Anda di halaman 1dari 21

Sinopsis : Seorang Wanita muda yang sedang hidup merantau berjuang untuk mencari pekerjaan, cinta

dan makna kehidupan. Ketika ibunya mengirim sebuah buku tua yang ditulis oleh ayahnya ia mulai
ketagihan membacanya dan merasa cerita buku tersebut merupakan bentuk interpretasi dari kehidupan
aslinya.

Chapter 1 : Perpisahan
Sudah sebulan penuh berlalu semenjak ayah meninggalkan kami bertiga. Tapi rasanya masih
sama saat pertama kali kulihat ayah diangkat dengan kerandi itu. Tak dapat kubayangkan
perasaan ibuku, walaupun ia terlihat sangat ceria dan enerjik aku tahu pada dalam lubuk
hatinya yang paling dalam ialah yang paling menglami luka berat.
“Ayolah jangan melamun terus nanti makanan kamu dingin loh”. Ibu menegurku sambil
memberikan sepiring nasi yang diselimuti sayur kangkung.
“Iya iya mah”
Tak lama kemudian adik kecilku datang dengan matanya yang menggeliat seperti ular
mendeteksi tiap sudut ruangan mencari apa saja yang dapat dimakan.
“Mah mah apalagi yang kamu masak?” adikku bertanya dengan cukup riang.
“Sama dengan kemarin, sini jangan berkeliaran terus. Sini duduk sama mamah”
Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang juga kurasakan, tapi apa daya selama ini Sebagian
besar dari pemasukan asalnya dari ayah. Ibu hanya mempunyai usaha kue kecil-kecilan yang
pemasukannya juga tidak seberapa. Selama ayah pergi kita harus berhemat demi meneruskan
hidup.
Setelah makan dengan sedikit keterpaksaan, walau rasanya yang cukup hambar karena
ternyata kita juga harus menghemat garam dan micin agar bertahan sebulan. Aku mengankat
badanku dari meja makan untuk mencari udara segar, sudah setengah hari kuhabiskan di kamar
hanya bertemankan buku fiksi pinjaman teman lamaku.
“Mau kemana kak?”
“Aku mau cari udara dulu mah bentar doang kok”
“Oh iya jangan jauh-jauh ya”
“Ini makan sayurnya dek tuh kan jatuh..” suara ibuku yang mulai menyusut seiring ku
meninggalkan ruang makan.
Diluar terlihat cukup mendung, suasana pada siang itu cukup memberiku sedikit mood bahagia,
aku tak tahu kenapa tapi bagiku cuaca mendung seperti ini memberikan sebuah perasaan yang
cukup unik, sambil melihat kakek tua yang mengendarai sepeda ontelnya dengan riang dan juga
ibu-ibu yang berlarian untuk mengambil jemurannya karena takut mencuci ulang baju kemarin.
Suasana seperti ini mengingatkanku momen itu lagi, momen ketika ayah diangkat dengan
kerandi hijau dan hujan yang rintik-rintik seperti menghapus jejak air mata kami yang
menyayangkan kepergian ayah. Tapi hal itulah yang kucari kesedihan ini seperti membuatku
tenang aku tak tahu mengapa.
Mungkin aku tipe orang yang seperti diceritakan pada buku fiksi yang baru saja aku baca akhir-
akhir ini, tipe yang lebih menyukai merasakan perasaan yang sedang terjadi dibanding
menutupi kesedihan dengan kebahagiaan yang semu.
Ditengah-tengah kesibukanku memerhatikan suasana sore mendung, tanpa kusadari kakek Dini
berada di sampingku dan sedikit membuatku Kaget.
“Ahhh… Kakek?”
Aku biasa memanggilnya kakek karena sejak kecil aku memang sangat dekat dengan kakek Dini,
diatas alasan memoriku dengannya juga dikarenakan kakek asliku yang meninggalkan cerita
hidupku jauh bahkan sebelum dimulai.
“He’ he’… maaf dek ndak bermaksud mengagetkan..“ kata Kakek memang selalu Lambat dan
lembut.
“Oh tidak kok”
“Jadi gini dek…….”
“Ani” Kakek juga suka lupa ya Namanya juga orang tua.
“Oh iya iya… dek Ani,,Ibu ada di dalam?”
“Iya kek ada kok aku panggilin ya”
“Oh.. ngak usah ngak usah…cuman nanya kabar aja he’ he’”
“Oh kirain ada urusan kek.”
“Iya ini. Cuman uang kemarin yang kakek lupa”
Uang yang kakek berikan kali ini sepertinya lebih dari biasanya. Benar saja walaupun mencoba
untuk menutupi lembar merahnya dengan menggulungnya dengan uang dua ribuan tetap saja
ketahuan.
“Duh kek ini mah uangnya kelebihan”
Ya iyalah kakek kan biasanya cuman pesan dua donat dan juga empat cakwe terus diantarkan
ke rumah Dini, palingan matinya cuman sepuluh ribuan.
“Ah ngak usah ambil aja dek, anggap aja tanda terima kasih kakek sama keluarga. Udah dari
dulu juga selalu mengenyangkan kakek sama Dini di pagi hari he’ he’”
“Gimana ya kek”
“hussst ngak usah dipikirin ambil aja” Kakek memaksakan kehendaknya dengan mendorong
tangannya ke tanganku yang menggenggam uang itu.
“Kalo gitu makasih ya kek”
“Iya iya ..he’ he’”
Kebaikan kakek memang selalu membuat hatiku seperti dimandikan air hangat di malam hari,
hanya begitu saja kakek pergi meninggalkanku dengan segala kebaikannya. Sungguh orang tua
yang inspirasional. Walau kutau uang ini lebih ke tanda belasungkawa kakek kepada keluargaku
yang berduka dibanding tanda terima kasihnya aku tetap menerima kebaikan kakek.
Tanpa lama lama aku berbalik kedalam rumah, kulihat adikku sudah selesai makan dan sudah
waktunya ia dikurung untuk tidur siang, walau kutahu rasanya sangat tidak enak terlebih diusia
dimana tidur siang adalah sebuah hukuman. Aku tahu dia sangat mendambakan kebebasan
bermain layangan diluar dengan kawan-kawan kecilnya, tapi ia seperti semakin kurang rewel
semenjak kepergian ayah.
Kutinggalkan uang yang diberikan kakek di meja tanpa memberi sepatah kata, walau juga
kulihat ibuku sedikit melirikku masuk kemudian dengan kecepatan terbatas menuju sarang
burungku alias kamarku, aku tak mau melihat kearah kamar adikku yang terbuka karena cepat
atau lambat sebuah tugas akan dituturkan dan aku harus segera mengerjakannya, dimana siang
ini aku lagi ingin melanjutkan kemalasanku dengan buku fiksiku.
Dengan menutup pintu selembut mungkin demi menghindari gesekan yang memprovokasi
adikku dari usahanya menidurkan diri. Aku berhasil menutup pintu tanpa gesekan yang tidak
perlu, dengan perasaan yang sangat senang dan kemalasan luar biasa aku mulai meluncurkan
badanku ke Kasur empukku, dan mulai membuka buku fiksiku lagi. Chapter 4 : Malas pangkal
Bodoh.
Setelah tenggelam dalam imajinasi yang dihasilkan dari kata-kata yang kubaca aku mulai
tersadar akan dunia luar dan mulai mendengar Langkah kaki perlahan ibuku yang sudah tidak
diragukan lagi mencoba untuk tidak menghasilkan gesekan yang tidak perlu. Dengan menerka-
nerka seperti apa Gerakan yang dilakukan oleh ibuku yang kemungkinan besar melihat uang
yang kutinggalkan di meja makan. Langkahnya semakin membesar artinya ia melangkah ke
arahku, disitu walau kutau ibuku pasti akan mengetuk pintu dan menanyakan soal uang yang
lebih dari biasanya itu tapi karena alasan kemalasan aku dengan siaga menjawab sebelum
ditanya.
“Uang itu dari kakek, katanya tanda terima kasih. Tadi juga udah aku tolak cuman dianya maksa
jadi udah deh.”
Tanpa basa basi ibuku langsung membuka pintu kemudian sedikit berteriak
“Kamu itu ya” sepertinya iya lupa kalau baru saja menidurkan si adik tanpa diingatkan ia
langsung mengecilkan volume suaranya.
“kenapa ngak panggil mamah sih?”
“Yah kan tadi udah aku mau manggil cuman kakek bilangnya cuman mau nanya kabar eh tau-
taunya ngasih duit, katanya uang kemarin” aku juga menjawab dengan bisik-bisik.
“Yaudah lain kali manggil mama dulu yah”
“Iyya iya”
Ibuku kemudian meninggalkan ruangan tanpa rasa bersalah meninggalkan pintu terbuka.
Kenapa sih kebiasaan buruk yang satu ini seperti menurun kepada semua anggota keluargaku,
kecuali aku tentunya. Kututup pintu itu lalu membaringkan badanku Kembali sambil membaca
fiksiku. Kali ini tidak ada yang dapat mengganggu ketenanganku dengan fiksiku sekalipun dunia
menolak ku tak takut.
Setelah menghabiskan hampir tiga perempat dari buku itu mataku mulai sayup tak terkendali,
kulihat jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 4 sore. Pikirku apa juga yang harus
kulakukan setelah ini tidak ada, apa salahnya melanjutkan dengan sebuah tidur santai di sore
hari.
Suara gallon menggelembung membuatku terbangun. Perasaan ini begitu mengganggu tak
seperti Ketika bangun di pagi hari yang dipenuhi dengan keceriaan dan semangat pagi, kali ini
aku terbangun dengan perasaan gusar dengan emosi yang seperti meronta-ronta tak jelas
dalam dada.
Kupaksakan badanku untuk bangkit dari kekuatan magis yang menahan badan yang terlentang
tak berdaya, lalu keluar kamar dengan perasaan was-was. Gallon yang bersalah atas
terbangunnya aku ditengah malam begini, Kembali mengeluarkan suara nakalnya. Dasar gallon
tak tahu malu berani-beraninya membangunkan seorang gadis jam segini. Kuberjalan melintasi
ruang makan dan kulihat lagi pintu ibuku yang terbuka, ia sudah tidur tak sadarkan diri begitu
juga dengan adikku yang sudah seperti seekor ulat yang mengepompongkan diri dalam selimut
birunya.
Karena bingung harus melakukan apa kubuka pintu dengan pandangan tak lepas dari kamar
ibuku, tentu saja aku takut ia terbangun dan menanyakan apa yang akan kulakukan keluar
malam-malam begini. Setelah berhasil keluar dari rumah jantungku terasa seperti ingin
mengeluh betapa bodohnya tindakanku ini, aku tahu ini tindakan yang nekat dari seorang gadis
sepertiku tapi aku juga tak bisa mengabaikan perasaan bosanku dan celakanya lagi aku
terbangun disaat semua orang sedang menikmati kemalasannya di Kasur mereka.
Suasana di kampungku malam begini cukup menyeramkan dengan pohon pisang dimana-mana,
mungkin saja menyimpan sosok misterius yang biasa kudengar sedari kecil dulu. Tetapi rasa
bosan mengalahkan semua ketakutanku, kumulai melangkahkan kakiku menuju jalan setapak
yang juga tidak tahu ingin mengarah kemana di malam gelap yang hanya diterangi oleh lampu
jalan yang remang-remang ini. Kulihat diatas langit bahkan bulan pun enggan menerangi malam
ini.
Kuberjalan tanpa arah untuk beberapa saat dan kulihat Dini sedang melamun tepat depan
rumah yang hanya dihuni oleh dia dan kakeknya. Ia tampak sangat serius dengan apa saja yang
sedang dilamuninya, jadi kuputuskan untuk mendekatinya.
“Din?”
Ia tampak terkaget dan tak siap dengan kedatanganku
“Eh Ani, lagi ngapain malam-malam gini?”
“Lah kamu sendiri ngapain ngelamun ngak jelas malam-malam gini?”
“Yah kamu duduk dulu deh sini”
Duduklah aku di samping Dini.
“Sebenarnya aku sedang mikirin Kuliah ku di kota nanti”
“Kamu mau kuliah? Di kota?”
“Iya kakek bilang uang tabungan yang selama ini kakek tabung sudah cukup untuk biaya
kuliahku di Kota”
Disitu aku tak merespon kata-kata Dini bukan karena aku tidak mendengarkan atau tidak
mengerti tapi aku hanya merasa terguncang, bagaimana tidak Dini sudah menjadi Sahabatku
sejak SD dulu sampai kita bareng-bareng lulus SMA. Walau dulu kami berjanji untuk memulai
hidup sebagai warga Urban dan membawa kejayaan dan kebanggaan ke kampung kecil kami
tapi tak pernah kusangka Dini akan mendahuluiku dalam hal ini, sebab dari SD dulu kami selalu
mulai sesuatu bareng-bareng. Kuingat dulu saat kami berdua mencoba untuk mendapatkan
cowok terkeren di kampung kami tapi pada akhirnya tak satupun dari kami yang tega untuk
melukai satu sama lain. Dasar gadis naif kami berdua.
“Gimana pendapatmu Ani?”
“Eh oh iya, kalo menurutku kamu pergi aja, kan kakek udah susah payah nabung uang buat
kamu”
“Ani gimana sih, yaudah kalau aku udah kuliah di sana kita putus kontak”
“Lah kok jadi aku yang salah sih”
“Kamu sihh, ngak peka gitu kan aku tuh maunya kamu nahan-nahan aku gitu”
“Ya kan kita bukan anak-anak lagi Din”
“Udah seharusnya kita berpikiran lebih dewasa”
“IYa iya, kok kamu makin mirip dengan ibu kamu sih Ani?”
“Iya yah baru sadar aku”
“Emangnya kamu perginya kapan?”
“Kata kakek sih 7 hari kedepan, katanya udah beli tiket juga”
“Dalam waktu deket ya”
“Iya”
“EH ngomong-ngomong kamu bisa ikut aku dong kuliah di sana biar kita tetep bareng-bareng”
“Yah andai dunia dapat bekerja semudah itu”
“Oh iya maaf Ani aku lupa”
“Ngak papa kok”
Disitu aku berpikir andai kata Ayah masih ada pasti aku bisa dengan mudah mengatakan iya
terhadap ajakan Dini, walau pekerjaan Ayah bukan juga pekerjaan yang menghasilkan banyak
uang tapi pasti cukup untuk membawaku ke impian masa kecilku, menjelajahi kota yang bising
dengan kendaraan berpolusi. Haha betapa bodohnya aku membayangkan hal-hal itu dan
mengharapkan hal yang sudah tak dapat diubah.
“Oke deh kalo gitu aku pulang dulu yah Din. Udah malam juga nanti ibu kos marah lagi”
“Ya iyadeh aku masuk juga nanti kakek khawatir kan bisa bangun satu desa kalo gitu”
“Hahaahaha iya. Dah.” Walau masih banyak yang ingin kubicarakan dengan Dini seperti dia mau
kuliah dimana, tinggal dimana mau nyari kerja apa tidak. Yah tapi pembicaraan yang lebih lanjut
mungkin hanya membawa lebih banyak kekecewaan bagiku.
“Iya”
Kutinggalkan rumah Dini dengan perasaan yang Bahagia bercampur sedih, aku Bahagia karena
temanku ini akhirnya dapat mewujudkan cita-cita lama kita berdua dan sedih karena itu juga
berarti aku harus kehilangannya, mungkin hal inilah yang dirasakan orang tua Ketika harus
merelakan anaknya pergi merantau di kampung orang. Ssst apa apaan sih pikiranku ini kayak
sinetron aja.
Di rumah aku sangat khawatir ibuku akan bangun dan mendapatiku keluar begitu malam, saat
kugenggam gagang pintu rumahku kumerasa ada yang salah dengan pintu itu, pintunya tak mau
terbuka. Aduh ibu pasti mengunci pintu dari dalam mengapa aku begitu bodoh dengan tidak
membawa kuncinya.
Sekaranglah waktunya memaksa kepalaku mencari solusi, aku melihat ke sana kemari mencari
apa saja yang dapat kumanfaatkan untuk masuk tanpa membangunkan ibuku. Ahhh hatiku
berdebar kencang mana sudah malam lagi.
Disitulah kehebatan terdesak membantuku sekali lagi dalam hidup aku mengingat jendela
adikku yang dapat dengan mudah dibuka dari luar, walau aku terkadang mengkritisi jendela itu
karena dapat dengan mudah dibobol pencuri kali ini aku bersyukur jendela itu belum juga
diperbaiki.
Begitu aku membuka jendela perlahan dengan begitu dramatis aku sedikit berteriak melihat
adikku yang botak berdiri seperti di film Horror.
“Kamu kok belum tidur sih”
“Kakak ngapain masuk lewat jendela?”
“Oh kakak cuman tes tes aja apa muat badan kakak di jendela ini”
“Ohhh gitu kalau aku dulu pernah coba tapi mamah langsung tegur aku”
“Iya iya kamu tidur sana”
“Ngak bisa kak”
“Kenapa?”
“Ngak tau” ia mengatakannya sambil menggeleng.
“Udah nih masuk diselimut aja nanti juga tidur sendiri”
Dia melakukan persis yang kukatakan, dan Ketika aku hendak meninggalkan kamarnya ia
berkata.
“Kak apa ayah masih ada di rumah?”
“Husshh ada ada kamu ini, ayah sudah ada di tempat yang lebih baik. Nah sekarang kamu tidur
gih”
“Baik kak”
Walaupun kutau dengan jelas alasan adikku sulit untuk tidur dari matanya sudah dapat terlihat
jelas, ia merindukan ayah. Mengapa tidak dulu ayah yang selalu membantunya tidur dengan
membacakan buku dongeng tentang Keong Mas yang diulang-ulang.
Saat kubuka selimutku terlihat dengan jelas semua kekacauan yang kubuat seharian penuh,
bantal, bantal guling, seprai dan juga bukuku yang terurai bebas tak beraturan.
Terbesit pikiran untuk merapikan kekacauan ini tapi muncul juga rasionalitas yang
memenangkan pertandingan. Mengapa membereskannya kalau aku masih ingin melanjutkan
tidurku yang tertunda. Aku tahu sangat aneh mengantuk setelah tidur seharian tapi mungkin
kantuk ini muncul akibat efek samping dari berjalan tanpa arah di gelap gulita. Jadi kuputuskan
untuk membaringkan tubuhku Kembali ke Kasur ternyaman yang pernah kutemui.
Kuterbangun oleh kokokan ayam jantan yang katanya meminta rezky dari langit, kuberpikir apa
sih yang kamu doakan ayam apakah kamu mendoakan cacing di tanah keluar dengan
sendirinya?.
Tubuh malasku seperti menolak untuk digerakkan tapi kuusahakan semampuku akhirnya
kugenggam juga buku fiksiku yang belum juga kuselesaikan itu, lalu kulempar ke rak bukuku
yang tersusun rapi. Saat itu aku terlalu malas untuk membangunkan diri dan menaruhnya
dengan rapi seperti yang seharusnya.
Kubangun dari kemalasanku dan kuintip dari jendela terlihat Dini berada di teras sedang
berbincang-bincang dengan ibu. Tanpa berbasa basi lagi kulangkahkan kakiku untuk menemui
mereka berdua dan mencari tahu apa yang mereka berdua bicarakan.
“Mah? Dini?”
“Eh Ani baru aja bahas kamu” jawab Ibuku.
“Bahas apaan mah?”
“Haha nih aku tinggal ya dek Din”
“Iya tante”
“Bahas apaan sih sama mamah?”
“Haha rahasia dong”
“Yah kamu kok gitu sekarang”
“Cuman bahas jam bangun kamu doang kok ”
“Gitu aja marah”
“Ya kan aku penasaran aja”
“Emang ada urusan apa datang pagi pagi gini Din?”
“Pagi-pagi gini dari mananya ini udah mau siang putri Tidur”
“Ya bagi aku kan masih pagi banget”
“Ya terserah Putri aja”
“Jadi gini Ani kan aku udah mau pergi kuliah nih di kota aku cuman mau habisin waktu lebih
banyak sama kamu aja”
“Oh gitu hahahahahaha” aku sangat tertawa kali ini tanpa alasan.
“Tadi aku udah bilang juga sama mamah kamu soal keberangkatanku”
“Terus dia bilang apa”
“Dia bilang ya hati-hati aja”
“Tapi dia juga sempat bilang kalau kamu juga seharusnya bisa ikut dengan aku”
“Oh ya?”
“Iya tapi sudah itu ia berhenti bicara lalu kamu datang deh”
“Menurutmu apa maksud mamah bilang gitu?”
“Ya ngak tau mungkin mamah kamu punya simpanan yang mau ia habiskan demi anak gadisnya
demi pergi menjelajahi negeri yang jauh tanpa rasa takut demi membawa pulang kejayaan ke
kampung halaman” Dini menjelaskannya dengan nada yang mendongeng sangat tipikal Dini
sekali.
“yah andai kata dunia bisa seindah itu”
“Heiii jangan bersedih nanti aku juga sedih loh”
“Alay banget sih”
“Hahaha jangan panggil aku Dini jika tidak alay”
“Eh ngomong-ngomong ..”
Dan disitulah pembicaraan tanpa henti berlangsung alias Gosip. Seperti yang diketahui orang
umum kalau pembicaraan antar sesama perempuan adalah pembicaraan yang menyangkut
seisi bumi dan langit. Pembicaraan itu berlangsung cukup lama hanya berakhir karena salah
satu dari kami sudah mendapati bibir kering dan pecah-pecah.
“Okelah Ani aku pulang dulu ya nanti kakek marah ngak ada yang masakin makan malam”
“Iya hati hati ya”
Saat ku masuk ke rumah kulihat ibu sedang menyeterika baju adikku yang kebanyakan
berwarna merah dengan motif kartun kesukaannya.
“Mah udah tau kan kalo Dini mau merantau di kota buat kuliah”
“Iya”
Sangat aneh jawaban ibuku yang biasanya sedikit cerewet. Karena merasa tidak ada lagi
pembicaraan yang dapat menghindari kecanggungan jadi aku menuju ke kamarku lagi.
“Ani”
Panggilan itu sepertinya cukup serius.
“Ya kenapa mah?”
“Kamu sini dulu duduk”
Duduklah aku di lantai depan ibuku yang sedang menyetrika.
Selang beberapa saat hanya terisi dengan kekosongan antar kami berdua dengan diriku yang
duduk sambil menerka-nerka hal yang ingin dibicarakan ibuku. Pasti hal serius karena tidak
mungkin aku dipanggil seperti tadi hanya untuk hal sepele.
“Kak kamu kan udah gede udah 20 tahun juga” akhirnya kekosongan itu pecah dengan kata-
kata yang tak terpikirkan olehku.
“Sekarang yang mencari uang cuman mamah doang”
“Adek kamu juga butuh biaya buat sekolah nanti”
“Uang dari usaha kue mamah pasti ngak bakalan cukup”
“Aku bisa kok pergi bantu-bantu Om Tatang di Empang”
“Ngak kamu kan cewek”
“Atau bantu Tante Sri dengan dagangannya di pasar, pasti lumayan gajinya”
“NGAK ASRIANI!!!”
Bentakan ibuku seperti menghentikan rumput bergoyang, angin berhembus dan jantungku
yang berdetak.
“TERUS MAUNYA MAMAH APA”
“EMANGNYA AYAH PERGI SALAH AKU”
Tak kusangka bibirku mulai membentak seseorang yang telah tulus membesarkanku selama ini.
Tak terima dengan kata-kataku yang merendahkan derajatnya, ibuku berdiri meninggalkan
setrikanya dan mulai membalas.
“BAPAK KAMU CUMAN MINTA SATU SAMA MAMAH”
“CUMAN SATU ASRIANI”
“Bapak kamu cuman mau kamu bekerja di kota”
“Kamu menjadi pekerja yang bisa membawa lebih banyak martabat ke keluarga kita”
“Oh jadi maksud mamah pekerjaan om Tatang ngak membawa martabat gitu?”
“Bukan,,, bukan begitu maksud mamah”
“maksud mamah itu,,,,,”
“Lagian kalau kamu kerja di Om Tatang ngak bakalan bisa cukup buat kamu dan adek kamu
Ani!”
“Terus buat apa Ani pergi kerja ke kota”
“Biar mamah ngak liat kemalasan Ani lagi?”
“Biar mamah ngak liat lagi Ani yang suka pergi ngak jelas?”
“Atau biar mamah ngak liat lagi anak mamah yang gagal dan cuman diem doang di rumah
selama 3 tahun”
Aku tahu semua drama ini terlihat tidak masuk akal mengingat keinginanku yang sangat ingin
pergi menjelajahi kota yang gemerlap. Tapi situasi ini sangat membuat Ego dan Sifat kekanak-
kanakanku menjelma menjadi siluman yang menjulang tinggi menembus langit teratas.
“Hentikan kekanak-kanakanmu ini Ani”
“Itulah kenapa kamu ngak pernah sedewasa Dini”
Ibu membandingkanku dengan Dini lagi, sebuah kebiasaan yang sangat kubenci dari Ibuku
sedari dulu.
“Dini cuman hidup berdua sama kakeknya, Dini walau masih muda udah bisa mengurus
keluarganya sendiri”
“Apa yang Mamah usulkan ke kamu ini sebenarnya juga berat buat mamah Ani”
“Tapi apa boleh buat cuman kerja di kota kamu bisa mendapat gaji yang lumayan untuk
menutupi kebanyakan dari pengeluaran Ibu sekarang”
“Setidaknya gaji kamu UMR udah cukup buat mamah, kamu sama adik kamu”
“Jadi untuk sekali saja dengerin mamah dulu Ani”
Aku mendengarkan dengan segala kemarahan yang tertunda oleh kelembutan Ibuku kali ini.
“Di kota nanti kamu bisa kerja di salah satu keluarga bapak kamu”
“Dia punya kedai kopi”
“Mamah udah punya alamatnya”
Ibuku memberikan sebuah potongan kertas kecil yang berisikan alamat kedai kopi yang
dimaksud.
Tetapi karena sifat kekanak-kanakanku lagi aku meninggalkan Ibuku dengan Air mata yang
pecah dengan semua drama yang terjadi.
Saat menuju kamarku kulihat Adikku berdiri di sebelah tembok dengan mata yang tertuju tepat
dimana aku dan Ibuku berbincang tak terkendali.
Dia mencoba menampung genangan air yang tertahan oleh kelopak mata kecilnya.
“Hush hush ngak usah nangis aku dan mamah cuman main doang kok”
“Sini masuk kamar kamu”
Saat kucoba menenangkan adikku akhirnya dia tak tahan juga dengan emosi yang bergejulak di
dada kecilnya.
Ia berlari kencang keluar rumah dengan kaki yang menumbuk lantai dengan keras.
Aku mencoba mengejar adikku yang berlari tak jelas itu, tentu saja aku takut ia kenapa-kenapa.
Setelah mencoba menangkapnya yang berlari seperti kijang akhirnya kutemukan dia sedang
berada di pelukan Dini.
“Din?”
“Oh syukurlah”
Adikku terlihat memeluk Dini dengan erat sambal menangis terseduh-seduh khas dirinya.
“Kamu kenapa?”
Dini bertanya pada Adikku dengan mata yang sedikit melirik wajahku yang panik.
“Ibu dan kakak berkelahi kak Din….hu hu hu”
“Udah udah kamu udah jangan menangis lagi”
“Ini kak Ani udah ada kan?”
Adikku mengangguk dengan mata kecilnya yang bengkak
“Udah ngak berkelahi lagi sama mamah kan?”
Adikku mengangguk lagi.
“Ayok sama kakak Ani pulang nanti kakak buatin biscuit coklat yah”
Adikku mulai meregangkan pelukannya ke Dini.
“Tapi pulangnya digendong”
Kugendonglah Adikku itu dengan kaki menggulung leherku dan tangan mungilnya yang menarik
rambut kuncir kudaku.
Diperjalananku menuju rumah kubalikkan badanku kemudian mengedipkan sebelah mataku
kepada Dini.
“Dah kak Dini”
Sesampaiku di rumah dan adikku terlihat Ibuku sedang mengacak-acak dapur dengan tangan
lihainya. Aku tahu bau ini. Biskuit coklat. Seperti ibu membaca pikiranku dengan membuatkan
biskui coklat untuk adikku tanpa kuberi tahu.
“Tuh kan mamah udah buatin Biskuit coklat kesukaan kamu”
Dengan semangat yang seperti menghilangkan jejak tangisan di pipi lembutnya ia berlari
menuju dapur.
“Mah mah Biskuit Coklat kah?”
“Iya ini buat adek”
Kutinggalkan adikku Bersama induknya. Kumenuju singgasanaku kembali sambil menimbang-
nimbang usulan ibuku tadi.
Setelah beberapa saat menghabiskan waktu dengan Adikku dan Biskuit coklatnya Ibuku
mengetuk pintuku dengan tiga ketukan ringan.
“Ani?”
“Masuk”
Ibuku segera duduk disampingku lalu membaca pikiranku lagi untuk kedua kalinya,
“Udah Ani kamu ngak usah terlalu pikirin ini juga kan buat Mamah sama Adik kamu juga”
“Setidaknya kalau kamu ngak mau lakuin buat mamah lakuin buat adek kamu”
“Oke deh mah”
“Nah gitu dong anak mamah”
Akhirnya untuk pertama kalinya setelah sekian lama Ibu memelukku dengan hangat.
“Kamu ikut Dini aja nanti ke kotanya.”
“Tapi dapat duit dari mana mah?”
“Udah kamu ngak usah pikirin”
“Mamah mau jual motor ayah kan”
Ibu melepas pelukannya.
“Itu jalan satu-satunya Din”
“Tapi kan mah”
“Itu juga yang bapak kamu dulu bilang sama Mamah sewaktu masih sakit dulu”
“Bapak kamu bilang kalau uang mamah kurang untuk kamu pergi ke kota mamah boleh jual
motor bapak”
Aku tak merespon penjelasan ibuku itu.
“Nih kamu ambil alamat ini jangan dihilangin ya”
Ibuku memberiku lagi potongan kertas yang sempat kuabaikan tadi itu,
Ditinggallah diriku dengan seribu pertanyaan yang tak terucap dari bibir ini.
Hari hari berikutnya berlalu dengan cepat dan membosankan, hanya diisi dengan diriku yang
mondar-mandir kamar dan ruang lain di rumah tak jelas dengan sesekali bergosip ria dengan
Dini yang makin rajin datang ke rumah semenjak mengetahui tentang ikutnya diriku ke kota.
Tibalah hari yang paling menegangkan dalam hidupku hari ini adalah sehari sebelum
keberangkatanku dengan Dini ke kota. Hari itu kuhabiskan dengan bermalam di rumah Dini
karena takut ketinggalan bus,
“Wah gimana nih Ani kamu takut ngak?”
“Takut sih takut kan soalnya aku dari lahir sampai gede gini cuman pernah rasain hidup di
kampung sini”
“Iya sih sama”
Kami pun tertawa ria demi mencoba menambal ketakutan yang terlihat jelas dengan melihat
bibir kami yang bergetar tak normal. Saat itu kutahu Dini sedang resah dan takut akan hari
esok, itu semua terlihat dari caranya menggaruk kepalanya sesekali tiap beberapa saat.
Walaupun Dini seperti ingin menutupi keresahan dan ketakutannya tapi mengenal Dini sejak
kecil adalah keistimewaan yang tak dapat dilawan olehnya.
“Udah jangan terlalu panik Din, kita kan sekarang perginya barengan kamu ngak sendiri lagi”
“siapa yang panik sih kamu sok tahu deh”
“Yah ngelawan lagi”
“tau darimana coba?”
Aku menjawab dengan memperagakan tangan yang menggaruk kepala seperti monyet
kebingungan.
Dini hanya menjawab dengan sedikit marah.
“Tau deh”
Demi memecah kekosongan kami berdua yang tak terhindarkan karena sedari tadi kami hanya
membicarakan soal betapa takutnya kami berdua untuk memulai kehidupan baru di Kota.
“Daripada kita bicara ngak jelas sepanjang hari setidaknya kita baca buku fiksiku aja”
Sudah beberapa hari ini tak pernah kubuka bukuku itu, karena terlalu sibuk membicarakan
gossip tak perlu dengan Dini akhir-akhir ini.
“Yaudah deh kamu yang baca ya aku dengerin”
“Kan kamu belum baca Din dari awal”
“Yah ngak papa deh aku cuman mau denger cerita yang diceritakan seperti anak yang ingin
dibungkam oleh orang tua yang Lelah dengan hari yang sibuk”
“Serah kamu lah kalo gitu”
Disitu aku mulai membaca fiksiku lagi itu, tapi kali ini dengan suara yang riang dan lepas.
“Dan saat itu Afgan mulai melakukan perjalanan yang telah ditunda selama hidupnya,
MENDAKI SEMERU”
Berceritalah diriku dengan dipandu buku fiksiku sampai kami berdua tertidur.
“Ani Ani bangun Ani”
Dini menepuk-nepuk pipiku dengan dibumbui sedikit tamparan yang sangat disengaja untuk
membangunkanku.
“Cepetan Ihh”
“Kita udah telat ini mamah kamu udah ada diluar Ani”
“Hah mana?” dengan nada yang panik baru bangun tidur aku bertanya.
“Itu diluar sana cepetan mandi sana”
Kubergegas masuk ke kamar mandi dan menyiram secepat mungkin yang aku bisa.
“Cepetan Ani Bisnya udah mau jalan nih nanti perjalanan ke terminal makan waktu 30 menitan”
“Iya iya…” Aku menjawab dengan suara yang agak buram karena dibarengi dengan hantaman
air di kepala.
Selepas mandi aku dengan secepat kilat memakai baju dan membawa masuk semua barang
yang akan kubawa ke mobil kakek Dini.
“Ani kamu memang selalu aja telat bangun untuk dibangunin Dini”
Ibuku mengejek di pagi pagi buta begini, tapi karena masih mabuk tidur aku tidak merespon.
Berjalanlah mobil butut kakek Dini menuju Terminal yang jaraknya cukup jauh dari desa kami.
Diperjalanan yang berguncang-guncang ibuku bertanya
“Dek Din kamu udah siapin apa aja untuk kuliah nanti?”
“Oh belum banyak kok tante. Paling cuman baju kemeja putih sama almamater kampus dengan
beberapa buku tulis kosong”
“Oh iya iya.”
“Kalau Ani cuman bawa barang pokoknya aja, soalnya Ani cuman mau kerja di sana ngak kuliah”
Walaupun info itu sudah sangat basi, karena Dini yang sudah berkali-kali diceritakan oleh Ibu
sendiri.
“Oh iya tante.”
“kalau nanti di sana dek Din jangan main sembarangan yah”
“Soalnya tante denger-denger orang kota suka dugem-dugem gitu”
“Oh iya tante”
“Sama ingetin juga si Ani”
“Iya tante siap-siap”
Ditengah basa-basi ibuku mobil Kakek Dini tiba-tiba saja berhenti mendadak.
“Waduh mobilnya mogok ini”
Jelas kakek Dini.
“Jadi gimana dong kek?”
Tanya ibuku.
“Waduh gimana nih mana udah mau berangkat lagi Bisnya,”
Keluh Dini yang berada di samping diriku yang setengah sadar karena masih ngantuk.
Di tengah-tengah kepanikan kami semua karena takut ketinggalan Bis yang sudah dibayar
mahal, kakek Dini datang dengan sebuah solusi.
“Gimana kalau kakek pergi dulu jalan depan sana”
“Mau kemana kek?” ibuku bertanya mewakilkan kami bertiga.
“Disana seingat kakek ada bengkel, siapa tau bisa bantu dorong mobilnya”
“Kita aja yang bantu dorong kek” jawab aku dan Dini.
“Ngak usah ngak usah. Mobil ini berat walau cuman besi tua he’ he’”
Pikirku masih juga si kakek sempat bercanda di situasi yang panik begini.
Turunlah kakek dari mobil.
“Kek emang deket ya?”
“Iya deket kok disini jalan sampai tikungan sana terus sebelah kiri itu bengkelnya”
“Oh iya deh kakek hati-hati ya”
Berjalanlah kakek dengan sedikit berlari demi mengejar keterlambatan yang disebabkan oleh
Mobil tuanya.
Setelah beberapa saat dengan keheningan diantara kami bertiga, terlihatlah kakek
berboncengan motor dengan orang yang sepertinya orang bengkel itu. Tapi ada yang aneh
dengan postur kakek di motor. Hahahahaha mereka berbonceng tiga dengan dua orang
bengkel.
Setelah sampai dengan tergesa-gesa kakek yang terlihat seperti masih muda turun dari motor
dengan dua orang lainnya dengan kakek kembali ke setir mobil dan dua orang tadi mulai
mendorong mobil.
“Tu wa ga dorong….”
“Tu wa ga dorong……”
Tuk tuk tuk tuk berbunyilah kembali mobil butut kakek dan dua orang tadi kembali ke kaca
depan untuk menerima uang dari kakek.
“Makasih pak”
“Iya sama-sama”
Kembalilah kami berjalan ke terminal dengan diiringi oleh dua orang tadi dengan motor. Tapi
pengiringan itu hanya sampai bengkel di depan kemudian dua orang tadi berhenti.
Setelah sampai di terminal kami bergegas turun dan membawa barang bawaan kami dengan
tergesa-gesa.
“Ayo kamu cepetan Ani jangan ngantuk dulu, nanti tidurnya di Bis aja” marah ibuku karena
Gerakanku yang paling lambat.
Setelah mengambil barang-barang kami dari mobil berlarilah aku dan Dini tapi diikuti juga oleh
Kakek dan Ibu.
Sampailah kami di Bis dan mencari tempat duduk yang kemungkinan paling nyaman untuk
perjalanan jauh ke bandara nanti.
Sebelum Bis berangkat Ibuku masuk kedalam untuk memberi salam perpisahan. Salamnya
berbunyi seperti ini.
“Kamu yang baik nak di sana, ingat pesan Ibu ya”
“Nanti kamu akan dapat ganjaran yang setimpal dengan kepergianmu ini nak”
Entah apa maksud dari kata-kata ibu tadi tapi yang jelas sang supir sudah mulai berteriak.
“Mobil sudah mau berangkat tolong semua yang bukan penumpang harap keluar Bis.”
Keluarlah Ibuku dengan wajahnya yang sedih melihat anak sulungnya berangkat meninggalkan
kampung halaman.