0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan20 halaman

Deskripsi dan Jenis Batuan di Bumi

Batuan merupakan kumpulan mineral yang membentuk kerak bumi. Terdapat dua jenis batuan utama yaitu batuan beku dan batuan sedimen. Batuan beku terbentuk dari pendinginan magma, sedangkan batuan sedimen terbentuk dari endapan material hasil erosi batuan lain.

Diunggah oleh

Michael J N
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan20 halaman

Deskripsi dan Jenis Batuan di Bumi

Batuan merupakan kumpulan mineral yang membentuk kerak bumi. Terdapat dua jenis batuan utama yaitu batuan beku dan batuan sedimen. Batuan beku terbentuk dari pendinginan magma, sedangkan batuan sedimen terbentuk dari endapan material hasil erosi batuan lain.

Diunggah oleh

Michael J N
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH BATUAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan
banyak nikmat sehingga saya dapat menyusun Makalah dengan judul Batuan ini dengan baik.
Makalah ini berisi tentang mendeskripsikan batuan.

Dalam penyusunan makalah ini, saya menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan
sehingga saya selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca sekalian.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususny untuk masyarakat
Indonesia umumnya.

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Latar Belakang Jika kita membicarakan tentang batuan dan mineral, kita akan menemukan
banyak fakta tentang hal tersebut. Tidak hanya itu, contoh batuan maupun mineral yang beragam
juga memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Batuan adalah semua bahan yang
menyusun kerak bumi dan merupakan suatu agregat (kumpulan) mineral yang telah menghablur.
Pemakaian batuan pada dasarnya tergantung pada kekhususannya. Tekstur batuan mengacu pada
kenampakan butir- butir mineral yang ada di dalamnya, yang meliputi tingkat kristalisasi, ukuran
butir,  bentuk butir, granularitas, dan hubungan antar butir (fabric). Jika warna batuan
berhubungan erat dengan komposisi kimia dan mineralogi, maka tekstur  berhubungan dengan
sejarah pembentukan dan keterdapatannya. Mineral adalah  benda padat yang terbentuk oleh
proses anorganik. Tiap mineral memiliki susnan atom yang teratur dan komposisi kimia tertentu
yang memberikan sifat fisik yang spesifik. Mineral merupakan komponen batuan yang
mempunyai komposisi kimia tertentu dengan sifat-sifat fisik yang khas seperti warna, kilap
(luster), kekrasan (hardness), gores (streack), belahan (cleavage), pecahan (fracture), struktur
atau  bentuk kristal, berat jenis, sifat dalam (tenacity) dan kemagnetan. Mineral ini merupakan
produk alami dari proses kimia fisika di dalam kerak bumi. Lebih dari 2000 mineral telah
diketahui sampai sekarang ini, dan usaha-usaha untuk menemukan mineral baru terus dilakukan.
Dari jumlah tersebut hanya beberapa yang umum atau sering dijumpai. Oleh karena itu
pembuatan makalah ini kami lakukan agar para pembaca khususunya mahasiswa dapat dengan
mudah memahami materi batuan dan mineral.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian batuan ?
2. Apa sajakah jenis mineral yang terdapat di bumi?
3. Mendeskripsikan Batuan ?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertia Batuan

Kandungan sumber daya alam yang terdapat di bumi salah satunya adalah batuan. Menurut Pusat
Bahasa Kemdiknas (2008), “batuan merupakan mineral atau paduan mineral yang membentuk
bagian utama kerak bumi”. Batuan merupakan kumpulan dari satu atau lebih mineral. Batuan
penyusun kerak bumi berdasarkan kejadian, tekstur, dan komposisi mineral, salah satunya adalah
batuan sedimen.

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan
batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme yang
diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan
(Pettijohn dalam Endarto, 2005). Batuan sedimen berasal dari hasil erosional batuan lain yang
tersimpan di permukaan bumi karena pengaruh suhu dan tekanan.

2.2 Jenis-jenis Batuan

. Jenis-jenis Batuan beku Batuan beku terbentuk dari magma atau lava yang membeku. Magma
merupakan batuan cair dan sangat panas yang berada di dalam kerak bumi/perut bumi.
Sementara lava adalah magma yang mencapai permukaan bumi.

Berdasarkan tempat pendinginannya atau pembekuannya, terdiri atas 4 kategori sebagai berikut.

1. Batuan beku dalam/plutonik/intusif/tubir Batuan beku dalam adalah batuan yang terbentuk
dari magma. Adapun magma yang membeku jauh di dalam bumi hanya terdiri dari kristal saja.
Proses pendinginan batuan beku dalam sangat lambat, sehingga terjadi pengkristalan yang
sempurna. Kristal batuan beku dalam bentuknya besar dan kasar. Contoh bantuan beku dalam:
batu granit, batu gabbro, batu diorit, dan batu syenit.

2. Batuan beku gang/korok/celah Batuan beku gang merupakan batuan beku yang terbentuk
dari magma gang. Letak pembekuan batuan beku korok ini lebih dekat dengan permukaan bumi
dibandingkan batuan beku dalam. Hal ini menyebabkan proses pendinginan magma terjadi lebih
cepat. Proses ini membuat pengkristalan menjadi tidak terlalu sempurna. Maka, batuan beku
gang ada yang terdiri atas kristal besar, kristal kecil, atau tidak mengkristal. Contoh: batu batu
profir granit, batu profir gabbro, batu profir syenit, dan batu granit fosfir.

3. Batuan beku luar/leleran/ekstrusi/vulkanis Batuan beku luar berasal dari lava. Di


permukaan bumi, proses pendinginan lava akan berlangsung sangat cepat. Maka,
kemungkinanya sangat kecil terjadi proses kristalisasi. Contoh: batu rhyolit, batu andesit, batu
trachit, batu basalt, batu obsidian, dan batu apung (purnice).
4. . Batuan beku berdasarkan kandungan SiO2.

Batuan beku ini dibagi menjadi 4, yaitu: Batuan beku ultra basa (memiliki kandungan SiO2
kurang dari 45%).

Contoh: batu basalt. Batuan beku basa (memiliki kandungan SiO2 45%-52%).

Contoh : batu andesit. Batuan beku intermediate (memiliki kandungan SiO2 52%-66%.

Contoh: batu dasit. Batuan beku asam (memiliki kandungan SiO2 lebih dari 66%)

2. Contoh Batuan Beku Ada banyak jenis contoh batuan beku yang mudah ditemui di lingkungan
sekitar. Berikut sejumlah contoh batuan beku beserta ciri-ciri, proses pembentukan, hingga
kegunaan.

a. Batuan apung Menurut situs resmi Museum Gunung Merapi, ciri-ciri batuan apung yaitu
warnanya keabu-abuan, berpori-pori, bergelembung, ringan, dan terapung dalam air. Cara
terbentuknya dari pendinginan magma yang bergelembung-gelembung gas. Kemudian
kegunaannya, adalah untuk mengamplas atau menghaluskan kayu, dan di bidang industri
digunakan sebagai bahan pengisi (filler) isolator temperatur tinggi dan lain-lain.

b. Batu obsidian Ciri-cirinya berwarna, hitam, dan hijau. Bentuknya seperti kaca, dan tidak ada
kristal-kristal. Cara terbentuknya dari lava permukaan yang mendingin dengan cepat.
Kegunaannya dapat sebagai alat pemotong atau ujung tombak, dan bisa dijadikan kerajinan.

c. Batu granit Ciri-ciri batu granit yaitu terdiri atas kristal-kristal kasar, warna putih sampai abu-
abu, kadang-kadang jingga. Batuan ini banyak di temukan di daerah pinggiran pantai, sungai
besar, dan dasar sungai. Cara terbentuknya dari pendinginan magma yang terjadi lambat di
bawah permukaan bumi. Kemudian, kegunaannya adalah sebagai bahan bangunan.

d. Batu basalt Ciri-ciri batu basalt yaitu terdiri atas kristal-kristal yang sangat kecil, dan
berwarna hijau keabu-abuandan berlubang-lubang. Cara terbentuknya yaitu dari pendinginan
lava yang mengandung gas tetapi gasnya telah menguap. Kegunaannya adalah sebagai bahan
baku dalam industri poles, bahan bangunan atau pondasi bangunan.

e. Batu diorit Ciri batu diorit berwarna kelabu bercampur putih, atau hitam bercampur putih.
Cara terbentuknya yaitu dari hasil peleburan lantai samudra yang bersifat mafic pada suatu
subduction zone, biasanya diproduksi pada busur lingkaran volkanis, dan membentuk suatu
gunung didalam cordilleran. Batu diorit bisa digunakan sebagai ornamen dinding atau lantai, dan
bahan bangunan.

f. Batu andesit Cirinya adalah batuan bertekstur halus, berwarna abu-abu hijau, atau jingga.
Cara terbentuknya adalah dari lelehan lava gunung api yang meletus, saat temperatur lava yang
meleleh turun antara 900 sampai dengan 1,100 derajat Celsius. Kegunaannya adalah nisan
kuburan, cobek, arca untuk hiasan, dan batu pembuat candi.
g. Batu Gabro Cirinya adalah warnanya hitam, hijau, dan abu-abu gelap. Struktur batuan ini
masif, tidak terdapat rongga atau lubang udara maupun retakan-retakan. Batuan ini memiliki
tekstur fanerik karena mineral-mineralnya dapat dilihat langsung secara kasat mata. Cara
terbentuknya dari magma yang membeku di dalam gunung. Kegunaannya adalah untuk pelapis
dinding. h. Batu liparit Cirinya bertekstur porfiris, dan umumnya berwarna putih. Mineral
pembentuknya adalah feldspar, kuarsa, biotit.

3. Jenis-jenis Batuan Sedimen Batuan sedimen, adalah batuan yang terbentuk karena
pengendapan atau hasil dari pelapukan dan pengikisan batuan yang dihanyutkan oleh air atau
terbawa oleh tiupan angin. Kemudian, endapan tersebut menjadi keras karena mendapat tekanan
atau ada zat-zat yang merekat di beberapa bagian endapan. Jenis-jenis batuan Sedimen adalah
sebagai berikut.

1. Berdasarkan tenaga/medium pengendapannya, batuan sedimen dibedakan menjadi: Batuan


sedimen aeris atau aeolis (berasal dari pengendapan angin). Contoh: tanah loss. Batuan sedimen
glasial (berasal dari pengendapan es/gletser). Contoh: moraine. Batuan sedimen aquatic (berasal
dari pengendapan air). Contoh: breksi, batu pasir. Batuan sedimen marine (berasal dari
pengendapan air laut).

2. Berdasarkan tempat pengendapannya, batuan sedimen dibedakan menjadi sebagai berikut:


Batuan sedimen teristis (diendapkan di darat). Batuan sedimen limnis atau lakustre (diendapkan
di danau). Contoh: tanah liat danau. Batuan sedimen marine atau continental (diendapkan di
laut).

Contoh: tanah merah. Batuan sedimen fluvial (diendapkan di sungai). Batuan sedimen glacial
(diendapakan di tempat yang terdapat es atau salju).

3. Berdasarkan cara pengendapannya, batuan sedimen di bedakan menjadi sebagai berikut :


Batuan sedimen klastis: terbentuk dari pelapukan batuan lain yang molekulnya mengendap,
bergabung dan mengeras menjadi satu. Contoh: breksi, batuan pasir. Batuan sedimen kimia atau
khemis: terbentuk dari proses pelapukan kimiawi yang kemudian mengalami pemisahan molekul
zat. Batuan sedimen organis: terbentuk karena kumpulan jasad renik yang menjadi batuan.

Ada 4 Contoh Batuan Sedimen Berikut beberapa contoh batuan sedimen, ciri-cirinya, proses
pembentukannya serta kegunaannya selama ini.

 Batu konglomerat Cirinya adalah material kerikil-kerikil bulat, batu-batu, dan pasir yang
merekat satu sama lainnya. Cara terbentuknya yaitu dari bahan-bahan yang lepas karena
gaya beratnya menjadi terpadatkan dan terikat. Kegunaannya sebagai bahan bangunan.
 Batu pasir Cirinya yaitu tersusun dari butiran-butiran pasir, warna abu-abu, kuning,
merah. Cara terbentuknya yaitu dari bahan-bahan yang lepas karena gaya beratnya
menjadi terpadatkan dan terikat. Adapun kegunaannya selama ini sebagai bahan
pembuatan gelas atau kaca, dan bahan bangunan.
 Batu serpih Cirinya yaitu lunak, baunya seperti tanah liat, butir-butir batuan halus.
Kemudian warnanya hijau, hitam, kuning, merah, atau abu-abu. Cara terbentuknya yaitu
dari bahan-bahan yang lepas, lalu halus karena gaya beratnya menjadi terpadatkan dan
terikat. Kegunaannya yaitu sebagai bahan bangunan.
 Batu gamping Cirinya sedikit lunak. Warnanya putih keabu-abuan, serta membentuk gas
karbon dioksida ketika ditetesi asam. Cara terbentuknya yaitu dari cangkang binatang
lunak seperti siput, kerang, dan binatang laut yang telah mati. Rangkanya yang terbuat
dari kapur tidak musnah, tetapi memadat dan membentuk batu kapur. Kegunaannya yaitu
sebagai bahan baku semen.

2.3 Bermacam-macam dan diklasifikasikan

Batuan sedimen bermacam-macam dan dapat diklasifikasikan, tetapi berbagai sumber


material dan lingkungan, membuat batuan sedimen sulit untuk diklasifikasikan dari batuan
lainnya. Secara umum batuan sedimen dibagi menjadi dua yaitu :

1. batuan klastik dan batuan non klastik (kimia-organik). Batuan sedimen dikelompokkan
berdasarkan tekstur, komposisi dan sifat batuan. Lebih 95 % dari total volume batuan
sedimen terdiri atas batu pasir, batu serpihan dan batu gamping (Hamblin dan Howard,
1980). Batu gamping adalah batuan sedimen yang sebagian besar disusun oleh kalsium
karbonat terdiri dari mineral kalsit, mengandung sedikit mineral – mineral karbonat lain
dan organisme lainnya. Sumber utama batu gamping adalah kalsit (CaCO3) (Mathur,
2008). Batu gamping merupakan hasil rombakan dari proses erosi air, transportasi dan
sedimentasi sehingga mineral-mineral yang terikut dalam proses tersebut merupakan
pengotor yang menjadikan batu gamping memiliki variasi warna seperti warna putih
susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat, merah hingga hitam. Batu gamping dapat
bersifat keras dan padat.
2. Batu gamping di Indonesia memiliki potensi besar mulai dari Sumatera, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi hingga Irian Jaya. Daerah yang memiliki potensi besar batu
gamping umumnya menjadi daerah kawasan karst yang mempunyai ciri khas khusus
yang mencakup areal luas dan geologinya.Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan
Sumatera Utara cadangan batu gamping di Sumatera Utara sangat banyak dan tersebar
luas di beberapa kabupaten, hanya saja potensi dan kualitas batu gamping tersebut belum
diketahui secara baik dan akurat seperti di Kabupaten Karo, Deli Serdang, dan Langkat.
Konsumsi batu gamping di daerah hanya digunakan untuk penetralis tanah yang memiliki
konsentrasi tanah asam tinggi dan sebagai bahan agregat penimbun jalan. Kondisi
demikian menyebabkan pemanfaatan dan konsumsi batu gamping tidak begitu besar
sementara cadangan penyebarannya begitu luas. Untuk itu perlu dilakukan kajian
sehingga konsumsi dan pemanfaatan batu gamping dapat digunakan secara optimal
dengan memperhatikan sifat fisik dan kimianya. Untuk mengetahui sifat fisik dari batu
gamping digunakan metode geofisika dan sebagai analisis tambahan untuk mengetahui
tekstur dan struktur serta komposisi mineral batuan sehingga diperoleh nama dan jenis
batuan yang lebih detail beserta genesanya digunakan analisis petografi dengan
menggunakan metode sayatan tipis (thin slice) batuan berdasarkan pengambilan sampel
batuan pada permukaan. Metode sayatan tipis (Thin Slice) merupakan metode yang
digunakan untuk menentukan warna, struktur, dan tekstur batuan dan mendapatkan
komposisi mineral batuan serta pengklasifikasian dari batuan tersebut dengan melakukan
pengamatan sayatan batuan di babawah mikroskop polarisasi bias. Pengklasifikasian
digunakan berdasarkan klasifikasi R.J. Dunham (1962). Metode sayatan tipis (thin slice)
telah dilakukan Praptisih (2012), dengan memperoleh jenis dari batu gamping yaitu jenis
boundstone yang berlimpah koral bercabang, jenis framestone yang kaya akan koral
masif, jenis cross bedded grainstone didapatkan struktur parallel laminasi, mengandung
echinoid dan milliolidae, jenis foraminiferal packstone mengandung red algae dan green
algae (Halimeda) dan jenis thin bedded wackestone-packstone yang mengandung fosil
foram besar Miogypsina sp, Operculina sp, pecahan moluska dan red algae.
3. Menurut surat kabar Medan Bisnis, penyebaran batu gamping di Kabupaten Langkat
terdapat di Kecamatan Bahorok, Salapian dan Kutambaru. Di Kecamatan Kutambaru,
terdapat sumber daya batu gamping yang merupakan daerah berbukit dan umumnya
berupa daerah ladang yang disertai adanya bebatuan. Dalam pendeteksian tentang
penyebaran batu gamping pada umumnya dapat digunakan metode geofisika. Metode
geofisika merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui kondisi di bawah
permukaan bumi yang melibatkan pengukuran di atas permukaan bumi dari parameter-
parameter fisika yang dimiliki oleh batuan di dalam bumi. Metode geofisika yang sering
digunakan antara lain metode seismik, gravitasi, magnetik dan geolistrik resistivitas.
Metode geolistrik resistivitas adalah salah satu dari jenis metode geofisika yang
digunakan untuk mempelajari keadaan bawah permukaan dengan cara mempelajari sifat
aliran listrik di dalam batuan di bawah permukaan bumi. Metode geolistrik
memanfaatkan variasi resistivitas listrik berdasarkan pengukuran beda potensial akibat
arus listrik yang diinjeksikan kedalam bumi. Metode resistivitas merupakan metode
geolistrik yang mempelajari sifat resistivitas listrik dari lapisan batuan di dalam bumi.
Metode geolistrik telah dilakukan oleh Nadliroh (2012), yang memperoleh nilai
resitivitas batu gamping sebesar 591 . Metode geolistrik memiliki beberapa konfigurasi
yang sering digunakan yaitu konfigurasi Wenner, Schlumberger dan Dipole-dipole.
Setiap konfigurasi mempunyai metode perhitungan tersendiri untuk mengetahui nilai
ketebalan dan tahanan jenis batuan di bawah permukaan (www.wikipedia.com) Metode
geolistrik konfigurasi Schlumberger merupakan metode yang banyak digunakan untuk
mengetahui nilai ketebalan dan nilai resistivitas batuan di bawah permukaan dan banyak
digunakan untuk mengetahui karakteristik lapisan batuan bawah permukaan. Keunggulan
konfigurasi Schlumberger adalah kemampuan untuk mendeteksi adanya non-
homogenitas lapisan batuan pada permukaan yaitu dengan membandingkan nilai
resitivitas semu ketika terjadi perubahan jarak elektroda arus. Sutaji (2010), melakukan
pendeteksian bawah permukaan tanah dengan menggunakan geolistrik konfigurasi
Schlumberger yang memperoleh nilai resistivitas batu gamping sebesar sampai .
4. Metode geolistrik dapat menentukan resistivitas batu gamping dan struktur batuan bawah
permukaan bumi.

2.4 Mendeskripsikan Batuan

Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, “api”) adalah jenis batuan yang
terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik
di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai
batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan
yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh
salah satu dari proses-proses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan
komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar
terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.

 Deskripsi Batuan Beku dan Warna

Dalam deskripsi batuan beku, yang pertama kali dilihat adalah warna.  Dari warna tersbebut
dapat menentukan komposisi kimia suatu batuan. Warna pada batuan beku setidaknya ada empat,
yaitu; (1) warna cerah, ini menunjukkan bahwa batuan beku tersebut bersifat asam; (2) warna
gelap-hitam, warna ini menunjukkan batuan beku bersifat interemdiet (tengah); (3) warna hitam
kehijauan, sifat kimia dari batuan seperti ini ialah basa; dan (4) warna hijau kelam, dengan warna
ini batuan beku bersifat ultra basa.

Sifat kimia dari batuan beku adalah sifat yang berdasarkan kandungan SiO2 sebagai berikut;

1. Batuan beku asam (acid), kandungan SiO2 > 65%, contohnya Granit, Ryolit.
2. Batuan beku menengah (intermediat), kandungan SiO2 65% – 52%. Contohnya Diorit,
Andesit
3. Batuan beku basa (basic), kandungan SiO2 52% – 45%, contohnya Gabbro, Basalt
4. Batuan beku ultra basa (ultra basic), kandungan SiO2 < 30%

 Struktur

Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung di permukaan
bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang memiliki berbagai struktur yang memberi
petunjuk mengenai proses yang terjadi pada saat pembekuan lava tersebut. Struktur ini
diantaranya:

1. Masif, yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang terlihat seragam.
Gambar 3. Batuan Beku Struktur Masif

 Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan.

Gambar 4. Struktur Batuan Beku Sheeting Joint

 Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah poligonal seperti
batang pensil.

Gambar 5. Struktur Batuan Beku Columnar Joint


 Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpal-gumpal. Hal ini
diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan air.

Gambar 6. Struktur Batuan Beku Pillow Lava

 Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan beku. Lubang
ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat pembekuan.

Gambar 7. Struktur Batuan Beku Vesikular

 Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral lain seperti
kalsit, kuarsa atau zeolit
Gambar 8. Struktur Batuan Beku Amigdaloidal

 Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran mineral pada arah
tertentu akibat aliran

Gambar 9. Struktur Batuan Beku Aliran

 Tekstur

Magma merupakan larutan yang kompleks. Karena terjadi penurunan temperatur, perubahan
tekanan dan perubahan dalam komposisi, larutan magma ini mengalami kristalisasi. Perbedaan
kombinasi hal-hal tersebut pada saat pembekuan magma mengakibatkan terbentuknya batuan
yang memilki tekstur yang berbeda. Ketika batuan beku membeku pada keadaan temperatur dan
tekanan yang tinggi di bawah permukaan dengan waktu pembekuan cukup lama maka mineral-
mineral penyusunya memiliki waktu untuk membentuk sistem kristal tertentu dengan ukuran
mineral yang relatif besar. Sedangkan pada kondisi pembekuan dengan temperatur dan tekanan
permukaan yang rendah, mineral-mineral penyusun batuan beku tidak sempat membentuk sistem
kristal tertentu, sehingga terbentuklah gelas (obsidian) yang tidak memiliki sistem kristal, dan
mineral yang terbentuk biasanya berukuran relatif kecil. Berdasarkan hal di atas tekstur batuan
beku dapat dibedakan berdasarkan

1. Granulitas/Besar ButirPhaneritic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhmya tersusun


oleh mineral-mineral yang berukuran kasar.
Gambar 10. Tekstur Batuan Beku Phaneritic

 Aphanitic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh mineral berukuran
halus.

Gambar 11. Tekstur Batuan Beku Aphanitic


 Derajat Kristalisasi
 Holokristalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya disusun oleh kristal

Gambar 12. Tekstur Batuan Beku Holokristalin

 Hipokristalin, yaitu batuan beku yang tersusun oleh kristal dan gelas

Gambar 13. Tekstur Batuan Beku Hipokristalin


 Holohyalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh gelas

Gambar 14. Tekstur Batuan Beku Holohyalin

 Keseragaman Butir
 Equigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya hampir sama.

Gambar 15. Tekstur Batuan Beku Equigranular


 Inequigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya tidak sama.

Gambar 16. Tekstur Batuan Beku Inequigranular

 Batuan Sedimen

Batuan  sedimen adalah batuan yang terbentuk karena adanya penyatuan dan pembatuan dari
serpihan batuan (litifikasi). Kebanyakan batuan endapan hasil proses pelapukan dan erosi dari
batuan sebelumnya. Sebagian lagi merupakan tumpukkan dari abu vulkanis, bahan-bahan
organis, meteroit, dan mineral-mineral yang terbawa air.

Singkapan Batuan Sedimen di Lapangan


Ciri-ciri Batuan Sedimen

Ciri-ciri fisik yang umum dalam struktur batuan endapan adalah:

1. Berlapis, batuan endapan membentuk lapisan antara batuan yang satu dengan yang
lainnya. Biasanya, antar batuan itu direkatkan oleh matrik sepertimateri silikon oksida.
Bidang perekat ini biasa disebut bidang perlapisan.
2. Tekstur, yaitu ciri batuan endapan yang dilihat dari ukuran butir, bentuk, dan susunan
fragmen pembentuk batuan endapan. Secara umum, terbagi menjadi dua yaitu klastik dan
non klastik.
3. Gelembur gelombang, terjadi akibat gerakan arus air pada permukaan lapisan batuan.
Biasanya terjadi di pantai atau sungai.
4. Warna, lapisan batuan endapan sering memperlihatkan warna yang berlainan antara tiap
lapisan yang berbeda sebagai akibat unsur kimia dalam lapisan batuan tersebut. Mangan
menimbulkan warna ungu gelap, limonit menyebabkan warna kuning, dan hematit
menyebabkan warna merah.
5. Kongkresi, yaitu keadaan bagian dalam lebih keras dibandingkan massa batuan
pembungkusnya. Biasanya komposisi seperti ini terdapat pada batuan serpih, batu
gamping, dan batu pasir.
6. Geoda (geode), yaitu keadaan kongkresi batuan berbentuk bulat berlubang dan pada
bagian tengah batuan terdapat deretan kristal.
7. Fosil, yaitu kondisi batuan yang terdapat sisa-sisa makhluk hidup. Beberapa batuan
sedimen terbentuk karena campuran endapan organisme yang telah mati. Sisa organisme
mati dan terendap bersama dengan material sedimen kemudian termampatkan sehingga
membentuk batuan sedimen berfosil.
8. Rekah kerut (mud crack), biasa ditemukan pada dasar perairan seperti danau, empang,
sungai, ataupun pantai. Rekah kerut ini adalah lapisan batuan yang mengendap pada
dasar perairan karena berat jenisnya.
 Batuan Metarmof

Batuan metamorf membentuk bagian yang cukup besar dari kerak bumi dan diklasifikasikan
berdasarkan tekstur, selain juga oleh susunan mineral dan susunan kimianya (fasies metamorfik).
Batuan jenis ini dapat terbentuk secara mudah akibat berada dalam kedalaman tinggi, mengalami
suhu tinggi dan tekanan besar dari lapisan batuan di atasnya. Mereka dapat terbentuk dari proses
tektonik seperti tabrakan benua, yang menyebabkan tekanan horisontal, gesekan dan distorsi.
Mereka juga terbentuk ketika batuan terpanaskan oleh intrusi dari batuan cair dan panas yang
disebut magma dari interior bumi.

Ada beberapa metrmof antara lain sb.

Perlapisan dalam batuan metamorf disebut foliasi (berasal dari kata Latin folia, yang
berarti "daun"). Foliasi terbentuk ketika batuan memendek di salah satu sumbu pada
rekristalisasi. Hal ini menyebabkan platy atau kristal yang memanjang dari mineral, seperti mika
dan klorit, memutar agar sumbu panjang mereka tegak lurus terhadap orientasi sumbu yang
memendek. Hal ini menghasilkan batuan yang berpita-pita, atau berfoliasi, dengan pita-pita yang
menunjukkan warna mineral yang membentuk mereka.

Batuan Metarmof Berfoliasi


Metamorfisme kontak adalah nama yang diberikan untuk perubahan yang terjadi ketika
magma disuntikkan ke batuan padat di sekelilingnya (country rock). Perubahan ini merupakan
perubahan terbesar di mana pun magma kontak dengan batuan karena suhu tertinggi terjadi pada
batas ini dan menurun bila semakin jauh dengan kontak. Zona yang bermetamorfisme di sekitar
batuan beku yang terbentuk dari pendinginan magma disebut aureole kontak metamorfisme.
Aureole menunjukkan semua derajat metamorfisme dari area kontak hingga area non-
metamorfisme (tidak berubah) pada country rock yang jauh dari area kontak.

Batuan metamorf tipe metamorfisme kontak yang terdiri dari lapisan-lapisan kalsit dan
serpentinit, berumur pra-kambrian

Ketika batuan kontak terubah oleh intrusi beku, batuan terubah ini umumnya menjadi
lebih keras dan memiliki kristalin kasar. Banyak batuan terubah dari metamorfisme kontak biasa
disebut batutanduk (hornfels atau hornstone). Istilah ini sering digunakan oleh ahli geologi untuk
menandakan mereka berbutir halus, kompak, dan merupakan produk non-foliasi dari
metamorfisme kontak. Sebuah serpih bisa menjadi batutanduk berlempung gelap (argillaceous
hornfels), penuh dengan lempeng - lempeng biotit kecoklatan
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1.Siklus batuan adalah suatu proses pembentukan batuan yang menggambarkan
perubahan dari magma yang membeku akibat pengaruh cuaca hingga menjadi batuan
beku, lalu sedimen, batuan sadimen dan batuan metamorphic dan akhirnya berubah
menjadi magma kembali.
2. Di bumi terdapat tiga jenis batuan, yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan
metamorf.

Anda mungkin juga menyukai