MAKALAH
SEJARAH MUHAMMADIYAH
Oleh :
A Firman Ariantono Aji Saputro 2110311022
Nindia Anista Sekarsari 21103110114
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmatNya sehingga
makalah ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa kami mengucapkan
terimakasih terhadap ibu dosen kami yang telah berkontribusi dengan
memberikan materinya.
Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini
bisa pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam
penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman Kami.
Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Semua pihak yang tidak dapat penulis rinci satu per satu yang telah membantu
dalam proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna dan masih terdapat
beberapa kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca untuk penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
COVER...............................................................................................................................
KATA PENGANTAR.......................................................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................
1.1 Latar Belakan.................................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................................
1.3 Tujuan............................................................................................................................
BAB II ISI...........................................................................................................................
2.1 Faktor obyektif (kondisi sosial dan keagamaan bangsa Indonesia pada zaman
kolonial)...............................................................................................................................
2.2 Faktor obyektif (keprihatinan dan keterpanggilan.........................................................
2.3 Profil KH. Ahmad Dahlan.............................................................................................
2.4 Pemikiran-Pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang islam dan umatnya
BAB III PENUTUP...........................................................................................................
3.1 Kesimpulan....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam sejarah perkembangan dan pertumbuhan agama Islam di Indonesia,
Muhammadiyah sering disebut sebagai gerakan pembaharuan sosio-religius. Hal
ini cukup beralasan, karena Muhammadiyah sangat berperan penting dalam
perubahan kehidupan sosial keagamaan di Indonesia sejak awal berdirinya.
Walaupun pada kenyataannya Muhammadiyah tidak pernah menganggap sebagai
pembaharu sosial keagamaan. Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, pada
November 1912, dengan diprakarsai oleh KH. Ahmad Dahlan.
Pada saat kondisi yang tidak menentu K.H. Ahmad Dahlan muncul sebagai
salah seorang yang peduli terhadap kondisi yang dihadapi oleh masyarakat
pribumi secara umum atau masyarakat Muslim secara khusus. K.H. Ahmad
Dahlan yang waktu mudanya bernama Raden Ngabehi Muhammad Darwis, lahir
pada tanggal 1 Agustus 1868 di Kampung Kauman Yogyakarta. Ayahnya seorang
alim bernama K.H. Haji Abu bakar bin K.H. Haji Sulaiman, pejabat Khatib di
Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta. Ibunya adalah putri Haji Ibrahim bin K.H.
Haji Hassan, pejabat penghulu kesultanan. K.H. Ahmad Dahlan tidak mengenyam
pendidikan formal, sebab orang-orang Islam melarang
anaknya masuk sekolah Gubernemen Belanda. Ia mendapat didikan dari Ayahnya
sendiri selanjutnya mengaji Bahasa Arab, Tafsir, Hadis dan Fikih kepada Ulama-
ulama di Yogyakarta.
Dua kali di Mekah belajar pada Syekh Ahmad Khatib Al-Minanagkabawi,
belajar Ilmu Tauhid, Fikih, Tasawuf, Falah dan yang menarik hatinya adalah
Tafsir Al-Manar karya Muh. Abduh. Keprihatinan Ahmad Dahlan melihat
pengalaman Islam di Indonesia sehingga Ia bertekad untuk bekerja keras
mengembalikan Islam sebagaimana landasan aslinya yaitu Alquran dan hadis.
Bagi K.H. Ahmad Dahlan, Islam hendak didekati serta dikaji melalui
kacamata modern sesuai dengan panggilan dan tuntutan zaman, bukan secara
tradisional. Ia mengajarkan kitab suci Alquran dengan terjemahan dan tafsir agar
masyarakat tidak hanya pandai membaca ataupun melagukan Alquran semata,
melainkan dapat memahami makna yang ada di dalamnya. Dengan demikian
diharapkan akan membuahkan amal perbuatan sesuai dengan yang diharapkan
Alquran itu sendiri. Menurut pengamatannya, keadaan masyarakat sebelumnya
hanya mempelajari Islam dari kulitnya tanpa mendalami dan memahami isinya.
Sehingga Islam hanya merupakan suatu dogma yang mati.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
1. Bagaimana kondisi umat Islam di Desa Sepanjang sebelum dan sesudah
masuknya organisasi Muhammadiyah?
2. Bagaimana proses berdirinya organisasi Muhammadiyah di Desa Sepanjang?
3. Bagaimana pengaruh dan perkembangan organisasi Muhammadiyah terhadap
pemahaman Islam di Desa Sepanjang sampai tahun 1989?
Tujuan Penelitian
1. Untuk memberi penjelasan kondisi masyarakat Sepanjang sebelum dan sesudah
masuknya organisasi Muhammadiyah.
2. Untuk memberi penjelasan sejauh mana pengaruh Muhammadiyah terhadap
pemahaman agama Islam pada masyarakat Sepanjang.
3. Menjelaskan pada masyarakat yang melaksanakan ajaran Islam tapi belum jelas
sumber yang digunakan. Atau dengan kata lain masyarakat yang taqlid buta
terhadap ajaran Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8
Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad
Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan. Beliau adalah pegawai
kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang.
Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan
penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk
mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan
Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan
dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.
Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya,
akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya
sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat
ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan
ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan
Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh
pelosok tanah air.
Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga
memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut
"Sidratul Muntaha". Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan
perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922
dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada
rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang
kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu
sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di
kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini
Menjadi Muktamar 5 tahunan.
A. Faktor Objektif (Kondisi Sosial Dan Keagamaan Bangsa Indonesia Pada
Zaman Kolonial)
Faktor objektif yang bersifat internal dan eksternal. Faktor objektif internal
yaitu kondisi kehidupan masyarakat Indonesia antara lain; ketidakmurnian
pengamalan Islam karena tidak menjadikan Al-quran dan as-Sunah sebagai satu-
satunya rujukan oleh sebagian besar umat Islam Indonesia. Kemudian, lembaga
pendidikan yang dimiliki umat Islam belum mampu menyiapkan generasi yang
siap mengemban misi selaku khalifah Allah di atas bumi. Oleh karena itu,
Muhammadiyah menitik beratkan gerakannya kepada sosial keagamaan dan
pendidikan. Adapun faktor objektif yang bersifat eksternal antara lain, semakin
meningkatnya Gerakan Kristenisasi di tengah-tengah masyarakat Indonesia, dan
penetrasi bangsa-bangsa Eropa, terutama bangsa Belanda yang menjajah
Indonesia. Di samping itu, politik kolonialis Belanda mempunyai kepentingan
terhadap penyebaran agama Kristen di Indonesia.ganda yaitu di samping bernilai
keagamaan dalam arti telah dapat menyelamatkanFaktor Internal umat islam
a. Kristenisasi
Faktor objektif yang bersifat eksternal yang paling banyak mempengaruhi
kelahiran Muhammadiyah adalah kristenisasi, yakni kegiatan-kegiatan yang
terprogram dan sistematis untuk mengubah agama penduduk asli, baik yang
muslim maupun bukan, menjadi kristen. Kristenisasi ini mendapatkan peluang
bahkan didukung sepenuhnya oleh pemerintah Kolonialisme Belanda. Missi
Kristen, baik Katolik maupun Protestan di Indonesia, memiliki dasar hukum yang
kuat dalam Konstitusi Belanda. Bahkan kegiatan-kegiatan kristenisasi ini
didukung dan dibantu oleh dana-dana negara Belanda. Efektifitas penyebaran
agama Kristen inilah yang terutama mengguggah KH. Ahmad Dahlan untuk
membentengi ummat Islam dari pemurtadan.
b. Kolonialisme Belanda
Penjajahan Belanda telah membawa pengaruh yang sangat buruk bagi
perkembangan Islam di wilayah nusantara ini, baik secara sosial, politik, ekonomi
maupun kebudayaan. Ditambah dengan praktek politik Islam Pemerintah Hindia
Belanda yang secara sadar dan terencana ingin menjinakkan kekuatan Islam,
semakin menyadarkan umat Islam untuk melakukan perlawanan. Menyikapi hal
ini, KH. Ahmad Dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah berupaya melakukan
perlawanan terhadap kekuatan penjajahan melalui pendekatan kultural, terutama
upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui jalur pendidikan.
Faktor objektif yang kedua secara ekternal, yaitu disebabkan politik kolonialisme
dan imperialisme Belanda yang menimbulkan perpecahan di kalangan bangsa
Indonesia.
1) Periode Pertama (periode sebelum Snouck Hurgronje)
a. Belanda berprinsip agar penduduk Indonesia yang beragama Islam tidak
memberontak.
b. Menerapkan dua strategi yaitu membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya
membendung dan melakukan kristenisasi bagi penduduk Indonesia.
c. Dalam pelarangan pengalaman ajaran islam, Belanda membatasi
masalah ibadah haji dengan berbagai aturan tetapi pelarangan ini justru
kontraproduktif bagi Belanda karena menjadi sumber pemicu perlawanan
terhadap Belanda sebagai penjajah karena menghalangi kesempurnaan islam
seseorang.
2) Periode Kedua (periode setelah Snouck Hurgronje menjadi penasihat Belanda
untuk urusan pribumi di Indonesia)
a. Dalam hal ini,tidak semua kegiatan pengamalan Islam dihalangi bahkan
dalam hal tertentu didukung. Kebijakan didasarkan atas pengalaman Snouck
berkunjung ke Makkah dengan menyamar sebagai seorang muslim bernama
Abdul Ghaffar.
b. Kebijakan Snouck didasarkan tiga prinsip utama,yaitu: Pertama rakyat
indonesia dibebaskan dalam menjalankan semua masalah ritual keagamaan seperti
ibadah, Kedua pemerintah berupaya mempertahankan dan menghormati
keberadaan lembaga-lembaga sosial atau aspek mu’amalah dalam islam, Ketiga
pemerintah tidak menoleransi kegiatan apapun yang dilakukan kaum muslimin
yang dapat menyebarkan seruan-seruan Pan-Islamisme atau menyebabkan
perlawanan politik atau bersenjata menentang pemerintah kolonial Belanda.
B. Faktor Subjektif (Keprihatinan Dan Keterpanggilan KH. Ahmad Dahlan
Terhadap Umat Dan Bangsa)
Faktor Subyektif yang sangat kuat, bahkan dikatakan sbagai faktor utama dan
faktor penentu yang mendorong berdirinya Muhammadiyah adalah hasil
pendalaman KHA. Dahlan terhadap Al Qur'an dalam menelaah, membahas dan
meneliti dan mengkaji kandungan isinya. Sikap KHA. Dahlan seperti ini
sesungguhnya dalam rangka melaksanakan firman Allah sebagaimana yang
tersimpul dalam dalam surat An-Nisa ayat 82 dan surat MUhammad ayat 24 yaitu
melakukan taddabur atau memperhatikan dan mencermati dengan penuh ketelitian
terhadap apa yang tersirat dalam ayat. Sikap seperti ini pulalah yang dilakukan
KHA. Dahlan ketika menatap surat Ali Imran ayat 104 : "Dan hendaklah ada
diantara kamu sekalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-
orang yang beruntung".
Memahami seruan diatas, KHA. Dahlan tergerak hatinya untuk membangan
sebuah perkumpulan, organisasi atau persyarikatan yang teratur dan rapi yang
tugasnya berkhidmad pada melaksanakan misi dakwah Islam amar Makruf Nahi
Munkar di tengah masyarakat kita.
C. Profil KH. A. Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis (lahir di Yogyakarta, 1
Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari1923 pada umur 54 tahun)
adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh
bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah
seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan
Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H.
Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat pada masa itu.
D. Pemikiran KH. A. Dahlan tentang islam dan umatnya
Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak
keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan,
kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana
Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor
penyebaran agama Islam di Jawa. Silsilahnya tersebut ialahMaulana Malik
Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah
(Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang
Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai
Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy
(Ahmad Dahlan).
Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada
periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran
pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid
Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia
berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.
Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun.
Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari
pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia
mendirikan Muhammadiyah di kampungKauman, Yogyakarta.
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak
Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan,
seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan
Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah,
Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah. Disamping itu
KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la
juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad
Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik
Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah
dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta. KH. Ahmad Dahlan dimakamkan
di KarangKajen, Yogyakarta.
Pengalaman Organisasi
Disamping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan
dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang
cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi
wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat.
Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai
gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati
di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan
tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite
Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan
organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di
bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara
berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat
Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits.
Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Dan sejak
awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik
tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.
Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan
resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai
fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak
mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya
kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen, mengajar di
sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang kebanyakan
dari golongan priyayi, dan bermacam-macam tuduhan lain. Saat itu Ahmad
Dahlan sempat mengajar agama Islam di sekolah OSVIA Magelang, yang
merupakan sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priyayi. Bahkan ada pula
orang yang hendak membunuhnya. Namun ia berteguh hati untuk melanjutkan
cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua
rintangan tersebut.
Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada
Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu
baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81
tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan
organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah
Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Maka
dari itu kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah
lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-Iain telah berdiri cabang
Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia
Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan
menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama
lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Ujung Pandang,
Ahmadiyah di Garut. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah
Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah.
Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan
perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam.
Berbagai perkumpulan dan jama'ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah,
diantaranya ialah Ikhwanul-Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-
Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-
Aba, Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul
Muslimin, Syahratul Mubtadi.
Dahlan juga bersahabat dan berdialog dengan tokoh agama lain seperti Pastur van
Lith pada 1914-1918. Van Lith adalah pastur pertama yang diajak dialog oleh
Dahlan. Pastur van Lith di Muntilan yang merupakan tokoh di kalangan
keagamaan Katolik. Pada saat itu Kiai Dahlan tidak ragu-ragu masuk gereja
dengan pakaian hajinya.
Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan
dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi
dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar
dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah
lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap
Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di
seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal7 Mei 1921 Dahlan mengajukan
permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang
Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh
pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah
Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk
proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama
hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan
dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai
istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum).
Pahlawan Nasional
Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa
Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik
Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat
Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai
berikut:
1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk
menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat;
2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak
memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut
kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman
dan Islam;
3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial
dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa,
dengan jiwa ajaran Islam; dan
4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah
mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan
berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.
BAB III
KESIMPULAN
Dari data sejarah di atas, dapat dipahami bahwa setting sosial yang mengitari
Ahmad Dahlan telah memberikan inspirasi cemerlang untuk mendirikan
Muhammadiyah. Dalam hal ini benarlah apa yang dikatakan oleh Ramayulis
bahwa berdirinya Muhammadiyah di samping merupakan hasil dan telaah
terhadap ajaran Alquran juga tidak terlepas dari kondisi sosial masyarakat pada
waktu itu.
Dilihat dari segi gerakannya, organisasi Muhammadiyah sampai tahun 1917
belum membuat pembagian kerja yang jelas. Hal ini disebabkan wilayah kerjanya
hanya di Yogyakarta saja. Pada masa awal berdirinya Muhammadiyah K.H.
Ahmad Dahlan aktif berdakwah, mengajar di sekolah Muhammadiyah dan
memberikan bimbingan kepada masyarakat seperti shalat dan bantuan kepada
fakir miskin.
Dalam sejarahnya, organisasi Muhammadiyah telah mewarnai arah
perkembangan agama di Indonesia. Muhammadiyah memiliki dukungan sistem
organisasi, amal usaha dan etos amaliah yang tinggi sehingga Organisasi
Muhammadiyah berproses secara intensif dalam bersosialisasi dengan
masyarakat. Sehingga mendapatkan tempat dan pengakuan di dalam masyarakat
dan berhasil menempatkan diri sebagai salah satu poros kepemimpinan sosial di
luar sektor pemerintahan.
Di tengah perilaku sosial yang menyimpang dari ajaran agam Islam tersebut
K.H. Ahmad Dahlan meletakkan pembaharuan-pembaharuan keagamaan secara
pribadi maupun menggunakan media organisasi Muhammadiyah. Pembaruan
Islam yang cukup orisinal dari K.H. Dahlan dapat dirujuk pada pemahaman dan
pengamalan Surat Al-Ma’un.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.muhammadiyah.or.id/content-50-det-sejarah.html (diakses tanggal
3 Nopember 2014)
http://tonijulianto.wordpress.com/2012/12/14/sejarah-berdirinya-muhammadiyah-di-
indonesia/ (diakses tanggal 07 Nopember 2014)
http://violetaindriani.blogspot.com/2013/11/makalah-kemuhammadiyahan-latar-
belakang.html (diakses tanggal 07 Nopember 2014)
http://sevtolanang.blogspot.com/2013/01/sejarah-berdirinya-muhammadiyah.html (di
akses tanggal 07 Nopember 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan (diakses tanggal 07 Nopember 2014)