0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
477 tayangan17 halaman

Menanam Cabai Rawit

Cabai rawit dapat ditanam dalam polybag. Langkah-langkahnya meliputi pembelian benih dan polybag, pengaturan media tanam, penyemaian benih, perawatan tanaman hingga panen. Cabai rawit polybag generasi kedua dapat tumbuh kembali setelah ditinggalkan dan diguyur hujan.

Diunggah oleh

Agam Alfian Nazri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
477 tayangan17 halaman

Menanam Cabai Rawit

Cabai rawit dapat ditanam dalam polybag. Langkah-langkahnya meliputi pembelian benih dan polybag, pengaturan media tanam, penyemaian benih, perawatan tanaman hingga panen. Cabai rawit polybag generasi kedua dapat tumbuh kembali setelah ditinggalkan dan diguyur hujan.

Diunggah oleh

Agam Alfian Nazri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MENANAM CABAI RAWIT

Posted by seputar pertanian

Cabai rawit atau cabe rawit, adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum.
Selain di Indonesia, ia juga tumbuh dan populer sebagai bumbu masakan di negara-
negara Asia Tenggara lainnya. Di Malaysia dan Singapura ia dinamakan cili padi, di
Filipina siling labuyo, dan di Thailand phrik khi nu. Di Kerala, India, terdapat masakan
tradisional yang menggunakan cabai rawit dan dinamakan kanthari mulagu. Dalam
bahasa Inggris ia dikenal dengan nama Thai pepper atau bird's eye chili pepper.

Buah cabai rawit berubah warnanya dari hijau menjadi merah saat matang. Meskipun
ukurannya lebih kecil daripada varietas cabai lainnya, ia dianggap cukup pedas karena
kepedasannya mencapai 50.000 - 100.000 pada skala Scoville. Cabai rawit biasa di jual
di pasar-pasar bersama dengan varitas cabai lainnya.

Terdapat peribahasa Indonesia "kecil-kecil cabe rawit" (Malaysia: kecil-kecil cili padi),
yang artinya kecil-kecil tapi pemberani.

Menyemai Bibit Cabai Rawit dalamPlastik Polybag


Menyemai Bibit Cabai Rawit dalam Plastik Polybag  dimaksudkan agar saat bibit
cabai rawit ditanam dalam media plastik Polybag atau pot dapat tumbuh secara
langsung tanpa mengalami masa penyesuaian. Saya sudah membuktikan langkah ini,
dimana Menyemai Bibit Cabai Rawit dalam Plastik Polybag mengurangi resiko bibit
cabai rawit mati setelah ditanam. Hasil proses Menyemai Bibit Cabai Rawit dalam
Plastik Polybag menghasilkan kualitas pertumbuhan yang maksimal tanpa ada masa
delay atau penyesuaian terhadap situasi iklim di sekitarnya, karena pada saat proses
Menyemai Bibit Cabai Rawit dalam Plastik Polybag kita langsung dapat meletakan bibit
dengan situasi dan iklim yang sama dengan lokasi bibit cabai akan di budidayakan.
 
Langkah-langkah yang saya lakukan dalam proses Menyemai Bibit Cabai Rawit dalam
Plastik Polybag saya dapatkan dari beberapa sumber dari buku maupun internet. Tetapi
dalam artikel ini saya akan berbagi informasi tentang langkah Menyemai Bibit Cabai
Rawit dalam Plastik Polybag yang saya lakukan saja. Untuk mengikuti langkah-langkah
proses Menyemai Bibit Cabai Rawit dalam Plastik Polybag yang saya dapatkan dari
buku dan internet, terkadang saya kesulitan menemukan media yang dimaksud dan
andaipun ada terkadang tidak mampu membelinya karena penjualan alat tersebut tidak
boleh diecer alias harga grosir.
Langkah saya dalam proses Menyemai Bibit Cabai Rawit dalam Plastik Polybag akan
saya urutkan pada daftar dibawah ini :

 Membeli Benih Cabai Rawit yang anda inginkan, kalau saya percayakan pada
toko pertanian,
 Membeli Polybag ukuran kecil kira-kira diameter 5 cm.
 Menyiapkan pupuk kandang kemudian saya saring atau ayak sehingga butiran
pupuk yang lembut saja yang saya gunakan, saya tidak menggunakan pupuk
anorganik seperti urea dan lainnya.
 Menyiapkan tanah yang baik kemudian juga disaring atau diayak.
 Tanah dan pupuk kandang kemudian saya aduk rata kemudian saya masukan
ke dalam polybag yang sudah kita beli.
 Plastik Polybag yang sudah terisi media kemudian saya tata ditempat yang kira-
kira situasinya sama dengan lokasi tanam nya nanti.
 Plastik Polybag yang sudah tertata rapi kemudian saya siram dengan air hingga
rata, jika ada isi media nya yang susut saya tambahkan lagi dan saya diamkan
selama sehari semalam.
 Setelah itu benih biji cabai rawit yang kita beli saya masukan satu persatu
kedalam plastik Poblybag, untuk menghindari biji tidak tumbuh setiap polybag
saya isi dua biji benih cabai rawit dengan posisi atau jaraknya kira-kira 2 cm.
 Proses selanjutnya adalah membuat penyemaian cadangan jika nanti dalam
plastik polybag ada yang tidak tumbuh atau mati kita bisa langsung
menggantinya, media yang digunakan bisa memakai kaleng biskuit yang besar
diisi media tanam kemudian sebarlah benih cabai rawit diatasnya secukupnya.
 Semua langkah diatas saya lakukan secara berurutan dan kita tinggal menunggu
sambil merawat benih hingga siap tanam kira-kira 4-6 minggu kemudian.

Plastik Polybag yang sudah terisi media ditata rapi


Bibit Cabai siap ditanam dalam media Polybag yang lebih besar
Menyemai Bibit Cabai Rawit dalam Plastik Polybag tidaklah susah.

Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag


Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot tidaklah susah, sama seperti
kita memelihara tanaman lainnya. Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot
tidak ubahnya seperti kita menanam bunga, dari memilih benih atau bibit bunga,
kemudian menyiapkan media tanamnya yaitu wadah plastik (polybag) atau pot dan
tanahnya yang dicampur pupuk organik atau pupuk kandang. serta menanam bibit
bunga dan merawatnya hingga menghasilkan bunga yang diinginkan. Ikuti Cara
Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot yang saya lakukan yang sebelumnya
belum pernah menanam cabai rawit tetapi sekarang cabai rawit itu telah berbuah
sempurna.
 
Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot
Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot yang saya terapkan berawal dari
sebuah riset sederhana, di mana ketika kita hidup di perkotaan atau hidup di
perumahan yang lahan nya sempit dan terbatas kita bisa melihat berbagai tumbuhan
baik tanaman bunga atau tanaman buah jarang sekali diserang penyakit.  Hal ini
berbalik 180 derajat ketika saya pulang kampung di mana tanaman apa pun jenisnya
pasti akan diserang penyakit, seperti pohon mangga yang tumbuh di samping rumahku
di kampung batangnya tidak pernah normal karena diserang hama penggerek batang
namanya, jadi batangnya atau dahannya selalu patah dan lama-lama pohonnya kan
mati. Kemudian saya memilih tanaman cabai rawit karena buah yang satu ini tidak akan
terlepas dari kehidupan manusia, dan harganya kadang-kadang  menjadi isue yang hot
sesuai dengan rasanya, intinya tumbuhan ini vital bagi kehidupan saya dan para
pencinta gorengan.
 
Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot saya lakukan dalam beberapa
tahapan :

1. Saya membaca beberapa referensi dari internet dan juga melihat video berbagai
teknik atau Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot di youtube.
2. Membeli benih ditoko pertanian, jika kita awam jangan sungkan-sungkan
bertanya atau berkonsultasi dengan pemilik kios penjual alat , obat dan benih-
benih pertanian, cari benih yang unggul.
3. Sambil membeli benih kita juga bisa membeli alat-alat yang kita butuhkan seperti
plastik polybag untuk penyemaian benih dan penanaman cabai rawit, pupuk
anorganik, alat penyemprot hama dan juga obatnya.
4. Menyemai benih cabai rawit dengan menggunakan polybag yang kecil.
5. Sambil menunggu bibit cabai rawit berumur sekitar 3 – 6 minggu kita
menyiapkan tempat penanaman dalam polybag besar.
6. Setelah bibit cabai rawit siap tanam, maka kita pasang sanitasi atau cara
pengairan menggunakan pipa dan selang yang terhubung dengan bak
penampungan air.
7. Masa perawatan adalah masa yang sangat menyenangkan dan membosankan,
karena kita harus rajin menyirami dan juga memberantas hama yang
menyerang.
8. Perawatan Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot dengan proses
yang baik akan menghasilkan panen yang maksimal.

Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot bisa anda coba, jika anda mau
berhenti membeli cabai yang harganya kadang menguras kantong

Cabai Rawit Polybag Generasi Kedua                   


Cabai Rawit Polybag Generasi Kedua yang terlupakan. Masih ingat dalam postingan
sebelumnya saya membahas tentang budidaya cabe rawit dalam polybag dan
bagaimana nasib cabe rawit tersebut sekarang. Inilah kisah terakhir nasib Cabai Rawit
Polybag Generasi Kedua. Setelah masa tanam dan panen raya saya membiarkan dan
menelantarkan 43 pohon cabe rawit dalam plastik polybag hingga lokasi penanaman
menjadi semak belukar. Pada saat itu hujan sangat jarang turun sehingga batang dan
ranting pohon cabe mulai layu dan mati, tetapi karena bayaknya rumput dan semak
yang menutupi batang menyebapkan pohon cabe rawit tidak mati total hanya
berhibernate dan setelah hujan mulai turun pohon cabe rawit yang sudah hampir mati
tersebut kemudian mulai bersemi kembali.
 
Cabai Rawit Polybag Generasi Kedua
Alangkah terkejutnya setelah beberapa minggu diguyur hujan Cabai Rawit Polybag
Generasi Kedua tumbuh dengan cepatnya dan melebihi rimbunya pada saat tumbuh
pertama setelah tanam. Akhirnya Cabai Rawit Polybag Generasi Kedua yang berada
didalam semak belukar dengan selang-selang alat vertigasi masih menempel pada
plastik polybag saya lepas. Dari 43 plastik polybag yang ditanami cabe rawit hanya
sekitar 40 batang Cabai Rawit Polybag Generasi Kedua yang masih bertahan, sisanya
mati total.
 
Cabai Rawit Polybag Generasi Kedua saya pindahkan dilokasi tempat akan
dibangunnya rumah impian, tepatnya diatas pondasi rumah. Deretan Cabai Rawit
Polybag Generasi Kedua yang mempunyai ranting nan rimbun dan buah yang lebat
menarik perhatian kawan-kawan yang main melihat-lihat perkembangan pembangunan
rumah impian saya. Dan keluarlah kata-kata pujian tentang cabai rawit dalam plastik
polybag disertai embel-embel “minta boleh”, saya persilahkan bagi kawan-kawan yang
berminat untuk membawa pulang semampunya, wal hasil Cabai Rawit Polybag
Generasi Kedua tersisa sekitar 12 batang saja.
 
Cabai rawit memang sangat ungul pedasnya, dan juga unggul masa tanamnya asalkan
kita merawatnya dengan baik umur dari pohon Cabai Rawit Polybag Generasi Kedua
juga akan bertahan lama.

Pemanenan Cabai Rawit


Kebun tempat Budidaya Cabai Rawit
Cabai Rawit yang di tanam ini benihnya di dapat dari toko pertanian, jadi apakah cabai
merah kriting atau cabai rawit aja persisnya saya kurang paham, saya hanya bilang
bahwa saya mau menanam cabai kecil tolong dipilihkan. Ditoko pertanian yang saya
lihat cukup lengkap, mulai dari peralatan, aneka macam benih tanaman sayuran dan
palawija dan juga media tempat menanan.
 
Saya tertarik menanam cabai rawit atau cabai kecil ini karena pedasnya dan bentuknya,
biasanya kalau beli gorengan pasti ada cabainya dan biasanya bentuknya agak besar
dan kurang pedas. Cabai yang di tanam mengadopsi budidaya cabai ala Fertigation
atau fertigasi yaitu budidaya tanaman didalam kantong plastik atau polybag. Hal ini
saya pilih karena lebih simpel dengan asumsi kalau cabai sudah mulai panen dan
banyak hama pencuri buah polybagnya bersama batang cabainya saya bawa pulang
hehehe.

Memanen Cabai Rawit pertama rencananya dengan membawa gorengan ke kebun,


karena prediksi awal sekantong plastik gorengan akan meludeskan panen cabai
perdana, ternyata tidak disangka dan tidak diduga cabainya buah cukup lebat jadi
panen perdana saya berikan semua kepada tetangga disamping kebun.
Seperti pepatah “Siapa menanam maka siap 
menuai panen” memberikan penyemangat kita untuk selalu menanam kebaikan
(*hikmah Sholat Jum’at). Tidak banyak pohon cabai yang saya tanam, karena ini hanya
sekedar hobi dan ujicoba pepatah tadi. Menjalankan hobi dengan sesuatu yang
bermanfaat akan mendapatkan keutungan dobel, yang jelas dapat menyenangkan
orang lain.
 
Memanen Cabai Rawit atau Cabai Merah Kriting masih akan berlanjut hingga hingga
pohon cabainya tutup usia
BUDIDAYA DAN PASCA PANEN CABE RAWIT
(Capsicum frutescens)
PENDAHULUAN
Cabe bukan merupakan tanaman asli Indonesia , walaupun hampir setiap hari
penduduk Indonesia makan dengan cabe.  Cabe berasal dari Meksiko, Peru dan Bolivia
, tetapi sekarang sudah tersebar diseluruh dunia.  Cabe merupakan komoditas
pertanian yang merakyat seperti halnya bawang merah karena dibutuhkan oleh hampir
seluruh lapisan masyarakat.  Sehingga tidak mengherankan bila volume peredarannya
di pasaran sangat besar.  Walaupun volumenya sangat besar dan dibutuhkan oleh
semua kalangan, tetapi sampai sekarang harga cabai tidak pernah mantap (fluktuatif). 
Di beberapa daerah sentra produksi, harga berubah hampir setiap waktu, tergantung
jumlah barang dan permintaan.  Bila barang tidak ada karena iklim yang tidak
mendukung , maka harga cabai akan melonjak tinggi.  Sebaliknya bila barang sedang
membanjir harga bisa turun drastis.  Penurunan harga yang sangat tajam juga terjadi
bila cuaca mendung dan kondisi lembab karena mutu cabe menurun dan cabe tidak
tahan lama disimpan.
 
JENIS CABE RAWIT
Cabe rawit  sering juga disebut Hot Chili, cabe kecil atau “lombok jempling”.  Seperti
halnya cabe besar, cabai rawit juga ada beberapa macam tetapi umumnya
dikelompokkan menjadi tiga jenis :

 Cabe kecil/mini/jemprit

Sesuai dengan namanya bentuk buah cabe rawit ini kecil dan pendek, panjangnya
hanya 1-2 cm saja. Buah muda biasanya berwarna hijau  dan berubah menjadi merah
tua kecoklatan bila masak.  Walaupun kecil tapi cabe rawit ini mempunyai rasa paling
pedas di antara semua cabe rawit.

 Cabe rawit putih

Cabe rawit yang bentuk buahnya langsing dan mempunyai ukuran rata-rata 4-6
cm.         Buahnya berwarna kuning keputih-putihan bila masih muda dan berubah
menjadi merah kekuningan setelah masak.  Menurut beberapa pedagang  , cabe rawit
jenis ini paling enak bila digunakan sebagai sambal bakso.  Bahkan pabrik saus lebih
suka menggunakan cabe rawit putih ini , karena warna sausnya tidak kotor.  Konsumen
di Jawa Timur paling menyukai jenis cabe rawit ini

 Cabe rawit hijau

Buah cabe rawit hijau ini besar dan gemuk, dengan panjang sekitar 3 –4 cm.  Sesuai
dengan namanya, waktu muda buahnya berwarna hijau tua dan berubah menjadi
merah tua setelah masak  Rasa dari cabe rawit hijau ini lebih pedas dari cabe rawit
putih , tetapi masih kalah dengan cabe rawit kecil.  Umumnya konsumen di Jakarta dan
Bandung yang lebih menyukai cabe rawit ini.
 
SYARAT TUMBUH CABE RAWIT
Cabe dapat tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 200 m di atas permukaan
laut.  Tetapi bila udara sangat dingin sampai embun membeku (frost) mungkin tanaman
akan mati.  Penanaman cabe pada waktu musim kemarau dapat tumbuh dengan baik,
asal mendapat penyiraman cukup .  Temperatur yang baik untuk cabe adalah sekitar 20
o
– 25 o C.  Bila temperatur sampai 35 o C pertumbuhan kurang baik.  Sebaliknya bila
temperatur di bawah 10 o C, pertumbuhan kurang baik bahkan dapat mematikan.
 
Curah hujan pada waktu pertumbuhan tanaman sampai akhir pertumbuhan yang baik
sekitar 600-1250 mm. Bila curah hujan berlebihan dapat menimbulkan penyakit ,
terbentuknya buah kurang dan banyak buah yang rontok  Tanah yang tergenang air
walaupun dalam waktu yang tidak terlalu lama , dapat menybabkan rontoknya buah.
Kekurangan hujan , dan tidak ada pengairan juga dapat membuat tanaman cabe
menjadi kerdil.  Kelembaban yang rendah dan temperatur yang tinggi menyebabkan
penguapan tinggi , sehingga tanaman akan kekurangan air.  Akibatnya kuncup bunga
dan buah yang masih kecil banyak yang rontok.
 
Cabe rawit dapat ditaam di segala jenis tanah asal gembur, cukup unsur hara dan tidak
tergenang air.  Tanah yang asam kurang baik untuk pertumbuhan cabe, maka perlu
ditaburi kapur.  Tanah yang baik bila mempunyai pH  sekitar 6,5 .
 
BUDIDAYA CABE RAWIT
Cabe rawit dapat ditanam baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi, pada musim
kemarau maupun musim hujan.  Tanah yang cocok untuk tanaman ini adalah tanah
yang subur dan gembur , cukup mengandung bahan organik,humus dan tersedia
saluran pembuangan air yang baik.
 
1.      Pembibitan
Biji cabe rawit harus disemaikan lebih dulu sebelum ditanam.  Untuk mempercepat
pertumbuhannya , biji cabe sebaiknya direndam dahulu dalam air selama 24 jam
sebelum ditanam.  Perlu diperhatikan bahwa biji cabe yang baik adalah biji yang betul-
betul masak dan kering.  Cara menyemai biji cabe bermacam-macam , ada yang
menggunakan kotak pesemaian, pesemaian di lapangan, kantung plastik atau kantung
dari daun kelapa, enau, pisang dll.  Tanah yang digunakan untuk pesemaian
menggunakan tanah yang subur dan bebas dari gangguan hama dan penyakit. 
Pesemaian sebaiknya menggunakan atap dari daun rebu, daun kelapa maupun daunan
lainnya agar suasana menjadi lebih lembab dan tanaman tidak terkena sinar matahari
langsung.  Atap dapat dibuka atau ditutup menurut keperluan.  Kalau pagi sampai jam
10.00 atap dibuka, kemudian sesudah panas lebih dari jam 10.00 atap ditutup kembali . 
Kalau persemaian dibuat dalam kotak kecil dapat dimasukkan dalam rumah.
 
2.      Pengolahan Tanah
Tanah harus dibajak dan dicangkul cukup dalam.  Maksud pencangkulan tanah adalah
untuk membalik tanah dan menggemburkan tanah.  Tanah liat walaupun sudah
dicangkul  atau dibajak menjadi gembur , cangkul lebih dalam (30-40 cm) dan diberi
pupuk organis, misalnya kompos atau pupuk kandang dan dapat ditambahkan pasir. 
Bila pupuk organis jumlahnya terbatas, maka pemberiannya cukup pada jarak 60 x 60
cm.  Pupuk organik, pasir dan tanah dicampur merata.  Pupuk organik selain
menggemburkan tanah juga dapat menambah unsur hara .  Pupuk organik yang
diberikan sebaiknya sudah matang atau sudah menjadi tanah.  Pupuk yang mentah
biasanya masih panas sehingga dapat menyebabkan tanaman cabe menjadi layu dan
mati.
 
3.      Pembuatan Bedengan
Bedengan dapat dibuat dengan ukuran lebar sekitar 90, 100 atau 125 cm dengan
melihat kondisi tanah. Tinggi bedengan sekitar 20-30 cm , tergantung keadaan lahan ,
kalau lahan sering tergenang air pada waktu musim hujan maka bedengan dipertinggi.  
Jarak antar bedengan sekitar 40-5- cm atau dapat dipersempit menjadi 30-35 cm.
 
4.      Pupuk Dasar
Pada waktu menanam cabe , tanah harus tersedia unsur hara yang cukup, maka
bedengan yang telah dipersiapkan dapat diberi pupuk organik berupa pupuk kandang
yang sudah matang.  Pupuk tersebut dapat disebarkan ke seluruh permukaan
bedengan atau hanya ditempat tanaman cabe akan ditanam. Selain itu dapat
ditambahkan pula pupuk SP 36 100 kg perhektar untuk menambah unsur P sedangkan
pupuk lainnya dapat diberikan kemudian.
 
5.      Penanaman
Bibit cabe dapat dipindahkan setelah tumbuh setinggi kira-kira 15 cm di pesemaian. 
Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 60 x 90 cm.  Pada saat pengambilan semai
di lapangan atau semai kotak dapat menggunakan solet yang ditusukan dengan cara
miring dan diangkat keatas sehingga semai akan terangkat ke atas. Tempat yang akan
ditanami semai dibuat lubang sedalam akar tunggang.  Setelah ditanam segera disiram 
dan diberi penutup pelepah pisang atau daun-daunan supaya tidak layu.  Bila semai
berasal dari kantung plastik, maka kantong plastik harus disobek lebih dulu  pelan-pelan
sehingga media tanahnya tidak pecah. Kalau media tanam pecah ada kemungkinan
tanaman akan menjadi layu.  Bila plastik tidak disobek lebih dulu , di kemudian hari akar
akan melingkar tidak dapat berkembang.  Setelah bibit cabe ditanam sebaiknya segera
disiram air untuk menjaga kelembaban dalam tanah dan kelembaban tanaman.
 
6.      Penyiraman, drainase dan mulsa
Tanaman cabe sebaiknya sering disiram terutama pada saat musim kemarau karena
tanahnya cepat kering.  Tanaman yang  terlalu lama kekeringan maka pertumbuhannya
akan kerdil .  Untuk menghindari kekeringan dapat menggunakan mulsa dari dedaunan
maupun dari jerami padi,  Mulsa dari daun lama kelamaan akan menjadi pupuk organik
sehingga menambah kesuburan tanah.
 
Jika menanam cabe pada musim hujan diusahakan jangan sampai tergenang air.  Bila
tanaman cabe terlalu lama tergenang air, akar-akarnya dapat menjadi busuk, daun
mudah rontok dan akhirnya tanaman mati.
 
7.      Penyiangan
Bila di lahan banyak gulma maka harus segera disiangi agar tidak menjadi pesaing bagi
tanaman cabai untuk mendapatkan unsur hara.  Jika dalam jangka waktu lama gulma
tidak segera disiang, tanaman cabe akan menjadi kurus dan kerdil.  Namun pencabutan
gulma perlu dilakukan hati-hati agar tidak merusak tanaman cabenya.  Untuk
mengurangi munculnya gulma dapat juga menggunakan herbisida sebelum bibit cabe
ditanam.
 
8.  Penggemburan
Tanah yang terlalu padat harus digemburkan dengan cara dicangkul (didangir) .  Tanah
yang gembur peredaran udaranya menjadi lebih baik, sehingga perakaran menjadi lebih
sehat.  Pada waktu menggemburkan tanah harus hati-hati, jangan terlalu dalam sebab
jika terlalu dalam dapat merusak perakaran.  Akar yang luka tau putus juga mudah
terkena infeksi sehingga tanaman menjadi sakit dan mati.
 
9. Pemupukan
Tanaman cabe yang telah ditanam sekitar satu minggu dapat segera dipupuk dengan
pupuk N, K atau campuran urea dan KCl sebanyak 2 gram setiap tanaman.  Pupuk SP
36 tidak perlu diberikan lagi karena sudah diberikan sebelum penanaman sebagai
pupuk dasar.  Pada waktu melakukan pemupukan tidak boleh mengenai batang karena
akan merusak batang.  Pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu dipupuk lagi
sebanyak 5 gram per pohon.  Penggunaan pupuk daun maupun zat perangsang
tumbuhan dapat diberikan sesuai dosis anjuran dalam label kemasan.
 
10.    Pengendalian hama dan penyakit
Tanaman cabe banyak diserang hama seperti thrips, kutu daun, lalat buah  dan
lainnya , serta penyakit seperti antraknosa, layu bakteri, layu fusarium, bercak daun
cercospora, busuk buah , daun keriting.
 
Adapun beberapa gejala dan pengendaliannya sebagai berikut :

 Kutu daun Aphis gossypii

Kutu daun terdapat dimana-mana dan makan segala macam tanaman.  Kutu daun
menyerang daun yang masih muda dan tunas muda. Daun muda yang dihisap ,
pertumbuhan tidak normal, kerdil berkerut dan keriting. .  Kutu apis ini dapat
menularkan penyakit virus , daun menjadi kerinting .
 
Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan bila jumlah tanaman terserang sedikit
yaitu dengan memijit menggunakan tangan. Sedangkan secara kimia dapat
menggunakan insektisida dengan dosis sesuai anjuran. Atau dapat juga dilakukan
pengendalian biologi dengan menggunakan predator seperti kumbang macan .  Dapat
pula menggunakan kertas aluminium yang dapat memantulkan sinar matahari ke balik
(bawah ) daun tempat hama bersembunyi.

 Thrips tabacci

Thrips menyerang hampir semua tanaman misal cabe, tomat, sayuran daun, kentang ,
tembakau dll.  Thrips menghisap cairan pada permukaan daun dan bekasnya berwarna
putih seperti perak.  Bila serangan hebat akan terda[at banyak bercak dan warna daun
menjadi putih. Daun yang diserang hama ini akan menggulung, bentuknya tidak normal
dan menjadi keriting.  Karena thrips menjadi vektor virus, maka seringkali kelihatan ada
mosaik pada daun yang diserang hingga pertumbuhan menjadi kerdil, daun sempit
mengecil dan keriting.  Thrips pada umumnya bersembunyi dibalik daun sambil
menghisap cairan.
 
Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan bila jumlah tanaman terserang sedikit
yaitu dengan memijit menggunakan tangan. Sedangkan secara kimia dapat
menggunakan insektisida dengan dosis sesuai anjuran. Atau dapat juga dilakukan
pengendalian biologi dengan menggunakan predator seperti kumbang macan .  Dapat
pula menggunakan kertas aluminium yang dapat memantulkan sinar matahari ke balik
(bawah ) daun tempat hama bersembunyi.

 Lalat buah Dacus dorsalis

Buah cabe yang diserang lalat ini bentuknya menjadi kurang menarik dan ada
benjolan.  Buah cabe akhirnya terkena cendawan sehingga menjadi busuk .  Buah cabe
yang terserang sering dikira terserang penyakit.  Untuk membuktikannya sebaiknya
buah dibelah dan bila terdapat larva kecil putih berarti diserang lalat buah.
Pengendalian dengan menggunakan sex pheromon seperti metil eugenol untuk
memikat lalat jantan.  Kalau lalat jantan berkurang maka keturunannya juga akan
berkurang.

 Antraknosa

Penyebabnya adalah cendawan Colletotrichum capsicci yang tersebar dimana ada


pertanaman cabe. Penyakit ini bisa timbul di lapangan atau pada buah yang sudah
dipanen. Mula –mula pada buah yang sudah masak terdapat bercak kecil cekung
kebasahan yang berkembang sangat cepat dan terdapat jaringan cendawan berwarna
hitam.  Buah berubah menjadi busuk lunak, berwarna merah kemudian menjadi coklat
muda seperti jerami.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara biji didesinfiksi menggunakan thiram 0,2 %
(Benlate), dan jangan menanam biji dari buah yang sakit serta dapat menggunakan
fungisida berbahan aktif mankozeb, propineb dan zineb.

 Daun keriting chilli

Daun cabe yang terserang menjadi keriting dan warnanya menguning, bila serangan
hebat pertumbuhan menjadi kerdil.  Tanaman cabe yang terserang ruas-ruasnya
menjadi pendek, daun menjadi kecil dan tepi daun melengkung ke atas.  Penyakit ini
banyak menyerang di musim kemarau.
 
Cabe yang telah terserang tanaman ini harus dicabut  dan dibakar, gulma harus
dibersihkan dan dapat diberikan insektisida sistemik secara rutin dengan dosis anjuran
sebelum tanaman terserang.
 
PASCA  PANEN CABE RAWIT
Panen
Tanaman cabe rawit dapat dipanen setelah berumur 2,5-3 bulan sesudah disemai. 
Panenan berikutnya dapat dilakukan 1-2 minggu tergantung dari kesehatan dan
kesuburan tanaman.  Untuk tanaman cabe rawit bila dirawat dengan baik dapat
mencapai umur 1-2 tahun, apabila selalu diadakan pemangkasan dan pemupukan
kembali setelah tanaman dipanen.  Pemupukan kembali dapat memberikan pupuk
organik seperti kompos maupun pupuk kandang yang sudah menjadi tanah.
 
Pasca Panen
Cabe yang disimpan dengan suhu sekitar 4 o C dengan kelembaban 95-98 % dapat
tahan sekitar 4 minggu dan pada 10 o C masih dalam keadaan baik sampai 16 hari.
 
Pengeringan .
Pengawetan dalam keadaan segar waktunya tidak akan lama, tetapi kalu dikeringkan
waktu simpan bisa lama.  Cabe yang akan dikeringkan harus dipilih yng berkualitas
baik, tangkai dibuang dan kemudian cabe dicuci bersih.  Kemudian dimasukkan dalam
air panas beberapa menit, lalu didinginkan dengan cara dicelupkan dalam air dingin.  
Selanjutnya ditiriskan di atas anyaman bambu atau kawat kasa sehingga airnya keluar
semua.  Kemudian dijemur pada panas matahari sampai kering, biasanya kurang lebih
selama satu minggu.
 
Pada musim hujan , pengeringan buah cabe dapat menggunakan pemanas.  Di dalam
ruangan pemanas tersebut diberi para-para beberpa lapis untuk meletakkan cabe. 
Lapisan cabe jangan terlalu tebal, cukup satu lapis agar cepat kering.  Sebagai sumber
panas dapa memakai lampu listrik , kompor, tungku arang atau bahan lainnya.
 
Ruangan pemanas dapat dibuat dari kayu yang berbentuk seperti almari dan bagian
dalam diberi lapisan seng.  Sumber pemanas diletakkan di bawah almari yang telah
diberi lubang, di atas pemans ada para-para beberapa lapis.  Bagian atas almari diberi
ventilasi yang yang penutupnya dapat diatur besar kecilnya lubang untuk mengatur
suhu dalam almari. Suhu dalam almari diatur lebih kurang 60 oC, jangan terlalu panas
dengan mengatur ventilasi.  Apabila telah melebihi 60oC maka lubang ventilasi dibuka
lebar.
 
Supaya cabe keringnya merata maka para-para bisa diubah letaknya, misal yang  atas
di pindah ke bawah demikian sebaliknya.  Banyaknya para-para tergantung besar
kecilnya almari dan jarak antar para-para sekitar 15-20 cm. Cabe dibolak-balik letaknya
setiap 3 jam.
Dengan menggunakan alat pemanas paling lama dua hari buah cabe akan kering. Buah
cabe dianggap kering bila kandungan airnya tinggal 8 %.  Dalam keadaan demikian
buah cabe dapat disimpan lebih lama, namun harus dihindarkan dari serangan hama
dan disimpan dalam wadah kedap udara.  Cabe yang dikeringkan dapat langsung
dipakai atau dapat digunakan untuk campuran saos dan cabe bubuk.
 
Kemasasan Cabe
Sebelum buah cabe dijual sebaiknya dilakukan seleksi dengan memisahkan buah cabe
yang bagus dan yang jelek kualitasnya.  Cabe-cabe tersebut harus dikemas dengan
baik agar tidak rusak.  Dengan kemasan yang baik tentu akan menambah beaya
namun kerusakan akan jauh lebih sedikit sehingga keuntungan masih lebih tinggi.
Buah cabe dapat dikemas dengan kantung plastik yang telah diberi lubang-lubang kecil
dengan jarak anat lubang sekitar 5-10 cm .  setiap kantung plastik dapat diisi cabe
dengan berat 0,5 kg; 1 kg; 1,5 kg atau 2 kg.  Selanjutnya kantung plastik diletakkan
pada wadah yang dibuat dari bambu atau kardus.  Ukuran wadah sebaiknya tidak
terlalu besar yaitu antara 10 x 25 x 25 cm sampai 35 x 50 x 40 cm.  Setiap sisi wadah
diberi lubang dengan garis tengah 1 cm dan jarak antar lubang 10 cm.
 

Budidaya Cabai Rawit 


Cabe merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan (solanaceae.)yang
memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabe berasal dari benua Amerika tepatnya daerah
Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk
Negara Indonesia. Selain di Indonesia, ia juga tumbuh dan populer sebagai bumbu
masakan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Di Malaysia dan Singapura ia
dinamakan cili padi, di Filipina siling labuyo, dan di Thailand phrik khi nu. Di Kerala,
India, terdapat masakan tradisional yang menggunakan cabai rawit dan dinamakan
kanthari mulagu. Dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan nama Thai pepper atau bird’s
eye chili pepper.

Buah cabai rawit berubah warnanya dari hijau menjadi merah saat matang. Meskipun
ukurannya lebih kecil daripada varitas cabai lainnya, ia dianggap cukup pedas karena
kepedasannya mencapai 50.000 – 100.000 pada skala Scoville. Cabai rawit biasa di
jual di pasar-pasar bersama dengan varitas cabai lainnya.

Cabai rawit dapat tumbuh baik didataran tinggi , maupu di dataran rendah . bertanam
cabai rawit dapat memberikan nila ekonomi yang cukup tinggi apabila diusahakan
dengan sungguh – sungguh .Satu hektar tanaman cabai rawit mampu menghasilkan 8
ton buah cabai rawit karena tanaman cabai rawit dapat kita usahakan selama dua
sampai dua setengah tahun selama musim tanam .

Tanaman cabai rawit menyukai daerah kering, dan ditemukan pada ketinggian 0,5-
1.250 m dpl. Perdu setahun, percabangan banyak, tinggi 50-100 cm. Batangnya
berbuku-buku atau bagian atas bersudut. Daun tunggal, bertangkai, letak berselingan.
Helaian daun bulat telur, ujung meruncing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan
menyirip, panjang 5-9,5 cm, lebar 1,5-5,5 cm, berwarna hijau. Bunga keluar dari ketiak
daun, mahkota bentuk bintang, bunga tunggal atau 2-3 bunga letaknya berdekatan,
berwarna putih, putih kehijauan, kadang-kadang ungu. Buahnya buah buni, tegak,
kadang-kadang merunduk, berbentuk bulat telur, lurus atau bengkok, ujung meruncing,
panjang 1-3 cm, lebar 2,5-12 mm, bertangkai panjang, dan rasanya pedas. Buah muda
berwarna hijau tua, putih kehijauan, atau putih, buah yang masa.k berwarna merah
terang. Bijinya banyak, bulat pipih, berdiameter 2-2,5 mm, berwarna kuning kotor. Cabai
rawit terdiri dari tiga varietas, yaitu cengek leutik yang buahnya kecil, berwarna hijau,
dan berdiri tegak pada tangkainya; cengek domba (cengek bodas) yang buahnya lebih
besar dari cengek leutik, buah muda berwarna putih, setelah tua menjadi jingga; dan
ceplik yang buahnya besar, selagi muda berwarna hijau dan setelah tua menjadi merah.
Buahnya digunakan sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan asinan. Daun muda
dapat dikukus untuk lalap.Cabal rawit dapat diperbanyak dengan biji. 
 
Jenis cabai rawit yang sering diusahakan adalah sebagai berikut :
 
1.      cabai kecil atau cabai jemprit buahnya kecil dan pendek , lebih pedas dibandingka
Janis cabai lainnya.
2.      cabai putih atau cabai domba
buahnya lebihbesar dari cabai jemprit atau cabai celepik , dan rasanya kurang enak.
3.      cabai celepik
buahnyalebih besar dari pada cabai jemprit dan lebih keci dari cabai domba. Rasanya
tidak sepedas cabai jemprit . sewakti muda berwarna hijau setelah masak berwarna
merah cerah .
Syarat tumbuh
Untuk mendapatkan cabai rawit yang tinggi kita harus mengetahui yang syarat tumbuh
yang diinginkan oleh cabai rawit. Adapun syarat nya sebagai berikut :

1.tanah
   - gembur
   - subur atau banyak mengandung zat makan
   - pembuangan airnya baik ( tidak tergenang) , dan
   - banyak mengandung humus
2. tempat tumbuh ( daerah )
   - dataran rendah
   - dataran tinggi
3. iklim
    tanaman cabai rawit dapat tumbuh , baik pada daerah yang kurang hujan maupun
yang sering hujan . suhu udara yang diperlukan tanaman ini adalah berkisar antara 25 o
c – 31oc
Bahan dan Alat
  1. alat yang diperlukan untuk menanam cabai rawit
    - cangkul
    - garpu tanah
    - kored
    - gembor ember
    - sprayer
    - ember
    - meteran
    - keranjang
    - timbangan
    - tali kenca ( pelurus )
2. bahan – bahan yang diperlukan untuk menanam cabai rawit
    - benih cabai rawit
    - pupuk kandang
    - urea
    - TSP
    - Bambo
    - Insektisida
    - Fungisida
    - KCL
    - Pelastik kecil bumbungan
    - Lalang atau daun kelapa

BERCOCOK TANAM

Pertumbuhan tanaman cabai rawit yang baik dan hasil produksinya tinggi merupakan
dambaan dan harapan kita semua . untuk mencapai tahapan tersebut kita harus
melakukan kegiatan bercocok tanam cabai rawit yang menggunakan tahapan –
tahapan sebagai berikut
1.      pengolahan tanah

pengolahan tanah dapat dilakukan membajak atau mencangkul sedalam 25 – 30 cm


hingga tanah menjadi gembur . setelah itu biarkan 7 – 14 hari untuk mendapatkan sinar
matahari - pembuatan bedeng
• lebar bedeng 100 – 120 cm
• tinggi bedeng 20 – 30 cm
• jarak antara bedeng dengan bedeng lainnya 30 – 45 cm . arah bedeng memanjang ke
utara selatan . - syarat pupuk kandang yang baik adalah
• tidak berbau
• tidak panas
• berwarna kehitam hitaman , dan
• benar – benar sudah matang - jarak tanaman cabai rawit sebagai berikut
• 50 x 100 cm
• 60 x 70 cm
• 50 x 90 cm - cara pembuata jarak tanaman :
a. pasang tali kenca ( pelurus ) sejajar dengan panjang bedeng , kira – kira 10 cm dari
tepi bedeng
b. ukur jarak tanaman yang diinginkan pada sepanjang tali kencana tersebut
c. buat lubang tanaman sesuai dengan jarak tanaman tersebut , kemudian beri pupuk
besar
• pupuk kandang = 1 kg / lubang
• pupuk urea
• pupuk TSP
• pupuk KCI
d. campurkan ketiga pupuk buatan hinga rata dan masukan pada setiap lubang yang
telah dibuat

1.   Pesemaian
pesemaian merupakan kegiatan untuk menghasilkan bibit
tanaman atau calon tanaman yang baik . adapun tahapan pesemaian adalah sebagai
berikut:
a. membuat bedeng atau tempat pesemaian , ukuran bedeng pesemaian sebagai
berikut
• lebar bedeng 1 – 1,2 m
• panjang bedeng 3 – 5 m
• tingi bedeng 15 – 20 cm
b. penyemaian benih
kebutuhan benih untuk satu hektar berkisar antar
300 – 500 benih . sebelum benih disemai atau ditabur , tempat pesemaian disiram
merata . beberapa cara menyemai benih cabai rawit sebagai berikut :
– semai bebas atau ditabur merata
– semai dalam baris
– semai berkelompok

2.      Penanaman
bibit tanaman cabai rawit yang telah berumur 1 bulan segera ditanam . penanaman
sebaiknya pada sore hari agar tanaman tidak layu
ciri – ciri bibit yang siap tanam adalah sebagai berikut :
• telah berumur satu bulan
• tidak terserang hama dan penyakit
• pertumbuhan tanaman seragam
cara penanaman
• siram bibit yang akan ditanam
• pilih bibit yangakan ditanam
• lepaskan bumbung atau pelastik dari bibit
• padatkan tanah disekeliling tanaman bibit yang telah dimasukan kelubang agar tidak
rebah

3.      pemeliharaan tanaman


a.    penyiraman
penyiraman dilakukan 2 kali sehari atau di sesuaikan dengan keadaan tanah .
b. penyiangan
rumpu liar yang tumbuh disekita tanaman harus dicabit atau di siang dengan kored atau
sabit
c. pemupukan
jumlah pupuk yang dibutuhkan dalam satu hektar adalah
• urea = 200 kg
• TSP = 200 kg
• KCI = 150 kg
d. hama dan penyakit
hama yang sering menyerang tanaman cabai rwit adalah sebagai berikut :
- tungau marah
- kutu daun berwarna kuning
- kutu gurem atau thrips
tanda – tanda tanaman terserang
- tanaman berwarna seperti perak
- tanaman tampak pucat
- daun menjadi layu
pengendalian
- cabut tanaman yang terserang berat
- kumpulkan bagian tanaman yang terserang ,lalu dibakar

PANEN

Panen merupakan kegiatan yang dinanti – nanti untuk menikmati jerih payah selama
penanaman , produksi cabai rawit hampir sama dengan cabai besar , hanya saja umur
cabai rawit lebih lama yaitu 2 – 3 tahun , sehingga produksi cabai rawit lebih tinggi dari
pada cabai besar .

Cabai rawit dapat dipanen hijau ( muda ) dan dipanen merah atau sudah masak . bila
cabai rawit di panen hijau, cabai kelihatan bernas dan berisi .
Pemanenan cabai rawit dapat dilakukan 4 – 7 hari sekali atau tergantung pada situasi
harga pasaran .
Komposisi Cabe
Komposisi :
Buahnya mengandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak
menguap, vitamin (A dan C). Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai, berkhasiat
untuk melancarkan aliran darah serta pematirasa kulit. Biji mengandung solanine,
solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin).
Kapsisidin berkhasiat sebagai antibiotik.
 
Manfaat Cabai Rawit
Bagian yang digunakan
Seluruh bagian tumbuhan dapat digunakan sebagai tanaman obat, seperti buah, akar,
daun, dan batang.
 
Indikasi
Cabai rawit dapat digunakan untuk :

1.Menambah nafsu makan


2.menormalkan kembali kaki dan tangan yang lemas,
3.batuk berdahak,
4.melegakan rasa hidung tersumbat pada sinusitis,
5.migrain.
 
Cara Pemakaian Untuk obat yang diminum, buah cabai rawit digunakan sesuai
dengan kebutuhan. Dalam hal ini cabai rawit dapat direbus atau dibuat bubuk dan pil.
Untuk pemakaian luar, rebus buah cabai rawit secukupnya, lalu uapnya dipakai untuk
memanasi bagian tubuh yang sakit atau giling cabai rawit sampai halus, lalu turapkan
ke bagian tubuh yang sakit, seperti rematik, jari terasa nyeri karena kedinginan
(frosbite). Gilingan daun yang diturapkan ke tempat sakit digunakan untuk mengobati
sakit perut dan bisul.
 
CONTOH PEMAKAIAN DI MASYARAKAT

Kaki dan tangan lemas (seperti lumpuh)

Sediakan 2 bonggol akar cabai rawit, 15 pasang kaki ayam yang dipotong sedikit di
atas lutut, 60 g kacang tanah, dan 6 butir hung cao. Bersihkan bahan-bahan tersebut
dan potong-potong seperlunya. Tambahkan air dan arak sama banyak sampai bahan-
bahan tersebut terendam seluruhnya (kira-kira 1 cm di atasnya). Selanjutnya, tim
ramuan tersebut. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum, sehari dua kali,
masing-masing separo dari ramuan.
Sakitperut
Cuci daun muda segar secukupnya, lalu giling sampai halus. Tambahkan sedikit kapur
sirih, lalu aduk sampai rata. Balurkan ramuan tersebut pada bagian perut yang sakit.

Rematik
Giling 10 buah cabai rawit sampai halus. Tambahkan 1/2 sendok teh kapur sirih dan air
perasan sebuah jeruk nipis, lalu aduk sampai rata. Balurkan ramuan tersebut pada
bagian tubuh yang sakit.

Frosbite
Buang biji beberapa buah cabai rawit segar, lalu giling sampai halus, kemudiam
balurkan ke tempat yang sakit.

Catatan:
Penderita penyakit saluran pencernaan, sakit tenggorokan, dan sakit mata dianjurkan
untuk tidak mengonsumsi cabai rawit.
Rasa pedas di lidah menimbulkan
 rangsangan ke otak untuk mengeluarkan endorfin (opiat endogen) yang dapat
menghilangkan rasa sakit dan menimbulkan perasaan lebih sehat.
Hasil penelitian terbaru, cabai rawit dapat mengurangi kecenderungan terjadinya
penggumpalan darah (trombosis), menurunkan kadar kolesterol dengan cara
mengurangi produksi kolesterol dan trigliserida di hati.

Pada sistem reproduksi, sifat cabai rawit yang panas dapat mengurangi rasa tegang
dan sakit akibat sirkulasi darah yang buruk. Selain itu, dengan kandungan zat
antioksidan yang cukup tinggi (seperti vitamin C dan beta karoten), cabai rawit dapat
digunakan untuk mengatasi ketidaksuburan (infertilitas), afrodisiak, dan memperlambat
proses penuaan.

Common questions

Didukung oleh AI

Common pest challenges in 'cabai rawit' cultivation include aphids, thrips, and fruit flies. Aphids and thrips can cause leaf curling and act as disease vectors, necessitating control via insecticides or natural predators. Biological control like predator insects and reflective materials to deter pests are effective non-chemical options. Diseases such as anthracnose and bacterial wilt require management through fungicide application and the selection of disease-resistant varieties. Integrated Pest Management (IPM) approaches, combining chemical, biological, and cultural practices, provide sustainable solutions for controlling these challenges .

Effective water management techniques in 'cabai rawit' cultivation include regular watering, especially during dry seasons, to maintain soil moisture and prevent plant stress. The use of mulches, such as leaves or straw, helps retain moisture in the soil and reduce evaporation losses. Additionally, implementing a proper drainage system is crucial during the rainy season to prevent waterlogging, which can lead to root rot. These practices collectively ensure that the plants receive consistent moisture without the adverse effects of overwatering or drought stress .

Using plastic polybags for sowing 'cabai rawit' seeds is an effective method to promote robust growth and resilience in seedlings. This approach reduces the risk of transplant shock because the seedlings do not need to adapt to a new environment when they are moved from the nursery to the field. The polybags maintain consistent soil conditions, which are already adjusted to the transplant site. This method also allows for controlled water management and minimal disturbance to the root system, resulting in healthier and more resilient plants .

Organic fertilizers, such as compost or well-rotted manure, enhance soil structure and fertility by adding organic matter and supporting soil microbial life, which is beneficial for 'cabai rawit' growth. They are environmentally friendly and improve the water-holding capacity of the soil. However, they may release nutrients slowly and may not meet the immediate nutrient demands of the plants. In contrast, inorganic fertilizers provide specific nutrients rapidly and in measurable quantities, essential for meeting the precise nutritional needs during critical growth stages. However, they can lead to soil degradation over time and may increase the risk of nutrient run-off into water bodies. Balancing both types of fertilizers can maximize plant health, yield, and sustainable soil management .

Proper harvesting and post-harvest handling are critical for extending the shelf life and maintaining the quality of 'cabai rawit'. Harvesting at the right maturity stage ensures optimal flavor and nutritional value. Immediate cooling after harvest to around 4°C with high humidity levels prolongs freshness up to four weeks. careful handling minimizes physical damage that can lead to decay. Drying 'cabai rawit' can significantly extend storage life, as it reduces moisture content, decreasing spoilage risk. Consistent monitoring and maintaining ideal storage conditions prevent quality degradation over time .

Using atap, or temporary roofing, over seed nurseries for 'cabai rawit' seeds provides a controlled environment that aids germination. Atap helps regulate temperature and humidity by protecting seedlings from direct sunlight during the hottest parts of the day, thus preventing overheating and dehydration. It also guards the young plants against heavy rainfall, which could damage delicate seedlings or wash away seeds. By creating a stabilized microclimate, atap optimizes conditions for seed germination and seedling establishment, leading to stronger and healthier plants .

Environmental factors in rural and urban settings can impact 'cabai rawit' plant health significantly. In rural areas, plants may face higher pest and disease pressure due to a lack of barriers and widespread agricultural activities, as seen in cases like mango tree pests. Conversely, urban settings provide a more controlled environment with fewer disease outbreaks, likely due to reduced biodiversity and pesticide usage. However, urban pollution can introduce toxins affecting plant health. Urban microclimates may offer more consistent growing conditions, benefiting plant resilience and growth .

Planting 'cabai rawit' is suitable for urban gardening as it requires limited space and can be grown in containers like pots or polybags. This adaptability to small spaces makes it ideal for urban settings where land may be scarce. Additionally, 'cabai rawit' has a high yield even from a small number of plants, and its production can be integrated easily into the lifestyle of urban dwellers. The spice's necessity in daily culinary use and occasional price spikes in the market increase its value as a home-grown crop, making it a cost-effective choice for urban agriculture .

Within Southeast Asia, 'cabai rawit' is known by different names in various countries, which reflects its widespread use and integration in the region's culinary practices. In Malaysia and Singapore, it is called 'cili padi', in the Philippines it is referred to as 'siling labuyo', and in Thailand it is known as 'phrik khi nu'. These names highlight the chili's importance and adaptability to local cuisines and farming practices, signifying its role as a beloved and ubiquitous spice across these cultures .

Maintaining proper soil pH and composition is crucial for the successful cultivation of 'cabai rawit'. Optimal soil pH ensures that essential nutrients are readily available for plant uptake, as extreme pH levels can lead to nutrient lock-up, adversely affecting plant growth. The ideal soil for 'cabai rawit' should be well-aerated, rich in organic matter, and able to retain sufficient moisture while allowing excess water to drain. Organic amendments such as compost or aged manure improve soil structure and fertility, thereby enhancing nutrient availability and promoting robust plant development .

Anda mungkin juga menyukai