Efektivitas Tablet Fe untuk Ibu Hamil
Efektivitas Tablet Fe untuk Ibu Hamil
Oleh :
Pembimbing :
Penyanggah:
TESIS ini Adalah Hasil Karya Saya Sendiri, Dan Semua Sumber Baik Yang Dikutip
Maupun Dirujuk Telah Saya Nyatakan Dengan Benar
Tanda Tangan :
Segala Puji dan Syukur saya haturkan ke hadirat Allah SWT karena berkat
rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan tesis ini. Tesis ini disusun
untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaiakn
Program Magister Pendidikan Dokter Spesialis OBstetri dan Ginekologi. Sebagai
manusia biasa, saya menyadari bahwa tesis ini masih memiliki bnayak kekurangan dan
jauh dari kata sempurna, namun besar harapan saya kiranya tulisan sederhana ini dapat
bermanfaat dalam menambah perbendaharaan bacaan khususnya tentang:
Deri Edianto, [Link] (OG),SpOG(K) selaku penguji dan narasumber yang dengan
penuh kesabaran telah meluangkan waktunya yang sangat berharga untuk
membimbing, memeriksa dan melengkapi penulisan tesis ini hingga selesai.
Semoga ilmu yang dokter berikan dipandang Allah SWT sebagai amal jariyah di
hadapan-Nya, Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
8. Saya ucapkan juga terima kasih kepada Bapak Surya Darma selaku pembimbing
statistik saya yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan membantu
saya dalam penyelesaian analisis statistik tesis saya ini.
9. Kepala SMF Kebidanan dan Kandungan dr. TM. Ichsan, SpOG, Sekretaris SMF
Kebidanan dan Kandungan dr. Hanudse Hartono, [Link](OG), SpOG(K),
Koordinator Pelayanan dr. Risman F Kaban, [Link](OG), SpOG(K), Koordinator
Pendidikan dr. Sarah Dina, [Link](OG), SpOG(K), Koordinator Penelitian dan
Ketua Divisi Obstetri Ginekologi Sosial dr. Khairani Sukatendel, [Link](OG),
SpOG(K), Koodinator Peningkatan Mutu dr M. Fahdhy, [Link],
SpOG(K), Ketua Magister Kedokteran Klinik [Link]
Partogi,[Link](OG),SpOG.
10. Ketua Divisi Fetomaternal Dr. dr. Makmur Sitepu, [Link](OG), SpOG(K), Ketua
Divisi Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi [Link] Adenin,
[Link](OG), SpOG(K), Ketua Divisi Onkologi dr. Deri Edianto, [Link](OG),
SpOG(K), dan Ketua Divisi Uroginekologi [Link]. M. Rhiza Z Tala, [Link](OG),
SpOG(K).
11. Para guru yang saya hormati, seluruh staf pengajar Departemen Obstetri dan
Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang tidak dapat saya
sebutkan satu persatu , baik di [Link] Malik Medan, RSUD [Link]
Medan,RS USU, RSU Haji Mina Medan , RS KESDAM II Putri Hijau Medan,
RSU Sundari yang telah banyak mendidik saya sejak awal hingga akhir Pendidikan
Magister Kedokteran dan Pendidikan Dokter Spesialis di Departemen Obstetri dan
Ginekologi.
iv
12. Direktur RSUP H. Adam Malik Medan, Direktur RSUD Dr. Pirngadi Medan dan
Kepala SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD Dr. Pirngadi Medan, Direktur RSU
Haji Mina Medan dan Kepala SMF Obstetri dan Ginekologi SMF Obgyn RSU
Haji Mina Medan, Ketua Yayasan dan Direktur RSU Sundari, serta paramedis
maupun non medis-paramedis dan seluruh pegawai di lingkungan rumah sakit
yang telah memberikan kesempatan, sarana serta bantuan kepada saya untuk
bekerja selama mengikuti pendidikan Magister Kedokteran dan Pendidikan Dokter
Spesialis di Departemen Obstetri dan Ginekologi.
13. Direktur RSUD [Link] Medan dan Kepala SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD [Link] Medan beserta para Guru saya di SMF Obgyn yang telah
memberikan kesempatan dan saran kepada saya untuk bekerja selama mengikuti
Pendidikan Magister Kedokteran dan Pendidikan Dokter Spesialis di Departemen
Obstetri dan Ginekologi.
14. Direktur RS USU Medan, para Guru saya di SMF Obgyn RS USU yang telah
memberikan kesempatan dan saran kepada saya untuk bekerja selama mengikuti
Pendidikan Magister Kedokteran dan Pendidikan Dokter Spesialis di Departemen
Obstetri dan Ginekologi.
15. Direktur RSU Haji Mina Medan dan Kepala SMF Obstetri dan Ginekologi RSU
Haji Mina Medan beserta para Guru saya di SMF Obgyn yang telah memberikan
kesempatan dan saran kepada saya untuk bekerja selama mengikuti Pendidikan
Magister Kedokteran dan Pendidikan Dokter Spesialis di Departemen Obstetri dan
Ginekologi.
16. Kepala Rumkit Tingkat II Kesdam I/BB Medan dan Kepala SMF Obstetri dan
Ginekologi beserta para Guru saya di SMF Obgyn yang telah memberikan
kesempatan dan saran kepada saya untuk bekerja selama mengikuti Pendidikan
Magister Kedokteran dan Pendidikan Dokter Spesialis di Departemen Obstetri dan
Ginekologi.
v
17. Ketua Yayasan dan Direktur RSU Sundari Medan beserta para Guru saya yang
telah memberikan kesempatan dan saran kepada saya untuk bekerja selama
mengikuti Pendidikan Magister Kedokteran dan Pendidikan Dokter Spesialis di
Departemen Obstetri dan Ginekologi.
18. Kepada teman-teman satu Angkatan saya, dr Diana Seri Menina Ginting, dr. Amru
Umara, dr. Handri Rezki Vebrian, [Link] Pratama, [Link] Lazzaroni terima
kasih untuk kebersamaan dalam suka dan duka serta kerja samanya selama
pendidikan hingga saat ini.
19. Ibu [Link], Ibu Zubaidah, Ibu Mawan, Kak Asih, Kak Mimie, Vina
Lisvia, Anggi, Maya, Kak Tuti, Kak Sri, Kak Yus, Tri, Kak Pon, Kak Ozik, dan
seluruh pegawai di lingkungan RSUP HAM dan RSUD [Link], Terima kasih
atas bantuan , kerjasama dan kebersamaan selama ini.
20. Kepada dr. Cintia, [Link], dr. Beri, [Link] yang telah banyak memberikan
masukan kepada saya dalam menyelesaikan tesis Magister ini
21. Seluruh rekan sejawat PPDS terutama Tim jaga saya yang tidak dapat saya
sebutkan satu persatu baik para senior maupun junior saya, terima kasih atas
kerjasama, kebersamaan, bantuan, dorongan semangat dan doa yang telah diberikan
kepada saya.
Sembah sujud, hormat, dan terimakasih yang tak terhingga dari lubuk hati
sanubari yang terdalam saya haturkan kepada kedua orang tua yang saya hormati, cintai
dan sayangi, ayahanda [Link] (alm) dan ibunda Netty Aziarti. Sembah sujud saya
dan terimakasih yang terdalam kepada ibu yang membesarkan saya. Tiada kata yang
dapat melukiskan terimakasih tersebut kepada kedua orangtua saya, melainkan rasa
syukur yang tidak terhingga kepada ALLAH SWT karena telah menitipkan saya
kepada orangtua yang telah membesarkan, membimbing, mendoakan, mendidik dan
mendukung saya dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang, semenjak lahir hingga
saat ini. Hanya ALLAH SWT yang dapat membalas kebaikan yang telah mereka
berikan selama ini, dan semoga saya dapat menjadi hiasan dunia maupun akhirat bagi
mereka berdua, Amin.
vi
Sembah sujud, hormat dan terima kasih yang tidak terhingga saya sampaikan
kepada bapak mertua H. Ikut Tarigan dan ibu mertua Hj. Ranggut br. Sitepu yang telah
banyak membantu, mendoakan dan memberikan dorongan dan perhatian kepada saya
selama mengikuti pendidikan ini.
Buat suami saya tercinta Jaya Syahputra Tarigan, SH yang selalu memberikan
kasih sayang dan kesabaran yang luar biasa tetap mendampingi saya dalam suka
maupun duka, memberikan semangat dan menjadi suami teladan dan terhebat. Semoga
Allah selalu melindungi kita dan melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita.
Semoga kita selalu bersama selamanya.
. Kepada Anak-anakku Muammar Khadafa Widjaya Tarigan, Aryasa Febrizio
Widjaya Tarigan, Naufal Al Hafiz Widjaya Tarigan, terima kasih atas pengertian dan
penguat hati mama selama menjalani pendidikan. Maafkan mama atas kurangnya
perhatian yang mama berikan oleh karena kesibukan dan kewajiban mama dalam
menyelesaikan pendidikan, terima kasih atas doa, pelukan dan ciuman serta senyum
yang selalu kalian berikan untuk mama sehingga mendatangkan semangat baru serta
selalu kuat dan tegar dalam menyelesaikan pendidikan ini.
Kepada abang dan kakak saya, terima kasih atas bantuan , dorongan, semangat
dan doa yang telah diberikan kepada saya dalam menjalani pendidikan ini. Kepada
seluruh pihak yang tidak saya sebutkan maupun tidak tersebut sebelumnya, saya
memohon maaf atas segala kekhilafan yang saya lakukan selama ini, baik yang disadari
maupun tidak. Semoga kita semua selalu menjadi orang-orang yang rendah hati, ikhlas,
bersyukur, serta selalu dalam ampunan, kemudahan, dan kasih sayang dari ALLAH
SWT, Amin.
Sebagai sivitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan
dibawah ini :
Fakultas : Kedokteran
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-
eksklusif ini Departemen Obstetri & Ginekologi Universitas Sumatera Utara berhak
menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data
(database), merawat, dan memubliskan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan
nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Dibuat di : Medan
Pada tanggal : Juli 2019
Yang menyatakan
Widya N Pandia, Sarma N Lumbanraja, Iman Helmi Effendi, Letta S Lintang, Indra G
Munthe, Deri Edianto Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara
Abstrak
Tujuan:
mengetahui perbedaan kadar Hb ibu hamil sebelum dan sesudah pemberian 90 tablet besi
Metode:
Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan Eksperimental yang menilai kadar
Hb ibu hamil sebelum dan sesudah dilakukan pemberian tablet besi. Peneliti sebelumnya akan
mencari wanita hamil trimester II di RSUD Muhammad Sani Kabupaten Karimun, Kepulauan
Riau kemudian dilakukan penilain kadar Hb pada wanita tersebut sebelum dan sesudah
dilakukan pemberian tablet besi.
Hasil:
Dari hasil penelitian didapatkan sebaran usia subjek penelitian dimana subjek paling banyak
berada pada kelompok usia 20-34 mingu yaitu sebanyak 92 orang (82,1%) dan diikuti oleh
kelompok usia diatas 34 tahun sebanyak 16 orang (14,3%), mayoritas pasien adalah
multigravida 61 (54,4). Rerata umur sampel pada penelitian ini adalah 28±6 tahun dan rerata
LILA 30,09 ± 2,6 cm. pemberian tablet besi ternyata memiliki nilai yang signifikan terhadap
peningkatan kadar HB pada ibu hamil tidak perduli apakah ibu hamil awalnya menderita
anemia ataupun tidak. Dari tabel terlihat bahwa, pada ibu anemia dengan kadar rerata HB 9,3
setelah pemberian tablet besi 90 butir mengalami peningkatan HB menjadi 12,4. Sedangkan
pada ibu hamil dengan kadar HB awal 11,4 dimana tidak mengalami anemia, pemberian tablet
besi juga secara signifikan meningkatkan rerata kabar HB menjadi 12,9. nilai rata-rata Hb
sebelum pemberian tablet besi adalah 9,62 mg/dl ± 1,0 sedangkan Hb setelah pemberian tablet
besi mengalami peningkatan sejumah 12,4 mg/dl ± 10,7. Kemudian dilakukan analisa secara
statistik dengan Wilcoxon terhadap Hb sebelum dan sesudah pemberian tablet besi selama 90
hari dijumpai nilai p 0,000.
Kesimpulan:
Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa pemberian 90 tablet FE efektik meningkatkan kadar
HB pada ibu hamil
Kata kunci:
Ibu hamil, tablet besi, FE, HB
ix
Abstract
Objective:
Dtermine the difference in Hb levels of pregnant women before and after administration of 90
iron tablets
Method:
This study is an analytical study with an Experimental approach that assesses Hb levels of
pregnant women before and after administration of iron tablets. Previous researchers will look
for second trimester pregnant women at Muhammad Sani Hospital Karimun Regency, Riau
Islands, and then assess Hb levels for these women before and after administration of iron
tablets.
Results:
From the results of the study found the age distribution of research subjects where the subjects
were mostly in the age group of 20-34 weeks as many as 92 people (82.1%) and followed by
the age group above 34 years as many as 16 people (14.3%), the majority of patients was
multigravida 61 (54.4). The average age of the sample in this study was 28 ± 6 years and the
mean LILA was 30.09 ± 2.6 cm. administration of iron tablets turned out to have a significant
value on increasing HB levels in pregnant women regardless of whether pregnant women
initially suffered anemia or not. From the table it can be seen that, in anemic mothers with a
mean HB level of 9.3 after administration of iron tablets 90 grains experienced an increase in
HB to 12.4. Whereas for pregnant women with an initial HB level of 11.4 where there is no
anemia, administration of iron tablets also significantly increases the average HB to 12.9. the
mean value of Hb before administration of iron tablets was 9.62 mg / dl ± 1.0 while Hb after
administration of iron tablets had an increase of 12.4 mg / dl ± 10.7. Then a statistical analysis
with Wilcoxon on Hb was carried out before and after administration of iron tablets for 90
days with a p value of 0,000.
Conclusion:
Based on the research it was found that administration of 90 effective FE tablets increased HB
levels in pregnant women
Keywords:
Pregnant women, iron tablets, FE, HB
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................ i
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .................... vii
ABSTRAK ............................................................................................ viii
ABSTRACT ............................................................................................ ix
DAFTAR ISI ............................................................................................ x
DAFTAR TABEL ................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xiii
DAFTAR SINGKATAN ......................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................... 4
1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................. 4
1.3.1. Tujuan Umum ....................................................................... 4
1.3.2. Tujuan Khusus ...................................................................... 4
1.4. Manfaat Penelitian ........................................................................... 5
1.4.1. Manfaat Teoritis .................................................................... 5
1.4.2. Manfaat Metodologis ............................................................. 5
1.4.3. Manfaat Aplikatif ................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 6
2.1. Definisi Anemia Defisiensi Besi ........................................................ 6
2.2. Definisi Hemoglobin ......................................................................... 7
2.3. Fisiologi Kehamilan .......................................................................... 8
2.4. Kebutuhan Besi Selama Hamil ........................................................ 9
2.5. Prevalensi dan Faktor Resiko ........................................................ 11
2.6. Patofisiologi Anemia pada Kehamilan ............................................ 14
2.7. Diagnosis ........................................................................................ 19
2.7.1. Gejala Klinis ...................................................................... 19
2.7.2. Pemeriksaan Laboratorium ............................................... 20
2.8. Sediaan Zat Besi ........................................................................... 23
2.9 Tatalaksana ................................................................................... 25
2.9.1. Terapi Besi ............................................................. ……...25
2.9.2. Modifikasi / Perbaikan Makanan ............................. ……...30
2.9.3. Fortifikasi makanan................................................. ……...33
2.10. Pencegahan................................................................................... 33
2.11. Efek Samping Pemberian Suplementasi Zat Besi .......................... 36
2.12. Kerangka Teori .............................................................................. 39
2.13. Kerangka Konsep .......................................................................... 40
2.14. Hipotesis ....................................................................................... 41
x
3.2.2..Waktu Penelitian ............................................................................ ……...42
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian........................................................................ 42
[Link] Penelitian ......................................................................... ……...42
[Link] Penelitian ........................................................................... ……...43
3.4. Kriteria Inklusi dan Eklusi...................................................................................... 44
[Link] Inklusi ................................................................................... ……...44
[Link] Ekslusi .................................................................................. ……...44
3.5. Identifikasi Variabel ................................................................................................. 44
[Link] Bebas ................................................................................. ……...44
[Link] Tergantung ...................................................................... ……...44
3.6. Defenisi Operasional............................................................................................... 45
3.7. Cara Kerja dan Teknik Pengumpulan Data................................................... 46
3.8. Rancangan analis ...................................................................................................... 46
3.9. Etika penelitian ............................................................................................................ 46
3.10. Kerangka kerja ........................................................................................................... 47
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 48
4.1. Hasil Penelitian .......................................................................................................... 48
[Link] karakteristik subjek penelitian .............................. ……...48
4.1.2 Kadar Hb berdasarkan karakteristik subjek penelitian................. 49
4.1.3 Perbandingan Kadar Hemoglobin Sebelum dan Sesudah
Pemberian Tablet Besi .................................................................................. ……52
4.2. Pembahasan ................................................................................................................ 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 59
5.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 59
5.2 Saran ................................................................................................................................. 59
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 61
xi
DAFTAR TABEL
Halaman
xii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
xiii
DAFTAR SINGKATAN
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
1
padahal telah dikeluarkan Permenkes 88 tahun 2014 mengenai pemberian tablet
besi 90 butir selama kehamilan.2
Infodatin Depkes menyatakan bahwa ibu hamil dikatakan anemia apabila
kadar HB < 11 gr/dl. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonsia
Nomor 88 Tahun 2014 tentang standar tablet tambah darah bagi wanita usia subur
dan ibu hamil dikatakan bahwa tablet besi diberikan setiap hari selama kehamilan
atau minimal 90 tablet selama kehamilan. Pemberian tablet tambah darah sebagai
salah satu upaya penting dalam pencegahan dan penanggulangan anemia yang
merupakan cara yang efektif karena dapat mencegah dan menanggulangi anemia
akibat kekurangan zat besi dan atau asam folat3.
Anemia pada ibu dapat menyebabkan prematuritas dan pertumbuhan janin
terhambat. Perhatian utama tentang efek buruk anemia pada wanita hamil adalah
risiko kematian perinatal yang lebih besar. Terdapat banyak bukti yang
menunjukkan bahwa berat lahir bayi rendah pada ibu yang melahirkan prematur
akibat anemia. Hubungan antara anemia dan skor apgar bayi yang rendah banyak
dilaporkan dalam beberapa penelitian. Tablet besi secara signifikan mempengaruhi
status zat besi ibu selama kehamilan.1,4
Studi yang dilakukan pada tahun 1990-an, ketika beberapa negara menerima
dorongan dari WHO dan berbagai lembaga pendanaan untuk penelitian dan
intervensi agar melakukan tablet besi pada ibu hamil, menunjukkan bahwa cakupan
tablet besi selama kehamilan adalah 22% di Yaman, 32% di Eritrea, 44% di
Tanzania dan sekitar 75% di Ghana, Indonesia dan Filipina. Di Thailand dan
Nikaragua, setelah dilakukan intervensi, tingkat anemia menurun sekitar 40%
selama 10 tahun. Di negara-negara ini, tingkat cakupan tablet besi sekitar 85%.
Pemberian tablet besi harus diberikan kepada semua ibu, tujuan program tablettsasi
adalah untuk mencapai cakupan yang seluas mungkin.4
Dalam penelitian yang dilakukan Revankar et all (2017), mereka
menemukan bahwa pada pemberian tablet Ferrous Sulfate, terjadi peningkatan HB
rata-rata dari 9,18 ± 1,17 g / dl menjadi 10.19 ± 1.15g / dl setelah 1 bulan
pengobatan dan setelah 2 bulan pengobatan Hb meningkat menjadi 10.77 ± 1.13g
/ dl. Penelitian serupa dilakukan di rumah sakit Safdarjang pada 21 pasien dengan
pemberian Ferrous Sulfate, Hb saat rekrutmen awal penelitian adalah 8,21 ± 0,70
2
g / dl. Setelah 1 bulan dan 2 bulan pengobatan, Hb meningkat menjadi 9,24 ± 0,64g
/ dl 10,08 ± 0,74 g / dl.5
Dalam tinjauan sistematis Cochrane yang mengevaluasi efektivitas tablet
besi harian saja atau bersama dengan asam folat atau mikronutrien lainnya
dibandingkan dengan plasebo atau tidak ada zat besi pada wanita hamil. Tablet besi
profilaksis menunjukkan penurunan yang signifikan dalam risiko kejadian anemia
ibu (70%), serta anemia defisiensi besi (57%) pada kehamilan aterm. Wanita yang
diobati dengan besi memiliki kemungkinan lebih besar untuk memiliki konsentrasi
Hb yang lebih tinggi pada jangka waktu dan dalam periode pasca-partum. Meskipun
demikian, mereka memiliki risiko yang relatif tinggi untuk memiliki konsentrasi Hb
3
• Untuk mengetahui kadar Hb ibu hamil trimester II sebelum pemberian tablet
besi
• Untuk mengetahui kadar Hb ibu hamil trimester II sesudah pemberian tablet
besi.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat Teoritis
Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui efektivitas
pemberian tablet besi pada wanita hamil dengan luaran berupa peningkatan kadar
Hb. Dengan begitu tatalaksana dan juga profilaksis wanita hamil dengan anemia
dapat lebih baik lagi.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
5
2.2. Definisi Hb
Hb adalah protein berpigmen merah yang terdapat dalam sel darah merah. Hb
adalah suatu protein dalam sel darah merah yang mengantarkan oksigen dari paru-
Hb adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai
karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Kandungan zat besi yang terdapat
diekskresikan keluar. Hb dibentuk di dalam sel darah merah ketika sel darah merah
Hb terbuat dari empat molekul protein (globulin chain) yang terhubung satu
sama lain. Hb normal pada orang dewasa (HbA) terdiri dari 2 alpha-globulin chains
Kadar hb adalah banyak gram hb per 100 ml darah merah. Batas normal nilai
hb untuk seseorang sukar ditentukan karena kadar hb bervariasi diantara setiap suku
bangsa. Namun WHO telah menetapkan batas kadar hb normal berdasarkan umur
jaringan tubuh dan membawa kembali karbondioksida dari seluruh sel ke paru-paru
6
menerima, menyimpan dan melepas oksigen di dalam sel-sel otot. Sebanyak
7
akan menghasilkan sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kurang
untuk wanita hamil. Oleh karena itu, wanita tidak dapat memenuhi kebutuhan zat
besi mereka dari asupan makanan normal, dan harus menggunakan cadangan besi,
meningkatkan risiko anemia defisiensi besi. CDC merekomendasikan bahwa semua
ibu hamil membutuhkan tablet besi 30 mg per hari pada kunjungan prenatal
pertama, WHO menyarankan 60 mg per hari untuk semua wanita hamil, sedangkan
pedoman Inggris tidak merekomendasikan tablet besi rutin dalam kehamilan.14,15
Kebutuhan zat besi tubuh untuk kehamilan rata-rata adalah sekitar 1.000
mg. Hallberg (1988) menghitung bahwa 350 mg zat besi hilang ke janin dan
plasenta dan 250 mg hilang dalam darah saat melahirkan. Selain itu, dibutuhkan
sekitar 450 mg zat besi untuk peningkatan besar massa sel darah merah ibu.
Terakhir, kehilangan basal zat besi dari tubuh berlanjut selama kehamilan dan
jumlahnya mencapai sekitar 240 mg. Dengan demikian, kebutuhan zat besi total
kehamilan (tidak termasuk kehilangan darah saat melahirkan) rata-rata sekitar
1.040 mg. Kehilangan zat besi permanen selama kehamilan termasuk kehilangan
janin dan plasenta, kehilangan darah saat melahirkan, dan kehilangan basal, yang
secara keseluruhan berjumlah 840 mg.
Total kebutuhan zat besi sedikit lebih dari 1.000 mg terkonsentrasi dalam
dua trimester terakhir kehamilan. Jumlah ini setara dengan sekitar 6 mg zat besi
yang diserap per hari pada seorang wanita yang memulai kehamilan dengan tidak
adanya atau penyimpanan zat besi minimal. Ini adalah jumlah besar zat besi yang
terakumulasi selama periode 6 bulan, terutama bila dibandingkan dengan rata-rata
total kandungan zat besi 2.200 mg dan zat besi 1.3 mg yang diserap per hari oleh
wanita tidak hamil.
Meskipun 450 mg zat besi untuk produksi sel darah merah harus dipasok
selama kehamilan, sebagian besar dari ini kemudian dapat menambah simpanan zat
besi setelah persalinan pervaginam, ketika massa sel darah merah menurun.
Hasilnya analog dengan injeksi zat besi pascapersalinan: kadar feritin serum akan
meningkat secara spontan dalam beberapa bulan setelah melahirkan pada sebagian
besar wanita yang mengalami defisiensi zat besi ringan selama akhir kehamilan
8
karena zat besi yang dilepaskan oleh penurunan massa sel darah merah 36,37,38.
Status zat besi postpartum juga ditingkatkan dengan penurunan kehilangan zat besi
selama periode ini: kurang dari 0,3 mg / hari hilang dalam ASI, dan menstruasi
jarang terjadi pada wanita selama beberapa bulan pertama menyusui.
Kehilangan darah rata-rata selama persalinan sesar hampir dua kali lipat
terjadi dengan persalinan pervaginam janin tunggal; Oleh karena itu peningkatan
postpartum dalam status zat besi mungkin kurang lengkap setelah sesar.
Berdasarkan penelitian didapati bahwa pemberian besi elemental sebanyak 60 mg
per hari dapat memenuhi kekurangan zat besi selama kehamilan sehingga kemenkes
mengeluarkan rekomendasi pemberian zat besi minimal selama 90 hari.
9
Tabel 2.1. Perkiraan Prevalensi Anemia pada Wanita Hamil dan Wanita
yang Tidak Hamil (15 - 49 tahun).18
Faktor risiko yang paling sering menyebabkan anemia defisiensi besi atau
kekurangan zat besi pada wanita hamil adalah asupan makanan yang tidak kaya zat
besi (misalnya, pola makan vegan), memiliki masalah pencernaan yang
mempengaruhi penyerapan, atau memiliki interval pendek antar kehamilan. Selain
itu, pada tahun 1999 hingga 2006, data NHANES menemukan prevalensi anemia
defisiensi besi yang lebih tinggi di kalangan wanita kulit hitam non-Hispanik (30%)
dan Meksiko (24%) dibandingkan wanita kulit putih (14%).16,19
Dalam satu penelitian, paritas dua atau lebih dikaitkan dengan peningkatan
prevalensi defisiensi besi (28%) dibandingkan dengan paritas nol (12%) atau satu
(17%); Namun, tidak ada asosiasi yang ditemukan pada wanita dengan tingkat
pendidikan yang lebih rendah atau pendapatan keluarga, yang disebutkan sebagai
faktor risiko pada penelitian lain.16
Sebagai contoh, sebuah penelitian terhadap wanita setelah 6 bulan
postpartum ditemukan bahwa 10 % dari mereka dengan pendapatan rendah dengan
rasio indeks kemiskinan kurang dari 130 persen (tingkat yang digunakan untuk
menentukan status bantuan Federal) memiliki anemia defisiensi besi dibandingkan
dengan 2 % wanita dengan tingkat pendapatan berada di atas ambang. Anemia
defisiensi besi pada kehamilan dapat bertahan hingga periode postpartum, dengan
perkiraan prevalensi 4%. Studi dan analisis NHANES juga menemukan adanya
korelasi antara indeks massa tubuh yang lebih tinggi dan penurunan kadar zat besi
pada wanita hamil.16
Anemia masih tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat
dengan dampak global, terutama di negara-negara berkembang36 dan di antara
kelompok-kelompok rentan, seperti wanita hamil dan menyusui dan anak-anak39.
10
Sebagai faktor yang berkontribusi terhadap siklus setan kekurangan gizi36, Anemia
11
a. Volume Darah
Volume darah meningkat sekitar 1500 ml. Peningkatan terdiiri atas 1000 ml
plasma ditambah 450 ml sel darah merah (SDM). Peningkatan dari volume
plasma adalah penyebab anemia fisiologis pada kehamilan. Volume plasma
yang meningkat menyebabkan hematokrit, konsentrasi hb darah, dan jumlah
eritrosit di sirkulasi mengalami penurunan tetapi tidak mengurangi jumlah
absolut dari hb atau jumlah eritrosit pada keseluruhan sirkulasi. Volume
plasma mulai meningkat dari minggu ke-6 kehamilan tetapi tidak sesuai
dengan jumlah sel darah merah. Biasanya peningkatan volume plasma
mencapai puncaknya pada usia kehamilan 32 minggu. Pada puncaknya,
volume plasma pada wanita yang hamil adalah 40% lebih tinggi dibandingkan
pada wanita yang tidak hamil.
b. Kompinen Darah
Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk mengimbangi
pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi pertambahan sel darah merah tidak
seimbang dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodilusi yang
disertai anemia fisiologis. Secara fisiologis, hemodilusi terjadi untuk
membantu meringankan kerja jantung. Hemodilusi terjadi sejak usia kehamilan
10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 32-36 minggu. Bila hb
ibu sebelum hamil berkisar 11 gr%, maka dengan terjadinya hemodilusi akan
mengakibatkan anemia fisiologis dan Hb ibu akan menurun
menjadi 9,5-10,0 gr%.
2. Anemia Patologis
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hb di bawah 11 gr%
pada trimester I dan III atau kadar hb < 10,5 gr% pada trimester II ( Depkes RI,
2009 ). Anemia adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau
menurunnya hb, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan
organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi berkurang.
Hb yaitu komponen sel darah merah yang berfungsi menyalurkan oksigen ke
seluruh tubuh, jika Hb berkurang, jaringan tubuh kekurangan oksigen. Oksigen
diperlukan tubuh untuk bahan bakar proses metabolisme. Zat besi merupakan
bahan baku pembuat sel darah merah. Ibu hamil mempunyai
12
tingkat metabolisme yang tinggi misalnya untuk membuat jaringan tubuh
janin, membentuknya menjadi organ dan juga untuk memproduksi energi agar
ibu hamil bisa tetap beraktifitas normal sehari – hari. Fungsi Hb merupakan
komponen utama eritrosit yang berfungsi membawa oksigen dan
karbondioksida. Warna merah pada darah disebabkan oleh kandungan Hb yang
merupakan susunan protein yang komplek yang terdiri dari protein, globulin
dan satu senyawa yang bukan protein yang disebut heme. Heme tersusun dari
suatu senyawa lingkar yang bernama porfirin yang bagian pusatnya ditempati
oleh logam besi (Fe). Jadi heme adalah senyawa-senyawa porfirin-besi,
sedangkan hb adalah senyawa komplek antara globin dengan heme
Anemia Defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi
dalam darah, artinya konsentrasi hb dalam darah berkurang karena
terganggunya pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat
besi dalam darah. Jika simpanan zat besi dalam tubuh seseorang sudah sangat
rendah berarti orang tersebut mendekati anemia walaupun belum ditemukan
gejala-gejala fisiologis. Simpanan zat besi yang sangat rendah lambat laun
tidak akan cukup untuk membentuk sel-sel darah merah di dalam sumsum
tulang sehingga kadar hb terus menurun di bawah batas normal, keadaan inilah
yang disebut anemia defisiensi besi. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya
saturasi transferin, berkurangnya kadar feritin serum atau hemosiderin sumsum
tulang. Secara morfologis keadaan ini diklasifikasikan sebagai anemia
mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintesis hb. Defisiensi
besi merupakan penyebab utama anemia. Wanita usia subur sering mengalami
anemia, karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan
kebutuhan besi sewaktu hamil. Anemia defisiensi zat besi (kejadian 62,30%)
adalah anemia dalam kehamilan yang paling sering terjadi dalam kehamilan
akibat kekurangan zat besi. Kekurangan ini disebabkan karena kurang
masuknya unsur zat besi dalam makanan, gangguan reabsorbsi, dan
penggunaan terlalu banyaknya zat besi.
a. Penyebab anemia pada ibu hamil
13
Penyebab anemia umunya adalah kurang gizi, kurang zat besi, kehilangan
darah saat persalinan yang lalu, dan penyakit – penyakit kronik. Dalam
kehamilan penurunan kadar hb yang dijumpai selama kehamilan disebabkan
oleh karena dalam kehamilan keperluan zat makanan bertambah dan terjadinya
perubahan-perubahan dalam darah : penambahan volume plasma yang relatif
lebih besar daripada penambahan massa hb dan volume sel darah merah. Darah
bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau
hipervolemia. Namun bertambahnya sel-sel darah adalah kurang jika
dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran
darah. Di mana pertambahan tersebut adalah sebagai berikut : plasma 30%, sel
darah 18%, dan hb 19%. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri
secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita hamil tersebut.
Pengenceran ini meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat
dalam masa hamil, karena sebagai akibat hipervolemia tersebut, keluaran
jantung (cardiac output) juga meningkat. Kerja jantung ini lebih ringan apabila
viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan
darah tidak naik.
b. Gejala anemia pada ibu hamil
Ibu hamil dengan keluhan lemah, pucat, mudah pingsan, dengan tekana darah
dalam batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi besi. Dan secara klinis
dapat dilihat tubuh yang pucat dan tampak lemah (malnutrisi). Guna
memastikan seorang ibu menderita anemia atau tidak, maka dikerjakan
pemeriksaan kadar Hb dan pemeriksaan darah tepi. Pemeriksaan Hb dengan
spektrofotometri merupakan standar.
Proses kekurangan zat besi sampai menjadi anemia melalui beberapa tahap:
awalnya terjadi penurunan simpanan cadangan zat besi dalam bentuk fertin di
hati, saat konsumsi zat besi dari makanan tidak cukup, fertin inilah yang
diambil. Daya serap zat besi dari makanan sangat rendah, Zat besi pada pangan
hewan lebih tinggi penyerapannya yaitu 20 – 30 % sedangkan dari sumber
nabati 1-6 %. Bila terjadi anemia, kerja jantung akan dipacu lebih cepat untuk
memenuhi kebutuhan O2 ke semua organ tubuh, akibatnya penderita sering
berdebar dan jantung cepat lelah. Gejala lain adalah lemas,
14
cepat lelah, letih, mata berkunang kunang, mengantuk, selaput lendir , kelopak
mata, dan kuku pucat (Sin sin, 2008).
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam
kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit-penyulit
yang dapat timbul akibat anemia adalah : keguguran (abortus), kelahiran
prematurs, persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam
berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya
kontraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik saat bersalin maupun
pasca bersalin, serta anemia yang berat (<4 gr%) dapat menyebabkan
dekompensasi kordis. Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan
kematian ibu pada persalinan.
Anemia juga menyebabkan retradasi pertumbuhan janin , misalnya BBLR
karena plasenta ibu yang tidak mendapat makanan adekuat, berisi sedikit sel
yang ukurannya lebih kecil dan kurang mampu menyintesis nutrein yang
dibutuhkan.
2.7. Diagnosis
2.7.1 Gejala Klinis
Tanda-tanda utama dan gejala anemia defisiensi besi meliputi kelelahan,
kapasitas fisik dan mental yang rendah, sakit kepala, vertigo, kram kaki, pagofagia,
intoleransi dingin, koilonychias, mukosa pucat, dan stomatitis pada sudut mulut.
Anemia defisiensi besi selama kehamilan menimbulkan sejumlah masalah pada ibu
dan janin, termasuk kelahiran prematur, keterbelakangan perkembangan intrauterin,
masalah plasenta, penurunan penyimpanan besi pada bayi baru lahir, risiko
penurunan cadangan darah ibu selama kelahiran, dan kebutuhan untuk transfusi
serta kasus kehilangan darah berat, stres jantung, gejala anemia, lamanya perawatan
di rumah sakit, penurunan produksi ASI ibu, dan penipisan simpanan besi pada saat
dan setelah periode postpartum. Dengan demikian, diagnosis dan pengobatan yang
15
2.7.2. Pemeriksaan Laboratorium
Faktor yang paling penting dalam diagnosis anemia defisiensi besi adalah
uji laboratorium. Temuan laboratorium klasik anemia defisiensi besi termasuk
penurunan kadar hb, konsentrasi zat besi serum, saturasi transferin serum, dan
tingkat ferritin serum, dan peningkatan kapasitas pengikat total besi. Faktanya, kita
cukup menilai hasil hitung darah lengkap dan serum ferritin untuk mendiagnosis
anemia defisiensi besi. Konsentrasi feritin serum <30 μg / L bersama dengan
konsentrasi Hb <11 g / dL selama trimester pertama, <10,5 g / dL selama trimester
ke-2, dan <11 g / dL selama trimester ke-3 adalah kriteria diagnostik untuk anemia
selama kehamilan . Pengukuran konsentrasi feritin serum adalah tes yang paling
akurat pada pasien tanpa peradangan yang mendasarinya, dan kadar feritin serum
di bawah nilai ambang saja sudah cukup untuk diagnosis tanpa adanya tes lain;
Namun, dokter harus menyadari bahwa serum ferritin juga merupakan reaktan pada
fase akut dan mungkin normal, bahkan meningkat, di bawah kondisi peradangan
meskipun adanya anemia, dan dalam kasus tertentu diperlukan konfirmasi
16
anemia harus dimulai (perhatikan bahwa besi intravena tidak diperlukan untuk
penggunaan pada trimester pertama); jika kadar ferritin dan hb normal, terapi oral
harus dimulai. Tidak perlu mengukur serum ferritin lagi di kemudian hari dalam
kehamilan kecuali gejala anemia terjadi. Di sisi lain, Hb harus diukur pada setiap
trimester karena kemungkinan peningkatan kebutuhan zat besi, bahkan jika nilai
baseline normal. Selain itu, konsentrasi Hb selama persalinan penting karena Hb
ibu yang rendah dapat menyebabkan masalah janin, termasuk kematian.20
Jika serum feritin rendah (<30 μg / L), tetapi Hb normal (≥11 g / dL selama
trimester pertama, ≥10.5 g / dL selama trimester ke-2, dan ≥11 g / dL selama
trimester ke-3) diagnosis adalah defisiensi besi; Namun, jika serum ferritin rendah
(<30 μg / L) dan Hb juga rendah (<11 g / dL selama trimester pertama, <10,5 g / dL
selama trimester ke-2, dan <11 g / dL selama trimester ke-3 ), diagnosis adalah
anemia defisiensi besi. Ketika Hb rendah (<11 g / dL selama trimester pertama,
<10,5 g / dL selama trimester ke-2, dan <11 g / dL selama trimester ke-3), tetapi
serum ferritin normal (≥30 μg / L) tambahan tes, seperti saturasi transferin, serum
besi, kapasitas pengikatan total besi, dan protein C-reaktif (CRP), diperlukan untuk
diagnosis. Ketika serum feritin normal (≥30 μg / L), tetapi mean corpuscular volume
(MCV) rendah (<70 fL) tanpa adanya peradangan, diagnosisnya mungkin
17
2.8. Sediaan Zat Besi
Defisiensi zat besi berespons sangat baik terhadap pemberian obat oral seperti
garam besi (misalnya sulfas ferosus) atau sediaan polisakarida zat besi (misalnya
polimaltosa ferosus). ²Terapi zat besi yang dikombinasikan dengan diit yang benar
untuk meningkatkan penyerapan zat besi dan vitamin C sangat efektif untuk
mengatasi anemia defisiensi besi karena terjadi peningkatan jumlah hb dan
cadangan zat besi. CDC merekomendasikan penggunaan elemen zat besi sebesar
60 mg, 1-2 kali perhari bagi remaja yang menderita anemia. Contoh dari suplemen
yang mengandung zat besi dan kandungan elemen zat besi dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.
Zat besi paling baik diabsorpsi jika dimakan diantara waktu makan.
Sayangnya, ketidaknyamanan abdominal, yang ditandai dengan kembung, rasa
penuh dan rasa sakit yang kadang-kadang, biasanya muncul dengan sediaan besi
ini. Tetapi resiko efek samping ini dapat dikurangi dengan cara menaikkan dosis
18
secara bertahap, menggunakan zat besi dosis rendah, atau menggunakan preparat
yang mengandung elemen besi yang rendah, salah satunya glukonat ferosus.
Pasien dapat tidak berespon dengan penggantian zat besi sebagai akibat
dari:
2.9. Tatalaksana
2.9.1. Terapi besi
Dosis besi yang diperlukan untuk mengobati anemia defisiensi besi pada
orang dewasa adalah 120 mg per hari selama tiga bulan. Peningkatan hb 1 gr/dl
setelah satu bulan pengobatan menunjukkan respon yang adekuat terhadap
pengobatan dan menegaskan diagnosis. Pada orang dewasa, terapi harus dilanjutkan
selama tiga bulan setelah anemia dikoreksi agar cadangan besi di jaringan terisi
kembali.7
Kepatuhan terhadap terapi besi oral dapat menjadi penghalang untuk
pengobatan karena efek samping GI seperti ketidaknyamanan epigastrium, mual,
diare, dan sembelit. Efek ini dapat dikurangi ketika zat besi diminum dengan
makanan, tetapi penyerapan dapat menurun hingga 40 persen. Obat-obatan seperti
inhibitor pompa proton dan faktor-faktor yang menyebabkan hiposekresi asam
19
lambung (misalnya, gastritis atrofi kronis, gastrektomi atau vagotomi baru-baru ini)
dapat menyebabkan berkurangnya penyerapan zat besi.7
Manajemen anemia defisiensi besi pada kehamilan harus dimulai di
masyarakat tanpa menunda intervensi medis. Pemberian besi oral terapeutik dapat
dilakukan bahkan di lingkungan masyarakat, dan jika Hb membaik, perawatan
dapat dilanjutkan lebih lama. Sediaan besi yang umum tersedia adalah sulfat
ferrosus, besi fumarat dan besi glukonat. Dosis yang didapat dari 60 mg besi unsur
adalah 300 mg besi sulfat heptahidrat, 180 mg besi fumarat dan 500 mg besi
glukonat. Dosis yang diperlukan untuk pengobatan anemia defisiensi besi adalah
100-200 mg zat besi per hari. Dosis yang lebih tinggi tidak boleh digunakan karena
penyerapan besi jenuh pada tingkat ini dan zat besi lebih lanjut hanya akan
meningkatkan efek samping gastrointestinal.23
Nasihat yang tepat tentang cara meminum tablet besi harus menjadi bagian
integral dari resep. Tablet besi oral antenatal idealnya diminum setidaknya satu jam
sebelum makan, bersama dengan vitamin C atau jus buah, tetapi tidak dengan teh
atau kopi, karena polifenol dapat menghambat penyerapan zat besi. Tablet kalsium
antenatal harus diberikan pada waktu yang berbeda karena kalsium menghambat
penyerapan zat besi non-haeme. Konsumsi makanan yang mengandung zat besi
haeme, seperti daging merah, unggas dan ikan harus diperbanyak. Makanan sereal
biasa atau makanan berbasis legum, yang tidak mengandung besi, harus dihindari
karena efek penghambatan dari phytates pada penyerapan zat besi.23
Pengolahan makanan dan teknik persiapan, seperti perendaman,
perkecambahan, dan fermentasi, dapat menghilangkan atau menurunkan phytate ke
tingkat yang bervariasi, dan oleh karena itu harus dimakan pada waktu yang
terpisah. Obat lain seperti inhibitor pompa proton dapat mempengaruhi penyerapan
zat besi dan obat-obatan tersebut harus dihindari saat mengkonsumsi tablet besi.
Penyuluhan kesehatan dan membuat program pengingat pemberian besi pada ibu
hamil terbukti efektif meningkatkan kepatuhan ibu dalam mengkonsumsi zat besi.
Jika seorang wanita mengalami efek samping gastrointestinal yang menyulitkan
sebagai akibat dari tablet besi, dosis harus dikurangi atau dapat dicoba memberikan
sediaan besi yang lain. Karena zat besi
20
terutama diserap di duodenum, sediaan seperti tablet salut enterik, yang
mengganggu penyerapan, tidak boleh digunakan. Setiap wanita yang dirawat
karena anemia defisiensi besi harus menerima dosis terapeutik setidaknya tiga
bulan setelah Hb normal tercapai, untuk mengisi kembali penyimpanan besi. 23
Besi parenteral merupakan alternatif untuk besi oral dalam pengobatan
anemia defisiensi besi. Namun, karena biaya dan risiko komplikasi yang lebih
tinggi, penggunaannya terbatas pada pasien tertentu. Indikasi untuk terapi besi
parenteral termasuk ketidakpatuhan atau intoleransi terhadap besi oral atau sindrom
malabsopsi.23
Meskipun besi parenteral memiliki kemampuan untuk mengisi kembali
persediaan besi lebih cepat, tingkat peningkatan status Hb serupa dengan besi oral.
Namun, zat besi parenteral lebih dipilih pada pasien dengan anemia defisiensi besi
pada kehamilan lanjut yang lebih dekat dengan persalinan, karena lebih efektif.
Karena overtreatment dengan zat besi dapat menyebabkan bahaya toksisitas,
anemia defisiensi besi harus dikonfirmasi sebelum terapi parenteral besi dan dosis
yang benar harus dihitung, mempertimbangkan berat badan pasien dan defisit zat
besi. Penyakit hati kronis dan infeksi sistemik yang sedang berlangsung dianggap
kontraindikasi dan pemberian besi parenteral harus dihindari pada trimester
pertama. Reaksi terhadap obat termasuk reaksi anafilaksis adalah risiko potensial
terhadap pengobatan dan pemantauan yang tepat harus dilakukan dan fasilitas untuk
mengelola keadaan darurat seperti itu harus tersedia. Terdapat beberapa sediaan
besi oral antara lain besi sukrosa kompleks, Besi dextran kompleks hidroksida, Besi
isomaltosida dan Besi karboksimetosa. Namun efektifitas dari obat-obatan ini
belum dibandingkan satu sama lain. Preparat baru memiliki keuntungan karena
dapat diberikan sebagai dosis tunggal dalam interval waktu yang singkat dan telah
terbukti aman dengan risiko anafilaksis yang lebih rendah (<1: 10.000). Besi
parenteral juga dapat digunakan dalam pengobatan anemia pascapartum, dan
pengobatan tersebut telah terbukti mengurangi kebutuhan transfusi darah
pascapartum, yang merupakan intervensi yang lebih mahal dengan risiko yang lebih
tinggi.23
21
Achebe MM, Gafter-gvili A. How I Treat. 2017; 129: 940–950.
Gambar 2.3. Algoritma pendekatan yang disarankan untuk diagnosis dan
manajemen anemia defisiensi besi pada kehamilan.
22
Tabel 2.3. Terapi Besi: Formulasi dan Dosis.7
23
penyerapan zat besi. Etiologi anemia di India adalah multifaktorial dengan
konsumsi makanan rendah besi sebagai faktor etiologi utama. Selain itu, zat besi
non-heme, zat besi yang kurang diserap, dari sereal, kacang-kacangan, sayuran dan
buah-buahan menyumbang sekitar 90-95% dari total besi harian dalam makanan
India. Besi non heme (hadir dalam makanan nabati) penyerapan dihambat oleh asam
fitat (6-phosphoinositol) yang ditemukan dalam biji-bijian, lentil, dan kacang-
kacangan. Selain itu, polifenol, seperti asam tannic dan chlorogenic, ditemukan
dalam kopi, teh, anggur merah, dan berbagai sayuran, sereal dan rempah-rempah
juga menghambat penyerapan zat besi. Mereka mampu membentuk kompleks
dengan besi pada pH fisiologis 7,4 dan mengubah konsentrasi keseimbangan besi
bebas dan dengan demikian mempengaruhi ketersediaan hayati. Penggunaan
enhancer untuk penyerapan zat besi seperti asam askorbat adalah cara yang efektif
untuk meningkatkan bioavailabilitas zat besi dan peningkatan kadar Hb dalam
darah. Nair et al menunjukkan peningkatan bioavailabilitas > 100% dengan 100 g
buah jambu biji termasuk dalam makanan biasa. Dalam penelitian ini, penyerapan
besi dari makanan yang dimodifikasi lebih besar bila dibandingkan dengan
makanan biasa (23,9% ± 11,2% vs 9,7% ± 6,5%, P <0,05). Karena phytate adalah
inhibitor penyerapan zat besi, konsumsi makanan kaya akan phytates harus
dikurangi. Makanan lain yang perlu dihindari adalah tanin yang ada dalam kopi,
kakao dan teh; kalsium, khususnya dalam susu dan produk susu; fosfat dalam
Ada bukti bahwa modifikasi pola makan dan penyuluhan di antara wanita
hamil meningkatkan luaran ibu dan bayi. Konseling individu dengan pendidikan
gizi (NE) bersama dengan penguatan mingguan secara signifikan meningkatkan
tingkat rata-rata Hb (g / dL) (Post-NE vs Non-NE = 9,65 ± 0,97 vs 7,85 ± 1,58, p
<0,001) dan penurunan prevalensi anemia (Post NE vs Non-NE = 78,7% vs 96%)
pada kelompok pasca-NE dalam status gizi selama kehamilan6
24
2.9.3 Fortifikasi makanan
Fortifikasi makanan adalah konsep menggabungkan makanan (mungkin
makanan yang biasa dikonsumsi) dan gizi bersama-sama, mungkin merupakan
pendekatan jangka panjang yang paling efektif dalam meningkatkan status zat besi
selama kehamilan di tingkat nasional. Ketika ditemani dengan tablet, fortifikasi
makanan dapat menjadi cara yang efektif dalam mengelola anemia pada wanita
dengan kehamilan. Dari berbagai senyawa besi fortifikasi, natrium besi etilena
diamina tetra asam asetat (NaFeEDTA) paling sering digunakan karena
efektivitasnya dengan diet kaya phytates seperti gula, bubuk kari, kecap, saus ikan
dan tepung jagung. Microphized ground ferric pyrophosphate adalah garam besi
lain yang digunakan untuk fortifikasi makanan yang peka warna seperti garam di
Afrika dan beras di India. Fortifikasi Bio adalah pendekatan baru dalam fortifikasi
2.10. Pencegahan
Tablet besi oral antenatal rutin, harian, telah dilakukan selama beberapa
dekade. Meskipun efektivitasnya dalam memperbaiki anemia defisiensi besi telah
terbukti, kebutuhan akan tablet tersebut dan efek yang bermanfaat pada luaran
kehamilan pada populasi tertentu telah dipertanyakan dalam beberapa waktu
belakangan ini. Banyak negara industri termasuk Inggris telah menyarankan untuk
menolak tablet universal dalam pedoman klinis mereka. Namun, tablet besi oral
rutin, harian, dan antenatal telah terbukti berhubungan dengan penurunan berat
badan lahir rendah, prematuritas dan anemia defisiensi besi ibu pada kehamilan
aterm. Selanjutnya, mengoreksi anemia defisiensi besi dan anemia defisiensi besi
pada ibu akan mengurangi risiko morbiditas dan mortalitas ibu karena kombinasi
25
anemia dengan perdarahan obstetrik dan sepsis serta kemungkinan efek samping
jangka panjang pada bayi baru lahir. Tablet besi yang kurang optimal telah
diusulkan sebagai faktor untuk mempertimbangkan transfusi darah pada periode
postpartum.23,26
WHO merekomendasikan kebijakan tablet besi oral rutin, harian, antenatal
berdasarkan perkiraan prevalensi anemia. Dalam populasi dengan prevalensi
anemia yang tinggi (> 40%) dosis tablet besi unsur dianjurkan lebih tinggi dari 60
mg per hari, sementara dosis yang lebih rendah dari 30 mg per hari dianjurkan
dalam populasi dengan prevalensi yang lebih rendah.23
Distres gastrointestinal adalah pengamatan umum pada wanita yang
mengonsumsi sejumlah besar zat besi tambahan, terutama saat perut kosong.
Dengan demikian efek samping gastrointestinal dianggap sebagai efek samping
kritis yang menjadi dasar dari tingkat asupan besi yang dapat ditolerir. Penggunaan
tablet besi dosis tinggi umumnya terkait dengan sembelit dan efek gastrointestinal
lainnya, termasuk mual, muntah dan diare, dengan frekuensi dan keparahan
tergantung pada jumlah unsur besi yang dilepaskan di perut.27
Tablet besi oral antenatal harus dimulai segera setelah efek samping gastro
intestinal dari kehamilan awal mengalami penurunan (mis. Kehamilan 12 minggu)
dan dikombinasikan dengan tablet asam folat (400 μg per hari). Dalam keadaan di
mana perkiraan prevalensi anemia adalah <20%, dosis mingguan zat besi 120 mg
dan 2,8 mg asam folat direkomendasikan untuk wanita hamil yang tidak mengalami
anemia. Dalam semua situasi ini jika seorang wanita hamil ditemukan mengalami
anemia setelah dimulainya tablet, dosis yang lebih tinggi / terapeutik harus
diberikan.23
Banyak wanita mengalami anemia defisiensi besi meskipun ada program
tablet besi yang mapan. Rendahnya efektivitas program-program ini telah dikaitkan
dengan kurangnya kepatuhan yang terutama disebabkan oleh efek samping gastro
yang mengganggu, penyimpanan tablet yang tidak tepat yang mengganggu
farmakokinetik mereka, motivasi yang buruk dan kurangnya kesadaran akan nilai
mereka, kebiasaan diet dan metode konsumsi yang tidak tepat terhadap tablet besi
oral. Intervensi pendidikan yang sederhana dapat meningkatkan efektivitas program
tablet besi oral antenatal. Jika efek samping
26
gastrointestinal terjadi, dosis besi unsur harus dikurangi. Penambahan obat
anthelminth pada populasi yang dipilih secara tepat juga telah terbukti
meningkatkan efektivitas tablet besi oral antenatal.23
Manfaat tablet besi pada kehamilan telah dikaitkan dengan peningkatan
penyimpanan besi pada periode postpartum, yang sangat penting ketika interval
antar kehamilan pendek, karena wanita akan memasuki kehamilan berikutnya
dengan status zat besi yang lebih baik. WHO merekomendasikan tablet besi
postnatal rutin dengan rejimen tablet besi oral antenatal yang sama setidaknya
selama tiga bulan.23
Karena ada bukti hasil kehamilan yang buruk seperti berat lahir rendah dan
prematuritas yang terkait dengan Hb > 13 g / l, dan dosis yang lebih tinggi dari besi
oral dikaitkan dengan haemoconcentration dan efek gastrointestinal yang
merugikan. Ada banyak metode alternatif lain dari tablet besi, seperti fortifikasi
makanan dan fortifikasi makanan di rumah dengan bubuk mikronutrien, tetapi
metode yang paling efektif harus dipilih untuk menyesuaikan dengan populasi
lokal, terutama di .23
27
dengan ibu hamil yang tidak mengalami keluhan mual sebelumnya. Ada beberapa
cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi mual akibat minum tablet besi. Salah
satu cara yang dianjurkan untuk mengurangi mual sebagai efek samping dari
mengkonsumsi tablet besi adalah dengan mengurangi dosis tablet besi dari 1 x 1
tablet sehari menjadi 2 x ½ tablet sehari. Akan tetapi hal ini tidak sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Milman, Bergholt, dan Erikson yang menyatakan
tidak ada hubungan antara efek samping atau gejala gastrointestinal seperti mual,
muntah, nyeri epigastrik, kolik, konstipasi, dan diare dengan empat dosis yang diuji
cobakan yaitu : 20 mg, 40 mg, 60 mg, dan 80 mg.29
Mencerna besi dalam jumlah besar dapat menyebabkan kelebihan kadar besi
dalam darah. Kadar besi fero yang tinggi dalam darah bereaksi dengan peroksida
membentuk radikal bebas, yang sangat reaktif dan dapat merusak DNA, protein,
lemak, dan komponen sel lainnya. Oleh karena itu, toksisitas besi muncul ketika
besi bebas dalam sel, yang biasanya terjadi ketika kadar besi melebihi kemampuan
transferin mengikat besi. Kerusakan pada sel saluran pencernaan dapat juga
menghambat pengaturan asupan besi yang berakibat pada peningkatan lebih lanjut
kadar besi darah. Besi umumnya merusak sel dalam jantung, liver dan lainnya, yang
dapat menyebabkan efek parah, termasuk koma, asidosis metabolik, syok,
kegagalan liver, koagulopati, sindrom distres pernapasan dewasa, kerusakan organ
jangka panjang, dan bahkan kematian.[96] Manusia mengalami keracunan besi di
atas 20 miligram besi per kilogram berat badan, dan 60 miligram per kilogram
adalah dosis letal.[97] Asupan besi berlebihan, seringkali akibat dari konsumsi
berlebih tablet fero sulfat pada anak-anak tetapi dengan dosis dewasa. Ini adalah
salah satu keracunan umum yang menyebabkan kematian pada anak-anak usia di
bawah enam tahun.[97] Standar Asupan Gizi (bahasa Inggris: Dietary Reference
Intake (DRI)) mencantumkan Batas Atas Toleransi (bahasa Inggris: Tolerable
Upper Intake Level (UL)) untuk dewasa adalah 45 mg/hari. Untuk anak-anak di
bawah empat belas tahun, UL-nya 40 mg/hari.28
28
2.12. Kerangka Teori
Kebutuhan Fe dan
Wanita Hamil Asam Folat
Meningkat
Hemodilusi
Penurunan Hb dan
Hematokrit
- Usia
- Gizi
- Malabsorbsi Besi
- Multipel Pregnancy
Anemia dalam
kehamilan
29
2.13. Kerangka Konsep
2.14 Hipotesis
Terdapat perbedaan kadar Hb sebelum dan sesudah pemberian tablet besi
90 hari.
30
BAB III
METODE PENELITIAN
31
Penentuan besar sampel pada penelitian ini dihitung secara statistik dengan
menggunakan rumus uji hipotesis terhadap rata-rata 2 populasi30:
( ) ( )
n1=n2= ( )
= ( )
= 86,4 Orang
Dimana:
• n1=n2= besar sampel
• Zα= nilai baku normal dari tabel Z yang besarnya bergantung pada nilai α
→
yang ditentukan. Nilai α= 0,05 Zα= 1,96
• Zβ= nilai baku normal dari tabel Z yang besarnya bergantung pada nilai β
→
yang ditentukan. Nilai β= 0,20 Zβ= 0,84
5
• π= standar deviasi = 0.44
• x1-x2= selisih proporsi Ibu hamil trimester kedua yang mengalami def besi
yang dianggap bermakna yang ditetapkan sebesar 0.2.11
Berdasarkan rumus diatas maka besar sampel minimal untuk penelitian ini
adalah 87 orang. Untuk mengantisipasi loss of follow up, besar sampel ditambah
20% dari jumlah sampel minimum. Dengan begitu, sampel yang akan diambil
selama penelitian ini berlangsung berjumlah 110 orang.
.
3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
3.4.1. Kriteria Inklusi
32
3.5. Identifikasi Variabel
3.5.1. Variabel Bebas
Pemberian Tablet besi
33
• Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pencatatan hasil
laboratorium yang telah dilakukan pada pasien.
• Dilakukan pemberian tablet tablet besi
• Dilakukan pengukuran darah lengkap ulang 90 hari setelah pemberian
intervensi
• Data dikumpulkan kemudian dianalisis secara statistik
34
3.10. Kerangka Kerja
Subjek penelitian
Pengukuran Kadar Hb
Analisis statistik
35
BAB IV
Gravida
Primigravida 22 19,6
Sekundigravida 29 25,8 2,9
Multigravida 61 54,4
LILA
< 23,5 0 0
30,09
≥23,5 112 100
36
4.1.2 Kadar HB berdasarkan karakteristik subjek penelitian
dijumpai nilai tertinggi pada umur dibawah 20 tahun dengan HB 10,5 gr/dl
sedangkan setelah tablet besi diberikan, kadar HB tertinggi dijumpai pada rentang
Umur HB awal
Mean ± SD
<20 10,5 ± 0,6
20-34 9,6 ± 1,1
>34 9,3 ± 0,8
dijumpai nilai tertinggi pada primigravida dengan HB 9,9 gr/dl sedangkan setelah
tablet besi diberikan, kadar HB tertinggi dijumpai pada sekundigravida dengan nilai
Paritas HB awal
Mean ± SD
Primigravida 9,9 ± 1,2
Sekundigravida 9,6 ± 1,1
Multigravida 9,5 ± 0,9
Berdasarkan table dijumpai bahwa rerata kadar Hb awal berdasarkan LILA adalah
9.6 pada LILA >= 23,5 cm dan rerata kadar Hb post tablet berdasarkan LILA adalah
37
Tabel 4.4. Kadar Rerata Hb berdasarkan Kelompok LILA
LILA HB awal
Mean ± SD
< 23,5 0
≥23,5 9,6 ± 1,0
HB post
HB awal
Status HB suplementasi p
Mean SD Mean SD
Anemia Ringan 10.0 0.3 14.1 1.5 0.001
Sedang 8.8 0.3 10.8 0.9 0.001
Berat 7.4 0.3 9.7 0.4 0.001
tidak anemia 11.4 0.5 12.9 0.6 0.001
Berdasarkan tabel diatas didapati bahwa pemberian tablet besi ternyata memiliki
nilai yang signifikan terhadap peningkatan kadar HB pada ibu hamil tidak perduli
apakah ibu hamil awalnya menderita anemia ataupun tidak. Dari tabel terlihat
bahwa, pada ibu anemia dengan kadar rerata HB 9,3 setelah pemberian tablet besi
dengan kadar HB awal 11,4 dimana tidak mengalami anemia, pemberian tablet
38
Tabel 4.6. Kadar Rerata kenaikan Hb berdasarkan Kelompok HB
HB awal HB post pemberian tablet besi
HB HB P
Count % Mean SD Count % Mean SD
7-7,9 5 4.5% 7.4 0.3 5 4.5% 9.7 0.4 2.28 0.001
8-8,9 31 27.7% 8.6 0.3 31 27.7% 10.6 0.8 1.93 0.001
9-9,9 29 25.9% 9.4 0.3 29 25.9% 11.5 1.0 2.09 0.001
10-10,9 34 30.4% 10.2 0.3 34 30.4% 15.2 19.2 4.95 0.001
11-11,9 10 8.9% 11.2 0.3 10 8.9% 12.8 0.6 1.61 0.001
>12 3 2.7% 12.1 0.1 3 2.7% 13.2 0.4 1.13 0.001
yang signifikan bila diberikan tablet besi pada rentang HB 10-10,9 dimana didapati
tablet besi adalah 9,62 mg/dl ± 1,0 sedangkan Hb setelah pemberian tablet besi
39
4.2. Pembahasan
bisa kita simpulkan bahwa 97% dari responden ibu hamil menderita anemia. Pada
penelitian ini juga dijumpai peningkatan antara rerata kadar Hb pada wanita hamil
sebelum dan sesudah pemberian Tablet besi selama 90 hari. Dan secara statistik
ibu hamil berkaitan dengan kesadaran ibu tentang pentingnya tablet Fe selama
mengkonsumsi tablet Fe dengan baik. Kurang patuhnya ibu hamil dipengaruhi oleh
rendahnya kesadaran ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet besi, juga dipengaruhi
tingkat pengetahuan dan pembahasan tentang gizi dan kesehatan. Kepatuhan ibu
hamil mengkonsumsi tablet besi tidak hanya dipengaruhi oleh kesadaran saja,
namun ada beberapa faktor lain yaitu cara minum, bentuk tablet Fe, warna tablet
Fe, rasa dan efek samping dari tablet Fe seperti mual dan konstipasi.
lebih dari 40 persen wanita hamil secara global menderita anemia. Variasi dalam
prevalensi anemia selama kehamilan adalah 27 persen, yang secara signifikan lebih
40
Kebutuhan tablet besi pada ibu hamil menurut Hilman [Link] dalam
Kemasan tablet besi berupa tablet sulfat ferosis. Penyerapan zat besi bisa meningkat
bila ada zat asam dalam lambung dan bisa terhambat bila diminum bersamaan
dengan minuman yang mengandung teh, kopi. Cara minum yang baik adalah
dijumpai nilai tertinggi pada umur dibawah 20 tahun dengan HB 10,5 gr/dl
sedangkan setelah tablet besi diberikan, kadar HB tertinggi dijumpai pada rentang
mereka adalah 20,2% (Hb <10g / dl). Dari data ini, 16,2% memiliki anemia moderat
(Hb = 6,5-8 g / dl) dan 83,8% memiliki anemia ringan (Hb = 8,1-10 g / dl). Anemia
berat tidak terdeteksi pada wanita hamil. Tingkat hb pada kelompok non-anemia
lahir.32
Hal ini menunjukkan peranan zat besi terhadap kenaikan hb, dimana
peranan zat besi yang bekerja hampir pada semua metabolisme tubuh termasuk
karbonik anhidrase esensial untuk menjaga keseimbangan asam basa. Selain itu,
pada sistem pencernaan di lambung, zat besi membantu enzim karbonik anhidrase
merangsang produksi HCl lambung yang mampu mengubah ion ferri menjadi ion
41
Kebutuhan fisiologis untuk zat besi sangat tinggi pada kehamilan dan bayi
Sekitar dua pertiga dari zat besi ini untuk kebutuhan ibu, dan 1/3 untuk kebutuhan
kebutuhan yang lebih rendah pada trimester pertama (0,8 mg / hari) daripada
kebutuhan sebelum kehamilan dan kebutuhan yang jauh lebih tinggi pada trimester
hematopoiesis dan pertumbuhan janin. Hematopoiesis ibu dan ekspansi sel darah
merah serta pertumbuhan janin jauh lebih tinggi pada paruh kedua kehamilan. Maka
dari itu, diperlukan 330-400 mg untuk pertumbuhan janin pada trimester terakhir.
Beberapa kebutuhan zat besi total dapat dipenuhi oleh simpanan zat besi ibu pada
wanita yang simpanan zat besinya mencukupi, dan sekitar 300 mg dari total zat besi
ini didaur ulang dan kembali tersedia bagi ibu karena volume RBC-nya tidak
di luar yang dimobilisasi dari dan kemudian kembali ke simpanan ibu. Untuk wanita
dengan cadangan zat besi rendah atau habis, tambahan 1000 mg atau lebih mungkin
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan zat besi ibu dan janin selama kehamilan.33
Hasil penelitian lain yaitu pada kelompok intervensi tablet besi terdapat
peningkatan kadar Hb dari 9,7 g/dl sebelum intervensi menjadi 10,8 g/dl setelah
intervensi, atau meningkat sekitar 1,11 g/dl setelah intervensi. Jika dirata-ratakan,
maka peningkatan kadar Hb setiap bulan sekitar 0,37 g/dl. Sedangkan pada
kelompok intervensi tablet besi+kapsul zat besi peningkatannya sekitar 1,40 g/dl,
dengan rata-rata peningkatan setiap bulan sekitar 0,47 g/dl. Berbeda dengan
42
kelompok ketiga (tablet besi+edukasi), peningkatan kadar Hb hanya sekitar 0,24
g/dl, dengan rata-rata peningkatan sekitar 0, 08 g/dl. Hasil uji Independent T-Test
tablet besi dan kelompok tablet besi+kapsul zat besi setelah intervensi (p= 0,175).32
malformasi congenital dan abortus spontan, serta prematur dan kelahiran feto-
maternal komplikasi.
Zat besi merupakan zat gizi yang essensial yang harus terpenuhi selama
karakteristik yang unik. Keunikan tersebut disebabkan karena absorbsi zat besi
bersifat antagonis satu sama lain terutama bila ditemukan dengan konsentrasi yang
tinggi. Rata-rata zat besi akan diabsorbsi sekitar 20%-40% dari asupan makanan
dan akan meningkat bila kadar zat besi pada makanan rendah.
Oleh karena itu, diperlukan usaha yang sistematis untuk memasukkan zat
besi sebagai salah satu bagian dari tablet ibu hamil, disamping untuk peningkatan
berdasarkan LILA adalah 9.6 pada LILA ≥ 23,5 cm dan rerata kadar Hb post tablet
berdasarkan LILA adalah 12.4 pada LILA ≥ 23,5 cm. Status gizi ibu yang diukur
melalui LILA mencerminkan cadangan zat gizi dan kondisi status gizi ibu di masa
43
status gizi ibu selama mengandung, yang membuat kebutuhan gizinya lebih tinggi
dibandingkan ibu yang tidak kekurangan gizi,untuk memenuhi kebutuhan ibu dan
yang bermakna antara status LILA dengan status anemia ibu hamil. LILA
merupakan salah satu cara untuk mengetahui keadaan gizi Wanita Usia Subur
(WUS) baik ibu hamil maupun calon ibu yang paling sederhana dengan cara
melingkarkan pita lila di bagian lengan kanan ibu. Seseorang dikatakan menderita
risiko Kurang Energi Kronis (KEK) bilamana LILA (Lingkar Lengan Atas) <23,5
mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau
menahun. Status hb ibu dipengaruhi oleh lama sekolah ibu, paritas, status gizi ibu
yang diukur dengan LILA, status bekerja ibu, konsumsi tablet Fe, vitamin C dan
vitamin B6.35
berusia 20 tahun atau lebih (85%), memiliki pendidikan menengah (52%), menikah
atau tinggal serumah dengan pasangan (54%), dan mendapat upah minimum lebih
dari > Rp. 500.000 per minggu (29%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa wanita
hamil dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) di bawah 25 dan Lingkar Lengan Atas-
Atas (MUAC) kurang dari 25 cm lebih cenderung mengalami anemia. Lebih khusus
lagi, 52% wanita anemia memiliki BMI <25 dibandingkan dengan 28,2% wanita
44
wanita yang memiliki MUAC kurang dari 25 cm. Crude Odds Ratio untuk wanita
Odds Ratio tidak signifikan. Wanita hamil yang memiliki empat atau lebih ANC
untuk mengalami anemia daripada wanita yang melakukan ANC kurang dari 4
kunjungan antenatal.34
45
BAB V
5.1 Kesimpulan
dominan pada usia 20-34 tahun. paritas dominan pada multigravida, LILA
adalah 9.6 mg/dL. Rata -rata kadar Hb ibu hamil trimester II sesudah
kadar hb pada wanita hamil sebelum dan sesudah pemberian tablet besi
selama 90 hari.
5.2 Saran
Zat besi merupakan zat gizi yang essensial yang harus terpenuhi selama
periode kehamilan, rata-rata zat besi akan diabsorbsi sekitar 20%-40% dari asupan
makanan dan akan meningkat bila kadar zat besi pada makanan rendah. diperlukan
usaha yang sistematis untuk memasukkan zat besi sebagai salah satu bagian dari
tablet ibu hamil, disamping untuk peningkatan kadar hb, juga untuk mencegah
terjadinya komplikasi saat persalinan. Bagi ibu hamil juga disarankan untuk
46
Bagi petugas kesehatan, disaranakan melakukan penyuluhan terkait ibu
hamil tentang pencegahan dan penanganan anemia pada kehamilan melaui gizi ibu
HB ibu, hal ini sejalan dengan rekomendasi WHO. Hasil penelitian ini penting
pemberian tablet besi selama 90 hari pada semua wanita hamil guna mencegah
komplikasi terkait anemia pada ibu hamil. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi
47
DAFTAR PUSTAKA
1. Smita S, Sukhija S, Renu T, et al. Pregnancy induced iron deficiency and the
evaluation and comparison of the efficacy and safety of ferrous fumarate and
carbonyl iron in its treatment - PERFECT trial. 2009; 59: 552–562.
2. Hasil Utama RISKESDAS 2018. didownload dari:
[Link]
[Link]?opwvc=1
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2014
Tentang Standar Tablet Tambah Darah Bagi Wanita Usia Subur dan Ibu
Hamil. Kemenkes, 2014; 5
4. Cesar JA, Dumith S de C, Chrestani MAD, et al. Iron supplementation
among pregnant women: results from a population-based survey study. Rev
Bras Epidemiol 2013; 16: 729–36.
5. Revankar VM, Garg A, Revankar MG. Efficacy of sodium feredetate versus
ferrous sulfate in iron deficiency anemia in preganant women. 2017;
6: 1978–1981.
6. All India Institute of Medical Sciences, New Delhi I, Coordinators.
Management of Iron Deficiency Anemia in Pregnancy. Epub ahead of print
2015. DOI: 10.1007/s12288-018-0949-6.
7. Short M, Domagalski J. Iron deficiency anemia Evaluation and
management. Am Fam Physician 2013; 87: 98–104.
8. Julianna Schantz-Dunn RLB. In an era of high technology precision
medicine, many pregnant women are—surprisingly—iron deficient, anemic,
and not receiving adequate iron supplementation. 8. 2017; 29: 8– 12.
9. Earl R, Woteki CE. Iron Deficiency Anemia : Washington, D.C.: National
Academy of Sciences., 1993.
10. Roncuzzi A, Cazzaniga M, Pretolani G, et al. Efficacy and tolerability of iron
sulfate versus FerroGUNA in the treatment of iron deficiency anemia in
pregnancy: Non-inferiority controlled clinical trial. G Ital di Ostet e Ginecol
2012; 34: 601–607.
11. Sifakis S, Pharmakides G. Anemia in Pregnancy. Ann N Y Acad Sci 2006;
900: 125–136.
12. Mehedintu C, Ionescu OM, Ionescu S, et al. Iron deficiency and Iron-
deficiency Anaemia in pregnant women corrected by oral bovine lactoferrin
administration. Farmacia 2015; 63: 922–926.
13. Shaikh Sabina, Syed Iftequar, Zahid Zaheer, Mohd. Mukhtar Khan SK. An
overview of anemia in Pregnancy. An Overv Anemia Pregnancy 2015; 2:
144–151.
14. Achebe MM, Gafter-gvili A. How I Treat. 2017; 129: 940–950.
48
15. Tolkien Z, Stecher L, Mander AP, et al. Ferrous sulfate supplementation
causes significant gastrointestinal side-effects in adults: A systematic review
and meta-analysis. PLoS One 2015; 10: 1–20.
16. Mcdonagh M, Cantor A, Bougatsos C, et al. Evidence Synthesis Number 123
Routine Iron Supplementation and Screening for Iron Deficiency Anemia in
Pregnant Women: A Systematic Review to Update the U.S. Preventive
Services Task Force Recommendation. Contract. Epub ahead of print 2015.
DOI: 10.7326/M14-2932.
17. Abbasi A. Causes of anemia in pregnant women of the state of azad
kashmir: A cross-sectional survey. Health (Irvine Calif) 2013; 5: 35–44.
18. Goonewardene M, Shehata M, Hamad A. Anaemia in pregnancy. Best
Pract Res Clin Obstet Gynaecol 2012; 26: 3–24.
19. Chowdhury S, Rahman M, Moniruddin A. Anemia in Pregnancy. Med
Today 2014; 26: 49–52.
20. Api O, Breyman C, Çetiner M, et al. Diagnosis and treatment of iron
deficiency anemia during pregnancy and the postpartum period: Iron
deficiency anemia working group consensus report. J Turkish Soc Obstet
Gynecol 2015; 12: 173–181.
21. Burke RM, Leon JS, Suchdev PS. Identification, prevention and treatment of
iron deficiency during the first 1000 days. Nutrients 2014; 6: 4093– 4114.
22. Harvard F, Topics H. Iron Deficiency. 2013; 0: 1–6.
23. Ts P, Imr G, Mbc M, et al. Iron Deficiency Anaemia in Pregnancy :
Diagnosis , Prevention and Treatment. 2014; 61–65.
24. Kozuma S. Approaches to anemia in pregnancy. Japan Med Assoc J 2009;
52: 214–218.
25. Satyam P, Khushbu Y. Maternal Anemia in Pregnancy : An Overview. Int J
Pharm Pharmaceitical Res 2015; 2: 144–155.
26. Pavord S, Myers B, Robinson S, et al. UK guidelines on the management of
iron deficiency in pregnancy. Br J Haematol 2012; 156: 588–600.
27. WHO, Williams a L, van Drongelen W, et al. Guideline : Daily iron and folic
acid supplementation in pregnant women. World Heal Organ 2012;
46: 323–329.
28. Iron Toxicity. diakses dari [Link]
overview.
29. Susiloningtyas, 2015. Pemberian Zat Besi (Fe) dalam Kehamilan. FKIP:
Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
30. Dahlan, Sopiyudin. Besar Sampel Dalam Penelitian Kedokteran dan
Kesehatan. 2016 vol 4. hal 157
31. de Benoist B, McLean E, Egli I, Cogswell M (eds). Worldwide prevalence
of anaemia 1993-2005. WHO; WHO Global Database on Anaemia,
49
Geneva, 2008.
32. Moghaddam Tabrizi, F., & Barjasteh, S. (2015). Maternal Hb Levels during
Pregnancy and their Association with Birth Weight of Neonates. Iranian
journal of pediatric hematology and oncology, 5(4), 211–217.
33. Brannon, P. M., & Taylor, C. L. (2017). Iron Supplementation during
Pregnancy and Infancy: Uncertainties and Implications for Research and
Policy. Nutrients, 9(12), 1327. doi:10.3390/nu9121327
34. Charles, A. M., Campbell-Stennett, D., Yatich, N., & Jolly, P. E. (2010).
Predictors of anemia among pregnant women in Westmoreland, Jamaica.
Health care for women international, 31(7), 585–598.
doi:10.1080/07399331003710541
35. Hindraker SG, Olsen BE, Lie RT, et al. Anemia in Pregnancy in Tanzania:
associations with micronutrients status and Infection. [Link]. Nutr.
2002:56(3):192-199.
36. Puolakka, J., O. Jänne, and R. Vihko. 1980. a. Evaluation by serum ferritin
assay of the influence of maternal iron stores on the iron status of newborns
and infants. Acta Obstet. Gynecol. Scand., Suppl. 95:53–56. [PubMed]
37. Svanberg, B., B. Arvidsson, A. Norrby, G. Rybo, and L. Sölvell. 1976. a.
Absorption of supplemental iron during pregnancy—a longitudinal
study with repeated bone-marrow studies and absorption measurements.
Acta Obstet. Gynecol. Scand., Suppl. 48:87–108. [PubMed]
38 Taylor, D.J., and T. Lind. 1979. Red cell mass during and after normal
pregnancy. Br. J. Obstet. Gynaecol.86:364–370. [PubMed]
39. Puolakka, J., O. Jänne, A. Pakarinen, P.A. Järvinen, and R. Vihko. 1980. b.
Serum ferritin as a measure of iron stores during and after normal pregnancy
with and without iron supplements. Acta Obstet. Gynecol. Scand., Suppl.
95:43–51. [PubMed]
40. Svanberg, B., B. Arvidsson, E. Björn-Rasmussen, L. Hallberg, L.
Rossander, and B. Swolin. 1976. b. Dietary iron absorption in pregnancy—
a longitudinal study with repeated measurements of non-haeme iron
absorption from whole diet. Acta Obstet. Gynecol. Scand., Suppl. 48:43–68.
[PubMed]
41. WHO. Iron Deficiency Anaemia. Assessment, prevention and control. A
guide for program managers
2012; [Link] NHD [Link] (accessed
28/03/2014)
42. Sinha NK, Chattopadhyay JC, Das PK, Maiti S, Maiti K. Prevalence of
Anaemia and its possible attributing factors in psychologically healthy
women of reproductive ages in Midnapore (Jangalmahal area),
50
India. Indian Journal of Community Health. 25(3):226–32. [Google
Scholar]
43. Gupta VM, Shukla KK. Epidemiology of Anaemia in preschool children
from a rural and a slum community, Varanasi. Indian J Prev Sac
Med. 1985;15:85–9. [Google Scholar]
44. Desai N, Chaudhry VP. Nutritional Anaemia in protein energy
malnutrition. Indian Pediatr. 1993;30:1471–83. [PubMed] [Google
Scholar]
51
LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBYEK PENELITIAN
Ibu-ibu Yth,
Saya dr. Widya Nelvi Pandia, saat ini sedang menjalani program pendidikan dokter spesialis
obstetri dan ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Saat ini saya
sedang melakukan penelitian berjudul:
Penelitian ini dilakukan oleh saya sendiri. Adapaun tujuan penelitian ini diharapkan dapat
menambah pengetahuan mengenai efektivitas tablet besi sehingga dapat menjadi landasan ilmu
pengetahuan dalam mencegah kejadian anemia di kemudian hari. Penelitian ini tidak memliki
efek samping pada ibu-ibu sekalian. Saya akan mengambil sampel darah ibu untuk dilakukan
pemeriksaan Hemoglobin, kemudian ibu ibu sekalian akan diberikan tablet besi untuk 90 hari.
Selanjutnya saya akan mengambil sampel darah lagi untuk memeriksa nilai Hemoglobin.
Penelitian ini tidak berbahaya dan kepada ibu sekalian tidak akan dikenakan biaya apapun.
Setelah memahami berbagai hal yang menyangkut penelitian ini, diharapkan ibu –ibu yang
bersedia ikut sebagai subjek penelitian ini dapat mengisi lembar persetujuan yang telah
disiapkan. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu-ibu sekalian yang telah
berpartisipasi pada penelitian ini.
Bila selama menjalani penelitian terdapat hal-hal yang kurang dipahami maka ibu-ibu
sekalian dapat menghubungi saya [Link] Nelvi Pandia, Departemen Obgyn FK-USU,
dengan nomor telepon saya 082375303064
Terima kasih
Hormat Saya
Nama :
Umur :
Nama :
Umur :
Paritas :
LILA :
Kadar Hemoglobin
Hb Awal
Hb Sesudah Konsumsi
Suplementasi Tablet FE
Lampiran
UMUR KEHAMILAN
NO UMUR HB1 HB2 PARITAS BB TB LILA
(minggu)
1 18 9.8 11.9 17 1 51 164 29
2 18 11 12.3 22 1 54 169 26
3 19 11 12.4 16 1 56 172 27
4 18 10 11.3 16 1 51 164 26
5 26 8.9 10.3 25 3 56 172 29
6 33 7.2 9.4 24 4 54 169 29
7 27 11.7 13.4 18 5 56 172 25
8 21 8.9 10.3 24 5 60 178 28
9 32 10.9 11.3 25 1 55 166 28
10 22 9 10.3 19 1 59 172 26
11 22 10.3 11.8 27 1 48 155 25
12 29 11 12.1 16 1 59 172 24
13 22 9.4 10 15 2 55 166 24
14 27 8.8 11.9 27 2 52 161 29
15 20 8 11.1 18 2 59 172 28
16 33 11.5 13.3 15 2 51 160 29
17 24 9.8 10.8 14 3 55 166 29
18 30 9.4 11.3 17 3 51 160 27
19 30 9.5 13 17 4 56 167 29
20 23 10.5 12.2 28 4 57 169 25
21 25 8.9 11.8 22 4 56 167 24
22 21 10 11.8 22 4 54 164 25
23 22 9 11.3 26 4 58 170 26
24 27 7.4 9.4 17 4 54 164 26
25 21 10.5 12 17 4 60 173 26
26 21 11 12.4 23 5 59 172 25
27 29 8 9.6 27 5 60 173 25
28 25 9.8 10.9 25 5 54 164 26
29 30 8.9 10 25 5 59 172 25
30 25 8.6 10.1 14 5 58 170 24
31 29 10 11.9 14 1 57 165 26
32 20 8.9 10.8 25 1 50 154 27
33 21 8.2 11.4 21 2 53 159 27
34 29 8.5 10 25 2 53 159 26
35 28 10 11.6 27 2 54 160 27
36 31 8.4 10.1 14 2 55 162 26
37 29 10 12.1 25 3 60 169 26
38 33 10 11.3 20 3 55 162 27
39 26 10 11.4 25 3 49 153 26
40 25 9.1 9.3 14 3 49 153 27
41 24 10 13.1 21 4 55 162 29
42 25 10.9 12 20 4 54 160 29
43 23 8.3 9.6 23 4 57 165 25
44 27 9.6 10.4 20 4 52 157 24
45 24 9 10.9 21 5 54 160 26
46 29 9 11.4 21 5 55 162 27
47 25 12.1 13.5 28 1 54 157 25
48 33 10.3 11.4 15 1 48 148 29
49 32 9 12.4 24 1 50 151 26
50 25 10.3 13.4 17 1 48 148 25
51 34 10 12 15 1 51 152 25
52 34 8.9 10 26 1 60 165 28
53 29 10 10.5 21 2 53 155 26
54 32 8.6 11.2 16 2 59 164 29
55 26 11.3 12.2 25 2 48 148 28
56 32 12.2 13.4 16 2 55 158 25
57 21 10.5 12,4 28 2 56 160 28
58 26 9 12 24 2 53 155 26
59 23 10 11.3 17 2 52 154 25
60 29 8.5 9.3 15 2 60 165 24
61 31 11 14 14 3 51 152 26
62 30 8.9 10.4 23 3 60 165 25
63 23 9 11.4 24 4 48 148 29
64 23 10.3 13 15 4 56 160 28
65 25 10.8 13 25 5 52 154 26
66 33 8.5 11.3 19 5 52 154 29
67 27 10.6 11.8 22 5 51 152 27
68 20 9.8 12.3 21 5 53 155 25
69 24 10 11.6 25 5 57 161 28
70 28 7 10 28 1 52 150 27
71 27 8.9 10.2 25 1 52 150 27
72 30 9.5 13 27 2 60 162 26
73 34 8.4 9.3 17 2 50 147 26
74 34 9.5 13 22 2 49 146 29
75 31 9.1 12.3 24 2 52 150 28
76 29 8.9 10.8 20 2 59 160 25
77 28 10 11.5 23 2 56 156 24
78 33 9.7 11.4 22 2 60 162 28
79 28 9.6 10.1 28 2 49 146 28
80 31 11 13.3 24 3 60 162 27
81 28 10.2 12.8 26 4 59 160 27
82 22 8.6 11.9 23 4 56 156 26
83 26 9.5 10 23 4 57 157 28
84 29 9.5 11.8 14 5 60 162 27
85 25 9.5 12.3 28 5 55 155 26
86 24 7.8 9.4 20 5 51 149 25
87 21 10.3 11.8 24 5 56 156 29
88 26 10.3 12 14 5 55 155 26
89 25 10 10.9 19 5 58 159 27
90 23 8.8 9.8 18 1 50 144 27
91 29 9.5 12.4 20 1 55 151 24
92 24 8.9 10 22 1 49 143 27
93 31 12 12.8 16 1 56 153 28
94 27 11.6 12.8 18 2 49 143 29
95 26 10 12.9 27 2 51 146 28
96 28 8.8 12 17 2 49 143 24
97 36 10 11.4 16 2 56 153 29
98 40 10.3 11.8 17 2 51 146 27
99 39 10 12 19 3 60 158 25
100 38 9.8 12 25 3 52 147 28
101 36 9.4 12.4 16 3 54 150 28
102 39 7.7 10.3 23 3 56 153 25
103 39 9.8 11.4 19 3 56 153 26
104 40 8.6 11.4 16 3 57 154 28
105 37 8.5 11 16 3 56 153 26
106 40 8.7 10.3 26 4 58 155 27
107 40 9.4 11.8 28 4 58 155 29
108 35 8.6 10.8 17 4 57 154 29
109 38 8.9 10 17 4 49 143 27
110 38 10 11 16 4 60 158 25
111 40 8.6 10.9 22 5 51 146 26
112 40 10.5 11.9 20 5 52 147 24
Lampiran
Tabel Perbandingan Kadar HB berdasarkan usia
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
HB2 - HB1 Negative Ranks 0a .00 .00
Positive Ranks 112b 56.50 6328.00
Ties 0c
Total 112
a. HB2 < HB1
b. HB2 > HB1
c. HB2 = HB1
Custom Tables
HB1 HB2
Standard Standard
Mean Deviation Mean Deviation
Anemia anemia 9.3 .8 12.4 11.4
tidak anemia 11.4 .5 12.9 .6
NPAR TESTS
/WILCOXON=HBanemia WITH HBanemiapostbesi (PAIRED)
/MISSING ANALYSIS.
HB_awal HB_post
Column N Standard Column N Standard p
Count % Mean Deviation Count % Mean Deviation
HB_kat 7-7,9 5 4.5% 7.4 .3 5 4.5% 9.7 .4 0.001
8-8,9 31 27.7% 8.6 .3 31 27.7% 10.6 .8 0.001
9-9,9 29 25.9% 9.4 .3 29 25.9% 11.5 1.0 0.001
10- 34 30.4% 10.2 .3 34 30.4% 15.2 19.2 0.001
10,9
11- 10 8.9% 11.2 .3 10 8.9% 12.8 .6 0.001
11,9
>12 3 2.7% 12.1 .1 3 2.7% 13.2 .4 0.001
HB_awal HB_post
Standard Standard
Mean Deviation Mean Deviation
status_anemia Normal 11.4 .5 12.9 .6
Ringan 10.0 .4 14.1 15.9
sedang 8.8 .3 10.8 .9
Berat 7.4 .3 9.7 .4
Count Column N %
umur <20 0 0.0%
20-25 41 36.6%
26-30 36 32.1%
31-35 20 17.9%
36-40 15 13.4%
NPar Tests
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
HBanemiapostbesi - Negative Ranks 0a .00 .00
HBanemia Positive Ranks 99b 50.00 4950.00
Ties 0c
Total 99
a. HBanemiapostbesi < HBanemia
b. HBanemiapostbesi > HBanemia
c. HBanemiapostbesi = HBanemia
Test Statisticsa
HBanemiapostb
esi - HBanemia
Z -8.641b
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.
NPAR TESTS
/WILCOXON=HBnormal WITH HBnormalpostbesi (PAIRED)
/MISSING ANALYSIS.
NPar Tests
Wilcoxon Signed Ranks Test
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
HBnormalpostbesi - Negative Ranks 0a .00 .00
HBnormal Positive Ranks 13b 7.00 91.00
Ties 0c
Total 13
Test Statisticsa
HBnormalpostbe
si - HBnormal
Z -3.185b
Asymp. Sig. (2-tailed) .001
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.