0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
308 tayangan5 halaman

Kisah Juwita: Kesedihan dan Persahabatan

Cerita ini menceritakan tentang kehidupan pencerita saat SD yang penuh cobaan. Ia mengalami penolakan dan hinaan dari teman-teman di kelas karena alasan yang tidak jelas. Satu-satunya teman yang tersisa adalah Yujin. Namun penderitaannya semakin berat setelah ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian pindah rumah dan sekolah agar lebih dekat dengan makam ayahnya.

Diunggah oleh

Satria Tinambunan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
308 tayangan5 halaman

Kisah Juwita: Kesedihan dan Persahabatan

Cerita ini menceritakan tentang kehidupan pencerita saat SD yang penuh cobaan. Ia mengalami penolakan dan hinaan dari teman-teman di kelas karena alasan yang tidak jelas. Satu-satunya teman yang tersisa adalah Yujin. Namun penderitaannya semakin berat setelah ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian pindah rumah dan sekolah agar lebih dekat dengan makam ayahnya.

Diunggah oleh

Satria Tinambunan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Akhiri Saja

(Yossy Rosi .S)


Aku akan menceritakan kisah hidupku dari awal, ini mungkin akan menjadi cerita yang cukup panjang,
aku Juwita namaku cukup cantik bagi anak seumuranku dulu, aku biasa dipanggil dengan nama ‘Juwi’
atau bisa dibaca ‘Cuwi’. saat itu aku masih kelas 5 di semester 2, bagi anak sd kelas 5 semester 2 adalah
kelas yang paling sulit namun aku menjalani nya dengan cukup santai, bukan, aku bukan anak yang pintar
malah aku adalah anak yang jauh dari kata pintar aku lemah di pelajaran matematika, ipa, ipa ahhh
semuanya aku lemah aku hanya mampu di pelajaran bahasa inggris itulah mengapa aku hanya menyukai
pelajaran bahasa inggris. Saat itu aku sangat santai sehingga raport ku sangat amat anjlok nilainya mama
ku pasti pusing dengan anak seperti ku ya bagaimana aku hanya anak kecil yang masih polos, lugu dan
tidak tau apa apa aku hanya bermain sepanjang hari layaknya anak SD lainnya. Namun saat sudah naik ke
kelas 6 SD semua kesenanganku berakhir, bukan karena pelajaran yang semakin sulit atau bahkan karena
masalah keluarga, aku sendiri bahkan tidak tahu mengapa kehidupan selama kelas 6 ku ini sangat
menyedihkan. Saat awal masuk semua masih biasa biasa saja, aku menjalani hari hari ku seperti biasa.
Namun saat pertengahan semester 1 perlahan lahan semua berubah, semua temanku menjauh dari ku,
aku tidak tahu mengapa, aku tidak merasa aku melakukan kesalahan apa apa. Rasanya sangat sakit, aku
kesepian aku tidak memiliki teman karena hampir semuanya menjauhi ku dengan alasan yang bahkan
aku sendiri tidak tahu. Namun aku masih punya 1 teman, Yujin. Aku tidak tahu mengapa aku bisa
berteman dengan Yujin jika dipikir-pikir dulu kami sering bertengkar tapi saat itu kami malah menjadi
teman dekat. Yujin adalah orang yang baik, dia juga cantik. Kami dekat dan menghabiskan waktu dengan
selalu bersama-sama. Kami sering makan bersama biasanya saat istirahat kami akan membeli makanan di
kantin dan kembali ke kelas kami untuk makan di lorong kelas kami kebetulan kelas kami bersebelahan
dengan kelas 1 jadi kami sering makan bersama adik kelas 1. Kami melakukan itu karena berpikir anak
kelas 1 sangat lucu jadi kami selalu tertawa jika makan bersama mereka. Saat itu adalah saat saat paling
indah yang pernah kurasakan. Bagaimana dengan keadaan teman teman yang menjauhi ku? ahh mereka
tidak hanya menjauhi ku mereka juga mengejekku dengan kata kata pedas ala ala anak SD saat itu seperti
“dasar jelek, hitam” dan hal lain seperti itu. Namun aku tidak pernah memperdulikan olokan yang mereka
lontarkan padaku. Namun mereka melakukan itu hampir setiap saat walau aku sudah berusaha untuk
tidak memperdulikannya aku tetap tidak bisa menahan semua ejekan itu. Hampir setiap jam pelajaran
aku izin ke toilet hanya untuk menangis karena ejekan itu, aku hanya anak kelas 6 SD bagaimana bisa aku
menghadapi semua itu di umur yang semuda itu. Aku menangis dan menangis, aku tidak memberitahu
orang tua ku, aku tidak mau mereka pusing memikirkan ku. Aku selalu takut untuk datang ke sekolah, aku
takut aku tidak bisa menahan air mataku saat di ejek oleh hampir 30 orang di kelas ku, tapi aku tetap
datang karena di pikiran ku ada Yujin, aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa Yujin akan selalu
menemani ku di sekolah, aku masih ada teman walau hanya 1. Tidak apa-apa 1 teman seperti Yujin saja
sudah lebih dari cukup. Hari- hari kujalani dengan tangisan di toilet sekolah setiap hari. Singkatnya ini
sudah bulan desember semester 2 bulan yang ditunggu tunggu oleh semua orang termasuk aku sendiri,
Aku diminta untuk mengiringi ibadah natal nanti saat natal karena aku juga seorang penari di gereja. Aku
sangat senang, aku berlatih bersama teman penari ku yang lain, kami berlatih sangat giat karena ini
pertama kalinya kami akan menarikan tarian yang biasanya kami lakukan di gereja, dan kali ini kami akan
menarikan ini di sekolah kami, sungguh senang. Hari itu aku meminta mamaku untuk menjemputku
dengan terlambat karena aku akan berlatih untuk natal nanti. Hingga aku dan temanku Fayola berlatih
sepulang sekolah di ruangan kosong yang ada di sekolah, kami baru memulai untuk menentukan tarian
apa yang akan kami kombinasikan nanti , namun mobil mama ku sudah terlihat dari jendela yang berarti
aku sudah dijemput. Aku marah, aku sudah bilang bahwa aku akan pulang terlambat untuk melatih tarian
natal nanti tapi mamaku malah menjemputku dengan cepat. Saat aku memasuki mobil ternyata yang
menjemputku bukan mama ku melainkan saudara mama ku, aku bingung tidak biasanya seperti ini,
biasanya mama ku lah yang menjemputku, tapi aku tidak memikirkan hal itu aku masih marah karena aku
dijemput dengan sangat cepat. Setibanya dirumah aku semakin bingung karena rumahku ramai sekali,
aku hanya mengira bahwa ada acara yang diadakan di rumahku seperti biasanya, Saat masuk rumah aku
langsung masuk ke kamarku dan memainkan smartphone ku dengan rasa kesal yang ada. Adik sepupu ku
masuk dan secara tiba tiba mengatakan kata kata yang selama ini tidak pernah ada di pikiran ku
‘Bapakmu udah ga ada” DEG…Jantungku berhenti sejenak namun karena masih ada rasa kesal aku tidak
mempercayai kata katanya. Lalu ada seorang wanita yang masuk ke kamar ku, aku rasa itu adalah salah
satu tamu di rumahku. Dia masuk sambil menangis perasaanku semakin tidak enak dia mengatakan
sesuatu.
“Sudah tahu kau nak?” ujar nya
“hah?” aku menjawab dengan bingung karena aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi
“ayo ke kamar mama yok” dia mengajakku untuk pergi ke kamar mama ku
perasaanku sungguh tidak enak, “Sebenarnya ada apa?” “Mengapa semua orang menangis?” batin ku
penuh rasa ingin tahu. Aku dan wanita tadi berjalan ke kamar mama ku setelah sampai aku kaget sangat
kaget, disana sudah ada abangku dan adikku yang menangis di pangkuan ibuku yang juga menangis. batin
ku makin bertanya tanya hingga ada seseorang yang berkata
“Bapak udah ga ada nak” seseorang ini berbicara sambil menangis
aku kaget, aku tidak menangis, hanya kaget saja. Aku tidak pernah mengira bahwa bapak ku akan pergi
secepat ini, rasanya baru kemarin aku dibelikan mainan karena nilai ujianku mendapat nilai sempurna
tapi sekarang dia sudah meninggalkan ku. Aku dan bapak sangat dekat, dulu aku sempat ganti hp 2 kali
karena dua duanya ku berikan ke bapak karena hp nya rusak banyak momen kami yang membuatku
sangat kaget saat dia meninggalkanku.
Baru kali ini aku mengalami hal seperti ini, singkat cerita jasad bapakku di bawa ke rumah dan dijenguk
oleh teman temannya selama 3 hari hingga ada hari dimana teman teman sekolahku datang untuk
menjenguk. Aku menangis saat mereka datang mengingat olokan yang mereka lontarkan kepadaku dan
mereka masih bisa menaruh wajah mereka di depanku, aku menangis ibuku bingung mengapa aku
menangis dia hanya berkata
“Kenapa menangis?ini loh teman kamu datang” katanya. Aku menangis karena banyak hal berat yang aku
alami di sekolah karena mereka. Setelah itu mereka akan pulang, jadi mereka menyalam ku dan ibuku,
selama bersalaman wajahku tak berekspresi aku menyalam mereka dengan jijik, bagaimana bisa mereka
berhadapan dengan seorang teman yang sudah mereka ejek ejek selama hampir 1 tahun ini?.
Tanpa kusadari itu adalah hari terakhir dimana aku bisa bertemu dengan temanku, Yujin. Tertutup
dengan kesedihan sampai aku tidak menyadari itu. setelah sudah dijenguk oleh teman teman bapakku,
jasad bapakku dan kami sekeluarga di berangkatkan ke kampung halaman bapakku karena saudara
saudara nya mau bapakku dikuburkan di kampung halamannya, jahat. Mereka jahat, kami anak anaknya
tidak bisa mendatangi makam bapak kami sendiri karena makamnya begitu jauh dari tempat tinggal
kami, kami harus menaiki pesawat dengan waktu yang lama hingga bisa sampai ke makamnya. Dunia ini
begitu jahat, kami tidak bisa menjenguk makam bapakku dengan sering dikarenakan jauhnya makam
bapakku dengan tempat tinggal kami.
Waktu berlalu begitu cepat, aku sudah berada di sekolah lagi, jalan di lorong kelas dengan wajah leman
aku tidak ada energi saat memasuki sekolah yang membawa kesedihan ini. Aku bahkan mengabaikan
teman ku Yujin, pilihan untuk mengabaikannya adalah pilihan terburuk dalam hidupku kami jadi jarang
berbicara. Parahnya, teman teman ku tetap mengejek ku walau sudah mengetahui kondisi ku yang masih
berduka saat itu. Aku sudah tidak bisa mengeluarkan air mata lagi, sudah tidak peduli dengan sekitar ku.
Hari itu guruku masuk dan memberitahu bahwa sekolah akan diliburkan selama 2 minggu, aku senang
aku tidak akan mendapatkan ejekan lagi singkatnya kami libur dan aku menghabiskan waktu dirumah
bersama teman teman ku di sekitar perumahan kami.
Namun setelah 2 minggu berlalu, tidak juga ada arahan kami untuk masuk ke sekolah, aku makin senang.
akhirnya kami menjalankan pembelajaran secara daring awalnya daring sangat membosankan tapi lama
kelamaan aku mulai terbiasa dengan itu. Hingga naik ke kelas 1 SMP sekolahku masih dengan sistem
daring, saat itu aku sedang melakukan pembelajaran seperti biasa saat selesai mamaku mengajakku
mengobrol dan mengatakan bahwa kami akan pindah, ini sangat membuatku kaget karena kami sudah
tinggal disini sejak kecil pasti berat untuk meninggalkan rumah yang sudah ditinggali bertahun tahun.
Aku dan kedua saudara ku menolak keras. Namun mama ku terus membahas soal pindah rumah ke
tempat yang jauh lebih tepatnya tempat yang lebih dekat dengan makam bapak. Kami selalu menolak
namun apa daya kami hanya anak yang harus mengikuti apa kata orang tua, kami akhirnya pindah ke
Siantar. Aku sebenarnya tidak keberatan karena lebih dekat dengan makam bapak jadi aku berfikir kami
akan lebih sering menjenguk makam bapak. Tidak dengan ku dan adikku, abangku menentang keras
keputusan mama, dia lebih memilih pergi bersekolah di tempat yang jauh daripada harus ikut pindah
dengan kami. Akhirnya aku pindah sekolah, masih dengan daring, aku senang di awal masuk kami masih
menggunakan metode daring jadi aku tidak khawatir tentang ejekan, semenjak kelas 6 aku jadi sering
takut ke sekolah benakku selalu berfikir “apa aku akan diejek lagi?” “Bagaimana kalau aku terlihat aneh?”
terus bertanya seperti itu setiap datang ke sekolah. Tidak lama setelahnya kami menjalankan sekolah
secara offline secara perlahan-lahan. Aku mulai menjalani sekolah ku di kelas 8 dengan teman teman yang
cukup baik. Aku menjadi Bendahara kelas, aku senang karena baru masuk saja aku sudah bisa
dipercayakan untuk mengambil bagian yang bisa dibilang cukup serius karena aku harus memegang uang
kelas yang jumlahnya tidak sedikit. Namun karena pribadi ku yang penakut aku tidak berani menagih
uang kas anak anak yang belum membayarnya hahahaha kalau diingat ingat ini lucu. Jennifer adalah
sekretaris kelas dia galak! tapi dia baik, aku selalu meminta tolong dia untuk menagih uang kas
“heh bayar uang kas mu jangan hanya tau jajan” katanya saat sedang membantu ku menagih uang kas
kelas dengan aku yang bersembunyi di belakangnya karena takut
“besok lah genk, belum ada uang ku” kata teman ku yang belum membayar kalau kalian orang batak
kalian pasti tahu nada bicara nya, sangat lucu.
karena Jennifer aku bisa memenuhi buku uang kas dengan mudah, dia baik tapi galak hehe.
Banyak peristiwa yang terjadi di kelas 8 semester 2, salah satu kejadian yang tak pernah terlupakan
adalah saat uang kas hilang. Ohh rasanya jantungku akan melayang saat itu terjadi. Uang kas kami hilang
jumlah nya saat itu sangat banyak, kami tidak tahu penyebab uang itu hilang dompet tempat aku
menaruh uang selalu di tas namun tetap bisa hilang. Andy salah satu anak yang meneriaki ku
“Ganti lah ganti” katanya, bagaimana bisa aku mengganti uang sebanyak itu. Saat dia mengatakan itu
semua anak kelas ikut meneriaki ku sambil melihat ke arahku, aku takut lagi, ketakutan yang sudah
kukubur dalam dalam kembali lagi, Jantungku berdegup sangat kencang, untung saja guruku
menenangkan teman teman ku agar berhenti berteriak. setelah itu aku tidak bisa mengatakan apa apa,
aku terus memikirkan cara agar bisa mengganti kembali uang itu.
Sepulang sekolah Jennifer mendatangi ku
‘Ga apa apa, ku bantu kau ganti” katanya sambil menenangkan ku
“aku aja belum tau mau ganti gimana, kamu kan ga salah disini kenapa mau bantu” kataku dengan
perasaan ga enak karena dia selalu membantuku, aku tidak tahu cara membalas nya
“udah ga apa apa biar selesai masalah ini” balasnya
Walau galak, dia teman terbaik yang kupunya setelah aku pindah ke sini. setelah kami menggantinya
suasana kelas kembali membaik kami satu kelas sangat dekat satu dengan yang lain, banyak momen yang
indah saat aku masih kelas 8.
momen lain yang bisa ku ingat saat kelas 8 adalah saat sekolah kami mengadakan kegiatan porseni,
porseni adalah pekan olahraga dan seni. Banyak lomba yang diadakan saat itu namun kelas kami sangat
santai, biasalah anak anak yang banyak gaya di awal hahahah. Kami sangat malas untuk berlatih untuk
lomba porseni saat itu. kami hanya berlatih jika disuruh saja.
Namun ada saat dimana kami berlatih sangat keras dan itu membuatku sangat senang karena banyak
kejadian lucu dan kebersamaan yang membuatku sangat senang . Saat itu laki-laki yang berada di kelasku
sangat nakal, tapi karena kenakalan mereka lah yang membuat suasana kelas ku menjadi sangat ramai
dan penuh tawa. Kami sedang berlatih senam dan kami sangat lelah dan membuat kami mengomel
ngomel sendiri
“Yang semangat lah senamnya” Kata temanku yang saat itu memang hanya menonton
“Diam lah kau,, udah tipes kami ini” jawab teman laki laki ku dengan nada yang lucu membuat kami
semua tertawa
setelah kami selesai berlatih senam ami istirahat sebentar dan melanjutkan dengan melatih PBB yang
juga dijadikan lomba saat itu. Pemimpin kami saat itu adalah Josh, orang yang paling menyebalkan saat
sedang melatih kami PBB
Josh mengajak kami latihan dengan sangat keras, rasanya mau pingsaaaan. Kami sangat buruk dalam hal
PBB entah ada yang terlalu cepat atau ada yang terlalu lambat jika diingat ingat kami seperti anak SD
yang dipaksa latihan.
“Jika ada satu orang saja yang salah, kita ulangi sampai serentak!” kata Josh saat sedang melatih kami
“AHHH JANGAN GITU LAHH” kami berteriak karena benar-benar lelah, rasanya mau tumbang.
“ayo latihan lagi supaya serentak, supaya cepat kita is4tirahat” kata Josh untuk meyakinkan kami bahwa
kami akan diberikan waktu istirahat jika sudah serentak dalam melakukan PBB.
Walau hati sudah sangat kesal kami tetap berlatih demi mendapatkan waktu istirahat. Akhirnya kami
selesai dan kami diberikan waktu istirahat saat diberikan waktu istirahat kami semua tumbang semuanya
berbaring di lantai bahkan di lapangan, tidak peduli seberapa kotor lantai yang kami tiduri kami hanya
ingin tidur dan meregangkan badan kami yang rasanya sudah remuk.
Kadang kami membeli minuman dengan jumlah yang banyak hanya untuk memuaskan rasa haus kami
saat itu.
Josh sangat menyebalkan dia memberikan waktu istirahat yang kurang banyak
“Ayo latihan lagi biar cepat selesai” Kata Josh, mengajak kami untuk melanjutkan latihan kami
“Sebentar dulu Josh ah kami masih capek kali” Kata salah satu teman ku dengan nada yang kesal.
“Iya, nanti lah dulu” kami semua mengomel secara bersamaan dan akhirnya Josh memberi kami lebih
banyak waktu istirahat. Haru nama salah satu teman ku yang bukannya istirahat tapi malah memainkan
musik DJ dan menari atau jika jaman sekarang bisa dibilang dengan kata ‘Pargoy’ atau semacamnya. Dia
membuat kami semua tertawa karena saat dia memainkan lagu DJ semua laki laki di kelasku ikut menari
seakan akan mereka berada di club malam, membuat kami semua tertawa. semuanya terasa bahagia saat
aku berada di sekolah. Namun saat dirumah semuanya terasa terbalik. aku selalu berada di kamar karena
aku tidak pernah akrab dengan mama ku semenjak bapak ku sudah tidak ada . Hari ini temanku datang
untuk bermain, yah kami makan bersama dan menghabiskan waktu di rumahku. Kami menonton sambil
memakan makanan yang sudah kami beli sebelumnya. Rasanya menyenangkan, kami juga mengobrol
tentang cerita cerita di sekolah karena kami berbeda kelas. Kami mengobrol tentang bagaimana keadaan
kami masing masing di kelas kami sendiri, kami juga membahas orang orang yang kami sika rasanya
sangat menyenangkan. Tiba-tiba hujan yang cukup deras datang mama ku berteriak itu sangat
memalukan karena teman ku dapat mendengar suara teriakannya yang seakan akan meneriaki ku dengan
jelas aku berlari kepadanya dan dia malah menanyakan dimana kunci rumah namun sambil berteriak
“DIMANA KAU BIKIN KUNCI RUMAH?”katanya sambil berteriak, aku takut namun ada rasa marah juga
“disitu ku taruh coba cari dulu” aku menjawab dengan pelan karena ada teman ku yang bisa
mendengarnya jika aku berteriak
“AMBIL SELIMUT DISAMPING” dia membalasku dengan berteriak, aku marah aku tidak peduli lagi
dengan apapun lagi aku memanjat gerbang yang dikunci dan mengambil selimut yang dia maksud
dibawah derasnya hujan, aku basah kuyup, padahal aku sedang menggunakan pakaian favoritku, dan itu
semua harus basah hanya karena sebuah masalah yang begitu sepele. Ingin rasanya aku mengumpat di
depan wajahnya, asu. Dalam cerita ini hanya satu umpatan yang benar-benar ingin ku keluarkan selama
ini.
Lanjut ke ceritanya, aku mengambil selimut itu dan berada di rumah dengan basah kuyup ku berikan
selimut itu kepada mamaku dan aku langsung masuk ke kamarku untuk menangis, baju favoritku kini
sudah basah, aku harus menahan malu karena temanku mendengar pertengkaran kami. Aku malu untuk
bisa kembali ke temanku, aku hanya berdiam di kamar sebentar untuk menumpahkan rasa sedih ku. Aku
menangis terus menerus, malu, sedih, marah semuanya bercampur menjadi satu di tetesan air mata yang
sudah kutumpahkan di kamar ku yang sunyi ini. Temanku mendatangi ku ke kamar ku dan menenangkan
ku
“sabar ya udah lah kau bersih bersih aja dulu” katanya menenangkan ku, aku semakin malu karena
dengan dia menenangkan ku seperti itu, itu artinya dia mengetahui semuanya. aku menyuruhnya keluar
agar aku bisa berganti baju
setelah selesai kami kembali menonton tv bersama, aku sambil mengerjakan tugas ku yang harus
dikumpulkan besoknya jadi kami tidak terlalu banyak mengobrol karena aku harus fokus pada tugasku.
Tak lama kemudian satu teman lain ku datang karena ingin singgah sebelum dia pergi untuk membeli
barang titipan ibunya, kami mengobrol bertiga walau aku tidak terlalu banyak mendengarkan karena
fokus pada tugasku. Saat sedang fokus pada tugasku aku masih tetap marah dan sedih atas kejadian yang
baru saja terjadi. Aku mencoba untuk melupakannya dan tetap fokus pada tugas an teman teman ku yang
saat ini berada di hadapan ku. kami mengobrol dan tiba saatnya mereka harus pergi karena hujan sudah
mulai reda aku mengantar mereka ke depan rumah untuk perpisahan setelah mereka pergi dan aku
memasuki rumah, mamaku kembali berteriak menyuruh ku mandi. Aku tidak membalas perkataan nya
aku hanya memindahkan barang barangku dari depan tv ke kamar agar aku bisa melanjutkan tugas di
didalam kamar. aku mengambil perlengkapan mandi dan berjalan menuju kamar mandi. Dalam kamar
mandi aku tidak langsung membersihkan tubuhku, aku menangis…tidak kuasa menahan semua rasa yang
sudah kutahan didepan teman temanku. Aku menangis, tak terasa aku sudah 30 menit berada di dalam
kamar mandi akhirnya aku membersihkan tubuhku dan langsung menuju kamar untuk melanjutkan
tugasku. Aku tidak fokus aku menangis lagi, ini tak seperti biasanya seharusnya sikap gampang menangis
ini sudah terkubur lama tidak kusangka itu kembali lagi. Ingin rasanya ku akhiri hidup ini, aku ingin
mengubur semua rasa takut dan sedih ini dalam dalam bersama raga ku agar aku bisa bebas dan tenang.
Apa ku akhiri saja?

Anda mungkin juga menyukai