari,
riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali
Faktor resiko mayor adalah kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka
lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau memendek kurang dari 1
cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat
persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi
konisasi, dan iritabilitas uterus.
Pasien tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor resiko mayor atau bila ada 2
atau lebioh resiko minor atau bila ditemukan keduanya. (Kapita selekta, 2000 : 274)
Pathway
Oligohidraminion
Air ketuban < 500 cc
Bayi bergerak Air ketuban yang terlalu Resiko cedera
dengan susah sedikit indikasi SC
Nyeri akut Cemas
IV. Tanda / Gejala
1.Cacat Lahir: Malformasi atau tidak komplitnya organ luar atau dalam pada bayi baru
lahir (displasia panggul, club foot)
2. Lahir Prematur: Persalinan sebelum genap usia kehamilan 37 minggu
3.Keguguran: Kematian bayi yang masih dalam rahim sebelum usia kehamilan 20
minggu.
4. Lahir Meninggal: Kelahiran bayi dalam uterus setelah usia kehamilan 20 minggu dalam
keadaan mati.
5.Kematian bayi segera setelah lahir
V. Pemeriksaan Penunjang
1. USG ibu (menunjukkan oligohidramnion serta tidak adanya ginjal janin atau ginjal yang
sangat abnormal)
Cara memeriksanya yaitu dengan memeriksa indeks cairan amnion, yakni jumklah
pengukuran kedalaman air ketuban di empat sisi kuadran perut ibu. Nilai normal adalah
antara 10 – 20 cm. bila kurang dari 10 cm disebut air ketuban telah berkurang, jika kurang
dari 5 cm maka inilah yang disebut dengan oligohidramnion.
2. Rontgen perut bayi
3. Rontgen paru-paru bayi
4. Analisa gas darah.
VI. Komplikasi Oligohidramnion
Masalah-masalah yang dihubungkan dengan terlalu sedikitnya cairan ketuban berbeda-
beda tergantung dari usia kehamilan. Oligohydramnion dapat terjadi di masa kehamilan
trimester pertama atau pertengahan usia kehamilan cenderung berakibat serius dibandingkan
jika terjadi di masa kehamilan trimester terakhir. Terlalu sedikitnya cairan ketuban dimasa
awal kehamilan dapat menekan organ-organ janin dan menyebabkan kecacatan, seperti
kerusakan paru-paru, tungkai dan lengan.
Olygohydramnion yang terjadi dipertengahan masa kehamilan juga meningkatkan resiko
keguguran, kelahiran prematur dan kematian bayi dalam kandungan. Jika ologohydramnion
terjadi di masa kehamilan trimester terakhir, hal ini mungkin berhubungan dengan
pertumbuhan janin yang kurang baik. Disaat-saat akhir kehamialn, oligohydramnion dapat
meningkatkan resiko komplikasi persalinan dan kelahiran, termasuk kerusakan pada ari-ari
memutuskan saluran oksigen kepada janin dan menyebabkan kematian janin. Wanita yang
mengalami oligohydramnion lebih cenderung harus mengalami operasi caesar disaat
persalinannya
VII. Konsep Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
1. Identitas
a. Nama :
b. Umur :
c. Jenis kelamin :
d. Usia kehamilan :
e. Pendidikan :
f. Alamat :
2. Keluhan utama
3. Riwayat penyakit sekarang
4. Riwayat penyakit sebelumnya
5. Analisa data
· Data subyektif :
· Data obyektif :
6. Pengkajian Fisik
a. Aktifitas / istirahat
Kemampuan untuk mengikuti aktivitas hidup yang diperlukan/diinginkan (kerja dan
kesenangan) dan untuk dapat tidur/istirahat.
b. Sirkulasi
Kemampuan untuk mentranspor oksigen dan nutrien yang perlu untuk memenuhi
kebutuhan seluler.
c. Integritas Ego
Kemampuan untuk mengembangkan dan menggunakan keterampilan dan perilaku untuk
mengintegrasikan dan mengatur pengalaman hidup.
d. Eliminasi
Kemampuan untuk mengeluarkan produk sisa.
e. Makanan/Cairan
Kemampuan untuk mempertahankan masukan dan penggunakan nutrien dan cairan untuk
memenuhi kebutuhan fisiologi.
f. Hygiene
Kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.
g. Neurosensori
Kemampuan untuk menerima, menggabungkan, dan berespon terhadap isyarat internal
dan eksternal.
h. Nyeri/Ketidaknyamanan
Kemampuan untuk mengontrol lingkungan internal/eksternal untuk mempertahankan
kenyamanan.
i. Pernapasan
Kemampuan untuk memberikan dan menggunakan oksigen untuk memenuhi kebutuhan
fisiologi.
j. KeamananKemampuan untuk memberikan lingkungan yang meningkatkan pertumbuhan,
aman.
k. Seksualitas
Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan/karakteristik peran pria atau peran wanita.
l. Interaksi Sosial
Kemampuan untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan.
m. Belajar/Mengajar
Kemampuan untuk menghubungkan dan menggunakan informasi untuk mencapai gaya
hidup yang sehat/kesejahteraan optimal.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (pergerakan bayi)
2. Resiko cedera terhadap janin dengan faktor resiko berkurangnya cairan amnion
3. Ansietas berhubungan dengan resiko status kesehatan pasien dan janin (kelahiran
posterm)
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal informasi
C. Intervensi
1. Dx1 : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (pergerakan bayi)
Tujuan : Nyeri teratasi
Kriteria hasil :
1. Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
2. Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi/aktifitas hiburan
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri :
1. 1. Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri,
1. 1. Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan
sifat nyeri, lokasi dan penyebaran rasa nyeri yang dirasakan oleh klien sehingga dapat
dijadikan sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya.
2.
3. 2. Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk
rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi
2. 2. Beri posisi yang menyenangkan nyeri
4. 3. Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa
nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh
3. 3. Ajarkan teknik relaksasi napas dalam jaringan
4.
5. 4. Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan
adanya peningkatan nyeri
5. 4. Ukur tanda-tanda vital 6.
6. 3. 5. Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri
sehingga dapat nyeri tidak dipersepsikan
Kolaborasi : 4.
1. 5. Penatalaksanaan pemberian
7. 6. Tindakan terhadap penyimpangan dasar akan
analgetik menghilangkan nyeri
2. 6. Siapkan untuk prosedur bedah bila
diindasikan
2. Dx2 : Resiko cedera terhadap janin dengan faktor resiko berkurangnya cairan amnion
Kriteria hasil : Mempertahankan kehamilan sampai kelangsungan hidup janin tercapai.
INTERVENSI RASIONAL
1. Lakukan tes nitrazin. 1. Memeriksa pecah ketuban yang menunjukkan
peningkatan resiko inseksi serta mempengaruhu
pilihan intervensi dan waktu kelahiran
2. Pada hipertensi karena kehamilan dan
2. Kaji kondisi ibu yang dapat karioamnionitis, terapi steroid dapat memperberat
dikontraindikasikan pada terapi hipertensi dan menutupi tanda infeksi. Steroid
steroid. dapat meningkatkan kadar glukosa darah pada
klien dengan diabetes.
3. Tokolitik dapat meningkatkan DJJ. Kelahiran
dapat sangat cepat dengan bayi kecil jika kontraksi
3. Kaji DJJ; catat adanya aktifitas uterus tetap tidak berespon terhadap tokolitik, atau
uterus atau dilatasi serviks. jika perubahan serviks kontinu.
4. Bila janin tidak dilahirkan dalam tujuh hari
pemberian steroid, dosis harus diulang setiap
minggu.
4. Tekankan perlunya perawatan
tindak lanjut bila pulang tanpa
kelahiran.
3. Dx3 : Ansietas berhubungan dengan resiko status kesehatan pasien dan janin (kelahiran
posterm)
Tujuan :
1. Mengungkapkan rasa takut dan masalah yang berhubungan dengan komplikasi dan atau
kehamilan
2. Mengidentifikasi cara-cara sehat untuk menghadapi ansietas
3. Mendemonstarasikan keterampilan pemecahan masalah
4. Menggunakan sumber-sumber system pendukung secara efektif
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
1. Perhatikan tingkat ansietas dan 1. Stres yang tidak diatasi dapat mempengaruhi
derajat pengaruh terhadap penyelesaian tugas-tugas kehamilan, dengan
kemampuan untuk berfungsi atau penerimaan normal dari kehamilan/janin dan
mengambil keputusan dengan keputusan mengenai kehamilan masa
datang versus sterilisasi.
2. Memudahkan perkembangan hubungan saling
percaya. Penerimaan yang tidak menghakimi
2. Berikan kehangatan secara meningkatkan rasa percaya.
emosional dan situasi mendukung ;
terima klien/pasangan seperti 3. Rasa takut tentang ketidaktahuan dan rasa takut
adanya mereka menjadi penghambat inkompatibel dengan
psikologis dan istirahat emosional
3. Lakukan sikap tidak terburu-buru 4. Menurunkan rasa sendiri
kapanpun dalam menghadapi
keluarga
5. Kehamilan tidak lengkap dihubungkan dengan
beberapa ansietas bagi klien ; komplikasi
4. Berikan akses 24 jam pada tim selanjutnya memperberat keadaan tidak pasti
perawatan kesehatan mengenai hasil kehamilan. Penerimaan realita
akan apa yang terjadi dapat memberikan
5. Tinjau ulang kemungkinan sumber- dukungan.
sumber ansietas
6. Hubungan keluarga yang buruk dan tidak
tersedianya system pendukung dapat
meningkatkan tingkat stress
7. Klien membutuhkan lebih banyak kesempatan
6. Kaji tingkat stress klien berkenaan untuk mengungkapkan rasa marah tentang
dengan komplikasi medis, perubahan dalam hidup keluarga untuk
hubungan pasangan, hubungan meminimalkan tingkat ansietas. Ansietas dapat
klien dengan anggota keluarga, dan mempengaruhi pembuatan keputusan realistis.
ketersediaan jaringan kerja
pendukung.
8. Memberikan kesempatan untuk intervensi awal.
7. Anjurkan klien mengekspresikan
perasaan prustasi yang berkenaan
dengan aturan terapi dan atau
perubahan gaya hidup. Jelaskan 9. Ansietas atau stress dapat disertai dengan
pada klien bahwa pengungkapan pelepasan katekolamin, menciptakan respon fisik
dapat diterima dan penting. yang mempengaruhi rasa sejahtera klien dan
kemudian meningkatkan ansietas.
10. Membantu untuk menurunkan ansietas karena
8. Observasi tanda-tanda perubahan ketidak tahuan, meningkatkan hasil kehamilan
emosional, ketidakseimbangan, optimal.
atau komplik dengan keluarga atau
orang terdekat.
11. Meningkatkan kepercayaan dan harapan pada
9. Kaji respon fisiologis terhadap klien dan orang terdekat.
ansietas (misalnya tekanan darah,
nadi).
12. Meningkatkan kelanjutan perawatan dan
pendekatan tim pada situasi. Bila perawatan
dirumah sakit diperlukan, tingakat stress
10. Berikan informasi yang tepat secara cenderung meningkat setelah dua minggu dan
individu mengenai intervensi atau tetap tinggi selama sisa perawatan dirumah sakit.
tindakan dan dampak potensial
kondisi klien dan janin. 13. Menurunkan rasa kesepian dan dapat membantu
pasangan mengembangkan pandangan positif
11. Kuatkan aspek-aspek positif dari pada kehamilan.
kondisi janin, bila ada, seperti
pertumbuhan dan aktivitas janin.
14. Konseling atau terapi mungkin perlu untuk
membantu klien mengungkapkan dengan lebih
Kolaborasi bebas dan memeriksa ansietas yang tidak teratasi.
12. Koordinasikan tim konferehensi
termasuk klien. Buat rencana
perawatan terus menerus
13. Rujuk pada kelompok pendukung
komunitas, atau pada pasangan
yang telah berhasil menyelesaikan
kehamilan resiko tinggi.
14. Rujuk pada sumber-sumber
konseling lain sesuai indikasi.
4. Dx4 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal pengetahuan
Kriteria hasil :
1. Memulai perilaku yang meningkatkan kesehatan diri sendiri dan janin.
2. Tidak meminum obat tanpa memberi tahu dokter kandungannya.
3. Tidak merokok, minum alcohol, dan obat-obat terlarang.
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
1. Buat hubungan perawat-klien yang 1. Peran penyuluh/konselor dapat memberikan
mendukung dan terus menerus. bimbingan antisipasi dan meningkatkan tanggung
jawab individu terhadap kesehatan.
2. Memberikan informasi untuk membantu
2. Evaluasi pengetahuan dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dan
keyakinan budaya saat ini berkenan membuat rencana perawatan.
dengan perubahan
fisiologi/psikologi yang normal
pada kehamilan, serta keyakinan
tentang aktivitas, perawatan diri
dan sebagainya. 3. Ketakutan biasa timbul dari kesalahan informasi
dan dapat mengganggu pembelajaran
3. Klarifikasi kesalahpahaman. selanjutnya.
4. Klien dapat memahami kesulitan dalam belajar
kecuali kebutuhan untuk belajar tersebut jelas.
4. Tentukan derajat motivasi untuk 5. Membantu menjamin kualitas/kontinuitas asuhan
belajar. karena orang pendukung mungkin lebih berhasil
daripada dokter/perawat/bidan dalam
memberikan informasi.
5. Identifikasi siapa yang memberikan
dukungan/intruksi dalam
kebudayaan klien
(mis.,nenek/anggota keluarga lain,
cuerandero, penyembuh lain). 6. Penerimaan penting untuk mengembangkan dan
Kerja dengan orang yang mempertahankan hubungan.
medukung bila mungkin,
menggunakan pengalih bahasa 7. Beberapa budaya memandang dokter medis
sesuai kebutuhan. sebagai seseorang yang menangani penyakit dan
menggunakan bidan/cuerandero untuk kelahiran
6. Pertahankan sikap terbuka terhadap sehat. Tuntutan kesopanan atau budaya dapat
keyakinan klien/pasangan. menghambat asuhan yang dilakukan pria
dan/atau dapat meminta suami tetap di ruangan
7. Tentukan sikap klien terhadap selama asuhan diberikan.
asuhan yang diberikan oleh pria,
versus bidan atau praktisi wanita. 8. Menguatkan hubungan antara pengkajian
kesehatan dan hasil positif untuk ibu/bayi.
Perbedaan budaya memberi tekanan pada fase
kehamilan yang berbeda (mis., prenatal,
kelahiran, atau pascanatal), dan budaya klien
mungkin tidak memprtimbangkan bahwa
kunjungan prenatal penting.
9. Informasi mendorong penerimaan tanggung
8. Jelaskan rutinitas kunjungan kantor jawab dan meningkatkan keinginan untuk
dan rasional dari intervensi (mis., melakukan perawatan diri.
tes urin, pemantuan TD, berat
badan). Kuatkan pentingnya
mempertahankan perjanjian teratur.
10. Membantu mempertahankan kadar Hb normal.
Defisiensi asam folat memperbesar kemungkinan
terkena anemia megablastik, abrupsio plasenta,
aborsi, dan malformasi janin. Penelitian
9. Berikanan bimbingan antisipasi, mengindikasikan suplemen zat besi mungkin
meliputi diskusi tentang nutrisi, tidak dibutuhkan sampai trimester kedua dan
latihan yang nyaman, istirahat, ketiga, pada saat kebutuhan najin meningkat.
pekerjaan, perawatan payudara, (Catatan: Zat besi mungkin dikontraindikasikan
aktivitas seksual, dan pada anemia sel sabit karena kemungkinan
kebiasaan/gaya hidup sehat. kelebihan, namun, klien mungkin memerlukan
peningkatkan asam folat selama dan setelah krisis
10. Tinjauan ulang kebutuhan vitamin, sel sabit.)
besi sulfat, dan asam folat prenatal.
11. Visualisasi meningkatkan realita akan anak dan
menguatkan proses pembelajaran.
12. Memberikan informasi yang dapat bermanfaat
untuk membuat pilihan.
13. Membantu klien membedakan yang normal
abnormal sehingga membantunya dalam mencari
perawatan kesehatan pada waktu yang tepat
(Tanda-tanda dan gejala-gejala merugikan dapat
dipandang sebagai kejadian “normal” untuk
kehamilan dan bantuan mungkin tidak dicari.
14. Janin paling rentan dalam trimester pertama
selam periode kritis perkembangan organ.
11. Diskusikan perkembangan janin
dengan menggunakan gambar.
12. Jawab pertanyaan tentang
perawatan dan memberikan makan
bayi. 15. Penamabahan pengetahuan membantu
menurunkan rasa takut tentang ketidaktahuan dan
13. Identifikasi tanda bahaya meningkatkan rasa percaya diri, pasangan dapat
kehamilan, seperti pendarahan, mengatur dpersiapan kelahiran anak.
kram, nyeri abdomen akut, sakit
punggung, edema, gangguan
penglihatan, sakit kepala, dan
tekanan pelvis.
14. Identifikasi hal yang
membahayakan pada janin. Kaji
oabt-obatan yang digunakan klien
(nikotin, alcohol, kokain dan
sebagainya). Tekankan perlunya
menghidari semua obat-obatn
tersebut sampai dikonsultasikan
dengan anggota tim kesehatan.
15. Rujuk klien pada kelas persiapan
kelahiran anak. Berikan daftar
bacaan yang di anjurkan.
DAFTAR PUSTAKA
Sulistyawati, Ari. (2009). Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta : Salemba Medika.
Wikojosastro, Hanifa. 2010. Ilmu Kandungan Edisi Ke2 Cetakan Ke4. Jakarta: YBB- SP.
Hamilton, Persis Mary. 2009. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas/E.6. Jakarta: EGC.
Rustam, 2011, Sinopsis Obsetri, Jilid I, Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono, 2009, Ilmu Kebidanan, Jakarta; Tridasa Printer
Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstorm KD. Williams obstetric.
22nd ed. New York. McGraw-Hill Companies, Inc; 2010
Siswosudarmo, Risanto. Ova Emilia. 2009. Obstetri Fisiologi. Editor drSinta Aji Arirukmi.
Yogyakarta:Pustaka Cendekia
Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.) NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions and
classification, 2018-20. NY: Thieme Medical Publishers9. Obstetri Fisiologi. Editor
drSinta Aji Arirukmi. Yogyakarta:Pustaka Cendekia