Anda di halaman 1dari 2

Jatakarma Samskara, Sebuah Ritual Kelahiran Bayi Masyarakat Hindu Bali

Salah satu ritual yang masih ada dan dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali adalah jatakarma
samskara. Mengutip dari "Tradisi Upacara Jatakarma Samskara dalam Merepresentasi Nilai
Keagamaan pada Masyarakat Hindu Bali" yang ditulis Ni Nyoman Suastini dan Ni Putu
Suparwati, jatakarma samskara merupakan upacara kelahiran bayi yang dilaksanakan sebelum
melepas tali pusar bayi.

Ketika bayi keluar dari kandungan ibunya, ia dibantu oleh keempat saudaranya yang disebut
dengan Catur Sanak. Catur Sanak tersebut meliputi ari-ari, air ketuban (yeh nyom), puser
(lamas), dan darah (rah), sehingga sang bayi pun juga harus memelihara dan melindungi keempat
saudaranya.

Ritual ini dinilai sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan atas kehadiran si kecil di dunia.
Biasanya, upacara ini dilakukan di dalam dan di depan pintu rumah.

Untuk melaksanakan ritual ini, dibutuhkan seseorang yang tertua atau dituakan dalam keluarga.
Namun, jika di dalam keluarga tersebut tidak ada seseorang yang dituakan atau hidup merantau,
sang ayah bisa menggantikan posisi pemimpin ritual ini.

Setelah pembacaan doa, biasanya dilanjutkan dengan penanaman ari-ari. Setelah dibersihkan dan
dimasukkan ke dalam kendi, tempat ari-ari tersebut kemudian ditutup kembali.

Ada pula masyarakat Bali yang mengganti kendi dengan kelapa sebagai tempat ari-ari. Jika
menggunakan kelapa, kelapa tersebut akan dibelah menjadi dua bagian terlebih dahulu.

Kemudian, ari-ari diletakkan di dalam kelapa dan selanjutnya ditutup kembali. Jika ari-ari sudah
dimasukkan ke dalam kendi atau kelapa, hal yang tak boleh terlewat yaitu menuliskan aksara
Hindu yang berbunyi Om-kara.

Sementara, pada bagian dasar kendi atau kelapa juga dibubuhkan tulisan yang berbunyi Ah (Ah-
kara). Setelah disatukan, pada bagian sambungan ditulis aksara Ongkara yang bermakna agar
Sang Catur Sanak selalu mohon kekuatan Hyang Widhi untuk melindungi sang bayi dalam
kehidupannya di dunia.

Hal yang juga perlu diperhatikan saat menanam ari-ari adalah letak penanamannya. Setelah
kendi atau kelapa tersebut dibungkus dengan kain putih yang di dalamnya diberi bunga dan
beberapa uang kepeng Bali, baru selanjutnya ditanam.

Jika anak yang lahir adalah laki-laki, maka kelapa tersebut ditanam di sisi kanan pada pintu
keluar dengan posisi menghadap ke luar rumah. Namun, jika yang lahir adalah perempuan, maka
ari-ari ditanam di sebelah kiri.
Setelah ditimbun, di atasnya ditanam pohon pandan berduri. Secara mitos, hal tersebut diambil
dari cerita Dewi Adnyaswari yang menceritakan bahwa tetesan darah dari anak Catur Sanak
tersebut tumbuh menjadi tanaman yang berduri.

Selain itu, penanaman pohon pandan berduri juga memiliki makna sebagai senjata untuk
melindunginya. Selanjutnya, ditindas dengan batu besar yang rata permukaannya dan di
sebelahnya ditancapkan sanggah cukcuk dengan upacara banten peras telung sayut, penyeneng
dan tumpeng pancawarna, serta sekar sarwa miik.

Adapun upacara untuk Catur Sanak berupa segehan kepelan Catur Warna, lauknya berupa
bawang jae diisi sedikit garam dan satu tangkih berisi sedikit beras, porosan, benang Bali, dan
dua biji uang kepeng dengan sampeyan plaus. Sementara itu, mantra yang diucapkan saat
menanam ari-ari berbunyi, "Om lbu Pertiwi rumaga bayu, rumaga amerta sanjiwani,
angermertani sarwa tumuwuh si anu (nama bayi) mangde dirgayusa nutugang tuwuh".

Mantra tersebut memiliki arti, "Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai pertiwi,
penguasa segala kekuatan, penguasa kehidupan menghidupi segala yang lahir atau tumbuh, si
(nama bayi) semoga panjang umur. Dengan doa dan proses yang benar pada ritual, dipercaya
sang bayi akan tumbuh menjadi anak yang pintar, sehat, dan senantiasa selalu dilindungi.

Anda mungkin juga menyukai